Anda di halaman 1dari 101

BAB II

RESERVOIR GAS

2.1. Karakteristik Batuan Reservoir


Reservoir adalah bagian kerak bumi yang mengandung minyak dan gas bumi.
Cara terdapatnya minyak bumi di bawah permukaan haruslah memenuhi beberapa
syarat, yang merupakan unsur-unsur suatu reservoir minyak bumi. Unsur-unsur
tersebut, meliputi :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gas bumi.
Biasanya batuan reservoir berupa lapisan batuan yang berongga-rongga ataupun
berpori-pori.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan yang tidak permeable terdapat di
atas suatu reservoir dan menghalang-halangi minyak dan gas bumi yang akan keluar
dari reservoir.
3. Perangkap reservoir ( reservoir trap), merupakan suatu unsur pembentuk yang
bentuknya sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan bentuk
konkav ke bawah dan dan menyebabkan minyak dan gas bumi berada dibagian
teratas reservoir.

2.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir


Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral. Sedangkan suatu mineral
dibentuk dari beberapa ikatan komposisi kimia. Banyak sedikitnya suatu komposisi
kimia akan membentuk suatu jenis mineral tertentu dan akan menentukan macam
batuan.
Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa batupasir,
batuan karbonat, dan shale atau kadang-kadang volkanik. Masing-masing batuan
tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda, begitu pula sifat fisiknya. Unsur
atau atom-atom penyusun batuan reservoir perlu diketahui mengingat macam dan
jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifat-sifat dari mineral yang terbentuk,
baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat kimiawinya. Mineral merupakan zat-zat yang
tersusun dari komposisi kimia tertentu yang dinyatakan dalam bentuk rumus-rumus
dimana menunjukkan macam unsur-unsur serta jumlahnya yang terdapat dalam mineral
tersebut.

2.1.1.1. Batupasir
Menurut Pettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
Orthoquartzites, Graywacke, dan Arkose. Pembagian ini didasarkan pada jumlah
kandungan mineralnya.
a. Orthoquartzites
Orthoquartzites merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk dari proses
yang menghasilkan unsur silica yang tinggi, dengan tidak mengalami metaformosa
(perubahan bentuk) dan pemadatan, terutama terdiri atas mineral kwarsa (quartz) dan
mineral lainnya yang stabil. Material pengikatnya (semen) terutama terdiri atas
carbonate dan silica. Orthoquartzites merupakan jenis batuan sedimen yang relatip
bersih yaitu bebas dari kandungan shale dan clay. Tabel 2.1 menunjukkan komposisi
kimia orthoquartzites.

b. Graywacke
Graywacke merupakan jenis batupasir yang tersusun dari unsur-unsur mineral
yang berbutir besar, terutama kwarsa dan feldspar serta fragmen-fragmen batuan.
Material pengikatnya adalah clay dan carbonate. Secara lengkap mineral-mineral
penyusun graywacke terlihat pada Tabel 2.2. Komposisi graywacke tersusun dari unsur
silica dengan kadar lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata batupasir, dan
kebanyakan silica yang ada bercampur dengan silikat (silicate). Secara terperinci
komposisi kimia graywacke dapat dilihat pada Tabel 2.3.

C. Arkose
Arkose merupakan jenis batupasir yang tersusun dari quartz sebagai mineral
Tabel 2.1.
Komposisi Kimia Batupasir Ortoquartzites

Tabel 2.2.
Komposisi Mineral Graywake

yang dominan, meskipun seringkali mineral arkose feldspar jumlahnya lebih banyak
dari quartz. Sedangkan unsur-unsur lainnya, secara berurutan sesuai prosentasenya
ditunjukkan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.3.
Komposisi Kimia Grawyake
Komposisi kimia arkose ditunjukkan pada Tabel 2.5, dimana terlihat bahwa
arkose mengandung lebih sedikit silica jika dibandingkan dengan orthoquartzites,
tetapi kaya akan alumina, lime, potash, dan soda.

Tabel 2.4.
Komposisi Mineral Arkose

2.1.1.2. Batuan Karbonat

Dalam hal ini yang dimaksud dengan batuan karbonat adalah limestone,
dolomite, dan yang bersifat diantara keduanya. Limestone adalah istilah yang biasa
dipakai untuk kelompok batuan yang mengandung paling sedikit 80 % calcium
carbonate atau magnesium. Istilah limestone juga dipakai untuk batuan yang
mempunyai fraksi carbonate melebihi unsur non-carbonatenya.
Pada limestone fraksi disusun terutama oleh mineral calcite, sedangkan pada dolomite
mineral penyusun utamanya adalah mineral dolomite. Tabel 2.6 menunjukkan
komposisi kimia limestone secara lengkap. Dolomite adalah jenis batuan yang variasi
dari limestone yang mengandung unsur carbonate lebih besar dari 50 %, sedangkan
untuk batuan-batuan yang mempunyai komposisi pertengahan antara limestone dan
dolomite akan mempunyai nama yang bermacam-macam tergantung dari unsur yang
dikandungnya. Untuk batuan yang unsur calcite-nya melebihi dolomite disebut
dolomite limestone, dan yang unsur dolomite-nya melebihi calcite disebut dengan limy,
calcitic, calciferous atau calcitic dolomite. Komposisi kimia dolomite pada

Tabel 2.5.
Komposisi Kimia Arkose

dasarnya hampir mirip dengan limestone, kecuali unsur MgO merupakan unsur yang
penting dan jumlahnya cukup besar. Tabel 2.7 menunjukkan komposisi kimia unsur
penyusun dari dolomite.
Tabel 2.6.
Komposisi Kimia Limestone.
Tabel 2.7.
Komposisi Kimia Dolomite
2.1.1.3. Batuan Shale

Pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang 58 % silicon
dioxide (SiO2), 15 % alumunium oxide (Al2O3), 6 % iron oxide (FeO) dan Fe2O3. 2 %
magnesium oxide (MgO), 3 % calcium oxide (CaO), 3 % potasium oxide (K 2), 1 %
sodium oxide (Na2), dan 5 % air (H2O). Sisanya adalah metal oxide dan anion seperti
terlihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8
Komposisi Kimia Shale

2.1.2. Sifat Fisik Batuan Reservoir

Pada dasarnya semua batuan dapat menjadi batuan reservoir asalkan


mempunyai porositas dan permeabilitas yang cukup, namun pada kenyataannya hanya
batuan sedimen yang banyak dijumpai sebagai batuan reservoir, khususnya reservoir
minyak. Oleh karena itu dalam penilaian batuan reservoir selanjutnya akan banyak
berhubungan dengan sifat-sifat fisik batuan sedimen, terutama yang porous dan
permeable.
2.1.2.1. Porositas

Porositas () didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang pori-
pori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu
batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis
porositas dapat dinyatakan sebagai :
Vb Vs Vp
....(2-1)
Vb Vb
dimana :
Vb = volume batuan total (bulk volume)
Vs = volume padatan batuan total (volume grain)
Vp = volume ruang pori-pori batuan.
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan
total (bulk volume).
Volume pori total
100% . .(2-2)
bulk volume

2. Porositas efektip, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan


terhadap volume batuan total (bulk volume).
Volume pori yang berhubungan
100% ...(2-3)
bulk volume

Untuk selanjutnya porositas efektip digunakan dalam perhitungan karena dianggap


sebagai fraksi volume yang produktip.
Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen
diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.
Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah
batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan, sesar,
atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan secara
kuantitatip karena bentuknya tidak teratur.
3. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl3 CaMg(CO3)2 + CaCl2
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas
yang lebih besar dari pada batugampingnya sendiri.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran butir
(semakin baik distribusinya, semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir
berbentuk kubus mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk rhombohedral),
kompaksi, dan sementasi.

2.1.2.2. Wettabilitas

Apabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu fluida
akan bersifat membasahi permukaan benda padat tersebut, hal ini disebabkan adanya
gaya adhesi. Dalam sistem minyak-air benda padat (Gambar 2.1), gaya adhesi AT yang
menimbulkan sifat air membasahi benda padat adalah :
AT = so - sw = wo. cos wo .(2-4)
dimana :
so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm
sw = tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm
wo = tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm
wo = sudut kontak minyak-air.
Suatu cairan dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinya positip (
< 90o), yang berarti batuan bersifat water wet. Sedangkan bila air tidak membasahi zat
padat maka tegangan adhesinya negatip ( > 90o), berarti batuan bersifat oil wet.
Distribusi cairan dalam sistem pori-pori batuan tergantung pada sifat
kebasahan. Distribusi fluida tersebut ditunjukkan pada Gambar 2.2. Distribusi
pendulair ring adalah keadaan dimana fasa yang membasahi tidak kontinyu dan fasa
yang tidak membasahi ada dalam kontak dengan beberapa permukaan butiran batuan.
Sedangkan distribusi funiculair ring adalah keadaan dimana fasa yang membasahi
kontinyu dan secara mutlak terdapat pada permukaan butiran.

Gambar 2.1.
Kesetimbangan Gaya-Gaya Pada
Batas Air-Minyak-Padatan
Gambar 2.2
Distribusi Ideal Fasa Fluida Wetting dan Non Wetting
untuk Kontak antar Butir-butir Batuan yang Bulat
a. Distribusi Pendulair Ring
b. Distribusi Funiculair Ring

2.1.2.3. .............................................................................................................Tekanan

Kapiler

Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan antara permukaan


dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas) sebagai akibat
terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka. Perbedaan tekanan dua
fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida non-wetting fasa (P nw) dengan
fluida Wetting fasa (Pw) atau
Pc = Pnw - Pw .......(2-5)
Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan permukaan
fluida immiscible yang cembung. Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang
membasahi (wetting fasa), sedangkan minyak dan gas sebagai non-wetting fasa atau
tidak membasahi.
Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori dan macam
fluidanya, yang secara kuantitatip dapat dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut :
2. .cos
Pc . g. h ...(2-
r
6)
dimana :
Pc = tekanan kapiler
= tegangan permukaan antara dua fluida
cos = sudut kontak permukaan antara dua fluida
r = jari-jari lengkung pori-pori
= perbedaan densitas dua fluida
g = percepatan gravitasi
h = tinggi kolom
Dari Persamaan 2-6 dapat dilihat bahwa tekanan kapiler berhubungan dengan
ketinggian di atas permukaan air bebas (oil-water contact), sehingga data tekanan
kapiler dapat dinyatakan menjadi plot antara h versus saturasi air (S w), seperti pada
Gambar 2.3. Pada gambar 2.3, perubahan ukuran pori-pori dan densitas fluida akan
mempengaruhi bentuk kurva tekanan kapiler dan ketebalan zona transisi.
Persamaan 2-6 menunjukkan bahwa h bertambah jika perbedaan densitas
fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini berarti pada reservoir gas
yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas fluidanya bertambah besar sehingga
mempunyai zona transisi minimum. Demikian juga pada reservoir minyak yang
mempunyai API gravity rendah, kontak minyak-air akan mempunyai zona transisi yang
panjang. Konsep ini ditunjukkan dalam Gambar 2.4. Ukuran pori-pori batuan
reservoir sering dihubungkan dengan besaran permeabilitas yang besar akan
mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan ketebalan zona transisinya lebih tipis dari
pada reservoir dengan permeabilitas yang rendah, seperti terlihat pada Gambar 2.4.
Gambar 2.3.
Kurva Tekanan Kapiler

2.1.2.4. Permeabilitas

Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkan


kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan fluida dalam suatu media berpori
sebagai akibat dari adanya perbedaan tekanan. Permeabilitas batuan merupakan fungsi
dari tingkat hubungan ruang antar pori-pori dalam batuan.
Definisi kwantitatip permeabilitas pertama-tama dikembangkan oleh Henry
Darcy (1856) dalam hubungan empiris dengan bentuk differensial sebagai berikut :
k dP
V ..(2-7)
dL

dimana :
V = kecepatan aliran, cm/sec
= viskositas fluida yang mengalir, cp
dP/dL = gradient tekanan dalam arah aliran, atm/cm
k = permeabilitas media berpori.
Tanda negatip dalam Persamaan 2-7 menunjukkan bahwa bila tekanan
bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan dengan arah penambahan
tekanan tersebut.
Beberapa anggapan yang digunakan Darcy dalam Persamaan 2-7 adalah :
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible.
Dalam batuan reservoir, permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir melalui
media berpori tersebut hanya satu fasa, misal hanya minyak atau gas saja.
Permeabilitas efektip, adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang mengalir
lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan minyak atau
ketiga-tiganya.
Permeabilitas relatip, adalah perbandingan antara permeabilitas efektip dengan
permeabilitas absolut.
Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang dilakukan
oleh Henry Darcy. Dalam percobaan ini, Henry Darcy menggunakan batupasir tidak
kompak yang dialiri air. Batupasir silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan
dengan viskositas , dengan luas penampang A, dan panjanggnya L. Kemudian dengan
memberikan tekanan masuk P1 pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan
laju sebesar Q, sedangkan P2 adalah tekanan keluar (Gambar 2.5).

Gambar 2.4.
Diagram Percobaan Pengukuran Permeabilitas
Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q..L/A.(P1-P2) adalah konstan dan akan
sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak tergantung dari cairan, perbedaan
tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi aliran turbulen, maka diperoleh harga permeabilitas absolut
batuan.
Q. . L
K ...................................................................(2-8)
A.( P1 P2 )

Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :


Q (cm 3 / sec). (centipoise) L (cm)
K (darcy) ..................(2-9)
A (sqcm). ( P1 P2 ) ( atm)

Dari Persamaan 2-8 dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran yaitu
aliran linier dan radial, masing-masing untuk fluida yang compressible dan
incompressible.
Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa,
kemungkinan terdiri dari dua fasa atau tiga fasa. Untuk itu dikembangkan pula konsep
mengenai permeabilitas efektip dan permeabilitas relatip. Harga permeabilitas efektip
dinyatakan sebagai Ko, Kg, Kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas, dan air.
Sedangkan permeabilitas relatip dinyatakan sebagai berikut :
Ko Kg Kw
K ro , K rg , K rw
K K K
dimana masing-masing untuk permeabilitas relatip minyak, gas, dan air. Percobaan
yang dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa, hanya disini digunakan dua
macam fluida (minyak-air) yang dialirkan bersama-sama dan dalam keadaan
kesetimbangan. Laju aliran minyak adalah Qo dan air adalah Qw. Jadi volume total (Qo
+ Qw) akan mengalir melalui pori-pori batuan per satuan waktu, dengan perbandingan
minyak-air permulaan, pada aliran ini tidak akan sama dengan Qo/Qw. Dari percobaan
ini dapat ditentukan harga saturasi minyak (So) dan saturasi air (Sw) pada kondisi stabil.
Harga permeabilitas efektip untuk minyak dan air adalah :
Gambar 2.5.
Kurva Permeabilitas Efektip untuk
Sistem Minyak dan Air
Q o . o . L
Ko ..................................................................................(2-10)
A.( P1 P2 )
Q w . w . L
Kw .................................................................................(2-11)
A.( P1 P2 )
dimana :
o = viskositas minyak
w = viskositas air.
Percobaan ini diulangi untuk laju permukaan (input rate) yang berbeda untuk
minyak dan air, dengan (Qo + Qw) tetap konstan. Harga-harga Ko dan Kw pada
Persamaan 2-10 dan 2-11 jika diplot terhadap S o dan Sw akan diperoleh hubungan
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5.
Dari Gambar 2.5, ditunjukkan bahwa Ko pada Sw = 0 dan So = 1 sama dengan
harga K absolut, demikian juga untuk harga K absolutnya (titik A dan B).
2.2.1.5. Saturasi Fluida

Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam
fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang tersebar ke seluruh bagian
reservoir.
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume pori-
pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori-pori total
pada suatu batuan berpori.
Saturasi minyak (So) adalah :
volume pori pori yang diisi oleh min yak
So ..................(2-12)
volume pori pori total

Saturasi air (Sw) adalah :


volume pori pori yang diisi air
Sw ...................................(2-13)
volume pori pori total

Gambar 2.6.
Variasi Pc terhadap Sw
a) Untuk Sistem batuan yang Sama dengan
Fluida yang berbeda.
b) Untuk Sistem Fluida yang Sama dengan
Batuan yang Berbeda.
Saturasi gas (Sg) adalah :1
volume pori pori yang diisi oleh gas
Sg ..........................(2-14)
volume pori pori total

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :


Sg + So + Sw = 1.......................................................................(2-15)
Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :
So + Sw = 1...............................................................................(2-16)
Terdapat tiga faktor yang penting mengenai saturasi fluida, yaitu :
Saturasi fluida bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reservoir, saturasi
air cenderung lebih besar dalam bagian batuan yang kurang porous. Bagian
struktur reservoir yang lebih rendah relatip akan mempunyai S w yang tinggi dan Sg
yang relatip rendah. Demikian juga untuk bagian atas dari struktur reservoir
berlaku sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan densitas dari masing-
masing fluida.
Saturasi fluida bervariasi dengan kumulatip produksi minyak. Jika minyak
diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan oleh air dan atau gas
bebas, sehingga pada lapangan yang memproduksikan minyak, saturasi fluida
berubah secara kontinyu.
Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah pori-pori yang
diisi oleh hidrokarbon. Jika volume contoh batuan adalah V, ruang pori-porinya
adalah .V, maka ruang pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah :
So..V + Sg..V = (1-Sw)..V..................................................(2-17)

2.1.2.6. Kompresibilitas

Menurut Geerstma (1957) terdapat tiga konsep kompressibilitas batuan, antara


lain :
Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan volume material padatan
(grains) terhadap satuan perubahan tekanan.
Kompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan volume bulk batuan terhadap
satuan perubahan tekanan.
Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu fraksi perubahan volume pori-pori batuan
terhadap satuan perubahan tekanan.
Dari tiga konsep diatas, kompressibilitas pori-pori batuan dianggap yang paling
penting dalam teknik reservoir khususnya. Hal ini disebabkan batuan yang berada pada
kedalaman tertentu akan mengalami dua macam tekanan, yaitu :
1. Tekanan hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan
2. Tekanan-luar (external stress) yang disebabkan oleh berat batuan yang ada
diatasnya (overburden pressure).
Pengosongan fluida dari ruang pori-pori batuan reservoir akan mengakibatkan
perubahan tekanan-dalam dari batuan, sehingga resultan tekanan pada batuan akan
mengalami perubahan pula. Adanya perubahan tekanan ini akan mengakibatkan
perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori dan volume total (bulk) batuan reservoir.
Sedangkan untuk padatan (grains) akan mengalami perubahan yang serupa apabila
mendapat tekanan hidrostatik fluida yang dikandungnya.
Perubahan bentuk volume bulk batuan dapat dinyatakan sebagai
kompressibilitas Cr atau :
1 dVr
Cr . ........................................................................(2-18)
Vr dP
Sedangkan perubahan bentuk volume pori-pori batuan dapat dinyatakan
sebagai kompressibilitas Cp atau :
1 dVp
Cp . .......................................................................(2-19)
Vp dP *

dimana :
Vr = volume padatan batuan (grains)
Vp = volume pori-pori batuan
P = tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan
P* = tekanan luar (tekanan overburden).
2.2. Komponen Reservoir Yang Berupa Fluida Reservoir

Komponen reservoir yang berupa fluida reservoir yang mengisi pori-pori


reservoir seperti air, minyak dan gas mempunyai komposisi dan sifat-sifat fisik
tertentu. Besaran-besaran komposisi dan sifat fisik fluida reservoir gas adalah berupa
gas dan air formasi yang akan dibahas satu persatu.

2.2.1. Hukum-hukum Yang Berlaku Untuk Gas


Gas dapat didefinisikan sebagai fluida atau cairan, umumnya dengan rapatan
dan kekentalan yang rendah, yang tidak dimiliki volume tertentu, melainkan mengisi
penuh wadah apa saja, didalam mana gas itu disimpan.

2.2.1.1. Gas Ideal


Gas ideal adalah gas hipotik dengan volume total molekul yang dapat diabaikan
terhadap volume wadah dan tidak ada gaya tarik diantara molekul-molekul ini. Oleh
karena itu dibuktikan bahwa gas ideal ini memenuhi persamaan :
PV = NRT.(2-20)
dimana :
P = tekanan
V = volume
T = suhu mutlak gas
N = jumlah mol gas
R = suatu tetapan
1. Hukum Boyle :
Berbunyi pada suatu suhu, volume sejumlah gas berubah sedemikian, sehingga
selalu berbanding terbalik dengan tekanan gas. Atau dapat dituliskan sebagai berikut :
PV = tetapan ....(2-21)
Jadi bila volume dialurkan terhadap tekanan akan diperoleh suatu hiperbola. Lain
halnya dengan hukum gas ideal berikut ini.
2. Hukum Charles
Berbunyi pada suatu tekanan volume sejumlah tertentu gas berubah
sedemikian, sehingga selalu berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. Atau dapat
dituliskan :
V/T = Tetapan.(2-22)
bila jumlah dan tekanan gas tetap, dan volume dialurkan terhadap suhu mutlak, akan
diperoleh garis lurus. Garis ini akan melalui titik dari sumbu, artinya pada 0oR atau 0oK
volume gas adalah 0. Dari hidup sehari-hari dikenal bahwa suhu mutlak ini dicapai, gas
akan mengembun dan bahkan kemudian membeku. Hal ini menunjukkan bahwa pada
suhu yang cukup rendah, hukum yang sederhana ini tidak berlaku lagi gas-gas didalam
alam. Suatu hukum yang hampir sama dengan hukum Charles ialah hukum Gay
Lussac.
3. Hukum Gay Lussac
Berbunyi dalam volume yang tetap tekanan sejumlah tertentu gas selalu
berbanding lurus dengan mutlaknya.
P/T = Tetapan (2.23)
Hukum Boyle dan Hukum Charles dapat digabung sebagai berikut volume, V, dapat
dianggap sebagai fungsi dari tekanan, P dan suhu mutlak, T
V = f (P,T) .. (2-24)
Defferensiasi akan memberikan :
V V
dV = dP dT
P T T P

Hukum Boyle dapat ditulis sebagai :


C
V = pada T tetap. Jadi :
P
V C VP V
2 ....(2-25)
P
2
T P P P
Hukum Charles dapat ditulis sebagai :
V C'T pada P tetap, jadi :
V V
C' ....(2-26)
T P T

Bila Persamaan (2-25) dan (2-26) disubstitusikan kedalam persamaan (2-24) akan
diperoleh :

VdP VdT
dV atau
P T
dV dP dT
....(2-27)
V P T
Integrasi persamaan deferensial ini akan memberikan :
ln V + ln P = ln T + Tetapan
PV = CT .. (2-28)
dengan C ialah suatu tetapan.

4. Hukum Avogadro
Berbunyi pada tekanan gas suhu yang sama, dalam suhu yang sama semua gas
ideal memiliki jumlah molekul yang sama. Pernyataan setara dengan pernyataan bahwa
gas ideal apa saja dalam jumlah mol (gram molekul) yang sama, akan menempati
volume yang samaapabila diukur pada tekanan dan suhu yang sama. Ternyata dari
percobaan, 1 mol gas apa saja memiliki volume sebesar 22,4 liter, pada 0 oC dan 1 atm.
Bila Hukum Avogadro digabungkan dengan persamaan Gay Lussac, yakni dengan
mengambil C = NR, akan diperoleh :
PV = NRT ..(2-29)
dimana harga-harga R sebagai berikut :

Tabel 2.9
Harga-harga R dalam Tekanan, Volume, Suhu dan BM gas

P V T N R
atm liter K
o
gram/M 0,0821
atm cm 3
K
o
gram/M 82,1
psia cuft R
o
lb/M 10,72
psia cuft R
o
lb/M 1544

2.2.1.2. Gas Nyata


Berbeda dengan gas ideal, maka volume total molekulnya tidak dapat
diabaikan terhadap volume wadah, dan juga terdapat gaya tarik menarik antar
molekulnya.
1. Hukum Van der Waals
Dia mengemukakan persamaan sebagai berikut :
a
p V b RT (2-30)
V2
Untuk 1 mol gas nyata. Tetapan a dan b mempunyai harga yang berbeda-beda untuk
gas yang berlainan, dan selalu positif. besaran a/2 merupakan korelas, karena adanya
gaya tarik antar molekul. Besaran ini harus ditambahkan pada tekanan nyata P, tekanan
gas yang diderita oleh dinding wadah akan lebih besar. Tetapan b akan mencerminkan
volume molekul-molekul itu. Tetapan ini harus dipergunakan dari volume wadah,
karena ruang gerak yang sebenarnya adalah lebih kecil dari pada volume wadah itu.
Tabel dibaeah ini menunjukkan harga a dan b untuk beberapa harga gas. P dalam atm,
V dalam liter, T dalam oK dan R = 0,08205.

Tabel 2.10
Tetapan Van der Waals

Gas a (atm, liter2) b (liter)


CH4 2,253 0,04278
C2H6 5,489 0,04278
C2H4 4,471 0,05714
C2H2 4,390 0,05136
CO2 3,592 0,04267

Untuk n mol gas, persamaan (2-30) menjadi :


n 2a
p V nb nRT (2-31)
V 2

Bila tetapan a dan b tidak diketahui, besaran ini dapat diperkirakan dari data kritik.
Dapat dibuktikan kemudian bahwa a= 3 P c Vc2 dan b = 1/3 Vc, dengan P c dan Vc
masing-masing ialah tekanan dan volume kritik gas tersebut.
Persamaan Van der Waals ini sering tidak sesuai untuk perhitungan teknik, karena
sering V harus dihitung dari P dan T yang diperoleh dari eksperimen, dan persamaan
Van der Wals adalah persamaan pangkat tiga dalam V. Lagi pula persamaan ini tidak
mudah digunakan untuk campuran gas.

2. Hukum Keadaan Berhubungan


Hukum ini telah menampilkan faktor daya mampat (compresibility faktor, Z).
Untuk gas nyata hukum gas umum dapat dirubah menjadi :
PV = ZNRT ..(2-32)
dengan Z faktor daya mampat, suatu besaran empirik dimana ditentukan didalam
eksperimen. Untuk gas ideal besarnya harga Z dapat lebih besar atau lebih besar dari
satu, bergantung pada tekanan dan suhu.

Gambar 2.7.
Alur khas dari Faktor Z Terhadap Tekanan, P pada Suhu Tetap.
Bila untuk suatu gas tertentu grafik Z = Z(P,T) belum dibuat, maka harga Z ini dapat
diperkirakan berdasarkan hukum keadaan berhunungan (Law of Coresponding State),
yang berfungsi pada suhu dan tekanan tereduksi yang sama, semua hidrokarbon
mempunyai harga Z yang sama. Suhu dan Tekanan tereduksi, masing-masing
didefinisikan sebagai :
P T
PR = dan TR
Pc Tc

Pc dan Tc masing-masing ialah tekanan dan suhu kritik. Harga-harga suhu dan tekanan
kritik untuk beberapa hidrokarbon tercantum dibawah ini :

Tabel 2.11.
Sifat-sifat Fisika dari Penyusun-penyusun Gas Alam.

Senyawa Rumus BM TC(oF) Pc(oR) Pc (psia)


metana CH4 16,04 116 344 673
etana C2H6 30,07 89 549 712
propana C3H8 44,09 206 666 617
n-butana C4H10 58,12 306 766 551
n-pentana C5H12 72,15 386 846 485
isopentana C5H12 72,15 370 830 483
n-heksana C6H14 86,17 454 914 435
n-heptana C7H16 100,20 512 972 397
n-oktana C8H18 114,22 564 1024 362
C-dioksida CO2 44,01 88 548 1073
nitrogen N2 28,02 -233 227 492
H-sulfida H2S 34,08 213 673 1306

2.2.2. Komposisi Gas


Komposisi gas alam yang tersusun dari ikatan-ikatan atom C, dapat ditinjau
dari jumlah ikatan-ikatan atom C, dapat ditinjau dari jumlah serta kandungan senyawa-
senyawa lain yang menyertainya. Maka komposisi gas alam dapat dibagi dalam tiga
bagian : yaitu : ditinjau dari senyawa molekul karbon, kandungan senyawa lain serta
kondensat.
2.2.2.1. Senyawa Molekul Karbon
Gas alam ditinjau dari senyawa molekul karbon ialah beberapa jumlah atom C
yang menyusunnya selama ikatan senyawa molekul karbon masih berbentuk gas.
Seperti dikemukakan oleh Burcik, E.J. (1961), bahwa dalam keadaan standart
senyawa hidrokarbon yang terdiri dari ikatan-ikatan atom C dari deretan parafin dapat
berada dalam keadaan gas, cair dan padat, bergantung pada jumlah atom C dalam satu
molekulnya, yaitu :
C1 sampai dengan C4 berupa gas
C5 sampai dengan C17 berupa cair.
C18 sampai keatas berupa padat yang tidak berwarna.
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa komposisi gas ditinjau dari senyawa molekul
karbonya hanya terdiri dari C1-C4 dalam satu molekulnya. Jadi penyusun dari gas
adalah hanya terdiri dari metana, etana, propana, serta buitana.

2.2.2.2. Kandungan Senyawa Lain.


Gas alam dapat terjadi dalam keadaan sendiri, atau terdapat bersama-sama
dengan minyak. Gas ini terutama terdiri dari anggota-anggota yang mudah menguap
dari golongan yang terdiri dari 1 sampai 4 atom tiap molekul akan tetapi dapat
dimengerti, bahwa sejumlah kecil dari hidrokarbon dengan berat molekul lebih tinggi
juga terdapat. Disamping gas hidrokarbon, gas ini juga mengandung dalam jumlah
yang berbeda CO2, N2, H2S, helium dan uap air.
Kebanyakan gas terdiri terutama dari metana dan prosentasenya dapat mencapai 98 %
dari gas tersebut, maka gas ini dapat digolongkan dalam gas kering, gas basah, sweet
gas.
1. Reservoir Gas Kering
Diagram gas untuk gas kering diperlihatkan pada gambar (2.8.). Pada reservoir
gas kering ini fasa tetap dalam keadaan gas, meskipun tekanan diturunkan, demikian
juga pada kondisi permukaan, hal ini dapat dilihat pada titik 1 dan 2 dan kondisi
separator.
Istilah kering menunjukkan bahwa fluida hidrokarbon direservoir tidak banyak
mengandung molekul-molekul hidrokarbon ringan untuk membentuk cairan.
GOR pada reservoir gas kering biasanya lebih besar dari 105 SCF/STB.
Pengertian tentang diagram fasa ini sangat membantu dalam perencanaan tekanan dan
suhu kerja separator yang akan digunakan untuk memproduksikan fluida hidrokarbon
reservoir tersebut.

Gambar 2.8.
Diagram Fasa Untuk Reservoir Gas Kering
2. Reservoir Gas Basah
Pada reservoir gas basah didalam diagram fasa dapat dilihat pada gambar(2.9).
Untuk reservoir gas basah, dalam hal ini fluida tetap dalam keadaan fasa gas terjadi
penurunan tekanan reservoir, seperti terlihat pada diagram dimana pada titik 1
reservoir dalam keadaan gas dan bila tekanan turun sampai titik 2 reservoir juga tetap
dalam keadaan gas. Akan tetapi pada tekanan separator terdapat daerah 2 fasa
campuran, karena itu cairan akan terbentuk pada kondisi permukaan. Cairan ini bisa
disebut gas kondensat atau gas alam (natural gas). Kata basah menunjukkan bahwa gas
mengandung molekul-molekul hidrokarbon ringan yang pada kondisi permukaan
membentuk fasa cair.

Gambar 2.9.
Diagram Fasa Untuk Gas Basah
Pada kondisi separator gas biasanya mengandung lebih banyak hidrokarbon menengah.
Gas yang diproses di separator akan mencairkan juga butan dan propana. gas basah
dicirikan dengan GOR di permukaan diatas 100.000 SCf/STB, dan minyak assosiated
dengan grafity lebih besar dari 150o API.
3. Sweet Gas
Sweet gas adalah gas alam yang tidak mengandung hidrokarbon sulfida (H 2S),
tetapi dapat mengandung nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2) atau kedua-duanya.
Kandungan ini harus kita ketahui besarnya prosentasenya karena akan mempengaruhi
besarnya harga Z.
1. Pengaruh Nitrogen (N2) terhadap kompresibilitas
Jika dalam campuran nitrogen terkandung sampai, 10 % mole nitrogen, maka
akan terjadi penyimpangan harga Z sebesar 1 %. Jika terkandung 20 % mole atau
lebih, maka akan terjadi penyimpangan sebesar 3 % atau lebih.
Didefinisikan suatu faktor kompresibilitas aditif, akibat efek nitrogen (N 2) sebagai
berikut :
Za = ZnYn + (1 Yn) Zg . (2-33)
dimana :
Za = faktor kompresibilitas additif
Zn = faktor kompresibilitas nitrogen
Zg = faktor lkompresibilitas dari fraksi hidrokarbon campuran
Yn = fraksi mole nitrogen dari dalam campuran
Harga faktor kompresibilitas yang sebenarnya yaitu Z dari campuran, didefinisikan
sebagai :
Z = C Za. (2-34)
dimana C ialah faktor koreksi yang tergantung pada konsentrasi nitrogen,
temperatur dan tekanan. Harga faktor koreksi C bisa diperoleh gambar 2-10.
2. Pengaruh karbondioksida (CO2) terhadap kompresibilitas :
Didefinisikan faktor kompresibilitas additif, sebagai berikut :
Za = (ZCO2) YCO2 + (1 YCO2) (Zg)(2-35)

Gambar 2.10.
Faktor Koreksi C Untuk Bermacam-macam Konsentrasi Nitrogen pada P dan T
Tetap.

dimana :
ZCO2 = faktor kompresibilitas dari CO murni, dari gambar 2.11
YCO2= fraksi mole CO2 di dalam campuran
Zg = faktor kompresibilitas dari fraksi hidrokarbon

Gambar 2.11.
Faktor Kompresibilitas Untuk Gas Karbondioksida (CO2)
Jika di dalam campuran gas terkandung gas CO2 dan nitrogen dalam jumlah yang
cukup besar, dipergunakan persamaan :
Za = ZCO2 (YCO2) + Zn(Yn) + (1- YCO2 Yn)Zg..(2-36)
dikoreksi terhadap faktor kompresibilitas dapat dilakukan dengan anggapan bahwa
karbondioksida merupakan bagian dari hidrokarbon.

4.Sour Gas
Sour gas adalah gas alam yang mengandung nitrogen sulfida (H2S) dalam
jumlah yang berati dan karena adanya H2S ini maka sour gas tersebut bersifat korosif.
Selain itu H2S juga akan mempengaruhi besarnya harga Z.
Pengaruh Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap kompresibilitas :
Suatu gas alam akan dikatakan sour gas apabila mengandung 1 gram H2S per
cubic feet. Sour gas bersifat korosif, bahkan bisa menjadi racun jika konsentrasinya
cukup besar. H2S di dalam konsentrasi yang kecil dapat diabaikan, sehingga untuk

Gambar 2. 12.
Faktor Kompresibilitas Untuk H2S
perhitungan faktor kompresibilitas dapat dilakukan tanpa koreksi seperti yang
dilakukan terhadap nitrogen (N2) dan karbondioksida (CO2) jika konsentrasinya H2S
cukup berarti, maka koreksi dapat dilakukan pada nitrogen (N2) maupun pada
karbondioksida. Oleh karena itu, kandungan senyawa lain terhadap kompresibilitas
harus diperhitungkan.

2.2.2.3. Reservoir Gas Kondensat


Pada reservoir gas kondensat didalam diagram fasa terlihat bahwa suhu
reservoir terletak diantara titik kritis dan crikondenterm, keadaan ini dapat
diperlihatkan pada gambar 2.13.
Pada titik 1 reservoir hanya terdiri dari satu fasa yaitu : cair dengan tujuan tekanan
reservoir selama produksi berlangsung, dengan turunnya tekanan terjadi retrograde
condensition dalam reservoir tersebut. Sedangkan pada titik 2 (dew point/titik embun
cairan mulai terbentuk, dengan turunnya tekanan dari titik 2 ketitik 3 jumlah cairan
dalam reservoir bertambah. Pada titik 3 ini merupakan titik dimana jumlah maksimum
cairan yang dapat terjadi.

Gambar 2.13.
Diagram Fasa Untuk Reservoir Gas Kondensat
Penurunan tekanan selanjutnya menyebabkan cairan kembali menjadi gas. GOR yang
diperoleh dari reservoir gas kondensat umumnya sekitar 70.000 SCF/STB, dengan
grafity dengan grafity sebesar 600 API.

2.2.4. Sifat Fisik Dan Thermodinamika Gas


Sifat-sifat tersebut antara lain berupa kompresibilitas gas, density dan spesifik
grafity gas, kelarutan gas, viscositas gas serta enthalpi gas.
2.2.3.1. Kompresibilitas Gas
Pada pembahasan ini kompresibilitas atau daya mampat yang akan dibahas
antara lain meliputi :
1. Faktor kompresibilitas gas
2. Kompresibilitas gas
1. Faktor Kompresibilitas Gas
Faktor kompresibilitas gas (Z) adalah perbandingan antara volume sebenarnya
yang ditempati oleh gas pada tekanan dan temperatur tertentu dengan adanya volume
yang akan menempati, jika gas berkelaluan seperti gas ideal pada tekanan dan
temperatur yang sama. Atau dapat dituliskan dengan persamaan :
Vsebenarnya
Z = ....(2-
Videal

37)
Faktor kompresibilitas tidak konstan, tetapi bervariasi dengan perubahan komposisi
gas, temperatur dan tekanan.
Faktor kompresibilitas gas dapat diperkirakan berdasarkan hubungan yang
berbunyi pada temperatur dan tekanan tereduksi yang sama semua gas hidrokarbon
mempunyai harga faktor kompresibilitas yang sama. Temperatur dan tekanan tereduksi
didefinisikan sebagai berikut :
Temperatur tereduksi (TR) = T/Tc .(2-38)
Tekanan tereduksi (PR) = P/Pc ..(2-39)
Dimana Tc dan Pc masing-masing adalah temperatur dan tekanan kritik dapat dihitung
dengan menggunakan grafik pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.14. Tipe Plot dari Faktor Kompresibilitas Sebagai Fungsi Tekanan
Dan Temperatur Konstan.

Untuk gas hidrokarbon multikomponen dipakai konsep Pseudo Critical


TemperaturpTR) dan Pseudo reduced Pressure(pPR) dengan persamaan sebagai
berikut :
pTc = Yi x Tci ...(2-40)
pPc = Yi x Pci(2-41)
maka :
pTR = T / pTc ..(2-42)
pPR = P/pPc .(2-43)
Dengan grafik hubungan antara pT R, pPR dan z, maka dapat dicari harga faktor
kompresibilitas (z)

Gambar 2.15.
Sifat-sifat Pseudocritical Gas Alam Sebagai Fungsi Grafity Gas

2. Kompresibilitas Gas
Kompresibilitas gas didefinisiskan sebagai perubahan fraksi volume per unit
perubahan tekanan atau dapat dituliskan sebagai berikut :
dV / V 1 dV
Cg .(2-44)
dP V dP
dimana :
Cg = kompresibilitas gas
V = volume gas
P = tekanan
Dalam unit praktis kompresibilitas adalah perubahan fraksi volume per psi atau karena
fraksi tanpa satuan, maka satuan kompresibilitas adalah psi-1.
Kadang-kadang kompresibilitas gas persamaanya ditulis sebagai berikut :
1 dV
Cg (2-45)
V dP T

Dimana tanda T menunjukkan temperatur dijaga konstan.


Kompresibilitas gas ideal :
Persamaan yang paling sederhana untuk gas ideal adalah :
nRT
PV = nRT atau V = ..(2-46)
P
dimana :
V = volume total gas
P = Tekanan
n = mole gas
R = konstanta gas
T = temperatur
maka:
Gambar 2.16.
Kompresibilitas Gas Alam Sebagai Fungsi Dari Tekanan
dan Temperatur Reduced.

1 nRT
C g 2
V p

P nRT 1
= ..(2-47)
nRT p 2 p

Kompresibilitas Gas Nyata :


Persamaan ini akan dikombinasikan dengan persamaan koefisien
kompresibilitas isothermal. Karena perubahan faktor Z disebabkan oleh perubahan
tekanan, ini harus dipertimbangkan sebagai suatu variabel.
Z
V = nRT ..(2-48)
P

Kemudian persamaan diturunkan terhadap tekanan pada temperatur konstan menjadi :


P nRT dZ
Cg 2
P Z
nRTZ p dP
1 1 dZ
= ..(2-49)
P Z dP

Pada tekanan rendah, faktor kompresibilitas Z menurun karena kenaikkan tekanan dan
dengan demikian turunan Z terhadap P adalah negatif dan Cg lebih besar dari pada
keadaan gas ideal. Walaupun demikian, pada tekanan tinggi Z bertambah dengan
bertambahnya tekanan dan turunan Z terhadap P adalah positif dan harga C g lebih kecil
dari keadaan gas ideal.

2.2.3.2. Densitas Gas


Densitas gas adalah berat gas tiap satu satuan volume gas tersebut atau :
P.V = n. z. R.T
n = w/M
atau :
w M.P
dimana w/M adalah densitas gas ( g )
V Z.R.T
Berat jenis gas merupakan perbandingan antara densitas gas dengan densitas gas
standart, yaitu udara
gas
SGgas = . (2-50)
udara

Pada kondisi standarty, densitas gas akan berbanding lurus dengan berat molekulnya
(M), sehingga berat jenisnya :
M gas M gas
SGgas = .. (2-51)
M udara 28,96

Pada situasi di lapangan, fluida yang keluar dari reservoir gas biasanya akan terurai
menjadi cairan (kondensat) dan gas setelah dipisahkan di separator untuk perhitungan
biasanya dipakai berat jenis (SG) fluida yang keluar dari reservoir (G f) dan ini bisa
dicari dengan persamaan :
R g .G g 4584G o
Gf ..(2-52)
R g 132800.G o / M o

dimana :
Rg = perbandingan gas terhadap kondensat, SCF/STB
Gg = grafity gas yang keluar dari separator
Go = grafity dari kondensat (cairan)
141,5
=
131,5 o API
Mo = berat molekul dari kondensat
6084
= o
API 5,9
2.2.3.3. Kelarutan Gas
Kelarutan gas dapat dibedakan menjadi dua yaitu : kelarutan gas dalam air dan
kelarutan gas dalam minyak.
1. Kelarutan Gas Dalam Air
Kelarutan gas dalam air, selain dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur juga
oleh kadar garam (salinitas dan dinyatakan dalam cubic feet gas pada kondisi 14,7
psia, dan 60 oF per barrel pada temperatur 60oF.
Didalam perhitungan, biasanya selalu diadakan koreksi dengan menggunakan
persamaan berikut :
XY
R sw R sw (1 ) (2-
10.000
53)
Gambar 2.17.
Kelarutan Gas Dalam Air

dimana :
Rswp = kelarutan gas dalam air reservoir, cuft/bbl
Rsw = kelarutan gas dalam air murni
X = Faktor koreksi (Gambar dan tabel)
Y = kegaraman air, ppm

Tabel 2.12.
Faktor Koreksi Kegaraman

Temperature Faktor Koreksi,


F
o
X
100 0.074
150 0.050
200 0.044
250 0.033
2.Kelarutan Gas Dalam Minyak
Kelarutan gas dalam minyak didefinisikan sebagai banyaknya cubic feet gas
pada tekanan 14,7 psia dan temperatur 60oF yang berada dalam minyak mentah

Gambar 2.18.
Kurva Kelarutan Gas Sebagai Fungsi Tekanan Reservoir
(crude oil) sebanyak satu barrel tanki pengumpul (STB) ketika keduanya masih berada
pada kondisi tekanan dan tempeartur reservoir.
Dinyatakan dalam satuan cuft/STB. Kelarutan gas dalam minyak adalah fungsi dari
tekanan, temperatur, komposisi minyak dan gas.

- Pengaruh Tekanan :
Misalkan gas dan minyak pada temperatur konstan, maka jumlah kelarutan gas
bertambah dengan bertambahnya tekanan, ini terjadi sampai titik gelembung dan
diatas tekanan titik gelembung kelarutan gas akan menjadi konstan, karena semua
gas telah terlarut dalam minyak.
- Pengaruh Temperatur :
Pada tekanan konstan kelarutan gas dalam minyak berkurang dengan bertambahnya
temperatur.
- Pengaruh Komposisi Gas :
Kelarutan gas dalam minyak mentah berkurang dengan naikknya konsentrasi
penyusun dengan berat molekul yang rendah dalam gas tersebut. Karena berat jenis
gas ditentukan oleh berat molekul dari tiap penyususn gas. Dan telah diselidiki bahwa
pada temperatur dan tekanan tertentu kelarutan suatu gas dalam minyak mentah
adalah berkurang dengan berkurangnya berat jenis gas.
- Pengaruh Komposisi Minyak :
Data hasil percobaan kelarutan gas dalam minyak mentah menunjukkan bahwa
kelarutan gas naik dengan menurunnya berat jenis minyak mentah. Berat jenis minyak
mentah yang rendah menunjukkan besarnya konsentrasi penyusun minyak dengan
berat molekul yang rendah oleh karena itu akan terdapat lebih banyak kemiripan
antara gas dan minyak dalam sifat kimianya. Berat jenis minyak berkurang dengan
bertambahnya oAPI minyak. Dengan demikian pengaruh komposisi minyak terhadap
kelarutan gas dapat dinyatakan, bahwa pada tekanan dan temperatur tertentu
kelarutan gas dalam minyak mentah naik dengan bertambahnya oAPI minyak.
Suatu minyak mentah dikatakan jenuh (saturated) dengan gas pada suatu
tekanan dan temperatur tertentu, jika pada suatu penurunan tekanan sedikit saja
beberapa dari gas dibebaskan dari larutan, dan sebaliknya kalau tidaka da gas yang
dibebaskan dari larutan, minyak mentah dikatakan tidak jenuh (under saturated)
dengan gas pada temperatur tertentu tersebut. Pada kondisi under saturated tidak ada
gas bebas yang kontak dengan minyak mentah atau tidaka da gas cap.
Gambar 2.19.
Kelarutan Gas Dalam Minyak Dari Reservoir Minyak
Lapangan Big Sandy Pada Temperatur 160oF

Pada gambar diatas pada tekanan reservoir mula-mula 3.500 psi, gas yang terlarut
sebanyak 567 SCF/STB. Grafik menunjukkan tidak ada gas yang dikembangkan dari
larutan, ketika tekanan turun dari tekanan mula-mula sampai 2.500 psi. Demikian pada
daerah ini minyak adalah tidak jenuh, dan tidak ada fasa gas bebas (gas cap) pada
reservoir. Tekanan 2.500 psia disebut tekanan titik gelembung ini gas bebas pertama
muncul, dan daerah pada tekanan kurang dari 2.500 psia disebut daerah jenuh, dimana
pada daerah ini terbentuk gas cap.

2.2.3.4. Faktor Volume Formasi Gas


Adalah perbandingan antara volume gas pada kondisi reservoir dengan kondisi
permukaan :
vol.gas pada P dan T
g (2-54)
vol.gas pada Psc dan Tsc

z.n.R .T / P z.T.Psc
=
Z sc .n.R.Tsc / Psc z sc .Tsc P

Keadaan dipermukaan Psc = 14,7 psia, temperatur = 520 oR serta Zsc = 1 maka
didapat.
z.T
g 0,0283 cuft (2-55)
P

Untuk mendapatkan volume dalam barrel, maka :


0,0283 z.T z.T
g 0,00504 barrel / scf (2-56)
5,615 P P
2.2.3.5. Viscositas Gas
Viscositas gas murni (satu komponen) tergantung pada tekanan dan
temperatur, tetapi untuk gas campuran (gas alam) viscositas akan tergantung pula pada
komposisi. Gambar (2.20) memperlihatkan hubungan kurva antara viscositas versus
grafity gas, pada tekanan dan temperatur tertentu, yaitu pada tiap temperatur 60 oF,
100oF, 200oF, 300oF, dan 400oF.
Carr-Kobayashi dan Burrow telah menyusun grafik korelasi perhitungan
viscositas pada temperatur dan tekanan reservoir, dengan memperlihatkan faktor
impurities. Hal ini terlihat pada gambar (2.20 ), (2.21), (2.22) yang didasarkan atas
hubungan :
ga f (M , T ) (2-

57)
g
f (Pr , Tr ) .(2-58)
ga

dimana :
ga = viscositas pada tekanan 1 atm
g = viscositas pada tekanan tinggi
Gambar 2.20. Kurva Hubungan Gas Vs Grafity Gas

Gambar 2.21.
Viscositas Gas Alam pada 1 atm
Gambar 2.22.
Pengaruh P dan T pada Viscositas Gas
2.2.3.6. Enthalpi Gas
Enthalpi gas adalah kandungan panas gas, dimana merupakan fungsi dari
kapasitas panas gas tersebut. Enthalpi gas naik dengan naiknya temperatur. Perubahan
enthalpi karena perubahan temperatur dan tekanan dinyatakan dengan persamaan :

dH C p dT V T (V / T ) p dP ..(2-
59)

dimana :
Cp = spesifik heat pada tekanan konstan, yakni = (H/T) p, BTU/ (lb/mol) (oR)
P = tekanan absolut, psia
T = temperatur absolut, oR
V = volume sistem, cuft
Suku pertama pada ruas kanan dari persamaan (2-59) menyatakan pengaruh
temperatur terhadap enthalpi gas dalam keadaan ideal, dan suku kedua menyatakan
pengaruh tekanan terhadap enthalpi gas real, suku kedua persamaan (2.59) yang
merupakan perubahan enthalpi terhadap tekanan, bisa dinyatakan hubungannya dengan
faktor kompresibilitas gas, Z, menurut persamaan :
H RT 2 Z
..(2-60)
P T P T P

dimana :
R = konstanta gas. Untuk harga H dalam BTU/lb mol, R = 1,986 BTU/lb mol
R.
o

Z = faktor kompresibilitas gas.

1. Enthalpi Komponen Murni


Enthalpi komponen murni dihitung dengan persamaan :
H = Ho - (Ho H)....(2-61)
dimana :
H = enthalpi pada kondisi yang diinginkan, BTU/lb mol
Ho = enthalpi keadaan gas ideal, BTU/lb
Harga enthapi keadaan gas ideal, Ho untuk beberapa senyawa diberikan pada gambar
(1) dan (2) dalam lampiran A. Sedangkan enthalpi keadaan gas dari senyawa lain
(fraksi petroleum), bisa diperkirakan dari gambar (3) pada lampiran A..
Pengaruh tekanan terhadap enthalpi, suku kedua pada persamaan (2.61)
dihitung dengan persamaan :

H o

H RTc H o H / RTc (o)

H o H / RTc (')
..(2-62)
dimana:

H o
H / RTc (o)
= Pengaruh tekanan terhadap enthalpi smple fluid, yang bisa

didapat dari gambar lampiran.

H o
H / RTc (')
= Koreksi penyimpangan dari enthalpi simple fluid karena

pengaruh tekanan yang didapat dari gambar lampiran.


w = acentric faktor dari komponen

2. Enthalpi Campuran
Enthalpi campuran gas hidrokarbon yang telah diketahui komposisinya,
dihitung berdasarkan data-data konstanta-konstanta komponen murninya. Enthalpi
campuran gas dalam keadaan ideal dihitung dengan fraksi mol rata-rata dari enthalpi
keadaan gas ideal komponen murninya.
H m x i H io (2-63)
o

dimana xi adalah fraksi mol komponen i.


Acentrix faktor campuran juga dihituing sebagai fraksi mol rata-rata dari acentric
faktor komponen murninya.
w m x i w i .(2-64)
i

Harga-harga pseudocritical digunakan untuk menghitung pseudoreduced pressure dan

pseudoreduced temperatur, untuk memperoleh H o


H / RTc (o)
dan

H o
H / RTc (')
.Kemudian acentric faktor campuran dan pseudocritical

temperatur digunakan untuk menghitung pengaruh terhadap enthalpi campuran, (H o


H)m.

H o

H m RTcm H o H / RTc (o )

w m H o H / RTc (')
.(2-65)
Enthalpi campuran pada tekanan dan temperatur yang diinginkandiperoleh
dengan substansi Hom dan (Ho H)m. untuk Ho dan (Ho-H) dalam persamaan (2.61)
Perhitungan enthalpi campuran dua fasa harus didahului dengan melakukan flash
calculation untuk memperoleh jumlah mol dan komposisi masing-masing fasa.
Kemudian enthalpi masing-masing fasa dihitung dengan prosedur yang sama seperti
diatas.

2.2.4. Komposisi Kimia Air Formasi


Komposisi kia air formasi untuk setiap lapangan berbeda satu dengan yang
lainnya. Dibandingkan dengan air laut, maka air formasi mempunyai rata-rata kadar
garam yang lebih tinggi. Oleh karena itu, komposisi kia air formasi berbeda-beda,
maka analisa kimia air formasi perlu dilakukan untuk menentukan jenis dan jumlah
kandungannya. Komposisi kimia air formasi pada umumnya mengandung berbagai
garam-garam mineral yang berupa kation-kation dan analisa anion-anion yang cukup
terperinci dijelaskan pada sub bab berikutnya. Kation yang sangat umum terdapat
adalah Na+, K+, Ca++, dan anion yang biasa terdapat adalah Cl- ,SO4=, dan HCO3-,
tetapi kadang-kadang juga sering didapatkan adanya : NO 3-, Br-, I-, S=, susunan kimia
untuk beberapa air formasi serta perbandingannya dengan air laut, dalam bentuk ion,
dapat dilihat pada tabel berikut.
Jika dibandingkan terhadap air laut, dapat dibedakan antara lain :
1.Tidak hadirnya sulfat dalam air formasi
2.Ketidak hadiran Ca dan Mg dalam air formasi
3.Kadar chlor pada umumnya jauh lebih tinggi daripada air laut

2.2.4.1. Komposisi Kimia Air Formasi Yang berupa Anion-anion Dari Berbagai
Garam-garam Mineral
1. Calsium (Ca)
Ion calsium adalah penyusun yang terbanyak pada air formasi dan bisa
mencapai 30.000 mg/lt, meskipun kadang-kadang konsentrasinya tidak sebesar itu. Ion
ini dengan ion-ion karbonat dan sulfate membentuk padatan yang tersuspensi atau apat
juga membentuk scale.
2. Magenesium
Ion ini konsentrasinya lebih kecil dari calsium. seperti ion-ion calsium, ion
magnesium bereaksi dengan ion carbonate membentuk scale atau plugging. Untuk
MgCO3 pembentukan scale yang terjadi tidak seganas CaCO3 dan juga MgSO4 berupa
larutan, sedang CaSO4 tidak.
3. Sodium
Sodium merupakan unsur penyususn air formasi pada reservoir, secara normal
tidak menimbulkan persoalan tetapi akan menyebabkan endapan NaCl yang berlebihan
sehingga kadar garamnya semakin tinggi.
4.Besi
Kadar besi dalam air formasi biasanya rendah dan dapat berbentuk ion ferro
(Fe++) dan ion ferri (Fe+++) ion-ion ini dapat menimbulkan korosi. Adanya komponen
besi yang dapat mengendap dapat menyebabkan penyumbatan didalam pipa alir.
5. Barium (Ba++)
Ion ini mempunyai kemampuan bereaksi dengan ion sulfate membentuka
barium sulfate (BaSO4) yang sukar larut, nbahkan dalam jumlah yang kecil dapat
menimbulkan persoalan yang cukup serius.
6. Natrium (Na+)
Ion ini sangat banyak terdapat dalam air formasi sebagai natrium chlorida.
7. Strontium
Seperti barium dan kalsium, strontium bereaksi dengan ion sulfate membentuk
strontium sulfate yang sukar larut meskipun lebih mudah larut dibandingkan dengan
BaSO4. Strontium sulfate sering dijumpai dalam scale yang bercampur dengan barium
sulfate.

2.2.4.2. Komposisi Kimia Air Formasi yang Berupa Anion-anion Dari Berbagai
Garam Mineral
1. Chlorida (Cl-)
Ion chlorida bisanya merupakan anion yang terbanyak dalam air formasi.
Sumber terbesar ion chlorida adalah NaCl. Konsentrasi ion chlorida digunakan sebagai
pengukur keasaman air. Walaupun pengumpulan garam dapat menimbulkan masalah,
tetapi konsekuensinya kecil. Problema utama dari ion chlorida adalah karena sifat
korosi dari air makin meningkat bila makin asin.
2. Carbonate (CO3=) dan Bikarbonate(HCO3-)
Ion-ion ini penting karena dapat membentuk scale yang tidak terlarut.
Konsentrasi ion-ion carbonate kadang-kadang disebut phenopthalein alkalinity, sedang
konsentrasi ion-ion bicarbonate disebut methylorange alkalinity.
3. Sulfate (SO4=)
Ion sulfat juga bereaksi dengan ion calcium dan ion barium akan membentuk
scale yang sukar larut.

2.2.4.3. PH
pH merupakan besaran yang sangat penting. Kelarutan zat didalam air
tergantung pada pH, bila pH ini makin tinggi (bersifat basa, maka kecenderungan
pembentukan scale bertambah. Bila pH kecil (bersifat asam) kecenderungan
pembentukan scale berkurang, tetapi korosinya makin meningkat. Kebanyakan
lapangan gas atau minyak mempunyai pH antara 4 dan 8. H 2S maupun CO2 dalah gas-
gas yanga sam yang mempunyai kecenderungan menurunkan pH air (air makina asam).
Jika mereka terlarut dalam air, mereka akan membentuk ion sampai tingkat tertentu
dan pH larutan dapat digunakan untuk menentuka derajat ionisasi. Hal ini berguna pula
untuk meramalkan akibat kelarutan gas-gas tersebut dalam air dan penanganan
masalah korosi dan padatan-padatan yang tersuspensi.

2.2.4.4. Pengaruh Oksigen Pada Komposisi Kimia Air Formasi


Oksigen yang terlarut akan menaikkan tingkat korosi air jika terdapat besi yang
terlarut dalam air formasi, maka adanya oksigen dapat menimbulkan pembentukan
oksida besi yang mungkin bisa menyebabkan plugging.

2.2.4.5. Pengaruh Sulfida Terhadap Komposisi Kimia Air Formasi


Adanya H2S didalam air akan meningkatkan adanya tingkat korosi. H2S dapat
secara alamiah terdapat didalam air, atau mungkin dihasilkan oleh bakteri yang
mereduksi sulfate, Jika air yang mula-mula bebas H2S kemudian menunjukkan adanya
tanda-tanda H2S , hal ini menyatakan adanya bakteri tersebut disuatu tempat didalam
sistem sedang mengkarati pipa atau dinding tangki, sehingga menghasilkan sulfida besi
yang merupakan penyumbat formasi.

2.2.5. Sifat-sifat Fisik Air Formasi


Air hampir selalu didapat dimana endapan hidrokarbon tersebut berada. Sifat-
sifat air yang berhubungan dengan persoalan teknik perminyakan sangat penting untuk
diketahui. Berikut ini akan dibicarakan mengenai sifat fisik air formasi, yang meliputi
viskositas, faktor volume formasi, densitas, kelarutan gas dalam air formasi dan
kompresibilitas air formasi.
2.2.5.1. Kompresibilitas Air Formasi
Air formasi yang terdapat didalam reservoir yang undersaturated (tidak jenuh)
tidak membebaskan gas akibat turunnya tekanan. Tetapi sebaliknya untuk reservoir
saturated, gas dibebaskan dari larutan didalam air formasi akibat turunnya tekanan
sehingga akan menaikkan saturasi gas.
Didalam pembahasan kompresibilitas air ini juga akan dibagi menjadi dua bagian
yaitu :
1. Kompresibilitas air didalam reservoir undersaturated
2. Kompresibilitas air didalam reservoir saturated

1. Kompresibilitas Air Didalam Reservoir Undersaturated


Grafik korelasi dari Dodson dan Standing seperti pada gambar dibawah ini,
dapat digunakan untuk menentukan kompresibilitas air didalam reservoir yang
undersaturated.
Gambar 2.23.
Kompresibilitas Air yang Bebas Gas

Gambar 2.24.
Pengaruh Larutan Gas Pada Kompresibilitas Air
Disini juga diperlukan data-data seperti temperatur, dan tekanan reservoir dan salinitas
air formasi. Secara matematis kompresibilitas air didefinisikan :
Cw
Cw Cwp (2-66)
Cwp
Dimana :
Cwp = kompresibilitas air murni

2. Kompresibilitas Air Didalam Reservoir Saturated


Kompresibilitas air dihitung dari persamaan sebagai berikut :
1 dBw Bg dR sw
Cw (2-67)
Bw dP Bw dP
dimana :
1 dBw
ditentukan dengan menggunakan gambar 2.23. (untuk air bebas)
Bw dP
dan gambar 2.24. (untuk koreksi pengaruh gas dalam larutan.
dR sw
=ditentukan dengan menggunakan gambar 2.25, yaitu grafik
dP
korelasi dari Ramey untuk fresh water dan gambar 2.26 digunakan

dR sw
untuk korelasi akibat pengaruh salinitas pada
dP
Perhitungan kompresibilitas air ini memerlukan data-data seperti salinitas air formasi,
temperatur, tekanan dan faktor volume formasi gas yang terlarut dalam air.

2.2.5.2. Ekspansi Thermal Air Formasi


Ekspansi thermal air murni dapat dinyatakan dalam beberapa cara, tetapi cara
yang paling tepat seperti ditunjukkan dalam gambar 2.27 dan gambar 2.28., dimana
faktor volume formasi di-plot-kan vs temperatur.

Gambar 2.25.
Koreksi Dari Kelarutan Gas Alam Untuk Padatan-padatan Terlarut.
Gambar 2.26.
Perubahan Gas Alam Dalam Campuran Air Dengan Tekanan vs Tekanan.

Ekspansi thermal air murni adalah merupakan kemiringan dari kurva tersebut pada
beberapa kondisi tertentu dan dnyatakan dalam barrel per barrel per oF.
Tabel 2.14. menyatakan hubungan antara komposis ion air formasi dengan air laut
serta komposis air formasi pada sumur 23, Sover Farm, McKean County Pa.
Ekspansi Thermal air murni pada tekanan konstan dapat dinyatakan sebagai berikut :
1 V
.(2-68)
V T P

Tabel 2.14.
Komposisi Air Formasi

Komposisi Ion Air Formasi Sumur 23, Air Laut (ppm)


sover Farm, Mc Kean
County Pa, (ppm)
a++ 13.260 420
Mg++ 1.940 1.300
Na++ 31.950 10.710
K+ 650 -
SO4- 730 2.700
Cl- 77.340 19.410
Br- 320 -
I- 10 -
Total = 126.200 34.540
dimana :
= joefisien ekspansi thermal air murni , 1/oF
V = volume air, bbl
V = perubahan Volume air, bbl
T = perubahan temperatur air, oF

2.2.5.3 . Tahanan Listrik Air Formasi


Tahanan listrik ini merupakan sifat fisik air yang penting dan diperlukan dalam
log listrik sumur-sumur untuk identifikasi serta korelasi formasi untuk menentukan
letak/posisi WOC.
Resistivity (spesific resistance) air adalah suatu pengukuran secara konduksi
elektrolitik dan berbanding lurus dengan luas penampang A dan berbanding terbalik
dengan panjangnya, sehingga dituliskan :
A
Rr ..(2-69)
L
dimana :
Gambar 2.27.
Faktor Volume Formasi Air.

Gambar 2.28.
Faktor Volume Air Yang Dijenuhi Dengan Gas Alam

r = resistance, ohm
R = resistivity, ohm meter
A = luas penampang melintang konduktor, m2
L = panjang konduktor, meter
Resistivity air tergantung pada temperatur dan komposisi kimia air, seperti
diperlihatkan pada gambar 2.28.
Gambar 2.28.
Resistivity dari Larutan Sodium Chloride Dalam Air
untuk Konsentrasi Dengan T konstan.

2.3. Kondisi Reservoir


Yang dimaksud dengan kondisi reservoir hidrokarbon adalah tekanan dan
temperatur reservoir hidrokarbon yang dalam hal ini adalah tekanan dan temperatur
reservoir sebelum diproduksikan. Tekanan dan temperatur reservoir hidrokarbon
berperan penting dalam kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi kegiatan hidrokarbon,
tekanan dan temperatur suatu reservoir sangat mempengaruhi perencanaan pemboran ,
pelaksanaan pemboran, perhitungan cadangan, maupun cara memproduksi
hidrokarbon direservoir yang bersangkutan ke permukaan.

2.3.1. Tekanan Reservoir


Yang dimaksud tekanan reservoir hidrokarbon adalah tekanan didalam pori-
pori batuan yang berisi hidrokarbon dalam keadaan statik. Tekanan reservoir sangat
mempengaruhi sifat-sifat fisik fluida reservoir dan kemapuan reservoir untuk
mengangkat fluida reservoir untuk mengangkat fluida reservoir kepermukaan sehingga
sangat mempengaruhi volume cadangan hidrokarbon dan cara produksinya. Tekanan
hidrokarbon sebenarnya merupakan hasil dari gaya-gaya yang bekerja pada pori-pori
batuan, meliputi tekanan hidrostatik, tekanan over-burden dan tekanan kapiler.
Pada tekanan statik, ada tiga faktor yang mempengaruhi tekanan suatu
reservoir hidrokarbon, yaitu tekanan hidrostatik, tekanan kapiler dan tekanan over-
burden.
1. Tekanan Hidrostatik
Tekanan hidtrostatik pada suatu titik dalam pori batuan adalah tekanan yang
ditimbulkan oleh berat kolom air (air formasi) vertikal dari permukaan sampai titik
yang bersangkutan dalam keadaan statik. Secara umum tekanan hidrostatik dapat
dinyatakan dalam bentuk :
ph C x w x D ..(2-70)

dimana :
ph = tekanan hidrostatik
w = densitas rata-rata air formasi
D = kedalaman vertikal
C = faktor konversi yang besarnya adalah 0,0519 bila P dalam psi, w dalam
ppg, D dalam ft.
0,100 bila P dalam ksc, w dalam g/cc, D dalam meter.
Densitas rata-rata air formasi dapat berbeda antara suatu daerah dengan daerah
lainnya, sehingga tekanan hidrostatik juga dapat berbeda antara suatu daerah dengan
daerah yang lain. Tekanan fluida suatu titik pori batuan (tekanan pori) pada suatu
daerah dikatakan normal apabila harganya sama dengan tekanan hidrostatik yang
seharusnya terjadi pada titik tersebut.
Tekanan pori yang lebih besar dari tekanan hidrostatik disebut tekanan
abnormal sedangkan bila lebih kecil dari tekanan hidrostatik disebut tekanan
subnormal.
Untuk mempermudah penggambaran tekanan distribusi tekananan secara
vertikal, biasanya digunakan istilah gradien tekanan yaitu pertambahan tekanan
untuk setiap satuan kedalaman. Seperti halnya dengan tekanan hidrostatik, maka
gradien tekanan normal suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya.
2. Tekanan Kapiler
Karena reservoir hidrokarbon umumnya mengandung lebih dari satu fasa fluida
yang tidak bercampur secara homogen. Maka fenomena tekanan kapiler sangat
berpengaruh terhadap distribusi tekanan reservoir secara vertikal. Fenomena tekanan
kapiler menyebabkan variasi saturasi fluida secara vertikal pada pori-pori batuan diatas
zona air., yang berati menyebabkan terjadinya variasi densitas rata-rata, fluida secara
vertikal dalam pori-pori batuan diatas zona air. Selisih tekanan antara dua titik
ketinggian (kedalaman) yang berbeda dalam batuan diatas zona air adalah sama dengan
selisih harga tekanan kapiler antara dua titik yang bersangkutan, yang mana akan lebih
kecil dari padabesarnya selisih tekanan yang terjadi pada zona air dengan jarak vertikal
yang sama.
Untuk reservoir gas alam, perbedaan tekanan kapiler antara titik tertinggi reservoir
dengan bidang gasd-water contack adalah sebesar :

Pc
h
w g ..(2-71)
144

Pc = perbedaan tekanan, psi


h = ketinggian puncak reservoir dari bidang gas-water contack
w = densitas air formasi, lb/cuft
w = densitas gas, lb/cuft

3. Tekanan Over Burden


Tekanan Overburden yang bekerja pada suatu lapisan atau tubuh batuan dapat
dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Z
Po 0,433 z dz ...(2-
0

72)
dimana :
Po = tekanan over burden, psi
z = interval kedalaman, ft
(z) = densitas batuan pada interval kedalaman ke-z, g/cc
Densitas suatu batuan merupakan fungsi dari densitas matriks, densitas fluida yang
mengisi pori-pori batuan dan porositas batuan yang dapat dinyatakan dengan rumus
persamaan :
b . fl 1 . mb ..(2-73)

dimana :
b = Densitas batuan, g/cc
= Porositas batuan
fl = Densitas fluida yang mengisi pori batuan, g/cc
mb = densitas matrik batuan, g/cc
Tekanan over burden batuan dapat menyebakan terjadinya tekanan abnormal
pada reservoir hidrokarbon yang berupa tubuh batu pasir berbentuk lensa yang berada
diantara lapisan-lapisan serpih yang tebal. Pada saat lapisan serpih terkompaksi akibat
penimbunan oleh endapan diatasnya, sehingga over burden yang timbul semakin besar.

2.2.2. Temperatur Reservoir


Berdasarkan anggapan bahwa bumi berisi magma yang sangat panas, maka
dengan bertambahnya kedalaman temperatur juga akan naik. Besar kecilnya kenaikan
tempertur akan tergantung pada gradien temperaturnya. Gradien temperatur ini disebut
juga dengan gradien geotermal, yaitu bilangan yang menunjukkan besarnya kenaikan
temperatur tiap turun ke dalam bumi secara tegak lurus sedalam satu ft. Gradien
geotermal ini biasanya berkisar 1.6 oF tiap 100 ft. Secara matematis temperatur formasi
dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
TD = Tp + ( Gt D ) ......................................................................... (2-74)
dimana :
TD = temperatur pada kedalaman D, oF
Tp = temperatur permukaan rata-rata, oF
Gt = gradien temperatur, oF/100 ft
D = kedalaman, ft.

2.4. Jenis-jenis Reservoir

2.4.1. Berdasarkan Perangkap Reservoir

Jenis reservoir berdasarkan perangkap reservoir dapat dibagi menjadi tiga,


yaitu perangkap struktur, perangkap stratigrafi, dan perangkap kombinasi struktur dan
stratigrafi.
2.4.1.1. Perangkap Struktur

Perangkap struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan sampai saat
ini merupakan perangkap yang paling penting. Berbagai unsur perangkap yang
membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoir (sehingga dapat menangkap
minyak) disebabkan gejala tektonik atau struktur, misalnya pelipatan dan pematahan.
Sebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur utama dalam pembentukan perangkap.

Gambar 2.29.
Prinsip Penjebakan Minyak dalam
Perangkap Struktur
Perangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap utama. Unsur
yang mempengaruhi perangkap ini adalah lapisan penyekat dan penutup yang berada
diatasnya dan dibentuk sedemikian sehingga minyak tidak dapat lagi kemana-mana,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.29.
Untuk mengevaluasi suatu perangkap lipatan terutama mengenai ada tidaknya
tutupan (batas maksimal wadah dapat diisi oleh fluida ) tidak mempermasalahkan
apakah lipatan itu ketat atau landai. Suatu lipatan dapat saja terbentuk tanpa terjadinya
suatu tutupan sehingga tidak dapat disebut suatu perangkap. Disamping itu ada
tidaknya tutupan tergantung pada faktor struktur dan posisinya ke dalam. Contohnya,
pada permukaan didapatkan struktur tutupan, tetapi makin ke dalam
makin menghilang. Jadi untuk mengevaluasi perangkap pelipatan selain dari adanya
tutupan juga harus dievaluasi apakah tutupan tersebut terdapat pada lapisan reservoir.
Perangkap patahan sering juga terdapat dalam berbagai reservoir minyak dan
gas. Gejala patahan (sesar) dapat bertindak sebagai unsur penyekat dalam penyaluran
minyak. Sering dipermasalahkan apakah patahan itu merupakan penyekat atau
penyalur. Smith (1966) mengemukakan bahwa persoalan patahan sebagai penyekat
sebetulnya tergantung dari tekanan kapiler. Secara teoritis memperlihatkan bahwa
patahan dalam batuan yang basah air tergantung pada tekanan kapiler dari medium
dalam jalur patahan tersebut. Besar-kecilnya tekanan yang disebabkan oleh
pelampungan minyak atau kolom minyak terhadap besarnya tekanan kapiler,
menentukan sekali apakah patahan itu bertindak sebagai penyalur atau penyekat. Jika
tekanan tersebut lebih besar daripada tekanan kapiler maka minyak masih dapat
tersalurkan melalui patahan, tetapi jika lebih kecil maka patahan tersebut bertindak
sebagai suatu penyekat. Patahan yang berdiri sendiri tidaklah dapat membentuk suatu
perangkap. Beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk terjadinya suatu perangkap
yang hanya disebabkan karena patahan, yaitu :
1. Adanya kemiringan wilayah
2. Harus paling sedikit dua patahan yang berpotongan
3. Adanya suatu pelengkungan lapisan atau suatu pelipatan
4. Pelengkungan dari patahan itu sendiri dan kemiringan wilayah
Dalam prakteknya jarang sekali terdapat perangkap patahan murni. Patahan
biasanya hanya merupakan suatu pelengkung daripada suatu perangkap struktur.

2.4.1.2. Perangkap Stratigrafi

Prinsip perangkap stratigrafi ialah minyak dan gas terjebak dalam perjalanannya
ke atas, terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, karena batuan
reservoir menghilang atau berubah fasies menjadi batuan lain atau batuan yang
karakteristik reservoir menghilang sehingga merupakan penghalang permeabilitasnya.
Beberapa unsur utama perangkap stratigrafi (Gambar 2.30) ialah :

Gambar 2.30.
Beberapa Unsur Utama dalam Perangkap
Stratigrafi, Penghalang-Permeabilitas
dan Kedudukan Struktur
1. Adanya perubahan sifat lithologi dengan beberapa sifat reservoir, ke satu atau
beberapa arah sehingga merupakan penghalang permeabilitas.
2. Adanya lapisan penutup/penyekat yang menghimpit lapisan reservoir tersebut ke
arah atas atau ke pinggir.
3. Keadaan struktur lapisan reservoir yang sedemikian rupa sehingga dapat menjebak
minyak yang naik. Kedudukan struktur ini sebetulnya melokalisasi posisi tertinggi
dari daerah potensial rendah dalam lapisan reservoir yang telah tertutup dari arah
atas dan pinggir oleh beberapa unsur tersebut di atas. Kedudukan struktur ini dapat
disebabkan oleh kedudukan pengendapan atau juga karena kemiringan wilayah.
Perubahan sifat litologi/ sifat reservoir ke suatu arah daripada lapisan reservoir
dapat disebabkan :
a. Pembajian, dimana lapisan reservoir yang dihimpit di antara lapisan penyekat
menipis dan menghilang, dapat dilihat pada Gambar 2.31.
b. Penyerpihan (shale-out), dimana ketebalan tetap, akan tetapi sifat litologi berubah
(Gambar 2.32.).
c. Persentuhan dengan bidang erosi.
Pada hakekatnya, perangkap stratigrafi didapatkan karena letak posisi struktur
tubuh batuan sedemikian sehingga batas lateral tubuh tersebut merupakan penghalang
permeabilitas ke arah atas atau ke pinggir. Jika tubuh batuan reservoir kecil dan sangat
terbatas, maka posisi struktur tidak begitu penting, karena seluruhnya atau sebagian
besar dari tubuh tersebut merupakan perangkap. Posisi struktur hanya menyesuaikan
letak hidrokarbon pada bagian tubuh reservoir (Gambar 2.33.). Jika tubuh reservoir
memanjang atau meluas, maka posisi struktur sangat penting. Perangkap tidak akan
terjadi jika tubuh reservoir berada dalam keadaan horisontal. Jika bagian tengah tubuh
terlipat, maka perangkap yang terjadi adalah perangkap struktur (antiklin). Untuk
terjadinya perangkap stratigrafi, maka posisi struktur lapisan reservoir harus
sedemikian sehingga salah satu batas lateral tubuh reservoir (yang dapat berupa unsur
di atas tadi), merupakan penghalang permeabilitas ke atas.
Levorsen (1954), membagi perangkap stratigrafi sebagai berikut :
1. Tubuh batuan reservoir terbatas (lensa)
a. Batuan reservoir klastik detritus dan volkanik.
b. Batuan reservoir karbonat; terumbu, bioherm
2. Pembajian, perubahan fasies ataupun porositas dari lapisan reservoir ke suatu arah
regional ataupun lokal dari :
a. Batuan reservoir klastik detritus
b. Batuan reservoir karbonat.
3. Perangkap ketidak-selarasan.

Gambar 2.31.
Pembagian Lapisan Reservoir Sebagai
Unsur Perangkap Stratigrafi 10)
Gambar 2.32.
Penyerpihan Lapisan Reservoir (Jari-jemari)
Sebagai Unsur Perangkap Stratigrafi

Gambar 2.33.
Penampang Beberapa Tubuh Pasir Memperlihatkan
Posisi Akumulasi Minyak Bumi Karena
Kedudukan Struktur
2.4.1.3. Perangkap Kombinasi

Perangkap reservoir kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur dan


perangkap stratigrafi. Beberapa kombinasi antara unsur stratigrafi dan unsur struktur
adalah sebagai berikut :
1. Kombinasi antara lipatan dengan pembajian
Dalam Gambar 2.34, dapat dilihat bahwa kombinasi lipatan dengan pembajian
dapat terjadi karena salah satu pihak pasir menghilang dan di lain pihak hidung
antiklin menutup arah lainnya. Hal ini sering terjadi pada perangkap stratigrafi
normal.
2. Kombinasi antara patahan dan pembajian
Kombinasi pembajian dengan patahan lebih biasa daripada pembajian yang berdiri
sendiri. Kombinasi ini terjadi karena terdapat suatu kemiringan wilayah yang
membatasi bergerak ke suatu arah dan pada arah lain ditahan oleh suatu patahan
dan pada arah lainnya ditahan oleh pembajian (Gambar 2.35).

Gambar 2.34.
Kombinasi Perangkap Stratigrafi dan Struktur Lipatan
Dimana di Satu Pihak Lapisan Reservoir Membaji
Gambar 2.35.
Peta Struktur Perangkap Kombinasi
Patahan dan Pembajian
2.4.2. Berdasarkan Mekanisme Pendorong Reservoir

Telah diketahui bahwa minyak bumi tidak dapat mengalir sendiri dari reservoir
ke lubang sumur produksi bila tidak terdapat suatu energi pendorong. Dalam reservoir,
dikenal ada lima mekenisme pendorong , yaitu : solution gas drive reservoir, gas cap
drive reservoir, water drive reservoir, gravitational segregation drive reservoir, dan
combination drive reservoir.

2.4.2.1. Solution Gas Drive Reservoir

Reservoir jenis ini disebut solution gas drive, yang disebabkan oleh energi
pendesak minyak berasal dari perubahan fasa pada hidrokarbon ringan yang semula
fasa cair menjadi gas, yang kemudian ikut mendesak minyak ke sumur produksi pada
saat penurunan tekanan reservoir karena produksi tersebut (Gambar 2.36.).
Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak dimulai,
maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor yang menyebabkan
fluida mengalir dari reservoir menuju lubang bor melalui pori-pori batuan. Penurunan
tekanan disekitar sumur bor menimbulkan terjadinya fasa gas. Pada saat awal, saturasi
gas tersebut masih kecil (belum membentuk fasa yang kontinyu) dan gas tersebut
terperangkap pada ruang antar butiran reservoirnya. Tetapi setelah tekanan reservoir
tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak atau dapat bergerak maka gas
tersebut turut serta terproduksi ke permukaan (Gambar 2.37).
Pada awal produksi, karena gas yang dibebaskan dari minyak masih
terperangkap pada rongga pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih kecil
dibandingkan dengan gas oil ratio reservoir. Gas oil ratio produksi bertambah besar
bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir dan terus berlangsung
hingga tekanan reservoir menjadi rendah. Bila tekanan telah cukup rendah, gas oil
ratio akan berkurang dikarenakan volume gas di dalam reservoir tinggal sedikit. Disini
gas oil produksi dan gas oil ratio reservoir harganya hampir sama.

Gambar 2.36.
Solution Gas Drive Reservoir

Recovery yang mungkin di peroleh sekitar 5 - 30 %. Dengan demikian


untuk reservoir jenis ini pada tahap teknik produksi primernya meninggalkan residual
oil yang cukup besar. Produksi air hampir-hampir tidak ada, sehingga meskipun
terdapat connate water tetapi hampir-hampir tidak dapat terproduksi (reservoir
terisolir).

2.4.2.2. Gas Cap Drive Reservoir


Pada beberapa tempat terakumulasinya minyak bumi, kadang-kadang
komponen ringan dan menengah dari minyak bumi tersebut membentuk suatu fasa gas.
Gas bebas ini kemudian melepaskan diri dari minyaknya dan menempati bagian atas
reservoir dengan membentuk suatu tudung. Hal ini merupakan energi pendorong
minyak bumi dari reservoir ke lubang sumur dan mengangkatnya ke permukaan.
Bila reservoir dikelilingi batuan perangkap, maka energi yang menggerakkan
minyak berasal ekspansi gas cap dan ekspansi gas terlarut, lalu melepaskan diri.

Gambar 2.37.
Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR pada
Solution Gas Drive Reservoir
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reservoir adalah minyak pertama kali
diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan turun, gas cap berkembang ke
bawah selama produksi berlangsung. Untuk jenis reservoir ini, umumnya tekanan
reservoir akan lebih konstan dibandingkan dengan solution gas drive. Hal ini
disebabkan bila volume gas cap drive telah demikian besar, maka tekanan minyak
berkurang dan gas yang terlarut dalam minyak akan melepaskan diri menuju ke gas
cap, dengan demikian minyak akan bertambah ringan, encer, dan mudah untuk
mengalir menuju lubang bor (Gambar 2.38).
Kenaikan gas oil ratio juga sejalan dengan pergerakan permukaan ke bawah, air
hampir-hampir tidak diproduksikan sama sekali. Karena tekanan reservoir relatip kecil
penurunannya, juga minyak berada di dalam reservoirnya akan terus semakin ringan
dan mengalir dengan baik, maka untuk reservoir jenis ini akan mempunyai umur dan
recovery sekitar 20 - 40 %, yang lebih besar jika dibandingkan dengan jenis solution
gas drive. Sehingga residu oil yang masih tertinggal di dalam reservoir ketika lapangan
ini ditutup adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis solution gas drive
(Gambar 2.38).
Gambar 2.38.
Gas Cap Drive Reservoir

Gambar 2.39.
Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR
pada Gas Cap Drive Reservoir

2.5. Perkiraan Reservoir Gas


Pokok-pokok perkiraan reservoir disini akan membahas tentang perkiraan
cadangan, produktivitas formasi, dan peramalan ulah reservoirnya.

2.5.1. Perkiraan Cadangan Reservoir

Ada tiga metode perhitungan perkiraan cadangan yang akan dibahas disini,
yaitu : metode volumetris, metode material balance, dan metode decline curve.

2.5.1.2. Metode Volumetris

Bila suatu reservoir gas diproduksikan, maka kemampuan reservoir tersebut


untuk memproduksikan fluidanya makin lama makin berkurang atau menurun. Hal ini
akan dapat dengan jelas pada plot tekanan (P) atau kuadrat tekanan (P 2) atau tekanan
semu (P/z) dan qsc terhadap waktu dan produksi komulatif (Gp).
Produksi dari suatu reservoir akan segera di hentikan setelah batas ekonomisnya
tercapai, dimana biaya produksi akan sama dengan harga jual dari gas yang dihasilkan
oleh reservoir tersebut. Batas ekonomis dapat berubah setiap saat, sehingga pada
waktu tertentu suatu reservoir dihentikan produksinya karena telah mencapai batas
ekonomisnya, maka disaat lain mungkin saja reservoir tersebut diproduksikan kembali
. Bila tahap diatas dicapai, maka berakhirlah sudah tahap produksi primer dari
reservoir tersebut.
Perhitungan cadangan gas umumnya dapat dirumuskan, sebagai berikut :
Gas mula-mula (initial oil in place) :
1
Gi 43560.A.h.1 S wi ,
SCF..(2-
B gi
75)
Gas sisa pada keadaan abondenment pressure :
1
Gp 43560.A.h.1 S wi ,
SCF.(2-
B ga
76)
Gas yang dapat diproduksikan (ultimate recovery) :
1 1
Gp 43560.A.h.1 S wi ,
SCF...(2-
B gi B ga
77)

Melihat rumus diatas, maka harga-harga Gi, Ga dan Gp akan sangat tergantung pada
ketelitian data-data area (A), ketebalan lapisan (h), porositas rata-rata ( ), saturasi
air pada saat reservoir diketemukan (Swi), dan ketelitian sifat fisik fluida reservoir (Bg).
Kemudian harus diingat pula, bahwa penentuan tekanan abonden sangat
mempengaruhi harga ultimate recovery.
Ketelitian data A sangat tergantung pada jumlah adanya sumur-sumur deliniasi
dan analisa data log (kualitatif) sumur-sumur tersebut. Hal ini sangat penting, karena
berhubungan dengan data h akan merupakan harga Vb (bulk volume) reservoir.
Pada umumnya orang menghitung Vb berdasarkan contoh countur isopak,
reservoir itu seolah-olah dibagi dalam beberapa segmen, dimana tiap-tiap segmen
dibatasi oleh dua bidang sejajar. Luas dari masing-masing segmen dibatasi oleh dua
garis countur yang berbeda volume segmen tadi dapat dihitung berdasarkan
persamaan, sebagai berikut:
1. Piramida Terpancung

Vb
h
3

A n A n 1 A n .A n 1 (2-78)

A n 1
dengan syarat : 0,5
An
2. Trapesium Terpancung :
h
Vb A n A n 1 ...(2-79)
2
dengan syarat :
A n 1
0,5
An
dimana :
Vb = volume segmen, acre ft
h = ketebalan per segmen, yaitu jarak antara 2 garis isopak, ft
An = luas daerah yang dikelilingi oleh garis isopak yang lebih rendah, acre
An+1 = luas daerah yang dikelilingi oleh garis isopak yang lebih tinggi, acre
Ketelitian dalam membuat countur isopak tergantung pada banyaknya data log sumur-
sumur yang telah dibor. Wharton, telah memberikan pedoman untuk membuat peta
isopak, yang pada dasarnya :
- Total net sand
- net oil/gas sand
- Countur dari titik potong dari batas-batas yang ada terhadap top sand dan bottom
sand.
Harga untuk resrervoir tersebut umumnya diperoleh dari analisa statistik data

(umumnya cut-off porosity berdasarkan batas Swi atau Vclay) tiap lapisan, tiap sumur :

1. dengan h :


h (2-80)
h
dengan banyak data i = 1,2,..n
2. dengan Ah :


.A.h (2-
A.h
81)
dengan banyak data i = 1, 2, n
dimana :
= porositas rata-rata untuk reservoir, fraksi
= porositas per lapisan atau per bulk volume tertentu, fraksi
h = tebal lapisan, ft
A = luas area, acre
Selain dengan cara volumetrik, maka harga Gi dapat pula diperoleh dengan bantuan
analisa material balance bila diketahui data produksi, data fluida reservoir, data
water influk jika dibawah pengaruh water drive mechanism.
1. Untuk depletion Drive, berdasarkan persamaan Y = a - mx
yaitu :
p
Gp = G i - m .(2-82)
z
2. Untuk Water Drive/Combination, berdasarkan persamaan :
Y = b + nx, yaitu :
Y = Gi + Kx untuk steady state
Y = Gi + Cx untuk semi steady state
Y = Gi + Bx untuk unsteady state ...(2-83)

Selanjutnya, data Swi yang digunakan untuk perhitungan diatas dapat diperoleh dari
dua sumber yaitu :
1. Dari petrophysical data, yaitu data kapiler contoh batuan yang dianggap mewakili
(representatif)
2. Dari analisa data logging sumur secara statistik serentak dengan Vclay vs prosen
ketebalan total lapisan, yang kemudian digunakan untuk cut-off.
Yang terakhir adalah data fluida reservoir, yaitu sifat fisik gas (B g), umumnya diperoleh
dari data laboratorium Analisa Fluida Reservoir, (AFR).
zT
Bg = 0,00504 ..(2-
P
84)
Data dari laboratorium umumnya berupa tabulasi harga-harga faktor z atas penurunan
harga-harga tekanan (P), atau z = f (P), pada harga temperatur (T) konstan.

2.5.1.2. Metode Material Balance


Material balance untuk gas adalah atas dasar keseimbangan materi dan hukum
PVT untuk gas.
SCF
yang diproduksikan dari reservoir SCF yang semula ada direservoir

SCF yang tersissa direservoir ..(2-85)

adapun persamaan material balance, adalah sebagai berikut :


Gp = Gi - Bg(Gi/Bgi - We + Bw. Wp) (2-86)

dimana :
Gp = Produksi gas kumulatif, SCF
Gi = jumlah gas mula-mula, SCF
We = water influx, SCF
Wp = produksi air kumulatif, SCF
Bw = faktor volume air, SCF/STB
Bgi = faktor volume gas pada tekanan reservoir, Pi, SCF/CF
Bg = faktor volume gas pada tekanan reservoir P, SCF/Cf
Pi = tekanan reservoir mula-mula, psia

2.5.1.3. Metode Decline Curve


Metode yang lain untuk perhitungan perkiraan cadangan adalah decline curve,
yang berujud suatu kurva plotting antara rate vs waktu, dan produksi kumulatif vs
rate.
Metode ini memerlukan suatu asumsi, bahwa makin lama rate produksi sumur
akan makin menurun, oleh karena itu analisa decline curve hanya dfapat digunakan
selama kondisi mekanis dan radiue pengurasan tetap konstan didalam suatu sumur
mampu berproduksi pada kapsitasnya.
Analisa decline curve memerlukan beberapa data produksi, dan data-data ini
merupakan data yang paling mudah diperoleh karena selalu dicatat dengan teliti
sehingga cara yang paling mudah untuk penafsiran adalah : mencari hubungan antara
rate produksi terhadap waktu dan produksi komulatif, kemudian mengestrapolasikan
hubungan itu sampai suatu batas ekonomis. Titik potong ekstrapolasi dengan batas
ekonomis. Titik potong ekstrapolasi dengan batas ekonomis itu memunjukkan
kemungkinan sumur dan recovery di masa mendatang.
Anggapan yang digunakan pada metode ini adalah :
1. Reservoir atau sumur diproduksikan pada kapasitasnya
2. Performance reservoir dimasa datang tetap sama dengan performance reservoir
dimasa lalu.
Tiga jenis decline curve yang umum dikenal adalah :
1. Eksponential decline
2. Hyperbolic decline
3. Harmonic decline
Untuk menganalisa karakteristik reservoir terhadap tipe dari production decline
curve, dengan anggapan bahwa kita bekerja dengan reservoir ideal dimana tidak ada
tekanan proporsional terhadap jumlah hidrokarbon yang tersisa. Selanjutnya dianggap
bahwa PI dari sumur-sumur konsytan selama masa produksinya, sehingga rate
produksi selalu sebanding dengan tekanan reservoir.
Pada kenyataanya, keadaan reservoir yang ideal itu jarang ditemukan. Tekanan
reservoir biasanya tidak proporsional dengan hidrokarbon yang tertinggal, sebagai
akibat berkurangnya jumlah hidrokarbon yang tertinggal di reservoir.
Pada saat yang bersamaan, PI umumnya tidak konstan tetapi menurun karena
proses pengosongan resrervoir. Hubungan rate produksi dengan waktu pada kertas
semilog tau produksi dengan kumulatif produksi pada kertas biasa tidak lagi linier,
melainkan berupa kurva melengkung. Maka dari tipe kurva ini akan di hasilkan tipe
kurva ini akan di hasilkan tipe hyperbolic decline curve, bisa melengkungnya tidak
pegas dan harmonic decline bila melengkungnya jelas. Berikut ini akan dibahas ketiga
tipe decline curve tersebut.
1. Exponential Decline Curve
Exponential decline tersebut juga dengan Geometrik semilog atau constan
percentage decline, yang dicirikan oleh kenyataan, bahwa penurunan rate produksi
per unit waktu merupakan suatu fraksi yang konstan dari rate produksi.

1. Analisa Matematis Hubungan Rate Produksi-Waktu


Untuk menunjukkan tipe eksponential decline dengan cara yang paling mudah
adalah dengan cara yang paling mudah adalah dengan cara statistik melalui
prosedur loss ratio.
Loss ratio didefinisikan sebagai rate produksi per satuan waktu dibagi dengan
turunan pertama rate produksi terhadap waktu, dan diberi simbol a. Dengan
metode ini rate produksi per unit waktu q pada kolom ke dua, sedang
perbandingan keduanya (a = loss ratio ) pada kolom ke tiga. Sebagai kesimpulan
apabila loss ratio ini konstan atau hampir konstan, maka decline ini merupakan
tipe eksponential. Selanjutnya harga ini (a) di[pakai untuk mengestrapolasikan rate
produksi sampai batas ekonomis (economic limit) . Prosedur ekstrapolasi dapat
dinyatakan sebagai berikut : Metode untuk mendapatkan loss ratio dari ratye
produksi yang diketahui adalah tetap sama digunakan, tetapi untuk mendapatkan
rate produksi di masa datang, metode ini dipakai secara terbalik dengan loss ratio
konstan.
Kurva rate produksi-waktu untuk tipe eksponential decline curve yang
mempunyai suatu loss ratio yang konstan memenuhi persamaan :

q
a ..(2-87)
dq / dt

dimana adalah suatu konstyanta positif. Integrasi persamaan 2-87 dengan batas q =
qi untuk t = 0 memberikan hasil :
q = q1. e-t/a.....(2-88)
persamaan 2-88 jelas merupakan bentuk eksponential dan menyatakan bahwa bila rate
produksi diplot terhadap waktu, akan membentuk suatu garis lurus pada kertas semi
log.

2. Analisa Matematis Hubungan Rate Produksi-Produksi


Kumulatif
Persamaan untuk kurva rate kumulatif dapat diperoleh dengan integrasi dari
persamaan 2-79 sebagai berikut :
t
G p qdt t q i e t / a dt
o 0

demngan batas integrasi Gp = 0 pada t = 0, maka persamaan :


Gp = a (qi - q) .(2-89)
persamaan 2-89 menunjukkan, bahwa bila rate produksi diplot versus produksi
kumulatif pada kertas koordinat biasa akan diperoleh suatu garis lurus, dengan sudut
a.
Bentuk kurva rate produksi vs waktu dan rate produksui vs produksi kumulatif dapat
dilihat pada gambar 2.40. dan 2.41.
Pada linier plot besarnya susut a, sukar ditentukan karena bentuk kurva melengkung.
Tetapi pada plot dikertas semilog besarnya a, dapat ditentukan karena dari bentuk
kurva yang diperoleh berupa garis lurus. Lihat gambar.2-40.

`
Gambar 2.40.
Decline Curve dari Rate Produksi vs Waktu dalam Linier Plot
Gambar 2.41.
Kurva Eksponential Decline dari Rate
Produksi vs Waktu dalam Semilog Plot

Gambar 2.42.
Kurva Eksponential Decline dari Rate Produksi vs Produksi Kumulatif dalam
Linier Plot
Untuk mengetahui prosentase penurunan bulanan (mountly decline percentage)
dinyatakan sebagai :
dq / dt
d 100 % (100) / a % ..(2-90)
q

2. Hyperbolic Decline Curve :


Didalam hyperbolic decline curve, penurunan rate produksi per unit waktu yang
merupakan suatu fraksi dari rate produksi, sebanding dengan rate produksi
pangkat suatu bilangan pecahan. Bilangan ini brerharga dari 0 sampai 1.
A. Analisa Matematik Hubungan Rate Produksi-Waktu :
Type hyperbolic atau log-log decline ini, dapat dicirikan oleh perubahan loss
ratio yang membentuk suatu deret hitung, karena itu turunan pertama dari loss ratio
adalah konstan atau hampir konstan, dan diberi notasi b.
Harga rate-rate b ini adalah digunakan untuk mengestrapolasikan data-data rate
produksi pada titik yang diberikan, dibagi dengan perbandingan dari penurunan rate
produksi, terhadap produksi total selama selang sebelumnya. Turunan pertama
ditentukan sebagai kenaikan dari loss ratio pada interval yang diberikan dibagi dengan
total produksi selama interval yang sama.
Bila turunan pertama dari loss ratio konstan atau mendekati konstan, maka persamaan
deferensialnya dapat dinyatakan oleh :
q
d
dq / dt b ..(2-91)
dt

Dimana b adalah suatu konstanta positif.


Hasil integrasi persamaan 2-91 memberikan :
q
bt a o ...(2-92)
dq / dt

atau
dq dt
...(2-93)
q a o bt

Untuk memperoleh hubungan rate-waktu, persamaan 2-93 diintegrasikan dengan


mengambil q = qi untuk t = 0, sehingga diperoleh :

1 / b
bt
q q i 1 ..(2-94)
a o
dari persamaan 2-94 terlihat hubungan rate-wakttu untuk hyperbolic akan merupakan
garis lurus pada kertas log-log dan diperlukan penggeseran ke kanan sejauh (a o/b) dan
slope garis lurus adalah (-1/b)

B. Analisa Matematik Hubungan Rate Produksi Kumulatif


Produksi kumulatif diperoleh dengan mengintegrasikan persamaan 2-94 dengan
mengambil Gp = 0 pada t = 0, maka diperoleh :

a q bt
11 / b

Gp o i 1 1 ..(2-95)
1 b i ao

setelah mengeliminir t dengan persamaan 2-94, maka persamaan 2-95 menjadi :


a q
q (2-96)
b

q
1 b 1 b
Gp o i i
1 b

Persamaan 2-96 menunjukkan hubungan antara rate produksi dan produksi kumulatif
akan berupa garis lurus bila diplot pada kertas log-log.
Mounthly decline percentage diperoleh dari persamaan 2-92 :
dq / dt 100
D 100 % .(2-97)
q a o bt

Setelah mengeliminir t pada persamaan 2-97 dengan persamaan 2-94 maka diperoleh :
100
D q b % .(2-98)
a o qi
b

ini berati bahwa decline percentage sebanding dengan rate produksi pangkat b.
3. Harmonic Decline Curve
Bentuk harmonic decline curve merupakan bentuk khusus dari bentuk hyperbolic,
yaitu untuk harga b = 1
A. Analisa Matematik Hubungan rate Produksi- Waktu
Dengan memasukkan hargan b = 1 pada persamaan 2-94 akan diperoleh hubungan
antara rate-waktu, yaitu :
q = qi ( 1 + t/a o)-1....(2-99)
Hubungan ini memberikan kurva garis lurus pada kertas log-log.

Gambar 2.43.
Kurva Hyperbolic Decline untuk b = 0,3
Gambar 2.45.
Kurva Hyperbolic Decline untuk b = 0,5

B. Analisa Matematik Hubungan Rate Produksi Kumulatif


Hubungan rate-produksi kumulatif untuk tipe harmonic diperoleh dengan
mengintegrasikan persamaan 2-79 dengan mengambil harga G p = 0 untuk t = 0,
sehingga diperoleh :
Gp = ao qi(log qi - log q)(2-100)

Persamaan 2-100 akan memperlihatkan suatu bentuk garis lurus apabila diplot pada
kertas semilog, dengan rate produksi diplot pada skala log.
Persentase penurunan bulanan (mountly decline percentage) untuk tipe harmonic
decline curve, adalah :
100 q
D % (2-101)
a oqi

2.5.2. Perkiraan Produktivitas Formasi

Produktivitas formasi adalah kemampuan suatu formasi untuk mengalirkan


fluida dari reservoir ke dalam sumur produksi. Produktivitas formasi dapat dinilai
berdasarkan besaran productuvity index (PI).
Produktivitas formasi dipengaruhi oleh besarnya energi pendorong dan
dipengaruhi oleh sifat fisik batuan, sifat fisik fluida, pressure drawdown, dan dimensi
dari sistem, yaitu drainage radius (re) dan ketebalan formasi.

2.5.2.1. Deliverability
Deliverability dapat didefinisikan sebagai kapasitas aliran dalam keadaan stabil
atau perolehan jumlah gas dalam keadaan stabil. Deliverability dibutuhkan untuk
perencanaan operasi produksi pada suatu lapangan gas. Kapasitas aliran harus
ditentukan untuk perbedaan tekanan balik atau tekanan alir dasar sumur pada setiap
saat dalam sepanjang umur dari reservoir tersebut. Deliverability testing akan dibahas
lebih lengkap pada sub bab berikutnya, tentang well testing untuk sumur-sumur gas.
Metode yang umum untuk menentukan delaverability sumur gas adalah test
multipoint, dimana diproduksikan pada beberapa perbedaan aliran (4 laju aliran), dari
perhiyungan laju aliran, tekanan sumur serta dari persamaan inflow performance. Jadi
delaveribility sangat penting dalam perkiraan produktifitas formasi.
PR2 - Pwf2 = A qsc + B qsc2.(2-102)
dimana :
1422T Z 0,427 re
A ln S
kh rw

1422T Z
= D
kh

2.5.2.2. Inflow Performance Relationship Untuk Sumur Gas


Pembuatan grafik IPR untuk sumur gas ini dikemukakan oleh Al Hussainy dan Ramey.
Dengan berdasarkan atas persamaan gas nyata dan kombinasi persamaan kontinuitas
dengan hukum Darcy untuk aliran radial. Didapat persamaan untuk kondisi standart,
sebagai berikut :

1637q sc T kt
3,23 0,87(S D ) .(2-
log
m(Pr) - m(Pwf) =
kh
g C t i rw
2

q

103)
dimana :
qsc = rate aliran gas pada kondisi standart, Mscfd
T = temperatur reservoir , oR
K = permeabilitas formasi, md
h = ketebalan zone gas, ft
t = waktu produksi, jam
= porositas, fraksi
( g)i = viscosoitas gas mula-mula, cp
(Ct)i = kompresibilitas total mula-mula, psi-1
rw = jari-jari lubang bor, ft
S = skin efek
Dq = nin Darcy flow term
m(P) = fungsi tekanan semu (pseudo pressure function, psi2/cp)
Persamaan diatas dapat digunakan untuk menghitung tekanan sumur gas yang
berproduksi pada rate yang konstan dari reservoir tak terbatas, atau untuk menghitung
aliran pada tekanan aliran konstan dan waktu produksi yang singkat. Untuk waktu
produksi yang lama dipakai persamaan :
703x10 6 ( kh ) m(Pr ) m(Pwf )
q sc ...(2-104)
T ln re / rw 0,75 S D q

Fungsi tekanan sumur m (P) ditentukan dengan persamaan :

P
2P
m (P) =
Pb gZ
dP ...(2-105)

dimana :
Pb = tekanan dasar, psi
P = tekanan, psi
g = viscositas gas, cp
Z = faktor kompresibilitas gas.
Plot antara g Z versus temperatur untuk grafity gas 0,65 dan temperatur dari 150oF
adalah seperti pada gambar 2.46. sedangkan untuk temperatur konstan pada 200 o F
dan grafity gas 0,6 sampai 0,75 adalah pada gambar 2.47.
Dari gambar tersebut ternyata harga g Z akan konstan pada tekanan nol sampai
hampir 1000 psi, sehingga persamaan 2-105 menjadi :
P
2
g Z Pb
m (P) = P dP .(2-106)

sehingga didapat :

Gambar 2.46.
Plot Antara g Z Versus Pressure( g 0,65 )
Gambar 2.47.
Plot antara g Z Versus P Pada Temperatur Konstan.

m (P) = Z P Pb ....(2-107)
1
2 2

Dimana g dan Z adalah viscositas dan faktor kompresibilitas gas rata-rata, yang
dicari pada tekanan rata-rata :
0,5
P 2 Pb 2
P ..(2-108)
2

substitusi persamaan 2-108 kedalam persamaan qsc didapat persamaan :


2 2
703x10 6 kh (Pr Pwf )
q sc ..(2-109)
T Z(ln re / rw 0,75 S D q )

Persamaan ini berlaku untuk tekanan < 1000 psi, tetapi beberapa pengamat
mengatakan, bahwa persamaan tersebut berlaku untuk tekanan <2500 pai. Untuk itu
apabila dilakukan plot antara 2P 2/ gZ versus Tekanan, maka akan terjadi simpangan
dari m(P) versus tekanan pada tekanan > 2500 psi.
Pada tekanan yang tinggi (lihat gambar 2.46.) slope dari kurva yaitu ( gZ)/P akan
konstan, sehingga :
2P
C kons tan ..(2-110)
g Z

Fungsi tekanan semu dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :


P

m (P) = C dP
Pb

= C ( P - Pb).(2-111)

substitusikan persamaan 2-111 kedalam persamaan qsc, didapat persamaan baru :


703x10 6 k h C( Pr Pwf )
q sc (2-112)
T (ln re / rw 0,75 D q )

Persamaan ini berlaku untuk tekanan >5000 psi.

Gambar 2.48.
Plot Antara m (P) Versus Pressure

Gambar dibawah adalah plot antara m(P) versus Pressure, dimana pada tekanan yang
diketahui maka harga m (P) dapat diketahui. Selanjutnya dengan memakai persamaan
qsc sesuai dengan tekanannya, maka dapat dibuat kurva Inflow Performance
Relationship (IPR) untuk sumur gas yang akan dicari.

2.5.3.3. Manfaat Perkiraan Produktifitas Formasi


Untuk mengetahui produktifitas formasi setelah penentuan perkiraan cadangan
dengan metode volumetris material balance sehingga dapat menentukan reservenya,
yang sangat tergantung pada data PVT dan produksinya. Oleh karena itu data yang
representatif sangat diperlukan. Untuk ini dibuat oleh para pakar perminyaka, suatu
model ideal dari suatu reservoir sehingga hasil perhitungan berdasarkan data PVT dan
tes produksi yang dilakukan dapat dibandingkan dengan model tersebut . Dari studi ini
akan diketahui; performance tiap sumur, variasi batuan reservoir; variasi tekanan dan
saturasi.
Selain daripada itu dengan berdasarkan data-data yanga ada seperti
delaveribility dan IPR kemudian produktifity index akan dapat pula memperkirakan
sistem gerakan atau aliran fluidanya, yang dapat digolongkan atas dasar :
a. Jenis fluida yang mengalir
b. Geometri aliran dalam reservoir
c. Rate relatif, dimana aliran dapat mencapai kondisi steady state tanpa menimbulkan
kerusakan pada formasi dilakukan dengan tes sumur
Hawkins, M.F. dan Craft, B.C. menyatakan bahwa sistem aliran dan jenis fluida ini
didasarkan pada sifat kompresibilitasnya, jenis fasa seperti fluida satu fasa, dua fasa
dan multi fasa.
Geometri aliran dalam reservoir dapat berupa ; aliran linier, radial, dan
spherical. Setiap jenis geometri aliran ini mempunyai persamaan aliran yang berbeda
satu dengan lainnya, sehingga untuk ini diambil batasan-batasan tertentu. Seperti
mjisalnya aliran linier akan mempunyai garis alir yang pararel dan cross section dari
alirannya kan menunjukkan aliran yang konstan. Pada aliran radial garis alirannya
tampak lurus dan bertemu pada satu titik pusat lingkaran, sedang pada aliran spherical
garis alirannya lurus berpotongan pada titik pusat dari lingkaran dari satu arah tiga
dimensi. Sedang pada aliran radial dianggap dalam medium dua dimensi.

2.5.3. Perkiraan Performance Reservoir


Tujuan dari perkiraan performance reservoir adalah untuk membuat suatu
kurva trend karakteristik dari :
a. Tekanan versus waktu
b. Rate produksi versus waktu
Sehingga dapat menentukan batas limit ekonomis suatu reservoir dengan mengatur
tekanannya atau rate produksinya.
Pada pembahasan perkiraan performance reservoir ini hanya akan ditampilkan dua
jenis reservoir yang mempunyai drive mekanisme solution gas drive dan water drive.
Sedangkan metode yang digunakan untuk memperkirakan performace terdiri dari
metode material balance dan decline curve.

2.5.3.1. Metode Material Balance.


Perkiraan prilaku reservoir dengan metode material balance ini akan menampilkan
dua masalah peramalan pada dua jenis peramalan reservoir dengan drive mekanisme
yang berbeda, yaitu solution gas drive dan water drive.
1. Reservoir Depletion Drive
Anggapan atau asumsi yang dikenakan pada reservoir ini adalah :
- Tidak ada perembesan air kedalam reservoir dan atau produksi air kecil dan dapat
diabaikan.
- Keadaan mula-mula dari reservoir adalah undersaturated
- Reservoir homogen dan isotropis
- Tidak ada gas cap
- Tenaga yang menyebabkan adanya produksi gas hanya berasal dari pengembangan
gas itu sendiri
Tarner menghadirkan suatu bentuk persamana material balance untuk depletion dtrive
yang digunakan pada metode ini adalah :
N B t B tb N p (B o R sb B g )
Gp (2-113)
Bg

dimana :
Gp = produksi gas komulatif, scf
Et = faktor formasi total (dua fasa) mula-mula, BBL/STB
Etb = faktor formasi total pada tekanan gelembung, BBL/STB
Rsb = kelarutan gas dalam minyak pada tekanan gelembung, SCF/STB
perkiraan performance reservoir tersebut diatas adalah berada dibawah tekanan
gelembung sehingga selain gas yang terproduksi juga cairannya, yang mana bila
saturasi kritis gas terlewati, maka gas tersebut akan mengalir ke permukaan bersama
cairannya.
2. Reservoir Water Drive
Apabila sejarah tekanan produksi cukup tersedia untuk reservoir gas, gas
inplace mula-mula (G) tekanan reservoir mula-mula (Pi) dan reserve gas dapat dihitung
dengan diketahuinya : A, h, atau Sw, maka :
Mole yang diproduksi = mole gas mula-mula in place mole gas sisanya
atau dapat dituliskan dalam bentuk persamaan :
np = ni - n..(2-114)
seperti diketahui persamaan gas PV = ZnRT, maka diperoleh
Psc G p p i Vi pVi
..(2-115)
Tsc Z sc Tf Z i Tf Z '
dimana :
Tf = temperatur formasi
Vi = volume gas direservoir
p = tekanan reservoir setelah diproduksikan, Gp, scf
Maka gas dalam reservoir dapat diambil dalam unit scf dengan menggunakan
persamaan Bgi, sebagai berikut :
Vi =G Bgi ...(2-116)

Substitusi persamaan 2-114 dan 2-115 harga p/Z adalah :


p P Tf Psc
i G ' ..(2-117)
Z Z i Tsc B gi G p
p
dengan demikian jelas sekali bahwa plot versus Gp akan menghasilkan garis lurus
Z
dengan slope (TfPsc per Tsc BgiG) dean intercept pada Gp = 0 dari Pi/Zi. Apabila antara
G dan Pi dihubungkan akan didapatkan sebuah grafik.
Dengan mengambil beberapa harga p, maka dapat menentukan harga gas yang dapat
diproduksikan Gp. Dari persamaan 2-117 dapat dituliskan harga recovery factor
sebagai berikut :
p P Gp
i (1 ) (2-118)
Z Zi G

Gambaran plot tipe dari persamaan 2-117 dan 2-118 dapat dilihat pada gambar 2.42.
Apabila terjadi water influx, Vi akan diturunkan dengan water influx sebagai p decline,
maka persamaan 2-118 akan menjadi :

p G B gi P Tf Psc
( ) i G p ..(2-119)
Z GB gi We Z i Tsc (GB gi We )

Slope yang terjadi akan mempengaruhi besarnya Gp atau waktu. Plot dari p/Z versus
Gp akan tidak lama linier tetapi mengalami deviasi menaik dengan pressure decline
tergantung pada kekuatan dari water drive-nya. lihat gambar 2.50
Gambar 2.49.
Plot Gas Material Balance

Gambar 2.50.
Pengaruh Water Drive

Havlena dan Odeh menghadirkan persamaan untuk menghitung besarnya water influx
yang terjadi, sebagai berikut :
We = C P QtD(2-120)
dimana :
C = konstanta water influx
P = Pi - P t
QtD = dimensionless water influx
Harga QtD adalah pada perbandingan dari aquifer volume gas didalam reservoir dan
waktu saat reservoir telah diproduksikan.

2.5.3.3. Production Decline Curve


Perkiraan performance resrervoir dapat pula dilakukan dengan metode ini,
hanya data yang diperlukan untuk peramalannya diambil dari data-data yang telah
lampau, untuk memperkirakan performance yang akan datang.
Data yang diperlukan untuk perkiraan ini adalah :
1. Data produksi masa lalu harus dapat diekstrapolasi
2. Kondisi aliran steady state harus ada
Persamaan untuk decline curve eksponential sama dengan pada pembahasan
terdahulu. Dan untuk menunjukkan suatu decline exponential dengan waktu, maka
sumur harus sudah diproduksi pada potensialnya, bukan pada rate yang dibatasi.
Demikian pula dengan drive mekanisme reservoir maupun metode produksi yang
dipakai tidak berubah.
Hubungan antara rate produksi dengan waktu pada kertas semi log, dengan
rate pada skala log, dengan rate pada skala log akan diperoleh bentuk kurva yang
linier. Dari hasil pengeplotan ini dapat diperkirakan performance rate produksi akan
datang terhadap waktu yang akan datang, hingga batas limit ekonomi.
Untuk meramalkan tekanan reservoir, dapat dilakukan dengan menggunakan data test
tekanan pada saat pengukuran rate aliran.