Anda di halaman 1dari 130

ii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya sehingga buku Panduan
Praktikum Analisis Bahan 2017 ini dapat terselesaikan. Buku panduan ini bertujuan membantu
praktikan, asisten, serta semua pihak yang bersangkutan demi kelancaran pelaksanaan
Praktikum Analisis Bahan Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah
Mada Tahun 2017.
Isi buku ini disusun berdasarkan urutan kode mata praktikum secara terpisah satu dengan
yang lain agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Pada edisi kali ini, terdapat penjelasan setiap
mata praktikum yang telah diperbaiki dan disempurnakan dari edisi sebelumnya sehingga
diharapkan terdapat peningkatan kualitas dari Praktikum Analisis Bahan secara keseluruhan.
Penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan buku ini antara lain :
1. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng. selaku Kepala Laboratorium
Praktikum Analisis Bahan.
2. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng., Yano Surya Pradana, S.T.,
M.Eng., Muhammad Mufti Azis, S.T., M.Sc., Ph.D., Indra Perdana, S.T., M.T., Ph.D,
Dr.-Ing. Teguh Ariyanto, S.T., M.Eng., Ir. Suprihastuti Sri Rahayu, M.Sc., Ir. Hary
Sulistyo, SU., Ph.D., Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng. selaku dosen
pembimbing mata Praktikum Analisis Bahan.
3. Hariyanto dan Risma Wati selaku Laboran Laboratorium Analisis Bahan.
4. Seluruh asisten Praktikum Analisis Bahan 2017.
5. Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada serta semua
pihak terkait.
Penyusun menyadari masih terdapat kekurangan baik materi maupun penulisan. Oleh
karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
selanjutanya. Semoga buku ini memberikan manfaat dalam perkembangan pendidikan di
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta, Februari 2017


Penyusun

ii
iii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................................... ii


Daftar Isi ....................................................................................................................................... iii
Daftar Dosen Pembimbing Praktikum dan Asisten ...................................................................... iv
Format Penulisan Laporan Ringkas ............................................................................................... v
Format Penulisan Laporan Resmi ................................................................................................ vii
Tata Cara Penulisan Laporan ........................................................................................................ xi
Keselamatan Kerja di Laboratorium ........................................................................................... xiii
Pengukuran Suhu dan Kenaikan Titik Didih ...................................................................... 1
Peneraan Alat Ukur Laju Alir Fluida ................................................................................ 14
Pengukuran Rapat Massa dan Konduktansi ..................................................................... 25
Modulus Patah dan Kuat Desak Bahan Padat ................................................................... 42
Pengukuran Tegangan Muka dan Viskositas Zat Cair...................................................... 57
Analisis Volumetri ............................................................................................................ 75
Analisis Gravimetri ........................................................................................................... 88
Spektrofotometri ............................................................................................................... 96

iii
iv Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

DAFTAR DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM


DAN ASISTEN

A. PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN


Dosen Pembimbing : Yano Surya Pradana, S.T., M.Eng.
Asisten Praktikum : 1. Kanda Wiba Pratama (Batch 1)
2. Annisa Amalia Ulfah (Batch 2)

B. PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA


Dosen Pembimbing : Muhammad Mufti Azis, S.T., M.Sc., Ph.D.
Asisten Praktikum : 1. Ivone Marselina Nugraha (Batch 1)
2. M. Ismail Hamidiy (Batch 2)

C. PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI


Dosen Pembimbing : Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng.
Asisten Praktikum : 1. Indah Tri Nuraini (Batch 1)
2. Salsabila Isna Firdausi (Batch 2)

D. MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN PADAT


Dosen Pembimbing : Indra Perdana, S.T., M.T., Ph.D
Asisten Praktikum : 1. M. Aldian Astrayudha (Batch 1)
2. Mayzaki Dwi Putra(Batch 2)

E. PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN VISKOSITAS ZAT CAIR


Dosen Pembimbing : Dr.-Ing. Teguh Ariyanto, S.T., M.Eng.
Asisten Praktikum : 1. Afrizal Luthfi Anggara (Batch 1)
2. Shelia Febriani Hunarko (Batch 2)

F. ANALISIS VOLUMETRI
Dosen Pembimbing : Ir. Suprihastuti Sri Rahayu, M.Sc.
Asisten Praktikum : 1. Bill Rich (Batch 1)
2. Pinky Alifah Sosari (Batch 2)

G. ANALISIS GRAVIMETRI
Dosen Pembimbing : Ir. Hary Sulistyo, SU., Ph.D.
Asisten Praktikum : 1. Farida Arisa (Batch 1)
2. Erda Cantia Ayunandya (Batch 2)

H. SPEKTROFOTOMETRI
Dosen Pembimbing : Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng.
Asisten Praktikum : 1. Dwi Reinaldy Gunawan (Batch 1)
2. M. Naufal Fakhry (Batch 2)

iv
v Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

FORMAT PENULISAN LAPORAN RINGKAS

JUDUL MATA PRAKTIKUM

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

II. CARA KERJA


Cara kerja berupa uraian secara lengkap dan rinci mengenai tahap-tahap dalam
percobaan.Uraian tersebut dituliskan dalam bentuk narasi menggunakan kalimat pasif.
Setiap kalimat yang diawali dengan angka atau rumus senyawa tertentu, maka harus
dituliskan dalam kata-kata. Contoh: 5 gram .. ditulis Lima gram., H2SO4 . Ditulis
Asam sulfat (H2SO4) ..

III. ANALISIS DATA


Berisi persamaan-persamaan yang digunakan untuk perhitungan, lengkap dengan nomor
persamaan dan keterangan dari variabel-variabel yang digunakan, dilengkapi dengan
perhitungan.
Penulisan angka di belakang koma:
Untuk data percobaan, ditulis berdasarkan ketelitian alat.
Untuk hasil perhitungan persen, 2 angka belakang koma.
Untuk hasil perhitungan dengan ketelitian alat kurang dari 4 abk, maka ditulis 4 angka
belakang koma.

IV. PEMBAHASAN
Berisi penjelasan mengenai hasil percobaan yang diperoleh serta penjelasan mengenai grafik
yang dibuat (jika ada).

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....
v
vi Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

VI. SARAN
Berisi saran untuk kemajuan Praktikum Analisis Bahan (bukan saran untuk asisten secara
pribadi).

Yogyakarta, 2017
Asisten, Praktikan,

Nama Lengkap Asisten Nama Lengkap Praktikan

Catatan: Laporan sementara disertakan di akhir laporan.

KETENTUAN PENGUMPULAN LAPORAN RINGKAS

1. Laporan dikumpulkan kepada asisten jaga maksimal 1 (satu) minggu setelah praktikum
dilakukan dan juga sebagai syarat untuk mengikuti praktikum selanjutnya.
2. Laporan dikumpulkan dalam bentuk sudah dijilid rapi.
3. Laporan akan dikoreksi oleh asisten dan dikembalikan kepada praktikan maksimal 2 (dua)
minggu setelah tanggal pengumpulan laporan untuk direvisi oleh praktikan.
4. Laporan yang telah direvisi dikembalikan kepada asisten dengan waktu sesuai dengan
kebijakan asisten.
5. Keterlambatan pengumpulan laporan yang telah direvisi akan dikenai pengurangan nilai
sebanyak 3 (tiga) poin per hari.
6. Kartu acara harus selalu dibawa pada saat pengambilan dan pengumpulan laporan.

vi
vii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

FORMAT PENULISAN LAPORAN RESMI

JUDUL MATA PRAKTIKUM

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

II. DASAR TEORI


Berisi teori-teori yang berhubungan dengan praktikum terkait. Sumber dari dasar teori
yang digunakan harus dicantumkan. Contoh: dikenal sebagai pektin(Kertesz, 1951).

III. METODOLOGI PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. ....
2. .
Sumber bahan juga harus ditulis, misalnya: Aquadest yang diperoleh dari laboratorium
Proses dan Analisis Bahan.
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian alat
berikut:

Gambar 1. Rangkaian Alat ............................................................

Alat yang digambar hanya alat utama saja. Merk dagang dari alat yang digunakan harus
di cantumkan, contoh: Gelas beker pyrex 250 ml.

vii
viii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

C. Cara Percobaan
Cara kerja berupa uraian secara lengkap dan rinci mengenai tahap-tahap dalam
percobaan.Uraian tersebut dituliskan dalam bentuk narasi menggunakan kalimat pasif.

D. Analisis Data
Berisi persamaan-persamaan yang digunakan untuk perhitungan, lengkap dengan
nomor persamaan dan keterangan dari variabel-variabel yang digunakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berisi hasil percobaan dan penjelasan mengenai hasil percobaan yang diperoleh serta
penjelasan mengenai grafik yang dibuat (jika ada).

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. ....
2. ....

VI. DAFTAR PUSTAKA


Berisi daftar pustaka yang dijadikan acuan dalam penulisan laporan.Cara penulisan
dijelaskan pada bagian selanjutnya.

Yogyakarta, 2017
Praktikan, Praktikan,

Nama Lengkap Praktikan 1 Nama Lengkap Praktikan 2

Asisten,

Nama Lengkap Asisten

viii
ix Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Identifikasi hazard terdiri dari:
Identifikasi hazard proses selama praktikum, merupakan identifikasi kegiatan yang
memiliki potensi bahaya selama praktikum beserta penanganannya. Contoh:
mengambil H2SO4 di lemari asam.
Identifikasi hazard dari bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan. Contoh: HCl.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


Berisi poin-poin alat perlindungan diri apa saja yang harus digunakan selama
percobaan beserta kegunaannya. Contoh: Jas laboratorium lengan panjang.

C. Manajemen Limbah
Berisi poin-poin limbah yang dihasilkan dalam percobaan disertai dengan
penanganannya. Contoh: Sisa larutan NaOH.

D. Data Percobaan
Semua data yang ada di laporan sementara ditulis kembali di bagian ini.

E. Perhitungan
Berisi perhitungan yang diperoleh dari hasil percobaan.

Catatan: Laporan sementara disertakan di akhir laporan.

ix
x Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

KETENTUAN PENGUMPULAN LAPORAN RESMI

1. Laporan resmi yang ditulis tangan dikumpulkan kepada asisten jaga maksimal 1 (satu)
minggu setelah praktikum dilakukan. Setiap praktikan membuat satu laporan ditulis tangan.
2. Laporan dikumpulkan dalam bentuk sudah dijilid rapi.
3. Laporan akan dikoreksi oleh asisten dan dikembalikan kepada praktikan maksimal 1 (satu)
minggu setelah tanggal pengumpulan laporan untuk direvisi oleh praktikan.
4. Laporan yang telah direvisi dikembalikan kepada asisten dengan waktu sesuai dengan
kebijakan asisten.
5. Laporan yang telah di-acc oleh asisten dikembalikan lagi kepada praktikan untuk diketik.
Setiap kelompok membuat satu laporan diketik.
6. Laporan yang telah diketik kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing masing-
masing mata praktikum.
7. Batas waktu pengumpulan laporan resmi yang sudah dikonsultasikan kepada dosen
pembimbing adalah 4 (empat) minggu setelah praktikum dilakukan.
8. Kartu acara harus selalu dibawa pada saat pengambilan dan pengumpulan laporan.

x
xi Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

TATA CARA PENULISAN LAPORAN

1. Laporan yang ditulis tangan ditulis dengan tinta berwarna hitam di kertas folio bergaris,
TIDAK bolak balik.
2. Laporan yang diketik dicetak pada kertas HVS 80 gram/m2 ukuran A4 dengan line spacing
1,5 dan margin: Atas : 4 cm Bawah : 3 cm Kiri : 4 cm Kanan : 3 cm.
3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku.
4. Tidak diperbolehkan menyingkat kata.
5. Menggunakan tanda baca yang tepat.
6. Tidak diperbolehkan menggunakan kata penghubung untuk memulai kalimat.
7. Permulaan kalimat yang berupa bilangan, lambang, atau rumus kimia ditulis dengan kata-
kata. Contoh: NaOH dibuat.... ditulis Natrium hidroksida dibuat....
8. Menggarisbawahi setiap istilah asing (jika ditulis tangan) atau dicetak miring (jika diketik).
Contoh: aquadest atau aquadest.
9. Penulisan sumber dijadikan satu dengan kalimat.
Contoh: ... dikenal sebagai pektin (Kertesz, 1951).
10. Penulisan pada cover menggunakan huruf kapital.
11. Judul mata praktikum ditulis dengan huruf kapital.
Contoh: PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN
12. Judul bab ditulis dengan huruf kapital (jika diketik) dan digaris bawah (jika ditulis tangan).
Contoh:
I. TUJUAN PERCOBAAN (jika diketik)
I. TUJUAN PERCOBAAN (jika ditulis tangan).
13. Daftar/tabel diberi border atas dan bawah dengan garis double dan tidak boleh dipenggal
kecuali lebih dari satu halaman. Nomor dan judul daftar ditempatkan di atas daftar.
14. Yang termasuk gambar adalah gambar alat, bagan serta grafik. Gambar alat merupakan
gambar penampang depan alat utama dan rangkaian alat. Keterangan dituliskan di tempat
yang kosong pada gambar, sedangkan nomor dan judul gambar ditempatkan di bawah
gambar.
15. Penomoran daftar, gambar, persamaan:
Daftar/tabel diberi nomor urut dengan angka romawi besar. Jika diketik tulisan dibuat
bold, sedangkan jika ditulis tangan tulisan diberi garis bawah. Contoh: Daftar I. Data
Hasil.... atau Daftar I.Data Hasil....

xi
xii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Gambar diberi nomor urut dengan angka arab (1, 2, 3, dst.). Jika diketik tulisan dibuat
bold, sedangkan jika ditulis tangan tulisan diberi garis bawah. Contoh: Gambar 1.
Gambar.... atauGambar 1.Gambar....
Persamaan diberi nomor urut dengan angka arab (1, 2, 3, dst.) di dalam kurung pada tepi
kanan. Contoh: CaSO4 + K2CO3 CaCO3 + K2SO4 (1)
16. Ketentuan penulisan daftar pustaka:
Ke bawah menurut abjad nama akhir penulis pertama.
Ke kanan:
Buku: Nama akhir penulis, tahun terbit, judul buku, jilid, edisi ke, nomor halaman,
nama penerbit, kota.
Majalah/ jurnal: Nama akhir penulis, tahun terbit, judul penelitian, nama majalah
(singkatan resmi), jilid, nomor halaman.
17. Ketentuan penulisan nomor halaman:
Laporan tulis tangan:
Jika terdapat bab baru : pojok kanan bawah
Tidak terdapat bab baru : pojok kanan atas
Laporan ketik : pojok kanan bawah
18. Syarat tidak inhall laporan:
Harus sesuai ketentuan (format) laporan.
Seluruh bab dan sub bab harus ada.
Gambar rangkaian alat utama harus ada dan lengkap.

xii
xiii Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM

Di dalam laboratorium praktikan harus:


Mencuci tangan ketika masuk dan keluar laboratorium,dan ketika kontak dengan
bahan-bahan kimia.
Selalu memakai jas laboratorium lengan panjang yang dikancingkan.
Memakai alat perlindungan diri seperti masker, sarung tangan, dan goggle.
Mengikat rambut panjang ke belakang dan memasukkan jilbab ke dalam jas
laboratorium.
Memastikan bahwa label telah sesuai dengan bahan-bahan kimia yang ada di
dalamnya dan dalam kondisi yang baik.
Mencabut dan mematikan aliran listrik dan air di akhir percobaan.

Di dalam laboratorium praktikan dilarang:


Bekerja di luar area kerja.
Menggunakan gelang, kalung, dan lengan yang terlalu longgar.
Bekerja sendiri di laboratorium, khususnya untuk resiko tinggi.
Merokok, makan,dan minum.
Meletakkan makanan di kulkas bersama bahan-bahan kimia.
Menggunakan lensa kontak.
Menggunakan kembali suatu wadah untuk bahan kimia laintanpa membuang label awal.
Membawa bahan kimia dalam saku baju atau saku jas laboratorium.
Menghisap menggunakan mulut.
Menyentuh bahan kimia.
Menyimpan bahan kimia dalam jumlah besar di laboratorium.
Menuangkan bahan kimia ke wastafel.

xiii
xiv Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Beberapa contoh simbol bahaya yang terdapat pada label bahan kimia:

Untuk informasi lebih lengkap lihat poster Keselamatan Kerja di Laboratorium yang ada di
Laboratorium Analisis Bahan.

xiv
15 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN


(A)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui prinsip kerja termometer berisi zat alir dan thermocouple digital.
2. Mengetahui cara menera alat ukur suhu.
3. Menerapkan hasil peneraan untuk pengukuran kenaikan titik didih larutan.
4. Menentukan pengaruh konsentrasi zat terlarut elektrolit atau non elektrolit terhadap
kenaikan titik didih air
II. DASAR TEORI
Suhu (temperatur) merupakan peubah proses yang sangat penting dalam proses-
proses baik dalam skala laboratorium maupun skala industri, karena suhu dapat
mempengaruhi kinerja unit proses yang melibatkan reaksi kimia, maupun unit operasi pada
sistem pemisahan, seperti distilasi, pengeringan, penguapan, penyerapan, kristalisasi, dan
lain-lain. Pada dasarnya suhu berkaitan dengan energi kinetik molekul suatu senyawa.
Suhu dapat didefinisikan sebagai kondisi suatu benda (potensial) yang menentukan
perpindahan kalor (heat) menuju atau dari benda lain, atau secara lebih praktis sebagai
tingkat (derajat) kepanasan (hotness) atau kedinginan (coldness).
Ada beberapa skala (satuan) suhu, seperti Kelvin, Celcius, Fahrenheit, Reamur,
Rankine, dan International Practical Temperature Scale (IPTS). Prinsip kerja alat
pengukur suhu diantaranya adalah :
1. Kenaikan volume benda oleh kenaikan suhu, seperti pada termometer berisi zat alir
(fluida: cair dan gas) dan bimetal (padat).
2. Kenaikan tegangan listrik (emf) akibat naiknya beda suhu pada pasangan logam
(Seebeck Effect), seperti thermocouple digital.
3. Perubahan tahanan suatu bahan (logam maupun semi-logam) akibat perubahan suhu
media yang terukur, seperti bimetal.
4. Kenaikan intensitas radiasi kalor dengan naiknya suhu bahan, seperti pada pyrometer.

15
16 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Secara umum, hubungan antara perubahan suhu dengan perubahan sifat fisis dapat
digambarkan sebagai berikut:

Sifat
fisis

Suhu, 0 C

Gambar 1. Profil Perubahan Suhu dan Sifat Fisis Bahan


Hubungan tersebut dapat digunakan sebagai kurva baku, sehingga perubahan suhu
media dapat diketahui melalui perubahan sifat fisisnya. Alat ukur suhu yang merupakan
salah satu sistem pengukuran mungkin tersusun atas beberapa elemen, seperti ditunjukkan
pada bagan berikut:
Elemen Tran- Pengkondisi Transmisi data/ Pemroses
Media
perasa duser isyarat/ telemetri data
terukur
Primer pengubah

Tampilan data

Pencetak data

Perekam data

Gambar 2. Elemen Sistem Pengukuran Suhu


Termometer dengan prinsip kerja perubahan volume merupakan termometer yang
elemen penyusunnya paling sedikit, yaitu elemen perasa dan elemen penampil.
Termometer berisi cairan mempunyai elemen perasa berupa cairan pengisi, dan elemen
penampil yang berupa gelas kapiler berskala. Demikian juga termometer berisi gas, elemen
perasanya berupa uap/gas, dan elemen penampilnya berupa simpangan. Elemen perasa
termometer bimetal berupa dua lapis logam yang mempunyai muai volume yang berbeda,
dan perubahan elemen perasanya ditunjukkan dengan simpangan.

16
17 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Thermocouple merupakan elemen perasa sekaligus tranduser, karena hasil


pengukurannya berupa tegangan listrik. Pada umumnya, tegangan yang dihasilkan sangat
kecil, sehingga isyarat ini biasanya diolah lebih lanjut dengan penguat dan pengubah
isyarat dari tegangan menjadi suhu, untuk kemudian ditampilkan atau dicetak. Prinsip kerja
bimetal berdasarkan pemuaian dua buah logam yang disusun sedemikian rupa, sehingga
pada saat memuai, panjang kedua logam tidak sama yang diakibatkan oleh koefisien muai
logam yang berbeda.
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung padajenis zat terlarut
tetapi tergantung pada banyaknya partikel zat terlarut dalam larutan. Titik didih adalah
suhu di mana terjadi perubahan wujud zat dari cair ke gas pada tekanan tertentu. Pada
tekanan 1 atm, air mendidih pada suhu 100 C karena pada suhu itu tekanan uap air sama
dengan tekanan udara di sekitarnya. Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih
pelarut disebut kenaikan titik didih (Tb).Kenaikan titik didih tidak bergantung pada jenis
zat terlarut, tetapi hanya tergantung pada konsentrasi partikel (molalitas) dalam
larutan.Oleh karena itu, kenaikan titik didih tergolong sifat koligatif.Molalitas adalah
konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram
pelarut.
Mendidihnya suatu zat cair diamati dari timbulnya gelembung-gelembung udara
yang terbentuk secara terus-menerus pada berbagai bagian zat cair. Dengan adanya zat
terlarut dalam suatu zat cair (pelarut) menimbulkan interaksi antara partikel terlarut dengan
partikel pelarut sehingga tekanan uap larutan akan turun dan menyebabkan titik didih
larutan tersebut akan naik karena energi yang diperlukan oleh pelarut untuk membentuk
uap agar tekanan uap sama dengan tekanan udara di sekitarnya meningkat. Kenaikan titik
didih terjadi pada larutan di mana zat terlarut termasuk zat non-volatil.
Menurut Raoult hubungan antara kenaikan titik didih larutan dengan konsentrasi zat
terlarut adalah sebagai berikut :
Tb m Kb (1)

dengan, Tb = kenaikan titik didih (oC)


K b = tetapan kenaikan titik didih (oC/molal)
m = molalitas larutan (molal)

17
18 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Zat terlarut dalam larutan elektrolit bertambah jumlahnya karena terurai menjadi ion-
ion, sedangkan zat terlarut pada larutan nonelektrolit jumlahnya tetap karena tidak terurai
menjadi ion-ion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif larutan nonelektrolit
lebih rendah daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Oleh karena itu untuk larutan
elektrolit berlaku persamaan :
Tb m K b 1 n 1 (2)

dengan, n = jumlah ion yang dihasilkan


misal untuk NaClNa+ + Cl- maka n=2
= derajat ionisasi zat elektrolit
untuk elektrolit kuat dapat dianggap terionisasi sempurna, 1
Diagram di bawah ini menunjukkan perubahan kenaikan titik didih dan hubungannya
dengan tekanan uap larutan.Semakin rendah tekanan uap larutan, semakin tinggi juga titik
didihnya.Dapat dilihat bahwa penambahan zat terlarut ke dalam solven dapat menurunkan
tekanan uap dan menaikkan titik didih.

Gambar 3.Phase Diagram for a Solvent and its Solution with a Nonvolatile Solute

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Garam dapur (NaCl)

18
19 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

2. Glukosa monohidrat (C6H12O6.H2O)


3. Aquadest
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

Keterangan:
1. Panel instrument
2. Blower
3. Water heater
4. Vacuum flask
5. Bimetal udara
6. Termometer alkohol 1100C
7. Termometer raksa 1100C
8. Tombol on/off temperature
measurement bench
9. Tombol on/off blower
10. Tombol on/off water heater
11. Steker temperature measurement
bench
12. Sensor thermistor
13. Sensor platinum resistance
14. Sensor thermocouple
15. Display platinum resistance
16. Display thermistor
17. Display thermocouple
18. Display tegangan listrik

Gambar 4. Rangkaian Alat Utama Percobaan Peneraan Alat Ukur Suhu

19
20 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Keterangan:
1. Labu Leher tiga
2. Pendingin bola
3. Thermocouple
4. Pemanas mantel
5. Layar Penunjuk Suhu
6. Statif dan klem
7. Steker
8. Pengatur skala
pemanas

Gambar 5. Rangkaian Alat Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan

C. Cara Kerja
Percobaan yang dilakukan meliputi peneraan alat ukur suhu dan pengukuran kenaikan
titik didih larutan.
1. Peneraan Alat Ukur Suhu (Menggunakan Termomemeter Raksa)
a. Pengukuran Suhu Udara
Catat suhu udara yang ditunjukkan termometer raksa, termometer alkohol dan
thermocouple pada udara terbuka setelah suhu yang ditunjukkan alat ukur
konstan.
b. Pengukuran Suhu Air Ledeng
1. Masukkan air ledeng secukupnya kedalam gelas beker 250 mL.
2. Celupkan termometer raksa dalam air ledeng tersebut.
3. Catat suhu termometer raksa setelah nilainya konstan.
4. Ulangi percobaan dengan memakai termometer alkohol dan thermocouple.
c. Pengukuran Suhu Air Mendidih

20
21 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

1. Didihkan air ledeng secukupnya dalam water heater (skala water heater=4).
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocoupledalam
air pada water heater yang sedang mendidih.
3. Catat suhu tiap alat ukur setelah suhunya konstan.
d. Pengukuran Suhu Es Melebur
1. Masukkan es batu ke dalam vacuum flask sampai mencair.
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple
dalam leburan es melalui lubang pada tutup vacuum flask.
3. Catat suhu yang di tunjukkan tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
e. Pengukuran Suhu Udara Panas
5. Pasang termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple pada
lubang yang tersedia pada pipa blower.
6. Hidupkan blower dengan menekan tombol on.
7. Catat suhu tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
f. Pengukuran Suhu Es+Garam
1. Masukkan es batu ke vacuum flask dan menambah garam dapur secukupnya,
lalu membiarkan es batu mencair.
2. Celupkan termometer raksa, termometer alkohol dan probe thermocouple ke
dalam campuran garam dan leburan es melalui lubang pada vacuum flask.
3. Catat suhu tiap alat ukur setelah nilainya konstan.
2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih
a. Pengukuran titik didih aquadest.
1. Ambil 250 mLaquadest dengan gelas beker PYREX 250 mL.
2. Panaskan gelas beker PYREX 250 mL berisi aquadesttersebut di atas kompor
sampai mendidih.
3. Catat suhu didih aquadest yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
b. Pengukuran titik didih larutan gula
1. Timbang gula pasir sebanyak 85,5 gram pada gelas beker 250 mL
menggunakan neraca analitis digital.
2. Masukkan aquadest ke dalam labu ukur 250 mL sampai tanda batas.

21
22 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

3. Larutkan 85,5 gram gula pasir dengan aquadest dari labu ukur 250 mL tersebut
dalam gelas beker 600 mL. Akan diperoleh larutan gula 1 molal.
4. Tuang sebagian larutan gula tersebut (sekitar 100 mL) ke dalam labu leher tiga
500 mL dengan bantuan corong gelas.
5. Panaskan larutan gula dalam labu leher tiga yang dilengkapi pendingin bola di
atas pemanas mantel pada skala 8.
6. Sisa larutan gula yang di belum dimasukkan ke labu leher tiga, dipanaskan di
atas kompor listrik dengan wadah gelas beker PYREX 600 mL sampai suhunya
sekitar 80oC (suhu dicek secara berkala menggunakan thermocouple).
7. Masukkan larutan gula dari langkah 6 ke dalam labu leher tiga.
8. Panaskan larutan gula di dalam labu leher tiga sampai mendidih ditandai
dengan suhu yang konstan.
9. Catat suhu didih larutan gula yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
10. Tuang larutan gula ke dalam gelas beker 600 mL lalu tambahkan 171 gram
gula pasir dan aduk dengan gelas pengaduk hingga homogen.
11. Ulangi langkah 4 sampai 10 dua kali lagi hingga diperoleh 3 data percobaan.
c. Pengukuran titik didih larutan garam
1. Timbang garam dapur(NaCl) sebanyak 14,625 gram pada gelas beker 250 mL
menggunakan neraca analitis digital.
2. Masukkan aquadest ke dalam labu ukur 250 mL sampai tanda batas.
3. Larutkan 14,625 gram NaCl dengan dari labu ukur 250 mL tersebut dalam
gelas beker 600 mL. Akan diperoleh larutan garam 1 molal.
4. Tuang sebagian larutan garam tersebut (sekitar 100 mL) ke dalam labu leher
tiga 500 mL dengan bantuan corong gelas.
5. Panaskan larutan garam dalam labu leher tiga yang dilengkapi pendingin bola
di atas pemanas mantel pada skala 8.
6. Sisa larutan garam yang di belum dimasukkan ke pemanas mantel dipanaskan
di atas kompor listrik dengan wadah gelas beker PYREX600 mL sampai
suhunya sekitar 80oC (suhu dicek secara berkala menggunakan thermocouple).
7. Masukkan larutan garam dari langkah 6 ke dalam labu leher tiga.

22
23 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

8. Panaskan larutan garam di dalam labu leher tiga sampai mendidih ditandai
dengan suhu yang konstan.
9. Catat suhu didih larutan garam yang ditunjukkan termometer alkohol dan
thermocouple.
10. Tuang larutan garam ke dalam gelas beker 600 mL lalu tambahkan 29,25 gram
garamdan aduk dengan gelas pengaduk hingga homogen.
11. Ulangi langkah 4 sampai 10 dua kali lagi hingga diperoleh 3 data percobaan.

D. Analisis Data
1. Peneraan Alat Ukur Suhu
Hubungan antara suhu yang ditunjukkan termometer raksa (T1, K) dengan suhu yang
ditunjukkan alat ukur yang ditera (T2, K) dinyatakan dengan persamaan:
T2 AT1 B (3)
Dengan regresi linier (least-square method) diperoleh :
n T1 T2 T1 T2
A (4)
n T12 T1
2

B
T 2 A T1
(5)
n
Data untuk perhitungan regresi linier disajikan dalam tabel :
No T1 T2 T12 T1 x T2


Dari nilai A dan B, diperoleh persamaan linier hubungan suhu termometer raksa
dengan suhu termometer yang ditera.
Kesalahan relatif persamaan terhadap data percobaan dihitung sebagai berikut:

T2 persamaan T2 percobaan
Kesalahan relatif 100 o o (6)
T2 persamaan

23
24 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Data disajikan dalam bentuk tabel:


No T1 T2 percobaan T2 persamaan Kesalahan relatif

Kesalahan relatif rata rata


Kesalahan relatif (7)
n
dengan, n = jumlah data
Grafik hubungan suhu termometer raksa dengan suhu termometer yang ditera
dapat dibuat dengan mengeplot nilai T2 hasil persamaan dan nilai T2 hasil
percobaan terhadap nilai T1.
Peneraan dilakukan terhadap termometer alkohol dan thermocouple digital.Grafik
masing-masing dibuat terpisah dan dilampirkan di pembahasan.

2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan


Suhu yang didapat dari percobaan kenaikan titik larutan, dimasukkan ke
persamaan yang Anda dapatkan dari perhitungan peneraan alat ukur suhu. Persamaan
yang digunakan untuk menera hasil suhu terukur ditulis kembali dan disajikan dalam
bentuk T1=f(T2) :
T2 B
T1 (8)
A
Persamaan (8) untuk termometer alkohol dan thermocouple.
Hasil perhitungan peneraan alat ukur suhu disajikan dalam tabel berikut:

24
25 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Suhu terukur dari percobaan Suhu hasil peneraan terhadap


(T2) termometer raksa (T1)
No Bahan
Termometer Thermocouple, Termometer Thermocouple,
alkohol, K K alkohol, K K
1. Aquadest
2.
3. Garam
4.
5
6 Gula
7

Suhu yang telah ditera inilah yang kemudian digunakan untuk menghitung
kenaikan titik didih atau Tb pada bagian kenaikan titik didih larutan.
Molalitas larutan dihitung dengan persamaan berikut
1000
= (9)

dengan, = ()

= (58,5 )


(180 )

= = 250

Kenaikan titik didih hasil percobaan dihitung menggunakan perssamaan berikut


= (10)
dengan, = kenaikan titik didih (0C)
= titik didih larutan (0C)
= titik didih aquadest (0C)
Kenaikan titik didih untuk larutan non elektrolit dihitung menggunakan
persamaan berikut

25
26 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

= (11)
dengan, = kenaikan titik didih (0C)
= molalitas larutan (molal)
= konstanta kenaikan titik didih (0C/molal)
Kenaikan titik didih untuk larutan elektrolit dihitung menggunakan persamaan
berikut
= [1 + ( 1)] (12)
dengan, = kenaikan titik didih (0C)
= molalitas larutan (molal)
= konstanta kenaikan titik didih (0C/molal)
= jumlah ion
= derajat ionisasi
0
Nilai untuk adalah 0,52 (Ebbing, 1990).

Hasil perhitungan disajikan dalam tabel berikut :


Tlarutan (K) Molalitas percobaan
NO Larutan
T.alkohol Thermocouple (m) rumus (K) T. alkohol Thermocouple
1
Garam
2
dapur
3
4
5 Gula
6

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Deskripsi singkatmengenai tujuan dan manfaat percobaan.
Pembahasan dibahas per tahap prosedur kerja. Uraikan sedikit prosedur kerja, diikuti
dengan pembahasan terkait tahap tersebut.
Asumsi yang diambil dalam melakukan percobaan dan perhitungan pada tahap tersebut
serta mengapa asumsi tersebut Anda ambil.
Kesulitan-kesulitan yang dialami pada tahap tersebut.

26
27 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Grafik hasil peneraan termometer alkohol dan thermocouple terhadap termometer raksa.
Bahas persamaan yang paling mewakili data percobaan berdasarkan kesalahan relatif
dan jika ada hasil yang menyimpang.
Grafik molalitas terhadap Tb dengan thermocouple dan termometer raksa pada larutan
gula dan garam (2 grafik). Data percobaan ditampilkan dalam bentuk titik-titik
(jangan disambung dengan garis). Hasil perhitungan Tb menggunakan persamaan
ditampilkan dalam garis lurus (tanpa titik-titik). Bahas grafiknya, jika terdapat
penyimpangan antara data percobaan dengan garis persamaan, berikan alasannya.
Tidak perlu menuliskan penyebab kesalahan relatif.

V. KESIMPULAN
Buatlah kesimpulan yang sesuai dengan tujuan percobaan dan hal-hal yang anda temukan
dalam pelaksanaan praktikum.Jangan menulis ulang tujuan, cara kerja, dan dasar teori
di bagian kesimpulan.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Brown, G.G., Fourst, A.S., and Scherdewind, R., 1950, Unit Operation, pp. 541-547,
John Wiley and Sons, Inc., New York.
Considine, D.M., 1957, Process Instruments and Controls Handbook, McGraw-Hill
Book Company, Inc., New York.
Eckman, D.P., 1966, Industrial Instrumentation, Wiley Eastern Ltd., John Wiley and
Sons, Inc., New York.
Jones, B.E., 1980, Instrumentation, Measurements, and Feedback, Tata McGraw-Hill
Publishing Company, Ltd., New Delhi.
Perry, R.H., and Green, D.W., 1984, Perrys Chemical Engineers Handbook, 6th ed., pp.
3-45, 3-127, 3-248, 12-3, 12-8, McGraw-Hill Company, Inc., New York.
Smith, J.M. and Van Ness, 1975, Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics, 3rd ed., pp. 573, McGraw-Hill Kogakusha, LTD., Tokyo.
Treybal, R.E., 1981, Mass Transfer Operation, 3rd ed., pp. 227-231, 237, McGraw-Hill
Kogakusha, LTD., Japan.

27
28 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

VII.LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
a. Proses
b. Alat
c. Bahan
Penanganan Hazard

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


a. Jas laboratorium lengan panjang
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Sepatu tertutup

C. Manajemen Limbah

D. Data Percobaan

E. Perhitungan

28
29 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
PENGUKURAN SUHU DAN KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN
(A)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari/tanggal :
Asisten : Kanda Wiba Pratama/Annisa Amalia Ulfah

Data Percobaan
1. Peneraan Alat Ukur Suhu
Media Terukur Termometer Raksa (C) Termometer Alkohol (C) Thermocouple(C)
Air mendidih
Udara blower
Udara
Air
Es Melebur
Air es + garam
2. Pengukuran Kenaikan Titik Didih Larutan
Tekanan : 1 atm
Titik didih aquadest (pelarut) : Thermocouple :
: Termometer alkohol :
Massa pelarut : 250 gram
No. Titik didih (oC)
Larutan Massa (gram)
Termometer alkohol Thermocouple

1. Garam +
+ +

2. Gula +
+ +
Yogyakarta, 2017
Asisten jaga, Praktikan,
1.
2.
3.

29
30 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA


(B)

I. TUJUANPERCOBAAN

Tujuan dari percobaan ini adalah membuat kurva standar hubungan antara tinggi
pelampung dalam rotameter cairan dengan laju alirair dan kurva standar hubungan antara
tinggi pelampung dalam rotameter gas dengan laju alir udara.

II. DASARTEORI

Dalam perancangan alat dan pemipaan dalam industri terdapat beberapa besaran
yang perlu diperhatikan. Selain sifat fluida itu sendiri seperti densitas dan viskositas fluida,
debit fluida dan laju alir fluida juga memegang peranan penting. Terdapat beberapa pilihan
alat yang dapat digunakan untuk mengukur laju alir fluida, salah satunya adalah rotameter.

Rotameter berbentuk tabung yang terbuat dari gelas, kaca, atau plastik yang
transparan. Tabung ini memiliki diameter atas yang sedikit lebih besar dibandingkan
diameter bawahnya. Pada dinding rotameter terdapat garis-garis skala ukuran panjang
untuk mengukur ketinggian float atau pelampung yang terdapat di dalam tabung.

Bahan pelampung dapat diganti-ganti sesuai dengan rapat massa dan laju maksimum
zat cair yang diukur. Pelampung dapat bergerak naik dan turun secara bebas, karena
didorong oleh zat alir yang mengalir dari bagian bawah rotameter ke atas. Pada keadaan
stabil, yaitu ketika tinggi pelampung tidak lagi berubah-ubah, terbentuk keseimbangan
gaya dimana gaya ke atas akibat laju alir fluida dan gaya gesek pelampung sama dengan
gaya beratpelampung.

Rotameter bekerja dengan prinsip beda tekanan tetap. Semakin besar perbedaan
tekanan, laju alir fluida menjadi semakin besar yang menyebabkan ketinggian pelampung
juga semakin besar karena gaya dorong dari fluida yang bertambah kuat.

Pada pengukuran laju alir cairan, pengukuran dapat dilakukan langsung dengan
mengukur debit cairan yang tertampung selama jangka waktu tertentu, berbeda dengan
pengukuran laju alir gas. Pengukuran laju alir gas dilakukan secara tidak langsung, dengan

30
31 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

mengukur debit air yang terdesak oleh aliran gas. Dalam hal ini diasumsikan volume air
yang terdesak sama dengan volume gas yang mengalir.

Kalibrasi dapat didefinisikan sebagai suatu operasi untuk mencari hubungan antara
suatu kuantitas dari suatu alat ukur dan kuantitas terkait berdasarkan suatu standar pada
kondisi tertentu. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah hasil kalibrasi tersebut hanya
berlaku pada kondisi saat kalibrasi dilakukan.

Kalibrasi suatu alat ukur laju alir fluida menghasilkan hubungan antara suatu
variabel bebas dengan laju alir fluida. Misalnya pada rotameter, dihasilkan hubungan
antara variabel bebas tinggi pelampung dalam rotameter dengan variabel terikat laju alir
fluida. Laju alir fluida dapat dinyatakan dalam massa per satuan waktu, volume per satuan
waktu, dan besaran lain yang berhubungan dengan laju alirfluida.

Alat ukur laju alir dapat dikalibrasi secara gravimetrik dengan menimbang berat
fluida yang tertampung di dalam suatu bejana. Selain itu, alat ukur laju alir juga dapat
dikalibrasi secara volumetrik dengan mengukur volume fluida yang tertampung dalam
bejana.

Idealnya, semua alat ukur laju alir dikalibrasi secara in situ, untuk menghindari
perbedaan fluida dan pengaruh instalasi terhadap kalibrasi alat ukur laju alir.

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN

A. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

1. AirLedeng

2. Udara

31
32 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B. Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar rangkaian alat
berikut :
Keterangan
:
5 1. Statif
2. Pipa pengeluaranair
3. Rotameter
4. Float(Pelampung)
5. Bak penampungair
6. Pipa pengatur aliran kebak
7. Pipaoverflow
8. Pipa pengatur aliran
kerotameter

Gambar 1. Rangkaian Alat Percobaan Pengukuran Laju Alir Zat Alir Cairan
Keterangan:
1. Pressuregauge
2. Kranoverflow
3. Kompresor
4. Kran pengaturaliran
5. Rotameter
6. Float(Pelampung)
7. Pipapengeluaran
8. Botol penampungair
9. Statif
10. Kranoverflow
11. Kran pengatur alirangas
12. Tabungpengaman
Gambar 2. Rangkaian Alat Percobaan Pengukuran Laju Alir Zat Alir Gas

32
33 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

IV. Cara Kerja

Peneraan Laju Alir Zat Cair

1. Ukur suhu air ledeng di gelas ukur dengan termometer alkohol 110 oC.
2. Buka kran pemasukan untuk mengisi bak penampungan air hingga penuh dan
terjadi aliranoverflow.
3. Atur ketinggian float pada ketinggian 6,0cm.
4. Ukur debit cairan yang mengalir dalam rotameter pada selang waktu 5 0,20 detik
dengan menggunakan stopwatch dan gelas ukur 50 mL atau 100mL.
5. Catat volume air tertampung dan waktu stopwatch.
6. Lakukan pengambilan data sebanyak 5 kali berurutan untuk ketinggian float yang
sama.
7. Debit untuk ketinggian float yang lain 5,5; 5,0; 4,5; 4,0; 3,5; 3,0; 2,5; 2,0; 1,5 cm.

Peneraan Laju Alir Zat Gas


1. Ukur suhu udara dengan termometerruangan.
2. Siapkan rangkaian alat dan tutup semua kran pada rangkaian alat.
3. Isi botol penampung dengan air hingga tandabatas.
4. Atur ketinggian cairan pada selang pengeluaran akhir dengan tinggi cairan pada
botol penampung agarsejajar.
5. Nyalakan kompresor dan isi kompresor dengan udara hingga tekanan 5kg/cm.
6. Buka kran penghubung tabung pengaman dan kompresor sehingga tabung gas
pengaman terisi udara.
7. Catat tekanan udara di kompresor dan buka kran penghubung tabung gas dan
rotameter.
8. Atur ketinggian float rotameter 10,0 cm dengan menggunakan kran pada tabung
pengaman dan dijagaagar tetap konstan.
9. Ukur debitaliranyangkeluarpadaselangwaktu30,20detikdenganbantuanstopwatch
dan gelas ukur 50 mL.
10.Catat volumer air tertampung dan waktu di stopwatch. Lakukan pengambilan data
sebanyak 5 kali untuk ketinggian float yangsama.
11.Debit untuk ketinggian float yang lain 8,0 ;6,0 ; 4,0 ; 2,0cm.
33
34 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

12.Catat tekanan akhir udara yang tersisa di kompresor.


13.Keluarkan udara yang tersisa di dalam kompresor dan tabung pengaman secara
perlahan.

V. Analisis Data

1. Menghitung nilai debit fluida (Q) dengan membuat tabel ketinggian (h),volume (V),
waktu (t), dan debit fluida(Q)
h, cm V, cm3 t, s Q, cm3/s
h1 V1 T1 Q1
h2 V2 T2 Q2
...

...

...

...
Hn Vn tn Qn
2. Menentukan Hubungan Debit Fluida Cair dan Gas Q dengan Ketinggian Float(h)

a. Dengan PendekatanLinear

= + (1)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear hingga didapatkan nilai konstanta a


dan b untuk persamaan(1)

= 2 ()2
(2)


= (3)

= 1 + 2 + 3 + + (4)

= 1 + 2 + 3 + + (5)

2 = 12 + 22 + 32 + + 2 (6)

= 1 1 + 2 2 + 3 3 + + (7)

b. Dengan pendekatanLogaritmik

= (8)

34
35 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Melakukan linearisasi sehingga diperoleh persamaan :

ln = ln + ln (9)

Dengan pemisalan dituliskan kembali menjadi :

=+ (10)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear seperticara di poin (a)

c. Dengan pendekatanEksponensial

= . (11)

Persamaan dapat diturunkan menjadi :

ln = ln + . (12)

Dengan pemisalan dituliskan kembali menjadi :

=+ (13)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear seperti cara di poin (a)

3. Menentukan nilai R-square masing-masingpendekatan


SST (Total Sum of Squares)
= ( )2 (14)
= (1 )2 + (2 )2
+ + ( )2 (15)

= (16)

SSE (Sum of Square Due toError)


= ( )2 (17)

= ( 1 1 )2 + ( 2
2 )2 + + ( )2 (18)

Q persamaan diperoleh dari persamaan hubungan Q dan h hasil linearisasi tiap


pendekatan.

35
36 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

SSR (Sum of Square Due to Regression)


= (19)

2 = (20)

VI. HASIL DANPEMBAHASAN

Hasil yang harus dibahas :

- Penjelasan singkat mengenai tujuan dan prosedur percobaan setiaptahapnya.

- Penjelasan umum flowmeter, prinsip kerja rotameter, dan fungsi float padarotameter.

- Asumsi yang diambil dalam melakukanpercobaan.


- Pembahasan hubungan / trend debit fluida dengan ketinggian float berdasarkan data
percobaan.
- Pembahasan setiap metode pendekatan yang dilakukan berdasarkan
hasilperhitungan.Pilihdua metode yang paling sesuai dan penjelasan mengapa memilih
metode tersebut.
- Kurva standar hubungan antara tinggi pelampung (float) dalam rotameter cair dan gas
dengan laju alir fluida (cair dan gas) serta tujuan dibuat kurva tersebut. Pembahasan
mengenai kurva dan persamaan yang diperoleh kemudian dibandingkan denganteori.

- Penjelasan nilaiR-square.

VII. KESIMPULAN

Buatlah kesimpulan berdasarkan hasil percobaan. Jangan menulis ulang tujuan, cara
kerja, dan dasar teori di bagian kesimpulan.

36
37 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

VIII. DAFTARPUSTAKA

Brown, G.G., 1950, Unit Operations, John Wiley and Sons, Inc., New York.

McCabe, W.L., Smith , C.J., and Harriot, P., alih bahasa Jisyi, E.,Operasi Teknik Kimia
Jilid I, edisi ke-4, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Paton, R., 2005, Calibration and Standards in Flow Measurement, pp. 1-3, 5, National
Engineering Laboratory, Scotland.

Perry, R.H. and Green, D.W.,1997, Perrys Chemical Engineers Hand Book, 7 ed.,
McGraw-Hill Book Co., Singapore.

IX. LAMPIRAN

A. Identifikasi Hazard Proses dan BahanKimia

Semua bahan yang digunakan untuk praktikum ini diidentifikasi tingkat ke-
hazard-annya sesuai dengan MSDS dan proses praktikum yang berbahaya
diidentifikasi dan disertakan cara penanganannya.

B. Penggunaan Alat PerlindunganDiri

1. Jas laboratorium lenganpanjang

2. Masker

3. Sarungtangan

4. Sepatu tertutup

5.
C. ManajemenLimbah

Setiap limbah yang dihasilkan dalam praktikum dijelaskan dibuang kemana dan
disertai alasan. Limbah praktikum ini berupa air ledengdan udara bertekanan.

37
38 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

D. Perhitungan

1. Menghitung nilai debit fluida (Q) dengan membuat tabel ketinggian (h),volume
(V), waktu (t), dan debit fluida(Q)
h, cm V, cm3 t, s Q, cm3/s
h1 V1 T1 Q1
h2 V2 T2 Q2
...

...

...

...
hn Vn tn Qn
2. Menentukan Hubungan Debit Fluida Cair dan Gas Q dengan Ketinggian Float(h)
a. Dengan PendekatanLinear

= + (1)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear hingga didapatkan nilai konstanta a


dan b untuk persamaan(1)

= (2)
2 ()2


= (3)

= 1 + 2 + 3 + + (4)

= 1 + 2 + 3 + + (5)

2 = 12 + 22 + 32 + + 2 (6)

= 1 1 + 2 2 + 3 3 + + (7)

b. Dengan pendekatanLogaritmik

= + (8)

Melakukan linearisasi sehingga diperoleh persamaan :

ln = ln + ln (9)

Dengan pemisalan dituliskan kembali menjadi :

38
39 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

=+ (10)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear seperticara di poin (a)

c. Dengan pendekatanEksponensial

= . (11)

Persamaan dapat diturunkan menjadi :

ln = ln + . (12)

Dengan pemisalan dituliskan kembali menjadi :

=+ (13)

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear seperti cara di poin (a)

3. Menentukan nilai R-square masing-masingpendekatan


SST (Total Sum of Squares)
= ( )2 (14)
= (1 )2 + (2 )2
+ + ( )2 (15)

= (16)

SSE (Sum of Square Due toError)


= ( )2 (17)

= ( 1 1 )2 + ( 2
2 )2 + + ( )2 (18)

Q persamaan diperoleh dari persamaan hubungan Q dan h hasil linearisasi tiap


pendekatan.

SSR (Sum of Square Due to Regression)


= (19)

2 = (20)

39
40 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA
(B)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari/tanggal :
Asisten : Ivone Marselina Nugraha / M. Ismail Hamidiy.

DATA PERCOBAAN
1. Peneraan Laju Alir Zat Cair
h(cm) 6,0 5,5 5,0
T (C) C C C

Q=V/t
(cm3/s)

4,5 4,0 3,5


C C C

3,0 2,5 2,0


C C C

1,5
C

40
41 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

2. Peneraan Laju Alir Gas


P awal : kg/cm
P akhir : kg/cm
T udara : C

h(cm) 10,0 8,0

Q =V/t
(cm3/s)

6,0 4,0

2,0

Yogyakarta, 2017
Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.

3.

41
42 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI


(C)

I. TUJUAN PERCOBAAN
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Memahami dan mempraktikkan cara pengukuran rapat massa dan konduktansi
dengan alat ukur.
2. Menentukan konsentrasi larutan sampel dengan mengukur rapat massa dan
konduktansinya dengan bantuan kurva standar.

II. DASAR TEORI


A. Rapat Massa
Rapat massa atau densitas didefinisikan sebagai massa persatuan volume
yang biasa dilambangkan dengan dan dapat dirumuskan dengan persamaan
:
m
(1)
v
Rapat massa umumnya mempunyai satuan kg/m 3 atau gram/ml. Massa
(m) dan volume (V) adalah sifat ekstensif, artinya nilainya tergantung pada
jumlah bahan yang sedang diselidiki, sedangkan densitas adalah sifat intensif
yang nilainya tidak tergantung pada jumlah bahan yang diselidikiatau nilainya
tetap untuk suatu kondisi yang tetap pula.
Disamping rapat massa ada istilah specific gravity yang didefinisikan
sebagai perbandingan antara rapat massa yang diukur dengan rapat massa
pembanding (referensi). Specific gravity tidak mempunyai satuan karena
merupakan suatu perbandingan. Umumnya yang dijadikan rapat massa
referensi adalah rapat massa aquadest murni pada suhu 4 C dan pada tekanan
atmosferik (1 atm) karena pada suhu dan tekanan tersebut rapat massa dari air
adalah 1 gram/mL. Specific gravity dilambangkan dengan Sg yang dapat
dirumuskan dengan persamaan :
c a i r a n
Sg (2)
a q u a d e s t

42
43 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Rapat massa dipengaruhi oleh beberapa faktor :


1. Konsentrasi larutan.
Semakin besar konsentrasi larutan maka rapat massa dari larutan itu
juga akan bertambah. Hal ini disebabkan karena semakin besar
konsentrasinya, maka jumlah dari partikel yang terlarut juga bertambah
sehingga rapat massanya juga akan bertambah besar.
2. Suhu dan tekanan.
Untuk cairan, rapat massa hanya sedikit berubah bila terjadi
perubahan suhu atau tekanan karena sifat dari cairan yang incompressible,
sedangkan untuk gas, rapat massa sangat dipengaruhi oleh suhu dan
tekanan.Pada umumnya semakin tinggi suhu, maka volume dari fluida akan
bertambah besar. Rapat massa berbanding terbalik dengan volume,
sehingga jika volume dari fluida bertambah maka rapat massanya akan
berkurang. Sedangkan tekanan tidak mempunyai pengaruh langsung
terhadap rapat massa, namun tekanan berpengaruh terhadap suhu. Jika
tekanan bertambah maka suhu juga akan meningkat.
3. Fasa dari zat yang diukur rapat massanya.
Tiap fasa dari zat mempunyai rapat massa yang berbeda. Secara
umum perbandingan dari rapat massa untuk tiap fasa dari yang terbesar
hingga yang terkecil adalah fasa padat, cair dan gas.
Rapat massa cairan dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai alat
antara lain dengan menggunakan piknometer, hidrometer, dan neraca
Wesphalt. Untuk padatan dapat digunakan metode Archimedes. Pada
percobaan ini digunakan piknometer dan hidrometer.
Prinsip pengukuran rapat massa dengan piknometer adalah dengan
mengukur massa dari cairan menggunakan neraca analitis digital dan
kemudian dibandingkan dengan volume piknometer yang telah diketahui
sehingga dapat diperoleh rapat massanya. Pada percobaan ini, suhu yang
digunakan adalah suhu lingkungan.
Prinsip pengukuran dengan hidrometer adalah memakai hukum
Archimedes dimana gaya keatas yang diberikan oleh cairan sama dengan berat
hidrometer tersebut. Rapat massa fluida berbanding terbalik dengan tinggi
bagian hidrometer yang tercelup. Makin besar rapat massa dari suatu cairan,
maka bagian dari hidrometer yang tercelup akan semakin sedikit.

43
44 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B. Konduktometri
Konduktansi adalah kebalikan dari tahanan, atau bisa ditulis:
1
Konduktansi (3)
R
Parameter penting yang banyak digunakan dalam mempelajari
mekanisme penghantaran listrik dalam larutan adalah kebalikan dari tahanan
spesifik yang disebut konduktansi spesifik ( ), mempunyai satuan -1m-1 atau
sering disebutdengan S adalah siemen. Dalam suatu larutan elektrolit muatan
listrik akan dibawa oleh ion-ion. Ion-ion positif (kation) akan bergerak dalam
larutan menuju katoda (kutub negatif) sedangkan ion-ion negatif (anion)
bergerak menuju anoda. Ion-ion yang paling mudah tereduksi atau teroksidasi
mungkin akan menerima atau melepaskan elektron sehingga akan
menyebabkan perubahan komposisi larutan akibat penghantaran arus searah.
Konduktivitas larutan elektrolit tergantung pada tiga faktor: jumlah
muatan, mobilitas, dan konsentrasi ion. Ion dengan dua muatan misalnya A2-
akan mampu menghantarkan dua kali muatan listrik yang dapat dihantarkan
ion A1-. Mobilitas ion adalah kecepatan bergerak ion dalam larutan. Mobilitas
ion dipengaruhi olah sifat-sifat solven, beda tegangan listrik, dan ukuran ion
(yakni semakin besar ion akan semakin kurang mobilitasnya). Mobilitas ion
juga dipengaruhi oleh suhu dan viskositas dari solven. Untuk ion, solven, dan
suhu tertentu, konduktansi ditentukan oleh konsentrasi ion. Oleh karena itu,
konsentrasi ion dapat ditentukan berdasar nilai konduktansi larutan.
Konsentrasi merupakan variabel yang penting dalam larutan elektrolit maka
biasanya konduktivitas larutan elektrolit dihubungkan dengan konsentrasi
melalui besaran konduktivitas ekivalen yang didefinisikan sebagai :

(4)
Ceq
dengan: = konduktivitas ekivalen
= konduktivitas per satuan volume larutan
Ceq = konsentrasi ekivalen larutan
Dalam literatur (Dean,1992) pada umumnya data ekivalen konduktansi
diberikan dalam satuan -1.cm2. gram ekivalen-1 sedangkan konsentrasi sering
diberikan dalam grek/liter dan dalam -1.cm-1, maka persamaan di atas
sering ditulis dalam bentuk:

44
45 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

1000
(5)
Ceq
Karena masing-masing ion adalah bermuatan listrik, maka dalam larutan
akan terjadi interaksi elektrostatik (saling tolak atau saling tarik) diantara ion-
ion tersebut. Interaksi ini akan semakin besar dengan semakin tinggi
konsentrasi. Maka hanya dalam keadaan sangat encer (infinite solution) sajalah
larutan elektrolit akan berkelakuan ideal. Maka biasanya pengukuran
dilakukan konsentrasi larutan elektrolit dengan prinsip konduktometri harus
dilakukan dengan pengenceran atau untuk larutan yang sangat encer.

Gambar1. Prinsip Penghantaran Listrik Berdasarkan Wheatstone

Konduktometer pada dasarnya adalah alat pengukur konduktansi yang


biasanya berupa sebuah jembatan Wheatstone dan cell konduktivitas seperti
yang secara skematik terlihat dalam Gambar 1.Tahanan A adalah sebuah cell
yang berisi sampel yang ditinjau.Tahanan B adalah tahanan variabel
sedangkan tahanan D dan E sudah tertentu harganya.Tahanan B dan kapasitor
C dapat diatur hingga titik setimbang dapat tercapai. Dalam keadaan ini
berlaku persamaan:
RA RD
(6)
RB RE
dengan mengetahui harga tahanan B, D, dan E, maka tahanan (dan juga
konduktansi) dari cell dapat ditentukan.
Nilai konduktometri dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
a) Suhu

45
46 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Pada suhu yang semakin tinggi, ternyata mobilitas elektron bergerak


semakin cepat. Hal ini disebabkan pada suhu tinggi elektron akan menyerap
energi dari lingkungan untuk melakukan ionisasi. Semakin banyak jumlah
ion-ion dalam larutan, mengakibatkan semakin besar nilai dari
konduktansinya.

b) Konsentrasi
Konduktansi juga dipengaruhi oleh konsentrasi. Semakin besar
konsentrasi menyebabkan semakin besarnya konduktansi. Hal ini
disebabkan pada laruta yang pekat interaksi ionnya akan semakin mudah
jika dibandingkan dengan larutan yang encer. Selain itu konsentrasi yang
besar juga akan menyebabkan tumbukan partikel semakin sering, yang
memberi dampak pada semakin banyak pula ion yang dihasilkan, dan oleh
karena itu konduktansi dari suatu larutan elektrolit akan semakin besar.
Konduktansi akan menghasilkan hasil yang akurat apabila diukur pada
larutan yang encer. Karena ion-ion yang terdapat pada larutan yag encer
mempunyai mobilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan larutan pekat.

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Natrium klorida (NaCl)
2. Aquadest
3. Air ledeng
B. Rangkaian Alat Percobaan

Keterangan:
1. Gelas Ukur 250 mL
2. Hidrometer
3. Fluida cair yang diukur
4. Beban pemberat hidrometer

Gambar 2. Rangkaian Alat Pengukuran Rapat Massa dengan Hidrometer

46
47 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Keterangan :
1. Neraca analisis digital
2. Pintu neraca
3. Display
4. Pan neraca
5. Tombol On/Off
6. Tombol re-zerro
7. Tombol konversi
8. Piknometer 25 mL+tutup
9. Steker

Gambar 3. Rangkaian Alat Pengukuran Rapat Massa Fluida Cair dengan


Piknometer 25 mL dan Neraca Analisis Digital

Keterangan :
1. Gelas beker
2. Konduktometer
4 3. Probe
4. Penyangga probe
3 5. Steker

5 2 1

Gambar 4. Rangkaian Alat Pengukuran Konduktansi

C. Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan NaCl Berbagai Konsentrasi
a. Timbang NaCl sebanyak 25 gram dengan bantuan gelas arloji dan
menggunakan neraca analitis digital.
b. Larutkan NaCl dengan aquadest sebanyak 300 mL di dalam gelas beker
500 mL dan aduk hingga homogen.
c. Masukkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 500 mL dengan bantuan
corong gelas dan tambahkan aquadest hingga tanda batas, kemudian
gojog larutan hingga homogen.
d. Tuangkan larutan tersebut ke dalam gelas beker 500 mL.

47
48 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

e. Ambil 100 mL larutan NaCl yang telah dibuat dengan menggunakan


gelas ukur 100 mL, kemudian masukkan ke dalam labu ukur 500 mL.
Tambahkan aquadest hingga tanda batas dan gojog larutan hingga
homogen.
f. Tuang larutan NaCl yang telah diencerkan tersebut ke dalam gelas beker
500 mL.
g. Ambil 100 mL larutan NaCl yang telah diencerkan, kemudian masukkan
ke dalam labu ukur 500 mL. Tambahkan aquadest hingga anda batas dan
gojog larutan hingga homogen.
h. Tuang larutan NaCl yang telah diencerkan tersebut ke dalam gelas beker
500 mL.

2. Pengukuran Rapat Massa Berbagai Cairan dengan Menggunakan


Piknometer pada Suhu Percobaan
a. Ukur suhu percobaan (lingkungan) dengan menggunakan termometer
alkohol dan catat hasil pengukurannya.
b. Timbang piknometer kosong dengan neraca analitis digital dan catat
hasil pengukurannya.
c. Isi piknometer dengan aquadest hingga penuh dengan bantuan pipet
tetes, kemudian tutup piknometer hingga tidak ada udara di dalamnya.
Timbang piknometer tersebut dan catat hasil pengukurannya.
d. Keluarkan aquadest pada piknometer, kemudian cuci dan keringkan
piknometer tersebut.
e. Ulangi langkah percobaan c dan d untuk pengukuran rapat massa air
ledeng, larutan NaCl berbagai konsentrasi, dan larutan sampel.

3. Pengukuran Rapat Massa Berbagai Cairan dengan Menggunakan


Hidrometer pada Suhu Percobaan
a. Tuang aquadest ke dalam gelas ukur 250 mL.
b. Ukur rapat massaaquadest dengan memasukkan hydrometer 0,900
1,000 gr/mL atau 1,000 1,200 gr/mL dengan perlahan-lahan.
c. Baca skala hidrometer dan catat hasil pengukuran.
d. Ulangi langkah percobaan a sampai c untuk pengukuran rapat massa air
ledeng, larutan NaCl berbagai konsentrasi, dan larutan sampel.

48
49 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

4. Pengukuran Rapat Massa Larutan NaCl dengan Menggunakan Hidrometer


pada berbagai Suhu
a. Siapkan baskom plastik berisi air dan es batu.
b. Tuang larutan NaCl hasil pengenceran 25x sebanyak 250 mL ke dalam
gelas beker 250 mL, kemudian dinginkan larutan tersebut hingga suhu
larutan 20C.
c. Setelah suhu larutan mencapai 20C, tuang larutan tersebut ke dalam
gelas ukur 250 mL dan ukur rapat massa larutan dengan menggunakan
hidrometer 0,900 1,000 gr/mL atau 1,000 1,200 gr/mL dengan
perlahan-lahan. Catat hasil pengukurannya.
d. Panaskan larutan NaCl hasil pengenceran 25xtersebut dengan
menggunakan kompor listrik hingga suhu larutan 40C.
e. Setelah suhu larutan mencapai 40C, tuang larutan tersebut ke dalam
gelas ukur 250 mL dan ukur rapat massa larutan dengan menggunakan
hidrometer 0,900 1,000 gr/mL atau 1,000 1,200 gr/mL dengan
perlahan-lahan. Catat hasil pengukurannya.
f. Ulangi langkah percobaan b sampai e untuk larutan NaCl hasil
pengenceran 5x dan larutan NaCl hasil pengenceran 1x.

5. Pengukuran Konduktansi Larutan NaCl Berbagai Konsentrasi pada


Berbagai Suhu
a. Tuang aquadest sebanyak 250 mL ke dalam gelas beker 250 mL.
b. Letakkan gelas beker 250 mLtersebut ke dalam baskom plastik yang
berisi air es dan dinginkan larutan hingga suhu larutan 20C.
c. Ukur konduktansi aquadest pada suhu 20C tersebut dengan
menggunakan konduktometer dan catat hasil pengukurannya.
d. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 250
mL.
e. Panaskan aquadest tersebut dengan menggunakan kompor listrik hingga
suhu larutan 40C.
f. Ukur konduktansi aquadest pada suhu 40C tersebut dengan
konduktometer dan catat hasil pengukurannya.

49
50 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

g. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 250
mL.
h. Ulangi langkah percobaan a sampai g untuk air ledeng, larutan NaCl
berbagai konsentrasi.

6. Pengukuran Konduktansi Larutan Sampel pada Suhu Percobaan


a. Tuang larutan sampel sebanyak 250 mL le dalam gelas beker 250 mL.
b. Ukur konduktansi larutan sampel tersebut dengan konduktometer dan
catat hasil pengukurannya.
c. Cuci probe pada konduktometer dengan aquadest dalam gelas beker 250
mL.
d. Larutan sampel dikembalikankembali pada botol penampung.

D. Analisis Data
1. Penentuan Rapat Massa Berbagai Cairan pada Suhu Percobaan
a. Penentuan volume piknometer
ma qu a mp a mpo (7)

ma q u a
Va q u a (8)
r e f

Vp Va qu a (9)

dengan : maqua = massa aquadest, gram


mpa = massa piknometer + aquadest, gram
mpo = massa piknometer kosong, gram
Vaqua = volume aquadest, mL
ref = rapat massa aquadest referensi pada suhu percobaan,
gram/mL
Vp = volume piknometer, mL

b. Penentuan rapat massa berbagai cairan pada suhu percobaan


mc ai r mpc mpo (10)

mc ai r
c ai r (11)
Vp

50
51 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

dengan : mcair = massa cairan yang diukur, gram


mpc = massa piknometer + cairan yang diukur, gram
cair = rapat massa cairan yang diukur, gram/mL

2. Penentuan Konsentrasi Larutan NaCl


a. Penentuan konsentrasi larutan NaCl awal
mN a C l
Co (12)
VN a C l

dengan : C0 = konsentrasi larutan NaCl mula-mula, gram/mL


mNaCl = massa NaCl yang tertimbang, gram
VNaCl = volume larutan NaCl, mL

b. Penentuan konsentrasi larutan NaCl hasil pengenceran


V1.C1 = V2.C2 (13)
dengan : V1 = volume larutan NaCl sebelum pengenceran yang
diambil, mL
C1 = konsentrasi larutan NaCl sebelum pengenceran,
gram/mL
V2 = volume larutan NaCl sesudah pengenceran, mL
C2 = konsentrasi larutan NaCl sesudah pengenceran,
gram/mL

3. Pembuatan Kurva Standar Rapat Massa Larutan NaCl pada Suhu Percobaan
dengan Menggunakan Piknometer dan Hidrometer
Persamaan hubungan antara konsentrasi larutan NaCl dengan rapat massa
tiap larutan pada suhu lingkungan adalah :
y = A.x + B (14)

dengan : y = rapat massa larutan NaCl (gram/mL)


x = konsentrasi larutan NaCl (gram/mL)
n xy x y
A (15)
n x 2 x
2

51
52 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B
y A x (16)
n
Untuk menghitung kesalahan relatif, persamaan yang digunakan adalah :
rapat massa persamaanrapat massa percobaan
Kesalahan relatif=| | x 100%(17)
rapat massa persamaan
kesalahan relatif
Kesalahan relatif rata-rata = (18)
n

dengan : n = jumlah data

Kurva/grafik yang dibuat adalah :


Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl
pada suhu percobaan dengan menggunakan piknometer.
Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl
pada suhu percobaan dengan menggunakan hidrometer.

4. Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel yang Terukur dengan Piknometer


dan Hidrometer
Persamaan yang diperoleh dari perhitungan no 3, digunakan untuk
menentukan konsentrasi larutan sampel.
y = A.x + B (14)
y B
x= (19)
A

dengan : x = konsentrasi larutan sampel, gram/mL


y = rapat massa larutan sampel yang terukur, gram/mL
A dan B = konstanta

5. Pembuatan Kurva Standar Rapat Massa Larutan NaCl pada Berbagai Suhu
Tiap Konsentrasi dengan Menggunakan Hidrometer
Persamaan hubungan antara suhu dengan rapat massa tiap larutan adalah :
y = A.T + B (20)

dengan : y = rapat massa larutan NaCl, gram/mL


T = suhu larutan NaCl, oC

52
53 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

n Ty T y
A (21)
n T 2 T
2

B
y A T (22)
n

Untuk menghitung kesalahan relatif, digunakan persamaan (17) dan (18).

Kurva/grafik yang dibuat adalah :


Grafik hubungan antara rapat massa dengan suhu larutan NaCl untuk
setiap konsentrasi dalam satu grafik.

6. Pembuatan Kurva Standar Konduktansi Larutan NaCl pada Berbagai


Konsentrasi Setiap Suhu dengan Menggunakan Konduktometer
Persamaan hubungan antara konsentrasi dengan konduktansi tiap larutan
adalah :
K = A.N + B (23)

dengan : N = rapat massa larutan NaCl (gram/mL)


K = konduktansi larutan NaCl (S)
n KN K N
A (24)
n N 2 N
2

B
K A N (25)
n

Untuk menghitung kesalahan relatif, persamaan yang digunakan adalah :

konduktansi persamaankonduktansi percobaan


Kesalahan relatif=| | x 100% (26)
konduktansi persamaan
kesalahan relatif
Kesalahan relatif rata-rata = (27)
n

dengan : n = jumlah data


Kurva/grafik yang dibuat adalah :

53
54 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Grafik hubungan antara konduktansi dengan konsentrasi larutan NaCl


pada tiap suhu.

7. Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel dengan Konduktometer


a. Penentuan nilai konduktansi pada suhu percobaan
Persamaan yang digunakan adalah :

20 20
= (28)
40 20 40 20
dengan : T = suhu percobaan (oC)
T20 = suhu sebesar 20 oC
T40 = suhu sebesar 40 oC
K = konduktansi pada suhu percobaan (S)
K20 = konduktansi pada suhu 20 oC (S)
K40 = konduktansi pada suhu 40 oC (S)

b. Pembuatan kurva standar pada suhu percobaan


Pembuatan kurva standar pada suhu percobaan dilakukan dengan
menggunakan persamaan (23), (24), dan (25).
c. Penentuan konsentrasi larutan sampel
Penentuan konsentrasi larutan sampel dilakukan dengan menggunakan
persamaan yang diperoleh dari perhitungan (23).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hal-hal yang harus dibahas adalah :
1. Prinsip kerja piknometer dan hidrometer.
2. Hasil pengukuran rapat massa untuk aquadest, air ledeng, dan larutan NaCl
berbagai konsentrasi menggunakan piknometer dan hidrometer.
3. Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl
dengan piknometer.
4. Grafik hubungan antara rapat massa dengan konsentrasi larutan NaCl
dengan hidrometer.

54
55 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

5. Hasil pengukuran rapat massa menggunakan hidrometer pada berbagai suhu


dan konsentrasi.
6. Grafik hubungan antara rapat massa dengan suhu untuk berbagai
konsentrasi.
7. Hasil percobaan pengukuran konduktansi larutan NaCl berbagai
konsentrasi, aquadest, air ledeng pada berbagai suhu.
8. Grafik hubungan antara konduktansi dengan konsentrasi larutan pada suhu
20oC.
9. Grafik hubungan antara konduktansi dengan konsentrasi larutan pada suhu
40oC.
10. Penjelasan pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap konduktansi.
11. Penjelasan perbedaan konduktansi dan rapat massa antara aquadest dan air
ledeng.
12. Grafik hubungan konduktansi dengan konsentrasi larutan NaCl pada suhu
percobaan.
13. Hasil konsentrasi larutan sampel.
14. Asumsi yang digunakan serta penjelasan jika terjadi penyimpangan.

V. KESIMPULAN
Berisi tentang kesimpulan berdasarkan tujuan dan hasil percobaan.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Basset, J., R.C. Denney, G.H. Jefery, dan J. Mendhem, 1994, Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Brown, G.G., 1950, Unit Operations, John Willey and Sons, Inc., New York.
Brown R.D., 1985, Introduction to Chemical Analysis, p.p 3290332, Mc Graw-
Hill Book Co., Singapore.
Dean, J.A., 1992, Langes Hand Book of Chemistry, 14th edition, Mc. Graw-Hill
Inc., New York.
Holman, J. P., 1985, Metode Pengukuran Teknik, 4 ed, Erlangga, Jakarta.
Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta.

VII.LAMPIRAN

55
56 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia


Hazard proses dari praktikum ini diantaranya adalah penggunaan alat-
alat yang rentan pecah, penggunaan kompor listrik dan penggunaan alat
konduktometer.
Hazard bahan kimia pada praktikum ini adalah garam NaCl.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


Alat perlindungan diri yang dipakai adalah : jas lab, masker, sarung
tangan karet. Jas lab digunakan untuk melindungi tubuh dari bahan-bahan
kimia yang digunakan selama praktikum.
(Tulislah alat perlindungan diri lain yang dirasa penting pada praktikum
ini beserta alasan pemakaiannya).

C. Manajemen Limbah
Tuliskan limbah apa saja yang dihasilkan pada praktikum ini, tuliskan
juga analisis kandungannya dan tempat pembuangannya.

D. Perhitungan

56
57 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
PENGUKURAN RAPAT MASSA DAN KONDUKTANSI
(C)

Nama Praktikan :1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari/Tanggal :
Asisten : Indah Tri Nuraini / Salsabila Isna Firdausi

DATA PERCOBAAN
A. Pengukuran Rapat Massa
Suhu percobaan = ................... oC
Massa NaCl = ................... gram
Volume larutan NaCl = ................... mL
Massa piknometer kosong = ................... gram

Pengukuran rapat massa berbagai cairan dengan piknometer dan hidrometer


pada suhu percobaan.
Berat piknometer + Densitas cairan dengan
No Cairan
cairan, gram hidrometer, gram/mL
1 Aquadest
2 Air Ledeng
3 Larutan NaCl Pengenceran 1x
4 Larutan NaCl Pengenceran 5 x
5 Larutan NaCl Pengenceran 25 x
6 Larutan Sampel

57
58 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Pengukuran rapat massa larutan NaCl dengan hidrometer pada berbagai suhu
dan konsentrasi.
Densitas larutan NaCl, gram/mL
No Suhu, oC
Pengenceran 1x Pengenceran 5 x Pengenceran 25 x
1
2
3

B. Pengukuran Konduktivitas
Pembuatan Kurva Standar

Konduktansi Konduktansi Konduktansi


No. Cairan
pada ... oC, S pada ... oC, S pada ... oC, S

1. Larutan NaCl pengenceran 1 x


2. Larutan NaCl pengenceran 5 x
3. Larutan NaCl pengenceran 25 x
4. Aquadest
5. Air Ledeng

Penentuan Konsentrasi Larutan Sampel pada Suhu Percobaan


Konduktansi = ...................S

Yogyakarta, 2017
Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.

3.

58
59 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN PADAT


(D)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk :
1. Mengukur modulus patah dan kuat desak bahan padat berupa plester yang
merupakan campuran semen dan pasir.
2. Mencari hubungan antara komposisi campuran dengan kuat mekanik bahan.

II. DASAR TEORI


Material dalam bahan padat sangat penting perannya dalam kehidupan
manusia, termasuk diantaranya industri kimia. Pada setiap praktek dilapangan
tentunya banyak dijumpai material padat yang digunakan. Dalam pemilihan
bahan padat banyak hal yang perlu diperhatikan seperti ketahanan terhadap gaya
mekanik, ketahanan terhadap suhu, dan ketahanan terhadap bahan kimia. Salah
satu parameter tersebut adalah ketahanan terhadap gaya mekanik, dimana
parameter ini meliputi kuat tarik, kuat desak, modulus patah, dan momen puntir.
Pada percobaan ini akan dipelajari penentuan modulus patah dan kuat desak suatu
bahan.

A. Modulus Patah
Modulus patah merupakan tegangan lengkung maksimum yang mampu
ditahan suatu benda agar tidak patah. Percobaan ini menggunakan dua metode
pengukuran modulus patah, yaitu metode three point bending strength dan
four point bending strength.
Pada bahan getas yang memiliki hubungan tegangan-regangan linier,
nilai modulus patah dapat dihitung menggunakan persamaan (1).
M.y
b = (1)
Ix

dengan :b = Modulus patah padatan, kg/cm2


M = Resultan momen di sebelah kiri atau kanan penampang
yang menerima gaya, kg.cm
Y = Jarak tepi benda ke sumbu netral, cm

59
60 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Ix = Momen inersia penampang yang menerima gaya (terhadap


sumbu netral), cm4
a. Metode Three Point Bending Strength
Gaya-gaya yang bekerja pada pengukuran modulus patah dengan
metode three point bending strength disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Gaya-gaya yang Bekerja pada Padatan

Resultan momen di sebelah kiri atau kanan dari gaya F pada gambar 1
dapat dinyatakan sebagai berikut:
F L
= .
2 2
F.L
=
4
F.L (2)
M =
4

Gambar 2. Luas Penampang Padatan yang Menerima Gaya F.

Pada gambar 2 diketahui bahwa sumbu netral dari bahan berada di


pertengahan tebal benda (t) dan membujur searah dengan lebar benda (w),
sehingga secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:
1
= (3)
2

= . (4)

60
61 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Dari persamaan (3) dan (4), maka momen inersia penampang benda
yang menerima gaya dapat diperoleh sebagai berikut:
2
1
Ix = t .d(w.t)
2
1
= w. .t 2 .dt
4
1
= .w.t 3 (5)
12
Apabila persamaan (2), (3), dan (5), disubstitusikan ke persamaan (1),
maka akan menghasilkan:

F.L t

4 2
b =
1 3
w.t
12
3FL (6)
b =
2wt 2
Bila gaya F dihasilkanoleh dongkrak hidrolik, maka nilai F dapat
ditentukan sebagai berikut:

F = P.Apiston
(7)
P..d 2
F =
4
dengan: P = Tekanan hidrolik pembacaan, kg/cm2
D = Diameter piston, cm

Apabila persamaan (7) disubstitusikan ke persamaan (6), maka akan


menghasilkan persamaan (8).
3.P..d 2 .L
b = (8)
8.w.t 2
Pada persamaan (8) di atas hanya berlaku jika diambil asumsi sebagai
berikut:
Permukaan benda uji halus dan rata.
Posisi pisau pematah tepat diantara kedua penumpu.
Penekanan secara kontinyu dan steady.

61
62 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Titik berat sampel berada tepat di antara kedua penumpu.


Gaya berat sampel diabaikan.

b. Metode Four Point Bending Strength


Gaya-gaya yang bekerja pada pengukuran modulus patah dengan
metode four point bending strengthdisajikan pada gambar 3.

Gambar 3. Gaya-gaya yang Bekerja pada Padatan

Resultan momen di sebelah kiri atau kanan dari gaya F/2 pada gambar
3 dapat dinyatakan sebagai berikut:
F L
= .
4 4
F.L
=
16
F.L (9)
M =
16

Gambar 4. Luas Penampang Padatan yang Menerima Gaya F.

Pada gambar 4 diketahui bahwa sumbu netral dari bahan berada di


pertengahan tebal benda (t) dan membujur searah dengan lebar benda (w),
sehingga secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:
1
= (3)
2

62
63 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

= . (4)
Dari persamaan (3) dan (4), maka momen inersia penampang benda
yang menerima gaya dapat diperoleh sebagai berikut:
2
1
Ix = t .d(w.t)
2
1
= w. .t 2 .dt
4
1
= .w.t 3 (5)
12
Pada gambar 4, terdapat dua gaya yang menekan sampel, apabila
persamaan (2), (3), dan (5), disubstitusikan ke persamaan (1), maka akan
menghasilkan:
F.L t
16 2
b = 2x
1 3
12 w.t

3FL
b =
4wt 2 (11)
Bila gaya F dihasilkanoleh dongkrak hidrolik, maka nilai F dapat
ditentukan sebagai berikut:

(7)
F = P.Apiston

P..d 2
F = dengan:
4
P = Tekanan hidrolik pembacaan, kg/cm2
D = Diameter piston, cm
Apabila persamaan (7) disubstitusikan ke persamaan (10), maka akan
menghasilkan persamaan (11).
3.P..d 2 .L
b = (12)
16.w.t 2

Persamaan (12) di atas hanya berlaku jika diambil asumsi sebagai berikut:
Permukaan benda uji halus dan rata.
Pisau-pisau pematah memiliki panjang yang sama.

63
64 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Jarak antar pisau pematah tepat setengah dari jarak antar pisau penumpu.
Penekanan secara kontinyu dan steady.
Gaya berat sampel diabaikan.
Rangkaian alat percobaan modulus patah dapat dilihat pada gambar 3.

(a) (b)
Keterangan:
1. Rangka alat uji kuat desak 7. Kaca pelindung
2. Pisau pematah 8. Dongkrak hidrolik
3. Mur 9. Indikator tekanan
4. Sampel/plester padatan 10. Valve pelepas tekanan
5. Pisau-pisau penumpu 11. Tuas pengungkit.
6. Piston
Gambar 5. Rangkaian Alat Percobaan untuk Mengukur Modulus Patah Plester
(a) Metode Three Point Bending Strength dan (b) Metode Four Point
BendingStrength

B. Kuat Desak
Kuat desak adalah besaran yang menyatakan nilai gaya desak per
satuan luas permukaan penahan benda (A) atau tegangan desak (C)
maksimum yang mampu ditahan suatu benda agar benda tidak mengalami
keretakan.

64
65 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Gambar 6. Gaya yang Bekerja Pada Plester pada Percobaan Pengukuran


Kuat Desak Plester

Tegangan yang ditimbulkan karena pengaruh gaya F adalah sebagai


berikut F
c =
A
P..d 2
c =
C. 4.A
(13)
D.
E. dengan, c= kuat desak padatan, kg/cm2
F. A = luas permukaan yang di arsir, cm2
G. d = diameter piston, cm
H. P = tekanan hidrolik pembacaan, kg/cm2
I. N pada gambar 4 adalah gaya normal yang diberikan permukaan penahan
benda. Jika N tidak ada, benda tidak akan mengalami pendesakan tetapi justru
bergerak ke bawah.
J. Rangkaian alat percobaan modulus patah dapat dilihat pada gambar 5.
K.
Keterangan:
L.
1. Rangka alat uji kuat desak
M.
2. Plat penekan atas
N.
3. Sampel/plester padatan
O.
4. Plat penekan bawah
P.
5. Piston
Q.
6. Kaca pelindung
R.
7. Dongkrakhidrolik
S.
8. Indikator tekanan
T.
9. Valve pelepas tekanan
U.
10. Tuas pengungkit.

65
66 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Gambar 7. Rangkaian Alat Percobaan untuk Mengukur Kuat Desak


Plester
Prinsip kerja alat uji percobaan kuat desak adalah memberikan tekanan
atau gaya pada benda uji dengan cara memberikan beban hingga sampel
mengalami retak.Permukaan sampel dipilih yang paling rata supaya distribusi
gaya yang diterima permukaan sampel yang diukur akan merata disemua
bagian. Beban total adalah jumlah paket beban ditambahkan sampai sampel
retak.

III. METODOLOGI PERCOBAAN


A. Bahan
Sampel A (semen : pasir = 1:3)
Sampel B (semen : pasir = 1:5)
Sampel C (semen : pasir = 1:7)
Sampel D (semen : pasir = 1:9)
Sampel E (semen : pasir = 1:10)
Sampel F (semen : pasir = 1:12)
Sampel G (semen : pasir = 1:14)
Sampel H (semen : pasir = 1:16)

B. Alat
Alat uji modulus patah (gambar 5)
Alat uji kuat desak (gambar 7)
Penggaris 30 cm
Jangka sorong
Kaca pembesar atau lup

C. Cara Kerja
1. Modulus Patah
a. Persiapkan alat uji modulus patah dengan memasang tuas pengungkit
pada dongkrak hidrolik, dan memastikan valve pelepas tekanan tertutup
rapat.

66
67 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

b. Ukur dimensi sampel A, yakni lebar sampel (w) dan tebal sampel (t)
menggunakan jangka sorong.
c. Ukur jarak kedua ujung pisau penumpu (L) dan diameter piston (d)
menggunakan jangka sorong.
d. Letakkan sampel di atas kedua pisau penumpu pada posisi
simetris,posisi pisau pematah tepat berada di atas sampel.
e. Naikkan posisi sampel dengan cara mengungkit tuas sampai permukaan
atas sampel menyentuh pisau pematah.
f. Amati indikator tekanan dan lanjutkan pengungkitan secara perlahan
sampai sampel patah.
g. Catat angka tertinggi yang ditunjukkan indikator pada saat sampel tepat
patah.
h. Turunkan posisi pisau penumpu dengan membuka valve pelepas
tekanan.
i. Lakukan lagi percobaan untuk sampel A sebanyak 2 kali.
j. Lakukan hal yang sama untuk sampel B, C dan D (masing-masing 3
kali).
2. Kuat Desak
a. Persiapkan alat uji kuat desak dengan memasang tuas pengungkit pada
dongkrak hidrolik, memastikan valve pelepas tekanan tertutup rapat,
memastikan plat penekan atas dan bawah dalam kondisi bersih.
b. Ukur panjang sisi-sisi permukaan sampel E yang akan menerima gaya
menggunakan penggaris. Pilih permukaan penerima gaya dari sampel E
yang paling halus, paling datar dan bentuknya beraturan.
c. Ukur diameter piston (d) menggunakan jangka sorong.
d. Letakkan sampel pada plat penekan bawah.
e. Naikkan posisi sampel dengan cara mengungkit tuas sampai permukaan
atas sampel menyentuh plat penekan atas.
f. Amati indikator tekanan dan lanjutkan pengungkitan secara perlahan
sampai sampel menunjukkan keretakan.
g. Turunkan posisi plat penekan bawah dengan membuka valve pelepas
tekanan.
h. Catat angka tertinggi yang ditunjukkan indikator pada saat sampel tepat
retak.

67
68 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

i. Lakukan lagi percobaan untuk sampel E sebanyak 2 kali.


j. Lakukan hal yang sama untuk sampel F, G dan H (masing-masing 3 kali).

D. Analisis Data
1. Menghitung nilai modulus patah (b) sampel :

Metode three point bending strength:

3.P..d 2 .L
b = (8)
8.w.t 2

2. Menghitung nilai modulus patah rata rata.

b.A1 b.A2 b.A3


b.A (14)
3

3. Membuat persamaan pendekatan modulus patah rata-rata sebagai fungsi


komposisi P (X) dengan metode regresi linier least square.
b = f (X) = mX + k ; m dan k = konstanta
(15)
P
X= . 100 % ; O = jumlah semen, P = jumlah pasir (16)
O+P

Adapun untuk menghitung m dan k menggunakan persamaan :


n XY - X Y (17)
m=
n X 2 - ( X) 2

Y - m X
(18)
k=
n
dengan, Y = modulus patah rata-rata (kg/cm2)
X = persentase jumlah pasir dalam sampel (%)
n = jumlah data
4. Membuat persamaan pendekatan modulus patah sebagai fungsi komposisi
P(x) dengan metode regresi eksponensial :
= . ; a, b = konstanta (19)

Persamaan dapat diturunkan menjadi :


ln y = ln a + bX
Y = A + BX (20)
Dengan nilai A dan B dapat dicari dengan rumus :

68
69 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

n XY - X Y (21)
B=
n X 2 - ( X) 2

Y - B X
(22)
A=
n
dengan, Y = logaritmik natural modulus patah rata-rata
X = persentase jumlah pasir dalam sampel (%)
n = jumlah data

5. Menghitung kesalahan relatif b hasil persamaan regresi linier dan


eksponensial terhadap b hasil eksperimen:

b.persamaan b.eksperimen (23)


Kesalahan relatif, % .100%
b.persamaan

kesalahan relatif
Kesalahan relatif rata - rata (24)
jumlah data
6. Menghitung standard deviasi (SD) percobaan Modulus Patah.
1
= ( b.A b.A )2 ; n = jumlah data (25)

7. Menghitung nilai kuat desak (c) sampel dengan persamaan (9):


P..d 2
c= (13)
4.A
8. Menghitung nilai kuat desak rata rata dan standar deviasi percobaan :
c.E1 c.E2 c.E3
c.E (26)
3
9. Membuat persamaan pendekatan kuat desak (c) sebagai fungsi fraksi
komposisi P (X) dengan metode regresi linier least square:
c = f X = mX + k ; m dan k = konstanta (27)
Adapun menghitung nilai X digunakan persamaan (16) dan untuk
menghitung nilai m dan k digunakan persamaan (17) dan (18) dengan nilai
Y yang mendefinisikan nilai kuat desak rata-rata.
10. Membuat persamaan pendekatan kuat desak sebagai fungsi komposisi P(x)
dengan metode regresi eksponensial :
= . ; a, b = konstanta (28)

69
70 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Adapun persamaan dapat diturunkan menjadi :


Y = A + BX (20)
Nilai A dan B dihitung dengan persamaan (21) dan (22) dengan nilai Y
yang mendefinisikan logaritmik nilai kuat desak rata-rata.
11. Menghitung kesalahan relatif C hasil persamaan regresi linier dan
eksponensial terhadap C hasil eksperimen:
c.persamaan c.eksperimen (29)
Kesalahan relatif, % .100%
c.persamaan

kesalahan relatif (24)


Kesalahan relatif rata - rata
jumlah data
12. Menghitung standard deviasi (SD) percobaan kuat desak:
1
= ( c.E cE )2 ; n = jumlah data (30)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Bahas data percobaan, hasil perhitungan, dan grafik Anda, hubungkan
dengan teori yang ada.

V. KESIMPULAN
Tuliskan kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah
dilaksanakan.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Andrews, A.I., 1928, Ceramic Test and Calculation, John Wiley and Sons,
Inc., New York, pp. 43-46.
Timoshenko, S., 1958, Strength of Materials Part I, Robert E. Kriegler, New
York, pp. 403-405.
van Vlack, L. H., 1964, Elements of Material Science, Addison-Wesley
Publishing Company, Inc., London,p. 106.

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Jelaskan jenis hazard proses dan bahan yang digunakan serta lengkapi juga
dengan cara mengatasinya.
B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri

70
71 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Terangkan alat perlindungan diri yang perlu digunakan saat praktikum beserta
alasan.
C. Manajemen Limbah
Bahas setiap limbah yang dihasilkan dari praktikum ini, dan jelaskan
penanganannya.
D. Data Percobaan
E. Perhitungan

71
72 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
MODULUS PATAH DAN KUAT DESAK BAHAN
PADAT
(D)

Nama Praktikan : 1. NIM: 1.


2. 2.
3. 3.

Hari/Tanggal :
Asisten : Muhammad Aldian Astrayudha/Mayzaki Dwi Putra

Data Percobaan :
1. Percobaan Modulus Patah
Diameter silinder piston (d) = cm
Jarak ujung-ujung pisau penumpu (L) = cm
Umur Sampel = hari

No. Sampel w,cm t,cm P,kg/cm2


1
A
2
3
4
B
5
6
7
C
8
9
10
D
11
12

72
73 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

2. Percobaan Kuat Desak


Diameter silinder piston (d) = cm
Umur Sampel = hari

No Sampel w, cm t, cm A, cm2 P, kg/cm2


1
E
2
3
4
F
5
6
7
G
8
9
10
H
11
12

Mengetahui: Yogyakarta, 2017

Asisten Jaga, Praktikan,

1)

2)

3)

73
74 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN


VISKOSITAS ZAT CAIR
(E)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan Pengukuran Tegangan Muka dan Viskositas Zat Cair adalah:
1. Memahami pengertian dasar tegangan muka dan viskositas.
2. Menentukan tegangan muka zat cair menggunakan Metode Tekanan Maksimum
Gelembung dan Kenaikan Pipa Kapiler.
3. Menentukan viskositas dengan viskosimeter Ostwald dan menganalisis
pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair.

II. DASAR TEORI


Tegangan permukaan merupakan suatu sifat istimewa yang dialami suatu zat dalam
fasa cair. Pada bagian dalam zat cair, semua molekul cairan dikelilingi oleh molekul-
molekul cairan yang lain dengan daya tarik intermolekuler pada berbagai arah dan gaya
tersebut saling menghilangkan. Akan tetapi kondisi berbeda terjadi pada permukaan
cairankarena ada bagian molekul yang tidak dikelilingi molekul-molekul lainnya.
Akibat dari kondisi tersebut, resultan gaya-gaya tarik molekul di sekitarnya terhadap
suatu molekul pada permukaan cairan, misal molekul A tidak seimbang (tidak saling
menghilangkan).

A A. Molekul pada Permukaan


Zat Cair

B. Molekul pada Bagian


Dalam Zat Cair

Gambar 1. Ilustrasi Gaya Intermolekuler pada Zat Cair

74
75 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Kondisi ini mengakibatkan adanya gaya resultan yang mengarah ke dalam cairan
dan menimbulkan sifat kecenderungan molekul A tertarik ke dalam cairan. Hal ini
terlihat seolah molekul-molekul yang ada di permukaan tidak suka berada di dekat
permukaan zat cair. Secara makroskopis, fenomena ini terlihat sebagai gejala dimana
permukaan cairan akan semakin mengecil (kecenderungan untuk memperkecil luas
permukaan).
Gaya yang digunakan untuk memperkecil luas permukaan, untuk tiap satuan lebar
permukaan disebut tegangan muka (surface tension, ). Satuan yang dipakai dalam
perhitungan tegangan muka adalah dyne/cm atau N/m. Untuk air, tegangan mukanya
lebih kurang sebesar 72,6 dyne/cm pada 20C, sedangkan bahan-bahan organik cair
besarnya antara 20 30 dyne/cm. Terdapat beberapa metode untuk penentuan tegangan
muka, antara lain:
1. Tekanan Maksimum Gelembung
2. Kenaikan Pipa Kapiler
3. Tetes
4. Cincin
Dalam pembahasan di bawah ini hanya akan dibatasi dua cara yang pertama.
A. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Keterangan:

1 1. Statif dan klem


2. Erlenmeyer 500mL
5
3. Manometer
2
4 4. Gelas beker 500 mL
3
5. Pipa kapiler
6. Termometer alkohol
7. Penggaris

Gambar 2. Rangkaian Alat Metode Tekanan Maksimum Gelembung

Bagian penting dari metode ini adalah penentuan jari-jari maksimum


gelembung yang dapat diketahui dengan keluarnya gelembung udara pada ujung

75
76 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

pipa yang dicelupkan ke dalam cairan. Karena adanya sedikit kenaikan tekanan
udara, gelembung akan pecah dengan jari-jari yang lebih besar daripada jari-jari
mulut pipa. Apabila jari-jari gelembung sama dengan jari-jari mulut pipa akibatnya
tekanan udara dalam pipa akan mencapai maksimum. Dengan menyamakan
tekanan-tekanan yang bekerja pada bejana dan manometer dalam keadaan
setimbang, harga tegangan muka dapat ditentukan.
Pada metode ini juga diperhatikan syarat dari cairan pengisi manometer dan
buret dimana tidak berbeda karakteristik dan bebas dari pengotor.

Gambar 3. Proses Lepasnya Gelembung dari Pipa Kapiler

Tekanan pada permukaan gelembung dalam keadaan setimbang akan memiliki


hubungan:
2
1 1 + = + 2 2 + .............................................. (1)

2
= ( 1 1 2 2 ) ..................................................................... (2)


= ( 1 1 2 2 ) ..................................................................... (3)
2

dengan ,
: koefisien tegangan muka (dyne/cm atau N/m)
g : gravitasi bumi (m/s2)
r : jari-jari gelembung dalam pipa kapiler (cm)
1 : massa jenis zat cair dalam manometer (g/mL)
2 : massa jenis zat cari dalam bejana (g/mL)
h1 : selisih tinggi permukaan cairan dalam manometer (cm)
h2 : selisih tinggi permukaan zat cair dengan ujung
gelembungudara dalam pipa (cm)
PB : tekanan barometer
Dari persamaan diatas dapat diuraikan gaya-gaya yang bekerja, yaitu :

76
77 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Tekanan hidrostatis = 1 g h1
Tekanan barometer = PB
Tekanan hidrostatis dari bawah = 2 g h2
2
Tekanan karena tegangan muka =

Gambar 4. Skema Gambar Metode Tekanan Maksimum Gelembung

B. Metode Kenaikan Pipa Kapiler


Jika sebuah pipa kapiler ujungnya dicelupkan dalam zat cair yang membasahi
dinding (meniskus cekung), maka zat cair akan naik setinggi h. Pada saat
setimbang, gaya ke atas akan sama dengan gaya ke bawah, sedang untuk gaya ke
samping saling meniadakan. Pada Gambar 5 terlihat, kenaikan cairan dalam pipa
kapiler akan berhenti setelah cairan mencapai h karena gaya F1yang diakibatkan
oleh adanya tegangan muka akan diimbangi oleh gaya F2. Gaya F2 ini disebabkan
oleh berat cairan atau gaya berat zat cair yang naik.

Gambar 5. Neraca Gaya di Permukaan Cairan Dalam Pipa Kapiler

Sesuai dengan hukum utama hidrostatika:

77
78 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

PA=PB (4)
Pud = Pud + gh (gaya akibat tegangan muka)/(luas penampang pipa)............................... (5)
0 = gh (tegangan muka)(keliling pipa)(cos )/(luas tampang pipa) ................................. (6)
(2)( )
0 = gh ................................................... (7)
2
2
h= ................................................................. (8)


= ........................................................................ (9)
2
Nilai tergantung pada jenis cairan. Bila cairan yang digunakan adalah air
sehingga membasahi dinding kapiler dengan sempurna, maka dianggap 0
sehingga cos = 1. Persamaan diatas menjadi:

= ........................................................................ (10)
2

Keterangan :
1. Gelas beker
2. Penggaris
3. Pipa kapiler

Gambar 6.Keadaan Permukaan Zat Cair pada Percobaan dengan


MetodeKenaikan Pipa Kapiler.

C. Viskositas Zat Cair


Viskositas suatu fluida merupakan besaran resistansi terhadap laju
perubahan geraknya.Pendekatan teori melalui interaksi-interaksi molekuler
dapat digunakan dalam memprediksi nilai viskositas dari suatu fluida.
Viskositas cairan akan berkurang dengan naiknya temperatur, dimana
pengekangan dari gaya-gaya intermolekulernya berkurang, yang menyebabkan
gerakan molekulnya menjadi lebih lincah. Hubungan Viskositas Newton hanya
valid untuk aliran paralel dan laminer. Stokes memperluas konsep viskositas
menjadi aliran laminer tiga dimensi. Persamaan Viskositas Stokes dapat
dinyatakan sebagai perbandingan antara tegangan geser dan laju peregangan :

= ......................................... (11)

78
79 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017


= / ......................................................................... (12)

dimana tegangan geser dan laju peregangan merupakan elemen tiga dimensi
(Welty J.R. et al, 2007). Dalam sistem SI, viskositas dinamik dinyatakan dalam
Pa.s atau poise.
Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung
berbentuk silinder, sedangkan alat standar yang biasa digunakan adalah
Viskosimeter Ostwald yang bekerja berdasarkan Hukum Poiseuille. Prinsip dari
Viskosimeter Ostwald dapat dilihat pada gambar berikut:

Keterangan:
1. Arah aliran penghisap
2. Arah aliran fluida
BA Batas atas
BB Batas bawah

Gambar 7. Prinsip kerja Viskosimeter Ostwald

Untuk aliran zat cair yang laminer dalam suatu tabung, Poiseuille menemukan
bahwa volume (V) yang dialirkan keluar pipa per satuan waktu (t) untuk jari-jari
(r) dan panjang pipa (l) dengan beda tekanan (P) adalah : (Sutera and Skalak, 1993)
4
= ...................................................................... (13)
128

4
= ....................................................................... (14)
8

0 0 4 0 4
= = ...................................... (15)
8 0 8

Pengukuran viskositas yang tepat dengan persamaan diatas sukar dicapai. Hal
ini disebabkan nilai r dan l sukar ditentukan secara tepat. Untuk menghindari hal
ini dalam praktiknya digunakan suatu cairan pembanding.
Dengan Viskosimeter Ostwald, dapat diukur waktu untuk cairan sampel dan
cairan pembanding yang mengalir melalui pipa kapiler yang sama. Tekanan

79
80 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

(P)berubah-ubah tetapi selalu berbanding langsung dengan rapat massa zat


pembanding (0) dan rapat massa zat sampel () sehingga :
4
= = 4 ............................................... (16)
0 0 0 0

dengan:
: rapat massa zat sampel (g/cm3)
0 : rapat massa zat pembanding (g/cm3)
r : jari-jari kapiler viskosimeter untuk zat sampel (cm)
r0 : jari-jari kapiler viskosimeter untuk zat pembanding (cm)
t : waktu alir zat sampel (s)
t0 : waktu alir zat pembanding (s)

Viskositas cairan meningkat dengan semakin besarnya tekanan, namun


semakin menurun secara eksponensial seiring dengan semakin tingginya temperatur.

= ........................................................................................................................... (17)

Dalam bentuk logaritmiknya:



= + ........................................................ (18)

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Aquadest
2. Larutan NaCl
3. Minyak goreng

80
81 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar
rangkaian alat berikut:
Keterangan :
1. Air
2. Buret 50 mL
3. Cairan pengisi manometer
(air kran)
4. Cairan sampel (aquadest
atau Larutan NaCl)
5. Erlenmeyer
6. Gelas beker 250 mL
7. Klem
8. Manometer
9. Pipa kapiler
10. Statif
11. Selang penghubung
12. Termometer alkohol 110

Gambar 8. Rangkaian Alat Metode Tekanan Maksimum Gelembung

Keterangan :
1. Gelas beker 250 mL
2. Pipa kapiler
3. Penggaris
4. Larutan sampel (aquadest atau
Larutan NaCl)
5. Termometer alkohol 110

Gambar 9. Rangkaian Alat Metode Kenaikan Pipa Kapiler

81
82 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Keterangan :
1. Air
2. Bola penghisap
3. Circulating bath
4. Gabus
5. Gelas ukur 250 mL
6. Hidrometer
7. Knop pengatur suhu
8. Penjepit kayu
9. Steker
10. Termometer alkohol 110
11. Thermostat
12. Tombol Power
13. Tombol Cooling
14. Viskosimeter Ostwald
0,6mm berisi aquadest
15. Viskosimeter Ostwald 1 mm
berisi minyak

Gambar 10. Rangkaian Alat Pengukuran Viskositas Zat Cair

C. Cara Percobaan
1. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
a. Ukur diameter dalam pipa kapiler dengan penggaris.
b. Isi gelas beker dengan aquadest dan ukur suhu aquadest dengan termometer
alkohol 110C.
c. Tutup kran buret dan isi buret dengan air sampai hampir penuh.
d. Seimbangkan tinggi cairan di kaki kanan dan kiri manometer.
e. Ukur ho (tinggi cairan di kaki kanan dan kiri manometer saat seimbang) dari
dasar manometer.
f. Masukkan pipa kapiler yang sudah dirangkai dengan selang dari manometer
ke dalam gelas beker sedalam h2(batch satu = 2 cm, batch dua = 4 cm) dari
permukaan cairan.
g. Buka kran buret perlahan-lahan.
h. Baca hm (permukaan air dalam kaki terbuka) pada manometer tepat saat
gelembung akan lepas pada ujung pipa kapiler (bentuk gelembung tepat
setengah bola).
i. Ulangi percobaan hingga didapatkan tiga data dan lakukan hal yang sama
dengan larutan NaCl.

82
83 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

j. Kembalikan larutan NaClke botol penyimpanannya serta bersihkan alat-alat.


2. Metode Kenaikan Kapiler
a. Ukur diameter dalam dari tiga buah pipa kapiler dengan penggaris.
b. Isi gelas beker dengan aquadest dan ukur suhu aquadest dengan termometer
alkohol 110C.
c. Masukkan pipa kapiler dan penggaris ke dalam gelas beker.
d. Tarik pipa kapiler ke atas, sampai tinggi cairan dalam pipa kapiler konstan.
e. Ukur tinggi kenaikan aquadest dalam pipa kapiler terhadap permukaan
cairan aquadest di dalam gelas beker (meniskus cekung cairan).
f. Ulangi percobaan sehingga didapatkan tiga data.
g. Ulangi percobaan dengan dua pipa yang lain.
h. Lakukan percobaan yang sama dengan larutan NaCl.
i. Kembalikan larutan NaCl ke botol penyimpanan serta bersihkan alat-alat.
3. Viskositas Zat Cair
a. Hidupkan water bath dan atur knop suhu pada suhu 30 oC.
b. Isi minyak ke dalam Viskosimeter Ostwald berdiameter 1.0 mm dan
aquadest ke dalam Viskosimeter Ostwald berdiameter 0.6 mm.
c. Letakkan Viskosimeter Ostwald (dengan bantuan penjepit kayu), dan
termometer alkohol 110oC ke dalam water bath. Tunggu 15 menit agar
suhu fluida mendekati atau sama dengan suhu water bath.
d. Setelah suhu 30 C tercapai, zat cair dinaikkan lebih tinggi dari tanda
paling atas pada Viskosimeter Ostwald dengan bola penghisap.
e. Lepaskan bola penghisap pada ujung Viskosimeter Ostwald dan hidupkan
stopwatchsaat zat cair tersebut melewati tanda paling atas. Stopwatch
kemudian dimatikan saat zat cair tersebut melewati tanda paling bawah.
Catat waktu yang diperlukan oleh zat cair tersebut, catat pula suhu pada
termometer alkohol 110C sebagai suhu waterbath.
f. Ulangi langkah pada poin e sebanyak tiga kali, masing-masing untuk
minyak dan aquadest.
g. Naikkan suhu water bath menjadi 40 oC (kira-kira lima menit). Tunggu
lima menit agar suhu fluida sama dengan suhu water bath.
h. Ulangi langkah pada poin d,e, dan f.
i. Ulangi percobaan untuk suhu 50, 60, dan 70 oC.

83
84 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

j. Isi gelas ukur 250 mL dengan minyak gorengdan masukkan hidrometer ke


dalamnya.
k. Catat rapat massa yang terbaca pada skala hidrometer serta ukur suhu
minyak menggunakan termometer alkohol 110 C.
l. Matikan water bath setelah semua percobaan selesai dan kembalikan
minyak goreng ke botol penyimpannya serta bersihkan alat-alat.
4. Penimbangan
a. Bersihkan kemudian timbang piknometer kosong 25 mL beserta tutupnya
dengan neraca analitis digital dan catat hasilnya.
b. Timbang piknometer 25 mL yang berisi aquadest sampai penuh dengan
neraca analitis digital dan catat hasilnya.
c. Keluarkan aquadest dari piknometer dan keringkan piknometer.
d. Timbang piknometer 25 mL yang berisi larutan NaCl sampai penuh dengan
neraca analitis digital dan catat hasilnya.
e. Kembalikan larutan NaCl ke botol penyimpanan dan bersihkan piknometer.

D. Analisis Data
1. Menentukan Rapat Massa Zat Cair
Massa cairan =(massa piknometer+tutup+cairan) (massa piknometer
kosong+tutup)

= ...................................................... (19)

Rapat massa aquadest diperoleh dari referensi (pada suhu percobaan)


dengan, Nacl : rapat massa cairan NaCl (g/mL)
aquadest : rapat massa aquadest (g/mL)

Sedangkan untuk rapat massa minyak dapat didekati dengan persamaan


berikut:
= 6,514 104 ( )......................... (20)

dengan, minyak : rapat massa minyak pada berbagai suhu percobaan


(g/mL)
minyak mula-mula : rapat massa minyak yang diukur pada suhu
ruang dengan hidrometer (g/mL)

84
85 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

T : Suhu percobaan Waterbath (C)


To : Suhu minyak mula-mula (C)

2. Menentukan Tegangan Muka Zat Cair


a. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Pertama, tentukan selisih ketinggian cairan pada manometer dengan
persamaan (21), kemudian tentukan rata-ratanya dengan persamaan (22).
Selanjutnya, kedalaman pipa rata-rata dari permukaan cairan ditentukan
dengan persamaan (23), sedangkan jari-jari pipa kapiler ditentukan
dengan persamaan (24). Data-data yang diperoleh disajikan dalam tabel
seperti contoh.
h1 = 2 (hm-ho) ...................................................... (21)


1 = 1
.............................................................. (22)

2 =

h 2
..........................................................
n (23)

r=
2 ................................................................... (24)

dengan,

ho : ketinggian cairan pada manometer sebelum pipa kapiler

dicelupkan(ketika ketinggian kakikiri dan kanan

manometer sama) (cm)

hm : ketinggian cairan pada kaki terbukamanometer ketika

terbentuksetengah gelembung pada ujung pipa kapiler

yang tercelup (cm)

h1 : selisih ketinggian cairan pada manometer (cm)

h2 : kedalaman pipa yang tercelup dari permukaan (cm)



1 :selisih ketinggian rata rata cairan pada manometer (cm)

2 : kedalaman pipa rata-rata dari permukaan cairan (cm)

85
86 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

n : jumlah data percobaan

r : jari jari pipa kapiler (cm)


D :diameter pipa kapiler (cm)

0
Aquadest, T = C
No. Jari-Jari Pipa = cm
h0 (cm) hm (cm) h1(cm) h2 (cm)
1.
2.
3.
Rata-Rata

Kemudian, tegangan muka dapat dihitung dengan menggunakan


persamaan (25) sebagai berikut.
__
1 __
gr 1 h1 2 h2 ................................ (25)
2

dengan, g : percepatan gravitasi bumi (981 cm/s2)

r : jari jari pipa kapiler (cm)

1: rapat massa cairan pada manometer (g/mL)

2: rapat massa cairan uji (g/mL)


tegangan muka (dyne/cm)

Lakukan perhitungan yang sama untuk larutan NaCl. Sebelum menyajikan


tabel, berikan contoh perhitungan untuk salah satu bagian.

b. Metode Kenaikan Pipa Kapiler


Pertama, tentukan rata-rata hasil pengukuran ketinggian cairan di dalam
pipa kapiler dengan menggunakan persamaan (26). Selanjutnya,
hitunglah jari-jari masing-masing pipa kapiler dengan persamaan (27).
Kemudian, tentukan tegangan muka zat cair pada masing-masing

86
87 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

diameter pipa kapiler, dengan persamaan (28). Terakhir, tentukan


tegangan muka rata-rata zat cair tersebut dengan persamaan (29).
__
h h ..................................................
n (26)

r = ............................................................. (27)
2

1
grh ........................................
2 (28)

( ) = ........................... (29)

dengan, h : tinggi cairan dalam pipa kapiler (cm)


: tinggi cairan rata rata dalam pipa kapiler (cm)
D: diameter pipa kapiler (cm)
g : percepatan gravitasi bumi (981 cm/s2)
r: jari - jari pipa kapiler (cm)
: rapat massa zat cair (g/mL)
n : jumlah data percobaan

Sajikan rangkaian perhitungan tersebut menjadi tabel sebagai berikut.


0
No. Aquadest, T = C

1. 2. 3.
__
h
Pipa 1r= cm
Pipa 2r= cm
Pipa 3r= cm
Rata-Rata

Lakukan perhitungan yang sama untuk larutan NaCl. Sebelum menyajikan


tabel, berikan contoh perhitungan untuk salah satu bagian.

c. Perhitungan Kesalahan Relatif Pengukuran Tegangan Muka


Perhitungan kesalahan relatif pengukuran tegangan muka dilakukan
setiap selesai melakukan perhitungan tegangan muka dengan
menggunakan suatu metode. Perhitungan kesalahan relatif tidak
dilakukan di akhir, setelah perhitungan dengan kedua metode.

87
88 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Tegangan muka aquadest referensi diketahui dengan metode interpolasi


berdasarkan data yang didapatkan dari literatur, dengan persamaan (30)
1 1
= .......................................... (30)
2 1 2 1

dengan,
T : suhu (C)
: tegangan muka (dyne/cm)
Kesalahan relatif pengukuran tegangan muka aquadest dengan
persamaan berikut:

Kesalahan relatif = | | 100% ......................................... (34)

3. ViskositasZat Cair
Pertama, jari-jari Viskosimeter Ostwald yang digunakan untuk aquadest dan
minyak ditentukan jari-jarinya dengan menggunakan persamaan berikut.


= ......................................... (31)
2
dengan,
r : jari-jari Viskosimeter Ostwald (cm)
D : diameter Viskosimeter Ostwald (cm)
Massa jenis aquadest pada berbagai suhu dapat diketahui dengan data yang
berasal dari referensi. Selanjutnya, waktu rata-rata percobaan untuk masing-
masing minyak dan aquadest dihitung dengan persamaan (32). Terakhir,
viskositas relatif ditentukan dengan persamaan (33).
__
t
1
t1 t 2 t 3 .....................................................
3 (32)
4
= = ............................. (33)
0 04
0

dengan,
: viskositas (cp)
o : rapat massa aquadest (g/mL)
: rapat massa minyak (g/mL)

88
89 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

ro : jari jari Viskosimeter Ostwald untuk aquadest (cm)


r : jari jari Viskosimeter Ostwald untuk minyak (cm)
t o : waktu alir rata rata aquadest (detik)
t : waktu alir rata rata minyak (detik)
Data-data yang diperoleh dari hasil percobaan dan data yang diperoleh dari
perhitungan, disajikan dalam tabel berikut dengan menyertakan contoh
perhitungan pada bagian sebelumnya.

t Minyak
Suhu __
t Aquadest (s)
No. (s) t

Waterbath relatif
1 2 3 1 2 3
1.
2.
3.
4.
5.

Setelah mendapatkan viskositas relatif, maka viskositas dinamik dapat


ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut.
= () ................................... (34)
Viskositas standar dapat ditentukan dengan melakukan pembacaan pada
Nomograph. Nomograph dapat diperoleh dari Perrys Chemical Engineers
Handbook, pada bagian Transport Properties 2-323 untuk Edisi 7.

No Relatif Minyak Standar Dinamik Minyak


1.
2.
3.

89
90 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Gambar 11. Nomograph untuk Menetukan Viskositas Zat Cair pada 1


atm
Berikut adalah langkah-langkah dalam meggunakan Nomograph,
1. Menentukan koordinat (X,Y) dari zat yang akan diukur viskositasnya.
2. Tandai titik tepat pada perpotongan X dan Y dari zat cair.
3. Nilai viskositas pada setiap suhu dalam percobaan dicari dengan
menarik garis lurus dari suhu percobaan, memotong titik dan berakhir
pada nilai viskositas.

90
91 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

4. Data pada indikator viskositas merupakan nilai viskositas zat cair pada
suhu percobaan.
Untuk aquadest gunakan koordinat X = 10 dan Y = 13.

Setelah diperoleh viskositas dinamik suatu zat cair, maka hubungannya


dengan suhu dapat ditentukan melalui pendekatan eksponensial. Persamaan
eksponensial dilinearkan terlebih dahulu.

= B ................................................................. (35)

ln = ln +
...................................................... (36)
y = b + ax ............................................................... (37)
dengan,
y = ln
b = ln B
a=A

x = 1T

n (xy) x y
a= ................................................. (38)
n( x2 )( x)2
ya x
b= .......................................................... (39)
n
Untuk mempermudah perhitungan, maka data dapat diubah menjadi tabel
sebagai berikut.

No T x =1 T x2 m dinamik y = ln m Xy

1
2
3
4
5
S

Dengan bantuan informasi tabel diatas, maka nilai A dan B dapat


ditentukan.

91
92 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017


= B ................................................................. (35)

dengan,
A=a
B = eb

Kemudian, kesalahan relatif dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan


berikut.

Kesalahan relatif persamaan = | | 100% ......................... (38)

Lalu dihitung kesalahan relatif rata-rata menggunakan persamaan berikut.



Kesalahan relatif rata rata = ........................................................ (39)

Berikut adalah contoh tabel untuk penyajian kesalahan relatif persamaan.


Kesalahan
No T, K m percobaan m persamaan
Relatif, %
1
2
3
4
5
Rata-rata

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada bagian hasil dan pembahasan poin-poin yang akan dipaparkan adalah
sebagai berikut.
1. Tegangan Muka Zat Cair
Definisi tegangan muka
Faktor faktor yang mempengaruhi tegangan muka *
Macam macam metode pengukuran tegangan muka
a. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Prinsip kerja metode tekanan maksimum gelembung
Kelebihan dan kekurangan metode tekanan maksimum gelembung*
Asumsi asumsi yang digunakan dalam percobaan*
Data hasil perhitungan beserta grafik dan penjelasan yang
dihubungkan dengan teori yang ada

92
93 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Penyebab adanya kesalahan relatif ataupun penyimpangan hasil


terhadap teori
b. Metode Kenaikan Pipa Kapiler
Prinsip kerja metode tekanan maksimum gelembung
Kelebihan dan kekurangan metode tekanan maksimum gelembung*
Asumsi asumsi yang digunakan dalam percobaan*
Data hasil perhitungan beserta grafik dan penjelasan yang
dihubungkan dengan teori yang ada
Penyebab adanya kesalahan relatif ataupun penyimpangan hasil
terhadap teori

2. Viskositas Zat Cair


Definisi viskositas
Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas*
Prinsip kerja viskosimeter Ostwald
Asumsi asumsi yang digunakan dalam percobaan*
Data hasil perhitungan beserta grafik dan penjelasan yang dihubungkan
dengan teori yang ada
Penyebab adanya kesalahan relatif ataupun penyimpangan hasil terhadap
teori

*disajikan dalam bentuk poin-poin


Pembahasan harus urut sesuai dengan poin-poin pembahasan

1
0.9
0.8
0.7
Viskositas (, cps)

0.6
Keterangan :
0.5
Percobaan
0.4
Persamaan
0.3
0.2
0.1
0
300 310 320 330 340 350
Suhu (T,K)

Gambar 12. Grafik Hubungan (Viskositas) dengan T

93
94 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

5. KESIMPULAN
Pada bagian kesimpulan, poin-poin yang dijabarkan adalah sebagai berikut.
1. Definisi tegangan muka dan viskositas zat cair.
2. Hasil percobaan pengukuran tegangan muka dengan Metode Tekanan
Maksimum Gelembung dan Kenaikan Pipa Kapiler, dan kesalahan relatif yang
diperoleh.
3. Hasil percobaan pengukuran viskositas zat cair dan persamaan hubungan
viskositas dengan suhu beserta kesalahan relatif persamaan tersebut.
4. Pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair.

6. SARAN
Saran yang dipaparkan pada bagian ini dalam bentuk poin-poin dan bertujuan agar
praktikan selanjutnya yang akan melakukan percobaan Pengukuran Tegangan
Muka dan Viskositas Zat Cair dapat melakukan praktikum dengan baik dan
memperoleh data dengan kesalahan relatif lebih kecil.

7. DAFTAR PUSTAKA.
Bird, R.B., Stewart W.E., and Lightfoot E.N., 2001, Transport Phenomena, 2nd
ed., pp.50-52., John Wiley & Sons, Inc., New York
Sutera, S.P and Skalak, R, 1993, The History Of Poiseuilles Law, Annual
Review of Fluid Mechanics Vol. 25: 1-20, Annual Reviews Inc.
Welty, J.R., Wicks, C.E., Wilson, R.E., and Rorrer G., 2007., Fundamentals of
Momentum, Heat, and Mass Transfer, 5th ed., pp.86-88, John Wiley &
Sons, Inc., New York
Wiratni, Diktat Materi Kuliah Fisika 2, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Gadjah Mada

8. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Paparkan bahaya dari bahan yang digunakan dan juga bahaya yang dapat timbul
dari penggunaan alat dan juga unsafe act. Lengkapi juga dengan cara
mengatasinya.

94
95 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


Paparkan alat perlindungan diri yang perlu digunakan saat praktikum beserta
alasan.

C. Manajemen Limbah
Bahas setiap limbah yang dihasilkan dari praktikum ini, dan jelaskan
penanganannya.

D. Data Percobaan

E. Perhitungan
(Grafik hasil perhitungan diletakkan di pembahasan, sedangkan nomograph
diletakkan di perhitungan)

95
96 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA

PENGUKURAN TEGANGAN MUKA DAN


VISKOSITAS ZAT CAIR
(E)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari/Tanggal :
Asisten : Afrizal Luthfi Anggara / Shelia Febriani Hunarko

DATA PERCOBAAN
A. Pengukuran Tegangan Muka
1. Metode tekanan Maksimum Gelembung
Aquadest,T= o
C NaCl ..% ,T= o
C
No Diameter Pipa = cm No Diameter Pipa = cm
ho,cm hm,cm h2,cm ho,cm hm,cm h2,cm
1 1
2 2
3 3

2. Metode Kenaikan Kapiler


o
Aquadest, T= C
No.
Pipa 1,d= cm Pipa 2,d= cm Pipa 3,d= cm
1.
2.
3.

o
NaCl ........%, T= C
No.
Pipa 1,d= cm Pipa 2,d= cm Pipa 3,d= cm
1.
2.
3.
3. Penimbangan

96
97 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

No Objek yang ditimbang Massa, gram


1 Piknometer kosong
2 Piknometer + Aquadest
3 Piknometer + Larutan NaCl

B. Pengukuran Viskositas Zat Cair

o
Suhu minyak mula-mula = C
Densitas minyak mula-mula = g/mL

T Waterbath t aquadest t minyak


No
(oC) 1 2 3 1 2 3
1
2
3
4
5

Yogyakarta,
Asisten Jaga, Praktikan,
1.

2.

3.

97
98 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

ANALISIS VOLUMETRI
(F)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan konsentrasi larutan standar NaOH dengan titrasi asidimetri-
alkalimetri.
2. Menentukan konsentrasi larutan standar Na2S2O3 dengan titrasi iodometri.

II. DASAR TEORI


Analisis volumetri adalah analisis kimia kuantitatif dengan mengukur
volume larutan standar yang dapat bereaksi dengan suatu senyawa dalam larutan
yang akan ditentukan konsentrasinya. Analisis dilakukan dengan cara titrasi, yaitu
menambahkan larutan standar tetes demi tetes melalui buret ke dalam erlenmeyer
yang berisi larutan yang akan ditentukan konsentrasinya. Titrasi dihentikan saat
reaksi sempurna tercapai, yang disebut juga titik ekivalen. Meskipun tercapainya
titik ekivalen kemungkinan dapat diketahui dengan adanya perubahan pada
larutan yang dititrasi (misalnya timbul endapan, atau terbentuk senyawa
kompleks), namun untuk memperjelas, kadang diperlukan indikator yang sesuai
yang memberikan perubahan (warna) yang jelas, sehingga akhir titrasi dapat
diketahui (titik akhir titrasi). Titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik
ekivalen.
Larutan standar adalah larutan suatu zat yang konsentrasinya atau
normalitasnya sudah diketahui dengan pasti. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam
beberapa besaran, antara lain molaritas, normalitas, dan molalitas. Molaritas
menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap liter larutan, normalitas
menyatakan banyaknya mol ekivalen (grek) zat terlarut dalam setiap liter larutan.
Sedangkan molalitas menyatakan jumlah mol yang terlarut dalam 1000 gr
terlarut. Untuk asam, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion H+. Dan
untuk basa, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion OH-. Sehingga, dapat
dituliskan persamaan yang menghubungkan normalitas dengan molaritas sebagai
berikut.
N = M x valensi (1)
dengan, N = Normalitas larutan

98
99 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

M = Molaritas larutan
Valensi = Valensi dari zat terlarut
Larutan dari bahan yang mempunyai kemurnian yang tinggi, mempunyai
berat ekivalen yang tinggi, stabil (sehingga beratnya dapat diketahui dengan
pasti), mudah larut dalam air atau pelarut lainnya, disebut larutan standar primer.
Misalnya larutan dari H2C2O4, K2Cr2O7, Na2B4O7.10H2O. Jadi larutan standar
primer dapat langsung digunakan pada titrasi tanpa harus di standarisasi terlebih
dahulu. Sedang larutan standar sekunder (misalnya HCl, Na2S2O3) harus
distandarisasi lebih dahulu dengan larutan standar primer bila akan digunakan
untuk menentukan normalitas larutan yang ingin diketahui konsentrasinya.
Berdasarkan reaksi yang terjadi dalam proses titrasi, analisis volumetri/
analisis titrimetri digolongkan menjadi :
1. Asidi-alkalimetri (netralisasi)
2. Oksidimetri-reduksi (redoks)
3. Pengendapan
4. Pembentukan kompleks
Dalam praktikum ini hanya Asidimetri-alkalimetri dan Oksidimetri-reduksi
(redoks) yang dipraktekkan.
1. Titrasi Asidi - Alkalimetri
Asidimetri adalah titrasi terhadap suatu basa bebas atau larutan garam
terhidrolisis yang berasal dari suatu asam lemah dan basa kuat dengan larutan
standar asam kuat. Sedangkan alkalimetri adalah titrasi terhadap suatu larutan
asam bebas atau larutan garam terhidrolisis yang berasal dari suatu basa lemah
dan asam kuat dengan larutan standar basa kuat. Untuk menentukan
konsentrasi larutan NaOH digunakan larutan standar HCl (Asidimetri), yang
diketahui konsentrasi, setelah larutan HCl tersebut distandarisir dengan larutan
boraks (standar primer). Reaksi yang terjadi:
Na2B4O7(aq) + 5H2O(l) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) +4H3BO3(aq) (2)
Terbentuknya asam lemah H3BO3 membuat pH larutan pada titik akhir
titrasi < 7. Oleh karena itu digunakan indikator methyl orange yang memiliki
trayek pH 3,1 - 4,4. Indikator ini memberikan perubahan warna dari orange
menjadi merah bata pada saat titik ekivalen tercapai. Berdasarkan berat (yang
tepat) boraks yang dilarutkan dan volum HCl (yang tepat) yang diperlukan
sampai perubahan warna terjadi, konsentrasi HCl dapat diketahui. Selanjutnya

99
100 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

larutan standar HCl digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH.


Pada saat titik ekivalen, seluruh NaOH bereaksi sempurna dengan HCl
membentuk garam NaCl, sebagai berikut:
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) (3)
Karena NaCl adalah garam netral, maka pH larutan pada titik ekivalen
sekitar 7, maka digunakan indikator phenolphtalein yang memiliki trayek pH
8,3-10 dan memberikan perubahan warna dari merah muda menjadi tidak
berwarna.
2. Titrasi Redoks
Titrasi Redoks adalah metode penentuan kuantitatif yang reaksi
utamanya adalah reaksi oksidasi dan reduksi. Pada reaksi redoks terjadi
perubahan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi adalah muatan yang akan
dimiliki oleh suatu atom jika suatu senyawa tersusun atas ion-ionnya. Reaksi
ini hanya dapat berlangsung kalau terjadi interaksi dari senyawa/unsur/ion
yang bersifat oksidator dengan senyawa/unsur/ion yang bersifat reduktor. Jadi
kalau larutan standarnya oksidator, maka analit harus bersifat reduktor atau
sebaliknya. Berdasarkan jenis oksidatornya maka titrasi. Redoks digolongkan
antara lain: permanganometri (bila larutan standar primer yang digunakan
KmnO4), dikhrometri (larutan standar primer yang digunakan K2Cr2O7),
iodimetri/iodometri (larutan standar primer I2 langsung/tidak langsung).
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodimetri/
iodometri adalah natrium thiosulfat (biasanya berbentuk pentahidrat
Na2S2O3.5H2O). Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang
lama, oleh karena itu konsentrasi yang tepat harus distandarisasi dengan
larutan standar primer I2. Pada praktikum ini, konsentrasi larutan standar
Na2S2O3 ditentukan dengan titrasi iodometri tidak langsung, menggunakan
larutan standar primer I2 yang dibebaskan dari reaksi oksidasi KI dengan
K2Cr2O7 dalam suasana asam (dengan penambahan HCl atau H2SO4). Reaksi
yang terjadi:
Cr2O72-(aq) + 6I-(aq) + 14H+(aq) 2Cr3+(aq) + 3I2(g) + 7H2O(l) (4)
Pada reaksi ini digunakan KI berlebih, agar semua Cr2O72- bereaksi dan
sisa KI berguna untuk melarutkan I2 yang terbentuk (I2 sangat sedikit/tidak
larut dalam air tapi mudah larut dalam dalam larutan yang mengandung ion

100
101 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

iodida/ KI membentuk kompleks Iodida : I2+I- I3- yang mudah larut dalam
air). Selanjutnya Iodium (I2) yang timbul dititrasi dengan larutan standar
natrium thiosulfat (Na2S2O3).
Pati/amilum adalah indikator yang digunakan dalam titrasi Na2S2O3,
karena amilum membentuk kompleks dengan I2 yang menimbulkan warna biru
tua yang masih jelas meskipun hanya terdapat sedikit I2. Pada titik ekivalen,
iod yang terikat akan hilang sehingga warna biru akan pudar dan perubahan
warna dapat diamati. Penambahan amilum dilakukan pada saat titik akhir
titrasi hampir tercapai (saat iod yang tersisa dalam larutan tinggal sedikit),
yang ditandai dengan terbentuknya warna coklat pada larutan. Hal ini
dilakukan agar amilum tidak membungkus iod, yang mengakibatkan warna
biru tua sulit hilang dan akibatnya titik akhir titrasi tidak dapat diamati.
Perubahan warna yang dapat diamati selama iodometri berlangsung:
a. Pada saat penambahan K2Cr2O7 pada larutan yang berisi Na2CO3, KI, dan
HCl pekat, terjadi perubahan dari tidak berwarna menjadi coklat pekat/
gelap. Perubahan warna ini menandakan terjadinya reaksi antara ion kromat
pada K2Cr2O7 dengan ion iod.
b. Pada saat titrasi larutan campuran Na2CO3, KI, HCl dan K2Cr2O7 dengan
menggunakan larutan Na2S2O3, terjadi perubahan warna dari coklat gelap
menjadi coklat bening. Perubahan ini menunjukan terjadinya reaksi berikut:
2S2O32-(aq) + I2(g) S4O62-(aq) + 2I-(aq) (5)
c. Setelah amilum diteteskan, terjadi perubahan warna dari coklat bening
menjadi biru kehitaman/ gelap. Hal ini disebabkan oleh amilum yang
mengikat iod menjadi iodamilum sehingga terjadi perubahan warna.
d. Pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari biru gelap menjadi hijau
kebiruan, yaitu saat Na2S2O3 kembali ditambahkan ion sulfit bereaksi
dengan sisa iod (yang sudah terikat pada amilum).

101
102 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. HCl 0,1 N 7. Kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,1 N
2. Aquadest 8. Natrium tiosulfat pentahidrat
3. Boraks (Na2B4O7.10H2O) (Na2S2O3.5H2O)
4. Natrium hidroksida (NaOH) 9. Natrium karbonat (Na2CO3)
5. Indikator methyl orange (m.o) 10. Kalium Iodida (KI)
6. Indikator phenol pthalein (p.p) 11. Pati

B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh gambar
rangkaian alat berikut:

1 Keterangan :
1. Buret 50 mL
2. KranBuret
4 3. Erlenmeyer
4. Titran
2 5. Titrat

3
5
Gambar 1. Rangkaian Alat Titrasi

C. Cara Percobaan
Asidimetri Alkalimetri
1. Standardisasi larutan standar HCl 0,1 N
a. Timbang 0,2 gram boraks dalam gelas arloji dengan neraca analitis
digital.
b. Masukkan boraks ke dalam Erlenmeyer 250 mL dengan bantuan corong
gelas.
c. Semprot sisa-sisa boraks yang menempel pada gelas arloji sehingga
semua boraks masuk ke dalam Erlenmeyer.

102
103 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

d. Tambahkan aquadest hingga volumenya 30mL.


e. Gojog Erlenmeyer hingga larutan homogen.
f. Tambahkan 3-5 tetes methyl orange.
g. Isi buret dengan larutan standar HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
h. Titrasi larutan boraks hingga titik ekuivalen tercapai.
i. Catatlah volume larutan HCl yang diperlukan dan perubahan warna
yang terjadi.
j. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

2. Pembuatan larutan NaOH 0,1 N


a. Siapkan 10 mL aquadest dalam gelas beker 100 mL
b. Timbang 0,4 gram NaOH dengan botol timbang.
c. Masukkan NaOH ke dalam gelas beker, lalu aduk hingga homogen.
d. Pindahkan larutan NaOH ke dalam labu ukur 100 mL, tambahkan
aquadest hingga tanda batas dan gojog hingga homogen.

3. Penentuan konsentrasi larutan NaOH 0,1 N


a. Ambil 10 mL larutan NaOH 0,1 N dengan pipet volume 10 mL lalu
tuang ke dalamErlenmeyer 125 mL.
b. Tambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein.
c. Isi buret dengan larutan standar HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
d. Titrasi larutan NaOH sampai titik ekuivalen.
e. Catat volume larutan HCl yang diperlukan dan perubahan warna yang
terjadi.
f. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

4. Pembuatan larutan NaOH Y N


a. Ambil sejumlah larutan NaOH 0,1 N dengan pipet volume 10 mL lalu
tuang ke dalam labu ukur 100 mL.
b. Ambil sejumlah larutan NaOH X N dengan pipet volume 10 mL lalu
tuang ke dalam labu ukur berisi larutan NaOH 0,1 N.
c. Gojog labu ukur hingga homogen.

5. Penentuan konsentrasi larutan NaOH Y N

103
104 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

a. Ambil 10 mL larutan NaOH Y N dengan pipet volume 10 mL lalu tuang


ke dalam Erlenmeyer 125 mL.
b. Tambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein.
c. Isi buret dengan larutan standar HCl 0,1 N sampai tanda batas nol.
d. Titrasi larutan NaOH sampai titik ekuivalen.
e. Catat volume larutan HCl yang diperlukan dan perubahan warna yang
terjadi.
f. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

Iodometri
1. Pembuatan larutan standar Na2S2O3
a. Timbang 2,5 gram Na2S2O3 dalam gelas arloji menggunakan neraca
analitis digital.
b. Masukkan Na2S2O3 ke dalam gelas beker 250 mL yang berisi aquadest
50 mL lalu aduk sampai larut.
c. Saring larutan menggunakan kertas saring dan tuangkan larutan ke
dalam labu ukur 100 mL.
d. Tambahkan aquadest hingga batas dan gojog hingga homogen.

2. Pembuatan indikator pati


a. Timbang 0,1 gram pati dalam gelas arloji dengan neraca analisis digital.
b. Masukkan pati ke dalam gelas beker 250 mL.
c. Tambahkan aquadest sampai volume 50 mL.
d. Panaskan larutan pati sambil diaduk hingga mendidih

3. Peneraan larutan Na2S2O3


a. Timbang 3 gram KI dan 1 gram Na2CO3 dalam gelas arloji
menggunakan neraca analitis digital.
b. Masukkan KI dan Na2CO3 ke dalam Erlenmeyer 250 mL bertutup yang
berisi 50 mL aquadest.
c. Gojog Erlenmeyer hingga larutan homogen.
d. Tambahkan HCl pekat 1:1 sejumLah 5 mL ke dalam Erlenmeyer
dengan pipet volume 5 mL sambil digojog pelan.

104
105 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

e. Tambahkan larutan K2Cr2O7 yang telah disediakan dengan pipet volume


25 mL dan gojog hingga homogen.
f. Tutup Erlenmeyer dengan gelas arloji dan simpan di tempat gelap 10
menit.
g. Isi buret dengan larutan Na2S2O3 sampai tanda batas nol.
h. Titrasi larutan K2Cr2O7 dalam Erlenmeyer bertutup tadi dengan larutan
Na2S2O3 sampai berwarna coklat muda.
i. Tambahkan indikator pati sampai larutan menjadi biru kehitaman.
j. Lanjutkan titrasi hingga larutan berubah warna menjadi hijau kebiruan.
k. Catat volume larutan Na2S2O3 yang diperlukan dan perubahan warna
yang terjadi.
l. Ulangi percobaan 2 kali lagi.

D. Analisis Data
Asidimetri-alkalimetri
1. Penentuan normalitas larutan HCl
Normalitas larutan HCl teoretis:
10 1
= (1)
2

dengan, NHCl = normalitas HCl, N


V1 = volume HCl pekat, mL
n = valensi HCl
K = kadar HCl pekat, %
= massa jenis HCl, g/mL
V2 = volume setelah pengenceran, mL
Mr = massa molekul relatif HCl = 36,5 g/mol
Normalitas larutan HCl sebenarnya:
2
= (2)

dengan, NHCl = normalitas HCl yang sebenarnya, N


mboraks = massa boraks, mg
Mrboraks = massa molekul relatif boraks = 382 mg/mmol
VHCl = volume HCl untuk titrasi, mL

105
106 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

2. Standardisasi NaOH dengan HCl


Normalitas NaOH teoretis:

= (3)

dengan, NNaOH = normalitas NaOH, N


m = massa NaOH, mg
n = banyak OH- dalam molekul NaOH = 1
Mr = massa molekul relatif NaOH = 40 mg/mmol
VHCl = volume larutan NaOH, mL
Normalitas NaOH sebenarnya:

= (4)

dengan, NNaOH = normalitas NaOH sebenarnya, N


VNaOH = volume NaOH yang dititrasi, mL
NHCl = normalitas HCl sebenarnya untuk titrasi, N
VHCl = volume HCl untuk titrasi, mL

3. Standardisasi larutan NaOH Y N dengan HCl


Normalitas NaOH Y N teoretis dihitung dengan persamaan:
1 1 + 2 2 = 3 3 (5)
dengan, N1 = normalitas larutan NaOH X N
V1 = volume larutan NaOH X N
N2 = normalitas larutan NaOH 0,1 N
V2 = volume larutan NaOH 0,1 N
N3 = normalitas larutan NaOH Y N hasil pencampuran
V3 = volume larutan NaOH Y N hasil pencampuran
Normalitas NaOH Y N sebenarnya dihitung dengan persamaan:

= (6)

dengan, NNaOH Y N = normalitas NaOH Y N, N


VNaOH Y N = volume NaOH Y N yang dititrasi, mL
NHCl = normalitas HCl sebenarnya untuk titrasi, N
VHCl = volume HCl untuk titrasi, mL

4. Menghitung rata-rata normalitas suatu larutan

106
107 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017


= (7)

dengan, Nrata-rata = normalitas rata-rata, N
N = jumlah normalitas data hasil percobaan, N
n = banyak data

Iodometri
1. Standardisasi Na2S2O3
Normalitas Na2S2O3 teoretis :
2 23
223 = (8)
2 23 2 23

dengan, N Na2S2O3 = normalitas larutan Na2S2O3, N


m Na2S2O3 = massa Na2S2O3, mg
Mr Na2S2O3 = massa molekul relatif Na2S2O3.5H2O = 248
mg/mmol
V Na2S2O3 = volume larutan Na2S2O3, mL
Normalitas K2Cr2O7 sebenarnya :
6 2 27
22 7 = (9)
2 2 7 2 2 7

dengan, N K2Cr2O7 = normalitas larutan K2Cr2O7 sebenarnya, N


m K2Cr2O7 = massa K2Cr2O7, mg
Mr K2Cr2O7 =massa molekul relatif K2Cr2O7 = 294 mg/mmol
V K2Cr2O7 = volume larutan K2Cr2O7, mL
Normalitas Na2S2O3 sebenarnya :
22 7 2 2 7
223 = (10)
Na2 S2O3

dengan, N Na2S2O3 = normalitas larutan Na2S2O3 sebenarnya, N


V K2Cr2O7 = volume larutan K2Cr2O7, mL
N K2Cr2O7 = normalitas larutan K2Cr2O7 sebenarnya, N
V Na2S2O3 = volume larutan Na2S2O3, mL

2. Menghitung rata-rata normalitas suatu larutan



= (7)

dengan, Nrata-rata = normalitas rata-rata, N

107
108 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

N = jumlah normalitas data hasil percobaan, N


n = banyak data

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Poin-poin yang perlu dibahas meliputi :
a. Prinsip asidimetri-alkalimetri dan iodometri.
b. Alasan pemilihan indikator phenolphthalein dan methyl orange.
c. Alasan dilakukan standardisasi larutan standar sekunder.
d. Perubahan warna yang terjadi pada proses titrasi.
e. Alasan penambahan indikator pati setelah terjadi perubahan warna dari coklat
tua ke coklat muda.
f. Hasil percobaan asidimetri-alkalimetri dan iodometri dan narasinya.
g. Penyebab perbedaan konsentrasi NaOH hasil pencampuran teoretis dengan
hasil standardisasi.

V. KESIMPULAN
Kesimpulan menjawab tujuan dan hasil-hasil penting dalam percobaan ini.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Day, R. A. and Underwood, A. L., 1991, Quantitative Analysis, pp. 43-51,
Prentice-Hall International, New Jersey.
Perry, R. H. and Green, D. W., 1950, Perrys Chemical Engineers Handbook,
6ed., pp. 3-14, 3-19, 3-22, McGraw-Hill Book Company Inc., New York.
Skoog, A.D., West, D.M., and Holler, F.J., 1994, Analytical Chemistry An
Introduction, 6ed., pp. 150-153, Sounders College Publishing, Orlando.
Vogel, A.I, 1958, Text Book of Quantitative Inorganic Analysis, 2ed., pp. 43-
45, 52, 150-160, 229-233, Longman, Green and Co., London.

VII.LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Bahan Kimia
Berisi sifat-sifat fisis maupun sifat kimia dari bahan-bahan yang dipakai
dalam praktikum ini.
2. Hazard Proses

108
109 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Penjelasan tentang potensi bahaya dari proses-proses yang terjadi selama


praktikum berlangsung misalnya saat pengambilan HCl, penimbangan
bahan, proses titrasi, dll.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


a. Jas Laboratorium
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Sepatu tertutup
e. Goggle

C. Manajemen Limbah
Berkaitan dengan pembuangan limbah hasil praktikum sesuai kandungan
senyawa yang ada dalam limbah tersebut.

D. Data Percobaan

E. Perhitungan

109
110 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
ANALISIS VOLUMETRI
(F)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari / tanggal :
Asisten : Bill Rich / Pinky Alifah Sosari

DATA PERCOBAAN
1. Alkalimetri dan Asidimetri
Rapat massa HCl pekat = g/mL
Kadar HCl pekat = %
Volum HCl pekat = mL
Volum HCl encer = mL

a) Peneraan larutan HCl 0,1 N


No. Berat Boraks, gram Volume HCl untuk titrasi, mL Perubahan Warna
1
2
b) Peneraan larutan NaOH 0,1 N
Massa NaOH = gram
Volum NaOH = mL
No. Volume NaOH, mL Volume HCl untuk titrasi, mL Perubahan Warna
1
2
3

c) Peneraan larutan NaOH Y N


Volume larutan NaOH 0,1 N = mL
Volume larutan NaOH X N = mL
Konsentrasi larutan NaOH X N = N

110
111 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Volume HCl untuk


No. Volume NaOH Y N, mL Perubahan Warna
titrasi, mL
1
2
3

Iodometri
Massa Na2S2O3 = gram
Volum larutan Na2S2O3 = mL
Massa K2Cr2O7 = gram
Volum larutan K2Cr2O7 = mL
Peneraan larutan Na2S2O3:
Volume
Massa Na2CO3, Volume Perubahan
No. Massa KI, gram Na2S2O3 untuk
gram K2Cr2O7, mL Warna
titrasi, mL
1
2
3

Yogyakarta,
2015
Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.

3.

111
112 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

ANALISIS GRAVIMETRI
(G)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menetukan kemurnian pupuk ZA dengan
menggunakan metode analisis gravimetri.

II. DASAR TEORI


Analisis gravimetri adalah analisis kuantitatif berdasarkan bobot yang
digunakan melalui proses isolasi dan penimbangan suatu unsur atau senyawa
tertentu dari unsur tersebut dalam bentuk semurni mungkin (Vogel : 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan analisis gravimetri adalah :
1. Sifat fisik endapan
2. Daya larut endapan
Analisis gravimetri dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Analisis kualitatif, yaitu analisis untuk mengetahui jenis ion dalam senyawa
tertentu. Contoh: ion Cl- pada larutan garam dapur.
2. Analisis kuantitatif, yaitu analisis untuk mengetahui jumlah atau kadar atau
konsentrasi suatu ion dalam senyawa tertentu. Contoh: penentuan konsentrasi
ion SO42-dalam larutan ammonium sulfat (ZA).
Analisis gravimetri harus melalui beberapa tahapan, yaitu pengendapan,
penyaringan, pencucian, dan pemijaran serta penimbangan.
a. Tahap pengendapan
Tahap ini merupakan tahap pembentukan inti dari ion-ion molekul yang
akan diendapkan. Pada proses pengendapan ini digunakan pupuk ZA
[(NH4)2SO4] dan BaCl2 yang bereaksi membentuk endapan BaSO4. Reaksi
yang terjadi adalah :
(NH4)2SO4(aq) + BaCl2(aq) BaSO4(s) + 2NH4Cl (aq) (1)
b. Tahap penyaringan
Penyaringan bertujuan untuk memisahkan cairan dan endapan dalam
larutan. Kertas saring yang digunakan adalah kertas saring Whatman 40 agar
setelah pemijaran, endapan yang diperoleh berupa garam sulfat murni dan
bebas abu.

112
113 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

c. Tahap pencucian
Tahap pencucian berfungsi untuk menghilangkan kotoran yang
teradsorpsi pada endapan BaSO4, jika tidak dihilangkan maka akan
mempengaruhi hasil penimbangan. Selain itu, tahap pencucian berfungsi untuk
mengambil endapan BaSO4 yang melekat di gelas beker agar endapan BaSO4
tidak ada yang tertinggal.
Untuk memastikan endapan telah benar-benar bersih dari ion-ion, seperti
ion Cl-, dilakukan pengetesan menggunakan larutan AgNO3. Hal ini bertujuan
untuk mendeteksi keberadaan ion Cl- dalam larutan sesuai reaksi:
AgNO3(aq) + Cl- (aq) AgCl(s) + NO3-(aq) (2)
Bila ion Cl- sudah tidak ada, maka hasil penambahan larutan AgNO3 tidak
menyebabkan kekeruhan sehingga pencucian tidak diperlukan lagi.
d. Tahap pemijaran
Pada tahap pemijaran digunakan muffle furnace sebagai pemijarnya
bukan oven biasa. Hal inidikarenakan, oven tidak bisa mencapai suhu tinggi
yang mencapai 800 oC sedangkan untuk memijarkannya harus mencapai 800
o
C. Sehingga dipilih muffle furnace yang dapat mencapai suhu tersebut.
e. Tahap penimbangan
Penimbangan dilakukan setelah krus yang telah berisi endapan
didinginkan dalam eksikator agar suhu krus sama dengan suhu lingkungan.
Penyeimbangan suhu dimaksudkan agar suhu krus yang masih tinggi tidak
dimasukkan ke neraca, sebab suhu tinggi dapat merusak neraca.

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN


A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam analisis gravimetri ini adalah:
1. Pupuk ZA ((NH4)2 SO4) Petrokimia Gresik (SNI 02-1760-2005)
2. Larutan BaCl2.2H2O 5%
3. Larutan AgNO3 1%
4. Kertas saring Whatman 40
5. Aquadest

113
114 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

B. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini ditunjukkan oleh rangkaian alat
berikut :

4 Keterangan Gambar:
3

1. GelasBeker 250 mL
1 2. Larutan ZA
3. GelasArloji
2 4. Gelas pengaduk
5. Asbes
6. Kompor listrik
5
7. Steker
6 8 8. Knop pengatur

Gambar 1.Rangkaian Alat Pengendapan

C. Cara Percobaan
1. Tahap Pengendapan
a. Timbang pupuk ZA sebanyak 0,2 gram dengan gelas arloji
menggunakan neraca analitis digital.
b. Ambil 50 mL aquadest dengan gelas ukur 100 mL lalu tuangkan ke
dalam gelas beker 250 mL.
c. Masukkan ZA ((NH4)2SO4) yang sudah ditimbang ke dalam gelas beker
250 mL yang berisi aquadest kemudian aduk hingga homogen.
d. Panaskan gelas beker 250 mL yang berisi larutan ZA ((NH4)2SO4) di
atas kompor listrik dalam keadaan tertutup oleh gelas arloji dan diberi
gelas pengaduk hingga mendidih.
e. Matikan kompor listrik setelah mendidih, turunkan gelas beker 250 mL
dari kompor listrik dan tunggu hingga larutan agak dingin.
f. Ambil 7,50 mL BaCl2 5% dengan pipet ukur 10 mL dan masukkan ke
dalam gelas ukur 10 mL.

114
115 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

g. Masukkan BaCl2 5% setetes demi setetes dengan pipet tetes ke dalam


larutan ZA yang sudah agak dingin sambil diaduk dengan gelas
pengaduk.
h. Panaskan larutan lagi dengan kompor listrik hingga mendidih.
i. Matikan kompor listrik dan turunkan gelas beker 250 mL.
j. Dinginkan larutan hingga terbentuk endapan dan larutan bening.
k. Lakukan pengetesan dengan cara mengambil 10 mL BaCl2 5% dengan
pipet ukur 10 ml dan masukkan ke dalam gelas ukur 10 mL. Teteskan
BaCl2 5% tersebut ke dalam larutan ZA dengan pipet tetes, setetes demi
setetes sampai tidak terjadi aliran endapan (seperti aliran minyak).
l. Catat volume BaCl2 5% yang digunakan selama pengetesan.
m. Lakukan percobaan sekali lagi dari langkah a sampai langkah m.

2. Tahap Penyaringan
a. Lipat kertas saring Whatman 40 (kertas saring bebas abu) hingga
seperempat lingkaran.
b. Pasang ke dalam corong gelas.
c. Basahi kertas saring menggunakan aquadest hangat sambil ditekan-tekan
dengan gelas pengaduk hingga menempel sempurna di corong gelas
(tidak ada rongga). Hati-hati saat menekan kertas saring.
d. Tuangkan larutan ke corong gelas, sedikit demi sedikit dengan bantuan
gelas pengaduk hingga semua larutan habis.

3. Tahap Pencucian
a. Panaskan 400 mL aquadest dalam gelas beker 500 mL menggunakan
kompor listrik sampai suhu 30oC 40oC dan masukkan ke dalam botol
semprot.
b. Lakukan pencucian dengan menyemprotkan aquadest hangat dari botol
semprot pada gelas beker yang dipanaskan untuk larutan ZA berulang-
ulang.
c. Lakukan pengetesan terhadap filtrat terakhir dengan cara meneteskan
AgNO3 1% pada tetesan terakhir pada gelas arloji.
d. Apabila larutan menjadi keruh, lakukan pencucian hingga filtrat terakhir
hingga saat dilakukan pengetesan dengan AgNO3 1% tidak keruh.

115
116 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

4. TahapPemijaran
a. Cuci krus porselen dengan air bersih kemudian keringkan di dalam oven
110oC selama 45 menit.
b. Dinginkan krus porselen dalam eksikator selama 10 menit.
c. Timbang krus porselen tersebut dan tutupnya dengan neraca analitis
digital dan catat hasilnya.
d. Masukkan kertas saring berisi endapan dalam krus porselen dan
masukkan ke dalam muffle dengan tutup krus sedikit terbuka sampai
suhu 350oC 400oC (selama 20 menit,setelah muncul asap pada
lubang muffle).
e. Turunkan suhu muffle sampai di bawah suhu 200C (penurunansuhu
20 menit) kemudian buka tutup krus porselen lalu pijarkan kembali
kedua krus sampai suhu 800oC (pemijaran kira-kira berlangsung selama
50 menit).
f. Turunkan suhu muffle sampai di bawah 200oC, lalu ambil kedua krus
dan dinginkan dalam eksikator sampai suhu lingkungan kira-kira selama
15 menit.
g. Timbang krus beserta endapannya dengan neraca analitis digital dan
catat hasilnya.

D. Analisis Data
1. Perhitungan jumlah endapan BaSO4 dari Percobaan Tiap Sampel
Untuk menganalisis beratendapan BaSO4 hasil percobaan digunakan rumus:
Mendapan = mkrus+tutup+endapan mkruskosong+tutup (3)
dengan, m = massa (g)

2. Menentukan Tingkat Kemurnian Pupuk ZA


a. Menentukan jumlah mol BaSO4 (endapan)

n1= 1 (4)
1

dengan, n1 = mol4, mol


m1 = massa 4 , g
Mr1 = beratmolekul 4 , g/mol

116
117 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

b. Menentukan massa (NH4)2SO4 dalam pupuk ZA


(NH4)2SO4 (aq) + BaCl2(aq) BaSO4 (s) + 2NH4Cl (aq) (5)
Karena (NH4)2SO4 dianggap habis bereaksi, maka:
Mol BaSO4 = mol (NH4)2SO4
m2 = n2 Mr2 (6)
dengan, m2 = massa (NH4)2SO4, g
n2 = mol (NH4)2SO4, mol
Mr2 = beratmolekul (NH4)2SO4, g/mol

c. Menentukan kemurnian pupuk ZA



Ki= 2 100% (7)
3

dengan, Ki = kemurnianpupuk ZA sampeli, %


m3 = massa pupuk ZA, g

1 +2
Kemurnian rata-rata = (8)
2

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hal-hal yang perlu ada dalam pembahasan:
Hasil perhitungan.
Pembahasan hasil percobaan.
Perbandingan terhadap teori.

V. KESIMPULAN

VI. DAFTAR PUSTAKA


Hage, David S., and Carr, James D., 2011, Analytical Chemistry and
Quantitative Analysis, p. 263-266, Pearson Prantice Hall, United States.
Meyovy,2011,Pupuk Nitrogen, [online],
http://meyovy.wordpress.com/2011/11/04/pupuk-nitrogen (diakses 19
November 2012).

117
118 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Underwood, A. L., and Day Jr., R. A., (alih bahasa oleh Dr. Ir. Iis Sopyan, M.
Eng.), 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, edisi ke-6, hal 86, Erlangga,
Jakarta.
Vogel, A. I., (alih bahasa oleh Dr. A. Hadyana Pudjatmaka dan Ir. L. Setiono),
1994, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, edisi ke-4, hal. 472-473,
EGC, Jakarta.

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Proses
Hazard proses meliputi bahaya apa saja yang dihadapi berkaitan
dengan jalannya praktikum gravimeteri ini. Contoh: saat pemanasan
menggunakan kompor listrik.

2. Hazard Bahan Kimia


Untuk hazard bahan, hal ini meliputi bahaya-bahaya (MSDS) bahan-
bahan yang digunakan dalam praktikum analisisgravimetri. Contoh :
AgNO3, ZA, BaCl2.2H2O.

B. PenggunaanAlatPerlindunganDiri
Dalam poin ini dijelaskan alat-alat perlindungan diri apa saja yang harus
digunakan saat melaksanakan praktikum analisis gravimetri ini. Disebutkan
per point alatnya beserta fungsinya.

C. ManajemenLimbah
Dalam poinini, praktikan menjelaskan tindakan apa saja yang dilakukan
untuk mengatasi atau membuang limbah yang terbentuk saat praktikum
analisis gravimetri. Misalnya, limbah campuran ZA dan BaCl2 mengandung
apa saja, dibuang kemana/ke jirigen limbah apa disertai alasannya.

D. Data Percobaan
Data hasil percobaan ditulis ulang.

E. Perhitungan

118
119 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
ANALISIS GRAVIMETRI
(G)

Nama Praktikan : 1. NIM : 1.


2. 2.
3. 3.
Hari / tanggal :
Asisten : Farida Arisa / Erda Cantia Ayunandya

DATA PERCOBAAN
Berat Pupuk ZA : 1.
2.
1. Penambahan Larutan BaCl2
No. Tahap Pengendapan, mL Tahap Pengetesan , mL
1
2
Rata-Rata
2. Berat Endapan
No. Berat krus kosong, g Berat krus + endapan, g Berat endapan, g
1
2
Rata-Rata
Yogyakarta, 2017
Asisten jaga, Praktikan,
1.

2.

3.

119
120 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

SPEKTROFOTOMETRI
(H)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk:
1. Menentukan panjang gelombang optimum untuk menentukan konsentrasi
larutan CuSO4 dan Rhodamin B.
2. Membuat kurva kalibrasi absorbansi versus konsentrasi untuk larutan CuSO4
dan Rhodamin B pada panjang gelombang optimum.
3. Menentukan kosentrasi larutan CuSO4 dan Rhodamin menggunakan
spektrofotometer visible.

II. DASAR TEORI


Spektrofotometri merupakan metode analisis kimia yang didasarkan pada
jumlah cahaya yang diserap oleh larutan berwarna. Adapun besar intensitas
penyerapan warna tersebut bervariasi tergantung pada konsentrasi larutan yang
dianalisis. Spektrofotometer UV/visible adalah alat analisis sampel dengan
menggunakan prinsip-prinsip absorbsi radiasi gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang berkisar antara sinar UV sampai dengan sinar tampak.
Berdasarkan prinsip ini, spektrofotometer UV/visible dapat digunakan untuk
menentukan kandungan zat organik atau anorganik dalam larutan.
Komponen-komponen spektrofotometer yang penting yaitu:
1. Sumber energi radiasi yang stabil.
2. Monokromator (celah, lensa, cermin).
3. Wadah sampel transparan (cuvet).
4. Detektor radiasi yang dilengkapi recorder.
Untuk larutan yang cukup encer, hubungan antara absorbansi dan
konsentrasi memenuhi hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = . b. C (1)
dimana, A =absorbansi
=absorbtivitas molar, cm1 N1
b =lebar kuvet, cm
C =konsentrasi larutan, ppm

120
121 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi dan absorbansi pada


panjang gelombang optimum perlu dibuat larutan standar pada berbagai
konsentrasi yang hasil pengukuran absorbansinya dinyatakan dalam kurva
kalibrasi hubungan antara absorbansi (A) dan konsentrasi (C).

III. METODOLOGI PERCOBAAN


A. Bahan
1. Kristal CuSO4
2. Rhodamin B
3. Aquadest

B. Rangkaian Alat Percobaan


Keterangan:
1. Spektrofotometer
4 2. Tempat cuvet
3. Kabel penghubung
1 3
4. Komputer

Gambar 1. Rangkaian Alat Spektofotometer


C. Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan CuSO4 10.000 ppm
d. Timbang 1 gram kristal CuSO4 menggunakan gelas arloji dengan neraca
analitis digital.
e. Isi gelas beker 250 mL dengan 50 mL aquadest.
f. Larutkan kristal CuSO4 ke dalam gelas beker berisi aquadest kemudian
aduk dengan gelas pengaduk hingga semua kristal terlarut.
g. Tuang larutan tersebut ke dalam labu ukur 100 mL dengan bantuan
corong gelas.
h. Isi labu ukur 100 mL dengan aquadest menggunakan botol semprot
hingga tanda batas lalu gojog hingga homogen.
2. Pembuatan Kurva Kalibrasi CuSO4
a. Hubungkan USB spektrofotometer ke laptop dan buka software Logger
Lite.

121
122 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

b. Isi cuvet dengan aquadest, lalu masukkan cuvet ke dalam tempat cuvet
pada spektrofotometer.
c. Pada toolbar, klik ExperimentCalibrateSpectrometer: 1.

d. Tunggu proses pengkalibrasian selesai (jangan klik skip warmup).


Kemudian klik Finish Calibration OK. Keluarkan cuvet dan buang
aquadest.

122
123 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

e. Cuci cuvet dengan larutan CuSO4, kemudian isi cuvet dengan


larutan CuSO4. Masukkan cuvet ke dalam tempat cuvet pada
spektrofotometer.
f. Klik Collect, maka akan muncul tabel pada sebelah kiri windows,
lalu klik Stop.

123
124 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

g. Pilih panjang gelombang optimum larutan CuSO4 yang


menunjukkan nilai absorbansi maksimum pada tabel di sebelah
kiri. Klik tombol Wave lalu pilih Absorbance vs Concentration dan
centang panjang gelombang optimum yangsesuai. Jika sudah klik
OK.

h. Catat nilai absorbansi yang ditunjukkan pada bagian kiri bawah.


i. Lakukan pengukuran absorbansi untuk larutan dengan konsentrasi
7.500, 3.000, 1.500, dan 750 ppm hasil pengenceran secara berurutan
dari konsentrasi yang terendah.
j. Buat kurva kalibrasi absorbansi versus konsentrasi larutan CuSO4
pada kertas millimeter blok.

124
125 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

3. Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4 x ppm


a. Isi cuvet dengan aquadest, lalu masukkan cuvet ke dalam tempat
cuvet pada spektrofotometer. Amati nilai absorbansi yang ditunjukkan
hingga 0,000.
b. Keluarkan cuvet dan buang aquadest. Cuci cuvet dengan larutan
CuSO4 x ppm, kemudian isi cuvet dengan larutan CuSO4 x ppm.
Masukkan cuvet ke tempat cuvet pada spektrofotometer.
c. Klik Collect, lalu klik Stop. Catat nilai absorbansi yang ditunjukkan
dan plotkan ke dalam kurva kalibrasi.
4. Pembuatan Kurva Kalibrasi Rhodamin B
a. Lakukan langkah b-d sama seperti pada tahap 2.
b. Encerkan larutan Rhodamin B 100 ppm menjadi 5 ppm.
c. Cuci cuvet dengan larutan Rhodamin B, kemudian isi cuvet dengan
larutan Rhodamin B. Masukkan cuvet ke dalam tempat cuvet pada
spektrofotometer.
d. Klik Collect, maka akan muncul tabel pada sebelah kiri windows, lalu
klik Stop.
e. Pilih panjang gelombang optimum larutan Rhodamin B yang
menunjukkan nilai absorbansi maksimum pada tabel di sebelah kiri.
Klik Wave lalu pilih Absorbancevs Concentration dan centang
panjang gelombang optimum yang sesuai. Jika sudahklik OK.
f. Catat nilai absorbansi yang ditunjukkan pada bagian kiri bawah.
g. Lakukan pengukuran absorbansi untuk larutan dengan konsentrasi 2,
1, 0.25, dan 0.1 ppm hasil pengenceran secara berurutan dari
konsentrasi yang terendah.
h. Buat kurva kalibrasi absorbansi versus konsentrasi larutan Rhodamin
B pada kertas milimeter blok.
5. Penentuan Konsentrasi Larutan Rhodamin B y ppm
a. Encerkan larutan Rhodamin B y ppm sebanyak n kali.
b. Isi cuvet dengan aquadest, lalu masukkan cuvet ke dalam tempat
cuvet pada spektrofotometer. Amati nilai absorbansi yang ditunjukkan
hingga 0,000.

125
126 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

c. Keluarkan cuvet dan buang aquadest. Cuci cuvet dengan larutan


Rhodamin B y ppm, kemudian isi cuvet dengan larutan Rhodamin B y
ppm. Masukkan cuvet ke tempat cuvet pada spektrofotometer.
d. Klik Collect, lalu klik Stop. Catat nilai absorbansi yang ditunjukkan
dan plotkan ke dalam kurva kalibrasi.

D. Analisis Data
I. Larutan CuSO4
1. Penentuan panjang gelombang optimum
Panjang gelombang optimum merupakan panjang gelombang yang ditunjukkan
saat absorbansi yang terbaca bernilai paling besar.
2. Pembuatan kurva kalibrasi
Kurva kalibrasi merupakan plot kurva hubungan absorbansi dan konsentrasi
CuSO4.
m CuSO4
[CuSO4 ]= (2)
Vlarutan

dengan, m CuSO4 = massa CuSO4, mg


Vlarutan = volume larutan, L
Untuk memperoleh larutan CuSO4 dengan berbagai konsentrasi dilakukan
pengenceran dengan persamaan :
V1 . M1 = V2 . M2 (3)
dengan, V1 = volume larutan CuSO4 sebelum pengenceran, mL
M1 = konsentrasi larutan CuSO4 sebelum pengenceran, ppm
V2 = volume larutan CuSO4 setelah pengenceran, mL
M2 = konsentrasi larutan CuSO4 setelah pengenceran, ppm
Dibuat plot antara absorbansi versus konsentrasi.
3. Pembuatan kurva hubungan antara absorbansi dan konsentrasi
Hubungan antara konsentrasi dan absorbansi ditunjukkan oleh persamaan (4):
y = ax + b (4)
dengan, y = absorbansi
x = konsentrasi, ppm
Persamaan ini dapat ditunjukkan secara langsung oleh program Microsoft Excel
dengan memunculkan kotak dialog trendline dan memilih Display Equation on
chart.

126
127 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Sementara itu kelinieran kurva hubungan absorbansi dan konsentrasi dapat


ditunjukkan dengan memilih Display R-squared value on chart dari kotak dialog
tersebut.
4. Penentuan konsentrasi CuSO4 X ppm
Absorbansi larutan CuSO4 X ppm yang ditunjukkan oleh spektrofotometer
(yb)
dimasukkan ke persamaan (4) yaitu x = sehingga dapat dihitung
a

konsentrasi larutan CuSO4 X ppm tersebut.

II. Larutan Rhodamin B


1. Penentuan panjang gelombang optimum
Panjang gelombang optimum merupakan panjang gelombang yang ditunjukkan
saat absorbansi yang terbaca bernilai paling besar.
2. Pembuatan kurva kalibrasi
Kurva kalibrasi merupakan plot kurva hubungan absorbansi dan konsentrasi
Rhodamin B.
m Rhodamin B
[Rhodamin B]= (5)
Vlarutan

dengan, m Rhodamin B = massa Rhodamin B, mg


Vlarutan = volume larutan, L
Untuk memperoleh larutan Rhodamin Bdengan berbagai konsentrasi dilakukan
pengenceran dengan persamaan :
V1 . M1 = V2 . M2 (6)
dengan, V1 = volume larutan Rhodamin B sebelum pengenceran, mL
M1 = konsentrasi larutan Rhodamin B sebelum pengenceran, ppm
V2 = volume larutan Rhodamin B setelah pengenceran, mL
M2 = konsentrasi larutan Rhodamin B setelah pengenceran, ppm
Dibuat plot antara absorbansi versus konsentrasi.
3. Pembuatan kurva hubungan antara absorbansi dan konsentrasi
Hubungan antara konsentrasi dan absorbansi ditunjukkan oleh persamaan (7) :
y = ax + b (7)
dengan, y = absorbansi
x = konsentrasi, ppm

127
128 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Persamaan ini dapat ditunjukkan secara langsung oleh program Microsoft Excel
dengan memunculkan kotak dialog trendline dan memilih Display Equation on
chart.
Sementara itu kelinieran kurva hubungan absorbansi dan konsentrasi dapat
ditunjukkan dengan memilih Display R-squared value on chart dari kotak dialog
tersebut.
4. Penentuan konsentrasi Rhodamin B X ppm
Absorbansi larutan Rhodamin B X ppm yang ditunjukkan oleh spektrofotometer
(yb)
dimasukkan ke persamaan (7), yaitu x = sehingga dapat dihitung
a

konsentrasi larutan Rhodamin B X ppm tersebut.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hal-hal yang perlu dibahas antara lain:
Hasil percobaan yang menjawab tujuan percobaan.
Penjelasan mengenai data yang diperoleh.
Penjelasan grafik hubungan konsentrasi dengan absorbansi.
Penyimpangan hasil percobaan terhadap landasan teori (jika ada).

V. KESIMPULAN
Tuliskan kesimpulan berupa pernyataan yang singkat dan tepat yang dijabarkan dari hasil
percobaan dan pembahasan.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Ewing, G.W., 1985, Instrumental Method of Chemical Analysis, 5ed., Mc. Graw-Hill
Book Company, New York.
Human, M., 1985, Basic UV/Visible Spectrophotometry, Pharmacia LKB Biochrom
Limited Science Park, Cambridge.
Mulyono, P, 2001, Diktat Kuliah Analisis Dengan Instrumen Dalam Teknik Kimia,
Fakultas Teknik, Yogyakarta.

VII.LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
Identifikasi hazard terdiri dari:

128
129 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

Identifikasi hazard proses selama praktikum, merupakan identifikasi kegiatan yang


membahayakan selama praktikum beserta penanganannya.
Identifikasi hazard chemical dari masing-masing bahan yang digunakan pada
praktikum ini.

B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri


Alat perlindungan diri yang dipakai adalah: jas laboratorium lengan panjang,
masker, dan sarung tangan karet. Tulislah alat perlindungan diri yang dirasa penting
pada praktikum ini beserta alasan pemakaiannya.

C. Manajemen Limbah
Perlakuan terhadap limbah hasil percobaan beserta alasan mengapa dibuang ke
tempat tersebut. Contoh: Larutan CuSO4 sisa dibuang ke drum limbah logam berat
karena mengandung Cu yang merupakan logam berat.

D. Data Percobaan

E. Perhitungan

129
130 Panduan Praktikum Analisis Bahan 2017

LAPORAN SEMENTARA
SPEKTROFOTOMETRI
(H)

Hari/tanggal :
Nama Praktikan :1. NIM:
2. NIM:
Asisten : Dwi Reinaldy Gunawan/Muhammad Naufal Fakhry
1. Pembuatan larutan CuSO4 10.000 ppm
Massa CuSO4 : gram
Volume larutan : mL
2. Pembuatan Kurva kalibrasi larutan CuSO4
Panjang gelombang optimum: nm
No Konsentrasi, ppm Absorbansi
1
2
3
4
5
3. Penentuan konsentrasi larutan CuSO4 x ppm
Absorbansi :
4. Pembuatan kurva kalibrasi larutan Rhodamin B
Konsentrasi larutan awal : ppm
Panjang gelombang optimum : nm
No Konsentrasi, ppm Absorbansi
1
2
3
4
5
5. Penentuan konsentrasi larutan Rhodamin B y ppm
Pengenceran : kali
Absorbansi :

Asisten Jaga, Yogyakarta,


Praktikan,
1.
2.
3.

130