Anda di halaman 1dari 3

SISTEM LIMFORETIKULER

Sistem limforetikuler merupakan jalinan kompleks antar organ-organ limfoid yang


saling berhubungan satu sama lain yaitu pembuluh limfoid, nodus limfa, cairan getah bening
dan limfosit. Unsur jaringan dan organ terdiri atas organ linfoid primer dan organ limfoid
sekunder. Yang termasuk organ limfoid primer yaitu sumsum tulang dan timus fungsi organ
limfoid primer ini adalah Menyiapkan sel-sel limfosit agar mempunyai kemampuan
mengenali/membedakan self dan nonself, sedang yang termasuk organ limfoid sekunder
adalah limfonodus, Lien dan Malt/Galt.
1. Organ limfoid primer
a. Sumsum tulang merupakan organ limfoid yang menjadi sel sel induk pembentukan
darah, yaitu sel darah merah dan sel darah putih. Pada sumsum tulang dihasilkan limfosit B
dan linfosit T selain itu pada sumsum tulang terjadi pematangan limfosit B.
b. Tymus
Tymus merupakan organ yang terdapat pada mediastinum seperior-anterior, didepan pangkal
pembuluh darah pada jantung yang terdiri atas 2 lobus dengan berat 30-40 gram. Tymus
berfungsi sebagai tempat perkembangan limfosit menjadi limfosit T yang bersifat
imunokompeten selain itu juga berfungsi dalam melepaskan limfosit T ke dalam peredaran
darah untuk menuju ke jaringan limfoid sekunder.
2. Organ limfoid sekunder
a. Nodus limfe
Nodus limfe adalah bintilan tisu yang berbentuk seperti biji kacang. Berdiameter 2 hingga 35
mm, berwarna Kelabu-merah jambu (greyish-pink). Terdapat di sepanjang salur limfatik.
Mengandungi leukocyte (sel darah putih) yang mempunyai fungsi phagositosis Cecair
limfa mesti melalui nodus ini sebelum kembali kedalam sistem peredaran darah.
b. Limpa
Limpa merupakan organ berwarna ungu tua yang terletak di sebelah kiri abdomen. Limfa
memiliki sistem kapiler biasa, tetapi darah langsung berhubungan dengan sel-sel limpa, darah
dari limpa dikumpulkan oleh sebuah sinus yang bekerja sebagai vena dan yang
mengantarkan darahnya ke dalam cabang-cabang vena. Fungsi limpa yaitu sewaktu masih
janin limpa berfungsi menghasilkan sel darah merah dan hal ini juga mungkin berfungsi pada
orang dewasa jika sumsum tulang mengalami kerusakan. Selain itu juga berperan sebagai
hemopoiesis, yaitu membuat sel darah putih jenis limfosit dan monosit.
Selain unsur jaringan dan organ sistm limforetikuler juga terdiri atas unsur seluler yaitu
Limfosit T dan Limfosit B, sel Plasma, Sel NK dan sel fagosit mononuklear yaitu makrofak
dan APC (Antigen Presenting Cell), PMN (Polimorphonuklear Cell) yaitu Netrofil, Eosinofil,
Basofil, Mastosit dan Trombosit.
a. Limfosit T dan Limfosit B
Limfosit T dan Limfosit B merupakan sel perantara dari hampir semua respon imun limfosit
T dan Limfosit B berasal dari sel-sel limfositik di sumsum tulang. Sel-sel ini kemudian
diproses agar menjadi imunokompeten. Limfosit T mendapatkan pengajaran pada bagian
timus dan limfosit B di sumsum tulang dan pada akhirnya menetap pada jaringan-jaringan
limfoid tubuh. Saat terjadi respon imun terhadap gen-gen asing, limfosit B terutama terlibat
dalam pembentukan protein-protein globular yang disebut antibodi; proses tersebut
dinamakan respon humoral. Pada limfosit T menginisiasi serangan oleh berbagai tipe sel
terhadap zat-zat asing. Pada kedua tipe respon ini, entitas penyerang dikenali melalui antigen-
nya.
Terdapat 3 sub populasi Sel T:
1. Sel T sitotoksik mengancurkan sel pejamu yang memiliki antigen asing (contoh : virus,
kanker)
2. Sel T penolong menaikkan perkembangan sel B aktif menjadi sel plasma, Memperkuat
sel T sitotoksik dan sel T penekan, Mengaktifkan makrofag
3. Sel T penekan Menekan produksi antibody sel B dan aktifkan sel T sitotoksik, sel T
penolong
Terdapat 3 jenis sel Limfosit B yaitu :
1. Limfosit B plasma, memproduksi antibody
2. Limfosit B pembelah, menghasilkan Limfosit B dalam jumlah banyak dan cepat
3. Limfosit B memori, menyimpan mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh
b. Sel Plasma
Sel plasma (bahasa Inggris: plasmocyte, plasma B cell, effector B cell) adalah plasmablas
yang teraktivasi. Plasmablas merupakan sel B hasil pembibitan pusat germinal (germinal
centers) pada sistem limfatik sehingga mempunyai kemampuan untuk memproduksi antibodi.
Sel plasma lalu akan menghasilkan antibody dan melepaskanya ke dalam cairan tubuh.
Plasmablas yang bermukim pada area folikel limfatik sekunder seperti Peyer patch dan nodus
limfa mesenterik, kemudian bermigrasi ke dalam sirkulasi darah, masuk ke dalam lamina
propia dari saluran pencernaan dan lapisan epitelial lainnya. Sedangkan yang bermukim pada
area sekunder nodus limfa dan folikel limpa akan bermigrasi menuju sumsum tulang.
Sepanjang migrasi, plasmablas akan teraktivasi menjadi sel plasma yang dapat bertahan
hidup selama beberapa bulan hingga beberapa tahun dan memproduksi antibodi sepanjang
usianya.
c. Sel NK (Natural Killer)
Natural killer disebut juga sel nul atau populasi ketiga karena tidak termasuk sel B atau sel T.
Sel NK membunuh sel target secara spontan dan memberikan pertahanan alamiah terhadap
sel kanker dan virus.

SISTEM INDRA HEWAN


Pengertian Sistem Indra Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi
untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf,
dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya, sistem indera yang
dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba. B. Gambaran
Umum Sistem Indera pada Hewan Sistem indera adalah bagian dari sistem sarafyang
berfungsi untuk proses informasiindera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptorindera,
jalur saraf, dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya, sistem indera
yang dikenal adalahpenglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba.
Alat indra merupakan suatu alat tubuh yang mampu menerima rangsang tertentu.Indra
mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan sehingga fungsi
utama indra adalah mengenal lingkungan luar atau berbagai rangsang dari lingkungan di luar
tubuh.Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi
indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan bagian dari otak ikut
serta dalam tanggapan indera.
Umumnya, sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman,
pengecapandan peraba. Organ Indra merupakan struktur reseptor yang secara khusus
berkembang selama kehidupan dan evolusi hewan. Pada hewan vertebrata, organ indra paling
berkembang dibandingkan dengan hewan lainnya. Dalam kerjanya organ Indra tidak dapat
dipisahkan dari fungsi dan kerja sistem syaraf dan sistem endokrin yang keduanya membantu
untuk memadukan dan mengkoordinasikan informasi yang diterima dari lingkungan dan
untuk menimbulkan respon.