Anda di halaman 1dari 11

PEMBUATAN PREPARAT SERANGGA UTUH

LAPORAN
Untuk memenuhi tugas matakuliah Mikroteknik
yang dibina oleh Dr. Endang Suarsini, M.Ked dan Dr. Sri Rahayu, M.Si

Oleh:
Muchammad Andi Ali Ridho (160341801398)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA PENDIDIKAN BIOLOGI
MEI 2017
1 JUDUL : Pembuatan Preparat Serangga Utuh
TANGGAL : 27 Februari 2017
TUJUAN : Tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut:
a Mahasiswa mampu membuat preparat serangga bersayap
dan tidak bersayap
b Mahasiswa mampu mengidentifikasi preparat serangga
bersayap dan tidak bersayap
2 DASAR TEORI
Insekta mempunyai jumlah anggota terbesar dalam kingdom Animalia (Susetya,
1994). Sebanyak 1.413.000 spesies telah berhasil diidentifikasi dan dikenal, lebih dari 7.000
spesies baru ditemukan hampir setiap tahun. Tingginya jumlah serangga dikarenakan
serangga berhasil dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya pada habitat yang
bervariasi, kapasitas reproduksi yang tinggi, dan kemampuan menyelamatkan diri dari
predator alaminya (Borror dkk, 1992).
Tubuh serangga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala,dada dan perut. Pada
kepala terdapat satu pasang antena. Dada terdiri dari 3 ruas, dan pada dada tersebut terdapat
tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Sayap terdapat pada bagian ini dan pada umumnya ada
dua pasang yang terletak dibagian dada ruas kedua dan ruas ketiga. Perut terdiri atas 6
sampai 11 ruas (ruas belakang posterior digunakan sebagai alat reproduksi). Pada beberapa
serangga betina , terdapat alat untuk melepaskan telur serta kantung untuk menampung
sperma (Chapman, 1971).
Tidak semua serangga memiliki eksoskeleton sebagai penutup luar tubuhnya.
Eksoskeleton berasal dari zat kitin. Serangga yang memiliki eksoskeleton memiliki ciri khas
tubuh luarnya keras dan kaku, sementara serangga yang tidak memiliki eksoskleton
tubuhnya lunak. Eksoskleton pada serangga juga menyebabkan warna tubuh serangga
menjadi terlihat gelap, contohnya pada semut hitam, dsb. Pada proses pembuatan preparat
utuh serangga sebaiknya melalui proses penjernihan terlebih dahulu untuk menghilangkan
warna gelap dan pigmen berlebih pada tubuh serangga.
Serangga yang memiliki tubuh terang dan mudah untuk dilakukan pengamatan
terhadap sediaan utuhnya adalah Drosophila sp. dan fase larva nyamuk Culex sp. Drosophila
merupakan salah satu marga dari Drosophilidae. Menurut Bock (1976), Drosophila
merupakan marga yang memiliki jumlah paling besar bila dibandingkan dengan marga yang
lainnya. Sistematikanya adalah sebagai berikut:

Phylum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Anak kelas : Pterygota
Bangsa : Diptera
Anak bangsa : Clyclorrhapa
Suku : Drosophilidae
Marga : Drosophila
Jenis Drosophila yang lazim ditemukan di Indonesia adalah D. ananassae (Singh,
2015). Marga Drosophila masih dapat dibagi-bagi lagi menjadi empat anak marga.
a. Anak marga Drosophila
Contoh yang termasuk didalamnya adalah D. funebris, D. replata Woliaston, D. hydei
Sturtevent, D. rubida Mather, D. sulfurigaster (duda), D. Sinuata sp. Nov, D.
Pseudotetrachaeta Angus.
b. Anak marga Sophopora
Contoh yang termasuk didalamnya adalah D. melanogaster Meigen, D. ananassae
Doleschall, D. denticulata Bock and Wheller D. bipectinata (duda).
c. Anak marga Hirtodrosophila
Contoh yang termasuk didalamnya adalah D. borbosor Bock, D. mixture Bock, D.
bannae Bock dan Person.
d. Anak marga Scaptodrosophila
Contoh yang termasuk didalamnya adalah D. inomata Malloch, D. cancellata Mather, D.
anthemon.
Nyamuk genus Culex merupakan nyamuk yang banyak terdapat di sekitar kita.
Beberapa spesies nyamuk ini sudah dibuktikan sebagai vektor penyakit. Di Indonesia, ada 23
spesies nyamuk sebagai vektor penyakit filariasis, dari genus Anopheles, Aedes, Culex,
Armigeres dan Mansonia diantaranya adalah Culex quinquefasciatus dan Culex
bitaeniorrhynchus. Biasanya, nyamuk genus Culex ini menyukai tempat-tempat kotor,
seperti selokan/got. Berikut ini adalah klasifikasinya.
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diphtera
Genus : Culex Sp.
Spesies : Culex fatigans, Culex pipiens, Culex Tritaeniorchincus
3 ALAT DAN BAHAN
Alat
Mikroskop Botol vial
Pipet Pinset
Cawan petri Jarum pentul
Beaker glass Lampu spiritus
Bahan
Serangga bersayap (D. ananassae) Kaca benda
Serangga tidak bersayap (larva Kaca penutup
nyamuk Culex sp. Entelan
Alkohol bertingkat (50%, 70%, 80%, Tissue
96%, absolut) Larutan KOH (10%)
Xylol + Alkohol absolut, bertingkat
(1:3 ; 2:2 ; dan 3:1)
Xylol murni

4 CARA KERJA

Mengumpulkan specimen yang akan digunakan serangga bersayap dan tidak berayap

Memilih beberapa spesimen dengan keadaan tubuh lengkap

Memasukkan spesimen ke dalam tabung yang berisi larutan KOH 10%

Memasukkan hingga mendidih (kurang lebih 1 jam) hingga spesimen jernih

Menunggu hingga dingin, mencuci dengan air hingga KOH habis, membilas dengan
aquades

Merendam dalam alkohol 50% (30 menit), selama itu mengganti alkohol beberapa kali,
kemudian membilas dengan akuades.

Merendam dengan alkohol 70% (memindahkan spesimen ke tempat yang dangkal)

Memindahkan spesimen ke kaca benda. Mengatur posisi spesimen dengan hati-hati.


Meletakkan kaca benda pada cawan petri (tetesi dengan alkohol 70% agar tidak kering)
Meneteskan alkohol 80% pada spesimen secara terus-menerus selama 30-60 menit

Meneteskan alkohol 96% pada spesimen secara terus-menerus selama 30-60 menit

Meneteskan alkohol absolut pada spesimen secara terus-menerus selama 30-60 menit

Meneteskan campuran xylol : alkohol absolut (1:3) pada spesimen secara terus menerus
selama 30-60 menit

Meneteskan campuran xylol : alkohol absolut (2:2) pada spesimen secara terus menerus
selama 30-60 menit

Meneteskan campuran xylol : alkohol absolut (3:1) pada spesimen secara terus menerus
selama 30-60 menit

Meneteskan xylol murni beberapa kali

Membersihkan kelebihan xylol di sekitar spesimen

Meneteskan entelan dan setetes xylol untuk menghilangkan buih, segera tutup dengan
cover glass secara hati-hati.

5 DATA DAN ANALISIS DATA


N Hasil Pengamatan Keterangan
o
1 Gambar 1. Preparat utuh Drosophila ananassae Gambar 1:
(1) Kepala (caput)
1 2 3
(2) Mata faset
4 (3) Dada (thorax)
(4) Sayap
(5) Perut (abdomen)
(6) 3 pasang kaki
5

Gambar 2. Hasil gambar literatur Drosophila


ananassae (Chyb & Gompel, 2013)

2 Gambar 3. Preparat utuh larva nyamuk Culex sp. Gambar 1:


(1) Kepala (caput)
4 (2) Dada (thorax)
(3) Perut (abdomen)
(4) Sirip renang
3

Gambar 4. Hasil gambar literatur larva nyamuk


Culex sp.
6 PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan pengamatan dengan metode awetan utuh. Mahasiswa
diharuskan untuk membawa serangga bersayap dan tidak bersayap untuk dibuat awetannya.
Serangga yang digunakan kali ini adalah Drosophila ananassae dan larva Culex sp. Pada
pembuatan sediaan utuh juga terdapat beberapa langkah yang sangat penting yang harus
dilakukan dengan hati-hati agar spesimen yang digunakan tidak rusak (Redzka, 2013).
Adapun proses fiksasi dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan proses
metabolisme dengan cepat, mencegah kerusakan jaringan, mengawetkan elemen sitologis dan
histologis, mengawetkan bentuk yang sebenarnya dan mengeraskan atau memberi konsistensi
material yang lunak. Kemudian pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk mempercepat
terjadinya reaksi yang terjadi pada tubuh serangga dengan adanya penambahan KOH
(Hariono, 2009).
Proses selanjutnya yaitu dengan pemberian alkohol bertingkat yaitu alkohol 50%,
70%, 80%, 96% dan alkohol absolut dengan masing-masing perendaman yaitu selama 30-60
menit. Tahapan ini merupakan tahapan dehidrasi yang berfungsi untuk menghilangkan atau
mengambil air yang berada di dalam jaringan (Hariono 2009).
Setelah dehidrasi, dilakukan proses penjernihan menggunakan campuran xylol :
alkohol absolut dengan perbandingan 1:3, 2:2, dan 3:1 serta dilanjutkan dengan xylol murni.
Tahapan ini berfungsi untuk penjernihan supaya morfologi spesimen serangga dapat diamati
dengan jelas saat diamati dibawah mikroskop. Sediaan utuh yang dibuat dari empat spesies
tersebut merupakan sediaan permanen. Hal ini dikarenakan pada masing-masing sediaan
diberikan entelan, sehingga preparat dapat bertahan untuk waktu yang cukup lama (Santoso,
2002). Setelah pemberian entelan, sebaiknya preparat diletakkan di nampan yang datar agar
hasil entelan rata dan cairan entelan tidak meluber keluar dari kaca penutup.
Serangga yang diamati adalah Drosophila ananassae. Pada preparat Drosophila
ananassae dengan menggunakan perbesaran mikroskop 40x dapat teramati bagian tubuh
Drosophila yang terdiri dari sayap, kepala, toraks, abdomen dan juga kaki sejumlah 3 pasang.
Bagian tubuh D. ananasae secara umum dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kepala, dada
(thorax), dan perut (abdomen). Bagian dada terbagi menjadi tiga segmen, yaitu prothorax
(anterior), mesothorax (tengah), dan metathorax (posterior). Pada tiap segmen tersebut
terdapat alat gerak (appendages) yang berbeda, yang secara berurutan adalah sepasang kaki,
sepasang kaki dan sepasang sayap, serta sepasang kaki dan sepasang halters (sayap yang
termodifikasi) (Chyb & Gompel, 2013).
Drosophila ananassae tergolong serangga, pada umumnya ringan dan memiliki
eksoskeleton atau integumen yang kuat. Jaringan otot dan organ-organ terdapat di dalamnya.
Di seluruh permukaan tubuhnya, integumen serangga memiliki berbagai syaraf penerima
rangsang cahaya, tekanan, bunyi, temperatur, angin dan bau. Pada umumnya serangga
memiliki 3 bagian tubuh yaitu kepala, toraks dan abdomen. Kepala berfungsi sebagai tempat
dan alat masukan makanan dan rangsangan syaraf, serta untuk memproses informasi (otak).
Lalat memiliki tipe mulut spons pengisap. Toraks yang terdiri atas tiga ruas memberikan
tumpuan bagi tiga pasang kaki (sepasang pada setiap ruas), dan jika terdapat sayap, dua
pasang pada ruas kedua dan ketiga. Fungsi utama abdomen adalah untuk menampung saluran
pencernaan dan alat reproduksi. Ada beberapa tanda yang dapat digunakan untuk
membedakan lalat jantan dan betina, yaitu bentuk abdomen pada lalat betina kecil dan
runcing, sedangkan pada jantan agak membulat. Tanda hitam pada ujung abdomen juga bisa
menjadi ciri dalam menentukan jenis kelamin lalat ini tanpa bantuan mikroskop. Ujung
abdomen lalat jantan berwarna gelap, sedang pada betina tidak. Jumlah segmen pada lalat
jantan hanya 5, sedang pada betina ada 7. Lalat jantan memiliki sex comb, berjumlah 10,
terdapat pada sisi paling atas kaki depan, berupa bulu rambut kaku dan pendek. Lalat betina
memiliki 5 garis hitam pada permukaan atas abdomen, sedangkan pada lalat jantan hanya 3
garis hitam (Daly, 1978).
Nyamuk mempunyai beberapa ciri yaitu tubuhnya dibedakan atas kaput, toraks,
abdomen dan mempunyai 3 pasang kaki dan sepasang antena. Satu pasang sayap dan halter
menempatkan nyamuk dalam ordo Diptera. Sisik pada sayap dan adanya alat mulut yang
panjang seperti jarum menempatkan nyamuk ke dalam familia Culicidae (Borror dkk., 1992).
Pada preparat larva nyamuk Culex sp., dapat dilihat pada perbesara 40x sudah dapat diamati
seluruh bagian tubuh larva nyamuk. Sifon panjang dan bulunya lebih dari satu pasang
(siphonal tuft) dan pekten, sisir atau comb dengan gigi- gigi sisir (comb teeth), segmen anal
dengan pelana tertutup dan tampak tergantung pada permukaan air.
Gambar 5. Anatomi larva Culex sp.

Nyamuk tertarik pada benda dan pakaian berwarna gelap, manusia serta hewan. Hal
ini disebabkan oleh rangsangan bau zat-zat yang dikeluarkan hewan, terutama CO2
beberapa asam amino. Berbeda dengan nyamuk Anophele, nyamuk genus Culex
mempunyai kebiasan menghisap pada malam hari saja. Jarak terbang nyamuk Culex ini
sangat pendek hanya beberapa puluh meter saja.
Waktu keaktifan mencari darah dari masing masing nyamuk berbeda beda,. Culex
adalah salah satu nyamuk yang aktif menggigit atau mengisap darah pada malam hari. Sesuai
dengan pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor dari Depkes RI (2011) bahwa nyamuk
yang aktif menghisap darah pada malam hari umumnya mempunyai dua puncak aktivitas,
yaitu puncak pertama terjadi sebelum tengah malam dan yang kedua menjelang pagi hari,
namun keadaan ini dapat berubah oleh pengaruh suhu dan kelembaban udara (Ross, 1991).
Seluruh siklus hidup Culex sp. mulai dari telur hingga dewasa membutuhkan waktu
sekitar 14 hari. Untuk bertelur, nyamuk betina akan mencari tempat yang sesuai seperti
genangan air yang lembab. Nyamuk dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk
memprediksi potensi penularan arbovirus. dapat di temukan dalam air yang mengandung
tinggi pencemaran organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki
rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia lain.
Perkembangbiakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat yaitu tempat
berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan umpan atau darah (feeding
places) dan tempat untuk beristirahat (reesting palces). Nyamuk mempunyai tipe breeding
places yang berlainan seperti Culex dapat berkembang di sembarangan tempat air, baik diair
jernih dan air keruh.
Nyamuk Culex mempunyai kebiasaan meletakan telurnya diatas permukaan air
secara bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung,
sedangkan jentiknya menggantung di air (Nurmaini, 2001). Telurnya yang berbentuk lonjong
seperti peluru dengan ujung tumpul.
Salah satu ciri dari larva nyamuk Culex sp. adalah memiliki siphon. Siphon
dengan beberapa kumpulan rambut membentuk sudut dengan permukaan air. Nyamuk
Culex mempunyai 4 tingkatan atau instar sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
1 Larva instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 2 mm atau 1 2 hari setelah menetas.
Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada siphon belum jelas.
2 Larva instar II, berukuran 2,5 3,5 mm atau 2 3 hari setelah telur menetas. Duri-duri
belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3 Larva instar III, berukuran 4 5 mm atau 3 4 hari setelah telur menetas. Duri-duri
dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
4 Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 6 mm atau 4 6 hari setelah telur menetas,
dengan warna kepala.

7 KESIMPULAN
Pada pembuatan sediaan utuh (whole mount) insekta bersayap, sampel yang digunakan
adalah lalat buah (D. ananassae). Pada pengamatan, terlihat cukup jelas dan baik
morfologi D. ananassae yang diamati, bagian yang terlihat antara lain kepala, toraks,
abdomen, sepasang sayap, tiga pasang kaki, dan beberapa ornament kecil (halters).
Pada pembuatan sediaan utuh (whole mount) insekta tidak bersayap, sampel yang
digunakan adalah larva nyamuk (Culex sp). Pada pengamatan, terlihat cukup jelas dan
baik morfologi Culex sp. yang diamati, adalah siphon. Sifon panjang dan bulunya lebih
dari satu pasang (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau comb dengan gigi- gigi sisir (comb
teeth), segmen anal dengan pelana tertutup dan tampak tergantung pada permukaan air.

8 DAFTAR RUJUKAN
Borror, D. J., Triplehorn, C. A., & Johnson, N. F. 1992. An Introduction to the Study of
Insects. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Chapman, R.F. 1971. The Insect Structure and Function. The English University Press
Ltd. London

Chyb, S. & Gompel, N. 2013. Atlas of Drosophila Morphology: Wild-type and Classical
Mutants. USA: Elsivier.

Daly, H.V., J.T. Doyen, and P.R. Ehrlich. 1978. Introduction to Insect Biology and
Diversity. International Student Edition. Mc. Graw-HillKogakusha, Ltd. Tokyo.
Depkes. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue.
Jakarta : Depkes.
Elzinga, R.J. 1978. Fundamentals of Entomology. Departement of Entomology Kansa
State University. New Delhi.
Nurmaini. 2003. Mentifikasi Vektor dan Pengendalian
Nyamuk Anopheles. Aconitus Secara Sederhana.
http://respiratory.usu.ac.id/bilstream/12345678/37
05/fkm-nurmaini1.pdf. Diakses tanggal 10 Agustus
2016
Ross, H. H., Ross, C. A., Ross, J. R. 1991. A Textbook of Entomology. Japan: Toppan
Company.
Susetya, P, N. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Yogyakarta: Kanisius.

Anda mungkin juga menyukai