Anda di halaman 1dari 17

BAB 3

RAMBU-RAMBU SYARIAT SEPUTAR HAID, ISTIHADHAH


DAN NIFAS

Haid dan Hukumnya

Secara etimologi (bahasa), haid berarti aliran. Sedangkan secara syari


(terminologi) didefinisikan : darah yang keluar dari pangkal rahim seorang wanita
dalam waktu-waktu tertentu bukan karena sakit atau kecelakaan, tetapi merupakan
sesuatu yang telah digariskan Allah kepada kaum Hawa. Allah Taala menciptakan
manfaat pada darah haid dalam rahim yaitu sebagai nutrisi anak saat masih di
rahim sewaktu hamil. Selanjutnya diubah menjadi ASI pasca kelahiran anaknya.
Apabila seorang wanita tidak hamil atau menyusui, sisa darah ini tidak disalurkan,
hingga ia keluar pada waktu-waktu tertentu, yang dikenal dengan datang bulan
(menstruasi) atau siklus bulanan.

Usia Kemunculan Haid

Umumnya, haid seorang wanita terjadi semenjak usia 9 sampai 50 tahun.


Allah Taala berfirman :






...

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara


perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka

1
iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang
tidak haid... (Ath-Thalaq [65]: 4)

Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi adalah perempuan yang usianya


lebih dari 50 tahun. Sedangkan perempuan-perempuan yang tidak (belum) haid
adalah anak perempuan yang usianya belum genap 9 tahun.

Rambu-rambu Syariat Seputar Wanita Haid

Pertama : Saat haid, diharamkan untuk melakukan jimak (penetrasi),


sebagaimana firman Allah Taala :

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu adalah


kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haid; dan jangalah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila
mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan
Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan
menyukai orang-orang yang mensyucikan diri. (Al-Baqarah [2]: 222)

2
Larangan itu berlanjut hingga seorang wanita berhenti mengeluarkan darah
haid dan mandi terlebih dahulu. Allah Taala berfirman, ...dan jaganlah kamu
mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka
campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu...

Diperbolehkan bagi suami untuk bermesra-mesraan dengan istrinya yang


sedang haid asal tidak melakukan jimak (penetrasi), sesuai sabda ` beliau :

Sabda Nabi

Berbuatlah apa saja (dengan istri kalian), kecuali melakukan jimak


(penetrasi). (HR. Muslim)

Kedua : Seorang wanita haid harus meninggalkan puasa dan shalat selama
berlangsungnya masa haid. Dirinya diharamkan untuk mengerjakan keduanya,
bahkan tidak sah. Sebagaimana sabda Rasulullah `, Bukankah wanita haid tidak
shalat dan tidak puasa? (Muttafaqun alaih)

Jika wanita tersebut telah suci dari haidnya, ia diwajibkan untuk mengganti
puasa dan tidak disuruh untuk mengganti shalat yang ditinggalkan. Berkata
Aisyah d, Bila kami (para istri Nabi) sedang datang bulan pada masa
Rasullullah `, maka kami diperintahkan mengganti puasa, namun tidak
diperintahkan mengganti shalat yang ditinggalkan. (Muttafaqun alaih)
Bedanya wallahu aalam, shalat dikerjakan secara berulang-ulang
sehingga tidak wajib diganti karena sakit dan kepayahan, berbeda dengan
puasa.

Ketiga : Wanita haid diharmkan memegan Al-Quraan tanpa perantara,


sebagaimana firman Allah Taala :

3
Ttidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Al-Waqiah
[56] : 79)

Juga berpedoman atas surat yang ditulis Rasulullah ` untuk Amru bin
Hazm :

Hadis Nabi

Tidak menyentuh mushaf melainkan orang yang suci. (HR. Nasai dan
selainnya)

Hadis ini menyerupai mutawatir karena semua sahabat menerimanya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t, Madzhab imam yang empat


berpendapat tidak boleh menyentuh mushaf melainkan orang yang suci. Adapun
membaca Al-Quran bagi wanita haid dengan tanpa menyentuhnya, maka masih
terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Ahlul ilmi
berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca Al-Quran kecuali karena
terpaksa, sebagaimana jika ia khawatir (hafalannya) lupa. Wallahu aalam.

Keempat : Wanita haid diharamkan thawaf di baitullah. Sebagaimana


sabada beliau ` kepada Aisyah d yang sedang haid :

Sabda Nabi

Lakukanlah seperti apa yang dilakukan orang yang berhaji selain thawaf
di Baitullah hingga kamu bersuci. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima : Wanita haid diharamkan tinggal di dalam masjid, sesuai dengan


sabda Rasulullah ` :

Sabda Nabi

4
Aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang sedang
junub. (HR. Abu Dawud)

Sabda Nabi

Masjid itu tidak dihalalkan (diperbolehkan) bagi wanita haid dan orang
yang junub. (HR. Ibnu Majah)

Namun wanita haid dibolehkan melewati masjid tanpa ada maksud untuk
bersinggah, sebagaimana hadits Aisyah d, ia berkata : Rasulullah ` bersabda,
Ambilkan aku khumrah (sejenis sajadah) di dalam masjid! Kemudian aku
berkata, Aku sedang haid. Maka Rasulullah ` bersabda, Haid itu tidak
berada pada tanganmu. (Penulis kitab Muntaqa berkomentar, Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Jamaah, kecuali Bukhari 1/140)

Keenam : Tidak mengapa wanita haid mengucapkan berbagai dzikir syari


dari tahlil (laa ilaaha illallaah), takbir (Allaahu akbar), tasbih (subhaanallaah)
serta doa shahih yang disyariaatkan pada pagi dan siang hari, ketika tidur dan
bangun tidur. Ia pun dibolehkan membaca buku seperti tafsir, hadits dan fiqih.

Pelajaran Hukum Shafrah dan Kadarah

Shafrah : Sesuatu (cairan) seperti nanah, atasnya berwarna kekuning-


kuningan.

Kadarah : Cairan seperti air yang kotor lagi keruh. Jika seorang wanita
mengeluarkan cairan berwarna kekuning-kuningan dan keruh pada waktu
kebiasaannya (masa haid), itu adalah darah haid dan berlakulah hukum haid.
Namun bila cairan itu keluar tidak pada waktunya (maksudnya keluar pada
masa suci), maka itu bukan darah haid dan ia dihukumi suci. Sebagaimana
perkataan Ummu Athiyah d, Kami tidak menganggap haid darah yang berupa
cairan keruh dan berwarna kuning sesudah masa suci. (HR. Abu Dawud,
sedang riwayat Bukhari tanpa lafal sesudah masa suci.)

5
Ucapan Ummu Athiyah ini dihukumi marfu oleh para ulama, karena
diambil dari ketetapan Nabi `. Pengertiannya, darah keruh dan kekuning-
kuningan sebelum masa suci tiba dihukumi haid, yang sekaligus berlaku
hukum-hukumnya.

Tanda-tanda Selesai Haid

Bagaimana wanita tahu kalau haidnya berhenti ?

Seorang wanita dapat mengetahuinya dengan berhentinya darah. Hal ini


diketahui dengan salah satu dari dua indikasi berikut :

Indikasi pertama : Keluarnya Qashatul Baidha (keputihan). Yakni air


berwarna putih mengikuti haid yang mirip air gypsum dan terkadang tanpa
warna putih. Akan tetapi warnanya berbeda-beda antara wanita satu dengan
lainnya.

Indikasi kedua : Telah kering. Yakni seorang wanita memasukkan kain


atau kapas ke dalam kemaluannya dan ketika dikeluarkan tetap kering. Tidak
ada cairan darah, warna keruh atau kekuning-kuningan.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Masa Haid Selesai ?

Saat masa haid selesai, waninta diwajibkan untuk membasuh seluruh


badannya menggunakan air (mandi) dengan niat bersuci. Rasulullah `
bersabda :

Sabda Nabi

Apabila haidmu datang, tinggalkan shalat. Apabila haidmu selesai,


mandilah lalu shalatlah. (HR. Bukhari)

Tata Cara Mandi

6
Tata carabagi wanita yang ingin bersuci dari haid : Meniatkan (dalam hati)
untuk menghilangkan hadats dan bersuci untuk shalat atau semisalnya, lantas
mengucapkan : BISMILLAH. Setelah itu, mengguyurkan air ke seluruh
tubuhnya dan membasahi pangkal rambut kepalanya. Seorang wanita tidak
perlu menguraikan rambutnya yang dikepang. Tetepi cukup dibasahi dengan air.
Bilan penggunaan (air) tersebut ditambah dengan daun bidara atau media
pembersih lainnya, maka hal ini baik. Daun, disunnahkan untuk menyediakan
kain yang dilumuri minyak wangi lantas dioles-oleskan ke dalam kemaluannya
setelah mandi, sebagaimana Rasulullah ` perintahkan kepada Asma.

Catatan Penting!

Jika wanita telah suci dari haid atau nifasnya sebelum matahari tenggelam,
maka pada hari itu juga ia tetap harus mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar.
Jika telah suci sebelum terbit fajar, ia wajib mengerjakan shalat Maghrib dan
Isyak dari malamnya. Sebab, waktu shalat yang kedua adalah waktu untuk
mengerjakan shalat yang pertama saat keadaan udzur.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam Fatawa 22/434, Dalam


masalah ini, jumhur ulama seperti Malik, Syafii dan Ahmad berpendapat
apabila wanita haid telah suci di sore hari, ia wajib sholat Zhuhur dan Ashar
dengan dijamak. Sedangkan apabila wanita tersebut suci di akhir malam
(sebelum terbit fajar), ia wajib shalat Maghrib dan Isyak dengan dijamak. Hal
tersebut dinukil dari Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.
Sebab, waktu shalat itu bisa mengombinasikan dua shalat ketika terdapat udzur.
Karenanya, jika wanita itu suci pada sore hari, maka waktu zhuhur tetap berlaku
baginya, sehingga ia berkewajiban shalat Zhuhur sebelum Ashar. Begitu pula
jika wanita itu suci pada akhir malam, maka waktu Maghrib tetap belaku
baginya saat terdapat udzur, sehingga ia harus shalat Maghrib terlebih dahulu
sebelum shalat Isyak.

Adapun jika waktu shalat telah tiba lalu wanita tersebut mengalami haid
atau nifas dan belum sempat mengerjakan shalat, maka pendapat yang rajih ia

7
tidak perlu mengqadha shalat tersebut. Mengenai masalah ini, berkata Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah t dalam Majmu Fatawa 23/335 : Yang nampak dijadikan
dalil adalah madzhab Abu Hanifah dan Malik yang berpendapat tidak perlu
mengqadha shalat, sebab qadha shalat itu diwajibkan dengan perintah yang
baru. Di sini tidak ada perintah untuk mengqdha. Sebab, mengakhirkan waktu
yang dibolehkan bukanlah tindakan melalaikan. Sedangkan orang yang tidur
atau lupa tanpa ada unsur melalaikan lantas ia mengerjakanny, maka itu bukan
qadha tetapi itu adalah waktu shalat sesungguhnya saat ia bangun atau ingat.

Istihadhah dan Hukumnya

Istihadhah adalah darah yang mengalir diluar kebiasaan, yang keluar


melalui jalan pendarahan (farji) yang berasal dari urat dan dinamakan dzil.
Wanita yang mengalami istihadhah memiliki problem untuk bisa membedakan
antara darah haid dan darah istihadhah (darah kotor atau penyakit). Apabila
darah itu keluar secara terus-menerus atau sering, maka darah yang
dianggapnya haid atau istihadhah, tidak menjadikannya meninggalkan puasa
dan shalat, sebab wanita yang ditimpa istihadhah dihukumi suci.

Wanita yang memperoleh darah istihadhah, ia mempunyai tiga keadaan :

1. Wanita tersebut memiliki kebiasaan haid sebelum tertimpa istihadhah.


Misal, sebelum istihadhah ia mengalami haid lima atau delapan hari pada
awal atau pertengahan bulan. Apabila dirinya sudah mengetauhi kebiasaan
haid dan waktu keluarny, hendaknya dirinya berpegang dengan kebiasaan
haidnya dan meninggalkan shalat dan puasa dikarenakan padanya berlaku
hukum wanita haid. Jika selesai masa haidnya, ia mandi dan boleh
mengerjakan shalat walaupun daerah masih keluar (sebab itu adalah darah
istihadhah), sebagaimana sabda Rasulullah ` kepada Ummu Habibah :

Sabda Nabi
Tinggalkanlah kewajibanmu sesuai kebiasaan masa haidmu, kemudian
(jika telah melewati kebiasaannya) mandi dan shalatlah. (HR. Muslim)
Juga sabda beliau ` kepada Fathimah bin Abu Hubaisy :

8
Sabda Nabi
Sesungguhnya darah itu hanyalah penyakit, dan bukan tergolong darah
haid. Maka apabila haidmu datang, tinggalkan shalat. (Muttafaqun
alaih)
2. Jika seorang wanita tidak memiliki kebiasaan haid yang teratur, hendaknya
ia mengadakan dtudi perbandingan observasi dengan darah haidnya.
Darah haid warnanya hitam, kental dan berbau busuk. Jika tidak seperti ini,
Anda simpulkan bukan sifat darah haid yakni warnanya merah, tidak
berbau dan encer. Maka dalam keadaan ini, yakni darah yang menunjukan
bukti-bukti sifat haid, dihukumkani wanita haid dan otomatis
meninggalkan kewajiban shalat dan puasa. Sementara selain sifat darah
haid dihukumi istihadhah. Ia wajib mandi setelah berakhirnya sifat darah
haid, lalu shalat dan berpuasa karena ia telah suci. Sebagaimana sabda
Rasulullah ` kepada Fathimah binti Abu Hubaisy :

Sabda Nabi
Apabila darah itu darah haid, ia berwarna hitam yang dikenal. Bila
demikian darah yang keluar darimu, berhentilah shalat. Namun bila tidak
demikian keadaannya, berwudhulah dan shalatlah. (HR. Abu Dawud,
Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)
Sabda Rasulullah ` ini mempunyai makna tersifat (implisit) bahwa wanita
yang ditimpa istihadhah hendaklah melakukan pengamatan terhadap ciri-
ciri darahnya, sehingga ia bisa membedakan antara haid dengan selainnya.
3. Apabila wanita itu tidak memiliki kebiasaan haid yang teratur, dan tidak
pula dapat membedakan darah haid dengan selainnya, hendaknya ia
melihat kebiasaan umumnya wanita, yaitu menganggap dirinya haid selama
enam atau tuhuh hari pada setiap bulannya. Pasalnya, inilah kebiasaan
mayoritas wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah ` kepada Hamnah bin
Jahsy :

Sabda Nabi

9
Yang demikian itu hanyalah salah satu hentakan syaitan6, maka
anggaplah dirimu haid selama enam atau tujuh hari. Setelah lewat dari itu
mandilah, maka apabila engkau telah suci shalatlah selama 24 atau 23
hari, puasalah dan shalatlah. Hal ini mencukupimu, demikianlah engkau
lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa mengalami
haid. (HR. Ashhabul Khamsah dan dishahihkan oleh Tirmidzi)

Kesimpulan :

Wanita yang memiliki kebiasaan haid yang teratur, statusnya dikembalikan


kepada kebiasaannya. Wanita yang hanya dapat membedakan sifat atau ciri-ciri
darah, ia berpedoman dengan perbuatan tersebut. Dan, wanita yang tidak
memiliki kebiasaan haid dan tidak dapat membedakan sifat darahnya, baginya
menghitung haid selam enam atau tujuh hari setiap bulannya (sesuai keumuman
wanita). Dengan demikian, ketiga hadits dari Rasulullah ` tentang wanita yang
ditimpa istihadhah di awal dapat diintegrasikan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t, Ada berita bahwa tanda haid
ada 6 yaitu : (1) Kebiasaan haid, karena kebiasaan merupakan tanda yang paling
valid, dan asal kedudukan darah haid itu tanpa dibarengi darah yang lain. (2)
Darah Hitam, kentaldan berbau lebih nyata menunjukan haid daripada darah
yang berwarna merah. (3) Melihat mayoritas kebiasaan wanita, karena asal

6Istilah hentakan setan ada 2 makna;Pertama; Setan betul-betul


menghentikan rahim wanita sehingga mengalirkan darah istihadhah
dengan tujuan merusak shalatnya, yaitu dengan membatalkan
kesuciannya. Dan bukanlah suatu hal yang aneh jika setan mampu
mengeluarkan darah tersebut dengan hentakannya terhadap anak Adam.
Kedua; Hentakan tersebut adalah hentakan alamiah lantas dinisbatkan
kepada setan, sebab hentakan ini sama halnya merusak shalat,
sebagaimana makan dengan tangan kiri dinisbatkan kepada setan, atau
membiarkan kepala dengan tanpa jenggot (bagi laki-laki), atau suka
berhias dengan warna merah, yang juga dinisbatkan kepada setan. Kata
Abu Muhammad, Zayad bin Yahya menceritaiku, katanya, Basyar bin
Mufadhdhal memberitahuku dari Yunus dari Hasan, Rasulullah bersabda,
Warna merah adalah perhiasan setan, dan setan suka warna merah.
(Takwil Mukhtalaf hadits, Bab Qolu hadits yukadzdzibuhu nazhar 1/328).
Foot note dari Tim Penerjemah .

10
suatu keuputusan bagi seorang berdasarkan keumuman mayoritas. Ketiga
tanda ini telah ditunjukkan dalam hadits dan kenyataannya. Kemudian beliau
sebutkan ketiga tanda lain, dan akhirnya berujar, Pendapat yang paling kuat
adalah dengan mengambil pendapat yang telah ditunjukkan oleh sunnah dan
menolak selain itu.

Hal-hal yang Harus Dilakukan oleh Wanita Istihadhah Setelah Suci

Wanita tersebut wajib mandi setelah darah yang dianggapnya darah haid itu
habis; sebagaimana telah dijelaskan di awal (pada pembahasan haid).
Membasuh miss V-nya untuk membersihkan darah yang keluar setiap kali
akan mendirikan shalat. Dan hendaklah ia menyelipkan kapas atau lainnya
pada miss V-nya untuk menahan darah yang akan keluar serta
membalutkan kapas tersebut agar darah tidak jatuh. Setelah itu, ia
berwudhu setiap kali masuk waktu shalat, berdasarkan penjelasan
Rasulullah ` tentang wanita yang ditimpa istihadhah ini :

Sabda Nabi
Hendaklah ia meninggalkan shalat pada hari-hari haidnya, setelah itu
hendaklah ia mandi, dan berwudhu setiap kali hendak shalat. (HR. Abu
Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan)

Sabda Nabi
Aku menentukan kapas untukmu, sebab ia dapat menghilangkan darah.
Bisa juga menggunakan pembalut yang ada pada zaman sekarang.

Nifas dan Hukumnya

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan atau pasca
melahirkan. Darah nifas ini merupakan sisa darah yang tertahan di dalam rahim
sewaktu hamil. Bila seorang wanita melahirkan kandungannya, darah itu pun
keluar sedikit demi sedikit. Darah yang terlihat keluar sebelum kelahiran
bersamaan adanya indikasi kelahiran itulah yang disebut darah nafas. Para ahli
fiqih membatasi dua atau tiga hari sebelum kelahiran. Umumnya, permulaan
nifas terjadi bersamaan dengan kelahiran. Umumnya, permulaan nifas terjadi

11
bersamaan dengan kelahiran. Dan dianggap melahirkan bayi manakala sudah
jelas berbentuk manusia. Waktu tersingkat janin berwujud manusia adalah
delapan puluh satu hari atau mayoritas berpendapat tiga bulan. Jika terjadi
keguguran sebelum masa tersebut dan bersamaan dengan itu terdapat darah,
darah tersebut tidak bisa disebut darah nifas. Ia pun tidak boleh meninggalkan
shalat dan puasa karenanya, sebab darah tersebut adalah darah penyakit (rusak)
dan pendarahan, sehingga hukumnya hukum wanita yang tertimpa istihadhah.

Umumnya masa nifas berlangsung selama 40 hari dimulai dari kelahiran


atau dua atau tiga hari sebelumnya. Sebagaimana hadits Ummu Salamah d :

Sabda Nabi

Para wanita yang nifas pada zaman Rasulullah ` mereka duduk (tidak
mengerjakan shalat) selama 40 hari. (HR. Tirmidzi dan selainnya)

Para ulama sepakat, sebagaimana yang ceritakan Tirmidzi dan lainnya,


bahwa jika seorang wanita telah suci dari nifas sebelum 40 hari dengan
berhentinya darah, ia wajib mandi dan mengerjakan shalat. Karenanya, tidak
ada batasan minimal atau maksimal waktu nifas. Manakala masa nifas
berlangsung 40 hari sedangkan darah nifas keluar terus, maka jika bertepatan
dengan kebiasaan haid dirinya dihukumi wanita haid. Namun jika tidak
bertepatan dengan kebiasaan haid dan darah tidak berhenti, maka itu adalah
darah istihadhah, ia tidak boleh meninggalkan ibadah setelah 40 hari. Apabila
lebih dari 40 hari darah tetap keluar, namun tidak terus menerus (sekali waktu
terjadi dan sekali waktu tidak), dan tidak bertepatan dengan kebiasaan haid, hal
ini masih ada perbedaan pendapat.

Hukum yang Berkaitan Dengan Nifas

12
Hukum yang berkaitan dengan wanita nifas sama persis dengan wanita haid
berikut ini :

1. Diharamkan melakukan jimak (penetrasi) sebagaimana diharamkan atas


wanita haid. Tetapi dibolehkan jika sekedar bercumbu tanpa melakukan
penetrasi.
2. Diharmkan menunaikan puasa, shalat dan thawaf di Baitullah sebagaimana
wanita haid.
3. Diharamkan memegang mushhaf Al-Quran dan membaca Al-Quran
manakala ia tidak khawatir lupa (hafalan), sebagaimana wanita haid.
4. Wajib mengqadha puasa wajib yang ditinggalkannya selama nifas,
sebagaimana wanita haid juga wajib mengqadhanya.
5. Wajib untuk mandi saat berakhirnya nifas sama seperti wajibnya wanita
haid berdasarkan dalil :
Dari Ummu Salamah d :

Sabda Nabi
Para wanita yang nifas pada zaman Rasulullah `, mereka duduk (tidak
mengerjakan shalat) selama 40 hari. (HR. Ashhabul Khamsah, kecuali
Nasai)

Berkata Al-Majd Ibnu Taimiyyah t dalam Al-Muntaqa 1/184 : menurutku,


makna hadits yang isinya wanita diperintahkan untuk duduk (tidak mengerjakan
shalat) selama 40 hari, Penggunaan istilah 40 hari itu dimaksudkan agar berita
itu tidak dianggap bohong; sebab tidak mungkin kebiasaan wanita hari ini sama
persis waktunya dalam hal nifas atau haid.

Dari Ummu Salamah d, ia berkata :

Sabda Nabi

Konon istri-istri Nabi ` tidak mengerjakan shalat karena nifas selama 40


hari, dan beliau pun tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha
shalatnya. (HR. Abu Dawud)

13
Hukum Darah Nifas yang Keluar Secara Tidak Teratur Sebelum 40 hari

Apabila darah nifas berhenti sebelum 40 hari, ia mandi lalu mengerjakan


shalat dan puasa, setelah itu darah nifas kembali mengalir, maka yang tepat
bahwa darah itu dianggap darah nifas. Wanita tersebut tidak boleh shalat,
sedangkan puasa yang dikerjakan pada waktu sucinya (darah nifas berhenti
sebelum 40 hari) adalah sah dan tidak perlu mengqadhanya. Lihat Majmu
Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim 2/1027, Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin
Baz yang diterbitkan Majalah Ad-Dakwah 1/44, catatan kaki Ibnu Qasim kita
Syarh Az-Zahd 1/405, Kitab Darah Kebiasaan Wanita oleh Syaikh Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin hal 55-56 dan Fatawa As-Sadi hal 137.

Pelajaran Lain

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Sadi t : darah nifas disebabkan


kelahiran, darah istihadhah adalah darah lain karena sakit atau semisal dan
darah haid adalah darah alami. Wallahu alam. (Lihat kitab Irsyad Ulil Abshar
wal Albab hal 24)

Mengonsumsi Pil (Obat-obatan) Pencegah Haid

Tidak mengapa seorang wanita mengonsumsi sesuatu (pil) yang mencegah


timbulnya haid jika tidak membahayakan kesehatannya. Jika ia telah
mengonsumsinya dan haid bisa dicegah, maka ia harus mengerjakan shalat,
puasa dan thawaf, dan hal tersebut sah layaknya wanita suci.

Hukum Aborsi

7Ucapan beliau, Wanita itu diharuskan mengqadha puasa dan tidak


mengqadha shalat. Kata-kata tersebut masih bersifat umum (masih
membutuhkan penafsiran), sebab ucapan tersebut tidak menjelaskan
puasa yang harus diqadhanya; apakah puasa pada hari-hari suci
sebelum 40 hari atau puasa yang ia tinggalkan pasca darah kembali
mengalir, barangkali pengertian kedua ini yang beliau maksudkan

14
Wahai wanita muslimah! Engkau orang yang dipercaya secara syari atas
apa yang Allah ciptakan dalam rahim Anda, karenanya janganlah engkau
menyembunyikannya. Allahk berfirman :
...



...
...Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang dicipatakan Allah
dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat... (Al-
Baqarah [2]:228)

Dan janganlah engkau berusaha menggugurkan (bayi) dan membuangnya


dengan cara apa pun, padahal Allah memberi keringanan bagimu untuk
berbuka di bulan Ramadhan manakala puasa tersebut memberatkan dirimu
karena keadaan hamil, atau puasa tersebut dapat membahayakan kandunganmu.

Praktik aborsi yang mewabah pada zaman ini adalah perbuatan yang
diharamkan. Dan jika bayi yang ada dalam kandungan itu telah ditiupkan ruh,
kemudian meninggal akibat aborsi, hal itu termasuk pembunuhan jiwa tanpa
alasan yang benar yang diharamkan Allah. Ia juga harus menerima hukum
jinayat (tindak pidana) dengan kewajiban membayar diyat (denda) secara detail
sesuai ukuran kejahatannya.

Menurut sebagian ulama, wajib membayar kaffarah (tebusan), yaitu dengan


memerdekakan seorang budak yang beriman. Jika tidak mendapatkannya,
hendaklah ia puasa 2 bulan berturut-turut. Sebagian ulama menamakan
perbuatan aborsi ini dengan Al-Mauudah Ash-Sughra (Pembunuhan kecil).

Syaikh Muhammad bin Ibrahim t berkata dalam Majmu Fatawanya


11/151 : Adapun usaha untuk menggugurkan kandungan adalah tidak boleh

15
selama belum jelas bayi dalam kandungan itu meninggal. Akan tetapi jika bayi
tersebut jelas mati, maka boleh melakukan pengguguran.

Majelis Kibaru Ulama (semacam MUI-nya di Kerajaan Saudi Arabia)


no.140 tanggal 20 Jumadil Akhir 1407 telah menetapkan sebagai berikut :

1. Tidak boleh melakukan aborsi pada siklus janin manapun kecuali dengan
alasan yang dibenarkan oleh syariat, itupun dalam batas yang sangat
sempit.
2. Jika kandungan itu masih dalam siklus pertama (selama 40 hari) lalu ia
melakukan pengguguran pada masa ini karena khawatir mengalami
kesulitan dalam mendidik anak-anak atau khawatir tidak bisa menanggung
beban hidup dan pendidikan mereka atau dengan alasan mencukupkan
dengan beberapa anak saja, maka samua itu tidak dibenarkan oleh syariat.
3. Tidak boleh melakukan aborsi, jika kandungan telah membentuk alaqah
(segumpal darah) atau mudghah (segumpal daging) sampai ada keputusan
dari tim dokter yang tsiqah (kredibel) bahwa melanjutkan kehamilan akan
membahayakan keselamatan ibunya, maka melakukan pengguguran
dibolehkan, setelah segala macam usaha untuk menghindari bahaya bagi
sang Ibu dilakukan (dan tidak ada jalana yang harus dilakukan selain aborsi
itu).
4. Setelah siklus yang ketiga yaitu setelah usia kandungan genap 40 hari,
maka tidak halal melakukan pengguguran sehingga ada pernyataan dari tim
dokter spesialis yang kredibel bahwa jika janin itu dibiarkan dalam perut
ibu akan menyebabkan kematiannya. Hal ini dibolehkan setelah segala
macam usaha untuk menjaga kehidupan janin dilakukan. Ini hanya
rukhshah (dispensasi) bersyarat karena menghadapi dua bahaya, sehingga
harus mengambil jalan yang lebih mashlahat.
Majelis Kibarul Ulama ketika menetapkan keputusan ini mewasiatkan
untuk bertakwa kepada Allah dan memilih prinsip yang kuat dalam hal ini.
Semoga Allah memberi taufiq, dan shalawat serta salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Rasulullah `, para keluarga dan sahabatnya g.
Disebutkan dalam Risalah Ad-Dimauth Thabiiyyah lin Nisa (Darah
kebiasaan wanita) hal 60 oleh Syaikh Muhammad bin Utsaimin : Jika

16
pengguguran kandungan itu untuk melenyapkan keberadaannya, sementara ruh
telah ditiupkan pada bayi maka hal itu haram tanpa keraguan, karena sama
artinya membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. Dan membunuh jiwa yang
diharamkan membunuhnya adalah haram menurut Al-Quran, sunna dan Ijmak.
Imam Ibnu Jauzi menyebutkan dalam kitab Ahkamun Nisa halaman 108-
109 : Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan anak, tetapi tidak setiap air
(sperma) itu menjadi seorang anak, maka apabila air itu terbentuk, berarti
tercapailah tujuan pernikahan. Maka, sengaja melakukan aborsi sama halnya
menyelisihi tujuan hikmah pernikahan. Adapun pengguguran yang dilakukan di
awal-awal kehamilah saja sebelum ruh ditiupkan adalah termasuk dosa besar,
hanya saja hal itu lebih kecil dosanya dibandingkan menggugurkan bayi yang
telah ditiupkan ruh. Maka kesengajaan menggugurkan bayi yang telah ditiupkan
ruh itu berarti sama dengan membunuh seorang mukmin.



Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena
dosa apakah ia dibunuh ? (At-Takwir [81]:8-9)
Oleh karena itu, bertakwalah engkau kepada Allah wahai muslimah!
Janganlah engkau melakukan kejahatan ini untuk tujuan apapun, jangan pula
terpengaruh oleh propaganda yang menyesatkan; serta janga mengekor kepada
kebatilan yang sama sekali tidak berpedoman logika sehat dan dinus Islam.

17