Anda di halaman 1dari 5

TUGAS INDIVIDU

MANAJEMEN MARIKULTUR

BUDIDAYA IKAN SEBELAH (Psettodes erumeri)

OLEH :

NAMA : ANDI SYARI RAMDHANI

NIM : L221 14 504

KELAS : MANAJEMEN MARIKULTUR B

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
A. Taksonomi
Menurut (Kotellat et al, 1993) dan (Saanin, 1984) dalam (Setiarbi,

2013) klasifikasi ikan sebelah adalah sebagai berikut :


Kingdom : Animalia
Kelas : Pisces
Ordo : Pleuronectiformes
Famili : Psettodidae
Genus : Psettodes
Spesies : Psettodes erumeri

B. Morfologi dan habitat


bentuk badan pipih (lateral), mulut lebar posisi terminal dan kedua

mata berada pada satu sisi tubuh bagian atas. Ikan ini berenang di atas

dasar, kadang menyembunyikan diri di dasar pasir atau pasir berlumpur

termasuk ikan predator, jenis makanan ikan kecil dan Benthos. Warna

umumnya coklat kemerahan. Umumnya ditangkap pada ukuran 50 cm,

namun bisa mencapai panjang 64 cm. Sebutan ikan sebelah berasal dari

tiga famili, ialah: Bothidae, Psettodidae, dan Paralichthydae. Spesies

yang paling umum adalah Psettodes erumei. Nama lokal yang banyak

digunakan ialah : Beteh, Grobiat, Lewe, kalankan, Pila-Pila, Sisa Nabo,

Tipo, Togok (Wiadnya dan Setyohadi, 2014).


Bentuk asimetris yang ada pada Ikan Sebelah merupakan hasil

evolusi tengkorak flatfish secara bertahap. Hal ini diperkuat dengan

ditemukannya fosil ikan bermata aneh dari perairan Eropa Kuno. Fosil ini

diperkirakan hidup 50 juta tahun lalu, dengan satu mata di atas kepalanya

dan satunya berada di sebelahnya. Bentuk asimetris ini memungkinkan

mereka untuk berbaring datar di dasar laut sambil menunggu mangsanya.

Fosil ikan sebelah juga ditemukan di museum di Inggris, Perancis, Italia

dan Austria. Ikanikan tersebut tinggal di perairan dangkal yang hangat di

Eropa pada Zaman Eocene Epoch ketika dunia masih beriklim sedang,

serta ikan paus dan burung-burung modern baru pertama kali berevolusi

(Triyatna, 2013).
Habitat ikan sebelah termasuk ikan demersal, berenang di atas

dasar atau menyembunyikan diri di dasar. Tipe substrat yang digemari

terutama pasir dan berlumpur ikan sebelah paling banyak ditemukan di

wilayah perairan Utara Jawa, Selatan Kalimantan, Sumatera sampai

Papua (Wiadnya dan Setyohadi, 2014).

C. Tingkat kematangan gonad


Penentuan TKG ikan Sebelah dilakukan melalui pengamatan

secara morfologis menggunakan nilai TKG yang dikemukakan oleh

Kesteven (Effendie, 2002) dalam (Adela dkk., 2016) :

D. Teknik Produksi Benih


Dalam teknik memproduksi benih terdapat 2 cara yaitu secara

intensif atau secara ekstensif. Pembenihan secara ekstensif sendiri

dilakukan dengan menyediakan tank dengan ukuran besar dan

menyediakan pakan alami di dalam bak tersebut yang sekaligus sebagai

tempat untuk pembenihan. Hal ini memiliki keuntungan yaitu dengan

meminimalkan adanya tenaga yang dibutuhakan untuk merawatnya tetapi

produksi dari benih sendiri tidak terkontrol. Sementara untuk budidaya

intensif dialukan dengan memisah antara tempat pembenihan dengan


tempat budidaya pakan alami, sehingga dapat dilakukan adanya kontol

untuk benih-benih (Bachruddin, 2013).

E. Budidaya Hatchery
Pasokan air laut dipompa dengan pompa submersible yang

dialirkan menuju tangki pengendapan. Hal ini kemudian dipompa lagi ke

waduk konkret dalam posisi yang lebih tinggi yang bertujuan

untuk memungkinkan aliran gravitasi untuk penetasan. Arus diatur

dengan pompa sentrifugal. air disaring melalui saringan pasir bertekanan

dan kemudian dipanaskan atau tergantung pada suhu yang diperlukan.

Awal larva suhu pemeliharaan harus mirip dengan suhu inkubasi akhir.

Dalam kasus apapun, sebelum digunakan, air harus dilalui melalui kolom

degassing untuk menghindari masalah dari jenuh. Sebuah UV kuman

Lampu ditempatkan pada inlet air hatchery. Dalam penetasan, suhu air

diatur baik oleh air inflow dan dengan pendingin udara (Bachruddin,

2013).

DAFTAR PUSTAKA

Adela, S., A. Ghofar, dan Djuwito. 2016. Komposisi Ikan yang Tertangkap
dengan Cantrang Serta Aspek Biologi Ikan Sebelah (Psettodes
erumei) di TPI Asemdoyong, Pemalang. Diponegoro Journal Of
Maquares Management Of Aquatic Resources. Volume 5. Nomor 1.
Halaman 52-61.
Bachruddin, I. 2013. Culture of Turbot (Scopthalmus maximus). Online pada
(http://imambahruddin.blogspot.co.id). Diakses pada Kamis, 16 Maret
2017.
Setiarbi, B. 2013. Ikhtiology. Online pada (https://www.slideshare.net). Diakses
pada Rabu, 15 Maret 2016
Triyatna, S. 2013. Ikan Sebelah. Online pada
(http://subhantriyatnas11u.student.ipb.ac.id). Diakses pada Rabu, 15
Maret 2016.
Wiadnya, D. G. R. dan D. Setyohadi. 2014. Sumberdaya Ikan. Universitas
Brawijaya. Malang.