Anda di halaman 1dari 5

Shafira Aulia Rahmah

240210150067

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Praktikum kali ini mengenai sifat optik pada bahan pangan. Pengujian sifat
optik menggunakan refraktometer untuk melihat indeks bias dan oBrix. Alat yang
digunakan adalah Refraktometer Abbe. Refraktometer Abbe adalah refraktometer
untuk mengukur indeks bias cairan, padatan dalam cairan, atau serbuk. Prinsip
kerja refraktormeter adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya. Pembiasan
cahaya dapat tejadi dikarenakan perbedaan cahaya pada medium yang rapat lebih
kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada medium yang kurang rapat. Sampel
yang digunakan dalam pengamatan karakteristik optik adalah madu rasa sachet,
madu rasa botol (murni), buavita brokoli, buavita apel, jeruk, dan mentimun.
Berikut hasil pengamatan pada pengujian sifat optik setiap sampel.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Sifat Optik


Indeks Suhu
o
Kel. Sampel Bia Brix (o
s C)
1 Madurasa Sachet 1,490 79,7 24,7
2 Madurasa Botol 1,487 78,6 24,8
3 Buavita Brokoli 1,305 11,90 24,4
4 Buavita Apel 1,349 11,00 24,2
5 Jeruk 1,356 15,05 24,2
6 Mentimun 1,377 2,50 25,0
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

4.1 Indeks Bias


Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis yang penting
dari medium. Indeks bias memainkan peran yang cukup penting di dalam
beberapa bidang diantaranya adalah dalam teknologi film tipis dan fiber optik
(Sapkota et al, 2009). Pengukuran terhadap indeks bias secara luas telah
digunakan antara lain untuk mengetahui konsentrasi larutan (Subedi et al, 2006)
dan mengetahui komposisi bahan-bahan penyusun larutan.
Berdasarkan hasil pengamatan, indeks bias terbesar adalah sampel
madurasa dan yang terkecil adalah sampel buavita brokoli. Menurut Nainggolan
(2002) nilai indeks bias bergantung pada jumlah rantai karbon dan jumlah ikatan
rangkap. Khabibi (2011) menyatakan bahwa lama waktu penyimpanan daun
diperkirakan dapat menaikkan nilai indeks bias karena semakin dominannya
komponen penyusun.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

o
4.2 Brix
Brix adalah zat padat kering terlarut dalam suatu larutan (gram per 100
gram larutan) yang dihitung sebgai sukrosa. Zat yang terlarut seperti gula
(sukrosa, glukosa, fruktosa dll) atau garam gram klorida atau sulfat dari kalium,
natrium, kalsium, dll merespon diri sebagai brix dan dihitung setara dengan
sukrosa.
Untuk penentuan oBrix nilai terbesar pada sampel madurasa dan terkecil
adalah sampel mentimun. Menurut Diniyah dkk., (2012), semakin naiknya derajat
brix maka kekentalan juga akan meningkat , karena air sebagai pelarut mengalami
penguapan dan suhu naik sehingga dengan semakin naiknya derajat maka total
padatan akan meningkat dan kekentalan gula cair juga akan meningkat.
Berdasarkan hasil pengamatan, sampel yang memiliki derajat brix tertinggi
hingga terendah adalah madu rasa botol (murni), madu rasa sachet, jeruk, buavita
brokoli, buavita apel, dan mentimun. Semakin besar konsentrasi (Brix), semakin
besar pula indeks biasnya. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan laju
cahaya ketika melewati larutan sukrosa. Cahaya yang melewati suatu materi akan
mengalami interaksi dengan molekul-molekul dan atom-atom dari materi tersebut.
o
Brix buavita apel hasil praktikum adalah 11,00. Menurut SNI 01-3719-
1995 tentang sari buah oBrix minimal pada sari buah apel adalah minimal 10%.
Menurut Codex General Standartfor Fruit Juice and Nectars (Codex Stan 247
tahun 2005), derajat brix sari buah apel adalah minimal 11,5%. Derajat brix hasil
praktikum dengan literatur sudah sesuai. oBrix buavita brokoli hasil praktikum
adalah 11,90. oBrix brokoli menurut Rex Harril (1998), terbagi dalam 4 kategori
yaitu poor, average, good, dan excellent yang memiliki derajat brix berturut-turut
6, 8, 10, 12. Sehingga sampel buavita brokoli dalam praktikum dapat masuk ke
kategori good.
o
Brix buah jeruk menurut Rex Harril (1998), terbagi dalam 4 kategori yaitu
poor, average, good, dan excellent yang memiliki derajat brix berturut-turut 6, 10,
16, 20. Hasil praktikum diperoleh nilai derajat brix sebesar 15,05, sehingga
sampel jeruk dalam praktikum dapat masuk ke kategori excellent. oBrix buah
timun menurut Rex Harril (1998), adalah 13. Hasil praktikum diperoleh nilai
derajat brix sebesar 2,50. Perbedaan yang cukup besar ini dapat disebabkan karena
perbedaan sampel timun yang digunakan.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

Selain menggunakan refraktometer, untuk mengukur konsentrasi larutan


dapat menggunakan Portable Brixmeter. Portable Brixmeter adalah alat untuk
mengukur besar konsentrasi larutan yang terkandung di dalam larutan. Satuan
skala pembacaan alat ini adalah %Brix.
Fungsi mengetahui derajat brix pada suatu bahan pangan adalah kita dapat
mengetahui kadar gula pada suatu bahan, yang nantinya akan berpengaruh pada
suatu proses pengolahan seperti suhu pemanasan, penambahan bahan tambahan,
alat yang digunakan yang tentunya harus disesuaikan dengan deratat brix atau
kadar gula bahan tersebut.

4.3 Suhu
Pengukuran suhu masih sama dengan menggunakan refraktometer, pada
satu kali pengukuran sampel dengan refraktometer akan menghasilkan nilai oBrix,
indeks bias dan suhu. Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan suhu madurasa
sachet 24,7 oC madurasa botol 24,8 oC, buavita brokoli 24,4 oC, buavita apel 24,2
o
C, jeruk 24,2 oC, dan timun 25,0 oC. suhu dapat dipengaruhi kondisi bahan
pangan, komponen yang terkandung pada bahan, lingkungan sekitar, dan lain-lain.
Pengaruh temperatur terhadap indeks bias adalah sangat kecil, tetapi cukup
besar terhadap cairan dan terhadap kebanyakan bahan plastik yang perlu diketahui
indeksnya. Karena pada suhu tinggi kerapatan optik suatu zat itu berkurang,
indeks biasnya akan berkurang. Perubahan per oC berkisar antara 5.10-5 sampai
5.10-4. Pengukuran yang seksama sampai desimal yang ke-4 hanya berarti apabila
suhu diketahui dengan seksama pula (Mulyono, 1997).
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

V. KESIMPULAN
1. Derajat brix dari tertinggi hingga terendah adalah madu rasa botol (murni),
madu rasa sachet, jeruk, buavita brokoli, buavita apel, dan mentimun.
2. Hasil pengamatan tentang indeks bias madurasa sachet adalah 1,490,
madurasa botol 1,487, buavita brokoli 1,305, buavita apel 1,349, jeruk
1,356, dan timun 1,377.
3. Hasil pengukuran didapatkan suhu madurasa sachet 24,7 oC madurasa botol
24,8 oC, buavita brokoli 24,4 oC, buavita apel 24,2 oC, jeruk 24,2 oC, dan
timun 25,0 oC.
4. Suhu dapat dipengaruhi kondisi bahan pangan, komponen yang terkandung
pada bahan, lingkungan sekitar, dan lain-lain.
Shafira Aulia Rahmah
240210150067

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional. Standar Nasional Indonesia Sari Buah : Spesifikasi 01-
3719-1995. BSN. Jakarta.
Codex Standard. 2005. Codex General Standartfor Fruit Juice and Nectars :
Codex Stan 247-2005. FAO United Nations, London.
Diniyah, N., Wijanarko, S. B. & Purnomo, H. 2012. Teknologi Pengolahan Gula
Coklat Cair Nira Siwalan. (Borassus flabellifer L.). Jurnal Teknologi dan
Industri PanganVolXXIII No 1. Tahun 2012. Hal.167-180.
Harril, Rex. 1998. Using a Refractometer to Test the Quality of Fruits &
Vegetables. Keedysville: Pineknoll Publishing.
Khabibi, J. 2011. Pengaruh Penyimpanan Daun Dan Volume Air Penyulingan
Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak Kayu Putih. Departemen Hasil
Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB, Bogor.

Mulyono. 1997. Kamus Pintar Kimia. Jakarta: Erlangga

Nainggolan, R. 2002. Pemisahan Komponen Minyak Nilam (Pogostemon Cablin


Benth) dengan Teknik Distilasi Fraksinasi Vakum Penelitian. IPB Bogor.
Sapkota, I., D. Pandit dan R. Prajapati. 2009. Study of Concentration Dependence
of Refractive Index of liquids Using a Minimum Deviation Method. ST.
Xaviers Journal of Science. Vol. 1.
Subedi, D.P., D.R. Adhikari, U.M. Joshi, H.N. Poudel, dan B. Niraula. 2006.
Study of Temperature and Concentration Dependence of Refractive Index of
Liquids using a Novel Technique. Kathmandu University Journal of Science,
Engineering and Technology. Vol. II. No.1.