Anda di halaman 1dari 9

Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat

2016, Vol.1.No.1

PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN SAPI MENJADI PUPUK ORGANIK


SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG
DI KELOMPOK TANI TERNAK MANDIRI JAYA DESA MOROPELANG
KEC. BABAT KAB.LAMONGAN
1
Sholihul Huda
FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya
2
Wiwik Wikanta
FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya
ABSTRAK
Usaha peternakan sapi di Indonesia sampai saat ini masih mementingkan produktivitas
ternak dan belum memaksimalkan pemanfaatan limbah kotoran sapi (teletong) bernilai
ekonomis. Limbah kotoran sapi (teletong) yang dihasilkan seharusnya tidak lagi menjadi
beban biaya usaha tetapi menjadi hasil ikutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bila
mungkin setara dengan nilai ekonomi produk utama (daging). Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengkaji pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik yang mendukung usaha
peternakan penggemukan sapi potong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif dengan metode pengumpulan data observasi dan wawancara anggota
kelompok tani ternak dan didukung dengan studi literatur. Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara diperoleh hasil bahwa anggota Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya sudah
memanfaatkan dan mengelolah limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik yang bernilai
ekonomis dengan di jual ke anggota untuk pupuk lahan pertanian padi, semangka dan
belewah. Alasan penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk biasanya karena barangnya
mudah didapat, relatif murah dan memberikan hasil yang lebih baik.

Kata kunci: Kotoran ternak, sapi potong, pupuk organik, Kelompok Tani Ternak

A. PENDAHULUAN

Sektor peternakan di Indonesia sampai dengan permintaan akan produk organik.


hari ini masih menjadi salah sumber Menurut Prawoto (2007), hal ini disebabkan
ketahanan pangan yang sangat strategis. karena produk organik rasanya lebih enak,
Namun kondisi di lapangan belum terkelolah lebih sehat, dan baik bagi lingkungan. Lebih
secara professional tetapi sebagian besar lanjut menurut Prawoto, pada tahun 1998,
merupakan usaha peternakan rakyat berskala pangsa pasar dunia produk organik dalam 10
kecil yang berada di perdesaan dan maish tahun mendatang akan mencapai sekitar US
menggunakan teknologi secara sederhana $ 100 milyar. Lanjutnya di Amerika Serikat,
atau tradisional. Menurut Nastiti (2008), pada tahun 1997, pangsa pasar produk
usaha peternakan di Indonesia didominasi organik sekitar US $ 3.5 milyar per tahun
oleh usaha rakyat dengan menggunakan dan dalam tahun 2000 meningkat sekitar dua
cara tradisional masih merupakan usaha kali lipatnya. Menurut Prabowo (2012),
sampingan serta lebih menjadi tabungan dalam 10 tahun terakhir, pasar organik naik
dan salah satu indikator status sosial. 228 persen dan nilai perdagangannya
Pengembangan sektor usaha peternakan menembus 59,1 miliar. Lebih lanjut
sekarang ini diarahkan tidak hanya terkait dikatakan meski tahun 2012 Eropa masih
dengan pemenuhan pangan (susu dan akan terimbas ekonomi namun pasar produk
daging) namun juga mulai dikembangkan organik yang mengutamakan kesehatan akan
pada pemanfaatan limbah kotoran sapi terus tumbuh dan juga pasar organik di AS,
(teletong) menjadi pupuk organik. Brasil, Rusia, India dan China. Ditambahkan
Kotoran sapi merupakan salah satu Prabowo (2012), nilai perdagangan produk
bahan potensial untuk membuat pupuk organik AS tahun 2011 mencapai 30 miliar
organik (Budiayanto, 2011). Kebutuhan dollar AS dan diperkirakan sampai tahun
pupuk organik akan meningkat seiring 2015 pertumbuhan ratarata pasar organik

23
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

Amerika Utara sebesar 12 persen. Menurut B. METODOLOGI


Sulaeman (2007), pertumbuhan permintaan Penelitian dilaksanakan pada bulan
produk pertanian organik di seluruh dunia Juli sampai dengan September 2014 di
mencapai rata-rata 20% per tahun. peternak penggemukan sapi potong
Lanjutnya, data WTO menunjukkan bahwa Kelompok Mandiri Jaya Desa Moropelang
dalam tahun 2000-2004 perdagangan produk Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.
pertanian organik telah mencapai nilai rata- Penentuan lokasi dilakukan dengan
rata 17,5 miliar dolar AS. pertimbangan bahwa Kelompok Tani Ternak
Satu ekor sapi setiap harinya Mandiri Jaya Desa Moropelang merupakan
menghasilkan kotoran berkisar 8 10 kg per salah satu Kelompok Tani Ternak yang
hari atau 2,6 3,6 ton per tahun atau setara berhasil dalam program Sarjana
dengan 1,5-2 ton pupuk organik sehingga Membangun Desa (SMD) di dearah
akan mengurangi penggunaan pupuk Lamongan, dengan dipilih oleh Bank
anorganik dan mempercepat proses Indonesia (BI) untuk mendapatkan CSR
perbaikan lahan. Potensi jumlah kotoran sapi bantuan pembanguan Kandang dan alat
dapat dilihat dari populasi sapi. Populasi peternakan. Jumlah anggota peternak sekitar
sapi potong di Indonesia diperkirakan 10,8 15 orang dengan populasi sapi sekitar 30
juta ekor dan sapi perah 350.000-400.000 ekor sapi. Metode yang digunakan dalam
ekor dan apabila satu ekor sapi rata-rata penelitian ini adalah metode deskriptif.
setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran Metode pengumpulan data yang digunakan
kering maka kotoran kotoran sapi kering adalah dengan metode observasi lapangan
yang dihasilkan di Indonesia sebesar 78,4 dan wawancara terstruktur atau wawancara
juta kilogram kering per hari (Budiyanto, mendalam.
2011). Keadan potensial inilah yang menjadi Wawancara terstruktur digunakan
alasan perlu adanya penanganan yang benar untuk mendapatkan berbagai informasi
pada kotoran ternak. Limbah peternakan budidaya cara pengelolaan kotoran ternak
yang dihasilkan tidak lagi menjadi beban yang dilakukan peternak di di Kelompok
biaya usaha akan tetapi menjadi hasil ikutan Mandiri Jaya Desa Moropelang Kecamatan
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bila Babat Kabupaten Lamongan. Sedangkan
mungkin setara dengan nilai ekonomi wawancara mendalam digunakan untuk
produk utama (daging) (Sudiarto, 2008). menggali lebih dalam informasi yang
Dengan begitu, usaha peternakan ke diperoleh mengenai pengelolaan kotoran
depan harus dapat dibangun secara ternak dan faktor-faktor yang mempengaruhi
berkesinambungan sehingga dapat peternak penggemukan sapi potong memilih
memberikan kontribusi pendapatan yang cara pengelolaan tersebut. Analisis yang
besar dan berkelanjutan, lanjut Sudiarto digunakan dalam penelitian ini adalah
(2008). Nastiti (2008) mengatakan deskriptif kualitatif. Fenomena yang ingin
penerapan teknologi budidaya ternak yang dilihat dalam penelitian ini adalah
ramah lingkungan dapat dilakukan melalui pengalaman peternak dalam memanfaatkan
pemanfaatan limbah pertanian yang kotoran ternak sapi menjadi pupuk organik.
diperkaya nutrisinya serta pemanfaatan Informan dalam penelitian adalah peternak
kotoran ternak menjadi pupuk organik dan penggemukan sapi potong di Kelompok
biogas dapat meningkatkan produktivitas Mandiri Jaya Desa Moropelang Kecamatan
ternak, peternak dan perbaikan lingkungan. Babat Kabupaten Lamongan. Fokus
Berdasarkan latarbelakang diatas penelitian adalah pemanfaat pengelolaan
maka tujuan penelitian ini adalah kotoran sapi dan faktor yang mempengaruhi
bagaimanakah proses pemanfaatan limbah peternak penggemukan sapi potong
kotoran sapi (teletong) menjadi pupuk melakukan pengelolaan tersebut.
organic dalam upaya mendukung usaha C. HASIL DAN PEMBAHASAN
peternakan sapi potong di Kelompok 1. Profile Kelompok Tani Ternak
Mandiri Jaya Desa Moropelang Kecamatan Kelompok Tani Ternak Mandiri
Babat Kabupaten Lamongan. Jaya di dirikan pada bulan Februari 2012 di
Desa Moropelang Kec. Babat. Kab.

24
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

Lamongan oleh sebagian aktivis Muda berbasis pada Kelompok dan


Muhammadiyah dari Desa Moropelang pengembangan Teknologi dalam rangka
Lamongan yaitu (Sholikh Al Huda/Sekjen kesejahteraan Petani.
Pemuda Muhammadiyah Jatim, Zudi Misi
Hariyanto/Pemuda Muhammadiyah Cabang a. Mewujudkan pengelolahan Ternak yang
Babat Lamongan, Kholek Effendi dan Profesional, maju dan mandiri
Fastabiqul Khairat/Pemuda Muhammadiyah b. Mewujudkan pengembangan
Ranting Moropelang) dan diback up oleh pengelolahan limbah ternak yang
Bapak-Bapak Muhammadiyah Ranting bernilai ekonomis
Moropelang Babat Lamongan. c. Mewujudkan kesejahteraan
Sejarah awal terbentuknya perekonomian masyarakat petani
kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya d. Mewujudkan SDM kelompok yang
berawal dari kesadaran sosial para aktivis berkualitas di bidang ekonomi
muda, pertama, melihat kemiskinan peternakan
masyarakat desa karena sebgaian besar e. Mewujudkan kelompok yang
mereka sangat bergantung dengan hasil memiliki kepedulian sosial dan
sawah yang tidak menentu karena para kebersamaan.
tengkulak yang mempermainkan harga f. Mewujudkan kemitraan kelompok
gabah sehingga mereka sering merigu. petani/ternak secara lokal dan
Kedua, Banyak anak muda putus sekolah global
dan tidak bekerja (ngangur). Disebabkan Target Utama
karena peluang kerja di desa sangat terbatas Pembangunan Agroekobis Peternakan
dan peran steak holder desa kurang begitu secara integratif (Agroekobis Terpadu)
memberhatikan keberdaan pemuda desa Tujuan Kelompok
yang putus sekolah dan menggangur, 1. Pembangunan kemandirian ekonomi dan
sehingga sebagaian besar mereka banyak lari kesejahteraan masyarakat petani melalui
ke Kota dan itu berpengaruh pada pengelolahan ternak
perkembangan lambat karena tidak ada 2. Pembangunan lapangan kerja bagi
SDM muda dalam pembangunan desa. Dan masyarakat terutama di kalangan
mereka yang bertahan di desa dianggap pemuda desa melalui pengelolahan
sampah masyarakat. Ketiga, kevakuman ternak
gerakan dakwah Pemuda Muhammadiyah 3. Pembangunan sektor usaha ekonomi
dengan kondisi ketidakadaan suport dana kecil masyarakat desa dari hasil
dakwah. pengelolahan ternak
Berawal dari kesadaran sosial dan Prinsip Organisasi
realitas obyektif yang terjadi di desa maka 1. Landasan: Amanah dan Ihsan
kami bertekad bangkit dengan berijtihad 2. Prinsip Kedudukan: Obyektif dan
membentuk Kelompok Tani Ternak dengan Independen
nama Mandiri Jaya. Langkah kebangkitan 3. Prinsip Manajemen: Transparan,
pertama Kelompok Tani Ternak Mandiri Akuntabilitas, Profesional, Efektif dan
Jaya adalah mengajukan program efisien, Berorientasi pada Perbaikan
pemberdayaan dan pengelolahan ternak sapi Terus-menerus
melalui program SMD (Sarjana Membangun 4. Prinsip Pengembangan : Inovatif,
Desa) pada tahun 2012 dengan mengusulkan Kreatif, Berorientasi pada Social
Penggemukan Sapi Potong berbasis Entrepreneurship dan Investasi Sosial
pengembangan limbahUrine dan Teletong 5. Prinsip Aktivitas Inti : Bisnis Peternakan
sebagai Bio gas dan pupuk orgnaik, dan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
berhasil dengan dapat support sapi sekitar 30 Budaya Organisasi
ekor. 1. Prinsip Organisasi adalah Tolok Ukur
Visi & Misi Kelompok Aktivitas Kampoeng Ternak
Visi: Terwujudnya Kelompok Ternak 2. Penyelenggaraan bBisnis Peternakan
Tahun 2015 yang Profesional, Mandiri, Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Maju, Memiliki kebersamaan tinggi yang Secara Obyektif dan Independen;

25
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

3. Transparan, Akuntabel, Profesional, Koordinator : Sunawi,


Efektif dan Efisien Serta Berorientasi Anggota: Kartidjan, Atrup
pada Perbaikan Terus Menerus adalah Bidang Pemberdayaan
Kegiatan Utama Kampoeng Ternak Ekonomi Kelompok & Sarpras
3. Optimalisasi Penyelenggaraan Koordinator : Zudi
Peternakan Berbasis Pemberdayaan Hariyanto, Anggota: Mujiadi
Masyarakat adalah Orientasi Program Kerja Kelompok
Produktivitas Kampoeng Ternak A. Policy Umum
4. Amanah, Ihsan dan Profesional Adalah 1. Rapat Evaluasi Bulanan
Inti Kualitas SDM Kampoeng Ternak Kelompok (Minggu ke 4)
Slogan Organisasi, Tani Sejahtera a. Laporan Keuangan
Indonesia Jaya Kelompok
Perkembangan Kelompok b. Laporan Perkembangan
Aset Kelompok Ternak Mandiri Jaya hingga Ternak
Desember 2012 adalah: c. Laporan Kinerja Kelompok
1. Jumlah Sapi : 30 Ekor pada saat Idul
Adha 2012 terjual 19 ekor sisa 10 ekor 2. Rapat Kondisional Kelompok
dan beli 4 ekor jumlah sekarang 14 ekor 3. Rapat Koordinasi Dengan Pihak
sapi terdiri dari 4 ekor Sapi Betina dan luar
10 Ekor Sapi Jantan dan 2 Ekor Pedhet B. Bidang Pengembangan Jaringan &
2. Tanah 1500 M2 dan bangunan Kandang, Lembaga
Rumah Pakan 1. Studi Banding ke Peternakan
3. Alat Mesen Chopper, Mixer Mill, Maju
Hammer Mill dan Timbangan Sapi. 2. Silaturahim ke Dinas
4. Instalasi Biogas dan Pupuk organik Peternakan
Struktur Kelompok 3. Membuat promosi kemajuan
1. Pembina: UPT Dinas Peternakan Kec. kelompok ternak melalui
Babat Lamongan, Kepala Desa internet & Buletin Kelompok
Moropelang Ternak
2. Pengawas: PR Muhammadiyah 4. Menjalin hubungan kerjasama
moropelang, PR Pemuda dengan pihak luar/ perusahan
Muhammadiyah oropelang pengelolah ternak
3. Pengurus: C. Bidang Pengembangan &
Ketua : Kholeq Effendi Pengelolahan Ternak
Sekretaris : Mubarok 1. Pelatihan Pengelolahan ternak
Bendahara : Zuli Soffani (vaksinasi, kesehatan dan
BIDANG - BIDANG peramuan makan ternak)
Bidang Pengembangan Jaringan & 2. Pelatihan pengelolahan kandang
Lembaga ternak yang sehat
Koordinator : Sholikh Al D. Bidang Pengembangan Teknologi
Huda Limbah Ternak
Bidang Pengembangan & 1. Pelatihan pengelolahan Bio
Pengelolahan Ternak Urine Ternak
Koordinator : Tasram, 2. Pelatihan pengelolahan pupuk
Anggota : Mudhofar, Musthofa organik dari kotoran sapi
Bidang Pengembangan Teknologi E. Bidang Pembelian & Pemasaran
Limbah Ternak Ternak
Koordinator : Agus S, 1. Kerjasama penjualan ternak ke
Anggota: Fastabiqul Khairat, Darmo RPH (Rumah Potong Hewan)
Warsito 2. Kerjasam penjualan dengan
Bidang Pembelian & pengusaha sapi dan daging
Pemasaran Ternak F. Bidang Pemberdayaan Ekonomi
Kelompok & Sarpras

26
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

1. Pembentukan Arisan/Koperasi Tabel.3. Karakteristik Anggota Kelompok Mandiri


kelompok Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat Kabupaten
Lamongan Berdasarkan Pendidikan Formal
2. Pengelolahan hasil ternak
(daging) bernilai Ekonomis
No Pendidikan Jumlah %
3. Penyedian dana sosial bagi
anggota /CSR
2. Karakteristik Peternak 1 SD 5 35
Berdasarkan hasil wawancara
yang dilakukan, usaha peternakan sapi 2 SMP 2 15
yang dilakukan oleh Kelompok Mandiri
Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat 3 SMA 4 25
Kabupaten Lamongan, adalah sistem
penggemukan sapi potong dengan masa 4 S1 4 25
pemeliharaan rata-rata sekitar 7-9 bulan.
Selain itu, sebagian besar anggota 15 100 %
taniternak yang menjadi responden
mempunyai pekerjaan lain sebagai petani
padi. Berdasarkan Tabel diatas, jumlah
Karakteristik anggota kelompok terbesar berdasarkan profesi pekerjaan
ternak sapi potong tersebut dapat dilihat anggota kelompok tani trenak ini adalah
pada tabel berikut : mayoritas petani sawah (65%), hal ini
menunjukan bahwa berternak di daerah itu
Tabel 1. Karakteristik Anggota Kelompok Mandiri masih menjadi kerjaan sampingan belum
Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat Kabupaten
menjadi perioritas
Lamongan Berdasarkan Pekerjaan
mata pencaharian. Sselanjutnya junlah umur
No Pekerjaan Jumlah %
responden antara 30-35 tahun dengan
persentase 35% dari total jumlah anggota.
1 Guru 4 25 Golongan umur tersebut masih berada pada
umur produktif sehingga diharapkan mampu
2 Petani 9 65 mengembangkan usaha dan mudah
memperkaya pengetahuan dan ketrampilan
3 Pedangan 2 10 tentang penggemukan sapi potong dan
pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi
15 100 % pupuk organik. Selanjutnya, jumlah terbesar
pendidikan formal yang ditekuni peternak
Tabel.2. Karakteristik Anggota Kelompok Mandiri adalah SD (35%). Pendidikan yang relatif
Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat Kabupaten
Lamongan Berdasarkan Usia
rendah ini dapat menyebabkan peternak sulit
menerima inovasi teknologi baru dan
cenderung menggunakan cara yang biasanya
No Usia Jumlah %
dilakukan oleh pendahulunya yang masih
tradisional.
1 30-35 5 35 Sedangkan rata-rata lama beternak
sapi potong yang dilakukan oleh Kelompok
2 35-40 4 25 Mandiri Jaya Desa Moropelang Kecamatan
Babat Kabupaten Lamongan sekitar + 3
3 40-50 4 25 tahun. Proses beternak yang bisa dikatakan
masih baru ini salah satu kendala yang
4 50-60 2 15 dihadapi adalah kemampuan memecahkan
bebagai permaslahan yang dihadapi dalam
15 100 % peneglolahan usaha peternakan dan
kemampuan mengadopsi inovasi teknologi
peternakan sapid an pemanfaatan limbah
kotoroan sapi.

27
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

3. Pemanfaatan Kotoran Sapi timbangan,


Menurut Nastiti (2008), pupuk kantong plastik, dan lain-lain.
organik dapat memperbaiki kualitas dan b. Bahan yang diperlukan:
kesuburan tanah serta diperlukan tanaman. Kotoran ternak 1 ton (+ 30
Selain itu, kotoran ternak yang diubah karung)
menjadi biogas dapat membantu mengatasi Urea 2 kg
kesulitan dan kemahalan bahan bakar SP-36 3 kg
minyak yang banyak digunakan oleh Kapur 5 kg
masyarakat terutama di pedesaan. Hasil Starter Trichoderma 3 kg atau
observasi dan wawancara menunjukkan EM4
bahwa sebagian besar anggota tani ternak Plastik hitam 5 m
telah memanfaatkan kotoran sapi untuk 2. Cara Pembuatan
kebutuhan sendiri sebagai pupuk pertanian a. Siapkan kotoran ternak (sapi atau
padi dan semangka. Sebagian besar kerbau) yang akan dijadikan kompos
anggota tani ternak memberikan alasan dengan syarat kering (tidak basah
yang relatif hampir sama tentang oleh urine sapi atau air hujan).
penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk Kotoran ternak yang terlalu basah
yaitu biasanya karena barangnya mudah akan mempengaruhi berkembangnya
didapat, relatif murah dan memberikan cendawan Trichoderma harzianum
hasil yang lebih baik. sehingga proses perombakan lebih
Berdasarkan pengamatan lambat.
menunjukan bahwa pemanfatan kotoron b. Bahan aktivator (Urea, SP-36,
sapi menjadi pupuk, masih terbatas kapur, pupuk kandang, starter
kapasitasnya dan peruntukannya, terbatas Trichoderma harzianum) diaduk
pada kebutuhan anggota kelompok tani merata dan dibagi atas 4 bagian.
ternak yang mayoritas adalah petani c. Kotoran ternak ditumpuk setinggi
sawah. Proses pembuatan pupuk organic 1x1x1 m lalu dibagi atas 4 bagian,
dari kotoran sapi di Kelompok Mandiri masing-masing setinggi + 25 cm.
Jaya Desa Moropelang Kecamatan Babat d. Di atas tumpukan kotoran ternak,
Kabupaten Lamongan sudah menggunakan ditabur bahan aktivator secara merta
instalasi biogas sebagai alat produksi sebanyak bagian.
pembuatan pupuk organic. Berdasarkan e. Gabung tumpukan kotoran ternak
wawancara anggota kelompok tani ternak, menjadi 1 tumpukan sehingga
instalasi biogas ini lebih di manfaatkan volume tumpukan 1x1x1 m.
untuk memproduksi pupuk dari pada f. Tutup tumpukan dengan plastik
biogas, karena menurutnya yang paling hitam anti air agar terlindung dari
dibutuhkan warga adalah pupuk organic hujan dan panas matahari.
untuk pertanian daripada biogas karena g. Lakukan pembalikan tumpukan
sebagai besar mereka masih suka kotoran ternak setiap 1 minggu
memggunakan gas Elpiji dengan alasan dengan menggunakan cangkul.
praktis.Proses pembuatan pupuk organic Perlu dijaga, kelembaban tumpukan
kotoran sapi adalah sebagai berikut: harus stabil (kelembaban 60-80%)
Alat dan Bahan Peralatan yang selama proses pengomposan.
diperlukan antara lain: h. Panen kompos pupuk kandang
Instalasi biogas dapat dilakukan setelah 21 hari
bak (kotak kayu ukuran dengan cara membongkar lalu
1x1x1 m) 3 buah, diayak sehingga dihasilkan kompos
sekop, yang sempurna.
ember, 4. Aspek Ekonomi
ayakan, Pemanfaatan limbah kotoran
termometer, sapi yang dikelolah menjadi pupuk
karung/kampil, organic pada aspek ekonomi tentu
sangat bermanfaat bagi penambahan

28
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

pendapatan petani ternak sehinggi dapat Rp.1.000-Rp.750.000= Rp.250.000/


membantu memenuhi kebutuhan
ekonominya sehingga harapan terbesar Produksi Dalam 1 bulan dapat memproduksi
dari proses ini adalah petani ternak 2 kali berarti dapat dihitung perbulan
sejahtera dan mandiri secara ekonomi. kelompok tani ternak mendapatkan
Hasil dari wawancara dengan anggota keuntangan Rp.1000.000 x 2kali
Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya produksi/bulan= Rp.2.000.000/bln.
Desa Moropelang Kecamatan Babat Untuk analisa usaha pupuk organic cair
Kabupaten Lamongan didapatkan adalah:
analisa usaha dari pemanfaatn limbah
kotoran sapi menjadi pupuk organic A. Biaya Produksi
sangat potensial baik pendapatan
maupun pasarnya. Hal itu di sebabkan 1. Bahan baku teletong 1kg=
bahan baku yang tersedia (teletong) Rp. 500,- x 1000 kg=
tidak beli dan proses pembuatannya Rp.500.000
tidak membutuhkan bahan yang mahal 2. Bahan pengurai organism=
sehingga menekan biaya produksi, Rp.200.000
sementara pangsa pasar potensial 3. Alat produksi = Rp. 250.000
dikarenakan sebagian basar petani mulai 4. Tenaga Kerja =
beralih menggunakan pupuk organic Rp.300.000/Produksi
karena selain lebih murah juga muda di Total Biaya Prduksi =R.1.250.000
dapatkan dari pada pupuk kimia harga B. Penjualan
mahal sulit didapat. Harga pupuk organic cair per 1 ltr= Rp.
Dari pemaparan anggota 2.500
kelompok didapati analisa usaha sebagia Dalam sekali produksi menghasilkan +
berikut, bahwa kotoran sapi tersebut 800 liter x Rp. 3.000=
dapat dimanfaatkan menjadi dua macam Rp.2.400.000/produksi
pupuk, yaitu pupuk organic padat dan Jadi per produksi menghasilkan
pupuk organik cair. keuntungan sebgai berikut= Hasil
Untuk analisa usaha pupuk penjualan-biaya produksi ( Rp.2.400.000-
organic padat adalah: 1.250.000= Rp.1150.000/produksi x 2
kali produksi per bulan = Rp. 2.300.000/
A. Biaya Produksi: bulan.
1. Bahan baku teletong Rp. 500/kg Dari perhitungan analisa usaha di atas
sekali produksi 1000kg (1ton) x menunjukan bahwa pemanfatan limbah
500=500.000 kotoran sapi (teletong) yang dijadikan
2. Bahan pengurai organisme pupuk organic baik padat ataupun cair
(EM-4, Urea, Tebu, dll) ternyata dapat mengahsilkan pendapatan
Rp.100.000/produksi keuntungan ekonomi yang lumayan besar
3. Alat produksi (Bak, Cangkul, bagi petani ternak. Sehingga sedikit
Karung dll), Rp. 50.000 banyak dapat membantu meningkatkan
4. Tenaga Kerja, Rp. 200.000/ pendapatan ekonomi dan membantu
produksi peningkatan kesejahteran hidup petani.
Total Biaya Produksi= Rp. Selain itu dapat juga membantu
750.000/produksi peningkatan produksi pertanian yang
B. Penjualan berbasis pupuk organic yang sangat
1 Kg Pupuk organic padat harga= menunjang bagi kesehatan masyarakat.
Rp.1000 5. Aspek Lingkungan
Hasil produksi 1 ton Pupuk organic Limbah kotorona sapi (teletong
padat (1000 kg (1ton) x Rp.1000= dan urine) kalau tidak diolah atau di daur
Rp.1.000.000 ulang akan berpotensi menganggu dan
Keuntungan= Penjualan Biaya mencemari lingkungan. Menurut
Produksi Martinez dkk (2009), kotoran ternak

29
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

dapat menghasilkan NH3 yang apabila mencemari udara di sekitar masyarakat


bersatu dengan debu dalam jangka waktu karena baunya. Sehingga dengan
lama akan menyebabkan beberapa pemanfaatn limbah tersebut dapat
penyakit yang terkait dengan paru-paru membangun hubungan yang simbiosis
dan pada konsentrasi tinggi akan muatualisme yang saling memanfaatkan
menurunkan daya tahan ternak. secara positif.
REFERENSI
Oleh karena itu dengan Budiyanto, Krisno. 2011. Tipologi
pemanfaatan limbah kotoran ternak Pendayagunaan Kotoran Sapi dalam
(teletong) menjadi pupuk organic padat Upaya Mendukung Pertanian
dan cair tentu akan sangat membantu Organik di Desa Sumbersari
untuk menjaga kesehatan lingkungan dan Kecamatan Poncokusumo
keshatan masyarakat sekitar peternakan. Kabupaten Malang. Jurnal GAMMA
Sehingga, di satu sisi peternak dapat 7 (1) 42-49
mengelolah usaha penggemukan sapi Martinez dan Jose, Patrick Dabert, Suzelle
potong dengan pemanfatan limbah Barirngton, dan Colin Burton. 2009.
kotoran secara nyaman dan tenang L:ivestock Waste Treatment
karena tidak menggangu masyarakat, dan Systems for Enviromental Quality,
di satu sisi masyarakat (petani) dapat Food Safety and
memanfaatkan hasil olahan limbah Sutainability.Jurnal Science Direct
ternak menjadi pupuk organic bagi Bioresource Technology 100 (2009)
kebutuhan produksi pertaniannya, 5527 5536
sehingga terjalin hububungan simbiosi Melse, Roland dan Maikel Timmerman.
mutualisme antara peternak dengan 2009. Sustainable Intensive
masyarakat sekitar. Livestock Production Demands
D.KESIMPULAN Manure and Exhaust Air Treatment
Hasil observasi dan wawancara Technologies. Jurnal Science
dengan anggota Kelompok Tani Ternak Direct Bioresource Technology 100
Mandiri Jaya di Desa Moropelang Babat (2009) 5506 5511
Lamongan, menunjukkan bahwa anggota Nastiti, Sri. 2008. Penampilan Budidaya
Kelompok Tani ternakk telah Ternak Ruminansia di Pedesaan
memanfaatkan kotoran sapi (teletong) Melalui Teknologi Ramah
menjadi pupuk organic padat dan cair Lingkungan. Seminar Nasional
walaupun masih dengan kapasitas Teknologi Peternakan dan Veteriner
terbatas bagi kebutuhan anggota dan 2008
masyarakat sekitar peternakan. Prabowo, Hermas. 2012. Pasar Organik
Dari hasil pemanfaatan limbah Dunia Tumbuh Pesat.
kotoran sapi menjadi pupuk organic http://health.kompas.com/.Diakses
ternyata menghasilkan potensi ekonomi pada tanggal 22Agustus 2013
yang lumayan besar bagi anggota Prawoto, Agung. 2007. Produk Pangan
kelompok tani ternak sehingga dapat Organik : Potensi yang Blum
meningkatkan pendapatan ekonomi, Tergarap Optimal. http://mbrio-
sehingga dapat mendorong kesejahertaan food.com/.Diakses pada tanggal 22
petani. Selain itu, pemanfaatan limbah Agustus 2013
kotoran sapi (teletong) menjadi pupuk Rahayu, Sugi, Dyah Purwaningsih dan
organic juga dapat menjaga kesehatan Pujianto. 2009. Pemanfaatan
lingkungan dan menjaga kesehatan Kotoran Ternak Sapi Sebagai
masyarakat sekitar peternakan, karena Sumber Energi Alternatif
limbah kotoron sapi ini dapat Ramah Lingkungan beserta Aspek
menghasilkan NH3 yang apabila bersatu Sosio Kulturalnya. Jurnal Inotek
dengan debu dalam jangka waktu lama Volume 13 No. 2
akan menyebabkan beberapa penyakit Sarwanto, Doso. 2004. Model Pencemaran
yang terkait dengan paru-paru dan Limbah Peternakan Sapi Perah

30
Axiologiya, Jurnal Pengabdian Masyarakat
2016, Vol.1.No.1

Rakyat pada Beberapa Kondisi Fiik Disertasi Sekolah Pascasarjana


Alami dan Sosial Ekonomi (Studi Institut Pertanian
Kasus di Propinsi JawaTengah).
Bogor
Sudiarto, Bambang. 2008. Pengelolaan
Limbah Peternakan Terpadu dan
Agribisnis yang Berwawasan
Lingkungan. Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner.
Universitas Padjajaran Bandung
Sulaeman, Ahmad. 2007. Prospek Pasar
dan Kiat Pemasaran Produk Pangan
Organik.Simposium Produk
Pertanian Organik di Indonesia dari
Produsen hingga Pemasaran
ISSAAS Indonesian Chapter 4
Desember 2007

31