Anda di halaman 1dari 10

WAKAF

A. Pengertian Wakaf
Berasal dari bahasa Arab waqafa-yaqifu-waqfan
Berarti: berhenti, menghentikan, berdiam di tempat atau menahan sesuatu.
Disebut juga al habs menghalangi ain (benda yg diwakafkan) utk dimiliki atau
dibelanjakan.
Secara istilah syari (terminologi) adalah :
Menahan suatu benda dan membebaskan / mengalirkan manfaatnya.
Jadi maksudnya adalah menahan harta milik pribadi yang diserahkan kepada pihak lain
untuk kepentingan umum dengan tujuan mendapatkan ridlo Allah SWT. Sedangkan menurut
kamus besar bahasa Indonesia wakaf itu adalah benda bergerak atau tidak bererak yang
disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sebagai pemberian yang ikhlas.
UU no. 41 Thn 2004 tentang Wakaf Pasal 1:
Perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda
miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan
kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

B. Dasar Hukum Wakaf


Wakaf hukumnya sunnah. Namun, bagi pemberi wakaf (wakif) merupakan amaliah sunnah
yang sangat besar manfaatnya. Karena bagi wakif merupakan shodaqoh jariyah. Hal ini
sesuai dengan dalil-dalil wakaf untuk keperluan umat.
Beberapa dalil tentang ibadah wakaf diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Q.S Ali Imron : 92

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menginfakkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu infakkan,
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."
2. Hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhori dan Muslim

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, Apabila seorang manusia
meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu
yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. (HR. Bukhori dan Muslim)
Mengenai shodaqoh jariyah pada hadits di atas, ulama telah sepakat bahwa yang
dimaksud dengan shodaqoh jariyah dalam hadits tersebut adalah wakaf.

C. Rukun dan Syarat Wakaf


1. Orang yang mewakafkan hartanya (wakif)
Syarat-syaratnya yaitu:
a. Memiliki penuh harta itu.
b. Berakal.
c. Baligh.
d. Bertindak secara hukum (rasyid). Orang bodoh, orang yang sedang bangkrut (muflis),
dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.

Menurut Pasal 7 UU No 41 Tahun 2004, waqif meliputi: Perseorangan, Organisasi, Badan


hukum.

2. Harta yang diwakafkan (Mauquf)


Syarat-syaratnya:
a. Benda yang diwakafkan harus mutaqawwim dan aqar.
Mutaqawwim barang yang dimiliki seseorang dan boleh dimanfaatkan menurut
syariat Islam dalam keadaan apapun.
Aqar benda tidak bergerak dan dapat diambil manfaatnya.
Benda wakaf harus tetap zatnya dan dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang
lama, tidak habis sekali pakai serta dimanfaatkan sesuai dengan syariat Islam.
b. Benda yang diwakafkan harus jelas wujudnya dan pasti batas-batasnya.
c. Harta yang diwakafkan harus benar-benar kepunyaan wakif secara sempurna, bebas
dari segala beban.
d. Benda yang diwakafkan harus kekal.

Harta Benda Wakaf (Pasal 15-16 UU Wakaf)


Terdiri dari:
1. Benda tidak bergerak, meliputi:
- hak atas tanah, baik yang terdaftar atau belum.
- bangunan atau bagian bangunan yg berdiri di atas tanah.
- tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah.
- hak milik atas satuan rumah susun.
- benda tidak bergerak lainnya yang sesuai dengan syari.
2. Benda bergerak selain uang, meliputi:
a. Benda bergerak karena sifatnya : kendaraan bermotor, mesin atau peralatan
industri, logam dan batu mulia, atau benda lain yg tergolong sebagai benda bergerak
karena sifatnya dan memiliki manfaat jangka panjang.
b. Benda bergerak selain uang karena peraturan peruuan: (Pasal 21
PP no 42/2006)
- Surat berharga
- Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). HAKI mencakup hak cipta,
hak paten, merek, dan desain produk industri.
- Hak atas benda bergerak lainnya seperti: hak sewa, hak pakai, dan
hak pakai hasil atas benda bergerak; atau tuntutan atas sejumlah
uang yang dapat ditagih.
- Benda bergerak berupa uang.

3. Orang yang menerima manfaat wakaf (Mauquf alaih)


Orang yang menerima wakaf diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
a. Tertentu (muayyan), artinya orang yang menerima wakaf jelas jumlahnya. Apakah
seorang, dua orang atau sekumpulan orang semuanya mempunyai kriteria tertentu dan
tidak boleh diubah.Persyaratan bagi orang yang menerima wakaf tersebut adalah
orang yang boleh memilki harta. Dengan demikian, orang muslim, merdeka dan
kafirimni (non muslim yang bersahabat) yang memenuhi syarat tersebut, boleh
memilki harta wakaf.
b. Tidak tertentu (ghoir muayyan), artinya berwakaf itu tidak ditentukan kriterianya
secara rinci. Seperti untuk orang fakir, miskin, tempat ibadah, makam dan lain-lain.
Syarat-syarat yang berkaitan dengan ghoir muayyan, yaitu yang menerima wakaf
hendaklah dapat menjadikan wakaf tersebut untuk kebaikan, dan dengan wakaf dapat
mendekatkan diri kepada Allah SWT.

4. Lafadz atau Ikrar wakaf (Sighat wakaf )


Ikrar wakaf adalah pernyataan wakif yang merupakan tanda penyerahan barang atau
benda yang diwakafkan, dapat dilakukan secara lisan atau tertulis dengan dihadiri 2 orang
saksi.
Dalam wakaf hanya ada ijab tanpa qabul.
Benda kembali menjadi hak milik mutlak Allah yang dimanfaatkan oleh orang-orang
yang disebut dalam ikrar wakaf.
Pernyataan wakif harus jelas yakni: melepaskan haknya atas pemilikan benda yang
diwakafkan dan menentukan peruntukan benda.

MENELADANI PERJUANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW


DI MADINAH

A. Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah


Arti Hijrah dan Tujuan Rasulullah SAW dan Umat Islam Berhijrah
Arti Hijrah
o Meninggalkan perbuatan buruk untuk melakukan kebaikan
o Pindah dari negeri kafir ke wilayah Islami

Tujuan Hijrah
o Menyelamatkan diri dan umat Islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum
kafir Quraisy.
o Agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah
sehingga dapat meningkatkan usaha-usahanya dalam berjihad di jalan Allah SWT.

Hal-hal yang Mendorong Hijrah


o Kesulitan-kesulitan Nabi SAW dalam berdakwah
o Tekanan-tekanan kaum Quraisy terhadap pengikut-pengikut Nabi SAW, dan
terhadap diri Nabi Muhammad SAW
o Keadaan masyarakat Madinah
o Gerakan dakwah menanamkan Islam di Madinah

Peristiwa Hijrah Kaum Muslimin


Berkat perjuangan suku Khazraj dan Aus muslimin di Yastrib makin hari makin
bertambah banyak dan subur dalam perkembangan Islam. Maka kota Madinah menarik hati
bagi kaum muslimin di Mekkah. Sebaliknya kaum musyrik Quraisy menjadi iri hati dan kesal
melihat perkembangan Islam di Yastrib itu. Sebab itulah mereka bertambah dendam hatinya
dan makin kejam terhadap orang-orang Islam di Mekkah dan berusaha keras untuk
membunuh Nabi SAW.

Sambutan Penduduk Madinah


Kaum Muslimin di Mekkah makin hari makin banyak jumlahnya yang hijrah ke
Madinah, lebih-lebih setelah ada berita adanya Baiatul Aqabah dan berita tentang Rasulullah
SAW. juga akan hijrah ke Madinah, maka dengan rela umat Islam meninggalkan harta
bendanya di Mekkah demi keselamatan agamanya, bahkan banyak juga yang hijrah tidak
membawa bekal apa-apa. Tetapi setelah kaum muslimin dari Mekkah itu sampai di Madinah,
ternyata tidak ada kesulitan lagi bagi Muhajirin hidup di Madinah.
Karena sambutan orang-orang Madinah terhadap kaum yang hijrah itu baik sekali,
kaum Muslimin Madinah menerima kaum muslimin yang baru datang dari Mekkah itu seperti
menerima keluarganya sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Sebaliknya, kaum muslimin
dari Mekkah yang datang itu senang dan tenteram seperti berada di rumah sendiri. Hal itu
sesuai dengan janji orang-orang suku Khazraj dan Aus dalam Ikrar Aqabah Kubra, bahwa
mereka akan berusaha menjaga keselamatan kaum muslimin dan membantu menegakkan
Islam.

Peristiwa Hijrah Rasulullah Saw


Setelah adanya ikrar Aqabah, agama Islam masuk di Madinah. Di kota Madinah itu
agama Islam berkembang dengan subur. Kebalikannya umat Islam di Mekkah makin lama
makin sempit geraknya dan makin mendapatkan tekanan keras dari kaum Quraisy.
Setelah Rasulullah memerintahkan agar kaum muslimin di Mekkah hijrah ke
Madinah. Maka hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah. Sehingga kaum
muslimin yang masih menetap di Mekkah tinggal sedikit. Shahabat kenamaan yang masih
berada di Mekkah tinggal Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib untuk menemani Rasulullah
menantikan turunnya wahyu perintah hijrah. Pada saat-saat itu kota Mekkah sangat genting,
Abu Jahal dengan kawan-kawannya berusaha mencari Nabi Muhammad SAW akan dibunuh.
Nabi SAW meninggalkan rumah pada malam tanggal 12 Rabi'ul Awwal 1 H.
Bersamaan tanggal 28 Juni 622, pemimpin pemuda Quraisy yang bernama Suraqah beserta
kawan-kawannya mengepung rumah Rasulullah saw di Mekkah. Mereka itu berusaha
menangkap dan membunuh Rasulullah SAW.
Pada saat-saat yang genting itulah kemudian Rasulullah menerima wahyu dari Allah
yang berisi, bahwa pada saat itu orang-orang musyrik Quraisy berusaha akan membunuh
Rasulullah. Setelah menyampaikan wahyu itu Malaikat Jibril minta agar Rasulullah jangan
tidur di tempat tidurnya, dan minta supaya beliau hijrah ke Madinah malam itu juga.

Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah


Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah berlangsung selama 10 tahun
Materi dakwah di Madinah selain 89 surah yang turun di Mekah juga 25 surah yang turun di
Madinah
Isi materi surah yang turun di Madinah masalah sosial kemasyarakatan
Peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bertujuan untuk:
Membela diri
Menjamin kelancaran dakwah
Untuk memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan
Romawi

Dakwah Islamiah Keluar Jazirah Arabia


Heraclius, kaisar Romawi Timur. Melalui utusan Rasulullah SAW yang bernama Dihijah bin
Khalifah. Tetapi Heraclius tidak menerima seruan tersebut karena tidak mendapat restu dari
para pembesar dan pendeta Romawi
Muqaiqas, Gubernur Romawi di Mesir. Melalui utusan Rasulullah SAW yang bernama Hatib.
Muqaiqas tidak mau menerima seruan tersebut. Dan mengirim hadiah-hadiah berupa budak
wanita, keledai, pakaian dan kuda
Syahinsyah, kaisar yang sombong dan lalim. Surat dari Rasulullah SAW dirobek-robeknya
Dan beberapa raja yang lain

B. Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

o Berdakwah dimulai diri sendiri


o Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah tala dalam Q.S An-Nahl
ayat 125
o Berdakwah dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah Taala semata
o Mendirikan dan membina Masjid
o Pembinaan persaudaraan kaum Muslimin (Ukhuwah Islamiyah) di Madinah
o Perjanjian dengan bangsa Yahudi
Bangsa Yahudi yang berdiam di Madinah ada tiga suku bangsa ialah : Banu Qainuqa, Banu
Nadzir dan Banu Qaraidhah.

Usaha-usaha Rasulullah SAW dalam mewujudkan masyarakat Islam:


1. Membangun masjid
Fungsi masjid sebagai:
Sarana pembinaan umat Islam di bidang akidah, ibadah dan akhlak
Sarana ibadah khususnya salat lima waktu dan Jumat
Tempat belajar dan mengajar tentang ajaran Islam
Tempat pertemuan untuk menjalin persaudaraan
Sarana sosial
2. Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Ansar
Hamzah bin Abdul Muthallib dengan Zaid bin Harits
Abu Bakar dengan Kharizah bin Zaid
Utsman bin Affan dengan Aus bin Tsabit
Umar bin Khattab dengan Itban bin Malik Al-Khazraji
Abdurahman bin Auf dengan Saad bin Rabi
3. Perjanjian saling membantu antara umat Islam dan non-Islam
Untuk menciptakan kerukunan dan toleransi, dalam berdakwah Rasulullah
menyampaiakan aturan yang terkenal dengan istilah Piagam Madinah.
Piagam Madinah bermaksud untuk membentuk sebuah masyarakat dibawah naungan
Islam. Dalam piagam tersebut mengatur segenap aspek kehidupan, berisi akidah, akhlak,
kebajikan, undang-undang, kemasyarakatan, ekonomi, dan lain-lain.
4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial yang islami demi terwujudnya
masyarakat madani.

Pertumbuhan Dan Perkembangan Islam Pada Periode Madinah


Dalam menjalankan misi kenabiannya, Rasulullah SAW sering sekali mendapatkan tentangan
dari orang-orang kafir. Bahkan saat Islam sudah mulai berkembang, para kaum kafir terus saja
berusaha untuk menghancurkan serta memecah belah persatuan umat Islam. Upaya kaum
muslimin mempertahankan Madinah melahirkan banyak peperangan, diantaranya: Perang
Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Hunain, dan Perang Tabuk.
a. Beberapa peperangan penting dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan Islam.
Ada dua jenis peperangan pada jaman Rasulullah, yaitu :
Ghazwah ; yaitu suatu peperangan kaum muslimin yang langsung dipimpin oleh
Rasulullah di medan perang. Perang Ghazwah itu berlangsung hingga 27 kali perang.
Syariyah ; yaitu suatu peperangan yang tidak langsung dipimpin oleh Rasulullah di
medan perang. Perang itu berlangsung hingga 35 kali perang.
b. Pengaruh Beberapa Peperangan Terhadap Pertumbuhan Islam :
Segi jumlah
Segi kejiwaan
Segi Wilayah
Segi sikap

NIKMATNYA MENCARI ILMU


DAN INDAHNYA BERBAGI PENGETAHUAN

1. Kewajiban Menuntut Ilmu


Setiap umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, wajib untuk menuntut ilmu,
menuntut ilmu harus dilakukan dengan penuh semangat dan tidak boleh dengan bermalas-
malasan. Sebagaimana sabda Nabi SAW:


( )
Artinya: dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda.: Menuntut ilmu adalah
kewajiban bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)



:
Artinya: dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke dalam perang).
Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam
pengalaman agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali, agar mereka dapat menjaga diri. (QS. At-Taubah/9: 122)

Berdasaarkan hadits dan ayat diatas, umat islam diperintahkan oleh Allah agar memiliki
semangat untuk menuntut ilmu.

2. Hukum Menuntut Ilmu


Istilah ilmu mencakup seluruh pengetahuan yang tidak diketahui manusia, baik yang
bermanfaat maupun yang tidak bermanfaat. Untuk ilmu yang tidak bermanfaat, haram dan
berdosa bagi orang yang mempelajarinya, baik sukses maupun gagal. Adapun ilmu yang
bermanfaat, maka wajib dituntut dan dipelajari. Hukum menuntut ilmu-ilmu wajib itu
terbagi atas dua bagian, yaitu fadu kifayah dan fardlu ain.
a. Fardu Kifayah
Hukum menuntut ilmu fardu kifayah berlaku untuk ilmu-ilmu yang harus ada di
kalangan umat Islam sebagaimana juga dimiliki dan dikuasai golongan kafir, seperti
ilmu kedokteran, perindustrian, ilmu falaq, ilmu eksakta, serta ilmu-ilmu lainnya.
b. Fardu Ain
Hukum mencari ilmu menjadi fardu ain jika ilmu itu tidak boleh ditinggalkan oleh
setiap muslim dan muslimah dalam segala situasi dan kondisi, seperti ilmu mengenal
Allah Swt. dengan segala sifat-Nya, ilmu tentang tatacara beribadah, dan sebagainya.

3. Keutamaan Orang yang Menuntut Ilmu


a. Diberikan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
b. Diberikan pahala yang besar di hari kiamat nanti.
c. Merupakan sedekah yangg paling utama.
d. Lebih utama dari pada seorang ahli ibadah.
e. Lebih utama dari alat seribu rakaat.
f. Diberikan pahala seperti pahala orang yang sedang berjihad di jalan Allah.
g. Dinaungi oleh malaikat pembawa rahmat dan dimudahkan menuju surga.

MENJAGA MARTABAT MANUSIA


DENGAN MENJAUHI PERGAULAN BEBAS DAN ZINA

A. Memahami Makna Larangan Pergaulan Bebas dan Zina

Pergaulan bebas yang dimaksud pada bagian ini adalah pergaulan yang tidak
dibatasi oleh aturan agama maupun susila. Salah satu dampak negatif dari pergaulan
bebas adalah perilaku yang sangat dilarang oleh agama Islam, yaitu zina. Hal inilah
yang menjadi fokus bahasan pada bagian ini.
1. Pengertian Zina
Secara bahasa, zina berasal dari kata zana-yazni yang artinya hubungan layaknya
suami istri antara perempuan dengan laki-laki yang sudah mukallaf (balig) tanpa
ikatan pernikahan yang sah menurut syariat Islam.
2. Hukum Zina
Terkait hukum zina, semua ulama sepakat bahwa zina hukumnya haram, bahkan
zina dianggap sebagai puncak keharaman. Hal tersebut didasarkan pada firman
Allah Swt. dalam Q.S. al-Isr/17:32.

3. Kategori dan Hukuman Zina


Perbuatan zina dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:
a. Zina Muhsan, yaitu pezina sudah balig, berakal, merdeka, sudah pernah menikah.
Hukuman terhadap zina muhsan adalah dirajam (dilempari dengan batu
sederhana sampai meninggal).
Hukuman rajam dilakukan dengan cara pelaku dimasukan ke dalam tanah
hingga dada atau leher. Tempat untuk melakukan hukuman rajam adalah di
tempat yang banyak dilalui manusia atau tempat keramaian. Hal ini berdasarkan
hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, dan An-
Nasai.
b. Zina Gairu Muhsan, yaitu pezina masih lajang, belum pernah menikah.
Hukumannya adalah didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.
Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nr/24:2 serta hadis
Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
dan Zaid bin Khalid.

4. Hukuman bagi orang yang Menuduh Zina (Qazaf)


Mengingat beratnya hukuman bagi pelaku zina, hukum Islam telah menentukan
syarat-syarat yang berat bagi terlaksananya hukuman tersebut, antara lain sebagai
berikut:
a. Hukuman dapat dibatalkan bila masih terdapat keraguan terhadap peristiwa atau
perbuatan zina itu. Hukuman tidak dapat dijalankan setelah benar-benar
diyakini tidak terjadi perzinaan.
b. Untuk meyakinkan perihal terjadinya zina tersebut, haruslah ada empat orang
saksi laki-laki yang adil. Karena kesaksian empat orang wanita tidak cukup
untuk dijadikan bukti, sebagaimana empat orang kesaksian laki-laki yang fasik.
c. Kesaksian empat orang laki-laki yang adil ini pun masih memerlukan syarat,
yaitu bahwa setiap mereka harus melihat persis kejadiannya.
d. Andai seorang dari keempat saksi itu menyatakan kesaksian yang lain dari
kesaksian tiga orang lainnya atau salah seorang di antaranya mencabut
kesaksiannya, terhadap mereka semuanya dijatuhkan hukuman menuduh zina.
Hukuman bagi penuduh zina terhadap perempuan baik-baik adalah dengan
didera sebanyak 80 (delapan puluh) kali deraan. Hal ini didasarkan pada firman
Allah Swt. dalam Q.S. An-Nur/24:4.

Begitu banyak dampak negatif yang di timbulkan dari pergaulan bebas. Adapun
dampak negatifnya adalahsebagai berikut:
1. Mendapat laknat dari Allah Swt. dan Rasul-Nya.
2. Dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat.
3. Nasab menjadi tidak jelas.
4. Anak hasil zina tidak bisa dinasabkan kepada bapaknya.
5. Anak hasil zina tidak berhak mendapat warisan.

B. Ayat-ayat Al-Qurn dan Hadis tentang Larangan Mendekati Zina


1. Q.S. al-Isr/17:32
Artinya :Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan
keji, dan suatu jalan yang buruk.
Kandungan Ayat
Secara umum, ayat tersebut mengandung larangan mendekati zina serta
penegasan bahwa zina merupakan perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.
Imam Sayuti dalam kitabnya al-Jami al-Kabir menuliskan bahwa perbuatan zina
dapat mengakibatkan enam dampak negatif bagi pelakunya, yaitu:
1. Dampak di dunia
a. Menghilangkan wibawa
b. Mengakibatkan kefakiran
c. Mengurangi umur
2. Dampak yang akan dijatuhkan di akhirat
a. Mendapat murka dari Allah Swt
b. Hisab yang jelek (banyak dosa)
c. Siksaan di neraka

2. Q.S. an-Nr/24:2

Artinya :Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari


keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah
kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah Swt., jika kamu beriman kepada
Allah Swt. dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.
Kandungan Ayat
1. Perintah Allah Swt. untuk mendera pezina perempuan dan pezina laki-laki
masing-masing seratus kali.
2. Orang yang beriman dilarang berbelas kasihan kepada keduanya untuk
melaksanakan hukum Allah Swt.
3. Pelaksanaan hukuman tersebut disaksikan oleh sebagian orang-orang yang
beriman.

Menerapkan Perilaku Mulia


Kewajiban menutup aurat dengan berbusana sesuai dengan syariat Islam,
merupakan salah satu akhlak yang sangat penting dalam Islam. Pernerapan
perilaku tersebut dalam pergaulan sehari-hari di antaranya dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1) Menjaga pergaulan yang sehat.
2) Menjaga aurat.
3) Menjaga pandangan.
4) Menjaga kehormatan.
5) Meningkatkan aktivitas dan rajin berpuasa.