Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

Titrasi Asam Basa

Fardah Nur Khofifah


XI MIA 7/13

SMA NEGERI 4 SURAKARTA


TAHUN PELAJARAN 2016/2017
I. Judul
Titrasi Asam Basa

II. Tujuan
Menentukan kadar cuka makanan
Menentukan konsentrasi suatu Bahan Jumlah
larutan dengan metode titrasi NaOH 0,1 M
asam-basa. H2SO4
Mengetahui cara penetralan HCl
asam basa menggunakan CH3COOH
metode titrasi. Fenolftalein
Aquades
III. Alat dan Bahan

Alat Jumlah
Tabung 3 buah
erlenmeyer
Pipet tetes 3 buah
Gelas Ukur 2 buah
Corong gelas 1 buah
Buret , statif, klem 1 buah
Labu ukur leher 1 buah
panjang

IV. Dasar Teori

Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi


larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan
zat lain yang diketahui konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam
basa didasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa.

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan


biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah
diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya
diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titrant biasanya
berupa larutan.
Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer
ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.
Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa
dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai
keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer
tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan,
kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk
mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume
titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung
kadar titrant.

Cara Mengetahui Titik Ekuivalen


Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi
asam basa.
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi
dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant
untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi
tersebut adalah titik ekuivalent.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant
sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna
ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan
pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.

Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu :


1. Asam kuat - Basa kuat
2. Asam kuat - Basa lemah
3. Asam lemah - Basa kuat
4. Asam kuat - Garam dari asam lemah
5. Basa kuat - Garam dari basa lemah

Rumus Dasar Titrasi :


VA . MA . nA = VB . MB . nB
Keterangan :
VA = Volume sebelum pengenceran
MA = Molaritas sebelum pengenceran
VB = Volume setelah pengenceran
MB = Molaritas setelah pengenceran
nA = Valensi asam
nB = Valensi basa

V. Cara Kerja
a. Mencari molaritas HCl
1. Isi buret dengan larutan NaOH hingga penuh dengan
menggunakan gelas ukur dan corong gelas.
2. Ambil 10 ml HCl yang belum diketahui konsentrasinya
menggunakan pipet tetes.
3. Masukkan 10 ml HCl ke dalam tabung erlenmeyer lalu tetesi
dengan 2 tetes fenolftalein.
4. Letakkan pada statif dan buka buret perlahan.
5. Amati hingga larutan berubah warna dan catatlah berapa
volume NaOH yang digunakan untuk merubah warna HCl.

b. Mencari molaritas H2SO4


1. Isi buret dengan larutan NaOH hingga penuh dengan
menggunakan gelas ukur dan corong gelas.
2. Ambil 10 ml H2SO4 yang belum diketahui konsentrasinya
menggunakan pipet tetes.
3. Masukkan 10 ml H2SO4 ke dalam tabung erlenmeyer lalu tetesi
dengan 2 tetes fenolftalein.
4. Letakkan pada statif dan buka buret perlahan.
5. Amati hingga larutan berubah warna dan catatlah berapa
volume NaOH yang digunakan untuk merubah warna H2SO4.

c. Mencari molaritas CH3COOH


1. Isi buret dengan larutan NaOH hingga penuh dengan
menggunakan gelas ukur dan corong gelas.
2. Ambil 5 ml CH3COOH lalu masukkan ke dalam tabung
erlenmeyer.
3. Encerkan 5 ml CH3COOH dengan aquades hingga volumenya
100 ml.
4. Letakkan pada statif dan buka buret perlahan.
5. Amati hingga larutan berubah warna dan catatlah berapa
volume NaOH yang digunakan untuk merubah warna larutan
CH3COOH.

VI. Data Pengamatan

Nama larutan I II III Rata-rata


1. HCl 11 ml 15 ml 11 ml 12,3 ml
2. H2SO4 15,5 ml 20,5 ml 18 ml 18 ml
3. CH3COOH 20 ml 16 ml 18 ml 18 ml

VII. Pertanyaan
1. Tentukan volume NaOH sampai terjadi perubahan warna dan
hitunglah konsentrasi HCl!
Jawab :

VNaOH = 12,3 ml VHCl = 10 ml


MNaOH = 0,1 M

V1 M1 n1 = V2 . M2 . n1
10 ml . M1 . 1 = 12,3 ml . 0,1 . 1

M1 = 0,1 . 12,3 . 1
10 . 1
M1 = 0,123 M

2. Tentukan volume NaOH sampai terjadi perubahan warna dan


hitunglah konsentrasi H2SO4!
Jawab :

VNaOH = 18 ml VH2SO4 = 10 ml
MNaOH = 0,1 M
V1 M1 n1 = V2 . M2 . n1
10 ml . M1 . 2 = 18 ml . 0,1 . 1

M1 = 0,1 . 18 . 1
10 . 2
M1 = 0,09 M
3. Tentukan volume NaOH sampai terjadi perubahan warna dan
tentukanlah kadar cuka tersebut jika cuka murni memiliki
Molaritas 17,4 M!
Jawab :
VNaOH = 18 ml = 0,018 L
MNaOH = 0,1 M

Reaksi : CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)


NaOH terpakai pada titrasi = 0,1 mol/L x 0,018 L
= 0,0018 mol
Berdasarkan persamaan reaksinya, CH3COOH yang terdapat
dalam 10 ml larutan cuka yang telah diencerkan adalah
sebanyak 0,0018 mol.

Oleh karena itu, jumlah mol CH3COOH sebelum diencerkan


= 100 x 0,0018 mol = 0,036 mol
5
Kadar cuka makan = 0,036 mol : 0,01 L
= 3,6 M
Kadar cuka dalam persen = 3,6 M x 100%
17,4 M
= 20,69 %

VIII. Kesimpulan
1. Titrasi merupakan cara untuk menentukan banyaknya suatu
larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui.
2. Titrasi asam-basa adalah titrasi yang melibatkan asam
maupun basa sebagai titer (zat yang telah diketahui
konsentrasinya) maupun titrant (zat yang akan ditentukan
kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam-basa.
3. Volume titik akhir titrasi adalah volume setelah
penambahan(titrasi) dihentikan tepat pada saat warna
indikator berubah.
4. Volume titik ekivalen adalah volume larutan penitrasi yang
diperoleh melalui perhitungan secara teoritis .
5. Perbedaan volume titik akhir titrasi dengan titik ekivalen
disebut kesalahan titrasi, terletak pada kesalahan pemilihan
indikator.
IX. Lampiran

(Alat yang digunakan) (Larutan HCl)


(Buret, statif dan klem)

(Larutan NaOH) (Larutan CH3COOH) (Fenolftalein)

(Warna larutan sebelum (Warna larutan setelah


dititrasi) dititrasi)

(Proses men-titrasi larutan) (Larutan H2SO4)