Anda di halaman 1dari 29

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa

virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A.

aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever)

dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir

semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A.

aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes

albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota.

Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus

mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini

untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah.

Aedes aegyptiadalah nyamuk yang termasuk dalam subfamili

Culicinae, famili Culicidae, ordo Diptera, kelas Insecta. Nyamuk ini

berpotensi untuk menularkan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

DBD adalah suatu penyakit yang ditandai dengan demam mendadak,

perdarahan baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat

menimbulkan syok dan kematian. Penyakit DBD ini terutama

menyerang anak-anak termasuk bayi, meskipun sekarang proporsi

penderita dewasa meningkat.


Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus Dengue yang

termasuk dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Terdapat empat

serotipe dari virus Dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4,

yang semuanya dapat menyebabkan DBD. Virus ini ditularkan melalui

gigitan nyamuk Ae. aegypti. Nyamuk betina terinfeksi melalui

pengisapan darah dari orang yang sakit. Tempat perindukan Aedes

aegypti dapat dibedakan atas tempat perindukan sementara, permanen,

dan alamiah. Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai macam

tempat penampungan air (TPA) yang dapat menampung genangan air

bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk keperluan rumah

tangga dan tempat perindukan alamiah berupa genangan air pada pohon.

Cara yang saat ini dianggap tepat untuk mengendalikan penyebaran

DBD adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor,

yaitu dengan 3M: menguras bak mandi, menutup TPA, dan mengubur

barang bekas.

Morfologi Nyamuk Aedes Aegyti


Ciri-ciri jentik Aedes aegypti

1. Bentuk siphon besar dan pendek yang terdapat pada abdomen terakhir

2. Bentuk comb seperti sisir

3. Pada bagian thoraks terdapat stroot spine

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti

1. Bentuk tubuh kecil dan dibagian abdomen terdapat bintik-bintik serta

berwarna hitam.

2. Tidak membentuk sudut 90

3. Penyebaran penyakitnya yaitu pagi atau sore

4. Hidup di air bersih serta ditempat-tempat lain yaitu kaleng-kaleng

bekas yang bisa menampung air hujan

5. Penularan penyakit dengan cara membagi diri.

6. Menyebabkan penyakit DBD.

Telur Aedes aegypti

Telur Aedes Aegypti diletakkan pada bagian yang berdekatan

dengan permukaan air atau menempel pada permukaan benda yang

terapung. Jentik nyamuk Aedes Aegypti memiliki rambut abdomen dan


pada stadium ini jentik membentuk sudut dan terdapat alat untuk

menghisap oksigen.

Larva Aedes aegepty

Larva Aedes aegepty membentuk sudut dan terdapat alat untuk

menghisap oksigen.Probosis Aedes lebih panjang daripada nyamuk

lainnya. Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di

dalam air. Pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi

pembentukan sayap sehingga dapat terbang. Stadium kepompong

memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada fase ini

nyamuk membutuhkan waktu 2-5 hari untuk menjadi nyamuk.

Pupa nyamuk aedes aegypti

Pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi

nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air. Stadium pupa pada

nyamuk Aedes berada dibawah permukaan air dengan melingkarkan

badannya. Ekor pupa agak lurus dengan kepala melingkar dan

menempel dibadannya namun tidak bertemu dengan ekor. Ciri morfologi

yang khas yaitu memiliki tabung atau terompet pernafasan yang

berbentuk segitiga. Setelah berumur 1 2 hari, pupa menjadi nyamuk


dewasa (jantan atau betina). Pada pupa terdapat kantong udara yang

terletak diantara bakal sayap nyamuk dewasa dan terpasangsayap

pengayuh yang saling menutupi sehingga memungkinkan pupa untuk

Ekor pupa agak lurus dengan kepala melingkar dan menempel

dibadannya namun tidak bertemu dengan ekor.

Nyamuk Dewasa Aedes aegypty

Nyamuk Aedes aegypti jantan hanya manghisap cairan tumbuh-

tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan yang

betina menghisap darah. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia

daripada darah binatang. Darah diperlukan untuk pemasakan telur agar

jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan, telur yang dihasilkan dapat

menetas. Setelah berkopulasi, nyamuk betina menghisap darah dan tiga

hari kemudian akan bertelur sebanyak kurang lebih 100 butir. Nyamuk

akan menghisap darah setelah 24 jam kemudian dan siap bertelur lagi.

Setelah menghisap darah, nyamuk ini beristirahat di dalam atau kadang-

kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya.

Tempat hinggap yang disenangi adalah benda-benda tergantung seperti


kelambu, pakaian, tumbuh-tumbuhan, di tempat ini nyamuk menunggu

proses pemasakan telur.

Perilaku menggigit nyamuk aedes aegypti

Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (anthropophilic)

daripada darah binatang dan nyamuk jantan hanya tertarik pada cairan

mengandung gula seperti pada bunga. Aedes aegypti biasanya menggigit

nyamuk ini memiliki kebiasaan menghisap darah pada jam 08.00-12.00

WIB dan sore hari antara 15.00-17.00 WIB (Lestari dkk, 2011). Malam

harinya lebih suka bersembunyi di sela-sela pakaian yang tergantung

atau gorden, terutama di ruang gelap atau lembab. Mereka mempunyai

kebiasaan menggigit berulang kali. Nyamuk ini memang tidak suka air

kotor seperti air got atau lumpur kotor tapi hidup di dalam dan di sekitar

rumah

Tempat istirahat nyamuk aedes aegypti

Pada malam hari setelah menggigit dan selama menunggu waktu

pematangan telur, nyamuk Aedes aegypti (betina maupun jantan)

beristirahat di dalam rumah pada benda-benda yang tergantung seperti

pakaian gelap yang bergelantungan di ruangan yang tidak terang,


kelambu, kopiah, dan pada tempat-tempat gelap, lembab dan sedikit

angin. di dalam rumah.

Tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti

Tempat perkembangbiakan tersebut berupa:

Tempat penampungan air (TPA) yaitu tempat menampung air guna

keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC dan

ember.

Bukan tempat penampungan air (non TPA) yaitu tempat-tempat

yang biasa digunakan untuk menampung air tetapi bukan untuk

keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan piaraan, kaleng

bekas, ban bekas, botol, pecahan gelas, vas bunga dan perangkap semut.

Tempat penampungan air alami (TPA alami) seperti lubang pohon,

lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal

pohon pisang dan potongan bambu.

Perilaku dan Daur Hidup Nymuk Aedes aegypty


Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang

hari. Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina, karena hanya

nyamuk betina yang menghisap darah. Hal itu dilakukannya untuk

memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi

telur (Womack, 1993). Pengisapan darah dilakukan dari pagi sampai

petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah matahari terbit (8.00-

10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00- 17.00) (Djakaria, 2000).

Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari

nektar bunga ataupun tumbuhan. Nyamuk ini menyenangi area yang

gelap dan benda- benda berwarna hitam atau merah

(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti, 2008). Nyamuk dewasa biasanya

tinggal pada tempat gelap di dalam ruangan seperti lemari baju dan di

bawah tempat tidur (WHO, 1999).


Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan

perilaku yang mengarah pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu

kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat

mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam menghisap darah,

berulang kali menusukkan probosisnya, namun tidak berhasil menghisap

darah, sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain,

akibatnya resiko penularan virus menjadi semakin besar

(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti, 2008). Tempat perindukan Ae.

aegypti di daerah asalnya (Afrika) berbeda dengan di Asia. Di Afrika

nyamuk hidup di hutan dan tempat perindukkannya pada genangan air di

pohon. Di Asia nyamuk hidup di daerah pemukiman, dan tempat

perindukannya pada genangan air bersih buatan manusia (man made


breeding place). Tempat perindukan Ae. aegypti dapat dibedakan atas

tempat perindukan sementara, permanen, dan alamiah. Tempat

perindukan sementara terdiri dari berbagai macam tempat penampungan

air (TPA), termasuk kaleng bekas, ban mobil bekas, pecahan botol,

pecahan gelas, talang air, vas bunga, dan tempat yang dapat menampung

genangan air bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk

keperluan rumah tangga seperti bak penampungan air, reservoar air, bak

mandi, gentong air. Tempat perindukan alamiah berupa genangan air

pada pohon, seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon aren, potongan

pohon bambu, dan lubang pohon (Chahaya, 2003).


Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna. Nyamuk

betina meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual,

terpisah satu dengan yang lain, dan menempel pada dinding tempat

perindukkannya. Seekor nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata

sebanyak seratus butir telur tiap kali bertelur. Telur menetas dalam satu

sampai dua hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam

perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar I ke

instar IV memerlukan waktu sekitar lima hari. Setelah mencapai instar


IV, larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman.

Pupa bertahan selama dua hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar

dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa

membutuhkan waktu tujuh hingga delapan hari, namun bisa lebih lama

bila kondisi lingkungan tidak mendukung (Djakaria, 2000;

id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti, 2008).
Telur Ae. aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga satu

bulan dalam keadaan kering. Jika terendam air, telur kering dapat

menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat membutuhkan air yang

cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat

mempengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai

contoh, populasi larva yang melebihi ketersediaan makanan akan

menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih rakus dalam

menghisap darah (id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti, 2008).

Epidemiologi
Aedes aegypti adalah vektor utama penyakit DBD di daerah

tropik. Nyamuk ini semula berasal dari Afrika kemudian menyebar

melalui sarana transportasi ke negara lain di Asia dan Amerika. Di Asia,

Ae. Aegypti merupakan satu-satunya vektor yang efektif menularkan


DBD, karena tempat perindukkannya berada di sekitar rumah dan

hidupnya tergantung pada darah manusia. Di daerah yang penduduknya

jarang, Ae. aegypti masih memiliki kemampuan penularan yang tinggi

karena kebiasaan nyamuk ini menghisap darah manusia berulang-ulang

(Chahaya, 2003).
Aedes aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia meliputi semua

provinsi yang ada. Walaupun spesies-spesies ini ditemukan di kota-kota

pelabuhan yang penduduknya padat, namun spesies nyamuk ini juga

ditemukan di daerah pedesaan yang terletak di sekitar kota pelabuhan.

Penyebaran Ae. aegypti dari pelabuhan ke desa disebabkan karena larva

Ae. aegypti terbawa melalui transportasi yang mengangkut benda- benda

berisi air hujan pengandung larva spesies ini (Djakaria, 2000).


Etiologi

DBD disebabkan oleh virus Dengue, yang termasuk dalam genus

Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan

diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat

molekul 4 x 106. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3

dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan DBD. Keempat serotipe

ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.


Penelitian pada artropoda menunjukkan virus Dengue dapat bereplikasi

pada nyamuk genus Aedes (Stegomya) dan Toxorhynchites (Suhendro

dkk., 2006).

Infeksi terhadap serotipe memunculkan imunitas sepanjang umur,

tetapi tidak menghasilkan imunitas silang (cross protective immunity).

Virus Dengue sensitif terhadap eter, namun stabil bila disimpan pada

suhu minus 70C dan pada keadaan liofil stabil pada suhu 5C. Virus

Dengue bertahan hidup melalui siklus transmisi lingkungan kota pada

daerah tropis dan subtropis oleh nyamuk Ae. aegypti, spesies yang

berhubungan erat dengan habitat manusia (WHO, 1999).

Pengendalian Vektor Penyakit

Cara yang saat ini masih dianggap tepat untuk mengendalikan

penyebaran penyakit DBD adalah dengan mengendalikan populasi dan

penyebaran vektor. Program yang paling sering dikampanyekan di

Indonesia adalah 3 M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.


Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva

nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat

pada dinding bak mandi.


Menutup tempat penampungan air, sehingga tidak ada nyamuk

yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.


Mengubur barang bekas, sehingga tidak dapat menampung air

hujan

2.
BAB II
ISI

1. Pengertian Aedes Aegypti

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa


virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A.
aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever)
dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir
semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa
virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama (primary vector)
dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di
desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah,
masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara
mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran
penyakit demam berdarah.
2. Ciri Morfologi Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan
tubuh berwarna hitam kecoklatan, memiliki kaki panjang dan merupakan
serangga yang memiliki sepasang sayap sehingga tergolong pada ordo
Diptera dan family Culicidae. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik
dengan garis-garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal)
tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan
yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada
umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi
pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap
berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi
yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan
betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran nyamuk jantan yang
umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal
pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata
telanjang. Tubuh nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu kepala, dada dan
perut.

Nyamuk memiliki sepasang antena berbentuk


filiform berbentuk panjang dan langsing serta
terdiri atas 15 segmen. Antena dapat
digunakan sebagai kunci untuk membedakan
kelamin pada nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat
daripada nyamuk betina. Bulu lebat pada nyamuk jantan disebut
plumose sedangkan pada nyamuk betina yang jumlahnya lebih sedikit
disebut pilose .
Proboscis merupakan bentuk mulut modifikasi untuk menusuk.
Nyamuk betina mempunyai proboscis yang lebih panjang dan tajam,
tubuh membungkuk serta memiliki bagian tepi sayap yang bersisik.
Dada terdiri atas protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Mesotoraks
merupakan bagian dada yang terbesar dan pada bagian atas disebut
scutum yang digunakan untuk menyesuaikan saat terbang. Sepasang
sayap terletak pada mesotoraks. Nyamuk memiliki sayap yang panjang,
transparan dan terdiri atas percabangan-percabangan (vena) dan
dilengkapi dengan sisi. Abdomen nyamuk tediri atas sepuluh segmen,
biasanya yang terlihat segmen pertama hingga segmen ke delapan,
segmen-segmen terakhir biasanya termodifikasi menjadi alat reproduksi.
Nyamuk betina memiliki 8 segmen yang lengkap. Seluruh segmen
abdomen berwarna belang hitam putih, membentuk pola tertentu dan
pada betina ujung abdomen membentuk titik (meruncing).

3. Perilaku dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti


Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang
hari. Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya
nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk
memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi
telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi
dari nektar bunga ataupun tumbuhan. Jenis ini menyenangi area yang
gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah. Demam berdarah
kerap menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk di
dalam kelas selama pagi hingga siang hari dan kaki mereka yang
tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk jenis ini.
Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan
perilaku yang mengarah pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu
kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat
mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah, berulang
kali menusukkan proboscisnya, namun tidak berhasil mengisap darah
sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya,
risiko penularan virus menjadi semakin besar.
Di Indonesia, nyamuk A. aegypti umumnya memiliki habitat di
lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih
dalam bak mandi ataupun tempayan. Nyamuk A. aegypti, seperti
halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara
individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu
dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva.
Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang
disebut instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu
sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa
di mana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari
sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari
telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari,
namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.
Telur Aedes aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga 1
bulan dalam keadaan kering. Jika terendam air, telur kering dapat
menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat membutuhkan air yang
cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat
memengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai contoh,
populasi larva yang melebihi ketersediaan makanan akan menghasilkan
nyamuk dewasa yang cenderung lebih rakus dalam mengisap darah.
Sebaliknya, lingkungan yang kaya akan nutrisi menghasilkan nyamuk-
nyamuk.
B. Nyamuk Aedes aegypti

1. Klasifikasi ilmiah dari nyamuk Aedes aegypti


Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Aedes
Upagenus : Stegomyia
Spesies :Aedes aegypti

2. Morfologi nyamuk Aedes aegypti

1) Telur
Telur Aedes aegypti berukuran 0,5 0,8 mm, berwarna hitam,
bulat panjang dan berbentuk oval. Di alam bebas, telur nyamuk terdapat
pada air dan menempel pada dinding wadah atau tempat perindukan
nyamuk sejauh kurang lebih 2,5 cm. Setiap kali bertelur nyamuk betina
mengeluarkan telur sebanyak 100 butir perhari apabila berada pada
tempat yang kering (tanpa air).

2) Jentik
Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan
bulu- bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Jentik ini dalam
pertumbuhan dan perkembangannya mengalami empat kali pergantian
kulit (tingkatan) yang biasa disebut instar dan terdiri dari instar I, II, III,
IV. Jentik instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1
2 mm, duri- duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan
corong pernafasan (siphon) belum menghitam. Jentik instar II bertambah
besar, ukuraan 2,5 3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong
pernafasan sudah berwarna hitam. Jentik instar IV telah lengkap struktur
anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal),
dada (thorax),dan perut (abdomen).
Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk, sepasang
antena tanpa duri- duri, dan alat- alat mulut tipe pengunyah (chewing).
Bagian dada tampak paling besar dan terdapat bulu- bulu simetris. Perut
tersusun atas delapan ruas. Pada ruas perut kedelapan, ada alat untuk
bernafas yang disebut corong. Corong pernafasan tanpa duri- duri,
berwarna hitam dan ada seberkas bulu- bulu (tuft). Ruas kedelapan juga
dilengkapi dengan seberkas bulu- bulu sikat (brush) dibagian ventral dan
gigi- gigi sisir (comb) yang berjumlah 15 19 gigi yang tersusun dalam
satu baris.
Gigi- gigi sisir dengan lekukan yang jelas membentuk gerigi.
Jentik ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat
fototaksis negatif, waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus
dengan bidang permukaan air.
3) Kepompong (Pupa) pernafasan.
Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan
bagian kepala- dada (chepalothorax) lebih besar apabila dibandingkan
dengan besar perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca koma.
Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernafas seperti
terompet. Pada ruas perut kedelapan terdapat sepasang alat pengayuh
yang berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai
panjang dan bulu di nomor tujuh pada ruas kedelapan tidak bercabang.
Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah bila
dibandingkan dengan jentik. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan
bidang permukaaan air.
4) Nyamuk Dewasa
Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian yaitu
kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata
majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe
penusuk- pengisap (piercing- sucking) dan termasuk lebih menyukai
manusia (anthropophagus), sedangkan nyamuk hjantan bagian mulut
lebih lemah sehingga tidak mampu menembus kulit manusia, karena itu
tergolong lebih menyukai cairan tumbuhan (phytophagus). Nyamuk
betina mempunyai antena tipe pilose.
Dada nyamuk ini tersusun dari tiga ruas porothorax, mesothorax
dan metathorax. Setiap ruas dada terdapat sepasang kaki yang terdiri dari
femur (paha), tibia (betis), dan tarsus (tampak). Pada ruas- ruas kaki
terdapat gelang- gelang putih, tetapi pada bagian tibia kaki belakang
tidak ada gelang putih. Pada bagian dada juga terdapat sepasang sayap
tanpa noda- noda hitam. Bagian punggung (mesontuim) ada gambaran
garis- garis putih yang dapat dipakai untuk membedakan dengan jenis
lain. Gambaran punggung nyamuk Aedes aegypti berupa sepasang garis
lengkung putih pada tepinya dan sepasang garis submedian di
tengahnya.
Perut terdiri dari 8 ruas dan pada ruas- ruas tersebut terdapat
bintik- bintik putih. Waktu istirahat posisi nyamuk Aedes aegypti ini
tubuhnya sejajar dengan bidang permukaan yang dihinggapinya.

Kutu rambut
2.1 Klasifikasi Pediculus humanus capitis (Kutu rambut)
Kingdom Animalia
Phylum Arthropoda
Class Insekta
Ordo Phthriraptera
Family Pediculidae
Genus Pediculus
Species Pediculus humanus capitis

2.2 Morfologi Pediculus humanus capitis


Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti
huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin
berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas abdomen terakhir
mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan
genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan
telur. Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140
butir. Telur : Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm
disebut nits. Telur memiliki perekat yang disebut cement. Bentuknya
lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat pada rambut.
Pada stadium nimfa tumbuh dan bertukar kulit (molting) 3 x dalam
wlaktu 3-9 hari menjadi nimfa instar satu, dua, tiga dan berubah menjadi
kutu dewasa dengan ukuran maksimal 4,5 mm. Kutu jantan maupun
betina menghisap darah inang setiap saat sejak stadium nimfa hingga
dewasa.
4.1 Kesimpulan
Pediculus Humanus Capitis (Kutu Rambut) merupakan hewan
parasit dari fylum Arthropoda yang menyebabkan penyakit Pedikulosis
Kapitis. Mempunyai bentuk tubuh yang kecil, Kutu rambut jantan
berukuran 2mm Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm.Kutu
rambut mempunyai sistem respirasi, sistem pencernaan, sistem ekskresi,
sistem peredaran darah, dan sistem saraf.
Kutu rambut mengalami metamorfosis tidak sempurna, dari telur jadi
nimfa kemudia menjadi dewasa. Kutu rambut merupakan parasit
manusia saja dan tersebar di seluruh dunia. Tempat-tempat yang
disukainya adalah rambut pada bagian belakang kepala. Kutu rambut
kepala dapat bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu
hospes ke hospes lain. Makanannya adalah darah kepala manusia.
Pedikulosis Kapitis merupakan infestasi kutu kepala atau tuma yang
disebut Pediculus Humanus Capitis pada kulit kepala.gejala yang
dominan dari penyakit ini ialah rasa gatal yang disebabkan oleh reaksi
elergi terhadap air liur kutu yang dikeluarkan sewaktu menghisap darah.
Kutu rambut kepala mudah ditularkan melalui kontak langsung atau
dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya
sisir, sikat rambut, topi dan lain-lain. Pencegahan dapat dilakukan
dengan menghindari kontak langsung dgn orang xg terinfeksi dan juga
tdk memakai peralatan-peralatannya yang bisa dijadikan perantara
tertularnya penyakit tersebut. Adapun pengobatannya dapat dilakukan
dengan berbagai macam cara seperti penggundulan rambut,
menggunakan sisir yang bergigi rapat (Serit), memakai obat yang
mengandung bahan kimia, dan juga bisa memanfaatkan bahan-bahan
alami untuk mengobati penyakit tersebut seperti Bawang Merah, Minyak
Kayu Putih & Jeruk Nipis, Minyak Kelapa, dan Cuka Putih.

4.2 Saran
Sebaiknya kepada para pembaca memahami isi makalah ini,
sehingga para pembaca dapat mengerti apa isi makalah ini, tapi tidak
hanya mengerti akan isi makalah ini tetapi pembaca juga akan
mendapatkan suatu ilmu yang sangat bermanfaat yang nantinya dapat
digunakan dalam proses balajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis


Kesehatan. Universitas
Muhamadiyah Semarang.
Brown, H. W, 1983. Dasar Parasitologi Klinik. Jakarta: PT. Gramedia
Ganda Husada, S, 1992. Parasitologi Kedokteran. Jakarata: Fakultas
Kedokteran.
Garcia & Bruener, 1986. Diagnosa Parasitologi Kedokteran. Cetakan 1.
Jakarta: EGC.
Prabu, B.D.R, 1990. Penyakit-penyakit Infeksi Umum. Edisi I. Jakarta:
Widya Medica.
Soedarto, 1983. Ontemologi Kedokteran. Surabaya: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.

Kutu rambut
Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang, berwarna putih
abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari
khitir seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana
disebelah lateral, sepasang antenna pendek yang terdiri atas 5 ruas dan
proboscis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang
telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan
berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan
tonjolan tibia untuk berpegangan erat pada rambut. (Rikasetiyo, 2007).

2.1 Pengertian kutu

Kutu adalah ektooparasit yang kecil, tidak bersayap, dari unggas

dan mamalia. Serangga ini sering kali dibagi menjadi 2 ordo yang

terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura (kutu

penghisap) (Borror, 2005).

2.2 Klasifikasi Pediculus humanus capitis

Kingdom Animalia

Phylum Arthropoda

Class Insekta
Ordo Phthriraptera

Family Pediculidae

Genus Pediculus

Species Pediculus humanus capitis

(Borror, 2005)

2.3 Morfologi Pediculus humanus capitis

Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti

huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin

berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas abdomen terakhir

mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan

genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan

telur. Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140

butir. Telur : Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm

disebut nits. Telur memiliki perekat yang disebut cement. Bentuknya

lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat pada rambut.

Pada stadium nimfa tumbuh dan bertukar kulit (molting) 3 x dalam

wlaktu 3-9 hari menjadi nimfa instar satu, dua, tiga dan berubah menjadi
kutu dewasa dengan ukuran maksimal 4,5 mm. Kutu jantan maupun

betina menghisap darah inang setiap saat sejak stadium nimfa hingga

dewasa (Anonim, 2011).

Morfologi Kutu Kepala


1. Keterangan Gambar
A. Antena
B. Kuku tarsus
C. Mata
D. Forns
E. Tibia
F. Torax
G. Spirakle
H. Segmen Abdomen
I. Lempeng pleural dengan spirakle abdomen
2. Klasifikasi Kutu Kepala
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Phthiraptera
Sub Ordo : Anoplura
Famili : Pediculidae
Genus : Pediculus
Spesies : Pediculus humanus capitis
3. Morfologi
Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang, berwarna
putih abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, thorax
dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata
sederhana disebelah lateral, sepasang antena pendekyang terdiri atas 5
ruas dan probocis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax
yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5
ruas dan berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan
dengan tonjolan tibia yang berpegangan erat pada rambut.
Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti
huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin
berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas abdomen terakhir
mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan
genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan
telur. Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140
butir.
Nimfa
Nimfa berbentuk seperti kutu rambut. Dewasa hanya berbentuk lebih
kecil.
Telur
Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0.8 mm disebut
Nits. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga melekat erat
dalam waktu 5-10 hari.