Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

MORFOLOGI DAN ANATOMI BENIH

OLEH :
NAMA : NADYA AWALIAH
NIM : 155040201111216
KELAS :K
KELOMPOK : K2
ASISTEN : AZIZIAH SALOKA

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih sering disamaartikan dengan biji, namun terdapat perbedaan yang mendasar
antara kedua istilah tersebut, yakni fungsinya. Benih berfungsi sebagai alat perbanyakan
generatif, sedangkan biji berfungsi sebagai bahan makanan. Benih adalah suatu bagian dari
tanaman yang merupakan cikal bakal suatu tumbuhan baru yang memiliki cirri attau sifat
seperti induknya. Benih memiliki beragam jenis, baik bentuk, ukuran, maupun struktur
bagiannya. Benih seharusnya memilki kualitas yang baik agar tanaman baru yang didapat
merupakan tanaman yang sehat.
Terdapat dua kelas tumbuhan berbiji, yaitu Angiospermae dan Gymnospermae.
Angiospermae (Magnoliophyta) terdiri dari dua sub kelas yaitu Monocotyledoneae dan
Dicotyledoneae, perbedaan antara keduanya terdapat pada struktur dan morfologi benih.
Pada tumbuhan dikotil, plumula dan kotiledon tumbuh membesar dan memanjang hingga
muncul ke permukaan tanah. sedangkan pada tumbuhan monokotil, plumula terlebih dahulu
menembus koleoptil sebelum melanjutkan pertumbuhannya.
Benih adalah suatu organisme yang teratur, rapi dan mempunyai persediaan bahan
makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Benih
mengandung embrio atau lembaga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan bagi
tumbuhan. Walaupun terdapat banyak bagian pada biji, tetapi baik mengenai jumlah, bentuk
maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu untuk menjamin
kelangsungan hidupnya.
Beragamnya bagian-bagian benih baik mengenai jumlah, bentuk maupun struktur
sejatinya mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama, yaitu untuk menjamin kelangsungan
hidup. Pengetahuan tentang struktur benih akan memberikan pemahaman yang baik tentang
perbedaan kedua struktur benih tersebut. Ada perbedaan antara struktur benih berbagai
tanaman pangan seperti jagung dan kacang tanah. perbedaan tersebut didasarkan pada
golongan monokotil dan dikotil.
Guna mengetahui perbedaan struktur benih tersebut perlu dilakukan praktikum
untuk mengetahui morfologi dan anatomi benih, morfologi dan anatomi benih dapat
diketahui dengan melakukan irisan melintang dan menbujur. Kemudian dilakukan
pengamatan untuk mengetahui bagian-bagian dari benih yang dapat membedakannya antara
benih monokotil dan dikotil.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum morfologi dan anatomi benih adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami morfologi benih monokotil
2. Untuk mengetahui dan memahami morfologi benih dikotil
3. Untuk mengetahui dan memahami perbedaan antara benih monokotil dan dikotil
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Benih Monokotil


Menurut McDonald (1994), morfologi dari benih tanaman monokotil, misalnya
jagung terdiri atas koleoptil, plumula, radikula, koleoriza, skutelum dan endosperma. Bagian-
bagian biji tersebut mempunyai fungsi masing-masing untuk pertumbuhan tanaman. Pada
biji tanaman dikotil maupun monokotil, plumula merupakan poros embrio yang tumbuh ke
atas yang selanjutnya akan tumbuh menjadi daun pertama, sedangkan radikula adalah poros
embrio yang tumbuh ke bawah dan akan menjadi akar primer. Pada tanaman monokotil,
misalnya jagung, kotiledon mengalami modifikasi menjadi skutelum dan koleoptil.
Skutelum berfungsi sebagai alat penyerap makanan yang terdapat di dalam endosperma,
sedangkan koleoptil berfungsi melindungi plumula. Selain itu, pada jagung juga terdapat
koleoriza yang berfungsi melindungi radikula. Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovary
atau pericarp menyatu dengan kulit bijiatau testa, membentuk dinding buah.
Menurut Rubenstin, et al., (1978), struktur benih tanaman monokotil terdiri atas tiga
bagian utama, yaitu :
1. Pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme
penggangu dan kehilangan air. Pericarp merupakan lapisan pembungkus biji yang
berubah cepat selama proses pembentukan biji.Pada waktu kariopsis masih muda,
sel-selnya kecil dan tipis, tetapi sel-selitu berkembang seiring dengan bertambahnya
umur biji. Pada taraf tertentu,lapisan ini membentuk membran yang dikenal sebagai
kulit biji/testa yangsecara morfologi adalah bagian endosperm.
2. Endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot bijiyang
mengandung 90% pati dari 10% protein, mineral, minyak dan yanglainnya. Selain
itu endosperm merupakan bagian terbesar dari biji jagung,yaitu sekitar 85% hampir
seluruhnya terdiri atas karbohidrat dari bagianyang lunak (floury endosperm) dan
bagian yang keras (horny endosperm).
3. Embrio (Lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plumule,akar,
scutelum, dan koleoptil. Lembaga merupakan bagian yang cukup besar. Lembaga
meliputi 11,5% dari bobot keseluruhan biji. Lembaga sebenarnya tersusun atas dua
bagian yaituskutelum dan poros embrio. Lembaga terdiri atas plumula, radikel,
danskutelum yaitu sekitar 10%. Lembaga juga mengandung lemak dan mineral.
In corn and other monocots, the single cotyledon, known as the scutellum, absorbs
food reserves from the endosperm. The coleoptile and coleorhiza are sheaths that enclose the
apical meristem of the shoot and root respectively. After the root emerges the seed sends out
its coleoptile and finally a pair of true leaves (plumules) emerge. The Corn embryo axis
undergoes a considerable degree of differentation early in its formation. The epicotyl takes
the form of a well-developed multilayered plumule -- the hypocotyl giving rise to a large,
robust embryonic root (radicle).
The plumules are protected by a sheath of cells called the coleoptile, while the radicle
is covered by a similar structure called the coleorhiza. The monocot cotyledon -- scutellum
is used for food storage and digestion. It does not absorb nutrients from the endosperm (Ting,
1982).

Gambar 1. Morfologi Monokotil (Ting, 1982)


Di jagung dan monokotil lainnya, kotiledon tunggal, yang dikenal sebagai
scutellum, menyerap cadangan makanan dari endosperm. Coleoptile dan coleorhiza
adalah selubung yang melapisi meristem apikal tunas dan akar masing-masing.
Setelah akar muncul benih mengirimkan koleoptil dan akhirnya sepasang daun asli
(plumulus) muncul. Sumbu embrio jagung mengalami tingkat diferensiasi yang
cukup tinggi di awal pembentukannya. Epikotil berbentuk plumul berlapis-lapis
yang berkembang dengan baik - hipokotil yang menghasilkan akar embrio (radikel)
yang besar dan kuat.
Plumules dilindungi oleh selubung sel yang disebut koleoptil, sedangkan
radikel ditutupi oleh struktur serupa yang disebut coleorhiza. The monocot
cotyledon - scutellum digunakan untuk penyimpanan makanan dan pencernaan. Ini
tidak menyerap nutrisi dari endosperm.
Gambar 2. Structure of Monocot
Based on Carbajosa and Pilar (2005), Structure of Monocot, endospermic
grain (maize grain ): It is one seeded fruit called caryopsis or grain because pericarp Commented [NA1]: http://www.yourarticlelibrary.com/re
production-in-plants/structure-of-dicot-and-monocot-seeds-
(fruit wall) is fused with testa. Each grain is made up of following parts: biology/26774/

1. Seed coat, It is the outer brownish layer of the grain. In this, seed and fruit
wall are fused together.
2. Endosperm, It comprises the major part of grain and is filled with reserve
food. It is composed of two regions:
a) Outer single layered aleurone layer mainly made up of aleurone
proteins.
b) Inner starchy endosperm. It is separated from embryo by a layer
called epithelium.
3. Embryo, It contains a single lateral cotyledon called scutellum and embryo
axis with plumule and radicle are at its two ends. Root cap protects the tip
of radicle. Radicle is surrounded by a protective sheath called coleorhiza.
Plumule is also protected by a covered sheath known as coleoptile.
Struktur Monocot, butiran endospermik (butiran jagung): Ini adalah salah
satu buah unggulan yang disebut caryopsis atau butiran karena pericarp (dinding
buah) disatukan dengan testa (kulit luar). Setiap butir terdiri dari bagian-bagian
berikut:
1. Lapisan biji, Ini adalah lapisan kecoklatan luar dari gandum. Dalam hal ini,
benih dan dinding buah disatukan.
2. Endosperma, terdiri dari bagian utama dari gandum dan diisi dengan
makanan cadangan. Terdiri dari dua wilayah:
a) lapisan aleuron berlapis tunggal luar terutama terdiri dari protein
aleuron.
b) endosperma tepung dalam. Ini terpisah dari embrio dengan lapisan
yang disebut epitel.

3. Embrio, Ini berisi kotiledon lateral tunggal yang disebut skutela dan sumbu
embrio dengan plumulus dan radikel berada di dua ujungnya. Topi akar
melindungi ujung radicle. Radicle dikelilingi oleh selubung pelindung yang
disebut coleorhiza. Plumule juga dilindungi oleh selubung tertutup yang
dikenal sebagai coleoptile.

2.2 Morfologi Benih Dikotil


Based on Carbajosa and Pilar (2005), structure of Dicot non-endospermic seed are
The seeds of bean like those of other legumes are formed within the pod, which is a ripened
ovary. The seed is attached to the inside of the pod by the funiculus or seed stalk. When the
seeds are shed, the funiculus breaks off, leaving a prominent scar, the hilum.
Just below the hilum can be seen the micropyle (Fig. 2.40) and above the hilum is
the ridge formed by the raphe. The seed coats have characteristic colours which vary with
different varieties of beans but are commonly with variations of brown, black and white.

Gambar 3. Structure of bean seed


When the seeds are soaked in water, they swell considerably and the seed coats
become soft. In this condition the seed coats are easily removed. The entire interior of the
seed is occupied by the embryo and chiefly by the two fleshy cotyledons or seed leaves,
which may easily be separated. On the side of the seed, opposite the raphe is found the radicle,
with its tip directed toward the micropyle, and continuous with it is the hypocotyl. The
plumule has differentiated two well-defined leaves which fold over the growing tip. These
become the first true leaves of the bean plant on germination.
In this seed and in all seeds of this type, there is no endosperm, this tissue having
already been consumed by the developing embryo. Most of the food of the seed is stored in
the two large cotyledons, which in this case never function as true leaves.
Struktur benih Dicot non-endospermic adalah benih kacang seperti kacang polong
lainnya terbentuk di dalam polong, yang merupakan ovarium matang. Benih melekat pada
bagian dalam pod dengan funiculus atau tangkai benih. Saat benih ditumpahkan, funikulus
terputus, meninggalkan bekas yang menonjol, hilus.
Tepat di bawah hilum bisa dilihat micropyle (Gambar 3) dan di atas hilum adalah
punggungan yang dibentuk oleh raphe. Lapisan biji memiliki warna khas yang bervariasi
dengan varietas kacang yang berbeda namun umumnya dengan variasi coklat, hitam dan
putih.
Saat benih direndam dalam air, mereka membengkak jauh dan lapisan biji menjadi
lembut. Dalam kondisi ini mantel benih mudah dilepas. Seluruh bagian dalam benih
ditempati oleh embrio dan terutama oleh dua kotiledon berdaging atau daun biji, yang dapat
dengan mudah dipisahkan. Di sisi biji, di seberang raphe ditemukan radikel, ujungnya
mengarah ke mikropon, dan terus berlanjut dengan itu adalah hipokotil. Plumule telah
membedakan dua daun yang terdefinisi dengan baik yang melipat di ujung yang tumbuh. Ini
menjadi daun asli pertama tanaman kacang di perkecambahan.
Pada benih ini dan pada semua jenis benih ini, tidak ada endosperma, jaringan ini
sudah dikonsumsi oleh embrio yang sedang berkembang. Sebagian besar makanan benih
disimpan di dua kotiledon besar, yang dalam hal ini tidak pernah berfungsi sebagai daun
asli.
Structure of a Dicotyledonous Seed based on Ting (1982) thoughts are the outermost
covering of a seed is the seed coat. The seed coat has two layers, the outer testa and the inner
tegmen. The hilum is a scar on the seed coat through which the developing seeds were
attached to the fruit. Above the hilum is a small pore called the micropyle. Within the seed
coat is the embryo, consisting of an embryonal axis and two cotyledons. The cotyledons are
often fleshy and full of reserve food materials. At the two ends of the embryonal axis are
present the radicle and the plumule. In some seeds such as castor the endosperm formed as
a result of double fertilisation, is a food storing tissue. In plants such as bean, gram and pea,
the endosperm is not present in mature seeds and such seeds are called nonendospermous.
Penutup terluar dari benih adalah mantel benih. Lapisan biji memiliki dua
lapisan, testa luar dan tegapan bagian dalam. Bagian hilum adalah bekas luka pada
lapisan bibit dimana benih berkembang menempel pada buah. Di atas hilum ada
pori kecil yang disebut micropyle. Dalam biji mantel adalah embrio, terdiri dari
sumbu embrio dan dua kotiledon. Kotiledon sering berdaging dan penuh dengan
bahan makanan cadangan. Pada dua ujung sumbu embrio terdapat radikel dan
plumulus. Pada beberapa biji seperti kastor endosperma yang terbentuk sebagai
hasil pemupukan ganda, adalah jaringan penyimpanan makanan. Pada tanaman
seperti kacang, gram dan kacang polong, endosperma tidak ada pada biji matang
dan biji tersebut disebut nonendospermous.

Gambar 4. Benih Arachis hypogea (Ance, 1989)

Menurut Ance (1989), benih kacang tanah (Arachis hypogea) termasuk


kedalam golongan tanaman dikotil (memiliki kotiledon sebanyak dua keping). Pada
benih kacang tanah terlihat jelas selaput benih berwarnakeputihan, plumula yang
menjadi bakal daun serta radikula yangmenjadi bakal akar, yang paling luas
bentuknya adalah kotiledon karena mengisisebagian besar dari struktur benih secara
keseluruhan.Biji kacang tanah terdapat di dalan polong. Kulit luar (testa) bertekstur
keras, berfungsi untuk melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji terdiri
ataslembaga dan keping biji, diliputi oleh kulit ari tipis (tegmen). Biji berbentuk
bulatagak lonjong atau bulat dengan ujung agak datar karena berhimpitan dengan
butir biji yang lain selagi di dalam polong. Warna kulit biji bervariasi: merah
jambu,merah, cokelat, merah tua, dan ungu.Secara rinci bagian-bagian dari benih
kacang tanah adalah sebagai berikut :
a) Spermodermis (Testa; Kulit Benih), Testa (kulit benih) biasanya
berkembang dari integumentum (selaput bakal biji). Testa pada kacang
tanah (Arachis hypogea) berupa selaput tipis yangmenyelubungi benih.
Pada tanaman angiospermae kulit benih terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan
kulit luar sebagai pelindung bagian dalam biji dengan sifat tipis, kaku, keras
seperti kayu atau batu, dan tegmen berupa lapisan kulit dalamyang biasanya
tipis berupa selaput.
b) Kotiledon (Daun Lembaga) merupakan salah satu jaringan cadangan
makananuntuk proses pertumbuhan dan perkembangan benih, dimana
kotiledon mengisisebagian besar bagian benih. Fungsi kotiledon adalah
sebagai berikut: 1)Tempat makanan cadangan ; kotiledon (daun lembaga)
menjadi tebal,sehingga serigkali disebut sebagai keping biji yang
sebenarnya tidak tepat. 2)Tempat Fotosintesis ; kotiledon (daun lembaga)
pada saat berkecambahtumbuh menjadi hijau, dan baru jatuh paa waktu
yang agak lama. 3) Sebagai penghisap zat makanan dari pituh lembaga dan
tidak langsungtampak dari luar serta tidak memperlihatkan keping biji.
c) Plumulae (Pucuk Lembaga), Plumulae dari embrio ada yang terlihat jelas
dan ada yang tidak terlihat jelaskarena hanya berupa titik tumbuh pada
ujung batang lembaga.
d) Radikula (Akar Lembaga), merupakan calon akar yang akan menjadi radix
primaria (akar tunggang). Radikula tumbuh menembus kulit biji
melaluimycropyl.
e) Hipokotil, merupakan Calon batang utama pada suatu tumbuhan.
f) Epikotil, merupakan bagian diantara plumulae (pucuk lembaga) dan
hipokotil.
Menurut Kamil (1979), pada morfologi struktur biji dikotil terdapat dua keping
kotiledon (cadangan makan pada biji). Bagian bawah pangkal (aksis) yang melekat pada
kotiledon dinamakan hipokotil, dan bagian ujungnya (terminal) disebut radikula (embrio
yang akan tumbuh menjadi akar). Bagian atas pangkal adalah epikotil dan bagian ujungnya
plumula (embrio yang akan tumbuh menjadi batang dan daun). Yang termasuk kedalam
tumbuhan biji dikotil adalah kacang tanah.
2.3 Perbedaan Morfologi Benih Monokotil dan Dikotil

Menurut Kamil (1979) perbedaan morfologi dari benih monokotil dengan benih
dikotil adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Perbedaan morfologi benih monokotil dan dikotil
Monokotil Dikotil
Embrio terdiri dari kotiledon Embrio terdiri atas kotiledon, plumula,
epikotil, dan radikal.
Endosperm merupakan bagian yang besar Endosperm merupakan bagian yang
terkecil
Cadangan makanan yang terdapat pada
Cadangan makanan pada endosperm
kotiledon sudah dapat dicerna dan diserap
belum dicerna sebelum biji masak
embrio sebelum biji masak.

Menurut Salisbury dan Ross (1995) perbedaan dari morfologi biji dikotil dan
monokotil dapat dicermati pada tabel berikut:
Tabel 2. Perbedaan biji dikotil dan monokotil
Pembeda Dikotil Monokotil
Jumlah keping Dua atau lebih Satu
(kotiledon)
Endosperma Tidak ada Ada
Embrio Tidak dilindungi Dilindungi seludang
Radikula dan Plumula Tidak dilindungi Radikula dilindungi
koleoriza, dan plumula
dilindungi koleoptil
Endosperma adalah cadangan makanan yang dimiliki oleh biji. Baik dikotil dan
monokotil awalnya sama-sama memiliki endosperma namun ketika biji dikotil telah masak,
endosperma tersebut biasanya telah hilang. Endosperma pada dikotil hilang karena semua
cadangan makanan di dalamnya telah diserap semuanya hingga masuk ke kotiledon. Namun
pada monokotil, cadangan makanan tetap terdapat pada endosperma, dan kotiledon berperan
sebagai penghubung antara embrio dengan cadangan makanan dalam endosperma.
Embrio monokotil dilindungi dua jaringan yaitu seludang yang melingkupi seluruh
bagian embrio dan kulit biji , sedangkan embrio dikotil hanya dilindungi kulit biji saja. Oleh
karena itu, embrio monokotil akan sulit dilihat dari luar karena ditutupi beberapa selaput,
sedangkan embrio dikotil dapat dilihat dengan mudah setelah mengelupas kulit biji atau
membuka bagian kotiledonnya. Biji-biji yang tidak mengandung endosperma atau hanya
mengandung sedikit endosperma disebut biji exalbuminous, sedangkan biji yang
mengandung banyak endosperma disebut biji albuminous.
Ketika berkecambah, monokotil akan akan menghasilkan daun tunggal sedangkan
dikotil akan menghasilkan daun ganda. Daun pertama yang dihasilkan monokotil biasanya
memiliki bentuk yang hampir sama dengan daun kedua dan berikutnya. Sedangkan pada
dikotil, daun pertama biasanya memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan daun kedua dan
berikutnya (Salisbury dan Ross, 1995).
III. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Adapun di bawah ini alat yang diperlukan dalam melaksanakan praktikum
teknologi produksi benih analisis morfologi dan anatomi benih, yaitu:
1. Cutter : Untuk membelah benih secara membujur dan melintang
2. Kamera : Untuk Mendokumentasikan

3.1.2 Bahan
Adapun di bawah ini bahan-bahan yang diperlukan dalam melaksanakan
praktikum teknologi produksi benih analisis morfologi dan anatomi benih, yaitu:
1. Benih Kacang Tanag : Benih yang diamati
2. Benih Jagung : Benih yang diamati
3. Air : Untuk merendam benih
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Perendaman dan Pemeraman
Siapkan alat dan bahan

Rendam benih jagung ke dalam gelas aqua bekas selama 1 jam

Tiriskan dan peram jagung dengan memasukkannya ke dalam gelas aqua kosong
yang ditutupi oleh tissue yang sudah dibasahi selama 16 jam

Biji jagung siap diamati morfologinya

3.2.2 Pengamatan morfologi


Alat dan bahan disiapkan

Biji dipotong melintang dan membujur

Potongan biji diamati

Gambar tangan

Dokumentasikan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 2. Hasil Pengamatan
Dokumentasi Dokumentasi
No. Benih Gambar Tangan
Praktikum Literatur
1. Monokotil Utuh

Melintang

Membujur

2. Dikotil Utuh Commented [NA2]: http://showcase.uhi.ac.uk/resources/


Horticulture/Germination/pdf/PDFversion.pdf

Melintang

Membujur
4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum, terlihat bahwa terdapat perbedaan struktur benih antara benih
monokotil dengan benih dikotil. Sampel benih monokotil pada praktikum kali ini adalah
benih jagung, dimana terlihat morfologi jagung yang memiliki bentuk hilum yang lonjong
dan berlokasi di bagian pangkal biji dan posisinya menonjol. Selain itu terlihat perbedaan
warna yang membedakan antara embrio, endosperm, dan epicarp benih jagung, ketika benih
jagung dibelah. Pada benih jagung terlihat endosperma, embrio dan posisi hilum. Pada benih
kacang tanah terlihat jelas selaput benih, plumula yang menjadi bakal daun serta radikula
yang menjadi bakal akar, yang paling luas bentuknya adalah kotiledon.
Sesuai dengan pernyataan McDonald (1994), morfologi dari benih tanaman
monokotil, misalnya jagung terdiri atas koleoptil, plumula, radikula, koleoriza, skutelum dan
endosperma. Bagian-bagian biji tersebut mempunyai fungsi masing-masing untuk
pertumbuhan tanaman. Pada biji tanaman dikotil maupun monokotil, plumula merupakan
poros embrio yang tumbuh ke atas yang selanjutnya akan tumbuh menjadi daun pertama,
sedangkan radikula adalah poros embrio yang tumbuh ke bawah dan akan menjadi akar
primer. Pada tanaman monokotil, misalnya jagung, kotiledon mengalami modifikasi menjadi
skutelum dan koleoptil. Skutelum berfungsi sebagai alat penyerap makanan yang terdapat di
dalam endosperma, sedangkan koleoptil berfungsi melindungi plumula. Selain itu, pada
jagung juga terdapat koleoriza yang berfungsi melindungi radikula. Biji jagung disebut
kariopsis, dinding ovary atau pericarp menyatu dengan kulit bijiatau testa, membentuk
dinding buah.
Selain itu juga terlihat jelas perbedaan antara struktur dari benih jagung dan benih
kacang tanah yaitu pada bagian endosperma dan embrio. Menurut Salisbury dan Ross
(1995), Endosperma adalah cadangan makanan yang dimiliki oleh biji. Baik dikotil dan
monokotil awalnya sama-sama memiliki endosperma namun ketika biji dikotil telah masak,
endosperma tersebut biasanya telah hilang. Endosperma pada dikotil hilang karena semua
cadangan makanan di dalamnya telah diserap semuanya hingga masuk ke kotiledon. Namun
pada monokotil, cadangan makanan tetap terdapat pada endosperma, dan kotiledon berperan
sebagai penghubung antara embrio dengan cadangan makanan dalam endosperma.
Embrio monokotil dilindungi dua jaringan yaitu seludang yang melingkupi seluruh
bagian embrio dan kulit biji , sedangkan embrio dikotil hanya dilindungi kulit biji saja. Oleh
karena itu, embrio monokotil akan sulit dilihat dari luar karena ditutupi beberapa selaput,
sedangkan embrio dikotil dapat dilihat dengan mudah setelah mengelupas kulit biji atau
membuka bagian kotiledonnya. Biji-biji yang tidak mengandung endosperma atau hanya
mengandung sedikit endosperma disebut biji exalbuminous, sedangkan biji yang
mengandung banyak endosperma disebut biji albuminous.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum morfologi dan struktur benih yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Terdapat perbedaan antara struktur benih tanaman dikotil dan tanaman monokotil.
Yang pada praktikum kali ini menggunakan sampel tanaman jagung untuk tanaman
monokotil dan kedelai, kacang tanah dan kacang hijau untuk tanaman dikotil.
2. Perbedaan antara benih monokotil dan dikotil terletak pada Jumlah keping
(kotiledon), Endosperma, Embrio, Radikula dan Plumula
3. Terdapat bagian-bagian calon/bakal tanaman di dalam benih, baik benih monokotil
maupun dikotil, dimana terdapat pula endosperm yang mendukung kelangsungan
embrio sebagai cadangan makanannya.

5.2 Saran
Sebaiknya asisten memberi penjelasan yang lebih rinci mengenai materi praktikum
sehingga mahasiswa mencatat secara detail hal-hal yang penting pada saat praktikum, teliti
dalam melaksanakan praktikum, dan mendokumentasikan hasil dari kegiatan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Ance. G.1989. Teknologi Benih (Pengelolaan Benih dan Tuntutan Praktikum).
Jakarta: PT Bina Aksara.

Carbajosa JV dan Pilar C 2005. Seed Maturation: Developing An Intrusive Phase


to Accomplish A Quiescent State. International Journal Development
Biology. 4 (9) :P 645 651

Kamil, J. 1979. Teknologi Benih I. Padang: Angkasa Raya.

McDonald, Miller B.1994.Physiology of Seed Germination.Columbus: Seed


Biology Program Department of Horticulture and Crop Science The Ohio
State University.

Rubenstin, T., et al. 1978.ThePlant Seed. USA: Academy Press Inc.

Salisbury, F.B dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan : Jilid III. Bandung:
Penerbit ITB Press.

Ting, I. 1982. Plant Physiology. California: Addison Willey California.


LAMPIRAN