Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kuda (Equus caballus atau Equus jerus Caballus) telah dikenal
banyak orang sebagai hewan yang memiliki banyak fungsi, yaitu dapat
digunakan sebagai hewan piaraan, hewan olah raga ataupun sebagai sarana
transportasi. Hal ini disebabkan karena kuda adalah hewan yang mudah diatur,
dikendalikan, dan ramah terhadap mahluk sekitarnya termasuk manusia
(Wikipedia, 2012).
Populasi ternak di Indonesia mengalami kenaikan, tetapi ada beberapa
jenis ternak yang mengalami penurunan. Kuda merupakan salah satu ternak
yang mengalami penurunan populasi. Penurunan populasi ini terjadi karena
fungsi kuda sebagai alat transportasi telah banyak digantikan oleh kendaraan
bermotor, selain tingginya angka pemotongan kuda sebagai sumber pangan.
Angka pemotongan kuda sebagai sumber daging di Indonesia cukup tinggi.
Penurunan populasi kuda ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Amerika
Serikat sampai tahun 1960 juga mengalami penurunan populasi kuda, karena
terjadi mekanisasi dalam bidang transportasi dan pertanian. Kemudian
populasi kuda mengalami kenaikan setelah terjadi peningkatan kegiatan
olahraga dan rekreasi menggunakan kuda (Cunha, 1991).
Peranan kuda di masyarakat antara lain sebagai sumber pangan, alat
transportasi, olah raga atau rekrasi, untuk pertanian, dan untuk perang. Dua
dari tiga peranan utama kuda masih sangat jelas di masyarakat Lombok Barat.
Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya jumlah Cidomo sebagai alat transportasi.
Di beberapa kecamatan yang berada wilayah Lombok Barat kuda masih
merupakan alat transportasi yang cukup penting. Menurut Badan Pusat
Statistik (BPS, 2010) Populasi ternak kuda di Lombok barat Barat masih
relatif tinggi. Jumlah populasi kuda untuk wilayah Lombok Barat yaitu 4.950
ekor (2006), 5.152 ekor (2007), 4.886 ekor (2008), 3.985 ekor (2009) dan
4.225 ekor (2010).

1
Kuda termasuk kedalam golongan ternak herbivora nonruminansia grup colon
fermentor. Usus besar adalah tempat untuk mikroba melakukan fermentasi. Pakan
yang tahan dari penghancuran di usus kecil, terutama serat, masuk ke usus besar
untuk difermentasi oleh mikroba. Prosesnya hampir sama seperti di rumen pada
ternak ruminansia (Cheeke, 1999).
Kuda sebagai ternak herbivora, merupakan ternak yang mengkonsumsi
hijauan. Hijauan mempunyai arti yang penting dalam makanan kuda (Gibbs dan
Davidson, 1992). Performan yang dihasilkan oleh kuda akan seiring dengan
kualitas hijauan, dimana hijauan yang mempunyai kualitas baik akan
menghasilkan performan kuda yang bagus pula. Hijauan yang bagus tentunya
tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai sumber protein, vitamin,
mineral dan nutrisi lainnya. Untuk mendapatkan performan kuda yang bagus
perlu adanya evaluasi dan penentuan kualitas hijauan pakan kuda (Guay et
al., 2002).
Sedangkan di Indonesia, informasi tentang jenis, nilai nutrisi dan penggunaan
hijauan sebagai pakan kuda sangat terbatas. Bahkan Parakkasi (1988) menyatakan
bahwa di Indonesia dan daerah tropis lainnya belum diperoleh keterangan secara
pasti tentang adanya suatu hijauan yang menonjol kualitasnya, terutama untuk
pakan kuda. Hal ini bisa disebabkan masih kurangnya eksplorasi dan identifikasi
sumberdaya genetik (Plasma Nutfah) hijauan yang ada. Padahal untuk
mengembangkan peternakan yang mempunyai dayasaing diperlukan pemanfaatan
sumberdaya lokal yang mempunyai nilai lebih. Salah satunya adalah pemanfaatan
hijauan yang mempunyai kualitas nutrisi yang baik dan telah beradaptasi dengan
kondisi iklim setempat. Menurut Chambliss dan Jhonson (2002) yang penting
dalam pengembangan hijauan pakan kuda perlu mempertimbangkan adaptasi
tanaman terhadap kondisi tanah dan iklim. Informasi tentang jenis hijauan lokal
Indonesia dan kandungan nutrisinya yang potensial untuk dikembangkan sebagai
pakan kuda hampir belum ada. Hal ini yang mendorong dilakukan penelitian ini,
sebagai suatu usaha penambahan ilmu pengetahuan dalam pengembangan
peternakan yang berbasis pada sumberdaya lokal.

2
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sejarah kuda ?
2. Bagaimana Klasifikasi Kuda ?
3. Bagaimanakah morfologi dari kuda ?
4. Bagaimanakah struktur anatomi kuda ?
5. Bagimanakah sistem reproduksi dari kuda ?
6. Bagaimanakah sistem pencernaan dari kuda ?
7. Bagimanakah manejemen pakan dari kuda ?
8. Bagimanakah jenis jenis kuda di dunia ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah dari kuda
2. Untuk mengetahui Klasifikasi kuda
3. Untuk mengetahui morfologi dari kuda
4. Untuk mengetahui struktur anatomi pada kuda
5. Untuk mengetahui sistem reproduksi pada kuda
6. Untuk mengetahui sistem pencernaan pada kuda
7. Untuk mengetahui manajemen pakan yang baik bagi kuda
8. Untuk mengetahui jenis jenis kuda yang ada di dunia

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Kuda
Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu
dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama
merupakan salah satu hewan peliharaan yang penting secara ekonomis dan
historis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan
barang selama ribuan tahun.

3
Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan
dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda,
atau bajak. Pada beberapa daerah, kuda juga digunakan sebagai
sumber makanan. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak
tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru
ditemukan terjadi sejak2000 SM.
Kuda adalah mamalia ungulata (hewan yang berdiri pada kuku) yang
berukuran paling besar di kelasnya. Kuda berdiri pada satu kuku sehingga
dimasukan dalam ordoperissodactyl. Dalam hal kekerabatan kuda memiliki
kesatuan nenek moyang dengan tapir dan badak. Kuda merupakan satu dari
hewana modern paling sukses dari genus Equus, hal tersebut dikarenakan
kemampuannya dalam bertahan hidup dari seleksi alam dan kemampuannya
dalam berevolusi yang sangat baik (Anonim, 2011a).
B. Klasifikasi
Kuda modern saat ini dibedakan menjadi kuda domestikasi dan kuda
liar. Kuda domestikasi (Equus caballus) adalah kuda yang sengaja dipelihara
manusia untuk digunakan dan diambil manfaatnya. Sedangkan kuda liar
(Equus ferus Caballus) adalah kuda yang masih hidup di alam liar (Kidd,
1985)
Kingdom : Animalia (hewan)
Phylum : Chordata (bertulang belakang)
Class : Mammalia (menyusui)
Ordo : Perissodactyla (berteracak tidak memamahbiak)
Family : Equidae
Genus : Equus
Spesies : Equus caballus
Pengelompokan kuda kemudian berkembang pesat berdasarkan
berbagai hal seperti kemampuan dalam beraktivitas yaitu cold Blood, Hot
blood dan warm blood, berdasarkan ukuran tubuh seperti light horses, draught
horses dan ponies (kacker, 1996), jenis aktifitas seperti work horses dan sport
horses, asal daerah seperti kuda arab, kuda eropa, kuda asia, dan kuda

4
amerika. Pengelompokan terakhir adalah berdasarkan breed, yaitu kuda yang
dikawin silangkan dengan kuda jenis lain dan dihasilakn kuda jenis baru yang
berkualitas baik. Breed yang terkenal antara lain Arab, Throughbred, Anglo-
arab dan Shire (Kidd 1985 dan Drummond 1988).
Begitu banyak jenis kuda di dunia , kuda arab dapat dianggap sebagai
cikal bakal berbagai jenis kuda di dunia. Menurut keterangan marco polo saat
berkunjung ke India tahun 1290. Para sultan di india telah menyebarluaskan
kuda arab ke berbagai Negara lain di asia. Salah satu caranya adalah melalui
hadiah perkawinan. Melalui ekspansi tentara arab ke berbagai penjuru Negara
pada awal abad pertengahan, maka kuda arab menyebar ke berbagi penjuru
dunia. Kuda arab tersebut kemudian dikawin silangkan dengan kuda lokal di
daerah masing-masing Negara. Sampai saat ini telah dikenal lima ekor kuda
pejantan arab yang terkemuka, masing-masing bernama the byerley Turk
(1684), The Leeds Arabian (1965), the dardley Arabian (1700), the alcock
Arabian (1704), dan the godolphin arabian (1730). Nama dari kuda pejantan
ini akan kita temukan pada silsilah keturunan kuda jenis Throughbred yang
tersebar di seluruh dunia (Soehardjono, 1990).
C. Morfologi
Kuda memiliki tubuh yang tertupi rambut walaupun pada tubuhnya
rambut tersebut tidak terlihat jelas. Rambut-rambut tersebut berfungsi sebagai
pelindung tubuh dari pengaruh panas dan dingin. Pada bagian atas antara
kepala dengan leher terdapat rambut yang tebal dan banyak, begitu juga pada
bagian ekor.
Hampir sama juga dengan hewan lainnya pada kelas mamalia, kuda
memiliki mata, hidung, mulut, daun telinga, berkaki empat, dan mempunyai
ekor.
Kuda memiliki jari yang ganjil sehingga termasuk kedalam kelompok
mamalia berjari ganjil (perisodactya) dan disetiap kaki hanya memiliki satu
kuku (berkuku satu). Pada kuda betina memiliki kelenjar susu/mammae
(glandulamammae).
D. Anatomi Kuda

5
1. Didalam mulut terdapat langit-langit atasyang kersa dan bagian
belakangnya lunak. Kelunjar penjernaannya berupa 4 pasang kelenjer
ludah, hati dan kandungan empedu dan pancreas.
2. Dengan 2 lobus paru-paru masing-masing di dalam ruang pleura yang
terpisah. Terdapat laring yang beratap epiglottis sebagai alat suara.
3. Terdapat 2 buah vena cava anterior kiri dan kanan. Jantung beruang 4
dengan sekat sempurna. Sel darah merah tidak berinti
4. Sepasang ginjal bertipe metanefros, bentuk seperti kacang kapri. Ruang
ginjal dengan kantung kemih dihubungkan oleh sepasang ureter. Urin
keluar lewat lubang urogentalis.
5. System saraf pusat: serebrum dan serebelum relative besar; terdapat 12
pasang saraf cranial.
6. Lubang genital dan anus terpisah. Hewan jantan mempunyai alat
reproduksi berupa penis sedankan hewan betina berupa vagina. Tetis
menghasilkan spermatozoid dan berada dalam saku skotum. Ovum sangat
kecil.
E. Sistem Reproduksi
Perilaku kawin kuda sangat berbeda dari hewan lain. Kuda bertanggung jawab
atas segala sesuatu dalam reproduksi, termasuk periode kehamilan, laktasi,
kelahiran dan siklus estrus. Kuda memiliki dua ovarium dari 7-8 cm
panjangnya. Seorang peternak kuda harus mengetahui siklus reproduksi
ternak kudanya. Kuda betina dan kuda jantan kawin satu sama lain pada
waktu tertentu dan kesempatan. Perilaku perkawinan kuda menunjukkan
bahwa mereka tidak biasanya kawin dalam linkungan sosial. Kuda-kuda
membutuhkan banyak ruang terbuka untuk melakukan proses perkawinana.
F. Sistem Pencernaan Kuda
1. Mulut
Prehensi adalah menyenggut dan membawa pakan ke dalam mulut
dengan bibir atas yang sensitif dan dapat bergerak (Bradley, 1981).
Selanjutnya, dengan aksi itu kuda dapat menyenggut rumput hingga
hampir pada tanah dan dapat memilih hay dari palung dengan tangkas.
Saat ini, kuda dikandangkan dan harus merumput di tempat sempit,
mencari butiran atau potongan pakan terakhir dan bibir terus-menerus
beraksi mengaduk pakan atau alas kandang (Bradley, 1981). Selanjutnya,

6
bila hay berjamur atau berdebu dapat menyebabkan terpaparnya paru-paru
pada spora jamur atau material asing lainnya. Paparan terus menerus dapat
menyebabkan alergi, kembung, dan sakit perut pada kuda. Meletakkan
pakan kuda pada lantai kandang juga dapat menyebabkan kuda cacingan.
Mastikasi (pengunyahan) adalah mengurangi ukuran partikel pakan
dan menambah area permukaannya sehingga terpapar secara maksimum
pada getah-getah pencernaan (Bradley, 1981). Selanjutnya, kuda jantan
mempunyai 40 gigi dan kuda betina mempunyai 36 gigi untuk mengunyah
biji-bijian dan pakan kasar. Penghalusan pakan biji-bijian tidak dapat
menambah kecernaan lebih dari 5% bagi kuda bergigi baik, tetapi penting
untuk kuda tua dengan gigi jelek.
Infeksi pada akar gigi kadang-kadang terjadi, pembengkakan di bawah
tulang rahang dapat dilihat dan bukti rasa sakitnya. Problem gigi dan
pengunyahan ditunjukkan ketika seekor kuda mengunyah dengan kepala
miring, ketika sejumlah besar biji-bijian tumpah dari mulutnya, atau
ketika kondisi kuda menurun tajam tanpa sebab yang jelas.
Saliva disekresikan oleh 3 kelenjar saliva di dalam mulut, sebagian
besar terdiri dari air, 1% garam anorganik dan sangat sedikit
amilase (Bradley, 1981). Selanjutnya, saliva membasahi dan melumasi
pakan untuk penelanan. Selama pengunyahan, hay menyerap saliva
sebanyak empat kali beratnya. Kuda menghasilkan sejumlah besar saliva
ketika makan (sekitar 10 l). Kuda rakus atau makan dengan cepat hanya
mengunyah sebentar sehingga mengurangi produksi saliva dan menambah
kemungkinan tercekik dan gangguan pencernaan.
2. Pharynx
Pharynx terletak di bagian bawah mulut kuda tempat saluran
pencernaan dan pernafasan berseberangan (Bradley, 1981). Selanjutnya,
fungsinya untuk mengarahkan pakan ke dalam esofagus. Bila sudah di
dalam pharynx, pakan dan air minum tidak dapat kembali ke mulut karena
aksi menutup langit-langit mulut yang lunak, epiglottis pada saat yang
sama mencegah masuknya pakan ke dalam paru-paru. Kuda tidak dapat
bernafas melalui mulut, dan hanya pada kondisi ekstrem dapat muntah.

7
3. Esofagus
Esofagus adalah pipa otot sepanjang 4 hingga 5 feet merentang antara
mulut, turun pada sisi kiri leher, melalui diafragma, menuju lambung
(Bradley, 1981). Selanjutnya, esofagus mengarahkan pakan dan air
menuju lambung dengan gelombang otot yang disebut peristalsis.
Gelombang itu umumnya tidak dapat membalik, menguatkan alasan
bahwa kuda tidak dapat muntah dengan mudah. Juga tidak ada kuda yang
membuang tekanan gas dengan bersendawa, suatu mekanisme untuk
mengatasi kasus kolik. Kuda yang makan biji-bijian dengan rakus dapat
tercekik di esofagus.
4. Lambung
Lambung adalah kantung berbentuk huruf U dekat diafragma pada
bagian depan rongga perut (Bradley, 1981). Selanjutnya, suatu otot yang
kuat (sphincter) mengatur pembukaan esofagus ke dalam lambung yang
menjadikan muntah hampir tidak mungkin. Lambung kuda termasuk kecil
dibanding hewan lainnya, kapasitasnya 2-4 gallon (7,57-15,14 l; 1 gallon
= 3,785 L). Karena pakan dengan cepat melalui lambung, sering memberi
pakan (dua atau tiga kali sehari) lebih efisien dan lebih memuaskan selera
pakan kuda.
Lambung berperan sebagai reservoir (waduk atau tandon) bagi pakan
yang ditelan untuk menjadi sasaran pencernaan lambung (Bradley, 1981).
Selanjutnya, getah pencernaan disekresikan oleh sejumlah kelenjar dalam
membran mukosa lambung, mengandung asam HCl dan dua enzim, pepsin
dan lipase. HCl berperan mengaktifkan pepsin dengan menetapkan
konsentrasi ion hidrogen yang cocok (pH) yang memungkinkan pepsin
merubah protein menjadi proteosa dan pepton. Pemecahan lengkap kedua
senyawa itu menjadi asam-asam amino terjadi kemudian di usus kecil.
Pepsin adalah suatu proteasa, suatu enzim yang membantu mencerna
protein menjadi asam-asam amino. Lipase membantu mencerna lemak
menjadi asam-asam lemak dan giserol, yang diabsorpsi dan digunakan
sebagai energi seperti gula sederhana.

8
Ketika menerima pakan 2/3 isi, lambung mulai melewatkan pakan ke
dalam usus kecil dan terus terjadi selama makan dilanjutkan (Bradley,
1981). Selanjutnya, bila terlalu banyak makan pada suatu waktu, pakan
meninggalkan lambung tanpa aksi pencernaan yang cukup menyebabkan
penurunan efisiensi pencernaan.
Bila hewan terkurung dan makan pakan kering dan disediakan air di
dekatnya, hewan melangkah tergesa antara pakan dan air, dan makan lebih
banyak bila air tersedia (Bradley, 1981). Selanjutnya, ketika air diminum
dalam jumlah sedikit, air mungkin membantu salivasi dan proses
pencernaan. Lambung adalah tempat terjadinya kelainan pencernaan yang
disebabkan oleh pakan berjamur, masa tanah yang halus, perubahan pakan
mendadak, dan situasi makan banyak (pesta) dan kelaparan. Lambung
sebaiknya dijaga relatif bebas parasit.
5. Usus kecil
Usus kecil adalah pipa 2 inch (5,08 cm) sepanjang 70 foot (21,34 m)
dengan kapasitas 12 gallon (45,42 l) dan menghubungkan lambung
dengan usus besar (Bradley, 1981). Selanjutnya, usus ini melipat dan
menggulung berkaki-kali. Usus kecil dan usus besar tergantung pada
daerah pinggang dengan suatu membran berbentuk kipas yang
disebut mesentery. Aliran darah masuk pada tangkai kipas dekat pinggang
melalui arteri mesentery besar. Lokasi ini tempat cacing darah meletakkan
diri dan makan, menyebabkan aneurysm (bekuan darah) yanmengurangi
aliran darah
Pada usus yang menyebabkan colic (mulas/sakit perut) dan sering
kematian. Program kontrol parasit yang baik menghilangkan risiko
tersebut. Usus kecil dengan organ pelengkapnya, pankreas dan hati,
menyediakan sebagian besar enzim pencernaan (Bradley, 1981).
Selanjutnya, peristalsis dinding usus menjamin pencampuran sebagian
besar campuran cairan yang dikandungnya. Getah pankreas mengandung
enzim tripsin, lipase pankreas, dan amilase. Tripsin mengkonversi protein
dan peptida menjadi asam-asam amino yang diabsorpsi oleh usus kecil

9
dan diambil oleh aliran darah menuju tempat yang membutuhkan,
misalnya otot-otot pada kuda-kuda yang sedang tumbuh dan kelenjar susu
pada induk laktasi. Lipase pankreas menghidrolisa lemak menjadi gliserol
dan asam-asam lemak, dan amilase pankreas memecah pati menjadi
maltosa, suatu gula sederhana yang mudah dicerna.
Hati mensekresikan empedu, yang membantu pemecahan lemak,
membantu absorpsi asam lemak, dan mengaktifkan lipase
pankreas (Bradley, 1981). Selanjutnya, villi, tonjolan-tonjolan kecil dalam
usus kecil, menambah permukaan usus kecil untuk absorpsi nutrien-
nutrien pokok seperti gula sederhana, asam-asam lemak, asam-asam
amino, mineral-mineral, dan vitamin-vitamin ke dalam aliran
darah. Villi yang rusak disebabkan oleh kerja parasit pada awal
kehidupannmungkin mengandung jaringan konektif yang mempengaruhi
pencernaan selanjutnya.
6. Usus besar
Usus besar terdiri dari sekum, colon besar, colon kecil, rektum, dan
anus, membawa material yang tidak tercerna dari usus kecil menuju anus
untuk eliminasi dan mengadakan fungsi-fungsi penting (Bradley, 1981).
Selanjutnya, Dengan kombinasi kapasitas 30-35 gallon (113,55-132,47 l)
dan panjang 26-30 foot (7,92-9,14 m) adalah tempat bakteri beraksi;
selulosa, pati, dan gula dicerna menjadi volatile fatty acids, yang
kemungkinan menyediakan energi seperempat dari energi yang digunakan
seekor kuda. Sebagai tambahan yang menguntungkan, aksi bakteri dalam
kuda dewasa yang sehat menghasilkan vitamin B yang dibutuhkan setiap
hari, kecuali pada kondisi sangat stres.
Produksi asam-asam amino terjadi di usus besar, tetapi kontribusinya
bagi kebutuhan protein kuda relatif kecil dibandingkan produksi asam
lemak untuk energi (Bradley, 1981). Selanjutnya, sekum adalah tempat
utama untuk absorsi air. Untuk penggunaan pakan kasar (hay) lebih baik,
lewatnya pakan kasar melalui sekum dan kolon besar diperlambat,
tergantung tingkat kandungan serat dan jumlah ketersediaan air.

10
Penggunaan hay berkualitas rendah yang pemotongannya terlambat (serat
tinggi) tanpa air cukup kadang-kadang menyebabkan penjepitan kolon
besar atau kolon kecil, dan kadang-kadang rektum, menyebabkan kolik.
Usus terpelintir dapat disebabkan makan terlalu banyak kemudian
segera bekerja keras, atau pemutaran akibat parasit menyebabkan kolik
(Bradley, 1981). Selanjutnya, pencegahannya terdiri dari pemberian pakan
berkualitas, air minum bersih melimpah, dan program pencegahan parasit
yang baik, dan berhati-hati pada saat mempekerjakan kuda. Nutrien dalam
darah dari usus dibawa melalui vena portal langsung ke hati, tempat
nutrien diproses secara kimia sebagaimana yang diperlukan untuk
digunakan pada bagian lain tubuh.
Rektum menghubungkan kolon kecil pada anus dan
menerima feces yang terbentuk menjadi bola-bola oleh kolon kecil dan
dikeluarkan melalui anus (Bradley, 1981). Selanjutnya, ada 40-
50 pounds (18,14-22,68 kg; 1 pound = 0,4536 kg) dikeluarkan 8-12 kali
setiap hari oleh kuda yang makan pakan standar terdiri dari biji-bijian
dan hay. Bentuk, ukuran, dan konsistensi (kepadatan)feces menunjukkan
kesehatan kuda secara umum. Bila feces kering dan keras, kuda
kekurangan air atau protein. Jika feceslembek, kuda mungkin sakit atau
mengkonsumsi pakan yang terlalu menyerap air. Proses pakan dari mulut
ke anus memerlukan waktu 70 jam.
G. Manajemen Pakan
Manajemen pakan kuda berbeda dengan manajemen ternak
domestik yang lain. Hal utama yang menyebabkan hal tersebut adalah
karena perbedaan anatomi dan fisiologi saluran pencernaan,
pencernaan kuda termasuk kedalam pencernaan monogastrik (lambung
tunggal). Selain kuda merupakan hewan yang dapat mencerna dan
mengfermentasi sisa pakan pada saluran pencernaan bagian
belakangnya (sekum). Dengan keunikannya itulah maka kuda
mencerna dengan efisien baik pakan serat maupun konsentrat. Namun

11
keunikan ini harus di tunjang pula dengan manajemen pakan yang baik
(Anonim, 2011c).
Pakan kuda di bagi menjadi 2 kategori yaitu serat atau bahan
kasar dan konsentrat (Goncalves 2002 et al. dan Kacker 1996 ).
Sumber serat utama bagi kuda adalah rumput. Biasanya rumput di
berikan dalam bentuk kering (hay), sehingga kadar airnya rendah.
Rumput kering yang biasa diberikan pada kuda
adalah Timothy, Brome dan rumput Orchade(Syefrizal, 2008).
Serat merupakan bagian penting dalam susunan pakan kuda
karena kesehatan saluran cerna sangat di pengaruhi oleh keberadaan
serat dalam pakan. Serat mengandung bahan kasar dan membantu
dalam proses transportasi dan pemecahan bahan konsentrat sehingga
serat merupakan sumber penting dalam nutrisi. Di Indonesia sendiri
terdapat beberapa jenis sumber serat yang di gunakan sebagai pakan
kuda, antara lain rumput panicum muticum dan braccaria mutica
(Soehardjono, 1990).
Konsentrat adalah pakan yang mengandung unsur protein,
karbohidrat, lemak dan mineral yang dapat di berikan dalam jumlah
sedikit. Contoh konsentrat ynag di gunakan sebagai pakan kuda di
Indonesia antara lain adalah, bungkil kedelai, kacang hijau, gabah dan
dedak. Pemberian kedua jenis pakan ini haruslah seimbang dan sangat
tergantung pada berbagai faktor, seperti usia kuda, jenis pekerjaan dan
berbagai kondisi lain. Jumlah pakan dan waktu pakan kuda yang
berubah tiba-tiba, dapat menyebabkan perubahan motilitas usus
pencernaan kuda dan perubahan aliran darah. Hal tersebut sangat
berbahaya bagi kuda karena dapat menyebabkan terjadinya kolik
(Hamer 1993 dan soehardjono 1990).
H. Kuda Indonesia
Kuda yang terdapat di wilayah asia tenggara termasuk ke
dalam ras timur karena memiliki bentuk tengkorak yang kecil. Hal
tersebut berbeda dengan kuda ras eropa yang memiliki tengkorak
kepala yang besar. Melihat bentuk wajahnya, kuda ras timur diduga

12
merupakan keturunan kuda mongol. Kuda mongol diperkirakan
merupakan keturunan jenis kuda przewalski yang ditemukan tahun
1879 di asia tengah (Soehardjono, 1990).
Keadaan fisik kuda yang terdapat di Indonesia beraneka ragam
karena dipengaruhi oleh keadaan geografis wilayahnya. Kuda-kuda di
Indonesia memiliki ukuran tubuh yang tidaklah terlalu besar yaitu
bertinggi badan 1,13 m hingga 1,33 m, hal ini disebabkan karena
Indonesia berada di daerah beriklim tropis (Soehardjono, 1990). Dari
ukuran tersebut maka kuda Indonesia termasuk kedalam jenis kuda
poni.
Menurut Soehardjono (1990) terdapat dua jenis ras kuda local
di Indonesia. Jenis pertama dikenal dengan nama kuda batak dan jenis
kedua dikenal dengan nama kuda sandel (Sandel Wood) atau kuda
timur. Kedua jenis kuda poni ini memiliki ukuran yang sama yaitu
antara 114-123 cm. kedua jenis kuda ini memiliki kesamaan pada
warna maupun bentuk. Umumnya keduanya berwarna coklat, coklat
tua, sampai kemerahan dengan rambut ekor dan kaki bagian bawah
berwarna hitam. Bagian kepala berukuran agak besar dengan leher
lebar dan pendek, sedangkan rambut kepala kasar dan berdiri. Bagian
kakinya berbentuk langsing dan berbulu pada bagian persendian.
Di Indonesia kuda digunakan sebagai hewan transportasi,
bahkan di beberapa daerah di pulau jawa kuda digunakan untuk
menarik kereta yang biasa disebut sebagai Delman. Delman sendiri di
definisiakan sebagai kereta yang dapat diisi/dinaiki 4-5 orang dan
ditarik oleh satu ekor kuda (Anonim, 2010b).
I. Jenis jenis kuda
1. American Quarter Horse

13
American Quarter Horse banyak digunakan sebagai kuda patroli
kepolisian/militer
Merupakan bangsa kuda yang paling populer di dunia dan
memiliki 3.2 juta populasi
Warna rambutnya bervariasi dari hitam, keabuan, cokelat, chestnut,
palomino dan buckskin.
Dikenal sebagai kuda yang memiliki ukuran kepala yang relatif
kecil, ukuran dada yang lebah dan kaki-kaki belakang yang kuat
Dikembangbiakkan dalam dua tipe; stock dan racing
2. Akhal-Teke

Akhal-Teke merupakan kuda yang berasal dari Turkmenistan.


Terkenal karena kecepatan dan daya tahan tubuhnya dalam
melakukan perjalanan jauh.
Disebut golden-horses, dan mudah beradaptasi di berbagai iklim
dan cuaca.

14
Terdapat kurang lebih 3.500 ekor Akhal-Teke di dunia, tersebar di
Turkmenistan dan Rusia. Namun demikian kuda tersebut terdapat
juga di Eropa, Australia dan Amerika Utara.
Akhal-Teke memiliki tinggi 147-163 cm, terkenal karena warna
rambutnya (golden) atau palomino dengan metalic sheen.
Warna lain yang dikenal antara lain bay, black, chestnut,palomino,
cremello, perlino dan grey.
Tinggi Akhal-teke berkisar 147-163 cm, memiliki wajah
memanjang dengan telinga yang panjang dan mata berbentuk
almond. Punggung Akhal-teke terlihat berotot, flat dan panjang.
Kaki-kakinya kuat dan kurus. Konformasi kuda tersebut
disesuaikan dengan daya tahan tubuh dan kemampuannya berjalan
jauh.
Akhal-teke terkenal sebagai kuda yang hanya terikat pada satu
orang saja
3. Arabian

Beberapa karakteristik membedakan kuda jenis Arabian dengan kuda


lainnya, antara lain adalah bentuk wajah; dengan mata yang besar,
hidung lebar dan bibir yang kecil
Arabian merupakan kuda yang dapat bersahabat dengan manusia, juga
sering digunakan sebagai kuda pacuan oleh karena kekuatan dan
staminanya
Arabian juga digunakan sebagai kuda terapi
Warna kuda Arabian bervariasi dari abu-abu, chestnut, bay, roan,
cokelat, dan hitam

15
4. Appaloosa

Appaloosa merupakan hasil breeding selektif di daerah Idaho, oregon


dan Southeast Washington. Kuda tersebut merupakan peranakan
Spanish Horse.
Merupakan kuda suku Indian
Karakteristik yang paling mencolok dari seekor Apaloosa adalah pola-
pola warna dan marking di tubuhnya. Pola umum dari kuda ini adalah
tubuh berwarna gelap dengan spot-spot terang (snowflake) atau tubuh
berwarna putih dengan spot gelap (leopard)
Appaloosa juga dikenal sebagai kuda bertemperamen baik, mahir
melompat, sering digunakan dalam olimpiade maupun perjalanan jauh
5. Pony

Pony banyak digunakan sebagai kuda atletik/olimpiade (Hackney


pony, Connemara pony, Welsh pony)
Pony dapat dikenali dari fenotipnya, tubuh yang padat, tulang lebar
dan besar, dengan costae yang membulat. Pony memiliki kepala yang
pendek, mata besar dan telinga yang kecil serta kaki yang kecil
proporsional

16
Pony juga memiliki kuku yang kuat dan rambut yang tebal
6. Thoroughbred

Dikenal sebagai ras kuda pacu yang paling baik


Termasuk dalam kelompok hot-blooded horses (agility, spirit, and
speed)
Dikembangbiakkan sejak abad ke 17 di Inggris, dan pada abad ke 18-
19, secara besar-besaran diimpor oleh Amerika, Australia, Jepang,
Eropa dan Amerika Selatan.
Selain sebagai kuda pacu, thoroughbred juga digunakan dalam
berbagai cabang olimpiade seperti show jumping, combined training,
dressage, polo dan fox hunting
Karakteristik thoroughbred antara lain tubuh berukuran tinggi 157-173
cm, berwarna bay, seal brown, chestnut, hitam atau abu-abu. Bagian
wajah dan kaki bagian bawah seringkali bercorak putih, namun warna
putih tersebut tidak terdapat pada tubuh.
Thoroughbred yang berkualitas memiliki kepala proporsional dengan
leher yang panjang, dada lebar, punggung rendah, kaki yang panjang
serta tubuh yang ramping.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat
pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Pada
beberapa daerah, kuda juga digunakan sebagai sumber makanan. Walaupun

17
peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti
penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak2000 SM.
Kuda modern saat ini dibedakan menjadi kuda domestikasi dan kuda liar.
Kuda domestikasi (Equus caballus) adalah kuda yang sengaja dipelihara manusia
untuk digunakan dan diambil manfaatnya. Sedangkan kuda liar (Equus ferus
Caballus) adalah kuda yang masih hidup di alam liar.
Kuda memiliki tubuh yang tertupi rambut walaupun pada tubuhnya rambut
tersebut tidak terlihat jelas. Rambut-rambut tersebut berfungsi sebagai pelindung
tubuh dari pengaruh panas dan dingin. Pada bagian atas antara kepala dengan leher
terdapat rambut yang tebal dan banyak, begitu juga pada bagian ekor.
Jenis jenis kuda diantaranya adalah American Quarter Horse, Akhal-Teke
,Arabian ,Appaloosa ,Pony, Thoroughbred dsb.
B. Saran
Akhirnya selesailah makalah saya yang membahas tentang ilmu tilik( Kuda).
Sungguh, masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki dalam penyusunan
makalah ini. Apabila terdapat kesalahan penulisan saya mohon maaf, kritik dan saran
dari pembaca akan saya tunggu. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. http://id.scribd.com/doc/75818007/Kuda. Diakses pada tanggal 28
November 2013.
Anonim.2012. http://ariscahkeduang.blogspot.com/2013/04/dasar-nutrisi-kuda.html.
Diakses pada tanggal 28 November 2013.
Blakely, J. and H.B. David. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.

18
Mansyur, Tanuwiria dan D. Rusmana. 2006. Eksplorasi Hijauan Pakan Kuda dan
Kandungan Nutrisinya. Unpad, Bandung. Pp : 924 931.
NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National
Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA.
Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung.
Anonim. 2011. Kelas Kuda. http://dunia kuda.blogspot.com. (29 november 2011)
Anonim, 2011a. Horse. http://en.wikipedia.org/wiki/Horse (01 Desember 2011)
Owner.http://www.ag.ndsu.edu/pubs/ansci/horse/as953w.htm (01 desember 2011)
Chambliss, C. G. and E. L. Jhonson. 2002. Pastures and Forages Crops for Horses.
In: C.G. Chambliss (Ed.). Florida Forage Handbook. Institute of Food and
Agricultural Sciences, University of Florida.
Cheeke,P.R.1999.AppliedAnimalNutrition:Feed
and Feeding. Second edition. Prentice Hall Inc. Upper Saddle River, New Jersey.
Cunha, T. J., 1991. Feeding and Nutrition Horse. 2nd Edition. Academic Press Inc.
San Diego. California.
McBane. S. 1994. Modern Stable Management. Ward Lock. London
Parakkasi, A. 1988. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik Vol IB. UI Press.
Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Kanisius: Yogyakarta.
Soeharjono. O. 1990. Kuda. Yayasan Pamulang Equistian Centre. Jakarta
Syefrizal. 2008. Perawatan Kuda. http://duniakuda.blogspot.com

19