Anda di halaman 1dari 10

TEORI KEPRIBADIAN

ABRAHAM HAROLD MASLOW

MAKALAH

Tugas ini disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Psikologi Kepribadian

Dosen Pengampu : Sri Rejeki, M. Psi

Disusun oleh:
SakInah
Ahmad SafI’i
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO
SEMARANG

2010

TEORI KEPRIBADIAN
ABRAHAM HAROLD MASLOW

I. PENDAHULUAN
Dalam psikologi ada tiga revolusi yang mempengaruhi pemikiran
personologis modern. Revolusi pertama adalah psikoanalisis, kedua
behaviorisme dan yang ketiga adalah humanistik. Tokoh dari psikologi
humanistik ini salah satunya adalah Abraham H. Maslow.
Diawali dengan keberatannya atas teori kepribadian dari Sigmund
Freud (yang dikembangkan berdasarkan penelitian terhadap individu yang
mengalami masalah kejiwaan), Maslow mencoba menemukan ciri-ciri
kepribadian sehat pada individu-individu yang menurutnya merupakan
wakil-wakil terbaik dari spesies manusia. Maslow meneliti kepribadian 46
orang, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup, Sebagai
hasilnya, Maslow menyimpulkan bahwa semua manusia dilahirkan dengan
kebutuhan instingtif yang mendorong untuk bertumbuh dan berkembang,
untuk mengaktualisasikan diri, mengembangkan potensi yang ada.

II. PEMBAHASAN
1. Riwayat hidup A. H. Maslow
Abraham Harold Maslow adalah anak pertama dari ketujuh
bersaudara. Ia lahir di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 april 1908.
Orang tuanya seorang imigran yahudi, berkebangsaan Rusia yang
pindah ke Amerika Serikat dengan harapan memperoleh kehidupan yang

2
lebih baik.
Atas perintah orang tuanya, Maslow belajar hukum City
College of New York (CCNY). Namun, setelah tiga semester, dia
pindah ke Cornell lalu kembali lag ke CCNY. Dia menikah dengan
sepupunya, Bertha Goodman, namun pernikahan ini bertentangan
dengan keinginan orang tuanya, mereka dikarunia dua orang putri.
Dia dan bertha kemudian pindah ke Wisconsin agar bisa masuk
ke Universitas of Wisconsin. Disinlah ketertarikan Maslow terhadap
bidang psikologi mulai tumbuh, sehingga perjalanan akademisnya
berubah secara dramatis. Setahun setelah lulus dia kembal ke New York
untuk bekerja dengan E.L. Thorndike di Colombia, di mana dia mulai
melakukan penelitian seksualitas manusia.
Perjalanan karirnya pada tahun 1951, Maslow menjabat ketua
departemen psikologi di Brandels selama 10 tahun. Disinilah dia
bertemu dengan Kurt Goldstein (yang memperkenlkan ide aktualisasi-
diri kepadanya) dan mulai menulis karya-karya teoretisnya sendiri. Di
sini, dia juga mulai mengembangkan konsep psikologi humanstik. Dia
meninggal pada tanggal 8 juni 1970 di Calfornia akibat serangan
jantung.1
Ajaran-Ajaran Dasar Psikologi Humanistik
Ajaran-ajaran dasar psikologi humanistic menurut Maslow
adalah sebagai berikut:
a. Individu sebagai keseluruhan yang integral
b. Ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan
c. Pembawaan baik manusia
d. Potensi kreatif manusia
e. Penekanan pada kesehatan psikologis.2

2. Teori-Teori Tentang Kebutuhan Dasar Manusia


Menurut Maslow bahwa banyak tingkah laku manusia yang

1 Dr. C. George Boeree, Theories of Personality, Prismashopie, Jogjakarta : 2005 , hlm.


276-277
2 E. Koswara, Teori-Teori Kepribadian, PT. Eresco, Bandung : 1991, hlm 115-117

3
bisa diterangkan dengan memperhatikan tendensi individu untuk
mencapai tujuan-tujuan personal yang membuat kehidupan bagi individu
yang bersangkutan penuh makna dan memuaskan. Menurutnya
kepuasaan itu bersifat sementara yaitu jika suatu kebutuhan telah
terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan muncul
menuntut kepuasaan, begitu seterusnya. Berdasarkan peristiw tersebut
oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu dirinci ke
dalam lima tingkat kebutuhan, yakni:
a. Kebutuhan Fisiologis
Adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak
pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan
biologs dan kelangsungan hidup. Kebutuhan ini merupakan
pendorong dan pemberi pengaruh yang kuat atas tingkah laku
manusia, dan manusia akan selalu berusaha memuaskannya sebelum
memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi.
b. Kebutuhan Rasa Aman
Adalah sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk
memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan
lingkuangannya.
c. Kebutuhan Cinta dan Memiliki
Adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk
mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan
individu lain, baik dengan sesame jenis maupun dengan yang
berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan
kelompok di masyarakat.
d. Kebutuhan Rasa Harga Diri
Oleh Maslow kebutuhan ini dibagi menjadi 2 yaitu penghormatan
atau penghargaan dari diri sendiri dan bagian yang ke dua adalah
penghargaan dari orang lain. Bagian pertama menckup hasrat untuk
memperoleh kompetensi, rasa percya diri, kekuatan pribadi,
adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Adapun bagian yang kedua
meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh

4
penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri
merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori
Maslow. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan-kebutuhan
yang ada di bawahnya telah terpuaskan dengan baik.

3. Teori Aktualisasi Diri


Telah kita ketahui sebelumnya, bahwa kebutuhan akan
aktualisasi diri (need for self actualization), adalah kebutuhan tingkat
tertinggi. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan-kabutuhan
yang lain sudah terpenuhi dengan baik. Maslow menandai kebutuhan
akan aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang
sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya. Atau hasrat dari
individu untuk menyempurnakan dirinya, melalui pengungkapan akan
potensi yang dimiliki.3
Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus
mewujudkan potensi-potensi diri, keinginan untuk “menjadi apa yang
anda bisa”. Kebutuhan ini lebih merupakan persoalan menjadi yang
sempurna, menjadi “anda” yang sebenarnya.
Kami menunjukkan bahwa bisa diasumsikan bahwa hampir
setiap manusia, dan sudah barang tentu dalam hampir setiap bayi yang
baru lahir, terdapat kemauan yang aktif kearah kesehatan, impuls kearah
pertumbuhan, atau kearah aktualisasi potensi-potensi manusia”.4
Pada umumnya manusia memiliki potensi lebih banyak
daripada apa yang dapat dicapai. Dan prasyarat untuk mencapai
aktualisasi diri adalah dengan memuaskan empat kebutuhan yang lebih
rendah.
Dalam penelitiannya, Maslow meneliti tokoh-tokoh terkenal,
yang menurut dia, mereka berhasil didalam mengaktualisasikan dirinya.

3 E. Kuswara, ibid., hlm. 125


4 Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Editor: Supratiknya, Teoti-Teori Holistik
Organismik-Fenomenologi, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 109

5
Salah satunya adalah Abraham Lincold, Thomas Jefferson, William
james dkk. Maslow meneliti mulai biografi, tulisan, maupun perkataan
dan tindakan mereka. Data yang terkumpul kemudian dikelompokkan
berdasarkan kualitas yang menjadi karakteristik masing-masing mereka
dan pada realitanya data tersebut jarang dimiliki oleh orang pada
umunya.
Mereka ini “berorientasi pada realita”. Artinya mereka bisa
membedakan kepura-puraan dan tipuan dari apa yang nyata dan asli.
Mereka juga berorientasi pada persoalan, artinya memandang persoalan
kehidupan sebagai sesuatu yang harus dicari jalan keluarnya dan bukan
sebagi takdir pribadi yang harus diterima dengan pasrah. Mereka juga
memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang apa yang menjadi alat dan
tujuan. Mereka menganggap tujuan belum tentu menentukan alat, bisa
jadi alat menjadi tujuan itu sendiri, dan alat disini merupakan perjuangan
dan proses, dan itu bagi mereka lebih penting dari pada sekedar tujuan.5
Disamping hal diatas, orang yang berhasil mengaktualisasikan
diri juga memiliki cara yang berbeda dalam hidupnya:
a. mereka menyukai kesunyian, dan merasa nyaman
dengan kesendirian. Mereka lebih suka menikmati
hubungan pribadi dengan dekat dari pada
hubungan yang mengambang;
b. mereka menyukai keotonoman, dan menerima atas
diri sendiri, orang lain dan kodrat, mereka tidak
terlalu tergantung pada kebutuhan-kebutuhan fisikal
dan social. Mereka lebih tergantung kepada potensi-
potensi yangbdimilkinya.
c. Mereka memiliki rasa humor yang tidak kasar, atau
disebut dengan humor yang filosofis (sense of
phylosophycal humor). Mereka tidak menyukai
humor yang kelucuannya untuk mengejek, akan
tetapi humor disini merupakan peng-ekspresian

5 Dr. C. George Boeree, op. cit., hlm. 286

6
akan kritik atas kebodohan, kelancungan, atau
kecurangan orang lain.
d. Mereka memiliki rasa segan dan rasa hormat
kepada orang lain, yang disebut Maslow sebagai
nilai-nilai demokratis. Yaitu mereka sangat terbuka
dengan perbedaan individual dan etnis. Mereka
memilki kualitas yang disebut Maslow sebagai rasa
persaudaraan (gemeninschaftsgefuhl) seperti
kepekaan social, simpati dan perikemanusiaan.
Yang dilengkapi degan etika yang kuat.
e. Mereka juag memiliki kesegaran yang apresiasi,
kemampuan memangdang sesuatu, termasuk hal-hal
kecil dengan rasa takjub. Yang kemudian
memunculkan rasa kreatif, inventif, dan orisinal.
f. Mereka juga memiliki pengalaman berharga
dibanding orang kebanyakan.atau disebut sebagai
pengalaman puncak. Pengalaman ini menunjukkan
kepada momen-momen dari perasaan yang
mendalam dan meningginya tegangan seperti yang
dihasilkan ketika relaksasi dan orgasme seksual.
Pengalaman puncak ini menurut Maslow diperoleh
subjek dari proses kreatif, pemahaman, penemuan
dan penyatuan dengan alam.
g. Mereka yang mengaktualisasikan diri, juga memilki
sifat tahan akan enkulturasi. bukan berarti mereka
membangkan akan wewenang, akan tetapi mereka
berusaha untuk mempertahankan pendirian-
prndirian tertentu, dan tidak terpengaruh oleh
kebudayaan masnyarakat.6
Menurut Maslow, untuk mencapai taraf aktualisasi diri tidaklah
mudah, banyak faktor yang menjadi penghambat:

6 Dr. C. George Boeree, ibid., hlm. 286-288

7
a. hambatan dari diri sendiri,
yaitu berupa ketidaktahuan,
keraguan, bahkan rasa takut
untuk mengungkapkan
potensi-potensi yang
dimiliknya.
b. Hambatan dari masyarakat,
yakni terbentur oleh tradisi
dan persepsi-persepsi
masnayarakay akan
keyakianan tertentu, sehingga
mampu merepres sifat, bakat
dan potensi yang dimiliki.
c. Hambatan dari pengaruh
negative yang diperoleh dari
kebutuhan yang kuat akan
rasa aman.7

4. Beberapa Kritik Terhadap Teori Maslow


Dalam teori Maslow, terdapat beberapa kritik. Diantaranya
dalam hal metodologi yang digunakan. Maslow hanya memilih beberapa
orang yang menurutnya telah berhasil mengaktualisasikan diri mereka,
lalu mengambil kesimpulan apa sebenarnya aktulisasi diri itu. Tentu
cara seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai metodologi yang ilmiah.
Kritik lain, bersangkutan dengan batasan-batasan tertentu untuk
aktualisasi diri. Kurt Goldstein dan Carl Rogers menggunakan istilah ini
pertama kali untuk merujuk apa yang dilakukan setipa makhluk hidup,
yaitu berusaha tumbuh dan berkembang, menjadi lebih dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan biologisnya. Sementara Maslow mengatakan
hanya 2% dari seluruh populasi manusia yang mencapai aktualisasi diri.
Kalau Rogers mengatakan bayi adalah contoh terbaik dari proses

7 E. Kuswara, ibid., hlm. 126-127

8
aktualisasi diri, justru Maslow menempatkan pada oranh dewasa yang
mampu mengaktualisasikan diri.
Hal lain yang menjadi kritik adalah, bahwa kita harus
memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu, sebelum mencapai
aktualisasi diri. Sedangkan pada kenyataannya banyak orang yang
berhasil mengaktualisasikan diri tanpa harus memenuhi kebutuhan
dasar. Galileo misalnya, yang berdoa agar memperoleh gagasan yang
bisa dijual, atau Rembrandt yang jarang bertemu makanan di atas
mejanya, atau Touluse Lautrec yang cacat, atau van Gogh yang sedikit
gila dan akhirnya menghabisi hidupnya sendiri.
Akan tetapi kritikan-kritikan tersebut mendapat sanggahan dari
Gareth Costello (irlandia). Dia kurang sepakat apabila dalam aktualisasi
diri yang dikembangkan Maslow di artikan sama dalam pengertian
Goldstein dan Rogers, yaitu sebagai daya hidup yang mendorong
manusia untuk berusaha mempertahankan kehidupannya, maka kita
akan menemukan berbagai macam hal yang terlibat dalam keefektifan
daya hidup tersebut. Kalau kita menekan kebutuhan-kebutuhan fisikal
kita, kalau kita hidup dilingkungan yang mengancam, atau ketika tidak
percaya diri dengan kemampuan sendiri, memang tidak menutup
kemungkinan kita dapat bertahan hidup, tapi kehidupan yang kita
pertahankan tersebut bukanlah kehidupan yang semestinya. Kita tidak
sepenuhnya mengaktualisasikan potensi yang didalam diri kita. Kita pun
mungkin dapat memahami kenapa orang yang kehidupannya susah tetap
bisa mengaktualisasikan diri mereka. Kalau kita menganggap
kebutuhan-kebutuhan deficit sebagai kebutuhan yang terpisah dari
aktualisasi diri, kalau kita maksudkan adalah aktualisasi diri sebagai
kategori kebutuhan yang terpisah, itu berarti kita menempatkan teori
Maslow sama dengan teori-teori lain, dan karenanya orang-orang yang
termasuk kedalam pengecualian tadi bisa diangggap pahlawan, dan
bukan orang biasa yang kebetulan bisa melakukan hal yang luar biasa.8

8 Dr. C. George Boeree, op.cit., hlm. 291-294.

9
III. KESIMPULAN
Dalam dunia psikologi, pasti tak ada yang tak mengenal Maslow,
salah satu pelopor psikologi humanistic. Dalam psikologi humanistic
menurut Maslow, terdapat empat ajaran-ajaran dasar psikologi humanistic,
yaitu:
a. Individu sebagai keseluruhan yang integral
b. Ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan
c. Pembawaan baik manusia
d. Potensi kreatif manusia
e. Penekanan pada kesehatan psikologis.
Disamping kelima ajaran dasar diatas, maslow juga menyebutkan
lima kebutuhan, yaitu: kebutuhan Fisiologis, kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan akan cinta dan memiliki, kebutuhan akan rasa harga diri, dan
yang paling puncak adalah kebutuhan akan aktualisasi diri.

IV. PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun, semoga bisa bermanfaat bagi
kita semua. Kami menyadari masih terdapat berbagai kekurangan di
dalamnya, baik dari segi susunan maupun isinya, maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari anda sekalian sebagai bahan
pertimbangan kami dalam menyusun makalah kami di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Editor: Supratiknya, Teoti-Teori Holistik


Organismik-Fenomenologi, Yogyakarta: Kanisius, 1993
Dr. C. George Boeree, Theories of Personality, Prismashopie, Jogjakarta: 2005
E. Koswara, Teori-Teori Kepribadian, PT. Eresco, Bandung : 1991
http://en.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow

10