Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Bentuk demokrasi dalam struktur pemerintahan Indonesia dari level negara,

provinsi, kabupaten, hingga kecamatan hampir dapat dipastikan di level ini

demokrasi hanya sampai pada proses pembuatan kebijakan, sementara jika

mencari demokrasi yang berupa ciri khas yang dapat mewakili bahwa Negara

indonesia mempunyai diri demokrasi tersendiri itu dapat dilihat di level desa.Dari

gambaran ini, hal ini pula yang menginspirasi demokrasi pancasila yang selalu

menjadi Kiblat negara kita dalam mengamati kehidupan berbangsa dan bernegara

masih perlu dikaji secara lebih dalam lagi.

Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada

kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang terwujudnya seperti dalam

ketentuan-ketentuan pembukaan UUD 1945. Lain hal lagi dengan Prof. dr. Drs.

Notonegoro,S.H., beliau mengatakan demokrasi pancasila adalah kerakyatan yang

dipimpin oleh hikmat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan perwakilan yang berke-Tuhan-nan Yang Maha Esa, yang

Berkepribadian Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang mempersatukan

Indonesia dan yang berkedaulatan seluruh rakyat.

Dalam buku Le Contrac Sosial, Jean Jacques Rousseau memaparkan bahwa

penguasa atau pemerintah telah membuat perjanjian dengan rakyatnya yang

disebut dengan istilah kontrak sosial. Dalam sebuah republik demokrasi, kontrak

sosial atau perjanjian masyarakat ini diwujudkan dalam sebuah pemilihan umum.

Melalui pemilihan umum, rakyat dapat memilih siapa yang menjadi wakilnya dalam
proses penyaluran aspirasi yang selanjutnya menentukan masa depan sebuah

negara.

B. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini antara lain:

1. Apa pengertian dari demokrasi itu?

2. Apa pengertian dari demokrasi Pancasila?

3. Bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia?

C. Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui hakekat demokrasi

2. Agar lebih menghayati demokrasi Pancasila

3. Untuk mengetahui perkembangan demokrasi di Indonesia


B. Fungsi dan Kedudukan Pancasila

1.Pancasila Sebagai Dasar Negara

Dasar negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu

memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah negara. Negara Indonesia

dibangun juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila.

Pancasila, dalam fungsinya sebagai dasar negara, merupakan sumber kaidah

hukum yang mengatur negara Republik Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh

unsur-unsurnya yakni pemerintah, wilayah dan rakyat. Pancasila dalam

kedudukannya seperti inilah yang merupakan dasar pijakan penyelenggaraan

negara dan seluruh kehidupan negara Republik Indonesia.

Pancasila sebagai dasar negara mempunyai arti menjadikan Pancasila sebagai

dasar untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Konsekuensinya adalah

Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Hal ini menempatkan

Pancasila sebagai dasar negara yang berarti melaksanakan nilai-nilai Pancasila

dalam semua peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, sudah

seharusnya semua peraturan perundang-undangan di negara Republik Indonesia

bersumber pada Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia


mempunyai implikasi bahwa Pancasila terikat oleh suatu kekuatan secara hukum,

terikat oleh struktur kekuasaan secara formal, dan meliputi suasana kebatinan atau

cita-cita hukum yang menguasai dasar negara (Suhadi, 1998). Cita-cita hukum atau

suasana kebatinan tersebut terangkum di dalam empat pokok pikiran Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945 di mana keempatnya sama hakikatnya dengan

Pancasila. Empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut

lebih lanjut terjelma ke dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945. Barulah dari

pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 itu diuraikan lagi ke dalam banyak

peraturan perundang-undangan lainnya, seperti misalnya ketetapan MPR, undang-

undang, peraturan pemerintah dan lain sebagainya.

BAB II

A. Pancasila Sebagai pandangan hidup bangsa indonesia

Setiap bangsa di dunia yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke

arah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup.

Dengan pandangan hidup inilah suatu bangsa akan memandang persoalan yang

dihadapinya sehingga dapat memecahkannya secara tepat. Tanpa memiliki

pandangan hidup, suatu bangsa akan merasa terombangambing dalam

menghadapi persoalan yang timbul, baik persoalan masyarakatnya sendiri maupun

persoalan dunia.
Pancasila sebagai pandangan hidup sering juga disebut way of life, pegangan hidup,

pedoman hidup, pandangan dunia atau petunjuk hidup. Walaupun ada banyak

istilah mengenai pengertian pandangan hidup tetapi pada dasarnya memiliki makna

yang sama. Lebih lanjut Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dipergunakan

sebagai petunjuk dalam kehidupan seharihari masyarakat Indonesia baik dari segi

sikap maupun prilaku haruslah selalu dijiwai oleh nilai nilai luhur pancasila.

Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai nilai luhur pancasila dalam

kehidupan seharihari maka tata kehidupan yang harmonis diantara masyarakat

Indonesia dapat terwujud. Untuk dapat mewujudkan semua itu maka masyarakat

Indonesia tidak bisa hidup sendiri, mereka harus tetap mengadakan hubungan

dengan masyarakat lain. Dengan begitu masing masing pandangan hidup dapat

beradaftasi artinya pandangan hidup perorangan / individu dapat beradaptasi

dengan pandangan hidup kelompok karena pada dasarnya pancasila mengakui

adanya kehidupan individu maupun kehidupan kelompok.

Selain sebagai dasar Negara, Pancasila juga merupakan pandangan hidup bangsa

Indonesia. Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila berarti konsepsi

dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia dalam

menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani hidup. Dalam konsepsi dasar itu

terkandung gagasan dan pikiran tentang kehidupan yang dianggap baik dan benar

bagi bangsa Indonesia yang bersifat majemuk.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya merupakan perwujudan

dari nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri yang diyakini kebaikan dan

kebenarannya. Pancasila digali dari budaya bangsa sendiri yang sudah ada,

tumbuh, dan berkembang berabad-abad lamanya. Oleh karna itu, Pancasila adalah
khas milik bangsa Indonesia sejak keberadaannya sebagai sebuah bangsa.

Pancasila merangkum nilai-nilai yang sama yang terkandung dalam adat-istiadat,

kebudayaan, dan agama-agama yang ada di Indonesia. Dengan demikian, Pancasila

sebagai pandangan hidup mencerminkan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila juga berperan sebagai pedoman dan

penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan

demikian, ia menjadi sebuah ukuran/kriteria umum yang diterima dan berlaku untuk

semua pihak Secara sederhana, ideologi dipahami sebagai gagasan-gagasan dan

nilai-nilai yang tersusun secara sistematis yang diyakini kebenarannya oleh suatu

masyarakat dan diwujudkan di dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai yang tercermin di

dalam pandangan hidup ditempatkan secara sistematis kedalam seluruh aspek

kehidupan yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan

keamanan didalam upaya mewujudkan cita-citanya. Jadi, dengan kata lain ideologi

berisi pandangan hidup suatu bangsa yang menyentuh segala segi kehidupan

bangsa. Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas

kearah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat membutuhkan pandangan hidup.

Dengan pandangan hidup yang jelas, suatu bangsa akan memiliki pegangan dan

pedoman bagaimana mereka memecahkan masalah-masalah politik, ekonomi,

sosial dan budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan

berpedoman pada pandangan hidup sebagai ideologi, sebuah bangsa akan

membangun diri dan negerinya.

B. Pelaksaan Nili-Nilai Pancasila Bagi Penyelengaraan Negara

Mengamalkan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (falsafah hidup bangsa)

berarti melaksanakan pancasila dalam kehidupan sehari-hari , menggunakan


pancasila sebagai petunjuk hidup sehari-hari , agar hidup kita dapat mencapai

kesejahteraan dan kebahagian lahir dan batin.

Pengamalan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ini adalah sangat penting

karena dengan demikian diharapkan adanya tata kehidupan yang serasi (harmonis).

Bahwa pengamalan pancasila secara utuh (5 sila) tersebut merupakan menjadi

syarat penting bagi terwujudnya cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pola pelaksanaan pedoman pelaksanaan pengamalan pancasila dilakukan agar

Pancasila sungguh-sungguh dihayati dan diamalkan oleh segenap warga negara,

baik dalam kehidupan orang seorang maupun dalam kehidupan kemasyarakatan.

Oleh sebab itu, diharapkan lebih terarah usaha-usaha pembinaan manusia

Indonesia agar menjadi insan Pancasila dan pembangunan bangsa untuk

mewujudkan masyarakat Pancasila.Jalur-jalur yang digunakan

1) Jalur pendidikan

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pengamalan Pancasila,

baik pendidikan formal (sekolah-sekolah) mapun pendidikan nonformal (di keluarga

dan lingkungan masyarakat), keduanya sangat erat kaitanya dengan kehidupan

manusia.

Dalam pendidikan formal semua tindak-perbuatannya haruslah mencerminkan nilai-

nilai luhur Pancasila. Dalam pendidikan keluarga pengamalan Pancasila harus

ditanamkan dan dikembangkan sejak anak-anak masih kecil, sehingga proses

pendarah-dagingan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan menuntut suasana

keluarga yang mendukung. Lingkungan masyarakat juga turut menentukansehingga


harus dibina dengan sungguh-sungguh supaya menjadi tempat yang subur bagi

pelaksanaan pengamalan Pancasila.

Melalui pendidikan inilah anak-anak didik menyerap nilai-nilai moral Pancasila.

Penyerapan nilai-nilai moral Pacasila diarahkan berjalan melalui pemahaman dari

pemikiran dan dan pengamalan secara pribadi. Sasaran pelaksanaan pedomaan

pengamalan Pancasila adalah perorangan, keluarga, masyarakat, baik dilingkungan

tempat tinggal masing-masing, maupun di lingkungan tempat bekerja.

2) Jalur media massa

Peranan media massa sangat menjanjikan karena pengaruh media massa dari

dahulu sampai sekarang sangat kuat, baik dalam pembentukan karakter yang

positif maupun karakter yang negatif, sasaran media massa sangat luas mulai dari

anak-anak hingga orang tua. Sosialisasi melalui media massa begitu cepat dan

menarik sehingga semua kalangan bisa menikmati baik melalui pers, radio, televisi

dan internet. Hal itu membuka peluang besar golongan tertentu menerima

sosialisasi yang seharusnya belum saatnya mereka terima dan juga masuknya

sosialisasi yang tidak bersifat membangun. Media massa adalah jalur pendidikan

dalam arti luas dan peranannya begitu penting sehingga perlu mendapat

penonjolan tersendiri sebagai pola pedoman pengamalan Pancasila. Sehingga

dalam menggunakan media massa tersebut harus dijaga agar tidak merusak mental

bangsa dan harus seoptimal mungkin penggunaannya untuk sosialisasi

pembentukan kepribadian bangsa yang pancasilais. Jadi, untuk sosialisasi-sosialisasi

yang mengancam penanaman pengamalan Pancasila harus disensor.


3) Jalur organisasi sosial politik

Pengamalan Pacansila harus diterapkan dalam setiap elemen bangsa dan negara

Indonesia. Organisasi sosial politik adalah wadah pemimpin-pemimpin bangsa

dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan keahliannya, peran dan tanggung

jawabnya. Sehingga segala unsur-unsur dalam organisasi sosial politik seperti para

pegawai Republik Indonesia harus mengikuti pedoman pengmalan Pancasial agar

berkepribadian Pancasila karena mereka selain warga negara Indonesia, abdi

masyarakat juga sebagai abdi masyarakat, dengan begitu maka segala kendala

akan mudah dihadapi dan tujuan serta cita-cita hidup bangsa Indonesia akan

terwujud.

A. Reformasi Pemikiran Dan Pelaksanaan Pancasila

A. Kondisi

Indonesia saat ini bisa kita katakan dalam proses reformasi untuk

menetapkan kembali nilai-nilai PANCASILA . Namun, masih banyaknya kekecewaan

masyarakat kepada instilasi-instilasi pemerintahan. Hal ini di tandai dengan masih

banyaknya penyimpangan-penyimpangan terutama dalam pemikiran politik

kenegaraan, serta dalam pelaksanaan pemerintahan yang dapat kita rasakan pada

saat sekarang ini. Bukti-bukti itu sangat jelas karna maraknya tindakan kolusi,

korupsi, dan nepotisme, serta pemaamfaatan hukum sebagai alat legitimasi

kekuasaan dan menyingkirkan lawan-lawan politik dan ekonomisnya. Sehingga

dapat menimbulkan konflik-konflik vertikal maupun horisontal. Konflik vertikal

misalnya; antara sikuat dengan silemah, antara penguasa dan rakyat, antara

mayoritas dan minoritas, dan sebagainya. Sementara itu konflik horisontal di


tunjukkan misalnya; konflik antarumat beragama, antarsuku, antarras,

antargolongan, dan sebagainya.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Indonesia secara umum dan

pemerintah secara khusus perlu kita reformasi dengan baik agar nilai-nilai dan

pelaksanaan PANCASILA sesuai dengan isi PANCASILA itu sendiri. Namun,

pelaksanaan reformasi tentu tidak semudah seperti yang kita bayangkan, karna

reformasi membutuhkan waktu dan melalui proses dalam pelaksanaanya. Agar

reformasi yang kita lakukan dapat berjalan dengan baik, maka kita sebagai

GENERASI-GENERASI BARU atau PENERUS BANGSA ini harus terlebih dahulu

menerapkan nilai-nilai PANCASILA pada diri kita masing-masing, serta memahami

nilai-nilai PANCASILA itu sendiri. Karena apapun yang ingin kita lakukan agar

mendapatkan hasil yang baik haruslah diawali dengan pemahaman.

Seperti yang sudah kami jelaskan diatas, perlu penataan kembali pada instilasi-

instilasi pemerintahan agar konflik-konflik yang ada dapat diatasi. Seperti yang kita

ketahui bahwa ini merupakan masah yang mencangkup banyak organisasi,

alangkah baiknya kita melakukan REFORMASI terhadap diri kita masing-masing,

karena dengan demikian akan tercipta GENERASI-GENERASI PENERUS dan memiliki

bakal PANCASILA. Kami yakin bahwa orang yang mengerti arti PANCASILA lebih

berprikemanusian dari pada orang yang tidak memahami nilai-nilai PANCASILA.

B. Pengertian

Ada beberapa hal yang perlu kita tanamkan agar nilai-nilai PANCASILA

mendarah daging dengan kepribadian kita :


Pertama :

1. Pahami arti dan fungsi PANCASILA dengan baik dan jadikan sebagai pandangan

hidup kita sehari-hari.

2. Jadikan PANCASILA sebagai aturan-aturan berprilaku.

3. Belajarlah untuk memiliki rasa persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan

bernegara, agar tidak mengenal batas-batas perbedaan agama, kesukuan,

golongan dan lain sebagainya.

4. Ciptakan rasa kebersamaan dengan cara tolong-menolong untuk mencapai

hubungan yang lebih hamonis.

5. Tanamkan sifat adil dan bertanggung jawab mulai dari sekarang.

Kedua :

Setelah kita mengetahui beberapa hal pokok seperti yang sudah kita jelaskan di

atas, maka ada beberapa faktor pendukung dan sangat menentukan dalam

pemahaman kita tentang pancasila. Adapun fator-faktor tersebut adalah sebagai

berikut ;

1. Pendidikan / Pengetahuan

Faktor pendidikan / pengetahuan sangat besar pengaruhnya terhadap pemahaman

kita untuk memahami arti dan fungsi PANCASILA. Dengan latar belakang pendidikan

yang tinggi, maka seharusnya kita sebagai mahasiswa/I dapat menciptakan rasa

tanggung jawab yang lebih besar dan berkepribadian yang baik.


2. Lingkungan Hidup

Sama halnya dengan pendidikan, lingkungan hidup juga berpengaruh kepada

pembentukan jiwa PANCASILA yang kita pahami dan pelajari. Dengan lingkungan

yang baik tentu kita akan mendapatkan pergaulan yang baik juga, begitu

sebaliknya. Karena kita mempunyai pendidikan yang tinggi, dan pengalaman-

pengalaman anda, maka kami yakin bahwa anda bisa membedakan sendiri

pergaulan yang baik dan tidak baik.

Ketiga ;

Kemudian setelah kita mengetahui dan memehami arti penting PANCASILA, langkah

selanjutnga untuk menciptakan generasi yang berjiwa nasionalisme dan profesional

adalah dengan menerapkan REFORMASI pada diri kita.

Reformasi artinya menata kembali keadaan yang tidak baik menjadi lebih baik.

Reformasi bukan berarti refolusi, artinya cobalah untuk merubah sedikit demisedikit

prilaku tidak baik yang ada pada diri kita menjadi lebih baik dan begitu seterusnya.

Misalnya;

1. menghilangkan kebiasaan kopypaste tugas kuliah dengan cara membuat tugas

sendiri.
2. mengurangi kegiatan estrakulikuler seperti; bolos kuliah, keluyuran pada malam

hari dan lain sebagainya.

Dari ketiga penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa untuk melakukan

REFORMASI INDONESIA dapat dilakukan dengan cara melakukan perbaikan dari

masing-masing individu atau kita sebagai mahasiswa/I pada khususnya. Dan kita

harus yakin bahwa kita tidak saja bisa bereformasi, tetapi kita juga bisa melakukan

revolusi pada diri kita masing-masing. Karena apabila GENERASI yang kita inginkan

sudah tercapai maka kami sangat yakin konflik-konflik yang ada pada saat ini bisa

sirna dan INDONESIA bukanlah negara berkembang melainkan NEGARA MAJU.

B . Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Pancasila

Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan

antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama

lain yang melintasi batas negara

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan

internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak

sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran

negara atau batas-batas negara.

Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan

Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai

proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa,

yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin

dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi


berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi,

sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan

komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,

perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai

bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu

globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara

termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan

pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti

kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan

mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa

A. Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan

demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika

pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat

tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme

terhadap negara menjadi meningkat.

2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional,

meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya

hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang

kehidupan nasional bangsa.


3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik

seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah

maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan

bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

B.Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme

dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup

kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal

tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang

2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam

negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza

Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk

dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita

terhadap bangsa Indonesia.

3. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri

sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat

yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan

miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut

dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat

mengganggu kehidupan nasional bangsa.


5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian

antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan

peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap

nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa

nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi

mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri

dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara

kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu

sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat

bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional

bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.

C. Peranaan Pancasila di Era Globalisasi

1.Fenomena Globalisasi

Globalisasi adalah fenomena dimana batasan-batasan antar negara seakan

memudar karena terjadinya berbagai perkembangan di segala aspek

kehidupan,khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.Dengan terjadinya

perkembangan berbagai aspek kehidupan khususnya di bidang iptek maka manusia

dapat pergi dan berpindah ke berbagai negara dengan lebih mudah serta

mendapatkan berbagai informasi yang ada dan yang terjadi di dunia.


Namun fenomena globalisasi ini tidak selalu memberi dampak positif,berbagai

perubahan yang terjadi akibat dari globalisasi sudah sangat terasa,baik itu di

bidang politik,ekonomi,sosial,budaya,dan teknologi informasi.

Berbagai dampak negatif terjadi dikarenakan manusia kurang bisa memfilter

dampak dari globalisasi sehingga lebih banyak mengambil hal-hal negatif dari pada

hal-hal positif yang sebenarnya bisa lebih banyak kita dapatkan dari fenomena

globalisasi ini.

2.Pancasila Sebagai Pedoman Dalam Menghadapi Globalisasi

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang sudah ditentukan oleh para

pendiri negara ini haruslah menjadi sebuah acuan dalam menjalankan kehidupan

berbangsa dan bernegara,berbagai tantangan dalam menjalankan ideologi

pancasila juga tidak mampu untuk menggantikankan pancasila sebagai ideologi

bangsa Indonesia,pancasila terus dipertahankan oleh segenap bangsa Indonesia

sebagai dasar negara,itu membuktikan bahwa pancasila merupakan ideologi yang

sejati untuk bangsa Indonesia.

Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi

kepribadian bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka ,bangsa Indonesia berada

di pusaran arus globalisasi dunia.Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara

Indonesia tak mesti kehilangan jatidiri,kendati hidup ditengah-tengah pergaulan

dunia.Rakyat yang tumbuh di atas kepribadian bangsa asing mungkin saja

mendatangkan kemajuan,tetapi kemajuan tersebut akan membuat rakyat tersebut


menjadi asing dengan dirinya sendiri.Mereka kehilangan jatidiri yang sebenarnya

sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur pancasila.

Dalam arus globalisasi saat ini dimana tidak ada lagi batasan-batasan yang jelas

antar setiap bangsa Indonesia,rakyat dan bangsa Indonesia harus membuka diri.

Dahulu,sesuai dengan tangan terbuka menerima masuknya pengaruh budaya

hindu,islam,serta masuknya kaum barat yang akhirnya melahirkan

kolonialisme.pengalaman pahit berupa kolonialisme tentu sangat tidak

menyenangkan untuk kembali terulang. Patut diingat bahwa pada zaman modern

sekarang ini wajah kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk fisik,

tetapi dalam wujud lain seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski tidak

berwujud fisik, tetapi penguasaan politik dan ekonomi nasional oleh pihak asing

akan berdampak sama seperti penjajahan pada masa lalu, bahkan akan terasa lebih

menyakitkan.

Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-rapat dari

dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kemajuan

bangsa-bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti Uni Sovietyang terkenal anti

dunia luartidak bisa bertahan dan terpaksa membuka diri. Maka, kini, konsep

pembangunan modern harus membuat bangsa dan rakyat Indonesia membuka diri.

Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar masyarakat modern, bangsa Indonesia

bukan hanya menyerap masuknya modal, teknologi, ilmu pengetahuan, dan

ketrampilan, tetapi juga terbawa masuk nilai-nilai sosial politik yang berasal dari

kebudayaan bansa lain.


Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu menyaring

agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa

saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi merusak

tata nilai budaya nasional mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan

tersebut terletak pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila

rakyat dan bangsa Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka nilai-

nilai atau budaya dari luar yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya. Cuma,

persoalannya, dalam kondisi yang serba terbuka seperti saat ini justeru jati diri

bangsa Indonesia tengah berada pada titik nadir.

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya sendiri

sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak sesuai

terserap bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus,

sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati

sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah

berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada faham liberalisme. Padahal,

negara Indonesiaseperti ditegaskan dalam pidato Bung Karno di depan Sidang

Umum PBBmenganut faham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong

royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.

Sistem politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan faham liberalisme

dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang seharusnya

dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat jelas betapa

demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM)

dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli

apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya
faham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat

Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan

rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya, seperti terlihat saat ini,

konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik tampak hanya

memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.

Dalam kondisi seperti itusekali lagiperan Pancasila sebagai pandangan hidup

dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai

mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri.

Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas

kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan

pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan

tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai

pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi

dari persoalan tersebut .

Dalam pandangan hidup terkandung konsep mengenai dasar kehidupan yang dicita-

citakan suatu bangsa. Juga terkandung pikiran-pikiran terdalam dan gagasan suatu

bangsa mengenai wujud

D. Korupsi Dalam Pandangan Pancasila

Sejak dibangun dan diresmikan Presiden Soeharto, 1 Oktober 1992,

Monumen Pancasila Sakti menjadi tempat berlangsungnya upacara peringatan

kesaktian Pancasila. Upacara terus dilanjutkan meskipun pemerintah berganti

empat kali. Semua pemerintah ingin pancasila tetap dan terus sakti.
Dalam upacara ketiga dimasa pemerintahannya, Presiden Yodhoyono kembali

menjadi inspektur upcara. Seperti tiga kali peringatan kesaktian pancasila

sebelumnya, presiden tidak melihat-lihat diutama tentang saktinya pancasila dari

serangkaian upaya penghinaan oleh orang-orang berideologi komunis. Menurut

narasi dalam diorama itu, upaya penghianatan terakhir dilakukan Partai Komunis

Indonesia (PKI).

Hidayat menyebut, upaya menghidupkan komunisme dan separatism merupakan

lawan dari pancasila. Ancaman dari kelompok umat islam ada juga tetapi tidak

secara khusus seperti tampak dalam terorisme.

Wakil ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno mengemukakan, ancaman terhadap

pancasila sebagai ideology setidaknya dapat dikategorikan menjadi dua yaitu ingin

meniadakan pancasila dan ingin mengubah pancasila. Kita tidak bisa menuding

namun kita dapat merasakan dan melihat gerak dan tingkah laku mereka yang

sejak dahulu menentang pancasila dan UUD 1945.

Menurut Hidayat, pancasila tidak cukup hanya diperingati, diperdebatkan, dan

dipolemikan. Diperingati bagus, tetapi peringatan itu harus jadi sarana yang konkret

untuk mengamalkan pancasila. Namun apakah korupsi dapat dikategorikan sebagai

upaya penghianatan terhadap pancasila, ketua KPK Taufiqurrahman Ruki menjawab,

Korupsi adalah perbuatan pelanggaran hukum, sebuah tindak pidana yang bisa

terjadi dalam Negara komunis sekalipun. Tidak ada hubungannya dengan pancasila,

tetapi pasti itu menghianati Negara. Penghianatan Negara lewat korupsi sudah pasti

penghianat terhadap azaz/dasar Negara itu.


BAB IV

A. Kesimpulan

Dari data dan fakta-fakta hasil telaahan literatur yang dilakukan, diperoleh

beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. pancasila bersifat sistematis, artinya tidak dapat dan tidak boleh ditukar posisi

sila-silanya.

2. pancasila sebagai dasar negara membawa konsekuensi bahwa segala yang ada

dalam negara tersebut haruslah taat asas (konsisten) dengan dasar tersebut,

termasuk aturan hukum/perundang-undangan yang berlaku.

3. Demi mewujudkan masyarakat pancasila, artinya suatu masyarakat Indonesia

modern berdasarkan nilai-nilai luhur, dibutuhkan suatu hubungan yang serosi

antara pengambilan pancasila dengan kewajiban mentaati UUD 1945 sebagai

hukum dasar tertulis di negara kita.

B. Reverensi

Negara menurut filsafat Pancasila adalah dari oleh dan untuk rakyat. Rakyat adalah

merupakan suatu penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai individu dan makhluk

sosial. Hak-hak demokrasi yang

(1) disertai tanggung jawab kepada Tuhan Yang maha Esa


(2) menjunjung dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta

(3) disertai dengan tujuan untuk mewujudkan suatu keadilan sosial, yaitu

kesejahteraan dalam hidup bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarno, P.J.. Pancasila Budaya Bangsa Indonesia. hlm.12

http://www.sarjanaku.com/2011/05/pancasila-sebagai-pandangan-hidup.html.

http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=524
http://new.kidevo.com/materi-lengkap.php?id=1275

http://vjwiko.wordpress.com/2010/03/02/reformasi-pemikiran-dan-pelaksanaan-

pancasila/

http://vjwiko.wordpress.com/2010/03/02/reformasi-pemikiran-dan-pelaksanaan-

pancasila/

http://baiqnormalita.wordpress.com/2009/12/25/makalah-pancasila-peran-pancasila-

dalam-era-globalisasi/

http://www.antara.co.id/arc/2008.kpk.pancasila-sumber-nilai-anti-korupsi.

http://www.kompas.com/vernasional/nasional/0710/04/145135.htm

http://www.gudangmakalah.com/2015/02/contoh-makalah-demokrasi-pancasila.html