Anda di halaman 1dari 12

HALUSINASI

A. Definisi
Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan
perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien seakan stimulus yang sebenarnya tidak
ada. (Keliat)
Jenis Halusinasi :
1. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,
bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami
halusinasi. Pikiran yang terdenngar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien
disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun,
bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau
menakutkan seperti melihat monster. Kejadian tersebut menngakibatkan ketakutan
dan selalu menunjuk-nunjuk kearah tertentu.
3. Penghidung
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-
bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi pengihidung sering akibat stroke, tumor,
kejang, atau, dimensia.
4. Pengecapan
Merasa mengecap seperti rasa darah, urin, atau feses sehingga sering meludah dan
muntah.
5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tersetrum listrik yang dating dari tanah, benda mati atau orang lain, dan merasa ada
serangga dipermukaan kulit.

B. Etiologi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah :
1. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-
penelitian yang berikut :
a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas
dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbic
berhubungan dengan perilaku psikotik.
b. Beberapa zat kimia diotak seperti dopamine neurotransmitter yang berlebihan dan
masalah-masalah pada sistem reseptor dopamine dikaitkan dengan terjadinya
skizofrenia.
c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya
atrofi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan
skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks
bagiandepan dan atrofi otak kecil ( cerebellum ). Temuan kelainan anatomi otak
tersebut didukung oleh otopsi ( post-mortem ).
2. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan
kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang
hidup klien.
3. Sosila Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya ( perang, kerusuhan, bencana alam ) dan kehidupan
yang terisolasi disertai stress.
C. Phatofisiologi
1. Tahap 1
Memberi rasa nyaman, tingkt ansietas sedang, secara munrni halusinasi merupakan
suatu ksenanga
a. Karakteristik
Mengalami ansietas, kesepian, dan rasa bersalah, ketakutan, mencoba
berfokus pada fikiran yang dapat menghilankan ansietas, dan fikiran pengalaman
sensorin masih ada dalam control kesadaran (non psikotik).
b. Perilaku klien
Tersenyum, tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan
mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan berkonsentrasi.
2. Tahap 2
Menyalahkan, tingkat kecemasan berat, secara umum halusinasi.
a. Karakteristik
Pengalaman sensori menakutkan, merasa dilecehkan oleh pengalaman
sensori tersebut, mulai merasa kehilangan control dan menarik diri dari orang lain
(non psikotik).
b. Perilaku klien
Terjadi denyut jantung, pernafasan dan terkena darah, perhatian sama
lingkungan berkurang.
3. Tahap 3
Mengontrol tingkat kecemasan berat dan pengalaman tidak dapat ditolak
a. Karakteristik
Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya (halusinasi), isi
halusinasinya mejadi aktaktif dan kesepian bila pengalaman sensori berakhir
(psikotik).
b. Perilaku klien
Perilaku halusinasi ditaati, sulit berhubungan dengan orang lain. Perhatian
terhdap lingkungan berakhir, hanya beberapa detik dan tidak mampu mengikuti
perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat.
4. Tahap IV
Klien sudh dikuasai oleh halusinasi, klien panic
a. Karakteristik
Pengalaman sensori menjadi mengancam dan halusinasi dapat berlangsung
selama beberapa jam/hari
b. Perilaku klien
Perilaku panic, resiko tingii mencederai, agitasi atau katatonik, tidak
mampu berespon terhadap lingkungan.
D. Manifestasi Klinis
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution (2003),seseorang
yang mengalami halusinasi biasanya memperhatikan gejala-gejala yang khas yaitu :
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3. Gerakan mata abnormal.
4. Respon verval yang lambat.
5. Diam.
6. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasikkan.
7. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan
nadi, pernafasan dan tekanan darah.
8. Penyempitan kemampuan konsentrasi.
9. Dipenuhi dengan pengalaman sensori.
10. Mungkin kehilangan keampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.
11. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada
menolaknya.
12. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
13. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
14. Berkeringat banyak.
15. Tremor.
16. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
17. Perilaku menyerang terror seperti panik.
18. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain.
19. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi.
20. Menarik diri katatonik.
21. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks.
22. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien skizofrenia dengan gejala halusinasi adalah dengan
pemberian obatan tindakan lain, yaitu :
1. Psikofarmakologis
Obat-obtan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran merupakan
gejala psikosis pada pasien skizofrenia adalah obat-obatan antipsikosis.
2. Terapi kejang listrik atau Elektro CompultiveTherapy (ECT)
3. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
F. Masalah Yang Lazim Muncul
1. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan kurangnya
sumber sosial ( isolasi sosial yang buruk dari keluarga dan lingkungan, depresi berat )
2. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain berhubungan dengan kerusakan
kognitif ( halusinasi )
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan kognitif

G. Discharge Planning
1. Kenali faktor penyebab halusinasi, jenis halusinasi dan cara pencegahannya.
2. Jika mengindentifikasi tanda-tanda halusinasi segera lakukan tindakan atau selalu
mengajak bicara jika akan terjadi halusinasi.
3. Selalu konsuktasikan juga tentang masalah keluarga yang dihadapi dalam merawat
pasien.
4. Beri dukungan dan berikan aktifitas yang dapat mencegah terjadinya halusinasi.
5. Selalu teratur minum obat.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. Penkajian
1. Faktor Presipitasi
a. Sosial Budaya
Teori ini mengatakan bahwa stress lingkungan dapat menyebabkan terjadi
respon neurobiologis yang maladaptif, misalnya lingkungan yang penuh dengan
kritik (bermusuhan); kehilangan kemandirian dalam kehidupan; kehilangan harga
diri; kerusakan dalam hubungan interpersonal dan gangguan dalam pekerjaan, dan
kemiskinan. Teori ini mengatakan bahwa stress yang menumpuk dapat menunjang
terhadap terjadinya gangguan psikotik tetapi tidak diyakini sebagai penyebab
utama gangguan.
b. Biokimia
Dopamine, norepineprin, zat halusinagen dapat menimbulkan persepsi yang
dingin oleh klien sehingga klien cenderung membenarkan apa yang dikhayalkan.
2. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
Adanya hambatan dalam perkembangan otak khusus konteks lobus provital,
temporal dan limbik yang disebabkan gangguan perkembangan dan fungsi
susunan saraf pusat. Sehingga menyebabkan hambatan dalam belajar, berbicara,
daya ingat dan mungkin perilaku menarik diri, perilaku menarik diri dapat
menyebabkan orang tidak mau bersosialisasi sehingga kemampuan dalam menilai
dan berespon dengan realita dapat hilang dan sulit membedakan rangsang internal
dan eksternal.
b. Faktor Psikologis
Halusinasi dapat terjadi pada orang yang mempunyai keluarga overprotektif
sangat cemas. Hubungan dalam keluarga yang dingin dan tidak harmonis,
perhatian dengan orang lain yang sangat berlebihan ataupun yang sangat kurang
sehingga menyebabkan koping individu dalam menghadapi stress tidak adaptif.
c. Faktor Sosial Budaya
Kemiskinan dapat sebagai faktor terjadi halusinasi bila individu mempunyai
koping yang tidak efektif maka ia akan suka berkhayal menjadi orang lain.
3. Perilaku
Pengkajian pada klien dengan halusinasi perlu ditekankan pada fungsi kognitif (proses
pikir), fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi motoric, dan fungsi sosial.
a. Fungsi Kognitif
Pada fungsi kognitif terjadi perubahan daya ingat, klien mengalami kesukaran
dalam menilai dan menggunakan memorinya atau klien mengalami gangguan
daya ingat jangka panjang/pendek. Klien menjadi pelupa dan tidak berminat.
1) Cara Berfiikir Magis dan Primitif: klien menganggap bahasa diri dapat
melakukan sesuatu yang mustahil bagi orang lain, misalnya dapat berubah
menjadi spiderman. Cara berfikir klien seperti anak pada tingkat
perkembangan anak pra sekolah.
2) Perhatian: klien tidak mampu mempertahankan perhatiannya atau mudah
teralih, serta konsentrasi buruk, akibatnya mangalami kesulitan dalam
menyelesaikan tugas dan berkonsentrasi terhadap tugas.
3) Isi Pikir: klie tidak mampu memproses stimulasi eksterna dan interna dengan
baik sehingga terjadi curiga, sisip pikir, somatik.
4) Bentuk dan Pengorganisasian Bicara: klien tidak mampu mengorganisasian
pemikiran dan menyusun pembicaraan yang logis atau kohern. Gejala yang
sering timbul adalah kehilangan asosiasi, kongensial, inkohern/neologisme,
sirkumfansial, tidak masuk akal. Hal ini dapat didentifikasikan dari
pembicaraan klien yang tidak relevan, tidak logis bicara yang berbelit.
b. Fungsi Emosi
Emosi digambarkan dengan istilah mood adalah suasana emosi sedangkan
efek adalah mengacu kepada ekspresi emosi yang dapat diamati dalam ekspresi
wajah, gerakan tangan, tubuh dan nada suara ketika individu menceritakan
perasaannya.
Pada proses neurologis yang maladaptif terjadi gangguan emosi yang dapat
dikaji melalui perubahan afek:
1) Afek Tumpul: kurangnya respon emosional terhadap pikiran, orang lain atau
pengalaman klien tampak apatis.
2) Afek datar: tidak tampak ekspresi aktif, suara menahan dan wajah datar, tidak
ada keterlibatan perasaan.
3) Afek tidak sesuai: afek tidak sesuai dengan isi pembicaraan.
4) Reaksi berlebihan: reaksi emosi yang berlebihan terhadap suatu kejadian
5) Ambivalen: timbulnya dua perasaan yang bertentangan pada saat yang
bersamaan.
c. Fungsi Motorik
Respon Neurologis Maladaptif menimbulakan perilaku yang aneh,
membingungkan dan kadang Nampak tidak kenal dengan orang lain. Perubahan
tersebut adalah:
1) Impulsif: cenderung melakukan gerakan yang tiba tiba dan spontan.
2) Menerisme: dilihat melalui gerakan dan ucapan seperti grimasentik.
3) Stereobipik: gerakan yang diulang tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh
stimulus yang jelas.
4) Katatonia: kekacauan psikomotor pada skizofrenia tipe katatonik (eq:
catatonic excitement, stupor, catalepsy, flexibilitascerea), imobilitas karea
faktor psikologis, kadangkala ditandai oleh periode agitasi atau gembira, klien
tampak tidak bergerak, seolah olah dalam keadaan setengah sadar.

d. Fungsi Sosial
Perilaku yang terkait dengan hubungan sosial sebagai akibat orang lain respon
neorobiologis yang maladaptif adalah sebagai berikut:
1) Kesepian
Perasaan terisolasi dan terasing, perasaan kosong dan merasa putus asa
sehingga klien terpisah dengan orang lain.
2) Isolasi Sosial
Terjadi ketika klien menarik diri secara fisik dan emosional dari lingkungan.
Isolasi sosial diri klien tergantung pada tingkat kesedihan dan kecemasan yang
berkaitan dalam berhubungan dengan orang lain. Rasa tidak percaya pada
orang lain merupakan inti masalah pada klien. Pengalaman hubungan yang
tidak menyenangkan menyebabkan klien menganggap hubungan saat ini
berbahaya. Klien merasa terancam setiap ditemani orang lain karena ia
menganggap orang tersebut akan mengontrolnya, mengancamnya,
menuntutnya oleh karena itu klien tetap mengisolasi diri dari pada pengalaman
yang menyedihkan terulang kembali.
3) Harga Diri Rendah
Pada proses pengkajian, data pentinga yang perlu didapatkan adalah:
1. Jenis halusinasi
Halusinasi dengar/suara, halusinasi penglihatan, halusinasi penghidu,
halusinasi pengecap, halusinasi peraba.
2. Isi halusinasi
3. Waktu, frekuensi dan ssituasi yang menyebabkan munculnya halusinasi
4. Respons halusinasi
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan kurangnya
sumber sosial (isolasi sosial yang buruk dari keluarga dan lingkungan depresi berat)
2. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain berhubungan dengan kerusakan
kognitif (halusinasi)
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan kognitif
4. Gangguan persepsi sensori (halusinasi)
C. Rencana Keperawatan
1. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri b/d kurangnya sumber sosial
Definisi: perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain
maupun lingkungan.
Tujuan:
NOC :
-Self mutilation
- Impuls self control
Kriteria hasil :
1) Dapat menahan diri mencederai diri sendiri
2) Intervensi awal untuk mencegah respon agresif di perintahkan halusinasi
3) Pasien dapat mengartikan sentuhan sebagai ancaman
4) Mencegah kemungkinan cedera pasien atau orang lain karena adanya perintah dari
halusinasi
5) Perawat harus jujur pada pasien sehingga pasien menyadari suara tidak ada
6) Keterlibatan pasien dalam kegiatan interpersonal akan menolong klien kembali
dalam realitas.
Intervensi NIC :
Behavior management : self harm
1) Dorong pasien untuk mengungkapkan secara verbal konsekuensi dari perubahan
fisikn dan emosi yang mempengaruhi konsep diri.
2) Pertahankan lingkungan dalam tingkat stimulus yang rendah
3) Ciptakan lingkungan psikososial
4) Kembangkan orientasi kenyataan
5) Singkirkan semua benda berbahaya
6) Lindungi klien dan keluarga dari bahaya halusinasi
7) Tingkatkan peran serta keluarga pada tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-
prinsip tindakan pada halusinasi
8) Salurkan perilaku merusak pada kegiatan fisik
9) Lakukan fiksasi bila diperlukan
10) Berikan obat-obatan antipsikotik sesuai dengan yang dapat menurunkan
kecemasan dan menstabilkan mood dan menurunkan stimulasi kekerasan terhadap
diri sendiri
Impulse control training
11) Ajarkan pasien penggunaan tindakan menenangkan diri ( nafas dalam )
2. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain b/d kerusakan kognitif
Definisi: beresiko melakukan perilaku, yakni individu menunjukkan bahwa ia dapat
membahayakan orang lain secara fisik, emosional, dan/atau seksual.
Tujuan:
NOC :
- Abuse protection
- Impulse self control
Kriteria hasil :
1) Dapat mengidentifikasi faktor yang menyebabkan perilaku kekerasan
2) Dapat mengidentifikasi cara alternative untuk mengatasi masalah
3) Dapat mengidentifikasi system pendukung dikomunitas
4) Tidak menganiaya orang lain secara fisik, emosi atau seksual
5) Dapat menahan diri dari menghancurkan barang-barang milik orang lain
6) Dapat mengidentifikasi kapan marah, prustasi atau merasa agresif
Intervensi NIC :
Behavior management
1) Tahan/ mengontrol pasien bertanggung jawab atas/ nya perilaku
2) Komunikasikan tentang harapan bahwa pasien akan mempertahankan kontrol/
kondisinya
3) Konsultasikan dengan keluarga untuk mentapkan data dasar kognitif pasien
4) Tetapkan batas dengan pasien
5) Menahan diri dari berdebat berdebat atau tawar menawar mengenai batas yang
ditetapkan dengan pasien
6) Menetapkan rutinitas
7) Menetapkan pergeseran- pergeseran ke konsistensi dalam lingkungan dan rutinitas
perawatan
8) Menggunakan pengulangan secara konsistensi dapat dari kesehatan sebagai cara
menetapkan mereka
9) Menghindari gangguan peningkatan aktivitas fisik yang sesuai
10) Membatasi jumlah perawat memanfaatkan suara, berbicara lembut rendah
11) Menghindari kesendirian pasien. Mengarahkan perhatian dari sumber agitasi
12) Menghindari memproyeksikan gambar mengancam
13) Menghindari beerdebat dengan pasien
14) Mengabaikan perilaku yang tidak pantas
15) Mencegah perilaku agresif pasif
16) Pujian upaya pengendalian diri
17) Mengobati seperlunya
18) Menerapkan pergelangan tangan/ kaki/ hambatan dada, yang diperlukan.
3. Defisit perawatan diri berpakaian
Definisi: hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
berpakaian dan berias diri sendiri.
Tujuan:
NOC :
- Self care status
- Self care : dressing
- Activity tolerance
- Fatigue level
Kriteria hasil:
1) Mampu melakukan tugas fisik yang paling mendasar dan aktivitas perawatan
pribadi secara mandiri dengan tanpa alat bantu
2) Mampu untuk mengenakan pakaian dan berhias sendiri secara mandiri atau tanpa
alat bantu
3) Mampu mempertahankan kebersihan pribadi dan penampilan yang rai secara
mandiri dengan atau tanpa alat bantu
4) Mengungkapkan kepuasan dalam berpakaian dan menata rambut
5) Menggunakan alat bantu untuk memudahkan dalam berpakaian
6) Dapat memilih pakaian dan mengambilnya dari lemari atau laci baju
7) Mempu meresleting dan mengancing pakaian
8) Menggunakan pakaian secara rapi dan bersih
9) Mampu melepas pakaian, kaos kaki, dan sepatu
10) Menunjukkan rambut yang rapi dan bersih
11) Menggunakan tata rias
Intervensi NIC:
1) pantau ingkat kekuatan dan toleransi aktivitas
2) pantau peningkatan dan penurunan untuk berpakaian dan melakukan perawtan
rambut
3) pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawtan diri
4) pertimbangkan usia pasien ketika mempromosikan aktivitas perawtan diri
5) bantu pasien memilih pakaian yang mudah dipakai dan di lepas
6) sediakan pakaian pasien pada tempat yang mudah dijangkau
7) fasilitasi pasien untuk menyisir rambut bila memungkinkan
8) dukung kemandirian dalam berpakaian,berhias.
9) Bantu pasien jika diperlukan
10) Pertahankan privasi saat pasien berpakaian
11) Bantu pasien untuk menaikkkan,mengancingkan dan meresleting pakaian jika
diperlukan
12) Gunakan alat bantu tambahan (pisau sendok,pengait kancing, penarik resleting)
13) Untuk menarik pakaian jika diperlukan
14) Beri pujian atas usaha untuk berpakain sendiri
15) Gunakan tersapi fisik dan okupasi sebagai sumber dalam perencanaan tindakan
pasien dalam perawtan pasien dengan alat bantu.
4. Gangguan persepsi sensori
Definisi: perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima, yang disertai
respons terhadap stimulus tersebut yang dihilangkan, dilebihkan, disimpangkan atau
dirusakkan.
NOC:
- Orientasi kognitif
- Nafsu makan
- Fungsi sensorik rasa dan bau
- Perilaku kompensasi penglihatan
Kriteria hasil:
1) Menunjukkan status neurologis: fungsi motoric sensori/kranial, yang dibuktikan
oleh penciuman, penglihatan, pengecapan, pendengaran, bicara, sensasi wajah,
gerakan otot wajah, gerakan terarah (tidak ada gangguan)
2) Menunjukan orientasi kognitif yang dibuktikan oleh indikator (tidak ada
gangguan): mengidentifikasi diri, orang terdekat, tempat saat ini, hari, bulan
tahun, dan musim yang benar
NIC:
1) Stimulasi kognitif meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap sekitar
melalui penggunaan stimulus
2) Peningkatan komunikasi, deficit pendengaran : membantu pembelajaran dan
penerimaan metode alternative untuk menjalani hidup dengan penurunan fungsi
pendengaran
3) Manajemen halusinasi: meningkatkan keamanan, kenyamanan orientasi realitas
pasien yang mengalami halusinasi
4) Manajemen mual: mencegah dan meredakan mual
5) Manajemen nutrisi: membantu atau memberikan asupan diet makanan dan
cairan seimbang
6) Pemantauan nutrisi: mengumpulkan dan menganalisa data pasien untuk
mencegah atau meminimalkan kurang gizi
7) Peningkatan mekanika tubuh: memfasilitasi penggunaan gerakan dan postur
yang tepat pada aktivitas sehari-hari untuk mencegah keletihan dan ketegangan
musculoskeletal atau cedera
8) Terapi latihan fisik: keseimbangan menggunakan aktivitas, postur dan gerakan
otot untuk mempertahankan meningkatkan atau memulihkan keseimbangan
9) Pemantauan neurologis: mengumpulkan dan menganalisa data pasien untuk
mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologis
10) Manajemen lingkungan, manipulasi lingkungan sekitar pasien untuk
memperoleh manfaat terapeutik, stimulasi sensori dan kesejahteraan psikologis
11) Pemantauan neurologis: mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk
mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologis
12) Manajemen nutrisi : membantu dan memberikan asupan diet makanan dan
minuman seimbang
13) Manajemen lingkungan keamanan: memantau dan memodifikasi lingkungan
fisik untuk meningkatkan keamanan
14) Manajemen halusinasi: promosi keamanan, kenyamanan dan orientasi realitas
pasien yang mengalami halusinasi
15) Manajemen sesasi perifer, mencegah atau meminimalkan cedera atau
ketidaknyamanan pada pasien yang mengalami perubahan sensasi
16) Peningkatan komunikasi:deficit penglihatan: membantu pembelajaran dan
penerimaan metode alternatif untuk menjalani hidup dengan penurunan fungsi
penglihatan
17) Manajemen halusinasi: meningkatkan keamanan dan orientasi realitas pasien
yang mengalami halusinasi
18) Pemantauan neurologis: mengumpulkan data menganalisa data pasien untuk
mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologis

DAFTAR PUSTAKA

Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Salemba
Medika: Jakarta.
Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Nuha Medika: Yogyakarta.
Dermawan, Dede & Rusdi. 2013. KEPERAWATAN JIWA KONSEP DAN KERANGKA
KERJA ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. Gosyeng Publishing: Yogyakarta.
Wilkinson, Judith M. 2011. BUKU SAKU DIAGNOSIS KEPERAWATAN EDISI 9. Penerbit
Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. APLIKASI ASUHAN KEPERATAN
BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS DAN NANDA NIC-NOC EDISI REVISI JILID 2.
Mediaction: Yogyakarta.