Anda di halaman 1dari 8

RANGKUMAN MATA KULIAH

PERILAKU KONSUMEN

1.1 PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN

Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang atau organisasi
dalam mencari, membeli, memakai, mengevaluasi, dan membuang produk ataupun
jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Atau definisi perilaku
konsumen yang lainnya yaitu proses dan aktifitas saat seseorang atau organisasi
berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, pemakaian, dan pengevalusian
produk atau jasa demi memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Perilaku konsumen
merupakan berbagai hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian produk atau jasa.
Berikut dibawah ini beberapa pengertian perilaku konsumen menurut para ahli:
1) Menurut Schiffman dan Kanuk (2000), Perilaku Konsumen adalah proses
yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan,
mengevaluasi, & bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang
diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.
2) John C. Mowen & Michael Minor, Perilaku Konsumen sebagai studi tentang
unit pembelian (buying unit) & proses pertukaran yang melibatkan perolehan,
konsumsi berbagai produk, jasa & pengalaman serta ide-ide.

3) Loudon dan Della Bitta (1993), konsumen adalah proses pengambilan


keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan
individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan
barang-barang dan jasa-jasa.

4) Ebert dan Griffin (1995) Consumer Behavior (perilaku konsumen) dijelaskan


sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang
dibeli dan dikonsumsi.

5) James F et al (1994), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung


terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan
jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini.
6) Schiffman dan Kanuk (1994) : perilaku konsumen adalah proses keputusan
dan aktivitas fisik individu yang terlibat dalam mengevaluasi, mendapatkan,
menggunakan, atau memberikan barang dan jasa yang diperolehnya.

1.2 HUBUNGAN PERILAKU KONSUMEN DENGAN KONSEP PEMASARAN

Bidang perilaku konsumen berakar pada strategi pemasaran yang berkembang


pada akhir tahun 1950-an, ketika sejumlah pemasar mulai menyadari bahwa ereka
akan dapat menjual lebih banyak barang dengan lebih mudah, jika mereka hanya
memproduksi barang-barang yang telah mereka kenali akan dibeli oleh para
konsumen. Fokus pemasaran yang utama adalah menjadikan kebutuhan dan keinginan
para konsumen. Filsafat pemasaran yang berorientasi ke konsumen dikenal sebagai
konsep pemasaran. Asumsi pokok yang mendasari konsep pemasaran adalah jika
perusahaan ingin meraih sukses maka perusahaan harus menentukan kebutuhan dan
keinginan berbagai target pasar tertentu dan memberikan kepuasan yang diinginkan
lebih baik dari pada pesaing. Konsep pemasaran didasarkan pada dasar pemikiran
bahwa pemasar harus membuat apa yang dapat dijualnya, dari pada berusaha menjual
apa yang telah dibuatnya. Konsep penjualan berfokus pada kebutuhan penjual,
sedangkan konsep pemasaran berfokus pada kebutuhan pembeli.
Tersebarluasnya pemakaian konsep pemasaran oleh kalangan pebisnis
Amerika memberikan dorongan ke studi perilaku konsumen. Untuk mengenali
kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi, perusahaan harus terlibat dalam riset
pemasaran yang mendalam. Dalam melakukan hal tersebut, perusahaan mengetahui
bahwa konsumen merupakan individu yang sangat kompleks, yang tunduk kepada
beerbagai macam kebutuhan psikologis dan social yang sangat terpisah dari
kebutuhan akan kelangsungan hidupnya. Mereka mengetahui bahwa kebutuhan dan
prioritas berbagai segmen konsumen berbeda secara dramatis, dan untuk merancang
produk dan strategi pemasaran baru yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen,
mereka harus mempelajari konsumen dan perilaku konsumsi mereka secara
mendalam. Dengan demikian, konsep pemasaran menekankan pentingnya riset
konsumen dan menjadi dasar untuk menerapkan prinsip-prinsip perilaku konsumen ke
strategi pemasaran.
1.3 MANFAAT MEMPERLAJARI PERILAKU KONSUMEN

Perilaku konsumen sangat beragam tergantung pada pemanfaat atau pengguna.


terdapat dua kelompok pemanfaat: kelompok peneliti (riset) dan kelompok yang
berorientasi implementasi (Peter dan Olson, 1999).
Peran perilaku konsumen bagi pemasar atau produsen adalah mampu :

a) Membujuk konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan.

b) Memahami konsumen dalam berperilaku, bertindak dan berpikir, agar


pemasar atau produsen mampu memasarkan produknya dengan baik.

c) Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan,


sehingga pemasar atau produsen dapat merancang strategi pemasaran
dengan baik.

Peran perilaku konsumen bagi lembaga pendidikan dan perlindungan konsumen :

a) Untuk mengetahui dan mempengaruhi konsumen; yakni untuk membantu


konsumen dalam memilih komoditas dengan benar, terhindar dan penipuan
serta menjadi konsumen yang bijaksana.

Peran perilaku konsumen bagi organisasi pemerintah dan politik:

a) Dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk mempengaruhi pilihan


konsumen melalui pelarangan terhadap produk bisnis yang merugikan
konsumen.

b) Sebagai dasar perumusan kebijakan publik dan perundang-undangan untuk


melindungi konsumen.

Kelompok konsumen individu maupun organisasi akan menukarkan


sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dan perilaku
konsumen dapat membantu mencapai tujuan dalam pemenuhan kebutuhan berbagai
macam produk. Ditinjau dari pengambilan keputusan, konsumen terdiri atas
konsumen potensial. Calon konsumen dan konsumen yang sudah melakukan
pembelian.

1.4 BERBAGAI DISIPLIN ILMU DALAM MEMPELAJARI PERILAKU


KONSUMEN

Perilaku konsumen merupakan studi yang relatif baru pada pertengahan


hingga akhir tahun 1960-an. Karena ilmu ini tidak mempunyai sejarah atau badan
risetnya sendiri, para pakar teori pemasaran banyak sekali meminjam berbagai konsep
yang dikembangkan di berbagai disiplin ilmu pengetahuan lain, seperti psikologi
(studi mengenai individu), sosiologi (studi mengenai kelompok), antropologi
(pengaruh masyarakat pada individu), dan ilmu ekonomi dalam rangka membentuk
dasar disiplin ilmu pemasaran yang baru ini. Kebanyakan teori awal mengenai
perilaku konsumen didasarkan pada teori ekonomi, dengan pendapat bahwa individu
bertindak secara rasional untuk memaksimumkan keuntungan (kepuasan) mereka
dalam membeli barang dan jasa. Penelitian belakang ini menemukan bahwa para
konsumen mungkin sekali membeli secara influsif, dan dipengaruhi tidak hanya oleh
keluarga dan teman-teman, oleh berbagai pemasang iklan dan model peran, tetapi juga
oleh suasana hati, keadaan, dan emosi. Semua faktor ini bergabung sehingga
membentuk model perilaku konsumen yang menyeluruh dan mampu mencerminkan
aspek pengertian dan pengetahuan (cognitif) maupun emosional dalam pengambilan
keputusan konsumen.

1.5 PENDEKATAN MEMPELAJARI PERILAKU KONSUMEN

Ada 2 jenis pendekatan untuk mempelajari perilaku konsumen dalam


mengkonsumsi suatu produk, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

1) Pendekatan Kardinal

- Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur.

- Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan


- Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan
kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh
dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil. (Mula-mula kepuasan
akan naik sampai dengan titik tertentu atau saturation point tambahan
kepuasan akan semakin turun). Hukum ini menyebabkan terjadinya
Downward sloping MU curva. Tingkat kepuasan yang semakin menurun
ini dikenal dengan hukum Gossen.

- Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai


dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya. Jika
konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan mau
membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan konsumen
redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah.
Pendekatan kardinal biasa disebut sebagai Daya guna marginal.

2) Pendekatan Ordinal

Kelemahan pendekatan kardinal terletak pada anggapan yang digunakan


bahwa kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan
kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan. Pendekatan
ordinal mengukur kepuasan konsumen dengan angka ordinal (relatif). Tingkat
kepuasan konsumen dengan menggunakan kurva indiferens (kurva yg menunjukkan
tingkat kombinasi jumlah barang yang dikonsumsi yang menghasilkan tingkat
kepuasan yang sama).
Ciri-ciri kurva indiferens:

- Mempunyai kemiringan yang negatif (konsumen akan mengurangi konsumsi


barang yg satu apabila ia menambah jumlah barang lain yang di konsumsi)

- Cembung ke arah titik origin, menunjukkan adanya perbedaan proporsi jumlah


yang harus ia korbankan untuk mengubah kombinasi jumlah masing-masing
barang yang dikonsumsi (marginal rate of substitution)

- Tidak saling berpotongan, tidak mungkin diperoleh kepuasan yang sama pada
suatu kurva indiferens yang berbeda
1.6 MODEL SEDERHANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN

Proses pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai tiga tahap yang


berbeda namun memiliki hubungan satu sama lain diantaranya:

1) Tahap Input

Merupakan tahap yang mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap


kebutuhan atas produk dan terdiri dari dua sumber informasi utama, yaitu:

- Usaha pemasaran perusahaan (produk itu sendiri, harganya, promosi dan


dimana ia dijual),

- Pengaruh sosiologis eksternal atas konsumen (keluarga, teman-teman,


tetangga, sumber informal). Hal ini merupakan input yang mungkin
mempengaruhi apa yang dibeli konsumen dan bagaimana mereka
menggunakan apa yang mereka beli.

2) Tahap Proses

Merupakan tahap yang memfokuskan pada cara konsumen mengambil


keputusan. Berbagai faktor psikologis yang melekat pada setiap individu,
mempengaruhi input dari luar pada tahap input mempengaruhi pengenalan
konsumen terhadap kebutuhan, pencarian informasi sebelum pembelian, dan
evaluasi terhadap berbagai alternatif.
3) Tahap Output

Merupakan pengambilan konsumen terdiri dari dua macam kegiatan setelah


pengambilan keputusan yang berhubungan erat dengan perilaku membeli dan
evaluasi setelah membeli. Percobaan merupakan tahap penyelidikan pada
perilaku pembelian, yakni konsumen menilai produk melalui pemakaian
langsung pembelian ulang biasanya menandakan penerimaan akan produk.
DAFTAR PUSTAKA

Schiffman, L. G, and L. L. Karuk. 2008. Perilaku Konsumen Edisi Ketujuh. Jakarta:


PT. Indeks
https://dadan94.wordpress.com/2016/09/30/perilaku-konsumen-sebagai-disiplin-ilmu-
pengetahuan-akademis-dan-ilmu-pengetahuan-terapan/ (Diakses pada tanggal 12
Februari 2017)
http://www.pengertianku.net/2015/03/pengertian-perilaku-konsumen-dan-menurut-
para-ahli-lengkap.html (Diakses pada tanggal 12 Februari 2017)
https://coecoesm.wordpress.com/2011/11/28/perilaku-konsumen/ (Diakses pada
tanggal 12 Februari 2017)
http://top-studies.blogspot.co.id/2015/12/manfaat-perilaku-konsumen.html (Diakses
pada tanggal 12 Februari 2017)
http://merdifransisca.blogspot.co.id/ (Diakses pada tanggal 12 Februari 2017)