Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesetimbangan memiliki arti bahwa suatu keadaan dimana tidak tejadi
perubahan secara makroskopik pada suatu materi terhadap waktu.

1.2 Tujuan Percobaan


Percobaan distilasi kesetimbangan uap cair dilakukan dengan tujuan
seperti berikut ini :
Mendapatkan besaran parameter pada persamaan Margules, Van Laar,
Wilson, NRTL, dan UNIQUAC.
Menguji konsistensi thermodinamika dalam kesetimbangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan
Secara umum kesetimbangan uap cair adalah suatu kondisi diaman
tidak terjadi perubahan propertis fase uap maupun cair secara makroskopik
dalam suatu sistem terhadap waktu. Hal ini berarti bahwa tidak ada perubahan
sifat sifat suatu material terhadap waktu. Dan secara tidak langsung hal
tersebut menyatakan bahwa kesetimbangan dari semua potensial yang bisa
menyebabkan perubahan pada sistem.
Sistem terisolasi yang terdiri dari fase uap dan fase cair yang berkontak
pada akhirnya akan mencapai kondisi akhir dimana ada kecenderungan ada
perubahan yang terjadi dalam sistem. Suhu, tekanan, dan komposisi tiap fase
mecapai nilai akhir yang kemudian akan stabil atau tetap. Kondisi tersebut
yang disebut kondisi kesetimbangan. Namun pada tingakt mikroskopik,
kondisi uap dan cairan tidak berada pada kondisi yang statis. Molekul pada
suatu fase tertentu tidak selalu molekul yang sama pada fase yang sama.
Molekul dengan kecepatan tinggi memiliki kekuatan untuk menjadi fase yang
lain namun tidak terjadi transfer massa ( Van Ness, 2005 ).
Dalam kondisi nyata, keadaan setimbang hampir tidak pernah tercapai.
Semakin dekat dengan titik kesetimbangan suatu proses maka laju prosesnya
semakin lambat hingga mendekati nol. Jadi, sebenarnya titik kesetimbangan
bisa tercapai hanya secara teoritis dalam waktu yang tak terhingga. Saat titik
kesetimbangan tercapai maka kecepatan molekul campuran membentuk fase
uap sama dengan kecepatan molekul membentuk fase cair kembali. Sehingga
laju evaporasi sebanding dengan laju kondensasinya.
Untuk sistem biner, kesetimbangan uap cair yang ditinjau adalah sistem
yang terdiri dari dua komponen pada tekanan atmosfer. Dimana
kesetimbangan termodinamika merupakan distribusinya komponen
komponen dalam semua fase pada suhu, tekanan, dan fugasitas tertentu, suhu
dan fugasitas masing - masing komponen dalam semua fase yang berada
dalam keadaan kesetimbangan.

2.2 Kurva Kesetimbangan


Salah satu cara untuk membuat kurva kesetimbangan yaitu dengan
menggunakan Hukum Roult.
Berdasarkan Hukum Roult untuk larutan ideal dan biner.
PA = X1.P0A....................................(2-1)
Dimana :
PA = Tekanan Parsial Komponen A dalam uap
X1 = Mol fraksi Komponen A dalam liquid
P0A = Tekanan Uap murni komponen A pada suhu yang sama.

2.3 Larutan Ideal dan non Ideal

Gas ideal tidak memiliki gaya intermolekul dalam gas tersebut. Larutan
ideal berarti semua gaya intermolekul baik gaya intermolekul pada molekul -
molekul sejenis (misal pelarut- pelarut) atau pada molekul yang tidak sejenis
(misal pelarut - zat terlarut) adalah sama.
Salah satu sifat larutan yang penting adalah tekanan uap suatu komponen
yang terdapat dalam larutan tersebut pada permukaan larutan. Mengetahui
besarnya kecenderungan suatu komponen untuk menguap yang berarti keluar dari
larutan dapat diduga gaya - gaya intermolekul apa yang bekerja di dalam larutan.
Mempelajari kecenderungan untuk menguap atau tekanan uap parsial sebagai
fungsi dari suhu dan konsentrasi (Bird, 1993:179).
Syarat dari larutan ideal adalah sebagai berikut :
1. Homogen pada seluruh sistem mulai dari mol fraksi 0 - 1.
2. Tidak ada entalpi pencampuran pada waktu komponen-
komponen dicampur membentuk larutan ( H pencampuran = 0 ).
3. Tidak ada beda volume pencampuran, artinya volume larutan
sama dengan jumlah komponen yang dicampurkan ( V pencampuran = 0 ).
4. Memenuhi Hukum Roult :
P1 = X1.P0....................................(2-2)
Dimana :
P1 = tekanan uap larutan
X1 = mol fraksi larutan
Po = tekanan uap solven murni
Pada kenyataannya tidak ada larutan yang benar-benar ideal dan campuran
yang sebenar - benarnya mendekati ideal.
Larutan non ideal dibagi dua golongan, yaitu :
1. Larutan non ideal deviasi positif yang mempunyai volume ekspansi,
dimana akan menghasilkan titik didih maksimum pada sistem campuran itu.
Contoh : sistem aseton - karbon disulfide dan sistem HClair.
2. Larutan non ideal deviasi negatif yang mempunyai volume kontraksi,
dimana akan menghasilkan titik didih minimum pada sistem campuran itu.
Contoh : sistem benzene-etanol dan asetonkloroform.
(Tim Penyusun, 2011:5).

2.4 Azeotrop

Azeotrop (constant boiling mixtures) adalah campuran dengan komposisi


yang konstan pada tekanan tertentu. Jika tekanan total diubah, baik titik didih
maupun komposisi azeotrop juga akan berubah. Azeotrop bukan merupakan suatu
senyawa pasti yang komposisinya konstan pada seluruh range temperatur dan
tekanan, tetapi merupakan suatu campuran yang dihasilkan dari interaksi gaya
intermolekuler dalam larutan. Kondisi ini terjadi karena ketika azeotrop di
didihkan, uap yang dihasilkan juga memiliki perbandingan konsentrasi yang
sama dengan larutannya semula akibat ikatan antar molekul pada kedua
larutannya. (Maron, 1974)

2.5 Kesetimbangan
Kesetimbangan mengandung pengertian bahwa suatu keadaan dimana
terjadi perubahan sifat makrokopis dari sistem terhadap waktu. Untuk material
dalam jumlah tertentu hal tersebut dapat diartikan tidak ada perubahan sifat
material tersebut dengan waktu. Keadaan setimbang yang sebenarnya barangkali
tidak pernah tercapai. Suatu proses berlangsung karena ada gaya penggerak dan
selalu menuju ke titik kesetimbangan. Gaya ini merupakan selisih antara potensi
pada keadaan seketika dan keadaan setimbang. Semakin dekat kaeaadan sistem
dengan titik kesetimbangn, semakin kecil gaya penggerak proses semakin kecil
pula laju proses dan akhirnya sama dengan 0 bila titik kesetimbangan sudah
tercapai.
Jadi titik kesetimbangan hanya bisa tercapai secara teoritis dalam waktu
yang tak terhingga. Pada prakteknya di dalam pekerjaan ilmiah suatu
kesetimbangan dianggap tercapai bila tidak ada lagi perubahan sifat/keadaan
seperti yang ditunjukkan oleh alat pengukur yang digunakan. Di dalam masalah
rekayasa kesetimbangan dianggap ada bilamana sifat yang ditunjukkan oleh
praktek sama dengan sifat yang dihitung berdasarkan metode yang menggunakan
anggapan kesetimbangan. Contoh komposisi pada pelat distilasi dibanding
dengan komposisis pelat teoritis.

2.6 Kriteria Kesetimbangan


Yang dimaksud di sini bukan sekedar kriteria yang berupa kesetimbangan
termal dan mekanikal secara internal yang biasa kita terjemahkan sebagai
berlakunya T dan P yang uniform, melainkan pembatasan-pembatasan
termodinamika pada sistem dengan fasa banyak dan komponen banyak yang
mengalami keadaan kesetimbangan. Sekalipun sudah ada kesetimbangan termal
dan mekanikal dalam sistem demikian masih dimungkinkan perpindahan massa
antar fasa. Jadi kriteria yang dimaksudkan di sini termasuk kesetimbangan antar
fasa ditinjau dari segi kemungkinan perpindahan antar fasa tersebut. Kriteria ini
pertama kali diturunkan oleh Gibbs.
Komposisi uap yang dalam kesetimbangan dengan campuran air, dengan
mengetahui sifat-sifat itu (khususnya energi Gibbs) bergantung pada komposisi.
Pengaruh temperatur yang pokok pada kesetimbangan uap-cair terdapat dalam
tekanan uap komponen murni atau lebih tepatnya dalam fugasitas zat cair
komponen murni. Sementara koefisien aktivitas bergantung pada temperatur
sebagaimana halnya komposisi. Ketergantungan itu, biasanya kecil bila
dibandingkan dengan ketergantungan tekanan uap zat cair murni pada temperatur.
Dalam suatu campuran, kenaikan temperature C meningkatkan tekanan uap zat
cair sebesar 1,5 - 2 kali. Oleh karena itu, pada perubahan temperatur yang besar
lebih mudah bila pengaruh temperatur terhadap gE diabaikan saja ketika
menghitung kesetimbangan uap-cair.
Pada suhu-suhu rendah yang terdapat adalah fase cair. Setelah suhu naik,
fase uap mulai muncul, kemudian jumlahnya secara relatif bertambah dan
akhirnya menghilang kembali. Akan tetapi, bila tekanan dinaikkan pada suhu
tetap sedikit di atas suhu kritis C bagi komposisi yang bersangkutan. Demikian
tekanan dinaikkan, pengembunan mulai terjadi dan masih akan berlanjut bila
tekanan dinaikkan sedikit lagi, tetapi penambahan tekanan lebih lanjut akan
mengakibatkan cairan mulai menguap kembali dan cairan akan menghilang bila
tekanan dinaikkan. Fraksi mol suatu komponen di dalam fase uap larutan
mengikuti Hukum Roult.
Dimisalkan bahwa sistem multi komponen yang tertutup yang terdiri dari
sejumlah fasa mempunyai temperatur dan tekanan yang uniform, akan tetapi pada
keadaan awal tidak setimbang ditinjau dari segi perpindahan massa. Setiap
perubahan yang terjadi mesti bersifat irreversible, yang mendekatkan sistem itu
kekeadaan setimbang. Sistem itu dibayangkan sebagai dikelilingi keadaan yang
selalu setimbang secara termal dan mekanikal dengan sistem itu (sekalipun
perubahan terjadi dalam sistem). Karenanya pertukaran panas dan pemuaian kerja
antar sistem dan sekeliling terjadi secara reversible.

2.7 Kesetimbangan Uap dan Cair


Dalam sebuah campuran dua fasa uap-cair pada kesetimbangan, suatu
komponen dalam fasa berada dalam kesetimbangan dengan komponen yang sama
dalam fasa lain. Hubungan kesetimbangan tergantung kepada suhu, tekanan, dan
komposisi campuran tersebut. Ketika termodinamika diterapkan untuk
kesetimbangan uap-cair, tujuannya adalah menemukan
temperature, tekanan, dan komposisi fasa dalam kesetimbangan
dengan perhitungan. Sesungguhnya, termodinamika
menyediakan ruang lingkup kerja matematis untuk hubungan
sistematis, ekstensi, generalisasi, avaluasi, dan interpretasi data.
Lebih dari itu, ini berarti dengan prediksi berbagai teori fisika
molekular dan mekanik statistik dapat diterapkan untuk tujuan
praktis. Tak satupun ini dapat diselesaikan tanpa model untuk
prilaku sistem dalam kesetimbangan uap cair. Dua model yang
paling sederhana adalah Hukum Raoult dan Hukum Henry.
Secara umum kesetimbangan uap cair dapat dikatakan sebagai suatu
kondisi dimana tidak terjadi perubahan secara makroskopik terhadap waktu, yang
berarti juga tidak ada perubahan sifat sifat dari suatu materi terhadap waktu.
Dan secara tidak langsung menyatakan kesetimbangan dari semua potensial yang
dapat menyebabkan perubahan sistem.
Untuk sistem biner, kesetimbangan uap cair (VLE) yang ditinjau adalah
sistem yang terdiri dari dua komponen pada tekanan atmosfer. Dimana
kesetimbangan termodinamika merupakan terdistribusinya komponen
komponen dalam semua fase pada suhu, tekanan dan fugasitas tertentu, sehingga
akan ada kesamaan tekanan, suhu dan fugasitas dari masing masing komponen
dalam semua fase yang berbeda dalam kesetimbangan.
yi i P = xi i i ....................................(2-3)
Jika fase uap cair berada dalam kesetimbangan maka :
1V = 1L ; TV = TL ; PV = PL ..............(2-4)
Fugasitas untuk masing masing komponen tersebut dapat dinyatakan
dengan
1V = yi i P ; 1L = xi i i ...................(2-5)
Untuk kesetimbangan tekanan rendah nilai koefisien fugasitas adalah 1
sehingga persamaan dapat ditulis :
yi P = xi i i ..........................................(2-6)
Nilai i memiliki hubungan tertentu terhadap suhu dan konsentrasi dan
persamaan untuk menyatakannya dibuat dengan persamaan Margules, Van Laar,
Wilson, NRTL, UNIQUAC dan persamaan lainnya. Ada beberapa cara dalam
pembuatan data kesetimbangan :
Hukum Raoults
Dua asumsi utama yang diperlukan untuk mereduksi
perhitungan VLE terhadap hukum Raoult adalah:
Fasa uap adalah gas ideal
Fasa cair adalah larutan ideal
Asumsi pertama berarti bahwa hukum Raoult dapat
diterapkan untuk tekanan rendah sampai menengah. Penerapan
kedua bahwa ini memiliki perkiraan validitas hanya ketika
komponen yang menyusun sistem sama secara kimia. Hanya
saja sebagai gas ideal yang menjalani prilaku seperti prilaku gas
nyata pada keadaan standar yang dapat diperbandingkan,
larutan ideal merepresentasikan perilaku menuju perilaku larutan
nyata yang dapat diperbandingkan. Perilaku larutan ideal sering
diperkirakan dengan fasa cair dimana larutan/komponen
molekular tidak terlalu berbeda dalam ukuran dan sifat kimianya
sama.
Oleh Karena itu, campuran isomer, seperti orto-, meta-,
dan para-xylena, sangat memenuhi terhadap perilaku larutan
ideal. Begitu juga campuran anggota deret homolog seperti, n-
heksan/nheptan, etanol/propanol, dan benzene/toluen. Contoh
lain adalah aseton/asetonitril dan asetonitril/nitrometan.
Ekspresi matematis yang merefleksikan dua daftar asumsi dan
memberi ekspresi kuantitatif terhadap hukum Raoult adalah:
yiP = xiPsat ........................................................................................ (2-7)
dimana xi adalah mol fraksi fase cair, yi adalah mol fraksi fase

uap dan Psati adalah tekanan uap murni larutan i pada


temperature sistem. Produk yi P pada sisi kiri dikenal sebagai
tekanan parsial larutan i.
Model sederhana untuk VLE persamaan (2-7) menyediakan
deskripsi realistis prilaku aktual untuk kelas sistem yang relatif
kecil. Namun demikian, ini berguna untuk menampilkan sistem
yang lebih kompleks. Batasan hukum Raoult adalah bahwa ini
dapat diterapkan hanya terhadap larutan untuk yang tekanan
uapnya diketahui dan ini memerlukan bahwa larutan adalah
subkritikal, yaitu temperature aplikasi di bawah temperature
kritis larutan. Penampakan penting dan berguna hukum Rault
adalah bahwa hal ini valid untuk beberapa larutan yang ada
pada kesatuan pendekatan fraksi mol
Hukum Raoults untuk larutan ideal dan sistem biner (A dan B) adalah:
YA = PA / P = PA . XA / P.........................(2-8)
Dimana:
PA = tekanan parsial komponen A dalam fase uap.
PB = tekanan parsial komponen B dalam fase uap.
PA0 = tekanan uap murni komponen A.
PB0= tekanan uap murni komponen B.
XA= fraksi mol komponen A dalam fase liquid
YA = fraksi mol komponen B dalam fase uap.
Relative Volatility
Data kesetimbangan dapat dinyatakan relative volatility sebagai berikut :
y = . / 1 + ( 1)..........................(2-9)
Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung koefisien aktivitas
fase cair yang berlaku untuk larutan non ideal adalah:
yi . P = xi . i . Psat ................................(2-10)
Koefisien aktifitas fase cair bisa dikorelasi menggunakan persamaan Van
Laar, Wilson, NRTL dan UNIQUAC. Van Laar mengemukakan model energi
Gibbs dengan persamaan yang diturunkan dengan persamaan sebagai berikut :
GE / R.T.x1.x2 = [A12 . A21/ A12.x1 + A21.x2]..............(2-11)
ln 1 = A12[ 1+( A12.x1 / A21.x2)]-2 .............................(2-12)
ln 2 = A21[ 1+( A21.x2 / A12.x1)]-2 .............................(2-13)
(Introduction to chemical engineering thermodynamics 6thed, J. M. Smith,
H. C. Van Ness, M. M. Abbott hal 433)
Wilson mengemukakan model matematika energi Gibbs dengan
persamaan yang diturunkan dengan persamaan sebagai berikut :
GE / RT = x1 ln(A12.x2+x1) x2 ln (A21.x1+x2)...................................(2-14)
ln 1 = - ln(x1+ A12.x2)+x2[(A12/ x1+ A12.x2) (A21/ x2+ A21.x1)].......(2-15)
ln 2 = - ln(x2+ A21.x1)+x1[(A12/ x1+ A12.x2) (A21/ x2+ A21.x1)].......(2-16)
(Introduction to chemical engineering thermodynamics 6thed, J. M. Smith,
H. C. Van Ness, M. M. Abbott hal 434)
Renon dan praunitz mengembangkan persamaan NTRL yang mengandung
tiga parameter untuk sistem biner dan ditulis sebagai berikut :
GE / RT = (G21.21/x1+x1.G21) + (G12.12/x2+x2.G12)..........................(2-17)
ln 1 = x22[21(G21./x1+x2.G21)2 + (G12.12/(x2+x1.G12)2)]...................(2-18)
ln 2 = x12[21(G12./x2+x1.G12)2 + (G21.21/(x1+x2.G21)2)]...................(2-18)
(Introduction to chemical engineering thermodynamics 6thed, J. M. Smith,
H. C. Van Ness, M. M. Abbott hal 434)
Tes konsistensi adalah tes untuk menguji data hasil percobaan, apakah
memenuhi hubungan termodinamika yakni data tersebut tidak kontradiksi dengan
persamaan Gibbs Duhem
x1 ln 1 = - (VE/RT) p + (HE / RT) t............................(2-19)
Persamaan diatas merupakan dasar dari tes termodinamika. Tes konsistensi
termodinamika untuk data VLE dapat dilakukan dengan menggunakan tes luasan
dan tes pengenceran tak terhingga.Tes area dikemukakan oleh Redlich dan Kister
(1948) dan Herington (1951) yang dijelaskan berdasarkan ekses molar energi
Gibbs.
GE / RT = x1 ln 1 + x2 ln 2 ..................................................(2-20)
Difrensial terhadap X1 pada P dan T konstan adalah :
D(GE / RT) / Dx1 = x1 (( ln 1 ) / dx1) + x2 (( ln 2 ) / dx2) + ln 2 (dx2 /
dx1)......(2-21)
Dimana dx1 = dx2
Dari persamaan untuk larutan biner pada tekanan rendah untuk data
koefisien aktifitas isotermal dengan persamaan Gibbs-Duhem.
x1 ((d ln 1) / dx1) = x2 ((d ln 2) / dx2) ..................................(2-22)
Maka didapatkan :
d(GE / RT) / dx1 = ln (1 / 2) .................................................(2-23)
Integral terhadap x1 :
(d(GE / RT) / dx1)dx1 = ln (1 / 2) dx1= GE / RT(pada x1 = 1) ..............(2-24)
Jika liquid murni pada T campuran Pada keadaan steady state, maka :
ln 1 0, pada x1 1
ln 2 0, pada x2 0
dan GE / RT pada x1 = 1 = 0
GE / RT pada x2 = 2 = 0
Sehingga persamaan menjadi :
ln (1 / 2) dx1=0......................................................(2-25)
Persamaan tersebut disebut tes area dari data kesetimbangan fase. Tes
konsistensi termodinamika dapat didasarkan pada persamaan Gibbs-Duhem,
sebagai berikut :
(H / RT2)dT + (V / RT)dP + x1 d ln x1 = 0....................(2-26)
Untuk sistem isothermal persamaan diatas menjadi:
x1 d ln 1 = 0.......................................................................(2-27)

Untuk sistem isobarik persamaan diatas menjadi


(H / RT2)dT + x1.ln 1 = 0 ...................................(2-28)
Atau dapat ditulis :
ln (1 / 2) dx = (H / RT2)dT.................................(2-29)
Data Reduksi
Dari GE / X1X2RT dan fig 12.5 (Introduction to chemical engineering
thermodynamics 6thed, J. M. Smith, H. C. Van Ness, M. M. Abbott hal 422) di
dapat :
GE / X1X2RT = A21x1 + A12x2...............................................................(12.9a)
Dimana = A21 dan A12 konstan untuk aplikasi particular.
GE / RT = (A21x1 + A12x2)x1x2 ................................................................(2-30)
Karena x1 = n1 (n1+n2) ; n = n1 + n2
nGE / RT = (An21 + A12x2)x1x2 ..........................................................(2-31)
masukkan ni ke xi (ni = nxi)
Ln 1 = x2 [(A21.x1 + A12.x2)(1-2x1) + A21x1]......................................(2-32)
Untuk x2 = 1-x1
Ln 1 = x22 [(A12 + 2(A21 A12)x1]....................................................(2-33)
Persamaan (12.9a) di differensialkan dengan n2 :
Ln 2 = x12 [(A21 + 2(A12 A21)x2].....................................................(2-34)
Dengan persamaan margules untuk Ln 1 dan Ln 2,dimana yi . p = xi . i .
Psat dapat dituliskan :
P = x1.y1.P1sat + x2.y2.P2sat .........................................(2-35)
Y1 = x1.y1.P1sat / x1.y1.P2sat .....................................(2-36)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan


a. Alat
Beaker Glass 200 ml : 1 buah
Beaker Glass 250 ml : 1 buah
Corong : 1 buah
Piknometer 25 ml : 1 buah
Refraktometer : 1 buah
Pipet tetes : 1 buah
Neraca : 1 buah
Rangkaian alat distilasi
b. Bahan
Etanol : 400 ml
Aquades : 130 ml

c. Skema Alat
Gambar 3.3 Seperangkat alat distilasi glass Othmer still

Keterangan alat:

A. Boililing still
B. Kondensor
C. Valve fase cair
D. Kondensat still
E. Thermometer fase uap
F. Thermometer fase cair
G. Heater uap
H. Heater cair
I. Valve fase cair

3.2 Variabel Percobaan


Variabel percobaan yang digunakan adalah konsentrasi etanol
3.3 Prosedur Percobaan

Buat larutan Masukkan larutan


Hidupkan
etanol 200ml kedalam boiling
kondensor
dengan air 50 ml still

Catat suhu pada Tuggu sampai


Panaskan larutan
fase cair dan fase keadaan
sampai stabil
uap setimbang

masukkan larutan
kembali pada
Ambil sampel
Hitung densitas boiling stiil
pada boiling still
dan indek bias dengan
dan kondensat still
penambahan 10
ml air

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan
Mass Mass Suhu (Co) Condensate still Boiling still
a a air Condensat Boillin Densit Percentas Indek Densit Percentas Indek
etano (ml) e still g still y e s y e s bias
bias
l (ml)
200 50 74 83 0.8436 48.3 1417. 0.9873 30.3 1381.
8 5 6 2
+10 77 85 0.8462 46 1412 1.0014 29.8 1378.
4 9
+10 78 88 0.8504 45 1410 1.0407 28.5 1371.
8 6 2

Tabel 4.2 Hasil perhitungan dan Pembahasan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN