Anda di halaman 1dari 4

REPITISI MERUBAH JALAN PEMIKIRAN KITA UNTUK MULAI MENGHEMAT

ENERGI DAN SELAMATKAN LINGKUNGAN

Oleh :

Zaina Khoerunnisa Nurul Fath

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kini aktivitas manusia semakin

dipermudah oleh adanya teknologi di berbagai aspek kehidupan. Seperti kegiatan

rumah tangga menjadi lebih mudah dengan adanya perlengkapan seperti mesin

cuci, kompor, vacum cleaner, televisi, dan pendingin ruangan. Contoh lainnya kini

kendaraan transportasi tersedia dimana-mana. Akan tetapi, untuk menikmati semua

kemudahan itu diperlukan energi dalam pengoperasiaannya. Seperti halnya

manusia, untuk mendapatkan energi manusia melakukan reaksi katabolisme yang

menghasilkan energi untuk melakukan berbagai hal. Energi yang digunakan untuk

mengoperasikan semua teknologi itu berupa minyak bumi, gas, dan listrik.

Kebanyakan energi yang kita gunakan sehari-hari berasal dari bahan-bahan yang

tidak dapat diperbaharui yang sewaktu-waktu akan habis dan membutuhkan waktu

jutaan tahun untuk mendapatkannya kembali. Dan untuk mendapatkan semua itu,

harus melalui proses yang panjang. Dari mulai penambangan, pengolahan,

pendistribusian, bahkan hingga penggunaan energi ini memproduksi bahan-bahan

berbahaya bagi lingkungan. Dan dampak dari rusaknya lingkungan akan

mempengaruhi kualitas hidup manusia. Seperti sulitnya mendapatkan udara dan air

bersih, serta semakin seringnya terjadi bencana yang diakibatkan karena efek

pemanasan global yang mengganggu keseimbangan alam.

Pentingnya kelestarian lingkungan mendorong manusia untuk peduli, pada saat ini

sudah banyak aksi dan kebijakan yang lahir dalam berbagai aspek untuk
kepentingan lingkungan. Seperti kebijakan mengenai bangunan yang didirikan harus

memenuhi syarat ramah lingkungan, himbauan untuk hemat energi, dan lainnya.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa itu saja tidak cukup. Karena perubahan yang

nyata adalah perubahan yang berasal dari dalam diri sendiri. Selanjutnya adalah

tugas kita untuk menularkan rasa kepedulian kepada orang lain.

Sebelum kita dapat menularkan rasa kepedulian terhadap lingkungan kepada orang

lain, yang paling mendasar adalah meyakinkan mereka bahwa kita benar-benar

peduli dan cinta lingkungan, yang paling efektif dengan perbuatan nyata. Melakukan

dan memberi contoh sebelum menyuruh orang lain melakukannya. Ceritakan hal

yang mudah, ini dilakukan untuk membuat mereka tertarik untuk mengetahui lebih

lanjut bagaimana cara kita melakukannya. Karena tidak dapat dipungkiri manusia

lebih tertarik akan kemudahan dalam hidupnya.

Setelah kita mendapat perhatiannya, tetap ikuti alur sebelumnya, yaitu fokus kepada

betapa mudahnya menyelamatkan lingkungan. Tidak perlu menjadi besar untuk

melakukan hal yang besar, kita hanya perlu mengambil langkah kecil untuk

memulainya. Perhatikan yang ada di lingkungan sekitar kita, dan pikirkan apa yang

bisa kita lakukan untuknya. Ini juga dapat menumbuhkan kepekaan terhadap

lingkungan.

Menghemat energi di sekitar kita tidaklah sulit, ini bisa dilakukan cukup dengan

mematikan TV yang tidak ditonton atau menggunakan transportasi umum dan

lainnya. Namun harus kita ketahui, menghemat energi dan menyelamatkan

lingkungan tidak hanya tentang tidak menggunakan atau mengurangi, ini juga

bisa dilakukan dengan memanfaatkan dan menggunakan kembali.


Seperti yang dilakukan di kampus saya, Universitas Lampung yang diprakarsai oleh

Ketua Jurusan saya, Mr. Gatot Eko Susilo, S.T., Msc., Ph.D, beliau mempunyai ide

untuk menggunakan kembali air yang biasanya dibuang dari suatu mesin menjadi

air yang layak minum, melalui proses penelitian yang tidak terlalu rumit. Ini hal kecil

yang berdampak sangat besar. Di negara tropis seperti Indonesia, ada saat dimana

air bersih sangat sulit didapatkan kecuali dengan harga yang mahal. Jika penelitian

ini diaplikasikan dan diperluas jangkauannya, akan menjadi salah satu solusi yang

sangat potensial di kemudian hari. Ini juga akan menjadi bukti betapa mudah dan

banyak hal di sekitar kita yang dapat kita lakukan untuk lingkungan yang lebih baik.

Selanjutnya, setelah membantu menumbuhkan rasa kepedulian orang lain terhadap

lingkungan adalah membuat mereka melakukannya dalam bentuk nyata, dan juga

menularkannya kepada orang lain lagi. Ini dapat dilakukan dengan mempengaruhi

otak mereka dengan melakukan repetisi mengenai efisiensi energi dan

menyelamatkan lingkungan. Ini sejalan dengan pemikiran dari John Edmund Haggai,

Pengulangan yang berselang adalah ibu dari segala keterampilan dan adalah ibu

dari perubahan yang permanen.

Tentu saja bukan manfaat dari repitisi yang kita pertanyakan, namun bagaimana bisa

repitisi menghasilkan manfaat itu. Kekuatan ini sama dengan yang digunakan pada

iklan. Kebanyakan manusia merasa terancam atau tidak nyaman akan sesuatu yang

asing baginya, dan reaksinya adalah berupa penolakan. Dengan cara mengulang-

ulang proses pengenalan, otak kita akan dibuat familiar akan sesuatu sehingga kita

tidak akan merasa terancam dan bahkan menyukai hal tersebut. Ini yang dimaksud

perubahan permanen yang disebutkan oleh John Edmund Haggai, dan ini dapat

digunakan sebagai stategi kita untuk melakukan perubahan, di mulai dari perubahan

individu-individu yang yang selanjutnya akan berdampak baik pada skala yang lebih
besar. Untuk itu, kita harus mencari calon-calon pemimpin yang mampu menularkan

ini dengan baik. Karena pemimpin yang baik, suaranya akan didengarkan.

Menghemat energi itu mudah. Menyelamatkan lingkungan itu mudah. Lakukan dari

hal kecil. Jadi untuk merubah dunia, kita harus memulainya dengan merubah diri

sendiri dan menularkannya kepada orang lain serta berikan penjelasan yang jelas

dengan bahasa yang ringan. Temukan dan tularkan ini kepada calon pemimpin yang

akan senantiasa bertanggungjawab untuk menyelamatkan dunia dengan memulai

menghemat energi.