Anda di halaman 1dari 21

Kode Dokumen : PMKP-8/015/2017

Kode Dokumen : PMKP-8/015/2017 Panduan RCA dan FMEA 2016 Panduan Root Cause Analysis (RCA) & Failure,

Panduan RCA dan FMEA

2016

Panduan Root Cause Analysis (RCA) & Failure, Mode And Effect Analysis (FMEA) ini menjabarkan bagaimana tahapan melakukan RCA & FMEA, sebagai bentuk Komitmen RS dalam Keselamatan Pasien dan dibuat oleh Komite Mutu dan Keselamatan RS

RSUD

Lasinrang

Kabupaten

Pinrang

PANDUAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

SK DIREKTUR NO:

TAHUN 2016

Tindakan

Nama

Jabatan

Tandatangan

 

Tanggal

Disiapkan

Ruslan M, S.Kep., NS., M.Kep.

Ketua Komite Mutu dan Keselamatan RS

 

2 Juli 2016

Diperiksa

H. Muh. Assidiq, SKM., M.Kes.

Sekertaris RS

 

27

Juli 2016

   

Direktur RSUD

   

Disetujui

dr. H. Makbul Tapa, M.Kes.

Lasinrang

27

Juli 2016

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD LASINRANG NOMOR: /KEP/RSUL/III/2016 TENTANG PANDUAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) DAN FAILURE MODE

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD LASINRANG

NOMOR:

/KEP/RSUL/III/2016

TENTANG

PANDUAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

DIREKTUR RSUD LASINRANG KABUPATEN PINRANG,

Menimbang : a. bahwa RSUD Lasinrang senantiasa berupaya meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan rumah sakit secara berkesinambungan, mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku;

 

b.

menindaklanjuti Surat Keputusan Direktur RSUD Lasinrang No. 25 tahun 2015 tentang Pembentukan Komite Mutu dan Keselamatan Pasien RS;

c.

bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan rumah sakit, RSUD Lasinrang menerapkan standar pelayanan bermutu, mengacu pada standar akreditasi rumah sakit yang berlaku secara nasional dan internasional;

d.

bahwa untuk mengukur keberhasilan perencanaan peningkatan mutu dan keselamatan pasien rumah sakit, serta menentukan langkah kegiatan perbaikan mutu dan keselamatan pasien, perlu ditetapkan buku pedoman pengorganisasian Komite Mutu dan Keselamatan RS;

e.

bahwa sehubungan dengan pernyataan pada butir a, b, c dan d tersebut diatas, maka diperlukan adanya kebijakan tentang “Panduan Root Cause Analysis (RCA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)” yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD Lasinrang.

Mengingat

:

1.

Undang-undang

RI

Nomor

29

tahun

2004

tentang

Praktik

 

Kedokteran.

 

2.

Undang-undang Pelayanan Publik Nomor 25 tahun 2009.

 

3.

Undang-undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

4.

Undang-undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

5.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Tahun 2005 nomor 48, Tambahan Lembaran Negara nomor

 

4502).

 

6.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MENKES/Per/IX/2010 Tentang Standar Pelayanan Kedokteran

7.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

 

1691/Menkes/Per/VIII/2011

Tentang Keselamatan Pasien Rumah

Sakit

 

8.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.

9.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 28 tahun 2004 tentang Akuntabilitas Pelayanan Publik.

10.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.

11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1087/MENKES/SK/VIII/2010 Tentang Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit 12. Keputusan Bupati Pinrang Nomor : 435/342/2015 tanggal 14 Juli 2015 tentang Pengangkatan Dewan Pengawas Rumah Sakit Umum Daerah Lasinrang Pinrang. 13. Buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety) edisi ke 2 Departemen Kesehatan RI/ KKP-PERSI tahun

2008.

14. Peraturan Bupati Pinrang No. 12 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal RSUD Lasinrang Kabupaten Pinrang

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD LASINRANG TENTANG PANDUAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

Kesatu : Panduan ini adalah acuan utama dalam melakukan Investigasi Insiden Keselamatan Pasien (IKP) Rumah Sakit oleh Tim RCA dan FMEA yang telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Diretur RSUD Lasinrang;

Kedua

: Setelah ditetapkannya keputusan ini, maka Tim Investigasi RCA dan FMEA yang telah ditunjuk menyusun Standar Prosedur Operasinal (SPO), Instruksi Kerja (INK) dan dokumen lain terkait Investigasi Insiden Keselamatan Pasien RS;

Ketiga

: Segala biaya yang timbul dari diterbitkannya kebijakan ini sepenuhnya

dibebankan dalam RAB RSUD Lasinrang Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dan ditinjau setahun sekali.

Ditetapkan di Pinrang Pada tanggal 27 Juli 2016

Direktur RSUD Lasinrang,

MAKBUL TAPA

KATA PENGANTAR

Keselamatan pasien merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien agar lebih aman. Hal ini termasuk asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Sebagai bentuk komitmen dan keterlibatan seluruh staf pada keselamatan pasien, maka seluruh staf di RSUD Lasinrang harus mampu untuk melakukan manajemen ris i ko untuk pengelolaan insiden. Panduan Root Cause Analysis (RCA) & Failure, Mode And Effect Analysis (FMEA) ini menjabarkan bagaimana tahapan melakukan RCA & FMEA, dilengkapi dengan contohnya ya ng pernah dibuat oleh Komite Mutu dan Keselamatan RS.

Pintrang, Juli 2106.

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PERSETUJUAN

ii

DASAR KEBIJAKAN

1

KATA PENGANTAR

3

DAFTAR ISI

4

BAB I PENDAHULUAN

5

BAB II ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)

6

A. Pengertian Root Cause Analysis (RCA)

6

B. Langkah-langkah Root Cause Analysis (RCA)

6

C. Tahapan Melakukan Root Cause Analysis (RCA)

7

BAB III FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

13

A. Pengertian Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

13

B. Tahapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

14

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

19

BAB I

PENDAHULUAN

Upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di RSUD Lasinrang dilakukan dengan menggunakan pendekatan proaktif dalam melaksanakan manajemen resiko disemua unit. Alat-alat manajemen resiko yang digunakan terdiri dari :

1. Non statisticaltools : untuk mengembangkan ide, mengelompokkan, memprioritaskan dan memberikan arah dalam pengambilan keputusan. Alat-alat tersebut meliputi fish bone, bagian air, RCA, dan FMEA.

2.

Statiscal tools seperti Diagram Pereto, lembar periksa (check sheet).

Perbedaan RCA dengan FMEA, yaitu RCA merupakan pendekatan analisis sistem yang reaktif sementara FMEA merupakan pendekatan proaktif untuk mencegah kegagalan sistem.

Persamaan RCA dengan FMEA, yaitu :

Harus ada komitmen pimpinan.

Bertujuan mengurangi kemungkinan cidera yang akan terjadi.

Mencakup identifikasi kondisi-kondisi yang menimbulkan cidera.

Merupakan metode analisis non statistical.

Merupakan aktifitas sebuah tim yang memerlukan dukungan SDM, waktu, material dan penunjang lainnya.

RCA dan FMEA saling berhubungan, bagian pendekatan yang satu dapat digunakan pada bagian pendekatan yang lainnya. FMEA dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi perubahan strategi hasil analisa dengan RCA. Pendekatan FMEA dapat melihat titik-titik potensial kegagalan berbagai proses dan kemudian mengidentifikasi kegagalan-kegagalan baru yang ditimbulkan dari penerapan proses baru. RCA dapat digunakan untuk mengidentifikais proses-proses mana saja yang membutuhkan FMEA dan kemudian menentukan akar permasalahan secara spesifik.

BAB II ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)

A. Pengertian

Root Cause (akar masalah), akar atau isu fundamental, adalah titik awal dimana bila pada titik tersebut diambil suatu tindakan (pencegahan) maka peluang terjadinya insiden akan berkurang. RCA diterapkan pada kejadian resiko tinggi, berdampak luas yaitu semua KTD dan Sentinel. Apabila terjadi insiden lain seperti KTC, KNC, dan KPC cukup dilakukan investigasi sederhana. Setian proses pengelolaan insiden harus dapa menetapkan tingkat investigasi dan tindakan yang diperlukan.

RS memastikan bahwa seluruh staf yang terkait mampu melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa maslah terjadi untuk kemudian menyusun rencana tindak lnjutnya. RCA dilakukan oleh Tim RCA, sementara komite Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien bertanggung jawab untuk :

Mengingatkan untuk dilaksanakannya RCA.

Mengatur Penyelenggaraan suatu investigasi.

Mengelola tim RCA.

Pelaporan secara organisatoris dan memonitor tindak lanjut upaya pengurangan resiko.

Koordinasi program RCA.

Evaluasi program RCA.

B. Langkah-langkah Root Cause Analysis (RCA)

1. Identifikasi Insiden Yang Akan Di Investigasi

2. Tentukan Tim Investigator

3. Kumpulan Data dan Informasi

Observasi

Dokumentasi

Interview

4. Petakan Kronologi Kejadian

Narrative Chronology

Timeline

Tabular Timeline

Time Person Grid

5. Identifikasi CMP (Care Management Problem)

Brainstroming, bainwriting

6. Analisis Informasi

5 Why's

Analisis Perubahan

Analisis Penghalang

Fishbone / Analisis Tueang Ikan

7. Rkomendasi dan Rencana Kerja Untuk Improvement

C. Tahapan Melakukan Root Cause Analysis (RCA)

LANGKAH 1 dan 2 : Identifikasi insiden dan tentukan tim, dengan menggunkan form seperti dibawah ini :

INSIDEN :

Ketua :

Anggota : 1.

4.

2.

5.

3.

6.

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sesudah diwakili

TIDAK

dalam tim tersebut ? YA

TIDAK

Siapa yang menjadi Notulen ? Tanggal dimulai

LANGKAH 3

Tanggal dilengkapi

: Kumpulkan data & informasi

Dengan menggunakan form seperti dibawah ini :

Observasi langsung :

Dokumentasi

:

2.

3.

4.

5.

Interview (Dokter/Staf yang terlibat) :

1.

2.

3.

4.

5.

LANGKAH 4

:

Petakan

kronologi

kejadian

bantuan beberapa form dibawah ini :

FORM TABULAR TIMELINE

dengan

menggunakan

WAKTU/KEJADIAN KEJADIAN INFORMASI TAMBAHAN Good Practice MASALAH PELAYANAN
WAKTU/KEJADIAN
KEJADIAN
INFORMASI TAMBAHAN
Good Practice
MASALAH PELAYANAN

LANGKAH 5 : Identifikasi care management programs

FORM MASALAH/CARE MANAGEMENT PROBLEM (CMP)

 

MASALAH

INSTRUMENT/TOOLS

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.

 
 

LANGKAH 6 : Analisis perubahan, dengan beberapa cara :

FORM TEKNIK 5 MENGAPA (5 why's)

 

MASALAH

INSTRUMENT/TOOLS

1.

Mengapa

 

2.

Mengapa

 

3.

Mengapa

 

4.

Mengapa

 

5.

Mengapa

 

FORM ANALISIS PERUBAHAN

PROSEDUR YANG NORMAL (SOP) PROSEDUR YANG DILAKUKAN SAAT INSIDEN APAKAH TERDAPAT BUKTI PERUBAHAN DALAM PROSES
PROSEDUR
YANG NORMAL
(SOP)
PROSEDUR YANG
DILAKUKAN SAAT
INSIDEN
APAKAH
TERDAPAT BUKTI
PERUBAHAN
DALAM PROSES

FISH BONE / ANALISIS TULANG IKAN

Adalah alat untuk menggmbarkan penyebab-penyebab suatu masalah secara

rinci. Diagram tersebut memfasilitasi proses identifikasi masalah sebagai langkah awal

untuk menentukan fokus perbaikan, menggambarkan ide pengumpulan data, menggali

penyebab terjadinya masalah dan menganalisa masalah tersebut. Untuk pengisisan

diagram fish bone ini dilakukan dengan melihat faktor-faktor kontributor.

Fish Bone / Analisis tulang ikan

faktor pasien

kontributor. Fish Bone / Analisis tulang ikan faktor pasien faktor staf faktor tugas faktor RS faktor
kontributor. Fish Bone / Analisis tulang ikan faktor pasien faktor staf faktor tugas faktor RS faktor
faktor staf
faktor staf
faktor tugas
faktor tugas
faktor RS
faktor RS
faktor tim
faktor tim
faktor pasien faktor staf faktor tugas faktor RS faktor tim faktor komunikasi faktor lingkungan kerja faktor
faktor pasien faktor staf faktor tugas faktor RS faktor tim faktor komunikasi faktor lingkungan kerja faktor
faktor pasien faktor staf faktor tugas faktor RS faktor tim faktor komunikasi faktor lingkungan kerja faktor
faktor komunikasi
faktor
komunikasi
faktor lingkungan kerja
faktor
lingkungan kerja
faktor organisasi dan manejemen
faktor organisasi
dan manejemen

Ket :

FAKTOR KONTRIBUTOR, KOMPONEN & SUBKOMPONEN DALAM INVESTIGASI INSIDEN KLINIS

1. FAKTOR KONTRIBUTOR EXTERNAL DILUAR RS KOMPONEN :

Regulator dan ekonomi

peraturan dan kebijakan DEPKES

Peraturan nasional

Hubungan dengan organisasi lain

2.

FAKTOR KONTRIBUTOR ORGANISASI SAN MANAJEMEN

Komponen

Sub Komponen

Organisasi dan Manajemen

a. Struktur Organisasi

b. Pengawasan

c. Jenjang Pengambilan Keputusan

Kebijakkan, Standar & Tujuan

a. Tujuan dan misi

b. Penyusunan Fungsi Manajemen

c. Kontrak Servis

d. Sumber Keuangan

e. Pelayanan Informasi

f. Kebijakan Diklat

g. Prosedur dan Kebijakan

h. Fasilitas dan Perlengkapan

i. Manajemen Resiko

j. Manajemen K3

k. Quality Improvement

Administrasi

Sistem Administrasi

Budaya Keselamatan

a. Attitude Kerja

b. Dukungan Manajemen Oleh Seluruh Staf

SDM

a. Ketersediaan

b. Tingkat Pendidikan & Keterampilan Staf yang Berbeda

c. Beban Kerja yang Optimal

Diklat

Manajemen Training/Pelatihan/Refresing

3. FAKTOR LINGKUNGAN KERJA

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Rancang dan Bangunan

a. Manajemen Pemeliharaan

b. Penilaian Ergonomik

c. Fungsionalitas

Lingkungan

a. Housekeeping

b. Pengawasan Lingkungan Fisik

c. Perpindahan Pasien Antar Ruangan

Perlengkapan

a. Malfungsi Alat

b. Ketidak Tersediaan

c. Manajemen Pemeliharaan

d. Fungsionalitas

e. Rancang, Penggunaan & Maintenance Peralatan

4. FAKTOR KONTRIBUTOR : TIM

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Supervisi & Konsultasi

a. Adanya kemauan staff junior berkomunikasi

b. Cepat tanggap

Konsistensi

a. Kesamaan tugas antar profesi

b. Kesamaan tugas antar staff yang singkat

Kepemimpinan Tanggung Jawab

a. Kepemimpinan Efektif

b. Job Description jelas

Respon terhadap Insiden

Dukungan per grup setelah insiden

5. FAKTOR KONTRIBUTOR : STAFF

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Kompetensi

a. Verivikais Kualifikasi

b. Verifikasi Pengetahuan & Keterampilan

Stressor Fisik dan Mental

a. Motivasi

b. Stresor Mental : efek beban kerja beban mental

c. Stresor Fisik : Efek Beban kerja = Gangguan Fisik

6. FAKTOR KONTRIBUTOR : TUGAS

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Ketersediaan SOP

a. Prosedur Peninjauan & Revisi SOP

b. Ketersediaan SOP

c. Kualitas Informasi

d. Prosedur Infestigasi

Ketersediaan & Akurasi Hasil Test

a. Test tidak dilakukan

b. Ketidak sesuaianantara interprstasi hasil test

Faktor Penunjang Dalam Validasi Alat Medis

a. Ketersediaan, penggunaan, reliabilitas

b. Kalibrasi

Rancang Tugas

Penyelesaian tugas tepat waktu dan sesuai SOP

7. FAKTOR KONTRIBUTOR : PASIEN

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Kondisi

Penyakit yang kompleks, berat, multikomplikasi

Personal

a. Kepribadian

b. Bahasa

c. Kondisi Sosial

d. Keluarga

Pengobatan

Mengetahui Resiko Yang berhubungan dengan pengobatan

Riwayat

a. Riwayat Medis

b. Riwayat Kepribadian

c. Riwayat Emosi

Hubungan Staf dan Pasien

Hubungan yang baik

8. FAKTOR KONTRIBUTOR : KOMUNIKASI

KOMPONEN

SUB KOMPONEN

Komunikasi Verbal

a. Komunikasi antara staf junior dan senior

b. Komunikasi antar profesi

c. Komunikasi antar staf dan pasien

d. Komunikasi antar Unit Departemen

Komuniaksi Tertulis

Ketidak lengkapan Informasi

Langkah 7 : Menyusun Rencana Perbaikan Dengan Menggunakan Form Rekomendasi Dan Rencana Tindakan

         

SUMBER

   

AKAR

MASA

TINDA

KAN

TINGKAT

REKOMEN

P

J

WAK

TU

DAYA

YANG

BUKTI

PENYELES

PARAF

LAH

DASI

DIBUTUH

AIAN

KAN

Menulis Laporan RCA :

Laporan dituliskan untuk mengkomunikasikan temuan-temuan, kesimpulan dan

rekomendasi hasil investigasi RCA. Laporan disusun oleh komite peningkatan mutu dan

keselamatan Pasien setelah semua solusi telah dipertimbangkan dan direkomendasikan

untuk tindakan koreaktif yang ditetapkan.

BAB III FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

Proses mengurangi resiko di RSUD Lasinrang dilakukan paling sedikit sat kali dala setahun dan dibuat dokumentasinya, dengan menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Proses yang dipilih adalah proses dengan resiko tinggi.

A. Pengertian Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Beberapa definisi FMEA :

Adalah suatu alat mutu untuk mengkaji suatu prosedur secara rinci dan mengenali model-model adanya kegagalan/kesalahan dan mencari solusi dengan melakukan perubahan desain/prosedur.

Adalah metode perbaikan kinerja dengan mengidentifikasi dan mencegah potensi kegagalan sebelum terjadi. Hal tersebut dirancang untuk menyelamatnkan keselamatan pasien.

Adalah proses proaktif, dimana kesalahan dapat dicegah dan diprediksi. Mengantisipasi kesalahan akan meminimalkan dampak buruk.

Kelebihan utama dari FMEA yaitu membuat pengguna dapat fokus pada

proses merancang ulang proses-proses yang memiliki potensial masalah untuk mencegah terjadinya kegagalan di kemudian hari. Delapan tahap FMEA (JCAHO, 2005) :

1. Memilih proses yang bersiko tinggi dan membentuk tim.

2. Membuat diagram proses ata alur proses dengan flow chart yang rinci

3. Untuk setiap kemungkinan kegagalan (failure mode ) identifikasi efek yang memungkinkan terjadi ke pasien (the effect).

4. Menetapkan kemungkinan tingkat keparahan dari efek tersebut ke pasien RPN (Risk Priority Numbers)

5. Melakukan root cause analysis dari failure mode

6. Rancangan ualang proses

7. Analisa dan uji cobakan proses yang baru

8. Implementasi dan monitoring proses baru

B. Tahapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

LANGKAH 1 : Pilih proses yang beresiko tinggi dan bentuk TIM

Pilih proses yang akan dianalisa. Proses yang dipilih dapat berupa proses klinis

dan berhubungan langsung dengan perawatan kepada pasien atau yang tidak

berorientasi klinis dan tidak berhubungan dengan perawatan pasien. Pilih proses yang

akan dianalisa. Tentukan salah satu proses / sub proses bila prosesnya kompleks.

Judul Proses :

Bentuk TIM

Ketua

:

Anggota 1.

4.

 

2.

5.

3.

6.

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ?

YA

TIDAK

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili didalam

tim tersebut?

YA

TIDAK

Siapa yang menjadi Notulen ?

Tanggal dimulai

Tanggal dilengkapi

LANGKAH 2A : GAMBARKAN ALUR PROSES

Tahapan Proses :

Jelaskan proses setiap kegiatan sesuai kebijakan dan prosedur yang berlaku.

Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

1

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.
yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

2

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.
yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

3

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.
yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

4

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.
yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

5

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.
yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

6

yang berlaku. Jika proses terlalu kompleks, pilih satu proses atau sub proses untuk di tindak lanjuti.

Cantumkan beberapa sub proses untuk setiap tahapan proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

A.

A.

A.

A.

A.

A.

B.

B.

B.

B.

B.

B.

C.

C.

C.

C.

C.

C.

D.

D.

D.

D.

D.

D.

E.

E.

E.

E.

E.

E.

LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES

1

E. E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5
E. E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5

2

E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6
E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6

3

E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6
E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6

4

E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6
E. E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6

5

E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6 Jelaskan
E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6 Jelaskan

6

E.  LANGKAH 2B : GAMBARKAN ALUR SUB PROSES 1 2 3 4 5 6 Jelaskan

Jelaskan sub proses kegiatan yang dipilih dan kemungkinan kegagalan pada setiap sub proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

Sub Proses

A.

A.

A.

A.

A.

A.

B.

B.

B.

B.

B.

B.

C.

C.

C.

C.

C.

C.

D.

D.

D.

D.

D.

D.

E.

E.

E.

E.

E.

E.

LANGKAH 3 : IDENTIFIKASI EFEK YANG MUNGKIN TERJADI KE PASIEN (THE EFFECT)

Failures mode adalah suatu perilaku yang dapat gagal, dan secara umum menjelaskan bagaimana suatu kegagalan terjadi dan dampaknya terhadap suatu proses. E (efek) adalah hasil dari kegagalan tertentu atau kestabilan seluruh ayau sebagaian proses. Efek kegagalan adalah konsekuensi dari failure mode pada operasional, fungsi atau status dari tahapan proses.

LANGKAH 4 : MENETAPKAN KEMUNGKINAN TINGKAT BAHAYA DAN KEPARAHAN DARI EFEK TERSEBUT KE PASIEN

Dalam menentukan tingkat bahaya harus mempertimbangkan hal-hal berikut, yaitu:

Kriteria Failure mode

Probabilitas terjadinya failure mode( Sering disebut frekuensi atau likelihood dari suatu kejadian )

Kemudahan untuk di deteksi Kriteria Efek

Probabilitas terjadinya efek

Tingkat keparahan

Kriteria lain

Biaya, waktu dan ketersediaan sumber daya lain.

RPN (Risk Priority Number) merupakan cara untuk menghitung tingkat bahaya dan disebut juga sebagai Critially Index, yang berdasarkan tingkat keparahan, tingkatkejadian dan nilai kemudahan dideteksi.

RPN =

Severity x occurance x detectability

Tujuan menyusun prioritas adalah mengidentifikasi failure mode yang paling butuh dianalisis untuk meningkatkan proses dan mengurangi risiko mencelakai pasien.

TINGKAT KEPARAHAN (SEVERITY)

LEVEL

DESKRIPSI

CONTOH

1

MINOR

Tidak akan dirasakan / diketahui oleh pasien dan tidaka akan berefek pada proses Dapat berdampak pada pasien dan dapat menimbulkan beberapa efek pada proses

2

MODERAT

Kegagalan dapat mempengaruhi proses pelayanan kesehatan tetapi menimbulkan kerugian minor Dapat berdampak pada pasien dan dapat menimbulkan efek yang sangat besar

3

MAYOR

Kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien

4

MAYOR INJURY

Dapat membuat pasien mengalami luka parah dan menimbulkan efek yang besar pula pada proses

5

TERMINAL

Sangat berbahaya: kegagalan akan berakibat pada kematian dan menimbulkan efek yang sangat besar terhadap proses

INJURY

TINGKAT PROBABILITAS O = Occurrance (keserigan)

LEVEL

DESKRIPSI

CONTOH

5

Sangat sering dan pasti

Sangat sering muncul, mungkin beberapa kali

   

dalam 1 bulan

4

Sering (Frequent)

Hampir sering muncul dalam waktu yang relatif singkat (mungkin terjadi beberapa kali dalam 1 tahun)

3

Kadang-kadang

Kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun)

(Occasional)

2

Jarang (Uncommon)

Kemungkinan akan muncul (dapat terjadi dalam > 2 sampai 5 tahun)

1

Hampir Tidak Pernah (Remote)

Jarang terjadi (dapat terjadi dalam > 5 sampai 30 tahun)

TINGKAT D = DETECTABLE (TERDETEKSI)

LEVEL

DESKRIPSI

 

5

Tidak mungkin terdeteksi

4

Kemungkinan kecil terdeteksi

3

Mungkin terdeteksi

2

Sangat mungkin terdeteksi

1

Selalu terdeteksi

LANGKAH 5 MELAKUKAN ROOT CAUSE ANALYSIS DARI FAILURE MODE

Lihat bab 2

LANGKAH 6 RANCANG ULANG PROSES

Merancang ulang sebuah proses dan system pendukungnya adalah langkah yang

paling penting. Tujuannya adalah untuk menghindari cidera yang mungkin terjadi.

Merancang ulang sebuah proses dapat dilakukan dengan :

Mengurangi keragaman

Standarisasi proses

Menyederhanakan proses

Mengoptimalkan back up untuk mengurangi kemungkinan kegagalan

menggunakan teknologi otomatis

Membangun mekanisme perlindungan kegagalan

Melakukan dokumentasi / pencatatan

LANGKAH 7 ANALISA DAN UJI COBAKAN PROSES YANG

BARU

Sangat penting tim untuk menganalisa dan menguji coba telebih dahulu sebelum

menerapkan secara penuh serta mengevaluasi efek dari subproses-subproses yang baru

dalam proses yang lebih besar sebelum menerapkan perubahan. Ujicoba proses baru dengan menggunakan prinsip PDCA (Plan - Do - Check - Act).

LANGKAH 8 IMPLEMENTASI DAN MONITORING PROSES BARU Monitoring dilakukan dengan :

1. Dokumentasi, tim FMEA memastikan terdapat regulasi yang diperlukan untuk implementasi proses baru (kebijakan, penduan, SPO,dll).

2. Pelatihan, pelatihan ulang dan uji kompetensi. Memastikan seluruh staf mendapatkan pelatihan yang dibutuhkan terkait proses baru.

3. Monitoring berkelanjutan.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. Failure Mode and Effect, Analysis in Health Care: Proactive Risk Reducation,

JCI 3rd ED, 2010

2. MMR UGM, 2009, Bahan Kuliah Blok II, Magister Manajemen RS FK UGM,

Jogja

3. Herkutanto, 2013, Bahan Presentasi Workshop PMKP - Standar Akreditasi RS

4. Materi KKP - RS PERSI