Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Keanekaragaman flora (biodiversity) juga berarti keanekaragaman
senyawa kimia (chemodiversity) yang memungkinkan terkandung di dalamnya.
Hal ini memungkinkan dilakukannya penelitian dan penelusuran senyawa
kimia tentang metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan,
serta metode pemisahan, metode analisis dan uji farmakologinya. Hasil isolasi
metabolit sekunder dapat memberikan informasi kandungan senyawa aktif
yang terdapat dalam tumbuhan sebagai obat/bahan baku obat. Hampir semua
bagian dari tumbuhan dapat kita manfaatkan. Bagian tumbuhan yang dapat
dimanfaatkan sebagai obat adalah bagian daun, batang, akar, rimpang, bunga,
buah dan bijinya. Flavonoid merupakan kelompok senyawa yang banyak
ditemui di alam, struktur molekul sederhana dan tersebar luas baik pada
tumbuhan tingkat tinggi maupun rendah (Handayani, dkk, 2005). Flavonoid
mencakup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat pada seluruh dunia
tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae (Robinson, 1995).
Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder. Senyawa flavonoid
adalah senyawa yang mengandung C terdiri atas dua inti fenolat yang
dihubungkan dengan tiga satuan karbon (Sastrohamidjojo, 1996). Flavonoid
merupakan komponen bioaktif pada makanan khususnya sebagai antioksidan.
Flavonoid terdapat pada daun, bunga, buah, bijibijian, kacang-kacangan, bulir
padi, rempah, dan pada tumbuhan berkhasiat obat.
Peran terpenting flavonoid dari sayuran dan buah segar adalah mengurangi
resiko terkena penyakit jantung dan stroke (Safitri, 2004).
Tradisi mengkonsumsi tumbuhan obat atau rempah rempah dalam bentuk
ramuan jamu tradisional telah dikenal dan diakui secara luas oleh masyarakat,
baik untuk maksud pemeliharaan kesehatan dan kebugaran jasmani,
pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif), maupun pemulihan
kesehatan (rehabilitatif). Kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang
mengalami krisis, sehingga daya beli masyarakat pun menurun. Hal ini

1
menyebabkan obat tradisional mulai digemari dan dicari, baik oleh masyarakat
kota maupun masyarakat pedesaan. Disamping itu, obat tradisional sangat
kurang efek sampingnya dibandingkan obat-obatan dari bahan kimia murni.
Harganya relatif lebih murah, mudah diperoleh, dan dapat diramu sendiri.
Faktor yang sagat mempengaruhi adalah menaiknya kecenderungan
masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam. Sistem Senyawa
Tumbuhan Senyawa adalah zat tunggal oleh beberapa jenis unsur. Pengertian
lain senyawa adalah zat yang terbentuk oleh beberapa atom dari berbagai
jenisunsur yang saling terikat secara kimia (Anonymous, 2009). Senyawa
dalam tumbuhan merupakan hasil metabolisme sekunder dari tumbuhan itu
sendiri. Senyawa metabolit sekunder sangat bervariasi jumlah dan jenisnya
dari setiap tumbuhtumbuhan. Beberapa dari senyawa tersebut telah diisolasi,
sebagian diantaranya memberikan efek fisiologi dan farmakologis yang lebih
dikenal sebagaisenyawa kimia aktif (Kusuma, 1988).
1.2 Identifikasi Masalah
1. Bagaimana cara mengisolasi dan memurnikan senyawa flavonoid yang
terkandung dalam tumbuhan ashitaba (Angelica keskei) ?
2. Bagaimana cara memperloreh senyawa khalkon dari senyawa flavonoid
yang terdapat pada daun ashitaba ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengisolasi dan memurnikan senyawa
flavonoid yang terkandung dalam tumbuhan ashitaba (Angelica keskei)
2. Untuk mengetahui cara memperloreh senyawa khalkon dari senyawa
flavonoid yang terdapat pada daun ashitaba?
1.4 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan senyawa khalkon
dari jenis flavonoid pada daun ashitaba
1.5 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di Laboratorium Bahan Alam Sekolah Tinggi
Farmasi Indonesia Jl.Soekarno-Hatta No.354 Parakan Resik Bandung.
Waktunya dilakukan mulai bulan oktober sampai desember 2016.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Ashitaba


Ashitaba (Angelica keiskei) merupakan salah satu tanaman introduksi
sehingga belum banyak dikenal di Indonesia. Di Jepang tanaman ashitaba
dikonsumsi sebagai sayuran. Tanaman ashitaba berpotensi meningkatkan
produksi sel darah merah, produksi hormon pertumbuhan serta meningkatkan
pertahanan tubuh untuk melawan infeksi, kanker dan juga sebagai sumber
antioksidan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mutu tanaman ashitaba
dari Kebun Percobaan Manoko di Lembang (1.200 m dpl). Penelitian
dilaksanakan di Laboratorium Pengujian, Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik, Bogor sejak Februari sampai Mei 2010. Bagian tanaman yang
diidentifikasi mutunya adalah daun, batang dan umbi. Parameter pengamatan
yaitu karakteristik mutu, skrining fitokimia, bahan aktif, unsur mineral,
rendemen ekstrak serta aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan,
ashitaba dapat diekstrak menggunakan pelarut air, kadar sari larut air lebih
besar dari pada kadar sari alkohol. Hasil skrining fitokimia, ashitaba
mengandung senyawa alkaloid, saponin dan glikosida dengan kategori kuat
pada semua bagian tanaman. Kandungan flavonoid, triterfenoid dan tanin
tertinggi terdapat pada daun. Tanaman ashitaba mengandung unsur hara P, K,
Na, Ca, dan Fe dan jumlah tertinggi terdapat pada daun. Rendemen ekstrak
daun diperoleh 5,75 %, batang 3,99% dan umbi 3,12%. Hasil identifikasi
senyawa aktif dari ekstrak campuran antara daun dengan batang diperoleh 13
komponen dan ekstrak umbi 8 komponen. Hasil pengujian aktivitas
antioksidan, ekstrak daun menghasilkan efektivitas yang lebih baik
dibandingkan dengan batang maupun umbi. Selanjutnya untuk menangkap
radikal bebas sebesar 50% (Ec50) dibutuhkan ekstrak daun sebesar 38 ppm,
batang 390,98 ppm dan umbi 780,65 ppm. Tanaman ashitaba mirip dengan
seledri hanya ashitaba keragaan tanamannya lebih tinggi dibandingkan dengan
seledri. Tanaman ashitaba
berasal dari Pulau Hachijo, Jepang yang tumbuh di daerah tandus, berbatu dan
berpasir. Menurut Lee dalam Baba (1995), penduduk yang bermukim di pulau

3
memanfaatkan sebagai sayuran dan hasil pengamatan penduduknya menjadi
sehat-sehat. Di Asia Tenggara, tanaman ashitaba dapat tumbuh baik di Lombok
Timur yang berlokasi di Kecamatan Sumbawa Desa Sembalum. Perbanyakan
ashitaba cukup dengan menggunakan biji yang dihasilkan dari tanaman yang
sudah berumur 3-4 tahun dengan cara disemai. Ashitaba juga dapat diolah
menjadi the dengan cara diseduh sehingga pemanfaatannya lebih praktis.
Tanaman ini berpotensi sebagai obat karena dari getahnya yang berwarna
kuning mengandung zat chalcone. Menurut Ogawa et al. (2005) ashitaba
memiliki kemampuan sebagai antihipertensi dan antisroke. Batang, daun
maupun umbi tanaman ashitaba jika dipotong akan mengeluarkan getah
berwarna kuning disebut chalcone yang termasuk golongan senyawa flavonoid.
Shibata (1994) menyatakan bahwa chalcones mempunyai fungsi sebagai
antitumorigenic. Hasil penelitian Universitas Farmasi Osaka tahun 1990,
jumlah kandungan bahan aktif dalam 100 g ashitaba adalah terdapat
xanthoangelol 0,25%, 4-Hydroxyderricin 0,07% dan total chalcone 0,32%
(Baba 1995). Total flavonoid di dalam pucuk ashitaba berkisar 219 mg/100 g
per berat basahnya (Yang et al. 2008). Selanjutnya menurut Mamun et al.
(2009), di dalam ashitaba terdapat zat asam hexadecanoat 2,42%, asam
palmitat 5,08%, xanthotoxin 3,12%, asam linoleat 9,17%, pyrimidin 2,70%,
strychnidinone 3,18% dan smenochromena 7,55%. Selain zat tersebut di dalam
ashitaba juga terdapat vitamin, asam amino dan unsur mineral. Ashitaba
merupakan tanaman yang kaya akan vitamin, mineral, asam amino maupun zat
aktif penciri sehingga dapat disebut sebagai tanaman multi fungsi. Menurut
Hida (2007), ashitaba mengandung klorofil yang cukup tinggi sehingga dapat
meningkatkan produksi darah serta keseimbangan fungsi tubuh. Zat aktif yang
terdapat dalam chalcone bermanfaat untuk meningkatkan produksi sel darah
merah, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, produksi hormon
pertumbuhan serta meningkatkan pertahanan tubuh untuk melawan penyakit
infeksi, sedang menurut Sigurdsson et al. (2005) ekstrak daun Angelica
archangelica mempunyai aktivitas sebagai antitumor, kanker (paruparu dan
kulit). Selain itu ashitaba juga berpotensi sebagai sumber antioksidan (Li et al.
2009). Menurut Wicaksono dan Syafirudin (2003) efek antioksidan ashitaba

4
melebihi anggur, teh hijau maupun kedelai, yang berfungsi menjaga organ
tubuh dan kerusakan sel akibat radikal bebas serta memperlambat proses
penuaan. Nilai total aktivitas antioksidan dari ashitaba berkisar 189030 mg/g
berat kering (Chen et al. 2004). Ashitaba juga berguna sebagai lactagogen,
karena mampu menginduksi sekresi susu ibu. Ashitaba yang diberikan untuk
sapi sebagai makanannya dapat meningkatkan produksi susu. Disamping itu
juga dapat menyembuhkan diabetes, asam lambung, hipertensi, jantung
koroner, asma, liver, menurunkan kolesterol, osteoporosis, ginjal, maag dan
menambah vitalitas, penghambat proliferasi HIV dan sebagai antibakteri
terutama Staphyloccocus aureus dan Staphyloccus epidermis. Menurut Enoki
et al. (2007), ashitaba dapat disebut sebagai tanaman insulin karena dapat
menyembuhkan penyakit diabetes. Daun ashitaba dapat digunakan dalam
keadaan mentah atau direbus sedangkan batang dan akar harus direbus terlebih
dahulu lalu sari airnya diminum sebagai obat. Untuk penggunaan dalam bentuk
serbuk, satu sendok the serbuk dicampur dengan 150 ml air panas. Ashitaba
dapat diolah menjadi simplisia, serbuk, bentuk kapsul dan teh ashitaba.Di
Indonesia, ashitaba dikembangkan di Malang, Jawa Timur danJawa Barat, di
Kebun Percobaan Manoko, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di
Lembang, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu
ashitaba dari Lembang Jawa Barat.

Gambar 1. Tanaman ashitaba

5
Klasifikasi dari ashitaba:

Regnum : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Famili : Apiaceae / Umbeliferiae

Ordo : Apiales

Genus : Angelica

Spesies : Angelica keiskei koidzumi

2.2 Aspek Biokimia/Kimia Zat Aktif Ashitaba

Bahan aktif dalam 100 g ashitaba adalah terdapat xanthoangelol 0,25%, 4-


Hydroxyderricin 0,07% dan total chalcone 0,32% (Baba 1995).
Total flavonoid di dalam pucuk ashitaba berkisar 219 mg/100 g per berat
basahnya (Yang et al.2008). Selanjutnya menurut Mamun et al. (2009), di
dalam ashitaba terdapat zat asam hexadecanoat 2,42%, asam palmitat 5,08%,
xanthotoxin 3,12%, asam linoleat 9,17%, pyrimidin 2,70%, strychnidinone
3,18% dan smenochromena 7,55%. Selain zat tersebut didalam ashitabajuga
terdapat vitamin, asam amino dan unsur mineral.
2.3 Pengertian Flavonoid
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang
umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Senyawa flavanoid merupakan suatu
kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-
senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru serta sebagai zat
warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Pada tumbuhan
tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun dalam bunga.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta
kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa

6
flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus atau
familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya.
Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap
hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur
transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.
Flavanoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom
karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane (C3)
sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6.
2.4 Klasifikasi Flavonoid
Jika dilihat dari struktur dasarnya flavonoid terdiri dari dua cincin benzen yang
terikat dengan 3 atom carbon (propana). Dari kerangka ini flavonoid dapat
dibagi menjadi 3 struktur dasar yaitu Flavonoid atau 1,3-diarilpropana,
isoflavonoid atau 1,2-diarilpropana, dan neoflafonoid atau 1,1-diarilpropana.

Nama flavonoid sendiri berasal dari kata Flavon yang merupakan senyawa
fenol yang banyak terdapat di alam. Senyawa flavon ini memiliki struktur yang
mirip dengan struktur dasar flavonoid tetapi pada jembatan propana terdapat
oksigen yang membentuk siklik sehingga memiliki 3 cincin heterosiklik.
Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana
posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-
diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin
heterosiklik yang baru (Cincin C)

Senyawasenyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis, bergantung pada


tingkat oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Berdasarkan
tingkat oksidasinya, flavan adalah yang terendah dan digunakan sebagai induk
tatanama flavon. Senyawa flavon ini dapat dioksidasi sehingga memiliki

7
bentuk yang bervariasi bergantung pada tingkat oksidasinya. Senyawa dasar
flavon yang tidak teroksidasi disebut flavan. Berikut contoh dari flavon yang
teroksidasi membentuk gugus OH Dari berbagai jenis Flavonoid tersebut,
flavon, flavanol dan antosianidin adalah jenis yang paling banyak ditemukan di
alam, sehingga sering kali dinyatakan sebagai flavonoid utama. Sedangkan
jenis-jenis flavonoid yang ditemukan di alam dan jumlahnya terbatas adalah
calcon, auron, katecin, flavonon, leukoantosianidin.
Banyaknya senyawa Flavanoid ini, bukanlah disebabkan oleh banyaknya
variasi struktur, melainkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi, atau
glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan
neoflavonoid hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku
Leguminosae. Jenis-jenis senyawa yang termasuk senyawa isoflavonoid ialah
isoflavon, rotenoid, pterokarpan, dan kumestan. Sedangkan, neoflavonoid
meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergion.
2.5 Ciri Sturktur Flavonoid
Masing-masing jenis Flavonoid mempunyai struktur dasar tertentu. Di samping
itu, Flavonoid mempunyai beberapa ciri struktur yang lain. Pada umumnya
cincin A dari struktur flavonoid mempunyai pola oksigenasi yang berselang-
seling, yakni pada posisi 2, 4 dan 6 dari struktur terbuka calkon. Cincin B
flavonoid mempunyai 1 gugus fungsi oksigen pada posisi para atau 2 pada
posisi para dan meta atau 3 pada posisi 1 di para dan 2 di meta.
2.6 Identifikasi Secara Umum
Senyawa senyawa flavonoid terdapat dalam semua bagian tumbuahan
tinggi, seperti bunga, daun, ranting, bauh, kayu, kulit kayu, dan akar. Akan
tetapi, senyawa flavonoid tertentu seringkali terkonsentrasi dalam suatu
jaringan tertentu, misalnya antosianidin adalah zat warna dari bunga, buah, dan
daun. Sebagian besar dari flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida,
dimana unit flavonoid terkait pada suatu gula. Suatu glikosida adalah
kombinasi antara suatu gula dan suatu alcohol yang saling berikatan melalui
ikatan glikosida.
2.6.1 Kromatografi Lapis Tipis dan Uap Amonia

8
Biasanya jaringan tumbuhan dapat diuji adanya flavon dan flavonol
dengan diuapi uap ammonia. Warna kuning menunjukkan adanya senyawa ini.
Kalkon dan auron berubah dari kuning menjadi merah pada uji ini. Jika ekstrak
pigmen dalam air dibasakan, berbagai perubahan warna dapat terlihat,
meskipun perubahan pada pigmen yang satu menutupi perubahan pada pigmen
lain:
Antosianin : lembayung biru
Flavon, flavonol, xanton : kuning
Flavanon : tak berwarna menjadi merah jingga (terutama jika dipanaskan)
Kalkon dan auron : segera lembayung-merah
Flavanonol : coklat-jingga
Geissman memberikan garis besar tata kerja untuk memeriksa
kromatogram kertas flavonoid.
Tata kerja ini berlaku juga untuk lapisan tipis:
1. Perhatikan bercak yang kelihatan (antosianin, kalkon, auron)
2. Periksa dibawah sinar UV dengan panjang gelombang 365nm beberapa
senyawa berfluoresensi (flavonol, kalkon) yang lain menyerap sinar dan
tampak sebagai bercak gelap dengan latar belakang berfluoresensi (glikosida
flavono, antosianin, flavon)
3. Uapi dengan uap ammonia sambil diperiksa di bawah sinar UV glikosida
flavon dan flavonol berfluoresensi kuning, flavanon kelihatan kuning pucat,
katekin biru pucat.
4. Periksa lagi di bawah cahaya biasa sambil diuapi uap ammonia flavon
kelihatan kuning, antosianin kelabu-biru, kalkon dan auron merah jingga.
Spektrofotometri UV-Vis Sebagian besar peneliti mengidentifikasi dengan
menggabungkan cara spektrofotometri dengan kromatografi. Semua flavonoid
mamiliki pita serapan yang kurang lebih kuat pada sekitar 220-270 nm dan pita
kuat lain pada panjang gelombang lebih tinggi. Mungkin juga terdapat pita
lebih lemah tambahan. Letak kira-kira pita serapan maksimum pada panjang
gelombang tinggi berbagai flavonoid sebagai berikut:
Antosianin : 500-530 nm
Flavon dan flavonol : 330-375 nm

9
Kalkon dan auron : 370-410 nm
Flavanon : 250-300 nm
Leukoantosianidin dan katekin : 280 nm
Isoflavon : 310-330 nm
(Penyajian spectrum ini dapat dijumpai dalam beberapa buku acuan umum dan
tinjauan Geissman)
2.7 Isolasi Flavonoid
2.7.1 Maserasi
Ekstraksi dilakukan secara maserasi bertingkat dengan menggunakan
pelarut mula-mula n-heksana kemudian etanol 95%. Sejumlah 1 kg serbuk
kering daun katu pertama-tama diekstrasi dengan n-heksana berkali-kali
sampai filtrat jernih. Ampas dikeringkan kemudian diekstraksi dengan etanol
95% berkali-kali hingga filtrat jernih. Masing-masing ekstrak dipekatkan
dengan penguap putar vakum sehingga diperoleh ekstrak kental. Pada
penelitian ini yang digunakan adalah ekstrak etanol Identifikasinya dilakukan
dengan cara:
1. Kromatografi
Untuk melihat profil kromatografi dari setiap fraksi. digunakan
cara kromatografi kertas. Masing-masing fraksi ditotolkan pada
kertas Wathman no. 1, dielusi menggunakan cairan pengembang n-
butanol - asam asetat air (60 : 22: 1,2 ). Setelah diketahui bahwa
fraksi yang mengandung jenis flavonoid terbanyak adalah fraksi n-
butanol I, maka dilakukan isolasi senyawa flavonoid dengan cara
kromatografi kertas preparatif.
a. Cairan pengembang yang digunakan : n-butanolasam asetatair
(4:1:5)
b. Jarak rambat : 40 cm
c. Teknik pengembangan : Menurun.
d. Penotolan : Bentuk pita.
e. Pendeteksi : Sinar UV 254/ 366
Masing-masing pita kromatogram dipisahkan, dipotong kecil-kecil dan
diekstraksi dengan metanol. Untuk pemurnian isolat dilakukan pengembangan
kedua secara kromatografi kertas preparatif.
a. Cairan pengembang : Asam asetat 2 % dalam air

10
b. Jarak rambat : 20 cm
c. Teknik pengembangan : Menurun
d. Penotolan : Bentuk pita
e. Pendeteksi : Sinar UV 254/366
Setiap pita kromatogram yang diperoleh kemudian diekstraksi dengan metanol,
sehingga diperoleh beberapa isolat dari senyawa flavonoid
2. Spektrofotometri UV-Vis
Kemudian dengan menggunakan spektrofotometer ultraviolet
dilihat geseran batokromik setelah setiap isolat dalam larutan
metanol diberikan pereaksi geser natrium hidroksida, aluminium
klorida, asam klorida, natrium asetat, dan asam borat secara
bergantian. Dengan melihat geseran batokromik tersebut dapat
diidentifikasi jenis flavonoid.

11
BAB III
TATA KERJA

3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian yaitu oven, neracaa nalitik,
blender, chamber KLT, lampu UV 366 nm, spektrofotometer UV-vis
aluminium foil, Plat silika gel G60 F254, rotary evaporator, water batch, kertas
saring, labu destilasi dan peralatan gelas.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan antaralain :
3.2.1 Bahan Tanaman
Daun tanaman ashitaba (Angelica keiskei) yang telah dikeringkan
3.2.2 Bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan methanol, n-heksana, aquadest, etanol,
ammonia, klorofrom, HCL 2 N, pereaksi dragendrof, pereaksi mayer, pereaksi
besi (III) klorida, gelatin 1%, Metanol, n-heksan, etil asetat, pereaksi Mayer,
pereaksi Wagner, pereaksi Hager, amil alcohol, eter, pereaksi liberman-
burchard, KOH 1N aquadest, HCl pekat, serbuk Mg, NaOH, H2SO4 pekat,
kloroform, aseton. (bahan skrining dan ekstraksi)

3.3 Metode Penelitian


3.3.1 Pengumpulan dan pengelolaan simplisia
a. Pemetikan
Bagian tanaman yang digunakan ialah daunnya, yang sudah
berumur dengan waktu panen pada pagi hari..
b. Sortasi basah

12
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau
bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada
simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan
asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah
rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah
mengandung bermacam-macam mikroba dalam jurnlah yang
tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang
terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran
lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan
dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau air
PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di
dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu
yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian
sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah
mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali,
jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba
awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua
mikroba karena air pencucian yang digunakan biasanya
mengandung juga sejumlah mikroba. Cara sortasi dan pencucian
sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia.
Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka
jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat
bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut
dapat menipercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum
terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus, Micrococcus,
Bacillus, Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia. Pada
simplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan
kulit luarnya untuk mengurangi jumlah mikroba awal karena
sebagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada permukaan
bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak

13
memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan
dengan tepat dan bersih.
d. PerajanganBeberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami
proses perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk
mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan
penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung
dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang
tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang
lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan
reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan
simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar
tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad
renik lainnya.Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja,
menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama
bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu.
f. Sortasi Kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir
pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-
benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan
dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan tertinggal
pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia
dibungkus untuk kernudian disimpan
3.3.2 Skrining Fitokimia
a. Alkaloid
Sejumlah serbuk simplisia dalam mortar, dibasahkan dengan
ammonia sebanyak 1 ml, kemudian ditambahkan kloroform dan
digerus kuat. Cairan kloroform disaring, filtrate ditempatkan dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan HCL 2 N lalu dibiarkan hingga
terjadi pemisahan. Dalam tabung reaksi terpisah
Filtrat1 : Sebanyak 1 tetes larutan pereaksi dragendroff diteteskan
kedalam filtrate, adanya alkaloid ditunjukkan dengan

14
terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna hingga
coklat.
Filtrat2 : sebanyak 1 tetes pereaksi mayer diteteskan kedalam filtrat,
adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan
atau kekeruhan berwarna putih.
Filtrat3 :sebagai blangko atau control negatif
b. Fenolat
sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan 100ml air panas,
didihkan selama 5 menit kemudian disaring. Filtrat sebanyak 5 ml
dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan pereaksi besi
(III) klorida, timbul warna hijau biru kehitaman.
c. Tannin
Sebanyak 1 gram Serbuk simplisia dalam tabung reaksi
dipanaskan di atas tangas air, kemudian disaring. Pada filtrate
ditambahkan gelatin 1% akan timbul endapan putih bila ada
tannin
d. flavonoid
sebanyak 1 gram serbuk simplisia digerus dalam mortar dengan
sedikit air, pindahkan dalam tabung reaksi, tambah sedikit logam
magnesium dan tetes HCL 2N, seluruh campuran dipanaskan
selama 5-10 menit. Setelah disaring panas-panas dan filtrate
dibiarkan dingin, kepada filtrate ditambahkan amil alcohol, lalu
dikocok kuat-kuat, reaksi positif dengan terbentuknya warna
merah pada lapisan amil alcohol.
e. Monoterpen dan seskuiterpen
sebanyak 1 gram serbuk simplisia digerus dengan eter, kemudian
fase eter diuapkan dalam cawan penguap hingga kering, pada
residu di tetesi pereaksi larutan vanillin sulfat. Terbentuknya
warna-warni menunjukkan adanya senyawa monoterpen dan
sesquiterpen
f. Steroid dan triterpenoid

15
sebanyak 1 gram serbuk simplisia digerus dengan eter, kemudian
fase eter diuapkan dalam cawan penguap hingga kering, pada
residu ditetesi pereaksi liberman-burchard. Terbentuknya warna
ungu menunjukkan kandungan triterpenoid sedangkan bila
terbentuk warna hijau biru menunjukkan adanya senyawa steroid.
g. Kuinon
Sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan dengan air,
didihkan selama 5 menit kemudian disaring dengan kapas. Pada
filtrate ditambahkan larutan KOH 1N. terjadinya warna kuning
menunjukkan bahwa dalam bahan uji mengandung senyawa
golongan kuinon.
h. Saponin
Sebanyak 1 gram serbuk ditambahkan dengan air, didihkan
selama 5 menit kemudian dikocok. Terbentuknya busa yang
konsisten selama 5-10 menit 1 cm, hal tersebut menunjukkan
bahwa uji mengandung saponin.
3.3.3 Karakteristik simplisia
Karakterisasi simplisia meliputi karakterisasi makroskopik,
pengujian kadar abu, kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Adapun
tahapannya sebagai berikut :
Karakterisasi simplisia meliputi karakterisasi makroskopik, pengujian kadar
abu, kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Adapun tahapannya sebagai
berikut :
a. Penetapan susut pengeringan
Sebanyak 10 gram simplisia dimasukkan dan ditimbang
seksama dalam wadah yang telah ditara. Dikeringkan dalam oven
pada suhu 105 C selama 5 jam kemudian ditimbang. Dilanjutkan
pengeringan dan ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan
antara 2 jam penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%.
b. Penetapan Kadar Abu
Simplisia uji yang sudah ditimbang sebanyak 2,5 gram dan
digerus halus, dimasukkan ke dalam cawan krus. Kemudian

16
dipijarkan hingga arangnya habis, didinginkan dan ditimbang. Jika
arangnya tidak dapat hilang, maka abu dipanaskan dalam larutan
aquadest, kemudian dilakukan penyaringan dengan kertas saring
bebas abu, sisa dan kertas saring dipijarkan pada cawan krus yang
sama. Filtratnya dimasukkan pada cawan krus, diuapkan dan
dipijar sampai bobotnya tetap, kemudian ditimbang. Kadar abu
total dihitung terhadap simplisia yang sudah dikeringkan diudara
(DepKes RI, 1979).
c. Penetapan Kadar Sari Larut Air
Serbuk simplisia kering terlebih dahulu dikeringkan di
udara, kemudian 5 gram serbuk simplisia dimaserasi selama 24
jam dengan menggunakan 100 ml air dan kloroform P (1000:2,5),
dalam labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam
pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Kemudian
disaring, dan 20 ml filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan
dangkal berdasar rata yang telah ditara, kemudian dihitung
terhadap bobot bahan yang telah dikeringkan (DepKes RI, 1979).
d. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Serbuk simplisia terlebih dahulu dikeringkan diudara,
kemudian 5 gram serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam
dengan 100 ml etanol 95% menggunakan labu bersumbat sambil
berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan
selama 18 jam. Kemudian disaring cepat dengan menghindari
penguapan etanol. Kemudian 20 ml filtrat diuapkan hingga kering
dalam cawan porslen berdasar rata yang telah ditara, kemudian sisa
dipanaskan pada suhu 105C hingga bobot tetap. Kadar sari larut
dalam etanol 95% dihitung terhadap bobot yang sudah dikeringkan
(DepKes RI, 1979).
3.3.4 Ekstraksi
Pembuatan ekstrak pada penelitian ini dibuat dengan menyari simplisia nabati
yaitu ashitaba dengan cara maserasi. Maserasi merupakan metode ekstraksi
yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam sampel dalam pelarut

17
organik. Pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga zat aktif akan larut.
Sebanyak 150 gram serbuk halus daun ashitaba dimasukan ke dalam 750 ml
etanol 96 %, menggunakan botol kaca gelap dan dibiarkan selama 5 hari,
sambil dikocok. Setelah itu sampel di uapkan dengan menggunakan rotary
evaporator dan mendapat ekstrak cair yang kemudian di water batch pada suhu
60 C. Ekstrak yang di isolasi dengan menggunakan kromatografi lapis tipis
preparative menggunakan fase diam G60 F254 dengan ukuran 20 cm x 20 cm
dan fase gerak campuran n-butanol-asam asetat-dan air (BAA) (4:1:5).
Selanjutnya isolat diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer Ultra
Violet Visibel.
Setelah di ekstraksi sampel akan di isolasi dengan menggunakan metode
Kromatografi Lapis Tipis. Kromatografi Lapis Tipis merupakan suatu metode
pemisahan senyawa kimia berdasarkan perbedaan distribusi dua fase yaitu fasa
diam dan fasa gerak. Eluen yang digunakan n-butanol: asam asetat: air (4:1:5).
Hasil pemisahan dengan KLT preparatif tambahkan NH3 kemudian di baca
pada lampu UV 366. senyawa flavonoid golongan khalkon hal ini diperjelas
dengan warna flavonoid hasil pemisahan pada plat KLT oleh (Harbone,1987).
Setelah diisolasi sampel kemudian diidentifikasi dengan menggunakan
spektrofotometer UV-vis. Isolat-isolat hasil KLT dengan pereaksi NH3 di kerok
dan dilarutkan dengan metanol dan kemudian disentrifugasi untuk memisakan
senyawa murni hasil KLT kemudian diidentifikasi dengan spektrofotometer
UV-vis dengan menggunakan methanol sebagai larutan baku.
Menurut (Harbone, 1987) Ciri spektrum flavonoid khalkon antara 365- 390,
auron 390-430, flavonol 350-390.

18
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Sjamsul Arifin. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Penerbit
Karunika.
Bagem dan Feri. 2011. Identifikasi Mutu Tanaman Ashitaba. Bogor: Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
Ji Eun Shin, etall. 2010. Chalcone Isolated from Angelica Keiskei. Korea:
Archieves of Pharmacal Research.
Markham. K.R.. Cara Mengindentifikasi Flavonoid. terjemahan K.
Radmawinata. Bandung: Penerbit ITB.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung:
Penerbit ITB.
Romario, dkk. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dalam Daun Lamun. Manado:
FMIPA UNSRAT.
Sovia Lenny. 2006. Senyawa flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Medan:
hal.14-18

19
20