Anda di halaman 1dari 7

BAB II

GEOLOGICAL FINDING & REVIEW

2.1 Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara


2.1.1 .Fisiografi Cekungan Jawa Barat Utara
Cekungan Jawa Barat Utara mempunyai sub-cekungan antara lain Sub
Cekungan Ciputat, Sub Cekungan Pasir Putih, Sub Cekungan Jatibarang, dan Sub
Cekungan Arjuna. Daerah penelitian merupakan bagian dari Cekungan Jawa Barat
Utara (North West Java Basin), yaitu lebih tepatnya berada pada Sub Cekungan
Arjuna bagian tengah (Central Arjuna). Sub Cekungan Arjuna berada pada bagian
tengah dari Cekungan Jawa Barat Utara yang letaknya 90 km ke arah timur laut
dari kota Jakarta. Sub Cekungan ini merupakan satu dari seri cekungan di ujung
selatan lempeng mikro Sunda yang berupa sistem setengah graben/half graben
(Gresko dkk, 1995). Sub Cekungan Arjuna dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian
utara, tengah, dan selatan (Gresko dkk, 1995). Pembagian dari Sub Cekungan
Arjuna bisa dilihat pada Gambar 1. Masing-masing bagian mempunyai luas 700
km2 dan paling sedikit terdiri dari satu sistem setengah graben.

Gambar 1.
Lokasi Sub Cekungan Arjuna pada Cekungan Jawa
Barat Utara (Noble dkk, 1997)
2.1.2. Tatanan tektonik Cekungan Jawa Barat Utara
Terdapat lima even tektonik yang mempengaruhi perkembangan struktur dan
juga stratigrafi di Cekungan Jawa Barat Utara (Gresko dkk, 1995), antara lain :
1. Pre Rift (Kapur Akhir-Awal Eosen)
Subduksi dan perkembangan busur meratus menghasilkan
metamorfisme regional pada passive margin dataran Sunda. Terjadi
deformasi, pengangkatan, erosi, dan pembekuan magma dalam kurun
Paleosen pada seluruh bagian di Arjuna (Gresko dkk, 1995).
2. Syn-Rift I (Eosen)
Lempeng Hindia bertumbukan dengan lempeng Eurasia
menyebabkan dextral wrenching pada bagian selatan Paparan Sunda.
Periode ini merupakan episode ekstensional yang mengawali terjadinya
rifting. Terdapat dua arah patahan yang mempengaruhi perkembangan fase
Rift I ini, berarah U 600 B sampai U 400 B dan berarah utara-selatan dengan
arah ekstensional U 300 - 700 T. Endapan pada fase ini merupakan Formasi
Jatibarang yang terdiri dari sedimen asal daratan yang berumur Awal
Oligosen terendapkan di atas basement dan berada di bawah
ketidakselarasan. Terdiri dari endapan lakustrin dan vulkaniklastik yang
terisolasi pada sistem half graben. Endapan vulkanik pada Formasi
Jatibarang terdiri dari vulkaniklastik andesitik dan tuf (Gresko dkk, 1995).
3. Syn-Rift II (Oligosen)
Pada Awal Oligosen, vulkanisme dan rifting I berhenti di wilayah
Arjuna. Periode ini berlainan dengan even tumbukan di busur depan Jawa
dan Sumatera. Fase tumbukan ini menyebabkan reorientasi dari arah
kompresi regional yang menghasilkan beberapa pengangkatan regional dan
erosi sepanjang bagian selatan Paparan Sunda. Terjadi rifting kembali pada
akhir Awal Oligosen yang berhubungan dengan pergerakan lateral blok
Indocina dan membukanya Laut Cina Selatan.
Pada Akhir Oligosen terjadi penghentian pergerakan sistem patahan
pada semenanjung Malay dan Thailand, selanjutnya terjadi pengangkatan
yang menyebabkan pergantian arah provenance dari sekitar punggung
cekungan menjadi arah regional dari utara Paparan Sunda.
Sedimen pada fase ini merupakan endapan sedimen Formasi Talang
Akar Bagian Bawah yang terendapkan di atas Formasi Jatibarang. Litologi
pada Formasi Talang akar bagian bawah terdiri dari konglomerat masif dan
batupasir sedang-kasar, batulempung lakustrin dan paleosols. Kemudian
endapan ini disebut dengan Anggota Kontinental Formasi Talang Akar
(Ponto, 1998).
4. Post-Rift ( Oligosen Akhir - Miosen Awal)
Berhentinya pemekaran pada Laut Cina Selatan disebabkan
tumbukan antara fragmen Gondwana (Australia Timur/Papua) dengan batas
timur Paparan Sunda. Pada Oligosen Akhir, terendapakan Formasi Talang
Akar Bagian Atas yang terendapakan di atas Formasi Talang Akar Bagian
Bawah dan terendapkan pada bagian atasnya oleh batuan karbonat dari
Formasi Baturaja. Anggota ini terdiri dari perselingan batupasir halus-
sedang, batulempung, batulanau, batubara, dan batugamping yang
terendapkan pada kondisi umum transgresif.

Batupasir pada Anggota Deltaik Formasi Talang Akar umumnya


terpilah lebih baik dan berbutir lebih halus daripada anggota Kontinental
Formasi Talang Akar. Terdapat pula endapan batubara dengan jumlah yang
cukup banyak pada bagian bawah dan berkurang ke arah atas seiring
perubahan setting pengendapan menuju marine Talang Akar. Pada
Miosen Awal terendapkan Formasi Baturaja yang terdiri dari batuan
karbonat selaras di atas Formasi Talang Akar Bagian Atas (Gresko dkk,
1995).
5. Inversi (Miosen Tengah Miosen Akhir)
Barat laut Australia bertumbukan dengan Palung Sunda yang
mengakibatkan terjadinya rezim kompresi pada cekungan Arjuna. Endapan
yang dihasilkan pada fase ini, terdiri dari Formasi Cibu lakan dan Formasi
Cisubuh.

2.1.3. Stratigrafi Regional Cekungan Jawa Barat Utara

Secara keseluruhan terdapat enam unit Formasi yang terdapat pada daerah
penelitian. Formasi ini berkisar dari Oligocene-Resent dan terendapkan pada
lingkungan non marin, marginal marin dan laut dangkal. Kolom stratigrafi dari
Cekungan Jawa Barat Utara dapat dilihat pada Gambar 3. Formasi-formasi
tersebut dari tua ke muda antara lain:
1. Basement
Basement terdiri dari batuan metamorfik (metaquartzite).
2. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar merupakan unit sedimen tertua yang berumur Oligosen-
Awal Miosen. Formasi Talang Akar ini terdiri dari dua bagian antara lain
Formasi Talang Akar Atas dan Formasi Talang Akar Bawah. Formasi Talang
Akar Atas terdiri dari batulempung, batugamping dengan sedikit lapisan-
lapisan tipis batubara. Formasi Talang Akar Bawah terdiri dari batulempung
karbonat, batupasir, bitumen, dan batubara antrasit. Pada bagian bawahnya
terdapat batupasir konglomeratik dan batulempung non-kalkareous.
Batulempung pada formasi ini berwarna kecoklatan-abu-abu, lanauan, secara
lokal bergradasi menjadi bataulanau, non-calcareous, dan terdapat jejak
burrow setempat. Batupasir berkisar sangat kasar-konglomeratik setempat,
menyudut membundar tanggung, lanauan, dan bermatriks non-calcareous.
Pada batupasir juga terdapat sebagian kecil lamina-lamina batubara dan
struktur sedimen gradded bedding. Porositas pada batupasir beragam dari
baik-buruk. Sementara batugamping pada Formasi Talang Akar Bagian Atas
berwarna krem-putih, terkristalisasi, sebagian terdolomitisasi dan terdapat
foram besar. Secara umum berdasarkan data biostratigrafi diketahui bahwa
Formasi Talang Akar Bagian Atas terendapkan pada lingkungan inner
sublitoral-11 outer litoral dan Formasi Talang Akar Bagian Bawah terendapkan
pada lingkungan litoral-continental supralitoral (Bishop, 2000).
3. Formasi Baturaja
Formasi ini terbentuk pada Miosen Bawah, terdiri dari batugamping masif,
terekristalisasi sedang-kuat dan sebagian mengalami dolomitisasi. Berwarna
putih-krem, tersusun atas nodul-nodul rijang dan jarang terdapat foram besar,
tersementasi sedang dan memiliki matriks kristalin. Batugamping formasi ini
memiliki porositas buruk. Formasi Baturaja terendapkan pada lingkungan
marin khususnya inner sublitoral (Bishop, 2000).
4. Formasi Cibulakan Atas
Berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, interval formasi ini adalah pada
bagian bawah batugamping Formasi Parigi sampai bagian atas Formasi
Baturaja. Formasi Cibulakan Atas terdiri dari batulempung dan batupasir
dengan lapisan tipis batugamping. Batulempung berwarna abu-abu hijau
calcareous-non-calcareous, dibeberapa bagian batulempung ini bergradasi
menjadi batulanau seiring dengan bertambahnya kedalaman. Batupasir pada
Interval Main berbutir halus-kasar dan terpilah buruk, terdapat glaukonit
dibeberapa bagian dan berporositas sedang-baik. Semakin ke arah bawah
batupasirnya menjadi lebih berbutir halus, terpilah lebih baik, glaukonitik, dan
tersusun atas runtuhan cangkang dan bersifat calcareous. Sedimentasi pada
formasi ini terjadi pada laut terbuka (inner-middle sublitoral) (Bishop, 2000).
5. Formasi Parigi
Formasi Parigi terbentuk pada Miosen Atas, terdiri dari batugamping masif
yang tersusun atas cangkang serta batulempung yang terendapkan di
atasnya. Batugamping dari Formasi Parigi ini berwarna putih-krem, dapat
diremas, bertekstur packstone-grainstone yang terkristalisasi, tersusun atas
glaukonit, foraminifera besar, runtuhan cangkang dan koral. Sementara
batulempung yang ada sama dengan litologi yang terdapat di Formasi
Cisubuh namun secara umum tersusun atas material cangkang dan fauna
bentonik. Batugamping Formasi Parigi secara keseluruhan terbentuk pada
lingkungan laut (inner-middle sublitoral) (Bishop, 2000).
6. Formasi Cisubuh dan Sedimen Resen
Formasi ini terbentuk pada Miosen Atas - Resent, terdiri dari batulempung dan
batulanau dengan lapisan tipis batupasir dan batugamping dolomitik.
Batulempung berwarna abu-abu-kehijauan-cokelat keabuan, karbonan,
lanauan, dan bergradasi menjadi batulanau. Batulempung ini juga tersusun
atas glaukonit dan runtuhan cangkang. Sementara batupasir yang ada
berbutir halus-sedang, tersusun atas kuarsa, fragmen litik, dan material
piroklastik. Pada bagian paling atas terdapat sedimen Recent, yang terdiri dari
batulempung, kuarsa alluvial dan sedimen vulkaniklastik (Bishop, 2000)
Gambar 3.
Kolom Stratigrafi dan Lithologi
Cekungan Jawa Barat Utara (Noble dkk, 1997)