Anda di halaman 1dari 6

SURAT KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DUREN TIGA

NOMOR : 036/Ka. RSBDT/SK/XII/2014

TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN BEDAH

KEPALA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DUREN TIGA

Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka mendukung Visi dan Misi Rumah Sakit Ibu
dan Anak Duren Tiga (RSIA Duren Tiga) agar menjadi institusi
pelayanan kesehatan spesialis terkemuka untuk ibu dan anak
yang memberikan pelayanan prima dipandang perlu untuk
memperhatikan dan mengutamakan mutu dan keselamatan
pasien tindakan bedah di RSIA Duren Tiga;
2. Bahwa tindakan pembedahan membawa risiko dengan tingkatan
yang tinggi, maka tindakan pembedahan haruslah direncanakan
secara seksama memenuhi stardar di RSIA Duren Tiga, standar
nasional, undang-undang dan peraturan yang berlaku,serta
standar profesi terkait;
3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana di maksud dalam
butir 1 sd 2 tersebut diatas, maka perlu disusun dan ditetapkan
Kebijakan Pelayanan Bedah di RSIA Duren Tiga dengan SK
Direktur RSIA Duren Tiga

Mengingat :

1. Undang undang Repiblik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran.
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan.
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129
Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah sakit;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/Menkes/Per/III/2008 tentang Peretujuan Tindakan Kedokteran.
7. Manual Konsil Kedokteran Indonesia tentang Persetujuan
Tindakan Kedokteran.
8. Keputusan Kepala RSIA Duren Tiga
Nomor..........................tertanggal.............Tentang Kebijakan
Pelayanan RSIA Duren Tiga;( minta ke mba sherly)
9. Keputusan Kepala RSIA Duren Tiga
Nomor..........................tertanggal.............Tentang Kebijakan
Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien RSIA Duren Tiga;
(minta ke pak heri)
10. Keputusan Kepala RSIA Duren Tiga
Nomor..........................tertanggal.............Tentang Kebijakan
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RSIA Duren Tiga;(minta ke
dr.sri)
11. Keputusan Kepala RSIA Duren Tiga
Nomor..........................tertanggal.............Tentang Kebijakan
Assesmen Pasien RSIA Duren Tiga;(minta ke mba ela)
Memutuskan
Menetapkan : 1. Keputusan Kepala RS Ibu dan Anak Duren Tiga tentang Kebijakan
Pelayanan Bedah Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga;
2. Kebijakan Pelayanan Bedah Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren
Tiga ini harus dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pelayanan
di Unit Kamar Bedah Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga
sebagaimana terlampir dalam keputusan ini;
3. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan
keperawatan bedah di RSIA dilaksanakan oleh Komite
Keperawatan RSIA Duren Tiga
4. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini,
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Dikeluarkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 29 Desember 2014
Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga

dr. Fachruddin, SpOG


Kepala Rumah Sakit

Tembusan :
1. Yth. Direktur PT. Amban Puro Jaya
2. Yth. Ka. Komite Medik
3. Yth. Ka. Komite Keperawatan
4. Yth. Ka. Bag SDM, Umum dan Rumah Tangga
5. Yth. Ka. Bid Yanmed, Keperawatan, dan Jangmed
6. Yth. Ka. Bid Keuangan dan Akunting
7. Arsip
Lampiran Surat Keputusan Kepala RS Ibu dan Anak Duren Tiga
Nomor :
Tertanggal :
Tentang : Kebijakan Pelayanan Bedah Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga

KEBIJAKAN PELAYANAN BEDAH


DI RSIA DUREN TIGA

1. Pelayanan unit kamar operasi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Duren Tiga (RSIA Duren
Tiga) mempunyai tujuan untuk meningkatkan dan mengutamakan mutu serta
keselamatan pasien;
2. Pelayanan unit kamar operasi di RSIA Duren Tiga mengacu pada prinsip pengendalian
dan pencegahan infeksi untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial;
3. DPJP bedah wajib membuat rencana tindakan bedah dan melakukan asesmen bagi
setiap pasien yang akan menerima pelayanan bedah.
4. Setiap asuhan bedah pasien direncanakan dan didokumentasikan berdasarkan hasil
asesmen yang memberikan informasi :
a. Pemilihan prosedur secara aman,
b. Melaksanakan prosedur secara tepat,
c. Menginterpretasikan temuan dalam monitoring pasien
5. Sebelum tindakan,DPJP mendokumentasikan diagnosa pra operatif dan rencana
tindakan dalam rekam medis pasien;
6. Mendokumentasikan assesmen pasien bedah sesuai dengan SPO yang telah
ditetapkan oleh Kepala RSIA Duren Tiga;
7. Setiap pasien yang akan dilakukan tindakan di unit kamar operasi RSIA Duren Tiga
harus dilaksanakan Informed Consent dan mendapat persetujuan tertulis yang diisi
dengan lengkap sesuai SOP pengisian Informed Consent dan berisi informasi
mengenai :
a. Risiko dari prosedur yang direncanakan.
b. Manfaat prosedur yang direncanakan.
c. Komplikasi yang berpontesi terjadi
d. Alternatif tindakan bedah dan nonbedah yang tersedia untuk mengobati pasien.

8. DPJP bedah dan petugas lain yang kompetan wajib memberikan informasi dan edukasi
yang tercantum pada informed consent kepada pasien dan keluarga dan atau pembuat
keputusan terkait prosedur bedah yang direncanakan.
9. Informasi dan edukasi juga berisi alternatif yang berhubungan dengan prosedur bedah
yang direncanakan termasuk perluasan operasi dan penggunaan terhadap darah dan
produk darah.
10. Setiap pasien yang di diagnosa oleh DPJP membutuhkan tindakan operasi dan
membutuhkan darah transfusi maka RSIA Duren Tiga diwajibkan menyediakan darah
minimal 2 jam sebelum tindakan operasi sudah tersedia di unit laboratorium;
11. DPJP bedah setelah melakukan tindakan operasi dan sebelum meninggalkan Unit
Kamar Operasi wajib untuk membuat laporan operasi atau mendokumentasikan yang
dilakukan secara tertulis minimum membuat hal hal sebagai berikut:
a. Diagnosa pasien operasi;
b. Nama dokter bedah dan asisten;
c. Nama prosedur;
d. Spesimen bedah untuk pemeriksaan;
e. Catatan spesifik komplikasi atau tidak adanya komplikasi selama operasi termasuk
jumlah kehilangan darah;
f. Tanggal,waktu dan tanda tangan dokter yang bertanggung jawab.
12. Status fisiologi setiap pasien dimonitor terus menerus selama dan segera setelah
pembedahan dan dituliskan dalam rekam medis pasien;
13. Semua tindakan pegambilan jaringan dari tubuh pasien, jaringan tersebut wajib
dilakukan pemeriksaan patologi anatomi ke laboratorium yang ditunjuk;
14. Semua tindakan pengambilan cairan dari tubuh pasien, cairan tersebut wajib dilakukan
pemeriksaan sitologi ke laboratorium yang ditunjuk;
15. Hasil temuan didokumentasikan kedalam rekam medis pasien;
16. Setiap asuhan pasca bedah termasuk asuhan medis,keperawatan dan lainnya pada
pasien direncanakan sebelum tindakan sesuai kebutuhan pasien;
17. Setiap rencana asuhan pasca bedah termasuk asuhan medis,keperawatan dan lainnya
sesuai kebutuhan pasien didokumentasikan di dalam rekam medis pasien oleh DPJP
atau seseorang yang mewakili DPJP dan petugas kamar operasi dalam waktu 24 jam
tindakan bedah;
18. Rencana asuhan pelayanan medis,keperawatan dan lainnya dilaksanakan;
19. Perawat penanggung jawab Unit Kamar Operasi wajib mengetahui kondisi
pasien,lingkungan dan kondisi ruangannya serta mengecek ulang penulisan Rekam
Medis;
20. Tim Operasi wajib menggunakan baju khusus kamar operasi sesuai dengan standar
dan SPO penggunaan baju operasi,serta tidak digunakan diluar area kamar operasi;
21. Setiap pasien saat tiba di Unit Kamar Operasi harus sudah mempunyai surat pengantar
operasi dan dilakukan pemeriksaan identifikasi meliputi:
a. Identitas pasien
b. Jenis Operasi
c. Lokasi yang akan di operasi
d. Persetujuan tertulis
22. Unit Kamar Operasi wajib membuat jadwal operasi baik elektif maupun cito,dan segera
menyampaikan informasi kepada pasien atau keluarga / penanggung jawabnya bila ada
penundaan atau perubahan jadwal operasi;
23. Operasi caesar cito wajib dimulai kurang dari 30 menit setelah permintaan operasi
caesar disampaikan oleh DPJP;
24. Sebelum dan sesudah tindakan apapun yang dilakukan DPJP terhadap pasien di kamar
operasi maka perawat/bidan wajib mempertemukan DPJP dengan pasien/keluarga
pasien;
25. Tim bedah melaksanakan time in sesuai dengan ketentuan Direktur RSIA Duren Tiga
yang berlaku;
26. Ahli bedah wajib melaksanakan time out sesaat sebelum insisi dimulai sesuai dengan
ketentuan Direktur RSIA Duren Tiga yang berlaku.
27. Setiap pasien ODC (One Day care) setelah dilakukan tindakan medis dalam anestesi
harus sudah terpenuhi kriteria PADSS (Post Anesthetic Dischange Scoring System) dan
terdokumentasi dalam Rekam Medis,sebelum meninggalkan kamar operasi/kamar
pulih;
28. Setipa pasien ODC (One Day Care) yang akan meninggalkan kamar operasi harus
mempunyai kwitansi/bukti pembayaran dari kasir;
29. Tim bedah terdiri dari:
a. DPJP (operator bedah)
b. Asisten operator
c. Dokter anestesi
d. Dokter anak
e. Perawat bedah/instrumentator
f. Perawat anestesi (operasi selain SC)
g. Perawat sirkuler
h. Perawat bayi
i. Bidan
30. Setiap dilakukannya tindakan operasi caesar maka DPJP anak harus selalu didampingi
perawat bayi;
31. Setiap pasien yang berusia diatas 40 tahun yang akan dilakukan tindakan pembiusan
harus dilakukan pemeriksaan EKG dan dikonsultasikan ke dokter spesialis jantung;
32. Semua petugas medis ataupun non medis yang bertugas di Unit Kamar Operasi tidak
diperbolehkan berkuku panjang dan memakai kutex;
33. Transfer pasien wajib untuk mengikuti SPO transfer pasien yang telah ditetapkan oleh
Kepala RSIA Duren Tiga;
34. Pelayanan bedah di RSIA Duren Tiga wajib untuk melaksanakan prinsip Tepat
Lokasi,Tepat Prosedur dan Tepat Pasien dengan melibatkan pasien atau bila tidak
memungkinkan dengan melibatkan keluarga pasien;

Jakarta, 2 Januari 2015

dr. Fachruddin, SpOG


Kepala RSIA Duren Tiga