Anda di halaman 1dari 14

ODS Pseudofakia dengan Dry Eye Syndrome

Laporan Case

Pembimbing :
dr. Djoko Heru, Sp.M

Disusun oleh :
I Gede Karyasa
112016087

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacara
Rumah Sakit Mardi Rahayu
Kudus
Periode 13 Februari 18 Maret 2017

1
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS

Nama : I Gede Karyasa Tanda Tangan


NIM : 112016087
Periode : 13 Februari 2017-18 Maret 2017
Tanda Tangan
Dokter Pembimbing : dr. Djoko Heru, Sp.M

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn Sukajo
Umur : 54 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Kudus
Tanggal Pemeriksaan : 17 Februari 2017

II. ANAMNESIS
Auto-anamnesis tanggal : 17 Februari 2017
Keluhan Utama
Mata terasa buram
Keluhan Tambahan
Sulit melihat dari jarak dekat
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang dengan keluhan pengelihatan buram sejak kurang lebih 2 tahun yang
lalu. Keluhan diawali hilang pengelihatan 2 tahun yang lalu, yang tidak diketahui
penyebabnya. Saat ini pasien mengalami kesulitan melihat terutama pada jarak dekat
sehingga mengganggu kesehariannya. Kemampuan pengelihatan mata kiri terasa lebih
baik daripada mata kanan. Pasien mempunyai riwayat operasi katarak 5 bulan yang lalu.

2
Riwayat Penyakit Dahulu
a. Umum
Hipertensi : Tidak terkontrol
Diabetes Melitus :-
Konsumsi Obat :-
Penyakit Lain :-
b. Mata
Riwayat sakit mata sebelumnya : kehilangan total pengelihatan 2 tahun lalu
Riwayat penggunaan kacamata : Tidak pernah.
Riwayat operasi mata : Post operasi katarak 5 bulan yang lalu
Riwayat trauma mata sebelumnya : Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit mata serupa : Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan serupa.
Penyakit mata lainnya : Tidak ada.
Hipertensi : Tidak diketahui

Riwayat Kebiasaan
Merokok

III.PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 160/80 mmHg
Nadi : 75 kali/menit
Respirasi : 18 kali/menit
Suhu : 36.5o C

B. Status Opthalmologis

KETERANGAN OD OS
1. VISUS

3
Visus 0.5 KMS 0.8 KMS
Koreksi
- -
Addisi - -
Distansia Pupil -
Kacamata Lama - -
2. KEDUDUKAN BOLA MATA Simetris
Eksoftalmus Tidak Ada Tidak Ada
Endoftalmus Tidak Ada Tidak Ada

Deviasi Tidak Ada Tidak Ada


Gerakan Bola Mata Bebas ke segala arah, nyeri gerak (-)
3. SUPERSILIA Tidak ada kelainan
4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Nyeri Tekan Tidak Ada Tidak Ada
Ektropion Tidak Ada Tidak Ada
Entropion Tidak Ada Tidak Ada
Trikiasis Tidak Ada Tidak Ada
5. KONJUNGTIVA SUPERIOR DAN
INFERIOR
Hiperemis Tidak Ada Tidak Ada
Folikel Tidak Ada Tidak Ada
Papil Tidak Ada Tidak Ada
6. KONJUNGTIVA BULBI
Sekret Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi Konjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi Siliar Tidak Ada Tidak Ada
Perdarahan Subkonjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Pterigium Tidak Ada Tidak Ada
7. SKLERA
Warna Putih Putih
Nyeri Tekan Tidak Ada Tidak Ada
8. KORNEA
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Rata Rata
Infiltrat Tidak Ada Tidak Ada
Edema Tidak Ada Tidak Ada
Ulkus Tidak Ada Tidak Ada
Perforasi Tidak Ada Tidak Ada
9. BILIK MATA DEPAN
Kedalaman Cukup Cukup
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak Ada Tidak Ada
Hipopion Tidak Ada Tidak Ada
10. IRIS

4
Warna Coklat Coklat
11. PUPIL
Letak Di tengah Di tengah
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 4 mm 3 mm
Reflek Cahaya Langsung Positif Positif
Reflek Cahaya Tidak Langsung Positif Positif
12. LENSA
Kejernihan Jernih Jernih
Letak Di tengah Di tengah
Shadow test - -
13. FUNDUS OCCULI
Batas Tegas Tegas
Warna Orange Orange
Rasio Arteri:Vena 2:3 2:3
C/D Ratio 0.4 0.4
Makula Lutea Reflex + +
Eksudat - -
Perdarahan - -
Sikatriks - -
Ablasio - -
14. PALPASI
Nyeri Tekan Tidak Ada Tidak Ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Slit Lamp, Funduskopi, USG mata

V. RESUME

5
Pasien pria 54th dengan keluhan pengelihatan buram sejak kurang lebih 2 tahun
yang lalu. Keluhan diawali hilang pengelihatan 2 tahun yang lalu, yang tidak diketahui
penyebabnya. Saat ini pasien mengalami kesulitan melihat terutama pada jarak dekat
sehingga mengganggu kesehariannya. Kemampuan pengelihatan mata kiri terasa lebih
baik daripada mata kanan. Pasien mempunyai riwayat operasi katarak 5 bulan yang lalu.

Pada pemeriksaan opthalmologis didapatkan:


OD OS
Visus 0.5 0.8
LENSA
Kejernihan Jernih Jernih
Shadow test - -
BILIK MATA DEPAN
Kedalaman Cukup Cukup

VI. DIAGNOSIS KERJA


ODS Pseudophaqia dengan Dry Eye Syndrime

VII. DIAGNOSIS BANDING


-
VIII. PENATALAKSANAAN
1. C-Lyters s4 dd gttt II ODS
2. Vit A 6000 IU s3 dd 1
3. Flamar s3 dd gtt II ODS

IX. PROGNOSIS

Oculi Dextra(OD) Oculi Sinistra(OS)


Ad Vitam : Ad Bonam Ad Bonam
Ad Functionam : Dubia Ad Bonam Dubia Ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam Dubia Ad Bonam

X. USUL DAN SARAN


Kontrol rutin bila terdapat keluhan

PSEUDOFAKIA
Definisi

6
Pseudofakia adalah Lensa yang ditanam pada mata (lensa intra okuler) yang
diletakkan tepat ditempat lensa yang keruh dan sudah dikeluarkan. Lensa ini akan
memberikan penglihatan lebih baik. Lensa intraokular ditempatkan waktu operasi katarak dan
akan tetap disana untuk seumur hidup. Lensa ini tidak akan mengganggu dan tidak perlu
perawatan khusus dan tidak akan ditolak keluar oleh tubuh.
Letak lensa didalam bola mata dapat bermacam macam, seperti :
1. Pada bilik mata depan, yang ditempatkan didepan iris dengan kaki penyokongnya
bersandar pada sudut bilik mata
2. Pada daerah pupil, dimana bagian optik lensa pada pupil dengan fiksasi pupil.
3. Pada bilik mata belakang, yang diletakkan pada kedudukan lensa normal dibelakang iris.
Lensa dikeluarkan dengan ekstraksi lensa ekstra kapsular
4. Pada kapsul lensa.

Pada saat ini pemasangan lensa terutama diusahakan terletak didalam kapsul lensa.
Meletakkan lensa tanam didalam bilik mata memerlukan perhatian khusus
1. Endotel kornea terlindung
2. Melindungi iris terutama pigmen iris
3. Melindungi kapsul posterior lensa
4. Mudah memasukkannya karena tidak memberikan cedera pada zonula lensa.

Keuntungan pemasangan lensa ini


1. Penglihatan menjadi lebih fisiologis karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat
lensa asli yang diangkat.
2. Lapang penglihatan sama dengan lapang pandangan normal
3. Tidak terjadi pembesaran benda yang dilihat
4. Psikologis, mobilisasi lebih cepat.

Pemasangan lensa tidak dianjurkan kepada


1. Mata yang sering mengalami radang intra okuler (uveitis)
2. Anak dibawah 3 tahun
3. Uveitis menahun yang berat
4. Retinopati diabetik proliferatif berat
5. Glaukoma neovaskuler

7
DRY EYE SYNDROME
Definisi

Dry eye syndrome atau keratokonjungtivitis sicca adalah suatu keadaan keringnya
permukaan kornea dan konjungtiva. Keratokonjungtivitis merupakan suatu kondisi komplek
yang ditandai adanya inflamasi pada- permukaan mata dan kelenjar lakrimalis.

Etiologi Dry eye syndrome


Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar lakrimal
1. Congenital
a. Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
b. Aplasia kelenjar lakrimal (alakrimal kongenital)
c. Aplasia nervus trigeminus
d. Dysplasia ektodermal
2. Didapat
a. Penyakit sistemik
1. Sindrom sjogren
2. Sklerosis sistemik progresif
3. Sarkoidosis
4. Leukemia, limfoma
5. Amiloidosis
6. Hemokromatosis
b. Infeksi
1. Trakoma
2. Parotitis epidemica
c. Cedera
1. Pengangkatan kelenjar lakrimal
2. Iradiasi
3. Luka bakar kimiawi
d. Medikasi
1. Antihistamin
2. Antimuskarinik: atropine, skopolamin
3. Anastesi umum: halothane, nitrous oxide
4. Beta-adrenergik bloker: timolol prastolol
e. Neurogenik-neuroparalitik (facial nerve palsy)
A. Kondisi ditandai defisiensi musin:
1. Avitaminosis A
2. Sindrom steven-johnson
3. Pemfigoid okuler
4. Konjungtivitis menahun mis trakoma
5. Luka bakar kimiawi
6. Medikasi
7. Obat tradisional (kermes)
B. Kondisi ditandai defisiensi lipid:
1. Parut tepian palpebra
2. Bleparitis
C. Penyebaran defektif film air mata disebabkan:
1. Kelainan palpebra

8
a. Defek, koloboma
b. Ektropion dan entropion
c. Keratinisasi tepian palpebra
d. Berkedip berkurang atau tidak ada
1. Gangguan neurologic
2. Hipertiroid
3. Lensa kontak
4. Obat
5. Keratitis herpes simplek
6. Lepra
e. Lagopthalmus
1. Lagopthalmus noctura
2. Hipertiroid
3. Lepra
2. Kelainan konjungtiva
a. Pterygium
b. Symblepharon

Patogenesis Dry Eye Syndrome

Kelenjar air mata berfungsi untuk menghasilkan air mata yang berfungsi untuk
membasahi kornea dan konjungtiva, mempunyai daya bacterioside (anti mikroba), dan secara
mekanis membilas/ membersihkan permukaan bagian depan mata. Adanya penyakit atau
kelainan fungsi akan menyebabkan terjadinya sindroma mata kering. Penurunan sekresi air
mata dan fungsi mekanis akan merangsang reaksi inflamasi pada permukaan mata dan
beberapa penelitian menunjukkan bahwa reaksi inflamasi ini memegang peranan penting
dalam pathogenesis terjadinya sindroma mata kering.

Populasi yang mempunyai resiko tinggi untuk terkena sindroma mata kering antara
lain:

1. Penyakit inflamasi (vaskuler, alergi, asma)


2. Penyakit autoimun (RA,SLE, colitis)
3. Pada wanita peri dan postmenopause dan pasien dengan HRT
4. Diabetes mellitus
5. Penyakit thyroid
6. Sindroma sjogrens
7. Transplantasi corneal
8. Riwayar keratitis atau scarring kornea
9. Operasi katarak (ekstra atau intrakapsuler dengan insisi luas)
10. LASIK (Laser in siti keratomileusis)
11. Pengobatan sistemik (diuretic, antihistamin, psychotropic,obat penurun kolesterol)
12. Pemakaian lensa kontak
13. Kondisi lingkungan (allergen, asap rokok, angin, iklim panas, bahan kimia)

9
14. Defisiensi vitamin A

Gejala Klinis

Pasien dengan dry eye syndrome akan mengeluh mata gatal, mata seperti berpasir,
silau dapat penglihatan dapat kabur. Pada mata didapatkan sekresi mucus yang berlebihan,
sensai terbakar, merah, sakit dan kelopak mata sukar digerakkan. Ciri yang khas pada
pemeriksaan slitlamp adalah terputus atau tiadanya meniscus air mata ditepian palpebra
inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan mungkin menebal,
edema dan hiperemik. Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissure interpalpebra. Sel-sel
epitel konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan Bengal rose 1% dan defek pada
epitel kornea terpulas dengan fluorescensi. Pada tahap lanjut keratokonjungtivitis sicca
tampak filament-filamen (satu ujung setiap filament melekat pada epitel kornea dan ujung
lainnya bergerak bebas).

Diagnosis

Berdasarkan pada guideline AAO (American Academy of Opthalmology) 2003 prefeerred


practice pattern, tujuan dari diagnose, terapi dan managemen pasien dengan dry eye
syndrome adalah untuk menegakkan diagnosa dry eye syndrome, untuk membedakan dengan
gejala iritasi dan mata merah laannya, mengetahui penyebab dry eye syndrome, untuk
memberikan terapi yang tepat, untuk meringankan keluhan pasien, mencegah komplikasi
termasuk penurunan visus, infeksi dan kerusakan struktur jaringa, memberikan edukasi pada
pasien dan mebgikutsertakan pasien dalam managemen penyakitnya.

Untuk menegakkan diagnose dry eye syndrome tidaklah mudah karena adanya
inkonsistensi hubungan antara symptom dan clinical sign dan tes diagnostic yang kurang
sensitive dan spesifik. Oleh karena dry eye syndrome adalah kondisi yang kronis maka
observasi dan pemeriksaan berkala sangat diperlukan untuk menegakkan diagnose dry eye
syndrome dengan tepat.

Adapun klasifikasi diagnose untuk dry eye syndrome berdasarkan National Eye Institute
Workshop adalah sebagai berikut

Sindroma iritasi mata, instabilitas tear film, penyakit pada permukaan


mata

Dry eye 10
Defisiensi produksi air Evaporasi yang
mata meningkat

Sjogren Non-
s sjogren

eksposu
Blefaritis atau
re Factor lainnya:
kelainan fungsi
kelenjat meibom Lensa kontak,
gerakan
mengedip

Diagnosis dan penderajatan keadaan mata kering dapat diperoleh dengan teliti memakai
cara diagnostic berikut:

1. Tes Schirmer
Tes Schirmer adalah tes saringan bagi penilaian produksi air mata. Tes ini
dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan memasukkan strip Schirmer ke
dalam cul-de-sac konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari
palpebra inferior. Bagian basal yang terpapar diukur 5 menit setelah dimasukkan. Bila
dilakukan tanpa anastesi, tes ini digunakan untuk mengukur fungsi kelenjar lakrimal
utama. Bila panjang bagian basal kurang dari 10mm maka dianggap abnormal. Tes
Schirmer yang dilakukan dengan anastesi topical (tetrakain 0,5%) digunakan untuk
mengukur fungsi kelenjar lakrimal tambahan (pensekresi basa). Bila panjang bagian
basal kurang dari 5mm dalam waktu 5 menit maka dianggap abnormal. Hasil rendah
kadang-kadang dijumpai pada orang normal dan tes normal dijumpai pada mata
kering terutama yang sekunder terhadap defisiensi musin.
2. Tear Film Break-up Time
11
Pengukuran tear film break-up time berguna untuk memperkirakan kandungan
musin dalam cairan air mata. Kekurangan musin mungkin tidak mempengaruhi tes
Schirmer tapi dapat menyebabkan film air mata tidak stabil sehingga lapisan ini cepat
pecah. Bintik kering akan terbentuk sehingga memaparkan epitel kornea dan
konjungtiva. Proses ini akan menyebabkan kerusakan sel-sel epitel yang dipulas
dengan Bengal rose. Sel epitel yang rusak akan lepas dari kornea dan meninggalkan
daerah kecil yang dapat dipulas bila permukaan kornea dibasahi fluorescein.
Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik kertas
berfluorescein pada konjungtiva bulbi dan meminta pasien untuk berkedip. Film air
mata kemudian diperiksa dengan bantuan saringan cobalt pada slitlamp. Waktu
sampai munculnya titik-titik kering yang pertama dalam lapis fluorescein kornea
adalah tear film break-up time. Keadaan normal waktunya tidak lebih dari 15 detik
tetapi akan berkurang nyata dengan anastesi local, memanipulasi mata atau dengan
menahan palpebra agar tetap terbuka. Waktu ini akan lebih pendek pada mata dengan
defisiensi air pada air mata dan selalu lebih pendek dari normalnya pada mata dengan
defisiensi musin.
3. Tes Ferning mata
Tes ini digunakan untuk meneliti mucus konjungtiva . Tes Ferning mata
dilakukan dengan mengeringkan kerokan konjungtiva di atas kaca obyek bersih.
Arborisasi (ferning) mikroskopik terlihat pada mata normal. Pada pasien
konjungtivitis yang meninggalkan jaringan parut (pemphigoid mata, sindrom steven
Johnson, parut konjungtiva difus) arborisasi mucus berkurang atau hilang.
4. Sitologi impresi
Sitologi impresi adalah cara menghitung densitas sel goblet pada permukaan
konjungtiva. Pada orang normal populasi sel goblet paling tinggi di kuadran infra-
nasal. Kelainan pada sel goblet dapat ditemukan pada kasus keratokonjungtivitis
sicca, trachoma, pemphigoid mata cicatrix, sindrom steven Johnson dan avitaminosis
A.
5. Pemulasan fluorescein
Tes ini bertujuan untuk mengetahui adanya kerusakan pada epitel kornea.
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berfluorescein adalah indikator
yang baik untuk menilai derajat basahnya mata dan meniscus air mata mudah terlihat.
6. Pemulasan Bengal Rose
Tes ini bertujuan untuk melihat sel mata (sel epitel non-vital) pada kornea dan
konjungtiva. Rose Bengal mewarnai sel dan nucleus dan hanya sel yang telah mati.
Sel mati dengan pewarnaan rose Bengal akan memberikan warna merah. Pewarnaan
positif pada konjungtiva merupakan hal yang selalu terjadi pada sindroma mata kering

12
(dry eye syndrome). Pada keratokonjungtivitis sicca akan terlihat segitiga berwarna
merah dengan dasar di limbus dan puncak pada kantus internus yang mengisi seluruh
celah kelopak.
7. Pengujian Kadar Lizosim air mata
Cara yang paling umum untuk menguji kadar lisozim air mata adalah dengan
spektrofotometri. Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pada awal
perjalanan sindrom sjogren dan pengujian ini berguna untuk menegakkan diagnosa
penyakit ini. Air mata ditampung dalam kertas schirmer dan diuji kadarnya.
8. Osmolaritas air mata
Beberapa laporan menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes paling
spesifik bagi keratokonjungtivitis sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada
pasien dengan tes schirmer normal dan pemulasan Bengal rose normal.
9. Lactoferrin
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi
kelenjar lakrimal.

Komplikasi

Pada tahap awal perjalanan dry eye syndrome, penglihatan akan sedikit terganggu.
Pada kasus yang lanjut dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea dan perforasi. Kadang
bisa juga terjadi infeksi bakteri sekunder yang dapat berakibat parut dan neovaskularisasi
pada kornea yang dapat menurunkan pengihatan.

Terapi

Pasien harus mengerti bahwa mata kering adalah keadaan menahun dan pemulihan
total sukar terjadi kecuali pada kasus ringan. Adapun pengobatan untuk keratokonjungtivitis
sicca ini terganting pada penyebabnya:

1. Pemberian air mata tiruan bila yang kurang adalah komponen air.
2. Pemberian lensa kontak apabila komponen mucus yang berkurang
3. Penutupan pungtum lacrima bila terjadi penguapan yang berlebihan. Tindakan bedah
pada mata kering adalah pemasangan sumbatan pada punctum yang bersifat temporer
(kolagen) atau untuk waktu yang lebih lama (silicon) untuk menahan secret air mata.
Penutupan puncta dan kanalikuli secara permanen dapat dilakukan dengan terapi
thermal (panas), kauter listrik atau dengan laser.
Pasien dengan mata kering oleh karena sembarang penyebab akan mempunyai resiko
lebih besar untuk terkena infeksi. Blepharitis menahun sering terjadi dan harus diobati
dengan memperhatikan hygiene dan memakai antibiotic topical

13
Daftar Pustaka

PERDAMI, 2009, Ilmu Penyakit Mata, Edisi 2, Sagung Seto: Jakarta


Vaughan, D.G., 2009, Oftalmologi Umum, Widya Medika: Jakarta
http://www.penyakitkatarak.com/tips-perawatan-pasca-operasi-katarak-dan-pencegahannya/
http://www.allaboutvision.com/conditions/iols.htm
http://www.mhprofessional.com/handbookofoptics/pdf/Handbook_of_Optics_vol3_ch21.pdf

14