Anda di halaman 1dari 30

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9 10

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Nats: 1 Korintus 9:15-18 (1)

Ketika kita membaca bagian ini kita mungkin sedikit bingung. Kalau Paulus memang tidak mau
menggunakan hak yang seharusnya ia terima sebagai rasul (9:15-18, juga 9:12b), mengapa ia perlu
bersusah payah menjelaskan hak-hak para rasul (9:4-6) dan argumen-argumen (9:7-14) yang melandasi
hak tersebut? Semua ini harus dipahami dalam konteks relasi antara Paulus dan jemaat Korintus yang
unik (4:15; 9:1-2) sekaligus kurang harmonis (4:3-5).Kerasulan Paulus sempat diragukan oleh sebagian
jemaat. Hal ini berkaitan dengan khotbah Paulus yang dianggap kebodohan (1:18-21) dan cara
berkhotbah yang tidak sesuai dengan hikmat maupun retorika Yunani waktu itu (2:1-5). Situasi
bertambah parah kala Paulus memutuskan untuk tidak mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus.
Sebaliknya, ia lebih memilih bekerja keras membuat tenda; sebuah pekerjaan yang dianggap hina pada
waktu itu (4:12).

Dengan menegaskan status kerasulannya (9:1-3), hak-hak para rasul (9:4-6), maupun alasan-alasan di
balik hak tersebut (9:7-14) Paulus ingin mengoreksi konsep pikir jemaat Korintus yang keliru.Ia tidak
mau menerima tunjangan buka karena ia tidak berhak atau karena ia bukanlah seorang rasul. Keputusan
untuk tidak mau menerima tunjangan lebih didasarkan pada pertimbangan efektivitas Injil (9:12b, 15-
18), bukan ketidaklayakan Paulus untuk mendapatkan hak tersebut.

Pasal 9:15-18 merupakan elaborasi yang lebih detail dari apa yang sudah disinggung secara sekilas di
ayat 12b. Bagian ini diawali dengan pernyataan bahwa Paulus tidak mau menggunakan satu pun dari
hak itu (ay. 15a-b).Pernyataan ini selanjutnya diikuti serangkaian kalimat penjelasan yang diawali
dengan kata sambung karena (gar, ay. 15c, 16a, 16b, 16c, 17a).Sesudah rangkaian kalimat ini Paulus
menutup dengan penjelasan tentang upah yang sesungguhnya, yaitu memberitakan Injil tanpa upah (ay.
18).

Paulus Tidak Mau Menggunakan Hak (ay. 15a-b)


Pernyataan Paulus di sini mengandung penekanan. Ia menambahkan kata ganti aku (eg) sekaligus
meletakkannya di awal kalimat (ay. 15a). Penekanan pada kata aku di sini dimaksudkan untuk
menunjukkan keunikan sikap Paulus.Ia tidak sedang mengecam atau merendahkan rasul-rasul lain yang
mau menerima tunjangan hidup (mereka semua memang memiliki hak untuk itu), tetapi ia hanya
menegaskan posisi dirinya dalam pelayanan, terutama dalam relasi dengan jemaat Korintus. Penekanan
lain terletak pada pemakaian kata satu pun (oudeni) dan penggunaan tense perfect untuk kata
mempergunakan (kechrmai). Tense ini menyiratkan bahwa ketidakmauan untuk menerima
tunjangan merupakan sikap Paulus dari dahulu sampai sekarang. Dengan kata lain, ini sudah menjadi
gaya pelayanan Paulus. Pernyataan di atas sempat dipersoalkan oleh beberapa penafsir.Mereka
menganggap Paulus terlalu melebih-lebihkan hal ini, karena dalam kenyataannya Paulus beberapa kali
mau menerima tunjangan dari jemaat Filipi (Flp. 4:14-20; 2Kor. 11:8-9).Apakah Paulus benar-benar
kurang jujur dalam hal ini? Sama sekali tidak!

Kita harus mengetahui bahwa dalam konteks 1 Korintus 9:1-18 Paulus sedang membicarakan tentang
tunjangan tetap sebagai pemberita Injil/rasul. Di manapun seorang rasul melayani, jemaat setempat
berkewajiban untuk melayani kebutuhan hidup dan pelayanan rasul itu.Hal ini jelas berbeda dengan
pemberian yang diberikan oleh jemaat FIlipi.Mereka tidak memberikan tunjangan secara periodik dan
tetap (Flp. 4:10, 15-16).Pemberian ini bersifat sukarela dan insidentil. Bagian Alkitab yang lain
menunjukkan bahwa bekerja keras untuk memnuhi kebutuhan hidup dan pelayanan sudah menjadi
kebiasaan Paulus (1Tes. 2:9; 2Tes 3:8; 1Kor. 4:12; Kis. 18:3).

Setelah menandaskan bahwa ia tidak mau menggunakan hak sebagai rasul (ay. 15a), Paulus segera
menambahkan kalimat Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian
(ay. 15b). Kalimat ini perlu ditambahkan supaya tidak ada kesan (kesalahpahaman) bahwa Paulus
sedang menyindir jemaat Korintus.Ini menunjukkan kepekaan Paulus dalam pelayaan pastoral,
khususnya dalam hal materi. Sikap seperti ini juga tercermin dalam suratnya yang lain. Ketika ia
menerima pemberian kasih dari jemaat Filipi melalui Epafroditus (Flp. 2:25), Paulus bersyukur atas
kesempatan yang dimiliki oleh jemaat Filipi untuk mengambil bagian dalam pelayanan Paulus (Flp.
4:10, 14-16). Tidak lupa ia menegaskan bahwa ucapan syukur ini bukan dimaksudkan sebagai sindiran
agar jemat Filipi lebih sering memberikan dukungan materi (Flp. 4:11).

Di samping menunjukkan kepekaan Paulus dala pelayanan pastoral, pernyataan tersebut juga
menyiratkan konsistensi sikap.Ia menolak pemberian tunjangan dari jemaat Korintus bukan hanya pada
saat ia melayani di sana. Ketika ia menulis surat ini pun Paulus tetap tidak mau mengharapkan hal itu.
Ia bahkan mengambil sikap yang sama di tempat-tempat lain. Konsistensi seperti ini jelas tidak mudah,
karena kadangkala Paulus benar-benar berada dalam keadaan yang mengenaskan dan memerlukan
bantuan dari orang lain (2Kor. 4:23-28).

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan orang yang baik tetapi ia gagal mempertahankan
sikap itu dalam segala situasi. Benarlah apa yang dikatakan penulis amsal bahwa menemukan orang
setia jauh lebih sulit daripada menemukan orang baik (Ams. 20:6).

Karena Lebih Baik Mati daripada Injil Terhalang (ay. 15c-d)


Bagian ini dimulai dengan kata sambung gar (karena) yang menyiratkan bahwa bagian ini merupakan
penjelasan atau alasan bagi sikap di ayat 15a-b. Mengapa Paulus tidak mau menggunakan hak sebagai
rasul maupun tidak mau dianggap sedang menyindir jemaat Korintus? Karena ia lebih suka mati
daripada...... (LAI:TB, ay. 15c).

Terjemahan LAI:TB lebih suka sedikit kurang tepat. Terjemahan ini bisa menyiratkan kesan bahwa
sikap di ayat 15c hanyalah masalah perasaan Paulus semata-mata.Walaupun beberapa versi juga
mengadopsi terjemahan ini (RSV/NIV/ESV), tetapi terjemahan lebih baik (KJV/NASB/NET)
sebaiknya dipertahankan. Teks Yunani dalam bagian ini memakai kata kalon mallon (lebih baik). Jika
arti harfiah ini dipertahankan maka akan menyiratkan bahwa sikap yang diambil Paulus bukan hanya
secara subyektif lebih disukai Paulus, namun secara obyektif memang lebih baik. Ini bukan tentang
kenyamanan perasaan Paulus, tetapi tentang kebenaran yang obyektif.

Dalam teks Yunani kalimat Paulus memang tidak sempat diteruskan sampai engkap (LAI:TB mencoba
mempertahankan terjemahan harfiah dengan cara memberi tanda titik panjang setelah kata daripada).
Gaya penulisan seperti ini disebut dengan istilah aposiopes, yang biasa dipakai pada saat seseorang
dikuasai oleh perasaannya dengan begitu kuat sehingga ia tidak berkuasa meneruskan kalimat yang ia
sudah ucapkan/teruskan. Hal yang sama dapat kita jumpai dalam tulisan Paulus yang lain (Gal. 2:6).
Gaya ini memberitahu kita bahwa Paulus menuliskan ayat 15c dengan penuh perasaan, walaupun ini
bukan hanya masalah perasaan pribadi Paulus. Dengan kata lain, perasaannya sedang dikuasai oleh
sebuah kebenaran penting tentang Injil.

Bagaimana kita sebaiknya menebak kelanjutan dari kalimat Paulus?Beberapa versi memilih untuk tidak
berspekulasi (NRSV/NET).Beberapa menganggap ayat 15d sebagai kelanjutan (Paulus lebih baik mati
daripada seseorang meniadakan kemegahannya, lihat KJV/RSV/NIV/ESV).Pilihan pertama tidak
terlalu banyak membantu.Pilihan kedua ini sebaiknya ditolak, karena secara tata bahasa ayat 15d
memang bukan kelanjutan dari ayat 15c.Ayat 15c merupakan kalimat tersendiri yang tidak
lengkap.Berdasarkan konteks yang ada, Paulus kemungkinan besar ingin mengatakan bahwa lebih baik
baginya mati daripada menerima upah tetapi Injil terhalang (ay. 12b). Dengan kata lain, Paulus lebih
memilih mati daripada injilnya yang mati. Ini merupakan ungkapan dari seseorang yang menyadari
bahwa hidupnya adalah untuk Injil.Injil adalah lebih penting daripada kehidupan pemberita Injil itu
sendiri. Tidak heran dalam sejarah misi dunia, Allah dalam kedaulatan-Nya membiarkan para pemberita
Injil mati syahid, tetapi Ia tidak pernah membiarkan Injil-Nya mati (tidak diberitakan).

Di ayat 15d Paulus menambahkan bahwa ia tidak mau seorang pun meniadakan kemegahannya.
Konsep tentang bermegah dalam Alkitab bisa bermakna positif maupun negatif. Sebelumnya Paulus
sudah menyinggung tentang dua makna ini dalam konteks yang sama (1:29, 31). Apa yang dimaksud
dengan kemegahan di ayat 15d ini? Paulus jelas tidak sedang membanggakan diri di atas para rasul
yang mau menerima tunjangan dari jemaat.Para rasul memang berhak atas hal tersebut.Lagipula, Paulus
tidak pernah membanggakan kelebihan dirinya.Ia sebaliknya selalu membanggakan Allah atau
kelemahan dirinya yang justru menunjukkan kekuatan Allah. Ia bermegah dalam kelemahan (2Kor.
12:9-10). Dalam konteks 1 Korintus 9 ia sedang membanggakan kehinaannya sebagai pekerja kasar
(4:11-13).

Pekerjaan ini memang hina, tetapi Paulus justru bermegah di atas kehinaan, karena semua itu untuk
kemajuan Injil.Kemegahan di atas kelemahan dan kehinaan jelas sangat kontras dengan prinsip dunia
yang mengagung-agungkan kelebihan dan kehormatan.Paulus tidak mau kemegahan tersebut
ditiadakan. Kata Yunani ditiadakan (kensei, dari kata dasar kenoo) sebenarnya lebih bermakna
dikosongkan. Hampir semua versi memilih terjemahan dihilangkan atau dicabut. Melalui
pemilihan kata dikosongkan Paulus ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin terlihat hebat di luar
tetapi di dalamnya tidak ada isi sama sekali. Ia tidak mau terlihat bersusah-payah bagi Injil tetapi
dengan motivasi yang keliru. Ia melakukan pekerjaan berat bukan supaya terlihat menderita dan
akhirnya dibantu banyak orang. Ia tidak perlu menyimpan otivasi terselubung semacam itu karena ia
sudah menikmati kemegahan di dalam penderitaan dan kehinaan tersebut.

Karena Dalam Pemberitaan Injil Tidak Ada Dasar Untuk Bermegah (ay. 16-17)
Bagian ini merupakan penjelasan terhadap ayat 15d. Ia tidak ingin disalahpahami oleh orang lain,
seolah-olah ia sedang menyombongkan diri. Dalam taraf tertentu Paulus memang memiliki kemegahan
(ay. 15d), tetapi bukan dalam arti mutlak (ay. 16a). Jika ia melakukan pemberitaan Injil secara terus-
menerus (bdk. tense present pada kata euangelizomai), hal itu bukanlah sesuatu yang perlu
dibanggakan. Apa maksud Paulus di sini? Apakah ayat 16a berkontradiksi dengan ayat 15d?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan baik apabila kita mengetahui perbedaan dasar kemegahan
yang sedang dibicarakan oleh Paulus. Di ayat 15d ia menyinggung tentang pekerjaannya yang hina
sebagai pembuat tenda. Kehinaan yang harus dipikul ketika melayani Tuhan merupakan kehormatan
bagi seorang pelayanan Tuhan.Paulus bermegah atas hal ini. Di sisi lain, konsistensi Paulus dalam
memberitakan Injil tidak boleh dilebih-lebihkan seolah-olah hal ini merupakan sebuah pencapaian yang
luar biasa atau seolah-olah Paulus sendiri memang mengambil inisiatif untuk melakukan itu. Tidak ada
yang istimewa dari apa yang dilakukan Paulus. Mengapa demikian?

Alasan pertama berkaitan dengan keharusan dalam memberitakan Injil (ay. 16b ini merupakan
keharusan bagiku).Secara harfiah frase ini berarti keharusan yang diletakkan di pundakku.Bentuk
pasif yang tidak disertai subyek seperti dalam kasus ini secara tata bahasa disebut pasif ilahi (divine
passive), yang menyiratkan bahwa Allah sebagai subyek (NLT I am compelled by God). Paulus
sangat mungkin sedang memikirkan pilihan ilahi dalam hidupnya sejak ia berada dalam kandungan
(Gal. 1:15-16) atau panggilan Tuhan yang tidak terelakkan pada waktu ia bertobat (Kis. 26:14; dalam
NLT ungkapan sukar bagimu menendang ke galah rangsang diterjemahkan it is useless for you to
fight against my will). Jika pemberitaan Injil merupakan keharusan yang sudah ditetapkan Allah, maka
Paulus tidak memilki alasan untuk bermegah.Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak
memiliki motivasi lain di luar penetapan ilahi ini. Jadi, ini bukan masalah perasaan pribadi (Paulus
memangs edang bepergian ke mana saja) maupun kepentingan pribadi (Paulus ingin mendapatkan
sesuatu untuk dirinya dari pemberitaan Injil).

Keharusan untuk memberitakan Injil ini berbeda dengan keharusan untuk menerima tunjangan dari
pemberitaan tersebut.Dari sisi pemberita Injil tunjangan adalah hak (bukan keharusan), walaupun dari
sisi penerima Injil ini merupakan kewajiban.Sebagai sebuah hak (sekalipun sah) tunjangan hidup dapat
dikesampingkan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik (supaya Injil tidak terhalang). Kelonggaran
memang ada dalam taraf tunjangan pemberita Injil, tetapi dalam hal pemberitaan tidak ada kelonggaran
sama sekali. Kita memang bebas untuk tidak menerima dukungan materi dari pemberitaan Injil, tetapi
kita tidak bebas untuk tidak memberitakan Injil (we are free not to accept support, yet we are not free
not to preach the gospel). Dengan kata lain, tugas tidak boleh ditolak, upah dari tugas tersebut bisa
ditolak....... (bersambung) #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 28 Maret 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2015-18%20%281%29.pdf

Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan
hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada
kita.
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making Gods Way, hlm. 185)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (1)


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pembacaan sekilas dari bagian ini mungkin akan memberikan kesan bahwa bagian ini tidak terlalu
berkaitan dengan pembahasan sebelumnya di pasal 9. Pada bagian ini Paulus tidak menyinggung
tentang status maupun hak sebagai seorang rasul (topik yang ia sudah bahas secara panjang lebar mulai
9:2-18). Ide tentang kebebasan yang menjadi fokus pembahasan di 9:19-23 juga sekilas berkontradiksi
dengan penekanan Paulus di 9:15-18 bahwa dirinya adalah hamba yang tidak memiliki kebebasan
selain melakukan apa yang ia harus lakukan. Lebih jauh, bagian ini pun tidak memperlihatkan
keterkaitan yang eksplisit dengan isu tentang makan persembahan berhala yang menjadi inti persoalan
di pasal 8-10.

Kesan di atas akan segera sirna apabila kita membaca 9:19-23 secara lebih teliti. Bagian ini memiliki
keterkaitan dan fungsi yang penting bagi seluruh pembahasan di pasal 9.Ada beberapa petunjuk yang
mengarah pada kesimpulan ini.Yang paling penting, ungkapan aku bebas di 9:19 jelas merujuk balik
pada pertanyaan Paulus di awal pasal ini (9:1 bukankah aku orang bebas?). Dengan demikian kita
seharusnya melihat 9:19-23 sebagai elaborasi dari pertanyaan bukankah aku orang bebas?, sedangkan
9:1b-14 sebagai uraian bagi pertanyaan bukankah aku rasul?). Selain itu, ajaran Paulus di 9:19-23
tentang kerelaan menjadi hamba bagi orang lain merupakan teladan lain dari hidup berdasarkan kasih
sebagaimana yang ia sudah ajarkan di pasal sebelumnya (8:1). Berbeda dengan jemaat Korintus yang
secara salah mempertahankan kebebasan mereka sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain
(8:9, 11), Paulus justru melepaskan kebebasan tersebut supaya dapat memenangkan banyak orang
(9:19-23).

Sebagian penafsir berpendapat bahwa 9:19-23 memiliki fungsi yang lebih daripada sekadar
memaparkan teladan hidup Paulus. Bagian ini diyakini juga berfungsi sebagai pembelaan Paulus
terhadap mereka yang mengritik pola pelayanan Paulus yang dipandang tidak konsisten: di suatu
konteks Paulus melakukan X, tetapi di konteks lain ia mengambil sikap Y. Paulus dianggap
mengajarkan kebebasan dari Taurat supaya ia bisa menyenankan banyak orang (Gal. 1:10).
Penekanannya pada anugerah Allah membuat dia difitnah telah mengajarkan kehidupan Kristiani yang
sembarangan (Rom 3:8). Di kalangan orang-orang Yahudi ia tidak jarang dimusuhi karena dituduh telah
membatalkan Hukum Taurat (Kis. 21:21). Beberapa penafsir bahkan menduga sikap sebagian jemaat
Korintus yang makan di kuil dengan mengatasnamakan kebebasan Kristiani (8:7-9) merupakan usaha
mereka untuk mengikuti pola hidup Paulus yang tampak tidak konsisten. Terlepas dari benar atau
tidaknya pendapat ini (tidak ada petunjuk yang konklusif untuk membenarkan maupun menyanggah hal
ini), sikap Paulus yang terkesan situasional di 9:19-23 memang bisa menjadi masalah yang pelik di
kalangan gereja mula-mula yang sering berhadapan langsung dengan isu tentang makanan (Kis. 15:29;
Why. 2:14).Paulus bahkan pernah menegur Petrus yang bersikap munafik soal makanan (Gal. 2:11-14).

Sekarang kita berpindah pada struktur 1 Korintus 9:19-23. Alur berpikir Paulus di bagian ini cukup
mudah untuk diikuti. Ayat 19 dan 22b menyatakan prinsip yang sama, sedangkan ayat 20-22a
menguraikan prinsip tersebut dalam 4 kategori. Yang agak sulit ditentukan secara pasti adalah fungsi
ayat 23.Apakah ayat ini sebaiknya disatukan ayat 22b ataukah disendirikan dengan fungsi yang sedikit
berbeda?Pengamatan yang cermat menunjukkan bahwa ayat 23 sebaiknya dipahami secara tersendiri
sebagai alasan bagi semua pembahasan di ayat 19-22. Dengan demikian alur berpikir Paulus di 9:19-23
dapat digambarkan sebagai berikut:
Pendahuluan: aku bebas tetapi aku menjadi hamba bagi semua orang demi Injil (ay. 19)
Penjelasan prinsip (ay. 20-22a)
Bagi orang Yahudi (ay. 20a)
Bagi orang yang di bawah Hukum Taurat (ay. 20b)
Bagi orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Bagi orang yang lemah (ay. 22a)
Penutup: aku menjadi segalanya bagi semua orang demi Injil (ay. 22b)
Alasan: aku melakukan semua ini demi Injil dan

Pendahuluan: Aku Bebas Tetapi Aku Menjadi Hamba bagi Semua Orang Demi Injil (ay. 19)
Ayat ini dimulai dengan kata sambung gar (lit. karena) yang dalam beberapa versi
(NIV/NLT/LAI:TB) sengaja tidak diterjemahkan karena terkesan agak janggal. Keputusan ini dari sisi
keindahan kalimat memang bisa dipahami, namun berpotensi untuk mengaburkan keterkaitan yang erat
antara ayat ini dengan ayat 15-18. Paulus sengaja menggunakan kata sambung gar untuk mempertegas
keterkaitan itu.

Dalam hal ini ayat 19 seharusnya dilihat sebagai penjelasan dari bagian sebelumnya.Maksudnya,
kebebasan yang dinyatakan Paulus di ayat 18 bersumber dari status dan sikap Paulus di ayat 15-18.
Paulus adalah hamba Allah (9:17), sehingga ia tidak mungkin menjadi hamba orang lain. Jika ia mau
menghambakan diri pada orang lain (9:19, 22b), maka itu merupakan pilihan dari pihak Paulus, bukan
paksaan atau keharusan. Status Paulus sebagai hamba Allah memang membuat dia tidak memiliki
kebebasan apa pun di hadapan Allah (9:16), namun hal ini tidak berarti bahwa ia juga kehilangan
kebebasan di hadapan manusia. Ia tetap orang yang bebas. Pemikiran seperti ini sebelumnya sudah
diungkapkan Paulus pada waktu ia membicarakan tentang paradoks budak-orang bebas (7:22 sebab
seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan.
Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya).

Struktur kalimat di ayat 19 menyiratkan bahwa Paulus sedang menekankan kata kebebasan
(eleutheros).Hal ini tampak dari posisi kata eleutheros di awal kalimat. Para penafsir meyakini bahwa
kebebasan yang dimaksud di sini bukan hanya secara theologis (sebagai hamba Allah Paulus bukanlah
hamba manusia), tetapi juga secara sosiologis (ketidakmauan Paulus menerima tunjangan hidup dari
jemaat membuat ia bebas dari tekanan maupun pembatasan oleh orang lain).

Jika Paulus mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus, maka ia pun dituntut mengikuti selera
jemaat dalam hal khotbah. Mereka ingin menggantikan Injil - yang dianggap kebodohan dengan
filsafat dunia (1:18, 22-23).Mereka ingin Paulus lebih menekankan kemampuan retorika daripada kuasa
Roh Kudus (2:1-5). Dengan tidak menerima tunjangan dari mereka, Paulus memiliki kebebasan penuh
untuk memberitakan Injil tanpa harus menuruti kemauan orang lain yang melawan kebenaran.

Walaupun Paulus adalah bebas terhadap semua orang, tetapi ia mau menghambakan dirinya kepada
semua orang. Dalam kalimat Yunani kata semua orang diulang dan diletakkan berdekatan untuk
mempertegas kontras (lit. karena walaupun aku adalah bebas dari semua orang, kepada semua orang
aku menghambakan diriku). Bentuk lampau dari menghambakan (edoulosa,
KJV/NASB/RSV/NRSV I have made, kontra NIV I make) menyiratkan bahwa apa yang dilakukan
Paulus di sini merupakan tindakan yang sudah ia lakukan. Ia mengajarkan apa yang ia sudah lakukan,
bukan hanya berusaha melakukan apa yang ia ajarkan (bdk. Ezr. 7:10 sebab Ezra telah bertekad untuk
meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang
Israel).

Apa yang dilakukan Paulus ini merupakan sesuatu yang luar biasa jika kita membandingkan dengan
dua fakta. Pertama, Paulus sebenarnya tidak anti terhadap kebebasan.Ia memberi ijin dan dorongan bagi
orang percaya untuk menggunakan kebebasan mereka (7:21, 35, 39). Paulus pun tidak jarang
menegaskan kebebasan Kristiani di daam Kristus Yesus. Di dalam Kristus orang percaya tidak lagi
hidup di bawah tuntutan Taurat maupun berbagai tradisi manusia (Kol. 2:16-17). Ketika ia melepaskan
kebebasan yang sangat ia tekankan maka Paulus pada dasarnya telah melepaskan apa yang ia
anggap sangat penting dalam hidupnya.

Melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup kita jelas bukan hal yang mudah. Kita mungkin dengan
mudah membiarkan sesuatu yang tidak penting dalam hidup kita untuk dikorbankan bagi orang lain,
namun akan menjadi sangat sulit ketika kita harus melepaskan hal yang sangat berharga dalam hidup
kita bagi orang lain.

Kedua, filsafat Stoa waktu itu mengajarkan bahwa orang yang bebas adalah mereka yang melakukan
apa saja yang mereka kehendaki tanpa memikirkan pandangan orang lain.

Pandangan yang sekilas sangat menekankan kebebasan yang benar-benar bebas ini sebenarnya tidak
lebih daripada sebuah perbudakan.Jika kita selalu menuruti kebebasan kita, maka kita pada dasarnya
telah diperbudak oleh kebebasan tersebut. Orang yang benar-benar bebas adalah mereka yang benar-
benar bebas untuk melepaskan kebebasannya demi kepentingan orang lain. Jika kita mengetahui
kebenaran ini, maka kebenaran ini akan memerdekakan kita dalam arti yang sesungguhnya (Yoh. 8:32).

Darimana Paulus memahami rahasia dari kebabasan yang sejati ini? Mengapa ia bisa melepaskan
kebebasannya untuk melayani orang lain? Tindakan Paulus ini pasti berakar dari ajaran dan teladan
hidup Tuhan Yesus. Dalam kitab Injil diajarkan bahwa keunikan kepemimpinan Kristen adalah
kepemimpinan yang menghamba (Mat. 20:26-28//Mrk. 10:43- 45). Yesus mau meninggalkan
kemuliaan sorga untuk menjadi hamba yang taat (Flp. 2:5-8) demi menyelamatkan manusia.Ia yang
berada di atas Hukum Taurat telah menaklukkan diri-Nya di bawah hukum itu demi menyelamatkan
mereka yang takluk kepada Hukum Taurat (Gal. 4:4-5). Teladan inilah yang seharusnya menjadi pola
hidup setiap orang Kristen.

Siapa yang menghambakan diri kepada Kristus berarti siap menghambakan diri kepada orang lain
(2Kor.. 4:5). Kita memang tidak menjadi hamba orang lain. Satu budak hanya boleh memiliki satu tuan.
Jika kita sudah menjadi hamba Allah (9:16-18), maka kita tidak mungkin sekaligus menjadi hamba
orang lain. Bagaimanapun, dalam taraf tertentu kita adalah hamba orang lain, dalam arti bahwa Allah
sebagai Tuan kita telah memberi tugas kepada kita untuk melayani orang-orang tersebut (2Kor.. 4:5).
Hamba Than adalah milik jemaat hanya dalam arti bahwa jemaat pun pada gilirannya adalah milik
Kristus (1Kor. 3:21-23). Seorang hamba Tuhan sepenuh waktu adalah hamba Tuhan (bukan hamba
jemaat), tetapi ia harus melayani jemaat (menghambakan diri kepada mereka) karena Tuhan Yesus
sudah mempercayakan jemaat untuk dilayani para hamba-Nya (Kis. 20:28). Hamba Tuhan tidak boleh
diperlakukan seperti karyawan, namun hamba Tuhan juga tidak boleh memposisikan diri sebagai
penguasa (bos).

Bagian terakhir ayat 19 menjelaskan tujuan dari sikap Paulus di ayat 19a.Motivasi di balik itu tidak
berhubungan dengan kepentingan Paulus, melainkan kepentingan Injil Kristus.Ia berbeda dengan
pemberita Injil lain yang condong pada kepentingan diri sendiri (bdk. Flp. 1:17; 2:21). Paulus berani
melepaskan kebebasan demi orang lain bukan supaya ia disukai semua orang. Di tempat lain ia bahkan
mengajarkan bahwa mereka yang berusaha memperkenankan semua orang pada dasarnya justru
bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Ini adalah tantangan yang cukup pelik bagi seorang hamba
Tuhan.Penerimaan yang baik dari jemaat merupakan faktor yang penting dalam pelayanan hamba
Tuhan.Bagaimanapun, hamba Tuhan tidak boleh mengorbankan kepentingan Allah demi
mempertahankan penerimaan manusia. Teguran kepada jemaat memang berpotensi merusak relasi
hamba Tuhan dan jemaat, namun mengabaikan teguran justru akan merusak relasi jemaat dengan
Tuhan.

Bagi Paulus, penghambaan ini ia lakukan hanya untuk satu tujuan: memenangkan sebanyak mungkin
orang (ay. 19b). Pemilihan kata memenangkan (kedraino, kata ini muncul 5 kali di ay. 19-21) di
bagian ini merupakan sesuatu yang cukup menarik.Di ayat 22b Paulus memilih kata menyelamatkan
(sozo) yang memang lebih lazim dipakai dalam konteks pemberitaan Injil. Pemakaian kata kedraino
berfungsi untuk mengaitkan bagian ini dengan bagian perikop sebelumnya tentang upah pemberita Injil
(9:15-18), karena kata ini secara hurufiah biasanya berarti mendapatkan materi/keuntungan (Mat.
16:26//Mrk. 8:36//Luk. 9:25; Mat. 25:16-17, 20, 22; Yak. 4:13), walaupun kata ini juga kadangkala
dipakai untuk mendapatkan Kristus (Flp. 3:8) maupun memenangkan orang lain pada keselamatan
(Mat. 18:15; 1Pet 3:1). Penggunaan kata kedraino di ayat 19b menyatakan bahwa inilah upah Paulus
dalam pemberitaan Injil, yaitu kebebasan dari semua orang dan kebebasan untuk melepaskan kebebasan
tersebut demi semua orang.

Aplikasi
Budaya postmodern yang sangat menekankan kebebasan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi
orang Kristen.Ditambah dengan natur kita yang berdosa dan condong pada egoisme, melepaskan
kebebasan demi orang lain benar-benar merupakan tugas yang sangat sulit.Kalau pun kita berhasil
melakukan hal ini, motivasi di balik semua itu seringkali tidak tepat. Kita hanya mencari penerimaan
dari orang lain.

Kunci dari semua kesulitan di atas adalah posisi Injil dalam kehidupan kita. Jika kita meletakkan Injil di
atas segalanya termasuk kebebasan, kenyamanan, popularitas, penerimaan orang lain, dsb., maka
melepaskan kebebasan tampak menjadi lebih ringan bagi kita. Sebaliknya, jika kebebasan menjadi
barang yang paling berharga dalam hidup kita, maka kita akan mengaami kesulitan untuk melepaskan
hal tersebut, apalagi demi Injil yang bagi kita tidak terlalu penting. Biarlah kuasa Injil yang
membebaskan kita dari dosa benar-benar membebaskan kita juga dari perbudakan kebebasan.

Kebebasan sejati adalah mengesampingkan kebebasan tersebut untuk menghambakan diri bagi orang
lain demi kepentingan Injil Kristus. Soli Deo Gloria. #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 April 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%209%20ayat%2019-23%20%28Bagian
%201%29.pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (2)


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Dalam khotbah yang lalu kita sudah bersama-sama belajar bahwa 9:19-23 merupakan penjelasan bagi
status Paulus sebagai orang yang bebas (9:1). Sebagai hamba yang dipercaya Allah (9:17-18) Paulus
tidak mungkin pada saat yang bersamaan menjadi hamba pihak lain. Jika ia adalah hamba Allah, maka
ia bukanlah hamba manusia (Gal. 1:10). Walaupun Paulus tidak terikat pada siapapun, namun ia
bersedia melepaskan kebebasannya itu. Ia mau menjadi hamba bagi semua orang (9:19). Semua ini ia
lakukan bukan untuk mengambil hati banyak orang bagi kepentingannya sendiri, tetapi untuk
membawa sebanyak mungkin orang kepada Kristus. Dalam khotbah kali ini kita akan belajar
bagaimana Paulus mau menjadi hamba bagi orang-orang Yahudi dan mereka yang hidup di bawah
Hukum Taurat (9:20-21).

Bagi Orang Yahudi Paulus Menjadi Seperti Orang Yahudi (ay. 20a)
Ungkapan Paulus di bagian ini sekilas sulit untuk dipahami. Bagaimana Paulus yang adalah seorang
Yahudi tulen (2Kor. 11:22; Flp. 3:4-6) berusaha menjadi seperti orang Yahudi? Mengapa ia memakai
ungkapan bagi orang Yahudi dan bukan bagi teman sebangsaku? Ungkapan ini jelas tidak boleh
dipahami secara etnis maupun keterkaitan secara biologis.Jika ini adalah masalah etnis atau hubungan
darah, maka Paulus tidak bisa menjadi seperti orang Yahudi.Ia adalah orang Yahudi! Semua ini
sebaiknya dipahami dalam konteks kebiasaan Yahudi.Pendapat ini sesuai dengan pokok masalah utama
yang sedang dibahas Paulus di 1 Korintus 8-10, yaitu perdebatan seputar makanan (1Kor. 8-10).

Bagi orang Yahudi makanan merupakan masalah religius.Mereka hanya makan makanan yang halal
(Im. 11).Lebih jauh, mereka mempraktekkan peraturan halal (kosher) yang jauh lebih detail dan
kompleks daripada yang diajarkan dalam Alkitab. Peraturan ini mencakup pemilihan bahan makanan,
cara memasak maupun cara memakan.

Persoalan seputar makanan ini sering kali menjadi masalah serius dalam interaksi bangsa Yahudi
dengan bangsa lain, karena orang-orang non-Yahudi biasanya memakan daging yang dianggap najis
menurut kitab suci Yahudi maupun melanggar tradisi lisan tentang tata cara memasak maupun
memakan yang halal. Orang non-Yahudi juga sering bersentuhan dengan makanan berhala.Gesekan
kultural seputar isu ini menjadi bahaya rentan yang tidak terelakkan.Alkitab sendiri memberikan
beberapa contoh tentang gesekan ini.Orang-orang Farisi pernah mengecam murid-murid Yesus karena
makan dengan tangan yang tanpa dicuci (Mat. 15:1-2). Para pemimpin gereja mula-mula bahkan perlu
untuk mengadakan konsili gereja guna membahas masalah ini dan masalah-masalah kultural yang lain
(Kis. 15:28-29).

Paulus pun pernah terlibat perbedaan pendapat yang tajam dengan Petrus karena ia menganggap Petrus
telah melakukan kesalahan fatal dalam hal ini (Gal. 2:11-14). Kesalahan yang dilakukan Petrus ini
merupakan sesuatu yang luar biasa, karena Petrus sebelumnya sudah diajar oleh Tuhan sendiri melalui
sebuah penglihatan bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dipandang haram oleh
manusia (Kis. 10:15; 11:9). Di tengah budaya yang sangat sensitif terhadap isu tentang makanan seperti
ini, Paulus memilih untuk mengadaptasi kebiasaan Yahudi.Tindakan ini tidak boleh dianggap sebagai
kemunafikan maupun penyangkalan terhadap kebebasan Kristiani di dalam Injil.Dalam theologi Paulus,
makanan tidak mempengaruhi status seseorang di hadapan Allah (8:8; Rm. 14:1-3). Ini semua hanyalah
tentang hal-hal yang sementara dan tidak memiliki nilai kekal di hadapan Allah (Kol. 2:22).Semua yang
diberikan Allah adalah baik dan tidak haram, jika dinikmati dengan ucapan syukur (1Tim. 4:4), apalagi
Tuhan Yesus juga sudah mengajarkan bahwa semua makanan adalah halal (Mrk. 7:19).

Dengan konsep seperti di atas, theologi Paulus membuka ruang bagi orang-orang Yahudi Kristen untuk
tetap memperhatikan kebiasaan makan yang lama maupun mengabaikannya.Seandainya mereka
memutuskan untuk tetap mengikuti kebiasaan lama, mereka harus melakukannya dengan motivasi yang
berbeda. Kalau orang Yahudi begitu menjaga peraturan tentang makanan supaya mereka diperkenan
atau dibenarkan oleh Allah, orang Kristen tidak boleh menganggap bahwa tindakan mereka seputar
makanan akan mempengaruhi kesalehan mereka di hadapan Allah. Seandainya mereka memutuskan
untuk mengabaikan peraturan Yahudi tentang makanan, maka tindakan ini pun tidak apa-apa.Sikap
mana pun yang kita pilih, hal itu harus ditujukan untuk kepentingan Injil (9:20) dan kemuliaan Allah
(10:31; Rm. 14:6).

Sikap Paulus yang terlihat situasional ini tidak boleh dipahami sebagai sebuah kemunafikan maupun
sikap bunglon.Yang terutama kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu kebenaran pun yang
dikompromikan oleh Paulus. Yang ia korbankan bukan kebenaran Injil, tetapi kebebasannya yang ia
terima dari Injil. Ia bisa tetap mengikuti maupun mengabaikan semua peraturan itu, namun demi
kepentingan Injil ia bersedia terikat dengan peraturan tersebut.

Jika Paulus memang bersikap situasional dalam hal makanan, mengapa ia menegur Petrus pada saat
Petrus bersikap mendua soal makanan kala ia berada di Anthiokia dan bahkan menganggap tindakan itu
sebagai kemunafikan (Gal. 2:11-14)? Untuk memahami problem ini kita perlu menyadari bahwa yang
dipersoalkan Paulus di Galatia 2:11-14 adalah sikap Petrus yang menjauhi orang-orang non-Yahudi
karena takut kepada orang-orang Yahudi garis keras dari Yerusalem (Gal. 2:12; bdk. Kis. 11:2-3). Ia
sudah tahu bahwa semua makanan adalah halal (Kis. 10:9-16; 11:4-10), namun ia takut kepada orang-
orang Yahudi, seolah-olah peraturan tentang makanan masih mengikat hidupnya. Di sisi lain, sikap
Paulus yang situasional (dalam konteks misi sikap ini disebut kontekstualisasi) bukan didasari oleh
ketakutan, tetapi demi perkembangan Injil. Perbedaan lain antara sikap Paulus dan Petrus adalah ini:
sikap Petrus berpotensi menghalangi pemberitaaan Injil (Gal. 2:14), sedangkan sikap Paulus justru
membuka ruang bagi efektivitas pekabaran Injil (1Kor. 9:20a). Jadi, yang menjadi faktor pembeda
dalam hal ini adalah motivasi (ketakutan vs. kepentingan Injil) dan konsekuensi (menghalangi vs.
membantu).

Bagi Orang yang Berada Di Bawah Hukum Paulus Menjadi Seperti Orang yang Di Bawah Hukum (ay.
20b)
Bagian ini menimbulkan sedikit kesulitan bagi para penafsir. Jika Paulus sudah menyinggung tentang
orang Yahudi (9:20a), mengapa ia masih perlu membahas tentang orang-orang yang hidup di bawah
hukum (9:20b)? Bukankah orang Yahudi identik dengan mereka yang hidup di bawah Hukum
Taurat?

Beberapa penafsir mengusulkan orang-orang di bawah Hukum Taurat sebagai golongan proselit atau
orang-orang yang takut kepada Allah, yaitu orang-orang non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi
(Mat. 23:15; Kis. 10:2), sedangkan yang lain mencoba memahami kata nomos di sini secara umum
(hkum sipil, terutama hukum Romawi). Pengamatan yang teliti tampaknya mengarah pada kesimpulan
bahwa nomos yang dimaksud Paulus adalah Hukum Taurat (NASB Law) dan orang-orang yang ada
di bawah hukum ini adalah orang-orang Yahudi. Pilihan ini bisa dibenarkan berdasarkan beberapa
pertimbangan: (1) semua pemunculan kata nomos dalam Surat 1 Korintus merujuk pada Hukum Taurat
(9:8, 9; 14:21, 34; 15:56); (2) seandainya ini adalah hukum Romawi, maka Paulus tidak mungkin
menambahkan walaupun aku tidak berada di bawah hukum; (3) secara mendasar tidak ada perbedaan
etika antara orang-orang Yahudi asli dengan golongan proselit/orang yang takut kepada Allah. Jika
nomos identik dengan Taurat, mengapa Paulus perlu menambahkan kategori mereka yang berada di
bawah Taurat?

Ada beberapa jawaban atas pertanyaan ini.Pertama, ayat 20b berfungsi untuk memberikan penjelasan
tentang seperti orang Yahudi di ayat 20a.Menjadi seperti orang Yahudi berarti menjadi seperti orang
yang berada di bawah Taurat. Tanpa penjelasan tambahan di ayat 20b, maka ayat 20a akan menjadi
lebih sulit untuk dipahami. Kedua, ayat 20b memberikan prinsip yang lebih luas daripada ayat
20a.Paulus tidak hanya membatasi sikap kontekstualisasi dalam konteks makanan saja (ay. 20a), tetapi
juga aspek-aspek lain dalam Taurat (ay. 20b).Ketiga, ayat 20b menjelaskan alasan di balik sikap Paulus
di ayat 20a. Kontekstualisasi Paulus bukan berarti bahwa ia berada kembali di bawah Taurat, karena itu
ia merasa perlu menambahkan frase sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay.
20b).

Tambahan sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah Hukum Taurat di ayat 20b merupakan batasan
tegas bagi Paulus.Ia melakukan semua ini bukan karena ia masih terikat oleh Taurat. Ia adalah orang
bebas, baik dari orang lain (9:19) maupun Taurat (Rm. 6:14). Apa yang dilakukan Paulus di tengah
masyarakat Yahudi mungkin secara eksternal tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi lain, tetapi
motivasi di balik tindakan itu sangat berbeda. Orang Yahudi melakukan semua ini untuk mendapatkan
kebenaran dari Allah dan dengan konsep bahwa mereka masih terikat oleh Taurat, tetapi Paulus
melakukan itu justru untuk kepentingan Injil. Bagi Paulus berada di bawah Taurat berarti akan dihakimi
menurut Taurat (Rm. 2:12), di bawah hukuman Allah karena melanggar Taurat (Rm. 4:15) dan di
bawah kutuk Taurat (Gal. 3:10).

Paulus tidak sedang mengajarkan nilai teologis ketaatan terhadap Taurat, namun ia juga tidak
menganggap Hukum Taurat sebagai perintah yang sudah tidak relevan. Ia tidak melarang orang-orang
Yahudi meneruskan beberapa kebiasaan mereka sesuai Taurat, tetapi ia secara tegas menolak keyakinan
bangsa Yahudi kepada Taurat sebagai jalan keselamatan (Rm. 3:19-20). Ia juga dengan keras
menentang kesalahpahaman di kalangan orang Yahudi tentang nilai teologis dari semua kebiasaan
Yahudi (Kol. 2:16-17). Bagaimanapun, demi kepentingan Injil ia mau bersusah-payah menghormati
kebiasaan Yahudi yang tekait dengan Taurat, sekalipun ia meyakini bahwa semua itu tidak
mempengaruhi status seseorang di hadapan Allah. Sikap seperti ini berpotensi untuk disalahpahami,
baik oleh orang Yahudi maupun bangsa lain. Paulus sering kali dianggap meniadakan Hukum Taurat
(Kis. 21:21) atau mengajarkan hidup yang bebas tanpa aturan sama sekali (Rm. 3:8) guna mencari
perkenanan manusia (Gal. 1:10). Walaupun resiko yang muncul cukup besar, tetapi Paulus tetap
berpegang pada prinsip ini, karena semua ini dilakukan demi efektivitas Injil.

Alkitab memberikan beberapa contoh konkrit tindakan Paulus yang masih mau mengikuti peraturan
Hukum Taurat demi kepentingan Injil. Paulus yang sangat menentang manfaat sunat bagi keselamatan
(Gal. 5:12; Flp. 3:2-3) ternyata justru meminta Timotius untuk menyunatkan diri demi efektivitas
pekabaran Injil yang akan mereka lakukan (Kis. 16:3). Di kesempatan yang lain Paulus tetap
menghormati peraturan Hukum Taurat tentang nazar berupa pencukuran rambut, walaupun ia tidak
harus melakukan itu di Yerusalem (Kis. 18:18; Bil. 6:5, 13). Ketika ia ada di Yerusalem dan sedang
digunjingkan oleh banyak orang karena dituduh mengabaikan Hukum Taurat, Paulus bersedia
membiayai dan menjalani proses pentahiran menurut adat istiadat Yahudi (Kis. 21:21-26). Dari
perspektif Paulus ia jelas memandang semua ritual pentahiran ini sebagai tindakan kesalehan yang tidak
ada nilainya di hadapan Allah, tetapi ia tetap mau melakukan itu demi Injil dan karena tindakan itu pada
dirinya sendiri bukanlah dosa. Ritual ini bukan dosa, hanya sesuatu yang tidak berguna.Yang menjadi
dosa adalah motivasi yang keliru di balik ritual tersebut.

Salah satu contoh lain yang menarik dari kemauan Paulus untuk mengadaptasi diri dalam konteks
budaya dan keagamaan Yahudi adalah kesediaannya untuk disesah sebanyak lima kali dengan 39
pukulan dalam setiap sesahan (2Kor. 11:24). Hukum Taurat mengatur bahwa orang yang menghujat
TUHAN harus dilenyapkan dari tengah bangsa Yahudi (Bil. 15:30-31).Perintah ini tidak bisa
dipraktekkan begitu saja dalam konteks hukum Romawi, karena wewenang untuk menghukum mati
seseorang melalui prosedur hukum hanya boleh dilakukan melalui pejabat Romawi.Mahkamah Agama
Yahudi tidak diberi wewenang tersebut. Untuk menyiasati hal itu, tradisi Yahudi mengganti hukuman
yang ada dengan cara lain. Menurut tradisi Yahudi seperti yang tertuang dalam Mishnah, seorang yang
dianggap penghujat akan dikeluarkan dari komunitas orang Yahudi. Tindakan ini sering kali disebut
dikucilkan dari synagoge (Yoh. 9:22; 12:42; 16:2). Bagi seorang penghujat yang ingin tetap dianggap
sebagai bagian dari komunitas Yahudi, orang tersebut harus rela menerima disiplin secara Yahudi, yaitu
berupa pukulan sebanyak 40 kurang satu pukulan (Ul. 25:2-3). Di tengah dua pilihan ini, Paulus
memilih yang terakhir. Ini ia lakukan bukan hanya sekali, namun lima kali. Paulus bisa saja memilih
alternatif pertama dan tidak peduli lagi dengan keselamatan rohani orang-orang yang menganggap dia
sebagai penghujat. Bagaimanapun, ia justru memilih berkorban bagi mereka.

Jika semua tindakan Paulus di atas dicermati, maka kita akan setuju bahwa tindakan itu sangat luar
biasa. Paulus adalah orang yang sangat tegas sehubungan dengan kebenaran, tetapi ia masih mau
mengompromikan beberapa hal yang tidak prinsip dan tidak terlalu berkaitan dengan kebenaran itu. Ia
juga adalah seorang dengan temperamen sangat keras, tetapi ia telah belajar untuk memahami dan
berkorban bagi orang lain. Semuanya ini pasti tidak mungkin dilakukan Paulus jikalau ia tidak
menerima anugerah dari Allah dan menyadari bahwa tujuan hidup kita adalah kemuliaan Allah melalui
pekebaran Injil. Orang-orang yang menempatkan kemuliaan Allah sebagai prioritas hidup tidak akan
kesulitan untuk mengorbankan hak, kebebasan, dan kenyamanan hidup mereka. Jikalau kita sulit
melepaskan sesuatu demi Injil, maka itu menjadi tanda atau bukti betapa kita sudah terikat kepada dan
memberhalakan hal tersebut.

Aplikasi
Apakah selama ini kita sudah meletakkan kepentingan Injil di atas segalanya?Apakah kita telah belajar
mengalah supaya Kristus dimuliakan? Apakah kita rela bersabar terhadap orang lain dan berusaha
memahami dia demi kepentingan Injil? Biarlah teladan Kristus di atas kayu salib terus menjadi fokus
hidup dan dorongan bagi kita. Dia mau mengorbankan kemuliaan sorga dan menjadi sama dengan
manusia supaya Ia bisa menyelamatkan kita. Soli Deo Gloria. #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 9 Mei 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%209%20ayat%2019-23%20%28Bagian
%202%29.pdf
EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (3)
oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Dalam beberapa khotbah yang lalu kita sudah belajar bahwa status Paulus sebagai hamba Allah (9:15-
18) membuat ia bebas dari semua orang (seorang budak tidak mungkin memiliki dua tuan). Walaupun
ia bebas dari semua orang, namun Paulus rela menghambakan diri pada semua orang (9:19). Sebagai
contoh, ia mau menjadi seperti orang Yahudi maupun mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat
supaya ia bisa memenangkan mereka (9:20). Dalam khotbah kali ini kita akan melihat dua kelompok
orang yang lain yang kepada mereka Paulus pun mau menghambakan diri. Mereka adalah orang yang
tidak hidup di bawah Hukum Taurat (9:21) dan mereka yang lemah (9:22a).

Bagi Orang yang Tidak Hidup Di Bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Di ayat ini Paulus menyinggung tentang orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21a).
Dalam teks Yunani dipakai sebutan anomos (a = tidak; nomos = hukum). Kata ini dalam Alkitab
seringkali memiliki arti negatif yang merujuk pada orang/tindakan yang anti atau melanggar hukum
(Luk. 22:37; Kis. 2:23; 2Tes. 2:8; 1Tim. 1:9; 2Ptr. 2:8).Apakah arti seperti ini yang dimaksud Paulus di
1 Korintus 9:19-23?

Kita tampaknya harus memikirkan alternatif arti yang lain, karena arti di atas tidak sesuai dengan
konteks 1 Korintus 9:19-23. Paulus sedang memikirkan anomos dalam arti status (orang yang tidak
memiliki Hukum Taurat = non Yahudi), bukan tindakan (orang durhaka/pelanggar Hukum Taurat). Ada
beberapa alasan yang kuat mengapa kita sebaiknya memahami anomos di ayat ini bukan secara
negatif.Pertama, walaupun kata sifat anomos sering berarti negatif, tetapi kata keterangan anoms
pernah dipakai Paulus untuk orang-orang non Yahudi secara umum yang berdosa tanpa Hukum Taurat
(Rm. 2:12).Dari konteks yang ada anoms di sini berarti orang yang tidak memiliki Taurat, bukan
yang melanggar Taurat (bdk. berdosa tanpa Taurat, dihakimi tanpa Taurat). Kedua, paralelisme
dengan kelompok mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat (hypo nomon, 9:20b) mendorong kita
menafsirkan anomos secara sejajar tetapi kebalikan dari hypo nomon. Karena hypo nomon lebih
mengarah pada status sosial Yahudi, maka anomos juga kemungkinan besar dipahami dalam konteks
status sosial non-Yahudi. Ketiga, jika anomos di 9:21 merujuk pada pelanggar Hukum Taurat, maka
Paulus tidak mungkin mengungkapkan aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah
Taurat.Ia tidak mungkin mengikuti dosa mereka, apalagi di ayat ini ia juga menambahkan aku tidak
hidup di luar hukum Allah tetapi di bawah Hukum Kristus. Jadi, anomos di sini merupakan ungkapan
lain untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak hidup di bawah Taurat.

Ketika Paulus mengatakan bahwa ia hidup seperti anomos, ia tidak mungkin memaksudkan ini secara
etnis, karena ia secara etnis tidak mungkin berubah dari orang Yahudi menjadi orang non-Yahudi.
Ungkapan ini pasti merujuk pada kebiasaan hidup atau budaya non Yahudi.Secara khusus, Paulus
sedang membicarakan tentang kebiasaan makan, karena memang isu di pasal 8-10 adalah tentang
makanan.Di tengah komunitas non-Yahudi Paulus mengikuti pola makan mereka.Ia tidak keberatan jika
harus membeli bahan makanan di pasar yang pasti sudah dipersembahkan sebelumnya kepada para
dewa (10:25-26). Ia tidak menghindari ajakan makan orang lain (10:27).

Tindakan ini membutuhkan keberanian yang besar dan pemahaman teologis yang kuat. Bagi orang
Yahudi, makan bersama orang non-Yahudi merupakan sesuatu yang sangat sensitif, menimbulkan
ketidaknyamanan dan agak mustahil untuk dilakukan (Kis. 10:11-15, 28; Gal. 2:11-14). Cara memasak
maupun memakan orang non-Yahudi tidak mungkin memenuhi peraturan kosher (halal) versi Yahudi.
Bagaimanapun, Paulus rela membangun relasi dengan orang non-Yahudi dengan resiko bahwa ia harus
merasa tidak terbiasa dan berpotensi untuk disalahpahami orang Yahudi yang lain. Ia bisa saja dianggap
sebagai pelanggar Taurat atau orang yang gaya hidupnya plin-plan sesuai pergaulan yang ada.

Paulus selanjutnya memberi tambahan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah (ay. 21b). Dalam teks
Yunani kita dengan mudah menemukan permainan kata di sini: Paulus menjadi seperti anomos, tetapi ia
sendiri bukanlah anomos Allah. Ia memang mengadopsi kebiasaan orang non-Yahudi yang tidak
memiliki Taurat, tetapi bukan berarti bahwa ia sendiri hidup tanpa aturan. Ia mau menjadi without
law (tanpa hukum), tetapi ia bukanlawless (pelanggar hukum). Hal ini mengajarkan sesuatu yang
sangat penting bahwa kebebasan Kristiani di dalam Kristus bukan berarti antinomianisme (sebuah
paham yang menekankan kebebasan mutlak tanpa aturan sama sekali). Kita memang tidak hidup di
bawah Taurat lagi, namun itu bukanlah izin untuk hidup secara sembarangan (Rm. 6:14-15).

Bagi Paulus orang percaya tidak mungkin hidup tanpa hukum.Kita berada di bawah hukum Allah
(7:19).Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa selalu ada batasan dalam kebebasan Kristiani.
Dalam kaitan dengan isu seputar makanan, Paulus pun memiliki batasan yang jelas. Ia tidak mau makan
bersama orang non-Yahudi di dalam kuil mereka, karena itu tergolong penyembahan berhala (10:6-22).
Ketika ia menerima undangan makan orang lain dan tindakan itu menjadi batu sandungan, Paulus
memilih untuk tidak meneruskan makan (10:28).

Penegasan Paulus bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah merupakan sesuatu yang perlu dilakukan.
Paulus memikirkan dua tujuan di sini.Ia ingin menghindari kesalahpahaman atau fitnahan orang lain
yang sering menuduh dia meniadakan tuntutan hukum (Kis. 21:21; Rom 3:8) untuk menyenangkan hati
banyak orang (Gal. 1:10). Ia juga ingin menegur sebagian jemaat Korintus yang menganggap
keselamatan di dalam Kristus sebagai alasan untuk hidup sembarangan (5:1-3; 6:13). Mereka secara
sembarangan menggunakan kebebasan Kristiani sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9).

Hukum Allah yang dimaksud Paulus sangat berkaitan dengan Kristus (ay. 21c).Hukum ini adalah
hukum Kristus.Paulus jelas tidak sedang mengatakan bahwa Hukum Taurat bukanlah hukum dari
Allah.Apa yang ingin disampaikan Paulus di sini adalah perspektif yang baru tentang Taurat. Orang
Kristen tetap memiliki Taurat, yaitu Taurat yang dituliskan Allah dalam hati kita sebagai tanda
perjanjian yang baru, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi (Yer 31:31-33).Hukum ini diletakkan di
dalam diri kita melalui karya Roh Kudus (36:26-27).Dalam Roma 8:2 Paulus secara jelas mengajarkan
(NASB For the law of the Spirit of life in Christ Jesus has set you free from the law of sin and of
death).

Semua tuntutan Taurat sudah digenapi di dalam Kristus melalui ketaatan-Nya yang sempurna (Rm. 8:3-
4).Ia memang datang untuk menggenapi Taurat, bukan meniadakannya (Mat. 5:17-19). Di dalam
Kristus Taurat telah diberi makna baru.Bagi orang Kristen Taurat bukanlah sebuah legalisme ataupun
kumpulan persyaratan untuk keselamatan. Keagamaan legalistik seperti ini (terutama versi Farisi) pasti
akan menimbulkan rasa letih lesu dan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka yang hidup di
bawahnya (Mat. 11:28), karena itu Yesus menawarkan sesuatu yang lain. Kekristenan tetap memiliki
beban dan kuk tersendiri, namun kuk ini enak dan bebannya pun ringan, karena kekristenan merupakan
proses belajar dari Tuhan Yesus (Mat. 11:29-30). Hidup Kristus merupakan Taurat bagi kita.Inilah
yang dimaksud dengan hukum Kristus. Sama seperti Kristus telah menunjukkan kasih kepada orang
lain, demikian pula ketika kita melakukan hal yang sama kita telah memenuhi hukum Kristus (Gal.
6:2). Sama seperti Kristus telah rela menghambakan diri bagi orang lain (Mrk. 10:43-45), demikian
pula Paulus mau mengikuti hukum Kristus ini dengan jalan menjadi hamba bagi semua orang (1Kor.
9:19, 22b). Pendeknya, apa yang dinasehatkan Paulus di 1 Korintus 8-10 dapat dirangkum dalam satu
kalimat jadilah pengikutku sama seperti aku telah menjadi pengikut Kristus (11:1). Inilah hukum
Kristus, Taurat yang sejati.

Bagi Orang yang Lemah (ay. 22a)


Kelompok terakhir yang disinggung Paulus adalah orang yang lemah (asthens, ayat 22a). Sekilas kita
mungkin berpikir bahwa Paulus sedang membicarakan tentang orang yang lemah secara hati nurani di
8:7-13. Dalam Roma 14:1-15:3 Paulus juga membahas tentang perdebatan seputar makanan dan ia
menyinggung tentang orang yang lemah secara hati nurani. Kesan tersebut akan memudar apabila kita
memperhatikan konteks yang lebih sempit di 9:19-23. Dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan
tentang orang-orang yang belum diselamatkan, sebagaimana tersirat dari frase supaya aku
memenangkan mereka yang muncul berkali-kali. Dari petunjuk ini kita dapat menyimpulkan bahwa
orang yang lemah di 9:22a bukanlah orang Kristen, sedangkan orang yang lemah hati nuraninya di 8:11
adalah orang yang sudah percaya.
Alasan lain mengapa orang yang lemah di 9:22a tidak boleh dipahami sebagai lemah secara hati nurani
adalah ketidakadaan kata seperti di ayat 22a yang sebelumnya kita dipakai sejak ayat 20. Dalam hal
ini terjemahan LAI:TB aku menjadi seperti orang yang lemah tidak terlalu tepat (terjemahan ini
mungkin dipengaruhi oleh KJV/NKJV I became as weak). Semua versi lain memilih I became
weak (ASV/NASB/RSV/NRSV/NIV/ESV/NET). Jika terjemahan hurufiah ini diikuti maka kita dapat
menarik kesimpulan bahwa Paulus benar-benar lemah.Ia tidak menambahkan walaupun aku*tidak
lemah+ seperti yang ia pakai di dua ayat sebelumnya (9:20-21), karena ia memang benar-benar lemah.
Seandainya lemah di 9:22a dipahami dalam hal hati nurani, maka Paulus pun memiliki kelemahan itu,
padahal bukan itu yang terjadi. Jadi, lemah di sini pasti bukan secara hati nurani.Kelemahan di sini
adalah kelemahan yang memang dimiliki oleh Paulus juga.

Orang yang lemah di 9:22a sebaiknya dilihat dari sisi sosial. Kita sudah membahas berkali-kali
bahwa di mata jemaat Korintus Paulus tampak sangat lemah (4:10; 2Kor. 10:10; 11:21; 13:4, 9). Gaya
berkhotbah Paulus terlihat lemah jika dibandingkan dengan para orator ulung waktu itu, baik dari sisi
isi, penampilan pembicara, maupun cara penyampaian (2:1-5). Pekerjaan Paulus yang kasar sebagai
pembuat tenda ikut menegaskan kelemahan Paulus (4:10-13). Semua ini dilakukan Paulus karena ia
ingin memenangkan orang lain yang lemah.

Jemaat Korintus sendiri dahulu adalah orang-orang yang lemah menurut ukuran dunia (1:26-
28).Setelah bersentuhan dengan hikmat duniawi mereka malah merasa diri kuat dan hebat (1:18, 22-
23).Kesombongan inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam jemaat, sehingga Paulus
berkali-kali perlu mengajarkan kepada mereka bahwa kekuatan sejati adalah kelemahan di dalam
Kristus (2Kor. 11:30; 12:5, 9-10; 13:9). Jika kita lemah, maka kita kuat (2Kor. 12:10a). Sebaliknya,
orang yang merasa teguh berdiri maka ia akan jatuh (1Kor. 10:13). Sebuah paradoks yang indah!

Apa yang diajarkan dan dilakukan Paulus di sini bersumber dari ajaran Tuhan Yesus (1Kor. 11:1).
Kristus mau mengasihi orang yang lemah (Rm. 5:6).Ia mau menjadi miskin untuk memperkaya orang
lain (2Kor. 8:9). Ia disalibkan dalam kelemahan, tetapi dihidupkan dalam kuasa Allah (2Kor. 13:4).
Begitu pula dengan Paulus.Ia belajar menjadi lemah menurut ukuran dunia demi injil yang ia beritakan
(2Kor. 6:8-10). Sukacita Paulus adalah ketika kelemahannya justru dipakai Tuhan untuk menguatkan
orang lain (2Kor. 13:9 sebab kami bersukacita apabila kami lemah dan kamu kuat).

Aplikasi
Memahami orang lain demi kepentingan Kristus tidaklah mudah. Mengutamakan kepentingan orang
merupakan tugas yang rumit. Menjadi seperti orang lain adalah pergumulan yang paling sulit.
Bagaimanapun, Allah telah memberikan teladan bagi kita sebagai dorongan bahwa hal itu bukan
sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sama seperti Kristus telah rela meninggalkan kemuliaan sorga
dan menjadi sama seperti manusia bahkan lebih hina daripada semua orang ketika ia menanggung
kutuk Allah di kayu salib demikian pula kita harus mau menjadi lemah demi keselamatan orang lain.
Sama seperti Paulus telah mengikuti teladan Yesus yang mau berkorban, demikian pula kita harus mau
kehilangan hak dan kebebasan demi injil. Soli Deo Gloria. #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 23 Mei 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1 Korintus%2009%20ayat%2019-23%20(3).pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (4)


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Dalam beberapa khotbah yang lalu kita sudah belajar bahwa status Paulus sebagai hamba Allah (9:15-
18) membuat ia bebas dari semua orang (seorang budak tidak mungkin memiliki dua tuan). Walaupun
ia bebas dari semua orang, namun Paulus rela menghambakan diri pada semua orang (9:19). Sebagai
contoh, ia mau menjadi seperti orang Yahudi maupun mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat
supaya ia bisa memenangkan mereka (9:20). Dalam khotbah kali ini kita akan melihat dua kelompok
orang yang lain yang kepada mereka Paulus pun mau menghambakan diri. Mereka adalah orang yang
tidak hidup di bawah Hukum Taurat (9:21) dan mereka yang lemah (9:22a).

Bagi Orang yang Tidak Hidup Di Bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Di ayat ini Paulus menyinggung tentang orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21a).
Dalam teks Yunani dipakai sebutan anomos (a = tidak; nomos = hukum). Kata ini dalam Alkitab
seringkali memiliki arti negatif yang merujuk pada orang/tindakan yang anti atau melanggar hukum
(Luk. 22:37; Kis. 2:23; 2Tes. 2:8; 1Tim. 1:9; 2Ptr. 2:8).Apakah arti seperti ini yang dimaksud Paulus di
1 Korintus 9:19-23?

Kita tampaknya harus memikirkan alternatif arti yang lain, karena arti di atas tidak sesuai dengan
konteks 1 Korintus 9:19-23. Paulus sedang memikirkan anomos dalam arti status (orang yang tidak
memiliki Hukum Taurat = non Yahudi), bukan tindakan (orang durhaka/pelanggar Hukum Taurat). Ada
beberapa alasan yang kuat mengapa kita sebaiknya memahami anomos di ayat ini bukan secara
negatif.Pertama, walaupun kata sifat anomos sering berarti negatif, tetapi kata keterangan anoms
pernah dipakai Paulus untuk orang-orang non Yahudi secara umum yang berdosa tanpa Hukum Taurat
(Rm. 2:12).Dari konteks yang ada anoms di sini berarti orang yang tidak memiliki Taurat, bukan
yang melanggar Taurat (bdk. berdosa tanpa Taurat, dihakimi tanpa Taurat). Kedua, paralelisme
dengan kelompok mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat (hypo nomon, 9:20b) mendorong kita
menafsirkan anomos secara sejajar tetapi kebalikan dari hypo nomon. Karena hypo nomon lebih
mengarah pada status sosial Yahudi, maka anomos juga kemungkinan besar dipahami dalam konteks
status sosial non-Yahudi. Ketiga, jika anomos di 9:21 merujuk pada pelanggar Hukum Taurat, maka
Paulus tidak mungkin mengungkapkan aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah
Taurat.Ia tidak mungkin mengikuti dosa mereka, apalagi di ayat ini ia juga menambahkan aku tidak
hidup di luar hukum Allah tetapi di bawah Hukum Kristus. Jadi, anomos di sini merupakan ungkapan
lain untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak hidup di bawah Taurat.

Ketika Paulus mengatakan bahwa ia hidup seperti anomos, ia tidak mungkin memaksudkan ini secara
etnis, karena ia secara etnis tidak mungkin berubah dari orang Yahudi menjadi orang non-Yahudi.
Ungkapan ini pasti merujuk pada kebiasaan hidup atau budaya non Yahudi.Secara khusus, Paulus
sedang membicarakan tentang kebiasaan makan, karena memang isu di pasal 8-10 adalah tentang
makanan.Di tengah komunitas non-Yahudi Paulus mengikuti pola makan mereka.Ia tidak keberatan jika
harus membeli bahan makanan di pasar yang pasti sudah dipersembahkan sebelumnya kepada para
dewa (10:25-26). Ia tidak menghindari ajakan makan orang lain (10:27).

Tindakan ini membutuhkan keberanian yang besar dan pemahaman teologis yang kuat. Bagi orang
Yahudi, makan bersama orang non-Yahudi merupakan sesuatu yang sangat sensitif, menimbulkan
ketidaknyamanan dan agak mustahil untuk dilakukan (Kis. 10:11-15, 28; Gal. 2:11-14). Cara memasak
maupun memakan orang non-Yahudi tidak mungkin memenuhi peraturan kosher (halal) versi Yahudi.
Bagaimanapun, Paulus rela membangun relasi dengan orang non-Yahudi dengan resiko bahwa ia harus
merasa tidak terbiasa dan berpotensi untuk disalahpahami orang Yahudi yang lain. Ia bisa saja dianggap
sebagai pelanggar Taurat atau orang yang gaya hidupnya plin-plan sesuai pergaulan yang ada.

Paulus selanjutnya memberi tambahan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah (ay. 21b). Dalam teks
Yunani kita dengan mudah menemukan permainan kata di sini: Paulus menjadi seperti anomos, tetapi ia
sendiri bukanlah anomos Allah. Ia memang mengadopsi kebiasaan orang non-Yahudi yang tidak
memiliki Taurat, tetapi bukan berarti bahwa ia sendiri hidup tanpa aturan. Ia mau menjadi without
law (tanpa hukum), tetapi ia bukanlawless (pelanggar hukum). Hal ini mengajarkan sesuatu yang
sangat penting bahwa kebebasan Kristiani di dalam Kristus bukan berarti antinomianisme (sebuah
paham yang menekankan kebebasan mutlak tanpa aturan sama sekali). Kita memang tidak hidup di
bawah Taurat lagi, namun itu bukanlah izin untuk hidup secara sembarangan (Rm. 6:14-15).

Bagi Paulus orang percaya tidak mungkin hidup tanpa hukum.Kita berada di bawah hukum Allah
(7:19).Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa selalu ada batasan dalam kebebasan Kristiani.
Dalam kaitan dengan isu seputar makanan, Paulus pun memiliki batasan yang jelas. Ia tidak mau makan
bersama orang non-Yahudi di dalam kuil mereka, karena itu tergolong penyembahan berhala (10:6-22).
Ketika ia menerima undangan makan orang lain dan tindakan itu menjadi batu sandungan, Paulus
memilih untuk tidak meneruskan makan (10:28).

Penegasan Paulus bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah merupakan sesuatu yang perlu dilakukan.
Paulus memikirkan dua tujuan di sini.Ia ingin menghindari kesalahpahaman atau fitnahan orang lain
yang sering menuduh dia meniadakan tuntutan hukum (Kis. 21:21; Rom 3:8) untuk menyenangkan hati
banyak orang (Gal. 1:10). Ia juga ingin menegur sebagian jemaat Korintus yang menganggap
keselamatan di dalam Kristus sebagai alasan untuk hidup sembarangan (5:1-3; 6:13). Mereka secara
sembarangan menggunakan kebebasan Kristiani sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9).

Hukum Allah yang dimaksud Paulus sangat berkaitan dengan Kristus (ay. 21c).Hukum ini adalah
hukum Kristus.Paulus jelas tidak sedang mengatakan bahwa Hukum Taurat bukanlah hukum dari
Allah.Apa yang ingin disampaikan Paulus di sini adalah perspektif yang baru tentang Taurat. Orang
Kristen tetap memiliki Taurat, yaitu Taurat yang dituliskan Allah dalam hati kita sebagai tanda
perjanjian yang baru, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi (Yer 31:31-33).Hukum ini diletakkan di
dalam diri kita melalui karya Roh Kudus (36:26-27).Dalam Roma 8:2 Paulus secara jelas mengajarkan
(NASB For the law of the Spirit of life in Christ Jesus has set you free from the law of sin and of
death).

Semua tuntutan Taurat sudah digenapi di dalam Kristus melalui ketaatan-Nya yang sempurna (Rm. 8:3-
4).Ia memang datang untuk menggenapi Taurat, bukan meniadakannya (Mat. 5:17-19). Di dalam
Kristus Taurat telah diberi makna baru.Bagi orang Kristen Taurat bukanlah sebuah legalisme ataupun
kumpulan persyaratan untuk keselamatan. Keagamaan legalistik seperti ini (terutama versi Farisi) pasti
akan menimbulkan rasa letih lesu dan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka yang hidup di
bawahnya (Mat. 11:28), karena itu Yesus menawarkan sesuatu yang lain. Kekristenan tetap memiliki
beban dan kuk tersendiri, namun kuk ini enak dan bebannya pun ringan, karena kekristenan merupakan
proses belajar dari Tuhan Yesus (Mat. 11:29-30). Hidup Kristus merupakan Taurat bagi kita.Inilah
yang dimaksud dengan hukum Kristus. Sama seperti Kristus telah menunjukkan kasih kepada orang
lain, demikian pula ketika kita melakukan hal yang sama kita telah memenuhi hukum Kristus (Gal.
6:2). Sama seperti Kristus telah rela menghambakan diri bagi orang lain (Mrk. 10:43-45), demikian
pula Paulus mau mengikuti hukum Kristus ini dengan jalan menjadi hamba bagi semua orang (1Kor.
9:19, 22b). Pendeknya, apa yang dinasehatkan Paulus di 1 Korintus 8-10 dapat dirangkum dalam satu
kalimat jadilah pengikutku sama seperti aku telah menjadi pengikut Kristus (11:1). Inilah hukum
Kristus, Taurat yang sejati.

Bagi Orang yang Lemah (ay. 22a)


Kelompok terakhir yang disinggung Paulus adalah orang yang lemah (asthens, ayat 22a). Sekilas kita
mungkin berpikir bahwa Paulus sedang membicarakan tentang orang yang lemah secara hati nurani di
8:7-13. Dalam Roma 14:1-15:3 Paulus juga membahas tentang perdebatan seputar makanan dan ia
menyinggung tentang orang yang lemah secara hati nurani. Kesan tersebut akan memudar apabila kita
memperhatikan konteks yang lebih sempit di 9:19-23. Dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan
tentang orang-orang yang belum diselamatkan, sebagaimana tersirat dari frase supaya aku
memenangkan mereka yang muncul berkali-kali. Dari petunjuk ini kita dapat menyimpulkan bahwa
orang yang lemah di 9:22a bukanlah orang Kristen, sedangkan orang yang lemah hati nuraninya di 8:11
adalah orang yang sudah percaya.

Alasan lain mengapa orang yang lemah di 9:22a tidak boleh dipahami sebagai lemah secara hati nurani
adalah ketidakadaan kata seperti di ayat 22a yang sebelumnya kita dipakai sejak ayat 20. Dalam hal
ini terjemahan LAI:TB aku menjadi seperti orang yang lemah tidak terlalu tepat (terjemahan ini
mungkin dipengaruhi oleh KJV/NKJV I became as weak). Semua versi lain memilih I became
weak (ASV/NASB/RSV/NRSV/NIV/ESV/NET). Jika terjemahan hurufiah ini diikuti maka kita dapat
menarik kesimpulan bahwa Paulus benar-benar lemah.Ia tidak menambahkan walaupun aku*tidak
lemah+ seperti yang ia pakai di dua ayat sebelumnya (9:20-21), karena ia memang benar-benar lemah.
Seandainya lemah di 9:22a dipahami dalam hal hati nurani, maka Paulus pun memiliki kelemahan itu,
padahal bukan itu yang terjadi. Jadi, lemah di sini pasti bukan secara hati nurani.Kelemahan di sini
adalah kelemahan yang memang dimiliki oleh Paulus juga.

Orang yang lemah di 9:22a sebaiknya dilihat dari sisi sosial. Kita sudah membahas berkali-kali
bahwa di mata jemaat Korintus Paulus tampak sangat lemah (4:10; 2Kor. 10:10; 11:21; 13:4, 9). Gaya
berkhotbah Paulus terlihat lemah jika dibandingkan dengan para orator ulung waktu itu, baik dari sisi
isi, penampilan pembicara, maupun cara penyampaian (2:1-5). Pekerjaan Paulus yang kasar sebagai
pembuat tenda ikut menegaskan kelemahan Paulus (4:10-13). Semua ini dilakukan Paulus karena ia
ingin memenangkan orang lain yang lemah.

Jemaat Korintus sendiri dahulu adalah orang-orang yang lemah menurut ukuran dunia (1:26-
28).Setelah bersentuhan dengan hikmat duniawi mereka malah merasa diri kuat dan hebat (1:18, 22-
23).Kesombongan inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam jemaat, sehingga Paulus
berkali-kali perlu mengajarkan kepada mereka bahwa kekuatan sejati adalah kelemahan di dalam
Kristus (2Kor. 11:30; 12:5, 9-10; 13:9). Jika kita lemah, maka kita kuat (2Kor. 12:10a). Sebaliknya,
orang yang merasa teguh berdiri maka ia akan jatuh (1Kor. 10:13). Sebuah paradoks yang indah!

Apa yang diajarkan dan dilakukan Paulus di sini bersumber dari ajaran Tuhan Yesus (1Kor. 11:1).
Kristus mau mengasihi orang yang lemah (Rm. 5:6).Ia mau menjadi miskin untuk memperkaya orang
lain (2Kor. 8:9). Ia disalibkan dalam kelemahan, tetapi dihidupkan dalam kuasa Allah (2Kor. 13:4).
Begitu pula dengan Paulus.Ia belajar menjadi lemah menurut ukuran dunia demi injil yang ia beritakan
(2Kor. 6:8-10). Sukacita Paulus adalah ketika kelemahannya justru dipakai Tuhan untuk menguatkan
orang lain (2Kor. 13:9 sebab kami bersukacita apabila kami lemah dan kamu kuat).

Aplikasi
Memahami orang lain demi kepentingan Kristus tidaklah mudah. Mengutamakan kepentingan orang
merupakan tugas yang rumit. Menjadi seperti orang lain adalah pergumulan yang paling sulit.
Bagaimanapun, Allah telah memberikan teladan bagi kita sebagai dorongan bahwa hal itu bukan
sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sama seperti Kristus telah rela meninggalkan kemuliaan sorga
dan menjadi sama seperti manusia bahkan lebih hina daripada semua orang ketika ia menanggung
kutuk Allah di kayu salib demikian pula kita harus mau menjadi lemah demi keselamatan orang lain.
Sama seperti Paulus telah mengikuti teladan Yesus yang mau berkorban, demikian pula kita harus mau
kehilangan hak dan kebebasan demi Injil. Soli Deo Gloria. #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 Juli 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2019-23%20(4).pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (5)


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Posisi ayat 23 dalam perikop 9:19-23 masih diperdebatkan oleh beberapa para penafsir. Sebagian
menganggap ayat ini sebagai penutup yang sesuai, sedangkan yang lain melihat ayat 23 sebagai
tambahan yang merusak alur pemikiran di 9:19-23. Yang lain lagi bahkan mengusulkan agar ayat 23
dipandang sebagai permulaan dari perikop sesudahnya (9:24-27).

Keberagaman pendapat di atas memang bisa dipahami.Ada dua poin utama yang memicu perdebatan
ini.Pertama, faktor sastra. Pembacaan sekilas akan menunjukkan bahwa ayat 19 dan 22b membentuk
sebuah inclusio (bagian awal dan akhir sama) yang indah. Inclusio ini menjadi petunjuk bahwa perikop
9:19-23 seharusnya berhenti di ayat 22b. Keberadaan ayat 23 justru berpotensi merusak struktur sastra
tersebut.Kedua, faktor konteks. Ayat 23 sekilas menyiratkan bahwa Paulus sedang membicarakan
tentang berkat yang akan dia terima dari pemberitaan Injil yang ia lakukan (supaya aku memperoleh
bagian dalamnya). Ide ini dianggap tidak sesuai dengan 9:19-22 dan lebih cocok jika dikaitkan dengan
9:24-27 (ay. 27 supaya sesudah aku memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri
ditolak).

Sebagaimana akan dijelaskan berikut ini, dua kesan di atas tidak sepenuhnya benar. Walaupun ayat 19
dan 22b memang mengungkapkan ide yang hampir sama, namun ayat 23 tetap memiliki fungsi yang
penting dalam pembahasan di 9:19-23. Ayat ini menunjukkan alasan bagi tindakan di ayat 19-22. Kalau
sebelumnya Paulus hanya menyatakan tujuan dari tindakan itu, yaitu memenangkan orang lain (ay. 19b,
20, 21, 22a, 22b), sekarang ia menjelaskan alasannya. Seandainya ayat 23 dipisahkan dari ayat 19-22,
maka kita akan mengalami kesulitan menemukan fungsi ayat 23 di perikop sesudahnya. Dengan kata
lain, ayat 23 lebih pas diletakkan sebagai penutup 9:19-22 daripada pendahuluan 9:24-27.

Gaya Hidup yang Diwarnai Injil (ay. 23a)


Sebagian versi menerjemahkan bagian ini dengan segala sesuatu ini (LAI:TB;
RSV/NRSV/NIV/NET/ESV), sedangkan yang lain memilih ini aku lakukan (KJV/NKJV). Sesuai
dengan teks Yunani yang ada, kata ini sebenarnya tidak muncul dalam bagian ini.Paulus hanya
memakai kata panta (segala sesuatu).Ia bisa saja menambahkan kata ini, tetapi ia memutuskan
untuk tidak melakukan hal tersebut. Hal ini pasti memiliki maksud tertentu. Penambahan kata ini
akan memberi kesan bahwa Paulus hanya memikirkan tindakannya di ayat 19-22. Ketidakadaan kata
ini menunjukkan bahwa Paulus sedang memikirkan semua tindakan lain di luar ayat 19-22.

Bagi Paulus, apa saja yang ia lakukan pasti berkaitan dengan Injil, baik pada waktu ia tidak mau
menerima tunjangan dari jemaat (9:15-18), ketika ia menghambakan diri kepada semua orang (9:19-
23), maupun ketika ia mendisplin diri secara rohani (9:24-27). Tidak ada tindakan apa pun yang
terpisah dari Injil. Kita bahkan bisa meyakini bahwa segala sesuatu di ayat 23a mencakup hal-hal lain
di luar konteks pemberitaan Injil.Apa saja yang kita lakukan, baik makan, minum, atau yang lain, kita
harus melakukannya untuk kemuliaan Tuhan (10:31).

Untuk menegaskan poin di atas, Paulus sengaja memakai kata kerja present tense untuk kata aku
lakukan. Tense ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Paulus sudah menjadi kebiasaan (baca:
gaya hidup). Tindakan ini bukan hanya yang berkaitan secara langsung dengan pemberitaan Injil secara
verbal.Dalam segala situasi dan segala waktu, Injil selalu menjadi kekuatan yang menggerakkan dan
mengarahkan hidup Paulus (driving force).Dalam kehidupan Paulus, Injil bukan hanya menjadi obyek
pengetahuan, tetapi perspektif untuk mengetahui segala sesuatu.Injil bukan hanya menjadi salah satu
bagian dari hidup Paulus, tetapi seluruh hidupnya adalah Injil.

Di akhir ayat 23a Paulus memberikan tambahan frase karena Injil (LAI:TB). Frase ini diterjemahkan
sedikit berbeda di berbagai versi.Sebagian memilih karena Injil (NET/YLT because of the
gospel/good news).Sebagian besar menggunakan terjemahan demi Injil
(KJV/ASV/RSV/NRSV/NIV for the sake of the gospel/the gospels sake). Alternatif ke-1
menyiratkan alasan dari semua yang dilakukan Paulus (apa yang mendorong Paulus melakukan semua
itu?), sedangkan alternatif ke-2 lebih mengarah pada tujuan dari semuanya itu (untuk apa Paulus
melakukan itu?). Dari sisi tata bahasa, frase dia to euangelion memang bisa diterjemahkan dengan dua
cara di atas. Alternatif mana yang lebih baik?Kita sulit menentukan sekarang, karena jawabannya
tergantung pada penafsiran kita terhadap ayat 23b.Berdasarkan kesulitan ini, kita sebaiknya langsung
membahas ayat 23b, kemudian kita baru kembali lagi pada pertanyaan ini.

Mengambil Bagian Di Dalam Injil (ay. 23b)


Ayat 23b merupakan bagian yang paling sulit dalam pasal 9. Secara hurufiah bagian ini dapat
diterjemahkan supaya aku menjadi pengambil bagian bersama-sama di dalamnya (NASB that I may
become a fellow partaker of it, juga KJV/NKJV). Kata nya (autou) jelas merujuk pada Injil.Paulus
ingin mengambil bagian di dalam Injil. Bagaimanapun, apa diambil dari Injil tetap tidak terlalu jelas.
Apa yang dimaksud dengan mengambil bagian di dalam Injil?
Para penafsir mengusulkan 3 alternatif.Pertama, mengambil bagian di dalam berkat-berkat Injil
(RSV/NRSV/NIV/ESV/NLT its blessings).Pandangan ini merupakan pandangan tradisional dan
populer di kalangan para penafsir. Sebagian dari mereka bahkan hanya mengutip pandangan ini tanpa
merasa perlu memberikan argumen apa pun, seolah-olah pandangan tradisional ini sudah pasti benar.
Beberapa yang memberikan argumen biasanya terbatas pada dua hal: konteks 9:24-27 dan pemunculan
kata mengambil bagian di Roma 11:17. Mereka yang memegang alternatif ini meyakini bahwa berkat
rohani yang dipikirkan Paulus berkaitan dengan kehidupan kekal di sorga kelak (bdk. ay. 27 supaya
jangan aku sendiri ditolak).Beberapa menduga berkat ini adalah kemuliaan atau upah di sorga (bukan
kehidupan kekalnya).Untuk memperkuat dugaan tersebut, mereka mengajukan Roma 11:17 sebagai
dukungan.Di teks ini kata pengambil bagian diterapkan pada bangsa-bangsa non-Yahudi sebagai
cabang zaitun liar yang dicangkokkan ke pokok zaitun dan mengambil bagian dalam akar pohon
itu.Pemakaian seperti ini dianggap memberi kesan bahwa cabang itu mengambil keuntungan dari akar
pohon. Jika diterapkan pada 1 Korintus 9:23b, mengambil bagian di dalam Injil berarti mengambil
keuntungan/berkat dari Injil.

Walaupun pandangan ini banyak dipegang oleh para penafsir, namun argumen yang dipakai tidak
terlalu meyakinkan.Seperti sudah disinggung sebelumnya, ayat 23 lebih berkaitan dengan ayat 19-22
daripada ayat 24-27.Ayat 23b tampaknya tidak mengarah pada ayat 27b. Ayat 27b berbicara tentang
kehidupan kekal, dan ini tidak mungkin bisa diraih melalui usaha Paulus (bdk. ay. 23 segala sesuatu
aku lakukan...). Kehidupan kekal adalah anugerah cuma-cuma dari Kristus. Paulus tidak pernah
mengajarkan bahwa kehidupan kekal dapat diusahakan oleh manusia melalui cara aapun (Ef 2:8-9).

Seandainya kita menafsirkan berkat sebagai kemuliaan/upah di sorga, hal ini tetap tidak
menghilangkan sebuah kesulitan yang besar.Inti di pasal 9 adalah kerelaan Paulus untuk tidak
menggunakan satu pun hak (9:15-18) dan kebebasannya demi menyelamatkan orang lain (9:19-22).
Paulus tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pemberitaan Injil. Inti ini akan menjadi mubazir
apabila Paulus menutupnya dengan menyatakan keuntungan apa yang menjadi bagiannya sendiri dalam
pemberitaan Injil. Penutup seperti ini sangat berkesan egosentris dan bertolak belakang dengan inti di
seluruh pasal 9.

Pernyataan ini tidak berarti bahwa pemberita Injil tidak mendapat upah kekal dari Tuhan. Semua
pekerja patut mendapatkan upahnya sesuai kadar pekerjaan masing-masing orang (3:9). Bagaimanapun,
bukan ini yang sedang dipikirkan Paulus di 9:23.

Kedua, mengambil bagian di dalam pekerjaan atau perkembangan Injil. Pandangan ini secara eksplisit
diekspresikan dalam terjemahan NEB All this I do for the sake of the Gospel, to bear my part in
proclaiming it (juga NLT/NJB). Menurut pandangan ini Paulus di ayat 23b sedang merujuk balik pada
tujuan yang dia ulang terus di ayat 19-22, yaitu supaya dia memenangkan/menyelamatkan orang-orang
lain. Dengan melakukan segala sesuatu bagi Injil, maka Injil menjadi semakin berkembang.

Konteks pasal 9 secara keseluruhan juga dianggap memberikan dukungan yang meyakinkan. Semua
yang dilakukan Paulus di pasal 9 memiliki satu tujuan: supaya Injil jangan terhalang (ay. 12). Jika
memang tujuan Paulus adalah supaya Injil jangan terhalang (9:12), maka tujuan ini dapat
diekspresikan melalui cara lain sebagai supaya Injil cepat berkembang. Kesejajaran inilah yang
dimaksud Paulus ketika ia mengatakan mengambil bagian di dalam *perkembangan+ Injil. Sebagai
dukungan tambahan, penganut pandangan ini menyinggung penggunaan kata pengambil bagian di
Filipi 1:7.Dalam teks ini mengambil bagian di dalam kasih karunia dijelaskan dalam berbagai
tindakan, yaitu dipenjara karena Injil, membela Injil, dan meneguhkan berita Injil. Walaupun dalam
teks ini ungkapan yang dipakai tidak persis sama (mengambil bagian dalam kasih karunia, bukan
mengambil bagian dalam Injil), namun penggunaannya tetap mengarah pada melakukan sesuatu
untuk pekerjaan Injil.

Pandangan ini lebih meyakinkan daripada yang pertama.Satu-satunya kelemahan dari pandangan ini
adalah kesan pengulangan yang tidak diperlukan.Seandainya Paulus hanya ingin menegaskan bahwa
tujuan dari semua yang dilakukan adalah memberikan kontribusi bagi perkembangan/kemajuan Injil,
maka hal ini sudah tersampaikan dengan jelas di ayat 19-22.Dalam bagian ini Paulus bahkan berkali-
kali mengungkapkan bahwa tujuan dari semua itu adalah pertobatan banyak orang. Dengan kata lain,
jika pandangan ke-2 ini diambil, maka ayat 23 menjadi mubazir.

Ketiga, mengambil bagian di dalam hakekat/natur Injil.Inti dari pandangan ini adalah tindakan Paulus
dalam pemberitaan Injil di pasal 9 menyiratkan hakekat dari Injil itu sendiri.Sama seperti berita Injil
tentang Kristus yang rela mengorbankan kemuliaan sorgawi untuk menyelamatkan manusia (Flp 2:5-
11), demikian pula Paulus merelakan hak dan kebebasannya demi menyelamatkan orang lain (9:19-
22).Sama seperti Paulus telah diselamatkan secara cuma-cuma melalui Injil, demikian pula Paulus
sekarang memberitakan Injil secara cuma-cuma (9:15-18).Apa yang dia lakukan dalam pemberitaan
Injil sesuai dengan hakekat Injil yang ia beritakan. Pandangan ini sesuai dengan penggunaan kata
mengambil bagian di Roma 11:17 dan Wahyu 1:7. Inti yang ingin disampaikan Paulus dalam
gambaran tentang pohon zaitun di Roma 11:17 bukanlah cabang mengambil keuntungan dari akar
(kontra pandangan ke-1), melainkan memiliki persekutuan dengan akar.Hal ini tampak dari
peringatan Paulus bahwa cabang-cabang cangkokan suatau ketika juga bisa dipotong dan dibuang,
sehingga yang asli bisa kembali dicangkokkan ke pohon zaitun.Gambaran ini sangat mirip dengan
Yesus sebagai pokok anggur yang menuntut murid-murid-Nya tinggal di dalam-Nya (Yoh. 15).Poin
penting dalam hal ini adalah menjadi sama/satu dengan batang/akar pohon.Dalam Wahyu 1:7 kata
mengambil bagian juga dipahami dalam arti persekutuan dalam kesusahan. Maksudnya, Yohanes dan
penerima Kitab Wahyu berbagi sesuatu yang sama, yaitu kesusahan. Dalam teks ini kata mengambil
bagian jelas tidak mungkin memiliki arti mengambil keuntungan dari sesuatu atau membuat
sesuatu berkembang. Inti yang ingin disampaikan adalah persekutuan.

Pandangan terakhir ini memang tidak terlalu banyak dipegang oleh para penafsir, tetapi pandangan ini
justru yang paling sesuai dengan konteks 1 Korintus 9 secara keseluruhan.Jika ini diterima, maka
penekanan Paulus di ayat 23b terletak pada keinginanya untuk menyamakan dirinya dengan hakekat
Injil. Paulus tidak hanya mampu memberitakan Injil yang menghidupkan, tetapi juga menghidupi Injil
yang ia beritakan. Berdasarkan posisi ini, perbedaan terjemahan di ayat 23a (karena atau demi Injil?)
dapat dijawab dengan lebih mudah.Paulus lebih memikirkan alternatif yang pertama. Semua yang ia
lakukan didorong oleh Injil. Hakekat Injil itulah yang memampukan Paulus melakukan segala sesuatu
sesuai dengan Injil yang ia percayai, hidupi, dan beritakan.

Penutup
Salah satu kelemahan terbesar orang Kristen adalah tidak memiliki wawasan dunia Kristen yang
terintegrasi. Kita sering kali tidak menyadari bahwa apa pun yang kita lakukan atau pikirkan harus
dilihat dari perspektif keberdosaan manusia penebusan di atas kayu salib kehidupan yang diarahkan
untuk kemuliaan Allah persekutuan kekal dengan Allah di sorga. Tanpa salib Kristus maka manusia
tidak mungkin akan menemukan tujuan hidup yang jelas. Tanpa salib manusia tidak akan memiliki
standar kehidupan yang tepat. Tanpa salib manusia tidak akan memiliki nilai hidup yang benar. Biarlah
salib Kristus selalu menjadi perspektif kita dalam melihat segala sesuatu.Biarlah kita bukan hanya
menjadi pemberita Injil, tetapi sekaligus contoh hidup (living paradigm) dari Injil itu.

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 8 Agustus 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2019-23%20(5).pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:24-25


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Sebagian penafsir mempersoalkan posisi 9:24-27. Menurut mereka, bagian ini tidak memiliki
keterkaitan yang jelas dengan keseluruhan pasal 9. Gambaran tentang olahragawan di bagian ini
diyakini tidak berhubungan dengan tema makan makanan berhala (pasal 8) maupun kebebasan/hak
yang dikorbankan demi kepentingan orang lain (pasal 9). Berdasarkan keyakinan ini mereka menduga
bahwa 9:24-27 merupakan tambahan dari orang lain yang disisipkan secara keliru di posisi seperti
sekarang.

Spekulasi di atas tidak bisa dibenarkan. Poin yang ingin disampaikan dalam ilustrasi di 9:24-27
melengkapi prinsip yang sudah diajarkan di 9:-13. Sebelumnya Paulus sudah memberikan contoh dari
pelayanannya sendiri tentang bagaimana kita melepaskan kebebasan dan hak kita demi mencapai tujuan
yang mulia, yaitu memenangkan orang lain bagi Injil. Prinsip ini sama dengan kehidupan para atlet.
Demi sebuah kemenangan, mereka rela mengorbankan kenyamanan hidup, mengontrol nafsu makan,
dan menguasai keinginan.Dalam latihan ini mereka jelas harus mengorbankan kebebasan dan hak
mereka. Walaupun mereka berhak makan apa pun, namun akhirnya mereka memilih untuk
mengabaikan itu demi suatu tujuan yang mereka anggap lebih berharga daripada soal makanan.
Walaupun mereka bebas untuk mengatur aktivitas hidup mereka (istirahat, bersantai, latihan fisik),
tetapi demi sebuah hadiah mereka akhirnya memilih untuk melepaskan kebebasan ini. Begitu pula
dengan prinsip hidup Paulus di 9:1-23. Ia mau melepaskan hak dan kebebasannya demi Injil.

Keterkaitan lain mungkin didapatkan dari fakta bahwa pertandingan akbar olah raga sering kali
dilakukan dalam konteks memperingati atau menghormati dewa tertentu, yang pasti melibatkan
melibatkan unsur relijius di dalamnya. Sangat mungkin isu relijius inilah yang dianggap Paulus relevan
dengan isu tentang makan makanan berhala di pasal 8, karena itu ia sengaja memilih ilustrasi dari
pertandingan olah raga.

Gambaran tentang pertandingan olah raga di 9:24-27 pasti sudah sedemikian akrab bagi jemaat
Korintus. Pertanyaan tidak tahukah kamu? di awal ayat 24 merupakan pertanyaan retoris yang tidak
perlu dijawab.Penggunaan iustrasi dari dunia olah raga untuk mengajakan semangat perjuangan yang
kuat merupakan fenomena yang sangat umum pada waktu itu.Baik penulis Yahudi (Philo) maupun
penulis kafir (Epictetus) beberapa kali memakai gambaran seperti ini.Bagaimanapun, khusus bagi
jemaat Korintus, ilustrasi dari dunia olah raga memiliki kesan yang berbeda.Mereka mengetahui seluk-
beluk pertandingan olah raga bukan hanya dari tulisan, tetapi melalui pengalaman langsung.Mereka
pasti sudah sering mendengar atau bahkan menonton pertandingan Isthmian.Pertandingan yang
dilaksanakan di sebuah tempat berjarak 24 km dari Korintus ini bahkan sering kali dikutip oleh para
penulis kuno terkenal.Pertandingan ini dilakukan setiap dua tahun dan mempertandingkan berbagai
cabang olah raga.Dibandingkan dengan jenis perhelatan olah raga besar lainnya, pertandingan Isthmian
adalah yang terbesar kedua setelah pertandingan Olympic. Pertandingan lain yang kalah populer dari
Isthmian adalah Delphi dan Nemea. Bagi orang Korintus pertandingan Isthmian merupakan
kebanggaan mereka. Usia pertandingan yang sudah berabad-abad menjadi salah satu keunggulan dari
pertandingan ini. Walaupun pada tahun 146 SM perhelatan olah raga ini sempat berhenti seiring dengan
kehancuran kota akibat invasi militer Romawi, pada tahun 44 SM penduduk Korintus kembali
menggalakkan pertandingan ini. Orang-orang kaya mengumpulkan dana yang besar untuk membangun
kembali stadion yang hancur dan membiayai penyelengaraan lomba. Semua ini mereka lakukan demi
sebuah kehormatan. Paulus sendiri pasti cukup mengenal pertandingan ini, terutama ketika ia dulu
berada di Korintus. Menurut Kisah Para Rasul 18 Paulus sempat melayani di Korintus selama hampir 2
tahun sebelum Galio akhirnya menjadi gubernur di Akhaya dan mempersulit pelayanannya di sana
(18:9-12). Dengan mempertimbangkan catatan historis bahwa Galio menjadi gubernur di sana sekitar
tahun 50 atau 51 M, kita mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk meyakini bahwa Paulus dalam taraf
tertentu sangat mengenal pertandingan Ishtmian. Ia mungkin mengenal pertandingan ini pada tahun 49
atau 51 atau dua-duanya.

Dugaan seperti ini tidak berlebihan.Selain Paulus sendiri memang menyukai olah raga (terlihat dari
kebiasaan Paulus memakai ilustrasi dari bidang ini, Gal. 5:7; Flp. 2:13-14, 16; 2Tim. 2:5; 4:8),
pekerjaan Paulus sebagai pembuat tenda memang berkaitan dengan penyelengaraan pertandingan di
Isthmian. Selama berlangsungnya pertandingan ini banyak orang dari berbagai penjuru dunia
berkunjung ke Korintus/Isthmian untuk menyaksikan perlombaan akbar ini. Pada waktu itulah mereka
sangat membutuhkan tenda untuk tempat tinggal sementara. Bagi Paulus, hal ini adalah kesempatan
untuk mendapatkan uang yang bisa ia pakai untuk mendukung pemberitaan Injil yang ia lakukan. Di
samping itu, kedatangan ribuan orang dari berbagai etnis dan belahan dunia merupakan kesempatan
yang besar bagi Paulus untuk memberitakan Injil, sehingga Injil lebih cepat tersebar ke seluruh
dunia.Pola pemikiran ini sangat mungkin meniru dari pola kerja Allah pada Hari Pentakosta (Kis. 2:1-
11).Mengapa Roh Kudus dicurahkan pada saat hari raya ini dilaksanakan? Mengapa pertobatan massal
terjadi pada momen yang sama? Jawabannya berkaitan dengan rencana ilahi untuk membawa Injil
sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).Pada saat Hari Pentakosta inilah semua orang Yahudi di perantauan
datang ke Yerusalem.Dengan menjangkau mereka pada momen seperti ini berarti Injil disebarkan ke
seluruh dunia dengan lebih cepat dan efisien.

Melalui ilustrasi dari dunia olah raga di 9:24-27 Paulus ingin mengajarkan bahwa kehidupan rohani dan
pelayanan dapat diibaratkan seperti kehidupan seorang atlet. Kehidupan rohani tidak bisa dijalani
dengan santai dan tanpa tujuan. Beberapa ungkapan yang digunakan di 9:24-25 menunjukkan usaha
yang begitu keras untuk menjalani. Sama seperti seorang atlet lari, kita harus berlari sekuat tenaga kita
(9:24b). Atlet yang ikut dalam pertandingan disebut dengan ho agnizomenos.Kata dasar agnizomai
bisa memiliki arti berjuang (Luk. 13:24; 1Tim. 4:10), melawan (Yoh. 18:36), bergumul (Kol.
1:29; 4:12), atau bertanding (1Tim. 6:12; 2Tim. 4:7).Semua arti ini menyiratkan usaha yang penuh
kesungguhan dan kerja keras. Tidak heran, di perkembangan selanjutnya kata agnizomai memiliki
makna yang berkaitan dengan ide menderita, misalnya Bahasa Inggris agonize yang berarti
menderita sekali. Kehidupan rohani memang sebuah perjuangan melawan diri sendiri, Iblis, dan
dunia (1Yoh. 2:16; Ef. 6:10-18).Tidak ada waktu untuk bersantai.Pepatah biar lambat agar selamat
tidak berlaku dalam urusan pertumbuhan rohani.

Syarat Kemenangan (ay. 24-25a)


Paulus tidak hanya menunjukkan bahwa kehidupan rohani atau pelayanan ibarat sebuah pertandingan.
Ia juga memberikan rahasia atau strategi bagaimana pertandingan tersebut dapat dimenangkan. Apa saja
syarat untuk meraih kemenangan ini?

Berlari Sedemikian Rupa (ay. 24b)


Ilustrasi yang dipakai Paulus di bagian ini menimbulkan kesulitan bagi sebagian orang. Problem ini
terutama berkaitan dengan hanya satu orang yang mendapatkan hadiah.Apakah Paulus memaksudkan
bahwa semua orang Kristen harus berlari tetapi hanya ada satu orang Kristen saja yang berhasil
mendapatkan hadiah? Lalu apa yang terjadi dengan mereka yang tidak mendapatkan hadiah? Apakah
kehidupan kekristenan memang sebuah kompetisi dengan sesama orang Kristen? Beberapa orang
berusaha memberikan solusi dengan cara menafsirkan satu orang sebagai gereja secara keseluruhan,
sedangkan orang-orang laina dalah non Kristen. Sebagian memahami satu orang sebagai Kristus
yang sudah mewakili kita dalam perlombaan iman. Yang lain lagi menganggap Paulus memang salah
memilih ilustrasi yang tepat.

Semua upaya ini sebenarnya tidak diperlukan. Kesulitan untuk memahami ilustrasi ini muncul karena
ketidaktahuan tentang cara menafsirkan ilustrasi. Sebuah ilustrasi tidak boleh dipahami secara detil
seolah-olah setiap aspek yang berkaitan dengan ilustrasi itu memiliki makna spiritual. Dalam
menafsirkan ilustrasi atau gambaran kita harus memperhatikan poin analogi utama. Dalam metafora di
9:24-27 inti yang mau disampaikan bukan jumlah peserta, tetapi betapa sulitnya mendapatkan hadiah.
Poin inilah yang ingin ditonjolkan oleh Paulus.Ia tidak menyinggung tentang apakah para pelari itu
memiliki hubungan kekeluargaan atau tidak. Yang ingin ditekankan hanya satu: karena hadiah hanya
diperuntukkan bagi satu orang, maka setiap pelari harus berusaha sekeras mungkin untuk
mendapatkannya. Poin ini dipertegas dengan nasehat Paulus karena itu larilah sedemikian rupa.

Jika kita mengamati secara lebih seksama, penekanan pada nasehat ini bukan terletak pada kata
lari.Semua peserta, baik yang menang maupun yang kalah, memang harus terus berlari.Yang
ditekankan adalah kata sedemikian rupa.Dalam kalimat Yunani kata ini diletakkan di bagian awal
ayat 24b, sehingga bagian ini secara hurufiah dapat diterjemahkan sedemikian rupa kalian harus
berlari untuk mendapatkannya.Berlari saja tidak cukup.Kita harus berlari sedemikian rupa.Kita harus
memberikan usaha terbaik, bukan yang biasa saja.
Di tempat lain Paulus pernah mengajarkan tips berlari yang baik (Flp. 3:13-14). Orang yang berlari
tidak boleh terbebani dengan apa yang ada di belakang. Ia harus melupakan semua itu dan
mengarahkan diri ke depan (Flp. 3:13). Matanya harus diarahkan pada hadiah yang ingin diraih (Flp.
3:14). Dengan kata lain, pelari harus memiliki fokus. Ia tidak boleh terganggu oleh apa pun juga.
Demikian pula dengan kerohanian dan pelayanan kita.Kita pun harus mengarahkan hidup kita pada
Injil.

Menguasai Diri Dalam Segala Hal (ay. 25a)


Syarat lain untuk meraih kemenangan adalah menguasai diri dalam segala hal. Menurut kebiasaan
waktu itu, para atlet yang ingin mengambil bagian dalam pertandingan di Olympic/Isthmian harus
menjalani pemusatan latihan selama 10 bulan.Pada bulan yang terakhir, latihan dipusatkan di stadion
tempat berlangsungnya pertandingan.Semua ini dimaksudkan agar mereka memiliki peluang yang
makin besar untuk memenangkan pertandingan.Selama latihan inilah kekuatan seseorang dalam
menguasai dirinya benar-benar diuji.

Penambahan kata dalam segala sesuatu menyiratkan cakupan yang inklusif, sama seperti sikap Paulus
yang mau menjadi segala-galanya bagi semua orang (9:23). Seorang atlet bukan hanya dituntut untuk
menjalani program latihan yang ketat, tetapi ia juga harus menjaga pola makan. Epictetus, seorang
penulis kafir kuno, pernah menggambarkan latihan keras yang dijalani atlet dengan kalimat sebagai
berikut: kalian harus tunduk pada disiplin, mengikuti diet yang ketat, mengabaikan kue yang manis,
latihan di bawah tekanan pada jam tertentu, baik di cuaca panas maupun dingin; engkau tidak boleh
minum air dingin atau anggur sewaktu-waktu seperti yang engkau mau. Penguasaan diri dalam
konteks pertandingan olah raga waktu itu juga mencakup kepatuhan pada peraturan olah raga.Para atlet
yang ingin bertanding harus mengambil sumpah untuk mematuhi semua peraturan pertandingan dan
menjalani latihan yang ketat.Tidak salah jika kita merangkum semua ini dalam kalimat kemenangan di
pertandingan tidak mungkin diperoleh tanpa keringat. No pain, no gain. Sebagai seorang manusia,
atlet jelas memiliki hak dan kebebasan untuk makan apa pun yang mereka inginkan atau beristirahat
kapan pun mereka mau. Bagaimanapun, mereka akhirnya memilih untuk mengorbankan semua hak,
kebebasan, dan kenyamanan hidup mereka demi memperoleh hadiah.Hadiah itulah yang dianggap lebih
penting daripada segala tantangan dan penderitaan fisik yang harus dijalani.

Begitu pula dengan kehidupan rohani kita. Kalau kita menganggap bahwa penerimaan Injil oleh orang
lain sebagai tujuan hidup yang penting (9:19-23 supaya aku dapat memenangkan sebanyak mungkin
orang), maka kita pasti akan rela menanggalkan semua hak/kebebasan kita (9:15-18) guna mencapai
tujuan tersebut. Kita tidak akan mengijinkan hak/kebebasan itu menjadi penghalang bagi tujuan yang
akan kita capai (9:12b).

Sikap di atas tidak dimiliki oleh jemaat Korintus. Mereka tidak mau peduli dengan kehidupan rohani
orang lain. Mereka menggunakan kebebasan secara sembarangan (8:9), sehingga orang lain justru
tersandung karena tindakan itu (8:11). Seharusnya mereka bersedia mengorbankan kebebasan untuk
makan makanan persembahan berhala demi kepentingan orang lain. Kegagalan mereka melakukan hal
ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa menguasai diri.Kalau atlet saja mau mengorbankan
kebebasan demi membangun tubuh fisik mereka, jemaat Korintus seharusnya lebih bersedia untuk
berkorban demi membangun sesama tubuh Kristus (8:1).

Hadiah yang Diperoleh (ay. 25b)


Dalam pertandingan kuno waktu itu, ujuan utama seorang atlet bukanlah materi, seperti sebagian besar
atlet profesional sekarang. Masyarakat Romawi meletakkan kehormatan di atas segalanya.Materi
memang penting, namun hal itu masih di bawah kehormatan.Justru materi harus dipakai sebagai sarana
untuk memperoleh kehormatan.Demikian pula dengan para atlet.Mereka adalah atlet amatir yang
terobses terutama oleh ketenaran. Momen yang paling mengesankan bagi mereka adalah ketika
terompet ditiup, semua penonton diharuskan berdiam diri, nama pemenang diumumkan, dan sebuah
mahkota diletakkan di atas kepala mereka, dengan diiringi oleh tepuk-tangan semua penonton.

Tujuan seperti ini jelas tidak berlangsung lama.Mahkota untuk para juara yang biasanya terbuat dari
daun tumbuhan tertentu dalam beberapa minggu pasti sudah layu. Penonton tidak akan memberikan
tepuk-tangan terus-menerus. Nama pemenang pun dalam beberapa tahun sudah dilupakan orang.Tidak
ada nilai permanen dalam semua ini.

Para filsuf Stoa memiliki konsep yang sedikit lebih mendalam.Bagi mereka hadiah yang paling penting
bukanlah mahkota atau ketenaran.Hadiah yang sesungguhnya adalah kepribadian positif yang
terbentuk, ketahanan diri menghadapi penderitaan, dan kedamaian hati karena berhasil menguasai
diri.Semua hadiah ini dianggap memiliki nilai yang lebih permanen daripada sekadar mahkota atau
tepukan tangan penonton.

Bagaimanapun, konsep hadiah menurut Stoa tetap tidak bisa menandingi konsep hadiah yang diajarkan
Paulus dalam bagian ini.Mahkota yang menanti orang percaya bukan hanya tahan lama, tetapi abadi
(ay. 25b).Mahkota ini adalah suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang
tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga (1Ptr. 1:4).Hadiah seperti ini jelas melampaui segala macam
hadiah yang ditawarkan oleh dunia.

Yang dimaksud mahkota di bagian ini tentu saja bukan kehidupan kekal itu sendiri.Keselamatan kita
tidak perlu diusahakan; semua berdasarkan anugerah cuma-cuma dari Allah (Ef. 2:8-9).Mahkota di sini
berbicara tentang kualitas hidup kekal atau upah yang menyertai keselamatan kita. Ada beberapa alasan
yang mendukung ke arah konklusi ini: (1) konteks pasal 9 secara keseluruhan bukanlah bagaimana
kita bisa selamat, tetapi bagaimana kita seharusnya memberitakan Injil. Konteks pembicaraan
Paulus di pasal ini bukan tentang keselamatan, tetapi pelayanan/pemberitaan Injil; (2) Paulus
sebelumnya sudah menyinggung tentang upah yang akan ia terima sebagai pelayan Tuhan (3:8) dan
upah ini dibedakan dengan keselamatan rohani (3:14-15); (3) di tempat lain mahkota dikaitkan dengan
kemuliaan (1Ptr. 5:4) atau kebenaran (2Tim. 4:8); (4) di beberapa tempat mahkota tampak dibedakan
dari dan dipakai untuk menerangkan kualitas kehidupan kekal (Yak. 1:12; Why. 2:10 mahkota
kehidupan).

Aplikasi
Allah sudah menyiapkan hadiah yang terbaik bagi kita, suatu hadiah yang kekal dan sangat mulia.Kalau
atlet duniawi saja mau berkorban begitu rupa untuk hadiah yang fana dan kurang mulia, bukankah kita
seharusnya lebih mau berkorban lagi demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mulia?Mengapa kita
justru tampak tidak bergairah menjalani pertandingan rohani kita?Mengapa kita sering kali tidak mau
berkorban untuk hal-hal rohani yang bernilai kekal?Biarlah firman Tuhan kali ini menggugah semangat
kita untuk serius menghadapi kehidupan rohani kita dan bersedia berkorban waktu, tenaga, pikiran,
maupun perasaan kita demi pekerjaan Tuhan di muka bumi. Soli Deo Gloria.

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 22 Agustus 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2024-25.pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:26-27


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Kata sambung sebab itu (toinyn) di awal 9:26 menyiratkan bahwa bagian ini merupakan aplikasi atau
konsekuensi dari bagian sebelumnya (9:24-25). Dalam kalimat Yunani kata aku (eg) muncul dengan
penekanan. Kata ini muncul di bagian paling depan. Dari posisi seperti ini terlihat jelas bahwa Paulus
sedang menampilkan dirinya sendiri sebagai sebuah contoh.Ia bukan hanya bisa mengajarkan nasehat
(9:24-25), tetapi ia juga mampu melakukan apa yang ia nasehatkan. Inilah yang beberapa kali
ditandaskan Paulus di pasal 8-10 (8:13; 9:7-18, 19-23; 11:1 jadilah pengikutku).

Dengan menampilkan dirinya sebagai teladan Paulus ingin mencapai dua tujuan sekaligus.Sebuah
teladan sering kali lebih efektif daripada pesan verbal (lewat kata-kata).Di samping itu, Paulus ingin
memberikan pembelaan atas tuduhan jemaat Korintus (9:3). Ketidakmauan Paulus untuk menerima
tunjangan dari jemaat (9:7-18) maupun sikap hidup akomodatif yang ia praktekkan (9:19-23)
dilakukannya untuk suatu tujuan yang rohani, bukan karena ia tidak layak menerima atau karena ia
ingin menyenangkan manusia. Bertolak dari kepentingan inilah, ia sengaja menampilkan dirinya
sebagai contoh konkrit tentang sikap hidup yang berfokus pada Injil dan diwarnai oleh penguasaan diri.

Paulus bukan tanpa tujuan (ay. 26)


Di 9:24b Paulus memberikan nasehat karena itu larilah begitu rupa. Sekarang ia sendiri mengatakan,
aku berlari sedemikian rupa (eg houts trech, NASB therefore I run in such a way). Ia bukan
hanya berlari (9:25a semua peserta turut berlari), tetapi berlari begitu rupa, seperti yang ia sudah
nasehatkan. Paulus bukan orang yang suka bersantai dalam hal kerohanian dan pelayanan. Hanya saja,
ia menambahkan bahwa bukan tanpa tujuan (ouk adls, 9:26a). Kata keterangan adls yang hanya
muncul sekali dalam Alkitab ini (bentuk kata sifat muncul di 14:8) dipahami secara berbeda oleh
penerjemah. Beberapa memilih tanpa kepastian (KJV/NKJV/ASV/NET), sementara yang lain
memilih tanpa tujuan (NASB/RSV/NRSV/NIV/NLT). Terjemahan pertama lebih merujuk pada
ketidakadaan keyakinan dalam diri pelari, sedangkan yang kedua mengarah pada ketidakadaan tujuan
yang jelas.

Dari dua alternatif ini, yang terakhir tampaknya lebih sesuai dengan konteks.Paulus tidak sedang
membicarakan tentang pentingnya kepercayaan diri bagi seorang atlet. Sebaliknya, ia sedang
menekankan pentingnya hadiah sebagai tujuan. Kesejajaran dengan metafora selanjutnya tentang
petinju yang tidak sembarangan memukul (9:26b) turut mempertegas hal ini. Paulus tidak
menyinggung sama sekali tentang kepercayaan diri atau kepastian kemenangan dari seorang petinju.

Untuk mempertegas poin di atas, Paulus sekarang berpindah ke metafora tinju (9:26b). Dua cabang
olah raga ini memang cukup populer pada waktu itu.Beberapa penulis kuno juga kadangkala
memakainya untuk ilustrasi.Demikian pula dengan Paulus. Paulus bukanlah seorang petinju yang
sembarangan saja memukul (ouk aera dern, LAI:TB). Mayoritas versi menerjemahkan frase ini
dengan memukul udara (KJV/ASV/NASB/NIV/RSV/NRSV/NET). NLT memahami frase ini sebagai
rujukan pada bertinju melawan bayangan (shadow-boxing) yang biasa dilakukan seorang petinju
sebelum ia naik ke atas ring. Dua kemunginan ini juga dapat ditemukan dalam tafsiran bapa-bapa
gereja awal.Berdasarkan konteks yang menekankan nilai penting tujuan dalam berlomba, Paulus
sangat mungkin memikirkan yang pertama.Shadow-boxing bukanlah aktivitas yang tanpa tujuan.Ini
dilakukan sebagai bagian dari latihan yang harus dijalani oleh petinju. Sebaliknya, seorang petinju di
atas ring yang memukul tanpa tujuan yang jelas bukanlah petinju yang baik. Ia hanya menghabiskan
waktu dan tenaga untuk sesuatu yang tidak membawa hasil apa pun.

Apa yang disampaikan Paulus di 9:26 mungkin tampak agak mubazir. Semua pelari tentu saja memiliki
tujuan atau arah.Paling tidak mereka ingin sampai di garis terakhir.Begitu pula dengan petinju.Mereka
pasti mengarahkan pukulan pada titik tertentu di tubuh atau wajah lawan. Tidak mungkin ada pelari
atau petinju yang tidak memiliki tujuan! Justru absurditas metafora inilah yang menjadi poin dalam hal
ini.Maksudnya, seorang Kristen pasti memiliki tujuan rohani (mahkota kekal, 9:25); jika ada orang
yang tidak memiliki hal itu, maka ini merupakan sesuatu yang tidak wajar atau hampir
mustahil.Tindakan jemaat Korintus yang tidak mau mengorbankan kebebasannya demi tujuan yang
lebih kekal dan mulia jelas merupakan sikap yang sulit diterima oleh akal sehat.

Paulus Menguasai Tubuhnya (9:27)


Bagian ini melanjutkan metafora tinju di 9:26b sekaligus menyinggung ulang topik tentang penguasaan
diri di 9:25. Paulus mengatakan bahwa ia melatih (hyppiaz) tubuhnya. Beberapa penerjemah
mencoba menerjemahkan dengan mendisiplin (NKJV/ESV). Yang lain memilih menaklukkan
(NET). Beberapa bahkan melangkah terlalu jauh dengan memilih terjemahan menghukum
(NJB/NRSV punish, YLT chastise). Secara hurufiah kata hyppiaz berarti memukul (NIV
beat, ASV/NASB buffet). Dalam konteks bertinju, kata ini secara khusus merujuk pada pukulan
yang diarahkan di bawah mata (bdk. kata hypopion = bagian di bawah mata).

Yang mengagetkan, obyek pukulan yang dimaksud Paulus bukanlah tubuh lawan, namun tubuhnya
sendiri.Apakah maksud memukul tubuh di sini? Apakah Paulus sedang mengajarkan asketisisme,
yaitu pola hidup menyiksa tubuh dengan cara menjauhi semua keinginannya (puasa, selibat,
kemiskinan, dsb)? Sama sekali tidak! Paulus sebelumnya sudah menunjukkan sikap yang positif
terhadap tubuh. Tubuh adalah anggota Kristus (6:15) dan bait Roh Kudus (6:19), sehingga seharusnya
dipakai untuk memuliakan Allah (6:20). Frase memukul tubuh dipakai Paulus hanya untuk
menyiratkan tindakan yang sungguh-sungguh dan usaha yang keras, sama seperti seorang janda yang
berjuang keras mencari keadilan dari hakim yang tidak benar (bdk. Luk.18:5 kata menyerang di ayat
ini memakai hyppiaz).Penggunaan frase tersebut pada bagian ini mungkin merujuk pada segala
macam kesulitan fisik yang harus ditanggung oleh Paulus dalam pelayanan (4:11-13; 2Kor. 11:23-28),
terutama masalah kelaparan (2Kor. 6:5; 11:27).

Tujuan dari ketahanan di atas adalah supaya Paulus dapat menguasai seluruhnya (LAI:TB).
Penerjemah LAI:TB menambahkan kata seluruhnya untuk mengekspresikan ketegasan makna dalam
kata doulagge (lit. memperbudak, NRSV/NIV/NET). Jadi, kita dituntut untuk menguasai tubuh
(9:25) dalam arti menjadikannya sebagai budak (9:27a). Bukan kita yang mengikuti kemauan tubuh,
tetapi tubuhlah yang harus mengikuti kemauan kita, termasuk masalah makanan. Kita tidak seharusnya
mengumbar kebebasan dan nafsu makan kita sehingga melukai hati nurani orang lain (8:7b, 9, 11-12).
Selama kita belum bisa memperbudak tubuh kita sendiri, kita tidak mungkin mampu menjadi hamba
bagi semua orang (9:19, 23). Tujuan final dari memukul dan memperbudak tubuh adalah supaya Paulus
tidak ditolak setelah ia memberitakan Injil (9:27b). Ada beberapa penekanan dalam ungkapan ini. Kata
tidak (m) sengaja diletakkan di depan untuk penekanan. Penggunaan kata autos, yang oleh sebagian
besar versi secara tepat diterjemahkan sendiri, juga memberikan tambahan penekanan. Kata kryss
(LAI:TB memberitakan Injil) memiliki beragam pemakaian. Kata ini bisa menyiratkan tindakan
mengumumkan berita penting dari penguasa, memberitakan kabar baik, atau mewartakan
sesuatu.Kryss juga bisa menunjuk pada tindakan mengumumkan nama-nama peserta lomba dan
peraturan-peraturan dalam perlombaan itu, sehingga sebagian penafsir meyakini bahwa dalam bagian
ini Paulus masih melanjutkan metafora seputar dunia olah raga.Walaupun pandangan ini cukup
menarik, tetapi sebaiknya ditolak.Kata kryss merupakan kata yang biasa dipakai Paulus untuk
memberitakan Injil (1:23; 15:1, 12).Konteks pasal 9 secara keseluruhan terfokus pada pelayanan
pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus (9:14, 16, 18, 23). Selain itu, dalam metafora olah raga di
9:24-26b Paulus menekankan pada aspek hadiah dan apa yang harus dilakukan seorang atlet. Ketika
mengalikasikan metafora tersebut Paulus pun memposisikan diri sebagai atlet. Ia tidak sedang
membahas tentang petugas pengumuman perlombaan. Jadi, kita sebaiknya memandang 9:27b sebagai
aplikasi dalam konteks pemberitaan Injil Paulus.

Seandainya Paulus memang sedang menyinggung pemberitaan Injil yang ia lakukan, maka ungkapan di
9:27b pasti menimbulkan kesulitan theologis bagi sebagian orang. Walaupun kita semua mengetahui
bahwa tindakan pemberitaan Injil tidak menjamin keselamatan rohani dari pemberitanya, namun
kehilangan keselamatan yang disiratkan dalam ungkapan Paulus tersebut sulit dipahami.Bagian ini
terkesan berkontradiksi dengan doktrin kepastian keselamatan. Terjemahan Alkitab Geneva yang sangat
diwarnai oleh theologi Reformed mencoba menghindari kesulitan ini dengan memilih terjemahan
jangan aku sendiri ditegur/dimarahi. Beberapa theolog Reformed lain cenderung menolak kesan
adanya kemungkinan bagi hilangnya keselamatan Paulus.

Untuk menghindari kesulitan di atas, beberapa penafsir mencoba memahami kegagalan yang
dikuatirkan Paulus hanya dalam konteks kerasulan atau tugas pemberitaan Injil, bukan keselamatan.
Dengan kata lain, Paulus takut bahwa suatu ketika kelak ia didapati tidak cocok atau layak untuk tugas
pemberitaan Injil atau ia gagal mendapatkan upah dari usaha pekabaran Injil yang ia lakukan atau ia
gagal memenuhi standar yang ia buat sendiri. Argumen yang dipakai biasanya ada tiga: (1) pasal 9
berbicara tentang sikap Paulus dalam memberitakan Injil, bukan kehidupan rohani Paulus; (2) mahkota
yang dimaksud dalam metafora di 9:25 bukan kehidupan kekal, tetapi upah di sorga; (3) Paulus
sebelumnya pernah mengajarkan kepastian keselamatan pekerja sekalipun ia menderita kerugian dalam
pekerjaan tersebut (3:15). Kehilangan seperti apa yang sedang dipikirkan Paulus? Beberapa versi
memilih terjemahan yang lebih tegas, misalnya ditolak (ASV be rejected), dibuang (KJV be a
castaway) atau didiskualifikasi (RSV/NRSV/NKJV/ NET/NLT/NJB), tanpa memberi tambahan
didskualifikasi dalam hal apa. Kata ditolak (adokimos) sendiri memiliki arti umum tidak memenuhi
tuntutan ujian ini (2Kor. 13:5-7; 2Tim. 3:8), tetapi ujian seperti apa yang dimaksud tetap harus
ditentukan dari konteks yang ada. Penerjemah NIV mencoba memperjelas hal ini dengan
menambahkan for the prize setelah kata didiskualifikasi.Tambahan ini menunjukkan bahwa
penerjemah NIV tidak memikirkan kemungkinan hilangnya keselamatan.

Jika diselidiki secara cermat, Paulus memang tampaknya sedang membicarakan tentang keselamatan
dirinya.Peringatan yang keras kepada jemaat Korintus tentang kebinasaan saudara seiman mereka
(8:11) maupun diri mereka sendiri (10:5-11) cukup jelas menunjang keseriusan pernyataan Paulus di
9:27. Di tempat lain Paulus bahkan tidak segan-segan untuk memperingatkan Timotius agar menjaga
diri dan ajarannya sehingga ia menyelamatkan dirinya sendiri dan orang lain (1Tim. 4:16). Apakah hal
ini berarti bahwa Tuhan tidak berkuasa untuk menjamin keselamatan kita? Sama sekali tidak! Allah
tidak akan mencobai melampaui kekuatan kita dan Ia selalu memberikan jalan keluar dalam setiap
pencobaan (10:13). Allah pasti menjaga kita. Bagaimanapun, kita harus mengingat bahwa cara Tuhan
memastikan keselamatan kita adalah melalui ketaatan kita.

Nah, salah satu cara untuk menghasilkan ketaatan adalah melalui peringatan keras. Nasehat ini
diberikan supaya kita tidak menganggap diri kuat, sehingga kita justru akan terjatuh (10:12). Dengan
kata lain, Alkitab selalu membicarakan kepastian keselamatan dalam kaitan dengan peringatan keras
(5:1-6, 7-8; 6:1-10, 11; 10:1-12, 13).Dua hal ini tidak boleh dipandang sebagai dua musuh
bebuyutan.Sebaliknya, keduanya adalah sahabat karib. Maksudnya, salah satu cara Allah menjamin
keselamatan kita adalah melalui peringatan yang keras. Peringatan di atas terutama sangat perlu
disampaikan kepada jemaat Korintus yang merasa diri sombong karena memiliki hikmat (8:1). Mereka
juga memiliki konsep tentang kebebasan Kristiani dan kepastian keselamatan yang keliru, sehingga
menganggap apa pun yang mereka lakukan terhadap tubuh mereka tidak akan mempengaruhi
kerohanian mereka (6:12-13; 10:23). Orang-orang seperti ini sudah selayaknya diperingatkan dengan
keras. Jangan sampai mereka menjadi pemberita kebenaran tetapi hidup mereka justru berkontradiksi
dengan ajaran mereka, sama seperti bangsa Yahudi yang menjadi pengajar Taurat tetapi mereka sendiri
menjadi pelanggarnya (bdk. Rm. 2:17-24). #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 12 September 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2026-27.pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 10:1-5


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Pemunculan sapaan saudara-saudara di 10:1 menyiratkan perubahan pokok pikiran yang baru.
Walaupun perubahan ini dengan mudah dideteksi, tetapi perubahan seperti apa yang dipaparkan Paulus
dalam bagian ini tidaklah terlalu jelas. Persoalan ini semakin kentara karena di beberapa versi kata
sambung gar (karena, NIV/NASB/ASV) tidak diterjemahkan (LAI:TB). Sebagian penafsir yang
mengalami kesulitan dalam menemukan keterkaitan antara bagian ini dengan dua pasal sebelumnya
berpandangan bahwa bagian ini diadopsi dari surat Paulus yang lain yang secara tidak tepat telah
diletakkan di posisi yang sekarang.

Jika kita mengamati secara lebih teliti, maka kita pasti akan menemukan beberapa poin keterkaitan
yang cukup jelas. Kegagalan bangsa Israel memiliki tanah perjanjian karena mereka menyembah
berhala (10:5) merupakan contoh konkrit tentang bagaimana orang-orang yang dulu pernah memiliki
pengalaman rohani bersama Tuhan (10:1-4) juga bisa gagal mencapai garis akhir.Cerita ini merupakan
peringatan bagi jemaat Korintus. Tindakan mereka yang makan daging persembahan berhala di kuil
(8:7-10) bukan hanya berpotensi membinasakan iman saudara seiman lain yang tidak berpengetahuan
(8:11-12), tetapi juga bisa membuat mereka sendiri gagal mencapai garis akhir. Berbagai macam
karunia rohani (pasal 12-14) dan pengetahuan (8:1, 7, 10) yang dimiliki mereka tidak menjamin
kesuksesan rohani, sama seperti berbagai pengalaman rohani yang dialami bangsa Israel dulu pun tidak
menjamin mereka sampai ke tanah perjanjian.
Poin di atas sekaligus memberi pencerahan tentang keterkaitan antara bagian ini dengan pasal
sebelumnya.Di bagian akhir pasal 9 Paulus sudah menggambarkan kehidupan rohani kita seperti
seorang atlet yang harus menguasai diri dan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai garis akhir
(9:24-27). Paulus sendiri bahkan mendisiplin diri sedemikian rupa supaya ia pada akhirnya tidak
didiskualifikasi (9:27). Nasehat ini dipertegas lagi dengan menampilkan contoh-contoh orang di PL
yang gagal dan didiskualifikasi (10:5).

Alur berpikir Paulus di 10:1-5 tampaknya cukup mudah untuk diketahui, walaupun ada beberapa
kesulitan dalam taraf detil. Melalaui sapaan nenek moyang kita (10:1a) Paulus meletakkan dasar
theologis yang kuat bahwa jemaat Korintus merupakan kelanjutan dari umat Allah di PL, walaupun
mereka bukan berasal dari etnis Yahudi. Selanjutnya Paulus memaparkan dua pengalaman rohani yang
spektakuler yang dialami bangsa Israel di padang gurun (10:1b-4), yaitu pembebasan yang dasyat dari
tangan Mesir dan perlindungan TUHAN yang ajaib (10:1b-2) serta pemeliharaan TUHAN yang luar
biasa (10:3-4). Pada bagian akhir Paulus menyatakan sebuah situasi yang sangat ironis: walaupun
semua orang Israel memiliki pengalaman rohani yang sama, tetapi sebagian besar dari mereka justru
tidak berhasil mencapai garis akhir (10:5).

Pendahuluan Nasehat (10:1a)


Paulus memulai bagian ini dengan ungkapan aku mau supaya kamu mengetahui. Dalam kalimat
Yunani yang ada, ungkapan ini secara hurufiah diterjemahkan aku tidak mau supaya kamu tidak
mengetahuinya. Ungkapan yang muncul beberapa kali dalam tulisan Paulus ini (1Tes 4:13; 2Kor. 1:8;
Rm. 1:13; 11:25) jelas berbeda dengan ungkapan tidak tahukah kamu? yang juga beberapa kali
digunakan Paulus (Rm. 6:13; 1 Kor 3:16; 5:6; 6:2, 3, 9, 15, 16, 19; 9:13).

Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh para penafsir, ungkapan aku tidak mau supaya kamu
tidak mengetahuinya berfungsi sebagai petunjuk bahwa suatu topik pikiran yang baru dan penting
sedang diajarkan, karena itu tidak heran ungkapan ini selalu muncul bersama dengan sapaan saudara-
saudara. Fungsi lain dari ungkapan ini adalah untuk menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui oleh
pembaca, tetapi makna dan implikasi dari hal tersebut belum sepenuhnya dipahami. Berdasarkan
makna dalam ungkapan ini kita bisa mengetahui bahwa jemaat Korintus pun sudah terbiasa dengan
cerita-cerita dalam PL. Mereka pasti mengetahui tersebut secara lisan dari khotbah para rasul atau
membaca langsung kitab PL dalam versi Septuaginta (LXX).

Paulus selanjutnya menggunakan ungkapan lain yang tidak kalah menariknya. Ia memakai kata ganti
kita dalam ungkapan nenek moyang kita. Sebagaimana kita dahulu sudah pelajari bersama,
mayoritas jemaat Korintus adalah orang-orang non-Yahudi.Paulus seharusnya mengatakan nenek
moyang mereka atau nenek moyang bangsa Yahudi Kenyataannya, Paulus tetap secara sengaja
memakai ungkapan ini. Jika dibandingkan dengan salah satu tradisi kerabian Yahudi, cara Paulus di sini
menunjukkan keunikan konsep kekristenan. Menurut salah satu tulisan para rabi, orang-orang non-
Yahudi yang memeluk agama Yahudi (biasa disebut proselit atau orang yang takut Tuhan) tetap
tidak diperbolehkan untuk menyebut para patriakh atau tokoh-tokoh PL sebagai nenek moyang mereka,
karena secara etnis mereka bukan keturunan biologis dari tokoh-tokoh Israel di masa lampau.

Dalam theologi Paulus sendiri kesatuan antara umat Allah di PL dan PB merupakan hal yang cukup
sering kita temukan. Bagi Paulus, gereja adalah Israel yang baru (Rm. 2:26-29; 4:12, 16; 11:17-24; Gal.
3:6-9, 29; 6:16; Flp. 3:3), walaupun gereja terdiri dari etnis yang sangat variatif. Theologi semacam ini
didasarkan pada pemahaman Paulus bahwa yang disebut Israel bukanlah secara etnis atau biologis (Rm.
9:6).Dari sejak zaman dahulu kala, sebutan umat Allah adalah berdasarkan pilihan, bukan
kelahiran.Walaupun Ismael keturunan bilogis dari Abraham dan Esau adalah anak kandung Ishak, tetapi
yang disebut Israel adalah Ishak dan Yakub (Rm. 9:7-13).Di bagian lain Surat Roma Paulus
memberikan argumen dari perspektif yang sedikit berbeda.Ia menunjukkan bahwa Abraham dibenarkan
karena iman, sebelum ia bersunat (Rm. 4:2, 10-11). Abraham juga menerima janji Allah sebagai bapa
dari bangsa yang besar berdasarkan iman, bukan ketaatan kepada Taurat (Rm. 4:13-16).Bertolak dari
fakta ini, maka semua orang yang beriman kepada Allah Abraham adalah keturunan Abraham.

Dengan menegaskan keterkaitan theologis di atas, Paulus ingin menunjukkan kesamaan antara bangsa
Israel dan jemaat Korintus.Mereka sama-sama umat Allah. Mereka memiliki kitab suci yang sama.
Mereka mempnyai pengalaman rohani yang luar biasa dari Allah. Kesamaan inilah yang membuat
nasehat dan peringatan di 10:1-5 menjadi lebih relevan bagi jemaat Korintus.

Pengalaman Rohani yang Luar Biasa (10:1b-4)


Di bagian ini Paulus menjelaskan beberapa pengalaman rohani yang luar biasa yang pernah dialami
bangsa Israel selama di padang gurun. Apa saja pengalaman yang spektakuler tersebut?
Pembebasan dari Mesir dan perlindungan di padang gurun (10:1b-2)
Dalam hal ini, bangsa Israel mengalami 3 hal yang luar biasa: di bawah perlindungan awan, melewati
laut, dan menjadi pengikut Musa. Mari kita melihat tiga hal ini satu persatu.Pertama, di bawah
perlindungan awan. Terjemahan LAI:TB di sini sudah merupakan penafsiran. Dalam teks Yunani hanya
disebutkan berada di bawah awan (versi Inggris under the cloud).Awan yang dimaksud dalam
bagian ini jelas bukan awan biasa.Awan ini adalah tiang awan yang menyertai mereka (Kel. 13:21, 22;
14:19; 33:9-10). Persoalannya, tiang awan selalu terletak di depan mereka (Kel. 13:21, 22). Pada waktu
mereka melintasi Laut Teberau, tiang awan ada di belakang mereka (Kel. 14:19). Tiang awan tidak
pernah berada di atas mereka! Jadi, bagaimana Paulus bisa mengatakan bahwa mereka di bawah awan?

Kunci untuk persoalan ini adalah dengan memahami fungsi ganda dari tiang awan: sebagai tuntunan
dalam perjalanan (Kel. 13:21; Mzm. 78:14) dan perlindungan dari terik matahari (Mzm. 105:39).
Dalam hal ini Paulus hanya menyoroti fungsi yang terakhir, karena itu ia merasa bebas untuk
menyinggung aspek perlindungan ini dengan menggambarkan seolah-olah bangsa Israel berada di
bawah awan.

Kedua, melewati laut.Peristiwa ini merujuk pada kejadian spektakuler ketika TUHAN mengeringkan
Laut Teberau sehingga bangsa Israel dapat berjalan melewati daratan yang kering (Kel. 14:2122;
Mzm. 78:13).Begitu hebatnya kejadian ini, sampai-sampai bangsa-bangsa lain pun menjadi gentar
terhadap bangsa Israel (Yos 2:9-10).

Ketiga, menjadi pengikut Musa. Terjemahan LAI:TB untuk menjadi pengikut Musa mereka semua
telah dibaptis dalam awan dan dalam laut dalam hal ini juga sudah melibatkan unsur penafsiran.
Dalam kalimat Yunani tidak ada kata untuk menjadi pengikut.Teks asli hanya berbunyi, dan mereka
semua dibaptis ke dalam Musa dalam awan dan dalam laut.Apakah maksud dibaptis ke dalam
Musa? Bukankah selama perjalanan di padang gurun tidak ada cerita apa pun tentang Musa yang
membaptis mereka?

Paulus tampaknya sedang menceritakan peristiwa di PL dengan menggunakan ungkapan di


PB.Sebagaimana semua orang percaya di PB dibaptis ke dalam Yesus, demikian pula orang percaya di
PL dibaptis ke dalam Musa.Mengapa Yesus dibandingkan dengan Musa dalam bagian ini?Dalam tradisi
Yahudi memang sudah dikenal sebuah pengharapan mesianis bahwa Mesias merupakan Musa yang
baru (Ul 18:18). Salah satu peranan Mesias adalah sama dengan Musa, yaitu memimpin bangsa Israel.
Berdasarkan tradisi inilah, Paulus menyandingkan Musa dan Yesus. Makna yang ingin disampaikan
adalah sisi kepemimpinan mereka, karena itu LAI:TB dengan tepat memberi tambahan untuk menjadi
pengikut Musa. Peristiwa bangsa Israel melintasi Laut Teberau dan orang-orang percaya dibaptis
memang memiliki kesamaan.Keduanya jelas melibatkan unsur air.Lebih jauh lagi, kedua peristiwa ini
merupakan titik balik perubahan status umat Allah.Sebelum melewati Laut Teberau status bangsa Israel
masih sebagai budak, setelah itu mereka baru menjadi umat Allah dalam arti yang
sesungguhnya.Baptisan juga begitu.Sebelum dibaptis orang-orang percaya dianggap masih berada
dalam status yang lama (walaupun dari sisi iman mereka sudah berubah di hadapan Allah).

Pemeliharaan di padang gurun (10:3-4)


Pemberian manna (Kel. 16; Mzm. 78:2329) dan air minum melalui batu karang (Kel. 17:17; Bil.
20:213; Mzm. 78:1516; 105:41; 114:8) merupakan peristiwa yang sangat akrab bagi kita. Ketika
mereka tidak mungkin untuk bercocok tanam maupun memiliki suatu sungai atau sumber air secara
permanen, TUHAN memelihara mereka secara ajaib dengan cara memberi roti dari sorga dan air
minum dari gunung.

Penyebutan dua peristiwa ini di 10:3-4 sangat problematis. Pertama, apa maksud rohani pada
ungkapan makanan dan minuman rohani? Sebagian penafsir menganggap Paulus sedang melihat
manna dan air semacam perjamuan kudus di PL. Pandangan ini tampaknya hanya bersifat dugaan
semata, karena tidak didukung oleh petunjuk apa pun dalam teks. Kita sebaiknya memahami rohani
di bagian ini dalam konteks sumbernya dari Allah dan tujuannya bersifat rohani (Kel. 16:4, 15).Manna
adalah roti dari sorga yang diberikan supaya bangsa Israel bersandar pada dan menaati
TUHAN.Kenyataannya, mereka justru serin bersungut-sungut dan meninggalkan TUHAN yang sudah
memelihara mereka.

Kedua, apa maksud batu karang yang mengikuti mereka? Sebagian penafsir meyakini bahwa Paulus
sedang mengadopsi legenda Yahudi yang menceritakan bahwa batu karang sebagai sumber air bangsa
Israel benar-benar mengikuti bangsa Israel ke manapun mereka pergi. Mereka meyakini bahwa dua
batu karang di Keluaran 17:17 dan Bilangan 20:213 adalah sama. Teori seperti ini jelas tidak masuk
akal. Selain itu, seandainya bangsa Israel sudah memiliki sumber air yang permanen dari batu karang
yang selalu mengikuti mereka, untuk apa TUHAN masih memerintahkan Musa untuk mengeluarkan air
dari batu karang itu lagi? Kita sebaiknya memahami bahwa yang dipentingkan Paulus di sini bukanlah
batu karang itu, tetapi Allah sebagai Pemberi air.Dengan pemahaman seperti ini, maka ungkapan batu
karang yang mengikuti mereka sebenarnya berarti Allah selalu mengikuti dan memberi mereka
air.Hal inilah yang selanjutnya dijadikan dasar bagi Paulus untuk menyatakan bahwa batu karang itu
adalah Kristus.

Ketiga, apakah penafsiran batu karang itu adalah Kristus menunjukkan bahwa Paulus menggunakan
metode penafsiran alegoris?Penafsiran alegoris adalah bentuk penafsiran yang meyakini bahwa dalam
setiap kata selalu ada makna rohani tambahan.Metode ini sangat subyektif, karena tidak ada standar
yang jelas.Paulus tidak menggunakan metode ini.Penafsiran Paulus di 10:4 harus dilihat dari konteks
pemahaman theologis bangsa Israel sendiri. Bagi mereka, batu karang yang memberi minum tidak lain
adalah TUHAN sendiri (Ul 32:4, 15, 18, 30-31). Allah yang memberi mereka minum, bukan batu
karang itu. Berdasarkan pemahaman seperti ini, Paulus dengan mudah dapat mengebangkannya sebagai
berikut: batu karang = TUHAN = Kristus. Jadi, ini bukan penafsiran alegoris.

Hasil yang Kontras (10:5)


Dalam ayat ini Paulus memberikan beberapa penekanan. Ia memakai kata sambung alla (tetapi) yang
memuat makna kontras yang lebih kuat daripada kata de. LAI:TB dengan tepat mengekpresikan dalam
kalimat tetapi sungguh pun demikian. Penekanan lain terletak pada posisi kata tidak (ouk) di awal
kalimat. Melalui posisi seperti ini Paulus seolah-olah ingin menegaskan bahwa Allah sungguh-sungguh
tidak berkenan kepada bangsa Israel.Penggunaan kata bagian yang terbesar dari mereka
menampilkan sebuah ironi yang menyedihkan.Pada bagian sebelumnya kata semua muncul berkali-
kali. Mereka semua memiliki pengalaman spektakuler yang sama. Bagaimanapun, yang akhirnya
mencapai garis akhir adalah sangat sedikit (bdk.Bil. 14:2932; 26:65). Allah hanya berkenan pada
Yosus dan Kaleb.

Kata sambung karena (gar) di 10:5b berfungsi sebagai penjelasan atau bukti. Ketidakberkenanan
Allah terhadap bangsa Israel dinyatakan melalui kematian mereka di padang gurun. Dalam hal ini
Paulus memakai ungkapan yang jauh lebih kuat daripada sekadar menewaskan (LAI:TB). Allah
menyerakkan mereka! (NIV). Bahasa yang tegas ini sangat mungkin berasal dari Bilangan 14:16 yang
menggambarkan kematian mereka dengan ungkapan TUHAN menyembelih, walaupun dalam
kenyataannya mereka tidak disembelih. Ungkapan yang sangat keras ini dimaksudkan untuk
memperingatkan jemaat Korintus.Jemaat Korintus pasti dengan mudah menangkap ketegasan dalam
peringatan Paulus di bagian ini.Mereka dalam taraf tertentu bahkan sudah mengalami kejadian
serupa.Banyak di antara mereka yang berdosa dan akhirnya dihukum Tuhan dengan penyakit,
kelemahan, bahkan kematian (11:30).Jadi, mereka tidak boleh merasa diri kuat dengan berbagai karunia
dan pengetahuan rohani mereka, karena mereka justru bisa jatuh (10:12). #

Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 26 September 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2010%20ayat%2001-05.pdf