Anda di halaman 1dari 4

Limbah Industri Piyungan Dikeluhkan

Oleh: Wilujeng Kharisma


16 November, 2015 - 17:05
NASIONAL

WILUJENG KHARISMA/PRLM
ALIRAN Sungai Opak yang berwarna kehitaman yang mengalir di Dusun Ngampon, Sitimulyo,
Piyungan, Kab, Bantul, Yogyakarta, Senin (16/11/2015). Warga sekitar mengeluhkan bau limbah
dari industri kulit yang dibuang ke sungai.*

YOGYAKARTA, (PRLM).-Warga di sekitar kawasan industri kulit di Desa Sitimulyo, Piyungan,


Bantul, Yogyakarta, Senin (16/11/2015) mengeluhkan bau menyengat limbah dan pencemaran
Sungai Opak yang melintasi wilayah ini. Namun, pengolahan limbah industri kulit diklaim telah
memenuhi prosedur.

Keluhan pencemaran sungai dan munculnya bau tak sedap yang berasal dari industri pengolahan
kulit dirasakan warga Dusun Ngampon, Sitimulyo, Piyungan.

Dusun ini dilintasi Sungai Opak yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari rumah warga. Di
seberang sungai, berdiri industri pengolahan kulit mentah yang masuk dalam wilayah Dusun
Nganyang, masih satu desa.

Salah seorang warga Dusun Ngampon, Handoko (47) mengatakan sudah bertahun-tahun warga
menahan bau busuk dan menyengat yang berasal dari Sungai Opak saat industri kulit membuang
limbahnya ke sungai. "Membuangnya itu biasanya malam hari. Itu ada saluran pembuangan
besar dari seberang sungai," katanya.

Padahal, kata dia, jarak antara rumahnya dengan sungai tempat pembuangan limbah hanya
sekitar 50 meter. Biasanya, pembuangan limbah itu dilakukan dengan waktu tak menentu.
"Kadang seminggu sekali kadang beberapa kali seminggu," ujarnya.

Handoko mengatakan, selama ini warga hanya menahan diri dengan keberadaan industri kulit
tersebut sebab tidak mengetahui apa nama pabrik atau industri yang membuang limbah ke sungai
itu. Belakangan karena tidak tahan bertahun-tahun menahan bau, warga berencana
mengklarifikasi persoalan ini ke pemilik industri kulit.

Hal senada juga diungkapkan Angga (35), warga lainnya. Ia mengaku juga merasakan hal serupa.
"Kalau saya menciumnya tiap siang mendekati jam 12 itu pasti bau sekali," tuturnya.

Angga yang rumahnya tepat didepan Sungai Opak di dekat rumahnya yang menjadi saluran
pembuangan limbah. Padahal sungai itu kadang masih digunakan warga untuk mandi dan
mencuci.

Sementara itu, di dekat industry kulit terdapat Laboratorium Pengembangan Penyamakan Kulit
dan Unit Pengolahan Air Limbah (Instalasi Pengolahan Air Limbah-IPAL) yang berada di bawah
Kementerian Perindustrian.

Lembaga pelat merah itu tidak hanya meneliti pengolahan kulit namun juga melayani pesanan
dari tiap pengusaha kulit yang membutuhkan pengolahan kulit mentah.

Prayitno, petugas pengelola IPAL di lembaga tersebut mengklaim, seluruh limbah pengolahan
kulit yang dibuang ke Sungai Opak sudah steril karena telah diolah di IPAL. "Limbahnya sudah
sesuai baku mutu. Memang agak bau tapi itu aman. Bisa lihat sendiri air limbahnya sudah bersih
saat dibuang di sungai," ucapnya.

Prayitno menuturkan, laboratorium yang ia kelola kerap melayani pesanan pengolahan kulit dari
pengusaha atau pelaku industri. Layanan juga berupa sewa alat atau mesin pengolahan kulit
mentah. (Wilujeng Kharisma/A-89)

Beroperasi Mei 2017, Pabrik Kawasan


Industri Piyungan Mulai Dibangun
21 January 2017 by Arif Giyanto in Fiskal
Konsep 3D Kawasan Industri Piyungan. (Foto:
BKPM DIY)

Piyungan, JOGJADAILY.COM ** PT Yogyakarta Isti Parama (YIP) berencana membangun


pabrik di Kawasan Piyungan seluas 335 Ha, tepatnya di Desa Srimulyo dan Desa Sitimulyo.
Untuk tahap awal akan dibangun seluas 100 Ha, sementara tahap kedua, 235 Ha. Pabrik baru
diperkirakan mulai beroperasi pada Mei 2017.

Perusahaan pengembang dan pengelola kawasan industri dan pariwisata tersebut akan
mengembangkan industri bersifat padat karya, seperti industri kerajinan, mebel, garmen, mainan,
serta kemasan dari kertas dan karton.

Keberadaan pabrik diharapkan mampu memajukan industri nasional ke pentas dunia dan itu
sebagai bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa, ujar Direktur PT Yogyakarta Isti Parama,
Eddy Margo Ghozali, saat Groundbreaking, di Dusun Cikal, Desa Srimulyo, Rabu (18/1/2017),
dirilis Pemerintah Kabupaten Bantul.

Menurutnya, penanaman saham merupakan kerja sama dalam membantu pengembangan


kawasan yang telah dipersiapkan menjadi lokasi industri, baik dari Provinsi DIY maupun
Kabupaten Bantul.

Kawasan yang dikembangkan diharapkan menjadi industri berstandar internasional di


Yogyakarta berbasis masyarakat, ramah lingkungan, dengan teknologi terintegrasi. Perusahaan
akan menjaga ekosistem, sehingga penghijauan tetap lestari. Kebudayaan lokal, baik bangunan
maupun kesenian, tetap terjaga dan apabila mungkin, dapat dikembangkan.

Tidak ketinggalan, perusahaan juga akan mendidirikan pusat pelatihan tenaga kerja untuk
mendidik masyarakat mandiri atau pun menyiapkan tenaga terampil bagi perusahaan. Tenaga
yang dibutuhkan untuk perusahan seluas 335 Ha adalah 70.000 orang. Untuk tahap awal baru
1500-2000 tenaga, ungkap Eddy.

Prioritaskan Masyarakat Sekitar

Bupati Bantul, Suharsono, berharap, keberadaan pabrik dapat memberi dampak pada
kesejahteraan masyarakat Piyungan khususnya, dan Bantul pada umumnya.

Tenaga kerjanya juga 75 persen dari masyarakat sekitar, sehingga gesekan yang biasa terjadi
bisa diantisipasi, tutur Suharsono.
Ia menerangkan, Kabupaten Bantul sebagai daerah yang sedang mengembangkan sumberdaya
masyarakat dari sektor pertanian ke sektor industry selalu terbuka pada semua investor yang
masuk. Syarat utama yang menjadi tuntutan, yakni harus mampu menyerap tenaga kerja banyak
dan mengembangkan lingkungan untuk bergerak maju.

Investor yang mau menanamkan sahamnya, Pemkab akan memberikan fasilitas kemudahan
dalam pengurusan izin dan pencarian lokasi. Keberadaan industri bukan hanya masalah
pembebasan lahan, izin, sarana fisik, dan investor, tetapi tidak kalah pentingnya, bagaimana
sikap masyarakat sekitar, kata Bupati Bantul.

Untuk itu, sambungnya, masyarakat diharapkan dapat bekerja sama denga baik, serta tidak
membuat kegaduhan atau gangguan, sehingga berjalan dengan baik.

Kalau ada masalah, jangan langsung demo atau membuat kerusuhan, tapi harus duduk bersama,
dicari penyelesaian dengan pikiran dingin, tandasnya.

Bupati Bantul memukul bende tanda dimulainya pembangunan pabrik. Pada kesempatan itu,
dilakukan pula penamanan pohon langka yang selama ini hampir punah di sekitar pabrik secara
simbolis, sehingga di samping lingkungan terlihat asri dan sejuk, pohon langka tetap lestari.