Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TENTANG KONFLIK ETNIS

KONFLIK ETNIS

MAKALAH

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar ( ISBD )
Pada Program Study Mata KuliahUmum( MKU )
Universitas Jember

Oleh :

1. NurmaniaIrmala Sari 131810201004


2. SilfianaPuspita Sari 131810201030
3. ImamaSitiMutmainah 131810201032
4. ZilmiKaffah 131810201040
Fakultas Matematika Dan Ilmu pengetahuan Alam
UNIVERSITAS JEMBER
Tahun 2014

DAFTAR ISI

COVER........................................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB.1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................2
1.3 Tujuan dan Manfaat..................................................................... 2
BAB.2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konflik Etnis.............................................................. 3
2.2 Penyebab Konflik antar Etnis..................................................... 4
2.3 Dampak dari Konflik antar Etnis............................................... 5
2.4 Solusi dari Penyebab Konflik antar Etnis.................................. 6
2.5 Contoh Konflik Etnis Di Indonesia............................................. 8
BAB.3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 11
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan sebuah negara bangsa (nation-state) yang sangat majemuk
dilihat dari berbagai dimensi.Salah satu dimensi menonjol dari kemajemukan itu
adalah keragaman etnis atau suku bangsa. Dengan mengacu pada data di
Direktorat Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, mencatat bahwa
di Indonesia saat ini terdapat 525 kelompok etnis. Dalam sejarahnya, kelompok
etnis tertentu biasanya mendiami atau tinggal di sebuah pulau, sehingga sebuah
pulau di wilayah nusantara sering kali identik dengan etnis tertentu. Pulau
Kalimantan, misalnya, identik dengan etnik Dayak (walau di dalamnya terdapat
sekian banyak subetnik, dan karena itu konsep Dayak sesungguhnya hanyalah
semacam sebutan umum untuk penduduk asli Kalimantan). Meskipun begitu,
hubungan antara etnis yang satu dengan etnis yang lain telah berlangsung cukup
lama seiring dengan terjadinya mobilitas penduduk antarpulau, kendati pun masih
terbatas antarpulau tertentu yang letak wilayahnya strategis untuk urusan
perniagaan.
Dalam kehidupan masyarakat terdapat beragam adat istiadat, dan kepentingan
sehingga sering terjadi pertikaian. Pertikaian yang berupa konflik disebabkan
adanya perbedaan. Hal tersebut akan berdampak dalam kehidupan masyarakat
baik aspek sosial, budaya, hukum, ekonomi, maupun kependudukkan. Kehidupan
manusia di bumi baik secara sendiri-sendiri (individu) maupun kelompok berbeda-
beda. Apabila perbedaan perbedaan yang ada dipertajam akan timbul
pertentangan atau konflik. Konflik pada dasarnya merupakan fenomena dan
pengalaman alamiah. Dalam bentuk ekstrem, berlangsungnya konflik tidak hanya
sekedar untuk mempertahankan hidup dan eksistensi. Akan tetapi, juga bertujuan
pada taraf pembinasaan eksistensi lawan. Konflik merupakan bagian yang akan
selalu ada dalam masyarakat. Konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
berakhirnya eksistensi suatu masyarakat. Jadi, dapat dikatakan sebenarnya konflik
bukanlah masalah yang terlalu dikhawatirkan selama kita pahami tentang
penyebab dan cara mengendalikannya. Diantara semua jenis konflik, yang paling
berbahaya adalah konflik antar etnis.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam hal ini adalah:
a. Apa penyebab dari konflik antar etnis?
b. Apa dampak dari konflik antar etnis?
c. Bagaimana solusi dari konflik antar etnis?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dalam hal ini adalah:
a. Penyebab konflik antar etnis.
b. Dampak dari konflik antar etnis.
c. Solusi dari konflik antar etnis.
Adapun manfaat dalam hal ini adalah:
a. Mengetahui penyebab konflik antar etnis.
b. Mengetahui dampak dari konflik antar etnis.
c. Mengetahui solusi dari konflik antar etnis.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konflik Etnis


Pengertian etnis atau suku adalah suatu kesatuan sosial yang dapat
dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan,
terutama bahasa. Dengan kata lain etnis adalah kelompok manusia yang terikat
oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa
(Koentjaraningrat, 2007). Dari pendapat diatas dapat dilihat bahwa etnis ditentukan
oleh adanya kesadaran kelompok, pengakuan akan kesatuan kebudayaan dan juga
persamaan asal-usul.Etnis mungkin mencakup dari warna kulit sampai asal ususl
acuan kepercayaan, status kelompok minoritas, kelas stratafikasi, keanggotaan
politik bahkan program belajar.
Menurut Brown, kata konflik etnis seringkali digunakan secara fleksibel.
Bahkan, dalam beberapa penggunaannya, kata ini justru digunakan untuk
menggambarkan jenis konflik yang sama sekali tidak mempunya basis etnis. (hal.
81) Contohnya adalah konflik di Somalia.Banyak pihak mengkategorikan konflik
yang terjadi di Somalia sebagai konflik etnis.Padahal, Somalia adalah negara paling
homogen dalam hal etnisitas di Afrika. Konflik di Somalia terjadi bukan karena
pertentangan antar etnis, melainkan karena pertentangan antara penguasa lokal
satu dengan penguasa lokal lainnya, yang keduanya berasal dari etnis yang sama.
Disini jelas diperlukan suatu definisi yang cukup spesifik tentang apa yang
dimaksud dengan konflik etnis. Menurut Anthony Smith, komunitas etnis adalah
suatu konsep yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan manusia yang
memiliki nenek moyang yang sama, ingatan sosial yang sama (Wattimena, 2008),
dan beberapa elemen kultural. Elemen-elemen kultural itu adalah keterkaitan
dengan tempat tertentu, dan memiliki sejarah yang kurang lebih sama. Kedua hal
ini biasanya menjadi ukuran bagi solidaritas dari suatu.

2.2 Penyebab Konflik antar Etnis


Indonesia mencatat puluhan bahkan ratusan perselisihan antar kelompok etnik
sejak berdirinya.Meskipun demikian hanya beberapa yang berskala luas dan besar.
Selain konflik antara etnik-etnik yang digolongkan asli Indonesia dengan etnis Cina
yang laten terjadi, konflik antar etnik yang terbesar diantaranya melibatkan etnik
Madura dengan Etnik Dayak di Kalimantan yang terkenal dengan tragedi Sambas
dan tragedi Sampit. Konflik-konflik dalam skala lebih kecil terjadi hampir setiap
tahun di berbagai tempat di penjuru tanah air. Tentunya sebagaimana konflik lain,
mencari akar penyebab konflik antar etnik merupakan kunci dalam upaya meredam
konflik dan mencegah terulangnya kembali konflik serupa. Berbagai perspektif telah
memberikan pandangannya, baik itu perspektif politik, ekonomi, sosiologi,
antropologi, psikologi, hukum, dan lainnya.Berbagai sebab konflik telah pula
diidentifikasi.Salah satu sebab yang sering ditemukan dalam konflik antar etnik
adalah prasangka antar etnik. Dalam bagian ini akan diketengahkan bagaimana
peranan prasangka dalam konflik antar etnik.
Konflik bisa disebabkan oleh suatu sebab tunggal.Akan tetapi jauh lebih sering
konflik terjadi karena berbagai sebab sekaligus. Kadangkala antara sebab yang satu
dengan yang lain tumpang tindih sehingga sulit menentukan mana sebenarnya
penyebab konflik yang utama. Faturochman (2003) menyebutkan setidaknya ada
enam hal yang biasa melatarbelakangi terjadinya konflik,
1. Kepentingan yang sama diantara beberapa pihak,
2. Perebutan sumber daya
3. Sumber daya yang terbatas,
4. Kategori atau identitas yang berbeda
5. Prasangka atau diskriminasi
6. Ketidakjelasan aturan (ketidakadilan).
Sementara itu, Sukamdi (2002) menyebutkan bahwa konflik antar etnik di Indonesia
terdiri dari tiga sebab utama:
1. konflik muncul karena ada benturan budaya,
2. karena masalah ekonomi-politik
3. karena kesenjangan ekonomi sehingga timbul kesenjangan sosial.
Menurutnya konflik terbuka dengan kelompok etnis lain hanyalah merupakan
bentuk perlawanan terhadap struktur ekonomi-politik yang menghimpit mereka
sehingga dapat terjadi konflik diantara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan
identitas sosial, dalam hal ini etnik dan budaya khasnya, seringkali menimbulkan
etnosentrisme yang kaku, dimana seseorang tidak mampu keluar dari perspektif
yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang
dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang
budayanya. Sikap etnosentrisme yang kaku ini sangat berperan dalam menciptakan
konflik karena ketidakmampuan orang-orang untuk memahami perbedaan. Sebagai
tambahan, pengidentifikasian kuat seseorang terhadap kelompok cenderung akan
menyebabkan seseorang lebih berprasangka, yang akan menjadi konflik.

2.3 Dampak dari Konflik antar Etnis


Konflik dapat berdampak positif dan juga negatif. Dampak positif dari konflik
menurut Ralf Dahrendorf yaitu perubahan seluruh personel di dalam posisi
dominasi. Kedua, perubahan keseluruhan personel di dalam posisi dominasi dan
ketiga, digabungnya kepentingan-kepentingan kelas subordinat dalam
kebijaksanaan pihak yang berkuasa. Sedangkan menurut Lewis Coser adalah fungsi
konflik yang positif mungkin paling jelas dalam dinamika ingroup versus outgroup.
Kekuatan solidaritas internal dan integrasi ingroup bertambah tinggi karena tinggkat
permusuhan atau konflik dalam outgroup bertambah besar. Sedangkan dampak
negatif dari konflik yaitu keretakkan hubungan antarindividu dan persatuan
kelompok, kerusakkan harta benda benda dan hilangnya nyawa manusia,
berubahnya kepribadian para individu, dan munculnya dominasi kelompok
pemenang.
2.4 Solusi dari Konflik Etnis
Dalam mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang
sederhana.Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan
dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat
ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan
(intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.
Penyelesaian persoalan dengan pemaksaan sepihak oleh pihak yang merasa lebih
kuat, apalagi apabila di sini digunakan tindakan kekerasan fisik, bukanlah cara yang
demokratik dan beradab. Inilah yang dinamakan main hakim sendiri, yang hanya
menyebabkan terjadinya bentrokan yang destruktif. Cara yang lebih demokratik
demi tercegahnya perpecahan, dan penindasan atas yang lemah oleh yang lebih
kuat, adalah cara penyelesaian yang berangkat dari niat untuk take a little and give
a little, didasari itikat baik untuk berkompromi. Musyawarah untuk mupakat, yang
ditempuh dan dicapai lewat negosiasi atau mediasi, atau lewat proses yudisial
dengan merujuk ke kaidah perundang-undangan yang telah disepakati pada tingkat
nasional, adalah cara yang baik pula untuk mentoleransi terjadinya konflik, namun
konflik yang tetap dapat dikontrol dan diatasi lewat mekanisme yang akan
mencegah terjadinya akibat yang merugikan kelestarian kehidupan yang tenteram.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk penyelesaian konflik tersebut,
yaitu :
1. Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga
dalam hal ini pemerintah dan aparat penegak hukum yang memberikan keputusan
dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak dengan memberikan sanksi yang
tegas apabila. Kejadian seperti ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja
dalam masyarakat, bersifat spontan dan informal.
2. Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan
keputusan yang mengikat.
3. Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang
berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama..
4. Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki
kekuatan yang seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang.
Keadaan ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau
mundur .
5. Adjudication (ajudikasi), yaitu penyelesaian perkara atau sengketa
di pengadilan dengan mengutamakan sisi keadilan dan tidak memihak kepada
siapapun.
Untuk mengurangi kasus konflik sosial diperlukan suatu upaya pembinaan yang
efektif dan berhasil, diperlukan pula tatanan, perangkat dan kebijakan yang tepat
guna memperkukuh integrasi nasional antara lain :
a. Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran dan kehendak
untuk bersatu.
b. Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun
consensus.
c. Membangun kelembagaan (pranata) yang berakarkan nilai dan norma yang
menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam aspek
kehidupan dan pembangunan bangsa yang mencerminkan keadilan bagi semua
pihak, semua wilayah.
e. Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan
yang arif dan bijaksana, serta efektif.
Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konflik adalah :
a. Aspek kualitas warga sukubangsa
Perlunya diberikan pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten dan
berkesinambungan terhadap para warga sukubangsa di Indonesia terhadap
eksistensi Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pemersatu keanekaragaman di
Indonesia, bukan sebagai faktor pemicu perpecahan atau konflik.
Perlunya diberikan pemahaman kepada para pihak yang terlibat konflik untuk
meniadakan stereotip dan prasangka yang ada pada kedua belah pihak dengan
cara memberikan pengakuan bahwa masing-masing pihak adalah sederajat dan
melalui kesederajatan tersebut masing-masing anggota sukubangsa berupaya
untuk saling memahami perbedaan yang mereka punyai serta menaati berbagai
norma dan hukum yang berlaku di dalam masyarakat.
Adanya kesediaan dari kedua belah pihak yang terlibat konflik untuk saling
memaafkan dan melupakan peristiwa yang telah terjadi.
b. Penerapan model Polmas secara sinkron dengan model Patron-Klien.
Terjadinya perdamaian pada konflik antar sukubangsa yang telah terwujud dalam
sebuah konflik fisik tidaklah mudah sehingga perlu adanya campur tangan pihak
ketiga yang memiliki kapabilitas sebagai orang atau badan organisasi yang
dihormati dan dipercaya kesungguhan hatinya serta ketidakberpihakannya terhadap
kedua belah pihak yang terlibat konflik. Peran selaku pihak ketiga dimaksud dapat
dilakukan oleh Polri sebagai juru damai dalam rangka mewujudkan situasi yang
kondusif dalam hubungan antar sukubangsa dengan memberi kesempatan
terjadinya perdamaian dimaksud seiring berjalannya proses penyidikan yang
dilandasi pemikiran pencapaian hasil yang lebih penting dari sekedar proses
penegakkan hukum berupa keharmonisan hubungan antar sukubangsa yang
berkesinambungan. Dalam hal ini, Polri dapat menerapkan metode Polmas dengan
melibatkan para tokoh dari masing-masing suku bangsa Ambon dan Flores yang
merupakan Patron dari kedua belah pihak yang terlibat konflik yang tujuannya
adalah agar permasalahan yang terjadi dapat terselesaikan secara arif dan
bijaksana oleh, dari dan untuk kedua sukubangsa dimaksud termasuk dalam hal
menghadapi permasalahan- permasalahan lainnya di waktu yang akan dating
.

2.5 Contoh Konflik Etnis Di Indonesia


Salah satu contoh konflik etnis yang terjadi di Indonesia adalah Konflik
sampit.Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah
terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar
terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600
korban tewas. Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di
bawah program transmigrasiyang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda
dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.Tahun 2000, transmigran membentuk
21% populasi Kalimantan Tengah.[3]Suku Dayak merasa tidak puas dengan
persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif.Hukum-
hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap
banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan
perkebunan.
Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001.Satu versi
mengklaim bahwa ini disebabkan oleh serangan pembakaran sebuah rumah
Dayak.Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan
kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di
permukiman Madura.
Skala pembantaian membuat militer dan polisi sulit mengontrol situasi di
Kalimantan Tengah.Pasukan bantuan dikirim untuk membantu pasukan yang sudah
ditempatkan di provinsi ini. Pada 18 Februari, suku Dayak berhasil menguasai
Sampit. Polisi menahan seorang pejabat lokal yang diduga sebagai salah satu otak
pelaku di belakang serangan ini.Orang yang ditahan tersebut diduga membayar
enam orang untuk memprovokasi kerusuhan di Sampit.Polisi juga menahan
sejumlah perusuh setelah pembantaian pertama. Kemudian, ribuan warga Dayak
mengepung kantor polisi di Palangkaraya sambil meminta pelepasan para tahanan.
Polisi memenuhi permintaan ini dan pada 28 Februari, militer berhasil
membubarkan massa Dayak dari jalanan, namun kerusuhan sporadis terus berlanjut
sepanjang tahun.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Apapun juga prosedur dan mekanisme yang dibangun untuk mengantisipasi dan
mengatasi konflik, dan betapapun efektifnya berdasarkan rancangannya, semua itu
akan sia-sia saja manakala para warga tidak hendak mentransformasi dirinya
menjadi insan-insan yang berorientasi inklusivisme. Berkepribadian sebagai
eksklusivis, warga tidak hendak menyatukan dirinya, bahkan ia besikap konfrontatif
dengan pihak lain. Bersikap konfrontatif, ujung akhir penyelesaian konflik yang
dibayangkan hanyalah menang atau kalah, dan bahwa the winner will takes
all serta pula bahwa to the winner the spoil. Matinya yang kalah akan menjadi
rotinya sang pemenang, iemands dood, iemands brood. Apabila konflik yang terjadi
berlangsung pada model yang demikian ini, akibat yang serius mestilah diredam
atau dilokalisasi dengan mencegah untuk menjadi terbatas hanya berkenaan
dengan pihak-pihak yang berselisih saja, yang pertarungannya dan perampasan
harta kemenangan akan diatur berdasarkan aturan-aturan permainan yang telah
ditetapkan bersama (misalnya aturan perundang-undangan) yang telah dimengerti
dan disosialisasikan.
DAFTAR PUSTAKA

http://smartpsikologi.blogspot.comhttp://smartpsikologi.blogspot.com
http://mascondro212.blogspot.com/2014/02/konflik-antar-suku-bangsa-dan
upaya_16.html://mascondro212.blogspot.com/2014/02/konflik-antar-suku
Darmanik, Fritz Hotman S.2009. Sosiologi untuk SMA/MA. Klaten: Intan Pariwara
Nurseno.2007. Kompetensi Dasar Sosiologi 2. Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri