Anda di halaman 1dari 8

TASAWUF , SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

Ibn Al-Khaldun di dalam Mukadimah-nya menulis, Ilmu ini (yakni tasawuf) salah satu
ilmu syariat baru di dalam agama Islam. Sebenarnya, metode kaum ini (kaum sufi) telah
ada sejak masa para sahabat, tabiin dan ulama-ulama penerusnya, sebagai jalan
kebenaran dan petunjuk, karena inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan
hubungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi,
meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan
mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah. Praktek ini populer di kalangan para
sahabat dan ulama terdahulu. Ketika tren mengejar dunia menyebar di abad kedua dan
setelahnya, manusia mulai tenggelam dalam kenikmatan duniawi, orang-orang yang
menghususkan diri mereka kepada ibadah disebut sufi.

Ada sebagian orang bertanya, adakah istilah tasawuf pada zaman Rasulullah Saw? Tentu
jawabannya tidak ada. Sebab, penamaan cabang-cabang ilmu syariat belum ada pada
zaman Rasulullah Saw, tetapi praktek cabang-cabang ilmu tersebut sudah ada sejak
zamannya. Misalnya ilmu tafsir, penamaannya baru populer setelah abad ke-2 H yang
dipelopori oleh para penulis perdana dalam cabang ilmu ini seperti, Syubah bin Hajjaj,
Sufyan bin Uyainah dan Waki bin Jarah, padahal praktek penafsiran sudah ada sejak
zaman Rasulullah Saw. Begitu juga ilmu tasawuf dan cabang-cabang ilmu syariat yang

Meski tidak ada istilahnya pada zaman Nabi, namun benih – benih tasawuf sudah ada
sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa
dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi
Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana
Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan
khalwat. Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalahkehidupan para sahabat Nabi yang
berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh
sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak dapat
mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi di
abad – abad sesudahnya.
Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II
H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya.
Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan
sampai masa – masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak
terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani
Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem
pemerintahan monarki, khalifah – khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman
– kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang
paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa
terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata
mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani
Umayyah yang tak henti – hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa
menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada
pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun
(kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka
mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin
oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.

Di samping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi.


Hal ini mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama
masyarakat Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum
muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayyah memegang tampuk
kekuasaan,hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalangan
istana.Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi
kehidupan Nabi SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan
raja – raja Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M),
dikenal sebagai seorang pemabuk. Dalam sejarah, Yazid dikenal sebagai seorang
pemabuk. Dalam situasi demikian kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban
menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh,dan tidak tenggelam
dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia
melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam
kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan sosial dalam Islam.

Dari perubahan –perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat
kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW para sahabatnya. Mereka mulai
merenggangkan diri dari kehidupan mewah.Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar
luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau
karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau
nasik (jamak : nussak)

Sebagai Disiplin Ilmu


Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat
pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid Al
Busthami. Praktik – praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama
Islam yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang
disebutkan di atas.

Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke dalam


beberapa tahap :

Tahap Zuhud (Asketisme)


Tahap awal perkembangan tasawuf dimulai pada akhir abad ke-1H sampai kurang lebih
abad ke-2H.

Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan Basrah kemudian menyebar
ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para
pembesar negara akibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah Islam mengalami
perluasan wilayah ke Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.

Tokoh-tokohnya menurut tempat perkembangannya :


1. Madinah
Dari kalangan sahabat Nabi Muhammad Saw, Abu Ubaidah Al Jarrah (w. 18 H); Abu
Dzar Al Ghiffari (W. 22 H); Salman Al Farisi (W.32 H); Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H);
sedangkan dari kalangan satu genarasi setelah masa Nabi (Tabi’în) diantaranya, Said ibn
Musayyab (w. 91 H); dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H).

2. Basrah
Hasan Al Bashri (w. 110 H); Malik ibn Dinar (w. 131 H); Fadhl Al Raqqasyi, Kahmas
ibn Al Hadan Al Qais (w. 149 H); Shalih Al Murri dan Abul Wahid ibn Zaid (w. 171 H)

3. Kufah
Al Rabi ibn Khasim (w. 96 H); Said ibn Jubair (w. 96 H); Thawus ibn Kisan (w. 106 H);
Sufyan Al Tsauri (w.161 H); Al Laits ibn Said (w. 175 H); Sufyan ibn Uyainah (w. 198
H).

4. Mesir
Salim ibn Attar Al Tajibi (W. 75H); Abdurrahman Al Hujairah ( w. 83 H); Nafi, hamba
sahaya Abdullah ibn Umar (w. 171 H).

Pada masa-masa terakhir tahap ini, muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sufi sejati,
diantaranya, Ibrahim ibn Adham (w. 161 H); Fudhail ibn Iyadh (w. 187 H); Dawud Al
Tha’i (w. 165 H) dan Rabi’ah Al Adawiyyah.

Tahap Tasawuf (abad ke 3 dan 4 H )


Paruh pertama pada abad ke-3 H, wacana tentang Zuhud digantikan dengan tasawuf.
Ajaran para sufi tidak lagi terbatas pada amaliyah (aspek praktis), berupa penanaman
akhlak, tetapi sudah masuk ke aspek teoritis (nazhari) dengan memperkenalkan konsep-
konsep dan terminology baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti, maqam, hâl,
ma’rifah, tauhid (dalam makna tasawuf yang khas); fana, hulul dan lain- lain.

Tokoh-tokohnya, Ma’ruf Al Kharkhi (w. 200 H), Abu Sulaiman Al Darani (w. 254 H),
Dzul Nun Al Mishri (w. 254 H) dan Junaid Al Baghdadi.
Muncul pula karya-karya tulis yang membahas tasawuf secara teoritis, termasuk karya Al
Harits ibn Asad Al Muhasibi (w. 243 H); Abu Said Al Kharraz (w. 279 H); Al Hakim Al
Tirmidzi (w. 285 H) dan Junaid Al Baghdadi (w. 294 H)

Pada masa tahap tasawuf, muncul para sufi yang mempromosikan tasawuf yang
berorientasi pada “kemabukan” (sukr), antara lain Al Hallaj dan Ba Yazid Al Busthami,
yang bercirikan pada ungkapan – ungkapam ganjil yang sering kali sulit untuk dipahami
dan terkesan melanggar keyakinan umum kaum muslim, seperti “Akulah kebenaran”
(Ana Al Haqq) atau “Tak ada apapun dalam jubah-yang dipakai oleh Busthami selain
Allah” (mâ fill jubbah illâ Allâh), kalau di Indonesia dikenal dengan Syekh Siti Jenar
dengan ungkapannya “Tiada Tuhan selain Aku”.

Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke 6 H)


Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan
mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama
aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al
Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini.

Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfân (Gnostisisme) karena orientasinya pada
pengetahuan (ma’rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.

Tahap Tarekat ( Abad ke-7 H dan seterusnya )


Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnya, seperti tarekat Junaidiyyah yang
didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah yang
didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), baru pada masa-masa ini
tarekat berkembang dengan pesat.

Seperti tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dari
Jilan (Wilayah Iran sekarang); Tarekat Rifa’iyyah didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H)
dan tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H).
Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas, tarekat ini sekarang telah
memiliki banyak variasi , pada mulanya didirikan di Bukhara oleh Muhammad
Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi

Tasawuf Di Abad Modern

Indonesia sebagai salah satu Negara di dunia kini telah digempur dengan berbagai krisis
dan permasalahan yang telah merambah ke berbagai lini kehidupan. Dari dulu hingga
kini dan entah sampai kapan krisis yang sudah multidimensi tersebut dapat dikikis atau
bahkan dihapuskan. Gundukan kecil krisis kehidupan yang pernah terbentuk kini telah
menjadi gunung sebagai akumulasi proses pembiakan selama bertahun-tahun. Tasawuf
dalam hal ini kiranya dapat dijadikan sebagai senjata dalam melawan gempuran krisis
yang telah merambah dalam berbagai dimensi kehidupan yang sampai kini terus melilit
bangsa Indonesia.
Budhy Munawar Rachman (1998) dalam salah satu tulisannya menyatakan bahwa
dalam wacana kontemporer, tasawuf telah menjadi obat dalam mengatasi krisis
kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak
mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan
atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan, dan membuat
penderitaan batin. Mata air tasawuf yang sejuk kiranya dapat memberikan penyegaran
dan penyelamatan pada manusia-manusia yang terasing itu.

Agar gerakan sosial tasawuf dapat merambah dalam kehidupan masyarakat, maka
harus dimahami kultur lokal yang ada. Kesan bahwa tasawuf yang elitis dan egois dengan
mengedepankan atau menunjukkan simbol-simbol seperti memakai jubah, berjanggut
panjang kiranya harus didekonstruksi. Tasawuf perlu mengakomodasi budaya lokal yang
ada, terutama didaerah yang sangat kental budaya lokalnya. Jika tasawuf tidak didukung
oleh budaya lokal karena dianggap tidak berbanding lurus dengan budaya yang telah ada,
maka tasawuf akan terasa kering. Namun jujur harus diakui bahwa ada budaya yang baik
dan juga ada budaya yang rusak, dalam hal ini perlu dilakukan filterisasi budaya lokal.
Yang masuk dalam kategori budaya rusak harus diperbaiki sedikit-demi sedikit dan
diarahkan kepada yang lebih baik. Toleransi terhadap budaya lokal menjadi salah satu
kunci keberhasilan dari tasawuf dalam melakukan gerakan-gerakan sosial dimasyarakat
yang memilik budaya lokal sangat kuat.

Mewujudkan serangkaian cita-cita tersebut diatas, oleh Budhy Munawar


Rachman bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang
menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa
disebut di sini; seperti pertemuan tasawuf dengan fisika dan sains modern yang holistik,
yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugas-tugas utamanya di
muka bumi; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya
kesinambungan alam ini dengan keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham
kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan
kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal tetapi lebih-lebih
ruhani, disini tasawuf memberikan visi keruhanian untuk kedokteran; pertemuan tasawuf
dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan
interdisipliner yang intinya sama. Semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf
dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal yang individualistis, tetapi juga
merambah dalam ranah etika global. Untuk itu maka tasawuf perlu diwujudkan dalam
cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana
nilai-nilai tasawuf itu dapa tmenjadi way of life.

Dengan demikian maka tasawuf bukan hanya dalam ranah transenden, namun
juga masuk dalam wilayah sosial. Hal ini selaras dengan gagasan Prof. Dr. H.M. Amin
Syukur, MA yang menawarkan tasawuf sosial. Yang dimaksud dengan Tasawuf Sosial di
sini ialah tasawuf yang tidak memisahkan antara hakikat dan syari'at (fikh) dan pula
bekecimpung dalam hidup dan kehidupan duniawi, tidak memisahkan antara dunia dan
akhirat. Tasawuf sosial bukan tasawuf isolatif, tetapi aktif ditengah-tengah pembangunan
masyarakat, bangsa dan Negara sebagai tuntutan tangggung jawab sosial tasawuf pada
awal abad XXI ini. Tasawuf sosial bukan lagi bersifat uzlah dari keramaian, namun
sebaliknya, harus aktif mengarungi kehidupan ini secara total, baik dalam aspek sosial,
politik, ekonomi, dan sebagainya. Oleh Karena itu, peran sufi seharusnya lebih empirik
dan fungsional dalam menyikapi dan memandang kehidupan ini secara nyata. (Prof. Dr.
H.M. Amin Syukur, MA, 2004).

*Tulisan ini disusun dari berbagai sumber oleh M. Mahbub Maulana 16 Juni 2010