Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum dan tidak didasarkan

atas kekuasaan. Hukum harus dijadikan panglima dalam menjalankan roda kehidupan

berbangsa dan bernegara. Disamping kepastian dan keadilan hukum juga berfungsi

untuk kesejahteraan hidup manusia. Sehingga boleh dikatakan bahwa berhukum

adalah sebagai medan dan perjuangan manusia dalam konteks mencari kebahagiaan

hidup.1 Prof. Satjipto Rahardjo mengatakan:

., baik faktor; peranan manusia, maupun masyarakat,

ditampilkan kedepan, sehingga hukum lebih tampil sebagai

medan pergulatan dan perjuangan manusia. Hukum dan

bekerjanya hukum seyogianya dilihat dalam konteks hukum itu

sendiri. Hukum tidak ada untuk diri dan keperluannya sendiri,

melainkan untuk manusia, khususnya kebahagiaan manusia.2

Namun didalam realita kehidupan masyarakat, hukum mengalami sebuah

masalah krusial yang mengaburkan makna dari hukum tersebut. Hukum dijadikan

alat untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu dan hukum dijadikan sebuah

1
Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), hlm.1.

2
Satjipto Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir (Catatan Kritis Tentang Pergulatan Manusia dan
Hukum), (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007), hlm. 9.

1
alat untuk melegalkan tindakan-tindakan yang menistakan nilai-nilai keadilan

ditengah-tengah masyarakat. Hukum hanya dijadikan alat dan bukan tujuan.

Hukum dan keadilan merupakan dua buah sisi mata uang yang tidak dapat

dipisahkan, hukum bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan keadilan tanpa hukum

ibarat macan ompong. Namun untuk mendapatkan keadilan maka pencari keadilan

harus melalui prosedur-prosedur yang tidak adil. Sehingga hukum menjadi momok

yang menakutkan bagi masyarakat, hukum bukan lagi untuk membahagiakan

masyarakat tetapi malah menyengsarakan masyarakat. Hukum gagal memberikan

keadilan ditengah masyarakat. Supremasi hukum yang selama ini didengungkan

hanyalah sebagai tanda (sign) tanpa makna. Teks-teks hukum hanya permainan

bahasa (language of game) yang cenderung menipu dan mengecewakan.

Salah satu penyebab kemandegan yang terjadi didalam dunia hukum adalah

karena masih terjerembab kepada paradigma tunggal positivisme yang sudah tidak

fungsional lagi sebagai analisis dan kontrol yang bersejalan dengan tabel hidup

karakteristik manusia yang senyatanya pada konteks dinamis dan multi kepentingan

baik pada proses maupun pada peristiwa hukumnya. 3 Sehingga hukum hanya

dipahami dalam artian yang sangat sempit, yakni hanya dimaknai sebatas undang-

undang, sedangkan nilai-nilai diluar undang-undang tidak dimaknai sebagai sebuah

hukum.

Dalam sejarah Negara Republik Indonesia telah terjadi perubahan-perubahan

politik secara bergantian (berdasarkan periode sistem politik) antara konfigurasi

3
Sabian Usman, op. cit, hlm. 219.

2
politik yang demokratis dan konfigurasi politik yang otoriter. Sejalan dengan

perubahan-perubahan konfigurasi politik itu, karakter produk hukum juga berubah.

Pada saat konfigurasi politik tampil secara demokratis, maka produk-produk hukum

yang dilahirkannya berkarakter responsif, sebaliknya ketika konfigurasi politik tampil

secara otoriter, hukum-hukum yang dilahirkannya berkarakter ortodoks.4

Berangkat dari Teori Sinzheimer bahwa hukum tidak bergerak dalam ruang

yang hampa melainkan, ia selalu berada dalam suatu tatanan sosial tertentu , 5

maka penting kiranya meminjam ilmu-ilmu lain untuk mendekati persoalan ilmu

hukum. Kita boleh meminjam ilmu politik untuk memecahkan persoalan hukum.

Kalau kita berangkat dari asumsi bahwa hukum adalah produk politik, maka terdapat

hubungan yang erat antara sistem politik dan hukum. Sistem politik tertentu akan

menghasilkan produk hukum tertentu.

Reformasi yang telah bergulir di Indonesia telah membawa pola kehidupan

bernegara dan berpolitik yang lebih demokrasi, dan hal ini juga membawa perubahan

sistem hukum yang ada, dari model yang tertutup hingga menjadi model terbuka

dengan lebih mengedepankan keadilan ditengah masyarakat dari pada keadilan yang

dikebiri oleh Penguasa.

Hukum merupakan bagian dari karya cipta manusia yang dimanfaatkan untuk

menegakkan martabat manusia. Manusia tidak menghamba kepada abjad dan titik

4
Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 373.

5
Esmi Warassih, Pranata Hukum: Sebuah Telaah Sosiologis (Semarang: Suryandaru Utama, 2005),
hlm. 3.

3
koma yang terdapat dalam Undang-Undang sebagai buah perwujudan nalar, tetapi

hukum yang menghamba pada kepentingan manusia untuk menegakkan nilai-nilai

kemanusiaan. Hukum tidak hanya produk rasio, tetapi bagian dari intuisi.

Relevansinya dengan nilai dasar kebangsaan, ialah mewujudkan konsepsi keadilan

yang beradab, seperti sila kedua Pancasila.6

Keadilan bukan verifikasi saklek atas maksud umum kalimat implikatif yang

dirumuskan dalam pasal-pasal Undang-Undang. Keadilan Bukan tugas rutin

mengetuk palu digedung pengadilan. Keadilan juga tidak butuh hakim pemalas dan

tumpul rasa kemanusiaannya. Yang dibutuhkan bahwasanya keadilan adalah

keberanian tafsir atas Undang-Undang untuk mengangkat harkat dan martabat

manusia Indonesia.

Sehingga keadilan hanya diasumsikan kepada rutinitas polisi, jaksa, dan

hakim sebagai mata pencaharian didalam sebuah gedung. Sebab, bagi aparat, menjadi

PNS atau polisi bertujuan untuk bekerja. Karena itu, hukum hanya bagian dari

tumpukan file dimeja penegak hukum yang harus diselesaikan. Isu umum yang

terjadi di Indonesia, penuntasan masalah hukum mengacu pada prinsip pekerjaan

yang diukur dengan nilai-nilai nominal yang dicapai. Pola pikir itu sejalan dengan

makna dari istilah-istilah yang popular dalam dunia hukum. Seperti mafia hukum.

UUD (ujung-ujung duit), pasal karet, 86 dan penyelesaian dibalik meja. Keadilan

dihayati sebagai pekerjaan mencari uang didalam institusi pengadilan.

6
Saifur Rohman, Menembus Batas Hukum, Opini Kompas, 22 januari 2010.

4
Hukum Progresif memecahkan kebuntuan itu. Dia menuntut keberanian

aparat hukum menafsirkan pasal untuk memperadabkan bangsa. Apabila proses

tersebut benar, idealitas yang dibangun dalam penegakan hukum di Indonesia sejajar

dengan upaya bangsa mencapai tujuan bersama. Idealitas itu akan menjauhkan dari

praktek ketimpangan hukum yang tak terkendali seperti sekarang ini. Sehingga

Indonesia dimasa depan tidak ada lagi dskriminasi hukum, bagi kaum papa karena

hukum tak hanya melayani kaum kaya. Apabila kesetaraan didepan hukum tak bisa

diwujudkan, keberpihakan itu mutlak. Manusia menciptakan hukum bukan hanya

untuk kepastian, tetapi juga untuk kebahagiaan.

Menurut Satjipto Rahardjo, Penegakan hukum progresif adalah menjalankan

hukum tidak hanya sekedar kata-kata hitam-putih dari peraturan (according to the

letter), melainkan menurut semangat dan makna lebih dalam (to very meaning) dari

undang-undang atau hukum. Penegakan hukum tidak hanya kecerdasan intelektual,

melainkan dengan kecerdasan spiritual. Dengan kata lain, penegakan hukum yang

dilakukan dengan penuh determinasi, empati, dedikasi, komitmen terhadap

penderitaan bangsa dan disertai keberanian untuk mencari jalan lain daripada yang

biasa dilakukan.7

I.2. Perumusan Masalah

1. Bagaimana pandangan hukum progresif mengenai keadilan?

2. Bagaimana landasan konseptual hukum progresif?

7
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta: Genta Publishing,
2009), hlm. 13.

5
3. Bagaimana peran politik hukum dalam membangun hukum progresif?

I.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan hukum

progresif mengenai keadilan, landasan konseptual hukum progresif, dan peran

politik hukum dalam membangun hukum progresif.

I.4. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini disesuaikan dengan

permasalahan yang diangkat di dalamnya. Dengan demikian, penelitian yang

menganalisa hukum yang tertulis.

2. Data dan Sumber Data

Dalam menyusun penulisan ini, data dan sumber data yang digunakan adalah

bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.

Bahan hukum primer, yaitu bahan bahan hukum yang mengikat dan terdiri

Undang Undang Dasar 1945, Undang Undang, Peraturan Pemerintah,

Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, bahan bahan

hukum yang tidak dikodifikasi dan jurisprudensi.

Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer, seperti RUU, hasil-hasil penelitian atau

pendapat pakar hukum.

6
Bahan tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan

terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus

(hukum), ensiklopedia.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian hukum

normatif dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research).

Penulis menggunakan suatu penelitian kepustakaan/library research. Dalam

hal ini penelitian hukum dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan atau

disebut dengan penelitian normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan

cara meneliti bahan pustaka yang disebut dengan data sekunder, berupa

perundang-undangan, karya ilmiah para ahli, sejumlah buku-buku, artikel-

artikel baik dari surat kabar, majalah maupun media elektronik yang semua itu

dimaksudkan untuk memperoleh data-data atau bahan-bahan yang bersifat

teoritis yang dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian.

4. Analisis Data

Penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam penulisan ini termasuk ke dalam

tipe penelitian hukum normatif. Pengolahan data pada hakekatnya merupakan

kegiatan untuk melakukan analisa terhadap permasalahan yang dibahas.

Analisa data dilakukan dengan:

a. Mengumpulkan bahan bahan hukum yang relevan dengan permasalahan

yang diteliti.

7
b. Memilih kaidah kaidah hukum/ doktrin yang sesuai dengan penelitian.

c. Mensistematisasikan kaidah kaidah hukum, azas atau pasal atau doktrin

yang ada.

d. Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif kualitatif.

I.5. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan menjadi salah satu metode yang dipakai dalam melakukan

penulisan ini, hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam menyusun serta

mempermudah pembaca untuk memahami dan mengerti isi dari penulisan ini.

Keseluruhan penulisan ini meliputi 4 (empat) bab yang secara garis besar isi

babbab diuraikan sebagi berikut:

BAB PERTAMA: PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan

penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB KEDUA: TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan diuraikan tentang Politik Hukum Di Indonesia, Hukum

Progresif, dan Substansi Hukum Sebagai Salah Satu Faktor yang Mempengaruhi

Penegakan Hukum Progresif.

BAB KETIGA: PEMBAHASAN

8
Dalam bab ini akan diuraikan tentang pandangan hukum progresif tentang

keadilan, landasan konseptual hukum progresif, dan Peran Politik Hukum Dalam

Pembangunan Hukum Progresif.

BAB KEEMPAT: KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai kesimpulan yang merupakan jawaban dari

permasalahan yang dikemukakan serta saransaran atas jawaban permasalahan

tersebut.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Politik Hukum Di Indonesia

Politik hukum di Indonesia adalah kebijakan dasar penyelenggara negara

(Republik Indonesia) dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, yang

bersumber dari nilai-nilai yang berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku

di masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Republik Indonesia) yang dicita-

citakan.

Tujuan politik hukum nasional meliputi dua aspek yang saling berkaitan: (1)

Sebagai suatu alat (tool) atau sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh

pemerintah untuk menciptakan suatu sistem hukum nasional yang dikehendaki; dan

(2) dengan sistem hukum nasional itu akan diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia

yang lebih besar.

Sistem hukum nasional merupakan kesatuan hukum dan perundang-undangan

yang terdiri dari banyak komponen yang saling bergantung, yang dibangun untuk

mencapai tujuan negara dengan berpijak pada dasar dan cita hukum negara yang

8
terkandung di dalam Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa Pembukaan dan Pasal-pasal UUD

1945 merupakan sumber dari keseluruhan politik hukum nasional Indonesia.

8
Mahfud MD, Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi (Jakarta: Rajawali Pers, 2010),
hlm. 22.

10
Penegasan keduanya sebagai sumber politik hukum nasional didasarkan pada dua

alasan yaitu:

1. Pembukaan dan Pasal-Pasal UUD 1945 memuat tujuan, dasar, cita hukum

dan norma dasar negara Indonesia yang harus menjadi tujuan dan pijakan

dari politik hukum di Indonesia.

2. Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 mengandung nilai-nilai khas yang

bersumber dari pandangan dan budaya bangsa Indonesia yang diwariskan

9
oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu .

Dalam upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian cita-cita dan tujuan

negara, politik hukum nasional harus berpijak pada kerangka dasar sebagai berikut :

1. Politik hukum nasional harus selalu mengarah pada cita-cita bangsa, yakni

masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2. Politik hukum nasional harus ditujukan untuk mencapai tujuan negara

yakni : melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,

melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi

dan keadilan sosial.

3. Politik hukum nasional harus dipandu oleh nilai-nilai Pancasila sebagai dasar

negara, yakni: berbasis moral agama, menghargai dan melindungi hak-hak

asasi manusia tanpa diskriminasi, mempersatukan seluruh unsure bangsa

9
Ibid., hlm. 23.

11
dengan semua ikatan promordialnya, meletakkan kekuasaan di bawah

kekuasaan rakyat, membangun keadilan sosial.

4. Politik hukum nasional harus dipandu oleh keharusan untuk: melindungi

semua unsur bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa yang mencakup

ideologi dan teritori, mewujudkan keadilan sosial dalam ekonomi dan

kemasyarakatan, mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi

(kedaulatan hukum), menciptakan toleransi hidup beragama berdasarkan

keadaban dan kemanusiaan.

5. Sistem hukum nasional yang harus dibangun adalah sistem hukum Pancasila,

yakni sistem hukum yang mengambil atau memadukan berbagai nilai

kepentingan, nilai sosial, dan konsep keadilan ke dalam satu ikatan hukum

prismatik dengan mengambil unsur-unsur baiknya.

Sistem hukum yang demikian, mempertemukan unsur-unsur baik dari tiga

sistem nilai dan meletakkannya dalam hubungan keseimbangan, yakni:

keseimbangan antara individualisme dan kolektifisme, keseimbangan antara

rechtsstaat dan the rule of law, keseimbangan anatara hukum sebagai alat untuk

memajukan dan hukum sebagai cermin nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat,

keseimbangan antara negara agama dan negara sekuler (theo-demokratis) atau

10
religius nation state.

10
Ibid., hlm. 30-32.

12
Politik hukum nasional sebagai pedoman dasar bagi segala bentuk dan proses

perumusan, pembentukan dan pengembangan hukum di tanah air. Bila politik hukum

nasional merupakan pedoman dasar bagi segala bentuk dan proses perumusan,

pembentukan dan pengembangan hukum di tanah air, dapat dipastikan politik hukum

nasional harus dirumuskan pada sebuah peraturan perundang-undangan yang bersifat

mendasar pula, bukan pada sebuah peraturan perundang-undangan yang bersifat

teknis.

Untuk menjelaskan pernyataan di atas kita harus merujuk kepada sumber

hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-Undangan, disebutkan bahwa tata urutan perundang-undangan yang

berlaku secara hierarkis di Indonesia.

Penyusunan hierarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan itu untuk

menyingkronkan atau menghindarkan konflik teknis pelaksanaan antara satu

peraturan perundang-undangan dengan peraturan perundang-undangan yang lain.

Dengan cara begitu, sebuah atau lebih peraturan perundang-undangan diharapkan

akan berjalan sesuai dengan tujuan dibuatnya perundang-undangan tersebut.

Dalam perkembangannya, produk hukum Undang-Undang Nomor 10 Tahun

2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan telah diganti dengan

produk hukum, yaitu Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-Undangan, jenis dan hierarki Peraturan Perundang-Undangan

yaitu UUD 1945, TAP MPR, UU/Peraturan Pengganti Undang-Undang, Peraturan

13
Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah Provinsi, dan Peraturan Daerah

Kabupaten/Kota.

Undang-undang ini dibentuk berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama,

pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam

rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung

oleh cara dan metode yang pasti, baku dan standar yang mengikat semua lembaga

yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan.

Kedua, untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses

pembentukan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia

sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai

pembentukan peraturan perundang-undangan. Ketiga, selama ini ketentuan yang

berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang-undangan terdapat dalam

beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum

ketatanegaraan Republik Indonesia.

Merujuk pada UUD 1945 yang telah mengalami perubahan sebanyak empat

kali, lembaga-lembaga negara yang dapat merumuskan politik hukum nasional

adalah (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat dan (2) Dewan Perwakilan Rakyat. MPR

dapat merumuskan politik hukum dalam bentuk Undang-Undang Dasar. Setelah

perubahan ketiga UUD 1945, MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara

(supreme body), tetapi hanya merupakan sidang gabungan (joint session) yang

14
mempertemukan Dewan Permusyawaratan Rakyat dengan Dewan Perwakilan

11
Daerah.

Produk dari kedua lembaga yang bergabung dalam MPR, yang dituangkan ke

dalam penetapan atau perubahan UUD tersebut, merupakan politik hukum. Artinya,

segala bentuk perubahan dan penetapan yang dilakukan oleh MPR terhadap UUD

disebut sebagai politik hukum, karena merupakan salah satu kebijaksanaan dasar dari

penyelenggara negara dan dimaksudkan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan

negara yang dicita-citakan.

Dengan demikian, pasal-pasal yang terdapat dalam UUD yang merupakan

produk dari MPR adalah cetak biru untuk merealisasikan tujuan-tujuan negara.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dapat merumuskan politik hukum dalam bentuk

undang-undang, karena kedudukannya sebagai kekuasaan legislatif.

Pasal 20 ayat (1) perubahan pertama UUD 1945 menjelaskan DPR memegang

kekuasaan membentuk Undang-Undang. Pasal ini sekaligus menunjukkan adanya

pergeseran kekuaaan (the shifting of power) dalam pembuatan undang-undang

(legislative power) yang semula menjadi kekuasaan presiden kini beralih ke DPR.

Rumusan ini diperkuat oleh Pasal 20A yang menjelaskan DPR memiliki fungsi

legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Meskipun demikian, menurut

ketentuan Pasal 5 ayat (1) presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang

kepada DPR.
11
Jimly Asshiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahaan Keempat (Jakarta: Pusat
Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, 2002), hlm. 5.

15
Dengan penjelasan di atas, selain MPR, DPR juga mempunyai peran yang

sangat signifikan dalam rangka membuat cetak biru hukum nasional untuk mencapai

tujuan-tujuan negara yang dicita-citakan. Peran yang dapat dilakukan DPR tersebut

dituangkan dalam sebuah undang-undang.

Perumusan politik hukum oleh DPR yang tertuang dalam undang-undang

dilakukan melalui beberapa tahapan proses sebagai berikut:

Tingkat I: 1. Sidang Pleno

2. Penjelasan Pendapat Fraksi

3. Rapat Fraksi dengan tahapan :

- Membahas rancangan undang-undang

- Membahas penjelasan pemerintah

- Menetapkan juru bicara fraksi

Tingkat II: 1. Pemandangan Umum

2. Daftar Inventarisasi Masalah (DIM)

Tingkat III: 1. Sidang Komisi

2. Sidang Gabungan Komisi

3. Sidang Panitia Kerja (Panja) dan Panitia Khusus (Pansus)

Tingkat IV: 1. Pendapat akhir fraksi

2. Pendapat Pemerintah

16
UUD sebagai produk MPR dan undang-undang sebagai produk DPR tidak

dating dari hampa, tetapi merupakan aktualisasi dari kehendak-kehendak politik,

ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Kehendak-kehendak ini bisa datang dari

12
berbagai kalangan. Kehendak-kehendak tersebut bisa muncul baik pada tingkat

13
suprastruktur politik maupun infrastruktur politik. Infrastruktur politik Indonesia

terdiri dari partai politik, kelompok kepentingan, kelompok penekan, alat komunikasi

14
politik, dan tokoh politik. Suprastruktur politik yang mempunyai kewenangan

untuk merumuskan politik hukum hanya MPR dan DPR saja.

Kehendak-kehendak baik yang bersifat politik, ekonomi, sosial budaya dan

lain-lain, yang muncul dari tingkat infrastruktur politik kemudian diperdebatkan dan

mengalami kristalisasi pada tingkat suprastruktur politik yang kemudian outputnya

adalah rumusan politik hukum baik yang terdapat dalam UUD apabila merupakan

produk MPR atau undang-undang apabila merupakan produk DPR.

15
II.2. Hukum Progresif

12
Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1998), hlm. 7.

13
Sri Soemantri M dalam Artidjo Alkostar, Identitias Hukum Nasional (Yogyakarta: Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia, 1997), hlm. 239.
14
Imam Syaukani, Dasar-dasar Politik Hukum (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2010), hlm. 121.

17
Gagasan hukum progresif dikampanyekan oleh Satjipto Raharjo yang pada

prinsipnya bertolak dari dua komponen basis dalam hukum, yaitu peraturan dan

perilaku (rules and behavior). Hukum progresif berangkat dari asumsi dasar bahwa

hukum adalah untuk manusia, bukan sebaliknya. Berangkat dari asumsi dasar ini,

maka kehadiran hukum bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang

lebih luas dan besar, itulah sebabnya ketika terjadi permasalahan di dalam hukum,

maka hukumlah yang harus ditinjau dan diperbaiki, bukan manusia yang dipaksa-

paksa untuk dimasukan ke dalam skema hukum.

Hukum progresif juga berangkat dari asumsi dasar bahwa hukum bukan

merupakan institusi yang mutlak secara final, karena hukum selalu berada dalam

proses untuk terus menjadi (law as a process, law in the making). Untuk melukiskan

bahwa hukum senantiasa berproses, Satjipto Rahadjo melukiskan dengan sangat

16
menarik sebagai berikut:

hukum adalah institusi yang secara terus menerus membangun dan

mengubah dirinya menuju kepada tingkat kesempurnaan yang lebih

baik. Kualitas kesempurnaan di sini bisa diverifikasi ke dalam faktor-

faktor keadilan, kesejahteraan, kepedulian kepada rakyat dan lain-lain.

Inilah hakekat hukum yang selalu dalam proses menjadi (law as a

15
Muhammad Irwan, Penegakan Hukum Progresif Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di
Indonesia, Tesis Pascasarjana Kepidanaan,, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin 2013, hlm. 72-
75. http://repository.unhas.ac.id:4001/digilib/files/disk1/154/--muhammadir-7699-1-14-muham-n.pdf.
16
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 128.

18
process, law in the making). Hukum tidak ada untuk hukum itu sendiri,

tetapi untuk manusia.

Memperhatikan pernyataan tersebut tampak bahwa untuk menguji

(memverifikasi) kualitas dari hukum, tolak ukur yang dapat dijadikan pedoman antara

lain keadilan, kesejahteraan, dan keberpihakan kepada rakyat. Dengan demikian,

ketika hukum masuk dalam ranah penegakan hukum misalnya, seluruh proses

bekerjanya instrument penegak hukum harus dapat dikembalikan pada pertanyaan

apakah sudah mewujudkan keadilan. Apakah sudah mencerminkan

kesejahteraan.Apakah sudah berorientasi kepada kepentingan rakyat.

Verifikasi yang pertama, berupa pertanyaan apakah hukum sudah mewujudkan

keadilan, sudah barang tentu mempunyai dimensi yang sangat luas, karena dalam

bekerjanya hukum, terpenuhinya prosedur hukum belum tentu menjamin terwujudnya

keadilan. Terpenuhinya prosedur hukum baru menciptakan apa yang disebut dengan

procedural justice, sementara bisa saja justru substancial justice-nya terpinggirkan.

Verifikasi yang kedua, berupa pertanyaan apakah hukum sudah mencerminkan

kesejahteraan, juga menyangkut ranah kajian yang sangat luas.Memang kesejahteraan

manusia tidak hanya ditentukan oleh bekerjanya hukum, tetapi diharapkan bekerjanya

hukum dapat menyumbangkan kesejahteraan manusia.

Demikian juga dengan verifikasi ketiga, dengan pertanyaan apakah hukum

sudah berpihak kepada rakyat. Pertanyaan ini menjadi penting dan bernilai strategis,

terkait dengan realitas bekerjanya hukum yang seringkali lebih berpihak kepada

19
pemegang kekuasaan (ekonomi maupun politik) dari pada berpihak kepada rakyat,

sehingga sering muncul adagium bahwa: the haves come out a head.

Dengan melakukan verifikasi dalam setiap proses bekerjanya hukum, sudah

dengan sendirinya, bekerjanya hukum bukan merupakan sesuatu yang final dan

absolute, tetapi selalu dalam proses untuk mencari, dan selalu terbuka untuk

diverifikasi. Itulah sebabnya hukum disebut sebagai law as a process, law in the

making.

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat verifikatif tersebut,

bekerjanya hukum dipengaruhi oleh manusia-manusia yang menjalankan hukum.

Memang hukum itu tidak bisa melepaskan diri dari cirinya yang normative sebagai

rules, tetapi hukum juga sebagai suatu perilaku (behavior). Peraturan akan

membangun suatu sistem hukum positif, sedangkan perilaku atau manusia akan

menggerakkan peraturan dan sistem yang sudah dibangun itu. Hal ini penting karena

sebagai peraturan hukum itu hanya kata-kata dan rumusan di atas kertas tapi nyaris

tidak berdaya sama sekali, sehingga sering disebut sebagai black letter law, law

on paper dan law in the books. Hukum hanya bisa menjadi kenyataan dan janji-

janji dalam hukum terwujud, apabila ada campur tangan manusia.

20
II.3. Substansi Hukum Sebagai Salah Satu Faktor yang Mempengaruhi

17
Penegakan Hukum Progresif

Penegakan hukum merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan

Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila hukum ditegakan, maka kepastian, rasa

aman, tentram ataupun, kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Ketiadaan

penegakan hukum akan menghambat pencapaian masyarakat memenuhi kebutuhan

hidupnya. Hal tersebut menunjukan adanya keterkaitan antara damai, adil dan

sejahtera. penegakan hukum yang mengabaikan keadilan dan nilai yang hendak

ditegakkan oleh hukum atau akan menjauhkan rasa keadilan masyarakat yang pada

gilirannya akan mempengaruhi citra hukum dan penegakannya cara sendiri untuk

menemukan rasa keadilan meskipun bertentangan dengan norma hukum yang ada.

Dengan demikian banyak hal yang terkait dengan masalah penegakan hukum

dan jika kita amati unsur-unsur dalam sistem akan dijumpai sejumlah faktor yang

mempengaruhi, seperti substansi peraturan perundang-undangan, sumber daya

manusia, fasilitas pendukung dan budaya hukum. Pengamatan yang lebih bersifat

akademis memang diperlukan, akan tetapi praktik di lapangan menunjukan masalah

ini sangat kompleks. Meskipun kita harus berharap, misalnya membuat peraturan

perundang-undangan yang sempurna, penghasilan yang memuaskan bagi hakim dan

budaya yang mendukung iklim politk, namun dalam kenyataannya penegakan hukum

oleh pengadilan sangat tergantung pada sejauh mana putusan yang ditetapkan hakim

telah menerapkan asas keadilan secara sungguh-sungguh. Penerapan asas keadilan


17
Muhammad Irwan , op.cit., hlm. 100-108.

21
dan atribut-atribut hukum lain yang digunakan hakim sebagai dasar penerapan hukum

dapat diwujudkan melalui cara menentukan landasan hukum yang sesuai dengan

18
nilai-nilai keadilan yang dianut masyarakat.

Substansi hukum adalah aturan, norma, dan pola perilaku manusia yang ada

dalam sistem. Substansi juga berarti produk yang berupa keputusan atau aturan

(peraturan perundang-undangan) yang dihasilkan oleh orang-orang berada dalam

19
sistem tersebut.

Peraturan perundang-undangan (legislation) adalah bagian dari hukum yang

dibuat oleh institusi negara dengan tujuan dan alasan tertentu. Tujuan dan alasan

dibentuknya suatu peraturan perundang- undangan disebut sebagai politik hukum

(legal policy). Dalam pembuatan peraturan perundang-undangan peran politik hukum

sangat penting. Pertama, sebagai alasan mengapa diperlukan pembentukan peraturan

perundang-undangan, dan kedua, untuk menentukan apa yang akan diterjemahkan

melalui rumusan pasal-pasal. Dengan demikian, keberadaan peraturan perundang-

undangan melalui perumusan pasal-pasal merupakan jembatan antara politik hukum

20
yang ditetapkan dengan implementasi peraturan perundang-undangan yang dibuat.
18
Mardjono Reksodiputro, dkk, Reformasi Hukum di Indonesia (Jakarta: Cyber Consult, 1999), hlm.
118.
19
Friedman, Lawrence M., The Legal System, A Social Science Perspective (New York: Russel Sage
Foudation, 1985), hlm. 14
20
Hikmahanto Juwana, 2003. Politik Hukum UU Bidang Ekonomi di Indonesia, dalam Gagasan
dan Pemikiran Tentang Pembaharuan Hukum Nasional, Vol. II, (Jakarta: Departemen Kehakiman dan
HAM RI, 2003), hlm.1.

22
Meskipun banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat, akan tetapi

masyarakat menilai undang-undang yang ada tidak berpihak atau melindungi

kepentingan mereka, sehingga undang-undang yang dibuat belum mencerminkan

efektivitasnya sama sekali, karena substansinya terlalu simbolik tanpa tujuan

instrumental. Efektifitas keberlakuan hukum melalui peraturan perundang-undangan

sangat tergantung pada pemahaman masyarakat tentang hukum itu sendiri. Untuk

memperoleh pemahaman tersebut, peraturan yang dibuat harus dapat

dikomunikasikan kepada masyarakat melalui peraturan perundang-undangan yang

jelas redaksi, tujuan, dan sanksinya. Oleh karena pembuat undang-undang harus

merumuskannya secara tepat dan benar serta tidak bersifat simbolik semata, tetapi

juga instrumental sebagai alat untuk melayani kepentingan masyarakat.

Perumusan peraturan perundang-undangan yang tidak jelas mengakibatkan

sulitnya pelaksanaan di lapangan, bahkan banyak menimbulkan interpretasi yang

bermuara pada inkonsistensi. Sering kali substansi peraturan perundang-undangan

tidak mencerminkan keseimbangan antara hak dan kewajiban, keseimbangan antara

hak individu dan hak sosial ataupun pluralisme dalam berbagai hal serta tidak

responsif gender. Hukum pada dasarnya memastikan munculnya aspek-aspek positif

dari kemanusiaan dan sekaligus menghambat aspek negatif. Penerapan hukum yang

ditaati akan menciptakan ketertiban dan memaksimalkan ekspresi potensi

masyarakat. Oleh karena peraturan perundang-undangan yang baik akan membatasi,

mengatur, dan sekaligus memperkuat hak warga negara. Terlebih lagi dengan

pelaksanaan hukum yang transparan dan terbuka, di satu sisi dapat menekan dampat

23
negatif yang ditimbulkan oleh tindakan masyarakat dan pada sisi lain dapat

meningkatkan aktivitas masyarakat.

Dalam era reformasi sekarang ini, perubahan terhadap sejumlah peraturan

perundang-undangan perlu dilakukan melalui legislation reform, karena peraturan

perundangan yang akan dibuat tidak dapat lagi dilakukan berdasarkan selera dan

asumsi pemegang kendali kekuasaan ataupun untuk alat melegitimasi tindakan

otoriter represif, akan tetapi harus mencerminkan upaya perwujudan good

governance dan memperkuat civil society.

Berkenaan dengan substansi hukum terhadap tindak pidana korupsi, penulis

mengaitkan dengan pemahaman hukum progresif dimana pemahaman hukum

progresif ini diharapkan mampu menjawab rasa keadilan masyarkat, dimana selama

ini hukum hanya dijalankan secara formalitas saja tanpa mengedepankan aspek

keadilan dan responsibilitas dari hukum itu sendiri. Pemikiran hukum progresif

diperkenalkan oleh Prof Satjipto Rahardjo dimana kehadiran hukum progresif

bukanlah sesuatu yang kebetulan, bukan sesuatu yang lahir tanpa sebab, dan juga

bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Hukum progresif adalah bagian dari proses

pencarian kebenaran yang tidak pernah berhenti. Hukum progresif yang dapat

dipandang sebagai konsep yang sedang mencari jati diri bertolak dari realitas empiris

tentang bekerjanya hukum di masyarakat, berupa ketidakpuasan dan keprihatinan

terhdap kinerja dan kualitas penegak hukum di Indonesia. Kehadiran hukum

progresif yang berangkat dari asumsi dasar bahwa hukum adalah untuk manusia dan

24
selalu dalam proses untuk menjadi, maka dalam memberikan penjelasan terhadap

fenomena hukum, akan melibatkan teori hukum lain.

Karena hukum itu untuk manusia, maka penegak hukum seharusnya bukan

hanya sekedar memahami hukum positif yang selama ini berlaku saja, tetapi

bagaimana seorang penegak hukum itu mampu mengangkat nilai-nilai hukum yang

bermuara kepada sebuah keadilan yang sesungguhnya, bukan hanya keadilan yang

berdasarkan rentetan kata-kata atau kalimat peraturan perundang-undangan saja,

tetapi lebih kepada keadilan yang nyata.

Selain itu, para pelaku hukum dituntut mengedepankan kejujuran dan ketulusan

dalam menjalankan hukum. Mereka harus mempunyai empati dan kepedulian

terhadap penderitaan yang dialami rakyat dan bangsa ini. Kepentingan rakyat

(kesejahteraan dan kebahagiaan) harus menjadi titik orientasi dan tujuan akhir

penyelenggaraan hukum. Dalam hukum progresif, proses perubahan tidak lagi

berpusat pada peraturan, akan tetapi pada kretivitas pelaku hukum

mengaktualisasikan hukum dalam ruang dan waktu yang tepat. Para pelaku hukum

progresif dapat melakukan perubahan dengan melakukan pemaknaan yang kreatif

terhadap peraturan yang ada, tanpa harus menunggu perubahan peraturan. Peraturan

yang buruk tidak harus menjadi penghalang bagi para pelaku hukum progresif untuk

menghadirkan keadilan bagi rakyat dan pencari keadilan, karena mereka dapat

melakukan interpretasi secara baru setiap kali terhadap suatu peraturan.

Mengapa pusat perhatian kepada perilaku bukan kepada peraturan, hal ini tidak

lain karena masalah penegakan hukum pada dasarnya merupakan kesenjangan antara

25
hukum secara normatif (das sollen) dan hukum secara sosiologi (das sein) atau

kesenjangan antara perilaku hukum masyarakat yang seharusnya dengan perilaku

hukum masyarakat yang senyatanya. Penegakan hukum yang berjalan selama ini

terkesan kuat masih berkutat dalam bentuk keadilan prosedural yang sangat

menekankan pada aspek regularitas dan penerapan formalitas legal semata. Sejalan

dengan itu rekayasa hukum menjadi aroma yang cukup kuat dalam hampir setiap

penegakan hukum di negeri ini. Keadilan substantif sebagai sumber keadilan

prosedural masih bersifat konsep parsial dan belum menjangkau seutuhnya ide-ide

dan realitas yang seharusnya menjadi bagian instrinsik dari konsep dan penegakan

keadilan. Akibatnya, penegakan hukum menjadi kurang atau bahkan tidak mampu

menyelesaikan inti persoalan yang sebenarnya.

Oleh karena itulah, maka Prof. Satjipto Rahardjo menawarkan perlunya

kehadiran hukum progresif dibawah semboyan hukum yang pro-keadilan dan pro-

rakyat. Hukum progresif menempatkan dedikasi para pelaku hukum di garda depan.

Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa komunitas hukum di negeri ini umumnya msih

berpikir dengan cara-cara klasik. Teramati melalui banyak putusan hukum bahwa

pengadilan, kejaksaan, kepolisian, masih berpikir dan bertindaksecara klasik.

Diterjemahkan nke dalam dunia hukum, mereka bersifat sangat submistif terhadap

hukum positif, tidak kreatif, apalagi berani mematahkan aturan yang ada (rule

breaking).

Menurut Satjipto Rahadjo, hukum bukanlah detergent yang bisa mencuci

sendiri, hukum hanyalah konsep jika tidak dijalankan, oleh karena itu hukum

26
sebetulnya hanya macan kertas bila manusia tidak turun tangan menggerakkannya.

Tidak mengherankan bila eksistensi hukum progresif bertumpu pada manusia,

membawa konsekuensi pentingnya kreativitas. Kreativitas dalam konteks penegakan

hukum selain untuk mengatasi ketertinggalan hukum, mengatasi ketimpangan

hukum, juga dimaksudkan untuk membuat terobosan-terobosan hukum. Terobosan

hukum inilah yang diharapkan dapat mewujudkan tujuan kemanusiaan melalui

bekerjanya hukum, yang menurut Satjipto Rahadjo diistilahkan dengan hukum yang

membuat bahagia.

Selain asumsi dasar di atas, wajah hukum progresif dapat diidentifikasikan

sebagai berikut:

1. Kajian hukum progresif berusaha mengalihkan titik berat kajian hukum yang

semula menggunakan optik hukum menuju ke perilaku.

2. Hukum progresif secara sadar menempatkan kehadirannya dalam hubungan

erat dengan manusia dan masyarakat.

3. Hukum progresif berbagi paham dengan legal realism karena hukum tidak

dipandang dari kaca mata hukum itu sendiri, melainkan dilihat dan dinilai

dari tujuan sosial yang ingin dicapai dan akibat yang timbul dari bekerjanya

hukum.

4. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan sociological jurisprudence dari

Roscoe Pound yang mengkaji hukum tidak hanya sebatas pada studi tentang

peraturan tetapi keluar dan melihat efek dari hukum dan bekerjanya hukum.

27
5. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan teori hukum alam, karena

peduli terhadap hal-hal yang meta-juridical.

6. Hukum progresif memiliki kedekatan dengan critical legal studies namun

cakupannya lebih luas.

28
BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Pandangan Hukum Progresif Mengenai Keadilan

Sejarah konfigurasi politik di Indonesia memperlihatkan adanya pasang surut

dan naik pasang secara bergantian antara demokratis dan otoriter. Dengan logika

pembangunan ekonomi yang menjadi prioritas utamanya, periode Orde Baru

menampilkan watak otoriter-birokratis. Orde baru tampil sebagai Negara kuat yang

mengatasi berbagai kekuatan yang ada dalam masyarakat dan berwatak

intervensionis. Dalam konfigurasi demikian hak-hak politik rakyat mendapat tekanan

atau pembatasan-pemabatasan.21

Agenda reformasi yang menjadi tuntutan masyarakat adalah bagaimana

terpenuhinya rasa keadilan ditengah masyarakat. Namun didalam realitanya, ukuran

rasa keadilan masyarakat itu tidak jelas. Menurut Hakim Agung Abdul Rachman

Saleh, rasa keadilan masyarakat yang dituntut harus mampu dipenuhi oleh para

hakim itu tidak mudah. Hal ini dikarenakan ukuran rasa keadilan masyarakat tidak

jelas.22

21
Mahfud MD, op. cit., hlm. 345.

22
Lebih jauh Arman mengemukakan bahwa dalam menetapkan putusannya hakim memang harus
mengedepankan rasa keadilan. Namun rasa keadilan masyarakat sebagaimana dituntut sebagian orang
agar dipenuhi oleh hakim, adalah tidak mudah. Bukan karena hakim tidak bersedia, melainkan karena
ukuran rasa keadilan masyarakat itu tidak jelas. Satya Arinanto, Hak Asasi Manusia dalam Transisi
Politik, Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Univesitas Indonesia, Jakarta, 2008, hlm.

29
Pada dasarnya kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hukum.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran sentral hukum dalam upaya

menciptakan suasana yang memungkinkan manusia merasa terlindungi, hidup

berdampingan secara damai dan menjaga eksistensinya didunia telah diakui.23

Keadilan adalah inti atau hakikat hukum. Keadilan tidak hanya dapat

dirumuskan secara matematis bahwa yang dinamakan adil bila seseorang

mendapatkan bagian yang sama dengan orang lain. Demikian pula, keadilan tidak

cukup dimaknai dengan simbol angka sebagaimana tertulis dalam sanksi-sanksi

KUHP, misalnya angka 15 tahun, 5 tahun, 7 tahun dan seterusnya. Karena keadilan

sesungguhnya terdapat dibalik sesuatu yang tampak dalam angka tersebut (metafisis),

terumus secara filosofis oleh petugas hukum/hakim.24

Dalam sistem hukum dimanapun didunia, keadilan selalu menjadi objek

perburuan, khususnya melalui lembaga pengadilannya. Keadilan adalah hal yang

mendasar bagi bekerjanya suatu sistem hukum. Sistem hukum tersebut sesungguhnya

merupakan suatu struktur atau kelengkapan untuk mencapai konsep keadilan yang

telah disepakati bersama.25

340.
23
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif (Surabaya: Bayumedia, 2005),
hlm.1.
24
Andi Ayyub Saleh, Tamasya Perenungan Hukum dalam Law in Book and Law in Action Menuju
Penemuan Hukum (Rechtsvinding) (Jakarta: Yarsif Watampone, 2006), hlm. 70.
25
Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), hlm. 270.

30
Merumuskan konsep keadilan progresif ialah bagaimana bisa menciptakan

keadilan yang subtantif dan bukan keadilan prosedur. Akibat dari hukum modren

yang memberikan perhatian besar terhadap aspek prosedur, maka hukum di Indonesia

dihadapkan pada dua pilihan besar antara pengadilan yang menekankan pada

prosedur atau pada substansi. Keadilan progresif bukanlah keadilan yang menekan

pada prosedur melainkan keadilan substantif.

Kerusakan dan kemerosotan dalam perburuan keadilan melalui hukum

modren disebabkan permainan prosedur yang menyebabkan timbulnya pertanyaan

apakah pengadilan itu mencari keadilan atau kemenangan?. Proses pengadilan

dinegara yang sangat sarat dengan prosedur (heavly proceduralizied) menjalankan

prosedur dengan baik ditempatkan diatas segala-galanya, bahkan diatas penanganan

substansi (accuracy of substance). Sistem seperti itu memancing sindiran terjadinya

trials without truth.26

Dalam rangka menjadikan keadilan subtantif sebagai inti pengadilan yang

dijalankan di Indonesia, Mahkamah Agung memegang peranan yang sangat penting.

Sebagai puncak dari badan pengadilan, ia memiliki kekuasaan untuk mendorong

(encourage) pengadilan dan hakim dinegeri ini untuk mewujudkan keadilan yang

progresif tersebut.

Hakim menjadi faktor penting dalam menentukan, bahwa pengadilan di

Indonesia bukanlah suatu permainan (game) untuk mencari menang, melainkan

mencari kebenaran dan keadilan. Keadilan progrsif semakin jauh dari cita-cita

26
Ibid, hlm. 272.

31
pengadilan yang cepat, sederhana, dan biaya ringan apabila membiarkan

pengadilan didominasi oleh permainan prosedur. Proses pengadilan yang disebut

fair trial dinegeri ini hendaknya berani ditafsirkan sebagai pengadilan dimana hakim

memegang kendali aktif untuk mencari kebenaran.27

III.2. Landasan Konseptual Hukum Progresif

Studi hubungan antara konfgurasi politik dan karakter produk hukum

menghasilkan tesis bahwa setiap produk hukum merupakan percerminan dari

konfigurasi politik yang melahirkannya. Artinya setiap muatan produk hukum akan

sangat ditentukan oleh visi kelompok dominan (Penguasa). Oleh karena itu, setiap

upaya melahirkan hukum-hukum yang berkarakter responsif/populistik harus dimulai

dari upaya demokratisasi dalam kehidupan politik.28

Kehadiran hukum progresif bukanlah sesuatu yang kebetulan, bukan sesuatu

yang lahir tanpa sebab, dan juga bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Hukum

progresif adalah bagian dari proses pencarian kebenaran (searching for the truth)

yang tidak pernah berhenti. Hukum progresif yang dapat dipandang sebagai konsep

yang sedang mencari jati diri, bertolak dari realitas empirik tentang bekerjanya

hukum dimasyarakat, berupa ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap kinerja dan

kualitas penegakan hukum dalam setting Indonesia akhir abad ke-20.

27
Ibid, hlm. 276

28
Mahfud MD, op. cit., hlm. 368.

32
Adalah keprihatinan Satjipti Rahardjo terhadap keadaan hukum di Indonesia.

Para pengamat hukum dengan jelas mengatakan bahwa kondisi penegakan hukum di

Indonesia sangat memprihatinkan. Pada tahun 1970-an sudah ada istilah mafia

peradilan dalam kosakata hukum di Indonesia, pada orde baru hukum sudah

bergeser dari social engineering ke dark engineering karena digunakan untuk

mempertahankan kekuasaan. Pada era reformasi dunia hukum makin mengalami

komersialisasi. Menurut Satjipto Rahardjo, inti dari kemunduran diatas adalah makin

langkanya kejujuran, empati dan dedikasi dalam menjalankan hukum, kemudia

Satjipto Rahardjo mengajukan pertanyaan, apa yang salah dengan hukum kita?

Bagaimana jalan untuk mengatasinya?.29

Agenda besar gagasan hukum progrsif adalah menempatkan manusia sebagai

sentralitas utama dari seluruh perbincangan mengenai hukum. Dengan kebijaksanaan

hukum progresif mengajak untuk memperhatikan faktor perilaku manusia. Oleh

karena itu, hukum progresif menempatkan perpaduan antara faktor peraturan dan

perilaku penegak hukum didalam masyarakat. Disinilah arti penting pemahaman

gagasan hukum progesif, bahwa konsep hukum terbaik mesti diletakkan dalam

konteks keterpaduan yang bersifat utuh (holistik) dalam memahami problem-problem

kemanusiaan.

Dengan demikian, gagasan hukum progresif tidak semata-mata hanya

memahami sistem hukum pada sifat yang dogmatic, selain itu juga aspek perilaku

29
Faisal, Menerobos Positivisme Hukum (Yogyakarta Rangkang Education, 2010), hlm. 70.

33
sosial pada sifat yang empirik. Sehingga diharapkan melihat problem kemanusiaan

secara utuh berorientasi keadilan substantif.

1. Hukum Sebagai Institusi Yang Dinamis

Hukum progresif menolak segala anggapan bahwa institusi hukum sebagai

institusi yang final dan mutlak, sebaliknya hukum progresif percaya bahwa institusi

hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi (law as a process, law in the

making). Anggapan ini dijelaskan oleh Satjipto Rahardjo sebagai berikut:

Hukum progresif tidak memahami hukum sebagai institusi yang

mutlak secara final, melainkan sangat ditentukan oleh

kemampuannya untuk mengabdi kepada manusia. Dalam konteks

pemikiran yang demikian itu, hukum selalu berada dalam proses

untuk terus menjadi. Hukum adalah institusi yang secara terus

menerus membangun dan mengubah dirinya menuju kepada

tingkat kesempurnaan yang lebih baik. Kualitas kesempurnaan

disini bisa diverifikasi ke dalam faktor-faktor keadilan,

kesejahteraan, kepedulian kepada rakyat dan lain-lain. Inilah

hakikat hukum yang selalu dalam proses menjadi (law as a

process, law in the making).30

Dalam konteks yang demikian itu, hukum akan tampak selalu bergerak,

berubah, mengikuti dinamika kehidupan manusia. Akibatnya hal ini akan

mempengaruhi pada cara berhukum kita, yang tidak akan sekedar terjebak dalam

30
Ibid, hlm. 72.

34
ritme kepastian hukum, status quo dan hukum sebagai skema yang final,

melainkan suatu kehidupan hukum yang selalu mengalir dan dinamis baik itu melalui

perubahan-undang maupun pada kultur hukumnya. Pada saat kita menerima hukum

sebagai sebuah skema yang final, maka hukum tidak lagi tampil sebagai solusi bagi

persoalan kemanusiaan, melainkan manusialah yang dipaksa untuk memenuhi

kepentingan kepastian hukum.

2. Hukum Sebagai Ajaran Kemanusiaan dan Keadilan

Dasar filosofi dari hukum progresif adalah suatu institusi yang bertujuan

mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera dan membuat manusia

bahagia.31 Hukum progresif berangkat dari asumsi dasar bahwa hukum adalah untuk

manusia dan bukan sebaliknya. Berdasarkan hal itu, maka kelahiran hukum bukan

untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas, yaitu; untuk harga

diri manusia, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemuliaan manusia. Itulah sebabnya

ketika terjadi permasalahan didalam hukum, maka hukumlah yang harus ditinjau dan

diperbaiki, bukan manusia yang dipaksa-paksa untuk dimasukkan kedalam skema

hukum.

Pernyataan bahwa hukum adalah untuk manusia, dalam artian hukum

hanyalah sebagai alat untuk mencapai kehidupan yang adil, sejahtera dan bahagia,

bagi manusia. Oleh karena itu menurut hukum progresif, hukum bukanlah tujuan dari

manusia, melainkan hukum hanyalah alat. Sehingga keadilan subtantif yang harus

31
Mahmud Kusuma, Menyelami Semangat Hukum Progresif; Terapi Paradigmatik Atas Lemahnya
Penegakan Hukum Indonesia (Yogyakarta: Antony Lib bekerjasama LSHP, 2009), hlm. 31.

35
lebih didahulukan ketimbang keadilan prosedural, hal ini semata-mata agar dapat

menampilkan hukum menjadi solusi bagi problem-problem kemanusiaan.

3. Hukum Sebagai Aspek Peraturan dan Perilaku

Orientasi hukum progresif bertumpu pada aspek peraturan dan perilaku (rules

and behavior). Peraturan akan membangun sistem hukum positif yang logis dan

rasional. Sedangkan aspek perilaku atau manusia akan menggerakkan peraturan dan

sistem yang telah terbangun itu. Karena asumsi yang dibangun disini, bahwa hukum

bisa dilihat dari perilaku sosial penegak hukum dan masyarakatnya.

Dengan menempatkan aspek perilaku berada diatas aspek peraturan, dengan

demikian faktor manusia dan kemanusiaan inilah yang mempunyai unsur greget

seperti compassion (perasaan baru), empathy, sincerety (ketulusan), edication,

commitment (tanggung jawab), dare (keberanian) dan determination (kebulatan

tekad).

Satjipto rahardjo mengutip ucapan Taverne, Berikan pada

saya jaksa dan hakim yang baik, maka dengan peraturan yang

buruk sekalipun saya bisa membuat putusan yang baik.

Mengutamakan perilaku (manusia) daripada peraturan perundang-

undangan sebagai titik tolak paradigma penegakan hukum, akan

membawa kita untuk memahami hukum sebagai proses dan

proyek kemanusiaan.32

32
Ibid, hlm. 74.

36
Mengutamakan faktor perilaku (manusia) dan kemanusiaan diatas faktor

peraturan, berarti melakukan pergeseran pola pikir, sikap dan perilaku dari aras

legalistik-positivistik ke aras kemanusiaan secara utuh (holistik), yaitu manusia

sebagai pribadi (individu) dan makhluk sosial. Dalam konteks demikian, maka setiap

manusia mempunyai tanggung jawab individu dan tanggung jawab sosial untuk

memberikan keadilan kepada siapapun.

4. Hukum Sebagai Ajaran Pembebasan

hukum progresif menempatkan diri sebagai kekuatan pembebasan yaitu

membebaskan diri dari tipe, cara berpikir, asas dan teori hukum yang legalistik-

positivistik. Dengan ciri ini pembebasan itu, hukum progresif lebih mengutamakan

tujuan daripada prosedur. Dalam konteks ini, untuk melakukan penegakan

hukum, maka diperlukan langkah-langkah kreatif, inovatif dan bila perlu melakukan

mobilisasi hukum maupun rule breaking.

Satjipto Rahardjo memberikan contoh penegak hukum progresif

sebagai berikut. Tindakan Hakim Agung Adi Andojo Soetjipto

dengan inisiatif sendiri mencoba membongkar atmosfir korupsi

di lingkungan Mahkamah Agung. Kemudian dengan berani

hakim Agung Adi Andojo Sutjipto membuat putusan dengan

memutus bahwa Mochtar Pakpahan tidak melakukan perbuatan

makar pada rezim Soeharto yang sangat otoriter. Selanjutnya,

adalah putusan pengadilan tinggi yang dilakukan oleh Benyamin

37
Mangkudilaga dalam kasus Tempo, ia melawan Menteri

Penerangan yang berpihak pada Tempo.33

Paradigma pembebasan yang dimaksud disini bukan berarti menjurus

kepada tindakan anarkhi, sebab apapun yang dilakukan harus tetap didasarkan pada

logika kepatutan sosial dan logika keadilan serta tidak semata-mata berdasarkan

logika peraturan saja. Di sinilah hukum progresif itu menjunjung tinggi moralitas.

Karena hati nurani ditempatkan sebagai penggerak, pendorong sekaligus pengendali

paradigma pembebasan itu. Dengan begitu, paradigma hukum progresif bahwa

hukum untuk manusia, dan bukan sebaliknya akan membuat hukum progresif

merasa bebas untuk mencari dan menemukan format, pikiran, asas serta aksi yang

tepat untuk mewujudkannya.

34
III.3. Peran Politik Hukum Dalam Pembangunan Hukum Progresif

Secara nyata, kalau kita mengatakan bahwa sistem hukum kita mengadopsi

sepenuhnya pada sistem hukum kolonial adalah kurang tepat. Karena sistem hukum

kita, ibarat makanan, dia adalah gado-gado. Selain menganut sistem warisan

kolonial, dia juga berusaha mengembangkan gagasan-gagasan progresif. Hal ini

wajar ditempuh oleh suatu negara, dikarenakan masih dalam proses pencarian jatidiri
33
Ibid, hlm. 75.

34
Lihat tulisan Eko Wahyudi, Peranan Politik Hukum Dalam Pembangunan Hukum Progresif
sebagai Hukum yang Pancasilais, Call For Paper dan Seminar Nasional Fakultas Hukum UPN
Veteran Jawa Timur, Jatim 28 Juni 2011, hlm. 304-306.
http://eprints.upnjatim.ac.id/3259/1/eko_wahyudi.pdf.

38
sistem hukum yang ideal. Negara melalui politik hukumnya sudah berusaha

membawa hukum kita menuju ke proses pembangunan hukum yang dari waktu ke

waktu menjadi lebih baik.

Menuju ke perbaikan dan perbaikan. Itulah kata kunci bagaimana wajah dunia

hukum di Indonesia saat ini. Kita sadar bahwa perkembangan hukum hendaklah

dipandang secara general bukanlah produk final. Hukum bukan harga mati dimana ia

harus flexible mengikuti dinamika masyarakat. Dengan demikian, hukum kita akan

selalu up to date pula terhadap perkembangan atau dengan kata lain perkembangan

hukum sejalan dengan perkembangan masyarakat. Tepatlah kiranya, seperti teori

yang disampaikan oleh Roscue Pound yang menyatakan bahwa law as a tool of

social engineering.

Dengan berpijak pada kerangka diatas, tidaklah heran bila di Indonesia

bermunculan undang-undang baru sebagai perbaruan atas undang-undang yang

terdahulu atau sebagai jawaban dari permasalahan-permasalahan hukum yang benar-

benar baru. Perkembangan ini bukan hanya sebatas pada substansi hukumnya,

melainkan juga menyentuh pada kelembagaan hukum. Dalam konteks hukum sebagai

suatu proses, bukan tidak mungkin, negara sebagai fasilitator akan melahirkan

lembaga-lembaga hukum baru. Hal ini tentu saja dimaksudkan, agar hukum

mencapai kondisi yang ideal. Misalkan saja lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi

(KPK) untuk mengoptimalkan penanganan terhadap tindak pidana korupsi. Contoh

lain yaitu lahirnya Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai sarana hak uji terhadap

39
produk undang-undang bila bertentangan dengan UUD 1945. Kebijakan-kebijakan

tersebut merupakan perwujudan dari peran politik hukum dewasa ini.

Bentuk-bentuk lain terutama untuk mengarahkan pemahaman bahwa hukum itu

bukan hanya murni hal-hal yang sifatnya legal prosedural melainkan legal

substansial

dapat ditemukan pula dalam uraian berikut ini :

a. Pancasila, yang dikomandani sila pertama, jelas menghendaki suatu hukum yang

ber-Ketuhanan. Dimana dari nilai-nilai Ketuhanan, hukum haruslah merupakan

perwujudan dari nilai keadilan milik rakyat banyak, keadilan sosial yang bisa

diterima dan mampu mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

b. Pasal 28 D Amandemen UUD 1945 dengan tegas menyatakan : Setiap orang

berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil

serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Perumusan norma kepastian

hukum yang adil tersebut jelas mengandung makna kepastian hukum materiil

(material certainty legality) yang berbasis pada nilai Ketuhanan Yang Maha Esa

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 (1) UUD 1945.

c. Undang-Undang No. 4 Tahun 2004

a. Pasal 1 UU No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman : Kekuasaan

kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan

peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi

terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.

40
b. Pasal 3 ayat (2) : Peradilan Negara menerapkan dan menegakkan hukum dan

keadilan berdasarkan Pancasila

c. Pasal 4 ayat (1) : Peradilan dilakukan demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan

Yang Maha Esa

d. Pasal 8 (3) Undang-Undang No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, Demi

Keadilan dan Kebenaran berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, jaksa

melakukan penuntutan dengan keyakinan berdasarkan alat bukti yang sah

e. Pasal 2 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, bahwa dalam proses pembentukan perudang-undangan

juga dengan tegas menempatkan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber

hukum Negara. Artinya bahwa Pancasila wajib dijadikan landasan ideologis,

cita moral, cita hukum, norma pembentuk dan norma penguji keabsahan

peraturan perundang-undangan agar lebih mampu mewujudkan keadilan sosial

bagi seluruh rakyat Indonesia.

f. Di bidang hukum perdata, pasal 1365 BW juga tidak hanya memaknakan

perbuatan melawan hukum sebatas perbuatan yang bertentangan dengan

undang-undang, melainkan lebih luas lagi, ialah bertentangan pula dengan:

kewajiban hukum si pelaku, melanggar hak subyektif orang lain, melanggar

kaidah tata susila/moral, bertentangan dengan asas kepatutan,ketelitian serta

pergaulan dengan sesama warga masyarakat atau terhadap harta benda orang

lain.

41
g. Pasal 1 RUU KUHP, telah memperluas asas legalitas formal yang dikandung

pasal 1 ayat (1) KUHP dengan asas legalitas materiil:

(1) Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan, kecuali

perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam

peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu

dilakukan.

(2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi.

(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mengurangi

berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menetukan bahwa

seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam

peraturan perundang-undangan.

(4) Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud

pada ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau

prinsipprinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa.

Dari uraian tersebut, jelas menunjukkan politik hukum kita sudah memfasilitasi

suatu pembangunan hukum progresif meskipun secara kuantitas dan kualitas, dengan

cara memperbanyak undang-undang yang berkarakter hukum progresif, masih harus

lebih ditingkatkan. Namun, perlu diingat bahwa dalam satu kesatuan sistem hukum

dimana selain faktor substansi hukum masih ada faktor penegak hukum dan budaya

hukum. Untuk saat ini, dalam rangka pembangunan hukum progresif, ketiga factor

tersebut masih belum berjalan menuju satu tujuan. Apalah artinya substansi hukum

42
yang progresif telah terbentuk namun penegak hukumnya masih berfikiran kolot

terpaku pada legalistik formal? Apalah artinya hukum yang progresif bila budaya

hukumnya masih men-sakral-kan dogma bahwa manusia harus berubah untuk

hukum? bukan sebaliknya, hukum berubah untuk manusia ?

Politik hukum kita, khususnya yang bersifat temporer telah mewujudkan suatu

paradigma hukum progresif. Hal-hal yang tidak kalah pentingnya terkait dengan

kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penegak hukum, sebagai palang pintu utama hukum, hendaknya mengaplikasikan

gagasan hukum progresif. Oleh karena itu, bagi mereka perlu diadakan suatu

pencerahan dalam bentuk pelatihan-pelatihan intensif tentang sosialiasi kekuatan

moral hukum progresif sebagai das sollen.

2. Dalam jangka panjang, negara melakukan inventarisasi seluruh perundang-

undangan baik di pusat maupun di daerah yang telah dibuat untuk dikaji ulang

kesesuaiannya dengan falsafah kita yaitu Pancasila. Tidak harus merubah total

undang-undangnya melainkan pasal-pasal yang bertentangan dengan nilai-nilai

Pancasila yang harus direvisi.

3. Sosialisasi tentang apa dan bagaimana hukum progesif, bukan hanya kepada

publik sebagai tujuan, melainkan juga kepada jajaran eksekutif serta legislatif baik

pusat maupun daerah. Hal ini beranjak dari pemikiran bahwa dua fungsi inilah

yang memegang peranan terpenting sebagai pembuat peraturan di negara kita.

43
44
BAB IV

PENUTUP

IV.1. Kesimpulan

Keadilan menurut hukum progresif adalah keadilan subtantif. Keadilan yang

didasarkan pada nilai-nilai keseimbangan atas persamaan hak dan kewajiban. Nilai-

nilai keadilan tersebut berasal lansung dari masyarakat dan bukan nilai-nilai keadilan

yang tekstual dan hitam putih yang memiliki makna terbatas. Bukan keadilan

prosedur yang didapat melalui berbagai macam prosedur-prosedur yang terkadang

mengaburkan nilai-nilai keadilan itu sendiri.

Peran politik hukum secara temporer sudah tercermin dalam bentuk upaya-

upaya pemerintah mengaplikasikan karakter/ciri-ciri yang membangun dalam setiap

pembentukan perundang-undangan atau dapat berupa meng-evaluasi kembali

perundang-undangan yang tidak sesuai dengan cita moral dan falsafah bangsa,

dengan acuan utama adalah Pancasila, sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Kedepannya, upaya-upaya tersebut harus lebih ditingkatkan lagi.

IV.2. Saran

Kaburnya tujuan hukum di Indonesia memerlukan langkah-langkah berani

untuk merubahnya. Salah satunya ialah dengan membumikan hukum progresif.

Hukum progresif adalah bagian dari proses pencarian kebenaran (searching for the

truth) yang tidak pernah berhenti. Hukum progresif yang dapat dipandang sebagai

45
konsep yang sedang mencari jati diri, bertolak dari realitas empirik tentang

bekerjanya hukum dimasyarakat, berupa ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap

kinerja dan kualitas penegakan hukum dalam setting Indonesia akhir abad ke-20.

Faktor penegak hukum dan budaya hukum, sebagai bagian tak terpisahkan

dalam satu sistem hukum, harus saling menunjang menuju ke pembangunan hukum

progresif. Hal ini dikarenakan kondisi dilapangan, mayoritas penegakan hukum kita

masih normatif, sehingga sering mengabaikan keadilan substantif yang

mencerminkan cita hukum masyarakat. Demikian pula dari sisi budaya hukum, harus

lebih intensif memperkenalkan progresifisme hukum kepada masyarakat luas dalam

bentuk sosialisasi berupa penyuluhan, talk show dan sebagainya.

46