Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN


TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU

KEJU MOZARELLA
(Bos taurus)

Oleh :
Nama : Aditya Dwi Jendra
NRP : 143020319
Kelompok/Meja : K/6 (Enam)
Tanggal Praktikum : 17 April 2017
Asisten : Syarifah Ulfah N

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2017
Tujuan Percobaan
Untuk diversifikasi produk olahan susu, salah satu cara pengawetan susu,
meningkatkan nilai ekonomis susu dan untuk mengetahui proses pembuatan keju
mozarella.

Prinsip Percobaan
Berdasarkan koagulasi susu dengan asam sehingga dihasilkan curd dengan
penambahan enzim rennet dan pemanasan akan menghasilkan tekstur elastis
sehingga menjadi keju mozarella.

Rumus

Bahan=formulasi x basis

w produk
produk= x 100
w basis
Metode Percobaan

Susu murni

Laruran asam sitrat Pencampuran I

Pemasakan I T=30oC, t=3

Larutan enzim rennet Pencampuran II

Penggumpalan t=1-2 jam

Pemanasan II T=40oC, t=3


Larutan garam

Pemisahan Whey

Curd

Perendaman T=3oC, t=20

Penirisan Whey

Pengemasan

Freezing T=3oC, t=30

Pengemasan

Keju mozarella

Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Keju Mozarella


Persiapan Bahan Pencampuran I Pemanasan I

Pemanasan II Penggumpalan Pencampuran II

Pemisahan Perendaman Pengemasan

Keju Mozarella

Gambar 2. Foto Proses Pembuatan Keju Mozarella


Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Kokristalisasi Susu
Keterangan Hasil
Basis -
Susu murni 500 ml, asam sitrat 2 gram, enzim
Bahan Utama
rennet 0,3 gram
Bahan Tambahan -
Berat Produk 11 gram
% Produk 2,2%
Organoleptik
1. Warna Putih
2. Rasa
Asin
3. Aroma
4. Tekstur Khas susu
5. Kenampakan
Elastis
Agak menarik
Gambar Produk

(Sumber : Kelompok K, Meja 6, 2017)

Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan pembuatan keju mozarella diperoleh %
produk sebesar 2,2% dengan sifat organoleptik memiliki warna putih, rasa asin,
aroma khas susu, dengan tekstur elastis dan memiliki kenampakan yang agak
menarik.
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembuatan keju mozarella yaitu
diantaranya pencampuran, pemanasan, penggumpalan, pemisahan, perendaman,
penirisan, pengemasan dan freezing.. Tahapan pencampuran ini bertujuan untuk
mencampurkan seluruh bahan adonan agar diperoleh adonan yang merata
sempurna. Selanjutnya dilakukan proses pemanasan, yang bertujuan untuk
membunuh mikroorganisme pathogen yang ada alam bahan serta bertujuan untuk
membantu mempercepat proses pengumpalan curd yang akan dihasilkan.
Selanjutnya dilakukan proses penggumpalan, yang bertujuan untuk mendapatkan
curd yang diinginkan diaman proses penggumapalan ini dilakukan selama 1-2
jam. Setelah adonan menggumpal akan menghasilkan curd dan whey, kemudian
dilakukan proses pemisahan yang bertujuan untuk memisahkan antara curd dan
whey sehingga dihasilkan curdnya saja. Curd hasil pemisahan tersebut,
selanjutnya direndam dengan menggunakan air dingin yang ditambah garam,
proses perendaman ini berfungsi untuk untuk memberikan rasa sedikit asin juga
bertindak sebagai preserve menahan mikroorganismee proteolitik ataupun
mikroorganisme perusak. Selanjutnya dilakukan proses penirisan yang bertujuan
untuk menghilangkan kadar air bahan sisa hasil perendaman dan whey yang masih
tersisa dalam curd dapat terpisahkan. Selanjutnya curd yang telah ditiriskan
kemudian dikemas dalam alumunium foil dan didinginkan pada suhu 2 0C selama
30 menit yang bertujuan untuk membentuk atau mempertahankan tekstur keju
mozarella yang dihasilkan.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan keju mozarella


diantaranya yaitu susu murni, enzim rennet dan asam sitrat. Susu murni
merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan keju mozarella dan
merupakan bahan untuk menambah nilai nutrisi suatu produk, karena pada
umumnya susu merupakan bahan maknaan yang hampir sempurna dan merupakan
makanan alamiah bagi biantang menyusui yang baru lahir, dimana susu
merupakan satu-satunya sumber makanan pemberi kehidupan segera sesudah
kelahiran (Muchtadi, 2015)

Bahan utama lain dalam pembuatan keju mozarella yaitu enzim rennet
enzim rennet ini berfungsi untuk menggumpalkan protein sehingga menghasilkan
bakal keju (curd) yang diinginkan. Pada umumnya enzim rennet disebut juga
dengan rennin komersial. Jika rennin merupakan enzim murni, maka rennet
adalah enzim komersial yang diperoleh dari lambung anak sapi. Sekarang rennin
dapat juga diperoleh dari hasil pengembangbiakan mikroorganisme sebagai
metabolit, yaitu jamur Mucor miehei (Suliasih, 2017).
Sedangkan asam sitrat merupakan bahan tambahan dalam pembuatan keju
mozarella, dimana fungsinya yaitu untuk membantu agar enzim rennet dapat
bekerja dengan optimal dan membantu juga dalam mempercepat proses
penggumpalan. Penambahan asam sitrat ini disebut juga dengan proses
pengasaman, dimana dalam prosesnya pengasaman ini selain menggunakan asam
sitrat dapat pula dengan menggunakan lemon jus, asam tatrat, cuka atau bakteri
Streptococcus lactis, dimana bakteri tersebut akan mengubah laktosa (gula susu)
menjadi asam laktat sehingga derajat keasaman (pH) susu menjadi rendah dan
rennet efektif bekerja (Suliasih, 2017)

Dalam proses pembuatan keju mozarella terjadi perubahan fisika, kimia


dan biologi. Perubahan fisik yang terjadi yaitu terjadinya perubahan wujud susu
yang asalnya berbentuk cairan menjadi berbentuk semi padat dan elastis.
Perubahan kimia yang terjadi adalah terjadinya penggumapalan yaitu akibat
adanya pemanasan dan penambahan enzim rennet serta asam sitrat yang dapat
merusak protein sehingga terjadi koagulasi dan menggumapl menjadi bakal keju
(curd) yang diinginkan. Perubahan biologi yang terjadi yaitu dengan adanya
pemanasan dan perendaman pada larutan air garam maka mikroorganisme
pathogen dan sebagian mikroorganisme perusak akan terbunuh sehingga
didapatkan produk yang memiliki umur simpan yang panjang.

Enzim rennet adalah sekelompok enzim yang dihasilkan oleh lambung


binatang menyusui untuk mencerna susu ibu. Rennet mengandung enzim
proteolytic (protease) yang memisahkan susu menjadi bagian padat dan cair. Pada
umumnya enzim rennet disebut juga dengan rennin komersial. Jika rennin
merupakan enzim murni, maka rennet adalah enzim komersial yang diperoleh dari
lambung anak sapi. Sekarang rennin dapat juga diperoleh dari hasil
pengembangbiakan mikroorganisme sebagai metabolit, yaitu jamur Mucor miehei
(Suliasih, 2017).

Pada umumnya keju memiliki kandungan protein sebesar 10-30% dimana


protein ini didapatkan dari sejumlah protein yang ada dalam susu muri, sehingga
kandungan proteinnya cukup tinggi. Susu berperan untuk satu diantara sumber
protein yang terbaik serta kaya akan protein berkualitas. Sementara jumlah protein
susu murni memanglah tidak terlampau besar, akan tetapi mutu protein yang
disiapkan untuk menjaga tubuh benar-benar mengagumkan. Protein dalam susu
mengandung seluruhnya asam amino essensial yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh. Selain itu, dalam proses pembuatan keju untuk mendapatkan protein tinggi
biasanya para produsen pangan protein didapatkan dari kasein yang dimodifikasi.
Saat proses pematangan, protein dipecah menjadi oligopetida dan asam amino.
Proses ini berpengaruh terhadap struktur dan rasa dari keju. Proses degradasi
protein disebut proteolisis dan karena proses inilah maka protein menjadi mudah
dicerna (Enrico, 2012)

Jenis keju adalah berbagai macam variasi keju yang merupakan hasil dari
penggunaan susu dan bakteri yang berbeda juga lamanya proses pematangan yang
tidak sama. Selain itu, makanan yang dimakan oleh binatang yang akan diambil
susunya pun berpengaruh terhadap keju yang akan dihasilkan. Saat ini
diperkirakan ada lebih dari 400 macam keju dari berbagai negara di dunia.
Adapun salah satu dari berbagai jenis keju tersebut yaitu sebagai berikut.

1) Berdasarkan tekstur

Keju keras

Keju keras adalah tipe keju yang memiliki maksimum kadar air 56 persen,
semakin sedikit kadar air dalam keju maka keju akan semakin keras.
Walaupun begitu tidak semua keju tipe ini memiliki tekstur yang keras.
Sebagai contoh, keju Edam lebih lunak dari keju Parmesan dan bisa
dengan mudah diiris sedangkan Parmesan harus diparut. Keju keras
umumnya menjadi matang dalam tiga bulan. Namun, proses pematangan
dapat berlangsung hingga satu tahun dan membuat keju kehilangan lebih
banyak air dan menjadi lebih keras (Wikipedia, 2017).

Keju iris
Maksimum kadar air pada keju iris berkisar antara 54-63% dan karenanya
menjadi matang lebih cepat dan lebih mudah diiris dibandingkan keju
keras (Wikipedia, 2017).

Keju iris semi keras

Kadar air pada keju jenis ini berkisar antara 61-69%. Sebagian besar keju
ini diproduksi dengan krim rendah kalori. Lama pematangan pada keju-
keju tipe ini berbeda-beda. Contoh keju iris semi keras adalah Roquefort,
Tetilla, dan Weisslacker (Wikipedia, 2017).

Keju lunak

Keju lunak memiliki kadar air lebih dari 67%. Karena banyaknya air pad
keju ini, maka kadar lemak yang terdapat pada keju ini pun lebih rendah
dibandingkan dengan keju yang lebih keras (Wikipedia, 2017).

2) Berdasarkan proses pematangan


Keju dapat dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan proses
pematangannya.
Bakteri yang dimatangkan dari dalam
Contoh keju dari kelompok ini adalah Cheddar, keju Gouda, dan
Parmesan. Keju-keju dalam kategori ini menjadi lebih keras ketika
matang. Kematangannya akan terjadi seragam di seluruh bagian luar keju
(Wikipedia, 2017).
Keju yang dicuci kulitnya
Contoh keju dari kelompok ini adalah Limburger dan Liederkranz. Keju-
keju ini secara periodik dicuci bagian permukaannya dengan air asin pada
tahap pertama pematangan. Keju tipe ini memiliki kulit yang berwarna
oranye atau kemerah-merahan. Biasanya, keju ini akan menjadi lebih
lunak ketika matang dan memiliki aroma yang tajam (Wikipedia, 2017).
Keju bercoreng biru
Contoh keju dari kelompok ini adalah Roquefort dan Stilton. Keju-keju ini
mengandung biakan kapang atau jamur yang menyebar ke seluruh bagian
dalam keju (Wikipedia, 2017).
Keju berlapis kapang
Contoh keju dari kelompok ini adalah Brie, Camembert, dan St. Andre.
Keju-keju jenis ini memiliki lapisan kulit yang berbulu akibat kapang.
Lapisan tersebut berwarna putih ketika keju masih muda tetapi dapat
menjadi lebih gelap atau coreng-coreng ketika keju mengalami proses
pematangan (Wikipedia, 2017).
Keju yang tidak dimatangkan
Contoh keju dari kelompok ini adalah cottage cheese, keju krim, dan
baker's cheese. Keju jenis ini tidak mengalami proses pematangan
(Wikipedia, 2017).
3) Berdasarkan kulit
Keju berkulit keras
Ciri-ciri dari keju ini adalah bentuknya yang besar, memerlukan waktu
lebih lama untuk matang, dan melalui proses penekanan untuk
menghilangkan kelembaban. Contoh keju jenis ini adalah Raclette,
Gruyere, dan Gouda (Wikipedia, 2017).
Keju yang tertutup dengan bulu halus
Keju jenis ini kulitnya halus dan berbulu. Contoh keju jenis ini adalah Brie
(Wikipedia, 2017).
Keju berkulit alami
Bagian dalam dari keju ini memiliki tekstur yang lembut dan kulitnya
berwarna abu-abu atau biru yang berubah-ubah ketika keju mulai menua.
Contoh keju tipe ini antara lain Sainte Maure dan Pouligny St. Pierre
(Wikipedia, 2017).
Keju yang kulitnya dicuci dengan air asin
Keju-keju kategori ini dimandikan di dalam air asin ketika matang.
Contohnya adalah Muenster dan Feta (Wikipedia, 2017).
Keju biru
Keju biru memiliki coreng-coreng yang berwarna biru atau hijau. Warna
tersebut didapat dari membiakkan bakteri pada keju. Contoh keju biru
adalah Stilton, Roquefort dan Gorgonzola (Wikipedia, 2017).
Keju segar
Ciri-ciri dari keju segar adalah tidak memiliki kulit, memiliki kandungan
air yang tinggi dan tidak melalui proses pematangan. Contohnya antara
lain adalah Demi-sel, Ricotta dan Mascarpone (Wikipedia, 2017)

4) Berdasarkan jenis susu yang digunakan

Keju dari susu kambing

Banyak orang yang lebih memilih untuk menggunakan susu kambing


karena kandungan lemak dan laktosa yang rendah dan mengandung
banyak nutrisi (Wikipedia, 2017).

Keju dari susu domba atau biri-biri

Karena pada umumnya domba menghasilkan susu yang lebih sedikit


dibandingkan sapi dan kambing maka keju jenis ini pun sulit ditemukan
dan lebih mahal harganya (Wikipedia, 2017).

Keju dari susu campuran

Keju tipe ini dibuat dari kombinasi dua jenis susu atau lebih (Wikipedia,
2017).

Keju dari susu mentah

Banyak yang berpendapat bahwa proses pasteurasi dapat menghilangkan


rasa keju sehingga mereka menggunakan susu mentah (Wikipedia, 2017).

5) Jenis keju lainnya

Keju proses
Keju proses berbeda dengan keju-keju kategori lainnya karena keju ini
tidak diproduksi langsung dari susu segar tetapi dibuat dari keju yang
sudah matang. Sisa-sisa dari berbagai macam keju dicampur menjadi satu
kemudian digiling, diberi garam dan dipanaskan. Keju proses tersedia
dalam berbagai macam bentuk (Wikipedia, 2017).

Keju segar

Keju segar tidak melalui proses pematangan seperti keju-keju lainnya.


Bagian padat dari keju ini mencapai 20% (Wikipedia, 2017).

Pasta filata

Pasta filata merupakan nama untuk sekelompok keju yang dadihnya


dipanaskan dengan air panas, diadoni dan dibuat menjadi untaian tali
setelah diasamkan. Keju tipe ini berasal dari Italia dan kemudian
ditambahkan kepada Daftar Keju Resmi Jerman pada tahun 1999.
Kelompok keju ini bervariasi dari keju segar hingga keju keras. Beberapa
keju jenis pasta filata adalah Mozzarella, Provolone, dan Scamorza.[6]
Kandungan air pada keju jenis ini berkisar antara 62-76% (Wikipedia,
2017).

Keju krim asam

Kandungan air pada keju krim asam berkisar antar 60-73%. Keju tipe ini
diproduksi dari keju asam rendah lemak, karena itulah keju ini memiliki
kandungan kalori yang rendah dan protein yang tinggi (Wikipedia, 2017).

Keju vegetarian

Sebagian besar keju diproduksi dengan menggunakan rennet yang


berasal dari binatang, yang diambil dari perut sapi atau domba. Saat ini,
ada banyak alternatif pengganti rennet yang berasal dari binatang.
Beberapa tanaman memiliki enzim yang dibutuhkan untuk mengentalkan
susu. Tanaman tersebut antara lain adalah kulit pohon ara, mallow, dan
thistle. Beberapa keju tradisional dari Portugal dan Timur Tengah dibuat
dengan rennet tumbuhan karena faktor agama dan budaya. Rennet juga
bisa didapat dari enzim yang berasal dari jamur atau bakteri. Rennet jenis
ini dikembangkan pada akhir 1980an karena adanya kelangkaan rennet
yang berasal dari binatang (Wikipedia, 2017).

Mekanisme dalam pembuatan keju yaitu berdasarkan pengasaman


dan penambahan enzim reneet, dimana pengasaman tujuannya agar enzim rennet
dapat bekerja optimal. Pengasaman dapat dilakukan dengan penambahan lemon
jus, asam sitrat, cuka atau bakteri Streptococcus lactis. Proses fermentasi oleh
Streptococcus lactis akan mengubah laktosa (gula susu) menjadi asam laktat
sehingga derajat keasaman (pH) susu menjadi rendah dan rennet efektif bekerja.
Pada penambahan enzim rennet, rennet memiliki daya kerja yang kuat, dapat
digunakan dalam konsentrasi yang kecil, perbandingan antara rennet dan susu
adalah 1:5000, kurang lebih 30 menit setelah penambahan rennet kedalam susu
yang asam, maka terbentuklah curd. Bila temperatur sistem dipertahankan 40 0C,
akan terbentuk curd yang padat, kemudian dilakukan pemisahan curd dari whey
(Suliasih, 2017).
Keju fermentasi adalah keju dimana dalam proses pengolahannya
menggunakan bantuan mikroorganisme untuk menghasilkan keju yang memiliki
tekstur, citarasa maupun aroma yang khas. Sedangkan keju segar merupakan keju
dimana dalam proses pengolahannya tidak dilakukan proses pematangan,
memiliki ciri-ciri yaitu tidak memiliki kulit dan memiliki kandungan air yang
tinggi. Contohnya antara lain adalah Demi-sel, Ricotta dan Mascarpone
(Hermawan, 2013)
Berdasarkan hasil pengamatan dan dibandingkan dengan syarat mutu
berdasarkan SNI 1992-1994, dapat dinyatakan bahwa keju ozarella yang dibuat di
laboratorium masih belum sesuai dengan syarat mutu SNI karena pada keju
mozarella yang dihasilkan di labdoratorium memiliki tekstur yang lembek,
sedangkan keju mozerella pada umumnya memiliki tekstur yang semi padat dan
elastis.
Critical Control Point (CCP) dalam proses pembuatan keju mozarella
yaitu pada proses pencampuran enzim rennet. Pada proses pencampuran enzim
rennet suhu adonan yang digunakan harus seusai, apabila suhu saat pencampura
enzim rennet terlalu tinggi dapat mengakibatkan enzim rennet yang digunakan
tidak bekerja dengan optimal sehingga proses penggumpalan untuk mejadi bakal
keju tidak terbentuk secara optimal.

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan pembuatan keju mozarella diperoleh %

produk sebesar 2,2% dengan sifat organoleptik memiliki warna putih, rasa asin,

aroma khas susu, dengan tekstur elastis dan memiliki kenampakan yang agak

menarik.

DAFTAR PUSTAKA

Enrico, Yanni. 212. Kandungan Gizi dan Manfaat Keju.


http://yannienrico.wordpress.com/tag/kandungan-gizi-keju/
Diakses : Minggu, 26 April 2017

Muchtadi, Tien. Dkk. 2015. Ilmu Pengetauan Bahan Pangan. Bandung :


Alfabeta

Suliasih, Neneng. 2017. Teknologi Pengolahan Pangan Hewani. Bandung :


Universitas Pasundan
www.wikipedia.com
LAMPIRAN PERHITUNGAN

Diketahui: susu murni 500 ml


Enzim rennet 0,3 gram
Asam sitrat 2 gram
Berat produk 11 gram
Ditanyakan : %Produk?
Jawab :
W produk
% Produk = W Basis x 100%
11 gram
= 500 x100%

= 2,8 %
LAMPIRAN KUIS
1. Sebutkan dan jelaskan kerusakan mentega!
Jawab :
Crumbly, lemak tidak bersatu, Nampak kering dan mudah pecah berkeping-
keping. Hal ini disebabkan karena pengolahan yang kurang baik
Gummy, mentega melekat pada atap rongga mulut, dan terasa seperti gum.
Hal ini terjadi bila ransum sapi mengandung tepung biji kapas, sehingga susu
yang mengandung tinggi gliseridanya mempunyai titik leleh yang tinggi.
Mentega terasa keras, waktu tempering yang lama.
Leaky, mentega menunjukan adanya butir-butir air pada sampel yang diambil
diatas trier. Mentega tidak mampu menjaga kadar airnya, karena ukuran butir-
butir air yang diperoleh besar-besar. Hal ini disebabkan proses yang kurang
sempurna dalam mereduksi ukuran air, sehingga dapat terdistribusi merata
dalam masa mentega.
Mealy atau grainy, mentega dengan mudah dikenali bila mentega yang
sebagian telah dipres antara lidah dan atap rongga mulut, terasa kasar atau
butir-butir.
Regged boring, mentega pada trier mempunyai tekstur yang kasar dan
lengket.
Spongy atau weak. Mentega yang terlalu mudah meleleh pada suhu kamar.
Hal ini disebabkan Karena proses kristalisasi lemak yang kurang cukup.
2. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi es krim dan contohnya!
Jenis-jenis es krim diantaranya :
Standard Ice Cream
a. Standard ice cream of various flavor : vanila, chocolate, buah-buahan dan lain-
lain dapat digunakan untuk rasa es krim.
b. Ripple Ice Cream : standard ice cream yang dimasukan ke dalam sirup dan
buah.
Special Ice Cream
a. Custard : adalah es krim yang berwarna sangat baik dan bisa berisi lemak susu
ataupun tidak dan biasanya berisi telur dalam porsi yang umum.
b. Parfait : adalah ice cream dengan kadar lemak tinggi, mengandung telur, buah,
dan kacang.
c. Bisque : adalah ice cream yang diperkaya dengan macaroons, grape, nuts dan
cake.
d. Mousse : adalah whipping cream yang dibekukan dan diperkaya dengan flavor.
Produk beku sejenis es krim antara lain :
1. Milk ice : adalah produk dingin yang dibuat dari kombinasi produk susu,
gula dan masih banyak lagi bahan-bahan lain yang mirip dengan bahan-
bahan yang biasa digunakan pada industri es krim (Anjarsari, 2010).
2. Milk sherbet : adalah produk yang terbuat dari susu yang ditambahkan
dengan gula dan buah atau sari buah. Kadar lemak susunya biasanya tidak
mencapai 2% (Anjarsari, 2010)
3. Fruit ice : adalah produk yang terbuat dari sari buah.
4. Novelties : merupakan produk kombinasi dari berbagai produk beku.
5. Granita (Italia) : merupakan produk yang terbuat dari campuran air, gula
dan cita rasa tertentu.
3. Apa yang dimaksud mentega? Apa saja komponen didalamnya? Bagaimana
penilaian mentega? Bagaimana prinsip pembuatan mentega?
Jawab :
Metega merupakan suatu bahan pangan dengan emulsi air dalam lemak.
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3744-1995), mentega adalah
produk makanan berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak atau krim susu
atau campurannya, dengan atau tanpa penambahan garam (NaCl) atau bahan
lain yang diizinkan, serta minimal mengandung 80 persen lemak susu. Selain
garam dapur, ke dalam mentega juga ditambahkan vitamin, zat pewarna, dan
bahan pengawet (misalnya sodium benzoat). Komponen penyusun mentega
diantaranya adalah lemak, air, protein, karbohidrat dan vitamin. Penilaian
mengenai mentega diantaranya dapat dilihat dari segi bau/ aroma, kenampakan,
rasa dan warna. Prinsip pembuatan mentega yaitu berdasarkan perubahan
kedudukan globula lemak dalam air susu menjadi emulsi air dalam lemak
sehingga berbentuk semi padat.
4. Diketahui : % overrun = 80,18 %, BM udara = 32, Mol udara = 2
V akhir = 1000 ml
Ditanya : V awal?
Jawab :
v akhirv awal
x 100
% overrun = v awal

1000 mlv awal


x 100
80,18 % = v awal

1000 mlv awal


0,8018 = v awal

0,8018 Va = 1000 mlVa

1000 ml
=555 ml
Va = 1,8018

5. Pada pengulian mentega digunakan 77ml larutan garam, diketahui memiliki


konsentrasi sebesar 2,35 N. Berapa gram garam yang harus ditambahkan? (BE
NaCl 58,5)
gram 1000
x gram x 12,987
N= BE ml 137,475 =

gram 1000 137,475


x =10,585 gram
2,35 = 58,5 77 gram = 12,987