Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penambangan emas merupakan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan

pendapatan masyarakat namun demikian penambangan emas juga merugikan

apabila dalam pelaksanaannya tanpa diikuti dengan proses pengolahan limbah hasil

pengolahan biji emas secara baik akibat ditimbulkan dari terbuangnya mercury

pada air tanah dan air sungai, maka akan masuk kedalam rantai makanan baik

melalui tumbuhan maupun hewan, yang pada gilirannya yang akan sampai pada

tubuh manusia

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,

kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung

pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa

emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan

tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral

non logam.

Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah

teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida,

sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan

1
selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak

di dalamnya >20%.

Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di

permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan

larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan

endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu:

Endapan primer; dan

Endapan plaser.

Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan juga

digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang

moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri

terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa

komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. Bentuk

penggunaan emas dalam bidang moneter lazimnya berupa bulion atau batangan

emas dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram.

2
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja struktur Kristal Emas?

2. Bagaimana proses pengolahan biji emas?

3. Bagaimana system penamaan emas?

4. Apa saja sifat mekanik dari emas?

5. Apa saja aplikasi emas?

1.3 Tujuan

Makalah ini akan membahas tentang logam emas sebagai bahan galian yang

tak terbarukan, serta menekankan pada pengolahan bahan galian emas.

3
BAB II

KARAKTERISTIK MATERIAL

2.1 STRUKTUR KRISTAL EMAS

Kristal logam dianggap terdiri dari banyak satuan-satuan kecil yang disebut

sel satuan (unit cell atau satu sel). Sel satuan merupakan bagian fundamental dari

suatu struktur kristal yang tersusun secara berulang, teratur dan tidak terbatas

melalui translasi pada 3-dimensi.

Gambar 2.1 Sel satuan kubus berpusat muka dari emas

Pada gambar diatas Sel satuan kubus berpusat muka dari emas dengan a =

4r /2; a = rusuk kubus, r = jari-jari atom emas (jari kubus) , memiliki Struktur

Kristal emas sebagai berikut :

4
1. Atom yang terdapat pada pojok-pojok satu sel satuan adalah milik dari 8 sel

satuan yang berdekatan. Fraksi dari atom yang terdapat pada pojok sel satuan kubus

yang dimiliki oleh setiap sel satuan kubus adalah 1/8. Pada Gambar berwarna

kuning yang diberi nomor 1.

2. Atom yang terdapat pada pusat muka sel satuan kubus adalah milik 2 sel satuan

yang berdekatan. Jadi fraksi dari atom-atom yang terdapat pada pusat muka sel

satuan kubus adalah 1/2. Pada Gambar berwarna pink yang diberi nomor 2.

Dari penjelasan-penjelasan di atas maka jumlah atom dalam sel satuan kubus

berpusat muka dari emas adalah

= 1/8 x jumlah atom pojok-pojok sel satuan + 1/2 x jumlah atom dipusat muka

= 1/8 x 8 + 1/2 x 6 = 4

Volume 1 atom = 4/3 r3

Volume kubus = a3. dari gambar diperoleh a=2r. Maka volume kubus = 8r3

Faktor tumpukan

= volume atom-atom dalam sel satuan : volume sel satuan

= volume 4 atom : volume kubus

= 4 x 4/3 r3 : (4r / 2)3

= 0,7405

5
BAB III

PENGOLAHAN PEMBUATAN MATERIAL

3.1 Proses Kominusi dan Metalurgy

Pengolahan Bijih Emas Diawali Dengan Proses kominusi kemudian

dilanjutkan dengan proses yang di sebut Metalurgy.

3.1.1 KOMINUSI

Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga yang

mengandung emas dengan tujuan untuk membebaskan ( meliberasi ) mineral emas

dari mineral-mineral lain yang terkandung dalam batuan induk.

Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :

Mengurangi kehilangan emas yang masih terperangkap dalam

batuan induk

Kegiatan konsentrasi dilakukan tanpa kehilangan emas berlebihan

Meningkatkan kemampuan ekstraksi emas

Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas

primer, sedangkan pada bijih emas sekunder bijih emas merupakan emas yang

terbebaskan dari batuan induk yang kemudian terendapkan. Derajat liberasi yang

diperlukan dari masing-masing bijih untuk mendapatkan perolehan emas yang

6
tinggi pada proses ekstraksinya berbeda-beda bergantung pada ukuran mineral

emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.

Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih yang

akan diolah, dengan menggunakan :

Refractory ore processing, bijih dipanaskan pada suhu 100 110 0C,

biasanya sekitar 10 jam sesuai dengan moisture. Proses ini sekaligus

mereduksi sulfur pada batuan oksidis.

Crushing merupakan suatu proses peremukan ore ( bijih ) dari hasil

penambangan melalui perlakuan mekanis, dari ukuran batuan tambang <40

cm menjadi 1%)

Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari

crushing,hingga mencapai ukuran slurry dari hasil milling yang diharapkan

yaitu minimal 80% adalah -200#, misalnya dengan menggunakan Hammer

Mill, Ball Mill, Rod Mill, Disc Mill , dll.

Setelah mengalami proses kominusi selanjutnya dihasilkan konsentrat yang

selanjutnya di olah di dalam proses yang di sebut Metalurgy, dalam proses

metallurgy ada banyak metode yang di gunakan namun dalam pengolahan emas

kali ini menitik beratkan pada metode Sianida dan amalgamasi.

7
3.1.2 Proses pemisahan Emas dari konsentrat (Metalurgy)

Cara memisahkan konsentrat yang di dalamnya ada kandungan

Emas, Konsentrat ini wujudnya seperti pasir.

Proses ini memakai 3 jenis furnace.

1) Smelting Furnace,

Konsetrat yang dihasilkan di freeport akan dilebur, disini sudah

ditambahkan flux SiO2 dan dihembus udara (biasanya udara bebas dengan

kompresor diatur oksigennya 60%). Tujuannya untuk mengoksidasi unsur pengotor

utama berupa Fe (oksidasi jadi FeO, Fe3O4) dan mulai kurangi sulfur dalam

konsentrat (jadi SO2), lalu masuk furnace no (2)

2) Slag cleaning Furnace,

Sesuai namanya disini leburan Cu (masih dibilang Matte) kerena Sulfur

masih banyak akan dipisahkan dengan terak/slag yang terbentuk dari proses (1).

disini pakai Electric arc furnace, jadi matte yang lebih berat akan dibawah lalu

terak/slag akan mengapung diatas sambil terus dipanaskan, disini metal/slag sudah

terpisah. Lanjut ke proses (3) untuk menghilangkan Sulfur.

3) Converting Furnace, lalu masuk ke pembentuk anoda Cu (diesbut

anoda furnace) lalu dicetak bentuknya batangan anoda Cu.

8
Proses ini matte diblowing udara + pakai flux batukapur (CaCO3), tujuan

utamanya untuk mengoksidasi Sulfur, memakai kapur untuk menjaga komposisi

slag (biar tidak kental, Fe3O4 solid tidak bisa diblowing).

Setelah converting Furnace, Sulfur sudah low (0.8%) disebut gold blister

(bukan lagi matte). lalu dilanjut ke Furnace untuk cetak anoda Cu blister (sebab

perlu elektrowining untuk tahap selanjutnya), dibeberapa proses ada tambahan

proses pemurnian untuk dioksidasikan S sampai light. Setelah dicetak jadi anoda,

Cu anoda akan benar-benar dimurnikan (pengotor S, Au, Ag, Pt, Co, Ni) masih ada

dan harus dielektrowining. Katodanya biasanya steel. Pakai larutan CuSulfat +

Asam Sulfat + air, jangan lupa arus harus searah, disini metal akan dipisahkan

dengan perbedaan sifat kemurniannya (berdasarkan nilai E nol-nya) makanya perlu

memakai voltase DC yang tepat, biasanya Cu di (+)0.34V. Nah disini Cu di anode

akan larut dilarutan lalu akan menempel di katoda (puritynya bisa mencapai 99%);

nah disini baru dibagi antara Cu dan logam yang lebih mulia (Platina, Au, Ag).

karena lebih mulia mereka tidak ikut larut, tetapi biasanya membentuk endapan

(disebut slime), slime biasanya tidak ikut menempel di katoda (karena tidak larut).

Selanjutnya slime ini yang harus diolah lagi. Slime harus dilebur lagi, lalu

++ flux lagi, borax biasanya untuk ikat pengotor. Setelah cair digunakan metode

Klorifikasi, dimana akan dipisahkan antara pengotor dengan logam mulia AgCl,

AuCl, dll

9
Bagaimana memisahkannya ?, masuk lagi ke elektrowining cell dimana

tegangannya diatur untuk memisahkan logam mulia didalamnya, lalu dilebur lagi

untuk mendapatkan purity sampai Au 99.99 %.

3.2 Proses Pengolahan Emas dengan Sianida

Sianidasi Emas (juga dikenal sebagai proses sianida atau proses MacArthur-

Forrest) adalah teknik metalurgi untuk mengekstraksi emas dari bijih kadar rendah

dengan mengubah emas ke kompleks koordinasi yang larut dalam air. Ini adalah

proses yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas. Produksi reagen untuk

pengolahan mineral untuk memulihkan emas, tembaga, seng dan perak mewakili

sekitar 13% dari konsumsi sianida secara global, dengan 87% sisa sianida yang

digunakan dalam proses industri lainnya seperti plastik, perekat, dan pestisida.

Karena sifat yang sangat beracun dari sianida, proses ini kontroversial dan

penggunaannya dilarang di sejumlah negara dan wilayah.

Pada tahun 1783 Carl Wilhelm Scheele menemukan bahwa emas dilarutkan

dalam larutan mengandung air dari sianida. Ia sebelumnya menemukan garam

sianida. Melalui karya Bagration (1844), Elsner (1846), dan Faraday (1847),

dipastikan bahwa setiap atom emas membutuhkan dua sianida,

yaitu stoikiometri senyawa larut. Sianida tidak diterapkan untuk ekstraksi bijih

emas sampai 1887, ketika Proses MacArthur-Forrest dikembangkan di Glasgow,

Skotlandia oleh John Stewart MacArthur, didanai oleh saudara Dr Robert dan Dr

William Forrest. Pada tahun 1896 Bodlnder dikonfirmasi oksigen yang diperlukan,

10
sesuatu yang diragukan oleh MacArthur, dan menemukan bahwa hidrogen

peroksida dibentuk sebagai perantara.

Reaksi kimia untuk pelepasan emas, Persamaan Elsner, berikut:

4 Au + 8 NaCN + O2 + 2 H2O 4 Na [Au (CN) 2] + 4 NaOH

Dalam proses redoks, oksigen menghilangkan empat elektron dari emas bersamaan

dengan transfer proton (H +) dari air.

Berikut cara kerja pengolahan Emas dengan Sianida :

1. Bahan berupa batuan dihaluskan dengan menggunakan alat grinding

sehingga menjadi tepung (mesh + 200).

2. Bahan di masukkan ke dalam tangki bahan, kemudian tambahkan H2O (2/3

dari bahan).

3. Tambahkan Tohor (Kapur) hingga pH mencapai 10,2 10,5 dan kemudian

tambahkan Nitrate (PbNO3) 0,05 %.

4. Tambahkan Sianid 0.3 % sambil di aduk hingga (t = 48/72h) sambil di jaga

pH

larutan (10 11) dengan (T = 85C).

5. Kemudian saring, lalu filtrat di tambahkan karbon (4/1 bagian) dan di aduk

hingga (t= 48h), kemudian di saring.

6. Karbon dikeringkan lalu di bakar, hingga menjadi Bullion atau gunakan.

(metode 1)

7. Metode Merill Crow (dengan penambahan Zink Anode / Zink Dass), saring

lalu

dimurnikan / dibakar hingga menjadi Bullion. (metode 2).

11
8. Karbon di hilangkan dari kandungan lain dengan Asam (3 / 5 %), selama (t

=30/45m), kemudian di bilas dengan H2O selama (t = 2j) pada (T = 80C

90C).

9. Lakukan proses Pretreatment dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan

Soda

(NaOH) 3 % selama (t =15 20m) pada (T = 90C 100C).

Lakukan proses Recycle Elution dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan

Soda 3 % selama (t = 2.5 j) pada (T = 110C 120C).

10. Lakukan proses Water Elution dengan menggunakan larutan H2O pada (T

= 110C 120C) selama (t = 1.45j).

11. Lakukan proses Cooling.

12. Saring kemudian lakukan proses elektrowining dengan (V = 3) dan (A = 50)

selama (t = 3.5j). (metode 3)

Perolehan Emas

Proses sianidasi menghasilkan emas terlarut. Dengan demikian, produk

proses sianidasi adalah pulp yang mengandung emas terlarut. Untuk mengambil

emas dari larutan dapat digunakan dua poses, yaitu sementasi (pengendapan) dan

adsorbs. Prinsip yang diambil adalah perolehan perolehan emas yang setinggi

mungkin, dan bisanya dengan perolehan emas di atas 90%.

Dalam proses sementasi digunakan serbuk seng. Dalam proses ini terjadi

reaksi kimia, dimana emas diendapakan dan seng dilarutkan. Reaksi yang terjadi

ditulis sebagai berikut:

2Au(CN)2- + Zn 2 Au + Zn(CN)42-

12
2 Au(CN)2- + Zn + 3 OH- 2Au+ HZnO2- + 4CN- + H2O

Perolehan emas dengan mengambil jalur sianidasi dan sementasi sebelum

tahun 1980an teknologi pengolahan emasyang baku. Namun dengan adanya

pekembangan teknologi, kini teknologi sianidasi-sementasi diganti, terutama pada

pembangunan instalasi baru, dengan teknologi sianidasi absorbs. Tahapa dari

teknologi sementasi dapat dilihat pada gamabr 2. Contoh dari penerapan teknologi

sianidasi sementasi adalah instalasi pengolahan emas di Pasir Gombong, Cikotok.

Dalam proses adsorbs digunakan butiran karbon aktif berasal dari

tempurung kelapa. Butiran karbon aktif ini jauh lebih kasar daripada butiran batuan.

Enmas terlarut (ion emas sianida) diadsorbsi oleh kabon aktif. Teknologi ini

dikembangkan sedemikian rupa sehingga tidak diperlukan peralatan untuk

memisahkan cairan dari padatan (alat filtrasi) dan kemudian dukenal dengan

sebutan proses karbon-dalam-pulp (Cabon-In-Pulp, CIP) dan karbon dalam

pelindian (Carbon in-Leach, CIL). Karbon yang kaya emas ini kemudian diolah

untuk diambil emasnya. Larutan emas yang keluar dielektrolisis dan kemudian

dilebur sebagai emas bulyon. Tahapan dari teknologi sianidasi disajikan dalam

gambar 3 contoh dan penerapan sianidasi adsorbs adalah instalasi pengolahan emas

di Pongko.

13
Gambar 3.1 Bagan alir teknologi sianidasi - adsorpsi karbon

14
Proses Pemurnian (Dari Bullion)

Dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

1. Metode Cepat

Secara Hidrometallurgy yaitu dengan dilarutkan dalam larutan HNO3

kemudian tambahkan garam dapur untuk mengendapkan perak sedangkan emasnya

tidak larut dalam larutan HNO3 selanjutnya saring aja dan dibakar.

2. Metode Lambat

Secara Hidrometallurgy plus Electrometallurgy yaitu dengan menggunakan

larutan H2SO4 dan masukkan plat Tembaga dalam larutan kemudian masukkan

Bullion ke dalam larutan tersebut, maka akan terjadi proses Hidrolisis dimana Perak

akan larut dan menempel pada plat Tembaga (menempel tidak begitu keras/mudah

lepas) sedangkan emasnya tidak larut (tertinggal di dasar), lalu tinggal bakar aja

masing masing, jadi deh logam murni.

Proses Perendaman

Ada pula proses pengolahan emas dengan perendaman, berikut caranya:

BAHAN

Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton

Formula Kimia

1. NaCn = 40 kg

2. H2O2 = 5 liter

3. Kostik Soda/ Soda Api = 5 kg

4. Ag NO3 =100 gram

15
5. Epox Cl = 1 liter

6. Lead Acetate = 0.25 liter (cair)/ 1 ons (serbuk)

7. Zinc dass/ zinc koil = 15 kg

8. H2O (air) = 20.000 liter

Perendaman di Bak Kimia

1. NaCn dilarutkan dalam H2O (air) ukur pada PH 7

2. Tambahkan costik soda (+ 3 kg) untuk mendapatkan PH 11-12

3. Tambahkan H2O2, Ag NO3, Epox Cl diaduk hingga larut, dijaga pada PH

11-12

Percobaan di Bak Lumpur

1. Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton

dimasukkan ke dalam bak.

2. Larutan kimia dari Bak I disedot dengan pompa dan ditumpahkan/

dimasukkan ke Bak II untuk merendam lumpur ore selama 48 jam.

3. Setelah itu, air/ larutan diturunkan seluruhnya ke Bak I dan diamkan selama

24 jam, dijaga pada PH 11-12. Apabila PH kurang untuk menaikkannya

ditambah costic soda secukupnya.

4. Dipompa lagi ke Bak II, diamkan selama 2 jam lalu disirkulasi ke Bak I

dengan melalui Bak Penyadapan/ Penangkapan yang diisi dengan Zinc dass/ zinc

16
koil untuk mengikat/ menangkap logam Au dan Ag (emas dan perak) dari larutan

air kaya

5. Lakukan sirkulasi larutan/ air kaya sampai Zinc dass/ zinc koil hancur

seperti pasir selama 5 10 hari

6. Zinc dass/ zinc koil yang sudah hancur kemudian diangkat dan dimasukkan

ke dalam wadah untuk diperas dengan kain famatex

7. Untuk membersihkan hasil filtrasi dari zinc dass atau kotoran lain gunakan

200 ml H2SO4 dan 3 liter air panas

8. Setelah itu bakar filtrasi untuk mendapatkan bullion

17
3.3 Teknologi Amalgamasi

Perolehan emas

Cara perolehan emas (bulyon) dan juga merkuri (cair)

Gambar 3.2 Diagram alir pemercontohan sedimen dan ekstrak emas

18
Perolehan emas dengan teknologi amalgamasi relative rendah (artinya

apabila dibandingkan dengan teknologi sianida). Untuk memperbaiki teknologi

amalgamasi (perolehan emas dan kehilangan merkuri) dari tambang rakyat dapat

dilakukan dengan penambahan baha kimia dan pengaturan teknik (berat umpan,

persentase padatan, waktu giling, dan waktu amalgamasi) perolehan emas dapat

mencapai 55%. Air raksa yang hilang sangat kecil (> 1%)

Untuk menentukan perolehan emas perlu diketahui kandungan emas

sebenarnya dalam batuan (bijih) di laboratorium. Ada 2 metode yang digunakan

yaitu metode gravimetric dan metode dengan alat modern yaitu AAS

Mekanisme Amalgamasi

Air Raksa atau merkuri (Hg), pad temperature (suhu) kamar, adalah zat cair.

Bila terjadi kontak antara merkuri (zat cair) deengan logam (zat padat), maka ai

raks membasahi dan menenbus logam untuk membentuk larutan padat merkuri-

logam yang disebut amalgam. Proses yang terjadi disebut amalgamasi. Logam-

logam yang dapat membentuk amalgam adalah emas, perak, tembaga, timah,

cadmium, seng, alkali dan alkali tanah. Paduan merkuri emas disebut amalgam

emas, yang mempunyai rumus kimia dari kombinasi 2 atau bahkan 3 dari 4 rumus

kimia berikut ini yaitu AuHg2, Au2Hg, Au3Hg atau AuHg. Kelarutan emas dalam

air raksa bertambah dengan naiknya temperature. Paad temperature kamar

kandungan emas dalam amlgam kira-kira 0,14% Au, sedangkan pada temperatu

1000C sebesar 0,65% Au. Produk amalgasi bijih emas selanjutnya disebut

amalgam, karena tidak hanya mengandung emas melainkan juga logam lain

terutama perak dan tembaga.

19
Ukuran Butiran

Butiran emas yang bebas, tidak terselubung mineral induk, menjadi pasyarat

dalam amalgasi, sehingga pembasahan emas dalam bijih emas bervariasi dari yang

kasa (bijih emas yang kaya) sampai yang halus (bijih emas yang miskn). Dengan

demikian batuan atau bijih perlu dipecah atau digerus sampai diperoleh butiran

emas yang bebas (tidak terselubung oleh mineral induk). Namun, kenyataan

menunjukkan bahwa butiran emas yang berukuran lebih besar dari 0,074 mmyang

dapat diolah dengan teknik amalgamasi.

Gangguan Amalgamasi

Keberhasilan amalgamasi ditentukan oleh dua kondisi, yaitu (1) kondisi

mineralogy dari bijih yang diolah dan (2) kondisi pulp (campuran material padat

yang halus dan air). Kondisis yang buruk menyebabkan butiran emas tidak dapat

dibasahi oleh merkuri dam merkuri terpecah menjadi partikel-partikel halus,

sehingga amlgamasi tidak dapat berlangsung secara baik.

Butiran emas yang berasal dari bijih emas primer yang tidak teroksidasi

biasanya bersih dan mengkilap. Kondisi ini baik untuk amlgamsi. Namun, butiran

emas yang berasal dari bijih yang teroksidasi biasanya kusam dan sering dilapisi

oleh oksida besi. Emas kusam mengurangi

Kemampuan beramalgamasi dan emas yang dilapisi oksida besi cendrung

tidak bias beramalgamasi. Untuk menghindari terdapatnya emas kusam dan emas

yang dilapisi oksida besi dapat dicegah secar mekanik (sambil menggerus).

Mineral sulfide terutama sulfide arsen, antimony, bismuth dan besi berpeluang

untuk menghasilkan in sulfide (sulfide telarut) di dalam pulp. Ion sulfide dapat

20
menghambat amalgamasi. Penambahan bahan kimia yang dapat memberikan ion-

ion timbal dan tembaga dapat menolong untuk mengurangi gangguan ini.

Penambahan bahan alkali yang kuat dapat mengurangi gangguan ini.

Apabila minyak pelumas masuk ke gelundung saat menggerus atau pada

saat amalgamasi. Minyak dapat berperan mengurangikemampuan amalgamasi.

Keberadaannya dalam pulp harus duhindari dengan penambahan kapur yang

sedikit.

Penggerusan

Saat penggerusan, kondisi yang perlu diperhatikan adalah jumlah (volume)

media penggerus, kecepatan putar barel (gelundung), persentase padatan dalam

pulp, dan lamanya penggerusan. Volume media penggerus dapat diatur sehingga

media penggers mengisi barel/gelundung sedikit diats setengah isi barel/gelundung.

Keceptan putar yang sedemikian rupa menyebabkan media penggerus tidak

bergerak di bagian bawah gelundung saja tetappi juga pada suatu posisi sewaktu

berputar media penggerus diberikan kesempatan untuk jatuh.

Alat untuk penggerusan dikenal dengan nama ball mill dan rod mill. Alat

ini seharusnya memakailiner, pelapisan barel di bagaian dalam yang bergelombang.

Permukaan bergelombang ydimaksudkan untuk membantu mengangkat media

penggerus sewaktu barel berputar dan untuk mencegah selip diantara media

penggerus. Lineer biasanya terbuat dari paduan baj, dan sewaktu- waktu dapat

dilepas untuk diganti apabila telah aus. Media penggerus bias berbentuk bola atu

batangan. Diameter bola atu batnag penggerus berkisar antara 1-6 inci. Bergantung

pada ukuran barel atau gelundung, yang bervariasi antara 18 inci x 24 inci sampai

21
sebesar 4 kaki x 6 kaki (dikaitkan dengan ukuran gelundung yang biasa digunakan

dalam tahap amalgasi).

Pengikatan Emas oleh Merkuri

Pengikatan emas oleh merkuri atau amalgamasi dapat dilakukan dengan

menggunakan 4 jenis cara atau alat yaitu pelat, kantong, penggerusan dan

pencampuran. Dari keemapt cara atau alat iniyang akan dibahas adalah hanya

amalagasi dengan tekananan dan penggerusan. Alasannya, selain telah dikenal

masyarakat, cara ini berfaedah untuk emas yang berkrat dan sulit dmalgamasi, atau

amat halus, atau tidak terikat dengan mineral lain, atau dalam bijih uyang

menyebabkan merkuri tidak bekerja baik.

Masyarakat menggunakan bael atau gelundung baik untuk penggerusan

maupun amlgamasi. Nmun kedua kegiatan ini (penggerusan dan amlgamasi)

sebaiknya dipisahkan. Dengan kata lain dua barel atau gelundung seharusnya

dimiliki, yang satu memakai liner (untuk penggerusan) dn satu lagi tanpa iner

(untuk amalgamasi).

Ukuran yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang penggerusan dan

perbedaannya adalah bahwa paad tahap amlgamasi (penambahan merkuri ke dalam

pulp) media penggerus berjumlah 1 atau 2 batang yang berdiameter 4 atau 5 inci,

atau sengh lusin bola bediameter 4 atau 5 inci. Selanjutnya kecepatan putarannya

rendah dan lamanya amalgamasi berkisar antara 1 jam sampai beberapa jam. Pulp

dan media penggerus mengisi barel atu gelundung dengan kisaran dari sepertiga

sampai setengah volume barel. Jika operasi penggerusan penting, operasi

amlgamasi memakai 60-80% padatan. Jika amlgamasi saja, operasi dengan 30-50%

22
padatan. Jumlah merkuri yang ditambahkan bergantung pada kadar emas dalam

bijih dan jumlah merkuri ditambah apabila kadar emasnya tinggi.

3.4 Penambahan Anti Degradasi

Emas Tahan Karat

Emas memiliki sifat yang tahan terhadap karat. Lantas, mengapa emas tahan karat?

Lihatlah 'deret Volta' dibawah ini.

K - Ba - Ca - Na - Mg - Al - Mn - Zn - Cr - Fe - Cd - Ni - Sn - Pb - (H) - Cu -

Hg - Ag - Pt - Au

Menurut Volta, semakin ke kiri pada deret tersebut maka semakin mudah

elemen tersebut mengalami Oksidasi. Sebaliknya semakin ke kanan, maka semakin

sulit teroksidasi.Pengkorosian atau pengkaratan termasuk salah satu jenis oksidasi

pada logam.

Berdasarkan deret volta di atas, kita mengetahui bahwa emas (Aurum / Au)

terdapat pada deret yang paling kanan.

Sehingga energi yang dibutuhkan emas untuk mengalami oksidasi adalah

besar. Karena "kebesaran" energi inilah yang membuat besi sulit melakukan

oksidasi atau pengkaratan.

23
Cara Sederhana Pengujian Emas

Emas yang dijual terkadang bilangan karat yang dimiliki tidak tidak

menunjukan kadar emas yang seharusnya. Untuk mencegah hal ini berikut beberapa

cara sederhana yang dapat digunakan untuk menguji kemurnian emas:

1. Gosoklah emas yang akan dibeli pada jubin porselin. Setelah digosok jika

terbentuk lapisan hitam maka itu adalat pirit yang dilapisi emas pada bagian atas

atau hanya pirit dan sebaliknya jika setelah digosok terbentuk warna kuning maka

itu adalah emas. pirit adalah senyawaan dari besi dengan belerang dengan warna

kuning serta memiliki kilau seperti emas. pirit memiliki rumus kimia FeS2.

2. Dekatkan magnet pada batang atau potongan emas kemudian perhatikan apakah

batang emas atau potongan emas ditarik emas. pengujian dengan cara ini sangat

tergantung pada kadar emasnya. Jika emas yang memiliki bilangan karat tinggi

misalnya emas 17 atau 18 karat, maka tarikan magnet akan sangat kecil, hal ini

disebabkan emas dengan bilangan karat tinggi unsur pengotor yang ditambahkan

sangat ssedikit. Jadi unsur pengotor atau unsur yang ditambahkan inilah yang

ditarik magnet. Emas sendiri tidak ditarik oleh magnet.

3. Gosoklah batang emas pada kaca atau gelas, jika emas yang diuji mampu

menggores kaca atau gelas maka itu bukan emas atau emas yang memiliki

kemurnian sangat rendah.

4. Tetesilah emas dengan H2S jika terbentuk warna hitam maka kemurnian emas

tersebut sangat rendah.

24
5. Untuk mengetahui tingkat kemurnian emas secara teliti dapat menggunakan

peralatan X-Ray Fluorescence (XRF) dan niductivity Couple Plasma Optical

Emission Spectrometer (ICP-OES), walaupun sedikit lebih mahal.

25
BAB IV

SISTEM PENAMAAN MATERIAL

4.1 Klarifikasi Emas Menurut ISO dan SNI

4.1.1 ISO

XAU = Kode Kimia Emas , yang berarti :

AU : Aurum

X : Menandakan bahwa Emas bukanlah satuan mata uang

Kode ISO Selalu 3 Digit

4.1.2 SNI

Penentuan Kadar Emas sudah diatur di dalam SNI

Menurut SNI (Standart Nasional Indonesia) - No : SNI 13-3487-2005 standard

karat sebagai berikut :

Karat Kadar emas

24 K = 99,00 - 99,99%

23 K = 94,80 - 98,89%

22 K = 90,60 - 94,79%

21 K = 86,50 - 90,59%

20 K = 82,30 - 86,49%

19 K = 78,20 - 82,29%

18 K = 75,40 - 78,19%

26
BAB V

SIFAT MEKANIK MATERIAL

5.1 SIFAT MEKANIK EMAS

Table 5.1 Sifat mekanik emas

Struktur Kristal Face Centered Cubic


Pembenahan Magnetik Diamagnetik
Keterhambatan Elektris (20 C) 22.14 n.m
Konduktivitas Termal 318 Wm-1 K-1
Ekspansi Termal (25 C) 14.2 m.m-1 K-1
Kekuatan Tensil 120 MPa
Modulus Young 79 GPa
Modulus Shear 27 GPa
Bulk Modulus 180 GPa
Kekerasan Mohs 2.5
Kekerasan Viker 216 MPa
Kekerasan Brinell 25 HB MPa

Metode Pengujian :

1. Pengujian Impack

a. Alat dan Bahan

1) Alat penguji impack

2) Jangka Sorong

3) Spesimen yang telah dibuat

b. Langkah Kerja

1) Siapkan alat dan bahan,

27
2) Ukur Spesimen yang telah dibuat menggunakan jangka sorong. Ukur pada

bagian Lebar dan ketebalan,

3) Hitung rata-rata dari lebar dan ketebalan specimen,

4) Setting mesin uji impak dengan memasukan data lebar dan tebal spesimen,

5) Pasang specimen pada penahan mesin uji impak, luruskan takikan pada mata

pemukul,

6) Angkat pendulung,

7) Lakukan pengujian dengan melepaskan pendulung,

8) Lakukan lankah yang sama pada specimen yang lainnya,

9) Setelah sudah teruji semua, print hasil pengujian,

10) Setelah selesai bersihkan alat dan tempat praktik.

Gambar 5.1 Alat uji impack

28
2. Pengujian Kekerasan

a. Alat dan Bahan

1) mesin uji kekerasan Brinell (Brinell Hardness Test)

2) indentor bola (bola baja atau bola carbide)

3) benda uji ukuran 10cmx10cm yang sudah di gerinda

4) amplas halus

5) Spidol

6) Pulpen

7) Kertas

b. Langkah Kerja

1) Siapkan Alat dan Bahan terlebih dahulu

2) Pasang Indentor bola baja

3) Taruh spesimen pada tempatnya

4) Tekan tuas Minor Load

5) Kencangkan spesimen hingga jarum bergerak mendekati titik H/B

6) Settingkan pada titik 0 kemudian lepas tuas Mayor Load

7) Sehingga terjadi penekanan, amati sampai jarum berhenti dan catat skala

indikatornya

29
Gambar 5.2 Alat uji kekerasan

3. Pengujian Tarik

a. Alat dan Bahan

1) mesin uji Tarik

2) benda uji

3) amplas halus

4) Spidol

5) Gerinda

6) Kikir

7) Pulpen

8) Kertas

b. Langkah-langkah uji tarik

1) Siapkan alat dan bahan untuk uji Tarik

30
2) Ukur benda kerja terlebih dahulu sebelum diuji

3) Cek mesin uji tarik

4) Nyalakan mesin uji tarik

5) Kalibrasi mesin uji tarik

6) Pasang benda uji pada cekam mesin

7) Kencangkan dengan menekantuas pada cekam

8) Putar tombol penentu kekuatan tarik untuk memulai penarikan sampai terbentuk

takikan atau sampai benda kerja patah

9) Tulis hasil dari penarikan benda uji yaitu F yield dan F max

10) Lepas benda uji pada cekam

Gambar 5.3 Alat uji tarik

31
5.2 SIFAT FISIK EMAS

Table 5.2 Sifat fisik emas

Fase Solid
Massa Jenis 19.30 g.cm-3
Massa Jenis 17.31 g.cm-3
Titik Lebur 1337.33 K ; 1947.52 F ; 1064.18 C
Titik Didih 5173 F ; 2856 C ; 3129 K
Kalor Peleburan 12.55 kJ.mol-1
Kalor Penguapan 324 kJ.mol-1
Kapasitas Kalor 25.418 J.mol-1.K-1

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,

kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung

pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa

emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan

tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral

non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang

telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas

telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang,

antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya

kandungan perak di dalamnya >20%.

Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di

permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan

larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan

endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan

primer dan endapan plaser.

32
Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa,

dll.Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di

Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi,

Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

33
BAB VI

APLIKASI MATERIAL

6.1 Aplikasi Emas Pada Perhiasan

Proses Pembuatan Perhiasan Emas

Berikut penjelasan tentang proses pembuatan perhiasan yaitu :

Emas tua.

1. Siapkan bahan-bahan seperti,emas murni,tembaga dan perak.

2. Lalu bahan tersebut dibagi dalam 75% emas murni,17% tembaga

dan 7% perak,

3. Selanjutnya ketiga bahan itu dicampur dan dilebur jadi satu menjadi

emas tua yang biasa disebut 75.

4. Kemudian dicetak dan dijadikan segala macam perhiasan.

Emas setengahan yang biasa disebut emas stw

1. Campurkan bahan-bahan 40% emas murni,40% tembaga dan 20%

perak

2. Kemudian semuanya dicampur serta dilebur menjadi satu dan

dicetak.

3. Setelah itu siap menjadi perhiasan yang diinginkan.

34
Emas Muda

1. Campuran bahan 30% emas murni,40% tembaga,30% perak yang

dijadikan satu

2. Lalu dilebur dan dicetak menjadi bahan yang siap menjadi

perhiasan.

3. Setelah terbentuk segala macam perhiasan terus direbus dengan air

dicampur Apotas hingga kotoran hilang dan dikeringkan dengan piring

tanah yang diletakkan di atas kompor hingga kering sampai kelihatan

mengkilap terus dicrom dengan air mas murni kuning/crom putih yang akan

menjadi warna putih.kuning.

4. Lalu dipoles dengan tangan mesin poles dengan bahannya bernama

willcom menurut ke yang sudah dihiasi oleh tukang dengan mesin cetak.

6.2 Jenis-Jenis Emas

Seperti yang telah disinggung pada bagian terdahulu emas merupakan unsur

yang sangat lunak. Emas dengan kemurnian tinggi (24K) sangat mudah untuk

dibengkokan tetapi sangat mematahkan atau memutuskan emas. Hal ini disebabkan

atom-atom penyusun emas terikat sangat kuat.

Salah satu cara yang banyak digunakan adalah Mencampur emas dengan

logam lain yang disebut alloi. Alloi dapat dilakukan dengan meleburkan atau

melelehkan emas terlebih dahulu kemudian ditambahkan lelehan unsur yang akan

dipadukan. Syarat utama terbentuknya alloi adalah logam yang ditambahkan, baik

35
unsur logam maupun nonlogam, tidak bereaksi dengan logam yang dijadikan logam

induk, dalam hal ini emas adalah logam induknya. Selain dengan cara ini emaspun

sering dilapisi pada logam-logam lain dengan cara elektrokimia yang

disebut penyepuhan atau elektoplating.

Emas Putih

Gambar 6.1 Emas putih 18K

Emas putih (white gold) merupakan salah satu aloi emas yang banyak

digunakan sebagai perhiasan. Emas putih yang digunakan merupak aloi dari emas

dengan nikel atau dengan paladium. Selain itu kadang mengandung perak, tembaga

dan zink dalam jumlah kecil. Sekarang nikel jarang digunakan karena dapat

memberikan reaksi tertentu pada orang yang menggunakan perhiasan dari emas

putih.

Sekarang emas putih yang banyak digunakan sebagai perhiasan merupakan

aloi dari emas dengan perak dan paladium. Dan untuk menghasilkan kilau putih

yang lebih bagus emas putih seringkali dilapisi dengan rodium (Rh). Seperti pada

36
emas kuning (yellow gold) kandungan emas pada emas putih juga dinyatakan

sebagai karat, dimana kandungan emas pada emas putih 18 karat sama dengan

kandung emas pada emas kuning 18 karat.

Perbedaan Emas Putih dan Platina

Dalam kehidupan sehari-hari istilah emas putih sering ditujukan pada

platina. Hal ini disebabkan platina memiliki kilau yang menarik menyerupai kilau

emas putih. Namun sebenarnya emas putih berbeda dengan platina, karena emas

putih masih mengandung emas kuning yang konsentrasinya tergantung

pada bilangan karat yang dimiliki. Platina merupakan unsur kimia dengan lambang

Pt dengan nomor atom 78 dan memiliki titik didih 3800c dan titik leleh 1772C.

Platina dan emas putih kini paling banyak dimanfaatkan sebagai perhiasan.

Hal ini disebabkan selain menarik, kedua logam tersebut memiliki sifat mulia yakni

sukar bereaksi sehingga kilau yang dihasilkan seolah-olah tidak berubah dari waktu

ke waktu.

Berikut beberapa perbedaan antara emas putih dengan platina:

1. Platina memiliki kilau yang lebih menarik dari emas putih. Namun kilau emas

putih akan sama seperti platina jika emas putih dilapisi rhodium.

2. Platina lebih berat dan lebih keras dari emas putih.

3. Platina lebih tahan lama dibanding emas putih.

37
Emas Ungu

Emas ungu atau emas lembayung merupakan aloi antara emas dengan

dengan aluminium. Emas ungu yang diproduksi biasnya memiliki kadar 18K atau

mengandung 79% emas selebihnya berupa aluminium.

Emas Biru

Gambar 6.2 Cincin emas putih 18K dihiasi emas biru ditengahnya

Emas biru merupakan aloi antara emas dengan indium. Selain itu, emas biru

dapat diperoleh dari aloi antara emas dengan besi. Dengan konsentrasi emas 75%

dan besi 25%.

38
Emas Hitam

Emas hitam dapat diperoleh dengan beberapa cara yakni

a. Melapisis emas dengan rhodium hitam atau ruthenium.

b. Aloi antara emas dengan kobalt atau kromium. Jenis emas ini sangat sukar untuk

dioksidasi. Oleh sebab itu, kilau yang dihasilkanpun sangat stabil dalam kurun

waktu yang lama.

Tabel 6.1 Alloi dari emas

Penyusun (% Penyusun (%
Jenis Emas Jenis Emas
massa) Massa)
75 emas STERLING 92.5 emas
25 besi SILVER 7.5 tembaga
Emas biru 18K
90 emas
Emas putih-1
10 palladium
58 emas 75-85 emas
Emas kuning
4-28 perak Emas putih -2 8-10 nikel
14K
14-28 tembaga 2-9 seng
75 emas 58.3 emas
Emas kuning 10-20 perak Emas putih-14Kt 17 perak
18K 5-15 tembaga A 17 tembaga
7.6 seng
92 emas 59 emas
Emas kuning 4.2 perak Emas putih-14Kt 25.5 tembaga
22K 4.2 tembaga B 12.3 nikel
3.2 seng
75 emas 75 emas
11-15 perak 18.5 perak
Emas hijau 18K
13-0 cadmium 1 tembaga
Emas putih-18K
5.5 seng
75 emas
Emas merah 18K
25 tembaga

39
BAB VII

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Dalam menentukan kadar emas yang terdapat dalam berbagai mineral yang

ada pada lapisan bumi dapat dilakukan dengan berbagai teknologi yang

berkompetensi dalam menghasilkan butiran emas yang dapat dijadikan bahan baku

untuk pembuatan asesoris, lapisan logam, filament dan sebagai katalis untuk

berbagai reaksi kimia.

Ekstraksi butiran emas dapat dapat dilakukan dengan teknologi amalgamasi

dan teknologi sianidasi yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kedua metode tersebut dapat diandalkan untuk menghasilkan emas dalam kuantitas

yang tinggi. sedangkan efek dari teknologi pengolahan bijih emas dengan kedua

metode tersebut, dapat menghasilkan limbah-limbah yang bersifat toksik yang

dapat membahayakan lingkungan sekitarnya.

Untuk menghindari dampak teknologi tersebut diperlukan teknik

pengolahan bijih emas yang lebih aman dari kedua metode tersebut. Teknik yang

dapat digunakan untuk tujuan tersebut adalah teknik thiourea. Tekinik ini lebih

aman dari teknik amalgamasi dan teknik sianidasi karena tidak menghasilkan

limbah yang dapat mencemari lingkungan karena tingkat ketoksikannya sangat

rendah. Meskipun teknik ini cukup aman, namun teknik ini belum digunakan oleh

40
para penambang emas karena biaya yang dibutuhkan untuk teknik ini lebih mahal

dan hasil emas yang diperoleh lebih sedkit.

7.2 Saran

Dengan adanya makalah ini penulis mengharapkan agar kita bisa lebih

mengenali dan memahami tentang pengolahan bijih emas, dampak yang

ditimbulkan serta pemanfaatan emas sehingga kita dapat mengaplikasikannya

dalam kehidupan sehari-hari.

41
DAFTAR PUSTAKA

Arif S, Dwi. 2016. Bahan Galian Emas.

http://www.scribd.com/doc/33920112/Bahan-galian-Emas. Diakses

tanggal 04 Desember 2016.

Wikipedia. 2016. Emas. http://id.wikipedia.org/wiki/Emas . Diakses tanggal 04

Desember 2016.

Wikipedia. 2016. ISO 4217. https://id.wikipedia.org/wiki/ISO_4217 . Diakses

tanggal 07 Desember 2016.

42