Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang,
keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang aktual atau potensial (NANDA, 1990). Diagnosa keperawatan
memberikan dasar pemilihan intervensi yang menjadi tanggung gugat perawat.
Perumusan diagnosa keperawatan adalah bagaimana diagnosa keperawatan
digunakan dalam proses pemecahan masalah. Melalui identifikasi, dapat
digambarkan berbagai masalah keperawatan yang membutuhkan asuhan
keperawatan. Di samping itu, dengan menentukan atau menyelidiki etiologi masalah,
akan dapat dijumpai faktor yang menjadi kendala dan penyebabnya. Dengan
menggambarkan tanda dan gejala, akan memperkuat masalah yang ada.
Dokumentasi keperawatan merupakan catatan tentang penilaian klinis dari respons
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan baik aktual maupun potensial.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian diagnosa keperawatan ?
2. Jelaskan struktur taksonomi NANDA I ?
3. Sebutkan aksis dari taksonomi NANDA I ?
4. Apa saja komponen diagnosa keperawatan ?
5. Jelaskan apa itu deteksi cepat diagnosa keperawatan NANDA I ?
6. Jelaskan apa itu deteksi detail diagnosa keperawatan NANDA I ?

1.3 Tujuan
Makalah ini di buat dengan tujuan agar mahasiswa, tenaga medis khususnya
dapat memahami dan mengaplikasikannya di dalam asuhan keperawatan mengenai
dokumentasi diagnosa keperawatan.yang dapat mahasiswa mengerti terdiri dari :
1. Dapat mengetahui pengertian diagnosa keperawatan.
2. Dapat mengetahui struktur taksonomi NANDA I .
3. Dapat mengetahui aksis dari taksonomi NANDA I.
4. Dapat mengetahui komponen diagnosa keperawatan.
5. Dapat mengetahui cara deteksi cepat diagnosa keperawatan NANDA I.
6. Dapat mengetahui cara deteksi detail diagnosa keperawatan NANDA I.

1.4 Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar meminimalisir kesalahan dalam tindakan
praktik keperawatan yang di sebabkan oleh ketidak pahaman dalam prosedur
dokumentasi diagnosa keperawatan dalam keperawatan sehingga berpengaruh besar
terhadap kesehatan klien.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi diagnosa keperawatan.


Diagnosa keperwatan, langkah kedua dari proses keperwatan,
mengklarifikasikan masalah kesehatan dalam ruang lingkup keperawatan. Proses
diagnosa merupakan hasil analisa data dan identifikasi anda dari respon klien
terhadap masalah pelayanan kesehatan. Istilah diagnosa berarti untuk
membedakan atau untuk mengetahui diagnosa keperawatan adalah keputusan
klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah
kesehatan aktual atau potensial atau proses kehidupan (Nanda Internasional, 2007).
pernyataan yang menggambarkan respon aktual atau potensial klien terhadap
masalah kesehatan yang perawat mempunyai lisensi dan kompenten untuk
mengatasinya.
Menurut para ahli :
shoemaker (1984).
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang individu,
keluarga atau komunitas yang di dapatkan melalui proses pengumpulan data
yang disengaja dan sistematis yang menjadi tanggung gugat perawat. Hal ini
ditunjukan secara singkat dan mencakup etiologi kondisi bila di ketahui.
Aspinall (1976)
Suatu proses kesimpulan klinis dari kesimpulan klinis dari perubahan
yang teramati dalam kondisi fisik atau fisiologi pasien. Jika proses ini terjadi
secara aktual dan rasional, maka proses tersebut akan mengarah pada
identifikasi tentang kemungkinan penyebab simptomologi.
Roy (1982)
Diagnosa keperwatan adalah fase singkat atau istilah yang meringkas
kelompok indikator penting (empiris) yang mewakili pola keutuhuhan
manusia.
Masalah kolaborasi adalah komplikasi fisiologi aktual atau potensial yang
dipantau perawat untukmendeteksi onsert perubahan status klien (Carpenito-Moyet
2005). Ketika masalah kolaborasi muncul perawat ikut serta dalam kolaborasi
dengan tenaga pelayanan kesehatan dari disiplin lain. Perawat menangani masalah
seperti perdarahan, infeksi dan aritmia jantung menggunakan tindakan yang
ditentukan dokter dan di tentukan perawat untuk meminimalkan komplikasi.
Sebagai contoh, klien dengan luka operasi beresiko terkena infeksi, sehingga
dokter meresepkan antibiotik. Sedangkan perawat memonitor klien terhadap
timbulnya deman dan tanda infeksi lainnya serta melakukan tindakan luka yang
benar.
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang,
keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang aktual atau potensial (NANDA, 1990).
Kesimpulan diagnosa meliputi masalah yang ditangani oleh perawat
(diagnosis keperawatan) dan masalah yang memerlukan penanganan dari beberapa
disiplin (masalah kolaborasi). Diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi
menggambarkan batasan kondisi klien yang memerlukan asuhan keperawatan
(Carpenito-Moyet, 2005).

2.2 Sejarah diagnosa keperawatan.


Diagnosis keperawatan diperkenalkan pertama kali dalam literatur
keperawatan pada tahun 1950 (McFarland dan McFarlane, 1989). Fry (1953)
mengajukan formulasi diagnosis keperawatan dan rencana asuhan keperawatan
individu untuk membuat keperawatan menjadi lebih kreatif. Dibandingkan dengan
praktik dependen sesuai anjuran dokter (misalnya memasukkan obat dan cairan
intravena), hal ini lebih menekankan pada praktik independen perawat (misalnya
edukasi klien dan peringanan gejala). Awalnya, keperawatan profesional tidak
mendukung diagnosis keperawatan. Pada tahun 1955, Model Nurse Practice Act of
ANA (1955) melarang terapi diagnosis atau peresepan. Akibatnya, perawat ragu
untuk menggunakan diagnosis keperawatan dalam praktik. Namun, teori
keperawatan mendorong keperawatan definitif dalam hubungannya dengan masalah
klien. Teori sebelumnya, yang mendefinisikan tindakan keperawatan dalam
hubunganya dengan masalah berpusat pada klien, merupakan bagian dari
tanggung jawab terhadap ketertarikan dan penggunaan terakhir diagnosis
keperawatan dalam keperawatan terdahulu.
Pada tahun 1973 konferensi nasional pertama untuk klasifikasi diagnosis
keperawatan diselenggarakan untuk menentukan fungsi keperawatan dan
menentukan sistem klasifikasi. Beberapa tahun kemudian, peserta konferensi ini
membangun sebuah taksonomi, yaitu sebuah sistem klasifikasi pilihan untuk
diagnosis yang memiliki kesamaan hubungan. Saat ini ada 13 ruang lingkup, 47
kelas, dan 188 diagnosis keperawatan dalam taksonomi tersebut. Sebagai contoh,
dalam ruang lingkup kenyamanan ada tiga kelas, yaitu : kenyamanan fisik,
kenyamanan lingkungan, dan kenyamanan sosial. Diagnosis keperawatan nyeri akut
termasuk dalam kelas kenyamanan fisik.
Pada tahun 1982 sebuah persatuan profesional, North American Nursing
Diagnosis Association (NANDA) didirikan. Tujuan NANDA adalah untuk
mengembangkan, memperhalus, dan mempromosikan taksonomi terminologi
diagnosis keperawatan untuk digunakan secara luas oleh perawat profesional (Kim,
Mc Farland, dan McLean, 1984). Pada tahun 2003, NANDA berubah nama menjadi
NANDA International (NANDA-I) agar lebih mencerminkan penggunaan
diagnosis keperawatan internasional untuk komunitas kesehatan secara global.
Organisasi ini adalah pemimpin klasifikasi diagnosis keperawatan dan didukung
oleh ANA sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan hal itu.
Pertama kali ANA Standard of Nursing Practice (1973) menggabungkan
diagnosis keperawatan pada tahun 1971, dan tetap terdapat dalam Nursing Scope
and Standards of Practice (ANA, 2004). Scope of Nursing Practice (1987) yang
diterbitkan oleh ANA, menjelaskan keperawatan sebagai diagnosis dan
penatalaksanaan respon manusia terhadap kesehatan dan penyakit, membantu
memperkuat definisi diagnosis keperawatan.
Penelitian dalam bidang diagnosis keperawatan terus berkembang.
Akibatnya, NANDA-I terus berkembang dan menambahkan nama diagnosis baru
pada daftar NANDA-I. Penggunaan standar formal pernyataan diagnosis
keperawatan memilki beberapa tujuan sebagai berikut.
Menyediakan definisi yang tepat yang dapat memberikan bahasa yang sama
dalam memahami kebutuhan klien bagi semua anggota tim pelayanan
kesehatan.
Memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan apa yang mereka lakukan
sendiri, dengan profesi pelayanan kesehatan lain, dan masyarakat.
Membedakan peran perawat dari dokter atau penyelenggara pelayanan
kesehatan lain.
Membantu perawat berfokus pada bidang praktik keperawatan.
Membantu mengembangkan pengetahuan keperawatan.

2.3 Tujuan dan sasaran diagnosa keperawatan.


Tujuan dan sasaran diagnosa keperawatan berbeda dari tujuan dan sasarn
diagnosa medis. Tujuan diagnosa keperawatan adalah untuk mengarahkan rencana
asuhan keperawatan untuk membantu klien dan keluarganya beradaptasi terhadap
penyakit mereka dan untuk menghilangkan masalah perawat kesehatan. Tujuan
diagnosa medis adalah untuk mengidentifikasi dan untuk merancang rencana
pengobatan untuk penyembuhan penyakit atau proses patologis.
Sasaran diagnosa keperawatan adalah untuk mengmbangkan suatu rencana
asuhan yang bersifat individual sehingga klien dan keluarganya mampuh mengatasi
perubahan dan untuk menghadapi tantangan yang diakibatkan dari maslah kesehtan.
Sasaran dari diagnosa medis adalah untuk meresepkan pengobatan. Sebagai contoh
mahasiswa yang berusia 20 tahun masuk rumah sakit dengan nyeri abdomen
kuadran kanan bawah. Dokter membuat diagnosa medis apendistis, dan klien
menjalani apendoktomi darurat untuk menghilangkan apendiks yang terinfeksi.
Setalah apendoktomi perawat mengembangkan beberapa diagnosa keperawatan,
salah satunya dalah hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri
sekunder akibat insisi abdomen. Asuhan keperawatan akan di arahkan pada
penigkatan mobilitas klien pada tahap preoperatif secara bertahap.

2.4 Komponen diagnosa keperawatan.


Diagnosis keperawatan berasal dari proses pengakajian dan diagnosis.
Melalui kalimat tersebut, diagnosis keperawatan berada dalam format dua bagian :
label diagnosis yang diikuti oleh pernyataan faktor terkait. Format dua bagian
tersebut memberikan makna diagnosis dan hubungannya dengan klien tertentu.
Sebagai tambahan, semua diagnosis yang disetujui NANDA-I memiliki sebuah
definisi. Faktor risiko adalah komponen dari diagnosis keperawatan risiko.
Label Diagnosis. Merupakan nama diagnosis keperawatan yang disetujui
oleh NANDA International. Hal ini menggambarkan inti dari respons klien terhadap
kondisi kesehatan dalam kata-kata yang sedikit mungkin. Label diagnosis
melibatkan penggunaan kata penjelas/deksriptor (descriptor) dalam memberikan
pengertian tambahan tentang diagnosis. Sebagai contoh, diagnosis gangguan
mobilitas fisik termasuk dalam deskriptor gangguan untuk menjelaskan keaslian atau
perubahan mobilitas yang menggambarkan dengan baik respons klien. Contoh
deskriptor lainnya adalah kompromi, penurunan, defisiensi, keterlambatan, efetif,
ketidakseimbangan, gangguan, dan peningkatan.
Faktor Terkait. Faktor terkait adalah kondisi atau etiologi yang ditemukan
dari data pemeriksaan klien. Ini berhubungan dengan respons potensial atau aktual
klien terhadap masalah kesehatan dan dapat diubah dengan menggunakan intervensi
keperawatan. Faktor terkait untuk diagnosis NANDA-I melibatkan empat kategori,
yaitu : patofisiologi (biologis atau psikologis), pengobatan terkait, situasi
(lingkungan atau personal), dan maturasi (Carpenito-Moyet, 2005).
Etiologi diagnosis keperawatan selalu berada dalam ruang lingkup praktik
keperawatan dan kondisi yang menetukan intervensi keperawatan.
Definisi. NANDA-I menyetujui definisi untuk setiap diagnosis sesuai
penggunaan dan pemeriksaan klinis. Definisi menggambarkan karakteristik identitas
respons manusia. Sebagai contoh, definisi label diagnosis gangguan mobilitas fisik
adalah keterbatasan pergerakan fisik pada tubuh atau satu ekstremitas atau lebih
(NANDA International, 2007).
Faktor Risiko. Faktor risiko adalah elemen lingkungan, fisiologis,
psikologis, genetik, atau kimia yang meningkatkan kerentanan individu, keluarga,
atau komunitas terhadap kejadian yang tidak sehat (NANDA International, 2007).
Faktor risiko merupakan petunjuk yang menunjukkan diagnosis keperawatan risiko
dapat ditegakkan pada kondisi klien. Faktor risiko membantu dalam memilih
diagnosis risiko yang benar, sama seperti karakteristik definisi membantu dalam
formulasi diagnosis keperawatan aktual. Selain itu, faktor risiko berguna saat
merencanakan tindakan keperawatan preventif.
Pendukung Pernyataan Diagnosis. Data pengkajian keperawatan
diperlukan untuk mendukung label diagnosis dan faktor terkait yang diperlukan
untuk mendukung etiologi. Mengumpulkan data pengkajian yang benar,
berhubungan, dan lengkap akan membantu menentukan aktivitas pemeriksaan yang
menghasilkan jenis data tertentu. Sebagai contoh, menanyakan klien tentang kualitas
dan persepsi nyeri akan menghasilkan data subjektif. Sedangkan palpasi pada daerah
tersebut, yang teradang membuat wajah meringis kesakitan, akan memberikan
informasi objektif.

Tiga komponen diagnosa keperawatan utama dengan merujuk pada hasil


analisa data, meliputi: problem (masalah), etiologi (penyebab), dan sign/symptom
(tanda/ gejala).

Problem (masalah), adalah gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan


dapat diberikan karena adanya kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan
normal yang seharusnya tidak terjadi.

Etiologi (penyebab), adalah keadaan yang menunjukkan penyebab terjadinya


problem (masalah).

Sign/symptom (tanda/ gejala),

Cara Merumuskan Diagnosa Keperawatan.


Pendekatan dalam membuat diagnosa keperawatan dapat dilakukan dengan cara :
1. Pola P+E+S (PES) yaitu : Problem = adalah ciri, tanda atau gejala relevan yang
muncul sebagai akibat adanya masalah.maslah
Etiologi = penyebab
Symptom = tanda dan gejala
Contoh :
Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan penumpukan sputum pada
saluran nafas,ditandai dengan pergerakan dinding dada yang tidak optimal.
2. Pola P+E (PE) yaitu : Problem : maslah
Etiologi : penyebab
Contoh :
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh,yang berhubungan nafsu makan
berkurang (anoreksia).

2.5 Macam-macam diagnosa keperawatan.


NANDA-I telah mengidentifikasi empat tipe diagnosis keperawatan, yaitu :
1. Diagnosis Keperawatan Aktual,
menggambarkan respons manusia terhadap kondisi kesehatan atau
proses kehidupan yang terdapat dalam individu, keluarga, atau komunitas.
Karakteristik definisi (manifestasi, tanda, dan gejala) yang dikelompokkan
dalam pola petunjuk yang berhubungan atau gangguan yang mendukung
pengkajian diagnosis ini (NANDA International, 2007). Pemilihan diagnosis
aktual menunjukkan bahwa data pemeriksaan yang ada sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis keperawatan. Dalam kasus Nn. Devine, Lisa menilai
klien menderita nyeri tulang belakang dengan angka keparahan antara 8-9 dari
skala 1-10. Rasa nyeri meningkat saat pergerakan. Akibat rasa nyeri tersebut,
Nn. Devine tidak dapat tidur. Nyeri akut merupakan diagnosis keperawatan
aktual.
2. Diagnosis Keperawatan Risiko,
menggambarkan respons manusia terhadap kondisi kesehatan/proses
kehidupan yang mungkin menyebabkan individu, keluarga, atau komunitas
menjadi rentan (NANDA International, 2007). Sebagai contoh, setelah Nn.
Devine menjalani laminektomi, dia akan memiliki luka operasi. Lingkungan
rumah sakit menciptakan risiko infeksi nosokomial. Sehingga, setelah Nn.
Devine menjalani operasi, Lisa menegakkan diagnosis keperawatan risiko
infeksi. Pengkajian utama untuk tipe diagnosis ini adalah adanya data yang
menunjang faktor risiko (insisi dan lingungan rumah sakit) yang mendukung
kerentanan Nn. Devine. Data tersebut termasuk faktor fisiologis, psikososial,
keturunan, gaya hidup, dan lingkungan yang meningkatkan kerentanan klien,
atau kecenderungan berkembang ke arah kondisi tersebut.
3. Diagnosis Keperawatan Promosi Kesehatan
adalah penilaian klinis terhadap motivasi individu, keluarga, atau
komunitas serta keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan dan aktualisasi
potensi kesehatan manusia sebagai ungkapan kesiapan mereka untuk
meningkatkan perilaku kesehatan tertentu, seperti nutrisi dan olahraga.
Diagnosis promosi kesehatan dapat digunakan pada berbagai bidang kesehatan
dan tidak membutuhkan tingkat kesejahteraan tertentu (NANDA International,
2007). Potensial peningkatan kenyamanan merupakan contoh diagnosis
promosi kesehatan.
4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera,
menggambarkan respons manusia terhadap tingkat kesejahteraan dalam
individu, keluarga, atau komunitas yang memiliki kesiapan untuk peningkatan
(NANDA International, 2007). Ini merupakan penilaian klinis tentang individu,
keluarga, atau komunitas daam transisi dari tingkat kesejahteraan tertentu ke
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Anda memilih tipe diagnosis ini ketika
klien berharap atau telah mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Sebagai
contoh, potensial peningkatan adaptasi yang terkait dengan keberhasilan
pengobatan kanker adalah diagnosis kesejahteraan, dan perawat beserta
keluarga bekerja sama untuk beradaptasi dengan stresor yang berhubungan
dengan kelangsungan hidup penderita kanker. Dalam pelaksanaannya, perawat
menggabungkan kekuatan klien dan sumber daya yang ada ke dalam rencana
perawatan, dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat adaptasi.

2.6 Perbedaan diagnosa keperawatan dan diagnosa medis.


Perbedaan diagnosa keperawatan dan diagnosa medis adalah diagnosa
keperawatan : pertama,berfokus pada respons klien terhadap penyakit atau masalah
kesehatan yang ada. Kedua,berorientasi pada pemenuhan kebutuhan klien.
Ketiga,dapat berubah sesuai dengan perubahan respon klien. Keempat,diagnosa
keperawatan mengarah pada fungsi mandiri perawat dalam melakukan intervensi
dan evalusi keperawatan. Dan kelima,diagnosa keperawatan melengkapi diagnosa
medis.
Sedangkan diagnosa medis: Pertama.berfokus pada factor-faktor yang
bersifat pengobatan dan penyembuhan penyakit. Kedua,berorientasi pada keadaan
patologis. Ketiga,cenderung tetap,mulai sakit hingga sembuh. Keempat,mengarah
pada tindakan medis yang sebagian dapat didelegasikan pada perawat. Dan diagnosa
medis melengkapi diagnosa keperawatan.

2.7 Sumber kesalahan diagnosa keperawatan.


Kesalahan dalam proses diagnosis keperawatan terjadi pada saat
pengumpulan data, pengelompokkan, interpretasi, dan pernyataan diagnosis. Sebagai
perawat, perlu menerapkan metode berpikir kritis pada proses diagnosis keperawatan
yang akurat.
1. Kesalahan dalam Pengumpulan Data
Untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan data, perlu memiliki
pengetahuan dan keterampilan mengenai semua teknik pemeriksaan. Hindari
data yang salah dan tidak akurat. Petunjuk praktik berikut ini merupakan cara
untuk menghindari kesalahan pengumpulan data :
a. Tinjau ulang tingkat kenyamanan dan kompetensi Anda dalam melakukan
wawancara dan pemeriksaan fisik sebelum mengumpulkan data.
b. Lakukan pemeriksaan dalam beberapa langkah.
c. Tinjau ulang pengkajian klinis Anda di ruang kelas atau klinis.
d. Tentukan keakuratan data Anda.
e. Teratur dalam pemeriksaan.
2. Kesalahan dalam Interpretasi dan Analisis Data
Setelah pengumpulan data, tinjau ulang data dasar Anda untuk
memutuskan apakah data tersebut akurat dan lengkap. Meninjau ulang data
bermanfaat untuk meyakinkan bahwa temuan fisik objektif yang diukur
mendukung data subjektif. Sebagai contoh, ketika klien mengeluh sulit
bernafas, Anda juga ingin mendengar bunyi par, memeriksa frekuensi
pernapasan, dan mengukur pengembangan dada klien. Saat Anda tidak dapat
memvalidasi data, ini menunjukkan ketidaksesuaian antara petunjuk klinis dan
diagnosis keperawatan (Lunney, 1998).
3. Kesalahan dalam Pengelompokan Data
Kesalahan dalam pengelompokan data terjadi saat data dikelompokkan
terlalu cepat, tidak benar, atau tidak dikelompokkan sama sekali. Penutupan
pengelompokkan yang terlalu cepat terjadi saat Anda membuat diagnosis
keperawatan sebelum mengelompokkan semua data. Selalu tentukan diagnosis
keperawatan dari data, bukan sebaliknya. Diagnosis keperawatan yang salah akan
memengaruhi kualitas pelayanan klien.
4. Kesalahan dalam Pernyataan Diagnosis
Pemilihan pernyataan diagnosis yang benar akan menghasilkan pemiihan
intervensi keperawatan dan hasil yang sesuai (Dochterman dan Jones, 2003).
Untuk mengurangi kesalahan, pernyataan diagnosis harus menggunakan bahasa
yang sesuai, ringkas, dan tepat. Berikut ini adalah petunjuk tambahan untu
mengurangi kesalahan dalam pernyataan diagnosis :
a. Kenali respons klien, bukan diagnosis medis (Carpento-Moyet, 2005). Karena
diagnosis medis membutuhkan tindakan medis, maka tidak bijaksana untuk
memasukkannya dalam diagnosis keperawatan.
b. Kenali pernyataan diagnosis NANDA-I dibandingkan gejala. Kenali diagnosis
keperawatan dari kelompok karakteristik definisi; satu gejala tidak cukup
untuk identifikasi masalah.
c. Kenali etiologi yang dapat ditangani dibandingkan tanda klinis atau masalah
kronis. Anda dapat memilih tindakan yang diarahkan menuju koreksi etiologi
masalah. Pemeriksaan diagnostik atau disfungsi kronis bukan merupakan
etiologi atau kondisi yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
d. Kenali masalah yang disebabkan oleh pengobatan atau pemeriksaan diagnostik,
daripada terapi atau pemeriksaan itu sendiri. Klien mengalami banyak respons
terhadap pemeriksaan diagnostik dan terapi medis. Respons ini termasuk
dalam bidang keperawatan.
e. Kenali respons klien terhadap peralatan dibandingkan peralatan itu sendiri.
Banyak klien yang tidak mengenali teknologi medis.
f. Kenali masalah klien dibandingkan masalah Anda dengan pelayanan
keperawatan. Diagnosis keperawatan selalu berpusat pada klien dan menjadi
dasar untu pelayanan yang diarahkan oleh tujuan.
g. Kenali masalah klien dibandingkan tindakan keperawatan. Anda akan
merencanakan tindakan keperawatan setelah membuat diagnosis.
h. Kenali masalah klien dibandingkan tujuan. Anda selalu menetapkan tujuan
selama tahap perencanaan pada proses keperawatan. Berdasarkan identifikasi
masalah klien yang akurat, tujuan akan menjadi dasar untuk menentukan
apakah penyelesaian masalah telah tercapai.
i. Gunakan pertimbangan profesional dibandingkan dugaan. Buat diagnosis
keperawatan berdasarkan data objektif dan subjektif klie, dan jangan sertakan
kepercayaan dan nilai-nilai pribadi Anda.
j. Hindari pernyataan yang tidak sesuai hukum (Carpenito-Moyet, 2005).
Pernyataan yang berisfat menyalahkan, mengabaikan, atau malpraktik
berpotensi menimbulkan tuntutan hukum.
k. Kenali masalah dan etiologi untuk menghindari pengulangan pernyataan.
Pernyataan seperti ini mengandung arti yang tidak jelas dan tidak memberikan
arahan untuk pelayanan keperawatan.
l. Kenali satu masalah saja pada pernyataan diagnostik. Setiap masalah memiliki
hasil harapan yang berbeda. Kebingungan selama langkah perencanaan terjadi
saat Anda memasukkan banyak masalah dalam satu diagnosis keperawatan.
2.8 Keuntungan dan keterbatasan diagnosa keperawatan.
Keuntungan dari diagnosa keperwatan
Diagnosa keperawatan sangat menguntungkan baik bagi perawat maupun
klien. Diagnosa keperawatan memfasilitasi komunikasi diantara perawat tentang
tingkatan kesejahteraan klien dan membantu dalam perencanaan pemulangan.
Sestem pelayanan kesehatan sekarang ini membutuhkan jumlah tenaga profesional
yang lebih banyak. Kerena lebih banyak orang yang akhirnya bertanggung jawab
terhadap perawatan klien, maka penting artinya bahwa profesional ini mampuh
untuk secarajelas menomunikasikan tentang maslah klien. Diagnosa keperawatan
memfasilitasi komunikasi dalam beberapa cara. Daftar awal diagnosa keperawatan
adalah suatu rujukan yang mudah di dapat untuk kebutuhan perawatan kesehatan
klien saat ini. Diagnosa keperawatan juga membantu memproritaskan kebutuhan
klien. Dengan perawat berkomunikasi dengan profesional lain, penggunaan diagnosa
keperawatan mendorong komunikasi yang terorganisasi sesuai dengan tujuan dan
prioritas klien.
Diagnosa keperawatan juga digunakan untuk pencatatan dalam catatan
perkembangan, menulis rujukan, dan memberikan transisi perawatan yang efektif
dari suatu unit ke unit lainnya , dari satu klinik ke klinik lainnya, atau dari rumah
sakit ke komunitas. Perencanaan pemulangan adalah set keputusan dan aktivitas
yang di rancang untuk memberikan kontinuitas dan koordinasi terhadap asuhan
keperawatan. Perencanaan kepulangan penting ketika klien di pulangkan dari satu
rumah sakit ke rumah sakit lainnya atau dari rumah sakit ke lembaga komunitas.
Dalam perencanaan pemulangan diagnosa keperawatan merupakan mekanisme
untuk mengomunikasikan dan penegasan perawatan yang masih di perlukan klien
(Carpenito,1995; Gordon,1994).
Diagnosa keperawatan juga dapat berfungsi sebagai fokus untuk
memperbaiki kualitas (Gordon,1994). Perbaikan kualitas adalah proses pemantauan
dan evaluasi dari hasil dalam pelayanan kesehatan dan bisnis lainnya untuk
mengidentifikasi kesempatan untuk perbaikan. Diagnosa keperawatan adalah metoda
mengidentifikasi fokus dari aktivitas keperawatan. Ketika berfokus pada diagnosa
keperawatan, penelaah dapat menentukan apakah asuhan keperwatan telah tepat dan
di berikan sesuai dengan standar paraktik.
Manfaat diagnosa keperwatan bagi profesi juga penting bagi klien dan
keluarga. Komunikasi yang lebih baik diantara profesioanal perawatan kesehatan
kesehatan membantu menghilangkan masah potensial dalam memberikan perawatan
dan mempertahankan fokus pada pemenuhan tujaun perawatan kesehatan klien.
Sama halnya pertimbngan akhir untuk perbaikan dan telaan dari sejawat adalah
untuk memastikan bahwa perawatan yang bekualitas tinggi diberikan pada klien dan
keluarganya. Selanjutnya, klien mendapatkan manfaat dari asuhan keperawatan yang
bersifat individual yang di hasilkan dari penetaan tujuan yang sesuai, pemeliharaan
prioritas yang tepat, pemilihan intervensi yang tepat, dan penetapan kriteria hasil.

Keterbatasan diagnosa keperawatan


Diagnosa keperawatan mempunyai keterbatasan dan praktisi pemula harus
menyadari tentang keberadaannya. Karena evolisi kontinu tentang istilah dan
penggunaan diagnosa keperawatan, bahasa yang digunakan kadang bertele-tele dan
mengandung istilah selingkuh (jargon). Hal ini mungkin membatasi penggunaan
diagnosa keperawatan hanya pada profesional keperawatan dan mengakibatkan
kebingungan diantara anggota tim perawatan kesehatan yang lain (seahill, 1991;
Carpenito, 1995).
Bahasa dari diagnosa yang tidak tepat dapa secara tidak tepat memberi
label pada klien. Label diagnostik yang demikian adalah ketidakpatuhan. Istilah
tersebut adalah muatan nilai dan tidak lengkap (stantis & Ryan, 1982; Edel, 1985).
Selain itu, evaluasi termininologi yang telah dibuat standar dalam bentuk
taksonomi telah menimbulkan kebingungan mengenai bahasa dari label diagnostik
(Luney1986; Porter,1986). National conference for the clasification of nursing
diagnosis tahun 1986 tentang clasification of nursing diagnoses pertama kali
mengajukan struktur taksonomi untuk kerangka kerja organisasi dari label diagnostik
yang ada pada saat ini dan yang akan datang (McLane,1987). Saat ini struktur
taksonomi yang telah direvisi berfungsi sebagai sistem klasifikasi untuk diagnosa
keperawatan (Carpenito, 1995).
Taksonomi yang terus timbul dapat membatasi praktik keperawatan.
Diagnosa keperwatan yang dikembangkan oleh the task force of nationnal Group for
the clasification of nursing diagnoses hanyalah awal dari keseluruhan sistem
klarifikasi. Melalui perumusan dan penggunaan diagnosa keperwatan lain,
taksonomi akan tumbuh dan memperluas fokus profesional keperawat.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan.
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang individu, keluarga atau
komunitas yang di dapatkan melalui proses pengumpulan data yang disengaja dan
sistematis yang menjadi tanggung gugat perawat. Hal ini ditunjukan secara singkat
dan mencakup etiologi kondisi bila di ketahui.
Tujuan diagnosa keperawatan adalah untuk mengarahkan rencana asuhan
keperawatan untuk membantu klien dan keluarganya beradaptasi terhadap penyakit
mereka dan untuk menghilangkan masalah perawat kesehatan.
Sasaran diagnosa keperawatan adalah untuk mengmbangkan suatu rencana
asuhan yang bersifat individual sehingga klien dan keluarganya mampuh mengatasi
perubahan dan untuk menghadapi tantangan yang diakibatkan dari maslah kesehtan.
Tiga komponen utama dari diagnose keperawatan dengan merujuk pada hasil
analisa data, meliputi: problem (masalah), etiologi (penyebab), dan sign/symptom
(tanda/ gejala).
NANDA-I telah mengidentifikasi empat tipe diagnosis keperawatan, yaitu :

Diagnosis Keperawatan Aktual

Diagnosis Keperawatan Risiko

Diagnosis Keperawatan Promosi Kesehatan

Diagnosis Keperawatan Sejahtera

3.2 Saran.
Dari pemaparan diatas, kami memberikan saran dalam ilmu kesehatan
khususnya ilmu keperawatan penting sekali memahami pendokementasian diagnosis
keperawatan dalam asuhan keperawatan agar terciptanya proses keperawatan yang
baik.
DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A & Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:

konsep,proses dan praktik edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGS.Jakarta.

Potter, Patricia A & Anne Griffin Perry. 2008. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:

konsep,proses dan praktik edisi 7. Penerbit Buku Kedokteran EGS.Jakarta.

Gaffar Jumadi,1999,Pengantar Keperawatan Profesional,Jakarta : EGC.


KATA PENGANTAR

Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunianya telah
memungkinkan penyusun menyelesaikan makalah sebagai salah satu tugas
metodelogi dan agar dapat dimanfaatkan oleh para pembaca.hanya dengan kekuatan
dan kesabaran yang dilimpahkannya makalah ini dapat diselesaikan.
mudah-mudahan karena adanya makalah ini para pembaca dapat memahami
mengenai taksonomi NANDA dalam dunia keperawatan.
Akhir kata Tiada Gading yang Tak Retak demikian kata orang bijak,oleh
karena itu kritik dan saran dari pembaca senanstiasa kami nantikan dalam perbaikan
pembuatan makalah kami selanjutnya.

Bengkulu, 05 April 2017


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI.

BAB I PENDAHULUAN..

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan masalah..
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat..

BAB II TINJAUAN TEORITIS..

2.1 Pengertian diagnosa keperawatan.

2.2 Sejarah diagnosa keperawatan.

2.3 Tujuan dan sasaran diagnosa keperawatan

2.4 Komponen diagnosa keperawatan.

2.5 Macam-macam diagnosa keperawatan.

2.6 Perbedaan diagnosa keperawan dan medis

2.7 Sumber kesalahan diagnosa keperawatan.

2.8 Keuntungan dan keterbatasan diagnosa keperawatan...

BAB III PENUTUP..................

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran..
MAKALAH SEMINAR METODELOGI

TAKSONOMI NANDA I

Dosen Pembimbing:Ns.Hermansyah, S.Kep,M.Kep

DISUSUN OLEH :

1. SARIFAH
2. VEVI OKTARINI RAHMI
3. M. IQBAL SAPUTRA
4. YOLANDA AGUSTIN
5. DOMINICA ERIKA

POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
POLTEKES KEMENKES BENGKULU
TAHUN AJARAN 2016/2017