Anda di halaman 1dari 63

ARSITEKTUR BALI 3

TRANSFORMASI ATB KE AMK


(Studi Kasus: Air Traffic Control di Bali dengan Menggunakan Metode
Analogi Simbolik dari Bangunan Bale Kulkul)

DOSEN:
IR. I WAYAN GOMUDHA, MT.
PROF. DR. IR. A. A. AYU OKA SARASWATI, MT.
IR. A. A. GDE DJAJA BHARUNA S, MT.
DR. NGK. KT. ACWIN DWIJENDRA, ST., MA
IR. NYOMAN SURATA, MT.

MAHASISWA:
KELOMPOK 5
NO. NAMA NIM KELAS
1. DEWA NGAKAN MADE ENDY ARINATA 1504205007 A
2. PUTU GEDE BEY NANDA RYANDANA 1504205032 B
3. I KADEK DIANTARA 1504205040 B
4. I GUSTI PUTU BAGUS KRIS PRABAWA 1504205061 C
5. MICHAEL ANGELINO NAHAK 1504205096 E
6. GILANG DHARMAKSI 1504205111 E

JURUSAN ARSITEKTUR REGULER


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2017

i
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat karuniaNyalah, paper yang berjudul TRANSFORMASI ATB KE AMK
(Studi Kasus: Air Traffic Control di Bali dengan Menggunakan Metode Analogi
Simbolik dari Bangunan Bale Kulkul) dapat terselesaikan tepat pada waktu yang
diharapkan.
Paper ini kami susun guna melaksanakan kewajiban yang telah diberikan
kepada mahasiswa semester genap tahun ajaran 2016/2017 dalam mata kuliah
Arsitektur Bali 3. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih atas peran serta
yang telah mendukung kami baik saran, bimbingan maupun informasi yang sangat
membantu paper ini.
Oleh karena adanya keterbatasan waktu dalam penyusunan paper ini serta
keterbatasan pengetahuan, kami hanya dapat menuangkan secara garis besar.
Kami sadar sepenuhnya bahwa paper ini masih belum sempurna. Untuk itu, kami
harapkan segala kritik & saran yang sifatnya mendukung atau membangun guna
menyempurnakan paper ini.
Demikianlah, semoga dengan adanya paper ini dapat bermanfaat bagi kita
semua khususnya mengenai pengetahuan tentang transformasi ATB ke AMK.
Om Santhi, Santhi, Santhi Om

Denpasar, 10 Mei 2017

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................... 2
1.4 Manfaat ............................................................................. 3
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Air Traffic Control ............................................................. 4
2.1.1 Fungsi utama ATC ................................................... 4
2.1.2 Syarat syarat Operasional ...................................... 4
2.1.3 Syarat syarat Struktur ATC ................................... 6
2.1.4 Komponen Menara Kontrol (ATC) .......................... 7
2.2 Arsitektur Tradisional Bali Bale Kulkul ............................ 13
2.2.1 Pengertian Bale Kulkul ............................................ 13
2.2.2 Pengertian Kulkul..................................................... 13
2.2.3 Jenis-jenis bale Kulkul ............................................. 15
2.2.4 Fungsi....................................................................... 19
2.2.5 Tipologo ................................................................... 19
2.2.6 Tata Letak................................................................. 20
2.2.7 Filosopi..................................................................... 21
2.2.8 Struktur dan Bahan................................................... 21
2.2.9 Ragam Hias. ............................................................. 22
2.2.10 Perkembangan Bale Kulkul.................................... 22
BAB III METODE DAN STUDI KASUS
3.1 Metode Transformasi ......................................................... 24

iii
3.2 Studi Kasus ........................................................................ 36
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Dasar Perancangan Air Traffic Control di Bali .................. 37
4.1.1 Air Traffic Control ......................................... 37
4.1.2 ATC dengan ATB .......................................... 46
4.2 Transformasi Arsitektur Bale Kulkul menjadi Air Traffic
Control di Bali ................................................................... 56
4.3 Nilai-nilai ATB dan AMK Secara Nirupa dan Rinupa
pada Hasil Transformasi .................................................... 53
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ....................................................................... 56
5.2 Saran ................................................................................... 56

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 57


LAMPIRAN

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pulau Bali adalah nama salah satu wilayah Indonesia yang terkenal di
mancanegara, hal ini tidak terlepas dari potensi-potensi yang dimiliki Bali seperti
kebudayaan, pariwisata, dan kearifanlokal lainnya. Potensi-potensi inilah yang
mendongkrak kepopuleran pulau Bali sekaligus menambah pundi-pundi finansial
di Bali. Potensi lainnya yang dimiliki Bali berhubungan dengan kearifanlokalnya
adalah Arsitektur Tradisional Bali. Dilihat dari segi arsitekturnya, masyarakat Bali
memiliki sebuah sistem arsitektur tradisional yang unik. Salah satu unsur yang
kental dari arsitektur di Bali adalah konsep arsitektur yang harmoni dengan
lingkungan alam. Arsitektur Tradisional Bali sendiri telah ada sejak zaman dahulu
yang turun menurun diwarisakan sebagai landasan dalam membanguan sebuah
hunian yang berfilosofi tinggi. Aturan aturan atau tata cara itu di atur dalam lontar
Asta Kosala kosali yang didasari oleh konseps-konseps yang berlandaskan agama
Hindu, merupakan perwujudan budaya, dimana karakter perumahan tradisional
Bali sangat ditentukan norma-norma agama Hindu, adat istiadat serta rasa seni
yang mencerminkan kebudayaan.
Seiring perkembangan jaman serta kemajuan di bidang pengetahuan dan
teknologi, nilai-nilai Arsitektur Tradisional Bali juga sudah mulai diterapkan pada
bangunan-bangunan modern. Tidak hanya konsep-konsep seperti tri mandala, tri
loka, ataupun tri angga, tetapi juga elemen-elemen lainnya seperti ornamen-
ornamen, bentuk dan tipologi bangunan, tata ruang, dan lain-lain yang mulai
diterapkan dan diimplementasikan mulai pada rumah, perkantoran, pertokoan,
hingga hotel dan bandara untuk menunjukan adanya langgam, identitas dan jatidiri
Arsitektur Tradisional Bali pada bangunan-bangunan modern tersebut.
Seperti yang terjadi saat ini tipologi bangunan bale kulkul terlihat popular di
tengah perkembangan arsitektur modern seperti yang diterapkan di Bandara
Ngurah Rai Bali. Bale kulkul merupakan salah satunya bangunan yang menjulang
tinggi dan berundak yang berfungsi sebagai sarana komunikasi. Bale kulkul yang

1
diterapkan pada Bandara Ngurah Rai Bali ini banyak berdalih fungsi. Hal serupa
juga terjadi di beberapa tempat di Bali seperti hotel dan perkantoran.
Melihat fenomena yang terjadi tersebut saat ini menunjukkan bahwa Bale
kulkul memiliki keunikan tersendiri yang menantang arsitek untuk mengadopsi dan
mengembangkannya dalam arsitektur masa kini. Sebagai calon arsitek, penulis
dituntut agar dapat mengembangkan potensi-potensi lokal tersebut dalam
perkembangan arsitektur masa kini.
Melihat permasalahan yang terjadi di Bali berkaitan dengan bangunan tinggi
sebagai sarana yaitu mengenai ATC (Air Traffic Control) Bandara Ngurah Rai
Bali. ATC Bandara Ngurah Rai Bali dinilai belum menunjukkan identitas Bali
yang unity. Selain itu, juga ketinggian dan posisi bangunan sudah tidak layak
karena sudah ada pembangunan gedung terminal yang menghalangi penglihatan
ATC sebagai radar telekomunikasi pesawat di lalu lintas udara.
Dengan latar belakang tersebut maka penulis mengambil langkah untuk
melakukan studi perancangan ATC yang layak dan sesuai dengan lokalitas Bali
untuk memenuhi tugas Arsitektur Bali 3. Yaitu dengan melakukan transformasi
Bangunan ATB (Bangunan Bale Kulkul) menjadi Bangunan AMK (Air Traffic
Control) dengan menggunakan metode analogi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang didapat berdasarkan latar belakang di atas,
yaitu sebagai berikut.
1. Apa yang mendasari perancangan ATC di Bandara di Bali?
2. Bagaimana transformasi bangunan bale kulkul menjadi bangunan ATC dengan
menggunakan metode analogi?
3. Bagaimana nilai-nilai ATB yang terkandung dalam AMK (ATC) hasil
transformasi tersebut?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini, yaitu untuk mengetahui:
1. Dasar perancangan ATC di Bandara di Bali.

2
2. Transformasi bangunan bale kulkul menjadi bangunan ATC dengan
menggunakan metode analogi.
3. Nilai-nilai ATB yang terkandung dalam AMK (ATC) hasil transformasi
tersebut.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat utama yang diperoleh dari penulisan ini, yaitu sebagai
berikut.
1. Untuk penulis, yaitu dapat melatih kemampuan untuk mengembangkan nilai-
nilai ATB dalam perkembangan AMK atau melakukan transformasi bangunan
dengan menggunakan metode/ teori perancangan arsitektur dengan jeli melihat
fenomena maupun permasalahan yang terjadi disekitar.
2. Untuk pembaca, yaitu dapat menambah wawasan mengenai transformasi
bangunan ATB ke AMK melalui studi kasus pengembangan ATC Bandara di
Bali berdasarkan konsep atau analogi dari bangunan bale kulkul.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Air Traffic Control:

Gambar 2. 1 Tower ATC. Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com.

2.1.1 Fungsi utama ATC:


- Tempat memantau / mengawasi area - area di dalam dan sekitar bandar
udara yang telah ditentukan untuk diawasi, untuk menjaga keselamatan
penerbangan.
- Tempat untuk memantau / mengawasi, memandu dan berkomunikasi
dengan pesawat udara baik yang sedang melakukan pendekatan ke
bandar udara, yang akan lepas landas, maupun yang sedang melakukan
pergerakan di apron atau taxiway.

2.1.2 Syarat syarat Operasional:


1. Dari dalam tower, seorang controller (pengawas) harus bisa memantau /
mengawasi area - area di dalam dan sekitar bandar udara yang telah
ditentukan untuk di awasi. Dalam hal ini pengawas bisa melihat dari
ujung landasan ke ujung landasan yang lain tanpa adanya gangguan
pandangan.

4
2. Menara kontrol (ATC) harus dilengkapi dengan alat - alat yang
memungkinkan controller untuk dapat berkomunikasi segera dan akurat
dengan pesawat terbang yang sedang dipandunya.
3. Faktor penting dalam merencanakan menara kontrol (ATC) :
- Menentukan perletakannya, biasanya sedekat mungkin dengan titik
tengah area bandar udara dimana pesawat melakukan pergerakan.
- Menentukan ketinggian kabin menara kontrol, dimana
ketinggiannya tidak merupakan halangan (obstacle) bagi operasi
penerbangan di bandar udara tersebut.
- Ketinggian dinding kabin menara kontrol kurang lebih sebatas
pandangan mata manusia normal (kira - kira 1,5 m dari lantai
kabin).
4) Makin tinggi menara kontrol (ATC) , makin mudah pemantauan
optimum yang dapat dicapai, tetapi perlu diperhatikan :
- Makin tinggi menara kontrol (ATC), makin besar pula biaya
konstruksi.
- Makin besar pula resiko pelanggaran terhadap batas ketinggian yang
telah ditentukan (obstacle limitation surfaces).
- Pantulan cahaya di kaca jendela kabin dari sinar matahari serta silau
lampu harus dijaga seminimal mungkin.
- Untuk meminimalkan halangan pandangan kontroller, ukuran tiang
dan dinding penyangga atap kabin sebaiknya dijaga sekecil
mungkin. Untuk itu penggunaan kaca menjadi pilihan yang paling
tepat, namun perlu diperhatikan pemilihan jenis kaca yang sedapat
mungkin tidak mengakibatkan silau (di Indonesia misalnya kaca ray
ban).
- Ketinggian ambang jendela dan lebarnya konsol panel juga perlu
diperhatikan agar tidak menghalangi pandangan controller.
- Penggunaan material yang kedap suara perlu dipertimbangkan
apabila kegiatan di lingkungan di sekitar menara kontrol banyak
menghasilkan kebisingan.

5
- Perletakan area kerja di dalam kabin menara pengawas dipengaruhi
- oleh :
Lokasi menara terhadap area dimana pesawat melakukan
manuver.
Arah approach (pendekatan) yang biasanya digunakan oleh
pesawat di bandar udara yang bersangkutan.
Jumlah kegiatan operasional yang dilakukan di tower tersebut
(misalnya, kontrol kedatangan dan keberangkatan, kontrol lalu
lintas udara, ground movement, lighting dan sebagainya).
Oleh sebab itu, lay out/perletakan area kerja di kabin menara kontrol akan
berbeda beda di tiap - tiap bandar udara. Untuk menghindari modifikasi
struktur bangunan yang cukup besar, maka fleksibilitas dan antisipasi
kebutuhan operasional di masa yang akan datang perlu menjadi faktor
penting yang harus dipertimbangkan.

2.1.3 Syarat syarat Struktur ATC :


Secara umum, struktur menara kontrol yang ideal adalah :
- Mempunyai ketinggian sesuai yang dibutuhkan.
- Mempunyai ruangan yang cukup luas untuk menampung kegiatan
personil dan peralatan.
- Fleksibel untuk kemungkinan pengembangan di masa datang.
- Pada kasus menara kontrol yang ditempatkan di atas bangunan terminal,
seringkali terbatas untuk dikembangkan saat kebutuhan akan peralatan
maupun personel meningkat. Oleh sebab itu di bandar uadara bandar
udara yang trafficnya diharapkan akan meningkat, sebaiknya
mempunyai lokasi menara kontrol yang terpisah/berdiri sendiri dan
didesain khusus untuk memenuhi kegiatan operasional ATC.
- Hemat energi.
- Aman dan nyaman.
- Ekonomis.

6
2.1.4 Komponen Menara Kontrol (ATC):
Menara kontrol berdiri sendiri (terpisah dari bangunan terminal),
mempunyai 3 komponen utama: kabin, shaft dan dasar bangunan.
1. Kabin
- Ruangan di dalam kabin harus cukup luas tetapi tidak perlu
berlebihan, karena ruangan yang terlalu luas dengan ketinggian
jendela dan tepian/garis atap yang berlebihan akan membatasi
pandangan controller.
- Salah satu negara bagian di Amerika Serikat menyarankan kabin
yang berbentuk poligon dengan dimesi sebagai berikut:

Tabel 1: Luas Area Kabin

Tingkat kegiatan di dalam Perkiraan jumlah personil Area kabin ( m2 )


kabin yang bekerja bersamaan di
Rendah < 6
dalam kabin 21
Sedang 6 12 32
Besar > 12 50

- Faktor - faktor yang mempengaruhi ukuran menara kabin :


Jumlah, lokasi dan besarnya kegiatan pengontrolan.
konsol panel.
- Arah orientasi kabin terhadap runway (landasan pacu) utama :
Ke arah dimana tidak ada halangan yang menghalangi
pandangan controller dalam memantau runway tersebut.
Seminimal mungkin menghindari silau cahaya matahari ketika
controller sedang mengawasi area - area penting, terutama saat
matahari berada di horizon.
- Untuk mengurangi pantulan cahaya dari konsol panel dan memberi
keteduhan pada saat matahari sedang tinggi, jendela kaca sebaiknya
dipasang miring ke arah luar. Kaca jendela sebaiknya dibuat dua

7
lapis (untuk daerah beriklim dingin), bebas distorsi dan cukup rapat
sehingga kedap air.
- Permukaan dinding interior dan tiang penyangga atap sebaiknya
dicat dengan warna gelap dan tidak mengkilat (dof) untuk
menghindari pantulan cahaya.
- Jarak antara lantai dan langit - langit kabin kurang lebih 3 m. Bagian
tepi langit - langit luar bisa di dibuat miring ke luar untuk lebih
meluaskan pandangan ke atas. Langit - langit juga sebaiknya dari
material yang kedap suara dan dicat dengan warna abu - abu atau
hitam dof untuk menghindari pantulan cahaya.
- Apabila tidak tersedia pembersih jendela otomatis, perlu dibuatkan
juga overstek/balkon di sekeliling kabin sebagai jalan untuk
membersihkan jendela kabin secara manual.

Gambar 2.2. Layout Cabin ATC. Sumber: http://www.stwarchitects.com

8
- Tanpa meninggalkan syarat keselamatan, balkon/overstek tersebut
beserta railingnya sebaiknya didesain seminimum mungkin agar
tidak menjadi halangan pandangan dari arah kabin ke bawah

Gambar 2.3. Potongan Cabin ATC. Sumber: http://www.stwarchitects.com

Gambar 2.4 Potongan Cabin ATC 2. Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

9
2. Shaft
Fungsi shaft pada menara kontrol adalah :
- Sebagai pendukung kabin.
- Sebagai ruang peralihan
- Menyediakan akses ke kabin berupa tangga atau lift.
- Sebagai sarana penempatan kabel, pipa utilitas dan sanitasi.
- Menyediakan ruang untuk menampung kegiatan-kegiatan penunjang
kegiatan utama, misalnya kantor, gudang, toilet dan ruang istirahat.

Gambar 2.5. Bagian Shaft ATC. Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

10
3. Bangunan Dasar (Base Building).
Apabila dibutuhkan, bangunan di dasar menara kontrol dapat didesain
menjadi satu ataupun multi lantai. Fungsi utama dasar bangunan antara
lain adalah :
- Tempat pencapaian unit - unit kontrol dari luar ke bangunan
menara.
- Menyediakan ruang untuk menampung kegiatan service yang
berkaitan dengan kegiatan ATC.
Tidak semua menara kontrol lengkap mempunyai 3 komponen
bangunan tersebut di atas.

Ada beberapa jenis kombinasi antara lain :


- Menara kontrol yang tidak mempunyai base building/ bangunan
dasar menampung kegiatan-kegiatan penunjangnya di shaft, selain
itu shaft juga tidak membutuhkan lahan yang luas. Kerugiannya,
bila kegiatan bertambah, sulit untuk mengadakan ekspansi
(perluasan) ruang. Kegiatan service yang diletakkan di lantai yang
berbeda- beda di shaft dapat menyebabkan hubungan yang kurang
erat antara satu kegiatan dengan kegiatan laoin yang seharusnya
saling menunjang, juga dalam hal komunikasi bisa mengakibatkan
adanya hambatan apabila diletakkan dalam bangunan yang terpisah.
- Menara kontrol yang mempunyai base/bangunan dasar dan
memfungsikan shaft akan menghasilkan penggunaan ruang secara
maksimum. Kerugiannya, ekspansi ruang di dalam shaft menjadi
terbatas. AC yang terpisah mungkin dibutuhkan untuk
mengkondisikan udara di kabin, shaft dan bangunan dasar.
- Menara kontrol yang mempunyai base/dasar bangunan tetapi tidak
memfungsikan shaft, membatasi penggunaan shaft hanya untuk
menempatkan peralatan mekanikal dan elektrikal, dan tidak untuk
menampung kegiatan personel. Kombinasi ini menghasilkan
fleksibilitas tinggi untuk pengembangan ruang di masa mendatang

11
dan memberikan ruang sirkulasi yang nyaman dan efisien.
Kerugiannya, akan membutuhkan lahan yang luas, desain ruang
yang lebih lebar serta akan membutuhkan biaya yang lebih besar
dalam pembangunannya.
- Material bangunan yang digunakan di struktur dan internal
bangunan sebaiknya dipilih yang tahan api. Selain itu untuk
mengantisipasi bahaya kebakaran kabin, shaft dan base bangunan
juga harus dilengkapi dengan pintu-pintu dan jalan keluar darurat,
smoke detector, alarm dan pemadam api.

Gambar 2.6. Potongan Base Building ATC. Sumber: https://s-media-cache-


ak0.pinimg.com

12
2.2 Arsitektur Tradisional Bali Bale Kulkul

Gambar 2.7. Bale Kulkul. Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com.

2.2.1 Pengertian Bale Kulkul


Bale Kulkul adalah salah satu bangunan tradisional Bal dengan bentuk
menyerupai menara yang terdapat pada banjar puri dan pura dibali. Pada
awalnya Kulkul sebagai alat komunikasi digantungkan pada ranting pohon
untuk melindungi dari terik matahari dan hujan, Kulkul tersebut diatapi
tanpa memindahkannya dari pohon tersebut. Lambat laun pohon tersebut
semakin tua dan pada akhirnya rebah, sehingga kemudian dibuatkan sebuah
bangunan untuk menyimpan Kulkul yang dinamakan bale-Kulkul.

2.2.2 Pengertian Kulkul:


Kulkul atau kentongan (Jawa) merupakan instrumen music yang bisa
dibuat dari kayu ataupun bambu. Secara spesifik, kayu yang dapat
dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah: kayu ketewel (nangka), kayu
teges (jati), kayu camplung, dan kayu intaran gading (batang pohon pandan

13
yang sudah tua). Untuk mendapatkan kulkul yang baik, maka dipilihlah
kayu atau bahan yang baik pula, Karena dengan bahan yang baik dapat
memberikan kualitas suara yang baik pula. Kayu terbaik untuk
dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah kayu nangka (artocarpus
heterophyllus). Hal ini disebabkan Karena serat kayu nangka lebih padat
dibandingkan dengan kayu yang lainnya, sehingga dapat menghasilkan
suara yang lebih padat dan bagus.

Kulkul berbentuk bulat memanjang, di mana pada bagian tengah


tubuhnya terdapat rongga suara yang berfungsi sebagai resonator. Alat
musik ini dikelompokkan ke dalam golongan idiophone sebab sumber
suaranya berasal dari getaran tubuhnya sendiri. Ukuranya bervariatif, ada
yang panjangnya hanya meter dengan lebar lingkaran 10 cm, tapi ada
juga yang lebih dari 1 meter dengan lebar lingkaran 100 cm. Biasanya
kulkul yang berukuran besar ditempatkan (digantung) di pos-pos
siskamling, banjar-banjar atau pura-pura.

Gambar 2.8. Kulkul. Sumber: http://blog.baliwww.com.

14
2.2.3 Jenis-jenis bale Kulkul:
A. Kulkul Sakral
Di Bali terdapat tiga jenis kulkul. Pertama, ada kulkul sakral yang
keberadaannya selalu ditempatkan di pura-pura dan disakralkan oleh
masyarakat. Sebagai instrumen perkusi, keberadaan kulkul sakral
tersebut tidak bisa dilepaskan dari odalan, karena selalu difungsikan
sebagai sarana upacara. Dalam tata upacara di Bali disebutkan bahwa
yang harus ada dalam suatu odalan adalah Panca Gita. Panca berarti
lima sedangkan gita berarti suara atau nyanyian. Pembagian Panca Gita
tersebut adalah suara kulkul, suara genta dari orang suci atau pendeta,
suara kidung atau nyanyian berisi pujian kepada Tuhan, suara sunari
dan suara gamelan. Jadi berdasarkan uraian tersebut, kehadiran kulkul
sifatnya wajib dan harus ada pada saat upacara berlangsung.

Gambar 2.9. Bale Kulkul Pura. Sumber http://3.bp.blogspot.com.

Dalam suatu pura yang sifatnya milik masyarakat umum bukan


individual, kulkul akan ditempatkan pada suatu bangunan tertentu yang
dinamakan bale kulkul. Bangunan ini biasanya akan berdiri pada salah

15
satu sudut dari pura tersebut. Bale ini akan dibuat dengan tinggi sekitar
5 meter di mana kulkul akan digantung pada tempat yang paling atas.
Fungsinya ditempatkan di atas adalah jika pada suatu odalan4
berlangsung, seluruh warga masyarakat baik yang dekat maupun jauh
bisa mengetahui bahwa upacara sedang berlangsung. Pada bale kulkul
di pura, biasanya akan digantungkan dua atau beberapa buah kulkul
yang berukuran besar. Ketika upacara berlangsung, kulkul tersebut akan
ditabuh secara bergiliran dengan tempo yang pelan. Suara kulkul yang
pelan itu juga membangkitkan suasana yang lebih sakral dan khusyuk
dalam melaksanakan persembahyangan.

B. Kulkul Kubu
Selain kulkul sakral, di Bali juga dikenal instrumen musik yang
disebut dengan kulkul kubu. Yaitu, alat musik perkusi yang biasa
dibunyikan di area persawahan untuk mengusir hama atau burung-
burung yang acap kali menggangu para petani. Biasanya terbuat dari
bambu dan berbentuk kecil agar bisa dengan mudah dibawa oleh petani
ke mana-mana.
Kulkul kubu ini juga memiliki makna simbolik karena sering
diidentikkan dengan orang yang banyak omong tetapi tidak memiliki
kemampuan apa-apa. Di Bali ada sebuah analogi yang kira-kira
berbunyi sebagai berikut yen memunyi de ngawag-ngawag, pang sing
cara munyin kulkul kubu. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia, berarti: berhati-hatilah kalau berbicara, jangan
sembarangan biar tidak seperti kulkul kubu. Jadi, persis seperti kulkul
kubu yang dipasang di area persawahan, bunyinya sangat banyak dan
ribut akan tetapi tidak akan pernah dimaknai atau dipedulikan oleh
orang lain. Inilah makna dan fungsi kulkul kubu bagi masyarakat Bali.

16
Gambar 2.10. Kulkul Kubu. Sumber:
https://idemerta.files.wordpress.com.

C. Kulkul Banjar
Namun demikian, selain kulkul sakral dan kulkul kubu tersebut,
yang menarik dicermati adalah fenomena kulkul banjar.Kulkul jenis ini
biasanya dipasang (digantung) di bale banjar untuk dijadikan sarana
mengumpulkan massa. Kulkul banjar, menurut asumsi penulis adalah
kulkul yang memiliki peran dan fungsi signifikan karena secara umum
oleh masyarakat Bali dijadikan sarana pemersatu kehidupan. Berkat
peran kulkul banjar inilah, masyarakat Bali memiliki spirit kebersamaan
yang tinggi, karena setiap mendengar bunyi kulkul ditabuh, warga akan
berbondong-bondong datang ke banjar untuk melakukan aktivitas
gotong-royong. Dengan kekuatan bunyinya inilah, kulkul banjar
mampu menciptakan aturan tak tertulis yang wajib dipatuhi oleh seluruh
masyarakat. Tak terkecuali masyarakat yang memiliki kasta tinggi,
seperti Brahmana atau Kesatria. Semuanya dipastikan akan patuh setiap

17
kali mendengar kulkul banjar ditabuh, karena bunyi yang terdapat pada
alat musik tersebut adalah mengandung maknaperintah.
Kenyataan ini tentunya tidak lepas dari suara kulkul banjar yang
bunyinya sangat spesifik dengan tabuhan yang khas pula. Misalnya,
pola suara untuk menandakan adanya warga yang punya hajat adalah
disimbolkan dengan pola pukulan dari yang dimulai dengan tempo
lambat dan kemudian secara perlahan dipercepat tapi hanya pada tempo
medium, tidak sampai tempo kencang. Ketika mendengar tabuhan
kulkul seperti ini maka setiap masyarakat pasti segera bergegas kumpul
di banjar untuk kemudian melakukan gotong-royong di rumah warga
yang punya hajatan. Biasanya warga - laki-laki khususnya- akan
membawa sebuah pisau agak besar yang dinamakan blakas untuk
proses ngelawar.
Pola suara untuk menandakan adanya warga yang meninggal
dunia (kematian) adalah disimbolkan dengan pola pukulan yang pelan
dan biasanya mempunyai hitungan tertentu, misal dipukul sebanyak
sembilan atau tujuh kali secara berulang. Demikian juga ketika
masyarakat mendengar tabuhan ini, maka warga akan berduyun-duyun
datang membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.
Warga akan membantu untuk membuat sesajen upakara dan bade atau
wadah untuk orang yang meninggal.

18
Gambar 2.11. Bale Kulkul Banjar Sumber
http://assets.kompasiana.com

2.2.4 Fungsi:
Sebagai salah satu simbol adat Kulkul merupakan sebuah sarana
komunikasi tradisional guna menyampaikan informasi atau suatu peristiwa
kepada masyartakat. Perbedaan pada suara Kulkul menandakan perbedaan
peristiwa yang terjadi, dan krama desa pun tanggap mengenain perbedaan
suara Kulkul tersebut secara umum Kulkul memberikan isyarat tertentu
kepada masyarakat, namun bale Kulkul yang terdpata di pura memiliki
fungsi yang lebih spesifik sebagai berikut:
Umat atau pengempon siap untuk ngayah atau kerja bakti
Pada hari puja wali, upacara melis siap dilakukan tepat waktu
sehinga umat yang hendak mengikuti upacara tersebut dapat segera
bergabung
Pada saat upacara pujawali agar umat bersiap baik yang masih
berada diluar pura untuk segera masuk kedalam pura guna memulai
upacara.
Terdapat pratima yang datang agar para petugas (tukang banten dan
pemangku) untuk segera melakukan tugasnya.
Pratima dari suatu pura meranjak meninggalkan pura tersebut dan
bagi pengiring yang berada di sekitar pura dapat segera bersiap
pulang.
Upacara piodalan telah berakhir.

2.2.5 Tipologi:
Bale Kulkul memiliki beberap tipologi, dapat dibedakan menjadi bale
Kulkul dewa, bale Kulkul manusa dan bale Kulkul buta. Berdasarkan
personifikasinya, Kulkul dapat dibedakan menjadi Kulkul lanang (laki-
laki) dan Kulkul Wadon (perempuan). Berdasarkan jumlah sakanya Bale
Kulkul memiliki empat saka dan delapan saka , dua belas saka dan 16 saka.

19
Berdasarkan perletakkan sakannya, bale Kulkul dapat dibedakan menjadi
bale Kulkul maanda yaitu bale Kulkul yang memiliki perbedaan ketinggian
dalam perletakkan saka yang biasanya dapat ditemukan dalam pada bale
Kulkul dengan 8 buah saka dan bale Kulkul tidak maanda. Berdasarkan
bentu atapnya dapat dibedakan menjadi bale Kulkul dengan atap tunggal
maupun bale Kulkul dengan atap tumpang.

2.2.6 Tata Letak:


Bake Kulkul cenderung diletakkan pada daerah dekat jalan pada tapak
bangunan dan memiliki tata nilai nista. Perletakkan bale Kulkul yang
sedemikian tersebut tidak dimaksudkan untuk mempermudah pencapain ke
dalam bangunan namun didasarkan atas fungsinya sebagai media
komunikasi agar mudah terlihat dan mudah didengarkan suaranya sehingga
perletakkannya dipinggir jalan memungkinkan hal tersebut. Bale kul0kul
tidak pula dilengkapi dengan tangga permanen untuk memukulkan Kulkul
pada puncak bangunan, namun hanya terdapat tangga non permanen yang
disandarkan pada bagian badan bale Kulkul

.
Gambar 2.12. Tata letak Sumber http://3.bp.blogspot.com

20
2.2.7 Filosopi:
Bale Kulkul sebagai sarana komunikasi berfungsi sebagai pengerahan
massa yang dapat diartikan sebagai suatu pergerakan tenaga. Dengan irama
tertentu, suara Kulkul yang didengar oleh krama adat mampu memberikan
informasi dan kejelasan suatu peristiwa yang terjadi dikawasan adat. Bale
Kulkul merupakan bangunan yang disakralkan oleh masyarakat
pengusungnya, sehingga hanya seorang yang disebut saya yang dapat
memukul Kulkul pada puncak bale Kulkul dimana saya ditunjuk oleh
kelian adat setempat. Seperti bangunan tradisional bali lainnya, bale Kulkul
pun menerapkan konsepsi Tri Angga, dimana bangunan dibagi menjadi 3
bagian, yaitu bagian kepala,badan dan kaki. Bagian kepala pda bale Kulkul
terdiri dari struktur atap dan penutup atap, bagian badan terdiri dari sari dan
bacem dan bagian kaki terdiri dari tepas dan batur.

Gambar 2.2. Konsep Tri Angga Banjar Sumber:


https://kayanblog.files.wordpress.com

2.2.8 Struktur dan Bahan:


Bale Kulkul memiliki tiga jenjang lantai yang disebut dengan tepas
batur dan sari yang berfungsi sekaligus sebagai pondasi bale Kulkul
tersebut. Bahan penutup pada bagian bebaturan disesuaikan dengan daerah
setempat sehingga menimbulkan bale Kulkul dengan keberagaman
bahannya sesuai dengan karakter daerah dimana bale kulkul itu berada.
Diatas sari terdapat bale yang terbentuk oleh saka dan sineb lambang

21
dengan bahan kayu yang ditutupi pada bagian atasnya dengan kerep atau
penutup atap. Bale Kulkul yang terdapat di pura memakai bahan penutup
atap berupa ijuk, namun pada bale Kulkul yang terdapat di puri maupun
banjar memakai bahan penutup atap berupa genteng maupun alang-alang.

2.2.9 Ragam Hias:


Bale Kulkul seperti bangunan tradisional bali lainnya tidak terlepas
dari seni ornamenstasi. Pada bagian tepas terdapat ragam hias dengan
wujud binatang tanpa sayap dan buta kala. Pada bagian batur terdapat
ragam hias pada wujud manusia atau keturunan dewa-dewi. Pada bagian
palih sari terdapat ragam hias dalam wujud dewa-dewi dan binatang
bersayap. Terdapat pula bale Kulkul yang menggunakan stiliran-stiliran
dengan wujud pepatraan dan kekarangan seperti halnya bangunan
tradisional pada umumnya. Pada daerah-daerah tertentu, terdapat bale
Kulkul yang menggunakan ragam hias yang beraasal dari kebudayaan
cinaseperti mangkon dan piring porcelain yang dipasang pada batur dan
sari.

2.2.10 Perkembangan Bale Kulkul:


A. Perkembangan Fungsi dan Makna:
Bale Kulkul yang semula berfungsi sebagai simbol adat dan sarana
informasi bagi masyarakat biasa, saat ini telah mengalami perubahan
dikarenakan kebutuhan pengguna seperti kebutuhan akan fungsi objek
wisata, estetika, dan servis menjadikan fungsi bale Kulkul semakin
beragam. Perubahan fungsi bale Kulkul tidak sesuai dengan fungsi
awalnya yang menyebabkan makna filosopis bale Kulkul pun semakin
pudar.
B. Perkembangan Bentuk:
Pada dasarnya bale Kulkul memiliki bentuk yang menjulang keatas
dengan bagian tepas, batur, palih, dan atap yang semakin keatas
memiliki bentuk yang semakin mengecil. Bentuk bale Kulkul saat ini

22
semakin berkembang baik secara vertikal maupun horizontal berkaitan
dengan fungsi baru yang menaunginya.
C. Perkembangan Tata letak:
Pada awalnya bale Kulkul terletak pada zona nista, yakni dipekarangan
pura maupun banjar. Saat ini, banyak ditemui bale Kulkul yang
perletakkannya tidak berada di zona nista, dikarenakan perkembangan
sistem struktur dan teknologi bahan. Banyak ditemukan pula bale
Kulkul yang perletakkannya tidak berhubungan langsung dengan tanah
melainkan terletak diatas bangunan tertentu, dengan fungsi tetap sebagai
sarana komunikasi desa, namun diletakkan diatas bangunan lainnya
dimaksudkan untuk memudahkan penyampaian informasi kepada krama
desa.
D. Perkembangan Struktur dan Bahan:
Bahan bale Kulkul yang pada awalnya hanya menggunakan batu dan
tanah untuk bagian batur, tepas , dan sari , sedangkan bahan kayu pada
saka dan pada struktur atap. Bahan penutup atap pun menggunakan
genteng dikarenakan pemasangannya lebih mudah dan tahan lama
dibandingkan dengan bahan ijuk dan alang-alang. Karena dengan
perkembangan teknologi pada masa kini, penggunaan bahan bale
Kulkul pun semakin bervariasi. Ditemukan pula bale Kulkul yang telah
menggunakan struktur beton sebagai struktur utamannya sehingga
memungkinkan untuk dipergunakan sebagai fungsi yang lebih
membutuhkan ketahanan struktur yang tinggi.
E. Perkembangan Ragam Hias:
Ragam hias pada bangunan bale Kulkul tidak mengalami perkembangan
yang signifikan karena masih menggunakan ragam hias tradisional bali
namun saat ini penggunaan ragam hias tersebut semakin disederhanakan
dalam hal bentuk dan proporsinya.

23
BAB III
METODE DAN STUDI KASUS
3.1 Metode
Pendekatan Analogi
Seorang arsitek dapat merancang suatu karya arsitektur yang
bermacam-macam bentuknya, namun tidak mudah melalui proses perancangan
atau desain tersebut. Broadbent dengan bukunya Design in Architecture (1980),
memuat hal-hal mendasar dalam desain arsitektur dan menjadi pegangan
mahasiswa, akademisi, arsitek maupun peminat desain arsitektur lain. Hal
fundamental yang dibahas di dalam buku ini salah satunya adalah pendekatan
bentuk.
Analogi adalah salah satu pendekatan bentuk yang digunakan dalam desain
arsitektur. Dalam bukunya, Design in Architecture, Geoffrey Broadbent
mengatakan bahwa ...mekanisme sentral dalam menerjemahkan analisa-
analisa ke dalam sintesa adalah analogi.
Pernyataan ini maksudnya adalah bahwa pendekatan analogi bukan
hanya sekedar menjiplak bentuk objek alam yang dianalogikan, tapi diperlukan
proses-proses analisis dan merangkainya sehingga menghasilkan bentuk baru
yang masih memeiliki kemiripan visual dengan objek yang dianalogikan.
Suatu pendekatan analogi dikatakan berhasil apabila pesan yang ingin
disampaikan atau objek yang dianalogikannya dapat dipahami oleh semua
orang. Oleh karena itu, harus terdapat benang merah antara bangunan dan
objek yang dianalogikannya dalam proporsi tertentu sehingga tidak menjadi
terlalu naf seperti menjiplak secara mentah-mentah.
Pendekatan analogi berbeda dengan pendekatan secara metafora. Dalam
pendekatan metafora suatu objek dideskripsikan terlebih dahulu, untuk
selanjutnya diambil inti dari pendeskripsian tersebut. Inti dari deskripsi itu
kemudian diaplikasikan ke dalam bentuk arsitektur yang benar-banar berbeda
dari objek yang dijadikan metafora. Pendekatan ini sering dianggap kurang
berhasil karena banyak orang yang tidak dapat memeahami pesan yang ingin
disampaikan.

24
Hal yang penting dalam analogi adalah persamaan antara bangunan
dengan objek yang dianalogikan. Persamaan di sini bukan berarti benar-benar
serupa dengan objek dan hanya diperbesar ukurannya saja, tetapi yang
dimaksudkan adalah persamaan berupa pesan yang disampaikan. Oleh sebab
itu, analogi menjadi sangat berharga karena sifatnya yang sangat personal,
berarti dapat dipahami oleh setiap orang. Dalam buku Design in Architecture
karya Broadbent, pendekatan analogi dibagi ke dalam tiga macam, yaitu
analogi personal, analogi langsung, dan analogi simbolik.

1. ANALOGI PERSONAL (PERSONAL ANALOGY)


Analogi secara personal berarti sang arsitek membayangkan dirinya sendiri
sebagai bagian dari permasalahan dalam desain arsitektur. Contohnya apabila
ia (arsitek) membayangkan dirinya sebagai bangunan yang menghadap ke
suatu arah tertentu, bagaimana cahaya matahari yang diterimanya. Apabila ia
merupakan sebuah balok, berapa banyak beban atau tekanan yang akan
diterima. Apabila ia berada di tanah miring dan membaringkan diri, bagaimana
cahaya matahari yang diterimanya dan bagaimana aliran angin yang
melewatinya

Gambar 2. Personal Analogy

A. Eiffel Tower, Paris, Prancis


Menara Eiffel menggunakan pendekatan analogi dimana sosok yang
dipakai adalah wanita yang feminim dan elegan. Bagaimana seorang wanita
anggun berdiri, bagaimana bentuk tubuhnya yang elegan.

25
Gambar 3.
Analogi wanita
feminism pada
Eiffel Tower

B. Ronchamp Chapel Le Corbuzier

Salah satu karya Le Corbuzier ini banyak dimirip-miripkan dengan


berbagai objek seperti bentuk telapak tangan yang membuka seperti saat
berdoa, seperti kapal laut, bentuk bebek, topi pelukis, atau seperti ibu yang
memeluk anaknya. Akan tetapi yang dimaksudkan oleh sang arsitektur
bukanlah seperti itu. Menurut Broadbent, pada suatu pagi ketika sedang
berjalan-jalan di pantai pulau Long Island, Le Corbuzier menemukan cangkang
kepiting. Dari cangkang kepiting inilah, Le Corbuzier mendapat ide untuk
membuat atap menggunakan struktur shell yang pada waktu itu belum banyak
digunakan,

Beralih pada bentuk bukaan yang diterapkan pada Ronchamp Chapel yang
berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya sehingga dapat menciptakan
suasana di dalam ruangan. Bentuk bukaan disesuaikan dengan cahaya yang

26
datang pada jam-jam tertentu, sehingga suasana ruangan yang tercipta juga
memberikan kesan sendiri pada jam-jam tersebut.
Namun, ternyata ada kemiripan antara fasade Ronchamp Chapel dengan
suatu bangunan di Pulau Ischia yang tampak dari foto yang diambil oleh James
Stirling serta dengan fasade rumah-rumah di Arab, yaitu berupa dinding masif
terbuat dari batu yang diberi coakan-coakan berbentuk persegi panjang sebagai
bukaan. Akan tetapi, pada kenyataannya dinding pada Ronchamp Chapel
terbuat dari batu bata dengan kolom yang melebar ke bawah, dan diberi coakan
dengan rangkaian kawat yang dilapisi plester. Dengan begitu, Ronchamp
Chapel merupakan suatu karya masterpiece yang dijadikan sebagai salah satu
sumber analogi untuk dijadikan preseden sehingga dapat dikembangkan sesuai
dengan pesan yang ingin disampaikan.

2. ANALOGI LANGSUNG (DIRECT ANALOGY)


Analogi langsung merupakan analogi yang paling mudah dipahami oleh
orang lain. Dalam analogi ini, arsitek menyelesaikan permasalahan dalam
desain dengan fakta-fakta dari beragai cabang ilmu lain yang sudah diketahui
umum, misalnya seperti pengaturan cahaya pada bangunan yang menggunakan
prinsip kerja diafragma pada mata. Berikut adalah beberapa contoh karya
arsitektur yang menggunakan pendekatan analogi.
A. John Wax Building Frank Lloyd Wright
Pada bangunan ini, terdapat elemen-elemen yang dianalogikan dengan
bunga water lily, yaitu pada bagian kolomnya. Pada bagian atas kolom
dibentuk lingkaran-lingkaran yang lebar sehingga menyatu dari satu kolom ke
kolom lain, dan terbentuk langit-langit yang dapat dianalogikan sebagai bentuk
daun pada bunga water lily. Sedangkan kolom-kolom diibaratkan seperti
tangkai bunga water lily.
Selain itu, ada pula yang memahami bentuk kolom pada bangunan John
Wax Building berasal dari analogi jamur dengan bagian atas yang melebar dan
tangkai seperti tangkai jamur.

27
Gambar 5. John Wax Building (kiri) dan analogi water lily (kanan)

B. Forum Building, Barcelona, Spain Herzog and De Meuron


Objek yang menjadi analogi dari Forum Building yaitu Laut Mediterania,
karena letak bangunan yang berada di daerah pelabuhan dekat Laut
Mediterania. Pendekatan analogi dapat terlihat dengan jelas pada bentuk
jendela bangunan yang menyerupai bentuk koral. Bangunan yang terbuat dari
material beton berwarna biru juga dapat mencerminkan warna laut yang biru.

Gambar 6. Forum Building eksterior (kiri) dan interior (kanan)

Pada bagian interior bangunan juga dianalogikan seperti laut, yaitu pada
bagian ceiling berwarna silver dan berkilauan sehingga dapat mencerminkan
ruangan dibawahnya dan tampak seperti bagian dalam laut yang dipenuhi
dengan gelombang-gelombang laut. Suasana yang tercipta di dalam bangunan
yaitu seperti sedang berada di bawah laut. Kursi-kursi juga disusun sedemikian
rupa menyerupai ombak laut.

28
C. Cottbus Library - Herzog and De Meuron

Secara kasat mata, apabila dilihat dari atas, bangunan perpustakaan ini
seperti amoeba berukuran raksasa, dengan sisi melengkung-lengkung tanpa
sudut. Hal ini dimaksudkan agar dapat menyesuaikan dengan suasana
lansekapnya sehingga dapat menciptakan ruang publik di sekitar bangunan.

Gambar 7. Cottbus Library, massa bangunan (kiri) dan fasad bangunan (kanan)

Fasad bangunan memperlihatkan bentuk huruf-huruf yang saling terikat


dan dilapisi dengan dinding material kaca. Huruf-huruf tersebut dapat
menyampaikan pesan bahwa bangunan tersbeut merupakan rumah sastra, yaitu
perpustakaan.

D. Bird Nest Stadium, Beijing, China - Herzog and De Meuron


Desain stadion ini terinspirasi dari bentuk sarang burung, oleh karena itu
dinamakana Bird Nest Stadium dan terletak di Beijing, China. Analogi sarang
burung tidak hanya terlihat dari segi estetis pada eksterior saja, tetapi juga pada
sistem struktural yang terlihat dari luar bangunan.

Gambar 8. Bird Nest Stadium (kiri) dan analogi sarang burung (kanan)

29
Dengan mempelajari struktur kaku pada sarang burung, Herzog
mengaplikasikannya pada stadion ini dengan membuat struktur kolom yang
tidak biasa yaitu seperti struktur sarang burung dan terbuat dari baja. Seluruh
struktur yang terlihat dari luar, mencerminkan cabang sarang yang menyatu
satu sama lain sehingga tercapai ketahanan yang luar biasa pada setiap
elemen.

E. LHemispheric at City of Art and Science, Valencia, Spain Santiago


Calatrava

L Hemispheric menggunakan analogi langsung. Konsep analogi yang


dimunculkan oleh sang arsitek, Santiago Calatrava, adalah bola mata. Konsep in
tidak hanya diterapkan untuk bentuk saja namun juga struktur, material hingga
fasad.

Gambar 9. Sketsa konsep LHemiispheric - Santiago Calatrava

Konsep bola mata untuk mendasari bentuk bangunan


Penggambaran Calatrava akan konsepnya begitu jelas sehingga bangunan
benar-benar menyerupai mata. Bagian atas bangunan membentuk setengah elips
dan sebuah kubah ditengahnya. Dengan elemen air, bangunan ini dipantulkan
dengan pencerminan pada sumbu dasar bangunannya sehingga membentuk mata
secara utuh. Selain mampu menambah kekayaan konsep Calatrava, dengan
adanya air ini juga menjagi keharmonisan bangunan dengan lingkungan alam
khususnya laut dan sungai yang terdapat didekatnya.

30
As the site is close to the sea, and Valencia is so dr , I decided to make water a
major element for the whole site using it as a mirror for the architecture.
- Santiago Calatrava-
Konsep bola mata untuk struktur bangunan
Untuk menghadirkan konsep tersebut, bangunan ini dibangun menggunakan
struktur cangkang sebagai penutup atapnya. Penggunaan struktur ini dikarenakan
bentuknya yang menyerupai kubah dibutuhkan untuk penggunaannya sebagai
planetarium dan teater yang membutuhkan bentangan cukup luas. Kubah ini juga
dihasilkan tidak menggunakan lingkaran sebagai dasarnya melainkan bentuk
menyerupai elips (dapat dilihat pada denah bangunan)

Gambar 10. Denah LHemispheric

Material untuk mengekspos konsep bola mata

Bangunan ini menggunakan kombinasi material struktur yaitu beton dengan


baja. Beton digunakan untuk penutup atap berupa cangkang (shell) dan struktur
lengkung (arch) penahannya Sedangkan baja digunakan sebagai elemen elemen
struktur tegak yang menjadi pengaku arch bagian atas dengan arch bagian bawah.

Gambar 11. Tampak Selatan

Olahan fasad untuk konsep bola mata

31
Terdapat 2 buah arch yang menopang bangunan ini. Pada salah satu sisi
menjang kedua buah arch dihubungkan oleh baja baja lurus yang diletakkan
menyerupai pagar dengan jarak konstan yang memberi kesan bulu mata. Selain itu
dibawah arch bagian bawah terdapat curtain wall dengan bingkai alumunium
yang meneruskan garis garis baja diatasnya memberikan kesan bulu mata yang
lebih halus dibandingkan bagian atasnya. Seperti itulah Calatrava menerapkan
analogi bola mata di segala sisi bangunan LHemispheric.

F. Turning Torso, Swedia Santiago Calatrava

Menara ini mengambil analogi dari


pergerakan tubuh manusia, yaitu bentuk tulang
belakang yang dipilin. Dengan analogi seperti
itu, menara ini memberi pembelajaran
mengenai movement dan structure.

The very idea of a structure is


synonymous with stability, statis and rigid
organisation of elements in space.
(Tzonis&Lefaivre, 1995:10)

Dari kutipan pernyataan diatas tergambarkan bahwa struktur itu adalah


sesuatu yang sifatnya statis dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan
pergerakan. Bahkan struktur seakan menetralkan pergerakan itu sendiri.

Namun, Calatrava sadar bahwa didalam struktur itu sendiri terdapat movement
yang tidak dapat dihindarkan lagi pasti akan terjadi. Walaupun tampaknya
immobile atau tidak dapat bergerak, sebenarnya struktur itu sendiri berada pada
suatu pergerakan yang konstan.

32
Pada rancangan Turning Torso yang mengambil
analogi tulang belakang manusia, bila dilihat secara
struktur, tulang belakang manusia sangat
memungkinkan terjadinya pergerakan, namun
masih tetap dapat menjadi struktur yang kokoh dan
bertahan hingga sekarang. Struktur ini kemudian
dituangkan kedalam bentuk sketsa dan model
sebagai cara pengeksplorasian bagaimana cara
struktur itu bekerja dan tersusun dari bagian-bagian
apa saja hingga akhirnya menjadi sebuah objek
bangunan.
Gambar 13. Turning Torso

Pada tahap awal pemodelan,


Calatrava menyusun beberapa balok
persegi sedemikian mungkin
disekitar baja penopang untuk
menemukan wujud spiral yang
mendekati bentuk tulang belakang
manusia yang dipilin. Ini merupakan
tahapan awal dari pentransformasian Gambar 14. Proses
dari movement ke dalam sebuah transformasi Turning Torso
struktur.

Selain itu juga masih banyak bangunan yang menggunakan pendekatan


analogi seperti Sydney Opera House-Jorn Utzon, Milwauke Art Museum-
Santiago Calatrava, Kuwait Pavilion, dan sebagainya.

3. ANALOGI SIMBOLIK (SYMBOLIC ANALOGY)

Pada analogi simbolik, arsitek menyelesaikan permasalahan dalam desain


dengan memasukkan makna tertentu secara tersirat. Analogi ini merupakan

33
bentuk analogi secara tidak langsung. Unsur-unsur yang dimasukkan dapat berupa
perlambangan terhadap sesuatu, mitologi lokal, atau simbol lainnya. Berikut
merupakan contoh bangunan yang menerapkan pendekatan analogi simbolik.

A. Rumah Tradisional Bali


Rumah tradisional Bali menyimbolkan tubuh manusia. Dimana atap
merepresentasikan kepala, tubuh bangunan adalah badan manusia, dan umpak
adalah kaki manusia. Umpak merepresentasikan kaki manusia yang digunakan
untuk berdiri kokoh. Sementara bangunan merepresentasikan badan manusia yang
memiliki beberapa fungsi yntuk menjalankan kehidupan. Atap melambangkan
kepala yang menjadi identitas dan bersifat sakral. Simbol seperti ini juga
digunakan pada rumah-rumah tradisional lainnya di Indonesia.

Gambar 15. Rumah tradisional Bali (kiri) dan simbolisasi pada elemen
bangunan (kanan)

B. Montjuic Communication Tower Santiago Calatrava

Menara Komunikasi Montjuic (Torre Telefonica) merupakan sebuah


menara telekomunikasi didaerah Montjuic di Barcelona, Spanyol. Montjuic
sendiri adalah sebuah area olimpiade, dimana Torre Telefonica ini berfungsi
sebagai pengirim siaran televisi Olimpiade Musim Panas 1992. Dan karena
site dan fungsinya, Santiago Calatrava sebagai arsitek perancangnya,
menganalogikannya seperti gambaran seorang atlet memegang Obor
Olimpiade.

34
Gambar 16. Analogi tangan memegang obor (kiri) dan Menara
Montjuic, jam matahari (kanan)

Menara ini menggunakan pentransformasian sebuah bentuk alam dengan


representasi simbolik. Sehingga sekarang menara ini lebih tergambar sebagai
monumen olimpiade daripada fungsi aslinya sebagai menara telekomunikasi.
Selain itu, representasi simbolik lainnya adalah menara ini juga berfungsi
sebagai jam matahari besar, yang menggunakan taman Eropa untuk menandai
waktu.

35
3.2 Studi Kasus
ATC Bandara Ngurah Rai, Denpasar
Bandara ini merupakan Bandara kelas Internasional yang melayani berbagai
penerbangan dengan intensitas yang padat, Oleh karena itu, bandara ini memerlukan
pelayanan yang masimal serta Infrastruktur yag baik. Salah satu aspek terpenting pada
sebuah bandara adalah ATC (Air Traffic Control) yang berfungsi sebagai pengawas
serta pengatur segala lalu lintas penerbangan dari dan keluar dari bandara tersebut.
Perlu fasilitas yang menunjang serta nyaman guna mendukung civitas dan aktivitas
yang ada di dalamnya.

Pada ATC bandara Ngurah Rai, beberapa waktu lalu Ignasius Jonan selaku
Menteri Perhubungan mengatakan bahwa ATC pada Bandara Ngurah Rai perlu
ditinggikan karena terhalang oleh bangunan Terminal yang memiliki tinggi yang
hamper sama. Tentu ini dapat mengganggu aktivitas lalu lintas pada bandara. Dan
pemindahan serta peninggian bangunan ATC perlu dilakukan. Namun, dengan
memperhatikan aspek tersebut, nilai-nilai budaya tidak boleh dikesampingkan dalam
membangun sebuah bangunan. Dari bebapa indikator penilaian seperti masuknya
Konsep Tri Hita Karana pada bangunan tersebut, tata ruang dan orientasi, tata
letak/setting massa, dan tata bangunan (penilaian terlampir). Semua indikator tersebut
harus diperhatikan dan diterapkan, sehingga bangunan yang dirancang tidak hanya
mementingkan aspek fungsional, namun juga dapat mempertahankan nilai-nilai tradisi
dari Arsitektur Tradisional Bali.

36
BAB IV
PEMBAHASAN

4.4 Dasar Perancangan Air Traffic Control di Bali


4.4.1 Air Traffic Control
A. Syarat syarat Operasional.
1) Dari dalam tower, seorang controller (pengawas) harus bisa memantau /
mengawasi area - area di dalam dan sekitar bandar udara yang telah
ditentukan untuk di awasi. Dalam hal ini pengawas bisa melihat dari
ujung landasan ke ujung landasan yang lain tanpa adanya gangguan
pandangan.
2) Menara kontrol harus dilengkapi dengan alat - alat yang memungkinkan
controller untuk dapat berkomunikasi segera dan akurat dengan
pesawat terbang yang sedang dipandunya.
3) Faktor penting dalam merencanakan menara kontrol :
i. Menentukan perletakannya, biasanya sedekat mungkin dengan titik
tengah area bandar udara dimana pesawat melakukan pergerakan.
ii. Menentukan ketinggian kabin menara kontrol, dimana
ketinggiannya tidak merupakan halangan (obstacle) bagi operasi
penerbangan di bandar udara tersebut.
iii. Ketinggian dinding kabin menara kontrol kurang lebih sebatas
pandangan mata manusia normal (kira - kira 1,5 m dari lantai
kabin).
Makin tinggi menara kontrol, makin mudah pemantauan optimum yang dapat
dicapai, tetapi perlu diperhatikan :
Makin tinggi menara kontrol, makin besar pula biaya konstruksi.
Makin besar pula resiko pelanggaran terhadap batas ketinggian yang telah
ditentukan (obstacle limitation surfaces).
i. Pantulan cahaya di kaca jendela kabin dari sinar matahari serta
silau lampu harus dijaga seminimal mungkin.
ii. Untuk meminimalkan halangan pandangan kontroller, ukuran tiang
dan dinding penyangga atap kabin sebaiknya dijaga sekecil
mungkin. Untuk itu penggunaan kaca menjadi pilihan yang paling
tepat, namun perlu diperhatikan pemilihan jenis kaca yang sedapat

37
mungkin tidak mengakibatkan silau (di Indonesia misalnya kaca
ray ban).
iii. Ketinggian ambang jendela dan lebarnya konsol panel juga perlu
diperhatikan agar tidak menghalangi pandangan controller.
iv. Penggunaan material yang kedap suara perlu dipertimbangkan
apabila kegiatan di lingkungan di sekitar menara kontrol banyak
menghasilkan kebisingan.
Perletakan area kerja di dalam kabin menara pengawas dipengaruhi oleh :
Lokasi menara terhadap area dimana pesawat melakukan manuver.
Arah approach (pendekatan) yang biasanya digunakan oleh pesawat di
bandar udara yang bersangkutan.
Jumlah kegiatan operasional yang dilakukan di tower tersebut (misalnya,
kontrol kedatangan dan keberangkatan, kontrol lalu lintas udara,
ground movement, lighting dan sebagainya).
Oleh sebab itu, layout/perletakan area kerja di kabin menara kontrol akan berbeda
- beda di tiap - tiap bandar udara. Untuk menghindari modifikasi struktur
bangunan yang cukup besar, maka fleksibilitas dan antisipasi kebutuhan
operasional di masa yang akan datang perlu menjadi faktor penting yang harus
dipertimbangkan.

B. Syarat syarat Struktur.


Secara umum, struktur menara kontrol yang ideal adalah :
i. Mempunyai ketinggian sesuai yang dibutuhkan.
ii. Mempunyai ruangan yang cukup luas untuk menampung kegiatan
personil dan peralatan.
iii. Fleksibel untuk kemungkinan pengembangan di masa datang.
Pada kasus menara kontrol yang ditempatkan di atas bangunan terminal,
seringkali terbatas untuk dikembangkan saat kebutuhan akan peralatan maupun
personel meningkat. Oleh sebab itu di bandar uadara bandar udara yang
trafficnya diharapkan akan meningkat, sebaiknya mempunyai lokasi menara
kontrol yang terpisah/berdiri sendiri dan didesain khusus untuk memenuhi
kegiatan operasional ATC.
Hemat energi.
Aman dan nyaman.

38
Ekonomis.

C. Komponen menara kontrol


Menara kontrol berdiri sendiri (terpisah dari bangunan terminal),
mempunyai 3 komponen utama: kabin, shaft dan dasar bangunan.

4. Kabin

- Ruangan di dalam kabin harus cukup luas tetapi tidak perlu


berlebihan, karena ruangan yang terlalu luas dengan ketinggian
jendela dan tepian/garis atap yang berlebihan akan membatasi
pandangan controller.
- Salah satu negara bagian di Amerika Serikat menyarankan kabin yang
berbentuk poligon dengan dimesi sebagai berikut:

Tabel 1 : LUAS AREA KABIN


Tingkat kegiatan Perkiraan jumlah personil Area kabin
di dalam kabin yang bekerja bersamaan ( m2 )
Rendah <di dalam
6 kabin 21
Sedang 6 12 32
Besar > 12 50

Faktor - faktor yang mempengaruhi ukuran menara kabin :


Jumlah, lokasi dan besarnya kegiatan pengontrolan.
konsol panel.
Arah orientasi kabin terhadap runway (landasan pacu) utama :
Ke arah dimana tidak ada halangan yang menghalangi pandangan
controller dalam memantau runway tersebut.
Seminimal mungkin menghindari silau cahaya matahari ketika
controller sedang mengawasi area - area penting, terutama saat
matahari berada di horizon.
Untuk mengurangi pantulan cahaya dari konsol panel dan memberi keteduhan
pada saat matahari sedang tinggi, jendela kaca sebaiknya dipasang miring ke arah
luar.

39
Kaca jendela sebaiknya dibuat dua lapis (untuk daerah beriklim dingin),
bebas distorsi dan cukup rapat sehingga kedap air.
- Permukaan dinding interior dan tiang penyangga atap sebaiknya dicat
dengan warna gelap dan tidak mengkilat (dof) untuk menghindari
pantulan cahaya.
- Jarak antara lantai dan langit - langit kabin kurang lebih 3 m. Bagian
tepi langit - langit luar bisa di dibuat miring ke luar untuk lebih
meluaskan pandangan ke atas. Langit - langit juga sebaiknya dari
material yang kedap suara dan dicat dengan warna abu - abu atau
hitam dof untuk menghindari pantulan cahaya.
- Apabila tidak tersedia pembersih jendela otomatis, perlu dibuatkan
juga overstek/balkon di sekeliling kabin sebagai jalan untuk
membersihkan jendela kabin secara manual.
Tanpa meninggalkan syarat keselamatan, balkon/overstek tersebut beserta
railingnya sebaiknya didesain seminimum mungkin agar tidak menjadi
halangan pandangan dari arah kabin ke bawah menara kontrol.

2) Shaft
Fungsi shaft pada menara kontrol adalah :
- Sebagai pendukung kabin.
- Menyediakan akses ke kabin berupa tangga atau lift.
- Sebagai sarana penempatan kabel, pipa utilitas dan sanitasi.
- Menyediakan ruang untuk menampung kegiatan-kegiatan penunjang
kegiatan utama, misalnya kantor, gudang, toilet dan ruang istirahat.

3) Bangunan Dasar (Base Building).


Apabila dibutuhkan, bangunan di dasar menara kontrol dapat didesain
menjadi satu ataupun multi lantai. Fungsi utama dasar bangunan antara lain
adalah :
- Tempat pencapaian unit - unit kontrol dari luar ke bangunan menara.
- Menyediakan ruang untuk menampung kegiatan service yang
berkaitan dengan kegiatan ATC.

40
Tidak semua menara kontrol lengkap mempunyai 3 komponen bangunan
tersebut di atas.

4.4.2 ATC dengan ATB


A. PERATURAN DAERAH BALI NO 5 TAHUN 2005
Pada Bab III Peraturan Daerah Bali No 5 Tahun 2005 mengatur
tentang persyaratan arsitektur bangunan gedung yang akan dibangun,
persyaratan arsitektur bangunan tradisional Bali dan persyaratan
arsitektur bangunan non tradisional Bali yaitu sebagai berikut:

BAGIAN PERTAMA
PERSYARATAN ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG YANG AKAN DIBANGUN

Pasal 7

(1) Arsitektur bangunan gedung harus memenuhi persyaratan :


a. penampilan luar dan penampilan ruang dalam;
b. keseimbangan, keselarana, dan keterpaduan bangunan gedung dengan
lingkungan dan ;
c. nilai-nilai luhur dan identitas budaya setempat.
(2) Persyaratan penampilan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus menerapkan norma-norma pembangunan tradisional Bali dan/atau
memperhatikan bentuk dan karakteristik Arsitektur Tradisional Bali yang berlaku
umum atau arsitektur dan lingkungan setempat yang khas dimasing-masing
kabupaten/Kota
(3) Persyaratan ruang dalam bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memperhatikan fungsi ruang dan karakter elemen-elemen yang melekat pada
bangunan.
(4) Persyaratan keseimbangan dan keselaran bangunan gedung dengan lingkungannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan terciptanya ruang luar
bangunan gedung, ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi dan terpadu dengan
lingkungannya.

41
(5) Gedung menetapkan lebih lanjut ketentuan penampilan bangunan gedung, tata
ruang dalam, keseimbangan dan keselaran bangunan gedung dengan lingkungannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) setelah
mendapat rekomendasi dari DPRD.
(6). Pembangunan bangunan gedung tradisional Bali diatur dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal
10, Pasal 11, dan Pasal 12, sedangkan pembangunan bangunan gedung non
tradisional Bali diatur dalam Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15 dan Pasal 16.

BAGIAN KEDUA
PERSYARATAN ARSITEKTUR BANGUNAN TRADISIONAL BALI

Pasal 8

(1) Fungsi bangunan tradisional Bali dibedakan atas bangunan keagamaan, bangunan
perumahan dan bangunan social.
(2) Pendirian bangunan tradisional harus mengikuti norma bangunan tradisional Bali.

Pasal 9

Pembangunan bangunan keagamaan umat Hindu di Bali menerapkan norma


pembangunan tradisional Bali yang memuat ketentuan tentang bangunan keagamaan.

Pasal 10

Pembangunan bangunan rumah tradisional di Bali menetapkan norma pembangunan


tradisional Bali yang memuat ketentuan bangunan rumah.

Pasal 11

Pembangunan bangunan gedung tradisional fungsi social harus menggunakan norma


pembangunan tradisioal Bali yang memuat ketentuan tentang bangunan social.

Pasal 12

42
Pembangunan gedung yang pengaturnya tidak terdapat dalam norma sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 dapat mengoptimalkan
penerapan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali.

BAGIAN KETIGA
PERSYARATAN ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG NON
TRADISIONAL BALI

Pasal 13

(1) Arsitektur bangunan gedung non tradisional Bali harus dapat menampilkan gaya
arsitektur tradisioal Bali dengan menetapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional
Bali yang selaras, seimbang dan terpadu dengan lingkungan setempat.
(2) Prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
(3) Pembangunan bangunan gedung dengan fungsi khusus yang karena kekhususannya
tidak mungkin menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali, dapat
menampilkan gaya arsitektur lain dengan persetujuan Gubernur setelah mendapat
rekomendasi DPRD.

Pasal 14

(1) Penempatan bangunan dengan masa majemuk, ditata sesuai strktur nilai pembagian
tapak atau mandalanya.
(2) Komposisi massa bangunan majemuk, ditata membentuk suatu halaman utama
sebagai pusat orientasi masa bangunan.

Pasal 15

Desain pagar dan gerbang disepanjang jalan raya dan jalan lingkungan harus menaati
prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali.

Pasal 16

43
Bangunan gedung pemerintah, rumah dinas dan/atau rumah jabatan harus memenuhi
persyaratan arsitektur menurut Peraturan Daerah ini.

A. PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NO 16 TAHUN 2009


Peraturan Daerah Provinsi Bali No 16 Tahun 2009 tentang rencana tata
ruang wilayah provinsi bali tahun 2009-2029 pada Bab VII tentang
arahan pemanfaatan wilayah provinsi pasal 95, mengatur batas
ketinggian umum dan bangunan khusus sebagai berikut:

Pasal 95

(1) Penatagunaan ruang udara sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 91 ayat (2) huruf d, meliputi konsolidasi pengaturan
ruang udara mencakup:
a. jalur penerbangan;
b. frekuensi radio komunikasi;
c. bangunan penunjang telekomunikasi;
d. media elektronik;
e. ketinggian bangunan;
f. pengaturan baku mutu udara; dan
g. pengaturan tingkat kebisingan atau pencemaran.

(2) Arahan pemanfaatan ruang udara sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan mengikuti ketentuan keselamatan dan
keamanan penerbangan, menjaga kesakralan tempat suci dan
menjaga kenyamanan masyarakat, mencakup:
a. struktur dan ketinggian maksimum gedung dan bangunan-bangunan lain
pada kawasan keselamatan operasi penerbangan, batas kawasan
kebisingan dan daerah lingkungan kepentingan bandar udara, harus
mengikuti ketentuan keselamatan dan keamanan penerbangan, serta
dikoordinasikan dengan instansi terkait;

44
b. ketinggian bangunan yang memanfaatkan ruang udara di atas
permukaan bumi dibatasi maksimum 15 (lima belas) meter, kecuali
bangunan umum dan bangunan khusus yang memerlukan persyaratan
ketinggian lebih dari 15 (lima belas) meter, seperti: menara pemancar,
tiang listrik tegangan tinggi, mercu suar, menara-menara bangunan
keagamaan, bangunan-bangunan untuk keselamatan penerbangan,
bangunan pertahanan keamanan, dan bangunan khusus untuk
kepentingan keselamatan dan keamanan umum lainnya berdasarkan
pengkajian dengan memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan
keserasian terhadap lingkungan sekitarnya, serta dikoordinasikan
dengan instansi terkait;
c. lokasi pembangunan bangunan menara penerima dan/atau pemancar
radio, televisi, dan telekomunikasi harus dibangun pada kawasan
budidaya, memberikan rasa aman dan menjamin keselamatan
lingkungan, tidak mengganggu kegiatan keagamaan, kesucian wujud-
wujud sakral yang ada di sekitarnya, yang harus dibangun dan
dipergunakan secara kolektif; dan
d. pengaturan ketinggian penerbangan pesawat tidak boleh lebih rendah
dari 1000 (seribu) feet di atas permukaan tanah, kecuali sesuai prosedur
pendekatan lepas landas pada setiap bandar udara dan kondisi darurat.

(3) Gubernur mengatur dengan Peraturan Gubernur:


a. petunjuk teknis penetapan jalur dan syarat ketinggian penerbangan
untuk kegiatan wisata udara atau olah raga dirgantara; dan
b. pedoman penetapan lokasi pembangunan bangunan menara penerima
dan/atau pemancar radio, televisi, dan telekomunikasi.

45
4.2 Transformasi Arsitektur Bale Kulkul menjadi Air Traffic Control di Bali
ANALOGI SIMBOLIK (SYMBOLIC ANALOGY)
Pada bangunan yang akan di transformasi akan diterapkan analogi simbolik dari bale
kulkul, arsitek menyelesaikan permasalahan dalam desain dengan memasukkan makna
tertentu secara tersirat. Analogi ini merupakan bentuk analogi secara tidak langsung.
Unsur-unsur yang dimasukkan dapat berupa perlambangan terhadap sesuatu, mitologi
lokal, atau simbol lainnya. Pada kasus bale kulkul yang akan di transformasi menjadi air
traffic control konsep yang akan diambil dan dipertahankan dari bale kulkul antara lain:

1. Kepala badan kaki


Tata letak massa bangunan dipengaruhi oleh konsep Tri Angga / Tri
Mandala. Tri Angga memiliki arti tiga bagian dalam tubuh manusia yang terdiri
dari utama angga (kepala), madya angga (badan) dan nista angga (kaki). Konsep
Tri Angga dalam Bhuana Agung disebut dengan Tri Loka atau Tri Mandala.
Konsepsi Tri Angga berlaku dari yang besar (makro) sampai yang terkecil
(mikro). Bila dianggap secara vertikal, maka aplikasi konsep tersebut terdiri dari
utama berada pada posisi teratas / sakral, madya posisi tengah dan nista pada
posisi terendah/kotor.

Utama

Madya

Nista

Arsitektur bangunan Bali pada dasarnya menggunakan konsep ini, nantinya


transformasi bangunan air traffic control akan berusaha menampilkan orientasi
bangunan dengan pembagian kepala badan kaki. Dimana kabin menggambarkan
bagian kepala bangunan, saft menggambarkan bagian badan dan base building
menggambarkan kaki bangunan.

46
2. Bangunan Tinggi dan Berundag
Bale kulkul adalah salah satu bangunan tradisional Bali dengan bentuk
menyerupai menara yang terdapat pada banjar, puri dan pura di Bali. Pada
awalnya kulkul sebagai alat komunikasi digantungkan pada ranting pohon untuk
melindungi dari terik matahari dan hujan, kulkul tersebut diatapi tanpa
memindahkannya dari pohon tersebut. Lambat laun pohon tersebut semakin tua
dan pada akhirnya rebah, sehingga kemudian dibuatkan sebuah bangunan untuk
menyimpan kulkul yang dinamakan bale kulkul. Bale kulkul memiliki tiga jenjang
lantai yang disebut dengan tepas batur dan sari yang berfungsi sekaligus sebagai
pondasi bale kulkul tersebut. Bahan penutup pada bagian bebaturan disesuaikan
dengan daerah setempat sehingga menimbulkan bale kulkul dengan keberagaman
bahannya sesuai dengan karakter daerah dimana bale kulkul itu berada. Pada
dasarnya bale kulkul memiliki bentuk yang menjulang keatas dengan bagian
tepas, batur, palih, dan atap yang semakin keatas memiliki bentuk yang semakin
mengecil. Bentuk bale kulkul saat ini semakin berkembang baik secara vertikal
maupun horizontal berkaitan dengan fungsi baru yang menaunginya.
Pada transformasi air traffic control nantinya akan ditampilkan filosofi
bangunan berundag sesuai bangunan bale kulkul.

3. Alat komunikasi
Sebagai salah satu simbol adat kulkul merupakan sebuah sarana
komunikasi tradisional guna menyampaikan informasi atau suatu peristiwa kepada
masyartakat. Perbedaan pada suara kulkul menandakan perbedaan peristiwa yang
terjadi, dan krama desa pun tanggap mengenain perbedaan suara kulkul tersebut
secara umum kulkul memberikan isyarat tertentu kepada masyarakat. Bale kulkul
sebagai sarana komunikasi berfungsi sebagai pengerahan massa yang dapat
diartikan sebagai suatu pergerakan tenaga. Dengan irama tertentu, suara kulkul
yang didengar oleh krama adat mampu memberikan informasi dan kejelasan suatu
peristiwa yang terjadi dikawasan adat. Bale kulkul merupakan bangunan yang
disakralkan oleh masyarakat pengusungnya, sehingga hanya seorang yang disebut
saya (mangku kulkul) yang dapat memukul kulkul pada puncak bale kulkul
dimana saya ditunjuk oleh kelian adat setempat. Dalam transformasi, air traffic
control juga akan mengambil konsep bale kulkul sebagai alat komunikasi dimana
sistem ATC mengatur lalu-lintas di udara terutama pesawat terbang untuk

47
mencegah pesawat terlalu dekat satu sama lain dan tabrakan. ATCS atau yang
disebut dengan Air Traffic Control System merupakan sistem pengatur lalu lintas
udara yang tugas utamanya mencegah pesawat terlalu dekat satu sama lain dan
menghindarkan dari tabrakan (making separation). Selain tugas separation, ATCS
juga bertugas mengatur kelancaran arus traffic (traffic flow), membantu pilot
dalam menghandle emergency/darurat, dan memberikan informasi yang
dibutuhkan pilot (weather information atau informasi cuaca, traffic information,
navigation information, dll). ATCS adalah rekan dekat seorang Pilot disamping
unit lainnya, peran ATCS sangat besar dalam tercapainya tujuan penerbangan.
Semua aktifitas pesawat di dalam area pergerakan diharuskan mendapat izin
terlebih dahulu melalui ATC, yang nantinya ATC akan memberikan informasi,
instruksi, clearance/izin kepada Pilot sehingga tercapai tujuan keselamatan
penerbangan, semua komunikasi itu dilakukan dengan peralatan yang sesuai dan
memenuhi aturan. Berikut ini adalah tujuan pelayanan sistem lalu lintas udara
yang diberikan oleh ATCS berdasarkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil
(PKPS) bagian 170 :

1. Mencegah tabrakan antar pesawat.


2. Mencegah tabrakan antar pesawat di area pergerakan rintangan di area tersebut.
3. Mempercepat dan mempertahankan pergerakan lalu lintas udara.
4. Memberikan saran dan informasi yang berguna untuk keselamatan dan efisiensi
pengaturan lalu lintas udara.
5. Memberitahukan kepada organisasi yang berwenang dalam pencarian pesawat
yang memerlukan pencarian dan pertolongan sesuai dengan organisasi yang
dipersyaratkan.
Sesuai dengan filosofi bale kulkul sebagai alat komunikasi yang fungsinya
kemudian dikembangkan.

4. Berada di Pusat Desa


Pada awalnya bale kulkul terletak pada zona nista, yakni dipekarangan
pura maupun banjar. Saat ini, banyak ditemui bale kulkul yang perletakkannya
tidak berada di zona nista, dikarenakan perkembangan sistem struktur dan
teknologi bahan. Banyak ditemukan pula bale kulkul yang perletakkannya tidak
berhubungan langsung dengan tanah melainkan terletak diatas bangunan tertentu,

48
dengan fungsi tetap sebagai sarana komunikasi desa, namun diletakkan diatas
bangunan lainnya dimaksudkan untuk memudahkan penyampaian informasi
kepada krama desa.
Sesuai dengan filosifi bale kulkul yang perletakannya harus mendukung
fungsi sebagai alat komunikasi di desa, ATC sendiri harus terletak di pusat lalu
lintas udara bandara. Hal ini bertujuan agar ATC dapat menjangkau 360 derajat ke
seluruh area bandara dan mendukung fungsi ATC sebagai alat komunikasi dan
pusat koordinasi lalulintas udara di bandara.

Hasil Transformasi:

Gambar 4 1 Tampak Atas ATC. Sumber : Dokumentasi Penulis

Hasil Transformasi Bale kulkul menjadi Air Traffic Control berusaha


digambarkan dengan lebih futuristic. Dengan luas base building 400m2 yang berdiri di
atas kaki penopang untuk memberikan daerah resapan dan area terbuka hijau di bawah
bangunan.

49
Gambar 4 2 Tampak ATC. Sumber : Dokumentasi Penulis

Dengan total ketinggian 90 meter, bangunan ATC ini diharapkan dapat


menjangkau seluruh daerah bandara dan memudahkan pengawasan lalu lintas udara atau
Air Traffic Cntrol System.

50
Gambar 4 3 Perspektif. Sumber : Dokumentasi penulis

Analogi dari filosofi bale kulkul secara fisik dapat terlihat dari bentuk base
building yang berundag, dihiasi dengan roof garden untuk menunjukan sisi arsitektur
yang juga ramah lingkungan. Bagian shaft yang menjulang tinggi dengan expose material
kaca di bagian tengah menggambarkan saka bangunan yang menopang atap yang
digambarkan dengan kabin di puncak Menara.

51
Gambar 4 4 Detail Kaki Bangunan. Sumber : Dokumentasi
penulis
Untuk memberi kesan Bali selain dari konsep, pada kaki dan sisi
badan bangunan dihiasi dengan pepatraan. Dibagian kaki dihiasi dengan
patra sesari.

Gambar 4 5 Detail patra mesir. Sumber : Dokumentasi Penulis

Sedangkan dibagian sisi bangunan dihiasi dengan patra mesir yang menerus
hingga ujung shaft lengkap dengan warna merah bata.

52
4.3 Nilai-nilai ATB dan AMK Secara Nirupa dan Rinupa pada Hasil Transformasi
Berdasarkan hasil transformasi yang sudah diperoleh melalui tahapan sebelumnya
maka dapat diidentifikasi nilai-nilai ATB pada AMK bangunan ATC yaitu sebagai
berikut:
A. Filosofi Tri Hita Karana sebagai inti Arsitektur tradisional Bali
B. Tata ruang dan orientasi
C. Tata letak atau seting massa
D. Tata bangunan
a. Sosok bangunan
b. Bentuk bangunan
c. Skala dan proporsi
d. Ornament dan dekorasi
e. Struktur dan bahan

I. FILOSOFI TRI HITA KARANA SEBAGAI INTI ARSITEKTUR


TRADISIONAL BALI
1. Keharrmonisan yang setara antara manusia dengan ruang / bangunan (masih
dalam skala manusia / human scale dan terpenuhinya kebutuhan serta
persyaratan manusia pada ruang / bangunan & lingkungan) Pada bangunan
ini kebutuhan serta persyaratan manusia pada ruang sudah cukup terpenuhi.
Dilihat dari tersedianya segala fungsi pendukung pada bangunan selain dari
fungsi utamanya.
2. Keharmonisan yang setara antara ruang / bangunan dengan lingkungan dan
alam sekitar (tidak dominan terhadap lingkungan dan merusak lingkungan
secara fisik, fisikis dan estetis) pada bangunan ini diusahakan tidak memiliki
ketimpangan dengan bangunan dan area sekitarnya walaupun menjadi
bangunan yang tinggi menjulang.
3. Merupakan suatu Lingkung Bina yang memiliki Atmosphere (suasana dan
karakter) Alam Bali; dan memiliki sebuah house hold temple/tempat suci.
Pada objek ATC ini sudah memenuhi cukup aspek nilai untuk memiliki
tempat suci berupa pelangkiran, namun tidak untuk seluruh ruangan
mengingat fungsi dari beberapa ruangan tidak memadai untuk diletakan
plangkiran seperti bagian kabin yang merupakan area sentral bangunan.

53
II. TATA RUANG DAN ORIENTASI
1. Nilai Ekspresi Tata Ruang pada tingkat Lokal/Desa yaitu : Penerapan
Pembagian Tiga Zona Vertikal (Tri Loka) & Horizontal (Tri Mandala), atau
Kombinasi (Sanga Mandala) atas nilai Hulu - ( Tengah ) Teben.
Mengenai nilai aspek ini, bangunan ATC berusaha menampilkan filosofi
tersebut dengan jelas di bagian base building yang masing menunjang
penerapan aspek tersebut. Mengingat pada bagian kabin dan shaft yang
merupakan area yang standarnya telah ditentukan olehotoritas penerbangan.
2. Pada objek ATC terdapat ruang sentral berupa shaft yang menghubungkan
base building dengan kabin. Mengingat bangunan ini merupakan bangunan
monolit/kompak
3. Orientasi kiblat seperti kaja-klod sudah tidak lagi dapat ditampilkan pada
bangunan ini. Selain bentuk dasar bangunan yang menggunakan bentuk
lingkaran, bangunan ATC juga telah memiliki standar tersendiri.
III. TATA LETAK / SETTING MASSA
1. Gubahan massa objek ATC ini tidak dominan terhadap lingkungan sekitar,
mengingat di area bandara memiliki bangunan dengan ukuran yag lebar dan
besar. Mengingat standar ulas telah ditenukan bagi sebuah ATC maka
bangunan di rekonstruksi menjadi masaa yang monolit/kompak.
2. Bangunan ATC terletak di ruang yang bebas mengingat bangunan ini
membutuhkan jarak pandang yang luas dan tidak terganggu oleh bangunan
lain untuk memenuhi standar. Biasanya bangunan ini memilki posisi berbeda
dengan bangunan lainnya
3. Dengan fungsi bangunan sebagai ATC, bangunan memiliki standar yang
telah ditentukan dan harus menyesuaikan arah dengan lalu-lintas
penerbangan sehingga tidak dapat menyesuaikan dengan arah kiblat
bangunan Bali.
IV. TATA BANGUNAN
1. Sosok Bangunan
a. Pada objek rumah ini sudah menerapkan struktur fisik tri Angga, yaitu tiga
pembagian badan fisik (kepala, badan dan kaki) secara keseluruhan dimana
kabin sebagai kepala, shaft sebagai badan, serta bagian base building
sebagai kaki.

54
b. Bentuk bagian atas dianalogikan sebagai atap limas namun tidak
mengambil fungsi serta aturan atap limas mengingat standar yang telah
mengatur bangunan ATC.
2. Bentuk Bangunan
a. Bentuk dari bangunan objek ATC ini menggunakan bentuk dasar punden
berundak pada bagian base building, serta menganalogikan unsur bentuk
manusia seperti kaki bersila segitiga, badan segi empat dan kepala bulat.
b. Produk bangunan terkesan seperti produk pabrikasi atau tata olah mesin.
Namun kesan handicraft masih terlihat jelas dengan suasana rumah
tradisional bali, yang menggunakan batu bata.
3. Skala dan Proporsi
a. Semua elemen pada bangunan objek ATC ini masih bisa dikatakan masuk
ke dalam skala manusia (human scale) dan proporsi manusia (human
proportion).
b. Gubahan massa memang tidak dominan terhadap lingkungan di sekitarnya,
karena lingkungan sekitar memiliki gaya bangunan yang sama.
4. Ornamen dan Dekorasi
a. Ada dipahatkannya ornamen sebagai representasi Tri Angga di beberapa
bagian bangunan.
b. Dekorasi dan ornamen pada bangunan objek ATC ini hanya dibubuhkan
sebagai aksen tidak ada penggunaan simbol-simbol agama yang
disakralkan pada dekorasi dan ornamennya.
c. Pada objek ATC ini, lingkungan pekarangan tidak dibatasi oleh tembok
penyengke dan angkul-angkul
5. Struktur dan Bahan
a. Bahan bangunan pada objek ATC menggunakan bahan dominan berasal
dari pabrikasi naming tetap berusaha ditampilkan penggunaan bahan
alami.
b. Penggunaan ornamen pada bangunan ini dapat dikatakan cukup harmoni
dengan system struktur dan konstruksi karena ornamen tidak berusaha
mendominasi tampilan bangunan, begitupun sebaliknya.

55
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
ATC merupakan aspek penting dalam sebuah bandara, karena merupakan pusat
informasi serta pengatur lalu lintas udara dari bandara maupun menuju bandara. Oleh
sebab itu ATC merupakan hal yang wajib ada dalam setiap bandara dan harus
memiliki fasilitas serta infrastruktur yang memadai serta menerapkan standar
operasional yang sesuai bagi bangunan Air Traffic Control. Selain memperhatikan
aspek fungsi, nilai-nilai tradisi dan budaya juga harus diperhatikan dalam merancang
sebuah ATC yang ada di Bali. Hal ini bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai
Arsitektur Tradisional Bali agar tetap menjadi ciri khas serta sebagai local genius bagi
Arsitektur yang berkembang di Bali. Indikator yang dapat dijadikan pedoman ATB
dalam merancang antara lain: Konsep Tri Hita Karana pada bangunan tersebut, tata
ruang dan orientasi, tata letak/setting massa, dan tata bangunan.
Pada analisis kali ini, penulis merancang sebuah ATC dengan mentransformasi
dan mengambil unsur-unsur ATB yang ada pada bangunan Bale Kulkul. Metode yang
digunakan adalah metode Analogi dengan membayangkan serta mengambil beberapa
unsur yang sesuai dan dapat diaplikasikan pada bangunan Air Traffic Control.

5.2 Saran
Bedasarkan kesimpulan diatas kita dapat memahami mengenai cara
mentranformasi nilai-nilai ATB pada AMK, dengan begitu diharapkan kedepannya
semakin banyak bangunan-bangunan yang menerapkan konsep dan nilai-nilai ATB
pada AMK yang sesuai perda dan nilai -nilai serta konsep ATB, sehingga arsitektur
bali dapat berkembang seiring dengan perkembangan jaman.

56
DAFTAR PUSTAKA

Dwijendra, Ngakan Ketut Acwin.2009. Arsitektur Tradisional Bali Di Ranah


Publik .Denpasar:CV. Bali Media Adhikarsa.
Gelebet, I Nyoman., Meganada, I Wayan., Negara, I Made., Suwirya, I Made.,
dan Surata, I Nyoman. 1982. Arsitektur Tradisional Daerah Bali.Denpasar:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ardika, I Wayan. Dinamika Kebudayaan Bali. Denpasar: PT. Upada
Sastra, 1996. Bing, Agus. Negarakretagama: Sebuah Festival. Dalam harian
Jawa Pos. 20 Juni 2010.
Cobley, Paul, dan Litza Jansz. 2002. Mengenal Semiotika For Beginners.
Bandung: Mizan Media Utama.
Zoest, Aart van. 2003. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang
Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
--------------------------, dan Panuti Sudjiman. 1992. Serba-serbi Semiotika. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Internet:
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1609&I
temid=29
http://202.138.226.22/wanus_v2/public/images/peninggalan/artikel/kulkul01.jpg
http://www.google.co.id/imglanding?q=kulkul%20bali&imgurl=http://www.balif
otografer.com
http://ayupiyul.blogspot.co.id/2014/03/air-traffic-control-system.html. 9 Mei
2017.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pemandu_lalu_lintas_udara. 9 Mei 2017.
LAMPIRAN