Anda di halaman 1dari 4

ASUHAN KALA IV

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Persalinan

Dosen : Meti Patimah, SST

Oleh Kelompok 5

Muawenah

Mely Fitria

Nova Wahyuni

II C

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

TASIKMALAYA

2013
BAB II

PEMBAHASAN
A. FISIOLOGI KALA IV
Kala IV dimulai setelah plasenta lahir sampai 2 jam post partum. Saat yang paling
kritis ibu pasca melahirkan adalah pada masa post partum. Pemantauan ini dilakukan
untuk mencegah adanya kematian ibu akibat perdarahan. Diperkirakan bahwa 60%
kematian 50% kematian pada masa nifas 24 jam pertama (Saiffudin,dkk; 2002).
Perdarahan adalah sebab utama yang sebagian besqar diakibatkan perdarahan pasca salin.
Hal ini menunjukkan adanya management persalinan kala III dan IV yang kurang
adekuat. Bagi tenaga kesehatan , khususnya bidan diharapkan agar meningkatkan mutu
dan nkualitas pelayanan asuhan kebidanan., serta lebih peka untuk mengidentifikasi tanda
bahaya dalam npersalinan agar dapat dengan segera ditangani demi mendukung
penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).
B. EVALUASI UTERUS
Perlu diperhatikan bahwa kontraksi uteruus mutlak diperlukan untuk mencegah
terjadinya perdarahan dan pengembalian uterus ke bentuk normal. Kontraksi uterus yang
tidak kuat dan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri, yang dapat
mengganggu keselamatan ibu. Untuk itu evaluasi uterus pasca pengeluaran plasenta
sangat penting diperhatikan.
Untuk membantu uterus kontraksi, bisa dilakukan dengan massae agar uterus
tidak lembek dan mampu berkontraksi secara kuat. Setelah kelahiran plasenta, periksa
kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput
ketuban yang tertinggal didalam uterus, akan mengganggu kontraksi uterus sehingga
menyebabkan perdarahan (Sumarah Widyastuti,dkk,2009).
Bila dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik, maka akan
terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan rangsangan taktil (massae) fundus uteri
dan bila perlu dilakukan kompresi bimanual. Dapat diberikan obat oksitoksin dan harus
diawasi sekurang-kurangnya selama satu jam sambil mengamati terjadinya perdarahan
post partum.

C. PEMERIKSAAN SERVIKS, VAGINA , DAN PERINEUM


Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, periksa darah
perineum, vagina, vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan oleh
kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terlukai dan terbuka.
Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet.

Segera setelah kelahiran bayi, serviks dan vagina harus diperiksa secara
menyeluruh untuk mencari ada tidaknya laserasi dan dilakukan perbaikan lewat
pembedahan kalau diperlukan. Serviks, vagina dan perineum dapat diperiksa lebih mudah
sebelum pelepasan plasenta karena tidak ada perdarahan rahim yang mengaburkan
pandangan.

Pelepasan plasenta biasanya terjadi dalam waktu 5-10 menit pada akhir kala II.
Memijat fundus seperti memeras untuk mempercepat pelepasan plasenta tidak
dianjurkan, karena dapat meningkatkan kemungkinan masuknya sel janin dalam sirkulasi
ibu. Setelah kelahiran plasenta, perhatian harus ditujukan pada setiap perdarahan rahim
yang mungkin berasal dari tempat implantasi plasenta. Kontraksi uterus yang mengurangi
perdarahan dapat dilakukan dengan pijat uterus dan penggunaan oksitosin.

D. PEMANTAUAN DAN EVALUASI LANJUT

Sebagian besar kematian ibu pada periode pasca persalinan terjadi pada 6 jam
pertama setelah persalinan. Kematian ini disesabkan oleh infeksi, perdarahan dan
eklamsia. Oleh karena itu, pemantauan selama dua jam pertama post-partum sangat
penting. Selama kala IV ini bidan harus meneruskan proses penatalaksanaan kebidanan
yang telah mereka lakukan selama kala I,II,III untuk memastikan ibu tidak menemui
masalah apapun. Mereka mengumpulkan data, menginterpretasi data, serta membuat
rencanna asuhan berdasarkan interpretasi mereka atas data tersebut. Kemudian mereka
mengevaluasi rencana asuhan dengan cara mengumpulkan data lebih banyak.

Karena terjadi perubahan fisiologis, pemantauan dan penanganan harus dilakukan


oleh tenaga medis adalah:

1. Vital sign
Tekanan darah < 90/60 mmHg, jika denyut nadinya normal, tekanan darah seperti ini
tidak akan terjadi masalah. Akan tetapi jika tekanan darah < 90/60 dan denyut nadinya
100x/menit, ini mengidentifikasikan adanya suatu masalah. Mungkin ibu mengalami
demam atau terlalu banyak mengeluarkan darah.
2. Suhu
Jika suhu tubuh > 38 c,hal ini mungkin disebabkan oleh dehidrasi (persalinan lama dan
tidak cukup minum) atau ada infeksi.
3. Tonus uterus dan ukuran tinggi fundus uterus
Jika kontraksi uterus tidak baik maka uterus terasa lembek, lakukan masase uterus, bila
perlu berikan injeksi oksitosi atau metergin.
4. Perdarahan
Perdarahan yang normal setelah persalinan mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut
perempuan per jam, selama 6 jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. Jika
perdarahan lebih banyak dari ini, hendaknya ibu diperiksa lebih sering dan penyebab
perdarahaan harus diselidiki. Apakah ada laserasi pada vagina atau serviks, apakah uterus
berkontraksi dengan baik, apakah uterus berkontraksi dengan baik, apakah kanding
kemih kosong.
5. Kandung kemih
Jika kandung kemih penuh, uterus tidak dapat berkontraksi dengan baik. Jika uterus naik
didalam abdomen dan tergeser kesamping ini biasanya merupakan pertanda bahwa
kandung kencingnya penuh. Bantulah ibu untuk bangun dan coba apakah ia bisa buang
air kecil, bantulah dia merasa rileks dengan meletakan jari-jarinya dalam air hangat,
mengucurkan air ke atas perineum, dengan menjaga privasinya. Jika ia tetap tidak
kencing, lakukan kateterisasi.
6. Lochea
a. Lochea rubra : berisi darah segar, sel-sel desidua dan chorion. Terjadi selama 2 hari
pasca persalinan.
b. Lochea sanguinolenta : warna merah kekuningan berisi darah dan lendir. Terjadi pada
hari ke 3-7 pasca persalinan
c. Lochea serosa : berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi. Terjadi pada hari
ke 7-14 pasca persalinan.
e. Lochea alba : cairan putih terjadi setelah 2 minggu pasca persalinan.