Anda di halaman 1dari 6

IMUNOLOGI KANKER

A. TERMINOLOGI
Menurut A. Owen, J. et al (2009: 627- 628) Sel yang menimbulkan klon
sel yang bisa berkembang dalam cara yang tidak terkendali akan menghasilkan
tumor atau neoplasma. Sebuah tumor itu tidak mampu tumbuh tanpa batas dan
tidak menyerang jaringan sekitar yang sehat secara luas dikatakan tumor jinak
yang terus tumbuh dan menjadi semakin invasif disebut ganas; syarat kanker
mengacu secara khusus pada tumor ganas. Sebagai tambahannya Pertumbuhan
yang tidak terkendali, tumor ganas menunjukkan metastasis, dimana kelompok
kecil sel kanker terlepas dari tumor asli, menyerang pembuluh darah atau
limfatik, dan dibawa ke jaringan lain yang jauh, tempat mereka tinggal dan
terus berkembang biak. Dengan cara ini, yang utama Tumor di satu lokasi bisa
menimbulkan tumor sekunder di situs lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa kanker muncul ketika sebuah
tumor menjadi invasif atau ganas. Dikatakan tumor ganas karena telah
menunjukkan pertumbuhan sel yang semakin tidak terkendali dan adanya
penyebaran sel kanker dari tempat organ yang satu ke tempat organ lainnya.
Hal tersebut terjadi karena sel kanker dapat melepaskan diri dari tumor utama,
lalu masuk ke pembuluh darah, ikut bersirkulasi dalam aliran darah dan
tumbuh di jaringan normal yang jauh dari tumor asalnya.
Tumor ganas atau kanker dikelompokkan menurut asal embrio dari
jaringan dimana tumor berada berasal sebagian besar (80-90%) adalah
karsinoma, tumor yang timbul dari asal epitel seperti kulit, usus, atau lapisan
epitel Organ dalam dan kelenjar. Kanker kulit dan sebagian besar kanker usus
besar, payudara, prostat, dan paru-paru adalah karsinoma. Leukemia, limfoma,
dan mieloma tumor ganas dari sel hematopoietik berasal sumsum tulang dan
menyebabkan sekitar 9% kejadian kanker.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa tumor ganas atau kanker biasa
timbul di lapisan permukaan penutup atau membran pembatas organ. Seperti
epitel kulit, usus ataupun epitel organ dalam dan kelenjar. Sedangkan leukimia,
limfoma dan mieloma adalah tumor ganas yang berasal dari sel yang
merupakan proses pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi poliferasi,
maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak. Poliferasi sel
menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel. Tetapi hal tersebut
dikatakan tidak normal ketika pelipatgandaan atau peningkatan sel darah merah
tidak terkendali, karena jika hal tersebut terjadi maka akan menjadi tumor.
Di Amerika Serikat. Leukemia berkembang biak secara tunggal Sel,
sedangkan limfoma dan mieloma cenderung tumbuh seperti massa tumor
sarkoma, yang timbul lebih jarang (sekitar 1% dari kejadian kanker di Amerika
Serikat), adalah berasal dari jaringan ikat mesodermal, seperti tulang, lemak,
dan tulang rawan. Secara historis, leukemia dikelompokkan sebagai akut atau
kronis menurut perkembangan klinis penyakit ini. Leukemia akut muncul tiba-
tiba dan berkembang dengan cepat, Sedangkan leukemia kronis jauh kurang
agresif dan berkembang perlahan seperti ringan, hampir tidak bergejala
penyakit. Perbedaan klinis ini berlaku untuk leukemia yang tidak diobati;
dengan perawatan saat ini, leukemia akut sering terjadi memiliki prognosis
yang baik, dan remisi permanen adalah mungkin. Sekarang perbedaan utama
antara leukemia akut dan kronis adalah kematangan sel yang terlibat. Leukemia
akut cenderung timbul pada sel yang kurang matang, sedangkan leukemia
kronis timbul pada sel matang, meski masing-masing bisa timbul dari limfoid
atau garis keturunan myeloid. Leukemia akut meliputi limfositik akut
Leukemia (ALL) dan leukemia myelogenous akut (AML). Penyakit ini bisa
berkembang pada usia berapapun dan memiliki Onset cepat. Leukemia kronis
termasuk limfositik kronis Leukemia (CLL) dan leukemia myelogenous kronis
(CML), yang berkembang lebih lambat dan terlihat terutama pada orang
dewasa.

B. IMUNOLOGI TUMOR
Menurut Sudiono, J (2014: 62-63) Peran penting lain dari sistem imun
adalah mengidentifikasi dan menghilangkan tumor atau kanker. Meningkatnya
repsons imun pada penderita kanker merupakan pertanda baik yang
menjanjikan untuk pengobatan. Kanker merupakan kondisi keganasan klinis
yang saat ini makin meningkat insidensinya. Dalam kaitannya dengan respons
pertahanan tubuh terhadap adanya klinis ini, aspek peran sistem imun
merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, sekitar 40%
insidensi tumor ganas pembuluh darah sarkoma kaposi dijumapi pada penderita
AIDS. Sarkoma kaposi juga dapat mengenai pasien penerima organ
transplantasi yang sedang mendapatkan imunosupresif dosis tinggi.
Berdasarkan penjelasan di atas, sistem imun merupakan sistem
pertahanan yang sangat dibutuhkan untuk menghilangkan tumor atau kanker.
Akan tetapi pada kenyataannya terkadang sistem imun manusia tidak
semuanya mampu mengatasi sel kanker tersebut, karena perlu diketahui bahwa
penyebaran sel kanker lebih cepat dibandingkan respon imun manusia itu
sendiri, sehingga akhirnya sel imun tidak mampu mengatasinya. Penyakit
kanker saat ini bukan lagi suatu penyakit yang awam akan tetapi penyakit ini
makin meningkatnya insidensinya maksudnya adalah bahwa telah
meningkatnya frekuensi penderita baru kanker yang ditemukan pada suatu
waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu.
Akhir-akhir ini diketahui beberapa faktor yang berhubungan dengan
perkembangan kanker pada manusia termasuk rokok, alkohol, diet, polusi
udara, bahan infeksi (virus dan bakteri), kimiawi, radiasi, dan faktor turunan.
Terpaparnya sel normal dengan faktor ini menyebabkan mutasi gen yang luas
seperti: gen supresor tumor sebagai gen yang mengode faktor pertumbuhan;
reseptor faktor pertumbuhan; faktor motilitas dan invasi yang menyebabkan
terjadinya transformasi keganasan dari sel normal melalui ekspresi atau
pelepasan produk abnormal atau produk normal dengan kadar tinggi.
Kanker merupakan penyakit yang tidak hanya disebabkan oleh satu
faktor atau kausalitas, tetapi multi-kausal, hal tersebut dibuktikan bahwa ada
beberapa faktor yang bisa menyebabkan perkembangan sel kanker pada
manusia seperti merokok, minum alkohol, diet, polusi udara, bahan infeksi,
radiasi bahkan faktor turunan. Faktor-faktor tersebut membawa suatu zat yang
akan memapari sel normal tubuh manusia yang menyebabkan mutasi gen atau
perkembangan sel kanker secara besar-besaran. Seperti contohnya dalam gen
supresor tumor sebagai pemicu pertumbuhan sel kanker. Gen supresor tumor
itu sendiri adalah protein yang berada pada sel tumor yang seharusnya bisa
dikendalikan akan tetapi dalam hal ini gen supresor itu sendiri terus
merangsang untuk tumbuh dan kembangnya sel kanker karena adanya faktor-
faktor risiko tersebut. Hal tersebut dapat memicu perkembangan sel normal
menjadi tumor ganas.
Seharusnya, sistem imun yang berfungsi normal dapat mencegah insidens
dari kanker. Namun, kenyataannya tumor mampu berkembang pada pasien
dengan keadaan imun normal. Hal ini mengindikasikan bahwa imunitas
terhadap tumor seringkali lemah dan mudah sekali dikalahkan oleh cepatnya
pertumbuhan tumor. Fungsi fisiologis sistem imun adaptif adalah mencegah
pertumbuhan sel yang mengalami transformasi atau merusaknya sebelum
menjadi tumor yang berbahaya aktivasi ini dinamakan immune surveilance.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa yang dimaksud immune
surveilance atau imun surveilan adalah sistem imun yang secara alami
berpatroli di seluruh tubuh manusia untuk mendeteksi adanya sel tumor yang
dikenalnya sebagai benda asing, hal tersebut bertujuan untuk merangsang
aktivasi anitbodi untuk membunuh sel tumor yang belum menjadi klinis. Imun
surveilan ini berlaku pada orang yang memiliki sistem imun yang normal dan
peka terhadap adanya antigen tak terkecuali pada usia tua dan bayi karena saat
usia tersebut respon imun terhadap adanya antigen berkurang. Hal ini pun
berlaku pada beberapa orang yang memiliki penyakit AIDS, penderita
immunodefisiensi lainnya.
Insidensi kanker meningkat pada usia lanjut bersamaan dengan penyakit
infeksi karena kemampuan sistem imun untuk mengenali dan memengaruhi
respons imun yang kuat terhadap patogen mnejadi berkurang seiringnya
bertambahnya usia. Insidensi kanker juga meningkat pada pasien imunosupresi
seperti pada pasien yang sedang mendapat terapi obat sitotoksik dan pasien
AIDS.
Respon imun terhadap tumor atau kanker berarti sistem imun merespons
bukan terhadap mikroba (seperti lazimnya), tetapi terhadap sel non-infeksius
yang dianggap sebagai benda asing. Marker antigen tumor sebagai benda asing
diekspresikan pada hampir setiap sel penderita yang menjadi target
transformasi malignan. Marker antigen ini bekerja melalui mekanisme khusus
yang menginduksi respons imun terhadap tipe-tipe sel kanker yang berbeda
tersebut. Namun, umumya sel kanker hampir identik dengan sel tubuh sehat
sehingga efisiensi sistem imun lebih rendah dalam hal memerangi bahan
infeksius. Di samping itu, mayoritas antigen tumor atau kanker manusia adalah
antigen terkait tumor (tumor asociated antigen) dan diekspresikan dalam
jumlah lebih kecil dalam sel normal.
Marker antigen tumor atau penanda tumor adalah suatu substansi yang
ditemukan di dalam tubuh seseorang yang memiliki kanker. Biasanya hal
tersebut ditemukan dalam darah ataupun urin, yang secara otomatis diproduksi
langsung oleh sel-sel aknker atau tubuh sendiri sebagagi respons terhadap
adanya kanker. Penanda tumor itu sendiri biasanya adalah protein. Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat disimpulkan pula bahwa respon imun manusia lebih
peka terhadap penyakit infeksi daripada non-infeksi.
Tumor ganas dapat menimbulkan respons inflamasi kronis yang tidak ada
hubungannya dengan nekrosis ataupun infeksi dari jaringan tumor itu sendiri
meskipun infiltrat inflamasi terutama sel T dan makrofag, yang diduga
memediasi respons imun serta antigen yang menimbulkan respons sel-sel
tersebut tidak dapat diidentifikasi. Adanya sel jaringan limfoid dan makrofag
dalam stroma jaringan kanker menunjukkan suatu reaksi terhadap antigen
tumor, meskipun efektivitasnya dalam membatasi pertumbuhan kanker masih
dipertanyakan.

C. ANTIGEN TUMOR
Menurut Sudiono, J (2014: 64-65) Bila sistem imun seseorang mampu
bereaksi melawan suatu tumor, berarti tumor harus mengekspresikan antigen
yang dapat terlihat sebagai nonself oleh sistem imun penderita. Tumor ganas
mengekspresikan bermacam-macam molekul yang dapat dikenali oleh sistem
sebagai antigen asing. Sel yang mengalami transformasi neoplastik
mengekspresikan antigen yang tidak ditemukan pada sel normal. Bagi sistem
imun, antigen ini tampak sebagi benda asing dan keberadaannya menyebabkan
sel-sel imun menyerang sel tumor.
Sistem imun manusia akan teraktivasi jika antigen tumor dapat dikenali
atau dilihat sebagai benda asing. Pada kenyataannya tumor ganas
mengekspresikan berbagai macam molekul untuk dikenali sebagai antigen
asing oleh sistem imun. Hal ini akan menyebabkan proses respon imun yang
cukup lama dan perlu ditekankan kembali biasanya perkembangan sel kanker
lebih cepat dibandingkan perjalanan respon imun untuk mengatasi sel kanker
itu sendiri. Sel yang mengalami transformasi neoplastik atau perubahan sel
normal menjadi ganas yaitu tidak ditemukan pada sel normal. Tetapi ditemukan
pada sel yang mengalami kerusakan dan adanya pertumbuhan yang tidak
terkendali.
Banyak antigen tumor merupakan produksi dari gen mutan atau
translokasi onkogen atau gen supresor tumor yang diduga berperan dalam
proses transformasi keganasan. Pada beberapa tumor di manusia, antigen yang
meningkatkan repsons imun tampak seluruhnya sebagai protein normal yang
diekspresikan berlebihan atau yang ekspresinya normal terbatas pada jaringan
khusus atau tingkatan perkembangan tertentu, tetapi tidak teratur. Normal self
antigen tidak meningkatkan repsons imun, tetapi bila diekspresikan berlebihan
dapat meningkatkan repsons imun.
Antigen yang diekspresikan oleh tumor berasal dari beberapa sumber.
Beberapa diantaranya berasal dari virus onkogenik, seperti human papiloma
virus yang menyebabkan kanker leher rahim. Lainnya merupakan protein
organisme yang terbentuk dalam tingkat rendah pada sel normal, tetapi
mencapai kadar tinggi pada sel tumor. Contohnya, enzim tiroinase yang
diekspresikan dengan kadar tinggi yang mentransformasi sel kulit tertentu
(misal sel melanosit) menjadi tumor yang dinamakan melanoma. Sumber
antigen tumor yang ketiga adalah protein yang secara normal penting untuk
meregulasi pertumbuhan dan keberadaan sel yang umumnya mengalami mutasi
menjadi molekul yang menginduksi kanker, yang dinamakan onkogen.
Onkogen merupakan gen atau protein yang awalnya normal tetapi karena
adanya faktor pendorong seperti faktor risiko yang telah disebutkan dipoint
sebelumnya maka berubah menjadi gen yang mendorong pertumbuhan sel
yang umumnya mengalami mutasi secara besar-besaran sehingga menjadi
kanker.
Pada tumor yang diinduksi virus, antigen tumor umumnya merupakan
produk dari virus. Antigen tumor disajikan pada molekul MHC kelas I dengan
cara yang sama dengan antigen virus. Antigen spesifik tumor yang
teridentifikasi saat ini adalah kompleks peptida yang terikat pada molekul
antigen leukosit manusia (HLA) pada permukaan sel tumor. Hal ini yang
memungkinkan sel T mengenali sel tumor sebagai sessuatu yang abnormal.