Anda di halaman 1dari 24

1.

Etiologi Penyakit Hepatitis


Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver).Penyebabnya
dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional.
Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi
penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis
B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati ( hepatitis B dan C ).
Radang hati hepatitis mempunyai beberapa penyebab, termasuk :
Racun dan zat kimia seperti alkohol berlebihan;
Penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh,
yang disebut sebagai penyakit autoimun; dan
Mikroorganisme, termasuk virus.
Ada lima virus yang diketahui mempengaruhi hati dan menyebabkan hepatitis: HAV,
HBV, HCV, virus hepatis delta (HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang
terinfeksi HBV), dan virus hepatitis E (HEV). Tidak ada virus hepatitis F. Virus hepatitis G
(HGV) pada awal diperkirakan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, tetapi ternyata diketahui
sebagai virus yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan virus ini sekarang diberi nama
baru sebagai virus GB-C (GBV-C).
a. Hepatitis A
Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV).VHA termasuk virus picorna (virus RNA)
dengan ukuran 27-28 nm.
b. Hepatitis B
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang terbungkus serta mengandung genoma
DNA (Deoxyribonucleic acid) melingkar.HBV adalah virus nonsitopatik, yang berarti virus
tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hati.Sebaliknya, adalah reaksi yang
bersifat menyerang oleh system kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan
kerusakan pada hati.
c. Hepatitis C
Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitisC (HCV).Virus ini dapat mengakibatkaninfeksi
seumur hidup, sirosis hati, kankerhati, kegagalan hati, dan kematian.Belumada vaksin yang dapat
melindungi terhadapHCV, dan diperkirakan 3 persenmasyarakat umum di Indonesia
terinfeksivirus ini.

2. Masa Inkubasi dan Penularan Hepatitis


a. Hepatitis A(VHA).
Virus dikeluarkan dari tubuh melalui tinja yaitu lewat empedu masuk ke dalam usus,
ditularkan secara feco-oral yaitu virus ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui
makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan
penderita.
Di negara berkembang kebanyakan anak sekolah mengidap hepatitis A karena penularan dari
orang lain. Mereka makan makanan yang tercemar kotoran yang mengandung VHA dan tidak
dimasak secara sempurna.
Waktu terekspos sampai kena penyakit atau masa inkubasi hepatitis A adalah 2 sampai 6
minggu. Penderita akan mengalami gejala-gejala seperti demam, lemah, letih, dan lesu, pada
beberapa kasus, seringkali terjadi muntah-muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan
seluruh badan terasa lemas. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti
demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.
b. Hepatitis B (VHB).
VHB ditularkan melalui darah dan cairan tubuh seperti air liur, air mani, cairan vagina
dan air susu ibu. Virus masuk ke tubuh lewat kulit atau selaput lendir tubuh yang rusak. Masa
inkubasi dari hepatitis B ini berkisar antar 45-180 hari dan lama masa inkubasi tergantung pada
jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan cara penularan serta daya tahan pasien. Di daerah
endemik penularan sering terjadi pada waktu persalinan atau pada awal pemberian makanan
bayi. Penularan dari ibu ke bayi merupakan penyebab terpenting hepatitis menahun yang mudah
berkembang menjadi kanker hati.
Adapun cara penularan hepatitis B lainnya diantaranya adalah :
Melalui transfusi darah atau transplantasi
Biasanya karena darah yang ditransufsikan sudah terinfeksi virus hepatitis B, sehingga orang
yang sehat dapat tertular melalui transfusi darah.
Seringnya Berganti-ganti Pasangan Seksual
Selain HIV, seringnya berganti-ganti pasangan dapat menularkan penyakit hepatitis B, belum lagi
tertular penyakit menular seksual lainnya.
Menggunakan Barang Pribadi Secara Bersama-Sama
Pisau cukur, sikat gigi, handuk dan alat kebersihan lainnya, dapat menularkan penyakit hepatitis
B jika digunakan secara bersama-sama. Karena itu biasakan menggunakan alat kebersihan
pribadi hanya untuk pribadi, bukan untuk bersama-sama.
Bayi Yang Tertular Ibunya
Ibu hamil yang terinfeksi penyakit hepatitis B, sudah tentu akan menularkan penyakit ini kepada
bayinya. Oleh karena itu, si bayi wajib diimunisasi sebelum penyakit hepatitis B bertambah
parah.

c. Hepatitis C (VHC).
VHC terutama ditularkan melalui darah. Transfusi darah merupakan cara penularan yang
ter-penting. Masa inkubasi rata rata 7 minggu. Orang yang mempunyai risiko tinggi mendapat
VHC ialah mereka yang memerlukan tranfusi darah berulang, menjalani cuci darah, cangkok
organ dll. Masa inkubasi penyakit hepatitis C adalah 2-6 minggu dimana 60-70% tanpa gejala,
10-20% menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti mual, muntah, lemah, tidak nafsu makan,
nyeri pada perut dan 20-30% disertai warna kuning pada kulit (iketus).
Hepatitis C biasanya menyebar ketika darah dari orang yang terinfeksi Virus Hepatitis C
(HCV) memasuki tubuh seseorang yang tidak terinfeksi. Hal ini dapat terjadi pada kegiatan
kegiatan seperti:
Menggunakan jarum suntik atau alat injeksi lainnya yang terkontaminasiHCV.
Menerima transfusi darah yang terkontaminasi.
Dilahirkan dari ibu yang telah terinfeksi HCV.
Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang terinfeksi atau berbagi
barang pribadi yang telah terkontaminasi, tetapi ini jarang terjadi.
Hepatitis C tidak ditularkan melalui air susu atau melalui kontak biasa seperti memeluk,
menyentuh, dan berbagi makanan atau minuman dengan orang yang terinfeksi.
Pengguna narkoba / obat suntik.
Penerima donor darah.
Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun tahun.
Petugas kesehatan yang terluka akibat jarum suntik.
Pasien yang mengidap HIV.

3. Gejala, Tanda dan Cara Diagnosis Hepatitis


a. Gejala dan Tanda Penyakit Hepatitis
Gejala demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang timbul karena
diproduksinya senyawa kimia interleukin (suatu protein hormon) sebagai respon terhadap adanya
infeksi mikroba atau adanya jaringan tubuh yang terluka. Meningkatnya suhu tubuh (demam)
akan menyebabkan mikroba tertentu yang ada dalam tubuh kita menjadi mati. Hal ini
dikarenakan ketidakmampuan mikroba tersebut dalam mentoleransi kenaikan suhu 20-30 oC di
atas ambang normal suhu optimumnya.
Pada kebanyakan orang terutama anak-anak apabila terinfeksi hepatitis B tidak
menimbulkan gejala. Gejala baru timbul apabila seseorang telah terinfeksi selama 6 minggu.
Gejala yang timbul dapat berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah-muntah, lemas,
merasalelah, nyeri perut terutama di sekitar hati, urin berwarna gelap, kulit menjadi kuning, dan
juga terlihat terutama pada mata, serta kadang - kadang pula disertai nyeri otot dan tulang -
tulang. Gambaran klinis infeksi akut HVA dapat sangat beragam berupa bentuk yang
asimtomatik atau simtomatik yang mungkin anikterik atau dengan ikterik dan biasanya pada
anak lebih ringan serta singkat dibandingkan dengan dewasa.
Hepatitis Asimtopatik
Infeksi yang asimtomatik ini selanjutnya dapat dibagi menjadi sub-klinik atau tidak nyata
(inapparent). Infeksi sub-klinik ditandai dengan adanya kelainan fungsi hati, yaitu peningkatan
aminotransferase serum,sementara infeksi tak nyata hanya dapat diketahui dari pemeriksaan
serologik.
Hepatitis simtopatik
Gejala dan perjalanan penyakit hepatitis virus secara klinis dapat dibedakan dalam 4 stadium
yaitu masa inkubasi, pra-ikterik, ikterik, dan fase penyembuhan.

Hepatitis A
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada
orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata
kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang
terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C,
infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa inkubasi 30 hari.

Hepatitis B
Gejala mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa
lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau
yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia.
Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang
mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan. Vaksin
hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang
merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak
pasangan seksual.

Hepatitis C
Hepatitis C sering dialami penduduk Indonesia, penyakit ini ditularkan melalui cairan
tubuh. Virus Hepatitis B dan Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seksual, jarum
suntik, dan transfusi darah. Virus biasanya dimulai dengan demam, pegal otot, mual, mata
menjadi kuning, dan air seni berwarna kemerahan seperti air teh. Namun, tidak semua orang
mengalami gejala seperti itu.
Gejala Hepatitis C biasanya lebih ringan dibandingkan dengan Hepatitis A atau B.
Setelah terserang Hepatitis A pada umumnya penderita sembuh secara sempurna, tidak ada yang
menjadi kronik.
Pada bayi dan anak kecil, umumnya tidak terdapat gejala yang jelas namun biasanya
terdapat keluhan awal seperti tidak nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala, lemah badan, nyeri
sendi dan otot, dan memungkinkan nyeri perut kanan atas karena pembesaran hati. Gejala ini
dapat terjadi pada 1-2 minggu pertama sebelum akhirnya muncul gejala hepatitis yang khas yaitu
perubahan warna urine (menjadi berwarna gelap seperti air teh) dan feses seperti warna tanah
atau dempul. Selain itu warna pada mata dan kulit menjadi kekuningan menyolok dan disertai
rasa gatal pada kulit.

b. Diagnosa Hepatitis
Hepatitis A
Diagnosis hepatitis A ditegakkan dengan tes darah. Dokter akanmeminta tes ini bila kita
mengalami gejala hepatitis A atau bilakita ingin tahu apakah kita pernah terinfeksi HAV
sebelumnya.Tes darah ini mencari dua jenis antibodi terhadap virus, yangdisebut sebagai IgM
dan IgG (Ig adalah singkatan untukimunoglobulin). Pertama, dicari antibodi IgM, yang dibuat
oleh sistem kekebalan tubuh lima sampai sepuluh hari sebelum gejala muncul, dan biasanya
hilang dalam enam bulan. Tes juga mencari antibodi IgG, yang menggantikan antibodi IgM dan
untuk seterusnya melindungi terhadap infeksi HAV.
Bila tes darah menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan IgG, kita kemungkinan tidak pernah
terinfeksi HAV, dan sebaiknya mempertimbangkan untuk divaksinasi terhadap HAV.
Bila tes menunjukkan positif untuk antibodi IgM dan negative untuk IgG, kita kemungkinan
tertular HAV dalam enam bulan terakhir ini, dan sistem kekebalan sedang mengeluarkan virus
atau infeksi menjadi semakin parah.
Bila tes menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan positif untuk antibodi IgG, kita mungkin
terinfeksi HAV pada suatu waktu sebelumnya, atau kita sudah divaksinasikan terhadap HAV.
Kita sekarang kebal terhadap HAV.

Hepatitis B
Diagnosa yang dapat dilakukan yaitu serologi (test darah) dan biopsi liver (pengambilan
sampel jaringan liver).Bila HBsAg positif maka orang tersebut telah terinfeksi oleh VHB
(Misnadiarly, 2007).
Tersedia tes laboratorium untuk mendiagnosis infeksi HBV dan tes lain untuk memantau
orang dengan hepatitis B kronis.
Hepatitis B didiagnosis dengan tes darah yang mencari antigen (pecahan virus hepatitis
B) tertentu dan antibodi (yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap
HBV).Tes darah awal untuk diagnosis infeksi HBV mencari satu antigen HbsAg (antigen
permukaan, atau surface, hepatitis B) dan dua antibodi anti-HBs (antibodi terhadap antigen
permukaan HBV) dan anti-HBc (antibodi terhadap antigen bagian inti, atau core, HBV).
Sebetulnya ada dua tipe antibodi anti-HBc yang dibuat: antibodi IgM dan antibodi IgG.
Tes darah yang dipakai untuk diagnosis infeksi HBV dapat membingungkan, karena ada
berbagai kombinasi antigen dan antibodi yang berbeda, dan masing-masing kombinasi
mempunyai artinya sendiri. Berikut adalah arti dari kombinasi yang mungkin terjadi:
Tergantung pada hasil ini, tes tambahan mungkin dibutuhkan.Bila kita tidak pernah
terinfeksi HBV atau pernah divaksinasikan terhadap HBV, kita tidak membutuhkan tes
tambahan.Bila kita baru-baru ini terinfeksi HBV atau kita hepatitis B akut, sebaiknya kita tes
ulang setelah enam bulan untuk meyakinkan sudah didapatkan kekebalan yang dibutuhkan.

Hepatitis C
Ada tes laboratorium untuk mendiagnosis infeksi HCV dan tes laboratorium untuk
memantau orang dengan HCV.
Tes Antibodi HCV: Mendiagnosis infeksi HCV mulai dengantes antibodi, serupa dengan tes
yang dilakukan untuk diagnosisinfeksi HIV. Antibodi terhadap HCV biasanya dapat
dideteksidalam darah dalam enam atau tujuh minggu setelah virustersebut masuk ke tubuh,
walaupun kadang kala untukbeberapa orang dibutuhkan tiga bulan atau lebih. Bila tesantibodi
HCV positif, tes ulang biasanya dilakukan untukkonfirmasi. Tes konfirmasi ini dapat tes antibodi
lain atau tesPCR.
Bila kita tes positif untuk antibodi terhadap HCV, ini berartikita pernah terpajan oleh
virus tersebut pada suatu waktu.Karena kurang lebih 20 persen orang yang terinfeksi HCV
sembuh tanpa memakai obat, biasanya dalam enam bulansetelah terinfeksi, langkah berikut
adalah untuk mencari virusdalam darah.
Tes Viral Load HCV: Untuk mencari HCV, dokter kitamungkin meminta tes PCR kualitatif untuk
menentukanadanya virus hepatitis C di darah kita. Dokter juga dapatmeminta tes PCR kuantitatif
mirip dengan tes yang dipakaiuntuk mengukur viral load HIV untuk mengetahui apakahada
HCV dan menentukan viral load HCV kita.
Tes viral load HCV tidak dapat menentukan bilaatau kapan seseorang dengan hepatitis C
akan menjadi sirosisatau gagal hati. Namun viral load HCV dapat membantumeramalkan
keberhasilan pengobatan. Sebagai petunjuk praktis,semakin rendah viral load HCV, semakin
mungkin kita berhasildalam pengobatan untuk HCV. Tes viral load HCV jugaterpakai pada
waktu kita dalam pengobatan untuk menentukanapakah terapi berhasil.
Tes Genotipe: Tidak semua virus hepatitis C adalah sama. Ada sedikitnya enam genotipe HCV
yang berbeda yang berarti bentuk genetis saling berbeda. Lagi pula, beberapa genotipe ini
dibagi menjadi subtipe. Misalnya, HCV genotipe 1 dibagi dalam subtipe a dan b.
Genotype HCV tampaknya tidak mempengaruhi perjalanan penyakit. Namun genotype
mempengaruhi keberhasilan pengobatan genotipe 1 dan 4 paling sulit diobati, sementara
pengobatan jauh lebih berhasil untuk genotipe 2 dan 3, biasanya juga dalam waktu yang lebih
singkat. Bila kita mengetahui genotipe HCV kita, ini akan membantu dokter kita menentukan
pendekatan yang terbaik untuk mengobatinya bila dibutuhkan. Hal ini dapat termasuk keputusan
mengenai obat yang terbaik serta lamanya pengobatan.

4. Transmisi Penyakit Hepatitis


Transmisi Hepatitis A
HAV menular melalui makanan/minuman yang tercemar kotoran (tinja) dari seseorang
yang terinfeksi masuk ke mulut orang lain. HAV terutama menular melalui makanan mentah atau
tidak cukup dimasak, yang ditangani atau disiapkan oleh seseorang dengan hepatitis A (walaupun
mungkin dia tidak mengetahui dirinya terinfeksi). Minum air atau es batu yang tercemar dengan
kotoran adalah sumber infeksi lain, serta juga kerang-kerangan yang tidak cukup dimasak. HAV
dapat menular melalui rimming (hubungan seks oral-anal, atau antara mulut dan dubur).HAV
sangat jarang menular melalui hubungan darah-ke-darah.

Transmisi Hepatitis B
Ada dua macam cara transmisi Hepatitis B, yaitu transmisi vertikal dan transmisi
horisontal.
a. Transmisi vertical
Penularan terjadi pada masa persalinan (Perinatal).VHB ditularkan dari ibu kepada bayinya yang
disebut juga penularan Maternal Neonatal. Penularan cara ini terjadi akibat ibu yang sedang
hamil terserang penyakit Hepatitis B akut atau ibu memang pengidap kronis Hepatitis B
(Dalimartha, 2004).
b. Transmisi horizontal
Adalah penularan atau penyebaran VHB dalam masyarakat.Penularan terjadi akibat kontak erat
dengan pengidap Hepatitis B atau penderita Hepatitis B akut.Misalnya pada orang yang tinggal
serumah atau melakukan hubungan seksual dengan penderita Hepatitis B (Dalimartha, 2004).
Cara transmisi paling utama di dunia ialah dari ibu kepada bayinya saat proses
melahirkan. Kalau bayinya tidak divaksinasi saat lahir bayi akan menjadi carrier seumur hidup
bahkan nantinya bisa menderita gagal hati dan kanker hati. Selain itu penularan juga dapat terjadi
lewat darah ketika terjadi kontak dengan darah yang terinfeksi virus Hepatitis B (Misnadiarly,
2007).

Transmisi Hepatitis C
Proses transmisinya melalui kontak darah (transfusi, jarum suntik yang terkontaminasi,
serangga yang menggigit penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya).
Pengguna narkoba suntikan (IDU) yang memakai jarum suntik dan alat suntik lain secara
bergantian berisiko paling tinggi terkena infeksi HCV. Antara 50 dan 90 persen IDU dengan HIV
juga terinfeksi HCV.Hal ini karena kedua virus menular dengan mudah melalui hubungan darah-
ke-darah. HCV dapat menyebar dari darah orang yang terinfeksi yang masuk ke darah orang lain
melalui cara yang berikut:
Memakai alat suntik (jarum suntik, semprit, dapur, kapas, air) secara bergantian;
Kecelakaan ketusuk jarum;
Luka terbuka atau selaput mukosa (misalnya di dalam mulut, vagina, atau dubur); dan
Produk darah atau transfusi darah yang tidak diskrining.

5. Riwayat Alamiah Penyakit Hepatitis


a. Masa Inkubasi dan Masa Klinis
Masa inkubasi virus hepatitis A adalah 15-49 hari, dengan rata-rata 28-30 hari.Pada tahap
inkubasi ini, gejala infeksi hepatitis A belum terlihat.
Sedangkan pada Hepatitis B, masa inkubasinya (saat terinfeksi sampai timbul gejala)
sekitar 24-96 minggu (Misnadiarly, 2007). Menurut Sudoyo (2006), masa inkubasi VHB berkisar
dari 15180 hari (rata-rata 60-90 hari).

b. Masa Laten dan Masa Infeksi


Hepatitis A :Pada masa laten, virus ditemukan pada tinja orang yang terinfeksi, mencapai
puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang cepat setelah gejala disfungsi hati
muncul bersamaan dengan timbulnya sirkulasi antibodi HAV di dalam darah.
Pada tahap infeksi, infektivitas maksimum terjadi pada hari-hari terakhir dari separuh
masa inkubasi dan terus berlanjut beberapa hari hingga muncul gejala ikterus.
Komplikasi dari hepatitis A
Sebuah hepatitis akut Sebuah kasus dapat berkembang menjadi hepatitis fulminan A. Ini
adalah suatu komplikasi yang jarang namun parah dari Hepatitis A, di mana racun dari virus
hepatitis membunuh sel-sel hati dengan jumlah tinggi secaraabnormal (sekitar dari jumlah sel
hati), dan hati mulai mati. Lima puluh persen pasien dengan kondisi ini memerlukan
transplantasi hati langsung untuk menghindari kematian. Hepatitis fulminan A juga bisa
menyebabkan komplikasi lebih lanjut, termasuk disfungsi otot dan kegagalan organ multiple.
Terdapat 3fase perkembangan penyakit,yaitu:
FasePraikterik(prodromal)
Gejalanonspesifik,permulaanpenyakittidakjelas,demamtinggi,anoreksia,mual,nyerididaer
ahhatidisertaiperubahanwarnaairkemihmenjadigelap.
Pemeriksaanlaboratoriummulaitampakkelainanhati(kadarbilirubinserum,SGOTdanSGPT
,Fosfatosealkali,meningkat).
Faselkterik
Gejalademamdangastrointestinaltambah hebatdisertaihepatomegalidansplenomegali.timb
ulnyaikterusmakin hebatdenganpuncak pada minggukedua.setelahtimbulikterus,gejalamenurund
an pemeriksaanlaboratorium tesfungsihatiabnormal. Air seni berwarna seperti teh, kulit
menguning, serta keluhan menguat.
FasePenyembuhan
Faseiniditandaidenganmenurunnyakadarenzimaminotransfirase.Pembesaranhatimasihada
tetapitidak terasanyeri.

6. Pengobatan Penyakit Hepatitis


Hepatitis A
Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang
disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya, diharapkan untuk tidak banyak beraktivitas serta
segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari
gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk
meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual
dan muntah.
Pengobatan umum untuk hepatitis A adalah istirahat di tempat tidur.Juga penting untuk
minum banyak cairan, terutama bila kita mengalami diare atau muntah.Obat penawar rasa sakit
yang dijual bebas, misalnya ibuprofen dapat mengurangi gejala hepatitis A, tetapi sebaiknya
dibicarakan lebih dahulu dengan dokter.
Bila kita merasa kita mungkin terpajan pada HAV misalnya bila seseorang dalam rumah
tangga kita baru didiagnosis hepatitis A sebaiknya kita memeriksakan diri ke dokter untuk
membicarakan manfaat suntikan immune globulin (juga disebut sebagai gamma
globulin).Immune globulin mengandung banyak antibodi terhadap HAV, yang dapat membantu
mencegah timbulnya penyakit bila kita terpajan pada virus.Immune globulin harus diberikan
dalam dua hingga enam minggu setelah kita mungkin terpajan pada HAV.Bila kita menerima
immune globulin untuk mencegah hepatitis A, sebaiknya kita juga menerima vaksinasi hepatitis
A.

Hepatitis B
Saat ini ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B, pengobatan
tersebut tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem
kebal seperti InteAlfa (Uniferon).
Dengan mengambil interferon sebagai obat, tubuh akan merangsang sistem kekebalan
tubuh untuk melawan virus hepatitis B. Namun, tidak semua orang dapat mengambil interferon
karena efek samping. Dalam dua minggu pertama mengambil interferon, tubuh dapat
memperburuk gejala dan akan dapat mengalami depresi, lelah, dan menderita nyeri otot, demam
dan mual.
Meskipun interferon suntik sedikit berbeda dengan yang dihasilkan tubuh, interferon ini
dapat membantu menumpas virus dengan dua cara:
Pertama sebagai imunomodulator membantu sistem imun dalam menghentikan
perkembangbiakan virus.
Kedua sebagai antiviral menginduksi jalur degradasi RNA melalui induksi enzim 2-5-OAS
sehingga mencegah replikasi virus.
Interferon yang digunakan untuk pengobatan hepatitis meliputi interferon alfa dan
pegylated interferon alfa.
Telbivudine
Merupakan obat antivirus lain yang digunakan untuk menghentikan virus hepatitis B dari
replikasi.Ini adalah dalam bentuk pil yang harus diambil setiap hari. Terdapat hampir tidak ada
efek samping tetapi jika Anda berhenti minum pil, gejala mungkin akan memburuk. Selain itu,
jika minum pil terlalu lama, virus bisa menjadi resisten terhadap obat-obatan.
Entecavir
Merupakan obat antivirus lain dalam bentuk pil. Pil ini harus dilakukan sekali sehari dan jika
menghentikannya, akan timbul gejala-gejala yang menjadi lebih buruk.
Lamivudine
Mirip dengan Telbivudine tetapi tidak kuat.Ini juga merupakan pil yang harus diminum sekali
sehari.Obat antivirus ini tidak dianjurkan untuk orang dengan masalah ginjal.
Adefovir dipivoxil
Obat anti virus dalam bentuk pil yang mampu menghentikan virus dari replikasi.Obat ini sangat
efektif untuk orang-orang yang resisten terhadap Lamivudine.
Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan.Tumbuhan obat atau
herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan Hepatitis diantaranya
mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang
dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan
produksi empedu oleh hati.
Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara
lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis
paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma
lucidum), akar alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa),
pegagan(Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda
citrifolia), jombang (Taraxacum officinale). Selain itu juga ada pengobatan alternatif lain
Hepatitis B seperti hijamah/bekam yang bisa menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal
dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.

Hepatitis C
Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa,
Pegylated interferon alfa dan Ribavirin.Adapun tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah
menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang
memburuk dan stadium akhir penyakit hati.Pengobatan pada penderita Hepatitis C memerlukan
waktu yang cukup lama bahkan pada penderita tertentu hal ini tidak dapat menolong, untuk itu
perlu penanganan pada stadium awalnya.

7. Perkembangan Penyakit Hepatitis di Indonesia


Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India untuk jumlah
penderita hepatitis.Di Indonesia infeksi HVA banyak mengenai anak usia < 5 tahun dan biasanya
tanpa gejala. Anak-anak ini merupakan sumber penularan bagi orang dewasa di sekitarnya
dengan risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih berat.
Ahli kesehatan dari Divisi Hepatologi, Depatemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Ali Sulaiman memperkirakan sejumlah 13 juta penduduk Indonesia
mengidap hepatitis B dan empat juta penduduk lainnya menderita hepatitis C.
Meskipun belum mendapatkan angka pasti penderita penyakit yang menyerang fungsi
hati tersebut, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tjandra
Yoga Adhitama, memperkirakan sekitar 20 juta orang di Indonesia menderita Hepatitis B dan C.
Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A masih
merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar dari 39,8-
68,3%. Peningkatan prevalensi anti HAV yang berhubungan dengan umur mulai terjadi dan lebih
nyata di daerah dengan kondisi kesehatan di bawah standar. Lebih dari 75% anak dari berbagai
benua Asia, Afrika, India, menunjukkan sudah memiliki antibody anti-HAV pada usia 5 tahun.
Sebagian besar infeksi HAV didapat pada awal kehidupan, kebanyakan asimtomatik atau
sekurangnya aniktertik.
Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar dari 2,5% di
Banjarmasin sampai 25,61% di Kupang, sehingga termasuk dalam kelompok negara dengan
endemisitas sedang sampai tinggi. Di negara-negara Asia diperkirakan bahwa penyebaran
perinatal dari ibu pengidap hepatitis merupakan jawaban atas prevalensi infeksi virus hepatitis B
yang tinggi. Hampir semua bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBeAg positif akan terkena
infeksi pada bulan kedua dan ketiga kehidupannya. Adanya HbeAg pada ibu sangat berperan
penting untuk penularan. Walaupun ibu mengandung HBsAg positif namun jika HBeAg dalam
darah negative, maka daya tularnya menjadi rendah. Data di Indonesia telah dilaporkan oleh
Suparyatmo, pada tahun 1993, bahwa dari hasil pemantauan pada 66 ibu hamil pengidap
hepatitis B, bayi yang mendapat penularan secara vertical adalah sebanyak 22 bayi (45,9%).
Prevalensi anti-HCV pada donor darah di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan
angka di antara 0,5%-3,37%. Sedangkan prevalensi anti HCV pada hepatitis virus akut
menunjukkan bahwa hepatitis C (15,5%-46,4%) menempati urutan kedua setelah hepatitis A akut
(39,8%-68,3%) sedangkan urutan ketiga ditempati oleh hepatitis B (6,4%-25,9%). Untuk
hepatitis D, walaupun infeksi hepatitis ini erat hubungannya dengan infeksi hepatitis B, di Asia
Tenggara dan Cina infeksi hepatitis D tidak biasa dijumpai pada daerah dimana prevalensi
HBsAg sangat tinggi. Laporan dari Indonesia pada tahun 1982 mendapatkan hasil 2,7% (2
orang) anti HDV positif dari 73 karier hepatitis B dari donor darah. Pada tahun 1985, Suwignyo
dkk melaporkan, di Mataram, pada pemeriksaan terhadap 90 karier hepatitis B, terdapat satu anti
HDV positif (1,1%).
Pada tahun 1991 pemerintah Indonesia memperluas program imunisasi hepatitis B ke 4
propinsi yaitu mencakup seluruh kabupaten dipropinsi NTB, Bali, D.I. Yogyakarta, dan 5
kabupaten di Jatim.
Kemudian pada tahun1992/1995 imunisasi telah dikembangkan di 6 Propinsi lainnya,
yaitu di Lampung, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat dan Kalimantan Barat.
Selanjutnya pada tahun 1996/1997 dikembangkan secara nasional ke 27 Propinsi dengan
tahapan sebagai berikut: Prioritas khusus untuk propinsi dengan endemisitas tinggi, yaitu Irian
Jaya, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur; propinsi lainnya masing-masing satu
kabupaten/kotamadya dalam tahap awal pengembangan.
Akhirnya, pada satu Maret 1997 vaksin hepatitis B dimasukkan kedalam program
immunisasi rutin. Pada tahun 2003, ditingkatkan dengan mencakup bayi baru lahir dengan
pemberian Hepatitis B Uniject pada bayi usia 0 7 hari dan kini telah dilaksanakan di seluruh
Indonesia serta telah berhasil menurunkan prevalensi hepatitis B pada anak di bawah 4 tahun dari
6,2 persen menjadi 1,4 persen.

8. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Hepatitis


Faktor Lingkungan.
a. Lingkungan Fisik.
1) Jamban.
Jenis jamban terdiri dari beraneka ragam sesuai selera dan kebutuhan yang diperlukan serta
berdasarkan kemampuan perekonomian dan rancangan jamban yang baik adalah jamban berbentuk
leher angsa, oleh karena pada bagian septik tank yang akan terhalang oleh air sehingga bau dan udara
tidak mencemari kamar WC, juga bagian lantai harus kedap air dan terbuat dari semen atau keramik
di rancang tidak licin begitu juga dinding jamban/WC terbuat tertutup, sehingga aman dari luar juga
harus kedap air sehingga tidak menggangu estetika maupun kenyamanan untuk ke belakang.
2) Kebersihan Sanitasi Makanan dan Minuman.
Makanan yang baik untuk dikonsumsi mempunyai berbagai kriteria yang harus memenuhi
persyaratan misalnya tidak mengandung kuman dan bakteri, tidak mengandung bahan berbahaya
seperti : borax, formalin, zat pewarna dan lain-lain juga telah diolah dengan benar sehingga bentuk
dan zat gizinya tidak rusak terutama dalam pengolahan dan penyimpanan kemudian tidak
bertentangan dengan agama dan keyakinan masyarakat. Karena hal tersebut jika dilanggar akan
membebani psikologis yang mengkonsumsi makanan tersebut.
b. Cara penanganan makanan yang baik.
Pemilihan bahan baku makanan juga sangat penting misalnya makanan tersebut harus bersih
dan segar. Kemudian juga disimpan pada suatu tempat yang aman dan tertutup, disamping juga
pengguanaan alat-alat dapur yang bersih selanjutnya mencuci sayuran atau makanan sebelum diolah
dan tidak lupa juga menyimpan makanan yang telah matang di lemari atau ditutup dengan tutup saji
sesuai alat penyajian
c. Kebersihan Air Minum
Air minum yang sehat mempunyai berbagai syarat seperti : jernih, tidak berbau, tidak
berwarna, tidak berasa dan bebas dari kuman, oleh karena air juga merupakan tempat pembiakan
kuman tertentu. Oleh karena itu sangat penting di perhatikan sanitasi tentang air minum. Adapun
aturan dalam menkonsumsi air minum misalnya : air minum dimasak sampai mendidih agar kuman-
kumannya mati, kemudian minumlah minimal 6-8 gelas setiap hari dan bila minuman air dari
kemasan harus diproses sesuai ketentuan pemerintah.
d. Sumber Mata Air
Sektor kesehatan bertanggung jawab dalam pembinaan teknis konstruksi sarana air bersih
dan juga sektor yang lain yang terkait. Disamping itu juga sektor kesehatan punya peran sebagai
penyuluh dan pembanding demi untuk pembinaan kualitas air yang baik. Adapun yang dimaksud
dengan penyehatan air adalah pengamanan dan penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan
kehidupan manusia, dalam kaitannya dengan hal tersebut selayaknya air bersih yang digunakan
selain memenuhi syarat kualitas untuk kebutuhan kesehatan misalnya minum, mandi, cuci dan kakus
juga harus memenuhi syarat kualitas
Dalam kejadian Hepatitis , faktor penjamu (Host), penyebab (Agent) dan lingkungan
(Environment) yang mempunyai pengaruh sangat besar adalah :
1. Faktor penyebab (Agent) yaitu virus Hepatitis A.
2. Faktor penjamu (Host) yaitu perilaku (personal hygiene), immunisasi, status gizi, keturunan, umur
dan jenis kelamin.
3. Faktor lingkungan (Environment) yaitu lingkungan fisik maupun lingkungan biologi, lingkungan
fisik dapat berupa Mandi Cuci Kakus (MCK), pengolahan dan penyimpanan makanan dan minuman,
sedangkan lingkungan biologi dapat berupa keberadaan lalat, keberadaan kecoa dan keberadaan
tikus.
4. Faktor pelayanan kesehatan (Medical Care Service) juga mempengaruhi tinggi rendahnya derajat
kesehatan.
Faktor Resiko Hepatitis
Kualitas bakteriologis air
Jenis tempat atau sarana yang digunakan untuk buang air besar
Kebiasaan mencuci tangan setelah buang air besar
Kebiasaan makan jajanan yang tidak bersih
Pemakai narkoba suntik
Pemakaian tatto
Riwayat hepatitis dalam keluarga
Transfusi darah
Janin yang dikandung oleh ibu yang menderita hepatitis.
9. Cara Pencegahan Penyakit Hepatitis
Dalam hal mencegah hepatitis ini terbagi menjadi dua kategori pencegahan penyakit
hepatitis ini. Yaitu pencegahan penyakit hepatitis secara umum dan juga pencegahan penyakit
hepatitis secara khusus. Karena penyakit hepatitis ini adalah karena virus dan sebagian besar
menular melalui darah atau pun cairan tubuh yang tercemar dengan virus hepatitis ini maka kita
harus benar-benar waspada akan penularan penyakit hepatitis ini.
Yang termasuk kategori mencegah penularan penyakit hepatitis secara umum adalah
sebagai berikut :
1. Menghindari kontak seksual atau hubungan badan dengan penderita hepatitis B, termasuk dalam
hal ini kontak dengan cairan tubuh seperti ludah dan juga sperma.
2. Menghindari pemakaian alat suntik yang tidak steril ( dalam dunia kesehatan harus
menggunakan alat suntik sekali pakai ), alat tatto, alat tindik, pemakaian narkoba yang
menggunakan jenis alat suntik sebagai medianya, berganti-ganti pasangan.
3. Pada ibu hamil untuk mengadakan skrining pada awal kehamilan serta juga setelah memasuki
trimester ke III kehamilan.
Dan yang masuk dalam mencegah dan pencegahan penyakit hepatitis secara khusus
adalah dengan melakukan imunisasi aktif. Imunisasi aktif hepatitis ini adalah bertujuan jalur
transmisi penyebaran penyakit hepatitis ini melalui program imunisasi bayi baru lahir
dan kelompok resiko tinggi tertular hepatitis.

Pencegahan Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C


Hepatitis memiliki banyak tipe, untuk mencegah penyakit hepatitis agar tidak menjangkit dan
berkembang semakin parah perlu dilakukan upaya pencegahan yang lebih signifikan. Setiap tipe
hepatitis memiliki pencegahan tersendiri dengan cara yang berbeda dari setiap tipe hepatitis.

Berikut ini akan diberikan beberapa ulasan upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk
menangani masalah penyakit hepatitis dengan beragam tipe, diantaranya :
1. Upaya pencegahan untuk Hepatitis A (HAV)
Penyakit hepatitis dapat menghinggap siapa saja tidak memandang segi usia atau faktor
ekonomi. Hepatitis dapat menyerang mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa. Untuk
hepatitis A bila menyerang anak-anak mulai dari 1-18 tahun dapat dilakukan vaksinasi dengan
pemberian dosis vaksin 2 atau 3 tetes dosis vaksin sesuai dengan standar pengobatan. Sedangkan
untuk orang dewasa dengan pemberian vaksinasi yang lebih besar dengan jangka waktu pemberian
vaksin 6-12 bulan setelah dosis pertama vaksin.
Dengan pemberian vaksinasi ini merupakan upaya pencegahan yang efektif dapat bertahan
15-20 tahun atau lebih. Pemberian vaksin bertujuan mencegah sebelum terjadinya infeksi dari virus
hepatitis A dan memberikan perlindungan terhadap virus sedini mungkin 2-4 minggu setelah
vaksinasi.

Pemberian vaksinasi untuk hepatitis A, diberikan kepada :


Mereka yang menggunakan obat-obat terlarang (psikotropika/narkoba) dengan menggunakan jarum
suntik.

Mereka yang bekerja sebagai pramusaji, terutama mereka yang memiliki makanan yang kurang
mendapatkan perhatian akan keamanan dan kebersihan dari makanan itu sendiri.

Orang yang tinggal dalam satu pondok atau asrama yang setiap harinya berkontak langsung.
Mungkin diantara penghuni pondok asrama memiliki riwayat penyakit hepatitis A.

Balita dan anak-anak yang mungkin tinggal dalam lingkungan yang memiliki tingkat resiko yang
lebih tinggi akan hepatitis.

Seseorang yang suka melakukan oral seks/anal.

Seseorang yang teridentifikasi penyakit hati kronis.

Menjaga kebersihan terhadap diri pribadi dan lingkungan sekitar tempat tinggal merupakan
upaya awal yang sangat penting sebagai proses pencegahan lebih dini sebelum terjangkit atau
mengalami resiko yang lebih tinggi terhadap serangan penyakit hepatitis. Selalu menjaga kebersihan
dengan mengawali langkah yang mudah salah satunya dengan cara membiasakan diri untuk mencuci
tangan sebelum dan sesudah menyentuh sesuatu.

Namun bagi mereka yang suka berpergian ke luar negeri yang mungkin di negara tersebut
memiliki sanitasi yang kurang baik sebagai pencegahan tak ada salahnya untuk melakukan vaksinasi
minimal 2 bulan sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri. Akan tetapi bagi mereka yang sudah
teridentifikasi terkena virus hepatitis A (HAV), globulin imun (IG) harus diberikan sesegera mungkin
dengan pemberian vaksin minimal 2 minggu setelah teridentifikasi virus hepatitis A.

2. Upaya pencegahan untuk Hepatitis B (HBV)


Pemberian vaksinasi ini juga dinilai sangat optimal dan efektif bagi mereka yang
teridentifikasi hepatitis B dan dapat membantu memberikan perlindungan kurang lebih selama 15
tahun. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menuturkan bahwa semua bayi yang baru lahir
dan mereka yang sudah berusia sampai dengan 18 tahun dan dewasa diwajibkan untuk diberikan
vaksin sebagai upaya perlindungan dan pencegahan terhadap resiko infeksi divaksinasi. Dengan
pemberian 3 suntikan pada jangka waktu 6-12 bulan wajib memberikan perlindungan penuh.

Semua anak, para remaja dan orang dewasa pun serta mereka yang aktif secara seksual perlu
diberikan vaksinasi. Terutama bagi mereka yang bekerja langsung menangani darah atau produk
darah seperti pendonor atau pekerja laboratoruim setiap harinya harus diberikan vaksin. Mereka yang
menggunakan obat terlarang dengan menggunakan jarum suntik juga sangat dilarang untuk saling
bergantian atau menggunakan jarum suntik yang sama, sedotan kokain atau jenis lainnya.

3. Upaya pencegahan Hepatitis C (HCV)


Tidak ada vaksin untuk mencegah virus dari hepatitis C ini . Pemberian vaksin pada hepatitis
A dan B tidak memberikan sistem imunitas atau kekebalan terhadap virus hepatitis C. Hanya saja
upaya preventif untuk mencegah dan mengobati virus hepatitis C ini yang mungkin dapat dilakukan
adalah sama halnya dengan pemberian vaksin yang sama seperti hepatitis B.

Dengan tiadanya vaksin terhadap hepatitis C, cara terbaik untuk mencegah infeksi adalah
untuk mengurangi risiko kita tersentuh oleh darah orang lain. Hal ini juga berlaku untuk orang yang
sudah terinfeksi HCV, agar menghindari penularan pada orang lain.
Cara terbaik untuk menghindari faktor risiko terbesar terhadap penularan HCV adalah untuk
menghentikan penggunaan narkoba suntikan atau tidak mulai.Namun ini tidak realistis untuk
semuanya. Jika kita tetap menyuntik narkoba, kita selalu harus memakai alat suntik dan pelengkap
baru dan suci hama, termasuk jarum suntik, semprit (insul), dapur, kapas, dan air, setiap kali kita
menyuntik. Jangan memakai alat tersebut bergantian. Bila kita harus membagi narkoba, membaginya
waktu kering (masih berbentuk serbuk), atau pakai semprit baru dan suci hama untuk membaginya.
Jangan mengisi larutan narkoba pada semprit orang lain, dan tentukan daerah suntikan adalah bersih.
Menghindari hubungan dengan darah orang lain.
Jangan memakai sikat gigi, alat cukur, pemotong kuku, atau alat lain yang mungkin terkena
darah secara bergantian. Bila ingin dilakukan tato atau tindikan lain, pastikan dilakukan oleh ahli
yang dapat dipercaya, dan dengan cara yang bersih, termasuk alat yang suci hama/sekali pakai.
Walaupun HCV tidak menular secara efisien melalui hubunganseks, sebaiknya kita memakai
kondom untuk mengurangi risiko menularkan atau ditularkan HIV, HCV atau infeksi menular seksual
lain.
10. Gambaran Epidemiologi Umum Hepatitis
Hepatitis A merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati di dunia. Hepatitis A
terjadi secara sporadis di seluruh dunia, dengan kecenderungan pengulangan siklus epidemi. Di
dunia prevalensi infeksi virus hepatitis A sekitar 1.4 juta jiwa setiap tahun (WHO) dengan
prevalensi tertinggi pada negara berkembang. Epidemi yang terkait dengan makanan atau air
yang terkontaminasi dapat meletus eksplosif, seperti epidemi di Shanghai pada tahun 1988 yang
mempengaruhi sekitar 300 000 orang.
Infeksi Hepatitis B ditemukan di seluruh dunia, dengan tingkat prevalensi yang berbeda-
beda antar negara. Pembawa infeksi kronis merupakan reservoir utama, di beberapa negara,
khususnya di negara-negara belahan timur, 5-15 dari semua orang membawa virus, meskipun
sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Pasien dengan infeksi HIV, 10% adalah pembawa
kronis hepatitis B. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa 1,5 juta orang terinfeksi hepatitis B,
dan diperkirakan 300.000 kasus baru terjadi setiap tahunnya. Sekitar 300 orang ini mati dengan
hepatitis fulminan akut, dan 5-10% dari pasien yang terinfeksi hepatitis B kronis menjadi
pembawa virus. Sekitar 4000 orang mati per tahun karena sirosis hatiterkait hepatitis B dan 1000
karena karsinoma hepatoseluler. Sekitar 50% dariinfeksi di Amerika Serikat menular secara
seksual (Wilson, 2001).
Sebelum skrining donor untuk anti-HCV (1992), HCV adalah penyebab paling umum
pasca transfusi hepatitis di seluruh dunia, jumlahnya untuk sekitar 90% dari penyakit ini di
Amerika Serikat. Studi yang dilakukan pada 1970 menunjukkan bahwa sekitar 7% dari penerima
transfusi menderita hepatitis NANB, dan bahwa sampai 1% dari darah unit mungkin berisi virus.
Pengenalan skrining anti-HCV telah mengurangi transmisi hingga hampir 100%.
Saat ini diAmerika Serikat, HCV menyumbang sekitar 20% dari kasus hepatitis virus
akut, kurang dari 5% berhubungan dengan transfusi darah. Prevalensi anti-HCV tertinggi pada
pengguna narkoba suntik dan penderita penyakit darah (hingga 98%), sangat bervariasi pada
pasien hemodialisis (<10% -90%), prevalensi rendah pada heteroseksual dengan mitra seksual
multipel, pria homoseksual, pekerjakesehatan dan kontak keluarga orang terinfeksi HCV (1%
-5%), dan terendah didonor darah sukarela (0,3% -0,5%). Dalam populasi umum bervariasi
(0,2%-18%). Daerah prevalensi tinggi meliputi negara-negara di belahan timur, Negara-negara
Mediterania dan daerah-daerah tertentu di Afrika dan Eropa Timur (WHO, 2010).

11. Gambaran Epidemiologi Hepatitisdi Indonesia


Penyakit hepatitis A ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian
setiap tahunnya. Secara global, virus hepatitis merupakan penyebab utama viremia yang
persisten. Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A masih
merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar 39,8-
68,3% (Sanitoso, 2007). Pada tahun 2002-2003 terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) hepatitis
dengan 80% penderita berasal dari kalangan mahasiswa. Dari data penderita hepatitis pada
mahasiswa menunjukkan 56% mahasiswa tersebut terbiasa makan di warung atau pedagang
kuliner kaki lima dengan hygiene sanitasi yang tidak baik (Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten
Jember, 2003).
Pada tahun 2010, prevalensi penyakit infeksi virus hepatitis A mencapai angka 9.3% dari
total penduduk 237.6 juta jiwa. Di sumsel tahun 2007 dengan jumlah penduduk 7.019.964 jiwa,
prevalensi hepatitis A adalah 0.2-1.9%.
Di Indonesia, kurang lebih 10 persen (3,4-20,3%) dari populasi adalah pembawa virus
hepatitis B (HBV). Prevalensi ini tidak menurun. Di Jakarta, hampir 9 persen pengguna narkoba
suntikan (IDU) HBsAg+ (mempunyai infeksi HBV kronis, dan dapat menular pada orang lain).
Namun di Asia-Pasifik, kebanyakan penularan terjadi dari ibu-ke-bayi, dan 90 persen anak yang
terinfeksi tetap mempunyai infeksi kronis waktu menjadi dewasa. Penyakit hepatitis biasanya
juga didapat karena seseorang telah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi, susu, atau air.
Pada tahun 2001, ada lebih dari 10.000 kasus infeksi hepatitis akut dilaporkan di AS (Anonim,
2010)
Ada empat serotipe HBV yang umum di Indonesia: adw di Sumatera, Java, Kalsel, Bali,
Lombok, dan Maluku Utara; ayw di NTT/NTB lain dan Maluku; adr di Papua; ayr di Manado;
dan campuran di Kalimantan, Sulawesi dan Sumbawa. Sementara genotipe B paling umum di
Indonesia, tetapi juga ada C dan D. Dampak dari perbedaan serotipe dan genotipe tidak jelas.
12. Tujuan Imunisasi Hepatitis
Imunisasi merupakan salah satu upaya P3M yang dilakukan untuk mencegah penyakit
hepatitis.Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka
penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan
kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu
seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain
sebagainya.
Tujuan Imunisasi
Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang
Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi
Untukmengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan
bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.

Manfaat Imunisasi
1. Vaksin ini dapat mencegah Hepatitis B dan tentunya juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin
ini memberikan daya lindung yang sangat tinggi (paling kurang 96%) terhadap Hepatitis B,
sebagaimana telah terbukti pada berbagai percobaan klinis dan jutaan pemakaiannya. Bila jadwal
vaksinasi telah dijalani selengkapnya maka daya lindungnya akan bertahan lebih kurang selama
5 tahun. Setelah itu dapat diberikan tambahan vaksinasi untuk memperpanjang daya lindungnya.

Kanker Hati
Kanker hati merupakan kanker yang sering dijumpai di Indonesia. Kanker ini
dihubungkan dengan infeksi Hepatitis B atau Hepatitis C. Artinya pada umumnya penderita
kanker hati pernah terinfeksi Hepatitis B atau C. Penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C sering
dialami penduduk Indonesia. Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh. Virus Hepatitis
B dan Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah.
2. Mencegah ibu hamil terjangkit virus Hepatitis B.
Hepatitis B adalah virus dengan gejala pembengkakan hati dan gejala lainnya seperti mual,
kelelahan dan kulit kuning. Dalam beberapa kasus, Hepatitis B dapat menyebabkan ganguan hati
dan kanker hati. Seorang ibu hamil dengan hepatitis B dapat menulatkan virus ini kepada
bayinya saat persalinan. Bayi juga beresiko tinggi mengalami ganguan hati.
3. Vaksinasi hepatitis B dapat secara efektif menurunkan angka pengidap maupun angka infeksi
Virus Hepatitis B .
4. Vaksinasi hepatitis B rekombinant DNA mempunyai efek proteksi jangka panjang terhadap
penyakit hepatitis B .
5. Efektif untuk mencegah penularan Hepatitis B.
6. Menjaga produktifitas karyawan karena terhindar dari penularan penyakit Hepatitis B yang
memerlukan perawatan dan istirahat.

13. Strategi Imunisasi Hepatitis


Hingga saat ini, vaksinasi Hepatitis yang telah menjadi program nasional adalah program
imunisasi Hepatitis B. Imunisasi hepatitis B masuk dalam program nasional Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan sejak bulan April 1997.Adapun strategi
penggunaan Uniject untuk imunisasi pada bayi baru lahir dilaksanakan sejak tahun 2003.
Menurut rekomendasi ACIP (The Advisory Committee on Immunization Practices) maka
orang-orang yang disebut dibawah ini memerlukan vaksniasi untuk mencegah penyakit hepatitis
B :
Semua bayi , sejak dilahirkan
Semua anak berusia <19 tahun, yang belum pernah divaksinasi anti hepatitis B sebelumnya
Partner sexual yang mempunya HBsAg yang positive
Multiple sexual partner (mempunyai partner sexual >1 dalam kurun waktu 6 bulan)
Orang yang sedang menjalankan pengobatan penyakit kelamin
Orang homosexual
Pemakai obat injeksi
Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepattis B
Pekerja bidang kesehatan dan laboratorium yang berhubunan dengan darah dan cairan tubuh
Penderita penyakit ginjal stadium akhir termasuk pre-dialisa, hemodialisa, peritoneal dialisa,
dan pasien dialisa dirumah
Penghuni dan pengurus rumah penderia gangguan perkembangan orang cacat
Wisatawan
Penderia penyakit hati khronik
Penderita dengan infeksi HIV AIDs
Pasien diabetes mellitus dewasa berusia antara 19 - 59 tahun yang belum divaksinasi
Semua orang yang memerlukan perlindungan terhadap kemungkinan infeksi virus hepatitiis B
Vaksinasi hepatitis B untuk orang dalam situasi dan kondisi khusus:
Sesuai dengan rekomendasi ACIP (The Advisory Committee on Immunization Practices),
dalam situasi dan kondisi tertentu, maka orang-orang dibawah ini perlu diberikan vaksin dan
imunisasi untuk mencegah infeksi virus hepatitis B, misalnya :
Klinik atau fasilitas pengobatan penyakit kelamin
Klinik atau fasilitas pengujian dan pengobatan penyakit HIV
Klinik atau fasilitas untuk pengobatan dan pencegahan ketergantungan obat
Klinik atau fasiltas untuk orang-orang pemakai obat suntik
Lembaga pemayarakatan atau rumah penjara
Klinik atau fasilitas untuk orang homosexual
Klinik atau fasilitas untuk penyakit ginjal dan hemodialisa
Klinik dan fasilitas perawatan untuk orang gangguan perkembangan dan orang cacat.
Strategi Imunisasi Sesuai dengan Tiap-tiap Tingkat Endemisitas Hepatitis B
Di daerah dengan endemisitas VHB tinggi dan sedang, strategi yang dianjurkan adalah
melakukan imunisasi universal untuk semua bayi baru lahir dengan cara mengintegrasikan
imunisasi Hepatitis B ke dalam EPI sedang untuk daerah dengan endemisitas rendah dianjurkan
melakukan imunisasi pada kelompok individu risiko tinggi. Namun, banyak sarjana yang
meragukan apakah strategi imunisasi kelompok risiko tinggi akan berhasil untuk menurunkan
prevalensi infeksi HVB dalam populasi Negara dengan endemisitas rendah. Sebagi contoh, di
Amerika Serikat ternyata tindakan itu juga tidak berhasil menurunkan prevalensi infeksi HVB di
Amerika Serikat. Banyak sarjana yang berpendapat bahwa imunisasi universal pada neonates
merupakan strategi yang paling tepat untuk menurunkan prevalensi infeksi HVB untuk semua
daerah baik dengan tingkat endemisitas tinggi, sedang, maupun rendah.
WHO pada tahun 1992 merekomendasikan vaksinasi Hepatitis B ke dalam EPI di seluruh
dunia paling lambat pada tahun 1997.Di Indonesia sejak tahun 1991 vaksinasi Hepatitis B telah
diintegrasikan ke dalam EPI. Sebelumnya pada tahun 1987 sampai dengan tahun 1991 telah
dilakukan proyek percontohan imunisasi Hepatitis B pada anak baru lahir di Pulau Lombok yang
telah berhasil menurunkan angka pengidap Hepatitis B pada anak sebesar 70%.
Berdasarkan fakta tentang lamanya perlindungan pada penderita yang telah memberikan
respon s pada vaksinasi seri pertama dan tidak adanya bukti bahwa suntikan ulangan vaksin
(booster) lebih efektif dibandingkan dengan paparan alamiah terhadap infeksi Hepetitis B,
sampai sekarang tidak ada anjuran untuk melakukan booster pada individu yang telah
memberikan respons terhadap seri vaksinasi pertama, kecuali untuk penderita dengan
hemodialysis kronik.
14. Ukuran Epidemiologi Hepatitisyang Dapat Dipakai
Angka prevalensi infeksi VHB di Asia Pasifik cukup tinggi yaitu melebihi 8% dan
penularannya pada umumnya terjadi secara vertikal (pada periode perinatal) dan horizontal (pada
masa anakanak) oleh karena itu risiko menjadi kronis cukup besar. Diperkirakan lebih dari 350
juta diantaranya menjadi kronis yang tentunya berisiko tinggi meninggal dunia akibat penyakit
hati kronis. Sekitar 75% pengidap hepatitis B kronis karier berada di Asia Pasifik. Pada saat ini
sekitar 1 juta kematian per tahun akibat penyakit hati berhubungan dengan VHB. Sirosis hati,
gagal hati, atau kanker hati dapat terjadi pada 15 40 % penderita dengan infeksi hepatitis B
kronis. Di negara berkembang orang dewasa sangat berisiko tinggi untuk terkena hepatitis B,
terlebih di negara miskin, hepatitis B dengan endemis tinggi, cukup banyak ditemukan pada
anak-anak. Oleh sebab itu, karena tingginya morbiditas dan mortalitas karena hepatitis B,
penyakit ini sangat mengancam di dunia.
Prevalensi infeksi HBV berbeda-beda di seluruh dunia. Kategori daerah endemis terbagi
menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Indonesia sendiri masuk dalam kelompok prevalensi sedang
sampai tinggi. Dari data Lukman Hakim Zain: Hepatitis B dan Permasalahannya 3 yang
terkumpul, prevalensi infeksi VHB di Indonesia berkisar antara 2,5% (di Banjarmasin) sampai
36% (di Dili). Pada penelitian prevalensi infeksi virus B yang dilakukan oleh Zain dkk. pada 114
mahasiswa USU yang baru masuk tahun 1983 didapat prevalensi 16,6%. Dari data pasien
hemodialisis regular di 12 kota besar di Indonesia dari 2.458 pasien didapati prevalensi infeksi
HBV sebanyak 4,5%, sedangkan di Kota Medan sendiri didapat 6,05% dari 314 pasien (survey
nasional pernefri untuk prevalensi hepatitis B/C pada pasien hemodialisis).
Diperkirakan saat ini11,6 juta penduduk Indonesia terinfeksi oleh VHB. Oleh sebab itu
perlu diupayakan pencegahan dengan program imunisasi pada bayi dan anak-anak karena pada
usia seperti ini infeksi hepatitis B yang kronis dapat dicegah serta menghentikan progresivitas
infeksi hepatitis B kronis yang sudah terjadi dengan obat-obatan yang sudah tersedia. Pada tahun
1991, World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan vaksinasi hepatitis B untuk
seluruh negara. Tahun 2002, 154 negara telah melakukan vaksinasi hepatitis B pada seluruh bayi
baru lahir.Program vaksinasi pertama di dunia dilakukan di Taiwan pada tahun 1984. Selama 2
tahun program tersebut, vaksinasi diberikan terutama pada bayi dengan ibu pengidap hepatitis B
(HbsAg positif). Kemudian vaksinasi tersebut diperluas untuk seluruh bayi baru lahir, usia pra-
sekolah dan sekolah yang belum divaksinasi. Program tersebut menurunkan angka prevalensi
anak usia kurang 15 tahun pengidap hepatitis B dari 9,8% pada tahun 1984 menjadi 1,3% pada
tahun 1994. Pada tahun 1999 vaksinasi mencakup sekitar 80 86 % pada anak balita dan 90%
pada anak usia sekolah sehingga prevalensi pengidap hepatitis B berkurang sampai 0,7% pada
anak usia kurang 15 tahun.
Menurut pusat penelitian penyakit menular,badan penelitian dan pengembangan
kesehatan departemen kesehatan RI, Jakarta, bahwa Indonesia telah melaksanakan program
Immunisasi Hepatitis B sejak tahun 1987 di Lombok dan kebijaksanaan ini diteruskan ke
beberapa propinsi lain, yaitu tahun 1991 dimulai secara bertahap di empat propinsi,tahun 1992
diperluas menjadi sepuluh propinsi, dan pada tahun 1997 untuk dua puluh tujuh propinsi harus
sudah melaksanakan vaksinasi hepatitis B.Bila program vaksinasi berhasil,diharapkan pada
tahun 2015 (satu generasi kemudian) hepatitis B bisa dibanteras dan bukan merupakan persoalan
kesehatan masyarakat lagi.UNIDO-WHO-UNICEF menganjurkan untuk Negara dengan jumlah
pendudk lebih dari 50 juta supaya memproduksi sendiri vaksin yang diperlukan.Indonesia
dengan pendudk lebih dari 180 juta dan prevalensi HBsAg antara 8-20% harus mepersiapkan diri
untuk memproduksi sendiri vaksin hepatitis B.
Hasil pemeriksaan biomedis menunjukkan prevalensi HBsAg sebesar 9.7% pada pria dan
9.3% pada wanita, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 45-49 tahun sebesar 11.9%.
Sementara itu, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi virus hepatitis B ditunjukkan dengan
angka Anti-HBc sebesar 34%, dan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Ini berarti
penularan horizontal memegang peran yang penting dalam penyebaran hepatitis B. Untuk
hepatitis C, ditunjukkan dengan angka anti-HCV positif sebesar 0.8%, dengan angka tertinggi
pada kelompok usia 55-59 tahun yaitu sebesar 2,12%. Semua data ini merupakan data nasional
berbasis populasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan berbagai upaya
kesehatan dan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, Efi. 2005. Tanaman obat untuk mengatasi hepatitis. Jakarta : AgroMedia PustakaBaratawidjaja,
Karnen Garna. 2002. Imunologi Dasar. Jakarta: Balai Penerbit FakultasKedokteran Universitas
Indonesia.
Badan Kesehatan Dunia.http://who.int/immunization/topics/hepatitis_b/en/index.htmldi akses tangal 12
Juni 2013
Darmono. 2006. Farmakologi Dan Toksikologi Sistem Kekebalan: Pengaruh Penyebab DanAkibatnya
Pada Kekebalan Tubuh. Jakarta: Universitas Indonesia.
Dienstag J.L., Isselbacher K.J. 2008. Acute Viral Hepatitis. In: Eugene Braunwauld et al.Harrisons
Principles of Internal Medicine, 17th Edition,McGraw Hill.
Epidemiology and prevention of viral hepatitis A to E:anoverview
2001;http;//www.cdc.gov/ndod/disease/hepatitis/Slideset/index.htm)
Fedik A.Rantam. 2003. Metode Imunologi. Jakarta: Universitas Airlangga.
Foster GR, Goldin RD. Management of Chronic Hepatitis, 2nd ed., Oxfordshire:
Taylor&Francis,2005:17-61.
Hadi, S. 2002. Hepatitis. Gastroenterologi edisi VII. Bandung. PT Alumni: 487-57
Handriani P. 2013.Imunisasi Hepatitis B Masuk dalam Program
Nasional.http://www.tempo.co/read/news/2013/04/09/060472151/Imunisasi-Hepatitis-B-Masuk-
dalam-Program-Nasional di akses tanggal 18 Juni 2013
Hepatitis A, Penyakit Bawaan Makanan. 2005. Available at: www.who.go.intdi akses tanggal 13 Juni
2013
Hepatitis Masalah Kesehatan Dunia. 2010. Available at: www.depkes.go.id di akses tanggal 14 Juni
2013
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=health+news&y=cybermed|0|0|5|5572di akses
tanggal 11 Juni 2013
http://dokita.co/blog/hepatitis-virus/di akses tanggal 11 Juni 2013
http://health.kompas.com/read/2011/07/26/09381955/Indonesia.Peringkat.Ketiga.Pengidap.Hepatitisdi
akses tanggal 11 Juni 2013
http://id.scribd.com/doc/67148701/Hepatitis-A#downloaddi akses tanggal 11 Juni 2013
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/09/20/vaksin-hepatitis-b-494955.htmldi akses tanggal 18
Juni 2013
http://penyakithati.org/faktor-risiko-dan-penyebab-penyakit-hati/di akses tanggal 11 Juni 2013
http://penyakithepatitis.org/pencegahan-hepatitis-a-hepatitis-b-hepatitis-c/di akses tanggal 12 Juni 2013
http://penyakithepatitisb.com/di akses tanggal 11 Juni 2013
http://penyakithepatitisc.com/di akses tanggal 11 Juni 2013
http://pphi-online.org/alpha/?p=533di akses tanggal 11 Juni 2013
http://www.depkes.go.id/hepatitis/index.php/component/content/article/34-press-release/799-lembar-
fakta-hepatitis.htmldi akses tanggal 11 Juni 2013
Lacey SR, Bernstein DR, Talavera F, et al. 2005.Hepatitis D. eMedicine specialties.
Lauer GM, Walker BD. Hepatitis C virus infection. N Engl J Med 2001; 345(1):41-52.
Lembar Fakta Hepatitis B http://who.int/mediacentre/factsheets/fs204/en/di akses tanggal 12 Juni 2013
Lembar Fakta HEPATITIS,Available
at:http://www.depkes.go.id/hepatitis/index.php/component/article/34-press-release/799-lembar-
fakta-hepatitis.html di akses tanggal 14 Juni 2013
Manju Rani, Baoping Yang and Richard Nesbit. Hepatitis B controlled by 2012 inThe WHO Pacific
Region: Rationale and implications.http://www.who.int/bulletin/volume/87/9/08-059220/en/
Martin A and Lemon SM, 2006. Hepatitis A virus. From discovery to Vaccines. Hepatology: Vol 45 No.2
Suppl 1, S164-S172.
Noer, Sjaifoellah H.M., Sundoro, Julitasari. 2007.Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi Pertama. Editor :
H. Ali Sulaiman. Jakarta: Jayabadi.
Penyakit Hepatitis B http://www.infopenyakit.com di akses tanggal 12 Juni 2013
Prevalensi Hepatitis A dan Demam Tifoid di Wilayah Jember, available
at : http://toothman.posterous.com/prevalensi-hepatitis-a-dan-demam-tifoid-di-widi akses tanggal
13 Juni 2013
Profil Kesehatan Kota Palembang 2009, Dinas Kesehatan Kota Palembang diakses
darihttp://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen35-37.pdf
Putri, Maretta. Hepatitis A. Journal [serial on the Internet]. 2008. Yogyakarta.Available
at:eprints.undip.ac.id
Pyrsopoulos N, Hepatitis B, [dikutip 7Februari2012], URL : http;//www.
emedicine.com/ped/topic982.htm
Sanityoso, A. 2009. Hepatitis Virus Akut.Buku Ajar Ilmu Penyakit DalamJilid I Edisi V. Jakarta.
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni
Siregar, Fazidah Aguslina. Hepatitis B Ditinjau dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pencegahan.
FKM USU. Jurnal onlinehttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3706/1/fkm-fazidah.pdf
Soemoharjo, Soewignjo. 2008. Hepatitis Virus B Edisi 2. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran ISBN
978-979-448-927-7
Sriwidodo. Cermin Dunia Kedokteran Simposium Penyakit Hati. Journal. [serial on the
Internet].1985.Available at: ebookbrowse.com/cdk-040- simposium-penyakit-hati-pdf-
d33750169
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasan. Jakarta :
Penerbit Erlangga