Anda di halaman 1dari 7

Vrinda Dewi: Kesetiaan Seorang Istri

Cerita ini berawal dari kesombongan dewa Indra sebagai raja Surga. Tapi sebelum kita lanjut ke
topik cerita, ada baiknya kita mengetahui bahwa sebenarnya cerita-cerita yang ada di dalam Veda
itu bukanlah suatu imajinasi belaka, tapi itu memang benar-benar terjadi. Seperti Ramayana, dan
Mahabharata. Dan semua ini masih ada bukti-bukti ilmiahnya. Jadi Veda itu sendiri adalah suatu
kebenaran. Maka seseorang yang mau mengerti kebenaran itu mereka semestinya belajar dari
Veda. Dapat dibayangkan bagaimana kalau Mahabharata itu hanya imajinasi belaka atau cerita-
cerita lain di dalam Veda sebagai imajinasi belaka, itu berarti Agama yang kita anut, apakah
agama khayalan? Nah kalau agama itu adalah sebuah khayalan terus bagaimana dengan Tuhan?
Apakah Tuhan itu tuyul dalam cerita itu? Jadi kalau begitu apa untungnya kita belajar Veda.
Terlalu banyak umat kita yang masih berpikir itu hanyalah sebuah imajinasi belaka, tidak hanya
dari masyarakat yang tidak terdidik, bahkan dikalangan orang-orang yang dikenal sebagai kaum
intelek. Ini buktinya bahwa pendidikan agama belum berhasil dan kurang sekali pendalaman
tentang filosofi. Nah cerita ini berawal dari kerajaan Surga.
Suatu hari dewa Indra bersama istrinya bersenang-senang mengelilingi Khayangan sambil
mengendarai pesawatnya. Dengan sedikit kebanggaan dewa Indra berpikir dialah satu-satunya
penguasa di sana. Pada saat seperti ini tiba-tiba ada gempa bumi yang mengakibatkan dewa Indra
bersama istrinya jatuh. Gempa ini terjadi karena kesalahan dewa Indra. Kemarahan dewa Indra
pun tak terkendalikan. Dengan segera dewa Indra melemparkan senjatanya menuju sebuah
gunung. Namun malangnya gunung itu adalah tempat dewa Siwa bertapa. Akhirnya dewa Siwa
marah. Semua para dewa keheranan. Siwa yang tak bisa mengendalikan kemarahannya ingin
membunuh dewa Indra, namun dewa Indra minta maaf dengan dibantu oleh dewa yang lain. Atas
permintaan itu akhirnya dewa Siwa mengalihkan kemarahannya itu ke Bumi. Maka seketika itu
Bumi terbakar. Binatang-binatang banyak yang mati dan hutan-hutan terbakar. Pada akhirnya api
itu juga membakar laut, kemudian api itu reda dan ditengah-tengah laut itu munculah seorang
bayi. Penguasa laut (Sindhuraja) dan dewa Brahma datang.

Sindhuraja: (sambil memangku anak itu) Oh kamu anak yang sangat aneh!

Dewa Brahma: Wahai Sindhuraja siapa yang akan bertanggung jawab terhadap semua ini?

Sindhu Raja: Sayapun tidak tahu tuan, api itu membesar dan saya pun terbakar (air laut) dan
langsung muncul bayi ini.

Naradha Muni: Bayi yang aneh ini, aku lihat bukan seperti bayi biasa.

Deva Brahma: Boleh aku lihat? (saat deva Brahma memangku bayi itu, bayi itu menarik-narik
jenggotnya dewa Brahma) Oh ini bukan rumput, ini jenggot saya.

1
Dewa Indra: Lepaskan jenggotnya! (Setelah berkata demikian dewa Indra mendekati bayi itu,
namun sayangnya bayi itu menendang muka dewa Indra).

Deva Brahma: Siapa kamu nak?

Bayi: Siapa kamu orang tua berjenggot?

Naradha: Dia adalah dewa Brahma pencipta dan penguasa alam semesta ini.

Bayi: Oh dia tidak pernah menciptakanku.

Sindhuraja: Apa yang harus kita lakukan terhadap makhluk yang aneh ini?

Dewa Brahma: Kamu harus memeliharanya Sindhuraja! Anak ini lahir dari air, karena itu aku
akan memberi nama Jalandhar.

Cerita beralih ke tempat Sri Wisnu.

Sri Wisnu: Oh istri-Ku bukankah kamu ingin memiliki saudara laki-laki?

Devi Laksmi: Ya tuanku.

Deva Wisnu: Hasratmu terpenuhi.

Dewi Laksmi: Dimana dia?

Dewa Wisnu: Dengan ayahmu Sindhuraja! Kamu boleh pergi dan bertemu dengannya jika
kamu ingin.

Dewi Laksmi: Oh saudaraku! (sambil berkata seperti itu laksmi pun pergi). Sedangkan disisi
lain para dewa penuh dengan ketakutan saat mendengar ramalan yang dibacakan oleh dewa
Ganesha. Dalam ramalan itu disebutkan bahwa, Jalandhar akan lahir dengan sangat perkasa. Dia
akan jadi musuh para dewa, dan akan dianugerahi kekuatan khusus dan dia akan membuat
gangguan nantinya dikalangan para dewa dan di Surga. Nanti akan ada malapataka. Mendengar
semua ramalan ini, Narada Muni pergi kepada Sri Wisnu memohon agar Beliau sendiri yang

2
menyelesaikan masalah ini. Pada akhirnya Sri Wisnu menunjukkan dimana calon istri jalandhar
lahir. Dan istrinya inipun lahir dengan kekuatan penuh. Istrinya ini adalah putri dari raja Kalnemi
(Vrinda). Pernah suatu saat kedua orang tua Vrinda membicarakan tentang hadiah pernikahan
keponakannya, saat itu Vrinda bertanya banyak tentang pernikahan. Walaupun dia masih kecil,
saat dia mendengar penjelasan tentang perkawinan saat itu pula dia minta kawin segera dan
bersumpah tidak akan makan sebelum dia kawin. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Narada
Muni. Dengan membawa arca Sri Wisnu, Narada pergi ke istana.

Vrinda: Apakah kamu kesini minta sedekah? Aku akan ambilkan makanan untukmu.

Narada Muni: Oh tidak! Tuhan memintaku untuk tidak makan sebelum anak yang berpuasa
dirumah ini makan!

Vrinda: Bagaimana Tuhanmu ini tahu aku belum makan? (sambil menunjukkan tangannya ke
arca Sri Wisnu).

Narada Muni: Ya, Dia tahu segalanya karena Dia pencipta, Dia bisa membuat orang
berbahagia dan menderita, tertawa dan menangis serta Dia tahu bahwa kamu jengkel karena
belum kawin.

Vrinda: Apakah Dia bisa memberikan aku pasangan?

Narada Muni: Tentu saja.

Vrinda: Baiklah kalau begitu aku mau makan. Dan apakah Tuhanmu ini bisa bicara?

Narada Muni: Ya, kadang-kadang.

Dari semenjak itulah Vrinda dewi selalu memuja Sri Wisnu sampai ia tumbuh menjadi seorang
gadis yang dewasa. Dia selalu memuji Sri Wisnu dengan ketat sekali, selalu berdoa agar
hidupnya penuh arti.

Oh Sri Wisnu hamba akan memujamu siang dan malam, hamba ingin menjalankan hidup penuh
dengan kejujuran. Pelayanan dan korban suci adalah semboyan hidup hamba. Hamba
menemukan kedamaian pada kaki padma Anda.

Rasa khawatir tumbuh pada kedua orang tua Vrinda, karena sangatlah susah menemukan
pasangan yang seperkasa Vrinda. Namun saat-saat seperti ini munculah Narada Muni. Narada
Muni mengatakan bahwa Tuhan sendiri telah menentukan pasangan yang cocok untuk dia.

3
Namanya adalah Jalandhar putra Sindhuraja. Secara tidak sengaja Vrinda telah mendengar itu.
Saat itu ia punya keinginan untuk melihat-lihat satwa hutan. Disisi lain Jalandhar juga pergi
berburu dengan para pengawalnya. Malang bagi Vrinda ketika sedang melihat-lihat satwa hutan,
dua perampok menyerang. Dengan bantuan Jalandhar perampok itu bisa dikalahkan.

Jalandhar: (Jalandhar mendekati Vrinda sambil berkata) Aneh! kamu sepertinya pemberani,
tapi kamu sebenarnya pemalu! Kamu tidak memperkenalkan dirimu dan juga tidak mengucapkan
terima kasih!

Vrinda: Hanya yang tidak diketahui yang perlu diperkenalkan dan hanya kepada orang yang
tak akrab terima kasih perlu diucapkan. (sambil berkata Jalandhar menyentuh pundaknya Vrinda,
dengan perasaan kaget Vrinda berkata).

Vrinda: Kamu telah menyentuhku!

Jalandhar: Apanya yang salah? Pangeran Jalandhar yang satu-satunya pangeran yang
menyentuh dirimu.

Vrinda: Orang tuaku bilang siapapun yang menyentuh dirimu pertama, selain keluarga dekat
dialah suamimu.
(Perkawinan pun diselenggarakan. Saat Vrinda ditempat sembahyang Jalandhar datang).

Jalandhar: Ini tempat suci apa surga?

Vrinda Dewi: Kedua-duanya. Hati dari istri adalah seperti tempat suci bagi suaminya, dan kaki
padma suami adalah seperti Surga bagi istrinya. Dan hari ini kita telah menjadi satu.

Jalandhar: Darimana kamu belajar semua ini?

Vrinda: Dari kedua orang tuaku, orang hendaknya belajar seni hidup berumah tangga sebelum
dia masuk ikatan perkawinan. Oh suamiku hari ini aku menyerahkan hidupku untukmu.
(Saat menjalankan pesta perkawinannya Jalandar didatangi oleh Rahu dan Guru para raksasa,
mereka mengatakan bahwa para dewa pernah menahan ayahnya dan menghabisi semua
kekayaannya. Atas hasutan ini Jalandhar menyatakan perang dengan para dewa. Namun istrinya
tidak setuju dengan semua ini).
Vrinda: Oh suamiku, mohon jangan memutuskan perang dengan para dewa. Keinginan
membawa kelobaan, kelobaan membawa kemarahan, kemarahan membawa dosa dan dosa
membawa kehancuran. Inilah yang menakutkan bagiku. Dan saya takut dengan darah dan

4
perang. Dan ribuan wanita akan menjadi janda, akan banyak anak-anak menjadi yatim-piatu dan
dunia akan sengsara.

Jalandhar: Biarkan semua terjadi! Aku harus membalas semua ini kepada para dewa. Namun
aku memerlukan cinta dan kesetiaanmu.
(Dan Vrinda Dewi menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya menuju medan perang. Kalungan
bungapun dikalungkan pada leher Jalandhar sebagai bukti doa dari Vrinda. Saat pertempuran
terjadi Vrinda Dewi terus berdoa pada Sri Wisnu supaya suaminya selamat dalam pertempuran.
Karena hal inilah bahkan senjata pamungkas dari dewa Indra pun tidak mampu menembus dada
dari Jalandhar. Atas kekalahan para dewa, Jalandhar merampas beberapa istri-istri para dewa.
Dan di Istananya dia meminta supaya mereka menari untuk kepuasanya. Tapi hal itu ditolak,
dengan sedikit mabuk Jalandhar mencambuk istri dari dewa Indra, namun Vrinda dewi
menyerahkan tubuhnya, sebagai akibatnya cambukan itu mengenai tubuh Vrinda Dewi. Dan
jalandhar tidak hormat lagi dengan istrinya. Namun disisi lain Sri Wisnu telah bersiap-siap untuk
menghadapi Jalandhar).

Vrinda: Suamiku mohon hentikan perang ini, Sri Wisnu tak pernah terkalahkan, dan Dia bisa
berubah menjadi begitu banyak bentuk.

Jalandhar: Aku tak mau mendengar tentang Tuhanmu.

Vrnda: Bahkan leluhur kitapun Hiranyakasipu kalah melawan-Nya, dan Bali maharaja
menyerahkan semua miliknya untuk Sri Wisnu.

Jalandhar: Tapi aku bukan Hiranyaksa, dan Tuhanmu bukanlah penuh dengan kekuatan, tapi
penipu dan licik.

Vrinda: Seseorang perlu cinta untuk mengerti Tuhan. Dunia ini ada karena Sri Wisnu.
(Karena merasa dihina Jalandhar melempar dahi Vrinda dengan kayu sehingga terluka. Sambil
mengancam Vrinda).

Jalandhar: Kalau kamu sekali lagi menyebut kata Wisnu, akan ku potong lidahmu.
(Namun karena kesetiaan Vrinda, akhirnya dia bersujud didepan suaminya dan berkata). Vrinda:
Suami berarti dunia bagi istrinya, adalah kewajibanku berdoa untuk keselamatan dan kemujuran
baginya Dan kalungan bungapun diberikan kepada Jalandhar. Dengan berkata Ini bukti cintaku
untukmu, kalungan bunga ini penuh dengan keagungan dan akan melindungi dirimu dari
marabahaya, tak seorangpun akan bisa mengalahkanmu, karena Tuhanku akan melindungimu.

5
Jalandhar: Aku sudah perintahkan agar kamu tidak menyebut nama itu lagi!

Vrinda: Tapi kawajiban istri adalah berdoa untuk kebaikan suaminya.

Jalandhar: Ini adalah kesalahan yang kedua, dan hasil kesalahan ketiga, aku akan memotong
lidahmu.

Vrinda: Tiap bagian badanku adalah milikmu, pengucapan nama suci Tuhan tidak bisa
dihilangkan, apalagi mencoba menghentikan orang yang mengucapkan nama suci Tuhan.

Jalandhar: Kamu pengkhianat.....!


(Segera Jalandhara memotong lidah istrinya. Namun istrinya tetap setia dan bersujud pada kaki
padma suaminya. Namun Jalandhar balik menendangnya. Dalam pertempuran dengan Sri Wisnu
Jalandhar pun tidak bisa dikalahkan, oleh karena doa istrinya. Dengan lidah terpotong Vrinda
berdoa Oh Tuhanku hari ini aku tidak bisa menyebut namamu lagi mohon lindungi suamiku
Sri Wisnu pun merasa bingung bertempur dengan Jalandhar, karena disisi lain penyembahnya
dengan tulus berdoa untuk keselamatan musuhnya. Atas kekalahan Sri Wisnu, Jalandhara
mengatakan dirinya sabagai Tuhan sendiri. Dia mendatangi istrinya dan bertanya kenapa ia
masih memuja Tuhannya sedangkan Sri Wisnu telah dikalahkan olehnya).

Vrinda: Kalah, menang, kelahiran dan kematian adalah jalan Tuhan.

Jalandhar: Kamu harus memilih kejayaan suamimu atau pujaan Tuhanmu?

Vrinda: Suami Tuhanku juga.


Hampir semua para dewa telah kalah tinggal dewa Siwa. Jalandhar ingin memiliki Parwati
sebagai istrinya. Sebelum Jalandhar bertempur Vrinda telah menasehatinya.

Vrinda: Aku adalah istrimu. kewajiban istri adalah tidak akan membiarkan suaminya kejalan
tersesat.

Jalandhar: Tapi Parwati semanis madu tapi kamu tidak, Parwati sangat cantik tapi kamu
tidak.

Vrinda: Suamiku itu adalah penghinaan pada Ibu Parwati.

6
Jalandhar: Tidak kamu saja yang cemburu.

Vrinda: Kalau kamu pikir karena mataku ini aku cemburu, maka saat ini juga akan aku congkel
mataku. (Akhirnya Vrinda menjadi buta, namun tambah sadis lagi Jalandhar memenjarakan
istrinya yang sudah buta. Pertempuran Siwa dan Jalandhar pun terjadi, atas doa istrinya dipenjara
Jalandhar pun menang lagi. Semua para dewa sudah kalah, akhirnya para dewa sepakat untuk
menyusun strategi baru. Diputuskan bahwa Sri Wisnu harus menyamar. Yang pertama Sri Wisnu
menyamar sebagai seorang guru dan Garuda sebagai muridnya. Saat Vrinda di penjara dia berdoa
agar bisa keluar dari penjara. Atas susunan Sri Wisnu matanya yang buta menjadi sembuh, dan
pada akhirnya dia bertemu dengan Sri Wisnu yang sedang menyamar. Vrinda menanyakan
dimana suaminya berada sekarang. Guru dan sang murid itu mengatakan bahwa Jalandhar sudah
mati. Segera Brahmana itu mengeluarkan mayat Jalandhar yang tanpa kepala. Atas kekuataan Sri
Wisnu badan itu kembali dihidupkan, yang sebernarnya itu adalah Sri Wisnu sendiri. Akhirnya
Vrinda menemani kepribadian ini seperti suaminya. Disisi lain dewa Siwa bertempur lagi dengan
Jalandhar. Pada akhirnya Vrinda tidak berdoa lagi pada saat suaminya bertempur, sebagai
akibatnya kepala Jalandhar terpotong oleh senjata Trisula-nya dewa Siwa. Kepala itu langsung
menuju tempat dimana Vrinda dan Sri Wisnu bersama-sama. Saat inilah Vrinda menjadi bingung
yang mana yang asli. Dan atas kekuatan Vrinda, Sri Wisnu kembali pada wujud aslinya.

Vrinda: Sri Wisnu kamu simbul penipuan, aku percaya seperti orang buta dengan-Mu tapi kau
balas dengan menodai diriku. Menghancurkan, kejujuranku. Hatimu seperti batu, kamu telah
menipu istri yang suci, maka hari ini aku akan mengutuk-Mu menjadi batu.

Dewa Siwa: Oh dewiku dirimu tetap sesuci sungai Gangga, Parwati, dan juga sesuci dewi
Laksmi. (Atas permintaan dewi Laksmi akhirnya Sri Wisnu kembali pada wujud aslinya. Sri
Wisnu menjelaskan dia lakukan itu hanya karena ingin menyelamatkan dunia. Karena kehilangan
suaminya, Vrinda memilih untuk melakukan sati (membakar diri). Dan akhirnya Sri Wisnu
menciptakan sebuah salagram (sebuah batu yang bisa dipuja sama dengan Sri Wisnu) dan itu
juga sebagai bukti kutukan terhadap diri-Nya oleh Vrinda. Dan Sri Wisnu manjadikan Vrinda
sebagai tumbuhan tulasi dan setiap orang yang ada di bumi ini harus memujanya, jika orang
mempersembahkan sesuatu pada Sri Wisnu tanpa daun tulasi maka Sri Wisnu tidak akan
menerima-Nya. Tulasi dan Salagram akan menjadi satu sehingga kamu tidak dikenal janda lagi.