Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

A. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang ......................................................................................2
b. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
c. Tujuan Penulisan ................................................................................ 3
d. Manfaat penulisan ............................................................................... 3
B. BAB II PEMBAHASAN
1. Personil Sekolah
a. Kepala Sekolah ..................................................................... 4
b. Wakil Kepala Sekolah ........................................................... 7
c. Guru Mata Pelajaran ............................................................8
d. Wali Kelas .......................................................................... 10
e. Guru BK ..............................................................................11
2. Pengawas BK
a. Pengawasan ........................................................................ 13
b. Supervisi ........................................................................... 14
Yel Yel................................................................................ 16
C. PENUTUP
a. Kesimpulan .................................................................................... 19
b. Saran ............................................................................................. 19

Dafta Pustaka ................................................................................. 20

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada hakikatnya, dalam sebuah pendidikan guru dijadikan sebagai faktor
utama dalam keberhasilan siswa. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru banyak
sekali memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau harus dilaksankan
sebagai seorang guru. Peranan diartikan sebagai suatu pola tingkah laku tertentu
yang merupakan ciri khas semua petugas dari suatu pekerjaan atau jabatan
tertentu. Setiap jabatan atau tugas tertentu akan menuntut pola tingkah laku
tertentu pula dan tingkah laku mana yang akan merupakan ciri khas dari tugas
atau jabatan tadi.
Pada masa sekarang ini, kita sering melihat dan mendengar bahwa masih
ada guru yang belum atau tidak mengetahui bagaimana peranannya didalam
pekerjaannya, terutama dalam dunia pendidikan. Kita melihat begitu banyak guru-
guru saat ini terkadang tidak menjalankan tugas dan peranannya yang telah
diberikan kepadanya secara optimal dan profesional.
Selain seorang guru, tentu ada personil lainnya yang membantu
keberhasilan sebuah pendidikan. Personil tersebut bisa kepala sekolah, wakil
kepala sekolah, wali kelas kelas, maupun yang lainnya yang juga memiliki tugas
serta peranannya masing-masing. Semuanya telah di atur untuk
menyelenggarakan sebuah pendidikan yang bermnafaat bagi peserta didik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang dapat
penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peran kepala sekolah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
2. Bagaimanakah peran wakil kepala sekolah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
3. Bagaimanakah peran guru mata pelajaran dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
4. Bagaimanakah peran wali kelas dalam pelayanan bimbingan dan konseling?
5. Bagaimanakah peran guru BK atau konselor dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?

2
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan di atas, tujuan
penulisan yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
2. Mendeskripsikan peran wakil kepala sekolah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
3. Mendeskripsikan peran guru mata pelajaran dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?
4. Mendeskripsikan peran wali kelas dalam pelayanan bimbingan dan konseling?
5. Mendeskripsikan peran guru BK atau konselor dalam pelayanan bimbingan dan
konseling?

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan mengenai bagaimanakah
peranan masing-masing personil sekolah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling yang telah diberikan
oleh dosen pembimbing.

3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Personil Sekolah
Bimbingan dan konseling disekolah merupakan suatu kegiatan bersama.
Semua personil sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru pembimbing,
guru mata pelajaran dan wali kelas) mempunyai peranan masing-masing dalam
melaksanakan program bimbingan dan konseling.
Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak
terlepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau
Konselor sebagai pelaksana utama, penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di
sekolah juga perlu melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata
pelajaran dan wali kelas.
a. Peran kepala sekolah dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
Keberhasilan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak
hanya ditentukan oleh keahlian dan keterampilan para petugas bimbingan dan
konseling itu sendiri, namun juga sangat ditentukan oleh komitmen dan
keterampilan seluruh staf sekolah, terutama dari kepala sekolah sebagai
administrator dan supervisor.
Sebagai administrator, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap
kelancaran pelaksanaan seluruh program sekolah, khususnya program layanan
bimbingan dan konseling di sekolah yang dipimpinnya. Karena posisinya yang
sentral, kepala sekolah adalah orang yang paling berpengaruh dalam
pengembangan atau peningkatan pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolahnya. Sebagai supervisor, kepala sekolah bertanggung jawab dalam
melaksanakan program-program penilaian, penelitian dan perbaikan atau
peningkatan layanan bimbingan dan konseling.
Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan
pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Sebagai penanggung jawab kegiatan
pendidikan di sekolah, tugas Kepala Sekolah ialah:
1) Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi kegiatan
pengajaran, pelatihan, serta bimbingan dan konseling di sekolah.

4
2) Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam
kegiatan bimbingan dan konseling.
3) Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling
di sekolah.
4) Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di
sekolah.
5) Menetapkan koordinator guru bimbingan dan konseling yang
bertanggungjawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di
sekolah berdasarkan kesepakatan bersama guru bimbingan dan konseling.
6) Membuat surat tugas guru bimbingan dan konseling dalam proses bimbingan
dan konseling pada setiap awal catur wulan.
7) Menyiapkan surat pernyataan melakukan bimbingan dan konseling sebagai
bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing. Surat pernyataan ini di
lampiri bukti fisik pelaksanaan tugas.
8) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain yang terkait dalam pelaksanaan
kegiatan bimbingan dan konseling.
9) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolah kepada dinas pendidikan yang menjadi atasannya.
10) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain (seperti Perusahaan/Industri,
Dinas Kesehatan, kepolisian, Depag), atau para pakar yang terkait dalam
pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling (seperti psikolog dan dokter).
Prayitno (2004) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab kepala
sekolah dalam bimbingan dan konseling sebagai berikut :
1) Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di
sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling
merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.

2) Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya


pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.

3) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan


program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.

4) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di


sekolah.

5
5) Memfasilitasi guru pembimbing/konselor untuk dapat mengembangkan
kemampuan profesionalnya, melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi.

6) Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan


kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.
Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006),
terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai :
1) Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)
2) Kepala sekolah sebagai manajer
3) Kepala sekolah sebagai administrator
4) Kepala sekolah sebagai supervisor
5) Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)
6) Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja
7) Kepala sekolah sebagai wirausahawan
Dinmeyer dan Caldwell (dalam Kusmintardjo, 1992) menguraikan peranan
dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
di sekolah, sebagai berikut:
1) Memberikan support, dorongan dan pimpinan untuk seluruh program
bimbingan dan konseling
2) Menentukan staf yang memadai, baik segi profesinya maupun jumlahnya
menurut keperluannya
3) Ikut serta dalam menetapkan dan menjelaskan peranan anggota-anggota
stafnya;
4) Mendelegasikan tanggung jawab kepada konselor dalam hal pengembangan
program bimbingan dan konseling
5) Memperkenalkan peranan para konselor kepada guru-guru, murid-murid, orang
tua murid, dan masyarakat melalui rapat guru, rapat sekolah, rapat orang tua
murid atau dalam bulletin-buletin bimbingan dan konseling
6) Berusaha membentuk dan menjalin hubungan kerja yang kooperatif dan saling
membantu antara para konselor, guru dan pihak lain yang berkepentingan dengan
layanan bimbingan dan konseling
7) Menyediakan fasilitas dan material yang cukup untuk pelaksanaan bimbingan
dan konseling.
8) Memberikan dorongan untuk pengembangan lingkungan yang dapat
meningkatkan hubungan antar manusia untuk menggalang proses bimbingan dan
konseling yang efektif (dalam hal ini berarti kepala sekolah hendaknya menyadari

6
bahwa bimbingan dan konseling terjadi dalam lingkungan secara global, termasuk
hubungan antara staf dan suasana dalam kelas).
9) Memberikan penjelasan tentang program bimbingan dan konseling bagi seluruh
staf sekolah.
10) Memberikan dorongan dan semangat dalam hal pengembangan dan
penggunaan waktu belajar untuk pengalaman-pengalaman bimbingan dan
konseling, baik klasikal, kelompok maupun individual.
11) Penanggung jawab dan pemegang disiplin di sekolah dengan memberdayakan
para konselor dalam mengembangkan tingkah laku siswa, namun bukan sebagai
penegak disiplin.

b. Peran Wakil Kepala Sekolah dalam Pelayanan Bimbingan Dan Konseling.


Seorang Kepala Sekolah selalu didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah.
Sebagai wakil kepala sekolah, ia memiliki peran sebagai pembantu kepala
sekolah, wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah melaksanakan tugas-
tugas kepala sekolah. Wakil kepala sekolah sebagi pembantu kepala sekolah,
membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah dalam
hal:
1. Mengkoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada
semua personil sekolah.
2.Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah sekolah terutama dalam pelaksanaan
layanan bimbungan dan konseling.

c. Peran Guru Mata Pelajaran dalam Pelayanan Bimbingan Dan Konseling


Kedudukanya guru sebagai personil pelaksana proses pembelajaran di
sekolah memiliki posisi yang strategis. Dibandingkan dengan guru BK atau
konselor, misalnya guru lebih sering berinteraksi dengan siswa secara langsung.
Guru dapat mengamati secara rutin tentang perkembangan kepribadian siswa,
kemajuan belajarnya, dan bukan tidak mungkin akan langsung berhadapan dengan
permasalahan siswa. Oleh karena itu tidak salah jika dalam pelayanan bimbingan
dan konseling guru ditempatkan sebagai mitra kerja utama, di smping sebagai
wali kelas.

7
Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh
guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus
memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Sementara itu,
berkenaan peran guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling. Sofyan S.
Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa
dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti:
membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman
sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas
ringan.
Adapun peran guru mata pelajaran dalam pelayanan BK adalah sebagai
berikut:
1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada
siswa.
2. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang
memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang
siswa-siswa tersebut.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan
konseling kepada guru pembimbing/konselor.
4. Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang
menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan
khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan
siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan
konseling.
6. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani
layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti
konferensi kasus.
8. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian
pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.

8
9. Ikut berpartisipasi dalam pengumpulan data dan penyampaian informasi.
10. Ikut berpartisipasi dalam menolong siswa, terutama terhadap masalah yang
ada hubungannya dengan mata pelajaran yang diasuhnya dan strategi
mengajarnya.
Apabila lebih dirinci, ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh
seorang guru ketika ia diminta mengambil bagian dalam penyelenggaraan
program bimbingan dan konseling di sekolah.
1. Guru sebagai informator
Seorang guru dalam kinerjanya dapat berperan sebagai informator
terutama berkaitan dengan tugasnya membantu guru pembimbing atau konselor
dalam memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa pada
umumnya. Melalui peranan ini guru dapat menginformasikan berbagai hal
tentang layanan bimbingan dan konseling, tujuan, fungsi, dan manfaatnya bagi
siswa.
2. Guru sebagai fasilitator
Guru dapat berperan sebagai fasilitator terutama ketika dilangsungkan
layanan pembelajaran baik itu yang bersifat preventif ataupun kuratif.
Dibandingkan guru pembimbing, guru lebih memahami tentang keterampilan
belajar yang perlu dikuasai siswa pada mata pelajaran yang diajarnya. Maka pada
saat siswa mengalami kesulitan belajar, guru dapat merancang program perbaikan
dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan yang dialami dan menyesuaikan
dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, bagi siswa yang pandai guru dapat
memprogramkan tindak lanjut berupa kegiatan pengayaan.
3. Guru sebagai mediator
Dalam kedudukanya yang strategis, yakni berhadapan langsung dengan
siswa, guru dapat berperan sebagai mediator antara siswa dengan guru
pembimbing. Hal itu tampak misalnya pada saat seorang guru diminta untuk
melakukan kegiatan identifikasi siswa yang memerlukan bimbingan dan
pengalihtanganan siswa yang memerlukan bimbingan dan konseling kepada guru
pembimbing atau konselor sekolah.
4. Guru sebagai motivator

9
Dalam peranan ini guru dapat berperan sebagai pemberi motivasi siswa
dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah skaligus
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan konseling,
misalnya pada saat siswa seharusnya mengikuti pelajaran di kelas. Tanpa kerelaan
guru dalam memberi kesempatan kepada siswa menerima layanan, layanan
konseling perorangan akan sulit terlaksanan mengingat terbatasnya jam khusus
bimbingan pada sekolah sekolah.
5. Guru sebagai kolabolator
Sebagai mitra seprofesi yakni sama sama sebagai tenaga pendidik di
sekolah , guru dapat berperanan sebagai kolabolator konselor di sekolah, misalnya
dalam penyelenggaraan berbagai jenis layanan orientasi informasi, layanan
pembelajaran atau dalam pelaksanaan kegiatan pendukung seperti konferensi
kasus, himpunan data dan kegiatan lainya yang relevan.

d. Peran Wali Kelas dalam Pelayanan Bimbingan Dan Konseling


Wali kelas sebagai mitra kerja konselor, juga memiliki beberapa peran
dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu:
1. Membantu guru bimbingan dan konseling melaksanakan layanan bimbingan
dan konseling yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik,
khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti layanan
bimbingan dan konseling.
3. Memberikan informasi tentang peserta didik di kelasnya untuk memperoleh
layanan bimbingan dan konseling dari guru bimbingan dan konseling.
4. Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta dididk yang
perlu diperhatikan khusus.
5. Ikut serta dalam konferensi kasus.
6. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
kepada guru pembimbing/konselor.

10
e. Peran Guru BK Atau Konselor dalam Pelayanan Bimbingan Dan
Konseling
Guru Bimbingan Konseling atau Konselor adalah pelaksana utama yang
mengkoordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksana bimbingan dan
koseling di sekolah. Konselor dituntut untuk bertindak secara bijaksana, ramah,
bisa menghargai, dan memeriksa keadaan orang lain, serta berkepribadian baik,
karena konselor itu nantinya akan berhubungan dengan siswa khususnya dan juga
pihak lain yang sekiranya bermasalah. Konselor juga mengadakan kerja sama
dengan guru-guru lain, sehingga guru-guru dapat meningkatkan mutu pelayanan
dan pengetahuannya demi suksesnya program bimbingan dan konseling.

Sebagai pelaksana utama, tenaga inti, dan ahli, guru pembimbing memiliki
peran:
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling.
2) Merencanakan program bimbingan dan konseling.
3) Melaksanakan segenap program satuan layanan bimbingan dan konseling.
4) Melaksanakan segenap program satuan kegiatan pendukung bimbingan
konseling.
5) Menilai program dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung
bimbingan konseling.
6) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian layanan dan kegiatan
pendukung bimbingan dan konseling.
7) Mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan pendukung
bimbingan yang dilaksanakan nya.
8) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan
konseling secara menyeluruh kepala coordinator BK serta Kepala Sekolah.

2. Pengawas Bimbingan Konseling


Untuk menjamin terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling secara
tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling baik secara teknik
maupun secara administrasi. Fungsi kepengawasan layangan bimbingan dan

11
konseling antara lain memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan
mengembangkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Selain mengawasi
perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di sekolah, pengawas juga melihat
perkembangan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut.
Pengawas BK mempunyai peranan:
a. Mengkoordinasikan guru pembimbing dalam :
1) Memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga sekolah (siswa, guru,
dan personil sekolah lainnya), orang tua siswa dan masyarakat.
2) Menyusun program kegiatan BK (program satuan layanan dan kegiatan
pendukung, program mingguan, bulanan, caturwulan, dan tahunan).
3) Melaksanakan program BK.
4) Mengadministrasikan program kegiatan BK.
5) Menilai hasil pelaksanaan program BK.
6) Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan BK.
7) Memberikan tindak lanjut terhadap analisis penilaian BK.

b. Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagi kepentingan


tenaga, prasarana, dan sarana alat dan perlengkapan pelayanan BK.
Adapun manfaatnya dalam program bimbingan dan konseling adalah:
1. Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan dan konseling,
yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing.
2. Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para
personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
3. Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan yang
ditemui.
4. Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah
pencapaian tujuan sebagai mana yang telah ditetapkan.

a. Pengawasan
Pengawasan dalam bimbingan dan konseling merupakan kegiatan
mengukur tingkat efektifitas personil dan tingkat efisiensi penggunaan metode

12
dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan. Pengawasan perlu dilakukan agar
kegiatan atau pekerjaan tersebut berlangsung sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Pengawasan bimbingan dan konseling disekolah diselenggarakan oleh
pengawas sekolah sesuai SK Menpan No. 118/1996 dan petunjuk pelaksanaannya.
Kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling di sekolah melibatkan guru
pembimbing dan pengawas sekolah di bawah koordinasi kepala sekolah.
Sasaran pengawasan bidang bimbingan dan konseling meliputi seluruh
kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah sejak di SD, SLTP dan SLTA umum
dan kejuruan, baik sekolah-sekolah dalam lingkungan Kementrian Pendidikan
Nasional maupun yang lainnya.
Sasaran pengawasan bidang bimbingan dan konseling di lembaga
pendidkan dari SLTP sampai SLTA dilakukan oleh guru pembimbing, sedangkan
kegiatan bimbingan dan koseling di SD dilaksanakan oleh guru kelas.
Pengawas sekolah bidang bimbingan dan konseling di SLTP, SLTA dan
SMK atau sekolah-sekolah lain yang sederajat diselenggarakan oleh pengawas
sekolah bidang bimbingan dan konseling, sedangkan pengawasan bimbingan dan
konseling di SD atau sekolah lain yang sederajat diselenggarakan oleh pengawas
sekolah bidang TK, SD, SDLB.
Pengawasan bidang bimbingan dan konseling menjangkau para siswa
sebagai sasaran pokok kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Penilaian
terhadap pelayanan bimbingan dan konseling lebih di fokuskan kepada berbagai
hal positif yang diperoleh siswa dari berbagai macam kegiatan layanan bimbingan
dan konseling.
Guru pembimbing dan guru kelas bekerjasama dan saling membantu di
antara teman sejawat mereka, baik yang berada di sekolah yang sama maupun
antar sekolah. Demikian pula, guru pembimbing di SLTP/SLTA dan guru kelas SD
perlu saling mendukung demi kesinambungan dan lebih efektifnya kegiatan
bimbingan dan konseling di semua jenjang sekolah. Kerjasama, saling membantu
dan saling mendukung itu untuk sebesar-besarnya memanfaatkan hasil penilaian
dan pembinaan melalui kegiatan kepengawasan pengawas sekolah.

13
Kegiatan pengawasan pada tahap ini dilakukan oleh pengawas sekolah itu sendiri
bersama dengan para personel sekolah (guru dan kepala sekolah). Pengawas
sekolah mempersiapkan kegiatan pengawasan tahunan dan satu semesteran yang
disusunnya untuk setiap sekolah yang menjadi tanggung jawab pengawasannya.
Persiapan pengawasan ini difokuskan kepada hasil kegiatan bimbingan,
kemampuan guru, sumberdaya pendidikan, dan proses bimbingan. Pengawas
(supervisor BK) bertugas melakukan pengawasan BK di sekolah dengan
melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis BK dan administrasi pada
satuan pendidikan dasar dan menengah.

b. Supervisi
Secara Etimologi, supervisi diartikan sebagai penilikan atau pembinaan.
Sedangkan secara Terminologi, supervisi adalah bantuan berbentuk pembinaan
yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar
mengajar yang lebih baik. Supervisi bimbingan dan koseling merupakan satu
relasi antara supervisor dan konselor (supervisee) dimana supervisor (konselor
senior) memberi dukungan dan bantuan untuk meningkatkan mutu kinerja
profesional supervise. Tumpu pada satu prinsip yang mengakui setiap manusia itu
mempunyai potensi untuk berkembang.
Supervisi BK disebut juga sebagai usaha untuk mendorong,
mengkoordinasikan dan menuntun pertumbuhan petugas BK/konselor secara
berkesinambungan baik secara individual maupun secara kelompok agar lebih
memahami dan lebih dapat bertindak secara efektif dalam melaksanakan layanan
BK, sehingga mereka mampu mendorong dan menuntun pertumbuhan tiap siswa
(klien) secara berkesinambungan agar dapat berpartisipasi secara cerdas dan kaya
di dalam kehidupan masyarakat demokratis.
Crow dan Crow (1962) berpendapat bahwa dalam kegiatan supervisi
bimbingan dan konseling, hendaknya supervisor menerima saran-saran dari para
konselor dalam hubungannya dengan permasalahan-permasalahan perubahan dan
pengembangan kurikulum, penyesuaian kurikulum bagi siswa, memasukkan

14
kegiatan kegiatan yang bermanfaat bagi beberapa siswa ke dalam program
sekolah.
Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan dan konseling
adalah:
1) Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personil bimbingan yaitu
bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing.
2) Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para
personil bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
3) Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan
dan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
4) Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar ke
arah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan.
Dari penjelasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
supervise konseling merupakan pengawasan dan pembinaan yang diberikan
kepada pembimbing atau konselor untuk membantu anak-anak yang dalam tahap
perkembangan pendidikannya agar situasi situasi belajar mengajar lebih optimal.

YEL-YEL

Punya Masalah Jangan Simpan Dalam Hati

Segeralah Berkonsultasi Ke Guru Bk

Inilah Pembahasan Kelompok Kami

Tanggung Jawab Personil Sekolah Dalam Pelayanan Bk

a. Kepala Sekolah

15
1. Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang
meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan, serta bimbingan
dan konseling di sekolah.
2. Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang
diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling.
3. Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program
bimbingan dan konseling di sekolah.
4. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan
konseling di sekolah.
b. Wakil Kepala Sekolah
1. Mengkoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling kepada semua personil sekolah.
2.Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah sekolah
terutama dalam pelaksanaan layanan bimbungan dan
konseling.
c. Guru Mata Pelajaran

1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan


konseling kepada siswa.
2. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi
siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan
konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa
tersebut.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan
bimbingan dan konseling kepada guru
pembimbing/konselor.
4. siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu
siswa yang menuntut guru pembimbing/konselor
memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti
pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).

d. Wali Kelas

16
1. Membantu guru bimbingan dan konseling melaksanakan
layanan bimbingan dan konseling yang menjadi tanggung
jawabnya.
2. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan
bagi peserta didik, khususnya dikelas yang menjadi
tanggung jawabnya, untuk mengikuti layanan bimbingan
dan konseling.

e. Guru BK
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling.
2) Merencanakan program bimbingan dan konseling.
3) Melaksanakan segenap program satuan layanan
bimbingan dan konseling.
4) Melaksanakan segenap program satuan kegiatan
pendukung bimbingan konseling.

Kota Tegal Kota Bahari

Santun Dan Ramah Penduduknya

Janganlah Kamu Bersedih Hati

Punya Masalah Datang Ke Bk Saja

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak
terlepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau
Konselor sebagai pelaksana utama, penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di
sekolah juga perlu melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata
pelajaran dan wali kelas.
Selain peran guru dan personil lainnya, dalam BK juga memiliki kegiatan
pengawasan dan supervisi. Pengawasan merupakan kegiatan mengukur tingkat
efektifitas personil dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat tertentu
dalam usaha mencapai tujuan, sedangkan supervisi BK adalah bantuan berbentuk
pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan
situasi belajar mengajar yang lebih baik.

18
B. Saran
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada materi di atas, bahwa begitu
banyak peranseorang guru BK dan personil laninnya dalam pelayanan bimbingan
dan konseling, maka diharapkan setiap guru untuk dapat memahami dan
melaksanakan peranannya dengan optimal sehingga dapat mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
Selain itu, sebagai calon guru pembimbing masa depan yang akan
mengayomi dan mendidik serta membimbing peserta didiknya, maka calon guru
BK juga harus benar-benar memahami bagaimana tugas dan peranannya, sehingga
mampu mengaplikasikan peranan-peranan yang telah ditetapkan dengan optimal.

KEPUSTAKAAN
Ambaryani, Eka Septia. 2013. Supervisi Bimbingan Konseling. Online.
(https://ekaseptiambaryani.wordpress.com/2013/11/28/supervisi-bk/)
diunduh Pada 14 Juli 2016.
Depdiknas. 2009. Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas.
Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga.
Lesmana, Iqvan Yudha. 2013. Evaluasi dan Supervisi Bk.. Online.
(http://iqvan92.blogspot.co.id/2013/12/makalah-evalusi-dan-supervisi-bk
.html) diunduh Pada 14 Juli 2016.
Prayitno dan Erman Amu. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta.

Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling Di


Sekolah. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Saputri, Septiani nuralita. 2016. Peran Personil Sekolah. Online.
(http://septianinuralitasaputri.blogspot.co.id/2016/02/makalah-peran-perso
nil-sekolah-dalam.html) diunduh Pada 14 Juli 2016.

19
Sudrajat, Akhmad. 2010. Konsep Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling.
Online. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/03/evaluasi-prog
ram-bimbingan-dan-konseling-di-sekolah. html) diunduh Pada 14 Juli
2016.
Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta.
Zakiyah, Ani. 2014. Pengawas dalam Bimbingan dan Konseling. Online.
(http://nengberbagi.blogspot.co.id/2014/02/pengawas-dalam-bimbingan-
dan-konseling.html) diunduh Pada 14 Juli 2016.

20