Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH INTERAKSI OBAT PADA FASE ABSORPSI

Muh Erwin 06:16 MAKALAH

Makalah

FARMASETIKA TERAPAN

(INTERAKSI OBAT PADA FASE ABSORPSI)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun memperoleh kesehatan dan kekuatan
untuk dapat menyelesaikan makalah dengan judul Interaksi Obat pada Fase
Absorpsi. Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Farmasetika Terapan. Penghargaan yang tulus dan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya penyusun sampaikan kepada seluruh pihak, khususnya kepada
dosen pembimbing atas kebijaksanaan dan kesediaannya dalam membimbing
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penyusun menyadari sepenuhnya atas keterbatasan


ilmu maupun dari segi penyampaian yang
menjadikan makalah ini masih jauh dari kata Kendari, April 2016
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat diperlukan dari semua pihak
untuk kesempurnaan makalah ini.

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................... i

Kata Pengantar...................................................................................... ii

Daftar Isi.............................................................................................. iii

Bab I Pendahuluan................................................................................ 4

1.1 Latar Belakang...................................................................................... 4

1.2 Rumsan Masalah................................................................................... 4

1.3 Tujuan................................................................................................... 5

Bab II Pembahasan............................................................................... 6

2.1 Pengertian Interaksi Obat...................................................................... 6

2.2 Interaksi Obat pada Fase Absorpsi.........................................................

2.3 Mekanisme Interaksi Obat pada Fase Absorpsi .....................................

2.4 Contoh-contoh Interaksi Obat pada Fase Absorpsi................................

Bab III Penutup.......................................................................................

a. Kesimpulan.............................................................................................

b. Saran.......................................................................................................

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di
keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi,
metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai
macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi.
Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi
bersamaan dengan obat.

Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana interaksi obat yang


benar supaya interaksi obat tersebut tidak merugikan. Interaksi obat dikatakan
sebagai faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan yang
diberikan. Umumnya obat berinteraksi dengan makanan, zat kimia yang masuk ke
dari lingkungan atau obat lain.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah :

1. Apa yang dimaksud dengan interaksi obat?

2. Bagaimana interaksi obat pada fase absorbsi?

3. Bagaimana mekanisme interaksi obat pada fase absorbsi?

4. Apa saja contoh-contoh interaksi obat pada fase absorbsi?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan interaksi obat?


2. Untuk mengetahui interaksi obat pada fase absorbsi?

3. Untuk mengetahui mekanisme interaksi obat pada fase absorbsi?

4. Untuk mengetahui apa saja contoh-contoh interaksi obat pada fase absorbsi?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Interaksi Obat

Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi
oleh obat lain yang diberikan secara bersamaan. Interaksi obat yang signifikan
dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama. Kemungkinan
terjadinya peristiwa interaksi harus selalu dipertimbangkan dalam klinik, manakala
dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau hampir bersamaan. Interaksi
obat dianggap penting karena dapat menguntungkan dan merugikan.

Tidak semua interaksi obat membawa pengaruh yang merugikan, beberapa


interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan. Interaksi dapat
membawa dampak yang merugikan kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak
dikenali sehingga tidak dapat dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Secara ringkas
dampak negatif dari interaksi ini kemungkinan akan timbul sebagai:

- Terjadinya efek samping,

- Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.

Pada prinsipnya interaksi obat dapat menyebabkan dua hal penting. Yang pertama,
interaksi obat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat obat. Yang
kedua, interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang
serius, karena meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu. Risiko
kesehatan dari Interaksi obat ini sangat bervariasi, bisa hanya sedikit menurunkan
khasiat obat namun bisa pula fatal.

Interaksi obat paling tidak melibatkan 2 jenis obat diantaranya :

a. Obat obyek, yakni obat yang aksinya atau efeknya dipengaruhi atau diubah
oleh obat lain.

b. Obat presipitan (precipitan drug), yakni obat yang mempengaruhi atau


mengubah aksi atau atau efek obat lain.
1. Obat obyek

Obat-obat yang kemungkinan besar menjadi obyek interaksi atau efeknya


dipengaruhi oleh obat lain, umumnya adalah obat-obat yang memenuhi ciri :

Obat-obat di mana perubahan sedikit saja terhadap dosis (kadar obat) sudah
akan menyebabkan perubahan besar pada efek klinik yang timbul. Secara
farmakologi obat-obat seperti ini sering dikatakan sebagai obat-obat dengan kurva
dosis respons yang tajam (curam; steep dose response curve). Perubahan, misalnya
dalam hal ini pengurangan kadar sedikit saja sudah dapat mengurangi manfaat
klinik (clinical efficacy) dari obat.

Obat-obat dengan rasio toksis terapik yang rendah (low toxic therapeutic ratio),
artinya antara dosis toksik dan dosis terapetik tersebut perbandinganya (atau
perbedaanya) tidak besar. Kenaikan sedikit saja dosis (kadar)obat sudah
menyebabkan terjadinya efek toksis. Kedua ciri obat obyek di atas, yakni apakah
obat yang manfaat kliniknya mudah dikurangi atau efek toksiknya mudah
diperbesar oleh obat presipitan, akan saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri-
sendiri. Obat-obat seperti ini juga sering dikenal dengan obat-obat dengan
lingkupterapetik yang sempit (narrow therapeutic range).

Obat-obat yang memenuhi ciri-ciri di atas dan sering menjadi obyek interaksi dalam
klinik meliputi,

antikoagulansia: warfarin,

antikonvulsansia (antikejang): antiepilepsi,

hipoglikemika: antidiabetika oral seperti tolbutamid, klorpropamid dll,

anti-aritmia: lidokain,prokainamid dll,

glikosida jantung: digoksin

antihipertensi,

kontrasepsi oral steroid,

antibiotika aminoglikosida,

obat-obat sitotoksik,

obat-obat susunan saraf pusat, dan lain-lain.

2. Obat presipitan

Obat-obat presipitan adalah obat yang dapat mengubah aksi/efek obat lain. Untuk
dapat mempengaruhi aksi/efek obat lain, maka obat presipitan umumnya adalah
obat-obat dengan ciri sebagai berikut:
Obat-obat dengan ikatan protein yang kuat, oleh karena dengan demikian akan
menggusur ikatan-ikatan yang protein obat lain yang lebih lemah. Obat-obat yang
tergusur ini (displaced) kemudian kadar bebasnya dalam darah akan meningkat
dengan segala konsekuensinya, terutama meningkatnya efek toksik. Obat-obat
yang masuk di sini misalnya aspirin, fenilbutazon, sulfa dan lain lain.

Obat-obat dengan kemampuan menghambat (inhibitor) atau merangsang


(inducer)enzim-enzim yang memetabolisir obat dalam hati. Obat-obat yang punya
sifat sebagai perangsang enzim (enzyme inducer) misalnya rifampisin,
karbamasepin, fenitoin, fenobarbital dan lain-lain akan mempercepat eliminasi
(metabolisme) obat-obat yang lain sehingga kadar dalam darah lebih cepat hilang.
Sedangkan obat-obat yang dapat menghambat metabolisme (enzyme inhibator)
termasuk kloramfenikol, fenilbutason, alopurinol, simetidin dan lain-lain,akan
meningkatkan kadar obat obyek sehingga terjadi efek toksik.

Obat-obat yang dapat mempengaruhi /merubah fungsi ginjal sehingga eliminasi


obat-obat lain dapat dimodifikasi. Misalnya probenesid, obat-obat golongan
diuretika dan lain-lain.

Ciri-ciri obat presipitan tersebut adalah pada proses distribusi (ikatan protein),
metabolisme dan ekskresi renal. Masih banyak obat-obat lain diluar ketiga ciri ini
tadi yang dapat bertindak sebagai obat presipitan dengan mekanisme yang
berbeda-beda.

2.2 Interaksi Obat pada Fase Absorpsi

Interaksi obat dengan makanan/minuman (Food drug interaction) Sifat fisika kimia
obat menentukan tempat absorpsi obat. Obat biasanya bersifat asam lemah atau
basa lemah. Obat asam lemah akan diserap di lambung (jika diberikan secara oral
dengan diminum, bukan di bawah lidah atau di dinding mulut bucal), sementara
yang bersifat basa lemah akan diserap di usus yang lingkungannya memang lebih
basa dibandingkan lambung.

Kecepatan pengosongan lambung juga tak kalah penting untuk absorpsi obat
secara oral. Semakin cepat pengosongan lambung, bagi obat bersifat asam akan
merugikan karena hanya sejumlah kecil obat yang terserap, namun menguntungkan
obat bersifat basa lemah karena segera mencapai tempat absorpsi di usus, segera
terjadi proses penyerapan.

Selain terkait sifat obat dan tempat absorpsi, makanan/minuman akan


mempengaruhi bentuk obat. Obat seharusnya berbentuk molekul kecil untuk bisa
terabsorpsi dengan baik. Maka perlu dilakukan uji disolusi/pelarutan obat saat
dilakukan formulasi obat. Namun, hal lain yang perlu diwaspadai adalah adanya
interaksi obat dengan makanan/minuman atau nutrien tertentu, sehingga terbentuk
senyawa kompleks bermolekul besar yang menghalangi obat diabsorpsi.
Interaksi dalam proses absorpsi dapat terjadidengan berbagai cara misalnya:

Perubahan (penurunan) motilitas gastrointestinal oleh karena obat-obat seperti


morfin atau senyawa-senyawa antikolinergik dapat mengubah absorpsi obat-obat
lain.

Kelasi yakni pengikatan molekul obat-obat tertentu oleh senyawa logam sehingga
absorpsi akan dikurangi, oleh karena terbentuk senyawa kompleks yang tidak
diabsorpsi. Misalnya kelasi antara tetrasiklin dengan senyawasenyawa logam berat
akan menurunkan absorpsi tetrasiklin.

Makanan juga dapat mengubah absorpsi obat-obat tertentu, misalnya: umumnya


antibiotika akan menurun absorpsinya bila diberikan bersama dengan makanan.

2.3 Mekanisme Interaksi Obat pada Fase Absorpsi

Secara umum interaksi obat berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 3


golongan besar yakni:

1. Interaksi farmasetik,

2. Interaksi famakokinetik,

3. Interaksi farmakodinamik.

v Interaksi farmasetik

Interaksi ini merupakan interaksi fisiko-kimiawi di mana terjadi reaksi fisiko-kimiawi


antara obat-obat sehingga mengubah (menghilangkan) aktifitas farmakologik obat.
Yang sering terjadi misalnya reaksi antara obat-obat yang dicampur dalam cairan
secara bersamaan, misalya dalam infus atau suntikan . Campuran penisilin (atau
antibiotika beta-laktam yang lain) dengan aminoglikosida dalam satu larutan tidak
dianjurkan. Walaupun obat obat ini pemakaian kliniknya sering bersamaan, jangan
dicampur dalam satu suntikan. Beberapa tindakan hati-hati (precaution) untuk
menghindari interaksi farmasetik ini mencakup:

Jangan memberikan suntikan campuran obat kecuali kalau yakin betul bahwa
tidak ada interaksi antar masing-masing obat.

Dianjurkan sedapat mungkin juga menghindari pemberian obat bersama-sama


lewat infus.

Selalu perhatikan petunjuk pemberian obat dari pembuatnya (manufacturer


leaflet), untuk melihat peringatan peringatan pada pencampuran dan cara
pemberian obat (terutama untuk obat-obat parenteral misalnya injeksiinfus dan
lain-lain)
Sebelum memakai larutan untuk pemberian infus, intravenosa atau yang lain,
perhatikan bahwa tidak ada perubahan warna, kekeruhan, presipitasi dan lain-lain
dari larutan.

Siapkan larutan hanya kalau diperlukan saja. Jangan menimbun terlalu lama
larutan yang sudah dicampur, kecuali untuk obat-obat yang memang sudah
tersedia dalam bentuk larutan seperti metronidazol , lidakoin dan lain-lain.

Botol infus harus selalu diberi label tentang jenis larutannya, obat-obat yang
sudah dimasukkan, termasuk dosis dan dan waktunya.

Jika harus memberi per infus dua macam obat, berikan lewat 2 jalur infus, kecuali
kalau yakin tidak ada interaksi. Jangan ragu-ragu konsul apoteker rumah sakit.

v Interaksi farmakokinetik

Interkasi farmakokinetik terjadi bila obat presipitan mempengaruhi atau mengubah


proses absorpsi, distribusi (ikatan protein), metabolisme, dan ekskresi dari obat-
obat obyek. Sehingga mekanisme interaksi inipun dapat dibedakan sesuai dengan
proses-proses biologik (kinetik) tersebut.

v Interaksi Farmakodinamik

Interaksi ini terjadi bila antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, sistem
fisiologik yang sama sehingga terjadi aditif, sinergistik (saling memperkuat) atau
antagonistik (saling meniadakan). Kebanyakan interaksi obat diakibatkan terjadinya
perubahan adsorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat. Interaksi
farmakodinamik dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

Interaksi langsung (direct interaction)

Interaksi tidak langsung (indirect interaction)

Mekanisme interaksi obat untuk Fase Absorpsi

Obat-obat yang digunakan secara oral biasanya diserap dari saluran cerna ke
dalamsistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat
melewati saluran cerna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun
aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi secara pasif. Proses ini melibatkan
difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke daerah dengan kadar obat yang lebih
rendah. Pada transport aktif terjadi perpindahan obat melawan gradien konsentrasi
(contohnya ion-ion dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi.
Absorpsi obat secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif.
Obat dalam bentuk tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran
sel, sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat
berdifusi. Di bawah kondisi fisiologi normal absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat
absorpsinya biasanya sempurna.

Bila kecepatan absorpsi berubah, interaksi obat secara signifikan akan lebih
mudahterjadi, terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan
kadar puncak plasma yang cepat untuk mendapatkan efek. Mekanisme interaksi
akibat gangguan absorpsi antara lain :

1. Interaksi langsung

Interaksi secara fisik/kimiawi antar obat dalam lumen saluran cerna sebelum
absorpsidapat mengganggu proses absorpsi. Interaksi ini dapat dihindarkan atau
sangat dikurangi bila obat yang berinteraksi diberikan dalam jangka waktu minimal
2 jam

2. Perubahan pH saluran cerna

Cairan saluran cerna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan
meningkatkankelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran
cerna, misalnya aspirin.Dengan demikian dipercepatnya disolusi aspirin oleh basa
akan mempercepat absorpsinya.Akan tetapi, suasana alkalis di saluran cerna akan
mengurangi kelarutan beberapa obat yang bersifat basa (misalnya tetrasiklin)
dalam cairan saluran cerna, sehingga mengurangiabsorpsinya. Berkurangnya
keasaman lambung oleh antasida akan mengurangi pengrusakan obat yang tidak
tahan asam sehingga meningkatkan bioavailabilitasnya. Ketokonazol yang diminum
per oral membutuhkan medium asam untuk melarutkan sejumlah yang dibutuhkan
sehingga tidak memungkinkan diberikan bersama antasida, obat antikolinergik,
penghambatan H2, atau inhibitor pompa proton (misalnya omeprazol). Jika memang
dibutuhkan, sebaiknyaobat-obat ini diberikan sedikitnya 2 jam setelah pemberian
ketokonazol.

3. pembentukan senyawa kompleks tak larut atau khelat, dan adsorsi

Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin,


enoksasin,levofloksasin, lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin)
dan ion-ion divalent dan trivalent (misalnya ion Ca2+, Mg2+ dan Al3+ dari antasida
dan obat lain) dapatmenyebabkan penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran
cerna, bioavailabilitas dan efek terapetik, karena terbentuknya senyawa kompleks.
Interaksi ini juga sangat menurunkan aktivitas antibiotik fluorokuinolon. Efek
interaksi ini dapat secara signifikan dikurangi dengan memberikan antasida
beberapa jam sebelum atau setelah pemberian fluorokuinolon. Jika antasida benar-
benar dibutuhkan, penyesuaian terapi, misalnya penggantian dengan obat-pbat
antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat dilakukan. Beberapa obat
antidiare (yang mengandung atapulgit) menjerap obat-obat lain, sehingga
menurunkan absorpsi. Walaupun belum ada riset ilmiah, sebaiknya
interval pemakaian obat ini dengan obat lain selama mungkin.

4. Obat menjadi terikat pada sekuestran asam empedu (BAS : bile acid
sequestrant)

Kolestiramin dan kolestipol dapat berikatan dengan asam empedu dan


mencegahreabsorpsinya, akibatnya dapat terjadi ikatan dengan obat-obat lain
terutama yang bersifatasam (misalnya warfarin). Sebaiknya interval pemakaian
kolestiramin atau kolestipol dengan obat lain selama mungkin (minimal 4 jam).

5. Perubahan fungsi saluran cerna (percepatan atau lambatnya pengosongan


lambung,perubahan vaksularitas atau permeabilitas mukosa saluran cerna, atau
kerusakan mukosadinding usus)

2.4 Contoh-contoh Interaksi Obat pada Fase Absorpsi

Obat yang Obat yang Efek interaksi

dipengaruhi Mempengaruhi

Digoksin Metoklopramida Absorpsi digoksin dikurangi

Propanelin Absorpsi digoksin ditingkatkan


(karena perubahan motilitas
usus)

Digoksin Kolestiramin Absorpsi dikurangi karena ikatan


dengan kolesteramin
Tiroksin

Warfarin

Ketokonazol Antasida Absorpsi ketokonazol dikurangi


karena disolusi yang berkurang
penghambat H2

Penisilamin Antasida Pembentukan khelat penisilamin


yang kurang larut menyebabkan
yang mengandung berkurangnya absorpsi
Al3+, Mg2+, preparat penisilamin
besi, makanan

Penisilin Neomisin Kondisi malabsorpsi yang


diinduksi neomisin

Antibiotik Antasida Terbentuknya kompleks yang


sukar terabsorpsi
Kuinolon yang mengandung
Al3+, Mg2+, Fe2+, Zn,
susu

Tetrasiklin Antasida yang Terbentuknya kompleks yang


mengandung Al3+, sukar terabsorpsi
Mg2+, Fe2+, Zn, susu

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan
bersama-sama. Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan
toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama
bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang
rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain
itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersamaan.

3.2 Saran

Untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan maka sebaiknya:

1. Hindari semaksimal mungkin pemakaian obat gabungan (polifarmasi),


kecuali jika memang kondisi penyakityang diobati memerlukan gabungan obat dan
pengobatan gabungan tersebut sudah diterima dan terbukti secara ilmiah
manfaatnya. Misalnya pengobatan tuberkulosis danpengobatan infeksi berat seperti
sepsis, dan lain-lain.

2. Jika memang harus memberikan obat gabungan (lebih dari satu) bersamaan,
yakinkan bahwa tidak ada interaksi yang merugikan, baik secara kinetik atau
dinamik
3. Kenalilah sebanyak mungkin kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-
obat yang sering diberikan bersamaan dalam praktek polifarmasi.

4. Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan
dengan dokteryang meresepkan.

5. Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantu
m dalamlabel atau wadah obat. Bahkan obat yang dijual bebas juga perlu aturan
pakai yang disarankanserta Jangan campur obat dengan makanan atau membuka k
apsul kecuali atas petunjuk dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Interaksi obat dalam klinik, UGM

Ariamijaya, putu. 2011. Interaksi Obat dengan Makanan, Penerbit Medicafarma :


Denpasar.

Endro Agung, 2012, Prinsip Aksi dan Nasib Obat dalam tubuh, Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.

Harkness Richard, H., 1989, Interaksi obat, Penerbit ITB: Bandung. diterjemahkan
oleh Goeswin Agoes dan Mathilda B.Widianto.

Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, 88-93, Penerbit
ITB, Bandung.

Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta.

http://www.drugs.com/drug_information.html

http://interaksiobatdanmakanan/adropofinkcanmakeamillionpeoplethink.htm