Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS MUTU BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA

DITINJAU DARI KADAR KANJI

Ressa Muhripah Novianti* (140310140021)


Busrifa Laras Depi (140310140015)
Program Studi Fisika FMIPA
Universitas Padjadjaran
Selasa, 08.00 10.00 WIB
16 Mei 2017

Asisten : Dra. H. Tuti Susilawati, M.S.

Abstrak

Meningkatnya aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar maka semakin meningkat pula
kebutuhan energi. Namun seiring dengan kebutuhan yang meningkat ketersediaan akan bahan bakar ini
semakin berkurang maka perlu dicari suatu alternatif salah satunya adalah pemanfaatan briket arang
tempurung kelapa. Salah satu keunggulan dari briket arang tempurung kelapa ini adalah ramah
lingkungan, panas pembakaran yang maksimal, dan waktu pembakaran yang cukup lama. Dalam
pembuatan briket ini digunakan perekat kanji, dimana kandungan kanji ini akan mempengaruhi kualitas
bahan bakar dari briket arang tempurung kelapa seperti kadar air, kadar abu, dan kadar zat hilang. Untuk
mengetahui kadar air, kadar abu, dan kadar zat hilang maka sampel briket arang tempurung kelapa
dengan kadar kanji 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, dan 8% ditimbang bobotnya sebelum pemanasan
dan dipanaskan pada suhu tertentu kemudian ditimbang kembali bobotnya setelah pemanasan. Untuk
kadar air suhu yang digunakan adalah 105C, kadar abu 850C, dan kadar zat hilang 950C. Didapatkan
hasil bahwa semakin meningkatnya kadar perekat kanji maka akan menurunkan mutu briket arang
tempurung kelapa karena semakin besar kadar kanji maka kadar air, kadar abu, dan kadar zat hilang
yang dihasilkan pun semakin besar.

Kata kunci: kanji, mutu, briket, kadar air, abu, zat hilang.

I. Pendahuluan II. Teori Dasar


Energi merupakan permasalahan utama dunia 2.1. Biomassa
karena tiap tahunnya kebutuhan energi meningkat Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan
seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia yang melalui proses fotosintesis. Biomassa dalam
menggunakan bahan bakar. Terutama bahan bakar kaitannya dengan energi terbarukan adalah bahan-
minyak namun ketersediaannya semakin langka. bahan organik yang dapat dimanfaatkan lagi sebagai
Oleh karena itu diperlukan suatu alternatif untuk sumber bahan bakar dikarenakan cadangan energi
mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, salah yang dikandungnya sehingga ketersediaan dari
satunya adalah dengan penggunaan energi biomassa. sumber energi ini dapat terjamin.[1]
Energi biomassa ini dapat diperoleh dari briket arang Biomassa dapat diolah menjadi briket biomassa
tempurung kelapa karena sifatnya yang memiliki yang merupakan bahan bakar yang memiliki nilai
difusi termal yang baik dan dapat menghasilkan kalor yang cukup tinggi.[2]
kalor 6500 7700 kkal/kg, serta emisi CO2 yang
rendah. 2.2. Briket Arang Tempurung Kelapa
Perekat yang sering digunakan pada pembuatan Tempurung kelapa merupakan lapisan keras
briket adalah kanji. Kandungan kanji ini akan dengan ketebalan 3 mm 5 mm.[3] Komposisi
mempengaruhi kualitas bahan bakar dari tempurung tempurung kelapa adalah sebagai berikut :
kelapa seperti kadar air, kadar abu, dan kadar zat Unsur Kimia Kandungan
hilang pada saat pemanasan. Selulosa 26,6 %
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah Pentosan 27 %
menentukan mutu briket arang tempurung kelapa Lignin 29,4 %
ditinjau dari kadar kanji. Kadar Abu 0,6 %
Solvent Ekstraktif 4,2 %
Uronat Anhydrad 3,5 %
Nitrogen 0,11 %
Air 8%
Dengan komposisi kimia tersebut menjadikan - Penentuan Kadar Abu
tempurung kelapa berpeluang sebagai bahan bakar Mengeringkan cawan porselin dalam tanur 600C
dan sumber karbon aktif. Umumnya nilai kalor yang selama 30 menit, mendinginkan cawan pada
terkandung pada tempurung kelapa adalah 18200 eksikator selama 30 menit dan menimbang bobot
kJ/kg hingga 19338,05 kJ/kg. Adapun keunggulan kosongnya. Menaruh 5 gram sampel pada cawan dan
dari briket tempurung kelapa adalah[3] : menimbangnya kembali, memasukkan sampel ke
1. Panas yang dihasilkan maksimal dapat mencapai dalam tanur dengan suhu 850C selama 4 jam
7000 kkal. sampai sampel menjadi abu. Kemudian
2. Tidak beracun. mendinginkan sampel pada eksikator dan
3. Tidak berasap. menimbang kembali bobotnya. Penentuan kadar abu
4. Go green atau ramah lingkungan. dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap
5. Waktu pembakaran yang lama. kadar kanji yang berbeda.
- Penentuan Kadar Zat Hilang
2.3. Uji Mutu Cawan kosong dan tutupnya dipijarkan dalam
Penentuan standar mutu briket dilakukan tanur selama 30 menit dan mendinginkannya pada
melalui uji proksimate yang meliputi : eksikator. Kemudian menimbang 5 gram sampel ke
- Kadar Air dalam cawan kosong. Cawan ditutup dan
Kadar air sangat mempengaruhi nilai kalor dan dimasukkan ke dalam tanur dengan suhu 950C
efisiensi pembakaran suatu briket karena panas yang selama 7 menit. Lalu bobot sampe ditimbang
tersimpan dalam briket terlebih dahulu digunakan kembali. Penentuan kadar zat hilang ini dilakukan
untuk mengeluarkan air yang ada sebelum sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap kadar
menghasilkan panas yang dapat digunakan sebagai kanji yang berbeda.
panas pembakaran.[2]
- Kadar Zat Menguap
Semakin tinggi kadar zat menguap maka kadar IV. Hasil dan Pembahasan
karbon terikat semakin rendah sehingga menurunkan
nilai kalor. Besar kadar zat menguap bergantung Pada percobaan didapatkan data berupa kadar
pada proses karbonisasi. Proses karbonisasi yang kanji, bobot sampel sebelum pemanasan, dan bobot
tidak sempurna akan meningkatkan kadar zat sampel setelah pemanasan. Kemudian dihitung nilai
menguap pada briket.[2] kadar air, kadar abu, dan kadar zat hilang dari briket
- Kadar Abu arang tempurung kelapa.
Senyawa yang terdapat dalam abu meliputi SiO2,
Al2O3, P2O5, Fe2O3, dan lain-lain. Senyawa yang 1. Menghitung Kadar Air
banyak terkandung dalam abu hasil pembakaran (%) =
12
100% (1)
briket adalah silikat. Kandungan abu berperan dalam 1
menurunkan mutu briket karena menurunkan nilai Dengan :
kalor.[2] M1 = bobot sampel sebelum pemanasan
M2 = bobot sampel setelah pemanasan 105C
III. Metode Percobaan 2. Menghitung Kadar Abu

(%) = 100% (2)
Alat dan Bahan
Pada percobaan ini digunakan briket tempurung
kelapa dengan kadar kanji 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 3. Menghitung Kadar Zat Hilang
12
7%, dan 8% sebagai sampel, neraca digital untuk (%) = 100% (3)
1
menimbang sampel, cawan porselin untuk menaruh Dengan :
sampel, oven untuk memanaskan sampel, tanur W1 = bobot sampel sebelum pemanasan
untuk memanaskan sampel dalam suhu tinggi, serta W2 = bobot sampel setelah pemanasan 950C
eksikator yang berfungsi sebagai pendingin.
Tabel 4.1. Data Hasil Percobaan
Prosedur Percobaan
Kadar Kanji (%) Kadar Air (%) Kadar Abu (%) Kadar Zat Hilang (%)
Percobaan dilakukan dalam tiga tahapan yaitu :
1 3,4562 7,49 2,8615
- Penentuan Kadar Air
2 3,6884 7,9091 3,0283
Menimbang cawan porselin kosong dan
3 3,8344 8,3103 3,2739
menambahkan 5 gram sampel lalu menimbangnya
4 4,1112 8,6435 3,5669
kembali, memasukan sampel ke dalam oven dengan 5 4,6429 8,9271 3,7841
suhu 105 C selama 3 jam, kemudian mendinginkan 6 4,9815 9,3185 4,0345
sampel pada eksikator dan menimbang kembali 7 5,1262 9,7024 4,3964
bobotnya. Penentuan kadar air ini dilakukan 8 5,5626 9,9411 4,7715
sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap kadar
kanji yang berbeda.
Gambar 4.1. Hubungan Kadar Kanji terhadap Penentuan kadar abu dimaksudkan untuk
Kadar Air mengetahui bagian yang sudah tidak memiliki unsur
karbon lagi setelah dibakar. Kadar abu hasil
percobaan adalah 7,49% -9,9411% dimana kadar
abu meningkat seiring dengan meningkatnya kadar
perekat kanji. Hal ini karena adanya penambahan
abu dari perekat kanji serta tingginya kandungan
bahan anorganik seperti SiO2, MgO, Fe2O3, AlF3,
MgF2, dan Fe. Kadar abu tinggi akan menimbulkan
kerak serta menurunkan kualitas briket karena
menurunkan nilai kalor dan laju pembakaran.
Kadar zat menguap terendah diperoleh pada
kadar kanji 1% yaitu sebesar 2,8615% dan tertinggi
Gambar 4.2. Hubungan Kadar Kanji terhadap pada kadar kanji 8% yaitu sebesar 4,7715%. Kadar
Kadar Abu zat yang hilang ini semakin bertambah seiring
dengan meningkatnya kadar kanji. Hal ini karena
adanya kandungan zat-zat menguap seperti CO,
CO2, H2, CH4, dan H2O yang terdapat pada perekat
kanji dan tempurung kelapa ikut menguap.
Kandungan zat menguap yang tinggi akan
menimbulkan banyak asap pada saat briket
dinyalakan. Kandungan asap yang tinggi disebabkan
adanya reaksi antara CO dengan turunan alkohol.
Tinggi rendahnya kadar zat menguap juga
dipengaruhi oleh suhu dan lamanya proses
pengarangan, ataupun tidak sempurnanya proses
Gambar 4.3. Hubungan Kadar Kanji terhadap karbonisasi.
Kadar Zat Hilang Semakin meningkatnya kadar kanji
menurunkan mutu briket arang tempurung kelapa
karena terjadi peningkatan kadar air, kadar abu, dan
kadar zat menguap.

V. Kesimpulan
Dengan kadar kanji 1% sampai 8% dihasilkan
kadar air 3,4562% - 5,5626% kadar abu 7,49% -
9,9411% serta kadar zat hilang 2,8615% - 4,7715%.
Meningkatnya kadar kanji maka menurunkan mutu
briket arang tempurung kelapa karena kadar air,
kadar abu, dan kadar zat hilang yang semakin
Analisa Percobaan meningkat.
Kadar air yang diperoleh dari hasil percobaan
adalah 3,4562% - 5,5626% untuk kadar kanji 1% -
8%. Kadar air tertinggi dimiliki oleh briket dengan Daftar Pustaka
kadar kanji 8%. Semakin besar kadar kanji maka
semakin besar pula kadar air. Kadar air yang tinggi [1] Maryono, Suding, Rahmawati. 2013.
akan menurunkan nilai kalor dan laju pembakaran Pembuatan dan Analisis Mutu Briket Arang
karena panas yang diberikan terlebih dahulu Tempurung Kelapa ditinjau dari Kadar
digunakan untuk menguapkan air yang terdapat Kanji. Jurnal Chemica vol.14 Nomor 1 Juni
dalam briket. Briket dengan kadar air tinggi ini 2013, 74-83.
mudah hancur serta mudah ditumbuhi jamur. Kadar [2] Esmar, Budi. 2015. Tinjauan proses
air tinggi juga dapat disebabkan karena sifat perekat Pembentukan dan Penggunaan Arang
kanji dan arang yang tidak tahan kelembaban Tempurung Kelapa sebagai Bahan Bakar.
sehingga mudah menyerap air dari udara. Jurnal Penelitian Sains vol.14 Nomor4(B)
Penambahan perekat yang semakin besar 14406.
menyebabkan air yang terkandung dalam perekat [3] Rohanan, Ainun. 2009. Uji Komposisi Briket
akan masuk dan terikat dalam pori arang dan Bioarang Tempurung Kelapa . Thesis
menyebabkan briket memiliki kerapatan yang Fakultas Pertanian.
semakin tinggi sehingga pori-pori briket semakin
kecil dan pada saat dikeringkan air yang
terperangkap di dalam pori briket semakin sulit
untuk menguap.