Anda di halaman 1dari 16

TUGAS FPI

DERMATITIS
(Untuk memenuhi tugas dibimbing oleh Ns. Rinik, M.Kep.)

OLEH :

UMI NUR AFIFAH 125070218113006

ANASTASIA MAULIDA 125070218113008

MUFTIYA DWI CAHYANI 125070218113020

KHAIRUL ANAM 125070218113024

INNANI WILDANIA HUSNA 125070218113028

KEYFIN ALIFFAH RIZAL KASDIANTO 125070218113044

HARIS FADJAR SETIAWAN 125070218113056

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
ILMU KEPERAWATAN
2013
Daftar isi

1 Halaman judul
2 Daftar isi
3 Kata Pengantar
4 Bab I
1 Pendahuluan
2 Latar Belakang
3 Rumusan Masalah
4 Tujuan Pembelajaran
5 Bab II
1 Definisi
2 Klasifikasi
3 Epideminologi
4 Patofisiologi
5 Faktor resiko
6 Manifestasi Klinis
7 Pemeriksaan Diagnostik
8 Penatalaksanaan
9 Asuhan Keperawatan
6 Bab isi
1 Penutup
2 Kesimpulan
3 Saran

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. alhamdulillahirabbilalamin.


Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami menyelesaikan makalah ini dengan
penuh kemudahan. Tanpa pertolongan NYA mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik. Shalawat serta Salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fundamental
Pathology Integument yang dibimbing oleh Ns. Rinik, M.Kep. Makalah ini disusun
oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat sebuah kasus tentang Dermatitis. Walaupun makalah
ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi
pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing
matakuliah Fundamental Pathophysiology of Integument yaitu Ns. Rinik, M.Kep yang
telah membimbing kami sampai dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Kediri, 20 April 2013

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kata dermatitis berarti adanya inflamasi pada kulit. Ekzema merupakan bentuk
khusus dari dermatitis. Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk
menjelaskan inflamasi yang dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua
bentuk ekzema adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular
0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32% yang menyerang 2% hingga 5% dari
penduduk.
Eksim atau Dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang mana
kulit tampak meradang dan iritasi. Keradangan ini bisa terjadi dimana saja namun
yang paling sering terkena adalah tangan dan kaki. Jenis eksim yang paling sering
dijumpai adalah eksim atopik atau dermatitis atopik. Gejala eksim akan mulai muncul
pada masa anak anak terutama saat mereka berumur diatas 2 tahun. Pada
beberapa kasus, eksim akan menghilang dengan bertambahnya usia, namun tidak
sedikit pula yang akan menderita seumur hidupnya. Dengan pengobatan yang tepat,
penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga mengurangi angka
kekambuhan.
Dimanapun lokasi timbulnya eksim, gejala utama yang dirasakan pasien adalah
gatal. Terkadang rasa gatal sudah muncul sebelum ada tanda kemerahan pada kulit.
Gejala kemerahan biasanya akan muncul pada wajah, lutut, tangan dan kaki, namun
tidak menutup kemungkinan kemerahan muncul di daerah lain.
Daerah yang terkena akan terasa sangat kering, menebal atau keropeng. Pada
orang kulit putih, daerah ini pada mulanya akan berwarna merah muda lalu berubah
menjadi cokelat. Sementara itu pada orang dengan kulit lebih gelap, eksim akan
mempengaruhi pigmen kulit sehingga daerah eksim akan tampak lebih terang atau
lebih gelap.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu penyakit Dermatitis, klasifikasi, epidemiologi ,patofisiologi, faktor resiko,


manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis dan
keperawatan?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien Dermatitis?
C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mahasiswa mampu memahami definisi, klasifikasi, epidemiologi, patofisiologi,


faktor resiko, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis
dan keperawatan?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien Dermatitis?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi

Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon


terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel,
skuama) dan keluhan gatal ( Djuanda, Adhi, 2007 ).
Dermatitis adalah peradangan pada kulit ( imflamasi pada kulit ) yang disertai
dengan pengelupasan kulit ari dan pembentukkan sisik ( Brunner dan Suddart
2000). Jadi dermatitis adalah peradangan kulit yang ditandai oleh rasa gatal.

2. Klasifikasi

a) 1. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan
bahan iritan eksternal yang mengenai kulit.
Dermatitis kontaki terbagi 2 yaitu :
Dermatitis kontak iritan (mekanisme non imunologik)
Dermatitis kontak alergik (mekanisme imunologik spesifik)
Perbedaan Dermatitis kontak iritan dan kontak alergik
No. Dermatitis kontak Dermatitis kontak alergik
iritan
1. Penyebab Iritan primer Alergen kontak
S.sensitizer
2. Permulaan Pada kontak Pada kontak ulang
pertama
3. Penderita Semua orang Hanya orang yang alergik
4. Lesi Batas lebih jelas Batas tidak begitu jelas
Eritema sangat Eritema kurang jelas
jelas
5. Uji Tempel Sesudah ditempel Bila sesudah 24 jam
24 jam, bila iritan bahan allergen di angkat,
di angkat reaksi reaksi menetap atau
akan segera meluas berhenti.

b) 2. Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal
dan umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan
dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi
dan likenifikasi, tempatnya dilipatan atau fleksural.
c) 3. Dermatitis numularis
Merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar
uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.
d) 4. Dermatitis seboroik
Merupakan golongan kelainan kulit yang didasari oleh factor konstitusi, hormon,
kebiasaan buruk dan bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. Pada
muka terdapat di sekitar leher, alis mata dan di belakang telinga.

3. Epidemiologi

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagaigolongan
umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi penderita dermatitiskontak iritan sulit
didapat. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakancukup banyak, namun
sulit untuk diketahui jumlahnya. Hal ini disebabkan antaralain oleh banyak penderita
yang tidak datang berobat dengan kelainan ringan.
Dari data yang didapatkan dari U.S. Bureau of Labour Statistic menunjukkan bahwa
249.000 kasus penyakit akupasional nonfatal pada tahun2004 untuk kedua jenis
kelamin, 15,6% (38.900 kasus) adalah penyakit kulit yangmerupakan penyebab kedua
terbesar untuk semua penyakit okupational. Juga berdasarkan survey tahunan dari
institusi yang sama, bahwa incident rate untuk penyakit okupasional pada populasi
pekerja di Amerika, menunjukkan 90-95%dari penyakit okupasional adalah dermatitis
kontak, dan 80% dari penyakitdidalamnya adalah dermatitis kontak iritan.
Sebuah kusioner penelitian diantara 20.000 orang yang dipilih secara acak di
Sweden melaporkan bahwa 25% memiliki perkembangan gejala selama
tahunsebelumnya. Orang yang bekerja pada industri berat, mereka yang
bekerja bersentuhan dengan bahan kimia keras yang memiliki potensial merusak
kulit danmereka yang diterima untuk mengerjakan pekerjaan basah secara rutin
memilikifaktor resiko. Mereka termasuk : muda, kuat, laki-laki yang dipekerjakan
sebagai pekerja metal, pekerja karet, terapist kecantikan, dan tukang roti.

4. Patofisiologi
5. Faktor Resiko

Keringnya kulit.
Iritasi oleh sabun, deterjen, pelembut pakaian, dan bahan kimia lain.
Menciptakan kondisi yang terlalu hangat untuk anak, misalnya membungkus
anak dengan pakaian berlapis.
Alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu.
Alergi terhadap debu, serbuk bunga, atau bulu hewan.
Virus dan infeksi lain.
Perjalan ke Negara dengan iklim berbeda.

6. Manifestasi Klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut
terutama pruritus ( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada
muka ( terutama palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna.
a) Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan
eksudasi sehingga tampak basah.
b) Stadium subakut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mengering menjadi
kusta.
c) Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis sejak
awal memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis.

7. Pemeriksaan Diagnostik

Pada penderita dermatitis, ada beberapa tes diagnostic yang dilakukan. Untuk
mengetahui seseorang apakah menderita penyakit dermatitis akibat alergi dapat kita
periksa kadar Ig E dalam darah, maka nilainya lebih besar dari nilai normal (0,1-0,4
ug/ml dalam serum) atau ambang batas tinggi. Lalu pasien tersebut harus
melakukan tes alergi untuk mengetahui bahan/zat apa yang menyebabkan penyakit
alergi (alergen). Ada beberapa macam tes alergi, yaitu :

1. Skin Prick Test (Tes tusuk kulit).


Tes ini untuk memeriksa alergi terhadap alergen hirup dan makanan, misalnya debu,
tungau debu, serpih kulit binatang, udang, kepiting dan lain-lain. Tes ini dilakukan di
kulit lengan bawah sisi dalam, lalu alergen yang diuji ditusukkan pada kulit dengan
menggunakan jarum khusus (panjang mata jarum 2 mm), jadi tidak menimbulkan
luka, berdarah di kulit. Hasilnya dapat segera diketahui dalam waktu 30 menit Bila
positif alergi terhadap alergen tertentu akan timbul bentol merah gatal. Syarat tes ini:

o Pasien harus dalam keadaan sehat dan bebas obat yang mengandung
antihistamin (obat anti alergi) selama 3 7 hari, tergantung jenis obatnya.
o Umur yang di anjurkan 4 50 tahun.

2. Patch Tes (Tes Tempel).


Tes ini untuk mengetahui alergi kontak terhadap bahan kimia, pada penyakit
dermatitis atau eksim. Tes ini dilakukan di kulit punggung. Hasil tes ini baru dapat
dibaca setelah 48 jam. Bila positif terhadap bahan kimia tertentu, akan timbul bercak
kemerahan dan melenting pada kulit.

3. RAST (Radio Allergo Sorbent Test).


Tes ini untuk mengetahui alergi terhadap alergen hirup dan makanan. Tes ini memerlukan
sampel serum darah sebanyak 2 cc. Lalu serum darah tersebut diproses dengan mesin
komputerisasi khusus, hasilnya dapat diketahui setelah 4 jam. Kelebihan tes ini : dapat
dilakukan pada usia berapapun, tidak dipengaruhi oleh obat-obatan.

4. Skin Test (Tes kulit).

Tes ini digunakan untuk mengetahui alergi terhadap obat yang disuntikkan. Dilakukan di kulit
lengan bawah dengan cara menyuntikkan obat yang akan di tes di lapisan bawah kulit. Hasil
tes baru dapat dibaca setelah 15 menit. Bila positif akan timbul bentol, merah, gatal.

5. Tes Provokasi.

Tes ini digunakan untuk mengetahui alergi terhadap obat yang diminum, makanan, dapat
juga untuk alergen hirup, contohnya debu. Tes provokasi untuk alergen hirup dinamakan tes
provokasi bronkial. Tes ini digunakan untuk penyakit asma dan pilek alergi. Tes provokasi
bronkial dan makanan sudah jarang dipakai, karena tidak nyaman untuk pasien dan berisiko
tinggi terjadinya serangan asma dan syok. tes provokasi bronkial dan tes provokasi
makanan sudah digantikan oleh Skin Prick Test dan IgE spesifik metode RAST.

8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dasar diberikan untuk semua kasus baik yang ringan,


sedang maupun berat, berupa berupa perawatan kulit, hidrasi, kortikosteroid
topikal, antihistamin, tars, antibiotic bila perlu, identifikasi dan eliminasi faktor-
faktor pencetus kekambuhan.
Perawatan Kulit Hidrasi adalah terapi DA yang esensial. Dasarhidrasi yang
adekuat adalah peningkatan kandungan air pada kulit dengan cara mandi dan
menerapkan sawarhidrofobik.
Pengobatan topical adalah untuk mengatasi kekeringan kulit dan
peradangan.
Dengan pengobatan topikal yang baik dapat dicegah penggunaan
pengobatan sistemik
Kortikosteroids topical. Kortikosteroid topical mempunyai efek anti inflamasi,
anti pruritus, dan efekvasokonstriktor. Yang perlu diperhatikan pada
penggunaan kortikosteroid topical adalah: segera setelah mandi dan diikuti
berselimut untuk meningkatkan penetrasi, tidak lebih dari 2 kali sehari
Antihistamin Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan antihistamin (H1)
seperti difenhidramin atau terfenadin, atau antihistaminnonklasik lain
Penggunaan kortikosteroid oral sangat terbatas, hanya pada kasus sangat
berat dan diberikan dalam waktu singkat, misalnya prednison 0,5-1,0
mg/kgBB/hari dalam waktu 4 hari.
Merupakan terapistandar, tetapi belum tentu efektif untuk menghilangkan
rasa gatal karena rasa gatal pada DA bias tak terkait dengan histamin.
Tars Mempunyai efek anti-inflamasi dan sangat berguna untuk mengganti
kortikosteroid topical pada manajemen penyakit kronik. Efek samping dari tar
adalah folikulitis, fotosensitisasidan dermatitis kontak.
Antibiotiksistemik Antibiotiksistemik dapat dipertimbangkan untuk mengatasi
DA yang luas dengan infeksi sekunder. Antibiotik yang dianjurkan adalah
eritromisin, sefalosporin, kloksasilin, dan terkadang ampisilinInfeksi di curigai
bila ada krusta yang luas, folikulits, pioderma dan furunkulosis
Identifikasi dan eliminasifaktor-faktoreksaserbasi Sabun dan baju yang
bersifat iritatif dihindari.

9. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Anamnesa

Anamnesa yang dapat dilakukan pada klien adalah :

1. Identitas / Data demografi

2. Riwayat penyakit sekarang

3. Riwayat penyakit dahulu

4. Aktifitas istirahat
5. Neurosensori

6. Nyeri/kenyamanan

7. Pembelajaran/pengajaran

Pemeriksaan Fisik

2. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan integritas kulit b/d adanya lesi, perubahan pigmentasi, penebalan


epidermis dan kekakuan kulit.

2. Nyeri akut b/d agen cedera fisik, adanya vesikel atau bula, erosi, papula, garukan
berulang

3. Ganguan citra tubuh b/d penyakit dermatitis.

3. Rencana Keperawatan

1. Kerusakan integritas kulit b/d adanya lesi, perubahan pigmentasi,


penebalan epidermis dan kekakuan kulit.

Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan kondisi kulit klien


menunjukkan perbaikan.

Kriteria hasil :

Klien akan mempertahankan kulit agar mempunyai hidrasi yang baik dan turunnya
peradangan, ditandai dengan:

Mengungkapkan peningkatan kenyamanan kulit.

Berkurangnya derajat pengelupasan kulit, berkurangnya kemerahan,


berkurangnya lecet karena garukan, penyembuhan area kulit yang telah rusak.

Intervensi :
a. Mandi paling tidak sekali sehari selama 15 20 menit. Segera oleskan salep
atau krim yang telah diresepkan setelah mandi. Mandi lebih sering jika tanda dan
gejala meningkat.

Rasional : dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Pengolesan krim
pelembab selama 2 4 menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari
kulit.

b. Gunakan air hangat jangan panas.

Rasional : air panas menyebabkan vasodilatasi yang akan meningkatkan pruritus.

c. Gunakan sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive.
Hindari mandi busa.

Rasional : sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dan
tidak membuat kulit kering, sabun kering dapat meningkatkan keluhan.

Kolaborasi: oleskan/berikan salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali
per hari.

2. Nyeri b/d agen cedera fisik, adanya vesikel atau bula, erosi, papula, garukan
berulang.

Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 jam, rasa nyeri pasien dapat
berkurang

Kriteria Hasil:

Melaporkan nyeri berkurang/ terkontrol.

Menunjukkan ekspresi wajah/ postur tubuh rileks.

Berpartisipasi dalam aktivitas dan tidur atau istirahat dengan tepat.

Intervensi:

a. Observasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas skala
nyeri (0-10 )
Rasional: dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi dan untuk intervensi
selanjutnya.

b. Ajarkan tehnik relaksasi progresif, nafas dalam guided imagery.

Rasional: membantu klien untuk mengurangi persepsi nyeri atau mangalihkan


perhatian klien dari nyeri.

Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi topikal maupun sistemik; pentoksifilin

Rasional: pemberian obat membantu mengurangi efek peradangan.

3. Ganguan citra tubuh b/d penyakit dermatitis

Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan 3x24 jam pengembangan


peningkatan penerimaan diri pada klien tercapai.

Kriteria Hasil :

Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.

Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.

Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi.

Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.

Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.

Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik


untuk meningkatkan penampilan.

Intervensi :

a. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan


merendahkan diri sendiri).

Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak
nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri.

b. Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan.


Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi
serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.

c. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan.

Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami.

d. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas
mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya.

Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan


yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi, ketakutan merusak
adaptasi klien .

e. Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan.

Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.

f. Mendorong sosialisasi dengan orang lain.

Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon


terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel,
skuama) dan keluhan gatal. Klasifikasi Dermatitis adalah dermatitis kontak,
dermatitis atopik, dermatitis numularis dan demertitis soboik. Penyebab dermatitis
belum diketahui secara pasti. Sebagian besar merupakan respon kulit terhadap
agen-agen misal nya zat kimia, bakteri dan fungi selain itu alergi makanan juga bisa
menyebabkan dermatitis. Manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang
akut terutama pruritus ( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya
pada muka ( terutama palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia
eksterna. Pemeriksaan penunjang dan lab dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa
medis maupun keperawatan, komlikasi yang mungkin muncul pada penatalaksaan
medis dan keperawatan adalah infeksi.
Asuhan keperawatan yang dapat dilakukan mencakup beberapa diagnosa
yaitu Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier
kulit, nyeri dan gatal yang berhubungan dengan lesi kulit, perubahan pola tidur yang
berhubungan dengan pruritus, perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan
penampakan kulit yang tidak baik, kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan
cara cara menangani kelainan kulit, resiko infeksi berhubungan dengan lesi,
bercak bercak merah pada kulit.