Anda di halaman 1dari 9

Pelaporan Berkelanjutan dan Pelaporan Terintegrasi

Nama Anggota:
Noviar Kharismawati
M Kamal Redha

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTAN


FAKULTAS EKONOMI DDAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
A. PELAPORAN BERKELANJUTAN (SUSTAINBILITY REPORT)

Sustainability Report memiliki definisi yang beragam, menurut


Elkington(1997) SR berarti laporan yang memuat tidak saja informasi kinerja
keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang terdiri dari informasi aktivitas
sosial dan lingkungan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara
berkesinambungan (sustainable performance). Pelaporan sustainability akan menjadi
perhatian utama dalam pelaporan nonkeuangan, Pelaporan ini memuat empat kategori
utama yaitu : business landscape, strategi, kompetensi, serta sumber daya dan kinerja
(Falk, 2007).
Saat ini implementasi pelaporan berkelanjutan di Indonesia didukung oleh
sejumlah aturan seperti UU No. 23/1997 tentang manajemen lingkungan dan aturan
yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia mengenai prosedur dan persyaratan listing
dan juga standar laporan keuangan (PSAK). Sustainability Reports perusahaan
membutuhkan pedoman pelaporan berkelanjutan yang diterima secara nasional.
Untuk tujuan tersebut, dibutuhkan sebuah Badan Nasional yaitu NCSR (National
Center for Sustainability Reporting). Pengguna utama dari SR antara lain, masyarakat
atau komunitas, investor tanggung jawab sosial, bank, institusi pemerintah, dan
manajemen dan karyawan. Manfaat SR yang berdasarkan pada kerangka GRI, yaitu:
1) sebagai benchmark kinerja organisasional dengan memperhatikan hukum, norma,
undang-undang, standar kinerja, dan prakarsa sukarela;
2) mendemostrasikan komitmen organisasional untuk sustainable development, dan
3) membandingan kinerja organisasional setiap waktu.

GRI mempromosikan dan mengembangkan pendekatan standarisasi pelaporan


tersebut untuk menstimulasikan permintaan terhadap informasi sustainability yang
akan menguntungkan pelaporan organisasi dan kepada yang menggunakan informasi
laporan serupa. Pengungkapan Sustainability Report yang sesuai dengan GRI (Global
Reporting Index) harus memenuhi beberapa prinsip. Prinsip-prinsip ini tercantum
dalam GRI-G3 Guidelines, yaitu:

1. Keseimbangan
Sustainability Report sebaiknya mengungkapkan aspek positif dan negative dari
kinerja suatu perusahaan agar dapat menilai secara keseluruhan kinerja dari
perusahaan tersebut.

2. Dapat dibandingkan
Sustainability Report berisi isu dan informasi yang ada sebaiknya dipilih, dikompilasi,
dan dilaporkan secara konsisten. Informasi tersebut harus disajikan dengan seksama
sehingga memungkinkan para stakeholder untuk menganalisis perubahan kinerja
organisasi dari waktu ke waktu.
3. Akurat
Informasi yang dilaporkan dalam Sustainability Report harus cukup akurat dan rinci
sehingga memungkinkan pemangku kepentingan untuk menilai kinerja organisasi.
4. Urut waktu
Pelaporan Sustainability Report tersebut harus terjadwal dan informasi yang ada harus
selalu tersedia bagi para stakeholder.
5. Kesesuaian
Informasi yang diberikan dalam Sustainability Report harus sesuai dengan pedoman
dan dapat dimengerti serta dapat diakses oleh stakeholder.
6. Dapat dipertanggungjawabkan
Informasi dan proses yang digunakan dalam penyusunan laporan harus dikumpulkan,
direkam, dikompilasi, dianalisis, dan diungkapkan dengan tepat sehingga dapat
menetapkan kualitas dan materialitas informasi

Pengungkapan standar dalam Sustainability Report menurut GRI-G3 Guidelines


terdiri dari:
1. Ekonomi
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan pada kondisi ekonomi dari
stakeholder dan pada sistem ekonomi di tingkat lokal, nasional, dan global.
2. Lingkungan
Menyangkut dampak yang dihasilkan perusahaan terhadap makhluk di bumi, dan
lingkungan sekitar termasuk ekosistem, tanah, udara, dan air.

3. Hak Asasi Manusia


Adanya transparansi dalam mempertimbangkan pemilihan investor dan pemasok /
kontraktor. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya
berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
4. Masyarakat
Memusatkan perhatian pada dampak organisasi terhadap masyarakat dimana mereka
beroperasi, dan mengungkapkan bagaimana risiko yang mungkin timbul dari interaksi
dengan lembaga sosial lainnya.
5. Tanggung jawab produk
Berisi pelaporan produk yang dihasilkan perusahaan dan layanan yang secara
langsung mempengaruhi pelanggan, yaitu kesehatan dan keamanan, informasi dan
pelabelan, pemasaran, dan privasi.
6.Sosial
Berisi kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan, apa saja yang sudah dilakukan
dan bagaimana kegiatan tersebut dilakukan.

Manfaat perusahaan mengimplementasikan sustainability management, yaitu:


a. Perusahaan lebih peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar dalam
pembangunan komunitas (community development) atau Corporate Social
Responsibility (CSR). Perusahaan bukan hanya mengejar keuntungan bagi
pemilik semata, namun juga harus menjaga dan memberi nilai tambah (value
added) pada masyarakat dan lingkungannya.
b. Meningkatkan nama baik / reputasi perusahaan, sehingga terjaga citra (image)
yang positif.
c. Mengurangi dampak risiko yang merugikan perusahaan
d. Meningkatkan daya saing perusahaan (competitive advantage).
e. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham dan pemangku kepentingan
(stakeholder) lainnya.
f. Bahan Analisis investasi bagi para investor (Socially Responsible
Invesment/SRI).
g. Global Reporting Inititative (GRI) telah mengeluarkan panduan / pedoman
yang dapat digunakan untuk mengukur praktik sustanaibility management
berupa GRI Sustainability Reporting Guidelines dengan menunjukkan
beberapa elemen penting yang berhubungan dengan 3 aspek yaitu ekonomi,
lingkungan dan manusia atau triple bottom line (Profit, Planet & People).

Perusahaan yang telah go public memiliki kewajiban membuat laporan keberlanjutan


(sustainability report) sesuai dengan amanat Pasal 66 Ayat 2 Undang-Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas. Bapepam-LK telah mengeluarkan aturan yang
mengharuskan perusahaan publik untuk mengungkapkan pelaksanaan kegiatan CSR di dalam
laporan tahunannya. Melalui penerapan Sustainability Reporting diharapkan perusahaan
dapat berkembang secara berkelanjutan (sustainable growth) yang didasarkan atas etika bisnis
(business ethics).
Proses penyajian Sustainability Reporting dilakukan melalui 5 (lima) mekanisme, yaitu :
1. Penyusunan kebijakan perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan membuat kebijakan yang
berkaitan dengan sustainability development, kemudian mempublikasikan kebijakan tersebut
beserta dampaknya.

2. Tekanan pada rantai pemasok (supply chain). Harapan masyarakat pada perusahaan untuk
memberikan produk dan jasa yang ramah lingkungan juga memberikan tekanan pada
perusahaan untuk menetapkan standar kinerja dan sustainability reporting kepada para
pemasok dan mata rantainya.

3. Voluntary codes. Dalam mekanisme ini, masyarakat meminta perusahaan untuk


mengembangkan aspek-aspek kinerja sustainability dan meminta perusahaan untuk membuat
laporan pelaksanaan sustainability. Apabila perusahaan belum melaksanakan, maka
perusahaan harus memberikan penjelasan.

4. Mekanisme lain adalah rating dan benchmaking, pajak dan subsidi, ijin-ijin yang dapat
diperdagangkan, serta kewajiban dan larangan.

5. keterlibatan stakeholder

Sustainability Report dapat diterbitkan secara terpisah maupun terintegrasi dalam


laporan tahunan (annual report). Beberapa alasan perusahaan menyajikan Sustainability
Report terpisah dari annual report, antara lain :

a. Sustainability Report sebagai alat komunikasi bagi manajemen dengan para stakeholder
untuk menyampaikan pesan bahwa perusahaan telah menjalankan sustainable development.
b. Memperoleh image baik (citra positif) dari stakeholder.
c. Pencarian legitimasi dari stakeholder.

ISRA
National Center for Sustainability Reporting (NCSR) setiap tahun menyelenggarakan
ajang / penghargaan Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA). Ajang
tahunan ISRA diselenggarakan atas kerjasama NCSR bersama Indonesia-Netherlands
Association (INA) serta American Chamber of Commerce (AMCHAM) dengan
dukungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kedutaan Besar Kerajaan
Belanda, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Institut Akuntan
Manajemen Indonesia (IAMI), Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI),
dan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI). ISRA diharapkan dapat meningkatkan
tanggungjawab perusahaan terhadap pemangku kepentingan utama (key stakeholders)
dan meningkatkan kesadaran perusahaan terhadap aspek transparansi dan
akuntabilitas publik. ISRA diberikan kepada perusahaan yang telah mempublikasikan
Sustainability Report, baik yang diterbitkan secara terpisah maupun terintegrasi dalam
laporan tahunan (annual report).
Terdapat 3 (tiga) kriteria yang sering dipakai sebagai penilaian ajang penghargaan
ISRA antara lain :
a. Kelengkapan (completeness), meliputi: profil perusahaan, dampak penting,
kebijakan sosial/lingkungan, komitmen manajemen, target dan tujuan
kebijakan sosial/lingkungan, layanan produk dan jasa, kebijakan pengadaan
bahan baku dan isu-isu yang terkait dengannya, kebijakan pelaporan dan
pembukuan, dan hubungan antara pelaporan sosial/lingkungan dengan
masalah pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development),
sistem manajemen (management system) serta tata kelola perusahaan
(corporate governance).
b. Kepercayaan (Credibility), meliputi: pencapaian utama saat ini, penyebutan
anggota tim yang bertanggung jawab untuk isu sosial/ekonomi, sistem
manajemen dan integrasinya ke kegiatan usaha, perencanaan ketidakpastian
dan manajemen risiko, proses audit internal, ketaatan (compliance) atau
ketidaktaatan terhadap peraturan, data-data mengenai dampak sosial/ekonomi,
data-data keuangan konvensional yang berhubungan, laporan keuangan
sosial/lingkungan dan full cost accounting, akreditasi atau sertifikasi ISO,
penjabaran mengenai interaksi dengan pihak terkait atau proses dialog,
pemanfaatan masukan dari pihak-pihak yang terkait, serta pernyataan dari
pihak ketiga
c. Komunikasi (Communication), meliputi: tata letak dan penampilan,
kemudahan dipahami, dibaca dan proporsional uraian tiap bagian, mekanisme
komunikasi dan umpan balik (feedback), ringkasan pelaporan (executive
summary), tersedia petunjuk kemudahan untuk membaca laporan,
pemanfaatan sarana intranet & internet, acuan bagi website dan pelaporan lain,
dan hubungan antar pelaporan, kesesuaian grafik, gambar dan foto dengan
narasi, dan integrasi dengan laporan keuangan (financial statement).
B. PELAPORAN TERINTEGRASI
Definisi Pelaporan Terintegrasi
Pelaporan terintegrasi adalah komunikasi ringkas tentang bagaimana strategi
sebuah organisasi, pemerintahan, kemungkinan dan kinerja, dalam kontek dari
lingkungan external, menuntun untuk membuat nilai akhir jangka pendek, menengah
dan jangka panjang. Pelaporan terintegrasi harus dipersiapkan sesuai dengan kerangka
konseptualnya.
Kerangka Konseptual Pelaporan Terintegrasi
Tujuan dari kerangka konseptual pelaporan terintegrasi adalah untuk
menetapkan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan mengandung element-element
pengendalilan seluruh isi dari pelaporan terintegrasi, dan untuk menjelaskan konsep-
konsep dasar yang mendukung laporan tersebut.
Kerangka konseptual :
1. Mengidentifikasi informasi yang akan dimasukkan dalam laporan terintegrasi
untuk dingunakan dalam menilai kemampuan organisasi untuk menciptakan
nilai; tidak menetapkan standar untuk hal seperti kualitas strategi organisasi atau
tingkat kinerja.
2. Ditulis terutama dalam kontek dari sector swasta, untuk keuntungan perusahaan
berbagai ukuran tetapi juga dapat diterapkan, perlu disesuaikan, dengn
organisasi bukan untuk mencari keuntungan dan profit oriented.

Konsep Dasar Laporan Terintegrasi


Konsep dasar pada chapter ini mendukung dan menguatkan persyaratan dan
mengarahkan dalam kerangka konseptual pelaporan terintegrasi. Pelaporan
terintegrasi menjelaskan bagaiman organisasi menbentuk nilai dari waktu ke waktu.
Nilai tidak dibentuk atau dengan secara sendirinya dalam organisasi. Ini adalah
1. Dipengaruhi oleh lingkungan ekternal
2. Diciptakan melalui hubungan dengan stakeholders
3. Tergantung dari berbagai sumber

Pelaporan terintegrasi bertujuan untuk menyediakan wawasan tentang:

1. Lingkungan external yang mempengaruhi organisasi


2. Sumberdaya dan hubungan yang digunakan dan dipengaruhi oleh organisasi, yang
disebutkan secara kolektif dalam kerangka konseptual sebagai modal dan
dikategorikan dalam bagian 2C sebagai keuangan, manufaktur, intelektual,
manusia, sosial, hubungan dan alam.
3. Bagaimana organisasi berinteraksi dengan lingkungan ekternal dan untuk modal
membentuk nilai jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Membangun nilai untuk organisasi dan untuk yang lain. Membangun nilai
oleh sebuah organisasi dari waktu ke waktu memanifestasikan dirinya dalam
peningkatan, penurunan dari tranformasi modal disebabkan oleh ativitas bisnis dan
output dari organisasi. Nilai memiliki dua aspek yang saling terkait yang bangun
untuk:

1. Organisasi itu sendiri, yang menyediakan pengembalian keuangan kepada pemilik


modal.
2. Lainnya (stakeholders dan masyarakat luas).

Pemilik modal tertarik pada membangun nilai organisasi dari diri sendiri.
Mereka juga tertarik pada organisasi yang membangun nilai untuk yang lain ketika
kemampuan organisasi untuk membangun nilai sendiri, atau berhubungan untuk
tujuan lain dari organisasi (misalnya sebuah tujuan sosial explicit) yang
mempengaruhi penilaian mereka.

Alasan mengembangkan integrated reporting :


Menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan bisnis kepada para
stakeholder
Membantu mengintegrasikan sustainabilitas bisnis ke dalam strategi and
operasi
Meningkatkan relasi dengan para stakeholder utama
Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan
Menyederhanakan pelaporan eksternal (LK, LM, SR)
Menunjukkan posisi perusahaan sebagai leader and innovator
Meningkatkan relasi dengan komunitas investor, kreditor dan mitra usaha
Meningkatkan akses modal/pendanaan
Meningkatkan reputasi dan memperkuat brand perusahaan
Patuh terhadap regulasi