Anda di halaman 1dari 12

Namun, kenyataannya cakupan imunisasi menghadapi tantangan berat.

Dari 33
provinsi, ada 19 provinsi yang capaian cakupan imunisasi dasar lengkapnya di
bawah angka nasional (90 persen). Tidak meratanya cakupan imunisasi dasar
lengkap itu menyebabkan risiko infeksi penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi tetap besar.

Menurut Made, kondisi itu disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya


imunisasi, pengaruh kelompok anti imunisasi, dan kekhawatiran efek imunisasi.
Aspek geografis juga memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi. Sebagai negara
kepulauan, banyak wilayah di Tanah Air yang sulit dijangkau.

Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan beberapa


cara, antara lain melalui program layanan penjangkauan berkelanjutan (sustainable
outreach services/SOS) untuk menjangkau daerah terpencil. Seorang anak di daerah
yang sulit diakses hanya empat kali berkunjung ke penyedia layanan kesehatan
untuk diimunisasi. Di daerah yang tidak terpencil, seorang anak biasanya lima kali
berkunjung.

Upaya lain adalah pemberian vaksin kombinasi (pentavalen) DPT-HB-Hib yang telah
dimulai di empat provinsi pada 2013. Hal itu dinilai lebih efektif dan efisien. Jadi,
satu vaksin mengandung lima antigen untuk mencegah penyakit tuberkulosis,
pertusis, difteri, hepatitis B, dan pneumonia. Pemberian vaksin pentavalen
menyeluruh di semua provinsi dilakukan pada 2014.
Komplikasi campak

Nastiti Kuswandani, dokter spesialis anak dari Divisi Respirologi, Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (FKUI-RSCM), menyatakan, jumlah kasus penyakit komplikasi
campak yang naik adalah radang paru. Dalam sebulan, ada 1-2 kasus baru radang
paru sebagai komplikasi campak. Selain mencegah penyakit bagi anak, imunisasi
memperkuat kesehatan komunitas, kata dia.

Salah satu penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi yang banyak muncul
adalah difteri. Pada 2008-2012, angka kasus difteri naik signifikan (218 kasus tahun
2008 menjadi 1.192 kasus di 2012), disertai kenaikan angka kematian (dari 14
penderita meninggal pada 2008 menjadi 76 pasien pada 2012). Pada 2008-2011,
mayoritas kasus menyerang kelompok usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun. Pada 2012,
difteri umumnya dialami kelompok anak usia 5-9 tahun dan di atas 14 tahun.

Lebih dari 50 persen kasus di tahun 2012 terjadi akibat tidak mendapat imunisasi.
Pada tahun sama, kasus difteri ditemukan di 19 provinsi, jumlah kasus terbanyak
ada di Jawa Timur, yakni 954 kasus atau 79,5 kasus.

Selain itu, penularan campak masih terus terjadi. Sepanjang 2012, ada 160 kejadian
luar biasa campak dengan 2.319 kasus dan empat pasien meninggal. Kasus
penularan campak kebanyakan terjadi di Pulau Jawa (Jawa Barat, DKI Jakarta, dan
Banten). Masalah itu harus segera dituntaskan untuk mencapai target eliminasi
campak pada 2018.

Mayoritas kasus campak pada 2008-2012 menyerang kelompok umur 5-9 tahun.
Pada 2007 dan 2010, penderita campak justru anak usia 1-4 tahun.

http://www.tbindonesia.or.id/pdf/profilpppl2012-130917032535-phpapp02.pdf

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf

Hepatitis B
A. Definisi Penyakit
Hepatitis virus merupakan penyakit sistemik yang terutama mengenai hati. kebanyakan
hepatitis virus akut pada anak atau orang dewasa disebabkan oleh salah satu dari agen berikut:
virus hepatitis A (HAV), agen penyebab hepatitis virus tipe A (hepatitis infeksius); virus hepatitis
B (HBV), penyebab hepatitis virus B (hepatitis serum); virus hepatitis C (HCV), agen hepatitis C
(penyebab sering hepatitis pascatransfusi); atau virus hepatitis E (HEV), agen hepatitis yang
ditularkan secara enterik. Virus lain yang menjadi penyebab hepatitis yang tidak dapat
dimasukan kedalam gol.agen yang telah diketahui dan penyakit yang terkait dinyatakan sebagai
hepatitis non-A-E. Virus lain yang diketahui sifatnya yang dapat menyebabkan hepatitis
sporadik, seperti virus demam kuning, sitomegalovirus,virus epstein-barr,virus herpes simpleks,
virus rubela dan enterovirus.
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (HBV),
suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun
yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Mula-mula
dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi. HBV penyebab hepatitis serum,
HBV ditetapkan sebagai infeksi kronis terutama pada mereka yg terinfeksi sewaktu bayi. Ini
merupakan faktor utama dalam perkembangan terakhir.
B. Gejala penyakit
Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut
dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B
kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain
menjadi lebih beresiko.
Tanda gejala hepatitis B biasanya muncul setelah dua sampai tiga bulan setelah anda
terinfeksi dan gejalanya dapat berfariasi dari yang ringan sampai prarah. Tanda dan gejala
hepatitis B antara lain :

1. Nyeri pada area perut


2. Urin yang berwarna gelap
3. Nyeri sendi
4. Hilang nafsu makan
5. Mual dan muntah
6. Lemah dan kelelahan
7. Kulit dan area putih pada mata menjadi kuning
C. Ciri Ciri
1. Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda yang memiliki ukuran 42

nm

2. Ditularkan melalui jalur parenteral (darah) pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-

sama. 80% kasus hepatitis terjadi akibat transfusi darah. Jarang terjadi penularan melalui

hubungan seksual.

3. Ditularkan melalui darah atau produk darah, saliva, semen, sekresi vagina. Ibu hamil yang

terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan.

4. Masa inkubasi 40 180 hari dengan rata- rata 75 hari.

5. Faktor resiko bagi para dokter bedah, pekerja laboratorium, dokter gigi, perawat dan terapis

respiratorik, staf dan pasien dalam unit hemodialisis, para pemakai obat yang menggunakan

jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual baik heteroseksual maupun pria

homoseksual

D. Etiologi Hepatitis
1. Virus hepatitis sesuai tipenya
2. Alkohol : Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
3. Obat-obatan : Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan
hepatitis akut.
E. Tanda Dan Gejala Hepatitis
1. Masa Tunas
Masa tunas sering sukar ditentukan karena saat terserang infeksi sering tidak diketahui
2. Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-
7 hari. Pertama kali timbul adalah penurunan nafsu makan ( nausea ) , mual, muntah, nyeri
perut kanan atas (ulu hati). Badan terasa pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise,
lekas capek, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri
persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis B.
3. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan
bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu pertama,
kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal
seluruh tubuh, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4. Fase Penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul
bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine
tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.
F. Patofisiologi Hepatitis
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan
oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari
hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring dengan
berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap
suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar.
Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon
sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian
besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan
peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran
kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang
belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya
kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan
billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi.
Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi
retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum
mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi
(bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam
pengangkutan, konjugasi dan ekskresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena
bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat diekskresi ke dalam kemih, sehingga
menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin
terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan
menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
G. Peran Bidan dalam Pencegahan Penyakit
Pengobatan penyakit Hepatitis B memang bukan tugas dan wewenang bidan, tetapi bidan
bisa melakukan pencegahan Hepatitis B dengan melakukan imunisasi pada anak usia balita
(1-5 tahun), dengan memberikan vaksin Hepatitis B yang berasal dari protein khusus kuman
Hepatitis B. Diberikan dengan cara disuntikan secara intramuscular dengan membentuk sudut
450 600, dibagian paha sebelah luar (otot vastus lateralis) 3 kali suntikan dosis 0,5cc.

Surveilans Epidemiologi Hepatitis B


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirkan lebih dari 2 milyar penduduk dunia
terinfeksi hepatitis B (HBV) dengan angka kemaian 250.000 orang per tahun dan lebih dari
350 juta memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang). Hepatitis endemic di China dan bagian
Asia lain. Kebanyakan orang di wilayah tersebut menjadi terinfeksi VHB selama masa kanak-
kanak. Di wilayah ini 8%-10% dari populasi dewasa terinfeksi kronis. kanker hati disebabkan
oleh HBV adalah antara tiga penyebab pertama kematian dari kanker pada pria, dan penyebab
utama kanker pada wanita.
Indonesia adalah negara dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi
yaitu lebih dari 8 persen yang sebanyak 1,5 juta orang Indonesia berpotensi mengidap kanker
hati, hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan
termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan
(Imunisasi).
http://bidankepop.blogspot.com/2014/04/surveilans-epidemiologi-hepatitis-
b.html

Umu
Vaksin Keterangan
r

Saat Hepatiti
lahir s B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah
lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila
status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam
setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan
dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg
ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan
selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka
masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi
berumur 7 hari.

Polio-0
Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk
bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat
bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus
vaksin kepada bayi lain)

1 Hepatiti
bulan s B-2 Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1
dan HB-2 adalah 1 bulan.

0-2 BCG
bulan BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan
diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan
uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan
apabila uji tuberkulin negatif.

2 DTP-1
bulan DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu,
dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1
diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T)

Hib-1
Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval
2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau
dikombinasikan dengan DTP-1.

Polio-1
Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
4 DTP-2
bulan DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara
terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T).

Hib-2
Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan
dengan DTP-2

Polio-2
Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2

6 DTP-3
bulan DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan
dengan Hib-3 (PRP-T).

Hib-3
Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada
umur 6 bulan tidak perlu diberikan.

Polio-3
Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3

Hepatiti
s B-3 HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan
respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3
minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
9 Campa
bulan k-1 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2
merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6
tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur
15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.

15-18 MMR
bulan Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan
imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur
12 bulan.

Hib-4
Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-
OMP).

18 DTP-4
bulan DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah
DTP-3.

Polio-4
Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.

2 Hepatiti
tahun sA Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2
tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.

2-3 Tifoid
tahun Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan
untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida
injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
5 DTP-5
tahun DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DT ap)

Polio-5
Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.

6 MMR
tahun. Diberikan untuk catch-up immunization pada a nak
yang belum mendapatkan MMR-1.

10 dT/TT
tahun Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT a tau
TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama
25 tahun.

Varisela
Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.

June 17, 2012 ariefudin Leave a comment Go to comments

Apa itu Imunisasi ?

Imunisasi adalah pemberian vaksin (virus yang dilemahkan) kedalam tubuh seseorang untuk
memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Imunisasi sangat penting diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-kanak.

Apa pentingnya Imunisasi?

Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar :

1. Dapat terhindar dari penyakit.

2. Mencegah anak cacat.

3. Mencegah kematian pada anak.

Tempat Pemberian Imunisasi?


Posyandu.

Puskesmas.

Rumah Sakit Bersalin.

Rumah Sakit.

Praktek Dokter/Bidan.

Apa saja jenis Imunisasi?

1. BCG

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit TBC.

2. POLIO

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit polio. Polio adalah sejenis
penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan.

3. DPT

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk melindungi anak dari 3 penyakit sekaligus yaitu
difteri, pertusis dan tetanus.

4. HEPATITIS B

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit yang mengakibatkan kerusakan
pada hati.

5. CAMPAK

Adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini sangat menular,yang
ditandai dengan munculnya bintik-bintik merah pada seluruh tubuh. Pemberian vaksin ini
saat bayi berusia 9 bulan.

Yang Harus Diperhatikan

Setelah Imunisasi

BCG : Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan.
Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan bekas imunisasi.

DPT : Beberapa bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi
DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Keadaan ini tidak berbahaya dan
tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala diatas tidak
timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan
imunisasi tidak perlu diulang.
POLIO : Jarang timbuk efek samping.

CAMPAK : Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 410 hari sesudah
penyuntikan.

HEPATITIS : Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.

Jadwal Imunisasi

Umur Jenis Imunisasi


0-7 hari HB 0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT/HB 1, Polio 2
3 bulan DPT/HB 2, Polio 3
4 bulan DPT/HB 3, Polio 4
9 bulan Campak

(Sumber : Kementerian Kesehatan RI)