Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I. DEFINISI
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku, yang
disebabkan golongan jamur dermatofita.1,2,3 Jamur ini dapat menginvasi seluruh
lapisan stratum korneum dan menghasilkan gejala melalui aktivasi respons imun
pejamu.4
Tinea imbrikata adalah dermatofitosis yang disebabkan oleh Trichophyton
concetricum. Penyakit ini dapat bersifat kronik dan merupakan bentuk khas dari
tinea korporis.

II. SINONIM
Ring worm,1,2,3,45, tokelau,1,2,3,45 kaskado.1,5,6

III. EPIDEMIOLOGI
Tinea imbrikata banyak ditemukan pada daerah rural. Daerah-daerah
terbanyak ditemukan penyakit tinea ini adalah Asia Selatan (Cina dan India),
pulau-pulau di Pasifik Selatan, dan Amerika Tengah dan Selatan. Kepulauan
Pasifik Selatan, Polinesia dan Melanesia merupakan zona penting di dunia karena
menyerang 9-18% penduduknya. Daerah penting ini adalah Papua termasuk
Papua New Guinea, Malaysia, Fuji, Samoa, New Zealand dan Tokelau.1,4
Penyakit ini menyerang semua kelompok umur dari usia bayi (mulai usia 6
bulan) sampai usia tua. Tidak ada predisposisi jenis kelamin dan dapat
diturunkan secara resesif autosomal.1,4
Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemis di wilayah tertentu, antara
lain Kalimantan, Sulawesi, Papua, Kepulauan Aru dan Kei, dan Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data rekam medik di Puskesmas Kecamatan Sokan Kalimantan
Barat pada tahun 2011, ditemukan 211 kasus tinea imbrikata dengan terbanyak di
Dusun Teluk Pongkal yaitu sebanyak 107.2,5,6

IV. ETIOLOGI

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 1


Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus
yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Genus Trichophyton
dan Microsporum menimbulkan kelainan pada kulit, rambut, dan kuku
sedangkan Genus Epidermophyton menimbulkan kelainan pada kulit dan
kuku.1,2,3
Tinea imbrikata disebabkan oleh Trichophyton cocentricum yang
merupakan dermatofit antrapofilik. Pada Trichophyton secara mikroskopik
ditemukan hifa bersepta, hifa spiral, makrokonida berbentuk gada berdinding
tipis dari 6-12 sel, serta ditemukan mikrokonidia yang bentuknya seperti tetes air.
Secara makroskopik ditemukan koloni yang kasar beserbuk atau radier pada
bagian tengah mononjol.5,6

Tabel 1.

Tampilan Klinis dari Infeksi Dermatofitosis7(Sumber :Richard A. Keller, MD,


and Deborah B. Henderson, MD, MPH.Superficial FungalInfections.
Dermatology Secrets Plus 4 th ed. 2011. pg 217)

V. PATOGENESIS
Tinea imbrikata dapat ditularkan setelah kontak dengan individu atau
binatang yang terinfeksi. Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda
misalnya pakaian, perabotan dan sebagainya.1,4,5,6
Dermatofita mempunyai masa inkubasi selama 4-10 hari. Infeksi
dermatofita melibatkan tiga langkah utama: perlekatan ke keratinosit, penetrasi
melalui dan diantara sel, dan perkembangan respon pejamu.1,2,3

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 2


a. Perlekatan jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa
melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban,
kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang diproduksi oleh
keratinosit. Asam lemak yang diproduksi oleh kelenjar sebasea juga bersifat
fungistatik.1,2,3
b. Penetrasi. Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan menembus
stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat daripada proses
deskuamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan enzim
mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma dan
maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit. Pertahanan baru
muncul ketika jamur mencapai lapisan terdalam epidermis.1,2,3
c. Perkembangan respon pejamu. Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun
penderita dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV atau
Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat penting
dalam melawan dermatofita. Infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama
yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Terdapat hipotesis
menyatakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis
dan di presentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan
proliferasi dan bermigrasi ke tempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur.
Saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier epidermal menjadi
permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Segera jamur
hilang dan lesi secara spontan menyembuh.1,2,3

VI. MANIFESTASI KLINIS


Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang
perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari
dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian
tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. Bila
dengan jari tangan kita meraba dari bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas
skuama yang menghadap ke dalam. Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 3


menjadi besar dapat bertemu dengan lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga
membentuk pinggir yang poliskilik.1,2
Pada permulaan infeksi penderita dapat merasa sangat gatal, akan tetapi
kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Pada kasus
menahun, lesi kulit kadang-kadang dapat menyerupai iktiosis. Kulit kepala
penderita dapat terserang, akan tetapi rambut biasanya tidak.1,2

Gambar 1. Tinea Imbrikata


Pada Daerah Lengan
(Sumber : Anonym,
Tinea Imbrikata.
USU Institutional Repository)
VII. DIAGNOSA
Penegakan diagnosis tinea imbrikata berdasarkan gambaran klinis yaitu
bila ditemukan lesi pada daerah yang tidak berambut membentuk lingkaran
konsentris dan juga adanya keluhan rasa gatal oleh pasien, serta dapat diperkuat
dengan melakukan pemeriksaan mikologi dan kultur.1,2,3,4,5,6
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan KOH
Diagnosis dermatofitosis yang dilakukan secara rutin adalah
pemeriksaan mikroskopik langsung dengan KOH 10-20%. Terdapatnya hifa
pada sediaan mikroskopis dengan potasium hidroksida (KOH) dapat

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 4


memastikan diagnosis dermatofitosis. Pemeriksaan mikroskopik langsung
untuk mengidentifikasi struktur jamur merupakan teknik yang cepat,
sederhana, terjangkau, dan telah digunakan secara luas sebagai teknik
skrining awal. Teknik ini hanya memiliki sensitivitas hingga 40% dan
spesifisitas hingga 70%. Pada sediaan KOH tampak hifa bersepta dengan
ujung menggembung, klamidospora, struktur nodular dan spiral yang
longgar.5,6

Gambar 2. Morfologi Mikroskopis Trichophyton Concetricum (Sumber :


Anonym, Tinea Imbrikata. USU Institutional Repository)
b. Pemeriksaan Kultur

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 5


Kultur jamur merupakan metode diagnostik yang lebih spesifik namun
membutuhkan waktu yang lebih lama dan memiliki sensitivitas yang rendah,
harga yang lebih mahal dan biasanya digunakan hanya pada kasus yang berat
dan tidak berespon pada pengobatan sistemik Kultur perlu dilakukan untuk
menentukan spesiesnya karena semua spesies dermatofita tampak identik
pada sediaan langsung. Yang dianggap paling baik pada saat ini adalah
medium agar dekstrosa Sabouraud.
Pada awalnya, koloni-koloni berwarna berwarna kuning kemudian
menjadi coklat tua. Terdapat lekukan-lekukan kecil yang menyebar ke
pinggir, yang akhirnya menghasilkan gambaran serebriform.5,6

Gambar 3. Kultur Trichophyton Concetricum (Sumber : Anonym, Tinea


Imbrikata. USU Institutional Repository)

VIII. DIGANOSIS BANDING


Tinea imbrikata mempunyai bentuk klinis yang sangat khas sehingga tidak
begitu sulit untuk menentukan diagnosis. Tinea imbrikata merupakan varian dari
tinea korporis sehingga diagnosis bandingnya adalah dermatitis seboroika,
psoriasis, pitiriasis rosea.
Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea
korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit
kepala, lipatan-lipatan kulit misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 6


sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi
yaitu daerah ektensor, misalnya lutut, siku, dan punggung. Kulit kepala berambut
juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat
pula menolong untuk menentukan diagnosis. Pitiriasis rosea, yang distribusi
kelainan kulitnya simestris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal
anggota badan, yang membedakan dengan tinea korporis adalah herald patch.
Pada kasus menahun, lesi kulit kadang-kadang menyerupai iktiosis. Pada iktiosis
terjadi kelainan keratinisasi diamana kulit menjadi sangat kering dan
berskuama.2,5,6
Tabel 2. Diagnosis Banding Tinea Corporis. 7(Sumber :Richard A. Keller, MD,
and Deborah B. Henderson, MD, MPH.Superficial FungalInfections.
Dermatology Secrets Plus 4 th ed. 2011. pg 217)
IX. PENATALAKSANAAN
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Penatalaksanaan tinea imbrikata berupa terapi medika mentosa dan non-
medikamentosa. Terapi topikal untuk pengobatan tinea imbrikata termasuk:
TINEA CORPORIS PITYRIASIS ROSEA SEBORRHEIC
terbinafine, butenafine, ekonazol, miconazole, ketoconazole, klotrimazole.
DERMATITIS
INCIDENC Commom, chronic Common, spring, Common,
Formulasi
E
topikal dapat membasmi and
Children, adults
areafall.
yang lebih kecil dari
Young,
infeksi, tetapi
chronic,
adultsyang lebih luas
terapi oral diperlukan di mana wilayah infeksi recurrent. Any
yang terlibat atau
age
dimana infeksi kronis atau berulang. Infeksi dermatofita dengan krim topikal
SITES Trunk, extremities Trunk, root of
antifungal hingga kulit bersih (biasanya membutuhkanExtensor aspect
3 sampai 4 minggu
extremities of extremities
pengobatan dengan azoles dan 1 sampai 2 minggu dengan krim to
(elbow terbinafine)
wrist, dan
knee to ankle)
tambahan 1 minggu hingga secara klinis kulit bersih.1,2,3,4,5,6
Medikamentosa
SIGNS pada tinea
Annular imbrikata, termasuk:
patches, Herald patch Red, most,
a. Griseovulfin,
large patches bysekarang,
pada masa dermatofitosis
followed by pink pada umumnya
crusted. Coin dapat
coalescence.
diatasi dengan scaly lesions
pemberian griseovulfin. shaped
Obat ini bersifat patches Secara
fungistatik.
Active, vesiculer
umum griseovulfin dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis
border
0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 g untuk anak- anak sehari atau 10-
PRURITIS Moderate to Mild to moderate Moderate to
25 mg per kg severe
berat badan. Lama pengobatan bergantung
severe pada lokasi

penyakit, penyebab penyakit dan keadaan imunitas penderita. Setelah


sembuh klinis dilanjutkan 2 minggu agar tidak residif. 1,2,3,4,5,6,8

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 7


b. Ketokonazol bersifat fungistatik. Pada kasus resisten terhadap griseovulfin
dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg perhari selama 10-14 hari
pada pagi hari setelah makan. Ketokonazole merupakan kontraindikasi untuk
penderita kelainan hepar. 1,2,3,4,5,6,8
c. Itrakonazol diberikan 2 x 100-200 mg/hari selama 3 hari.1,2,3,4,5,6,8
d. Terbinafine 250 mg/hari selama 2-4 minggu. 1,2,3,4,5,6,8

Tabel 3. Agen Anti Jamur3

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 8


(Sumber : John C.Hall,MD .Dermatologic Mycology. In: Brian J.Hall, John
C.Hall. Sauers Manual of skin disease. 10 th ed.USA: Lippincott Williams
& Wilkiins, a Wolters Kluwer; 2010. pg 250)

Tabel 4. Agen Anti Jamur3


(Sumber : John C.Hall,MD .Dermatologic Mycology. In: Brian J.Hall, John
C.Hall. Sauers Manual of skin disease. 10 th ed.USA: Lippincott Williams &
Wilkiins, a Wolters Kluwer; 2010. pg 250

X. PENCEGAHAN
Mencegah kekambuhan penyakit sangat penting dilakukan seperti
mengurangi faktor predisposisi, yaitu menggunakan pakaian yang menyerap
keringat, mengeringkan tubuh setelah mandi atau berkeringat dan membersihkan
pakaian yang terkontaminasi. Bubuk antifungal yang memiliki manfaat tambahan
pengeringan, mungkin dapat membantu dalam mencegah kekambuhan.1,3,4,5,6

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 9


XI. KOMPLIKASI
Komplikasi penyakit ini dapat infeksi bakteri sekunder pada kulit.
Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan eksaserbasi jamur sehingga
menyebabkan penyakit menyebar.1,2,5,6

XII. PROGNOSIS
Prognosis tinea imbrikata akan baik, apabila kelembapan dan kebersihan
kulit selalu dijaga. Tinea imbrikata biasanya respon terhadap pengobatan topikal
atau sistemik namun biasanya sering kambuh.5,6

BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. BS
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 26 tahun
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Lere
Suku : Jayapura
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 10


Pendidikan : SMA
Status : Menikah
No. DM : 33 54 76
Tanggal Pemeriksaan : 15 Februari 2016

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Timbul bercak putih yang disertai rasa gatal pada kedua lengan atas-
bawah, dan kedua tungkai atas-bawah

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke polilinik Kulit dan Kelamin RSUD Jayapura dengan
keluhan bercak berwarna putih yang disertai rasa gatal di kedua lengan
bawah, kedua lengan atas, kedua tungkai atas dan kedua tungkai bawah
sejak 1 tahun yang lalu.
Menurut pengakuan pasien, awalnya timbul bercak kemerahan di
kedua lengan atas yang terasa gatal sehingga pasien sering menggaruknya.
Keluhan gatal semakin terasa pada saat pasien berkeringat. Semakin lama
bertambah banyak dan menyebar ke kedua lengan bawah, kedua tungkai
atas dan kedua tungkai bawah. Kemudian kulit pasien menjadi tampak
seperti terkelupas.
Pasien tidak pernah memeriksakan diri ke pusat kesehatan. Di
lingkungan rumah pasien banyak tetangga yang menderita keluhan yang
sama.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat pernah menderita Diabetes Melitus disangkal, riwayat hipertensi
disangkal, riwayat alergi makanan disangkal, riwayat alergi obat disangkal.

4. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang menderita sakit seperti ini disangkal pasien.

5. Riwayat Sosial dan Kebiasaan


Pasien adalah seorang wanita yang telah menikah dan belum memiliki
anak. Pasien berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pasien mengatakan

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 11


selalu mandi dua kali sehari dengan sabun dan menggunakan air kali yang
kadang keruh jika hujan.

III. PEMERIKSAAN FISIS


1. Status Generalis
a. Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
b. Kesadaran : Kompos Mentis
c. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80/menit
Respirasi : 24/menit
Suhu Badan (Aksila) : 36,7C

d. Kepala dan Leher


Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Telinga : Deformitas (-), sekret (-)
Mulut : Deformitas (-), bibir sianosis (-), Oral kandidiasis -/-
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
e. Toraks
Pulmo : Inspeksi : datar, simetris, ikut gerak nafas
Palpasi : Vokal Fremitus Dextra = Sinistra
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing
-/-
Jantung : Inspeksi : Iktus Kordis tidak terlihat
Palpasi : Thrill (-)
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi Jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)
f. Abdomen
Inspkesi : Datar
Auskultasi : Bising Usus (+) normal 3x/15 detik
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), Hepar: tidak teraba, Lien: tidak
teraba
Perkusi : Timpani
g. Ekstremitas : Deformitas (-), akral hangat, CRT <2 detik, edema (-)
h. Genetalia : tidak dilakukan pemeriksaan

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 12


2. Status Dermatologis
a. Distribusi : Regional
b. Lokalis : Regio Brachii dextra et sinistra, Regio Antebrachii dextra
et sinistra, Regio Kruris dextra et sinistra, Regio Femur
dextra et sinistra

c. Efloresensi : Tampak makula hipopigmentasi, sirkumskrip, ukuran dari


numular sampai plakat, skuama tersusun konsentris.

Gambar 4. Foto Regio


Antebrachii Dextra et
Sinistra Pasien Ny. BS

Gambar 5. Foto Regio Kruris


Dextra et Sinistra Pasien
Ny. BS
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan KOH dan kultur
jamur tidak dilakukan.

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 13


V. DIAGNOSA BANDING
a. Tinea Imbrikata
b. Pitiriasis rosea
c. Psoriasis
d. Iktiosis

VI. DIAGNOSIS KERJA


Tinea Imbrikata

VII. PENATALAKSANAAN
a. Non-medikamentosa
Edukasi
Menerangkan kepada pasien bahwa penyakit yang diderita pasien adalah
infeksi jamur dan mudah menular.
Memberikan saran kepada pasien agar menganti pakaian basah karena.
keringat serta disarankan juga untuk memakai pakaian yang longgar dan
pakaian yang menyerap keringat.
Menyarankan pasien agar tidak bertukar baju atau celana dengan orang
lain.
Menyarankan pasien mandi menggunakan air yang bersih.
Menyarankan kepada pasien agar tidak menggaruk-garuk lesi.
b. Medikamentosa
Sistemik
Griseofulvin 125 mg, 4x1 selama 14 hari
Cetrizine 10 mg, 1x1 selama 10 hari
Topikal
Ketokonazol krim 2% dioleskan 2x sehari
VIII. PROGNOSIS
a Quo ad Vitam : Ad Bonam
b Quo ad Fungtionam : Ad Bonam
c Quo ad Sanationam : Dubia Ad Bonam

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 14


BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien Ny. BS berusia 28 tahun
didiagnosa dengan Tinea Imbrikata. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisis. Dari hasil anamnesa, sejak 1 tahun yang lalu
pasien mengeluh timbul bercak putih yang disertai rasa gatal pada kedua lengan atas,
kedua lengan bawah, kedua tungkai atas dan kedua tungkai bawah. Rasa gatal
semakin terasa jika pasien berkeringat sehingga pasien sering menggaruknya. Bercak
keputihan semakin melebar dan sebagian kulit tampak seperti terkelupas. Pasien
mengatakan awalnya muncul bercak kemerahan pada kedua lengan atas dan saat ini
bercak meluas dan menyebar sampai ke kedua lengan bawah, kedua tungkai atas dan
kedua tungkai bawah. Di keluarga hanya pasien yang memiliki keluhan seperti ini.
Dari pemeriksaan fisik tampak makula hipopigmentasi, sirkumskrip, ukuran dari
numular sampai plakat, skuama tersusun konsentris.
Menurut beberapa sumber referensi, keluhan penderita ini sesuai dengan
kepustakaan.1,2,3,4,5,6 Secara klinis tinea imbrikata biasanya tampak sebagai lingkaran-
lingkaran skuama yang tersusun konsentris. Pruritis merupakan gejala awal infeksi
namun bisa saja tidak ada.1,2,5,6

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 15


Tinea imbrikata menyerang kulit yang tidak berambut, kulit kepala penderita
dapat terserang akan tetapi rambut biasanya tidak. Kelainan ini dapat bersifat akut
atau menahun.4,5 Dari efloresensi pada pasien ini tampak makula hipopigmentasi,
sirkumskrip, ukuran dari numular sampai plakat, skuama tersusun konsentris. Jika
dengan jari kita meraba dari bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas skuama
yang menghadap ke dalam. Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi
besar dapat bertemu dengan lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga membentuk
pinggir yang polisiklik. Pada kasus gambaran klinis lingkaran-lingkaran skuama yang
tersusun konsentris sesuai gambaran tinea imbrikata.1,2,4,5
Pada kasus Ny. BS, diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisis. Diagnosis imbrikata seringkali cukup hanya dengan klinis. 4,5
Namun beberapa penyakit kulit lain juga dapat menyerupai tinea tinea imbrikata
sehingga diperlukan konfirmasi infeksi dermatofita melalui pemeriksaan mikroskopis
dengan kalium hidroksida (KOH) dan atau kultur jamur. Pada tinea imbrikata bahan
sebaiknya diambil dengan mengerok lesi dengan pisau tumpul.1,2,3,4,5,6
Menurut beberapa sumber,2,4,5 diagnosis diferinsial tinea imbrikata pada kasus
Ny. BS adalah pitiriasis rosea, psoriasis, dan iktiosis. Pitiriasis rosea distribusi
kelainan kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan.
Yang membedakan dengan tinea korporis adalah herald patch. Psoriasi berbeda
predileksinya yaitu daerah ekstensor misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala
berambut juga sering terkena penyakit ini. Pada kasus menahun, lesi kulit kadang-
kadang dapat menyerupai iktiosis. Iktiosis terjadi kelainan keratinisasi dimana kulit
menjadi sangat kering dan berskuama sehingga kulit penderita tampak seperti sisik
ikan.5,6
Pada kasus Ny. BS, terapi diberikan pengobatan secara oral dan topikal.
Griseofulvin 125 mg 4x1 selama 14 hari dan Cetrizine 10 mg 1x1 selama 10 hari
serta Ketokonazol krim 2% dioleskan 2x sehari. Menurut beberapa sumber,
penatalaksanaan tinea imbrikata berupa terapi medikamentosa dan non-
medikamentosa. Terapi topikal untuk pengobatan tinea imbrikata termasuk:
terbinafine, butenafine, ekonazol, miconazole, ketoconazole, klotrimazole.1,2,45,6

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 16


Formulasi topikal dapat membasmi area yang lebih kecil dari infeksi, tetapi
terapi oral diperlukan dimana wilayah infeksi lebih luas yang terlibat atau dimana
infeksi kronis atau berulang. Infeksi dermatofita dengan krim topikal antifungal
hingga kulit bersih (biasanya membutuhkan 3 sampai 4 minggu pengobatan dengan
azoles dan 1 sampai 2 minggu dengan krim terbinafine) dan tambahan 1 minggu
hingga secara klinis kulit bersih.4,5,6 Pada masa sekarang, dermatofitosis umumnya
diatasi dengan pemberian Griseofulvin yang bersifat fungistatik. Efek samping
griseovulfin jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia yang
didapati pada 15% penderita. Efek samping lain dapat berupa gangguan traktus
digestinus ialah nausea, vomitus, dan diare. Obat ini juga bresifat fotosensitif dan
dapat mengganggu fungsi hepar. Selain itu, pada pasien ini diberikan antihistamin
berupa cetrizin 10 mg untuk mengurangi keluhan gatal pada kulit.2,5,6
Prognosis tinea imbrikata pada kasus Ny. BS umumnya baik, asalkan
kelembaban dan kebersihan kulit selalu dijaga.6 Prognosis yang mungkin timbul
adalah :
Quo ad Vitam : Ad Bonam
Penyakit ini tidak mengancam hidup, sehingga prognosis untuk vital sign
baik.6
Quo ad Fungtionam : Ad Bonam
Dengan melakukan pengobatan secara teratur sesuai anjuran dokter,
menghindari faktor resiko dan menjaga kebersihan serta kelempan kulit makan
prognosis akan bak.6
Quo ad Sanationam : Dubia Ad Bonam
Penyakit tinea imbrikata ini biasanya respon terhadap pengobatan topikal atau
sistemik namun biasanya sering kambuh.6

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 17


DAFTAR PUSTAKA

1. Heffernan P. Michael Verma Shannon, Fungal Diseases. In : Wolff KG,LA. Katz,


SI. Gilchrest, BA. Paller, AS. Leffeld, DJ. Fitzpatricks Deramatology In
General Medicine. 7thed: McGraw Hill; 2008. Pg. 1807-1808
2. Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 6 th ed. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2011. Pg.93-94
3. John C.Hall,MD .Dermatologic Mycology. In: Brian J.Hall, John C.Hall. Sauers
Manual of skin disease. 10 th ed.USA: LippincottWilliams & Wilkiins, a
Wolters Kluwer; 2010. pg 246-248
4. MD, Grossberg Robert, Fungal Diseases Of The Skin. In :Edward T. Bope,
MdRick D. Kellerman, Md. CONNS CURRENT THERAPY, 2015.pg 261-262
5. Putra, Ananta Diaz, Tinea Imbrikata. Universitas Diponogoro, 2011. Diakses
padahttp://eprints.undip.ac.id/44534/3/Diaz_Ananta_Putra_22010110120074_Ba
b2KTI.pdf . Pada tanggal 18 Februari 2016
6. Anonym, Tinea Imbrikata. USU Institutional Repository. Diakses pada
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35227/4/Chapter%20II.pdf. Pada
tanggal 18 Februari 2016
7. Richard A. Keller, MD, and Deborah B. Henderson, MD, MPH.Superficial
Fungal Infections. In :Dermatology Secrets Plus 4 th ed. 2011. pg 216-217
8. Chris Tanto. Kapita Selekta Kedokteran. 4 th ed. Jakarta: Media Aesculapius;
2014. Pg.216-319

Lidia Irianti Silamba | Pasien Dengan Tinea Imbrikata 18