Anda di halaman 1dari 4

Etil Asetat

Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus empiris


CH3COOC2H5.Senyawa ini merupakan ester dari ethanol dan asam asetat.
Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Etil
asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap),
tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat dibuat melalui reaksi
esterifikasi Fischer dari asam asetat dan etanol. Reaksi esterifikasi Fischer
adalah reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks asam karboksilat
bersama etanol dengan katalis asam. Reaksi
esterifikasi merupakan reaksi reversible yang sangat lambat, tetapi bila
menggunakan katalis, kesetimbangan reaksi akan tercapai lebih cepat.
Asam yang dapat digunakan sebagai katalis adalah asam sulfat, asam
klorida, dan asam fosfat.

Dari reaksi asam asetat dan etanol inilah akan menghasilkan etil asetat
dengan
persamaan reaksinya :
CH3COOC2H5 + H2O
CH3COOH + C2H5OH
Asam asetat Etanol Etil asetat Air

2.1.1 Sifat sifat Etil Asetat


Etil asetat bersifat volatil, relatif tidak toksik dan tidak higroskopis. Sifat
fisika dari etil asetat dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini:
Tabel 2.1 Sifat Fisika Etil Asetat
Sifat Fisika Keterangan
Berat
88,105 gr/mol
Molekul
Wujud Cairan Bening
Densitas 0,897 gr/ml
-83,6
Titik Leleh
C
Titik Didih 77,1 C
Titik Nyala -4 C

2.1.2 Kegunaan Etil Asetat


Beberapa kegunaan etil asetat :
1. Sebagai bahan pelarut cat dan bahan baku pembuatan plastik
2. Untuk kebutuhan industri farmasi
3. Sebagai bahan baku bagi industri tinta cetak
4. Sebagai bahan baku bagi pabrik parfum, flavor, kosmetik, dan minyak
atsiri (McKetta and Cuningham, 1994
Pembuatan etil asetat dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. Esterifikasi fischer : merefluks asam dengan alkohol yang berlebihan dalam suasana asam.
2. Mereaksikan garam perak karboksilat dengan alkil halida.
Reaksi asam dengan sintesis Williamson dari ester berlangsung melaluipertukaran atom unsur
dua molekul yang meliputi pelepasan O, Ag dan pada wujudnya tidak dihalangi oleh adanya
gugus alkil yang bercabang. Kelemahan cara ini adalah panjangnya prosedur dan mahalnya
biaya.
3. Mereaksikan alkohol dengan anhidrida asam alkanoat.
4. Mereaksikan halogen asam alkanoat dengan alkohol.

Prinsip dari sintesis etil asetat adalah esterifikasi yang merupakan suatu proses
pembentukan ester dimana asam karboksilat akan bereaksi dengan alkohol dengan bantuan
katalis asam. Esterifikasi atau pengesteran merupakan reaksi pembentukan suatu ester dengan
cara merefluks suatu campuran asam organik dengan alkohol.
Proses esterifikasi ini merupakan reaksi kesetimbangan sehingga untuk menghasilkan
produk yang optimal maka salah satu produk harus dikurangi jumlahnya yaitu air (H 2O)
sehingga jumlah ester yang didapatkan menjadi lebih banyak dan dapat juga dilakukan
dengan salah satu reaksi esterifikasi tersebut adalah pada senyawa etil asetat dengan bahan
dasar asam asetat dan etil alkohol dengan katalis asam sulfat pekat.
Untuk mengurangi jumlah air yang terbentuk, maka diperlukan suatu katalis yang dapat
menarik air sekaligus mampu mempercepat terjadinya reaksi. Katalis tersebut contohnya
H2SO4 pekat. Ester merupakan senyawa organik yang bersifat netral, tidak bereaksi dengan
logam Na dan PCl3. Ester termasuk salah satu turunan asam karboksilat yang diperoleh
dengan mereaksikan suatu asam (karboksilat) dengan alkohol atau phenol.
Tujuan merefluk campuran etanol, asam asetat dan asam sulfat adalah untunk
menyempurnakan reaksi antara ketiga zat tersebut. Setelah proses distilasi selesai maka
distilat ditambah dengan natrium karbonat. Ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang
terangkat.

Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan cara yang paling efektif untuk memurnikan zat
zat organik dalam bentuk padat. Oleh karena itu teknik ini secara rutin digunakan
untuk pemurnian senyawa hasil sintesis atau hasil isolasi dari bahan alami,
sebelum dianalisis lebih lanjut, misalnya dengan instrumebn spektoskopi seperti
UV, IR, NMR, dan MS.
Sebagai metoda pemurnian padatan, rekristalisai memiliki sejarah yang
panjang seperti distilasi. Walaupun beberapa metoda yang lebih rumit telah
dikenalkan, rekristalisasi adalah metoda yang paling penting untuk pemurnian
sebab kemudahannya ( tidak perlu alat khusus ) dan arena keefektifannya. Ke
depannya rekristalisasi akan tetap metoda standar untuk memurnikan padatan.
Metoda ini sederhana, material padayan ini terlarut dalam pelarut yang
cocok pada suhu tinggi ( pada atau dekat titik didih pelarutnya ) untuk
mendapatkan jumlah larutan jenuh atau dekat jenuh. Ketika larutan panas perlahan
didinginkan, kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya menurun
bila suhu diturunkan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan pengkristal karena
konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh.
Walaupun rekristalisasi adalah metoda yang sangat sederhana, dalam
prakteknya bukan berarti mudah dilakukan.
Adapun saran saran yang
dibutuhkan untuk melakukan metoda kristalisai adalah sebagai berikut :
1. Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan
yang besar pada suhu.
2. Kristal tidak harus mengendap dari larutan jenuh dengan pendinginan karena
mungkin terbentuk super jenuh.
3. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan
pelarut non polar lebih disarankan. Namun, pelarut non polar cenderung
merupakan pelarut yang buruk untuk senyawa polar.
4. Umumnya, pelarut dengan titik didih rendah lebih diinginkan. Namun sekali
lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah biasanya non polar. Jadi,
pemilihan pelarut biasanya bukan masalah sederhana

ASPIRIN
Reaksi asam salisilat (asam o-hidroksibenzoat) dengan anhidrida asetat digunakan untuk
menyintesis aspirin. Dalam reaksi ini, gugus hidroksil fenolik diasetilasi (dikonversi menjadi
ester asetat). Asetilasi adalah penggantian atom H dari asam salisilat dengan gugus asetil dari
anhidrida asetat.

Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol dengan anhidrida asam.
Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karena mempunyai gugus OH ,
sedangkan anhidrida asam asetat tentu saja sebagai anhidrida asam. Ester yang terbentuk
adalah asam asetil salisilat (aspirin). Gugus asetil (CH3CO-) berasal dari anhidrida asam
asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asam salisilat (pada gambar di atas gugus R ada
di dalam kotak). Hasil samping reaksi ini adalah asam asetat.

Kegunaan dari aspirin:


sebagai analgesik (obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita)
sebagai antipirentik (obat yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang
tinggi)
sebagai antiinflamasi
Asam Sulfat (H2SO4)
Asam Sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral
yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua kepekatan. Asam sulfat
mempunyai banyak kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia
dan proses pembuatan. Kegunaan utama termasuk produksi baja,
memproses bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan
penapisan minyak. Di atmosfer, zat ini termasuk salah satu bahan kimia
yang menyebabkan hujan asam. Memang tidak mudah membayangkan
bahwa bahan kimia yang sangat aktif, seperti asam sulfat, juga
merupakan bahan kimia yang paling banyak dipakai dan merupakan
produk teknik yang amat penting. Zat ini digunakan sebagai katalis pada
proses pembuatan etil asetat.
Sifat sifat kimia dan fisika dari asam sulfat sendiri adalah sebagai berikut:
Sifat fisika :
Titik leleh : 10oC
Titik didih : 290oC
Tekanan uap (mmHg) : 1 (146C)
Berat jenis cairan : 1,84 (100 persen)
Berat jenis uap : 3,4 (udara = 1)
Sifat kimia asam sulfat :
1. Dengan basa membentuk garam dan air.
Reaksi : H2SO4 + 2 NaOH Na2SO4 + H2O
2. Dengan alkohol membentuk eter dan air.
Reaksi : 2C2H5OH + H2SO4 C2H5OC2H5 + H2O + H2SO4