Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MAKALAH VENTILASI TAMBANG TENTANG :

PENCEGAHAN LEDAKAN GAS DAN DEBU BATUBARA


DI TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH

DiSusun Oleh Kelompok :

YUSTINUS AYUB KAMBUNO


NPM : 14.11.108.701602.000843

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

TENGGARONG

2014

Page 1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................... 1

DAFTAR ISI................................................................................................................ 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 3
1.2 Tujuan Penulisan.................................................................................... 3
1.3 Manfaat Penulisan.................................................................................. 4
1.4 Metode Pembuatan Makalah.................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Ventilasi penambangan batubara bawah tanah....................................... 5
2.2. Pengukuran ventilasi............................................................................. 8
2.3. Pengukuran ventilasi udara .................................................................. 9
2.4. Pengukuran kecepatan aliran udara........................................................ 10
2.5. Pengukuran luas penampang jalur udara, temperatur dan tekanan udara. 10
2.6. Pengontrolan ventilasi............................................................................ 11
2.7. Dasar perhitungan jaringan ventilasi...................................................... 12

BAB III DASAR TEORI


3.1 Bahan yang mudah meledak.................................................................. 13
3.2 Udara tambang....................................................................................... 15
3.3. Pemicu ledakan...................................................................................... 16
3.4. Potensi ledakan gas methan dan debu batubara...................................... 17
3.5. Pencegahan ledakan............................................................................... 19

BAB IV KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 22

Page 2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Tambang bawah tanah adalah metode penambangan yang kegiatannya
dilakukan dibawah permukaan bumi / tidak berhubungan dengan udara diluar
untuk mengambil bahan galian atau endapannya. Karena kegiatan penambangan
yang dilakukan dibawah tanah tentu rentan dengan berbagai bahaya yang dapat
menyebabkan cidera hingga kematian. Pada resume ini akan dijelaskan
kecelakaan tambang bawah tanah yang diakibatkan oleh sistem ventilasi yang
buruk.
Sistem ventilasi merupakan sesuatu hal yang penting dalam kegiatan
penambangan bawah tanah, karena pada dasarnya sistem ventilasi bertujuan
antara lain :
1. Menyediakan oksigen bagi pernapasan manusia
2. Mengencerkan gas-gas berbahaya dan beracun dalam tambang bawah
tanah
3. Menurunkan temperature udara tambang bawah tanah
4. Mengurangi jumlah debu yang timbul akibat kegiatan produksi
Tujuan dari sistem ini juga ditunjang dengan peralatan ventilasi yang sesuai
dengan kondisi lingkungan kegiatan penambangan. Jika tujuan dari sistem
ventilasi tersebut tidak dapat dicapai memungkinkkan untuk terjadinya kecelakaan
tambang bawah tanah.
Makalah ini akan membahas tentang penyebab dan penanganan ledakan akibat
gas metan dan debu batubara pada tambang bawah tanah.

I.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari makalah ini adalah
1. Menjelaskan penyebab ledakan gas dan debu batubara di tambang bawah
tanah
2. Menjelaskan pencegahan ledakan gas dan debu batu bara di tambang
bawah tanah

Page 3
3. Mengetahui pemicu ledakan di tambang bawah tanah

1.3 Manfaat Penulisan


Penulisan makalah ini di buat agar bermanfaat untuk:
1 Bagi Mahasiswa dan Penulis :
Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pencegahan peledakan
gas dan debu batubara di tambang batubara bawah tanah.
2 Bagi Tenaga pengajar :
Sebagai bahan referensi terhadap mata kuliah yang bersangkutan dan
materi yang di ajarkan.
3 Bagi Masyarakat dan Pembaca :
Agar masyarakat dapat mengetahui lebih detail mengenai gas dan debu
batubara sebagai pembelajaran ventilasi tambang.

1.4 Metode Pembuatan Makalah


Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode
sekunder, yaitu metode berdasarkan data dari buku, internet atau artikel-artikel
terkait lainnya dan pemahaman yang dilihat dari sudut pandang penulis.

BAB II
PEMBAHASAN

Page 4
2.1. Ventilasi Penambangan Batubara Bawah Tanah
Batubara terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk akibat proses
fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena berasal dari
material organik yaitu selulosa, sudah tentu batubara tergolong mineral organik
pula. Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai berikut:
5(C6H10O5) > C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
C20H22O4 adalah batubara, dapat berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus,
atau antrasit, tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi
unsur C akan semakin tinggi seiring dengan tingkat pembatubaraan yang semakin
berlanjut. Sedangkan gas-gas yang terbentuk yaitu metan, karbon
dioksida serta karbon monoksida, dan gas-gas lain yang menyertainya akan masuk
dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan batubara.
Secara teorisasi, jumlah gas metan yang terkumpul pada proses terbentuknya
batubara bervolume satu ton adalah 300m3. Kondisi terperangkapnya gas ini akan
terus berlangsung ketika lapisan batubara atau batuan di sekitarnya tersebut
terbuka akibat pengaruh alam seperti longsoran atau karena penggalian
(penambangan).
Gas-gas yang muncul di tambang dalam (underground) terbagi menjadi gas
berbahaya (hazardous gas) dan gas mudah nyala (combustible gas). Gas
berbahaya adalah gas yang dapat mempengaruhi kesehatan yang dapat
menyebabkan kondisi fatal pada seseorang, sedangkan gas mudah nyala adalah
gas yang berpotensi menyebabkan kebakaran dan ledakan di dalam tambang.
Pada tambang dalam, gas berbahaya yang sering ditemukan adalah karbon
monoksida (CO), sedangkan yang dapat muncul tapi jarang ditemui adalah
hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2).
CO adalah gas tak berwarna, tak berasa, tak berbau, dan memiliki berat jenis
sebesar 0,967. Pada udara biasa, konsentrasinya adalah 0 sampai dengan beberapa
ppm, dan menyebar secara merata di udara. CO timbul akibat pembakaran tak
sempurna, ledakan gas dan debu, swabakar, kebakaran dalam tambang, peledakan
(blasting), pembakaran internal pada mesin, dll. Gas ini sangat beracun karena

Page 5
kekuatan ikatan CO terhadap hemoglobin adalah 240-300 kali dibandingkan
ikatan oksigen dengan hemoglobin. Selain beracun, gas ini sebenarnya juga
memiliki sifat meledak, dengan kadar ambang ledakan adalah 13-72%.
Untuk gas mudah nyala pada tambang batubara, sebagian besar adalah gas
metan (CH4). Metan adalah gas ringan dengan berat jenis 0,558, tidak berwarna,
dan tidak berbau. Gas ini muncul secara alami di tambang batubara bawah tanah
sebagai akibat terbukanya lapisan batubara dan batuan di sekitarnya oleh kegiatan
penambangan. Dari segi keselamatan tambang, keberadaan metan harus selalu
dikontrol terkait dengan sifatnya yang dapat meledak. Gas metan dapat terbakar
dan meledak ketika kadarnya di udara sekitar 5-15% dengan ledakan paling hebat
pada saat konsentrasinya 9,5% pada saat terdapat sumber api yang memicunya.
Untuk menangani permasalahan gas yang muncul di tambang dalam,
perencanaan sistem ventilasi yang baik merupakan hal mutlak yang harus
dilakukan. Selain untuk mengencerkan dan menghilangkan gas-gas yang muncul
dari dalam tambang, tujuan lain dari ventilasi adalah untuk menyediakan udara
segar yang cukup bagi para karyawan tambang, dan untuk memperbaiki kondisi
lingkungan kerja yang panas di dalam tambang akibat panas bumi, panas
oksidasi, dll.
Dengan memperhatikan ketiga tujuan di atas, maka volume ventilasi (jumlah
angin) yang cukup harus diperhitungkan dalam perencanaan ventilasi. Secara
ideal, jumlah angin yang cukup tersebut hendaknya terbagi secara merata untuk
lapangan penggalian (working face), lokasi penggalian maju (excavation), serta
ruangan mesin dan listrik.
Pada sistem pernapasan manusia, oksigen dihisap dan karbon dioksida
dibebaskan. Jumlah oksigen yang diperlukan akan semakin meningkat sesuai
dengan aktivitas fisiknya dan dapat dihitung pula kuantitas udara segar minimum
yang dibutuhkan seseorang untuk proses pernapasan berdasarkan kandungan
oksigen minimum yang diperkenankan dan kandungan karbon dioksida
maksimum yang masih diperbolehkan.
Perlu juga dalam hal ini didefinisikan arti angka bagi atau nisbah pernapasan
(respiratori quotient) yang didefiniskan sebagai nisbah antara jumlah

Page 6
karbondioksida yang dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada
suatu proses pernapasan. Pada manusia yang bekerja keras, angka bagi pernapasan
ini (respiratori quotient) sama dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO 2 yang
dihembuskan sama dengan jumlah O2 yang dihirup pada pernapasannya. Tabel
berikut ini memberikan gambaran mengenai keperluan oksigen pada pernapasan
pada tiga jenis kegiatan manusia secara umum.
Tabel 4.2 Kebutuhan Udara Pernapasan (Hartman, 1982)
Udara terhirup
Angka bagi
Laju per menit Oksigen ter
pernapasan
Pernapasan dalam konsumsi cfm
Kegiatan kerja (respiratori
Per menit in3/menit (10-4 (10-5 m3/detik)
quotient)
m3/detik)
300-800
Istirahat 12 18 0,01 (0,47) 0,75
(0,82-2,18)
2800-3600
Kerja Moderat 30 0,07 (3,3) 0,9
(7,64-9,83)
Kerja keras 40 6000 (16,4) 0,10 (4,7) 1,0

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah udara yang diperlukan
perorang untuk pernapasan yakni :
a. Berdasarkan kebutuhan O2 minimum
yaitu 19,5%.Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm
Pada pernapasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm ;
sehingga akan dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai berikut;
0,21 Q - 0,1 = 0,195 Q

Kandungan Oksigen) (Jumlah Oksigen pada pernapasan) = (Kandungan


Oksigen minimum untuk udara pernapasan ).
Q = (0,1/ (0,21 0,195)) = 6,7 cfm (=3,2 x 10-3 m3/detik)

b. Berdasarkan kandungan CO2 maksimum

Page 7
yaitu 0,5% Dengan harga angka bagi pernapasan = 1,0 ; maka jumlah CO 2 pada
pernapasan AKAN bertambah sebanyak 1,0 x 0,1 = 0,1 cfm.
Dengan demikian akan didapat persamaan :
0,0003 Q + 0,1 = 0,005 Q

Kandungan CO2 dalam udara = (Kandungan CO2 maksimum dalam udara


normal) (Jumlah CO2 hasil pernapasan)
Q = (0,1/(0,005 0,0003)) = 21,3 cfm (= 0,01 m3/detik)

Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan oksigen minimum
19,5% dalam udara pernapasan dan kandungan maksimum karbon dioksida
sebesar 0,5% dalam udara untuk pernapasan, diperoleh angka kebutuhan udara
segar bagi pernapasan seseorang sebesar 6,7 cfm dan 21,3 cfm. Dalam hal ini
tentunya angka 21,3 cfm yang digunakan sebagai angka kebutuhan seseorang
untuk pernapasan. Dalam merancang kebutuhan udara untuk ventilasi tambang
digunakan angka kurang lebih sepuluh kali lebih besar, yaitu 200 cfm per orang
(= 0,1 m3/detik per orang).

2.2. Pengukuran Ventilasi


Pengukuran ventilasi dilakukan untuk memeriksa apakah pada setiap lokasi
pada tambang bawah tanah telah dilakukan ventilasi udara yang cukup sehingga
dapat diketahui kesalahan ventilasi atau untuk mendapatkan bahan yang
diperlukan untuk perencanaan ventilasi atau perbaikan ventilasi. Hal yang harus
diukur tersebut antara lain temperatur udara, kelembapan, tekanan udara,
kecepatan udara, jumlah udara, penurunan tekanan, tekanan kipas angin, kadar gas
dan jumlah debu.

2.3. Pengukuran Kuantitas Udara


Kuantitas udara adalah jumlah udara yang melalui ruang dengan kecepatan
dan luas tertentu diukur setiap satuan waktu. Sedangkan kuantitas udara tambang
yang dimaksud adalah jumlah udara masuk ke dalam tambang dalam waktu

Page 8
tertentu. Kuantitas udara yang melalui jalur udara tidak ditentukan secara
langsung, melainkan berdasarkan pengukuran kecepatan aliran udara dan luas
penampang jalur udara tambang. Tujuan dari perhitungan kuantitas udara tambang
ini adalah untuk mengetahui besarnya kebutuhan udara dan pembagiannya ke
setiap jalur yang membutuhkan di dalam tambang. Setelah diketahui kecepatan
aliran udara dan luas penampang jalur udara pada titik pengukuran, maka
kuantitas aliran udara dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
Q=VxA
dimana :
Q = Kuantitas aliran udara, m3 / detik
V = Kecepatan aliran udara, m / detik
A = Luas penampang jalur udara, m2

Untuk menentukan jumlah udara minimum yang dibutuhkan ditempat kerja


pada suatu tambang bawah tanah didasarkan :
a. Kebutuhan pernapasan setiap orang sebesar 0,01 m 3 / detik. Jumlah udara
minimum yang diperkenankan untuk tambang mengandung gas-gas
berbahaya sebesar 0,1 m3/detik perorang.
b. Kecepatan udara minimum untuk mengendalikan kualitas udara 0,3 m /
detik. Pada tambang yang banyak mengeluarkan gas-gas berbahaya
kecepatan minimum pada permuka kerja 0,76-1,52 m / detik.
c. Kecepatan udara minimum untuk mengendalikan temperatur efektif dan
kelembaban sebesar 0,5 2,5 m / detik.
d. Kecepatan udara minimum pada front kerja pembuatan lubang bukaan 0,3
m/ detik.
e. Kebutuhan udara untuk melarutkan atau pengenceran gas dan debu dalam
tambang.

Page 9
2.4. Pengukuran Kecepatan Aliran Udara
Kecepatan aliran udara didalam tambang merupakan salah satu parameter
dalam perhitungan kuantitas udara. Dalam pengukuran ini menggunakan
anemometer yang merupakan salah satu alat untuk pengukuran kecepatan aliran
udara dalam sistem ventilasi tambang. Untuk mengukur kecepatan aliran udara
dalam tambang teknik pengukuran menggunakan metode Continuous traversing.
Metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan untuk
mengukur kecepatan aliran udara. Pengukuran dilakukan secara konsisten pada
arah horisontal atau vertikal dari atas atau bawah pada ujung yang satu ke ujung
yang lain pada penampang lubang bukaan dengan jalur yang teratur sehingga
seluruh penampang lubang bukaan terukur.

2.5. Pengukuran Luas Penampang jalur udara, Temperatur dan Tekanan


Udara
Selain mengukur kecepatan udara untuk menentukan kuantitas aliran udara
dilakukan pengukuran terhadap luas penampang jalur udara pada setiap titik
pengukuran menggunakan roll meter. Pengukuran luas penampang jalur udara ini
meliputi pengukuran terhadap luas lubang bukaan, luas parit, dan luas pipa.
Temperatur udara diukur menggunakan sling psychrometer (lihat Gambar 4.14).
Pada alat tersebut terdapat dua buah termometer dalam skala derajat celcius yang
diletakkan berdampingan pada bingkai kayu. Fungsinya untuk mengukur
temperatur cembung kering (dry bulb temperature) yang menunjukkan panas
sebenarnya dan temperatur cembung basah (wet bulb temperature) yang
menunjukkan temperatur pada saat terjadinya penguapan air. Pengukuran
temperatur dilakukan pada stasiun yang sama pada saat pengukuran kecepatan
aliran udara.
Pengukuran tekanan udara menggunakan barometer bertujuan untuk
mengetahui perbedaan tekanan udara pada setiap titik pengukuran. Dengan
diketahuinya perbedaan tekanan udara, maka dapat diperkirakan arah pergerakan
udara. Dimana udara akan selalu bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke
tempat yang bertekanan lebih rendah.

Page 10
2.6. Pengontrolan Ventilasi
Agar pengaturan udara berjalan efektif, maka diperlukan berbagai peralatan
atau fasilitas pengontrol pada jalur udara tambang. Penggunaan dan penempatan
fasilitas pengontrol tersebut harus dapat memungkinkan aliran udara terdistribusi
secara proporsional ke berbagai lokasi yang dikehendaki. Adapun alat-alat
pengontrol udara ventilasi tersebut antara lain :

Penutup (Stopping)
Stopping dipasang pada jalur udara tambang untuk menutup atau mencegah
aliran udara. Stopping dibedakan dalam dua macam yaitu : temporary stopping
dan permanent stopping. Temporary stopping biasanya terbuat dari
papan/playwood, plastic dan bahan-bahan lain yang kedap udara, temporary
stopping dipasang pada tempat-tempat kerja yang aktif dan cepat berubah,
sehingga harus mudah dibongkar-bongkar. Permanen stopping biasanya terbuat
dari plat besi, batubata, beton dan lain-lain. Karena penggunaannya untuk
menutup jalan udara dalam waktu yang tidak terbatas, maka harus dibuat kedap
udara dan tidak mudah retak. Permanen stopping ini banyak digunakan untuk
menutup daerah yang sudah selesai ditambang dan atau daerah bekas kebakaran.
Pintu Angin (Doors)
Pintu angin sangat penting untuk menghentikan aliran udara, pintu angin
biasanya dibuat dari bahan-bahan kedap udara yang kuat dapat digerakkan
(buka/tutup), agar dapat dilalui orang atau peralatan. Pintu angin ada yang tahan
api dan dapat menutup secara otomatis bila terjadi kebakaran atau peledakan.
Disamping itu untuk menyetop udara juga dapat digunakan sebagai
pengatur/regulator bila dibutuhkan.

Regulator (Pintu Pengatur)


Untuk mengatur kuantitas udara yang mengalir maka diperlukan regulator
guna membagi kuantitas udara, sehingga masing-masing segmen jalan udara

Page 11
tercukupi kebutuhan udaranya. Regulator adalah alat untuk mengatur besar
kecilnya aliran udara yang akan melalui jalan itu. Biasanya regulator dipasang
pada pintu sehingga merupakan jendela dengan penutup yang dapat digerakkan ke
kanan dan ke kiri (menutup/membuka), ukurannya bervariasi sesuai dengan
kebutuhannya. Regulator ini merupakan alat untuk menghasilkan tahanan buatan
yang bertujuan untuk memperoleh kuantitas udara yang diinginkan agar jalan
udara atau permuka kerja tercukupi kebutuhan udaranya.
Jembatan udara (Overcast atau Crossing)
Jembatan udara adalah alat untuk menghindari pencampuran dua aliran
udara yang bertemu pada suatu perempatan, dimana salah satu aliran udaranya
dialihkan / dilewatkan melalui jembatan udara. Jembatan udara dipasang di lorong
perempatan antara terowongan intake dan terowongan exhaust.

2.7. Dasar Dasar Perhitungan Jaringan Ventilasi


Prinsip perhitungan jaringan ventilasi pada dasarnya merupakan pemahaman
dari teori pengaliran udara, sehingga diperlukan dasar-dasar pengetahuan tentang
mekanika fluida. Salah satu tujuan dari perhitungan ventilasi tambang adalah
penentuan kuantitas udara dan rugi-rugi (kehilangan energi), yang keduanya
dihitung berdasarkan perbedaan energi.
Proses pengaliran udara pada ventilasi tambang diasumsikan sebagai proses
aliran tetap (steady flow process). Dalam suatu aliran tetap berlaku hukum
kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi total di dalam suatu sistem
adalah tetap, walaupun energi tersebut dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk
lainnya. Perhatikan

BAB III
DASAR TEORI

3.1. Bahan yang mudah meledak

Page 12
Secara umum kebakaran dapat terjadi bila dipenuhi tiga unsur pemicu
kebakaran itu, yakni adanya api, oksigen dan bahan bakar (triangle fire).
Sedangkan ledakan dapat terjadi jika ada 5 syarat yang terpenuhi, yakni ada panas
(heat), bahan bakar (fuel), udara (oxygen), ruang terisolasi (confinement), dan ada
tahanan (suspension). Untuk jelasnya perhatikan gambar berikut.

Gambar 2.1 Segilima Ledakan

Terdapat 2 bahan yang mudah meledak yaitu berupa gas dan debu batubara.
Gas yang dapat meledak (Explosive gas)
Kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah berupa kebakaran dan
ledakan disebabkan adanya gas methan (CH4). Gas methan yang terdapat dari
batubara kadarnya bervariasi, yakni:
1. Batubara coklat dan antrasit (brown coal and anthracite) umumnya sedikit
gas methan, sedangkan pada batubara bituminous dan sub bituminous lebih
banyak.
2. Batubara keras/padat (hard and dense coal) sedikit gas methan, sedangkan
batubara lunak (brittle coal) lebih banyak.
3. Batubara yang pengendapannya terganggu (high volatile matter) mungkin
sangat banyak melepaskan gas methan.
4. Lapisan batubara pada patahan (faults) dan lipatan (folds) atau rekahan
mungkin banyak melepaskan gas methan.

Page 13
5. Bagian atas (roof) dan bagian bawah (floor) terbentuk dari serpihan
material lempungan yang tahan api (impermeable clay shale) dapat
mengeluarkan banyak gas methan, sedangkan pada lapisan endapan pasir
kasar akan sedikit gas methan yang dilepaskan.
6. Semakin dalam letak lapisan batubara dari permukaan tanah, akan semakin
banyak gas methan yang dapat keluar dari padanya, hal inidisebabkan oleh
adanya tekanan dan panas yang semakin tinggi.
Pada umumnya pelepasan gas methan dari lapisan batubara itu dapat
berupa pelepasan bebas, pemancaran (emission), dan keluar dari celah
bebatuan (outburst).
Gas methan yang keluar dari batubara teremisi ke udara di sekitarnya.
Karena gas ini lebih ringan dari udara, maka dia berada pada bahagian atas
(langit-langit terowongan). Gas ini cenderung berada pada bahagian akhir
lobang bukaan tambang bawah tanah (tail gate of the longwall face),
lobang naik (raise end), dan bahagian atap (caved roofs).
Debu batubara
Debu batubara adalah material batubara yang terbentuk bubuk (powder), yang
berasal dari hancuran batubara ketika terjadi pemrosesannya(breaking, blending,
transporting, and weathering). Debu batubara yang dapat meledak adalah apabila
debu itu terambangkan di udara sekitarnya.
Pemisahan (breaking) secara kering dengan cara peledakan penggaruan dapat
menimbulkan debu yang banyak. Debu batubara juga dapat terbentuk pada proses
penggilingan dan ketika pencampurannya serta pengangkutan. Disamping itu
proses pelapukan alami batubara juga dapat menjadi sumber terbentuknya debu
batubara tersebut.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa debu batubara akan terbentuk dalam
jumlah yang cukup banyak kalau operasi penambangan dilakukan dalam proses
yang kering. Sebaliknya jika dilakukan penambangan dengan sistem penyiraman
air yang cukup, debu yang terbentuk akan terendapkan pada lantai kerja.
Ledakan debu batubara menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi
disertai dengan nyala api. Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang

Page 14
berwarna hitam. Ledakan merambat pada lobang turbulensi udara akan semakin
dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal.
Tekanan udara yang terjadi akan bervariasi tergantung pada karakteristik dan
jumlah debu batubaranya. Tekanan itu biasanya ada antara 2 4 kg/cm 2. Pada
ledakan yang sangat kuat (high explosive), kecepatan ledakan dapat mencapai
1000 m/detik (jauh lebih tinggi dari kecepatan suara).
Bila akumulasi debu batubara yang tertahan dalam terowongan tambang
bawah tanah mengalami suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal,
seperti gerakan roda-roda mesin, tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya,
sehingga debu batubara itu terangkat ke udara (beterbangan) dan kemudian
membentuk awan debu batubara dalam kondisi batas ledak (explosive limit) dan
ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran.
Jika pada proses pertama itu terjadi ledakan disertai kebakaran, sisa debu
batubara yang masih tertambat di atas lantai atau pada langit-langit dan dinding
terowongan akan tertiup dan terangkat pula ke udara, lalu debu itu pun akan
meledak. Demikianlah seterusnya, bahwa dalam tambang itu akan terjadi ledakan
beruntun sampai habis semua debu batubara terakar. Ledakan itu akan menyambar
ke mana-mana, sehingga dapat menjalari seluruh lokasi dalam tambang itu dan
menimbulkan kerusakan yang sangat dahsyat.

3.2. Udara Tambang


Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari ;
Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain seperti terlihat pada

Tabel 3.1 Komposisi Udara

Page 15
Unsur Persen Volume (%) Persen Berat (%)

Nitrogen (N2) 78,09 75,53


Oksigen (O2) 20,95 23,14
Karbondioksida (CO2) 0.03 0,046
Argon (Ar), dll 0,93 1,284

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar normal
terdiri dari :
Nitrogen = 79% dan
Oksigen = 21%
Disamping itu selalu dianggap bahwa udara segar akan selalu mengandung
karbondioksida (CO2) sebesar 0,03%.
Demikian pula perlu diingat bahwa udara dalam ventilasi tambang selalu
mengandung uap air dan tidak pernah ada udara yang benar-benar kering. Oleh
karena itu akan selalu ada istilah kelembaban udara.

3.3. Pemicu ledakan


Sumber utama dari debu batubara adalah
a) Peledakan lapisan batubara
b) Pemotongan lapisan BB oleh mesin drum cutter, continous miner, road
header dll.
c) Transfer point conveyor (belt conveyor, chain conveyor).
d) Saat transportasi BB menuju permukaan
Pemicu dari ledakan gas adalah
a) Peledakan (kelebihan bahan peledak, kekurangan stemming).
b) Listrik (sambungan kabel buruk, isolasi rendah, listrik statis).
c) Lampu listrik.
d) Rokok (api).
e) Swabakar (panas api)
f) Bunga api (patahan penyangga, lentingan batu).

3.4. Potensi Ledakan Gas Methan dan Debu Batubara

Page 16
Berikut ini dijelaskan bagaimana komposisi masing-masing bahan tersebut,
sehingga terjadi ledakan tambang :
1) Konsentrat gas methan
Gas methan dapat meledak pada konsentrasi antara 5 15% di udara
sekitarnya pada tekanan normal. Sedangkan ledakan terbesar dan berbahaya
akan terjadi pada konsentrasi 9,5%.
2) Pengaruh debu tertahan
Bila debu batubara, yang butirannya sangat halus, dengan konsentrasi 10,3
gram/m3 volume udara, beterbangan ke udara sekitarnya, membentuk awan
debu batubara, dan jika pada saat bersamaan ada pijaran bunga api, maka
akan terjadi ledakan debu batubara itu.

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa konsentrasi campuran antara


debu batubara dengan gas methan yang dapat meledak adalah sebagai tertera
pada tabel.

Tabel 3.2 Konsentrasi Minimum campuran Gas Methan dan Debu


Batubara yang Dapat Meledak
Jumlah Debu 0,00 10,3 17,4 27,9 37,7 47,8
Batubara(gr/m3)
Konsentrasi Gas 4,85 3,70 3,00 1,70 0,60 0,00
Methan (%)

Apabila terjadi campuran antara udara dan gas methan dan di sana terjadi
pijaran api, maka pertama akan terjadi kebakaran. Proses kebakaran ini
menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan uap air dengan reaksi kimia : CH4 + 2O2
= CO2 + 2H2O.
Ledakan akan timbul bila pada lokasi tersebut sedang ada awan debu
batubara (debu batubara yang sedang beterbangan. Ledakan pada suatu lokasi
akan memberikan getaran ke daerah tetangganya sehingga debu batubara yang
tadinya terendapkan akan berhamburan pula, dan untuk selanjutnya akan terjadi

Page 17
lagi ledakan beruntun sampai semua bahan potensial ledakan habis terbakar dan
meledak.
Bila jumlah oksigen berkurang, gas akan terbakar secara tidak sempurna
menghasilkan karbon monoksida (CO) yang sangat beracun, hydrogen (H), dan
air (H2O). Reaksi kimianya: CH4 + O2 = CO + H2 + H2O
Statistik Ledakan Gas Dan Debu Batubara

Tabel 3.3 Statistik Kecelakaan Ledakan Tambang Berdasarkan Penyebabnya


Penyebab Jumlah Kejadian Persentase
Peledakan (blasting) 80 23,2
Swabakar (spontaneous 22 6,4
combustion) 103 29,9
Peralatan listrik (Electricity) 100 29,1
Nyala api (naked flame) 15 4,4
Gesekan (friction) 24 7,0
Tidak diketahui (unknown)
Total 344 100,0

Tabel 3.4. Statistik Kecelakaan Ledakan Tambang


Lokasi Jumlah Kejadian Persentase
Lubang naik (raise) 114 33,2
Daerah kerja (working face) 70 20,4
Lapisan batubara (coal seam) 64 18,6
Terowongan silang (main crosscut) 21 6,1
Kemiringan (slop) 16 4,7
Jalur keluar tambang (mined out area) 13 3,8
Ruang fasilitas mekanik 12 3,5
Lubang masuk (main entry) 8 2,3
Lubang miring (inclined shaft) 6 1,7
Terowongan silang (crosscut) 6 1,7
Lubang vertikal (vertical shaft) 6 1,7
Lainnyaa 6 1,7

Page 18
Total 344 100,0

3.5. Pecegahan Ledakan


Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah
tanah, terutama dalam bentuk ledakan gas dan debu batubara, perlu dilakukan
tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini harus dilakukan oleh
segenap pihak yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah tanah tersebut.

Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan batubara ini
adalah:
Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:

o Gas-gas dan debu batubara yang mudah terbakar/meledak

o Karakteristik gas dan debu batubara

o Sumber pemicu kebakaran/ledakan


Metoda eliminasi penyebab ledakan, antara lain:

o Pengukuran konsentrasi gas dan debu batubara

o Pengontrolan sistem ventilasi tambang

o Pengaliran gas (gas drainage)

o Penggunaan alat ukur gas dan debu batubara yang handal

o Penyiraman air (sprinkling water)

o Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan


Teknik pencegahan ledakan tambang

Page 19
o Penyiraman air (water sprinkling)

o Penaburan debu batu (rock dusting)

o Pemakaian alat-alat pencegahan standar.


Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara lain:

o Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan

o Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan

o Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi rawan


Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan ledakan:

o Pemisahan rute (jalur) ventilasi

o Evakuasi, proteksi diri, sistem peringatan dini, dan penyelamatan


secara tim. Sesungguhnya kebakaran tambang dan ledakan gas atau
debu batubara tidak akan terjadi jika sistem ventilasi tambang
batubara bawah tanah itu cukup baik.

Page 20
BAB IV
KESIMPULAN

1. Penyebab ledakan tambang bawah disebabkan oleh gas metan dan debu
batubara
2. Gas metan dapat menghasilka ledakan besar jika konsentrasinya lebih dari 5-
15% dari jumlah gas di tambang bawah tanah
3. Debu batubara berbahaya dan dapat meledak jika konsentrasinya 50 gr/m3
4. Sistem ventilasi yang buruk dapat menjadi penyebab utama terjadinya ledakan
di tambang bawah tanah

Page 21
DAFTAR PUSTAKA

Agusti, 2012. Ledakan Tambang Batubara.


https://ariagusti.wordpress.com/2010/10/17/ledakan-tambang-batubara/
Wiwin, Pertiwi. 2011. Kecelakaan Tambang Bawah Tanah Yang Diakibatkan Oleh
sistem Ventilasi yang Buruk. https://id.scribd.com/doc/241982615/Kecelakaan-
Tambang-Bawah-Tanah-yang-Diakibatkan-Sistem-Ventilasi-yang-Buruk
Zulman, 2013. Tambang bawah tanah. https://id.scribd.com/doc/211666811/146505553-
Tambang-Bawah-Tanah

Page 22