Anda di halaman 1dari 53

2

LAPORAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PDAM TIRTA MOEDAL PRODUKSI II KUDU SEMARANG

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN POMPA INTAKE

AIR BAKU PDAM TIRTA MOEDAL PRODUKSI II KUDU

Disusun oleh
Nama : Desi Riana Sari
NIM : 5201413001
Jurusan/Prodi : Teknik Mesin/Pendidikan Teknik Mesin S1

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2016
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktik Kerja Lapangan telah disahkan oleh PDAM Tirta Moedal unit II

Semarang dan Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang.


Hari :
Tanggal :

Dosen Pembimbing Pembimbing Lapangan

Wahyudi, S.Pd., M.Eng. Hery Febriyanto, S.T.


NIP. 19800319 200501 1 001 NPP. 6908294339

Mengetahui,
Ketua Jurusan a.n. Pimpinan PT
Pembimbing Lapangan

Rusiyanto, S.Pd., M.T. Hery Febriyanto, S.T.


NIP. 19740321 199903 1 002 NPP. 6908294339

Abstrak

Desi Riana Sari


Standar Operasional Prosedur Perawatan Pipa Intake Air Baku
PDAM Tirta Moedal Produksi II Kudu

Pendidikan Teknik Mesin Teknik Mesin


Universitas Negeri Semarang
Tahun 2016

Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Moedal merupakan perusahaan yang


bergerak di bidang pelayanan masyarakat yang meyediakan air bersih untuk
kebutuhan hidup masyarakat Kota Semarang. Proses produksi di PDAM berawal
dari pengolahan air baku dari bendungan sampai menjadi air bersih melalui
beberapa tahapan di antaranya melalui pipa intake untuk pengolahan awal. Oleh
karena itu diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) di dalam perawatan
dan rehabilitasi dari pompa tersebut. Adapun tujuan dari kegiatan Praktek Kerja
Lapangan ini adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami standar
operasional prosedur perawatan, rehabilitasi dan pengecekan pompa intake

2
sehingga tidak terjadi penurunan kualitas pada pompa tersebut. Manfaatnya
adalah mahasiswa dapat mengetahui kondisi nyata suatu perusahaan dari segi
standar operasional prosedur yang diterapkan, kondisi fisik, teknologi yang
digunakan, kinerja para karyawan serta proses produksi pada PDAM Tirta
Moedal.
Metode yang digunakan, yaitu metode observasi, metode wawancara, dan
metode studi literatur. Mahasiswa melakukan pengumpulan data selama kegiatan
PKL berlangsung mulai dari observasi berbagai proses tahapan pengolahan air di
PDAM, mengumpulkan data-data yang perlu untuk didokumentasikan.
Pekerjaan yang dilakukan selama PKL yaitu melakukan wawancara dengan
pembimbing lapangan, mencari dan membaca literatur yang ada di tempat PKL.
Selama kegiatan PKL berlangsung mahasiswa melakukan pengecekan dan
rehabilitasi pompa, menghitung daya pompa, serta melakukan pengecekan pada
aquator sludge.
Simpulan dari kegiatan PKL ini adalah proses pemeliharaan atau perawatan
pompa intake di PDAM sudah baik dan ada beberapa perawatan yang dikerjakan
antara lain: perawatan harian, perawatan mingguan, dan perawatan setelah satu
tahun, adapun pengecekan terhadap pompa intake yang dilakukan yaitu
pemeriksaan setiap tiga bulan, pemeriksaan setiap enam bulan, pemeriksaan
setelah satu tahun dan pemeriksaan lima tahun. Sarannya yaitu pemeliharaan dan
pemeriksaan pompa intake seharusnya dikerjakan sesuai dengan SOP yang sudah
ditetapkan sebagai pedoman. Pekerjaan pemeriksaan dan pemeliharaan
diharapkan tidak hanya dilakukan oleh teknisi akan tetapi perlunya pendampingan
oleh supervisor.

Kata kunci: Standar Operasional Prosedur, PDAM, pompa intake, rehabilitasi.


KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan

hidayah-Nya sehingga Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama 36 hari di PDAM

Tirta Moedal Produksi II Kudu dapat terlaksana dengan baik dan penyusunan

laporan PKL dapat terselesaikan. Terselesaikannya penyusunan laporan ini tidak

luput dari bantuan dan motivasi serta partisipasi dari semua pihak, untuk itu pada

kesempatan ini dengan segala hormat Penulis ingin menyampaikan terima kasih

kepada:

1. Rusiyanto, S.Pd., M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas

Negeri Semarang.

3
2. Wahyudi, S.Pd., M.Eng., selaku dosen pembimbing Praktik Kerja

Lapangan.
3. Ibu dan bapak tercinta.
4. Teman-teman yang telah banyak membantu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan segala bentuk kritik dan

saran yang bersifat membangun. Semoga laporan ini bermanfaat bagi semua

pihak, dan memberikan pengetahuan dalam pengembangan Jurusan Teknik Mesin

Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.


Semarang, Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii
ABSTRAK.................................................................................................. iii
KATA PENGANTAR................................................................................. iv
DAFTAR ISI............................................................................................... v
DAFTAR TABEL....................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xi
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN.................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Tujuan dan Manfaat................................................................... 2
C. Tempat dan Pelaksanaan............................................................ 4
D. Pengumpulan Data..................................................................... 7

BAB II STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN PIPA


INTAKE AIR BAKU DI BAKU DI PDAM TIRTA MOEDAL
PRODUKSI II

A. Sejarah PDAM Tirta Moedal Kota Semarang............................ 8


B. Profil Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Moedal Kota
Semarang.................................................................................... 9

4
C. Pengolahan dan Produksi Air di PDAM Tirta Moedal Kota
Semarang.................................................................................... 10
D. Pengertian Pompa Intake Air Baku............................................ 15
E. Saringan Intake.......................................................................... 20
F. Pengaturan Debit Pompa Intake................................................. 21
G. Perawatan Pompa Intake............................................................ 22
H. Rehabilitasi Pompa Intake......................................................... 29
I. Pengecekan Pompa Intake......................................................... 29

BAB III ANALISIS HASIL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PERAWATAN PIPA INTAKE DI PDAM TIRTA MOEDAL. .

A. Analisis Hasil Standar Operasional Prosedur Perawatan Pipa Intake di

PDAM Tirta Moedal.................................................................. 32

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan.................................................................................... 35
B. Saran........................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 36
LAMPIRAN................................................................................................ 37

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. Teknik Pelaksanaan Kegiatan...................................................... 4


Tabel 1.2. Pelaksanaan PKL........................................................................ 5
Tabel 1.3. Jam Kerja PDAM Tirta Moedal Produksi II............................... 6
Tabel 2.1. Cabang Pelanggan Air Bersih..................................................... 9
Tabel 3.1. Jadwal Minimal Pengoperasian Pompa....................................... 34
Tabel 3.2. Jadwal Maksimal Pengoperasian Pompa.................................... 34

5
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Tahap Pengolahan Air PDAM Tirta Moedal.......................... 11
Gambar 2.2. Bendungan Klambu................................................................ 16
Gambar 2.3. Air Baku................................................................................ 16
Gambar 2.4. Ilustrasi Pompa Intake........................................................... 17
Gambar 2.5. Pompa Intake P01................................................................. 18
Gambar 2.6. Pompa Intake P01 & P02...................................................... 20
Gambar 2.7. Bar Screen............................................................................. 21
Gambar 2.8. Alat Flowmeter...................................................................... 22

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat Permohonan PKL........................................................... 37

Lampiran 2. Surat Tugas Dosen Pembimbing............................................. 38

Lampiran 3. Bukti Pendaftaran Kelompok PKL.......................................... 39

Lampiran 4. Surat Penerjunan PKL............................................................. 40

Lampiran 5. Surat Pengantar dari PDAM Tirta Moedal Semarang............. 41

Lampiran 6. Surat Penarikan Mahasiswa PKL............................................ 42

6
Lampiran 7. Daftar Hadir dan Kegiatan PKL.............................................. 43

Lampiran 8. Dokumentasi Kegiatan............................................................ 45

Lampiran 9. Surat Keterangan Selesai PKL................................................ 48

ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Singkatan Arti

PKL Praktik Kerja Lapangan

PDAM Perusahaan Daerah Air Minum

SDM Sumber Daya Manusia

BUMD Badan Usaha Milik Daerah

SOP Standart Operational Procedure

Perda Peraturan Daerah

7
IBRD International Bank for Reconnstruction and Development

PAC Poly Alumunium Chloride

KW Kilo Watt

m.k.a Meter Kolom Air

COS Change Over Switch

MCC Motor Control Center

PLN Perusahaan Listrik Negara

SPAM Sistem Penyedia Air Minum

KVA Kilo Volt Ampere

KVAR Kilo Volt Ampere Reactive

l/dt Liter per detik

km Kilometer
0
C Derajat celcius

IPA Instalasi Pengolahan Air

l/s Liter per second

8
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu upaya program

Universitas Negeri Semarang dalam mendukung program pemerintah yaitu

pemberian ilmu pengetahuan lapangan yang cukup di bidang industri yang

kedepannya akan bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengenal dunia kerja. Praktik

kerja lapangan merupakan aplikasi nyata pemberian pengalaman industri kepada

para mahasiswa agar siap terjun di dunia usaha dan dunia industri setelah lulus

kuliah. Melalui program PKL, diharapkan mahasiswa akan memperoleh

pengalaman kerja di perusahaan atau instansi baik pemerintah maupun swasta.

PKL dirancang menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang

berkualitas, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran selama ini.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki peran penting dalam

mengurangi jumlah pengangguran yaitu dengan bekal pengetahuan, kepandaian,

kreatifitas dan kerja keras sehingga lebih cocok menjadi pelopor dalam

menciptakan lapangan kerja yang inovatif.

Pendidikan kejuruan juga menekankan pada pengetahuan praktik sehingga

diperlukan alat praktik yang memadai secara ideal dan relevan dengan dunia

industri. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya perlu diantisipasi melalui

beberapa cara yaitu adanya program praktik industri dalam jangka waktu tertentu

dan mengupayakan kurikulum tertentu yang sesuai terhadap kebutuhan ilmu dan

teknologi.

1
Untuk menunjang kegiatan akademik sesuai dengan kurikulum perkuliahan

perlu adanya kerja sama dengan suatu perusahaan atau industri. Penulis memilih

PDAM Tirta Moedal Produksi II Kudu Kota Semarang sebagai tempat PKL

karena PDAM sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam masa

perkuliahan di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang.

Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang merupakan

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang pelayanan

masyarakat yang menyediakan air bersih untuk masyarakat Kota Semarang.

Proses pengolahannya berawal dari pengambilan air baku dari bendungan sampai

dengan pengolahan menjadi air bersih. Pengolahan air dilaksanakan sesuai dengan

penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator teknis, administrasi

dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur dan sistem pada unit kerja yang

bersangkutan. Oleh karena itu, diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP)

sebagai acuan kerja untuk menjadi sumber daya manusia yang profesional, handal

sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan. Salah satunya pada

perawatan pompa intake untuk pengolahan awal.

B. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan

Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini adalah mahasiswa dapat

mengetahui dan memahami standar operasional prosedur perawatan, rehabilitasi

dan pengecekan pompa intake sehingga tidak terjadi penurunan kualitas pada

pompa tersebut.

2. Manfaat

2
Beberapa manfaat dari dilaksanakannya PKL antara lain:

a. Bagi Mahasiswa
1) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu

dari perkuliahan di dunia industri.


2) Memperoleh pengalaman untuk meningkatkan keterampilan teknik yang

relevan dengan jurusan.


3) Memantapkan sifat profesional, disiplin dan tanggung jawab mahasiswa.
4) Mahasiswa dapat mengetahui kondisi nyata suatu perusahaan baik dari

segi standar operasional prosedur yang diterapkan, kondisi fisik, teknologi

yang digunakan, kinerja para karyawan serta proses produksi pada PDAM

Tirta Moedal.
b. Bagi Lembaga Pendidikan
1) Lembaga pendidikan memperoleh pengetahuan dari laporan hasil

penyelenggaraan PKL yang berguna untuk pengembangan jurusan.


2) Dapat mengetahui kompetensi mahasiswa setelah mendapatkan

pengalaman dari PKL.


3) Meningkatkan, memperluas dan memperkuat jaringan kerjasama dengan

industri.
c. Bagi Industri
1) Dapat mengenalkan industrinya kepada mahasiswa.
2) Meningkatkan kerjasama dengan lembaga pendidikan.
3) Mendapatkan masukan dari mahasiswa yang dapat diterapkan oleh

lembaga industri.

C. Tempat dan Pelaksanaan

a. Tempat Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan di PDAM Tirta Moedal Produksi II

Kudu Kota Semarang, yang beralamat di Jalan Kramat Raya RT 03/RW 02

Kelurahan Kudu Kecamatan Genuk Kota Semarang.

3
b. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

Tabel 1.1. Teknik Pelaksanaan Kegiatan


No
Kegiatan Tempat
.
Kegiatan Pra PKL Kampus
1 a. Pembuatan proposal Universitas Negeri
b. Pembekalan dan penerjunan oleh Fakultas Semarang
Kegiatan PKL
PDAM Tirta
a. Observasi dan orientasi
2 Moedal Produksi
b. Praktik kerja dan bimbingan dengan
II Kudu
pembimbing lapangan
Kegiatan Pasca PKL
Kampus
a. Penyusunan laporan
3 Universitas Negeri
b. Bimbingan dengan dosen pembimbing
Semarang
c. Ujian PKL

Dalam melaksanakan kegiatan PKL harus melakukan beberapa tahapan,

yaitu sebagai berikut:

1. Pembuatan proposal dan surat permohonan tempat PKL melalui pihak Jurusan

Teknik Mesin dan Fakultas Teknik;


2. Penyerahan proposal dan surat permohonan PKL kepada perusahaan yang

dijadikan tempat PKL yaitu PDAM Tirta Moedal Produksi II Kudu Kota

Semarang;
3. Surat balasan dari perusahaan diserahkan kepada Jurusan Teknik Mesin untuk

membuat surat permohonan tugas dosen pembimbing, kemudian surat tersebut

diserahkan kepada Fakultas Teknik agar diproses untuk mendapatkan surat

penerjunan PKL dan surat tugas bagi dosen pembimbing;


4. Pelaksanaan PKL selama 36 hari dari 25 Januari sampai 1 Maret 2016;
5. Membuat surat penarikan PKL melalui Jurusan Teknik Mesin dan Fakultas

Teknik, kemudian surat tersebut diserahkan kepada perusahaan;


6. Mahasiswa bimbingan kepada pembimbing lapangan dan mempersiapkan

bahan yang akan dipresentasikan;

4
7. Mahasiswa melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing untuk

mempermudah dalam pembuatan laporan.


Tabel 1.2. Pelaksanaan PKL
No Hari/ tanggal Kegiatan
1 Jumat, 22 Januari 2016 Pembekalan PKL
2 Jumat, 22 Januari 2016 Penerjunan PKL
3 Senin, 25 Januari 2016 Pengenalan perusahaan
4 Selasa, 26 Januari 2016 Observasi proses kegiatan pengolahan air
5 Rabu, 27 Januari 2016 Pengukuran suhu, getaran, dan daya pada
pompa
6 Kamis, 28 Januari 2016 Evaluasi pengukuran suhu, getaran, dan daya
pada pompa
7 Jumat, 29 Januari 2016 Mencari referensi tentang perhitungan pompa
8 Senin, 1 Februari 2016 Menghitung daya pompa sesuai dengan
pengukuran
9 Selasa, 2 Februari 2016 Pembersihan saluran sedimen dan membuat
flowchart perawatan pompa
10 Rabu, 3 Februari 2016 Menghitung dan membuat tabel hasil
pengukuran
11 Kamis, 4 Februari 2016 Menghitung unbalance dan deviasi di
Microsoft Excel
12 Jumat, 5 Februari 2016 Evaluasi hasil pengukuran
13 Senin, 8 Februari 2016 Hari libur nasional
14 Selasa, 9 Februari 2016 Pengambilan data untuk pembuatan laporan
15 Rabu, 10 Februari 2016 Melakukan pengecekan pada aquator sludge
A-B
16 Kamis,11 Februari 2016 Melakukan pengecekan pada aquator sludge
C-D
17 Jumat, 12 Februari 2016 Merekap hasil laporan
18 Senin, 15 Februari 2016 Penyusunan laporan
19 Selasa, 16 Februari 2016 Penyusunan laporan
20 Rabu, 17 Februari 2016 Pengumpulan data
21 Kamis, 18 Februari 2016 Pengumpulan data
22 Jumat, 19 Februari 2016 Pengecekan ulang
23 Senin, 22 Februari 2016 Observasi lapangan dan pengecekan
24 Selasa, 23 Februari 2016 Sakit
25 Rabu, 24 Februari 2016 Sakit
26 Kamis, 25 Februari 2016 Sakit
27 Jumat, 26 Februari 2016 Pengumpulan data standar operasional
prosedur pipa intake
28 Senin, 29 Februari 2016 Pengumpulan data standar operasional
prosedur pipa intake
29 Selasa, 1 Maret 2016 Penarikan PKL

5
Berikut adalah jadwal kerja di PDAM Tirta Moedal Produksi II Kudu.

Tabel 1.3. Jam Kerja PDAM Tirta Moedal Produksi II


Hari Kerja Jam Masuk (WIB) Jam Pulang (WIB)
Senin-Kamis 07:30 13:00
Jumat 07:30 11:00
Sabtu dan Minggu Libur Libur

D. Pengumpulan Data
Pembuatan laporan membutuhkan data-data yang tepat dari perusahaan,

karena data tersebut merupakan salah satu syarat penting dan harus dipenuhi

untuk menyusun laporan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan

penulis adalah sebagai berikut:

1. Metode Studi Literatur

Metode pengumpulan data dengan cara membaca, mempelajari, dan

memahami buku-buku referensi dari PDAM Tirta Moedal Kota Semarang.

Metode ini digunakan saat diluar jam praktik kerja lapangan, penulis mencari tahu

tentang standar operasional prosedur perawatan pompa intake dibuku Operational

Manual Book dan artikel-artikel yang diambil dari internet.

2. Metode Observasi

Metode pengumpulan data dengan cara pengamatan dan kunjungan

langsung pada obyek penelitian industri yang dituju. Dalam metode observasi

penulis ikut mengamati dalam perbaikan, perawatan dan pengecekan mesin

pompa intake dan mesin-mesin lainnya.

3. Metode Wawancara

6
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara mewawancarai

karyawan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. Penulis melakukan tanya

jawab langsung kepada pembimbing lapangan terkait dengan rehabilitasi pada

pompa intake dan menganalisis setiap masalah tersebut.

BAB II

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN PIPA INTAKE AIR

BAKU DI PDAM TIRTA MOEDAL PRODUKSI II

A. Sejarah PDAM Tirta Moedal Kota Semarang

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Semarang pada masa

penjajahan Hindia Belanda tahun 1911 sampai dengan 1923 pihak Belanda

membangun 4 (empat) sumber alam yaitu: Mudal Besar dan Mudal Kecil, Lawang

dan Ancar Tahun 1923 sampai dengan 1932 dibangun lagi 2 (dua) sumber alam

yaitu: Kalidoh Besar dan Kalidoh Kecil. Selanjutnya pada tahun 1979 Kalidoh

Kecil diserahkan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Ungaran.

Pada 8 Desember 1942 sampai dengan 14 Agustus 1945 Jepang menguasai

Indonesia sumber alam yang telah dibangun Belanda dengan nama Gemeente

Water Leiding Semarang diubah dalam bahasa Jepang menjadi Semarang Siya

Kusyo yang artinya Perusahaan Daerah Air Minum Semarang. Setelah

kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tahun 1952 dibangun dua sumur artetis di

Jalan Purwodadi dan Jalan Arjuna. Kemudian dimulai pembangunan instalasi

penjernihan Kaligarang dengan debit 500 l/dt.

7
Pada tahun 1967 diadakan pembangunan sumur artetis dan Kantor Pusat

PDAM antara lain sumur artetis di Ronggowarsito, Kinibalu, Brumbungan,

Manyaran, Mijen, Rejosari, Seleses, Abimanyu, Senjoyo, Jangli, Raden Patah,

Gondoriyo, Erowati, Citandui, Blimbing, Bugangan, dan Kenconowungu.

Dengan bantuan dana dari IBRD tahun 1997, PDAM Kota Semarang

membangun reservoir Kedung Mundu, pemasangan pipa Transmisi Kudu Kedung

Mundu dan pipa distribusi untuk memenuhi kebutuhan kebutuan aktivitas

Pelabuhan, dan pemasangan pipa tersier untuk pelayanan masyarakat wilayah

Semarang Timur. Akhirnya pada tahun 2002 dibangun Instalasi Pengolahan Air

Kudu dengan kapasitas 1250 l/dt, untuk memenuhi kebutuhan aliran di wilayah

Timur dan sebagian di Tengah.

B. Profil Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang

PDAM Tirta Moedal Kota Semarang didirikan berdasarkan Peraturan

Daerah (PERDA) Nomor 7 Tahun 1983. Secara geografis wilayah Kota Semarang

terletak pada posisi astronomi di antara garis 650 710 Lintang Selatan dan

garis 10935 11050 Bujur Timur sehingga Kota Semarang berada di lokasi

perbukitan dan pesisir pantai. Menurut batas wilayah administratif Kota Semarang

terbagi atas wilayah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kendal, wilayah Timur

berbatasan dengan wilayah Kabupaten Demak, wilayah Utara berbatasan dengan

Laut Jawa dan wilayah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ungaran.

Peta pelayanan PDAM Kota Semarang dalam cakupan pendistribusian air

bersih wilayah Kota Semarang tiap bulan Februari 2014 berjumlah 145.638

pelanggan yang terbagi dalam 5 cabang adalah sebagai berikut :

9
Tabel 2.1. Cabang Pelanggan Air Bersih.
Cabang Pelanggan Jumlah Pelanggan
Selatan 24.848
Barat 31.232
Cabang Pelanggan Jumlah Pelanggan
Timur 40.566
Utara 29.179
Tengah 19.813
Dengan demikian PDAM Kota Semarang mempunyai tujuan untuk dapat

meningkatkan pelayanannya dengan semangat "Satukan Tekat Mewujudkan

Pelayanan Prima" sehingga dapat mewujudkan visi PDAM Tirta Moedal Kota

Semarang "Menjadi penyedia air minum pilihan masyarakat dan terbaik di

Indonesia".

C. Pengolahan dan Produksi Air di PDAM Tirta Moedal Kota Semarang

Air adalah unsur terpenting dalam menunjang hidup manusia dan memenuhi

sebagian besar permukaan bumi ini. Namun tidak semua air di bumi ini dapat

dimanfaatkan sebagai air minum tanpa melalui proses pengolahan yang benar dan

tepat. Fasilitasi pengolahan air bersih dengan total kapasitas produksi netto

sebesar 1.250 l/dt telah dibangun di Kudu sebagai pengembangan tahap pertama

dari rencana pengembangan ke seluruh penyedia air bersih di Kota Semarang,

dimasa yang akan datang kapasitas produksi total di Kudu akan mencapai 2.250

l/dt dan sisanya 1.000 l/dt akan dibangun oleh swasta setelah kapasitas total sudah

dimaanfaatkan seluruhnya. Oleh karena itu, PDAM berperan dalam mengolah air

tersebut agar dapat dikonsumsi pelanggan sesuai standar air baku yang berlaku.

10
Gambar 2.1 Tahap Pengolahan Air PDAM Tirta Moedal.

Tahap tahap dalam memproduksi air sehingga layak untuk dikonsumsi, yaitu :

1. Sumber air baku

Sumber air baku diambil dari Bendungan Klambu di Sungai Serang yang

membentang sejauh kurang lebih 42 km. Bendungan Klambu terletak di Sungai

Serang kurang lebih 20 km di hilir Waduk Kedung Ombo. Di antara waduk dan

Bendungan Klambu terdapat Sungai Lusi dan Sungai Serang. Jadi, air yang

tertampung di Bendungan Klambu adalah campuran dari kedua sumber tersebut.

11
Selama musim hujan, Sungai Lusi memberi konstribusi air lebih besar sementara

pada musim kemarau air dari Kedung Ombo mengaliri Sungai Serang yang

menjadi relatif lebih penting. Pengambilan air dilakukan dengan menggunakan

saluran sepanjang 42 km ke sintake IPA Kudu.

2. Intake

Tempat penyaringan air baku yang dilengkapi dengan dua bar screen dan

under screen yang bertujuan untuk menyaring benda-benda terapung seperti

kotoran sampah dalam air dan untuk mencegah longsor masuk ke peralatan

instalasi. Bar screen untuk menyaring benda-benda kasar dan besar, sedangkan

under screen untuk menyaring benda yang berukuran kecil. Proses penyaringan di

Intake ini dimulai dari air baku di saluran Klambu yang mengalir secara gravitasi

ke sumur pemompaan dimana pompa-pompa intake terpasang. Kemudian dari

sumuran pompa air baku dialirkan langsung ke menara koagulasi untuk diolah

lebih lanjut secara fisik dan kimiawi. Level air kekeruhan dan Ph di intake

dipantau secara online. Pemompaan ke menara koagulasi dilakukan dengan 3

pompa (masing-masing 700 1/dt, 2 operasi, 1 cadangan).

3. Koagulasi

Pada tahap ini koagulan dicampurkan dan diaduk dengan air baku untuk

memulai pembentukan flok yang akan dipisahkan dari aliran air pada tahap

selanjutnya. Proses pemberian koagulan dilakukan untuk mengurangi gaya tolak-

menolak antar partikel koloid sehingga partikel koloid bisa bergabung dengan

flok-flok kecil. Proses koagulasi menggunakan alum atau Poly Aluminium

12
Chloride (PAC). Alum digunakan pada situasi kekeruhan rendah dalam dosis 25-

100 ppm, PAC pada dosis l2-50 ppm digunakan untuk kekeruhan tinggi. Besarnya

kebutuhan aliran dipantau dengan valve pengukur dan disebarkan ke kaskade

setinggi l,l meter. pH optimum yang dibutuhkan untuk koagulasi alum adalah

antara 6.7-70 nilai pH air yang keluar dari koagulator diukur secara online.

4. Flokulasi

Pada tahap flokulasi, flok-flok mikro yang dihasilkan pada tahap koagulasi

disatukan menjadi flok yang besar dan rapat sehingga mudah mengendap dan

dipisahkan melalui sedimentasi. Flokulasi terbentuk di dalam bak berbentuk

helikoidal. Air dialirkan secara gravitasi dari menara koagulasi ke unit-unit

flokulasi dari kedua kelompok modul. Input energi yang dibutuhkan untuk proses

flokulasi yang tepat akan dibuat dengan mengadakan headloss (hilangnya energi

akibat gesekan) di atas ruang unit flokulasi. Karena itu dibuat ruang flokulasi

helikoidal dengan aliran ke atas dan ke bawah dihubungkan satu sama lain dengan

katup penstock (pipa pesat untuk mengalirkan air ke turbin) yang dapat diatur.

Flok-flok mikro yang ditimbulkan oleh proses koagulasi akan tumbuh menjadi

flok yang dapat mengendap dengan baik untuk dipindahkan pada tahap

sedimentasi berikutnya.

5. Sedimentasi

Flok yang terbentuk dari proses flokulasi akan mengendap pada bak

sedimentasi. Bak sedimentasi dilengkapi tube shelter yang bertujuan untuk

mempercepat proses pengendapan. Air terflokulasi dialirkan di bawah tube packs

sepanjang unit sedimentasi dengan menggunakan kotak inlet berlubang. Hal ini

13
menghasilkan proses pemisahan aliran balik air yang dijernihkan mengalir ke arah

atas dan lumpur yang diendapkan bergerak ke bawah. Flok yang telah dipisahkan

dari air dikumpulkan dan diakumulasikan sebagai lumpur di dasar unit

sedimentasi. Setiap kantong penampung lumpur memiliki suatu saluran

pengeluaran dilengkapi dengan katup penguras yang dilengkapi dengan motor

penggerak cepat.

6. Filtrasi

Air yang telah dijernihkan kemudian disaring dengan unit saringan pasir

cepat melalui pasir silica. Saringan pasir cepat yang didesain dengan baik akan

menghasilkan keluaran dengan kekeruhan dibawah standar Indonesia untuk air

minum. Dengan filtrasi peningkatan level, inlet ke setiap filter saling dihubungkan

secara hidrolis. Pencucian dari tiap kompartemen dapat dilakukan dengan

pengaturan karena masing-masing filter tersebut akan dicuci secara berurutan.

Pencucian dilakukan berdasarkan pada waktu inspeksi rutin terhadap kinerja

masing-masing kompartemen filter dan pemantauan nilai kekeruhan pada air hasil

filtrasi. Untuk menjamin terlaksananya pencucian secara effective clan dengan

tepat, penggunaan dari tambahan scouring udara perlu digunakan. Disini

penambahan blower dilaksanakan untuk distribusi secara merata pada air dan

udara 16 backwash (pencucian balik tangki sand filter) diseluruh bagian bawah

dari filter bed, di dasar filter yang dilengkapi dengan nozel distribusi.

7. Disinfeksi /Chlorinasi

Pada tahap ini, air disaring dan dicuci terlebih dahulu sebelum masuk ke

dalam reservoar dan didistribusikan untuk keperluan tersebut dilakukan

14
pembubuhan disinfektan di stasiun intake (pra-klorinasi). Pembubuhan zat

disinfektan untuk membunuh bakteri yang mungkin ada, baik di reservoar,

jaringan pipa distribusi hingga sampai ke pelanggan. Dua macam zat yang dipakai

yaitu gas klorin dan kaporit.

8. Penampungan

Setelah melewati tahap filtrasi dan pembubuhan disinfeksi air bersih akan

dialirkan ke reservoar sebelum ditransmisikan dan didistribusikan. Untuk

mengimbangi antara produksi IPA dengan kebutuhan air, maka dibangun

reservoar berkapasitas 10.000 m3. Reservoar air bersih dibagi menjadi dua

kompartemen yang identik, sehingga produksi dapat terus berlangsung selama

kegiatan pemeriksaan dan perawatan. Seluruh reservoar ditutup untuk menjaga

masuknya material asing ke dalam air bersih. Bangunan tersebut terbagi atas dua

kompartemen terpisah. Tingkat kekeruhan dan pH yang masuk dan kandungan

klorin yang keluar dipantau secara online. Air bersih yang ditampung di reservoar

akan didistribusikan ke masyarakat melalui zona timur dan Kedung Mundu.

D. Pengertian Pompa Intake Air Baku

Pompa intake merupakan saluran pertama yang dilalui air baku setelah

melewati penyaringan kasar secara otomatis penangkapan kotoran sampah di

dalam air. Struktur intake air baku didesain untuk menanggulangi kapasitas

maksimum yang akan datang sebesar 2.500 1/dt. Dalam tahap pertama, instalasi

Kudu memerlukan aliran masuk sebesar 1.400 1/dt, untuk memperoleh produksi

bersih sebesar 1.250 1/dt.

15
Gambar 2.2. Bendungan Klambu

Air baku di saluran Klambu akan mengalir secara gravitasi ke sumur pemompaan

dimana pompa-pompa intake dipasang. Sumur pompa didesain sangat detail

sehingga :

1. Pengendapan padatan melayang dekat bangunan intake diminimalkan;

2. Sampah-sampah yang melayang tidak dapat masuk ke dalam sumur pompa;

3. Mudah untuk dibersihkan;

4. Pompa yang dibutuhkan saat ini dan yang akan datang dapat ditempatkan;

5. Aliran air laminer ke arah pompa.

Gambar 2.3. Air Baku

16
Gambar 2.4. Ilustrasi Pompa Intake (sumber: Buku Momerandum Kudu, 2001).

Kapasitas pompa intake yang dipasang di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu

yaitu :

1. Total jumlah pompa : 3 (2 operational, 1 stand-by)

2. Kapasitas per pompa : 700 1/dt

3. Head : 18 m.k.a.cukup untuk mencapai struktur koagulasi

4. Catur daya listrik : 250 KW

5. Tipe : pompa turbin vertikal.

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian intake baku:

1. Perlunya pembersihan saringan

2. Pompa running

3. Pengaturan debit (mengatur bukaan valve dan resirkulasi)

17
4. Hubungannya dengan tahap proses selanjutnya.

Pompa intake didesain beroperasi 2 unit sedangkan unit ke 3 stand-by,

antara pompa operasi dan pompa stand-by dilakukan rotasi pengoperasian

sehingga semua pompa mempunyai jam operasi yang sama. Pompa intake

berfungsi untuk memompa air baku ke menara koagulasi. Larutan desinfektan

diinjeksikan pada pipa utama (pra-klorinasi) untuk mencegah berkembang

biaknya organisme yang merugikan pada proses pengolahan tahap selanjutnya.

Total laju aliran diukur oleh sebuah flowmeter yang dipasang pada pipa utama.

Gambar 2.5. Pompa Intake P102

Peralatan- peralatan yang terkait pada saat pengoperasian pompa intake yaitu:

1. Saluran Kelambu berfungsi sebagai sarana transportasi air baku dari

Bendungan Kelambu menuju instalasi Kudu.

18
2. Penyaringan semi otomatis berfungsi sebagai pengaman tahap pertama

bangunan air baku dari sampah dan kotoran lainnya.

3. Penyaringan permanen berfungsi sebagai pengaman bangunan penyedot air

baku dari sampah dan kotoran lainnya yang mungkin saja masih lolos pada

penyaring tahap pertama.

4. Pompa air baku berikut elektromotor untuk memompa air baku dengan laju

aliran tertentu menuju menara koagulasi.

5. Butterfly valve untuk mengatur laju aliran air baku sehingga pompa bekerja

optimal.

6. Check Valve berfungsi sebagai katup penutup aliran air balik ke arah pompa

apabila pompa tidak diaktifkan.

7. Panel COS (Change Over Switch) berfungsi sebagai alat pemindah aliran

listrik apakah aliran listrik tersebut berasal dari PLN atau Genset.

8. Panel MCC (Motor Control Center) pompa air baku berfungsi sebagai alat

pendistribusian aliran listrik untuk semua pompa air baku dan sebagai alat

pengaktif dan nonaktifkan pompa intake.

9. Panel pengamanan pompa intake berfungsi sebagai alat pemutus aliran listrik

panel MCC ke pompa sehingga pompa tidak dapat dioperasikan dari panel

MCC. Panel ini difungsikan bila sedang ada perbaikan pompa.

10. Pressure Switch adalah alat yang digunakan untuk memberikan sinyal on atau

off pada system selanjutnya.

19
Untuk memudahkan pengukuran setiap pompa intake dilengkapi dengan alat-alat

pengukur yang terpasang pada setiap pompa. Adapun alat-alat pengukur yang

terpasang pada stasiun pompa intake antara lain:

a. Sebuah meter untuk mengukur muka air;

b. Sebuah pengukur kekeruhan untuk menentukan mutu air baku;

c. Sebuah pengukur pH untuk menentukan mutu air baku;

d. Sebuah flow meter di pipa outlet utama;

e. Sebuah Pressure Switch di pipa outlet utama dari tiap pompa.

Gambar 2.6. Pompa Intake P101 & P102

E. Saringan Intake

Saringan intake dipasang tepat di depan pompa intake harus sering

dibersihkan dari sampah-sampah yang mengapung. Jika tidak dibersihkan maka

sampah akan menghambat lajunya aliran air baku dan pompa akan beroperasi

pada level air yang rendah, sampah terhisap oleh pompa dan akan merusak

impeller atau pengaduk pada pompa atau akan terjadi kavitasi. Sangat dianjurkan

20
untuk dilakukan pembersihan dan pengecekan harian pada saat start-up terutama

pada saat pergantian musim. Selain saringan intake bellmouth dan footscreen

pompa juga diperiksa secara berkala hal ini untuk menjaga keselamatan.

Gambar 2.7. Bar Sreen

F. Pengaturan Debit Pompa Intake

Masing masing pompa beroperasi dengan efisiensi optimal pada debit 700

1/s. Debit masing-masing pompa dapat diatur dengan bukaan butterfly valve pada

bagian pipa tekan. Perbedaan tekanan antara pipa hisap dan pipa tekan, debit

aktual dapat diperkirakan dengan membaca kurva pompa. Total debit diukur oleh

flow meter. Menurunkan debit masing-masing pompa dibawah 550 1/s dengan

cara throtling valve (mencekik) sangat tidak dianjurkan, karena efisiensi daya 26

watt pompa akan turun drastis dan dapat merusak pompa (vibrasi tinggi). Apabila

IPA harus beroperasi dibawah 550 1/s, maka pompa beroperasi pada 550 1/s dan

21
drain pada tekanan header harus dibuka sehingga kelebihan debit akan disirkulasi

kembali ke intake.

Gambar. 2.8. Alat Flowmeter

G. Perawatan Pompa Intake

Kegiatan pemeliharaan atau perawatan dapat diklasifikasikan dalam 2 tindakan:

1. Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilakukan secara rutin dan

merupakan pembiayaan habis pakai guna menjaga usia pakai unit SPAM

(Sistem Penyedia Air Minum) yaitu pompa intake tanpa penggantian

peralatan atau suku cadang. Pemeliharaan rutin dilakukan berdasarkan

manual dari fabrikan, serta SOP pemeliharaan rutin yang telah ditetapkan

perusahaan.

2. Pemeliharaan berkala adalah pemeliharaan yang dilakukan secara periodik,

dan memerlukan biaya tambahan untuk penggantian peralatan atau suku

cadang guna memperpanjang usia pakai unit. Pemeliharaan berkala

memerlukan waktu yang lebih panjang dalam periode bulanan, triwulan, atau

22
tahunan. Pemeliharaan berkala dilakukan berdasarkan manual dari fabrikan,

serta SOP pemeliharaan berkala yang telah ditetapkan perusahaan.

Selain itu pemeliharaan dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu

pemeliharaan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan. Pemicu dan

sasaran dari kedua kategori ini berbeda.

1. Pemeliharaan yang direncanakan (pencegahan/preventif).

a) Tindakan perawatan yang dilakukan agar keberhasilan serta kondisi dari

semua sarana dan prasarana (peralatan, struktur, dll) tetap terjaga;

b) Dilaksanakan sesuai jadwal yang telah disusun sebelumnya (pemeliharaan

rutin dan pemeliharaan berkala);

c) Pemeliharaan dilaksanakan berdasarkan kondisi sarana dan prasarana yang

merupakan kesimpulan dari suatu evaluasi kinerja sarana dan prasarana unit

tertentu atau bagiannya, seperti overhaul pompa, pemeliharaan perbaikan

hidran kebakaran dan sejenisnya;

d) Melakukan pemantauan efektivitas secara berkesinambungan terhadap

pekerjaan pemeliharaan yang bersifat preventif, untuk selanjutnya menjadwal

ulang kegiatan sehingga dapat meningkatkan efisiensi;

2. Pemeliharaan tidak direncanakan (kerusakan, darurat).

a) Tindakan untuk memperbaiki sebagai respon akibat terjadinya kerusakan atau

gangguan pelayanan, seperti kebocoran pipa, atau rusaknya pompa, yang

tidak diperkirakan sebelumnya;

b) Sejauh mungkin harus sudah disusun prediksi terjadinya kerusakan yang

tidak direncanakan, sehingga bila kerusakan terjadi maka telah memiliki

23
prosedur tetap dalam tindakan untuk mengatasi kerusakan tersebut. Hal yang

penting adalah untuk selalu memelihara kontak dengan pihak yang mampu

menanggulangi keadaan darurat, internal dan kontraktor. Miliki data sub

kontraktor untuk keperluan pemeliharaan;

c) Menyediakan peralatan yang memadai dan suku cadang tertentu yang

diperlukan untuk mengganti bagian-bagian yang biasa rusak. Kumpulkan data

dan supplier peralatan, bahan dan suku cadang;

d) Sasaran utama dari penanggulangan kerusakan adalah untuk sesegera

mungkin memperbaiki kerusakan dengan cara yang paling ekonomis secara

permanen atau kadang-kadang perlu diatasi secara darurat sampai dilakukan

penanggulangan ataupun penggantian;

e) Sekali suatu kerusakan telah diidentifikasi, program perbaikan harus segera

disusun sebelum timbulnya resiko yang lebih berat atau akibat kerusakan

menjadi lebih mahal atau fatal;

f) Dalam menyusun jadwal perbaikan, perlu dirancang untuk menggunakan

sumber daya seefisien dan seefektif mungkin. Misal dengan melakukan

koordinasi untuk secara bersamaan memperbaiki berbagai kerusakan di lokasi

yang sama;

g) Lakukan pencatatan frekuensi kerusakan serta biaya kegiatan perbaikan,

sehingga dapat menjadi masukan bagi pengambil keputusan.

Dalam perawatan pompa ada bagian yang perlu diperiksa beserta jangka

waktu yang harus diperhatikan. Ketentuan ini dipakai sebagai dasar untuk

melakukan pemeriksaan rutunitas. Kondisi mesin pada saat pemeriksaan akan

24
dibandingkan dengan kondisi mesin yang diperiksa sebelumnya. Adapun

frekuensi perawataan mesin pompa adalah sebagai berikut:

1. Perawatan harian :

Hal-hal yang diperiksa setiap hari adalah sebagai berikut:

a) Pengecekan kebocoran, suara yang tidak wajar dan getaran pada pompa;

b) Pengecekan temperatur permukaan rumah bantalan dan rumah pompa (dilihat

dengan alat Contact Temperatur tidak boleh melebihi 100 derajat celcius);

c) Pengecekan Head pompa (penunjukan manometer dan vakummeter);

d) Pengecekan arus listrik 285-345 A (dibaca pada ampermeter).

2. Perawatan mingguan:

a) Pemeriksaan shaft sealing atau poros pencegah terjadinya kebocoran air

melalui pompa pada saat pompa hidup atau mati.

b) Packing yaitu jumlah tetesan air akan berguna untuk pendinginan dan

pelumasan packing dan shaft sleeve atau adapter yang berbentuk selongsong

yang terpasang pada poros. Umumnya sekitar 40-60 tetesan/menit sudah

dianggap cukup. Bila pompa bekerja pada putaran yang lebih tinggi maka

perlu jumlah tetesan yang lebih banyak. Jika perlu variasikan jumlah tetesan

dengan cara mengatur packing follower. Jika pengaturan tersebut tidak

memberikan efek, ganti packing ring.

c) Kerusakan (wear) shaft sleeve tidak disebabkan oleh tetesan air. Cek juga

banyaknya aliran air lewat sebuah sambungan flushing.

d) Cek temperatur bearing dengan menempelkan alat Contact Temperatur pada

bagian housing atau blok mesin dan amati suhunya. Temperatur tidak boleh

25
melebihi 1000C. Temperatur yang berlebihan dapat disebabkan oleh

pelumasan yang kurang, pelumasann yang berlebihan mengakibatkan bearing

rusak atau alignment rusak.

3. Perawatan setiap 6000 jam operasioal atau setelah 1 tahun:

Pembersihan atau pelumasan gemuk, maksimun temperatur 100 0C, tetapi

saat suhu mencapai 70 0C sudah terjadi penurunan umur pakai gemuk. Semua area

terbuka pada bearing harus dilapisi dengan gemuk. Sekitar 30-50 % area terbuka

terdapat pada bearing housing.

Data pengukuran pompa transmisi dan distribusi di antaranya:

a) Pompa distribusi kode 606

1. Temperatur
a. T1 (Bagian Depan) : 53 0C
b. T2 (Bagian Tengah) : 58 0C
c. T3 (Bagian Belakang) : 44 0C
d. T Rata-rata : 51,6 0C
2. Getaran
a. Getaran Bearing Motor
- Velocity ( V ) :2,7 m/s
- Acceleration (a) :10,1 m/s2
b. Getaran Bearing Pompa
- Velocity ( V ) :2,9 m/s
- Acceleration (a) :2,7 m/s2
3. Putaran Pompa : (Belum dipasang indikator
pengukuran)
4. Debit :497 Liter/ menit = 0,49 m3/s
5. Pressure :2,0 Bar
6. Power
a. Alat Ukur

26
1) Daya ( KW) :128,7 KW
2) Daya (KVA) :167,7 KVA
3) Daya (KVAR) :131,2 KVAR
4) Arus Listrik :307,6 A
b. Display Panel
1) Daya (KW) :127 KW
2) Arus Listrik :280 A

b) Pompa transmisi kode 609


1. Temperatur
a. T1 (Bagian Depan) :55 0C
b. T2 (Bagian Tengah) :57 0C
c. T3 (Bagian Belakang) :52 0C
d. T Rata-rata :54,6 0C
2. Getaran
a. Getaran Bearing Motor
- Velocity ( V ) : 2,9 m/s
- Acceleration (a) : 8,9 m/s2
b. Getaran Bearing Pompa
- Velocity ( V ) : 4,8 m/s
- Acceleration (a) : 2,4 m/s2
3. Putaran Pompa : 1497, 0 rpm
4. Debit : 240 Liter/menit = 0,24 m3/s
5. Pressure : 6,70 Bar
6. Power
a. Alat Ukur
1) Daya ( KW) :178 KW
2) Daya (KVA) :211 KVA
3) Daya (KVAR) :113,8 KVAR
4) Arus Listrik :325 A
b. Display Panel

27
1) Daya (KW) :189 KW
2) Arus Listrik :238 A

c) Pompa transmisi kode 610


1. Temperatur
a. T1 (Bagian Depan) :56 0C
b. T2 (Bagian Tengah) :62 0C
c. T3 (Bagian Belakang) :51 0C
d. T Rata-rata :56,3 0C
2. Getaran
a. Getaran Bearing Motor
- Velocity ( V ) :2,1 m/s
- Acceleration (a) :5,2 m/s2
b. Getaran Bearing Pompa
- Velocity ( V ) :2,9 m/s
- Acceleration (a) :3,3 m/s2
3. Putaran Pompa :1488 rpm
4. Debit :240 Liter/menit = 0,24 m3/s
5. Pressure :6,70 Bar
6. Power
a. Alat Ukur
1) Daya ( KW) :207 KW
2) Daya (KVA) :239,2 KVA
3) Daya (KVAR) :118,6 KVAR
4) Arus Listrik :367 A
b. Display Panel
1) Daya (KW) :213 KW
2) Arus Listrik :386 A

28
H. Rehabilitasi Pompa Intake

Rehabilitasi sarana dan prasarana adalah perbaikan atau penggantian sebagian

atau seluruh unit, yang perlu dilakukan agar dapat berfungsi secara normal

kembali. Rehabilitasi dilaksanakan apabila unit dan komponen pompa intake

sudah tidak dapat beroperasi secara optimal. Rehabilitasi meliputi :

1. Rehabilitasi sebagian adalah perbaikan unit agar berfungsi sesuai dengan

ketentuan yang direncanakan, bersifat memperbaiki kinerja dan tidak

meningkatkan kapasitas. Rehabilitasi sebagian dilakukan apabila salah satu

komponen dalam unit air baku, unit produksi dan jaringan transmisi, unit

distribusi, atau unit pelayanan, mengalami penurunan fungsi dan memerlukan

perbaikan atau penggantian suku cadang.

2. Rehabilitasi keseluruhan meliputi penggantian salah satu atau seluruh unit

agar berfungsi secara normal. Rehabilitasi keseluruhan dilakukan apabila

salah satu atau seluruh unit air baku, unit produksi dan jaringan transmisi,

unit distribusi, atau unit pelayanan, mengalami penurunan fungsi dan/atau

sudah melebihi umur teknis.

I. Pengecekan Pompa Intake

Pengecekan umum dilakukan untuk menjaga kualitas pada pompa intake.

Sebelum pompa intake dioperasikan, operator harus melakukan proses

pengecekan. Adapun tahap- tahap pengecekan sebagai berikut:

1. Peralatan penyaringan 1 dan 2 jangan ada sampah;

2. Pastikan level muka air tidak pada posisi minimum;

3. Pastikan stop log tidak mengganggu laju aliran air baku;

29
4. Pastikan panel pengaman pompa pada posisi unlock.

1) Pemeriksaan tiga bulan

Pemeriksaan yang diadakan setiap 3 bulan dan penggantian minyak di dalam

bantalan dan pemeriksaan gemuk (gemuk diganti jika sudah buruk).

2) Pemeriksaan enam bulan

Setiap 6 bulan diadakan pemeriksaan sebagai berikut:

a. Pemeriksaan packing tekan dan selubung poros (jika pada selubung poros

terlihat alur-alur dalam karena keausan, paking dan selubung poros harus

diganti);

b. Keadaan kopling kaku antara poros pompa dan poros motor (jika kelurusan

banyak menyimpang dari harga yang ditentukan pada waktu pompa

dipasang).

3) Pengecekan setiap 6000 jam operasioal atau setelah 1 tahun.

Pengecekan pompa setelah 1 tahun yaitu pemeriksaan bearing , dengan

membersihkan gemuk (grease) dan sisa-sisa oli yang melekat pada bearing dan

rumah bearing kemudian cuci komponen tersebut dengan cairan asam non parafin

dan oleskan gemuk dan oli yang baru.

4) Pemeriksaan lima tahunan

Hal-hal yang diperiksa selama lima tahun adalah sebagai berikut:

a) Keausan pada bagian-bagian yang berputar terutama besarnya celah pada

cincin perapat (wearing ring);

b) Korosi di dalam rumah pompa;

30
c) Keadaan katup-katup dengan bagian yang bergerak seperti katup cegah dan

katup hisap;

d) Kelurusan poros (harus dilakukan pelurusan kembali setelah pompa dipasang


dan dibongkar).

BAB III

ANALISIS HASIL STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN

PIPA INTAKE DI PDAM TIRTA MOEDAL

Standar operasional prosedur pada perawatan, rehabilitasi dan pengecekan

pompa intake di PDAM Tirta Moedal produksi II Kudu sebenarnya sudah baik,

akan tetapi belum terlaksana sesuai dengan prosedurnya. Berdasarkan sistem

penyediaan air minum (SPAM), bahwa PDAM Tirta Moedal sudah mencukupi

kebutuhan air dengan kontinuitas memasok air dalam jangka panjang. Namun

demikian masih perlu ditingkatkan manajemen pemeliharaan sarana dan prasarana

SPAM agar dapat meminimalisir biaya pemeliharaan sesuai dengan pemikiran

yang komprehensif sehingga sarana dan prasarana yang dimiliki dengan biaya

seminimal mungkin dapat memberikan nilai manfaat yang maksimum. Adapun

tujuan dari pemeliharaan untuk memastikan bahwa sarana dan prasarana SPAM

tersebut selalu siap bekerja sesuai dengan desainnya dan menjaga umur sarana dan

prasarana SPAM. Apabila manajemen pemeliharaan sarana dan prasarana SPAM

dilaksanakan dengan baik, maka hal ini akan meningkatkan cakupan dan kualitas

pelayanan, serta meningkatkan kinerja perusahaan (PDAM). Beberapa faktor yang

31
menyebabkan pemeliharaan sarana dan prasarana SPAM tidak berjalan baik,

antara lain:

a) Tidak ada dukungan manajemen puncak. Manajemen tidak memahami

pentingnya pemeliharaan.

b) Kurangnya pengetahuan dalam hal pemeliharaan sarana dan prasarana

SPAM.

c) Cara pandang yang pendek, misal lebih mementingkan penghematan yang

kecil-kecil.

d) Sumber daya yang tidak mencukupi.

e) Pemeliharaan dikesampingkan dan lebih diutamakan pembangunan

konstruksi baru.

Efisiensi kerja yang baik diperlukan terhadap sarana prasarana kritis yang

membutuhkan pengawasan terus menerus sehingga dicapai pemakaian yang

optimal dan sepadan dalam mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh sebab itu

diperlukan perawatan harian, akan tetapi selain perawatan harian sebaiknya

melakukan pengecekan debit air untuk mengidentifikasi sumber kebocoran.

Perawatan pompa ada bagian yang perlu diperiksa beserta jangka waktu yang

harus diperhatikan. Tingkat dan frekuensi perawatan sangat ditentukan pada

media yang dipompakan, kondisi ambien, beban yang terjadi pada pompa dan

instalasi. Pengecekan lainnya seperti temperatur bearing tidak boleh melebihi 100
o
C, dan hasil rata-rata pengecekan temperatur pada ketiga pompa yang dilakukan

antara lain: pompa distribusi kode 606 sebesar 51,6 oC, pompa transmisi kode 609

sebesar 54,6 oC, pompa transmisi kode 610 sebesar 56,3 oC.

33
Temperatur yang berlebihan dapat disebabkan karena pelumasan yang

kurang tepat dan bearing rusak, sedangkan pelumasan yang baik umumnya sekitar

40-60 tetesan/menit sudah dianggap cukup dan hal tersebut akan berpengaruh

pada kinerja putaran pompa. Adapun ilustrasi pengoperasian pompa intake air

baku, yaitu :

Jadwal minimal pengoperasian pompa yaitu :

Tabel 3.1. Jadwal Minimal Pengoperasian Pompa


Minggu Pompa operasi Pompa Stand-by
I P 101 P 102, P 103
II P 102 P 101, P 103
III P 103 P 101, P 102
Maksimal pengoperasian pompa yaitu :

Tabel 3.2. Jadwal Maksimal Pengoperasian Pompa


Minggu Pompa Operasi Pompa Stand-by
I P 101, P 102 P 103
II P 101, P 103 P 102
III P 102, P 103 P 101

Guna menjaga kualitas dan kuantitas pompa intake, proses pengoperasian

pompa harus sangat diperhatikan. Hal ini berguna untuk menjaga umur pompa.

Kegiatan operasi dan perawatan hanya dilakukan oleh personil yang terlatih dan

memenuhi syarat, ditambah dengan pemantauan dan pengarahan dari ruang

pengendali pusat. Tugas-tugas yang sulit dilakukan oleh lebih dari satu orang

operator agar tidak terjadi kecelakaan seperti terpeleset dan lain-lain.

BAB IV

PENUTUP

34
A. Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan di

PDAM Tirta Moedal Produksi II Kudu Semarang dengan tujuan mengetahui dan

memahami standar operasional prosedur perawatan, rehabilitasi dan pengecekan

pompa intake adalah proses pemeliharaan atau perawatan pompa intake di PDAM

sudah baik, dan ada beberapa perawatan yang dikerjakan antara lain: perawatan

harian, perawatan mingguan dan perawatan setelah satu tahun. Adapun

pengecekan terhadap pompa intake yang dikerjakan antara lain: pemeriksaan

setiap tiga bulan, pemeriksaan setiap enam bulan, pemeriksaan setelah satu tahun,

dan pemeriksaan lima tahunan.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan dalam kegiatan PKL di PDAM Tirta Moedal

Produksi II Kudu Semarang berdasarkan proses yang sudah dilakukan selama

kegiatan yaitu sebagai berikut:

1) Pemeliharaan dan pemeriksaan pompa intake seharusnya dikerjakan sesuai

dengan Standard Operasional Procedure yang sudah ditetapkan sebagai

pedoman.

2) Pekerjaan pemeriksaan dan pemeliharaan diharapkan tidak hanya dilakukan

oleh teknisi akan tetapi perlunya pendampingan oleh supervisor.

3)

DAFTAR PUSTAKA

36
Memorandum Teknis IPA Kudu. 2001. Technical Memorandum Water Treatment
Plant Kudu. Semarang .

Operation Manual Book IX. 2000. Pumping Station and Reservoir_Kudu and
Pumping Station and Resorvoir _Kedung Mundu. Semarang.

LAMPIRAN

1. Surat Permohonan PKL

37
38
38

2. Surat Tugas Dosen Pembimbing


39

3. Surat Bukti Pendaftaran Kelompok PKL


40

4. Surat Penerjunan PKL

5. Surat Pengantar dari PDAM Tirta Moedal Semarang


41

6. Surat Penarikan Mahasiswa PKL


42

7. Daftar Hadir dan Kegiatan PKL


43

Lanjutan Daftar Hadir dan Kegiatan PKL


44

8. Dokumentasi Kegiatan
45
46
47

9. Surat Keterangan Selesai PKL