Anda di halaman 1dari 50

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani: Xenos yang artinya asing.

Xenobiotik adalah zat asing yang masuk dalam tubuh manusia. Contoh:

obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis,

pewarna, pengawet) dan zat karsinogen lainya. Xenobiotik umumnya tidak

larut air, sehingga kalau masuk tubuh tidak dapat diekskresi. Untuk dapat

diekskresi xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat yang larut,

sehingga bisa diekskresi. Organ yang paaling berperan dalam

metabolisme xenobiotik adalah hati. Ekskresi xenobiotik melalui empedu

dan urine. Pada metabolisme obat, pada obat yang sudah aktif

metabolisme xenobiotik fase 1 berfungsi mengubah obat aktif menjadi

inaktif, sedang paa obat yang belum aktif metabolisme xenobiotik fase

1 berfungsi mengubah obat inaktif menjadi aktif

Kekuatan pendorong dalam evolusi sistem detoksifikasi metabolisme

canggih sebenarnya cukup lurus ke depan dan tergantung pada

kemampuan air untuk bertindak sebagai "pelarut" untuk melarutkan zat.

Karena membran seluler terutama lipid berbasis dan kedap larut air yang

paling (ilmiah: "kutub") zat, pengangkutan larut dalam air senyawa ke

dalam sel memerlukan protein transportasi khusus. Dengan

menempatkan protein transport yang sesuai pada membran sel, sel hanya

akan memungkinkan diinginkan larut dalam air molekul untuk masuk, dan

akan mencegah masuknya air-larut racun. Ini paradigma yang sama juga

berlaku ketika sel perlu mengeluarkan senyawa larut dalam air yang tidak
diinginkan (seperti limbah selular), mereka keluar dari sel dengan

mekanisme yang serupa.

Berbeda dengan senyawa yang larut dalam air, membran sel lipid

menyajikan penghalang sedikit lipid-larut senyawa, yang bebas bisa

dilewati. Berpotensi merusak lipid-larut racun sehingga dapat

memperoleh akses gratis ke interior seluler, dan jauh lebih sulit untuk

menghapus. Sistem detoksifikasi metabolisme mengatasi masalah ini

dengan mengubah lipid-larut racun ke aktif larut dalam air metabolit. The

"solubilisasi" dari racun dicapai oleh enzim yang melekat (konjugasi)

tambahan yang larut dalam air molekul terhadap toksin larut lipid pada

titik-titik lampiran tertentu. Jika racun tidak mengandung salah satu titik

sambungan, mereka pertama kali ditambahkan oleh satu set terpisah

enzim yang mengubah kimia racun untuk menyertakan "menangani"

molekul. Setelah reaksi solubilisasi, toksin kimia-dimodifikasi diangkut

keluar dari sel dan dikeluarkan. Ketiga langkah atau fase menghilangkan

yang tidak diinginkan atau berbahaya lipid-larut senyawa yang dilakukan

oleh tiga set protein seluler atau enzim, disebut fase I (transformasi) dan

fase II (konjugasi) enzim, dan tahap III (transportasi) protein.

Rumusan Masalah

Apa itu Senyawa Senobiotik?

Mengapa Senyawa Senobiotik di metabolisme.?

Bagaimana Proses metabolisme senyawa senobiotik pada logam?

Apa dampak senobiotik bagi kesehatan.?

Tujuan

Untuk mengetahui Apa itu senyawa senobiotik


Untuk mengetahui mengapa senobiotik itu harus di metabolisme

Untuk mengetahui proses senobiotik pada logam

Untuk Mengetahui dampak senobiotik bagi kesehatan

BAB II

2.1. Pengertian Senyawa Senobiotik

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani yaitu Xenos yang arti nya zat

asing.

Zat Senobiotik merupakan senyawa yang asing bagi tubuh. Kelompok

utama zat-zat senobiotik yang mempunyai relevansi medik adalah obat-

obatan,zat zat karsinogen kimia serta berbagai senyawa yang telah

memasuki lingkungan kehidupan kita melalui salah satu jalan,seperti

senyawa-senyawa bifenil Polikrolinasi (PCB) dan insektisida

tertentu.sebagian besar senyawa ini akan mengalami metabolism

(perubahan kimiawi) dalam tubuh manusia dan hati menjadi organ tubuh

yang terutama terlibat dalam peristiwa ini.kadang-kadang zat senobiotik

dapat diekskresikan tanpa perubahan.Tujuan metabolism zat-zat

senobiotik adalah untuk meningkatkan kelarutannya dalam air (polaritas)

dan dengan demikian memudahkan eksresinya dari dalam tubuh.

Contoh: obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan

(pemanis, pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya.

Dalam kehidupan sehari-hari tubuh manusia dapat terpapar oleh

ribuan senobiotik yang setiap xenobiotik dapat menimbulkan efek

toksik.saat sarapan pagi dirumah mungkin kita mengkonsumsi makanan


yang mengandung bahan pengawet,pewarna atau penyedap rasa. Ketika

kita di jalan menuju tempat kuliah dan tempat kerja mungkin kita

menghirup udara yang penuh dengan polutan rokok sendiri atau teman

kerja. Kedua, kemungkinan timbulnya efek toksik yang diakibatkan oleh

paparan xenobiotik belum disikapi secara benar baik oleh mereka yang

bekerja dibidang kesehatan terlebih lagi orang awam. Kasus formalin

dalam makanan mendapat tanggapan yang gegap gempita,sedangkan

tercemarnya udara perkotaan dan air tanah permukiman serta pemakaian

obat-obatan yang irrasional menjadi fenomena biasa.

2.2. Mengapa Senobiotik harus di Metabolisme

Xenobiotik umumnya tidak larut air, sehingga jika masuk tubuh

tidak dapat diekskresi

Untuk dapat diekskresi xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat

yang larut, sehingga bisa diekskresi

Organ yang paaling berperan dalam metabolisme xenobiotik adalah

hati

Ekskresi xenobiotik melalui empedu dan urine

2.3. Metabolisme xenobiotik

Kasus ditemukannya formalin dalam makanan yang diberitakan pada

banyak media masa beberapa waktu lalu,bukanlah kasus baru.lagi pula

formalin bukanlah satu-satunya senobiotik yang ditemukan dalam

makanan. Bahan pewarna tekstil seperti rodhamin B dan amaranth,residu


peptisida golongan karbofular dan cemaran logam berat juga pernah

dilaporkan ditemukan dalam produk-produk bahan makanan dan

minuman yang beredar di beberapa daerah di Indonesia. Selain senobiotik

di dalam makanan, sangat senyawa kimia yang dapat membahayakan

kesehatan apabila dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh.asap rokok dan

asap pembakaran sampah mengandung benzoa(a)piren yang sangat

karsinogenik. Didalam asap kendaraan bermotor mengandung gas karbon

monoksida yang sangat berbahaya bagi kesehatan.demikian pula sisa

peptisida dan insektisida yang digunakan untuk bebrbagai keperluan

tentu bukan bahan kimia yang baik untuk kesehatan. Penyedap

rasa,monosodium glutamate, dan pemanis buatan seperti

sakarin,siklamat dan aspartam. Walaupun diperbolehkan untuk bahan

makanan diduga dapat menginduksi pertumbuhan tumor.obat-obatan

yang sering kita konsumsi untuk penyembuhan penyakit tertentu

adakalanya menimbulkan efek samping atau efek toksik yang serius.

Thalidomin yang semula diproduksi dan diterima sebagai sdatif (obat

penenang) ternyata bersifat teratogenik (menyebabkan cacat pada janin),

sehingga akhirnya obat tersebut dilarang beredar dipasaran.

Dalam keseharian tubuh manusia dapat terpapar beribu-ribu

senobiotik mengingat senyawa asing yang diketahui manusia jumlahnya

lebih dari 100.000 macam. Adakalanya kita secara sengaja mengkonsumsi

senobiotik seperti obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada

makanan (pemanis, pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen

lainya.walaupun tidak disertai kesadaran dan pengetunahuan yang

memadai akan akibat buruk yang mungkin timbul. Sedang secara terus-
menerus tanpa bermaksud untuk mengkonsumsi tubuh dapat terpapar

xenobiotik yang ada dilingkungan baik diudara,air maupun daratan seperti

gas karbon monoksid, benzo(a)piren,logam-logam berat dari asap buang

kendaraan bermotor dan bahan-bahan pencemar lingkungan lainnya.

Senyawa senobiotik tersebut masuk kedalam tubuh dapat melalui mulut

(per-oral) seperti makanan dan obat-obatan,atau karena terhirup atau

dihirup pernafasan (per inhalasi)seperti asap rokok dan asap kendaraan

atau lewat kontak dengan kulit (per cutan/transdermal)seperti dijumpai

dalam beberapa kasus keracuna pestisida pada petani.

Apabila xenobiotik ini masuk ke tubuh manusia (dan juga

hewan),tubuh mempunyai mekanisme untuk mengendalikan keberadaan

xenobiotik tersebut sehingga aman bagi tubuh.xenoiotik yang masuk

kedalam tubuh umumnya melalui proses absorpsi akan sampai ke aliran

darah,di distribusi ke seluruh tubuh dan kemudian di eliminasi.proses

eliminasi adalah usaha untuk menghilangkan aktivitas dan keberadaan

xenobiotik di dalam tubuh. Eliminasi meliputi

metabolisme/biotransformasi dan ekskresi. Metabolisme atau sendir

biotransformasi adalah perubahan kimiawi oleh pengaruh tubuh

organisme, sedangkan ekskresi adalah proses pembuangan xenobiotik

dari dalam tubuh. Proses adsorpsi, distribusi dan eliminasi ini pada

umumnya melibatkan proses penembusan membrane biologis.seperti

diketahui bahwa membrane biologis tersusun atas lapisan kompleks yang

bersifat polar dan non polar.oleh karena nya proses penembusan

membrane tersebut juga tidak terlepas dari hokum-hukum fisikokimia

yang berlaku terhadap xenobiotikdan bahan penyusun membrane itu


sendiri,seperti derajat ionisasi,kelarutan dalam lemak,koefisien partisi

lemak/air,ketersediaan system transport spesifik,ukuran diameter pori

membrane serta kompleksitas matriks penyusun membrane.

Didalam tubuh,xenobiotik umumnya memberikan pengaruh pada

system dan fungsi normal tubuh. Pengaruh itu dapat berupa sesuatu yang

diharapkan, misalnya efek terapetik obat (efek untuk penyembuhan

penyakit atau menghilangkan gejala penyakit), atau pengaruh yang tidak

diharapkan,seperti efek samping atau efek toksik. Melalui proses

metabolism dan proses ekskresi tubuh mampu menghilangkan semua

pengaruh yang timbul. Telah lama diketahui bahwa karena sifatnya yang

suka lemak ada banyak xenobiotik tidak akan dikeluarkan dari dalam

tubuh apabila tidak didahului proses perubahan struktur kimia melalui

metabolism. Sebagai contoh, pentobarbital diperkirakan akan tinggal di

dalam tubuh selama 100 tahun manakala tidak mengalami proses

metabolism/biotransformasi.oleh karenanya metabolism memegang arti

penting dalam proses eliminasi xenobiotik.

Ada perbedaan antara metablisme nutrisi dan metabolism xenobiotik.

Metabolism nutrisi terjadi untuk keperluan proses normal sel. Proses ini

menghasilkan senyawa fungsional dan energy kimia yang dibutuhkan oleh

sel serta dalam langkah-langkah tertentu menghasilkan limbah

metabolik.metabolisme xenobik bertujuan untuk mengeliminasi

keberadaan xenobiotik di dalam tubuh. Dalam metabolism xenobiotik

tidak pernah disertai produksi energi.

Xenobiotik di dalam tubuh dapat mengalami berbagai macam reaksi

metabolism yang dapat di golongkan menjadi dua yaitu reaksi fase 1 dan
reaksi fase 2. Reaksi fase 1 adalah non-sintetik,merupakan pembentukan

gugus fungsional ataupun perubahan gugus fungsional yang sudah ada

pada molekul xenobiotik. Reaksi non sintetik ini meliputi reaksi

oksidasi,reduksi dan hidrolisis. Sebagai contoh hidroksilasi senyawa

aromatic atau senyawa altik serta epoksidasi ikatan rangkap merupakan

reaksi oksidasi pembentukan gugus fungsional. Sedangkan reaksi

nitro,dealkilasi dan hidrolisis ester merupakan reaksi perubahan gugus

fungsional yang sudah ada. Gugus fungsional di maksudkan untuk

mengalami reaksi metabolic lanjutan berupa konjugasi dengan senyawa

endogen atau berinteraksi dengan reseptor untuk menimbulkan efek.

(Williams,2002). Reaksi oksidasi yang merupakan 90 % reaksi metabolism

fase 1, dikatalis oleh system enzim mikrosomal.sistem enzim ini dikenal

pula sebagai mixed function oxydase system (MFO)dengan sitokrom

P450,suatu superfamily enzim hemoprotein,sebagai komponen utamanya

(lewis et al.,1998)

Reaksi fase 2 merupakan reaksi sintetik atau konjugasi. Reaksi ini

merupakan penggabungan antara molekul xenobiotik,atau metabolit yang

terbentuk dari reaksi fase 1, pada gugus fungsionalnya dengan senyawa

endogen. Reaksi sintetik meliputi reaksi glukuronidasi,sulfatasi,konjugasi

dengan asam amino,asetilasi,konjugasi dengan glutation dan mtilasi.

Reaksi fase 2 ini umumnya di katalisis oleh enzim-enzim sitosolik kecuali

reaksi glukuronidasi.

Pada reaksi glukuronidasi membutuhkan asam uridil 5-

difosfoglukuronat (UDPGA) untuk membentuk konjugat glukuronat, reaksi

sulfatasi untuk pembentukan konjugat sulfat membutuhkan 3-


fosfoadenosin-5fosfosulfat (PAPS), pembentukan konjugat

glutation(menjadi konjugat asam merkapturat(tioester) membutuhkan

glutation tereduksi (GSH),sedang asilasi membutuhkan koenzim A. pada

umumnya konjugasi dengan senyawa endogen berakibat hilangnya

aktivitas biologis xenobiotik. Disamping tidak mempunyai aktivitas

biologis semua hasil reaksi fase 2 adalah metabolit yang mudah

terionisasi pada PH fisiologis,kecuali konjugat metil,sehingga lebih mudah

larut di dalam air yang mengakibatkan mudah dikeluarkan dari dalam

tubuh. Ada beberapa reaksi sintetikyang tidak umum yang hanya terjadi

pada gugus senyawa tertentu, seperti pembentukan hidrazon pada

biotransformasi m dan hidratasi epoksid membentuk dihidrodiol. Metabolit

ini tidak terionisasi pada PH fisiologis (sheweita,2000).

Metabolisme xenobiotik dapat terjadi baik di dalam hepar maupun di

jaringan-jaringan eksta hepatic seperti paru,ginjal dan mukosa saluran

pencernaan.kapasitas metabolic tertinggi ada di hepar.paru,ginjal dan

mukosa saluran pencernaan mempunyai kapasitas metabolic sedang dan

kapasitas metabolic terendah terjadi di kulit,testis dan plasenta.

Metabolism xenobiotik umunya terjadi dalam beberapa langkah

reaksi kimia yang berurutan atau simultan. Parasetamol,sebuah

analgenik-antiseptik yang sangat lazim, didalam tubuh secara simultan

akan mengalami reaksi glukuronidasi menjadi parasetamol-glukuronat,

reaksi sulfatasi menjadi parasetamol sulfat serta mengalami reaksi

oksidasi. Reaksi oksidasi ini kemudian diikuti oleh reaksi konjugasi dengan

glutation dan reaksi-reaksi ikutan selanjutnya membentuk konjugat

merkapturat,Amfetamin,stimulansia syarafpusat, di dalam tubuh kelinci


akan teroksidasi pada rantai samping,didalam tubuh

manusia,mencit,marmot dan anjing mengalami hidroksilasi menjadi asam

benzoate, sedangkan dalam tubuh tikus mengalami hidroksilasi cincin

aromatic.

Insektisida malation dalam tubuh nyamuk mengalami desulfurasi

oksidatif menjadi malaokson yang lebih toksik,sedangkan pada tubuh

mamalia, senyawa ini akan mengalami hidolisis menjadi asam

dikarboksilat kemudian terkonjugasi dengan glukuronat menghasilkan

metabolic yang inaktif. Benzo(a)piren yang terhisap dari asap rokok

berturut-turut akan terepoksidasi menjadi benzo(a)piren-

epoksid,terhidrasi menjadi dihidrodiol,terkonjugasi dengan sulfat

membentuk benzo(a)piren sulfat. Metabolit dihidrodiol yang terbentuk

teroksidasi kembali menjadi senyawa reaktif dihidrodiol epoksid yang

dipercaya mampu menginisiasi proses terjadinya kanker (karsinogenesis).

Dihidrodiol epoksid ini kemudian terhidrasi menjadi tetrol atau tersusun

ulang menjadi triol yang akan diekskresikan (Selkirk,1980;timbrell,1991).

Selama kapasitas tubuh(sel) tidak terlampaui maka semua matabolit

yang terbentuk akan bersifat aman bagi kehidupan dan segera

dikeluarkan dari dalam tubuh. Akan tetapi keadaan tersebut sering

terlampaui, sebagai contoh, mengkonsumsi 20 tablet parasetamol

sekaligus (setara dengan 1 gram parasetamol) dapat mengakibatkan

kematian, karena kerusakan hepar (hepatotoksik) yang massif dan tak

terbalikkan (irreversible). Seorang perokok berat dapat terkena kanker

paru. Petani yang menyeprotkan pestisida organofosfat untuk membasmi

hama tanaman tiba-tiba dapat keracunan.


2.4. METABOLISME XENOBIOTIK PADA LOGAM

Metabolisme obat adalah proses modifikasi biokimia senyawa obat oleh

organisme hidup, pada umumnya dilakukan melalui proses enzimatik.

Proses metabolisme obat merupakan salah satu hal penting dalam

penentuan durasi dan intensitas khasiat farmakologis obat.

Metabolisme obat sebagian besar terjadi di retikulum endoplasma sel-sel

hati. Selain itu, metabolisme obat juga terjadi di sel-sel epitel pada

saluran pencernaan, paru-paru, ginjal, dan kulit.

Terdapat 2 fase metabolisme obat, yakni fase I dan II. Pada reaksi-reaksi

ini, senyawa yang kurang polar akan dimodifikasi menjadi senyawa

metabolit yang lebih polar. Proses ini dapat menyebabkan aktivasi atau

inaktivasi senyawa obat.

REAKSI FASE I

Reaksi fase I, disebut juga reaksi nonsintetik, terjadi melalui reaksi-

reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis, siklikasi, dan desiklikasi. Reaksi oksidasi

terjadi bila ada penambahan atom oksigen atau penghilangan hidrogen

secara enzimatik. Biasanya reaksi oksidasi ini melibatkan sitokrom P450

monooksigenase (CYP), NADPH, dan oksigen. Obat-obat yang

dimetabolisme menggunakan metode ini antara lain golongan fenotiazin,

parasetamol, dan steroid.

Reaksi Oksidasi (Rx. Fase I)

sebagian besar terjadi di retikulum endoplasmik

bisa juga dikatalis di sitosol atopun mitokondria

- Reaksi Fase II

umumnya terjadi di sitosol, kecuali rx. Glukoronidasi


- Jalur metabolisme obat dalam Hepar

Rx. Fase I = Rx fase non sintetik atau fungsionalisasi.

Membuat obat jadi lebih polar dengan memasukkan / menghilangkan

gugus fungsional.

meningkatkan aktifitas biologis

membentuk gugus yang reaktif terhadap enzim2 pada Rx. Fase II

Rx. Oksidasi

- melibatkan oksigenase, monooksigenase, dioksigenase

- Oksigenase : oksidasi terjadi melalui penarikan hidrogen atau elektron.

Reaksi antara Xenobiotik dan seny. Endogen (As lemak, kolesterol, hormon

steroid) dikatalisis Enzim Mikrosom Hepar, Mukosa Usus, dan jaringan lain.

- Monooksigenase : 1 atom oksigen dari O2 diikat pada xenobiotik, lalu

direduksi jadi air.

mengandung sitokrom P-450 dan P-448 (protein Hem). Istilah ini dipakai

karena terjadi absorpsi kuat dari cahaya pada panjang gelombang 450

dan 448 nm setelah reduksi Na-ditionit dan penyeimbangan dengan CO.

- Dioksigenase : memasukkan dua atom oksigen dari O2 ke dalam

xenobiotika.

Rx. Oksidasi meliputi:

1. Hidroksilasi

Satu atom O berikatan dengan atom2 C, N, S dari molekul obat.

Katalis: enzim retikulum endoplasmik hepar (MFO = mixed function

oxidases system)

Melibatkan sitokrom P-450 dan reduktase-NADPH-sitokrom-C.

2. Desulfurasi
Penggantian atom S dengan O akibat adanya oksigen pada turunan tio

(tio-urea, tiosemikarbon, organo-fosfor).

3. Dehalogenasi

membutuhkan oksigen molekular dan NADPH.

Misal pada Halotan (anestetik) mengalami deklorinasi oksidatif dan

debrominasi untuk menghasilkan alkohol atau asam yang sesuai.

4. Pembentukan Oksida

Ada dua macam:

a. Oksidasi N-

- Penambahan atom O pada N-.

- Mikrosom hati + O2 + NADPH > oksida N

- Pada oksidasi metabolik amina akan menghasilkan:

turunan Hidroksilamin untuk amina primer dan sekunder

oksida amin untuk amina tersier

b. Oksidasi S-

- Pengikatan 1 ato 2 atom O pada sulfur (S)

- Mengubah bentuk Sulfur Alifatik ato Aromatik jadi Sulfoksida dan

Sulfonat yang lebih polar dan lebih larut

5. Dealkilasi

Peniadaan radikal yang mula2 terikat pada atom oksigen, nitrogen, dan

sulfur.

Ada 3 macam: Dealkilasi N-, Dealkilasi O-, Dealkilasi S-

Rx. Reduksi

dibanding oksidasi, hanya memegang peranan kecil

contoh:
Karbonil direduksi jadi alkohol

enzim: alkohol dehidrogenase

Senyawa azo jadi amina primer melalui tahap antara hidrazo

enzim: NADPH-sitokrom P-450 reduktase, NADPH-sitokrom e-reduktase

Rx. Hidrolisis

terdiri dari:

1. Hidrolisis ester dan amida oleh esterase (amidase)

- Hidrolisis ester lebih cenderung terjadi di plasma dibanding di hati

karena plasma mengandung esterase yang lebih banyak

- Ester terlindung secara sterik, jadi proses hidrolisis berjalan lambat

- Amida lebih stabil dari ester dan lebih mungkin dihidrolisis oleh amidase

hati

karena itu ester dan amida kemungkinan besar di ekskresikan tanpa

berubah dalam air kemih.

REAKSI FASE II

Reaksi fase II, disebut pula reaksi konjugasi, biasanya merupakan reaksi

detoksikasi dan melibatkan gugus fungsional polar metabolit fase I, yakni

gugus karboksil (-COOH), hidroksil (-OH), dan amino (NH2), yang terjadi

melalui reaksi metilasi, asetilasi, sulfasi, dan glukoronidasi. Reaksi fase II

akan meningkatkan berat molekul senyawa obat, dan menghasilkan

produk yang tidak aktif. Hal ini merupakan kebalikan dari reaksi

metabolisme obat pada fase I.

- Obat2 mengalami Deaktivasi dengan Rx. Konjugasi.

Konjugasi: Rx. biosintesis dengan penempelan Seny. Endogen (as.

glukoronat, gugus sulfat, metil, asetil)


Untuk bisa konjugasi harus punya gugus aktif

Kalo gak punya gugus aktif ato obat sangat larut lipid, maka akan

mengalami Biotransformasi (Rx. Fase I: oksidasi, reduksi, hidrolisis) lebih

dulu.

- Glukoronidasi (Konjugasi dengan Glukoronat)

Koenzim antara (UDPGA : uridine diphosphoglucorinic acid) bereaksi

dengan obat dengan bantuan enzim UDP-glukoronosil-transferase (UGT)

untuk memindahkan glukoronida ke atom O pada alkohol, fenol, atau

asam karboksilat; atau atom S pada senyawa tiol; atau atom N pada

senyawa2 amina dan sulfonamida.

Secara skematis:

Konjugasi dengan Asam Amino (ex: Glisin & Glutamin)

Reaksi antara Obat yang dah punya gugus Karboksilat dan dah diaktivasi

koenzim-A dengan Seny. Endogen yang punya gugus amino

Konjugasi dengan Glutation (pembentukan Asam Merkapturat)

Epoksida atau aren oksida yang sangat reaktif bereaksi dengan Glutation,

kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi As. Merkapturat (non toksik)

2.5. MEKANISME KERJA OBAT

FASE/NASIB OBAT DALAM TUBUH

1.FASE ABSORPSI

FAKTORNYA KELARUTAN OBAT: CAIR PADAT

KEMAMPUANBERDIF.MELINTASIMEMB.SEL:KELARUTAN

KADAR/KONSENTRASI: TINGGI RENDAH


SIRKULASI DARAH: INTENSIF KURANG INTENSI

LUAS PERMUKAAN KONTAK OBAT

UKURAN PARTIKEL BENTUK SEDIAAN OBAT

RUTE PEMBERIAN OBAT

2.FASE DISTRIBUSI : DIDIST.

ALIRAN DARAH, SIFAT FISIKOKIMIAWI OBAT,

IKATAN DG. PROTEIN PLASMA

3. FASE PENGIKATAN OBAT: TERJADI EFEK FARMAKOLOGIS

4.FASE ELIMINASI/METABOLISME EKSKRESI DALAM BENTUK UTUH ATAU

DIMETABOLISME

MOLEKUL DIBUAT LEBIH POLAR, IK.

PROTEIN LEBIH KECIL,

KURANG LARUT LEMAK SHG MDH MELINTASI GINJAL

2.5.1. DESKRIPSI SIFAT KERJA OBAT

Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Sebuah

obat tidak menciptakan suatu fungsi di dalam jaringan tubuh atau organ,

tetapi mengubah fungsi fisiologis. Obat dapat melindungi sel dari

pengaruh agents kimia lain, meningkatkan fungsi sel, atau mempercepat

atau memperlambat proses kerja sel. Obat dapat menggantikan zat tubuh

yang hilang (contoh, insulin, hormon tiroid, atau estrogen).

2.5.2. MEKANISME KERJA OBAT

Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau

membran sel atau dengan beinteraksi dengan tempat reseptor. Jel

aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh

(khususnya dengan menetralisasi kadar asam lambung). Obat-obatan,


misalnya gas anestsi mum, beinteraksi dengan membran sel. Setelah sifat

sel berubah, obat mengeluarkan pengaruhnya. Mekanisme kerja obat

yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. Reseptor

melokalisasi efek obat. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena

memiliki bentuk kimia yang sama. Obat dan reseptor saling berikatan

seperti gembok dan kuncinya. Ketika obat dan reseptor saling berikatan,

efek terapeutik dirasakan. Setiap jaringan atau sel dalam tubuh memiliki

kelompok reseptor yang unik. Misalnya, reseptor pada sel jantung

berespons pada preparat digitalis.

Suatu obat yang diminum per oral akan melalui tiga fase: farmasetik

(disolusi), farmakokinetik, dan farmakodinamik, agar kerja obat dapat

terjadi. Dalam fase farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga

dapat menembus membrane biologis. Jika obat diberikan melaluirute

subkutan, intramuscular, atau intravena, maka tidak terjadi fase

farmaseutik. Fase kedua, yaitu farmakokinetik, terdiri dari empat proses

(subfase):absorpsi, distribusi, metabolisme (atau biotransformasi), dan

ekskresi. Dalam fase farmakodinamik, atau fase ketiga, terjadi respons

biologis atau fisiologis.

1. A. Fase Farmasetik (Disolusi)

Sekitar 80% obat diberikan melaui mulut; oleh karena itu,

farmasetik(disolusi) adalah fase pertama dari kerja obat. Dalam saluran

gastrointestinal, obat-obat perlu dilarutkan agar dapat diabsorsi. Obat

dalam bentuk padat (tablet atau pil) harus didisintegrasi menjadi partikel-
partikel kecil supaya dapat larut ke dalam cairan, dan proses ini dikenal

sebagai disolusi.

Tidak 100% dari sebuah tablet merupakan obat. Ada bahan pengisi

dan pelembam yang dicampurkan dalam pembuatan obat sehingga obat

dapat mempunyai ukuran tertentu dan mempercepat disolusi obat

tersebut. Beberapa tambahan dalam obat sperti ion kalium (K)dan

natrium (Na)dalam kalium penisilin dan natrium penisilin, meningkatkan

penyerapan dari obat tersebut. Penisilin sangat buruk diabsorbsi dalam

saluran gastrointestinal, karena adanya asam lambung. Dengan

penambahan kalium atau natrium ke dalam penisilin, maka obat lebih

banyak diabsorbsi.

Disintegrasi adalah pemecahan tablet atau pil menjadi partikel-

partikel yang lebih kecil, dan disolusi adalah melarutnya partikel-partikel

yang lebih kecil itu dalam cairan gastrointestinal untuk diabsorbsi. Rate

limiting adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah obat untuk

berdisintegrasi dan sampai menjadi siap untuk diabsorbsi oleh tubuh.

Obat-obat dalam bentuk cair lebih cepat siap diserap oleh saluran

gastrointestinal daripada obat dalam bentuk padat. Pada umumnya, obat-

obat berdisintegrasi lebih cepat dan diabsorpsi lebih cepat dalam cairan

asam yang mempunyai pH 1 atau 2 daripada cairan basa. Orang muda

dan tua mempunyai keasaman lambung yang lebih rendah sehingga pada

umumnya absorpsi obat lebih lambat untuk obat-obat yang diabsorpsi

terutama melalui lambung.

Obat-obat dengan enteric-coated,EC (selaput enterik) tidak dapat

disintegrasi oleh asam lambung, sehingga disintegrasinya baru terjadi jika


berada dalam suasana basa di dalam usus halus. Tablet anti coated dapat

bertahan di dalam lambung untuk jangka waktu lama; sehingga, oleh

karenanya obat-obat demikian kurang efektif atau efek mulanya menjadi

lambat.

Makanan dalam saluran gastrointestinal dapat menggaggu

pengenceran dan absorpsi obat-obat tertentu. Beberapa obat mengiritasi

mukosa lambung, sehingga cairan atau makanan diperluan untuk

mengencerkan konsentrasi obat.

1. B. Fase Farmakokinetik

Farmakokinetik adalah ilmu tentang cara obat masuk ke dalam tubuh,

mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh. Dokter

dan perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika

memberikan obat, memilih rute pemberian obat, menilai resiko perubahan

keja obat, dan mengobservasi respons klien.Empat proses yang termasuk

di dalamnya adalah : absorpsi, distribusi, metabolism (biotransformasi),

dan ekskresi(eliminasi).

1. Absorpsi

Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari konsentrasi tinggi

dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsipasif,

absorpsi aktif, rinositosis atau pinositosis.

Absorpsi aktif umumnya terjadi melalui difusi(pergerakan dari konsentrasi

tinggi ke konsentrasi rendah). Absorpsi aktif membutuhkan carier atau


pembawa untuk bergerak melawan konsentrasi. Pinositosis berarti

membawa obat menembus membran dengan proses menelan.

Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, nyeri, stress, kelaparan,

makanan dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat

vasokonstriktor, atau penyakit yang merintangi absorpsi. Rasa nyeri,

stress, dan makanan yang padat, pedas, dan berlemak dapat

memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebih lama

berada di dalam lambung. Latihan dapat mengurangi aliran darah dengan

mengalihkan darah lebih banyak mengalir ke otot, sehingga menurunkan

sirkulasi ke saluran gastrointestinal.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain rute

pemberian obat, daya larut obat, dan kondisi di tempat absorpsi.

Setiap rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada

absorpsi obat, bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak

dapat ditembus zat kimia, sehingga absorpsi menjadi lambat. Membran

mukosa dan saluran nafas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang

tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler-alveolar. Karena obat yang

diberikan per oral harus melewati sistem pencernaan untuk diabsorpsi,

kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi intravena

menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat

dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi sistemik.

Daya larut obat diberikan per oral setelah diingesti sangat bergantung

pada bentuk atau preparat obat tersebut. Larutan atau suspensi, yang

tersedia dalam bentuk cair, lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk

tablet atau kapsul. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu
untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. Obat

yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. Obat yang bersifat

basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus.

Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk ke

dalam sirkulasi sistemik. Apabila kulit tergoles, obat topikal lebih mudah

diabsorpsi. Obat topikal yang biasanya diprogamkan untuk memperoleh

efek lokal dapat menimbulkan reaksi yang serius ketika diabsorpsi melalui

lapisan kulit. Adanya edema pada membran mukosa memperlambat

absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi

ke dalam pembuluh darah. Absorpsi obat parenteral yang diberikan

bergantung pada suplai darah dalam jaringan.Sebelum memberikan

sebuah obat melalui injeksi, perawat harus mengkaji adanya faktor lokal,

misalnya; edema, memar, atau jaringan perut bekas luka, yang dapat

menurunkan absorpsi obat. Karena otot memiliki suplai darah yang lebih

banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan per

intramuskular (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang

disuntikan per subkutan. Pada beberapa kasus, absorpsi subkutan yang

lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama.

Apabila perfusi jaringan klien buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi,

rute pemberian obat yang terbaik ialah melalui intravena. Pemberian obat

intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat dan dapat diandalkan.

Obat oral lebih mudah diabsorpsi, jika diberikan diantara waktu makan.

Saat lambung terisi makanan, isi lambung secara perlahan diangkut ke

duodenum, sehingga absorpsi melambat. Beberapa makanan dan

antasida membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat


melewati lapisan saluran cerna. Contoh, susu menghambat absorpsi zat

besi dan tetrasiklin. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman

isi lambung dan pencernaan protein selama makan. Selubung enterik

pada tablet tertentu tidak larut dalam getah lambung, sehingga obat tidak

dapat dicerna di dalam saluran cerna bagian atas. Selubung juga

melindungi lapisan lambung dari iritasi obat.

Rute pemberian obat diprogramkan oleh pemberi perawatan kesehatan.

Perawat dapat meminta obat diberikan dalam cara atau bentuk yang

berbeda, berdasarkan pengkajian fisik klien. Contoh, bila klien tidak dapat

menelan tablet maka perawat akan meminta obat dalam bentuk eliksir

atau sirup. Pengetahuan tentang faktor yang dapat mengubah atau

menurunkan absorpsi obat membantu perawat melakukan pemberian

obat dengan benar. Makanan di dalam saluran cerna dapat

mempengaruhi pH, motilitas, dan pengangkuan obat ke dalam saluran

cerna. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan.

Perawat harus mengetahui implikasi keperawatan untuk setiap obat yang

diberikan. Contohnya, obat seperti aspirin, zat besi, dan fenitoin, natrium

(Dilantin) mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama

makanan atau segera setelah makan. Bagaimanapun makanan dapat

mempengaruhi absorpsi obat, misalnya kloksasilin natrium dan penisilin.

Oleh karena itu, obat-obatan tersebut harus diberikan satu sampai dua

jam sebelum makan atau dua sampai tiga jam setelah makan. Sebelum

memberikan obat, perawat harus memeriksa buku obat keperawatan,

informasi obat, atau berkonsultasi dengan apoteker rumah sakit mengenai

interaksi obat dan nutrien.


1. Distribusi

Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan tubuh

dan jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah

(dinamika sirkulasi), afinitas (kekuatan penggabungan) terhadap jaringan,

berat dan komposisi badan, dan efek pengikatan dengan protein.

1. Dinamika Sirkulasi

Obat lebih mudah keluar dari ruang interstial ke dalam ruang

intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. Pembuluh darah

dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut, kecuali oleh

partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum.

Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada

jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat vasodilasi atau

vasokonstriksi lokal, dan kecepatan aliran darah ke sebuah jaringan.

Latihan fisik, udara yang hangat, dan badan yang menggigil mengubah

sirkulasi lokal. Contoh, jika klien melakukan kompres hangat pada tempat

suntikan intramuskular, akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan

distribusi obat.

Membran biologis berfungsi sebagai barier terhadap perjalanan obat.

Barier darah-otak hanya dapat ditembus oleh obat larut lemak yang

masuk ke dalam otak dan cairan serebrospinal. Infeksi sistem saraf pusat

perlu ditangani dengan antibiotik yang langsung disuntikkan ke ruang

subaraknoid di medula spinalis. Klien lansia dapat menderita efek

samping (misalnya konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah-


otak karena masuknya obat larut lemak ke dalam otak lebih mudah.

Membran plasenta merupakan barier yang tidak selektif terhadap obat.

Agens yang larut dalam lemak dan tidak larut dalam lemak dapat

menembus plasenta dan membuat janin mengalami deformitas (kelainan

bentuk), depresi pernafasan, dan pada kasus penyalahgunaan narkotik,

gejala putus zat. Wanita perlu mengetahui bahaya penggunaan obat

selama masa hamil.

1. Berat dan Komposisi Badan

Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah

jaringan tubuh tempat obat didistribusikan. Kebanyakan obat diberikan

berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi

tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. Contoh

tentang hal ini dapat ditemukan pada klien lansia. Karena penuaan,

jumlah cairan tubuh berkurang, sehingga obat yang dapat larut dalam air

tidak didistribusikan dengan baik dan konsentrasinya meningkat di dalam

darah klien lansia. Peningkatan persentase leak tubuh secara umum

ditemukan pada klien lansia, membuat kerja obat menjadi lebih lama

karena distribusi obat di dalam tubuh lebih lambat. Semakin kecil berat

badan klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam cairan tubuhnya,

dan dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. Lansia mengalami

penurunan massa jaringan tubuh dan tinggi badan dan seringkali

memerlukan dosis obat yang lebih rendah daripada klien yang lebih

muda.
1. Ikatan Protein

Ketika obat didistribusikan di dalam plasma kebanyakan berikatan dengan

protein (terutama albumin). Dalam derajat (persentase) yang berbeda-

beda. Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi dengan protein adalah

diazeipam (valium) yaitu 98% berikatan dengan protein. Aspirin 49%

berikatan dengan protein dan termasuk obat yang berikatan sedang

dengan protein. Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif,dan bagian

obat selebihnya yanhg tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-

obat yang bebas atau yang tidak berikatan dengan proteinyang bersifat

aktif dan dapat menimbulkan respon farmakologik.

Kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan

dengan protein, sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam

plasma. Dengan demikian dalam hal ini dapat terjadi kelebihan dosis,

karena dosis obat yang diresepkan dibuat berdasarkan persentase di

mana obat itu berikatan dengan protein.

Seorang perawat juga harus memeriksa kadar protein plasma dan

albumin plasma klien karena penurunan protein (albumin) plasma akan

menurunkan tempat pengikatan dengan protein sehingga memungkinkan

lebih banyak obat bebas dalam sirkulasi. Tergantung dari obat yang

diberikan akibat hal ini dapat mengancam nyawa.Abses, aksudat, kelenjar

dan tumor juga menggangu distribusi obat, antibiotika tidak dapat

didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat. Selain itu,

beberapa obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak,

tulang, hati, mata dan otot.


1. Metabolisme Atau Biotransformasi

Hati merupakan tempat utama untuk metabolisme. Kebanyakan obat

diinaktifkan oleh enzim-enzim hati dan kemudian diubah menjadi

metabolit inaktif atau zat yang larut dalam air untuk diekskresikan. Tetapi,

beberapa obat ditransformasikan menjadi metabolit aktif, menyebabkan

peningkatan respons farmakologik, penyakit-penyakit hati, seperti sirosis

dan hepatitis, mempengaruhi metabolisme obat.

Waktu paruh, dilambangkan dengan t , dari suatu obat adalah waktu

yang dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk dieliminasi,

metabolisme dan eliminasi mempengaruhi waktu paruh obat, contohnya,

pada kelainan fungsi hati atau ginjal, waktu paruh obat menjadi lebih

panjang dan lebih sedikit obat dimetabolisasi dan dieliminasi. Jika suatu

obat diberikan terus menerus, maka dapat terjadi penumpukan obat.

Suatu obat akan melalui beberapa kali waktu paruh sebelum lebih dari

90% obat itu dieliminasi. Jika seorang klien mendapat 650mg aspirin

(miligram) dan waktu paruhnya adalah 3jam, maka dibutuhkan 3jam

untuk waktu paruh pertama untuk mengeliminasi 325mg, dan waktu

paruh kedua 9 atau 6jam untuk mengeliminasi 162mg berikutnya, dan

seterusnya sampai pada waktu paruh keenam atau 18jam dimana tinggal

10mg aspirin terdapat dalam tubuh, waktu paruh selama 4-8jam dianggap

singkat, dan 24jam atau lebih dianggap panjang. Jika obat memiliki waktu

paruh yang panjang (seperti digoksin: 36 jam), maka diperlukan beberapa

hari agar tubuh dapat mengeliminasi obat tersebut seluruhnya, waktu

paruh obat juga dibicarakan dalam bagian berikut mengenai


farmakodinamik, karena proses farmakodinamik berkaitan dengan kerja

obat.

1. EkskresiAtau Eliminasi

Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain

meliputi empedu, feses, paru- paru, saliva, keringat, dan air susu ibu.

Obat bebas yang tidak berkaitan dengan protein tidak dapat difiltrasi oleh

ginjal. Sekali obat dilepaskan bebas dan akhirnya akan diekskresikan

melalui urin.

pH urin mempengaruhi ekskresi obat. pH urin bervariasi dari 4,5 sampai 8.

Urin yang asam meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa

lemah. Aspirin, suatu asam lemah, diekskresi dengan cepat dalam urin

yang basa. Jika seseorang meminum aspirin dalam dosis berlebih, natrium

bikarbonat dapat diberikan untuk mengubah pH urin menjadi basa. Juice

cranberry dalam jumlah yang banyak dapat menurunkan pH urin,

sehingga terbentuk urin yang asam.

1. C. Fase Farmakodinamik

Farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia

selular dan mekanisme kerja obat. Respons obat dapat menyebabkan efek

fisiologi primer atau sekunder atau kedua-duanya. Efek primer adalah

efek yang diinginkan, dan efek sekunder bisa diinginkan atau tidak

diinginkan. Salah satu contoh dari obat dengan efek primer dan sekunder

adalah difenhidramin (benadryl) suatu antihistamin. Efek primer dari

difenhidramin adalah untuk mengatasi gejala-gejala alergi, dan efek


sekundernya adalah penekanan susunan saraf pusat yang menyebabkan

rasa kantuk. Efek sekunder ini tidak diinginkan jika sedang mengendarai

mobil, tetapi pada saat tidur, dapat menjadi diinginkan karena

menimbulkan sedasi ringan.

2.5.3. MULA, PUNCAK, DAN LAMA KERJA OBAT

Mula kerja dimulai pada waktu obat memasuki plasma dan berakhir

sampai konsentrasi efektif minimum ( MEC = minimum effective

concertration ). Puncak kerja terjadi pada saat obat mencapai konsentrasi

tertinggi dalam darah atau plasma. Lama kerja adalah lamanya obat

mempunyai efek farmakologis. Beberapa obat menghasilkan efek dalam

beberapa menit, tetapi yang lain dapat memakan waktu beberapa hari

atau jam. Kurva respons-waktu menilai tiga parameter dari kerja obat;

mula kerja obat, puncak kerja, dan lama kerja.

Perlu untuk memahami hubungan antara respons-waktu dengan

pemberian obat, jika kadar obat dalam plasma atau serum menurun

dibawah ambang atau MEC, maka ini berarti dosis obat yang terlalu tinggi

dapat menyebabkan toksisitas.

2.5.4. TEORI RESEPTOR

Kebanyakan reseptor, berstruktur protein, ditemukan pada membran sel.

Obat-obat yang bekerja melalui reseptor, dengan berikatan dengan

reseptor maka akan menghasilkan (memulai) respon atau menghambat

(mencegah) respon. Aktivitas dari kebanyakan obat ditentukan oleh

kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptor spesifik. Semakin baik

suatu obat berikatan dengan tempat reseptor, maka obat tersebut

semakin aktif secara biologis. Ini serupa dengan memasukkan kunci yang
tepat ke dalam lubang kunci. Obat-obat yang menghasilkan respons

disebut agonis,dan obat-obat yang menghambat respons disebut

antagonis. Hampir semua obat, agonis dan antagonis, kurang mempunyai

efek spesifik dan selektif. Sebuah reseptor yang terdapat ditempat-tempat

berbeda dalam tubuh menghasilkan bermacam-macam respons fisiologis,

tergantung dimana reseptor itu berada. Reseptor-reseptor kolinergik

terdapat dikandung kemih, jantung, pembuluh darah, paru-paru, dan

mata.

Sebuah obat yang merangsang atau menghambat reseptor-reseptor

koligernik akan bekerja pada semua letak anatomis, obat-obat yang

bekerja pada berbagai tempat seperti itu dianggap sebagai nonspesifik

atau memiliki nonspesifitas. Betanekol dapat diresepkan utuk retensi urin

pascabedah untuk meningkatkan kontraksi kandung kemih. Karena

betanekol mempengaruhi reseptor koligernik, maka tempat koligernik lain

ikut terpengaruh denyut jantung menurun, tekanan darah menurun,

sekresi asam lambung meingkat, bronkiolus menyempit, dan pupil mata

mengecil. Efek efek lain ini mungkin diinginkan mungkin juga tidak, dan

mungkin berbahaya atau mungkin juga tidak berbahaya bagi pasien.

Obat-obat yang menimbulkan berbagai respons di seluruh tubuh ini

memiliki respons yang nonspesifik.

Obat-obat juga dapat bekerja pada reseptor-reseptor yang berbeda. Obat-

obat yang mempengaruhi berbagai reseptor yang berbeda. Obat-obat

yang mempengaruhi berbagai reseptor disebut nonselektif atau memiliki

nonselektifitas. Obat-obat yang menghasilkan respons tetapi tidak bekerja


pada reseptor dapat berfungsi dengan merangsang aktivitas enzim atau

produksi hormon.

Empat kategori dari kerja obat meliputi perangsangan atau penekanan,

penggantian, pencegahan atau membunuh organisme, dan iritasi. Kerja

obat yang merangsang akan meningkatkan kecepatan aktivitas sel atau

meningkatkan sekresi dari kelenjar. Obat-obat yang menekan akan

menurunkan aktivitas sel dan mengurangi fungsi organ tertentu. Obat-

obat pengganti, seperti insulin, menggantikan senyawa-senyawa tubuh

yang esensial. Obat-obat yang mencegah atau membunuh organisme

menghambat pertumbuhan sel bakteria. Penisilin mengadakan efek

bakterisidanya dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Obat-

obat juga dapat bekerja melalui mekanisme iritasi laksatif dapat

mengiritasi dinding kolon bagian dalam, sehingga meningkatkan

peristaltik dan defekasi..

Kerja obat dapat berlangsung beberapa jam, hari, minggu, atau bulan.

Lama kerja tergantung dari waktu paruh obat, jadi waktu paruh

merupakan pedoman yang penting untuk menentukan pedoman yang

penting untuk menentukan interval dosis obat. Obat-obat dalam waktu

paruh pendek, seperti penisilin G ( t 1/2 nya 2 jam ), diberikan beberapa

kali sehari, obat-obat dengan waktu paruh panjang, seperti digoksin

(36jam), diberikan sekali sehari, jika sebuah obat dengan waktu paruh

panjang diberikan dua kali atau lebih dalam sehari, maka terjadi

penimbunan obat didalam tubuh dan mungkin dapat menimbulkan

toksitas obat, jika terjadi gangguan hati atau ginjal, maka waktu paruh
obat akan meningkat. Dalam hal ini, dosis obat yang tinggi atau seringnya

pemberian obat dapat menimbulkan toksisitas obat.

2.5.5. KADAR PUNCAK DAN KADAR TERENDAH OBAT

Kadar puncak obata dalah konsentrasi plasma tertinggi dari sebuah obat

pada waktu tertentu. Jika obat diberikan secara oral, waktu puncaknya

mungkin 1 sampai 3 jam setelah pemberian obat, tetapi jika obat

diberikan secara intravena, kadar puncaknya mungkin dicapai dalam 10

menit. Sampel darah harus diambil pada waktu puncak yang dianjurkan

sesuai dengan rute pemberian.

Kadar terendah adalah konsentrasi plasma terendah dari sebuah obat dan

menunjukan kecepatan eliminasi obat. Kadar terendah diambil beberapa

menit sebelum obat diberikan, tanpa memandang apakah diberikan

secara oral atau intravena. Kadar puncak menunjukkan kecepatan

absorpsi suatu obat, dan kadar terendah menunjukkan kecepatan

eliminasi suatu obat. Kadar puncak dan terendah dibutuhkan obat-obat

yang memiliki indeks terapeutik yang sempit dan dianggap toksik, seperti

amininoglokosida (antibiotika). Jika kadar terendah terlalu tinggi, maka

toksisitas akan terjadi.

2.5.6. DOSIS PEMBEBANAN

Jika ingin didapatkan efek obat segera, maka dosis awal yang besar,

dikenal sebagai dosis pembebanan, dari obat tersebut diberikan untuk

mencapai MEC yang cepat dalam plasma. Setelah dosis awal yang besar,

maka diberikaan dosis sesuai dengan resep per hari. Diagksin, suatu

preparat digitalis, membutuhkan dosis pembebanan pada saat pertama


kali diresepkan. Digitalis adalah istilah yang dipakai untuk mencapai kadar

MEC untuk digoksin dalam plasma dalam waktu yang singkat.

Karena struktur kimia dan kerja fisiologisnya, sebuah obat dapat

menghasilkan lebih dari satu efek.

1. Efek terapeutik

Merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan

timbul. Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapeutik yang

diinginkan. Contoh, perawat memberi kodein fosfat untuk menciptakan

efek analgesik dan memberi teofilin untuk medilatasi bronkiolus

pernapasan yang menyempit. Pengobatan tunggal dapat menghasilkan

banyak efek yang terapeutik. Contoh, aspirin berfungsi sebagai analgesik,

antipiretik, dan antiinflamasi, dan menurunkan agregasi (gumpalan)

trombosit.

1. Efek Samping

Efek samping adalah efek fisiologis yang tidak berkaitan dengan efek obat

yang diinginkan. Semua obat mempunyai efek samping,baik yang

diinginkan maupun tidak. Bahkan dengan dosis yang tepatpun, efek

samping terutama diakibatkan oleh kurangnya spesifitas obat tersebut.

Dalam beberapa masalah kesehatan, efek samping dapat diinginkan,

seperti dryl diberikan sebelum tidur. Efek sampingnya berupa rasa kantuk

menjadi menguntungkan. Efek toksik atau toksitas suatu obat dapat

diidenfikasi melalui pantauan batas terapeutik obat tersebut dalam

plasma (serum). Tetapi untuk obat-obat yang mempunyai indeks


terapeutik yang lebar, batas terapeutik jarang di berikan. Untuk obat-obat

yang mempunyai batas terapeutik sempit maka batas terapeutik dipantau

dengan ketat.

1. Reaksi Merugikan

Pada saat-saat tertentu, reaksi merugikandanefek samping kadang-

kadang dipakai bergantian. Reaksi yang merugikan adalah batas efek

yang tidak diinginkan dari obat-obat yang mengakibatkan efek samping

ringan sampai berat, termasuk anafifaksis (kolaps radiovaskuler). Reaksi

yang merugikan selalu tidak diinginkan.

1. Efek Toksik

Efek toksik atau toksitas suatu obat dapat diidenfikasi melalui pantauan

batas terapeutik obat tersebut dalam plasma (serum). Tetapi untuk obat-

obat yang mempunyai indeks terapeutik yang lebar, batas terapeutik

jarang di berikan. Untuk obat-obat yang mempunyai batas terapeutik

sempit maka batas terapeutik dipantau dengan ketat.

1. Reaksi Idiosinkratik

Obat yang menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan,

misalnya reaksi idiosinkratik yang meliputi klien bereaksi berlebihan, tidak

beraksi, atau bereaksi tidak normal terhadap obat. Contoh, seorang anak

yang menerima antihistamin (contohnya Benadryl) menjadi sangat gelisah

atau sangat gembira, bukan mengantuk. Adalah tidak mungkin

memperkirakan klien mana yang akan mengalami respon idiosinkratik.


1. Reaksi Alergi

Merupakan respon lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat. Dari

seluruh reaksi obat, 5% sampai 10% merupakan reaksi alergi. Kekebalan

tubuh seseorang dapat tersensitisasi terhadap dosis awal obat. Apabila

obat diberikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respon

alergi terhadap obat, zat pengawet obat, atau metabolitnya. Dalam hal

ini, obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen, memicu pelepasan

antibodi.

Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. Gejala alergi bervariasi,

bergantung pada individu dan obat. Contoh, antibiotik dapat menimbulkan

banyak reaksi alergi. Gejala alergi yang umum timbul dirangkum pada

Tabel 35-4. Reaksi yang berat atau reaksi anafilaksis ditandai oleh

konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus, edema faring dan laring, mengi

berat, dan sesak napas.

Tabel 35-4 : Reaksi Alergi Ringan

Gejala Deskripsi
Erupsi kulit yang bentuknya tidak beraturan, meninggi, ukuran
Urtikari
dan bentuk bervariasi; erupsi memilki batas berwarna merah dan
a
bagian tengahnya berwarna pucat
Vesikel kecil dan meninggi yang biasanya berwarna merah;

seringkali tersebar di seluruh tubuh


Pruritu
Gatal-gatal pada kulit, kebanyakan timbul bersama ruam
s
Rhiniti Inflamasi lapisan memberan mukosa hidung; menimbulkan

s bengkak dan penegeluaran rabas encer dan berair


Klien juga dapat mengalami hipotensi berat, sehingga membutuhkan

resusitasi darurat. Klien yang memilki riwayat alergi terhadap tertentu


harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut, dan setelah sadar

klien harus mengenakan gelang atau kalung identifikasi, sehingga

perawat dan dokter dapat mengetahui klien tersebut alergi terhadap obat

tertentu.

1. Toleransi Terhadap Obat

Beberapa klien yang menerima obat dalam jangka waktu lama

memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk memperolah efek yang sama.

Seringkali dosis obat yang diberikan kepada klien harus ditingkatkan

untuk memperoleh efek yang sama.

1. Interaksi Obat

Interaksi obat terjadi apabila suatu obat memodifikasi obat yang lain.

Umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat.

Sebuah obat dapat menguatkan atau menghilangkan kerja obat lain dan

dapat mengubah absorpsi, metabolism atau pembuangan obat tersebut

dari tubuh.

Obat dapat memilki efej sinergis atau adiktif apabila dua obat

diberikan secara bersamaan. Efek sinergis membuat kerja fisiologis

kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila

diberikan secara terpisah. Alcohol adalah depresan susunan saraf pusat

yang memilki efek sinergis pada antihistamin, antidepresan, barbiturate,

dan analgesic narkotik.

Interaksi obat selalu diharapkan. Seringkali seorang dokter

memprogamkan terapi obat untuk menciptakan interaksi obat guna


mendapatkan keuntungan terapeutik. Contoh, klien yang menderita

hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat, misalnya diuretic

dan vasodilator, yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada

kadar yang diinginkan.

1. Respon Dosis Obat

Setelah perawat memberi obat, kemudian obat diabsorpsi, didistribusi,

dimetabolisasi, dan dieksresi. Semua obat memerlukan waktu yang lama

untuk masuk ke dalam aliran darah, kecuali obat yang diberikan secara

intravena. Jumlah dan distribusi obat pada kompartemen tubuh yang

berbeda berubah secara konstan.

Tujuan suatu obat diprogram ialah untuk mencapai kadar darah

yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman. Dosis berulang

diperlukan utnuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat

karena sebagian obat selalu dibuang (dieksresi). Ketika absorpsi berhenti,

hanya metabolism, ekskresi, dan distribusi yang berlanjut. Konsentrasi

serum tertinggi obat (konsentrasi puncak) biasanya dicapai sesaat

sebelum obat terakhir diabsorpsi. Setelah mencapai puncak, konsentrasi

serum turun bertahap. Pada penginfusan obat intravena, konsentrasi

puncak dicapai dengan cepat tetapi kadar serum juga mulai turun dengan

cepat.

Semua obat memilki waktu paruh serum, yakni waktu yang diperlukan

proses ekskresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai

setengahnya. Untuk mempertahankan Plateau yang terapeutik, klien

harus mendapatkan dosis yang tepat dan teratur. Setelah dosis awal
diberikan, klien menerima dosis setiap obat berikutnya ketika dosis

sebelumnya mnecapai waktu paruhnya. Dengan cara ini, konsentrasi

terapeutik obat yang hamper stabil dapat dipertahankan.

Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan

mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian

dosis. Dengan mengetahui interval waktu kerja obat, perawat dapat

mengantisipasi efek suatu obat:

1. Awitan kerja obat. Waktu ytang dibutuhkan obat sampai suatu

respon muncul setelah obat diberikan.

2. Kerja puncak obat. Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi

efektif tertinggi dicapai.

3. Durasi kerja obat. Lama waktu obat bterdapat dalam konsentrasi

yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respon.

4. Plateau. Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah

dosis obat yang sama kmebali diberikan.

Cara ideal yang digunakan untuk mempertahankan kadar obat yang

terapeutik ialah melakukan penginfusan intravena secara kontinu. Cara ini

mengeliminasi efek fluktuasi pemberian dosis secara intermiten.

2.6.RESPON TERHADAP METABOLISME XENOBIOTIK

Respon metabolisme xenobiotik dapat menguntungkan karena metabolit

yang dihasilkan menjadi zat yang polar sehingga dapat diekskresi keluar

tubuh
Respon metabolisme xenobiotik dapat merugikan karena:

- Berikatan dengan makromolekul dan menyebabkan cidera sel

- Berikatan dengan makromolekul menjadi hapten merangsang

pembentukan antibodi dan menyebakan reaksi hipersensitivitas yang

berakibat cidera sel

- Berikatan dengan makromolekul menjadi zat mutan yang menyebakan

timbulnya sel kanker

Respon metabolisme xenobiotik dapat menguntungkan karena metabolit

yang dihasilkan menjadi zat yang polar sehingga dapat diekskresi keluar

tubuh dan mencakup efek farmakologik, toksik, imunologik, dan

karsinagenik. Jika xenobiotik tersebut berada dalam bentuk obat, reaksi

fase 1 dapat mengubahnya kedalam bentuk aktif atau mungkin

mengurangi atau menghilangkan efek obat tersebut, jika xenobiotik itu

sudah aktif secara farmakologik tanpa perlu dimetabolisme sebelumnya.

Berbagai efek yang ditimbulkan oleh obat merupakan bidang studi

farmakologi; di sini penting disadari bahwa obat bekerja terutama melalui

mekanisme biokimiawi. Beberapa reaksi obat penting akibat bentuk

mutan atau polimorfik enzim atau protein.

Enzim atau protein yang terkena Reaksi atau konsekuensi Glukosa 6-fosfat

Dehidrogenase (G6PD)(mutasi) (MIM 305900) Anemia hemolitik setelah

menelan obat, misalnya primakuin.

Kanal pengeluaran Ca2+ (Reseptor reanodin) di retikulum sarkoplasma

(mutasi)(MIM 180901) Hipertermia maligna (MIM 145600) setelah

pemberian obat anestesi tertenti (misalnya halatan)CYP2D6

(Polimorfisme) (MIM 124030) Melambatnya metabolisme obat tertentu


(misalnya debrisakuin) sehingga terjadi penimbunan obat tersebut

CYP2A6 (Polimerfisme) (MIM 122720) Gangguan metabolisme nikotin,

yang melindungi seorang dari kemungkinan menjadi perokok dependen

Yang mencerminkan perbedaan genetik dalam struktur enzim dan protein

di antara individu bagian bidang studi yang dikenal debagai

farmakogenetika.

Polimorfisme yang mempengaruhi metabolisme obat dapat terjadi pada

enzim apapun yang berperan dalam metabolisme obat (termasuk

kelompok sitokrom P450), pada transporter dan pada reseptor. Xenobiotik

tertentu bersifat sangat toksik bahkan pada kadar rendah (misal sianida).

Beberapa xenobiotik lain, termasuk obat , tidak menimbulkan efek toksik

jika diberikan dalam jumlah cukup. Walaupun spektrum efek toksik

xenobiotik sangat luas, secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam

tiga kelompok besar.

Pertama, adalah jejas sel (sitotoksisitas), yang dapat cukup parah

sehingga mematikan sel. Terdapat banyak mekanisme yang digunakan

oleh xenobiotik untuk mencederai sel salah satu yang dibahas di sini

adalah pengikatan secara kovalen spesies reaktif xenobiotik, yang

dihasilkan oleh metabolisme pada makromolekul sel. Makromolekul sel

sasaran tersebut DNA, RNA, dan protein. Jika makromolekul tempat

xenobiotik reaktif terikat ini esensial bagi kelangsungan hidup jangka

pendek, misalnya protein atau enzim yang perperan penting dalam suatu

fungsi sel, seperti fosforilasi oksidatif atau regulasi permeabilitas

membran plasma, efek yang kuat terhadap fungsi sel dapat cepat terlihat.
Kedua, spesies reaktif suatu xenobiotik dapat berikatan dengan protein

dan mengubah antigenisitasnya. Xenobiotik ini dikatakan berfungsi

sebagai hapten, yi, molekul kecil yang tidak merangsang penbentukan

antibodi dengan sendirinya, tetapi akan berikatan dengan antibodi jika

telah terbentuk. Antibodi yang terbentuk kemudian dapat merusak sel

melalui beberapa mekanisme imunologis yang sangat mengganggu

proses biokimiawi normal sel.

Ketiga, reaksi spesies aktif karsinogen kimiawi dengan DNA diperkirakan

sangat penting dalam proses karsinogenesis kimiawi. Beberapa bahan

kimia (misal benzo[]piren) perlu diaktifkan oleh monooksigenase di

retikulum endoplasma agar menjadi karsinogenik (sehingga disebut

karsinogen tak langsung). Karena itu, aktivitas monooksigenase dan

enzim-enzim lain yang memetabolisme xenobiotik dapat membantu

menentukan apakah senyawa tersebut menjadi karsinogenik atau

terdetoksifikasi. Bahan kimia lain (misal berbagai bahan pengalkil)

dapat bereaksi langsung (karsinogen langsung) dengan DNA tanpa

mengalami aktivitas kimiawi di dalam sel.

Enzim epoksida hidrolase menarik perhatian karena enzim ini dapat

menimbulkan efek protektif terhadap karsinogen tertentu. Produk kerja

monooksigenase tertentu pada beberapa substrat prokarsinogen adalah

epoksida yang dapat bersifat sangat reaktif dan mutagenik atau

karsinogenik atau keduannya. Epoksida hidrolase seperti sitokrom P450

yang juga terdapat di mambran retikulum endoplasma, bekerja pada

senyawa ini dan mengubahnya menjadi dihidrodiol yang jauh kurang

reaktif.
http://udarajunior.blogspot.com/2012/02/xenobiotik.html

2.6.1. Metabolik Detoksifikasi

Detoksifikasi ("detoks") memiliki konotasi yang luas mulai dari spiritual ke

ilmiah, dan telah digunakan untuk menggambarkan praktik dan protokol

yang mencakup kedua pelengkap (puasa, pembersihan kolon) dan

konvensional (chelation atau terapi antitoksin) sekolah pemikiran medis -

serta beberapa yang mendorong batas-batas masuk akal ilmiah (seperti

detoksifikasi kaki ion).

Dalam konteks biokimia manusia (dan protokol ini), detoksifikasi dapat

digambarkan dengan presisi lebih banyak, di sini mengacu pada jalur

metabolisme yang spesifik, aktif di seluruh tubuh manusia, yang

memproses bahan kimia yang tidak diinginkan untuk eliminasi. Jalur ini

(yang akan disebut sebagai detoksifikasi metabolisme) melibatkan

serangkaian reaksi enzimatik yang menetralisir dan melarutkan racun,

dan membawa mereka ke organ sekretorik (seperti hati atau ginjal),

sehingga mereka dapat dikeluarkan dari tubuh. Jenis detoksifikasi kadang-

kadang disebut metabolisme xenobiotik, karena itu adalah mekanisme

utama untuk membersihkan tubuh dari xenobiotik (bahan kimia asing),

namun, reaksi detoksifikasi sering digunakan untuk menyiapkan

endobiotics tidak dibutuhkan (endogen diproduksi kimia) untuk ekskresi

dari tubuh.

Kelebihan hormon, vitamin, molekul inflamasi, dan senyawa sinyal, antara

lain, biasanya dihilangkan dari tubuh oleh sistem detoksifikasi yang sama

enzimatik yang melindungi tubuh dari racun lingkungan, atau obat resep

yang jelas dari peredaran. Reaksi detoksifikasi metabolisme, oleh karena


itu, tidak hanya penting untuk perlindungan dari lingkungan, tapi pusat

keseimbangan homeostatis dalam tubuh. Protokol ini menggambarkan

pendekatan gizi untuk optimasi umum detoksifikasi metabolisme,

melainkan dirancang untuk memberikan dasar untuk fungsi yang tepat

dari sistem kritis. Masalah kesehatan tertentu mungkin memerlukan

tambahan detoksifikasi "intervensi" protokol (seperti detoksifikasi logam

berat, atau alkohol-induced pencegahan mabuk).

Toksin dan Paparan racun Racun adalah senyawa beracun yang dihasilkan

oleh organisme hidup, kadang-kadang "biotoxin" digunakan untuk

menekankan asal-usul biologis dari senyawa. Senyawa kimia buatan

manusia dengan potensi beracun yang toxicants lebih tepat disebut.

Racun dan toxicants dapat menimbulkan efek samping terhadap

kesehatan dalam beberapa cara. Beberapa luas bertindak sebagai

mutagen atau karsinogen (menyebabkan kerusakan DNA atau mutasi,

yang dapat menyebabkan kanker), yang lain bisa mengganggu jalur

metabolik tertentu (yang dapat menyebabkan disfungsi sistem biologi

tertentu seperti sistem saraf, hati, atau ginjal).

Diet merupakan sumber utama dari paparan racun. Racun dapat

menemukan jalan mereka ke dalam makanan oleh beberapa rute,

terutama kontaminasi oleh mikroorganisme, buatan manusia toxicants

(termasuk pestisida, residu dari pengolahan makanan, obat resep, dan

limbah industri), atau lebih jarang, kontaminasi oleh racun dari lainnya

"Makanan non- "Tanaman sources.1, 2 Beberapa logam berat beracun

(memimpin, merkuri, kadmium, kromium), sementara tidak" buatan

manusia, "telah dirilis / didistribusikan ke lingkungan pada tingkat yang


berpotensi berbahaya oleh manusia, dan dapat menemukan mereka jalan

ke diet juga. Racun mikroba, disekresikan oleh bakteri dan jamur, dapat

tertelan bersama dengan makanan yang terkontaminasi atau tidak benar

dipersiapkan.

Bahkan metode persiapan makanan memiliki potensi untuk mengubah

konstituen makanan yang terjadi secara alamiah dalam toxins.3 Misalnya,

suhu tinggi dapat mengkonversi nitrogen yang mengandung senyawa

dalam daging dan produk sereal ke dalam benzopyrene mutagen kuat dan

akrilamida, masing-masing. Ikan asap dan keju mengandung prekursor

terhadap racun yang disebut N-nitroso senyawa (NOC), yang menjadi

mutagenik ketika dimetabolisme oleh bakteri kolon.

Di luar dari eksposur, diet pernafasan untuk senyawa organik volatil (VOC)

adalah risiko umum yang telah dikaitkan dengan beberapa efek yang

merugikan kesehatan, termasuk kerusakan ginjal, masalah imunologi,

ketidakseimbangan hormonal, kelainan darah, dan tingkat peningkatan

asma dan bronchitis.4

Salah satu sumber terbesar dari non-makanan paparan racun adalah

udara di home.5 Bahan bangunan (seperti penutup lantai dan dinding,

papan partikel, perekat, dan cat) dapat "off-gas" melepaskan beberapa

toxicants yang dapat dideteksi di humans.6 Misalnya, turunan benzena

beracun yang biasa digunakan dalam desinfektan dan pengharum

terdeteksi pada 98% orang dewasa dalam (EPA) "TIM" Badan Perlindungan

Lingkungan study.7 Dalam studi lain EPA, tiga pelarut beracun tambahan

hadir di 100 persen dari sampel jaringan manusia diuji di seluruh

country.8
Baru dibangun atau direnovasi bangunan dapat memiliki sejumlah besar

bahan kimia "off-penyerangan dgn gas beracun", sehingga menimbulkan

apa yang disebut "sindrom bangunan sakit." 9 Karpet adalah pelaku

sangat besar, berpotensi melepaskan beberapa neurotoksin, dalam

pengujian lebih dari 400 sampel karpet , neurotoksin yang hadir di lebih

dari 90 persen dari sampel, secara kuantitatif cukup dalam beberapa

sampel untuk menyebabkan kematian pada mice.10 Ironisnya, tak lama

setelah laporan TIM, tujuh puluh satu karyawan sakit dievakuasi markas

EPA baru di Washington DC mengeluh masalah kesehatan mengklaim ,

yang pada akhirnya dikaitkan dengan 27.000 kaki persegi baru carpet.11

Karpet juga menjebak racun lingkungan, yang "Non-Pestisida Kerja

Exposure Study" (nopes) menemukan rata-rata 12 residu pestisida per

karpet sampel, dan menetapkan bahwa rute eksposur kemungkinan

menyediakan bayi dan balita dengan hampir semua non-diet eksposur

mereka ke DDT pestisida terkenal, aldrin, atrazine, dan carbaryl.12

Menghindari racun / paparan racun

Meskipun tidak mungkin untuk sepenuhnya menghilangkan toksin / racun

eksposur dari semua sumber, ada cara untuk menguranginya:

Batasi pengenalan VOC di rumah dengan menggunakan produk

pembersih bebas VOC, rendah VOC cat, dan karpet lemparan memilih

bukan baru carpeting13;

Simpan makanan dalam wadah A (BPA)-bebas atau bebas phthalate

bisphenol, dan menghindari pemanasan kembali makanan dalam wadah

plastik;
Carilah produk organik, yang tumbuh tanpa pestisida, dan akan

mengandung residu kurang dari buah-konvensional diproduksi dan

sayuran (meskipun menyadari bahwa produk organik belum tentu "bebas

pestisida") 14

Mencuci buah atau sayuran dapat menurunkan beberapa residu pestisida,

meskipun tidak efektif terhadap semua, pestisida types15 dan buah dan

sayuran komersial solusi mencuci mungkin tidak lagi efektif daripada air

alone.16 Peeling kulit off dari produk dapat membantu untuk lebih

pestisida yang lebih rendah tingkat;

Batasi asupan makanan olahan. Bahkan orang-orang yang bebas dari

pengawet sintetis dapat mengandung sejumlah terdeteksi senyawa

beracun yang diperkenalkan (dengan transformasi kimia) selama

pemrosesan. Sebagai contoh, banyak racun yang dihasilkan oleh suhu

tinggi yang digunakan untuk memproduksi beberapa makanan olahan

ingredients.17

Meskipun risiko toksisitas akut dari undercooking daging (keracunan

makanan) kemungkinan risiko yang lebih besar daripada paparan racun

dari overcooking itu, ada cara untuk mengurangi produksi toksin selama

persiapan daging: hindari kontak langsung daging untuk membuka api

atau permukaan logam panas; memasak daging pada atau di bawah 250

F via kesal, memasak braising, crockpot (metode persiapan lambat

makanan yang memanfaatkan cair); putar daging sering selama

memasak, menghindari waktu memasak yang lama pada suhu tinggi, dan

menahan diri dari mengkonsumsi hangus portions.18


2.6.2. MEKANISME TOKSITAS : AKTIVASI DAN DEAKTIVASI

METABOLIK

Pada umumnya untuk menimbulkan efek toksik xenobiotik memerlukan

proses aktivasi metabolic oleh enzim-enzim yang secara normal ada

dalam tubuh. Proses aktivasi metabolic ini merupakan bagian dari proses

metabolism xenobiotik. Proses metabolism xenobiotik yang merupakan

proses multilangkah,pada umumnya merupakan proses perubahan

senyawa yang lipofilik menjadi metabolit yang lebih hidrofilik. Metabolit

yang terbentuk umumnya tidak aktif/kurang aktif dibandingkan dengan

senyawa asalnya serta mudah diekskresikan. Akan tetapi salah satu atau

lebih langkah/jalur metabolism dapat menghasilkan senyawa yang lebih

aktif/reaktif daripada senyawa asalnya. Apabila jalur ini menghasilkan

senyawa yang kurang toksik disebut sebagai jalur detoksikasi atau jalur

deaktivasi. Sebaliknya bila jalur metabolic tersebut menyebabkan

terbntuknya senyawa yang lebih aktif dinamakan jalur aktivasi

(bioaktivasi). Oleh sebab itu metabolit aktif yang terbentuk secara

kuantitatif dipengaruhi oleh adanya langkah-langkah/jalur yang ada.

Proses aktivasi metabolic dapat terjadi didalam organ target maupun di

luar organ target. Apabila aktivasi metabolok terjadi di luar organ target

maka metabolic aktif harus ditransport ke organ target untuk dapat

menimbulkan toksisitas. Oleh sebab itu, selain metabolit aktif tersebut

harus mencapai kadar toksik minimum di dalam organ/jaringan target.

Adanya factor toksikokinetik dan toksikodinamik akan mempengaruhi efek

toksik yang timbul. Oleh karena kapasitas metabolic terbsar ada di dalam

hepar,dengan sendirinya kapasitas aktivasi menuju metabolit toksik


adalah bukan jalur utama (jalur minor). Jalur matabolik utama adanya

jalur detoksikasi.

Senyawa toksik mampu merusak sel pada organ target dalam berbagai

cara. Respon akhir mungkin merupakan jejas/luka yang dapat balik

(reversible) ataupun perubahan yang tak terbalikkan (irreversible) yang

mengakibatkan kematian sel. Walaupun seluruh proses yang

menyebabkan kematian sel belum jelas benar, akan tetapi beberapa

element kunci telah diketahui dan setidaknya beberapa tahapan dari

suatu seri perubahan seluler telah terungkap.

Tahapan-tahapan proses toksisitas dapat dibedakan menjadi tahapan

primer, sekunder dan tertier. Tahapan primer adalah proses yang

menyebabkan kerusakan awal, tahapan sekunder adalah perubahan

seluler yang mengikutinya dan tahapan tertier adalahperubahan akhir

yang teramati. Tahapan primer dapat berupa peroksidasi lipid, interaksi

kovalen dengan makromolekul sel, perubahan status thiol seluler, inhibisi

enzim aatu ischemia. Tahapan sekunder dapat berwujud kerusakan dan

hambatan fungsi mitokondrial, perubahan sitoskeleton,perubahan struktur

dan permeabilitas membrane,kerusakan DNA,deplesi(pengurasan)ATP dan

kofaktor lain, perubahan kadar Ca,deatabilisasi lisosomal,stimulasi

apoptosis atau kerusakan endoplasmic reticulum. Tahapan tertier yang

teramati dapat berupa steatosis,degenerasi hidropik,nekrosis atau

neoplasia (timbrell,1991).

Pada aras molekuler inisiasi sitotoksisitas/kerusakan sel karena senyawa

kimia dapat terjadi melalui berbagai cara (Alvares & Pratt,1990) :

Reaksi Alkilasi
Reaksi ini dapat terjadi karena adanya senyawa-senyawa/spesies yang

kekurangan electron. Sebagai contoh adalah alkilasi DNA oleh senyawa

mutagen golongan alkilnitrosamin dan vinil klorid. Hal yang sama juga

terjadi dengan adanya senyawa-senyawa yang sangat mudah diubah,

menjadi bentuk-bentuk yang kekurangan sepasang electron.misalnya,

pembentukan karbokation dari diol epoksid hidrokarbon aromatic dan ion-

ion nitrenium dari amina aromatis.

Terbentuknya Radikal Bebas

Adanya radikal bebas dapat menyebabkan peroksidasi lipid dan kerusakan

membrane sel.proses ini membutuhkan oksigen dan menimbulkan

serangan peroksidatif pada lipid tidak jenuh. Transformasi berbagai

xenobiotik juga diperantai melalui peroksida ini. Sebagai contoh adalah

hepatotoksisitas karena CCl4 dan iproniazid.

Toksisitas karena oksigen

Melalui reduksi oksigen menjadi superoksid (suatu radikal) yang mampu

menyerang molekul-molekul yang sensitive atau melalui peroksid yang

terbentuk dengan perantaraan enzim dismutase superoksid. Proses reaksi

dengan superoksid dan peroksid tsb di atas dapat berlangsung didalam

sel-sel somatic yang mengakibatkan kerusakan jaringan atau inisiasi

pertumbuhan tumor ataupun bias terjadi di dalam sel-sel germinatif yang

menyebabkan mutasi atau kematian gamet. Sebagai contoh toksisitas

karena oksigen adalah timbulnya fibrosis pulmoner oleh herbisida

paraquat.

2.6.3. MANIFESTSI TOKSISITAS


Ada banyak cara suatu organism merespon senyawa toksik dan ujud

responnya di pengaruhi oleh sejumlah factor. Walaupun banyak efek

toksik xenobiotik mempunyai dasar biokimiawi yang sama,eksperi

ekspresi efek tersebut dapat sangat berbeda. Sebagai contoh interaksi

xenobiotik dan atau metabolismenya dengan nukleat dapat menginduksi

pertumbuhan tumor atau boleh jadi menghasilkan generasi baru yang

abnormal. Interaksi suatu senyawa toksik dalam proses metabolism

normal dapat menyebabkan respon fisiologis seperti paralisis otot atau

turunnya tekanan darah atau dapat menyebabkan kerusakan jaringan dari

sebuah organ. Interaksi kovalen antara xenobiotik toksik dan protein sel

dalam kondisi tertentu menimbulkan respon

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani: Xenos yang artinya asing.

Xenobiotik adalah zat asing yang masuk dalam tubuh manusia. Contoh:

obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis,

pewarna, pengawet) dan zat karsinogen lainya. Xenobiotik umumnya tidak

larut air, sehingga kalau masuk tubuh tidak dapat diekskresi. Untuk dapat

diekskresi xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat yang larut,

sehingga bisa diekskresi. Organ yang paaling berperan dalam

metabolisme xenobiotik adalah hati. Ekskresi xenobiotik melalui empedu

dan urine. Pada metabolisme obat, pada obat yang sudah aktif

metabolisme xenobiotik fase 1 berfungsi mengubah obat aktif menjadi


inaktif, sedang paa obat yang belum aktif metabolisme xenobiotik fase

1 berfungsi mengubah obat inaktif menjadi aktif

Contoh: obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan

(pemanis, pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya.

Metabolisme xenobiotik terjadi di hepar.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta

Kedokteran, ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima

Medikal.

Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis

Anonim. 2007. Skabies (kulit gatal bikn sebel).

http://www.cakmoki86.wordpress.com

Anonim. 2008. Skabies.

Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

otter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,

Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC

Kee Joyce L. Dan Hayes Evelyne R.1996. Farmakologi. Jakarta: EGC

Sudoyo, et al. 2006. Buku ajar Imu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi 4. FKUI.

Jakarta.

Liska, DJ. The Detoxification Enzyme Systems. Altern Med Rev 1998; 3(3):

187-198.