Anda di halaman 1dari 13

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Produktivtas perairan secara umum dapat didefinisikan sebagai

kemampuan suatu perairan menghasilkan bahan organik maupun bahan anorganik

dalam suatu runutan rantai makanan yang saling berhubungan dalam jaring-jaring

makanan. Hal ini sekaligus menekankan bahwa produktivitas suatu perairan erat

kaitannya dengan sistem aliran makanan atau energi antar biota yang ada dalam

suatu ekosistem perairan.

Rantai makanan yang ada di suatu ekosistem menunjukkan peristiwa

makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu dikenal dengan

istilah rantai makanan. Terdapat makhluk hidup yang berperan sebagai produsen,

konsumen, dan dekomposer dalam suatu rantai makanan. Rantai makanan

merupakan gambar peristiwa makan dan dimakan yang sederhana. Kenyataannya

dalam satu ekosistem tidak hanya terdapat satu rantai makanan, karena satu

produsen tidak selalu menjadi sumber makanan bagi satu jenis herbivora,

sebaliknya satu jenis herbivora tidak selalu memakan satu jenis produsen. Dengan

demikian, di dalam ekosistem terdapat rantai makanan yang saling berhubungan

membentuk suatu jaring-jaring makanan.

BOD merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan

oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan

tersuspensi dalam air buangan, dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu 20 C

dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5 diperlukan untuk menentukan

beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau industri juga untuk
2

mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air tercemar. Standar BOD

dalam air limbah menurut peraturan pemerintah No. 82 tahun 2001 yang di

perbolehkan adalah maksimal 12 mg/l.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu melakukan pengamatan

oksigen terlarut pada perairan selama 24 jam secara langsung serta agar

mahasiswa mengetahui berapa kandungan BOD yang diperlukan mikroorganisme

dalam proses dekomposisi bahan organic di perairan. Sedangkan manfaat dari

dilakukannya praktikum ini adalah untuk menambah wawasan mahasiswa

mengenai kandungan oksigen terlarut pada perairan selama 24 jam.


3

II. TINJUAN PUSTAKA

Kadar oksigen terlarut berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman,

tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air,

aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air.

Kadar oksigen terlarut di perairan tawar berkisar antara 15 mg/liter pada suhu 0oC

dan 8 mg/liter pada suhu 25oC. Kadar oksigen terlarut pada perairan alami

biasanya kurang dari 10 mg/liter. Sumber oksigen terlarut berasal dari difusi

oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktifitas fotosintesis oleh

tumbuhan air dan fitoplankton (Novotny dan Olem, 1994 dalam Effendi, 2003).

Difusi oksigen dari atmosfer kedalam air dapat terjadi secara langsung

atau terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang dan

air terjun (Effendi, 2003). Pengaruh suhu pada oksigen terlarut dalam perairan

adalah dapat meningkatkan konsumsi oksigen 10% setiap kenaikan 1 oC(Brown,

1987 dalam Effendi, 2003). Hubungan tekanan air dengan kelarutan oksigen

adalah semakin tinggi tekanan air semakin tinggi pula kelarutan oksigen

(Effendi, 2003).

Oksigen terlarut dapat membentuk presipitasi atau endapan dengan besi dan

mangan. Kedua unsur tersebut menimbulkan rasa yang tidak enak pada

air. Keperluan air minum air dengan nilai oksigen terlarut pada taraf jenuh lebih

dikehendaki karena air yang demikian menimbulkan rasa segar. Pengaruh kadar

oksigen terlarut >5,0 mg/liter terhadap kelangsungan hidup ikan adalah bahwa

hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi kadar oksigen terlarut >5,0

mg/liter (Tebbutt, 1992 dalam Effendi, 2003).


4

Oksigen terlarut (Dssolved Oxigen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad

hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian

menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Di samping itu, oksigen

juga dibutuhkan untuk oksidasi dan anorganik dalam proses aerobik. Oksigen

terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem akuatik,

terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme

(Salmin, 2005).

Di perairan danau, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh fotosintesis alga

yang banyak terdapat pada zone epilimnion, sedangkan pada perairan tergenang

yang dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan

oksigen lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air.

Keberadaan oksigen terlarut di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas,

turbulensi air,dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan semakin

meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer. Penyebab

utama berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air disebabkan karena adanya

zat pencemar yang dapat mengkonsumsi oksigen (Salmin, 2005).

Semua makhluk hidup membutuhkan oksigen tidak terkecuali organisme

yang hidup dalam air. Kehidupan akuatik seperti ikan mendapatkan oksigennya

dalam bentuk oksigen terlarut yang sebagian besar berasal dari atmosfer. Tanpa

adanya oksigen terlarut pada tingkat konsentrasi tertentu banyak jenis organisme

akuatik tidak akan ada dalam air. Banyak ikan akan mati dalam perairan tercemar

bukan diakibatkan oleh toksitasi zat pencemar langsung, tetapi karena kekurangan

oksigen sebagai akibat dari digunakannya gas tersebut pada proses

penguraian/penghancuran zat pencemar (Achmad, 2004).


5

Di dalam lingkungan bahan organik banyak terdapat dalam bentuk

karbohidrat, protein, dan lemak yang membentuk organisme hidup dan senyawa-

senyawa lainnya yang merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan

dibutuhkan oleh manusia. Secara normal, bahan organik tersusun oleh unsur-unsur

C, H, O, dan dalam beberapa hal mengandung N, S, P, dan Fe (Achmad, 2004).

BOD atau Biochemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologis

merupakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk

menguraikan zat organik yang terdapat dalam air limbah. BOD merupakan suatu

parameter yang sering digunakan untuk menentukan karakteristik zat polutan

dalam limbah cair yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat pencemaran air

limbah domenstik maupun industri. Makin banyak zat organik, makin tinggi

BOD-nya. Nilai BOD dipengaruhi oleh suhu, cahaya, matahari, pertumbuhan

biologik, gerakan air dan kadar oksigen. Pada air sungai yang bersih, nilai BOD

berkisar sampai 10 ppm. Jika nilai BOD lebih besar dari 10 ppm maka dianggap

telah terkontaminasi.

Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur

kandungan oksigen terlarut awal (DO0) dari sampel segera setelah pengambilan

contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah

diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20 oC) yang sering

disebut dengan DO5. Selisih DO0 dan DO5 (DO0 - DO5) merupakan nilai BOD

yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen

dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri).

III. BAHAN DAN METODE


6

3.1. Waktu dan Tempat

Praktimum Oksigen 24 jam dan Biochemical Oxygen Demand

dilakukan pada hari kamis, 13 April 2017 bertempat di Laboratorium Produktifits

Perairan Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Riau.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yabg digunakan ketika praktikum adalah air sampel, MnSO4,

NaOH+ KI, H2SO4, dan Na-Thiosulfat.

Sedangkan alat yang digunakan adalah alat tulis , botol BOD, tabung

Erlenmeyer, Jarum Suntik, dan buku penuntun praktikum.

3.3. Metode Praktikum

Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode langsung

dimana objek diteliti dan diamati secara langsung oleh praktikan guna diambil

datanya sesuai dengan tuntunan yang terdapat didalam buku penuntun praktikum.

3.4. Prosedur Praktikum

1. Konsentrasi oksigen terlarut perairan akan diukur selama 24 jam dengan

metode winkler. Jika memungkinkan akan dilakukan pengukuran DO di

dua perairan dengan status tropic yang berbeda yaitu di perairan yang

subur dan tidak subur.


2. Sampling untuk DO akan dilakukan setiap 4 jam sekali. Sehingga akan

ditemukan 6 data DO selama 24 jam.


3. Pengukuran DO pada malam hari bisa dilakukan di Laboratorium

Limnologi, dengan catatan sebelumnya sudah difikasi dengan MnSO4 dan

NaOH KI.
4. Kemudian dibuat kurva oksigen selama 24 jam dan dibuat pembahasan

dalam bentuk laporan.


7

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan sebagai berikut :

a. Oksigen 24 jam
8

Tabel 1. Hasil oksigen 24 jam


Sesi Jam MnSO4 NaOH+KI H2SO4 Na-Thio DO (m/l)
1 08.00 1 ml 1 ml 2 ml 2 ml 8.26
2 11.00 1 ml 1 ml 1 ml 1.5 ml 6.148
3 16.00 1 ml 1 ml 1 ml 2 ml 8.19
4 20.00 1 ml 1 ml 1 ml 1.3 ml 5.327
5 01.00 1 ml 1 ml 1 ml 0.5 ml 2.04
6 04.00 1 ml 1 ml 1.2 ml 0.4 ml 1.652

b. BOD5

DO1 = 4,9 mg/l


DO5 = 3,3 mg/l
BOD5 = (DO1 DO5) x factor pengeceran
= (4,9 3,3) x 50
=1,6 x 50
=80 mg/l

4.2. Pembahasan

Air yang mengandung oksigen yang cukup adalah air dengan kualitas yang

baik kerna oksigen ini mengandung proses-proses seperti respirasi yang

menghasilkan CO2 di air. Sebaliknya DO yang rendah atau nol akan

menyebabkan anaerobic dimana fermantasi adalah mekanisme produksi energy

yang utama- proses yang melepaskan gas-gas seperti methane (CH4), H2S, dan

ammonia (NH3) pada kolom air. Tidak hanya engganggu tapi gas ini bersifat

toksik, dengan akibat yang drastic terhadap ekosistem periaran. Titik dimana

fotosintesis sama dengan respirasi, disebut kedalaman kompensasi.


9

Konsentrasi oksigen juga bervariasi dalam 24 jam. Pada siang hari

produsen primer berfotositesis dan hewan berespirasi. Diatas kedalaman

kompensasi terjadi peningkatan konsentrasi oksigen terlarut. Selama gelap, baik

tanaman maupun hewan berespirasi, yang menyebabkan deplesi oksigen.

Amplitudo variasi harian ini proporsional dengan biomassa produsen primer, dan

dapat menyebabkan kondisi anaerobic pada waktu malam hari di perairan yang

eutrofik yang mengakibatkan konsentrasi DO cendrung lebih rendah.

Biological Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen dalam

satuan ppm yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecahkan bahan-

bahan organik yang terdapat di dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk

menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri.

Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, apabila suatu badan air dicemari

oleh zat oragnik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama

proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air

dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil di atas dapat disimpulakan bahwa kandungan oksigen pada pagi

hari pukul 8.00 DO yang didapatkan adalah 8,26 ml/lt sedangkan pada pukul

11.00 kandungan DO yang didapatkan adalah 6.148 hal tesebut menunjukkan

pengurangan kandungan DO di perairan. Penurunan DO diperairan dapat di

sebabkan oleh proses fotosintetis yang berkurang sebab kurangnya cahaya

matahari. Hal ini sesui dengan pendapatt (Salmin, 2005 ) yang mengatakan bahwa
10

kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian, dan

berkurangnya tekanan atmosfer. Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen

terlarut dalam air disebabkan karena adanya zat pencemar yang dapat

mengkonsumsi oksigen (Salmin, 2005).

Pada pukul 16.00 peraira mengandung DO 8.19 pada pukul 20.00 perairan

mengandung DO 5.327 pada pukul 01.00 perairan mengandung DO 2.04 dan pada

pukul 04.00 perairan mengandung DO 1.652. Hasil ini menunjukkan penurunan

oksigen terlarut pada perairan seiring bertambah malamnya waktu. Hal ini

disebabkan karna tidak ada lagi cahaya matahari untuk fotosintesis oleh tumbuhan

dan organisme di perairan tersebut.

5.2. Saran

Dari praktikum yangtelah dilaksanakan , saya menghimbau kepada para

praktikan tidak rebut selama ppraktikum. Karna sangat mengganggu konsentrasi

proses praktikum.

Lampiran 2. Hasil

Pukul 08.00

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml botol BOD

2 x 0,025 x 8000 400


= =8,26
50 x 1254 48,5
125

Pukul 11.00
11

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml botol BOD

1,5 x 0,025 x 8000 300


= =6,148
50 x 1253 48,8
125

Pukul 16.00

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml botol BOD

2 x 0,025 x 8000 400


= =8,19
50 x 1253 48,8
125

Pukul 20.00

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml bo tol BOD

1,3 x 0,025 x 8000 260


= =5,327
50 x 1253 48,8
125

Pukul 01.00

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml botol BOD

0,5 x 0,025 x 8000 100


= =2,04
50 x 1253 48,8
125
12

Pukul 04.00

ml titran x N titran x 8000


DO=
ml sampel x ml botol bodreagenterpakai
ml botol BOD

0,4 x 0,025 x 8000 80


= =1,603
50 x 1254 49,9
125

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H., 2003. Telaahan Kualitas Air. IPB Press. Bogor.


13

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (Do) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas
Perairan. Oseana. Jakarta.
Utami, Fristy., Gilang Rifani, Helmi Mauluddin Alrasyid. 2011. Laporan

Pengolahan Limbah Industri Analisa BOD. Jurusan Teknik Kimia.

Politeknik Negeri Bandung