Anda di halaman 1dari 46

A.

Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel


Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ialah Pembangkit listrik yang menggunakan mesin diesel
sebagai penggerak mula (prime mover). Prime mover merupakan peralatan yang mempunyai fungsi
menghasilkan energi mekanis yang diperlukan untuk memutar rotor generator. Mesin diesel sebagai
penggerak mula PLTD berfungsi menghasilkan tenaga mekanis yang dipergunakan untuk memutar rotor
generator.
Motor diesel dinamai juga motor penyalaan kompresi (compression ignition engine) oleh karena cara
penyalaan bahan bakarnya dilakukan dengan menyemprotkan bahan baker kedalam udara bertekanan
dan temperature tinggi, sebagai akibat dari proses didalam ruang baker kepala silinder.
Selain motor diesel dikenal juga jenis motor baker lainnya yaitu motor bensin yang biasanya dinamai
motor penyalaan bunga api (spark ignition engine) oleh karena cara penyalaan bahan bakarnya dengan
pertolongan bunga api (listrik).

Jika dibandingkan dengan motor bensin, gas buang motor diesel tidak banyak mengandung komponen
beracun yang dapat mencemari udara. Selain dari pada itu pemakaian bahan baker motor diesel lebih
rendah (-/+ 25 %) dari pada motor bensin, sedangkan harganyapun lebih murah sehingga penggunaan
motor diesel umumnya lebih hemat dari pada motor bensin sebagai penggerak mesin industri. Ditinjau
dari sisi investasi harga, motor diesel umumnya lebih mahal dari motor bensin karena untuk kapasitas
mesin yang sama motor diesel harus dibuat dengan konstruksi dan berat yang lebih besar.

B. Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel


Pembangkit Listrik Tenaga Diesel biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah
beban kecil, terutama untuk daerah baru yang terpencil atau untuk listrik pedesaan dan untuk memasok
kebutuhan listrik suatu pabrik.

C. Bentuk dan Bagian-bagian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel


Perhatikan gambar Dibawah ini :

Gbr. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

Dari gambar di atas dapat kita lihat bagian-bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, yaitu :
1. Tangki penyimpanan bahan baker.
2. Penyaring bahan bakar.
3. Tangki penyimpanan bahan bakar sementara (bahan bakar yang disaring).
4. Pengabut (nozel)
5. Mesin diesel.
6. Turbo charger.
7. Penyaring gas pembuangan.
8. Tempat pembuangan gas (bahan bakar yang disaring).
9. Generator.
10. Trafo.
11. Saluran transmisi.
D. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
1. Bahan bakar di dalam tangki penyimpanan bahan bakar dipompakan ke dalam penyimpanan
sementara namun sebelumnya disaring terlebih dahulu. Kemudian disimpan di dalam tangki
penyimpanan sementara (daily tank).

Jika bahan bakar adalah bahan bakar minyak (BBM) maka bahan bakar dari daily tank dipompakan ke
Pengabut (nozzel), di sini bahan bakar dinaikan temperaturnya hingga manjadi kabut. Sedangkan jika
bahan bakar adalah bahan bakar gas (BBG) maka dari daily tank dipompakan ke convertion kit (pengatur
tekanan gas) untuk diatur tekanannya.

2. Menggunakan kompresor udara bersih dimasukan ke dalam tangki udara start melalui saluran masuk
(intake manifold) kemudian dialirkan ke turbocharger. Di dalam turbocharger tekanan dan temperatur
udara dinaikan terlebih dahulu. Udara yang dialirkan pada umumnya sebesar 500 psi dengan suhu
mencapai 600C.

3. Udara yang bertekanan dan bertemperatur tinggi dimasukan ke dalam ruang bakar (combustion
chamber).
4. Bahan bakar dari convertion kit (untuk BBG) atau nozzel (untuk BBM) kemudian diinjeksikan ke dalam
ruang bakar (combustion chamber).

1. Di dalam mesin diesel terjadi penyalaan sendiri, karena proses kerjanya berdasarkan udara murni
yang dimanfaatkan di dalam silinder pada tekanan yang tinggi (35 - 50 atm), sehingga temperatur di
dalam silinder naik. Dan pada saat itu bahan bakar disemprotkan dalam silinder yang bertemperatur dan
bertekanan tinggi melebihi titik nyala bahan bakar sehingga akan menyala secara otomatis yang
menimbulkan ledakan bahan bakar.
2. Ledakan pada ruang bakar tersebut menggerak torak/piston yang kemudian pada poros engkol
dirubah menjadi energi mekanis. Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan
mendorong torak yang dihubungkan dengan poros engkol menggunakan batang torak, sehingga torak
dapat bergerak bolak-balik (reciprocating).
Gerak bolak-balik torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol (crank shaft). Dan sebaliknya
gerak rotasi poros engkol juga diubah menjadi gerak bolak-balik torak pada langkah kompresi.
3. Poros engkol mesin diesel digunakan untuk menggerakan poros rotor generator. Pada generator
energi mekanis ini dirubah menjadi energi listrik sehingga terjadi gaya gerak listrik (ggl).
Ggl terbentuk berdasarkan hukum faraday. Hukum faraday menyatakan bahwa jika suatu penghantar
berada dalam suatu medan magnet yang berubah-ubah dan penghantar tersebut memotong gais-garis
gaya magnet yang dihasilkan maka pada penghantar tersebut akan diinduksikan gaya gerak listrik.
4. Tegangan yang dihasilkan generator dinaikan tegangannya menggunakan trafo step up agar energi
listrik yang dihasilkan sampai ke beban. Prinsip kerja trafo berdasarkan hukum ampere dan hukum
faraday yaitu arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan medan magnet dapat menimbulkan arus
listrik.
Jika pada salah satu sisi kumparan pada trafo dialiri arus bolak-balik maka timbul garis gaya magnet
berubah-ubah pada kumparan terjadi induksi. Kumparan sekunder satu inti dengan kumparan primer
akan menerima garis gaya magnet dari primer yang besarnya berubah-ubah pula, maka di sisi sekunder
juga timbul induksi, akibatnya antara dua ujung kumparan terdapat beda tegangan.

5. Menggunakan saluran transmisi energi listrik dihasilkan/dikirim ke beban. Di sisi beban tegangan listrik
diturunkan kembali menggunakan trafo step down (jumlah lilitan sisi primer lebih banyak dari jumlah lilitan
sisi sekunder).

Pembangkit Listrik tenaga diesel adalah pembangkit tenaga listrik dengan penggerak utama (prime
mover) mesin diesel, untuk memutar generator.

E. Skema Pembangkit Listrik Tenaga Diesel


Berikut ini adalah skema dasar dalam pembangkit listrik tenaga diesel.

Secara umum, skema di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:


a) Untuk melakukan pembakaran opmtimal pada diesel engine, maka diperlukan Oksigen dari udara di
sekitar. Disinilah peran air filter yang fungsinya untuk menyaring udara yang masuk ke turbocharger dan
enginer.

b) Di dalam diesel engine, solar yang dipakai sebagai bahan bakar, menghasilkan energi untuk memutar
generator yang kemudian menghasilkan listrik yang dihubungkan ke trafo dan gardu listrik.

c) Pada proses PLTD satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah sistem pendingin pada minyak
pelumasan mesin (sistem yang sama dipakai pada kendaraan bermotor). Sistem pendingin yang dipakai
biasanya adalah sistem heat exchanger dan sistem radiator atau kedua sistem ini digabungkan.

d) Heat exchanger adalah sistem pendingin minyak pelumas, dimana air digunakan sebagai sarana
pendingin. Proses heat exchanger ini memiliki konsep yaitu, air pendingin dialirkan terus dari sumber air
terdekat seperti danau, sungai ataupun kolam buatan.
Air terus dialirkan secara konstan melalui pipa-pipa yang kemudian dihubungkan dengan pipa minyak
pelumas. Pada aplikasi tertentu, pipa air pendingin ini akan menyelimuti pipa minyak pelumas, sehingga
terjadi perpindahan suhu tinggi dari minyak ke suhu rendah (heat exchanging) dari air, yang
menyebabkan suhu minyak menjadi berkurang.

Sedangkan air yang memiliki suhu yang lebih tinggi akan dialirkan kembali menuju sumber air. Berikut
seterusnya sistem ini bekerja.

e) Sedangkan untuk sistem pendingin radiator (aplikasi yang sama pada kendaraan bermotor), minyak
pelumas didinginkan dengan menggunakan kipas radiator.
Dimana pada sistem ini mengaplikasikan konsep perpindahan suhu melalui radiasi, kipas radiator yang
terus berputar akan menghasilkan angin untuk mendinginkan minyak pelumas.

Telaah Staf ( Sistem Udara Masuk dan Gas Buang pada Mesin Diesel MAN
500 kW )

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
OJT (On the Job Training) adalah tahap akhir dari proses Diklat Prajabatan / Program
Beasiswa Ikatan Dinas PT PLN (Persero), yang dilaksanakan setelah para peserta yang
bersangkutan selesai mengikuti Diklat Pembidangan atau selesai menempuh pendidikan di
Sekolah Tinggi Teknik PLN dan Udiklat PT PLN (Persero) Bogor. Melelaui OJT ini para peserta
akan diperkenalkan kepada situasi dan kondisi pekerjaan lapangan. Pelaksanaan OJT
menggunakan fasilitas dan peralatan kerja Unit Kerja di PT PLN (Persero) penyelenggara OJT,
dengan dibimbing oleh Mentor yang berasal dari unit dimana peserta OJT ditempatkan.
Laporan ON THE JOB TRAINING (OJT) ini akan membahas tentang System Udara
Masuk dan Gas Buang. Penulis mengambil judul ini di karenakan sistem ini sangat diperlukan
dalam proses pembakaran, dimana udara tersebut diambil langsung dari udara atmosfir. Sistem
udara masuk ini berfungsi menyediakan udara bersih yang cukup untuk proses pembakaran
bahan bakar didalam silinder.
System udara masuk merupakan ciri khas motor diesel, karena panas yang diperoleh
motor diesel untuk pembakaran tidak melalui bunga api listrik (spark plug) akan tetapi dari panas
yang timbul karena udara yang dipampatkan didalam ruang bakar. Untuk itu pada langkah hisap
motor torak 4 tak, yang dihisap berupa udara murni. Kelancaran distribusi udara masuk dan gas
buang sangat menentukan hasil pembakaran yang secara langsung akan mempengaruhi
kemampuan mesin untuk memikul beban yang berubah-ubah.
1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanan OJT adalah pada PLTD Sentawar Ranting Melak Cabang Samarinda
dari tanggal 1 APRIL 2010 sampai tanggal 30 JUNI 2010.
1.3 Identifikasi Masalah
Pemeliharan rutin untuk membersihkan Filter Udara dan kotoran (karbon) dalam
Turbocharger sangat penting, karena kotoran yang terlalu menumpuk dapat mengurangi proses
udara masuk dalam silinder yang tidak maksimal, sehingga tidak terjadi pembakaran yang
sempurna.
1.4 Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai pengertian bahwa betapa
pentingnya system Udara Masuk dan Gas Buang sebagai sarana pendukung sebuah unit PLTD,
dan agar di kemudian hari dapat mengoperasikan dan melaksanakan pemeliharaan system ini
sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure) sehingga dapat menjaga keandalan sistem
tersebut.

1.5 Manfaat
Agar pembaca yang menyimak dapat dijadikan sebagai refrensi dalam hal
pengoperasian dan pemeliharaan System Udara Masuk dan Gas Buang pada SPD (Satuan
Pembangkit Diesel).
1.6 Batasan Masalah
Dalam penjelasan masalah tentang Sistem Udara Masuk dan Gas Buang terdapat
batasan-batasan masalah. Adapun batasan-batasan masalah tersebut mencakup :
1. Prinsip kerja dan alur sirkulasi pada System Udara Masuk dan Gas Buang
2. Bagian-bagian serta fungsi dari System Udara Masuk dan Gas Buang
1.7 Sitematika Penulisan
Bab I Pendahuluan, meliputi:
Latar Belakang: berisi uraian apa dan mengapa topik yang dipilih tersebut mempunyai arti
penting.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan : waktu dan tempat berlangsungnya kegiatan OJT
Identifikasi Masalah: merumuskan masalah-masalah yang mungkin timbul dari topik yang
dipilih.
Tujuan: merumuskan tujuan utama dari masalah yang telah dipilih.
Manfaat : kegunaan dari hasil yang diharapkan.
Batasan Masalah: memilih masalah dari kemungkinan yang ada serta argumentasi.
Sistematika Penulisan.

Bab II Tinjauan Umum Perusahaan , meliputi tentang sejarah perkembangan perusahaan, visi
misi dan motto perusahaan dan sebagainya.
Bab III Proses, berupa rangkaian penjelasan prinsip kerja, alur System Udara Masuk dan Gas
Buang serta bagian-bagian dan fungsi dari System Udara Masuk dan Gas Buang.
Bab IV Penutup, berisi kesimpulan menyeluruh dari hasil serta saran-saran untuk perbaikan
atau aspek lain yang perlu dikaji lebih lanjut. Isinya harus sesuai dengan tujuan pada bab
pendahuluan dan analisis serta diskusi yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya.
Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan Listrik Negara
Kelistrikan di Indonesia dimulai pada abad ke19, pada saat beberapa perusahaan milik
Belanda, antara lain pabrik gula dan teh mendirikan pembangkit tenaga listrik yang dipergunakan
untuk keperluan sendiri. Setelah Belanda menyerah kepada jepang maka perusahaan kelistrikan
dikuasai oleh Jepang.
Dan pada tanggal 17 agustus 1945 merdeka maka dengan itu segala infrastruktur
dikuasai oleh Indonesia termasuk perusahaan kelistrikan,setelah itu dibentuklah jawatan listrik
dan gas dibawah Departemen pekerjaan umum dan Tenaga sesuai peraturan pemerintah tahun
1945 No. I/SD tanggal 27 Oktober 1945
Dengan adanya Agresi Belanda I dan II sebagian besar perusahaan perusahaan listrik
Negara dikuasai kembali oleh Pemerintah Belanda. Pegawai pegawai yang tidak mau
bekerjasama kemudian mengungsi dan mengabungkan diri pada kantor Jawatan Listrik dan Gas
di daerah daerah Republik Indonesia yang bukan daerah pendudukan Belanda untuk
meneruskan pejuangan. Para pemuda kemudian mengajukan MOSI yang kemudian dikenal
dengan MOSI Kobarsyih tentang nasionalisasi perusahaan listrik dan swasta kepada Parlemen
Republik Indonesia. Selanjutnya dikeluarkan keputusan Presiden Republik Indonesi No. 163,
tanggal 3 Oktober 1953 tentang nasionalisasi Perusahaaan Listrik milik Bangsa Asing di
Indonesia apabila waktu konsesinya habis.
Sejalan Dngan meningkatnya perjuangan Indonesia untuk membebaskan Irian Jaya dari
cengkraman Penjajah Belanda maka dikeluarkan Undang Undang No.86 tahun 1958 yang
disahkan tanggal 27 Desember 1958 tentang nasionalisasi perusahan Listrik dan Gas milik
Belanda. Dengan UU tersebut maka seluruh Perusahaan Listrik dan Gas berada di tangan Bangsa
Indonesia.
Sejarah ketenagalistrikan di Indonesia mengalami pasang surut, sejalan dengan pasang
surutnya perjuangan Bangsa. Tanggal 27 Oktober 1945 kemudian dikenal dengan Hari Listrik
dan Gas, hari tersebut telah diperingati untuk pertama kalinya pada tanggal 27 Oktober 1946
bertempat di Gedung Badan Pekerja Komite Nasional Pusat ( BPKNIP ), Yogyakarta. Penetapan
secara resmi tanggal 28 Oktober 1945 sebagai Hari Listrik dan Gas berdasarkan keputusan
menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga No.20 tahun 1960, namun kemudian berdasarkan
keputusan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik No.235 / KPTS / 1975 tanggal 30
September 1975. Peringatan Hari Listrik dan Gas digabungkan dengan Hari kebangkitan
Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang jatuh pada tanggal 3 Desember. Maka berdasarkan
keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.1134.K / 43 / PE / 1992 tanggal 31 Agustus
1992. Oleh karena itu ditetapkan tanggal 27 Oktober 1992 sebagai Hari Listrik Nasional.

2. 2 Visi, Misi, Motto, Budaya dan Kompetensi Inti Perusahaan Listrik Negara
PT PLN mempunyai visi dan misi dalam menjalankan tugas-tugasnya dan dalam
menghadapi era globalisasi saat ini.
Visi PLN, yaitu:
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang unggul, dan
terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
Misi PLN, yaitu:
a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, serta berorientasi pada kepuasan
pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.
b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Motto PLN, yaitu :


Listrik Untuk Kehidupan yang Lebih Baik
( Electricity for a better life )
Budaya PLN, yaitu :

1. Saling percaya 3. Peduli

2. Integritas 4. Pembelajar

Kompetensi Inti Karyawan PLN, yaitu :


1. Integritas
2. Melayani pelanggan
3. Orientasi pada pencapaian
4. Pembelajaran
5. Adaptasi

2.3 Proses Bisnis dan Struktur Organisasi PT PLN Ranting Melak


Adapun proses bisnis yang ada di PT. PLN (Persero) Ranting Melak meliputi beberapa
fungsi antara lain :
Fungsi Pelayanan Pelanggan, yang merupakan gerbang utama dari proses bisnis PLN yang
mengurusi Pasang Baru, Tambah Daya, pengaduan pelangganan dll yang berkaitan dengan
pelanggan.
Fungsi Pembacaan Stand KWH Meter, di sisi pelanggan yang dilakukan oleh pencatat meter.
Fungsi Pembuatan Rekening yang dilakukan oleh bagian pengolahan data dan tugas pokok ini
langsung diambil alih oleh PT. PLN Cabang Samarinda.
Fungsi Pembukuan, yaitu membukukan berapa banyak rekening yang tercetak dan terjual setiap
bulannya yang tugas dan tanggung jawab ini di emban oleh Supersivor Keuangan dan
Administrasi.
Fungsi Penagihan, yaitu proses penjualan rekening.
Fungsi Pengawasan Kredit, yaiu proses mengevaluasi rekening-rekening yang belum terjual dan
penunggakan pembayaran rekening dengan salah satu caranya dengan mengadakan pemutusan
aliran listrik ke pelanggan sementara sampai pelanggan mau membayar rekening.
Fungsi Pembangkitan,yaitu proses membangkitkan listrik untuk disalurkan kepada pelanggan.

Adapun struktur organisasi Ranting Melak terdiri dari :


Manager Ranting yang membawahi Bagian Pelayanan Pelanggan dan Pendapatan, Supervisor
Keuangan dan Administrasi, Supervisor Distribusi dan Supervisor Pembangkitan Dan Kepala
ULD.
Pelayanan Pelanggan dan Pendapatan yang membawahi bagian bagian Survey dan
penerimaan PB, PD, SK dan Pengaduan, bagian kasir PB/PD, bagian pembukuan pelanggan dan
bagian pengarsipan serta yang membawahi bagian Paymentpoint (tempat pembayaran
rekening). Bagian loket mobil.
Supervisor Keuangan dan Administrasi yang membawahi bagian kasir rayon, bagian
pembukuan kas biaya, bagian pembukuan kas pendapatan dan sekretaris manager rayon.
Supervisor Pembangkitan yang membawahi ,regu pemeliharaan dan Operator.
Supervisor Distribusi yang membawahi regu gangguan jaringan listrik,penyambungan APP
dan bagian putus sambung (TusBung).

2.4 Batas-Batas Pengusahaan PT. PLN (Persero) Ranting Melak


Wilayah PT PLN Ranting Melak hanya menyediakan listrik untuk di Kabupaten Kutai
Barat. Untuk menyediakan kebutuhan pasokan listrik yang andal PLN Ranting Melak
mempunyai 10 ULD diantaranya :
ULD Barong Tongkok yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening untuk
wilayah Barong dan sekitarnya.
ULD Linggang Bigung yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening di wilayah
Linggang Bigung dan sekitarnya.
ULD Lambing-Damai, yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening wilayah
Lambing-Damai dan sekitarnya.
ULD Muara Pahu, ULD Long Iram,ULD Datah Bilang, ULD Ujoh Bilang,ULD Dilang Putih,
ULD Kelumpang, dan ULD Sang-Sang yang juga merupakan pembangkit dan loket pembayaran
yang melayani daerah yang terisolasi.
Dengan adanya ULD ini diharapkan seluruh Kecamatan dapat dialiri pasokan listrik yang
baik dari Ranting Melak.

BAB III
PROSES ( ISI MATERI )
3.1 Gambaran Umum Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
PLTD adalah pembangkit listrik yang menggunakan mesin diesel sebagai prime over atau
penggerak mula yang di kopel (couple) dengan generator, generator berfungsi mengkonversi
energi mekanik dari mesin diesel menjadi energi listrik.Generator sendiri merupakan bagian
dimana gaya-gaya listrik di bangkitkan. Terdiri dari stator dan rotor, stator yang berupa lilitan
konduktor memotong medan magnet pada rotor yang berputar, sehingga timbul gaya gerak
listrik. Rotor dalam penguatan medan magnetnya menggunakan arus DC (Direct current) yang di
suplai exciter. Exciter biasanya terletak satu poros dengan generator. Sama seperti generator,
exciter juga terdiri dari stator dan rotor, tetapi output yang di hasilkan akan di ubah menjadi arus
DC oleh sebuah rectifier untuk penguatan medan magnet pada rotor generator.
Pada umumnya mesin diesel terbagi atas 2 jenis, 4 tak (langkah) dan 2 tak, namun seiring
jalannya waktu yang memerlukan efesiensi energi, mesin diesel 2 tak mulai ditinggalkan karena
tidak efisien baik dari daya yang di hasilkan maupun emisi gas buang yang di hasilkan terlalu
besar dan mencemari lingkungan.Sehingga mesin diesel 4 tak yang sampai sekarang masih terus
digunakan dan di kembangkan karena lebih efisen daripada mesin diesel 2 tak.
Mesin diesel 4 tak memiliki prinsip kerja untuk melakukan 1 kali proses, terjadi 4
langkah dan 2 putaran crank shaft (poros engkol). Lebih simplenya dalam hal efisiensi, mesin
diesel 4 tak hanya membutuhkan 1 kali pembakaran untuk 2 kali putaran crank shaft, berbeda
dengan mesin diesel 2 tak yang 1 kali pembakaran hanya menghasilkan 1 putaran crank shaft.
Langkah-langkah kerja mesin 4 tak di jelaskan lebih rinci dengan gamabar di bawah ini.
1. Langkah Isap
Gambar 2. Langkah Isap
Pada langkah ini yang terjadi adalah udara masuk ke dalam silinder, katup isap membuka
dan udara dari saluran udara masuk melalui katup isap, piston (torak) bergerak menuju TMB
(titik mati bawah). Pada mesin diesel besar biasanya terdapat turbocharge yang berfungsi untuk
menambah jumlah udara yang masuk ke silinder agar daya yang di hasilkan mesin maksimal.
Turbocharge adalah turbin yang digerakan oleh panas gas buang, turbin ini memutar blower
bertekanan rendah untuk menghisap udara luar masuk ke dalam saluran udara dan masuk ke
silinder-silinder. Turbocharge ini meningaktkan efisiensi kalor yang di gunakan dari hasil
pembakaran.
2. Langkah Kompresi
Gambar 3. Langkah Kompresi
Pada langkah ini, udara yang masuk pada langkah isap di kompresi, piston bergerak dari
TMB menuju TMA (titik mati atas), sehingga udara menagalami pemampatan atau terkompresi.
Kedua katup tertutup, baik katup isap maupun katup buang.Udara yang terkompresi ini
mengalami kenaikan suhu dan tekanan, karena molekul-molekul pada udara bergesekan pada
saat di kompresi,sehingga terjadi kenaikan suhu. Pada mesin diesel, perbandingan kompresinya
besar, karena perbandingan kompresi yang besar mengahasilkan panas yang lebih besar pula
pada udara kompresi, panas ini lah yang dapat membakar bahan bakar, karena mesin diesel tidak
memilik pematik api seperti halnya pada mesin yang menggunakan bahan bakar bensin.
3. Langkah Usaha
Gambar 4. Langkah Usaha
Pada langkah ini yang terjadi adalah pembakaran pada ruang bakar.Keadaan katup baik isap
maupun buang tertutup. Udara terkompresi yang memiliki suhu dan tekanan tinggi pada volume
sisa hasil dari langkah kompresi akan disemprotkan bahan bakar oleh nozzle berupa partikel-
partikel kecil, hal ini agar bahan bakar mudah di terbakar. Oleh karena itu bahan bakar dari
pompa bahan bakar di alirkan menuju nozzle terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang bakar, di
dalam nozzle ini terjadi pemampatan bahan bakar kira-kira antara 350-380bar, keluar dari nozzle
bahan bakar berupa kabut atau partikel-partikel yang sangat kecil.Partikel-partikel kecil bahan
bakar ini bercampur udara bersuhu tinggi sehingga terbakar.Terjadi perubahan suhu dan tekanan
yang sangat tinggi sehingga menekan piston menuju TMB, langkah ini yang di namakan langkah
usaha.

4. Langkah buang
Gambar 5. Langkah Buang
Pada langkah ini yang terjadi adalah pembuangan udara gas sisa-sisa hasil
pembakaran.Piston bergerak menuju ke TMA dan katup buang terbuka dan gassisa-sisa hasil
pembakarankeluar melalui katup yang katup buang.Pada langkah ini juga terjadi overlapping,
yaitu keadaan katup isap yang mulai membuka sebelum katup buang menutup sepenuhnya.
Dalam pengoperasiannya, sebuah unit PLTD memiliki alat bantu yang masing-masingnya
memiliki tugas dalam sebuah sistem. Sistem-sistem yang terdapat pada PLTD adalah sistem
pendinginan (cooling), sistem pelumasan (lubricating), sistem bahan bakar (fuel)dan sistem-
sistem lainnya. Fungsi dari sistem bahan bakar adalah sistem yang tugasnya mensuplai bahan
bakar sampai masuk ke dalam silinder, sistem pendinginan adalah menjaga keadaan mesin agar
tidak overheating, dan sistem pelumasan berfungsi menjaga komponen-komponen mesin yang
saling bergesekan dari keausan (sebagai film).

3.2 Gambaran Umum Sistem Udara Masuk dan Gas Buang PLTD Sentawar
Sistem udara masuk dan gas buang merupakan saluran yang mengarahkan aliran udara
masuk kedalam masing-masing silinder dan sisa hasil pembakaran dari masing-masing silinder
agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga udara sangat diperlukan dalam proses
pembakaran, dimana udara tersebut diambil langsung dari udara atmosfir. Sistem udara masuk
ini berfungsi menyediakan udara bersih yang cukup untuk proses pembakaran bahan bakar dalam
silinder. Pada PLTD Sentawar, baik pada mesin MAN maupun DEUTZ, system udara masuknya
menggunakan system turbocharger yang terdiri dari Turbin, Blower dan Intercooler.

Filter Udara
Blower
Turbin
Udara Masuk

Gas Buang
Intercooler
Exhaust Manipold

ENGINE
Intake Manipold

Gambar Sistem Aliran Udara Masuk Gas Buang Turbocharger


Sistem turbocharger memanfaatkan gas buang yang keluar dari silinder untuk memutar
turbin yang dikopel langsung dengan poros blower. Selanjutnya blower tersebut menghisap udara
masuk kesilinder.
Dengan temperature udara yang tinggi yang keluar dari Blower, maka udara tersebut
perlu didinginkan. Udara tersebut didinginkan dengan menggunakan Intercooler sebelum masuk
ke silinder lalu masuk kedalam radiator untuk didinginkan kembali. Kemudian udara dari
intercooler masuk ke intake manifold, selanjutnya udara tersebut masuk keruang bakar untuk
selanjutnya dikompresi. Pada akhir kompresi bahan bakar diinjeksikan kedalam silinder sehingga
terjadi proses pembakaran antara bahan bakar dan udara. Gas hasil pembakaran dimanfaatkan
untuk memutar turbin pada system turbocharger selanjutnya dibuang ke exhaust, silinder,
cerebong terus keudara luar.
Yang termonitor pada system udara masuk dan gas buang adalah :
a. Temperature udara masuk
b. Temperature gas buang

3.3 Bagian-Bagian Sistem Udara Masuk dan Gas Buang


1. Turbocharger
Gambar. Turbocharger
Fungsi turbocharger adalah untuk memberikan tekanan udara masuk yang lebih tinggi sehingga
tekanan kompresi naik, maka pembakaran dapat terjadi dengan sempurna dan daya mesin lebih
besar (untuk ukuran mesin yang sama). Dalam Turbocharger terbagi dua yaitu Blower dan
Turbin. Blower berfungsi untuk menghisap udara luar masuk kesilinder. Sedangkan turbin untuk
memutar blower.
Cara kerja turbocharger yaitu gas buang memutarkan turbin, keporos dengan blower,
berputar memasukan udara baru.
Yang harus diperhatikan pada turbocharger :
- Pelumasan turbocharger
- Tingkat kebersihan turbin dan blower
- Kelonggaran sudut dan rumah keong
- Putaran poros turbocharger
- Temperature gas buang
2. Filter Udara (air cooler)
Filter udara (air cooler) untuk membebaskan udara dari kotoran, debu, pasir, dan benda-benda
lain yang merusak silinder.
Yang harus diperhatikan pada filter udara (air cooler) :
- Tingkat kebersihan penyaring
- Tingkat kerapatan bahan penyaring
- Kelembaban udara disekitsr

Gambar. Filter udara (air cooler)


3. Pendingin Udara (inter cooler)
Pendingin Udara (intercooler) berfungsi untuk menbdinginkan udara yang masuk kedalam ruang
bakar agar berat jenis udara tersebut akan bertambah. Cara kerja inter cooler yaitu udara dari
blower bersinggungan dengan pipa air pendingin, sehingga panas dari udara terserap oleh air.
Yang harus diperhatikan pada inter cooler adalah :
- Tingkat kebersihan saluran air pendingin
- Tingkat kebersihan saluran udara
- Kualitas air pendingin
- Kebocoran pipa air pendingin
Gambar. pendingin udara (inter cooler)
4. Intake Manifold (saluran udara masuk)
Intake manifold sebagai tempat masuknya udara masuk sebelum kesilinder.
Gambar. intake manipold
5. Exhaust manifold (saluran gas buang)
Exhaust manipold sebagai tempat keluarnya gas buang setelah pembakaran.
Gambar. Exhaust manipold

6. Expantion Joint (Peredam getar)


Expantion joint berfungsi untuk meredam getaran dari mesin kecerobong.
Gambar. Expantion joint (peredam getar)
7. Silencer, Silinder dan cerobong
Silencer berfungsi Untuk meredam suara gas buang yang keluar dari ruang bakar sehingga mesin
tidak bising.
Gambar. Silinder dan cerobong
3.4 Prosedur Pengopersian dan Pemeliharaan Sistem Udara Masuk dan Gas
Buang
A. Pemeliharaan Turbocharger
Adapun langkah-langkah kerja yang harus dilakukan dalam pemeliharaan dan Udara
Masuk dan Gas Buang agar dapat maksimal yaitu :
1. Persiapan
a. Menyiapkan seluruh perlengkapan / alat
b. Melepas filter udara beserta casing dan seluruh pipa-pipa air pendingin serta pipa-pipa oli masuk
/ keluar turbocharger
c. Melepas baut penghubung turbocharger dengan exhaus manipold, intek manipold dan dudukan
pada bodi mesin
d. Mengangkat turbocharger dari mesin
2. Memisahkan Casing Compresor dan Casing Turbin
a. Melepas compresor casing dengan membuka baut memakai kunci 17 mm
b. Membuka baut penahan compresor whell sambil menahan baut pada sisi turbin dengan kunci L
19 dan memasang pengail untuk memasang tali
c. Mencabut seluruh komponen compresor dan turbin dari casing turbin
3. Memisahkan turbin dengan compresor
a. Melepas pengail dan memanasin blower compresor untuk memudahkan pencabutan
b. Mencabut bearing casing componen dengan trek 2 kaki
4. Membuka bearing turbocharger
a. Melepas ring clip dengan tang pencabut dalam
b. Mencabut bearing cover dengan kedua obeng min sambil diayun ayunkan
c. Melepas baur penahan bearing pada sisi samping dengan kunci L
d. Melepas satu persatu komponen hingga bearing turbocharger
5. Pembersihan dan pengukuran
a. Membersihkan seluruh komponen turbocharger
b. Mengukur bearing trurbocharger, trust bearing turbocharger, dan ring piston turbocharger sesuai
manual book.
6. Pemasangan
a. Memasang ring piston turbocharger pada as turbo
b. Memasang main bearing, trust bearing dan komponen lainnya kecasing bearing dan dikunci
dengan bautnya
c. Memasang cover bearing dan dikunci dengan circlip
d. Menyatukan as turbo dengan bearing casing, blower compresor, diikat dengan baut
e. Memasang kembali turbocharger ke turbin casing
f. Mengencangkan kembali baut penahan blower compresor dengan kunci momen dan mengecek
arah axsial dan radial
g. Memasang kembali casing compresor dan mengencangkan baut-baut penahannya
h. Mengecek kembali putaran turbocharger jika dirasa tidak ada ganjalan, maka hasil pemasangan
as turbocharger baik, jika terasa keras membuka kembali dan mengecek posisi turbin dengan
casingnya
i. Memasang kembali turbocharger set pada dudukan mesin
j. Memasang kembali axhaust manipold, intek manipold dan pipa-pipa air pendingin turbocharger
dan pipa oli
k. Memasang casing filter udara dan filter udara
7. Test Mesin
a. Start mesin hingga running
b. Mengamati gas buang dan parameter yang ada, jika gas buang yang keluar tak terlalu hitam dan
putih maka mesin siap dioperasikan.
8. Pembersihan seluruh alat, tempat dan mesin.

3.5 Peralatan Kerja yang digunakan pada saat melaksanakan


pemeliharaan dan pengoperasian pada SPD (Satuan Pembangkit Diesel) :
1.Peralatan Kerja
a. Tool Set Lengkap berfungsi sebagai alat bantu dalam melakukan pekerjaan.
Gambar. Tool Set Lengkap
2. Perlengkapan K3
a. Sarung Tangan Isolasi berfungsi sebagai pelindung tangan saat melakukan pekerjaan.

Gambar. Sarung Tangan Isolasi


b. Helm Pengaman standar berfungsi sebagai pelindung kepala dari sentuhan listrik dan sebagai
pelindung dari kejatuhan dan benturan benda keras.

Gambar. Helm Pengaman Standar


c. Sepatu Isolasi berfungsi sebagai pelindung kaki pasa saat melakukan pekerjaan.

Gambar. Sepatu Safety

d. Pakaian kerja (wear pack) berfungsi sebagai pelindung anggota badan

Gambar. Pakaian kerja


e. Ear plug berfungsisebagai penutup telinga

Gambar. Ear Plug


e. Kotak P3K lengkap berfungsi sebagai alat untuk penolongan pertama jika terjadi suatu
kecelakaan dalam pekerjaan.

+ P3K
Gambar. Kotak P3K
f. Kacamata Pengaman berfungsi sebagai pelindung mata saat melakukan pekerjaan.

Gambar. Kaca Mata Pengaman


g. Tanda Peringatan berfungsi untuk mengamankan lokasi pekerjaan dari masyarakat sekitar agar
tidak mendekat dari lokasi pekerjaan yang juga dipakai sebagai tanda peringatan dan batas
daerah pekerjaan.
AWAS . . . ! ! ! JANGAN DIMASUKAN SEDANG
DIKERJAKAN
Gambar. Tanda Peringatan
3. Material
a. Lap c. Ember
b. Sabun d. Air
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil dari pembahasan ini meliputi :
1. Sistem Udara masuk dan Gas Buang sangat membantu memaksimalkan operasi SPD (Satuan
Pembangkit Diesel)
2. Dalam mengoperasikan dan pemeliharaan system udara masuk dan gas buang, SOP (Standart
Operation Procedure) harus dilaksanakan agar dapat beroperasi dengan baik
4.2 Saran
Untuk mengakhiri penulisan Tugas Akhir ini, penulis ingin memberikan saran
diantaranya :
1. Dalam pemeliharaan dan pengopersian mesin selalu dilakukan sesuai SOP (Standart Operation
Procedure)
2. Peserta OJT hendaknya diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan pemeliharaan
dan pengoperasian mesin sebagai upaya peningkatan kemampuan dan keahlian di bidang
tersebut dengan tetap mendapatkan pengawasan dari yang lebih ahli/senior.

Keandalan sebuah SPD berkat pengoptimalisasi pola operasi dan juga dukungan antara sesi
pemeliharaan dan operasi.

PT PLN (PERSERO) WILAYAH NTT


AREA FLORES BAGIAN TIMUR
TELAAHAN STAF

NAMA : ALFODIO REYNALDO NGGOLUT


NO.TEST : 2400004
JABATAN : SISWA OJT

JUDUL : OPTIMALISASI POLA OPERASI


UNTUK MENINGKATKAN
EFISIENSI PEMBANGKITAN

TAHUN 2014

LEMBAR PENGESAHAN

: OPTIMALISASI POLA OPERASI


UNTUK MENINGKATKAN
EFISIENSI PEMBANGKITAN

NAMA : ALFODIO REYNALDO NGGOLUT


NO.TEST : 2400004
JABATAN : SISWA OJT
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kegiatan yang berjudulOPTIMALISASI
POLA OPERASI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMBANGKITAN.
Banyak bantuan serta bimbingan yang penulis dapatkan dalam menyelesaikan laporan
kegiatan ini. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kedua Orang tua, keluarga dan orang-orang tercinta
2. Ibu Tige B. Kale, selaku Manajer PT. PLN (Persero) Area Flores Bagian Timur.
3. Bapak Philipus Fernandes, selaku Asman Pembangkit PT. PLN (Persero) Area Flores Bagian
Timur.
4. Bapak Isakh Aliasar, sebagai Manajer Pusat Listrik Maumere dan sebagai mentor dari penulis.
5. Bapak I Made Agus Riadi, sebagai Supervisor Harkit Pusat Listrik Maumere
6. Bapak Halludin, sebagai Supervisor Opkit Pusat Listrik Maumere
7. Seluruh pegawai di bagian Harkit dan Opkit, Outsourching dan rekan OJT di PT. PLN (Persero)
Pusat Listrik Maumere.
Segala kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan Laporan
Pelaksanaan OJT ini. Semoga Laporan Pelaksanaan OJT ini bermanfaat bagi kita semua.

Maumere, Agustus
2014
Penulis

Alfodio R. Nggolut

DAFTAR ISI
LEMBAR
JUDUL ...............................................................
............................... i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ...... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL .............................................................................................. v
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................ vii
BAB I. LATAR BELAKANG ........................................................................... 1
BAB II. PERMASALAHAN ............................................................................. 2
BAB III. PERSOALAN .................................................................................... 3
BAB IV. PRA ANGGAPAN ............................................................................. 4
BAB V. FAKTA YANG MEMPENGARUHI ................................................ 5
5.1 Pengoperasian SPD ........................................................................ 5
5.2 Pola Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ........................... 6
5.3 Umur Mesin ................................................................................... 7
5.4 Nilai SFC ....................................................................................... 7
5.5 Peraturan Pemerintah .................................................................... 8
5.6 SK Direksi PLN ............................................................................ 8
5.7 Target Kinerja ............................................................................... 9
BAB VI. PEMBAHASAN ............................................................................. 10
6.1. Langkah langkah peningkatan efisiensi mesin pembangkit ..... 10
6.2. Keuntungan dari pembuatan dan pelaksanaan Pola Operasi
. Secara konsisten ................................................................................... 13
BAB VII KESIMPULAN ............................................................................... 15
BAB VIII TINDAKAN YANG DISARANKAN ......................................... 16
REFERENSI
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Trget Kinerja Pusat ListrikMaumere .................................................... 9
Tabel 6.1 Data Mesin dan Nilai SFC ................................................................... 10
Tabel 6.2 Data Mesin dan Nilai SFC berdasarkan Prioritas ................................ 11
Tabel 6.3 Tabel Pola Operasi Lama ..................................................................... 12
Tabel 6.4 Tabel Pola Operasi Baru ...................................................................... 12
Tabel 6.5 Tabel Nilai Tambah Dari Perbaikan Pola Operasi ............................... 13

DAFTAR GRAFIK
Gambar 6.1 Grafik Beban Harian ....................................................................... 11
ABSTRAK
Untuk mengukur mutu kinerja suatu pembangkit listrik tenaga diesel, khususnya Efisiensi pemakaian
bahan bakar digunakan parameter Specific fuel Comsumption (SFC). Biaya operasi terbesar dari sebuah PLTD
adalah penyediaan bahan bakar minyak. Melihat kondisi tersebut, sebagaimana halnya di Pusat Listrik
Maumere diperlukan suatu terobosan penghematan biaya operasi melalui suatu kajian dan analisa untuk dapat
mencapai nilai ekonomis dari pemakaian bahan bakar mesin yang optimal dan efisien, salah satunya adalah
dengan optimalisasi pola operasi mesin pembangkit.
Dengan perencanaan dan penerapan pola operasi yang mengacu pada urutan prioritas SFC masing masing
mesin pembangkit yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan serta didukung dengan kualitas
Sumber Daya Manusia yang berkompeten , maka efisiensi pemakaian BBM dapat tercapai.
Kata kunci : Pola Operasi, SFC, efisiensi.

BAB I
LATAR BELAKANG

Pengoperasian pembangkit tenaga listrik yang handal dan efisien akan menunjang
pelayanan yang prima kepada semua konsumen pemakai jasa kelistrikan. Untuk
menjaga keandalan dan efisiensi suatu pembangkit maka perlu disusun suatu perencanaan sistem
kelistrikan baik dari segi operasi, pemeliharaan maupun menyiapkan mutu dan kualitas Sumber
Daya Manusia yang kompeten sesuai bidangnya.
Pusat Listrik Maumere merupakan PLTD terbesar di PT. PLN (Persero) Area Flores
Bagian Timur, dengan beban puncak sistem kurang lebih 10.480 KW dengan daya mampu
pembangkit sebesar 10.950 kW terdiri dari pembangkit milik PLN 4.450 kW dan pembangkit
sewa 6.500 kW. Untuk mengukur mutu kinerja suatu pembangkit listrik tenaga diesel, khususnya
Efisiensi pemakaian bahan bakar digunakan parameterSpecific fuel Comsumption
(SFC), Efisiensi merupakan suatu hal yang penting karena menyangkut
biaya operasi. Biaya operasi terbesar dari sebuah PLTD adalah penyediaanbahan bakar minyak.
Oleh karena itu untuk membantu meningkatkan efisiensi pemakaian Bahan
Bakar dalam pengoperasian Sistem Pembangkit Diesel (SPD) di Pusat Listrik Maumere, penulis
membuat / menyusun dan menerapkan SOP Pola Operasi mesinpembangkit yang lebih efisien
sesuai urutan SFC masing masing unit mesin pembangkit terhadap fluktuasi beban sistem di
Pusat Listrik Maumere.
BAB II
PERMASALAHAN

Biaya Operasi yang terbesar dibidang pembangkitan adalah biaya pembelian bahan
bakar. Kenyataan ini tidak disertai dengan SDM operator mesin pembangkit yang berkompeten
dibidang tugasnya serta penerapan pola operasi mesin yang kurang tepat dan kurangnya
pengawasan sehingga strategi yang telah dibuat oleh manajemen tidak dapat dilaksanakan
dengan konsisten. Melihat kondisi tersebut maka diperlukan suatu terobosandalam
upaya penghematan biaya dibidang pembangkitan melalui suatu kajian dan analisa untuk dapat
mencapai nilai ekonomis dari pemakaian bahan bakar mesin yang optimal dan efisien.

BAB III
PERSOALAN

Sumber Daya Manusia yang terbatas serta kurangnya pemahaman tentang Pola Operasi
mesin dimana dalam melaksanakan pekerjaan pengoperasian mesin operator masih melakukan
berdasarkan kebiasaan lama yang cenderung mengoprasikan mesin yang mudah dijalankan dan
berdaya mampu besar namun dibebani di bawah 70 % dari daya mampu tanpa
memperhatikan fluktuasi beban sistem dan nilai ekonomis. Tenaga operator mesin di PLM
didominasi oleh tenaga outsourching dimana dari segi pengetahuan mengenai pengoperasian
mesin masih kurang.
Disamping itu, tingginya volume gangguan jaringan berdampak pada borosnya
pemakaian BBM. Ketika penyulang trip, terjadi beban tanggung pada mesin pembangkit
dibawah 70% akibat berkurangnya beban sistem. Start stop mesin menjadi berulang ulang bila
gangguan jaringan sampai menyebabkan Black Out. Oleh karenanya disamping pembenahan
disisi jaringan, disisi pembangkitpun dibuat pola operasi mesin menurut skala prioritas
berdasarkan SFC masing masing mesin untuk mendapatkan pola operasi yang lebih efisiensi
akibat fluktuasi beban terhadap penghematan pemakaian BBM / biaya operasi.
.
BAB IV
PRA ANGGAPAN

Penghematan biaya operasi pembangkit dalam bentuk efisiensi dan keandalan suatu
pembangkit, haruslah dibuat suatu perencanaan pola operasi untuk setiap mesin pembangkit pada
sebuah PLTD. Perencanaan pola operasi mesin ini berdasarkan kepada faktor daya mampu setiap
SPD, jam operasi SPD, fluktuasi beban sistem yang harus dipikul PLTD, umur mesin dan nilai
ekonomis mesin (SFC).
Pada setiap PLTD yang menjadi salah satu perhatian utama adalah penurunan nilai
SFC, menerapkan pola operasi yang efisien dan konsisten dengan pertimbangan beberapa faktor
diatas, serta fokus pada pemecahan dan penyelesaian masalah masalah yang terjadi,
akan berdampak pada hasil kinerja yang baik sesuai yang diharapkan.

BAB V
FAKTA YANG MEMPENGARUHI

5.1. PENGOPERASIAN SPD

Mengoperasikan suatu SPD haruslah mengikuti S.O.P (Standard Operation Procedure) dari
pembuatnya, agar dapat bekerja aman, efisien dan optimal sehingga dapat beroperasi dalam jangka waktu
yang telah ditentukan sesuai desain pabrik pembuat mesin tersebut.
Karena itu prinsip pengoperasian PLTD secara umum dapat dikatakan sama, yaitu mengikuti
procedure / langkah langkah yang harus dikerjakan sesuai dengan S.O.P SPD yang bersangkutan.
Kalaupun terjadi perbedaan langkah kerjanya, itu hanya terletak pada sistim :
1. Alat bantu.
2. Urutan pelaksanaan.
3. Parameter.
4. Proteksi.
Perbedaan tersebut juga disesuaikan dengan jenis, dimensi dan merk serta kapasitas dari pabrik
pembuat SPD tersebut.
Pengoperasian PLTD kegiatannya terdiri dari :
1. Persiapan.
2. Menghidupkan / start up mesin.
3. Mempararel / membebani.
4. Pemantauan dan Pengendalian / Monitoring.
5. Mematikan mesin / shoot down.
Pada dasarnya motor diesel mampu beroperasi di semua kondisi beban pada periode tertentu, baik
itu pada kondisi overload maupun pada kondisi kerjanya. Pada kondisi overload dapat
mengakibatkan overheating yang dapat membuat engine mengalami kerusakan(Calder,Nigel 1992). Pada
kondisi ini dapat mengakibatkan berkurangnya Time Between Overhoul (TBO) atau dapat mengurangi life
time dari motor diesel, sehingga kondisi overload sebisa mungkin dihindari dalam pengoperasian motor
diesel. Untuk dapat memperpanjang lama pemakaian dari motor diesel maka pengoperasiannya dilakukan
pada continuous power-nya.Continuous power merupakan kemampuan engine untuk mampu memenuhi
daya yang dibutuhkan secara konstan. Pada kondisi ini tidak terjadi adanya overheating sehingga
komponen-komponen motor diesel dapat bertahan lebih lama. Sehingga waktu interval motor diesel untuk
overhoul bisa lebih lama. Namun sebaliknya jika pengoperasiannya tidak dilakukan pada continuous
power-nya akan menyebabkan terjadi overheating sehingga komponen-komponen motor diesel tadak
dapat bertahan lebih lama. Overheating ini sering terjadi karena pola operasi yang tidak dijalankan secara
konsisten sehingga suatu mesin beroperasi melebihi batas jam kerjanya.

5.2 Pola Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

Performance Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dipengaruhi faktor pengoperasian


Satuan Pembangkit Diesel (SPD). Untuk dapat mempertahankan/meningkatkan performance
PLTD maka dalam pengoperasian PLTD harus menerapkan Sistem Informasi Operasional PLTD
yang mempergunakan sub sistemfeedback yaitu Pola Operasi PLTD. Pola Operasi PLTD
merupakan susunan Satuan Pembangkit Diesel (SPD) untuk memikul beban dasar (base
load) dan beban puncak(peak load) berdasarkan tingkat effisiensi dan keandalan SPD. Dalam
penyusunan Pola Operasi PLTD diperlukan analisa data-data, informasi dan pengetahuan baik
interen maupun eksteren dan manajemen pengetahuan untuk memprediksi pencapaian
kinerja/performance PLTD (output), jadi Pola Operasi PLTD merupakan alat controllinguntuk
mempertahankan/memperbaiki output yaitu performansi PLTD. Data-data, informasi dan
pengetahuan operasi, pemeliharaan dan administrasi baik internal maupun eksternal bulan
bersangkutan merupakan dasar analisis penyusunan Pola Operasi bulan berikutnya. Tujuan
penerapan Pola Operasi PLTD adalah :
1. Dapat mempertahankan Performance/kinerja PLTD
2. Pemeliharaan perediktif SPD dapat dilaksanakan lebih optimal.
3. Jam operasi SPD dapat direncanakan, sehingga pemeliharaan periodik dapat dilaksanakan tepat
waktu.
Namun jika pola operasi mesin yang tidak dilaksanakan dengan konsisten akan
berdampak buruk terhadap mesin itu sendiri, karena seringnya mesin beroperasi melebihi batas
jam kerjanya dan akan menyebabkan terjadinya overheating menyebabkan komponen
komponen mesin menjadi tidak tahan lama, demikian juga jika pola operasi mesin yang tidak
dilaksanakan dengan konsisten maka jadwal pemeliharaan periodik tidak akan
dapat dilaksankan tepat waktu sehingga ini akan berdampak pada performa mesin itu sendiri, hal
ini yang akan berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan pada mesin diesel.

5.3 Umur Mesin

Masa operasi mesin diesel terbatas, karena bila telah berakhir umur ekonomisnya
suatu engine, biasanya mudah rusak dan rentan terjadi gangguan. Mesin yang sudah tua, suku
cadang material dipasaran sulit didapat dan sudah jarang untuk mendapatkan mateial yang asli,
sebagian menggunakan material rekondisi sehingga hasil yang didapat tidak optimal kondisi ini
juga akan berpengaruh pada jam operasi mesin.

5.4 Nilai SFC

Rata rata mesin yang sudah tua tahun pembuatan dibawah 2000, spesifikasinya mesin
pada waktu dibuat tidak mengedepankan nilai ekonomis dari pemakaian bahan bakar namun
lebih kepada keadalan dari mesin itu sendiri. Seiring dengan semakin berkurangnya persedian
HSD yang merupakan sumber daya alam tak terbarukan dan tuntutan penghematan penggunaan
bahan bakar maka mesin yang dibuat diatas tahun 2000 spesifikasi yang dibuat
mempertimbangkan semua aspek baik keandalan, ekonomis, kenyamanan, operasi yang
dilengkapi dengan proteksi.

5.5 PERATURAN PEMERINTAH

Sesuai dengan Pasal 25 ayat 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Nomor 10 Tahun 1989, tentang penyediaan dan pemanfaatan Tenaga Listrik, yang
menyatakan bahwa sebagai pemegang Kuasa Usaha Ketenaga
Listrikan maka PLN diwajibkan untuk :
a. Memberikan pelayanan yang baik
b. Menyediakan Tenaga Listrik secara terus menerus dengan mutu dan keandalan yang baik.
c. Memberikan perbaikan apabila terjadi gangguan pada penyaluran tenaga listrik.
d. Bertanggung jawab atas segala kerugian atau bahaya terhadap nyawa,
kesehatan dan barang yang timbul karena kelalaiannya.
Disamping itu, sesuai dengan pasal 6 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 1990 ditegaskan pula bahwa penyelenggaraan
penyediaan tenaga listrik tersebut, PT. PLN (Persero) harus mempertimbangkan prinsip -
prinsip ekonomi. Untuk memenuhi kewajiaban diatas, maka diharuskan melaksankan
pemeliharaan terhadap unit pembangkit dan saran penunjangnya dengan baik dan benar.

5.6 SK DIREKSI PLN


a. No. 003.K/0594/DIR/1994 tanggal : 03 Agustus 1994 tentang Manajemen Pemeliharaan Pusat
Listrik.
b. No. 061.K/0594/DIR/1994 tanggal : 22 Agustus 1995 tentang Manajemen Pemeliharaan Pusat
Listrik.

5.7 TARGET KINERJA


Adapun Target kinerja yang menjadi tanggung jawab Pusat Listrik Maumere untuk periode
tahun 2014 yang harus dicapai adalah sebagaimana tabel 5.1 dibawah ini.
No Uraian Sat Target 2014 Keterangan
1 Pemakaian BBM Ltr/klcal 12.140.580.00

2 Tara Kalor % 2451,88

3 EAF Ltr 96,27

4 Fuel Mix % 100

5 Kapasitas Maksimal MW 6.3


Tabel 5.1 Tagert kinerja Pusat Listrik Maumere

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Langkah Langkah Peningkatan Efisiensi Mesin Pembangkit


6.1.1. Perencanaan Pola Operasi
1. Uji petik nilai SFC
Uji petik nilai SFC dilakukan pada masing masing mesin dengan beban 79 80 % dari
daya mampu mesin.
2. Menyusun urutan prioritas SFC
Pada tabel 6.1 di bawah menunjukkan data mesin dan nilai SFC Pusat Listrik Maumere
yang diambil pada bulan Juni 2014, dari data tersebut dapat memberikan informasi mengenai
daya terpasang, daya mampu dan nilai SFC yang dapat dijadikan sebagai dasar pembuatan Pola
Operasi mesin, agar lebih mudah untuk menyusun Pola Operasi, maka di buat tabel 6.2 urutan
mesin berdasarkan prioritas SFC, dari nilai SFC yang terendah sampai yang tertinggi.

Tabel 6.1 Data Mesin dan Nilai SFC di PLM


Sumber : Laporan Mutu, Keandalan, Serta Efisiensi Pembangkit Juni 2014
Tabel
6.2
Data

Mesin dan Nilai SFC berdasarkan prioritas SFC


Sumber : Data Uji Petik SFC tiap mesin
3. Data Grafik Beban Harian
Data grafik beban harian dan bulanan, beban puncak yang paling tinggi siang dan malam
dipakai sebagai patokan dalam pembuatan pola operasi dari jam 00.00 sampai dengan jam 24.00,
tentukan mesin yang memikul beban dasar dan mesin jadi tambahan, disesuaikan dengan
mengikuti kebutuhan beban sistem. Pengaturan sesuai dengan urutan nilai ekonomis dan daya
mampu beban harus dipikul tiap mesin yang dikaitkan dengan beban sistem tujuannya agar
mendapatkan operasi yang paling ekonomis, juga memudahkan menentukan mesin yang pantas
dan yang tidak perlu beroperasi.

Gambar 6.1 Grafik Beban Harian


4. Perbandingan Pola Operasi Sebelum Dan Sesudah
Tabel : 6.3 Pola Operasi Lama

Tabel : 6.4 Pola Operasi Baru

6.2 Keuntungan Dari Pembuatan Dan Pelaksanaan Pola Operasi Secara konsisten.
Dari tabel Pola Operasi tabel 6.3 dan 6.4 diatas dapat diambil sebuah perbandingan
keuntungan dengan pembuatan Pola Operasi yang baik dan dijalankan secara konsisten, dengan
perhitungan penghematan pemakaian BBM sebagai berikut :

Tabel 6.5 Nilai tambah dari perbaikan Pola Operasi


Dari tabel 6.5 diatas penghematan pemakaian BBM dengan Optimalisasi Pola Operasi di
peroleh sebesar 375,8 liter perhari. Dengan asumsi harga BBM perliter Rp. 10.000 maka didapati
penghematan perhari = 375,8 ltr X Rp. 10.000 = Rp.3.758.000
6.3 Peningkatan Sumber Daya Manusia
Untuk mendapatkan efisiensi dan keandalan suatu pembangkit, tidak dapat dicapai hanya
dengan perbaikan sistem perencanaan disisi operasi maupun sisi pemeliharaan, namun yang
tidak kalah pentingnya adalah peran operator/pelaksana lapangan dalam hal ini adalah sumber
daya manusia (SDM) yang berkompeten serta konsisten dalam melaksanakan pekerjaan
kesehariannya. Oleh karena itu perlu diambil langkah langkah untuk meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan Operator melaluiPendidikan dan Pelatihan yang memadai,
demikian pula perlu ditingkatkan pelaksanaan Coaching dan mentoring antara operator dengan
Supervisor Operasi tentang pengoprasian mesin PLTD. Dengan langkah langkah tersebut
diharapkan kompetensi operator meningkat dan penerapan pola operasi dapat terlaksana sesuai
dengan harapan serta efisiensi dan keandalan pembangkit tercapai.

BAB VII
KESIMPULAN

1. Penyusunan Pola Operasi dengan prioritas urutan nilai Spesific Fuel Consumption(SFC)
tiap mesin dapat menekan pemakaian bahan bakar minyak.
2. Tingkat keterampilan dan pengetahuan operator terbatas, dan masih jauh dari kompetensi
yang diharapkan, dimana sebagian besar operator masih bekerja berdasarkan kebiasaaan dan
cenderung mengabaikan SOP.

BAB VIII
TINDAKAN YANG DISARANKAN

1. Laksanakan Pola Operasi mesin pembangkit dengan konsisten dan berkesinambungan untuk
pencapaian efisiensi pemakaian BBM sesuai yang diharapkan.
2. Tingkatkan keterampilan dan pengetahuan operator melalui pelaksanaan pendidikan dan
pelatihan sesuai kompetensi yang dibutuhkan. Secara rutin dilaksanakan Knowledge Sharing dan
CMC.
REFERENSI

1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NO. 7 TAHUN 1990 PASAL 6 AYAT


1, PENYELENGGARAAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK HARUS
MEMPERTIMBANGKAN PRINSIP PRINSIP EKONOMI.
2. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NO. 10 TAHUN 1998 TENTANG
PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK.
3. SK DIREKSI PLN No. 003.K/0594/DIR/1994 TANGGAL : 03 AGUSTUS 1994 TENTANG
MANAJEMEN PEMELIHARAAN PUSAT LISTRIK UMUM.
4. SK DIREKSI PLN No. 061.K/0594/DIR/1994 TANGGAL : 22 AGUSTUS 1995 TENTANG
MANAJEMEN PEMELIHARAAN PUSAT LISTRIK MANAJEMEN PEMELIHARAAN
PLTD.

SOPMesinPLTDRaha
STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD SWD DRO-216
I. PERSIAPAN START Mesin
1. Periksa tekanan pada tabung udara start (minimum 20 bar)
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
4. Tambahkan air pendingin mesin pada bak penampung hingga penuh
5. Periksa kesiapan alat-alat bantu mesin
6. Atur posisi speed setting pada governor hingga menunjukkan posisi 2 dengan memutar pengatur
synchronizer ke arah
7. Lakukan pelumasan awal menggunakan pompa tangan hingga pompa terasa berat
8. Putar flywheel 360o (searah jarum jam dari muka mesin) menggunakan pipa
9. Catat level tangki harian BBM, dan jumlah penambahan minyak pelumas Panel Kontrol
10. Periksa kondisi kesiapan mesin dengan melihat lampu-lampu indikator pada panel kontrol
11. Catat stand kWh dibangkit, stand kWh PS
II.START MESIN
(Panel Kontrol)
1. Matikan heater generator dengan cara memindahkan saklar ke posisi off
2. Aktifkan KWH Digital dengan cara menaikkan saklar MCB yang ada di dalam panel, pastikan layar
display pada posisi menu level 1 ( E, PF, F )
3. Pastikan saklar main switch pada posisi 1
4. Aktifkan radiator dengan menekan tombol merah, pastikan lampu automatic heater (merah) menjadi
mati
Mesin
5. Buka katup pada tabung udara start
6. Pindahkan saklar pengunci start ke arah bawah
7. Tekan handle start ke arah bawah hingga mesin bekerja, kemudian lepaskan
8. Tutup katup pada tabung udara start
9. Catat jam operasi mesin
10. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan mesin
pada
putaran rendah)
11. Naikkan kecepatan putar mesin dari 500 rpm hingga mencapai full speed (750 rpm) dengan
memutar
pengatur synchronizer pada governor ke arah +, hingga speed setting menunjukkan posisi 10 Panel
Kontrol
12. Aktifkan pengukur tegangan dengan memindahkan selektor voltmeter ke posisi TR
13. Aktifkan exciter dengan memindahkan saklar Automatic Voltage Regulator (AVR) ke posisi 1
14. Atur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz dengan menggunakan selektor governor
15. Atur tegangan generator hingga mencapai 6.3 kV dengan memutar pengatur tegangan
(di atas saklar AVR) Mesin
16. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan mesin
pada
putaran full speed)
III. PEMBEBANAN
Black Start Panel Kontrol
1. Pompa pegas saklar pemutus (PMT) hingga lubang indikatornya berwarna kuning
2. Periksa kembali dan tegangan dan frekuensi mesin
3. Pindahkan saklar pemutus (PMT) untuk pemakaian sendiri
Paralel dengan Sistem
Panel Kontrol
1. Pompa pegas saklar pemutus (PMT) hingga lubang indikatornya berwarna kuning
2. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
3. Aktifkan indikator synchronoscope dengan memindahkan saklar synchronizing ke posisii 1
4. Perhatikan indikator synchronoscope
a. Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah too fast, gerakkan selektor governor ke arah
slower
sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
b. Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah too slow, gerakkan selektor governor ke arah
faster
sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
5. Paralelkan mesin dan sistem dengan memutar saklar pemutus PMT sebesar 90o searah jarum jam
pada
saat jarum synchoronoscope tepat di posisi jam 12, kemudian lepaskan saklar
6. Naikkan beban hingga mencapai 50 kW dengan memutar selektor governor ke arah faster
7. Sesuaikan beban dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz menggunakan
selektor
governor
8. Atur cos hingga berada dalam range 0.8 - 0.95 induktif (ind.) dengan menggunakan selektor
pengatur
tegangan (di atas saklar AVR)
9. Matikan indikator synchronoscope dengan memutar selektor synchronizer ke posisi 0
10. Catat jam paralelnya
11. Catat semua parameter yang tersedia setiap 1 jam LWBP, dan jam untuk WBP
12. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran setiap saat
IV. STOP MESIN
Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor governor ke arah
slower
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan memutar saklar pemutus PMT sebesar 90o berlawanan arah
jarum
jam, kemudian lepaskan saklar
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin pada putaran full speed), pertahankan frekuensi
generator
pada 50 Hz dengan menggunakan selektor governor
4. Matikan exciter dengan memindahkan saklar Automatic Voltage Regulator (AVR) ke posisi 0
Mesin
5. Turunkan kecepatan putar mesin dengan memutar pengatur synchronizer pada governor ke arah -,
hingga
speed setting menunjukkan posisi 2
6. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin pada putaran rendah)
7. Matikan mesin dengan menarik rack bahan bakar ke posisi minimum
Panel Kontrol
8. Jalankan heater generator dengan cara merubah posisi saklar ke posisi on
9. Matikan KWH Digital dengan cara menurunkan saklar MCB yang ada di dalam panel
10. Matikan radiator dengan menekan tombol merah, pastikan lampu automatic heater (merah) menjadi
menyala
11. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log
sheet Mesin
12. Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM

STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD DAIHATSU 6PSHTc - 26D


I. PERSIAPAN START
Mesin
1. Periksa tekanan pada tabung udara start (minimum 25 kg/cm2)
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
4. Periksa level minyak pelumas rocker arm, tambahkan bila perlu
5. Tambahkan air pendingin mesin pada radiator hingga penuh
6. Periksa kran bahan bakar, pastikan dalam keadaan terbuka
7. Periksa alat bantu mesin
8. Periksa posisi speed setting governor harus di bawah putaran ideal
9. Lakukan pelumasan awal menggunakan pompa tangan hingga pompa terasa berat
10. Putar flywheel 360o (searah jarum jam dari muka mesin) menggunakan pipa
11. Catat level tangki harian BBM, dan jumlah penambahan minyak pelumas Panel Kontrol
12. Periksa kondisi kesiapan mesin dengan melihat lampu-lampu indikator pada panel kontrol
13. Reset panel kontrol dengan menekan tombol fault reset
14. Catat stand kWh dibangkit, stand kWh PS
II. START MESIN
Mesin
1. Buka katup pada tabung udara start Panel Kontrol
2. Matikan heater generator dengan cara memindahkan saklar ke posisis off
3. Aktifkan KWH Digital dengan cara menaikkan saklar MCB yang ada di dalam panel, pastikan
layar display pada posisi menu level 1 ( E, PF, F )
4. Buka pintu panel sebelah kanan, aktifkan sistem kontrol dengan memindahkan saklar control
source ke posisi on
5. Aktifkan radiator dengan memindahkan saklar radiator fan ke arah kiri sehingga lampu merah
menyala
6. Start mesin dengan menekan tombol start (merah)
7. Atur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz dengan menggunakan selektor governor
8. Atur tegangan generator hingga mencapai 6.3 kV dengan memutar AVR
9. Catat jam operasi mesin Mesin
10. Tutup katup pada tabung udara start
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan
mesin)
III. PEMBEBANAN
Black Start Panel Kontrol
1. Buka pintu panel kontrol sebelah kiri, normalkan saklar pemutus (PMT) dengan mengungkitnya
2. Periksa kembali dan tegangan dan frekuensi mesin
3. Tekan tombol SOCB ON (merah) untuk pemakaian sendiri
Paralel dengan Sistem Panel Kontrol
1. Buka pintu panel kontrol sebelah kiri, normalkan saklar pemutus (PMT) dengan mengungkitnya
2. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
3. Pindahkan saklar synchronizing ke posisi close
4. Perhatikan indikator synchronosco
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah +, gerakkan selektor governor ke arah decr
sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah -, gerakkan selektor governor ke arah incr
sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
5. Tekan tombol SOCB ON (merah) pada saat jarum synchoronoscope tepat di posisi jam 12
6. Naikkan beban hingga mencapai 100 kW dengan menggerakkan governor ke arah incr
7. Sesuaikan beban mesin dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz menggunakan
selektor governor
8. Atur cos hingga berada dalam range 0.8 - 0.95 lag dengan menggunakan pengatur AVR
9. Catat jam paralelnya
10. Catat semua parameter yang tersedia setiap 1 jam LWBP, dan jam untuk WBP
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran setiap saat
IV. STOP MESIN
Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor governor ke
arah decr
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan dengan menekan tombol SOCB OFF (hijau)
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin), pertahankan frekuensi generator pada 50 Hz
dengan memutar governor
4. Matikan mesin dengan menekan tombol stop
5. Matikan KWH Digital dengan cara menurunkan saklar MCB yang ada di dalam panel
6. Jalankan heater generator dengan cara mengubah saklar ke posisi on
7. Matikan radiator dengan memindahkan saklar radiator fan ke arah kanan sehingga lampu merah
mati
8. Buka pintu panel sebelah kanan, matikan sistem kontrol dengan memindahkan saklar control
source ke posisi off
9. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log
sheet
10. Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM STANDARD

OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD DEUTZ BA 12M816 U


I. PERSIAPAN START
Mesin
1. Periksa isi air dan tegangan Accumulator
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa kran bahan bakar, pastikan dalam keadaan terbuka
4. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
5. Tambahkan air pendingin mesin pada radiator hingga penuh
6. Periksa alat bantu mesin
7. Lakukan pelumasan awal menggunakan pompa tangan hingga pompa terasa berat
8. Putar flywheel 360o (searah jarum jam dari muka mesin)
9. Catat level tangki harian BBM, dan jumlah penambahan minyak pelumas Panel Kontrol
10. Periksa kondisi kesiapan mesin dengan melihat lampu-lampu indikator pada panel kontrol
11. Reset panel kontrol dengan menekan tombol fault reset
12. Catat stand kWh dibangkit, stand kWh PS
II. START MESIN
Mesin
1. Pasang kabel accu start
2. Putar kunci start ke posisi on (searah jarum jam)
3. Hidupkan heater dengan memutar dan menahan gagang start ke posisi 1 selama 2 menit
4. Periksa kerja heater dengan menempelkan telapak tangan pada lubang ventilasi heater
5. Start mesin dengan memutar dan menahan gagang start ke posisi 2 selama 5 detik, kemudian
lepaskan Panel Kontrol
6. Atur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz dengan menggunakan selektor governor
7. Atur tegangan generator hingga mencapai 400 V dengan memutar pengatur voltage (manu)
8. Catat jam operasi mesin Mesin
9. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan
mesin)
III. PEMBEBANAN
Black Start Panel Kontrol
1. Periksa kembali dan tegangan dan frekuensi mesin
2. Pindahkan saklar MCB (Main) ke posisi ON untuk pemakaian sendiri
Paralel dengan Sistem Panel Kontrol
1. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
2. Aktifkan indikator synchronoscope dengan memindahkan saklar synchronizing ke posisi on
3. Perhatikan indikator synchronoscope
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah fast, gerakkan selektor governor ke arah
lower sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah slow, gerakkan selektor governor ke arah
raise sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
4. Paralelkan mesin dan sistem dengan memindahkan jam pada saat jarum synchoronoscope tepat di
posisi jam 12
5. Naikkan beban hingga mencapai 100 kW dengan memutar selektor governor ke arah raise
6. Sesuaikan beban dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz menggunakan
selektor
governor
7. Atur cos hingga berada dalam range 0.8 - 0.95 lag dengan menggunakan pengatur voltage
(manu)
8. Matikan indikator synchronoscope dengan memutar selektor synchronizing ke posisi off
9. Catat jam paralelnya
10. Catat semua parameter yang tersedia setiap 1 jam LWBP, dan jam untuk WBP
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran setiap saat
IV. STOP MESIN
Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor governor ke
arah lower
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan dengan memindahkan saklar MCB (Main) ke posisi OFF
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin), pertahankan frekuensi generator pada 50 Hz
dengan memutar pengatur putaran Mesin
4. Matikan mesin dengan menekan tombol stop
5. Putar kunci start ke posisi off (berlawanan arah jarum jam)
6. Lepas kabel accu start dan accu kembali dicas
7. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log
sheet
8. Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM
STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD MIRRLEES K8 MAJOR

I. PERSIAPAN START
Mesin
1. Periksa tekanan pada tabung udara start (minimum 30 kg/cm2)
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa level tangki air pendingin, tambahkan bila perlu
4. Jalankan pompa minyak pelumas
5. Jalankan pompa air pendingin
6. Jalankan pompa bahan bakar, pastikan kran bahan bakar terbuka
7. Jalankan blower
8. Buang udara pada minyak pelumas dengan membuka katup udara di filter minyak pelumas
9. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
10. Buka kran-kran indikator
11. Bersihkan silinder-silinder dari air yang terjebak dengan memutar kemudi start ke posisi start
run up run stop
12. Tutup kembali kran-kran indikator
13. Periksa governor dan atur load limit & penunjukan Synchronizer ke posisi 5
14. Periksa alat bantu mesin apakah berfungsi dengan baik Panel Kontrol
15. Matikan pemanas generator dengan memindahkan saklar generator heater ke posisi off
16. Aktifkan KWH Digital dengan cara menaikkan saklar MCB yang ada di dalam panel, pastikan
layar display pada posisi menu level 1 ( E, PF, F )
17. Periksa lampu lampu indikator pada panel mesin
18. Catat posisi level BBM, Stand Kwh dibangkit, Kwh PS, Jml penambahan M.Pelumas jika ada
II. START MESIN
Mesin
1. Buka katup pada tabung udara start
2. Putar kemudi start ke posisi start
3. Putar kemudi start ke posisi run up
4. Putar kemudi start ke posisi run
5. Tutup katup pada tabung udara start Panel Kontrol
6. Atur frekuensi dengan saklar governor motor hingga mencapai 50 Hz
7. Tekan tombol exciter field contactor reset (hijau)
8. Buka pintu panel kanan bawah, pindahkan selektor excitation ke posisi auto
9. Atur tegangan melalui saklar AVR hingga mencapai 6.3 kV (samakan dengan tegangan sistem)
10. Catat jam operasi mesin
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit
III. PEMBEBANAN
1. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
2. Pindahkan selektor synchronoscope ke posisi on
3. Perhatikan indikator synchronoscope
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah fast, gerakkan selektor governor motor ke
arah lower sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah slow, gerakkan selektor governor motor ke
arah raise sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
4. Buka pintu panel kiri bawah, tekan tombol CB ON pada saat jarum synchoronoscope tepat
di posisi jam 12
5. Perhatikan indikator beban, gerakkan saklar governor motor ke arah raise hingga 500 kW
6. Sesuaikan beban mesin dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz
menggunakan
selektor governor motor
7. Perhatikan indikator tegangan, atur selektor voltage sehingga tegangan mencapai 6.3 kV
8. Pindahkan selektor synchronoscope ke posisi off
9. Catat jam paralel mesin
10. Catat semua para meter yang tersedia tiap 1 jam LWBP, jam untuk WBP
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran tiap saat

IV. STOP MESIN


Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor governor
motor ke arah lower
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan dengan menekan tombol CB OFF
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin), pertahankan frekuensi generator pada 50 Hz
dengan memutar governor
4. Buka pintu panel kanan bawah, pindahkan selektor excitation ke posisi 0
5. Matikan mesin dengan menekan tombol stop
6. Jalankan heater generator dengan cara mengubah saklar ke posisi on
7. Matikan KWH Digital dengan cara menurunkan saklar MCB yang ada di dalam panel
8. Sebelum putaran mesin benar-benar berhenti jalankan pompa pelumas awal
9. Stop pompa bahan bakar
10. Setelah mesin stop biarkan alat Bantu mesin operasi 5 menit baru stop
11. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log sheet
Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM
STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD DEUTZ BV 8M 28

I. PERSIAPAN START
Mesin
1. Periksa tekanan pada tabung udara start (minimum 30 bar)
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
4. Periksa level minyak pelumas governor, tambahkan bila perlu
5. Tambahkan air pendingin mesin pada bak penampung hingga penuh
6. Keluarkan udara yang terperangkap dalam pipa minyak pelumas dengan cara membuka kran
pembuangan yang ada di bagian belakang ( dekat generator ) pastikan tidak ada gelembung udara dalam
minyak pelumas. Pelumas tersebut bisa dimasukkan kembali dalam carter mesin
7. Periksa alat bantu mesin
8. Periksa posisi speed setting governor harus di bawah putaran ideal
9. Putar flywheel 360o (searah jarum jam dari muka mesin) menggunakan pipa
10. Catat level tangki harian BBM, dan jumlah penambahan minyak pelumas Panel Kontrol
11. Jalankan DC panel mesin 20 menit sebelum mesin start
12. Aktifkan KWH Digital dengan cara menaikkan saklar MCB yang ada di dalam panel, pastikan
layar display pada posisi menu level 1 ( E, PF, F )
13. Lakukan pelumasan awal dengan memutar saklar I-0-auto (kiri bawah pada panel kanan) ke
posisi I ( pastikan tekanan minyak pelumas awal 1 bar )
14. Periksa kondisi kesiapan mesin dengan melihat lampu-lampu indikator pada panel kontrol
15. Reset panel kontrol dengan menekan tombol lamp reset
16. Buka pintu panel tengah, pastikan lampu merah dan hijau pada relay K604 telah menyala
17. Catat stand kWh dibangkit, stand kWh PS

II. START MESIN


Mesin
1. Buka katup pada tabung udara start, setelah mesin operasi katup ditutup kembali Panel Kontrol
2. ktifkan sistem kontrol dengan memutar kunci control ke posisi on, sehingga lampu de excitation
dan locked menyala
3. Matikan pemanas generator dengan memutar saklar generator anti cond ke posisi 0
4. Putar kunci reset-test ke posisi reset, kemudian lepaskan, sehingga lampu de excitation dan
locked mati
5. Jalankan pompa air pendingin
6. Jalankan fan radiator
7. Hidupkan mesin dengan menekan tombol engine start
8. Ubah sistem pelumasan menjadi otomatis dengan memutar saklar I-0-auto (kiri bawah pada
panel kanan) ke posisi auto
9. Atur putaran mesin hingga mencapai 750 rpm dengan menggunakan selektor pengatur putaran
10. Aktifkan exciter dengan memindahkan saklar excitation ke posisi on, kemudian lepaskan
11. Atur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz dengan menggunakan selektor pengatur
putaran
12. Atur tegangan generator hingga mencapai 6.3 kV dengan memutar pengatur tegangan
13. Catat jam operasi mesin Mesin
14. Tutup katup pada tabung udara start
15. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan
mesin)
III. PEMBEBANAN
Panel Kontrol
1. Putar pegas saklar pemutus (PMT) di belakang panel
2. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
3. Aktifkan indikator synchronoscope dengan memindahkan saklar singkron ke posisi 1
4. Perhatikan indikator synchronoscope

Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah +, gerakkan selektor pengatur


putaran ke arah lower sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah -, gerakkan selektor pengatur putaran
ke arah higher sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
5. Paralelkan mesin dan sistem dengan menekan tombol MCB ON pada saat jarum
synchoronoscope
tepat di posisi jam 12 ( lampu syncronoscope menyala terang )
6. Naikkan beban hingga mencapai 200 kW dengan memutar selektor pengatur putaran ke arah
higher
7. Sesuaikan beban dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz menggunakan
selektor
pengatur putaran
8. Atur cos hingga berada dalam range 0.8 - 0.95 induktif (ind.) dengan memutar pengatur tegangan
9. Matikan indikator synchronoscope dengan memutar selektor singkron ke posisi 0
10. Catat jam paralelnya
11. Catat semua parameter yang tersedia setiap 1 jam LWBP, dan jam untuk WBP
12. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran setiap saat

IV. STOP MESIN


Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor pengatur
putaran ke arah lower
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan dengan menekan tombol MCB OFF
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin), pertahankan frekuensi generator pada 50 Hz
dengan memutar pengatur putaran
4. Matikan exciter dengan memindahkan saklar excitation ke posisi off, kemudian lepaskan
5. Matikan mesin dengan menekan tombol stop
6. Matikan KWH Digital dengan cara menurunkan saklar MCB yang ada di dalam panel
7. Biarkan alat Bantu operasi, tunggu 5 menit baru stop
8. Aktifkan pemanas generator dengan memutar saklar generator anti cond ke posisi I
9. Matikan sistem pelumasan dengan memutar saklar I-0-Auto (kiri bawah pada panell kanan) ke
posisi 0 setelah mesin stop 5 menit
10. Matikan sistem kontrol dengan memutar kunci control ke posisi off
11. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log sheet
12. Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM
STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PLTD MESIN MAN
I. PERSIAPAN START Mesin
1. Periksa isi air dan tegangan Accumulator
2. Periksa level tangki harian BBM, tambahkan bila perlu
3. Periksa kran bahan bakar, pastikan dalam keadaan terbuka
4. Periksa level minyak pelumas di dalam karter, tambahkan bila perlu
5. Tambahkan air pendingin mesin pada radiator hingga penuh
6. Periksa alat bantu mesin
7. Catat level tangki harian BBM, dan jumlah penambahan minyak pelumas Panel Kontrol
8. Periksa kondisi kesiapan mesin dengan melihat lampu-lampu indikator pada panel control
9. Aktifkan KWH Digital dengan cara menaikkan saklar MCB yang ada di dalam panel, pastikan
layar display pada posisi menu level 1 ( E, PF, F )
10. Reset panel kontrol dengan menekan tombol fault reset
11. Catat stand kWh dibangkit, stand kWh PS
II. START MESIN
Mesin
1. Pasang kabel accu start
2. Putar kunci start ke posisi on (searah jarum jam)
3. Start mesin dengan memutar dan menahan gagang start ke posisi 2 selama 5 detik, kemudian
lepaskan Panel Kontrol
4. Atur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz dengan menggunakan selektor governor
5. Atur tegangan generator hingga mencapai 400 V dengan memutar pengatur voltage (manu)
6. Catat jam operasi mesin Mesin
7. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran selama 5 menit (pemanasan
mesin)
III. PEMBEBANAN
Black Start Panel Kontrol
1. Periksa kembali dan tegangan dan frekuensi mesin
2. Pindahkan saklar MCB (Main) ke posisi ON untuk pemakaian sendiri
Paralel dengan Sistem Panel Kontrol
1. Periksa kembali dan samakan tegangan dan frekuensi mesin dengan sistem
2. Aktifkan indikator synchronoscope dengan memindahkan saklar synchronizing ke posisi on
3. Perhatikan indikator synchronoscope

Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah fast, gerakkan selektor governor ke
arah lower sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
Jika jarum synchoronoscope berputar cepat ke arah slow, gerakkan selektor governor ke
arah raise sehingga putaran jarum menjadi lambat dan mendekati posisi jam 12
4. Paralelkan mesin dan sistem dengan memindahkan jam pada saat jarum synchoronoscope tepat di
posisi jam 12
5. Naikkan beban hingga mencapai 100 kW dengan memutar selektor governor ke arah raise
6. Sesuaikan beban dengan mengatur frekuensi generator hingga mencapai 50 Hz menggunakan
selektor
governor
7. Atur cos hingga berada dalam range 0.8 - 0.95 lag dengan menggunakan pengatur voltage
(manu)
8. Matikan indikator synchronoscope dengan memutar selektor synchronizing ke posisi off
9. Catat jam paralelnya
10. Catat semua parameter yang tersedia setiap 1 jam LWBP, dan jam untuk WBP
11. Lakukan pemeriksaan mesin secara visual dan pendengaran setiap saat

IV. STOP MESIN


Panel Kontrol
1. Turunkan beban secara perlahan hingga mencapai 0 kW dengan memutar selektor governor ke
arah lower
2. Lepaskan mesin dari sistem dengan dengan memindahkan saklar MCB (Main) ke posisi OFF
3. Tunggu selama 5 menit (pendinginan mesin), pertahankan frekuensi generator pada 50 Hz
dengan memutar pengatur putaran
4. Matikan KWH Digital dengan cara menurunkan saklar MCB yang ada di dalam panel Mesin
5. Matikan mesin dengan memutar kunci start ke posisi off (berlawanan arah jarum jam)
6. Lepas kabel accu start dan accu kembali dicas
7. Catat stand flow meter BBM, stand kWh dibangkit, stand kWh PS, jam stop mesin pada log
sheet
8. Bersihkan mesin dan lantainya dari kebocoran minyak pelumas dan BBM